PERISTIWA
INTERAKSI ANTARA KEBUDAYAAN LOKAL HINDU
BUDHA DAN ISLAM DI INDONES
AIYA NURISALFITRI (2006101020021)
MAHASISWA PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
SMA/MA/SMK
KELAS
X
A. Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan
Sebelum agama agama hindu, buddha dan islam masuk, masyarakat nusantara
telah memiliki agama dan kebudayaan sendiri. Dalam hal kepercayaan, misalnya
masyarakat purba nusantara telah mengenal bentuk kepercayaan animisme dan
dinamisme. Keperayaan animisme menpercayai bahwa setiap benda dibumi ini
punya jiwa atau roh yang harus dihormati agar roh – roh tersebut tidak
mengganggu manusia dan bahkan bisa memberikan bantuan atau pertolongan
dalam kehidupan manusia.
Penghormatan kepada roh nenek moyang itu diwujudkan dalam berbagai upacara
seperti pemberian sesaji atau sesajen. Dalam sistem kepercayaan dinamisme,
semua benda yang besar, seperti pohon besar, batu besar, atau gunung dipercaya
mempunyai kekuatan gaib, dan karena itu perlu dihormati dan dijaga.
Menurut Dr. Brandles, selain mengenal sistem kepercayaan animisme dan
dinamisme, menjelang akhir masa prasejarah nenek moyang Indonesia telah
menguasai beberapa kemampuan, yaitu sebagai beriku :
Kemampua bercocok tanam
Kemampuan belayar dengan perahu bercadik
Kemampuan mengenal arah dengan menggunakan petunjuk rasi bintang
Mengenal kesenian wayang sebagai media untuk melakuakan hubungan
antara arwah nenek moyang
Memiliki kemampuan membuat peralatan dari batu, tanah liat,dan Teknik
membuat barang dari logam
Kemampuan membangun tempat pemujaan, seperti menhir dan punden
berundak- undak
Mengenal sistem pemerintah dan cara pemilihan kepala suku, yang disebut
dengan primus intepares
Mengenal seni gamelan
Semua hasil cipta, karya, dan kasra masyarakat terus berkembang hingga
masuknya agama dan kebudayaan hindu-buddha serta islam ke Indonesia.
Terjadilah proses asimilasi dan akulturasi antara kebudayaan lokal nusantara dan
kebudayaan hindu- buddha. Masyarakat menerima unsur- unsur baru dari
kebudayaan hindu – buddha sambil tetap mempertahankan kebuayaan aslinya,
maka proses ini disebut dengan akulturasi. Sementara jika terjadi percampuran
antara kebudayaan local nusantaradan kebudayaan hindu- buddha yang
menghasilkan kebudayaan baru, maka proses ini desebut dengan asimilasi.
Kebudayaan hindu- buddha yang masuk keindonesia tidak diterima begitu saja.
Hal ini disebabkan oleh 2 faktor yaitu :
Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar- dasar kebudayaan yang
cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing akan menambah
perbendaharaan Indonesia.
Kecakapan istimewa, bangsa Indonesia memiliki apa yang disebut dengan
istilah kecapan istimewa atau local genius, yaitu kecakapan suatu bangsa
untuk menerima unsur- unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-
unsur tersebut sesuai degan kepribadian bangsa Indonesia.
A. Interaksi antara Lokal Nusantara dan Kebudayaan Hindu-
Buddha
1. Aksara dan Bahasa
Sebelum pengaruh hindu masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia belum mengenal
aksara atau tulisan. Orang – orang india yang masuk ke Indonesia membawa serta
budaya tulis dengan huruf pahlawa dan Bahasa sanskerta. Huruf palawa dan
Bahasa sanskerta menjadi huruf dan Bahasa sanskerta menjadi huruf dan Bahasa
utama dalam banyak pratasti di Indonesia. Bahasa sanskerta kemudian banyak
memengaruhi Bahasa kawi ( Bahasa jawa kuno) dan Bahasa melayu kuno. Bahasa
kawi banyak menyerap kosakata dari Bahasa sansketa namun tidak meniru
tatabahasanya.
Menurut Prof Dr.P.J.Zoetmulder, Bahasa jawa kuno merupakan Bahasa umum
yang digunakan selama periode hindu jawa sampai runtuhnya majapahit. Sejak
kedatangan agama dan kebudayaan islam,Bahasa jawa kuno berkembang menjadi
dua, yaitu Bahasa jawa tengahan dan Bahasa jawa modern. Bahasa jawa tengahan
memiliki ciri yang erat antara budaya hindu- jawa bali dimana penaruh hindu
masih terasa. Sedangkan bsahasa jawa modern ditandai denan banyaknya
penggunaan Bahasa arab. Bahasa lainnya yaitu melayu kuno, anggota Bahasa
rumpun Bahasa Austronesia yang dianggap sebagai salah satu bentuk awal Bahasa
melayu. Bahasa melayu kuno pernah dipakai pada sekitar abad ke-7 hingga pada
abad ke-13, yaitu pada zaman dinasti Syailendra dan di kerajaan sriwijaya.
2. Sistem Kepercayaan
Sejak zaman prasejarah, bangsa Indonesia telah memiliki kepercayaan animisme
dan dinamisme. Masuknya kebudayaan hindu- buddha ke Indonesia,
menyebabkan terjadinya akulturasi. Contohnya, dalam kepercayaan agamaan
terhadap dewa- dewi di candi, terlihat adanya unsur pemujaan terhadap roh nenek
moyang. Hal ini ditunjukan dengan adanya pripih , yaitu tempat benda- benda
lambang jasmaniah raja yang membangun candi tersebut disimpan. Dengan
demikian candi dianggap sebagai makan atau tempat berdiamnya roh raja yang
telah meninggal tersebut. Upacara keagamaan atau pemujaan terhadap dewa yang
ada di candi pada hakikatnya merupakan pemujaan terhadap roh nenek moyang,
inilah bentuk akulturasi antara sistem kepercayaan masa prasejarah dan
kebudayaan hindu- buddha.
3. Kesusastraan
Karya sastra terkenal berbentuk epos yang berasal dari india, seperti kitab
Mahabharata dan Ramayana telah memicu para pujangga nusantara untuk
menghasilkan karya- karya sastra baru. Pembuatan kitab pertama kali dirintis pada
masa dinasti isyana, yaitu pada masa pemerintah dhamarwangsa teguh. Sesuai
tahapan perkembangannya, naskah- naskah kuno mulai ditulis sejak zaman
kerajaan mataram kuno, zaman kerajaan kediri, dan zaman kerajaan majapahit.
Ada beberapa karya sastra tersebut adalah sebagai berikut :
Masa zaman mataram kuno, ditulis Ramayana oleh mpu walmiki dan
Mahabharata oleh mpu wiyasa.
Pada masa pemerintah Mpu Sindok, ditulis kitab sang Hyang
Kamahayanika
Masa kediri, ditulis Arjunawiwaha oleh Mpu kanwa, Kresnayana oleh
Mpu Triguna,Smaradahana oleh mpu Dharmaja, Barathayuda oleh mpu
sedah dan panuluh dan Gatotkacasraya oleh mpu panuluh
Masa majapahit, Nagarakertagama ditulis oleh mpu prapanca, Sutasoma
dan Arjunawijaya pleh mpu Tantular.
4. Sistem Pemerintah
Dalam sistem pemerintahan, kebudayaan hindu – buddha mengenalkan sistem
kerajaan dengan konsep dewa raja. Konsep ini memosisikan raja sebagai titisan
para dewa. Para ahli menganggap kosep ini sebagai hasil proses akulturasi, yaitu
perpaduan antara hinduisme dan pemujaan nenek moyang yang sudah lama dianut
penduduk nusantara. Dalam Bahasa sanskerta istilah dewa raja dapat bermakna
“raja para dewa” atau “ raja yang juga dititisan dewa” dalam masyarakat hindu,
jabatan dewa tertinggi biasanya juga disandang oleh siwa, terkadang wisnu atau
brahma. Konsep ini memandang raja memiliki sifat ilahiah, yaitu sebagai dewa
yang hidup di atas bumi atau sebagai titisan dewa tertinggi.
5. Kesenian
Sebelum masuknya pengaruh hindu – buddha, bangsa Indonesia telah mengenal
seni bangunan dalam bentuk bangunan-bangunan besar dari masa megalitikum,
yaitu bangunan yang terkaait erat dengan kegiatan pemujaan dan penghormatan
kepada nenek moyang. Pada masa hindu, kita dikenalkan dengan konsep candi.
Jika pada masa sebelum hindu – buddha bangunan- bangunan besar seperti
dolmen dan mahir terkait erat dengan penghormatan terhadap roh nenek moyang,
maka pada masa hindu- buddha bangunan candi dimaksudkan untuk menghormati
raja yang sudah meninggal. Mirip dengan dolmen dan menhir, candi adalah
monunen tempat pen-dharma-an bagi raja sudah meninggal. Di bawah patung
rajayang di- dharma – kan biasanya juga disimpan benda- benda beharga milik
raja yang disebut pripih. Benda- bend aitu dianggap sebagai lambang jasmani raja.
Agama buddha juga mendirikan bangunan candi, dengan fungsi yang mirip. Stupa
pada candi- candi bercorak buddha awalnya juga berfungsi seperti pripih dan
tempat menyimpan abu jenazah buddha Gautama atau barang- barang beharga
milik raja yang telah meninggal . dalam perkembangannya, digunakan sebagai
tempat menyimpan abu jenazah dari pada arhat (orang suci) yang berjasa
menyebarkan ajaran buddha . dari segi struktur bangunannya, salah satu candi
bercorak buddha yaitu candi Borobudur bahkan sangat mirip dengan penden
berundak-undak, tempat pemujaan zaman megalitikum.
Candi biasanya lebih rumit namun artistik. Dibagian luarnya terdapat relung-
relung candi yang diisi dengan patung perwujudan dari dewa
siwa,durga,wisnu,brahma dan genesha. Bagian atap canti hindu biasanya
bertingkat tiga, dan dibagian puncaknya seperti genta, yaitu lonceng dengan posisi
telungkup, pada bangunan candi buddha, banyak dipenuhi stupa yang bentuknya
mirip mangkuk yang terbalik.
Candi Borobudur, Magelang Jawa tengah
Punden Berundak – undak
6. Sistem Bangunan tata kota
Pada zaman sebelum hindu-buddha, masyarakat Indonesia belum mengenal
bangunan dan tata kota yang kompleks, tertata dan bernilai sangat tinggi. Sejak
zaman hindu-buddha kita mengenal sistem yang lebih kompleks, tertata rapi, dan
bernilai sangat tinggi, bangunan itu adalah keraton. Tempat tinggal raja ini
biasanya terletak di pusat kota dan dikelilingi tombok tinggi. Disebelah selatan
istana biasanya terdapat alun- alun, di bagian barat terdapat bangunan tempat
peribadatan.
Keraton kasepuhan Cirebon
Alun-alun utara merupakan tempat berkumpul masyarakat yang bersifat dinamis,
sedangkan alun-alun selatan dianggap sebagai penyeimbang karena dimaksudkan
sebagai tempat palereman ( istirahat) para dewa dan karena itu juga susaananya
dibangun untuk dapat menentramkan hati banyak orang. Tata letak bangunan
yang lazim disebut sistem macapat ini biasanya banyak dapat kita jumpai dikota-
kota di jawa.
7. Bidang seni Rupa
Pada masa hindu-buddha masyarakat di perkenalkan dengan relief, yaitu seni
pahat berupa ukiran ( seni ukir) yang biasanya dibuat pada dinding candi, kuil,
monument, atau tempat bersejarah. Relief ini tersusun sedemikian rupa sehingga
menjadi rangkaian cerita yang biasanya diambil dari sejumlah karya sastra pada
masa itu. Terdapat perbedaan yang cukup menonjol antara relief- relief candi di
jawa tengah dan relief- relief candi di jawa timur. Relief candi jawa tengah
bersifat naturalis, artinya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sebaliknya,
relief candi dijawa timur lebih bersifat simbolis.
Seni rupa lainnya adalah bentuk patung atau arca. Sebelum masa hindu-budhha,
telah dikenal patung arca binatang yang dianggap suci, atau disebut kepercayaan
totemisme. Pada masa hindu, kita mengenal patung- patung yang menujukan
dewa utama seperti brahma, wisnu, dan siwa. Bentuk seni rupa lainnya yang
mendapat pengaruh hindu adalah ragam hias. Pada masa aksara, bangsa Indonesia
sudah mengenal ragam hias seperti yang terdapat pada nekara, garabah, dan alat
lainnya.
Kemampuan membuat ragam hias berkembang pasat pada masa hindu. Pada masa
hindu-buddha di kenal hiasan kepala orang yang biasa di pahat di bagian atas
gapura atau dikenal nama kalamakara. Selain itu, berkembang pula ragam hias
gambar binatang yang dianggap keramat, missalnya kendaraan para dewa.
Terakhir, ada ragam hias tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai lambang
penghargaan tertingi terhadap upaya pelestaraian lingkungan hidup yakni,
kalpataru.
Arca Ganesa
Nekara, pada zaman logam perunggu
Contoh Garabah
8. Sistem kalender
Sistem penanggalan atau kalender hindu-buddha turut berpengaruh terhadap
kebudayaan Indonesia, yaitu digunakannya kalender dari india yang Bernama
kalender saka. Tahun saka yang dimulai pada tahun 78 M. perhitungan tahun saka
sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat bali yang beragama hindu,
untuk menentukan hari dari sejumlah kegiatan upacara keagamaan yang mereka
anut.
Kalender Saka, Bali
B. Interaksi antara Tradisi lokal dan Kebudayaan islam di
Indonesia
1. Aksara
Akulturasi kebudayaan Indonesia dan islam dalam bidang aksara diwujudkan
dengan berkembangnya tulisan arab melayu Indonesia, yaitu tulisan arab yang
digunakan untuk menulis dalam Bahasa melayu, tulisan arab melayu disebut
juga dengan istilah arab gundul.
2. Bidang sosial
Masyarakat pada masa hindu-buddha mengenai sistem kasta. Akan tetapi saat
agama dan kebudayaan islam masuk sistem kasta tersebut perlahan hilang.
3. Bidang pemerintah
Pada masa pengaruh islam, gelar raja digantikan dengan sultan. Konsep dewa
raja yang memandang raja sebagai titisan dewa diganti dengan konsep sultan
sebagai khalifah, yang berarti pemimpin umat. Penasehat raja berasal dari tokoh-
tokoh agama yang disebut kiai, meski demikian, sistem pemerintah tidak
mengalami perubahan menyeluruh. Sebutan atau gelar bagi pembantu raja tetap
menggunakan istilah lama seperti “ patih panglima”, hulubalang , mahamentri,
dan lain-lain.
4. Bidang seni Bangunan
Akulturasi tampak jelas pada bangunan pemujaan, jika masa praaksara,
pemujaan terhadap roh nenek moyang diwujudkan dalam bangunn punden
berundak-undak, maka pada masa hindu- buddha diwujudkan dalam bentuk
candi .bentuk candi dibuat dengan struktur bertingkat-tingkat seperti punden
berundak-undak. Proses akulturasi juga tampa pada letak dan bentuk makam.
Pada masa islam, makam lebih sederhana dan tidak besar, makam dibangun di
tempa tyang berbukit, mirip dengan konsep punden berundak-undak. Contohnya,
makam sunan gunung jati di perbukitan gunung jati, Cirebon
Makam sunan gunung jati di perbukitan gunung jati, Cirebon
Pada makam islam sering dijumpai bangunan kijing atau jirat, yaitu bangunan
makam yang terbuat dari tembok batu bata dan serta bangunan rumah atau
cungkup diatasnya. Wujud akulturasi lainnya adalah ukiran bangunan makam.
Hiasan pada jirat atau kubur batu berupa susunan bingkai meniru bingkai pada
panel relief bangunan candi. Pada bangunan masjid, terutama di pulau jawa,
bangunan masjid berbentuk seperti pendapa yaitu balai atau ruang besar tempat
rapat dengan komposisi ruang yang berbentuk persegi dan beratap tumpeng.
Atap masjid di jawa banyak yang berbentuk atap tumpang dengan jumlah
susunan bertingkat dua,tiga dan lima.
Hal ini mirip dengan bentuk bangunan pura, adanya kentongan atau bedug yang
dibunyikan di masjid sebagai petanda sudah masuknya waktu sholat
menunjukkan adanya unsur Indonesia asli. Dalam hal letak bangunan masjid,
ajaran islam tidak mengaturnya secara khusus. Akan tetapi, di Indonesia
penetapan masjid diatur sedemikian rupa sesuai dengan komposisi macapat.
Masjid ditempatkan disebelah barat alun-alun dan dekat dengan keraton, sebagai
bersatunya rakyat dan raja.
5. Bidang Seni Rupa
Agama dan pengaruh islam membawapada bidang seni rupa, terutama seni
Lukis,ukir, relief dan kaligrafi. Seni kaligrafi secara harfiah berarti tulisan
indah., Biasanya di pakai huruf arab. Seni rupa islam mengolah kaligrafi
menjadi motif hias. Seni hias islam selalu menghindara penggambaran makhluk
hidup secara realitis, maka untuk penyemarannya dibuatkan stilisasi,yaitu proses
rekayasa ulang yang menyerupai bentuk aslinya didunia nyata. Seni rupa abstrak
juga berkembang pesat, terutama dalam karya lukisan, grafis, ataupun giasan
arsitektur bangunan.
Contoh Kaligrafi
6. Bidang kesusastraan
Karya sastra banyak dipengaruhi oleh sastra islam yang berasal dari Persia,namun
pengaruh hindu-buddha dan jawa masih terlihat. Berkembang karya sastra yang
berbentuk tambo(Sumatra), babad (jawa) dan Lontara ( Sulawesi selatan) yang isi
ceritanya bersifat kepahlawanan atau dikaitkan dengan tokoh sejarah. Jenis lain
kesusastraan zaman islam yang mendapat pengaruh kuat dari hindu- buddha dan
tradisi lokal nusantara yaitu suluk. Suluk adalah teks sastra yang mengandung
ajaran tasawuf, suatu aliran mistik dalam islam yang mengungkap tentang jalan
spiritual-asketis atau mati-raga menuju kesatuan dengan tuhan. Pengaruh hindu-
buddha dan tradisi lokal jawa yang paling menonjol terlihat dalam penyebutan
konsepsi tuhan.
7. Bidang Seni Pertunjukan
Ketika agama hindu masuk ke Indonesia, pertunjukan wayang disesuaikan
menjadi media yang efektif untuk menyebarkan agama hindu. Melihat wayang
yang begitu digemari masyarakat, walisongo kemudian menggunakannya sebagai
media penyebaran agama islam. Pertunjukan wayang yang menampilkan tuhan
atau dewa dalam wujud manusia dilarang, dan munculah boneka wayang yang
terbuat dari kulit. Pertunjukan wayang biasaya diiringi dengan gamelan, yang
berfungsi sebagai penghidup cerita, dan wayang nya dimainkan oleh dalang.
Diantara wali songo yang menggunakan pertunjukan wayang yaitu sunan kalijaga
dan susan bonang.
Contoh akulturasi lain dalam seni pertunjukan adalah seni tari. Seni tarai
berkembang menjadi bagian dari ritual masyarakat hindu. Oleh karena itu, di
wilayah-wilayah Indonesia yang dipengaruh hindunya kuat, gerak tariannya lebih
rumit dan penuh dengan simbol regilius. Ketika islam masuk , kisah cerita dalam
tarian disesuaikan dengan cerita islam. Gaya busana penari menjadi lebih tertutup
sesuai dengan ajaran islam. Contohnya seni tari yang mendapat pengaruh islam
adalah tari zapi ( melayu) dan tari saman ( aceh) yang menerapkan gaya tari dan
musik bermuansa arab dan Persia yang digabungkan dengan gaya lokal.
Contoh wayang kulit
Contoh tarian zapin, melayu
Contoh tarian Saman ,Aceh
8. Upacara
Akulturasi dalam upacara tampak dalam tiga upacara yaitu pernikahan,kelahiran,
dan kematian. Tatacara pernikahan berakulturasi dengan kebudayaan pra- islam.
Selain dipanjatkan doa-doa dalam bahas arab, acara siraman dan selamatan
merupakan peninggalan zaman hindu-buddha. Pada upacara kelahiran sangat jelas
pengaruh hindu-buddha. Di jawa, proses kelahiran dimulai dengan acara mitoni.
Dalam upacara tersebut, calon ibu melakukan siraman untuk melindungi bayi dan
ibunya dari bahaya. Akulturasi dengan ajaran islam terlihat dalam doa-doa (
dalam Bahasa arab) yang dibacakan dalam upacara tersebut.
Pada upacara kematian, memasukkan jenazah ke dalam peti merupakan tradisi
zaman megalitikum. Setelah jenazah dikuburkan diadakan selamatan. Tradisi ini
sesungguhnya merupakan peninggalan hindu-buddha. Bentuk upacara lain yang
popular sebagai hasil akulturasi adalah larung saji. Upacara khas jawa ini
dilakukan sebagai bagian dari peringatan tahun baru 1 muharam/ 1 suro. Upacara
ini aslinya merupakan tradisi hindu untuk menyambut tahun baru saka.
9. Sistem Kalender
Sebelum budaya islam masuk ke Indonesia, masyarakat sudah mengenal kalender
saka ( kalender hindu). Dalam kalender saka ditemukan nama-nama parasan hari
seperti legi, pahing,pon, wage dan kiwon. Setelah masuk dan berkembang islam,
sultan agung dari mataram menciptakan kalender jawa, dengan menggunakan
perhitungan perbedaan bulan( komariah) seperti tahun hijriah (islam). Pada
kalender jawa, sultan agung melakukan perubahan nama-nama bulan, seperti
muharam menjadi suro, dan ramadha menjadi pasa. Nama-nama hari tetap
menggunakan hari-hari sesuai Bahasa arab. Kalender sultan agung dimulai
tanggal 1 suro 1555 jawa, atau tepatnya 1 muharam 1053 hijriah yang bertepatan
dengan tanggal tanggal 8 agustus 1633 masehi
C. Pengaruh Tradisi lokal, Hindu-Buddha dan Islam Terhadap
Perkembangan Kebudayaan di Indonesia
Interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha, dengan Islam akhirnya
menghasilkansesuatu yang budaya yang khas. Melalui proses akulturasi yang
evolusioner (berjalanlambat-laun), masyarakat Indonesia semakin kaya akan
keberagaman budaya, darimulai bidang seni arsitekturnya, sastra, seni rupa, seni
tarian dan musik, konsepkekuasaan, dan bidang-bidang yang lainnya.
1. Dalam Seni Arsitektur dan Bangunan
Corak arsitektur bangunan bercorak Islam yang ada di Indonesia banyak
dipengaruhiwarna Gujarat, India. Masyarakat Gujarat ini pada awalnya
beragama Hindu, namunsejak Islam masuk ke India sebagian dari mereka
memeluk Islam. Gaya arsitekturbangunan di Gujarat merupakan akulturasi
antara Hindu dan Islam, sehingga bentuknyaberbeda dengan bangunan yang
berada di Arab. Dengan demikian, masuknya Islammelalui Gujarat tidak
memengaruhi bentuk bangunan Indonesia yang masih melekatdengan budaya
Hindu-Buddhanya.
Seperti candi dan biara, arsitektur bangunan mesjid dibuat secara khusus agar
terlihatbeda dengan bangunan-bangunan lainnya. Sebagai tempat beribadah
tetntunyabangunan bersangkutan harus terlihat lebih spesial dibandingkan
bangunan-bangunanlainnya dan tahan lama. Biasanya atap masjid dibuat
berundak-undak (bertingkat),sedangkan masjidnya berdenah persegi panjang,
memiliki serambi depan atau samping,dikelilingi benteng, dan gerbang masjid
tersebut berbentuk gapura yang berornamen Hindu-Buddha.
Contoh masjid-masjid yang berarsitektur seperti ini dapat dijumpai pada Mesjid
Marunda di Jakarta, Mesjid Agung Demak, Mesjid Agung Banten, dan
MesjidAgung Cirebon. Adapula beberapa masjid arsitekturnya sangat kental
akan nuansaCina, masjid ini biasanya didirikan oleh komunitas Tionghoa
muslim yang ada diIndonesia, dan tak jarang masjid tersebut berubah fungsi
menjadi kelenteng karenaditinggalkan penduduk aslinya
.Gambar: Gerbang Masjid Jamik di Sumenep, Madura. Perhatikan
atap masjid yangdipengaruhi arsitektur Cina
Biasanya, di sekitar masjid pada zaman dahulu selalu terdapat makam orang-
orangpenting di zamannya. Makam yang terdapat di belakang atau di samping
masjidtersebut, biasanya merupakan tempat peristirahatan terakhir para raja
beserta keluargadan kerabatnya atau para wali. Makam-makam tersebut dibuat
lebih tinggi dari tanahsebagai penanda bahwa kedudukan almarhum/almarhumah
berbeda dengan rakyatbiasa. Makam raja dan keturunannya dikumpulkan dalam
satu wilayah seperti halnyakeluarga (ayah, ibu, dan anak). Batu nisan pada makam
dibuat dari batu dan ditulisinama orang, tempat dan tanggal lahir dan meninggal
orang bersangkutan dengan hurufArab dan bertarikh hijriah.
a. Keraton
Perpaduan budaya dalam bentuk bangunan dapat dilihat dari bentuk arsitektur
padakeraton sebagai tempat raja. Keraton yang berada di Jawa dan Sumatera
kebanyakanmerupakan perpaduan antara budaya Islam dengan Hindu dan
Buddha. Keraton-keraton yang terdapat di Jawa, lazimnya dihiasi dengan
ornamen-ornamen hiasan khasIslam yang dipadukan dengan ornamen Jawa yang
Hindu-Buddha. Pada gerbangtempat masuk kerajaan dihiasi oleh gapura dan
makara model Majapahit atau Singasari.Ruangan-ruangan di dalam keraton
tersebut dihiasi ukiran-ukiran yang memadukanunsur Islam dengan Hindu-
Buddha.
b. Masjid
Bagi umat Islam, masjid merupakan pusat kekuasaan politik yang handal, selain
sebagailambang persatuan umat. Pada masa Raden Patah menjadi raja, Masjid
Demakmerupakan tempat para wali dan pihak kerajaan membahas masalah-
masalah politik.Sebagai pemimpin umat, seorang raja dituntut untuk membangun
masjid dengansemegah mungkin. Besar dan kecilnya bangunan masjid merupakan
cerminan darikekuasaan yang dimiliki oleh seorang raja.Di Indonesia, sebelum
seni arsitektur Islam dikenal betul, bangunan mesjid mengikutiseni arsitektur yang
berkembang sebelumnya, seperti Mesjid Agung Cirebon, Agung Banten, Demak,
Kudus, Jepara dan mesjid-mesjid lainnya. Mesjid-mesjid tersebut memiliki ciri
atap yang bertumpuk-tumpuk yang banyak pengaruh dari budaya lokal danHindu-
Buddha.
Gambar : Masjid Agung Demak
c. Makam
Sejarah senantiasa memperlihatkan kepada generasi mendatang tentang begitu
banyakraja yang sangat cintai karena ketenaran dan kekayannya. Dan walaupun,
raja tersebut sesungguhnya tak disukai rakyatnya, tetap saja makamnya dibangun
begitu megah.Ketika raja tersebut meninggal dunia, sebuah makam atau kuburan
pun dibuatkan dengan megah dan besar serta bercitra rasa arsitektural yang tinggi.
Di India, misalnya, kita melihatnya pada Taj Mahal, makam permaisuri Sultan
Syah Jehan dari DinastiMughal yang bernama Arjuman Banu Begum yang
dikenal juga dengan Muntaz Mahalyang meninggal pada 1631.
Gambar : Taj Mahal, India
.Di Indonesia, sejumlah peninggalan makam raja-raja yang pernah berkuasa
cukupterpelihara dengan baik. Tidak seperti jenazah raja-raja Hindu-Buddha yang
diabukandan disimpan dalam candi, jenazah raja-raja Islam biasanya dikubur
dalam tanah.Setelah dikubur jenazahnya maka makam raja bersangkutan akan
dipelihara dandisanjung-sanjung. Para raja dan kerabat raja Mataram-Islam
memiliki komplekpemakaman khusus yang berada di Bukit Imogiri, Yogyakarta.
Komplek Imogiri inidibangun atas perintah Sultan Agung Mataram sebagai
tempat kuburannya dan sanak-saudaranya kelak bila meninggal dunia.
Pembangunan komplek pemakaman di bukit tersebut memiliki motivasi yang
bersifatkosmis yang berhubungan dengan kepercayaan animisme dan konsep
dewa-dewiHindu. Menurut kepercayaan tradisional, bukit atau dataran tinggi
merupakan tempatyang layak bagi "tempat peristirahatan terakhir " seorang raja
atau penguasa yangberperan sebagai wakil Tuhan di dunia. Bandingkanlah
komplek Imogiri ini dengankomplek Candi Dieng peninggalan Mataram Kuno
yang juga berada di dataran tinggi.
Selain makam raja, makam-makam kerabat istana dan para pemuka agama
yangterpandang juga senantiasa dirawat dan pada momen-momen tertentu sering
diziarahiorang untuk berbagai macam kepentingan. Makam para Wali Sanga,
misalnya, hinggasekarang masih sering dikunjungi, terutama pada hari-hari raya
besar Islam. Selainmendoakan arwah yang diziarahinya, para pendatang juga
selalu berdoa memintakepada makam atau arwah bersangkutan agar keinginannya
terpenuhi. Tak jarangkeinginan para peziarah tersebut berbau mistis atau duniawi,
seperti minta awet-muda, jabatan, kekayaan, perjodohan, dan hal-hal keduniawian
lainnya
2. Pengaruh dalam Kesusastraan dan Kesenian
Karya sastra merupakan cerminan budaya di mana sastra tersebut lahir
danberkembang. Sejak masa prasejarah, sastra telah berkembang dari generasi
kegenerasi secara tuturan (folklore). Dengan masuknya tradisi Hindu-Buddha,
seni sastradi Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatera) mengalami
perkembangan yangprogresif, sastra lisan pun beralih menjadi sastra tulis yang
menandakan zaman sejarahdimulai. Para pujangga atau sekretarsi (juru tulis)
istana menulis kitab-kitab dengantema-tema beragam, tidak lagi terbatas kepada
legenda dan mitologi semata, melainkantema yang lebih rasional, yang bernilai
sejarah. Karya-karya sastra India sangat kentalpengaruhnya terhadap penulisan
sastra yang berkembang pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Pada mulanya para pujangga istana menerjemahkan kitab-kitab India
sepertiMahabharata dan Ramayana ke dalam bahasa ibu/daerah masing-masing,
misalnyabahasa Melayu atau Jawa Kuno. Setelah kehidupan politik, sosial,
ekonomi stabil,mereka kemudian menggubah atau memparafrasakan (menulis
kembali berdasarkankalimat-kalimat ciptaan sendiri bukan sekadar
mengalihbahaskan semata) sastra-sastraIndia tersebut. Yang mempelopori
penggubahan dari sastra India ke sastra Jawa Kuno(Kawi) adalah Dharmawangsa
Teguh, yakni epik Mahabharata. Penggubahan ini makinpesat pada masa
berikutnya. Lahirlah karya sastra dalam bentuk kakawin seperti:Arjuna Wiwaha
karya Mpu Kanwa, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh,Gatotkaca
Sraya karya Mpu Panuluh, Kresnayana karya Mpu Triguna. Di daratanSumatera
dan Melayu lahir pula karya-karya saduran dari India seperti Hikayat Sri
Rama(saduran dari Ramayana), Hikayat Pandawa, Hikayat Pandawa Panca
Kelima, HikayatPandawa Jawa (semuanya saduran dari epos Mahabharata), serta
Hikayat Sang Bomameski ada kemungkinan baru ditulis setelah pengaruh Islam
datang.
Selain menggubah dan menyadur, para pujangga makin
memperlihatkankematangannya sebagai budayawan. Mereka mulai mengarang
kisah-kisah sendirimeski temanya tidak jauh dengan karya-karya pada zaman
sebelumnya. Masa ini diJawa disebut masa Jawa-Hindu-Buddha bukan lagi masa
Hindu-Buddha-Jawa, yangartinya bahwa para sastrawan telah menemukan " jati
diri " mereka sebagai orang Jawadalam bekarya; begitu pula di Ranah Melayu dan
daerah-daerah lain di Indonesia.Berikut ini adalah sejumlah karya "asli " para
pujangga Jawa: Negarakretagama karyaMpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu
Tantular, kitab Pararaton, Kidung Sunda,Ranggalawe, Sorandaka, Usana Jawa,
Sutasoma karya Mpu Tantular, Smaradhanakarya Mpu Dharmaja, Lubdaka dan
Wrtasancaya karya Mpu Tanakung.
Setelah masyarakat Indonesia mengenal agama dan kebudayaan Islam,
perkembangandunia sastra makin pesat. Banyak karya sastra yang bersifat
historiografi tradisionalyang di dalamnya memuat elemen-elemen kesejarahan
namun tetap mengandungunsur-unsur pra-Islam. Kitab-kitab seperti Hikayat Raja-
Raja Pasai, Hikayat Aceh,Hikayat Hasanuddin dapat dijadikan sumber dalam
melacak sejarah kedatangan Islam ke Indonesia. Di Jawa muncullah kitab-kitab
dalam bentuk suluk, hikayat, serat, danperimbon. Perimbon ini berisi ramalan dan
penentuan hari yang baik untuk berdagang,mencari ilmu, menikah, acara
syukuran, dan sebagainya.
Pada masa Mataram-Islam, pengaruh seni musik, sastra, dan bahasa Jawa
menyebarke wilayah lainnya di Nusantara. Sebagai pihak yang paling berkuasa
secara politik,otomatis Mataram pun menghendaki bahwa seni-budaya khas
Mataram dikenal dandipelajari oleh kerajaan-kerajaan lain sebagai bawahannya.
Oleh karena itu, misalnya, didaerah Priangan (Jawa Barat) dikenal sejumlah kosa
kata dan tembang yang berasaldari budaya Jawa.
Kaya-karya sastra jawa hasil akulturasi islam-tasawuf dengan konsep jawa-
hindu-buddha antara lain :
Suluk Minang Sumirang, menggambarkan jiwa manusia menyatu dengan
Tuhan.
Suluk Sukarsa, menceritakan Ki Sukarsa mencari ilmu untuk
mendapatkankesempurnaan. Cerita ini mirip cerita Dewa Ruci dalam
cerita pewayangan Jawayang mengisahkan pencarian Bima (Pandawa
nomor dua) akan hakikat danmakna kehidupan.
Suluk Wijil, berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wijil,
seorangmantan abdi istana di Majapahit yang bertubuh cebol
.Karya-karya sastra Melayu (dan kemudian Jawa) banyak terpengaruhi oleh
kebudayaanArab dan Persia. Cerita-cerita terkenal dari Timur Tengah ikut
menyemarakkan sastrayang beredar di Indonesia. Cerita seperti Kisah 1001
Malam gubahan sastrawan yanghidup pada masa Dinasti Umayyah, yakni Abu
Nawas dari Irak, atau cerita Aladin yangbanyak memperngaruhi sastra Melayu
di bagian barat Indonesia. Sastra karya HamzahFansuri merupakan contoh hasil
akulturasi kebudayaan Islam-Timur-Tengah dengan ajaran Buddha
.Hamzah Fansuri adalah contoh begitu terpengaruhnya para sastrawan Sumatera
olehkarya sastra Timur Tengah. Dua karya sastra Hamzah Fansuri yang terkenal
adalahSyair Perahu dan Syair Si Burung Pingai. Syair Perahu menggambarkan
manusia yangdidibaratkan perahu yang mengarungi lautan dengan menghadapi
segala rintangan.Segala rintangan tersebut dalam pandangan tulisan tersebut
harus dihadapi oleh tauhiddan makrifat kepada Tuhan (Allah SWT). Sedangkan
Syair si Burung Pingaimenggambarkan manusia sebagai seekor burung yang
dianggap sebagai dzat Tuhan.
Selain karya-karya di atas, akulturasi sastra Islam dengan budaya lokal bisa
dilihat darikarya-karya sastra lainnya, seperti Syair Panji Sumirang, Cerita
Wayang Kinundang,Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekel Weneng Pati,
Hikayat Panni Wilakusuma,Syair Ken Tumbunan, Lelakon Mesda Kuminir.
Karya-karya yang kaya dengan budayaIslam dan lokal ini banyak dihasilkan
pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam,terutama yang ada di Sumatera dan
semenanjung melayu .
Gambar : Naskah Salinan Hikayat Hang Tuah yang ditukiskan
Pada tahun 1882 di malaka
Budaya dan sastra Jawa, berbeda dengan budaya Sumatera, pengaruh
kebudayaanHindu-Buddhanya sangat kental dan sarat akan unsur-unsur
"kebatinan". Pada saatkebudayan ini berrtemu dengan tasawwuf dalam Islam,
akhirnya menjadi sangat pasuntuk dikembangkan. Karya-karya sastra Jawa,
seperti suluk yang berisi tentangramalan, masalah gaib dan arti dari simbol-simbol
tertentu. Suluk merupakan bagiandari ajaran tasawuf yang isinya tantang proses
menuju makrifat.
3. Pengaruh dalam Tradisi
Interaksi antara tradisi lokal, Hindu-Buddha dan Islam di Indonesia menjadikan
kebudayaan diIndonesia menjadi beraneka ragam dan mempunyai ciri khas
tersendiri atau identitas sendiri.Berbicara tentang kebudayaan, hal ini sangat erat
kaitannya dengan tingkah laku manusia dalamkehidupannya sehari-hari. Di
Indonesia khususnya di pulau Jawa ini, tradisi lokal pribumi Jawasendiri sejak
dulu telah mewarnai kebudayaan di pulau Jawa. Di tambah lagi dengan
adanyakedatangan orang-orang dari luar pulau Jawa yang membawa tradisi
Hindu-Buddha yang diterima dengan baik dan ramah oleh orang-orang Jawa
pada jaman dulu dan setelah ituberlangsung cukup lama, datang lah tradisi Islam
yang di bawa oleh para pedagang gujarat yangkebanyakan dari daerah timur
tengah. Hal itulah yang menyebabkan tradisi kebudayaan diIndonesia menjadi
penuh warna atau beraneka ragam yang menjadikan sebuah ciri khas
atauidentitas sendiri bagi negara Indonesia ini. Hal itu membuktikan bahwa
masyarakat Indonesiapada jaman dulu telah terbuka pikirannya dan mampu
menerima dengan ramah sesuatu yangdatang dari orang asing, yang akhirnya
menimbulkan akulturasi kebudayaan yang menjadi cirikhas dari bangsa
Indonesia.
Beberapa contoh tradisi daerah yang merupakan perpaduan dari unsur Lokal,
Hindu-Buddhadan Islam di Indonesia sebagai berikut :
Upacara sedekah => yaitu upacara yang dilaksanakan setelah 7 hari dari hari
raya Idul Fitridi daerah Demak, sebagai tanda syukur
Upacara sukuran hasil panen => merupakan upacara yang dilakukan setelah panen
danbertujuan sebagai ungkapan rasa sukur terhadap Sang Pencipta dan pada Alam
yang telahmemberikan sumber kehidupan yang berlimpah.
Upacara Tabuik => yaitu upacara yang dilakukan di pantai barat Sumatra sebagai
peringatanatas Hasan & Husein, cucu Nabi Muhammad SAW yang dipengaruhi
golongan Syiah.
Upacara Tabuik, Sumatra barat
Perpaduan Tradisi Lokal, Hindu-Budha, dan Islam di Indonesia sebagai
berikut:
Bidang Budaya
Sebelum pengaruh budaya Hindu-Buddha masuk, bangsa Indonesia talah
menggunakan bahasamelayu kuno dan Jawa kuno. Setelah masuknya Hindu-
Buddha masyarakat menggunakanbahasa sansekerta dan bahasa podi. Sedangkan
masuknya agama Islam ke Indonesia, Islammenggunakan bahasa Arab. Hal itu
membuat perbendaharaan kata di Indonesia ini semakinbanyak. Buktinya terdapat
banyak bahasa yang di adopsi dari bahasa sansakerta dan bahasaarab, di samping
itu juga terdapat suatu kampung atau desa yang di dalamnya terdapat suaturas
tertentu seperti ras Arab dan Cina.
Bidang Sosial
Sistem masyarakat yang dulunya dibedakan berdasarkan profesi, setelah agama
Hindu-Buddhamasuk, sistem kemasyarakatan dibedakan berdasarkan kasta.
Tetapi dengan masuknya agamaIslam sistem kasta mulai menghilang, meskipun
sekarang masih bisa kita jumpai padamasyarakat tertentu. Sebagai bukti tradisi
Hindu-Buddha telah mempengaruhi Tradisi lokal bisakita jumpai di Pulau Bali
yang masih menggunakan sistem kasta.
Bidang Sistem Pemerintahan
Dulu sistem pemerintahan dipimpin oleh seorang kepala suku yang menggunakan
sistem PrimusInterpares ( orang nomor satu diantara sesamanya ). Sedangkan
dalam Hindu-Buddha sistempemerintahannya berupa kerajaan yang dipimpin oleh
seorang Raja. Tetapi di dalam Islam nama Raja diganti dengan sebutan Sultan.
Sebagai buktinya di daerah Banten tepatnya di daerah Baduy, dalam penduduknya
di pimpin oleh seorang Kepala Suku dan pada jaman dulu banyakkerajaan-kerajan
yang berdiri di Nusantara ini yang menggunakan sistem pemerintahan yang
dipimpin oleh seorang Raja, setelah Islam masuk dan menyebar sangat luas Raja
digantikandengan sebutan Sultan seperti halnya Sultan Hassanudin di Banten.
Bidang Seni Sastra
Sastra di Indonesia baru mengenal sastra lisan, misalnya sastra ritual ( doa atau
rapal ) dan nonritual ( nyanyian rakyat dan peribahasa ). Setelah datangnya Hindu-
Buddha, Indonesia mengenalsastra tembang dan irama kidung. Pada saat Islam
masuk cerita tersebut hanya diubah danbahasanya ditambah kosakata Arab.
Sebagai buktinya dalam cerita-cerita wayang yang diadopsi dari kitab-kitab Hindu
telah diubah oleh para Wali pada jamannya untuk media saranapenyebaran
keagamaan.
Pernikahan
Akulturasi antara budaya Lokal dan Hindu-Buddha terlihat dalam pengadaan
sesajen ketikaUpacara Pernikahan berlangsung. Setelah Islam masuk upacaranya
di awali dengan membacaakad nikah antara kedua mempelai.
Pemakaman
Prosesi pemakaman yang sesuai dengan ajaran Islam hanya diwajiban untuk
mensucikan janazah, mengkafani dan menguburkannya. Tetapi karena adanya
akulturasi, misalnya setelahhari kematian adanya hari-hari pringatan selamatan
atau acara tahlilan yang berisi pembacaan Zikir dan Tahlil. Juga pemberian nisan
yang merupakan warisan kebudayaan prasejarah.
GLOSARIUM
Animisme : Animisme adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan
roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan
manusia purba.
Dinamisme : adalah kepercayaan bahwa benda-benda di sekitar
manusia mempunyai kekuatan gaib
Primus intepares : Sistem Pemilihan pemimpin melalui musyawarah
diantara sesamanya berdasarkan kelebihan yang dimiliki baik secara fisik ataupun
spiritual
Menhir : batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah
seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas
tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik, dari kata men dan hir.Jadi,
artinya adalah batu Panjang.
Punden berundak – undak : bangunan sederhana berbentuk segi empat yang
berundak-undak atau bertingkat-tingkat. Oleh karena itu, stupa Borobudur
memiliki bentuk yang khas dan tidak ada duanya di negara Buddha manapun
Referensi :
https://id.scribd.com/presentation/53657496/BAB.VBUDAYA
LOKAL,HINDU,BUDDHA ISLAM
https://id.scribd.com/document/370959007/AKULTURASIBUDAYA
LOKAL,HINDU,BUDDHA DAN ISLAM