Sistem Kekebalan
Pada Manusia
Pendidikan Biologi Kelas 3.02 Angkatan 2021
Anggota Kelompok
01 02
Elyza Rohman N Farikhatul Hidayah
2120305 2120305072
03
Fitria Cahya N H
2120305
TABLE OF CONTENTS
Mekanisme Komponen Sistem Respon
Sistem Kekebalan Tubuh Imunitas
Humoral
Kekebalan MERCURY
VENUS
Respon Mercury is the smallest
Sekunder planet of them all Venus is the second
planet from the Sun
Melanisme Sistem Kekebalan Tubuh
Sistem imun atau kekebalan tubuh merupakan sekelompok
sel, molekul, dan organ yang bersama-sama secara aktif
mempertahankan tubuh dari serangan benda-benda asing
yang menyebabkan penyakit, seperti virus, bakteri, dan
jamur.
Respon imun memiliki dua mekanisme, yaitu respon imun
yang dilakukan oleh sel-sel darah putih (lewat sel) dan
respon imun yang dilakukan oleh molekul protein yang
tersimpan di dalam limfa dan plasma darah yang disebut
antibodi. Respon imun yang dilakukan oleh antibodi
disebut juga respon humoral (imunitas humoral).
Kekebalan tubuh dapat dibagi menjadi dua yaitu kekebalan
bawaan dan kekebalan adaptasi.
1. Kekebalan Bawaan
Kekebalan bawaan disebut juga kekebalan tidak spesifik. Kekebalan ini
merupakan garis utama tubuh yang pertama melawan semua agen asing
yang masuk ke dalam tubuh. Alat yang menghalangi dalam imunitas
bawaan, seperti kulit, air mata, mukus, dan air ludah yang mencegah laju
peradangan setelah terjadi luka atau infeksi. Mekanisme kekebalan
bawaan adalah menghalangi masuknya dan penyebaran penyakit, tetapi
jarang mencegah penyakit secara keseluruhan.
2. Kekebalan Adaptasi
Kekebalan ini disebut juga dengan kekebalan spesifik, jika garis
pertama kekebalan tubuh mendapat serbuan maka sel, molekul
dan organ dari sistem imun menghasilkan suatu imun yang
spesifik untuk melawan agen yang disesuaikan dengan jenis
agen penyerang tersebut. Sehingga, sistem imun ini akan bekerja
untuk melawan bila agen asing menyerang lagi.
Komponen Sistem Kekebalan Tubuh
Kemampuan sistem imun dalam memberikan respon pada penyakit tergantung
pada interaksi yang komplek antara komponen sistem imun dan antigen yang
merupakan agenagen patogen atau agen penyebab penyakit. Antigen
merupakan bahan-bahan asing yang masuk ke dalam tubuh. Jaringan dan
organ yang berperan dalam sistem imun berada di bagian seluruh tubuh. Pada
manusia dan mamalia lain, organ-organ pusat sistem imun adalah sumsum
tulang. Sumsum tulang yang ada dalam tulang mengandung selsel batang yang
menghasilkan atau memproduksi sel-sel darah, salah satunya adalah sel darah
putih. Masih ingatkah kamu macam-macam sel darah putih? Sel darah putih
yang memiliki peranan utama dalam sistem imunitas atau kekebalan tubuh
adalah limfosit yang akan berkembang menjadi makrofag. Perkembangan
limfosit menjadi makrofag dilakukan oleh monosit.
1. MAKROFAG Makrofag menjalankan fungsinya sebagai
sistem imun dengan melakukan
fagositosis terhadap bahan-bahan asing
atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh.
Proses fagositosis terjadi dengan cara
mengelilingi, kemudian memakan dan
menghancurkan antigen tersebut, proses
ini merupakan bagian dari reaksi
peradangan. Makrofag juga mempunyai
peran yang penting dalam imun adaptif,
dalam hal ini makrofag akan mengambil
antigen dan mengantarkannya untuk
dihancurkan oleh komponen-komponen
imun lain dalam sistem imun adaptif.
2. LIMFOSIT
Limfosit adalah sel darah putih yang berperan
dalam pembentukan antibodi sehingga juga
berperan dalam sistem kekebalan tubuh.
Limfosit dapat dibagi menjadi dua macam,yaitu
limfosit B dan limfosit T. Kehidupan limfosit T
dimulai di dalam sumsum tulang, dan segera
menuju ke timus untuk berdiferensiasi lebih
lanjut dan siap menjalankan fungsinya. Limfosit
B diproduksi dan dewasa di dalam sumsum
tulang, namun aktif menjalankan peran sebagai
imunitas bila sudah meninggalkan sumsum
tulang.
3. RESEPTOR ANTIGEN
Salah satu karakteristik imunitas adaptasi adalah
kekhususan spesifikasi. Spesifikasi, artinya setiap
zat anti yang dihasilkan oleh tubuh hanya mampu
untuk melawan antigen tertentu. Di antara respon
tersebut adalah menyesuaikan tipe yang spesifik
dari antigen. Limfosit akan memproduksi reseptor
antigen, yang memiliki struktur yang spesifik untuk
mengikuti dan sesuai dengan struktur antigen
seperti kunci dan gemboknya. Limfosit dapat
membuat berjuta-juta macam reseptor antigen.
4. Sel Pengenal Antigen
Saat antigen memasuki tubuh, ada suatu molekul transpor yang bertugas
mengenali antigen tersebut untuk limfosit T. Molekul transpor tersebut adalah
Major Histocompatability (MHC) dikenal dengan molekul MHC. Molekul MHC
kelas 1 berfungsi sebagai pengenal antigen untuk sel T pembunuh, dan molekul
MHC kelas II sebagai pengenal antigen untuk sel T pembantu.
RESPON IMUNITAS HUMORAL
Respons imunitas humoral merupakan respons imun dari tubuh
yang terjadi setelah agen yang masuk ke dalam tubuh. Makrofag
akan memakan antigen dan dibawa untuk dikenali oleh sel T
pembantu. Adanya antigen ini memicu sel T pembantu (penolong)
mensekresikan molekul yang disebut interleukin. Interleukin adalah
molekul yang mengaktifkan limfosit B untuk mengikat antigen.
Kemudian, sel B mensekresikan antibodi. Antibodi berfungsi
mengikat antigen dan menghancurkannya.
Struktur Antibodi
Antibodi merupakan suatu protein yang
memiliki bentuk seperti huruf Y, dan
disebut imunoglobin (Ig). Imunoglobin ini
hanya diproduksi oleh sel B, imunoglobin
yang berbentuk huruf Y ini, pada ujung
percabangannya bertugas mengikat
antigen; dan dasar huruf Y yang
menentukan bagaimana antibodi
menghancurkan antigen tersebut. Jenis-
jenis antibodi adalah Ig M, Ig A, Ig D, dan
Ig E.
Pengeluaran Antibodi
Bagaimanakah antibodi dikeluarkan oleh tubuh? Langkah pertama adalah
penelanan antigen yang masuk ke dalam tubuh oleh sel-sel fagosit
(makrofag), selanjutnya dengan suatu cara tertentu sel-sel fagosit
berinteraksi dengan limfosit . Terkadang sebelum antigen masuk, tubuh
telah memiliki limfosit yang mampu mengenali antigen tersebut. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya proses fagositosis. Dengan adanya fagositosis
maka limfosit akan menyatu dengan antigen. Menyatunya antigen dengan
limfosit terjadi di reseptor di permukaan sel yang identik sampai akhirnya
antibodi dikeluarkan. Sekali antigen melekat pada reseptor limfosit yang
sesuai akan merangsang limfosit menghasilkan limfoblas dan akhirnya
berkembang menjadi sel-sel plasma. Sel-sel plasma inilah yang akan
menghasilkan antibodi.
Respon Sekunder
Apabila tubuh telah sembuh dari suatu infeksi, maka
antibodi yang melawan antigen penyebab infeksi akan
menurun secara bertahap selama berminggu-minggu
bahkan bertahuntahun. sehingga, antibodi tidak bisa
terdeteksi lagi. namun, apabila suatu saat terjadi infeksi
lagi oleh antigen yang sama maka antibodi akan
diproduksi kembali, dan terjadilah respons yang jauh
lebih besar terhadap antigen tersebut. peristiwa inilah
yang disebut respon sekunder. proses ini terjadi karena
adanya sel-sel limfosit memori yang mampu mengenali
antigen.
Lapisan Pertama
Lapisan pertahanan tubuh yang pertama adalah kulit dan selaput dari tubuh.
Lapisan ini akan melindungi tubuh dari serbuan antigen. Namun, jika kulit
atau lapisan lendir ini mampu ditembus antigen dan masuk ke dalam tubuh,
maka di tempat tersebut akan terjadi peradangan kecil oleh infeksi penyakit
yang disebabkan antigen. Di tempat peradangan tersebut akan timbul rasa
panas, nyeri, denyutandenyutan akan lebih terasa, atau bahkan terjadi
pembengkakan bernanah (bisul). Mengapa hal ini bisa terjadi? Saat antigen
berhasil menembus kulit atau selaput lendir maka di tempat masuknya
antigen maka terjadi peningkatan aliran darah. Dengan adanya peningkatan
aliran darah ini, maka suhu di tempat itu meningkat, sel-sel darah putih akan
lebih banyak yang dibawa. Sel-sel darah putih akan menghancurkan antigen
tersebut. Hal ini menyebabkan timbulnya bisul atau abses. Dalam abses
terdapat nanah yang berisikan serum, sel darah putih dan hancuran antigen.
Dalam mekanisme ini, antigen dapat berupa apa saja, seperti bakteri, jamur,
atau virus.
Lapisan Kedua
Apabila infeksi oleh antigen tidak dapat diatasi oleh
lapisan pertahanan tubuh yang pertama, antigen masuk
ke dalam aliran darah, maka sistem lapisan pertahanan
tubuh yang kedua akan bertindak. Lapisan ini adalah
sistem kelenjar getah bening (limfatik). Cairan getah
bening yang mengandung limfosit akan mengikat
antigen dan dibawa ke kelenjar getah bening, di sinilah
antigen akan dihancurkan.
imunisasi
Imunisasi adalah pemberian perlindungan pada
tubuh dari serangan penyakit dengan memberikan
vaksin. Vaksin adalah suatu suspensi yang berisi
bakteri atau virus yang telah dilemahkan atau
dimatikan sehingga dapat menimbulkan kekebalan
(imunitas). Jika kekebalan muncul karena respon
dari adanya infeksi dan dapat sembuh, disebut
kekebalan alamiah. Bila kekebalan timbul karena
dibuat, contohnya karena vaksin maka disebut
kekebalan buatan. Jenis kekebalan dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu kekebalan aktif dan
kekebalan pasif.
Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif terjadi apabila tubuh memperoleh sistem
imun secara aktif dan menghasilkan respons imun utama.
Kekebalan aktif terjadi melalui dua cara, yaitu kekebalan
alami dan vaksinasi. Kekebalan alami diperoleh jika tubuh
menderita sakit dan cepat pulih kembali. Respons imun
utama terjadi selama tubuh sakit, sehingga respon
sekunder akan meningkat setiap waktu, dan akhirnya tubuh
akan terlindungi dari penyakit. Kekebalan alami akan
berkembang selama penyakit menyerang. Setelah tubuh
pernah terkena penyakit, maka selanjutnya tubuh akan
kebal. Cara kedua, yaitu kekebalan diperoleh karena
pemberian vaksin. Dengan pemberian vaksin, memicu
tumbuhnya sistem kekebalan tubuh terhadap jenis antigen
yang diberikan dalam vaksin.
Kekebalan Pasif
Jenis kekebalan pasif ini adalah mekanisme
pertahanan tubuh yang tidak dirangsang.
Kekebalan ini dilakukan dengan memberikan
zat antitoksin. Zat antitoksin suatu zat
pertahanan kimia diberikan langsung ke dalam
tubuh. Contohnya, jika seorang anak menderita
sakit yang membahayakan dan sebelumnya
belum pernah diimunisasi. Maka anak tersebut
akan diberi atau disuntik pencegahan.
Kekebalan ini hanya bersifat sementara.
1. Alergi
Respon ini merupakan respon imun yang disebut
alergi. Dalam peristiwa alergi limfosit T sangat
berperan, selain itu antibodi juga berperan.
Apabila orang terkena suatu alergen, antibodi IgE
akan merangsang sel mast mengeluarkan
histamin. Karena pengaruh histamine ini, maka
orang akan merasa gatal-gatal, kulit melepuh, kulit
merah-merah, bersin-bersin dan mata bengkak.
Untuk meringankan penderitaan ini, biasanya akan
diberi antihistamin untuk menghalangi efek
histamin.
2. Penolakan Transplantasi
● Penolakan transplantasi dapat dibagi dalam 3
golongan , yaitu :
a. Penolakan hiper akut, terjadi sebagai respon antibodi
resipien terhadap donor, seperti antibodi terkait
golongan darah. Penolakan seperti ini terjadi secara
langsung setelah transplantasi dilakukan.
b. Penolakan akut, terjadi sebagai respon sel T terhadap
perbedaan protein terhadap donor dan resipien.
Penolakan terjadi beberapa hari setelah transplantasi.
c. Penolakan kronis, terjadi karena organ yang
ditransplantasi kehilangan fungsi yang disebabkan oleh
darah membeku pada pembuluh dalam organ.
3. Defisiensi Imun
Defisiensi dalam sistem kekebalan tubuh
dapat diwariskan dari keturunan.
Defisiensi kebal yang diterima dari
warisan pada umumnya mencerminkan
pewarisan suatu gen pada generasi
berikut atau kegagalan fungsi dari
komponen sistem kekebalan sehingga
dihasilkan makrofag yang tidak mampu
mencerna dan menghancurkan
organisme penyerbu. Contohnya
penderita SCID individu dengan penyakit
ini sepenuhnya mengalami kekurangan
limfosit T dan B.
4. Auto Imun
a. Kencing manis, badan membuat tanggapan kebal
dengan menghasilkan sel-sel penghasil insulin
sendiri sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan
gula.
b. Demam rematik, sistem kekebalan menghasilkan
zat antibodi yang melekat pada klep jantung
sehingga menyebabkan kerusakan jantung
permanen.
c. Myastenia gravis, dimana sistem kekebalan
membuat zat antibodi yang justru melawan molekul
yang normal yang berfungsi mengendalikan sel
saraf otot sehingga mengakibatkan kelemahan dan
kelumpuhan
Terima
kasih
semangat