i KATA PENGANTAR Om Swastyastu, Om Ano badrah kratavo yantu visvatah, Puji astungkara penulis menyampaikan rasa angayubagya atas wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas terselesaikannya Buku Pedoman Persembahyangan Sehari – Hari. Buku ini penulis susun dalam rangka untuk mengawali pembinaan Sradha (Keyakinan) kepada keluarga Sudhiwadani sebagai dasar dalam memeluk agama Hindu. Doa dalam sebuah ritual persembahyangan merupakan alat komunikasi yang paling sederhana yang dapat dilakukan untuk menghubungkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Doa juga merupakan ungkapan perasaan hati seperti berterima kasih, keinginan atau permohonan yang bersifat pribadi yang di tujukan kepada Sang Hyang Widhi. Disamping doa persembahyangan sehari – hari, terdapat doa – doa yang penting yang sekiranya dapat bermanfaat ketika melaksanakan yadnya sehari – hari sebagai panduan sederhana. Buku panduan ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis masih mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar buku panduan ini dapat menjadi sarana pembinaan umat menuju masyarakat Hindu yang berkeyakinan dan berilmu sebagaimana dikehendaki oleh Ida Sang Hyang Widhi. Kepada Bapak Made Karmawan, S.Ag selaku Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam yang telah memberikan bantuan berupa bahan, saran dan pengarahan, penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar- besarnya. Om Santih Santih Santih Om Batam, 29 September 2021 Penulis, Lilik Widyawati, S.Ag
i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................... i DAFTAR ISI ................................................................................................. ii BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Pengertian .................................................................................. 1 B. Fungsi dan Tujuan .................................................................... 2 BAB II. PEMBAHASAN .............................................................................. 3 A. LANGKAH – LANGKAH DALAM MELAKSANAKAN SEMBAHYANG .................................................................... 3 1. Membersikan badan ......................................................... 3 2. Tata cara berpakaian ........................................................ 3 3. Persiapan sembahyang ..................................................... 3 4. Langkah – langkah Sembahyang ..................................... 4 a. Asana ........................................................................ 4 b. Pranayama ................................................................ 5 c. Karasodhana ............................................................ 5 d. Amustikarana 6 e. Kramaning Sembah 7 BAB III. MANTRA / DOA SEHARI – HARI 1. Mantra/Doa Panganjali 2. Mantra/Doa Paramasanti 3. Mantra/Doa Memulai Suatu Pekerjaan 4. Mantra/Doa selesai bekerja/bersyukur 5. Mantra/Doa menjelang tidur 6. Mantra/Doa bangun pagi 7. Mantra/Doa membersihkan diri 8.
i BAB I PENDAHULUAN A. PENGERTIAN Manusia merupakan obyek ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa dan juga merupakan pelaku aktif yang memiliki tuntutan untuk mewujudkan pandangan keagamaannya dalam kehidupan nyata. Penghayatan iman atau keyakinan merupakan suatu pertanggungjawabannya dalam hidup atau kehidupan. Keyakinan atau keimanan bukanlah suatu yang abstrak dan berdiri lepas dari kehidupan, melainkan ia merupakan bagian utama dari kehidupan, karena diharuskan mampu mengarahkan kegiatan itu kepada suatu keadaan yang dikehendaki oleh Ida Sang Hyang Widhi. Sebagai manusia yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa hendaknya memiliki rasa bersyukur atas seluruh anugerahNya walaupun terkadang sebagai manusia sering terlena sehingga melupakanNya. Namun sesungguhnya rasa syukur itu sudah semestinya diwujud nyatakan sebagai suatu perilaku sadar dan berkesinambungan, karena perilaku tersebut sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan hidup. Sembahyang adalah salah satu hakekat inti dari ajaran Hindu Dharma. Dan setiap orang yang mengaku beragama, ia pasti melakukan sembahyang karena sembahyang menurut ajaran agama bersifat wajib atau harus. Seperti halnya dengan persembahan yang dilakukan dengan wujud dari rasa bhakti yang setulus-tulusnya. Sembahyang juga demikian, agar mendapatkan ketentraman jiwa yang merupakan salah satu tujuan dan manfaat dari sembahyang itu sendiri yaitu dengan sarana tertentu seperti dengan sarana bunga yang dilestarikan dalam kehidupan ini. Sembahyang terdiri atas dua kata, yaitu “sembah” yang berarti sujud atau sungkem, yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan, misalnya hanya sikap pikiran. Dan “Hyang” yaitu yang dihormati atau dimuliakan sebagai obyek dalam pemujaan, yaitu : Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, yang berhak menerima penghormatan menurut kepercayaan itu. Menurut waktu pelaksanaan dibedakan menjadi dua yaitu 1) Nitya Kala, yaitu sembahyang yang dilaksanakan 3 (tiga) kali sehari. 2) Naimitika Kala, yaitu persembahyangan yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu. Menurut bentuk pelaksanaannya sembahyang dibagi menjadi tiga. 1) Persembahyangan bersama dengan dipandu puja Sulinggih. 2) Persembahyangan bersama tanpa dipandu puja Sulinggih. 3) Persembahyangan perorangan. Mantra adalah satu kata atau ucapan yang mengandung makna atau kekutan spiritual. Di dalam buku John Grimes (1948 : 187) yang berjudul A Concise Dictionary of Indian Philosophy dijelaskan bahwa menurut filsafat Sakta, mantra menyelamatkan orang yang merenungkan makna dari mantra itu. Arti Mantra lebih rendah yaitu digunakan untuk memanggil kekuatan Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan) untuk melepaskan berbagai kesulitan untuk memenuhi bermacam – macam kebutuhan duniawi tergantung dari motif pengucapan mantra tersebut. Sedangkan arti yang tertinggi, Mantra merupakan kombinasi dari beberapa buah kata yang sangat kuat dan ampuh, yang didengar oleh orang bijak dan yang dapat membawa seseorang yang mengucapkannya melintasi lautan kelahiran kembali. Mantra atau doa sangat penting dalam kehidupan beragama karena merupakan salah satu dasar keyakina
n (keimanan) dalam ajaran agama Hindu. Pada dasarnya mantra atau doa ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena Beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pemralina atau pelebur mengembalikan semua ciptaanNya ke asal mula sebagaimana dinyatakan dalam kitab Bhagawadgita IX.18 yang berbunyi : Aku adalah tujuan, pengemban, tempat kediaman, tempat perlindungan, Aku adalah kawan, asal mula, akhir kesudahan, Aku adalah dasar, tempat penyimpanan, benih abadi. Mantra atau doa merupakan salah satu tuntunan hidup dalam menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi sebagai rasa syukur dan berterima kasih karena anugerah yang telah diberikan kehidupan di dunia. Mantra atau doa dalam agama Hindu yang diucapkan untuk berbagai prosesi ibadah atau persembahyangan dan juga untuk aktivitas sehari-hari. Di dalam persembahyangan, Ida Sang Nyang Widhi akan menampakkan diriNya atau dekat dan mendengarkan doa yang diucapkan. Sang Hyang Widhi telah mengisyaratkan kepada manusia bahwa Ia hanya dapat memenuhi keinginan manusia/makhlukNya yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya. Dalam kitab Bhagawadgita III.11 dijelaskan: Dengan ini pujalah Hyang Widhi Wasa, semoga Ia menganugerahi engkau, dengan penghormatan yang mulia itu, engkau akan mencapai kebahagiaan tertinggi. Serta dalam Kitab Bhagawadgita IX.34 dijelaskan: pusatkanlah pikiranmu kepadaKu, berbhakti kepadaKu, bersujud kepadaKu, bersembah kepadaKu, dan setelah engkau mendisiplinkan jiwamu, Aku menjadi tujuanmu yang tertinggi, maka engkau akan sampai kepadaKu. B. FUNGSI DAN TUJUAN SEMBAHYANG DAN MANTRA/DOA Fungsi dan Tujuan dari persembahyangan : 1. Untuk menghormati dan mengagungkan kebesaran sifat Tuhan Yang Maha Esa, selaku pencipta dan penguasa alam semesta. 2. Sebagai pengakuan diri bahwa pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang sangat lemah. 3. Sebagai permohonan maaf dan pengampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan dalam hidupnya. 4. Menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas segala waranugraha-Nya. 5. Memohon perlindungan-Nya agar dijauhkan dari segala bahaya maupun cobaan hidup. 6. Menemukan suasana kedamaian lahir dan bathin. Fungsi dan Tujuan mantra sebenarnya sudah tertuang dalam setiap mantra. Misalnya jika mau bepergian maka kita akan mengucapkan mantra yang berhubungan dengan keselamatan. Namun jika dilihat secara umum, maka Mantra memiliki Fungsi dan tujuan sebagai berikut: 1. Sebagai pernyataan rasa syukur atas anugerah-Nya yang telah menciptakan segala sesuatu yang diperlukan bagi kehidupan umat manusia dan semua makhluk. 2. Sebagai sadhana untuk menyucikan diri kearah penyempurnaan bagi kehidupan spiritual dan moral umat manusia. 3. Sebagai sadhana untuk memohon kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar dijauhkan dari segala rintangan dan godaan Bhuta-kala (setan) dan sebagainya. 4. Sebagai sadhana untuk memohon perlindungan agar selalu berada dalam keadaan selamat.
BAB II PEMBAHASAN B. LANGKAH – LANGKAH DALAM MELAKSANAKAN SEMBAHYANG Setiap orang beragama tentunya akan melakukan sembahyang karena sembahyang menurut agama adalah aktivitas yang wajib dilakukan. Sembahyang atau ibadah adalah suatu bentuk kegiatan keagamaan yang menghendaki terjalinnya hubungan dengan Tuhan atau dewa yang dipuja, dengan melakukan kegiatan yang disengaja. Sembahyang dapat dilakukan secara bersama-sama atau perseorangan. Berikut merupakan persiapan dalam melaksanakan persembahyangan. 1. Membersikan Badan Hal yang pertama kali sebelum melaksanakan persembahyangan adalah membersihkan badan dengan cara mandi yang bersih. Apabila tidak dapat dilakukan atau tidak memungkinkan untuk mandi, cukup dengan membasuh muka, mencuci tangan, kaki dan berkumur. Hal ini perlu dilakukan karena secara etika dan rasa dalam mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi kita dalam kondisi badan yang bersih. 2. Tata cara berpakaian Dalam kehidupan sehari – hari, tentunya dalam hal berpakaian akan menyesuaikan akan aktivitas yang akan dilakukan. Di dalam melaksanakan sembahyang hendaknya memakai pakaian yang bersih dan sopan. Misalnya berpakaian adat sembahyang dengan memakai baju yang bersih, kamen, senteng dan udeng bagi laki – laki, untuk yang perempuan berpakaian kebaya, kamen, dan senteng bagi perempuan. Tetapi apabila tidak memungkinkan cukup memakai pakaian yang bersih, sopan dan senteng. 3. Persiapan sembahyang Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas, sikap tangan dan sarana penunjang sembahyang. Sikap duduk Padmasana atau Silasana bagi laki – laki dan sikap Bajrasana bagi perempuan. Kemudian sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang yang perlu dipersiapkan sebagai berikut: a. Bunga, Canang Sari dan Kwangen Bunga merupakan lambang ketulus ikhlasan dan kesucian hati. Bunga mempunyai fungsi dan arti yang sangat penting dalam persembhayangan. Bunga mempunyai fungsi sebagai simbol Tuhan (Siwa), wujud bakti kepada-Nya dan berfungsi sebagai sarana persembahyangan. Canang Sari merupakan simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung. Canang dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno berasal dari kata “can” yang berarti indah, sedangkan “nang” berarti tujuan atau maksud. Sari berarti inti atau sumber. Sehingga hal ini dapat didefinisikan canang merupakan
sarana untuk mencapai tujuan yaitu keindahan (Sundharam) kehadapan Ida Sang Hyang widhi Wasa. Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala. Kewangen berasal dari kata “wangi” yang berarti harum atau identik bau yang disenangi. Kewangen digunakan sebagai simbul yang dapat mewakili Tuhan dalam pikiran umat. Jadi Kewangen merupakan simbul Tuhan juga disebut simbul dari huruf Ongkara (hurup Bali) yang juga disebut simbul Tuhan dalam bentuk huruf. b. Dupa Sarana persembahyangan Hindu yang lain adalah Dupa atau Api. Api/Dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berbau harum dan menyala sebagai lambang Agni dan berfungsi sebagai: 1. Perantara yang menghubungkan pemuja dengan yang dipuja 2. Sebagai pembasmi segala mala dan pengusir roh jahat. 3. Sebagai saksi dalam upacara. c. Tirtha Didalam persembahyangan agama Hindu, Tirtha merupakan salah satu sarana yang penting. Tirtha adalah air yang telah disucikan yang digunakan untuk membersihkan tangan sebelum persembahyangan dimulai. Kata “Tirtha” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti kesucian atau setitik air, air suci, bersuci dengan air. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun kecemaran pikiran. Yang mana dalam penerapan pemakaiannya yaitu dipercikan dikepala, diminum dan diusapkan dimuka. 4. Langkah – langkah Sembahyang Berikut adalah Langkah - langkah sembahyang baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku. a. Asana Asana adalah sikap pemujaan atau persembahyangan dimulai dengan mengambil sikap duduk yang baik. Sesuai dengan aturan persembahyangan, yaitu perempuan mengambil sikap Bajrasana, yaitu duduk bersimpuh dengan badan tegak lurus. Kemudian yang pria, mengambil sikap Padmasana, yaitu bersila dengan kedua kaki kanan dan kiri dilipat. Atau disebut juga Swastikasana (bersila biasa). Posisi tangan diletakkan diatas lutut dengan mudra, Tarik nafas ucapkan Mantra; “Om prasada sthiti sarira siva suci nirmala yan amah svaha” Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Suci, pemelihara kehidupan, hamba puja Dikau dengan sikap yang tenang”
b. Pranayama Pranayama adalah latihan untuk mengatur napas. Dalam bahasa Sanskerta, "prana" berarti energi kehidupan dan "yama" berarti kontrol. Tujuan dari pranayama adalah untuk menghubungkan tubuh dan pikiran. Latihan ini juga membantu tubuh untuk memberikan oksigen. Pertama Tarik nafas secara perlahan melalui hidung (Puraka) ucapkan mantra “Om Ang Namah” Artinya : Hyang Widhi, hamba puja Engkau sebagai pencipta dan sumber dari segala kekuatan, anugrahi hamba kekuatan batin Kemudian Tahan Nafas sesuai kemampuan (Kumbaka) ucapkan mantra “Om Ung Namah” Artinya: Hyang Widhi, hamba puja Engkau sebagai pemelihara dan sumber kehidupan anugrahi hamba ketenangan batin Hembuskan nafas secara perlahan melalui hidung (Recaka) ucapkan mantra “Om Mang Namah” Artinya : Hyang Widhi, hamba puja Engkau sebagai pelebur segala yang tidak berguna dalam kehidupan, anugrahi hamba kesempurnaan batin c. Karasodhana Karasodhana (karasudhana) adalah tahap untuk mensucikan pikiran terlebih dahulu sebelum melakukan sembahyang. Caranya letakkan kedua tangan didepan dada dengan posisi tangan kanan di atas tangan kiri dengan mantra “Om Soddamam Svaha” Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga bersihlah tangan kanan hamba” Kemudian lakukan sebaliknya tangan kiri di atas tangan kanan ucapkan mantra “Om ati sodha mam svaha” Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga bersihlah tangan kiri hamba”
d. Amustikarana Asmutikarana adalah sikap Mudra tangan tepat di depan jantung. Sikap amustikarana adalah sikap saat tangan kanan mengepal dibungkus oleh tangan kiri yang masing-masing ibu jarinya bertemu dan ujung-ujungnya mengarah ke atas yang kemudian ditempatkan di depan hulu hati. Bentuk amustikarana ini memberikan makna dasendrya, yaitu bahwa kelima indera (panca karma indria) dan kelima panca budhi indria mendorong manah (pikiran) ke atas, maksudnya menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mantra Puja Tri Sandhya Om bhùr bhuvah svah tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayàt Om Nàràyana evedam sarvam yad bhùtam yac ca bhavyam niskalanko nirañjano nirvikalpo niràkhyàtah suddo deva eko Nàràyano na dvitìyo'sti kascit Om tvam sivah tvam mahàdevah ìsvarah paramesvarah brahmà visnusca rudrasca purusah parikìrtitah Om pàpo’ham pàpakarmàham pàpàtmà pàpasambhavah tràhi màm pundarikàksa sabàhyàbhyàntarah suci Om ksamasva màm mahàdeva sarvapràni hitankara màm moca sarva pàpebyah pàlayasva sadà siva Om ksàntavyah kàyiko dosah ksàntavyo vàciko mama ksàntavyo mànaso dosah tat pramàdàt ksamasva màm Om Santih, Santih, Santih, Om
Terjemahan : Om Sang Hyang Widhi, kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia (bumi, langit dan sorga), semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kami. Om Sang Hyang Widhi, Nàràyana dari padaMu lah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua. Om Sang Hyang Widhi, Engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (mahakuasa). Parameswara (sebagai maha raja diraja), Brahma (pencipta alam semesta dan segala isinya), Visnu (pemelihara alam semesta beserta isinya), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung) yang mencipta. Om Sang Hyang Widhi, hamba ini papa (dosa), perbuatan hamba papa (dosa), diri hamba ini papa (dosa), kelahiran hamba papa (dosa), lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba. Om Sang Hyang Widhi, ampunilah dosa hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung pencipta semua makhluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa lindungilah hamba Om Sang hyang Widhi. Om Sang Hyang Widhi, ampunilah dosa dari perbuatan badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui ucapan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba. Om Sang Hyang Widhi semoga damai, damai di hati, damai di bumi, dan damai selama - lamanya. e. Kramaning Sembah Kramaning Sembah merupakan cara umat Hindu dalam melakukan persembahyangan. Kramaning Sembah berasal dari kata “Krama atau Kri” yang berarti aktivitas, sedangkan “Sembah” berarti memberikan pemujaan kepada Beliau yang kita hormati. Kramaning Sembah merupakan salah satu bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhan, yaitu Tuhan dalam aspek Sadhasiwa atau Tuhan yang berkepribadian seperti: Sang Hyang Surya atau Siwa Aditya dan juga Dewa yang diutamakan atau dipuja dalam sebuah tempat pelaksanaan yadnya.
Berikut adalah urutan dari Kramaning Sembah: 1. Sembah Puyung Sembah Puyung berarti kedua telapak tangan dan jari-jari dicakup di atas kepala. Tangan kosong. Disebut Sembah Puyung karena tangan kosong tanpa sarana bunga. Puyung memang mengandung makna kosong, tetapi sekaligus mencakup embang (sepi dan hening). “Om Atma Tattvatma Soddha Mam Svaha” Terjemahan: “Om Atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba” 2. Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Aditya dengan sarana bunga “Om Adityasyaparam jyotih Rakta teja namo’stute Svetapangkaja madhyasthah Bhaskarayo namo’stute” Terjemahan: “Om Sanghyang Widhi Wasa, sinar Surya Yang Maha Hebat, Engkau bersinar merah, hormat padaMu, Engkau yang beradah ditengah-tengah teratai putih, hormat padaMu pembuat sinar”. 3. Menyembah Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan sarana Kewangen atau Bunga. “Om namo devaya adhistanaya Sarva vyapi vai sivaya Padmasana eka prathistaya Ardhanaresvarya namah svaha”. Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, hormat kami kepada Dewa yang bersemayam di tempat utama kepada Siwa yang sesungguhnya berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tepat, kepada Ardhanaresvarya hamba menghormat”. 4. Menyembah Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pemberi anugerah, dengan sarana kewangen atau bunga. “Om nugrahaka manohara, Deva dattanugrahaka, Arcanam sarva pujanam, Namah sarvanugrahaka, Om Deva devi mahasiddhi yajnangga nirmalatmaka, Laksmi siddhisca dirgahayuh Nirvighna sukha vrddhisca”. Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa,, engkau yang menarik hati, pemberih anugerah anugerah pemberian Dewa, pujaan dalam semua pujian, hormat
padaMu pemberi semua anugerah. Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud Yajna, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, kegembiraan dan kemajuan”. 5. Sembah Puyung “Om Deva Suksma Paramacintya Namah Svaha”. Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang maha tinggi, yang maha gaib”. 6. Pemercikan Tirta Kata “Tirtha” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti kesucian atau setitik air, air suci, bersuci dengan air. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun kecemaran pikiran. Tirtha dalam penerapan pemakaiannya yaitu dipercikan dikepala, diminum dan diusapkan dimuka. Tirtha sebagai simbolis pembersih bayu, sabda dan idep. Berikut mantra dalam menerima percikan tirtha. “Om Pratama sudha, dvitya sudha, tritya sudha, caturti sudha, pancami sudha, sudha, sudha, sudha variastu namah svaha” Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga kami dianugerahi kesucian, hormat kepadaMu”. Atau dapat menggunakan mantra berikut ini: a) Pemercikan tiga Kali ke ubun-ubun “Om ang brahma amrtha ya namah, Om ung wisnu amrtha ya namah, Om mang isvara amrtha ya namah”. Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, bergelar, Brahma, Wisnu, Iswara, hamba memujaMu semoga dapat memberi kehidupan (dengan tirta ini)”. b) Minum Tirta Tiga Kali “Om Sarira paripurna ya namah, om ang ung mang sarira sudha, Pramantya ya namah, Om ung ksama sampurna ya namah” Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, Maha pencipta, pemelihara dan Pelebur segala ciptaan semoga badan hamba terpelihara selalu, bersih terang dan sempurnah”.
c) Meraup, mengusap Tirtha ke Muka ke arah Atas “Om Siva Amertha ya namah, om sadha siva amertha ya namah, Om parama siva amertha ya namah”. Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, (Siwa, Sada Siva, Parama Siva) hamba memujamu semoga memberi amertha pada hamba”. 7. Memasang Bija a) Bija untuk di dahi “Om Sriyam Bhavantu”. Terjemahan: Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga kebahagian meliputih hamba. b) Bija Untuk di bawah tenggorokan “Om Sukham Bhavantu”. Terjemahan: Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga kesenangan selalu hamba peroleh. c) Bija untuk ditelan atau di langit-langit mulut “Om Purnam Bhavantu, Om Ksama Sampurna ya Namah Svaha”. Terjemahan: Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga kesempurnaan meliputi hamba, Om Hyang Widhi semoga semuanya bertambah menjadi bertambah sempurna. 8. Meninggalkan Tempat Suci Setelah memasang bija di tiga tempat yakni dahi, tenggorokan dan dalam mulut. Maka saatnya untuk menutup persembahyangan dengan mantra paramasanti sebagai berikut: “Om Santi santi santi Om” Terjemahan: “Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga damai di hati, damai di dunia dan damai selalu”.
BAB III MANTRA / DOA SEHARI – HARI 1. Mantra/Doa Panganjali Om Swastyastu Artinya : Semoga selalu dalam keadaan selamat di bawah lindungan Sang Hyang Widhi Wasa 2. Mantra/Doa Paramasanti Om Santih Santih Santih Om Artinya : Semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama – lamanya 3. Mantra/Doa Memulai Suatu Pekerjaan Om awignamastu namo sidham Om sidhirastu tad astu swaha Artinya : Hyang Widhi Wasa, semoga atas perkenanMu tiada suatu halangan dan semoga berhasil dengan baik 4. Mantra/Doa selesai bekerja/bersyukur Om Dewa Suksma parama acintyaya namah swaha, Sarwa karya prasidhantam, Om Santih, Santih, Santih, Om Artinya: Ya Tuhan dalam wujud Parama Acintya yang mana gaib dan maha karya, hanya atas anugerah-Mu lah makan pekerjaan ini berhasil dengan baik. Semoga damai, damai dihati, damai di dunia, damai selamanya. 5. Mantra/Doa menjelang tidur Om asato ma sat gamaya, tamaso ma jayatir gamaya, mrityor mamritam gamaya (Brhadaranyaka Up. 1.3.28 Artinya: Hyang Widhi, tuntunlah hamba dari jalan yang sesat menuju jalan yang benar, dari jalan gelap ke jalan terang,hindarkanlah hamba dari kematian menuju kehidupan abadi.
5. Mantra/Doa bangun pagi Om jagrasca prabhata kalasca namah swaha Om utedanim bhagawantah syamota prapitwa uta mandhye ahnam utodita maghawanta suryasya mayam dewanam sumantau syama. (Atharwa Weda III.16.4) Artinya: Hyang Widhi kami memujaMu karena kami telah bangun pagi dalam keadaan sehat. Hyang Widhi, Yang Maha Pemurah, jadikanlah hamba orang yang selalu bernasib baik pada hari ini,menjelang tengah hari, dan seterusnya. Semoga para Dewa melindungi diri hamba. 6. Mantra/Doa membersihkan diri a. Mantra/Doa membersihkan tangan kanan Om Soddamam Svaha Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga bersihlah tangan kanan hamba. b. Mantra/Doa membersihkan tangan kiri Om ati sodha mam svaha Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga bersihlah tangan kiri hamba c. Mantra/Doa membersihkan/mencuci muka Om cam camani ya namah swaha Om waktra parisudahaya namah swaha Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa, hamba memuja-Mu semoga wajah hamba menjadi bersih dan suci. (Dana dan Suratnaya, 2013: 30). d. Mantra/Doa berkumur Om Ang waktra parisudha ya namah swaha Artinya : Om Hyang Widhi semoga bersihlah mulut hamba e. Mantra/Doa membersihkan kaki Om Am khan kasodhaya iswara ya namah swaha Artinya : Om Hyang Widhi, semoga bersihlah kaki hamba
f. Mantra/Doa mandi Om gangga amrta sarira sudhamam swaha. Om sarira parisudhamam swaha. Artinya: Om Hyang Widhi, Engkau adalah sumber kehidupan abadi nan suci, semoga badan hamba menjadi bersih dan suci. g. Mantra/Doa mengenakan pakaian: Om tham Mahadewaya namah swaha. Om bhusanam sairabhyo parisudhanam swaha Artinya: Om Sang Hyang Widhi dalam perwujudanMu sebagai Tat Purusha, maka Dewa yang Maha Agung, kami sujud kepadaMu dalam menggunakan pakaian ini. Semoga pakaian kami menjadi bersih dan suci. 7. Mantra/Doa Memohon Keberhasilan Dalam Belajar a. Mantra/Doa mulai Belajar: Om purwe jato brahmano brahmacari, dharmam wasanas tapasodatistat, tasmajjatam brahmanam brahma, Iyestham dewasca sarwa amrttna sakana. (Atharva Weda XI.55) Artinya: Hyang Widhi, muridMu hadir dihadapanMu, Oh Brahman yang berselimutkan kesaktian dan berdiri sebagai pertama. Tuhan, anugerahkanlah pengetahuan dan pikiran yang terang. Brahman yang agung, setiap makhluk hanya dapat bersinar berkat cahayaMu yang senantiasa memancar. b. Mantra/Doa Memohon Bimbingan Sang Hyang Widhi Om Asato ma sadgamaya, tamaso ma jyotir gamaya, mrtyor ma amrtam gamaya. (Brh.1.3.28) Om Agne brahma grbhniswa dharunama syanta riksam drdvamha, brahmawanitwa ksatrawani sajata, wanyu dadhami bhratrwyasya wadhayaya. (Yajur Weda I.1.18) Artinya: Ya Tuhan Yang Maha Suci, bimbinglah hamba dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah hamba dari kegelapan pikiran menuju cahaya pengetahuan yang terang. Lepaskanlah hamba dari kematian menuju kehidupan yang abadi. Tuhan Yang Maha Suci, terimalah pujian yang hamba persembahkan melalui Weda mantra dan kembangkanlah pengetahuan rohani hamba agar hamba dapat menghancurkan musuh yang ada pada hamba(nafsu). Hamba menyadari bahwa Engkaulah yang berada dalam setiap insani(jiwatman), menolong orang terpelajar,pemimpin negara dan para pejabat. Hamba memuja Engkau semoga melimpahkan anugerah kekuatan kepada hamba.
c. Mantra/Doa Memohon Limpahan Inspirasi Om prano dewi Saraswati wajebhir wajiniwati dhinamwitryawatu (Reg Weda VI.61.4) Artinya: Ya Tuhan dalam manistasi Dewi Saraswati, Hyang Maha Agung dan Maha Kuasa, Semoga Engkau memancarkan kekuatan rohani, kecerdasan pikiran dan lindungilah hamba selama-lamanya. d. Mantra/Doa Memohon Dianugerahi kecerdasan Om pawakanah Saraswati, wajebir wajiniwati, yajnam wastu dhiyawasuh. (Reg Weda 1.3.10) Artinya: Ya Tuhan, dalam manifestasi Saraswati, Yang Maha Suci anugerahkanlah hamba kecerdasan. Dan terimalah persembahan hamba ini. 8. Mantra/Doa Memohon Ampunan: Om dewakrtasyainaso awaya janam, asi manusyakrtasi nama awaya janam, asi pitrakrtasi namo awaya janam, asyatmakrtasyaenaso awaya janam, asyena sa’ enase waya janam, asi yacchadam eno vidvamscakara yacchavidvams tasya va ya janam asi. Artinya: Hyang Widhi, ampunilah dosa hamba terhadapMu, ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orang tua hamba, terhadap teman hamba, Hyang Widhi ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa. terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Hyang Widhi, semoga berkenan mengampuni semuanya itu. 9. Mantra/Doa Makan a. Menghadapi makanan Om hiranyagarbha samawartantage bhutasya jatah patireka asit sadha dhara pritiwim dyam utenam kasmai hawisa widhema. Om purnam madah puma midam purnat purnam udasyate purnasya purnam adaya purnam ewa wasisyate Artinya : Om Sang Hyang Widhi yang Maha Pengasih, Engkau asal alam semesta dan satu – satunya kekuatan awal. Engkau yang memelihara semua makhluk, seluruh bumi dan langit. Kami memuja Engkau. Om Sang Hyang Widhi yang Maha Sempurna dan yang membuat alam sempurna. Alam ini akan lenyap dalam kesempurnaanMu. Engkau Maha Kekal. Kami mendapat makanan yang cukup berkat angerahMu. Kami menhaturkan terima kasih.
b. Menghaturkan Makanan Om ang kang kasolkaya isana ya namah, svasti svasti sarwa, deva bhuta suka, pradhana purusa, sang yoga ya namah. Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, yang bergelar Isana, hamba persembahkan seluruh makanan ini kehadapanMu, semoga semua makhluk berbahagia. c. Yadnya Sesa om sarva bhuta suka prtebyah svaha Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, hamba berikan sedikit kepada semua bhuta agar ia bahagia. d. Mulai Makan Om anugraha amrtadi sanjiwani ya namah swaha Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, anugerahkanlah makanan ini menjadi penghidupan yang suci hamba lahir batin. e. Selesai Makan Om dhirgayur astu, awighnamastu, subham astu Om sriyam bhawantu, sukham bhawantu, purnam bhawantu,ksama sampurnaya namah swaha. Om Santih, santih,santih Om Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga makanan yang telah masuk ke tubuh hamba memberikan kekuatan dan keselamatan, panjang umur dan tidak mendapat sesuatu apapun. Ya Tuhan, semoga damai,damai dihati, damai di dunia, damai selama-lamanya. 10. Mantra/Doa Memohon Ampunan: Om dewakrtasyainaso awaya janam, asi manusyakrtasi nama awaya janam, asi pitrakrtasi namo awaya janam, asyatmakrtasyaenaso awaya janam, asyena sa’ enase waya janam, asi yacchadam eno vidvamscakara yacchavidvams tasya va ya janam asi. Artinya: Om Sang Hyang Widhi Wasa, ampunilah dosa hamba terhadapMu, ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orang tua hamba, terhadap teman hamba, Tuhan ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa. terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Tuhan, semoga berkenan mengampuni semuanya itu.
11. Mantra/Doa mohon agar bijaksana Om indra kratun na abhara pita putrebhyo yatha siksa no. asmi puruhuta yamani jiwa jyotirasi mahi. (Reg Weda VII.32.26) Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, anugerahilah kani kebijaksanaan seperti seorang ayah kepada anaknya. Tuntunlah kami tunjukkan kepada kami jalan yang benar. Anugerahilah kami kekuatan hidup dan cahaya terang. 12. Mantra/Doa mohon petunjuk kebenaran Om wiswadewam satpatim suktaidya wrnimahe satyasawam sawitaram Om agne naye supatha raya asman wismani dewa wayunani widwan yoyodhya smajjurhuranam ono bhuyittha to nama uktim widhema. Artinya : Om Sang Hyang Widhi yang Maha Suci, dengan nyanyian kami memujaMu. Hyang Widhi sumber segala kebaikan. Engkau maha cemerlang, yang memiliki titah yang benar. Bimbinglah kami ke jalan yang benar. Om Sang Hyang Widhi tuntunlah kami menempuh jalan yang benar menuju kebahagian. Hyang Widhi yang mengetahui semua kerja, lenyapkanlah dosa kami yang menyesatkan. Kami persembahkan doa ini dengan setulus-tulusnya. 13. Mantra/Doa Mohon kesehatan Om wata watu bhesajam sambu ayobhu no hrde prang ayumsi tarisat (Reg Weda X.186.1) Artinya : Om Sang Hyang Widhi yang Maha Suci, semoga Engkau menganugerahkan kesehatan pada kami. Semoga udara memberikan kebaikan dan kesehatan kepada kami. Semoga Hyang Widhi memperpanjang umur kami. 14.Mantra/Doa mohon umur panjang Om Taccaksur Dewahitam Sukram Uccarat Pasyema Saradah Satam Jiwema Saradah Satam (Reg Weda VII.66.16) Artinya : Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga seratus tahun hamba selalu melihat mata yang bersinar ciptaan-Nya. Semoga hamba hidup seratus tahun lamanya. 15. Mantra/Doa menghilangkan rasa takut Om Trayam bhakam ya jamahe sugandim pusthi wardhanam uhrwaru kham iwa bhandhanat mrityor mukhsya mamritat. Om Jaya Jiwat Sarira Raksan Dadasime Om Mjum Sah Waosat Mrityun Jaya Namah Swaha Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Yang Maha Jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memuja-Mu. Lindungilah kami dari marabahaya.
Om Sang Hyang Widhi Wasa, kami memujaMu, hindarkanlah kami dari keraguan ini. Bebaskanlah kami dari belenggu dosa, bagaikan mentimun terlepas dari tangkainya, sehingga kami dapat bersatu denganMu. 16. Mantra Menghindar Dari Malapetaka Om sarva papa vinasini, sarva roga vimocane, sarva klesa vinasanam, sarva bhogam avapnuyat Om srikare sapa hut kare, roga dosa vinasanam, siva loghan mahayaste, mantra manah papa kelah Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, terimalah segala persembahan kami, Engkau musnahkan segala malapetaka, Engkau bebaskan segala derita, Engkau jauhkan segala penyakit, dan berikanlah kami sarana kehidupan. Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau yang dipuja sebagai penguasa alam semesta, Engkau yang menjiwai segala mantra, bebaskanlah segala dosa dan derita, serta tuntunlah pikiran kami dari kenestapaan ke jalan yang benar (Dana Dan Suratnaya, 2013: 42-43). 17. Doa Menolak Bahaya: Om Om asta maha bayaya Om sarwa dewa, sarwa sanjata, sarwa warna ya namah, Om atma raksaya, sarwa satru, winasaya namah swaha Artinya : Oh Sang Hyang Widhi Wasa penakluk segala macam bahaya dari segala penjuru, hamba memujamu dalam wujud sinar suci dengan beraneka warna dan senjata yang ampuh. Oh Sang Hyang Widhi Wasa lindungilah jiwa kami. semoga semua musuh binasa 18. Mantra/Doa mohon kesejahteraan/kebahagian dalam kehidupan rumah tangga a. Mohon limpahan cinta kasih Om wikrama prthiwim etam ksetraya wisnur manuse dasasyan dhruwaso asya kirrayo janasa uruksitim sujanima cakara. (Reg Weda VIII.100.4) Artinya : Om Hyang Widhi yang mempunyai kekuasaan sebagai Wisnu, yang melangkahi bumi ini, Engkau maha kuasa, karuniailah hambaMu tempat diam yang nyaman. HambaMu yang lemah ini sangat mendambakan perlindunganMu. Hyang Widhi, hendaknya menjadikan bumi tempat yang lapang bagi kami.
b. Mohon kebahagiaan perkawinan Om wamadya sawitrawamanu swa diwe wamamasmabyaduam sawih, wamasya hi ksayasya dewa bhurreraya dhiya wamabhajah syama. (Yajur Weda 1.8.6) Artinya : om Hyang Widhi sumber segala kebahagiaan, karuniailah kami kebahagiaan, hari ini, hari esok dan setiap hari yang dilewati. Semoga kami dapat melakukan tugas dan kewajiban mulia di dalam kehidupan perkawinan kami penuh kegembiraan dan kenbahagiaan. c. Mohon perlindungan keluarga Om apsyam opam anipadyanam aca para ca prhibhih caratam sa sadhricih sa winucir wasana. (Reg Weda I.1.64.3 1) Om sarwa papa winasini sarwa roga wimocane sarwa klesa winasanam sarwa bhogam awapnuyat Om srikare sapa hutkare Roga dosa winasanam Siwa lokam mahayaste Mantra manah papa kelah Artinya : Om Hyang Widhi, kami memandang Engkau sebagai maha pelindung yang terus bergerak tanpa henti, maju dan mundur di atas bumi. Hyang Widhi yang mengenakan hias serba indah, muncul dan mengembara terus bersama bumi, lindungilah kami, Oh Tuhan. Om Hyang Widhi, terimalah segala persembahan kami, hendaklah engkau memusnahkan segala mala petaka, Engkau bebaskan segala derita dan Engkau jauhkan segala penyakit. Om Hyang Widhi, Engkau yang dipuja sebagai penguasa alam semesta, Engkau yang menjiwai inti segala mantra, bebaskanlah segala dosa dan derita, serta tuntunlah ke jalan yang benar. d. Mohon selamat kelahiran bayi Om bhrarsumnah prasawita niwisane jagath sthuturrubhayasya yo wasi sano dewah sawitaya triwaruthamambhasah (Reg Weda IV.53.6) Artinya : Om Hyang Widhi Yang Maha Pengasih, yang menjadikan dan menghentikan kehidupan. Engkau mengatur dunia yang bergerak. Semoga Hyang Widhi melindungi kami. Oh Sawitar, karuniailah kehidupan yang damai dan kelahiran bayi tanpa kesengsaraan.
e. Mohon ketenangan dalam keluarga Om wise we astithim jagatuh athaturrubhayasya yo wasi sano dewah sawitaya triwaruthamambhasah. (Reg Weda IV.53.8) Artinya : Om Hyang Widhi Yang Maha Suci, Engkau adalah pengunjung rumah setiap hari, Engkau amati makhlukMu, sahabat yang maha murah hati. Perkenankanlah kami memuja Engkau dengan penuh kehormatan dalam ucapan maupun perbuatan, agar kami mendapatkan ketenangan. f. Mohon kebahagiaan dalam keluarga Om indra sresthani drawinani dehi cittam daksisya subhagatwam asme posam rayinamaristi tanunam swamanam wacah sudinatwam ahnam. (Reg Weda XXI.6) Om ayu wrdhi labate dhanam wrdhi guna suci yadnya sudha sila sudhadyanam bhukti mukti phalam swargam. Artinya : Om Hyang Widhi, anugerahilah kami artha kekayaan yang terbaik, pikiran yang efektif, kecemerlangan batin, peningkatan kemakmuran, kesehatan badan, indahnya kata-kata dan bagusnya Kati. Om Sang Hyang Widhi Wasa, semua keberuntungan, kekayaan, kepandaian adalah atas yajna suci-Mu. Semoga tingkah laku dan pikiran kami menjadi bersih serta menikmati pahala sorga. 19. Mantra/Doa Mengunjungi Orang sakit: Om sarwa wigha sarwa klesa sarwa lara roga winasaya namah. Artinya: Ya Tuhan, semoga segala halangan, penyakit dan penderitaan dan gangguan Engkau lenyapkan. 20. Mantra/Doa Melayat(mendengar kematian): Om Atma tattwatma naryatma Swadah Ang Ah Om Swargantu, moksantu, sunyantu, murcantu. Om ksama sampurnaya namah swaha. Artinya: Hyang Widhi, semoga arwah yang meninggal mendapat sorga, menunggal denganMu, mencapai keheningan tanpa derita. Ya Tuhan, ampunilah segala dosanya, semoga ia mencapai kesempurnaan atas kekuasaan dan pengetahuan serta pengampunanMu.
21. Mantra/Doa Memotong(Menyembelih) hewan: Om pasu pasaya wimahe sirascadaya dhimahi tano jiwah pracodayat. Artinya: Semoga atas perkenan dan berkahMu para pemotong hewan dalam upacara korban suci ini berserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tuhan, hamba memotong hewan ini, semoga rohnya menjadi suci. 22. Mantra/Doa Mohon keberhasilan dalam berdagang Om indramaham wajinam codayami saha etu pura etu eta No. astu nundannaratim paridan thinam mrgam sai sano dhanada astumahyam. (Atharwa Weda III.15.1) Om mayidamindra indriyam dadhatwasman rayo magawanah sacantam. (Yajur Weda I.2.10) Artinya : Om Hyang Widhi, kami mohon kepadaMu dalam manifestasi sebagai Dewa Indra untuk menjadi pelindung dalam usaha dagang kami. Semoga engkau berkenan datang kemari dan mengusir orang – orang jahat yang mengganggu kami. Namun yang dapat memperkaya usaha kami, semoga berdatangan ke tempat ini dan usaha kami semakin maju. Om Hyang Widhi semoga kami mendapatkan kekuatan spiritual. Semoga kami memperoleh banyak harta benda yang berguna. Semoga kami terpenuhi. 23. Mantra/Doa agar usaha tani berhasil baik Om sunam suphala wi tudantu bhumim sunan kinasa anuyantu waham sunarisira hawisesa supipal asadhih kartam asmi. (Atharwa Weda III.17.5) Artinya : Om Hyang Widhi Yang Maha Suci, semoga pekerjaan kami meluku tanah berhasil baik. Semoga pekerjaan yang meluku dapat mengikuti jejak hewan yang teratur. Hyang Widhi pelindung pertanian, karena telah dilaksanakan persembahyangan dengan air suci semoga Engkau berkenan menjadikan tanaman-tanaman kami berlimpah-limpah buahnya. 24. Mantra/Doa sumpah jabatan Om agne wrtapstwe ya tawa tanuriyaduan sa mayi yo mama tanuresa twayi (Yajur Weda 1.5.6) Om agne naya supatha raya asman wiswani dewa wayunani widwan yutadi asmajjuhuranam eno bhuyistham to nama uktim widhema. (Reg Weda I.189.1) Artinya : Om Hyang Widhi, pelindung atas sumpah agama, semoga kami dapat mengikuti sumpah di bawah bimbinganMu. Semoga semua, kekuatan karuniaMu yang maha besar itu dapat menyebabkan kami tetap dalam keadaan suci di lingkunganMu. Om Hyang Widhi Yang Maha Suci, bimbinglah kami ke jalan yang benar menuju kebahagiaan. Hyang Widhi saksi yang mengetahui pekerjaan kami. Hindarkanlah kami dari pengetahuan yang menyesatkan. Hyang Widhi kami mempersembahkan bhakti yang setulus-tulusnya.
25. Mantra/Doa Pembukaan Rapat Om sam gacchadvam sam vadadvam, sam vo manamsi jatanam, deva bhagamyatha purve, sam janata upasate Om sam samani va akutih, samana hridayani vah, samanamastu vo mano, yathavah susaha sati Om ano bhadrah kratavo yantu visvatah Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, kami berkumpul di tempat ini, berbicara satu dengan yang lain untuk menemukan kesatuan pikiran, sebagai halnya para Dewa pada jaman dahulu bersatu, (Dana Dan Suratnaya, 2013:78). Om Sanghyang Widhi Wasa, tuntunlah agar kami sama dalam tujuan, sama dalam hati, bersatu dalam pikiran, sehingga kami dapat hidup bersama dengan bahagia, (Dana Dan Suratnaya, 2013:79). Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru. 26. Mantra/Doa Penutupan Rapat a. Oṁ anugraha manoharam, devadatta nugrahaka, arcanam sarwā pùjanam, namah sarwa nugrahaka. Oṁ ksama swamām jagadnātha, sarwa pāpā hitankarah, sarwa karya sidham dehi, pranamya sùryeswaram. Oṁ Sāntih, Sāntih, Sāntih, Oṁ. Artinya : Oṁ Hyang Widhi Wasa limpahkanlah anugrahMu yang menggembirakan kepada hamba. Sang Hyang Widhi Wasa yang maha pemurah, semoga Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan segala anugrah kepada hamba. Om Sang Hyang Widhy Wasa, pelindung alam semesta, pencipta semua makhluk, ampunilah dosa hamba dan anugrahilah hamba dengan keberhasilan atas semua karya. Sang Hyang Widhi Wasa yang memancarkan sinar suci, ibaratnya sang surya memancarkan sinarnya, hamba sujud kepadaMu. Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama-lamanya.
Atau : b. Oṁ dyauh sāntir antariksam sāntih prthiwi sāntir āpah sāntir asadhayah santih wanaspatayah santir wiswe dewah sāntir brahma sāntih sarvam sāntih santir ewa sāntih sā mā sāntir edhi Oṁ Sāntih, Sāntih, Sāntih, Oṁ. Artinya : Oṁ Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Mahakuasa, anugerahkanlah kedamaian di langit, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para dewata, damailah Brahma, damailah alam semesta. Semogalah kedamaian senantiasa datang pada kami. Om Sang Hyang Widhi Wasa, semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selama-lamanya. 27. Mantra/Doa memasuki daerah, tanah rumah baru Om ya rupini pratimunca mana asurah santah swadhaya caranti, parapuru nipuro ya bharantyagnistam lokapramudattyasmat. (Yajur Weda I.2.7) Om mahi trinamawe’stu dyksam mitrasyaryamnah duru dharsa warunasya. (Yajur Weda I.3.30) Artinya : Om Hyang Widhi Yang Maha Suci, pindahkanlah setan-setan yang menempati daerah ini yang selalu menunjukkan sifat lobanya, yang senantiasa hendak dipenuhi nafsu/ambisi jahatnya. Om Hyang Widhi, semoga kami memperoleh kebijaksanaan dan perlindungan yang tidak terhalangi alam, air, matahari dan udara. 28. Mantra/Doa mohon keselamatan mengarungi lautan dan dalam penerbangan Om sutramanam prthiwim dyam anehasam sudarma namaditim suprantim daiwin nawam swaritram anagasam artrawantim aruhema swahema swataye. (Reg Weda X. 63. 10) Om pratim panthamapadmahi swatigamannehasam yena niswa paridwise wrnakti windate wasu. (Yajur Weda I. 4. 29) Artinya : Hyang Widhi, Engkau Aditi yang memberikan perlindungan, jadikanlah bumi dan langit yang tiada tandingannya menyelamatkan kami. Dengan kapal sorgawi yang menyelamatkan, kami mengarunginya, semoga kami mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Hyang Widhi, semoga kami dapat menempuh jalan yang bebas dari dosa dan membahagiakan sebagaimana orang suci melalui jalan kesenangan dan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan.
29. Mantra/Doa Berangkat ke Daerah Operasi (TNI/Polri/ Angkatan) Om mrtyunjayasya devasya, yo namamyanukirtayet, dirghayusyam avapnoti, sanggrama vijayi bhavet Om om jaya jivat sarira raksan dadasime. Om sudha sudha sudha vasyastu ya namah svaha Om avighnam astu ya namah svaha Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, siapa pun akan mengucapkan pujaan kehadapan-Mu, oh Dikau yang jaya atas kematian, semoga kami memperoleh umur panjang dan selalu menang di dalam pertempuran, (Dana dan Suratnaya, 2013:82). Om Sanghyang Widhi Wasa, limpahkanlah kejayaan dan lindungilah jiwa raga kami, (Dana Dan Suratnaya, 2013:82). 30. Mantra/Doa Kembali ke Daerah Operasi (TNI/Polri/ Angkatan) Om dirghayur bala wrdhi sakti karanam, mrtyunjayarogadi ksaya kusta kalusan, candra prabha bhaswaram. Om dirghayur nirwighnam suka wrdhi nugrahakam Om Santih Santih Santih Om Artinya : Om Hyang Widhi Wasa, semoga menganugerahkan umur panjang dan tenaga, kekuatan dan kesejahteraan. Hyang Widhi yang mengatasi kematian dan abadi. Kami memuja Engkau melenyapkan segala penyakit dan dosa. Om Hyang Widhi Wasa, semoga tidak ada halangan bagi kami di dalam mempertahankan dan menegakkan dharma dan semoga menganugerahi kami umur panjang. Om Hyang Widhi Wasa, semoga damai, damai di hati, damai di dunia, damai selamalamanya. 31. Mantra/Doa hari ABRI Om dhirgayur bala bala wrdhi sakti karanam ya namah swaha, Om sarwa jagat pratista ya namah swaha Artinya : Om Hyang Widhi, Engkaulah yang memberikan kekuatan kepada prajurit kami yang senantiasa dapat mendudukkan musuh dan selalu jaya dalam perjuangan. Om Hyang Widhi, bangsa dan negara kami semua prajurit kami senantiasa jaya, teguh bersatu dalam tugas.
32. Mantra/Doa Hari Pahlawan Om Siva Nirmalam Tang Guhyam, Siva Tattva Parayanah, Sivasya Parama Suksma, Siva, Siva, Siva Sampurna Ya Namah Svada, Om Angulih Ulih Sang Agawe Ayu, Lawan Sang Amipelas, Mwang Sang Pinilepas, Mwang Sang Kinaryaken, Den luputa Ring Ila Upadrawa, Sakala Niskala, Sama Umangguh Sukha Rahayu, Dirghayusya Yowana Wet Ahurip, Entasa Denira Sanghyang Dharma, Om Siddhirrastu Namah Sidham Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Dikau adalah Siwa yang suci, tersembunyi di dalam hati dan meresapi semua makhluk, Dikau yang teragung dan amat gaib. Om Siwa, Raja yang Agung, Penguasa maut. Semoga sempurnakanlah sembah dan puji keami kepada para Pahlawan yang telah meninggalkan kami, (Dana dan Suratnaya, 2013:92) Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga Dikau limpahi kepada orang yang berbuat bijak serta pemimpin-pemimpin kami, dan yang ditiggalkan, juga para pahlawan yang telah meninggalkan kami luput dari noda baik di dunia atau pun di akhirat. Semoga semua mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya, tersucikan oleh sinar Dharma-Mu. Om semoga Sidhi da tercapai sembah serta puji hamba, (Dana Dan Suratnaya, 2013:92-93). 33. Mantra/Doa Dharma Santih Hari Raya Nyepi Om Om Udvayam Tamasas Pari Svah Pasyanta Uttaram Devo, Devan Devantra Suryam Aganma Jyotir Uttaman, (Dana Dan Suratnaya, 2013:95). Om Tas Caksur Devahitamsca Purastacchukram Uccarat Pasyema Saradah Satam Jivema Saradah Satam, (Dana Dan Suratnaya, 2013:95). Om Srinuyaman Saradah Satam Prabhavama Saradah Satam Adinah Syama Saradah Satam Bhuyasca Saradah Satat Om Sarvam Santibhyo Namah Svaha,” (Dana Dan Suratnaya, 2013:96).
Artinya: Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau Maha Cemerlang, kekal abadi dan Maha Mengetahui. Hyang Widhi adalah sumber penerang yang Maha Suci. Semoga Engkau menerangi kami dengan cahaya-Mu Yang Maha Suci, (Dana Dan Suratnaya, 2013:96). Om Sanghyang Widhi Wasa, Engkau Maha Melihat, Engkau menghindarkan kami dari yang buruk dan membimbing kami ke jalan yang mulia. Semoga kami hidup di bawah bimbinganMu sehingga dapat melihat, mendengar yang baik dan hidup merdeka selamanya, (Dana Dan Suratnaya, 2013:96-97). Om Sanghyang Widhi Wasa, apabila dengan kemuliaan-Mu, kami hidup lebih lama, semoga kami selalu di bawah pengawasan-Mu, dan berbuat kebaikan, (Dana Dan Suratnaya, 2013:97). Om Sanghyang Widhi Wasa, semoga semuanya damai atas waraugraha-Mu,” (Dana Dan Suratnaya, 2013:97).
BAB IV KEKIDUNGAN I. KIDUNG DEWA YADNYA 1. KAWITAN WARGASARI 1. Purwakaning angripta rumning wana ukir. Kahadang labuh Kartika panĕdĕnging sari. Angayon tangguli kĕtur. Angringring jangga muré. 2. Sukania harja winangun winarna sari. Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi. Sampuning riris sumahur. Umungguing srĕngganing réjéng. 2. KIDUNG WARGASARI 1. Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrané. Mangda sampun titiang tanwruh. Mĕngayat Bhatara mangkin. Titiang ngaturang pĕjati. Canang suci mwang daksina. Sami sampun puput. Pratingkahing saji. 2. Asĕp mĕnyan majĕgau. Cĕndana nuhur déwané, Mangda Ida gĕlis rawuh. Mijil saking luhuring langit. Sampun madabdaban sami. Maring giri méru rĕko. Ancangan sadulur, Sami pada ngiring 3. Bhatarané saking luhur. Ngagana di ambarané. Panganggéné abra murub. Parĕkan sami mangiring. Widyadara widyadari, pada madudon-dudonan, Prabhawa kumĕtug. Angliwĕr ring langit.
4. Di Balé maniké luwung, Mapanyĕngkĕr ring tlagané, Kadagingin tunjung tutur, Tunjung abang tunjung putih, Ring madyaning balé alit, Ida Bhatara ngĕrawos, Nganggé sĕkar jĕpun, Sĕkarang ka jagat sami. 5. Ring balé ĕmasé paum, linggih Ida Bhatarané, balé ĕmas ngranyab murub, upacara sarwa luwih, laluhuré sutra putih, Ida Bhatara mabawos, bawosé di luhur, pacang turun gĕlis. 3. KIDUNG TURUN TIRTA 1. Turun tirta saking luhur Menyiratan pemangkune Mekalangan muncrat mumbul Mapan tirtha merta jati Paican Bhatara sami Panglukatan dasa mala Sami pada lebur Malene ring gumi 2. Meketis ping tiga sampun Pabahan Siwa dwarane Wasuhane raris kinum Ping tiga lantas mesugi Ring waktra megentos genti Toya amertha Hyang Widhine Sami sampun puput Mengalangin hati
BAB V ARTI DAN MAKNA SARANA PERSEMBAHYANGAN A. Bunga dan Canang Sari Bunga merupakan lambang ketulus ikhlasan dan kesucian hati. Bunga mempunyai fungsi dan arti yang sangat penting dalam persembahyangan. Bunga mempunyai fungsi sebagai simbol Tuhan (Siwa), wujud bakti kepada-Nya dan berfungsi sebagai sarana persembahyangan. Sedangkan arti bunga dalam persembahyangan adalah sebagai lambang ketulus ikhlasan yang suci serta melambangkan arti sifat cinta kasih Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Bunga sebagai simbul Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi) diletakkan di ujung cakupan tangan pada saat menyembah dan sesudahnya bunga tersebut diletakkan di atas kepala atau disumpingkan di telinga. Maka dari itu disarankan untuk menggunakan bunga yang segar, bersih dan harum dalam melaksanakan persembahyangan. Bunga sebagai sarana persembahan maka bunga dipakai mengisi sesajen (banten). Selanjutnya bunga, daun, buah-buahan serta isi bumi lainnya menurut tatwa agama dibuatlah rangkaian yang mengandung filosofi tinggi yang dinamakan canang. Canang Sari merupakan simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung. Canang dalam bahasa Kawi atau Jawa Kuno berasal dari kata “can” yang berarti indah, sedangkan “nang” berarti tujuan atau maksud. Sari berarti inti atau sumber. Sehingga hal ini dapat didefinisikan canang merupakan sarana untuk mencapai tujuan yaitu keindahan (Sundharam) kehadapan Ida Sang Hyang widhi Wasa. Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala. Simbolisme dari bagian-bagian penyusun canang adalah sebagai berikut: 1. Ceper https://forumstudimajapahit.com/canang-sari/
Ceper adalah alas dari sebuah canang yang memiliki bentuk segi empat dan melambangkan angga-sarira (badan). Keempat sisi ceper melambangkan pembentuk angga-sarira, yaitu Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, dan Panca Karmendriya. Canang yang dialasi ceper merupakan simbol Ardha Candra, sedangkan yang dialasi oleh tamas kecil merupakan simbol dari Windhu. 3. Beras Beras atau wija melambangkan Sang Hyang Ātma atau yang membuat badan mejadi hidup, melambangkan benih di awal kehidupan yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Ātma. 4. Porosan Porosan atau peporosan terbuat dari daun sirih, kapur, dan jambe (gambir) yang melambangkan Tri-Premana, yaitu Bayu ("pikiran"), Sabda ("perkataan"), dan Idep ("perbuatan"). Ketiganya membuat tubuh yang bernyawa dapat melakukan aktivitas. Porosan juga melambangkan Trimurti, yaitu Siwa (kapur), Wisnu (sirih), dan Brahma(gambir). Porosan mempunyai makna bahwa setiap umat harus mempunyai hati (poros) penuh cinta dan welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Porosan Silih Asih Gambar. Porosan Tampelan Cempaka Widya Gambar. Gyan Kerti Gambar. Orami
5. Jajan, tebu, dan pisang Jajan, tebu, dan pisang menjadi simbol dari Tedong Ongkara yang melambangkan kekuatan Upetti, Stiti, dan Pralinan dalam kehidupan di alam semesta. 5. Sampian Uras Sampian uras atau juga disebut Duras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai yang melambangkan roda kehidupan dengan asta iswaryanya (delapan karakteristik) yang menyertai setiap kehidupan umat manusia. 6. Bunga Bunga yang diletakkan di atas sampian urasari melambangkan kedamaian dan ketulusan hati. Penyusunan bunga diurutkan sebagai berikut: a. Bunga berwarna Putih disusun di Timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara. Apabila sulit dicari, dapat diganti dengan warna merah muda adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari (Bidadari) Gagar Mayang oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Iswara agar memercikkan Tirtha Sanjiwani untuk menganugerahi kekuatan kesucian skala niskala. Gambar. Sampian Uras Cempaka Widya Gambar. https://forumstudimajapahit.com/ Gambar. https://www.prempuanbali.asia/ Gambar. Perempuan Bali
b. Bunga berwarna Merah disusun di Selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Brahma. sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Saraswati oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Brahma agar memercikkan Tirtha Kamandalu untuk menganugerahi kekuatan Kepradnyanan dan Kewibawaan. c. Bunga berwarna Kuning disusun di Barat sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Mahadewa. Bunga kuning merupakan sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Ken Sulasih oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Mahadewa agar memercikkan Tirtha Kundalini untuk menganugerahi kekuatan intuisi. d. Bunga berwarna Hitam disusun di Utara sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu. Hitam. Apabila warna hitam sulit dicari, dapat diganti dengan warna biru, hijau atau ungu dan disusun untuk menghadap arah Utara. Bunga berwarna hitam/biru/ungu merupakan sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Nilotama oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Wisnu agar memercikkan Tirtha Pawitra untuk menganugerahi kekuatan peleburan segala bentuk kekotoran jiwa dan raga. e. Kembang Rampai disusun ditengah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Panca Dewata. Kembang Rampe merupakan irisan pandan arum yang disusun di tengah-tengah, adalah sebagai simbol memohon diutusnya Widyadari Supraba oleh Prabhawa Nya dalam kekuatan Sang Hyang Siwa agar memercikkan Tirtha Maha mertha untuk menganugerahi kekuatan pembebasan (Moksa). Bunga Rampe Bunga canang, kembang rampe, porosan adalah simbol dari Tarung / Tedung dari Ong Kara (isi dari Tri Bhuwana (Tri Loka) = Bhur-Bwah-Swah). 6. Kembang Rampai Kembang rampai diletakkan di atas susunan bunga dan memiliki makna sebagai lambang kebijaksanaan. Bermacam-macam bungai ada yang harum dan ada yang tidak berbau, melambangkan kehidupan manusia tidak selamanya senang atau susah. Untuk itulah, dalam menata kehidupan, manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan. 8. Lepa Lepa atau boreh miyik merupakan lambang sebagai sikap dan perilaku yang baik. Perilaku menentukan penilaian masyarakat terhadap baik atau buruknya seseorang. Gambar. Telusur Bali
9. Minyak wangi Minyak wangi atau miyik-miyikan menjadi lambang ketenangan jiwa atau pengendalian diri. Dalam menata kehidupan, manusia hendaknya hendaknya menjalankannya dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik. Sebuah canang sari disempurnakan dengan meletakkan sejumlah kepeng (uang logam) atau uang kertas, konon untuk menjadi esensi (sari) dari persembahan B. Kewangen Berikut nama, bentuk, dan simbul dari sarananya adalah sebagai berikut : 1. KOJONG, biasanya dibuat dari daun pisang, dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk kojong. Kojong ini bila kita tekan sampai lempeh maka dia akan berbentuk segi tiga, maka kojong menyimbulkan angka tiga Huruf Bali (lihat huruf Ongkara Bali). 2. PEKIR, dibuat sedemikian rupa menyerupai hiyasan kepala dari tarian jangger (tarian muda-mudi di Bali).dibuat dari daun janur. Bentuknya bisa kelihatan bermacam-macam , itu sangat tergantung dari seninya yang membuat. Ini merupakan simbul dari ULU ARDHA CANDRA dan NADA (tulisan huruf Bali). 3. UANG KEPENG (pipis bolong), bila tidak ada uang kepeng, maka bisa digunakan uang logam, sebab uang kepeng itu yang dipentingkan adalah bentuknya yang bundar, sebagai simbul WINDU (nol). Perlu ditekankan disini jangan menggunakan uang kertas yang diplintir akan mengurangi arti dan makna. 4. POROSAN, ini ditempatkan di dalam kojong tadi hampir tidak kelihatan dari luar. Porosan ini yang terpenting adalah terdiri dari tiga unsur yaitu; daun sirih (daun lain yang wajar digunakan), daun ini yang dicari maknanya adalah https://hindu.web.id/makna-kewangen/ Gambar. https://www.lazada.co.cid/
warnanya yaitu berwarna Hijau, merupakan simbul dari dewa Wisnu, Huruf Balinya adalah UNGKARA, Kemudian buah sirih yang disisir sedemikian rupa, ini mewakili warna merah, simbul dari Dewa Brahma, huruf Balinya ANGKARA. Selanjutnya unsur yang ketiga adalah kapur sirih warnanya putih sibul dari dewa Iswara (Siwa), Huruf Balinya adalah MANGKARA. Ketigatiganya itu dijarit semat atau diikat pakai menang menjadi satu, artinya seperti uraian dibawah ini. Jadi tiga huruf itu; A.+ U + M = AUM MENJADI ONG ( A dan U kasewitrayang dalam tata bahasa Bali). Maka ONG itu adalah huruf sebagai simbul dari Tuhan. 5. BUNGA, ini sembul dari rasa cinta dan rasa bhakti. Kesimpulannya Kewangen (bisa dibaca kwangen) adalah merupakan simbul dari Tuhan dalam bentuk tetandingan (sarana upacara). C. Dupa Api/Dupa merupakan sarana persembahyangan umat Hindu. Api/Dupa adalah sejenis harum-haruman yang dibakar sehingga berbau harum dan menyala sebagai lambang Agni dan berfungsi sebagai: a. Perantara yang menghubungkan pemuja dengan yang dipuja b. Sebagai pembasmi segala mala dan pengusir roh jahat. c. Sebagai saksi dalam upacara. Dalam upacara persembahyangan yang dipimpin pendeta, dupa memiliki arti sangat dalam. Dupa berasal dari Wisma yaitu alam semesta dan asapnya secara perlahan menyatu ke angkasa. Hal inilah dupa memiliki makna sebagai perlambang menuntun umat agar menghidupkan api dalam raga dan menggerakkan menuju Sang Hyang Widhi. Dupa bermakna sebagai pembasmi segala kotoran dapat kita ketahui pada persembahyangan sehari - hari dimana melalui mantram dupa itu sendiri. “Ong Ang Dipastraya namah swaha” artinya mohon disucikan diri atas sinar suci Ida Sang Hyang Widhi. Api juga sebagai saksi upacara dalam kehidupan. Dalam persembahyangan dupa sebagai saksi dan asapnya sebagai lambang gerakan rohani ke angkasa sebagai stana para Dewa. Dupa sebagai sarira Sang Hyang Agni maha melihat perbuatan manusia. Dalam Mitos Hindu yang terdapat pada Lontar Siwa Gama dijelaskan saat rapat para Dewa di Sorga yang dipimpin oleh Dewa Siwa, saat itu hadir pula Dewa Surya, oleh karena penampilan Dewa Surya sangat simpatik maka dewa Siwa menganugrahkan tugas agar mewakili dirinya di dunia yaitu sebagai saksi alam semesta. Gambar. koinworks
Kalau kita renungkan fungsi dan arti dupa dalam upacara persembahyangan yang dipimpin pendeta punya arti sangat dalam. Dupa berasal dari Wisma yaitu alam semesta dan asapnya secara perlahan menyatu ke angkasa inilah sebagai perlambang menuntun umat agar menghidupkan api dalam raga dan menggerakkan menuju Sanghyang Widhi. Pemangku atau Pinandhita dalam memimpin upacara menggunakan api dalam bentuk Pasepan yang isinya: Menyan, Majegau dan Cendana dibakar agar berasap dan berbau. Maknanya sbb: Menyan untuk memuja Dewa Siwa, Majegau untuk memuja Dewa Sada Siwa dan Cendana untuk memuja Parama Siwa. Disinilah Pemangku/Pinandita menggunakan Puja Seha sebagai medianya. Mengenai pasepan/asep sangat jelas terdengar pada bait Kidung Warga Sari yang biasa disuarakan pada upacara panca yadnya sebagai permohonan agar para Dewata segera turun. D. Tirtha Didalam persembahyangan agama Hindu, Tirtha merupakan salah satu sarana yang penting. Tirtha adalah air yang telah disucikan yang digunakan untuk membersihkan tangan sebelum persembahyangan dimulai. Kata “Tirtha” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti kesucian atau setitik air, air suci, bersuci dengan air. Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kotoran maupun kecemaran pikiran. Yang mana dalam penerapan pemakaiannya yaitu dipercikan dikepala, diminum dan diusapkan dimuka. Itu sebagai simbolis pembersih bayu, sabda dan idep. 1) Macam-Macam Tirtha Dalam melakukan persembahyangan Tirtha terbagi menjadi dua jenis yaitu Tirtha Pembersih dan Tirtha Wangsuhpada. Tirtha Pembersih berfungsi untuk menyucikan upakara (bebanten) yang dipakai sarana persembahan dan juga dipakai untuk menyucikan diri dari segala kekotoran. Tirtha Pembersihan dipergunakan sebelum inti persembahyangan dilakukan. Setelah upakara dan diri sendiri diperciki tirtha pembersihan baru dilangsungkan persembahyangan. Sedangkan Tirta Wangsuhpada merupakan lambang karunia / wara nugraha Ida Bhatara kepada umat yang memuja berupa Amrta (kehidupan yang sejahtera). Tirtha Wangsuhpada dipergunakan ketika persembahyangan selesai. Jadi fungsi tirtha dalam persembahyangan adalah sebagai pembuka dan penutup persembahyangan. Tirtha juga dapat dibedakan dari cara memperolehnya yaitu sebagai berikut : gambar. www.metzphotoart.com
a) Tirtha yang dibuat oleh Sulinggih Pembuatan Tirtha oleh Sulinggih/ Sang Diksita / Sang Dwijati khususnya untuk tirtha pembersihan, sebagai dasar untuk penggunaan jenis tirtha yang lainnya. Tirtha yang didapat dengan membuat hanya boleh dibuat oleh Sulinggih atau Pendeta (Dwijati). Selain Tirtha pembersihan, juga ada Tirtha Pengelukatan yang mana juga sebagai pokok pada setiap upacara. b) Tirtha yang didapat melalui memohon oleh Pemangku, Pinandita atau Sang Yajamana (penyelenggara upacara) Jenis Tirtha ini disebut Tirtha Wangsuhpada. Biasanya terdapat di suatu pura atau tempat suci. Permohonan tirtha wangsuhpada dilaksanakan oleh pemangku yang bersangkutan. Tirtha yang dimohon di pura oleh pemangku yang bersangkutan seperti tirtha pembersihan atau penglukatan bebanten upakara dan umat yang akan bersembahyang berfungsi untuk pembersih atau penyucian dan sebagai simbolis/sarana untuk mendorong umat untuk menyucikan diri dengan mengheningkan rohaninya untuk dapat lebih mudah mendekatkan dirinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Jika ditinjau dari Fungsinya Tirtha dapat dibedakan sebagai berikut : 2) Tirtha Pembersihan yaitu air suci yang digunakan untuk mensucikan atau membersihkan sarana (bebanten) upakara dan diri manusia sebelum melakukan persembahyangan. Pada umumnya di pura-pura, tirta pembersihan diletakkan di depan pintu masuk atau di dekat tempat dupa dan sentang. 3) Tirtha Pengelukatan yaitu air suci yang fungsinya digunakan pada penglukatan atau pensucian alat upacara, bangunan atau diri manusia. Selain itu tirta ini, biasanya dipergunakan untuk mensucikan canang dan banten dengan cara percikan tiga kali. Tirta ini pada umumnya didapat dari para pandita dan telah di pasupati. 4) TIrtha Wangsuhpada juga disebut dengan banyun cokor atau kekuluh yaitu jenis tirta yang digunakan pada akhir persembahyangan. Tirta ini sebagai simbol sembah dan bakti kita kepada Tuhan agar diberikan anugrah berupa air suci kebahagiaan. 5) Tirtha Pemanah yaitu yaitu jenis tirta yang digunakan pada saat memandikan jenazah. Tirta ini diperoleh dari air suci pada saat upakara Ngening. 6) Tirtha Penembak yaitu jenis tirta air suci yang digunakan saat memandikan jenazah yang maknanya mensucikan badan jenazah secara lahir dan batin. 7) Tirtha Pengentas yaitu tirta yang fungsinya untuk memutuskan hubungan roh orang yang meninggal dengan badannya agar cepat melupakan keduniawian. Tirta ini merupakan penentu utama berhasilnya suatu upacara Ngaben. Tirta Pengentas pada umumnya dibuat oleh sulinggih. Dilihat dari penggunaannya pada persembahyangan agama Hindu seharihari, tirta dapat dibedakan menjadi tiga jenis, diantaranya: 1) Tirtha Kundalini, yaitu tirta yang dipercikan ke badan sebanyak tiga kali ketika persembahyangan. 2) Tirtha Kamandalu, yaitu tirta yang diminum. 3) Tirtha Pawitra Jati, yaitu tirta yang diraup/diusap ke muka atau kepala sebanyak tiga kali.
Tirtha tersebut digunakan sebagai media untuk menghubungkan batin dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tumbuh-tumbuhan, para pitara (roh suci leluhur) serta keharmonisan lainya dalam kehidupan di dunia ini. E. Bija Setiap melakukan persembahyangan di Pura, di akhir persembahyangan umat hindu akan dibagikan tirta dan bija. Namun apakah sebagian besar umat hindu sudah memahami makna dari tirta dan bija tersebut? Banyak orang yang pasti bertanya-tanya kalau nunas bija berapa sebaiknya dan dimana sebenarnya meletakan bija yang baik dalam sembahyang sesuai dengan aturan tatwa, karena banyak cara dan bagaimana yang paling benar? pertanyaan ini sangat baik sekali. mengandung filosofis tetapi juga praktis. Hal -hal seperti ini memang baik ditanyakan karena manfaatnya besar dalam kehidupan seharihari. Bija sebaiknya dari beras yang utuh, tidak pecah atau terpotong. Alasan ilmiahnya adalah beras yang pecah atau terpotong tidak akan bisa tumbuh. Nunas bija dimaksudkan untuk menanam dan menumbuhkan sifat kedewataan dalam setiap orang. Tempat menanamnya juga tidak sembarangan. Ada aturannya dalam menaruh bija di tempat tertentu di badan manusia. Di dalam tubuh atau didaerah tertentu yang peka terhadap rangsangan atau sentuhan dari luar. Contoh rangsangan suara, daun dan lubang telingalah yang paling peka menerimanya. Kulit adalah untuk menerimah sentuhan. Lalu kalau bija dimana sebaiknya ditaruh agar mudah tumbuh dan berkembang sifat kedewataan kita? Ada lima titik peka untuk menerima rangsangan kedewataan yang disebut Panca Adisesa yakni titik-titik berikut ini : 1) Di pusar yang disebut titik manipura cakra. 2) Di hulu hati (padma hrdaya) zat ketuhanan diyakini paling terkonsentrasi di dalam bagian padma hrdaya ini (hati berbentuk bunga tunjung atau padma). Titik kedewataan ni disebut Hana hatta cakra. 3) Di leher, diluar kerongkongan atau tenggorokan yang disebut wisuda cakra. 4) Di dalam mulut atau langit-langit. 5) Di antara dua alis mata yang disebut anjacakra. Sebenarnya letaknya yang lebih tepat, sedikit diatas, diantara dua alis mata itu. Pada waktu sembahyang, karena kita berpakaian lengkap, tentu agak sulit menaruh bija pada titik pusar (manipura cakra). Untuk lebih praktisnya agar tidak membuka baju atau kain, cukuplah tiga titik kedewataan yang letaknya terbuka saja yakni pada (1) anja cakra, sedikit diatas dua alis mata; (2) di mulut, langsung ditelan dan tidak digigit atau dikunyah; dan (3) di leher, di wisuda cakra. Didalam kenyataannya, banyak orang belum tahu tempat Gambar. http://peradah-semarang.blogspot.com/
kedewataan itu sehingga menaruh bija di tempat yang kurang peka. Tentu saja akan agak sulit menggelitik sifat kedewataan atau tuhan yang ada dalam diri manusia. Jumlah bija yang mesti ditaruh diketiga titik ketuhanan itu sebaiknya berjumlah kelipatan tiga karena angka tiga itu adalah angka keramat dan mistik, umpanya tiga, enam, sembilan dan seterusnya. Dapat dimaklumi bahwa kesempatan menghitung tiga bija pada saat itu baik si pemberi maupun penerima bija agak sulit dan risih. Dalam hal seperti itu, perkiraan jumlah, dapat digunakan jangan terlalu banyak. Cukup satu jumput kecil dengan ujung jari saja diambil.
BAB VI GAMBAR DAN PENJELASAN A. Sikap Duduk 1. Swastikasana Swastikasana adalah kedua kaki lurus ke depan kemudian lipat kaki dan taruh dekat otot paha kanan, bengkokkan kaki kanan dan dorong telapak kaki dalam ruang antara paha dengan otot betis. 2. Bajrasana Bajrasana atau Vajrasana adalah sembahyang yang dilakukan dengan duduk bersimpuh, yaitu paha dalam posisi keduanya lurus kedepan, lutut keduanya dalam keadaan terlipat, betis keduanya berada dibawah paha, dan kedua telapak kaki berada dibawah pantat. Tulang punggung dalam posisi tegak lurus dengan kepala dan badan dalam keadaan dilemaskan. Sikap duduk Bajrasana atau Vajrasana ini biasanya dilakukan oleh wanita. Bajrasana Swastikasana
3. Padmasana Padmasana adalah sikap sembahyang dengan duduk seperti teratai. Asana dilakukan dengan menempatkan kaki kanan diatas paha kiri dan kaki kiri berada diatas paha kaki kanan, tulang punggung sampai di kepala menjadi satu garis tegak lurus dan sekujur tubuh dilemaskan. 4. Padasana Padasana adalah sikap sembahyang yang dilakukan dengan posisi berdiri tegak lurus, kedua telapak tangan dikatupkan pada bagian hulu hati, dan pandangan mata mengarah pada ujung hidung 5. Sawasana Sukhasana adalah sikap sembahyang dengan duduk biasa, yaitu kaki kanan berada didepan kaki kiri dan kaki kiri berada didepan kaki kanan. Sikap sukhasana inilah biasanya yang dapat dilakukan oleh umat kebanyakan karena sikap Sukhasana ialah sikap yang paling mudah dan dapat dilakukan dengan tahan lebih lama pada posisi duduk. Sikap duduk Sukhasana dan Sidhasana memiliki faedah dan manfaat yang jika kita hubungkan dengan kesehatan jasmani umat yang melakukan persembahyangan. Padmasana Padasana Sawasana
B. Sikap Tangan II. Shunya Mudra Masukan jari tengah di dasar ibu jari kemudian tempatkan ibu jari pada jari tengah. Dengan lembut tekan jari tengah dengan ibu jari. Posisi ini dapat mengurangi rasa sakit yang disebabkan oleh gangguan telinga, meningkatkan ruang dalam tubuh, dan mengurangi mati rasa. III. Vayu Mudra Tempatkan jari telunjuk Anda di dasar ibu jari. Tekan jari telunjuk menggunakan ibu jari pada sendi phalangeal. Posisi ini dapat mengurangi aktivitas hiper dan agresi. IV. Gyan Mudra Sentuh ujung jari telunjuk Anda ke ujung ibu jari. Hal ini akan meningkatkan memori, kreativitas, antusiasme, meningkatkan udara dalam tubuh, dan menurunkan kelesuan. Shunya Mudra Vayu Mudra Gyan Mudra
DAFTAR PUSTAKA Adia Wiratmaja, Drs. IGK, 2011: Nitya Karma Puja, CV. Kayu Mas Agung, Denpasar. Tim Pokjaluh Agama Hindu: Doa Sehari – Hari, Konawe Selatan. https://www.mutiarahindu.com/2018/06/cara-sembahyang-agama-hindu-secara-umum.html https://yanartha.wordpress.com/landasan-dasar-tata-cara-persiapan-sarana-dan-mantramsembahyang-menurut-hindu/ https://123dok.com/document/z1ee7d8y-fungsi-dan-arti-bunga-dalampersembahaya.html#:~:text=Bunga%20tersebut%20digunakan%20untuk%20mengisi,tanpa% 20dasar%20dari%20kitab%20suci. https://bali.tribunnews.com/2021/04/06/makna-sikap-asana-dan-pranayama-dalam-trisandya-dibali#:~:text=Asana%20adalah%20sikap%20pemujaan%20atau,matimpuh)%20dengan%20ba dan%20tegak%20lurus. https://indobalinews.pikiran-rakyat.com/seni-budaya/pr-88731855/ketahui-arti-dan-maknacanang-sari https://hindualukta.blogspot.com/2016/05/fungsi-dan-makna-dupa-dalam.html http://lenteradharma.blogspot.com/2016/04/makna-bija-dan-tirtha-dalam.html https://hindualukta.blogspot.com/2015/04/makna-dan-fungsi-kwangen.html https://www.alitindonesia.or.id/eng/news/makna-tirta-bagi-hindu-bali https://aryawangsablog.blogspot.com/2018/08/kidung-dewa-yadnya-wargasari.html http://bhaskaragita.blogspot.com/2010/03/kawitan-tantri-1.html https://www.mutiarahindu.com/2018/11/mantra-hari-pahlawan-dalam-agama-hindu.html https://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2012/02/sembahyang.html
BUKU PEDOMAN PERSEMBAHYANGAN DISUSUN OLEH : LILIK WIDYAWATI, S.Ag PENYELENGGARA BIMAS HINDU KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA BATAM TAHUN 2021