The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pembuatan ebook ini bertujuan untuk melengkapi tugas Matkul Media TIK

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rizkyrahmad422, 2021-07-27 15:20:06

KUMPULAN FABEL PENGANTAR TIDUR

Pembuatan ebook ini bertujuan untuk melengkapi tugas Matkul Media TIK

Keywords: Fabel

Kancil dan kura-kura

Kancil dan kura-kura merupakan dua sahabat yang sangat akrab hingga kemana-
mana mereka selalu berdua. Pada suatu hari mereka pergi untuk menangkap ikan
yang ada di suatu danau.

Dalam perjalanan menuju ke danau, mereka pun melihat kijang yang ingin ikut serta
untuk pergi ke danau.
Kemudian mereka bertiga pun meneruskan perjalanan dan sampailah di sebuah bukit.
Di bukit tersebut mereka berjumpa seekor rusa yang ternyata ingin ikut juga. Rusa
pun akhirnya ikut masuk ke dalam rombongan untuk menuju danau.

Di tengah perjalanan, mereka berempat bertemu dengan babi hutan. “Apakah aku
boleh ikut serta bersama kalian?” tanya babi hutan.

” Tentu saja boleh.” Jawab kura-kura.

Selama di perjalanan bergabung pula Badak, Banteng, Beruang, Gajah, dan Kerbau.
Mereka pun berjalin dengan cara berbaris beriringan mengikuti si Kancil dan akhirnya
mereka semua pun tiba di danau yang menjadi tujuan utama. Mereka semua pun
memancing dan mendapatkan hasil tangkapan ikan.

Kemudian ikan yang di dapatkan tadi disalai dan diasapi dengan bara api sampai
benar-benar matang. Keesokan harinya, beruang pun diberikan tugas untuk menjaga
ikan saat lainnya sedang menangkan ikan di danau.

Tiba-tiba datanglah seekor Harimau yang ingin mengambil semua ikan yang dijaga
oleh beruang. Akhirnya beruang dan harimau pun terlibat perkelahian dan sang
beruang pun kalah dan jatuh pingsan. Semua hewan diminta untuk bergantian
menjaga ikan yang didapatkan dan ternyata kalah di tangan harimau.

Lalu, tiba saatnya si kancil dan kura-kura yang mendapat giliran untuk menjaga ikan-
ikan. Karena kura-kura dianggap tidak mampu, maka kancil pun yang akan menjaga
ikan-ikan yang didapatkan. Sebelum berjaga, kancil meminta bantuan teman-temanya
untuk mencari rotan untuk dibuat gelang kaki.

Kancil pun berniat untuk menjebak harimau dengan gelang-gelang rotan yang iya
buat. Akhirnya harimau terperangkap hingga benar-benar tidak bisa bergerak.

Dengan kecerdikan bisa membawa kita keluar dari
masalah yang dihadapi. Namun perlu diingat, gunakan
kecerdikan tersebut untuk melakukan hal-hal yang baik

dan benar.

Katak Jahat dan Tikus Petualang

Suatu ketika hiduplah seekor tikus muda yang ingin mencoba mencari
petualangan baru, kemudia ia berjalan menyusuri pinggiran kolam di mana di
kolam tersebut tinggallah seekor katak. Saat katak tersebut melihat tikus, lalu dia
berenang menuju ke tepi kolam dimana
Suatu ketika ada tikus muda mencari petualangan baru, lalu menuju ke tepi kolam
di mana katak tinggal. Ketika katak melihat tikus, dia berenang ke tepi kolam
tempat tikus itu dan berkata,
“heyy Tikus muda sedang apa yang kamu lakukan di sini ?”
“Aku melihat alam yang indah ini dan aku akan mencoba petualangannya,” jawab
Rat dengan antusias.
Dalam benak sang katak, sang katak memiliki akal licik untuk mengerjai sang
tikus.
“Wow, ini hal yang sangat menarik, maukah kamu pergi ke tempatku, wahai tikus
muda yang suka berpetualang?” Tanya katak itu kepada tikus muda itu,
Sang Tikus yang sangat ingin berpetualang tidak berpikir panjang lagi, dan ia
menerima ajakan sang Katak karena dia sangat ingin berpetualang ke seluruh
dunia dan melihat segala yang ada di dunia.
“Tapi aku tidak pandai berenang, katak,” kata tikus muda itu dengan cemas.
“(hahahahaha Kebetulan sekali , aku akan mengerjai kamu wahai tikus muda)
ucap sang katak di dalam hati.

“Hey hey hey….. jangan khawatir tikus muda aku akan selalu di samping
membawamu dan berenang di sampingmu dan menjagamu” rayu sang katak
dengan sangat manis dan raut wajah penuh senyuman
Sang katak memiliki akal, agar sang Tikus bisa yakin bahwa katak akan dapat
selalu membantu sang Tikus saat berenang di kolam, dia mengikat kaki tikus
tersebut ke kakinya sendiri dengan seutas tali. Lalu dia melompat ke dalam
kolam, sambil menarik tikus muda yang polos.

Tikus muda terombang – ambing di kolam dan sesekali tenggelam dan kemudian
ditarik kepermukan lagi oleh sang katak, lalu kembali terombang – ambing dan
begitu seterusnya berulang – ulang….
Sang tikus yang terbawa-bawa berenang bersama katak akhirnya merasa cukup
dan ingin kembali ke pinggiran kolam.
Tetapi sang Katak yang jahat memiliki rencana lain. Dia kemudian menarik Sang
Tikus masuk ke dalam air dan sang tikus muda memohon ampun untuk
melepaskanya kepermukaan .
Namun sang katak malah tertawa kegirangan melihat tikus muda tersiksa. Dan di
benaknya timbul akal licik lagi, “( ah aku akan menarik tikus muda ke air yang
lebih dalam lagi)”
Tetapi sebelum sempat sang Katak membawa tikus ke air yang lebih dalam lagi,
datanglah seekor elang terbang menyambar ke bawah, menangkap Sang Katak .
ketika Burung elang mengangkat sang katak keudara tali yang mengikat di kaki
katak dan tikus terlepas dan membuat tikus yang ikut terangkat keudara langsung
terjatuh ke semak semak, dan sekaligus menyelamatkan sang tikus.
Tikus muda melihat keatas sang katak semakin jauh semakin terlihat kecil di
bawa oleh burung elang yang akan menjadi santapan si burung elang.

ringkasan cerita fabel dan Pesan moral dan pelajaran yang
bisa kita ambil dari cerita dongeng fabel Katak Jahat dan

Tikus Petualang adalah janganlah suka jahat terhadap
mahluk lain,

karena bisa jadi jika berbuat jahat akan mendapatkan
balasan yang lebih parah lagi.

Lebah dan Semut

Dahulu pada zaman Nabi Sulaiman, hiduplah lebah yang banyak sekali. Salah
satu di antara lebah itu adalah Dodo. Dodo adalah anak lebah yang telah
ditinggal mati ibunya. Waktu itu ibunya meninggal karena digigit kalajengking.

Kini ia hidup sebatang kara. Oleh karena itulah ia memutuskan untuk hidup
mengembara. Hingga akhirnya ia tiba di gurun pasir yang luas. Di tengah gurun
itu Dodo merasa haus dan kelaparan

“Aku harus segera mencari makan dan air, tapi aku harus mencari di mana?”
pikir Dodo dalam hati.
Tetapi Dodo tidak mau menyerah begitu saja. Ia bersikeras untuk mencari
makanan dan air. Setelah cukup lama terbang, dari kejauhan Dodo melihat air
dan makanan.
Namun setelah mendekat, ternyata yang dilihatnya itu hanyalah hamparan pasir
yang sangat luas. Maka dengan rasa kecewa, Dodo kembali lagi terbang
menyelusuri gurun.

Tak berapa lama kemudian ia langsung bertemu dengan seekor semut yang
sedang kesusahan membawa telurnya. Dodo pun mendekati semut itu.

“Hai, semut. Siapakah namamu?” tanya Dodo ke semut
“Namaku Didi. Namamu siapa?” semut pun menjawab
“Aku Dodo. Maukah kamu menjadi sahabatku?” Didi mengangguk senang.
“Baguslah! Kalau begitu mari kita mencari air dan makanan bersama?” Didi
kembali mengangguk.

Kemudian mereka bergegas pergi untuk mencari makanan. Setelah cukup lama
menyusuri gurun, mereka menemukan sebuah mata air yang berair bersih dan
segar.
Di samping mata air itu terdapat sebatang pohon kurma yang berbuah lebat dan
sangat manis. Didi dan Dodo sangat gembira. Mereka segera minum dan makan
sepuasnya
Setelah mereka benar-benar kenyang, mereka segera mencari tempat tinggal.
Dua hari kemudian mereka menemukan sebuah tempat tinggal yang menurut
mereka layak untuk ditempati, yaitu di sebuah padang rumput yang luas.
Mereka disana tidak akan kekurangan makanan lagi karena di tepi padang
rumput itu terdapat banyak pohon buah-buahan dan sebuah mata air yang
sangat bersih.
Didi dan Dodo hidup dengan rukun. Semakin hari persahabatan mereka semakin
erat. Mereka pun hidup dengan aman, tenteram dan bahagia selamanya.

Gajah dan Buaya yang Serakah

Pada disebuah pinggiran sungai, hidup seekor buaya yang tengah kelaparan.
Sudah selama tiga hari ia tidak makan apapun. Dan kini perutnya sangat lapar
dan jika ia tidak makan, maka bisa-bisa ia mati.
Kemudian ia pun masuk ke dalam sungai dan berenang di dalamnya untuk
mecari makanan.
Akhirnya, sang buaya melihat ada seekor bebek yang tengah berenang. Ketika
sang bebek tahu sedang diincar oleh buaya, ia pun akhirnya menepi.
Melihat bebek yang hendak dimangsa tersebut kabur, akhirnya buaya pun
mengejarnya dan alhasil bebek tertangkap olehnya.
Sembari menangis ketakutan sang bebek berkata, “Ampun buaya, lepaskanlah
aku. Dagingku hanya sedikit. Mengapa engkau tidak memangsa kambing saja di
hutan”.
Sembari menunjukkan taring tajamnya, sang buaya berkata,”Baiklah kalau
begitu antarkan aku ke tempat persembunyian kambing di hutan sekarang”.
Kemudian tidak jauh dari tempat itu, ada lapangan hijau dimana banyak
kambing yang sedang mencari rumput untuk dimakan. “Pergi sana, aku akan
memangsa kambing saja”.

Akhirnya bebek merasa sangat senang dan berlari dengan kecepatan yang
penuh.

Akhirnya buaya pun mendapati seekor anak kambing yang berhasil ia tangkap
sesudah beberapa lama. Karena saking takutnya, anak kambing tersebut
berkata,”Tolong jangan makan aku.

Aku masih sangat kecil sehingga dagingku tidaklah banyak. Mengapa engkau
tidak memakan gajah saja yang dagingnya lebih banyak dariku. Aku akan
mengantarmu kesana”.

“Baiklah, antarkan aku kesana sekarang juga!” Pinta gajah. Akhirnya, buaya
diajak ke tepian danau yang sangat luas oleh anak kambing tersebut. Dan benar
saja, di sana sudah ada anak gajah yang besar.

Akhirnya, buaya langsung mengejar dan kemudian menggigit kaki anak gajah
tersebut. Namun, kulit gajah sangat tebal sehingga itu tidak dapat melukainya.

Anak gajah pun berteriak dan meminta tolong kepada sang ibu. Sedangkan
buaya terus saja berusaha untuk menjatuhkan gajah tersebut.

Namun sayangnya tidak bisa. Mendengar teriakan sang anak, sekumpulan
gajahpun akhirnya mendatangi dan menginjak buaya hingga ia tidak bisa
bernapas.

Akhirnya, sang buaya tetap saja tidak mampu melawan karena ukuran ibu gajah
yang amat besar. Belum lagi ia dalam keadaan lemas karena belum makan.
Setelah itu, buaya pun mati karena sudah kehabisan tenaga.

Jika ada tugas seperti tulislah pesan yang terkandung dalam dongeng tersebut,
berikut ini jawabannya:

Pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita
fabel singkat bermakna dari buaya yang serakah adalah
kalau kita sudah menerima apapun meskipun kecil atau
meskipun sedikit berterimakasihlah dan bersyukurlah

dengan apa yang sudah kita dapat.

Gagak Meniru Elang

Seekor burung Elang, dengan kekuatan sayapnya menyambar seekor anak
domba dengan kukunya dan membawanya pergi jauh ke angkasa, seekor burung
gagak melihat kejadian itu, dan terbayang dibenaknya sebuah gagasan bahwa
dia mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sama dengan burung elang
tersebut.
Dan dengan membuka sayapnya lebar-lebar kemudian terbang di udara dengan
galaknya, dia meluncur kebawah dan dengan cepat menghamtam bagian
punggung seekor domba.
Tetapi ketika dia mencoba untuk terbang kembali dia baru sadar kalau dia tidak
bisa mengangkat domba tersebut dan dia tidak dapat terbang lagi karena
kukunya telah terjerat pada bulu domba.
Walaupun dia mencoba untuk melepaskan dirinya, jeratan itu terlalu sulit untuk
dilepaskan sehingga dia merasa putus asa dan tetap tinggal di atas punggung
domba tersebut.
Seorang pengembala yang melihat lantas bergerak mendekatinya. burung gagak
itu mengibas-ngibaskan sayapnya berusaha melepaskan diri, pengembala itu
menyadari apa yang telah terjadi.

Pengembala itupun berlari dan segera menangkap burung itu lalu mengikat dan
mengurung burung gagak tersebut, setelah menjelang sore dia memberikan
burung gagak itu kepada anak-anaknya di rumah untuk bermain.

“Betapa lucunya burung ini!” mereka sambil tertawa, “ini disebut burung apa
ayah?”

“itu burung gagak, anakku. Tetapi jika kamu bertanya kepadanya, dia akan
menjawab dia adalah seekor burung elang.”

Pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita
dongeng fabel gagak meniru elang adalah setiap mahluk
memiliki kemampuan yang berbeda, maka janganlah iri

dengan kemampuan mahluk lain.

Kancil dan Buaya

Suatu hari, ada seekor kancil sedang duduk bersantai di bawah pohon. Ia ingin menghabiskan
waktu siangnya dengan menikmati suasana hujan yang asri dan sejuk. Beberapa waktu
kemudian, perutnya keroncongan.
Ya, kancil yang konon katanya cerdik itu lapar. Ia sedang berpikir untuk mendapatkan
mentimun yang letaknya berada di seberang sungai. Tiba-tiba terdengar suara kecipak keras
dari dalam sungai. Ternyata itu adalah buaya.
Kancil yang cerdik itu pun punya ide jitu untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia bangkit dari
duduknya dan berjalan cepat ke arah sungai untuk menghampiri buaya. “selamat siang buaya,
apakah kau sudah makan?” Tanya kancil berpura-pura.
Namun buaya itu tetap diam, nampaknya ia tertidur pulas sehingga tidak menjawab
pertanyaan kancil. Si kancil pun mendekat.
Kini jaraknya dengan buaya hanya satu meter saja “hai bbaya, aku punya banyak daging
segar. Apakah kau sudah makan siang?” Tanya kancil dengan suara yang dikeraskan.
Buaya itu tiba-tiba mengibaskan ekornya di air, ia bangun dari tidurnya. “ada apa? Kau
mengganggu tidurku saja” jawab buaya agak kesal.
“sudah kubilang, aku punya banyak daging segar. Tapi aku malas untuk memakannya. Kau
tahu bukan kalau aku tidak suka daging? Jadi aku berniat memberikan daging segar itu
untukmu dan teman-temanmu” jawab kancil polos.
“benarkah itu? Aku dan beberapa temanku memang belum makan siang.

Hari ini ikan-ikan entah pergi kemana, sehingga kami tak punya cukup makanan” jawab buaya
kegirangan.

“kebetulan sekali, kau tidak perlu khawatir akan kelaparan buaya. Selama kau punya teman
yang baik sepertiku. Benarkan? Hehehe” ujar kancil sembari memperlihatkan deretan gigi
runcingnya.

“terimaksih kancil, ternyata hatimu begitu mulia. Sangat berbeda dengan apa yang dikatakan
oleh teman-teman di luar sana.

Mereka bilang kalau kau licik dan suka memanfaatkan keluguan temanmu untuk memenuhi
segala ambisimu” jawab buaya yang polos tanpa ragu-ragu.

Mendengar itu, kancil sebenarnya agak kesal. Namun, ia harus tetap terlihat baik demi
mendapatkan mentimun yang banyak di seberang sungai “aku tidak mungkin sejahat itu.
Biarlah.

Mereka hanya belum mengenalku saja, sekarang, panggilah teman-temanmu” ujar kancil.

Buaya itu pun tersenyum lega, akhirnya ada jatah makan siang hari ini. “teman-teman,
keluarlah. Kita punya jatah makan siang daging segar yang sangat menggoda.

Kalian sangat lapar bukan?” Pekik buaya dengan suara yang sengaja dikeraskan agar teman-
temannya cepat keluar.

Tak lama kemudian, 8 ekor buaya yang lain pun keluar secara bersamaan. Melihat
kedatangan buaya itu, kancil berkata “ayo berbaris yang rapi. Aku punya banyak daging segar
untuk kalian”.

Mendengar itu, 9 ekor buaya itu pun berbaris rapi di sungai. “baiklah, aku akan menghitung
jumlah kalian, agar daging yang aku bagikan bisa merata dan adil” tipu kancil.

Kancil pun meloncat-loncat girang melewati 9 ekor buaya sembari berkata ‘satu, dua, tiga,
empat, lima, enam, tuju, delapan, dan sembilan” hingga akhirnya ia sampai di seberang
sungai.

9 buaya itu berkata “mana daging segar untuk makan siang kami?”.

Kancil terbahak-bahak Kemudian berkata “betapa bodohnya kalian, bukankah aku tak
membawa sepotong pun daging segar di tangan? Itu artinya aku tak punya daging segar untuk
jatah makan siang kalian. Enak saja, mana bisa kalian makan tanpa ada usaha?”.

9 ekor buaya itu pun merasa tertipu, salah satu diantara mereka berkata “akan ku balas semua
perbuatanmu”.

Kancil pun pergi sembari berkata “terimakasih buaya bodoh, aku pamit pergi untuk mencari
mentimun yang banyak. Aku lapar sekali”.

Persahabatan Monyet dan Kelinci

Pada suatu hari, terlihat di pinggir sungai ada seekor monyet dan seekor kelinci. Biasanya si
kelinci suka mendengar cerita-cerita dari si monyet.
Sebenarnya si kelinci suka akan cerita-erita si monyet, akan tetapi si kelinci sedikit risih dan
terganggu dengan cara kebiasaan buruk si monyet yang suka menggaruk-garuk hampir semua
bagian tubuhnya ia garuk-garuk.
Dan begitupun sebaliknya, Si monyetpun suka apabila mengobrol dengan si kelinci, akan tetapi
si monyet pun merasa terganggu dengan kebiasaan buruk si kelinci yang suka mengendus-
endus dan suka menggerakan kuping nya kesisi kanan dan kesisi kiri.
Dan pada akhirnya simonyet pun memberanikan diri berkata dengan maksud menegur kepada
si kelinci. “Hei kau kelinci, apakah kau bisa menghentikan kebiasaan buruk mu itu ?” tegur si
monyet kepada si kelinci

“Menghentikan apa monyet?” si kelinci balik bertanya
“Berhenti mengendus-endus, berhenti menggerak-gerakan hidung, dan berhenti menggerak-
gerakan telinga mu yang panjang itu kelinci…, Betapa buruknya kebiasaan kau kelinci …” Jawab
si monyet
“Hei kau monyet, kau hanya bisa menilai kebiasaan buruk ku saja, bagimana dengan kebiasaan
buruk mu? di setiap kita lagi asik ngobrol kau selalu saja menggeruk-garuk. Sungguh sangat
buruk kebiasan mu itu monyet” Tegur si kelinci membalas teguran si monyet tadi
“kelinci, aku tidak bisa menghentika nya,” kata si monyet

“Monyet, aku tidak selalu harus mengendus, menggerakan telinga dan hidung ku.” kata si
kelinci membalas perkataan yang di lontarkan si monyet kepadanya tadi.

Akhirnya mereka pun saling membalas pembicaraan itu. Dan si monyet pun karena tidak terima
di tegur seperti itu oleh si kelinci, akhiranya si monyet pun menantang kelinci untuk bertanding.

Si monyet meminta si kelinci mulai saat ini dia tidak boleh lagi mengendus-endus dan
menggerak-gerakan hidung dan telinganya lagi. dan si monyet pun sama, ia tidak akan lagi
menggaruk-garuk lagi.

Singkat cerita, keesokan harinya mereka berdua pun bertemu kembali di pinggir sungai
ditempat biasanya mereka berdua bertemu.

Mereka berdua sedang menjalankan misi tantangan yang susah, si monyet jangan menggeruk-
garuk lagi, begitupun si kelinci tidak boleh mengendus-endus, atau menggerak-gerakan hidung
dan telinganya.

Akhirnya sesuai dengan hasil keputusan janji mereka berdua, kelinci dan monyet pun hanya
duduk terdiam saja.

si monyet tetap diam tapi dia diam sedang menahan ingin menggaruk merasakan kulitnya yang
sangat gatal, ia ingin menggaruk dagunya, dan lengan kiri dan kanan nya pun angat terasa gatal.

Akan tetapi si monyet tetap mencoba bertahan dan tetap terdiam.

Begitu pun halnya, si kelinci pun sedang berusaha menahan kebiasaan buruknya itu.
Sebenarnya Ia ingin sekali mengendus-enduskan hidungnya, ingin sekali menggerakan
kupingnya, tapi ia tetap terlihat duduk diam.

“Monyet, aku punya ide, Kita duduk diam di sini sudah sangat lama, dan aku pun sudah mulai
bosan. Bagaimana kalau kita mengobrol dan bercerita untuk menghabiskan waktu.” Kata si
kelinci

“Itu ide yang sangat bagus kelinci, silahkan kau kelinci bercerita terlebih dahulu ” Kata si
monyet

Si kelinci pun mulai bercerita. “Monyet, saat kemarin aku akan datang kesini untuk menemui
mu, aku mencium seperti ada singa di balik rerumputan. Oleh karena itu, aku pun mengendus-
endus udara, tetapi singa itu tidak ada disana.

Tapi aku belum yakin di balik rumput itu tidak ada singa, Nah untuk memastikannya aku pun
menggerakan hidung ku beberapa kali, tapi tidak ada bau singa disana. Kemudian aku
menggerak-gerakan telinga ku ke kiri dan kekanan untuk mendengarkan, tetapi memang tidak
ada singa di sana.

Dan akhirnya aku pun yakin bahwa di balik rumput itu memang tidak ada singa. Kemudian
akupun melanjutkan perjalanan ke sini untuk menemuimu temanku.”

Si monyet pun mendengarkan cerita si kelinci itu yang bercerita sambil menggerak-gerakan
hidung dan telinganya.

Kemudian si monyet pun mulai bercerita. “temanku, kemarin pun sama. Saat aku akan
menemuimu disini di tengah jalan aku berpapasan dengan beberapa anak-anak, mereka jahil
sekali kepadaku kelinci.

Pertama salah satu diantara mereka melemparkan kelapa dan mengenai kepalaku tepat disini,
dan sianak satunya melemparkan batok kelapa dan tepat sekali mengenai daguku disini kelinci.

Dan dua anak perempuan itu melempar ku dengan batok kelapa juga tepat mengenai tangan
kiri dan tangan kanan ku. Kemudian akupun lari secepat-cepatnya ketepi sungai ini untuk
menemui mu sahabat ku.

Sikelinci pun mendengarkan dan melihat gerakan simonyet saat bercerita. Dan sikancil pun
tertawa cekikikan, dan si monyetpun tertawa lebar. Sebenarnya sikelinci tahu apa yang
dilakukan oleh simonyet, dan sebaliknya si monyet pun tahu apa yang dilakukan si kelinci.

“ya…ya..ya monyet, cerita mu memang sangat bagus monyet. tapi kau kalah dalam
pertandingan ini monyet, karena kau menggeruk saat bercerita.” kata sikelinci

“Iya kelinci, cerita mu juga benar-benar bagus kelinci. Tetapi saat kau bercerita kau
mengendus-endus dan menggerakan telinga mu.” balas si monyet

“aku pikir kita berdua tidak ada yang bisa menghilangkan kebiasan buruk kita ini. Karena aku
sendiri tidak bisa menghilangkan kebiasaan ini ” kata sikelinci sambil mengendus-endus dan
mengerak-gerakan telinganya

“Aku pun sama kelinci, aku pun tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini.” Kata si monyet
sambil menggaruk-garuk kepala, dagu dan menggeruk tangan kanan kirinya.

Akhirnya keduanya setuju, bahwa kebiasaan buruk mereka berdua susah dihilangkan. dan
mereka pun setuju untuk tidak merasa terganggu dengan kebiasaan mereka masing-masing.

Musang dan Anak Ayam

Suatu hari di senja yang tenang, hiduplah seekor ayam betina yang sedang mengerami tiga ekor telur
yang akan menetas. Sang indung ayam itu sangat sayang kepada anak ayam yang ada di dalam telur
tersebut.
Dari kejauhan muncullah seekor musang yang jahat ingin segera mendekati kandang ayam betina tadi.
Namun sebelum menuju kandang ayam tadi, si musang harus menaiki sebuah pohon besar, namun
sayangnya musang tidak bisa memanjat pohon itu.
Akhirnya akal bulus sang musang pun muncul, ia perlahan-lahan menuju pagar terdekat dengan
kandang ayam itu, lalu ia berkata “hai ayam, aku membawa pesan dan sesuatu yang maha penting
dari sang raja hutan, bukalah pintu mu lekas” pinta si musang ke indung ayam.

Ternyata ayam tersebut sudah mengetahui terlebih dahulu bahwa musang sedang mengincarnya. “Ya
tunggu sebentar, aku juga ada pesan dari serigala sahabatku, dia punya sesuatu untuk mu….sebentar
ya..
serigala…serigala…kemari sini” kata si induk ayam tidak mau kalah sama sang musang.
Si musang mendengar si ayam berteriak, dan seraya langsung berfikir “Wah ternyata dia sahabat
serigala yang menjadi musuhku, aduh aku harus pergi nih”.
Si musang pun segera meninggalkan kandang induk ayam tadi dan tidak mau kembali lagi. Akhirnya
induk ayam dan telur-telurnya selamat dari akal jahat si musang yang mempunyai niat jahat untuk
memangsanya.

“Jangankan kamu, aku saja takut dan lari kalau ada serigala yang mendekati, hihihi” tawa si induk ayam
sambil kembali mengerami lagi telur-telurnya.

Semut dan Kepompong

Dikisahkan ada sebuah hutan yang sangat lebat, disana tinggallah bermacam-
macam hewan, mulai dari semut, gajah, harimau, badak, burung dan
sebagainya.
Pada suatu hari tiba-tiba datanglah badai yang sangat dahsyat. Badai itu
membuat panik seluruh hewan penghuni hutan itu. Seketika semua hewan
langsung panik dan berlari ketakutan menghindari badai yang datang tersebut.
Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat hangatnya dan kicauan
burung terdengar dengan merdunya, namun apa yang telah terjadi? ternyata
banyak pohon di hutan tersebut tumbang berserakan sehingga membuat hutan
tersebut menjadi hutan yang berantakan.
Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi
pada sebuah pohon yang sudah tumbang. “Hu…. huu…. betapa sedihnya kita,
diterjang badai tapi tak ada tempat satu pun yang aman untuk berlindung,” Sang
Kepompong sedih meratapi keadaannya.
Tiba-tiba dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya
berkata, “Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak
seperti kau yang ada di atas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di
pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai,” kata sang Semut
dengan kesombongnya.
Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan
yang ada di hutan itu, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur
hidup.

Ternyata Si Semut itu tidak mengetahui kalau ia berjalan diatas lumpur hidup
yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.

“Tolong…tolong…. aku terjebak di lumpur hidup… tolong”, teriak si semut
meminta bantuan kepada hewan lain. Lalu suara semut terdengar dari atas,
“Kayaknya kamu lagi sedang kesulitan ya, semut?”

Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal
dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang di atas lumpur hidup tadi.

“Siapa kau?” tanya si Semut galau. “Aku adalah kepompong yang waktu itu kau
hina,” jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si
Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya.
“Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali
bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah”.

Akhirnya kupu-kupu pun menolong si Semut dan semut pun selamat. Ia pun
berjanji pada kupu-kupu agar tidak lagi menghina semua makhluk ciptaan Tuhan
yang ada di hutan tersebut.

Pesan moral dan pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita dongeng
fabel Semut dan Kepompong adalah kita harus menyayangi dan
menghormati semua makhluk ciptaan Tuhan.
Intinya semua ciptaan Tuhan harus kita kasihi dan tidak boleh kita
menghina makhluk yang lain.

Rusa dan Kura-Kura

Pada zaman dahulu, hidup seekor rusa yang amat pemarah dan juga sombong. Ia bahkan kerap
meremehkan kemampuan hewan yang lain. Suatu ketika sang rusa berjalan di pinggir danau.
Ia tidak senjaga berjumpa dengan kura-kura yang tampak mondar mandir saja. Melihat hal itu, sang
rusa pun bertanya, “Kura kura, apa yang tengah engkau lakukan?”
Mendengar itu, sang rusa tiba-tiba marah, “Kau jangan berlagak. Kau hanya mondar mandir dan
berlagak mencari sumber kehidupan”.
Kura-kura pun berupaya untuk menjelaskan akan tetapi rusa tetap saja marah. Rusa juga mengancam
akan menginjak tubuh kura-kura. Akhirnya, kura kura merasa jengkel dan menantang rusa untuk adu
kekuatan dari betis kaki mereka.
Mendengar tantangan tersebut, tentu saja rusa amat marah. Akhirnya, ia minta kepada kura-kura
untuk menendang betisnya terlebih dahulu.
Namun, kura-kura tidak mau dan menjawab, “Apabila aku yang menendang betismu lebih dulu, tentu
saja engkau akan jatuh dan tidak sanggup membalasku”.
Akhirnya, rusa semakin marah dan melakukan ancang-ancang untuk menendang kura kura. Namun,
kura-kura segera memasukkan kaki-kakinya ke dalam tempurung.
Akhirnya, rusa menginjak tempurung dengan kuat dan itu menyebabkan kura-kura tertimbun di tanah.
Kura-kura pun berusaha keluar. Dan sesudah seminggu berlalu, ia berhasil keluar dari tanag dan
mencari rusa. “Bersiaplah rusa, kini aku yang saatnya menendang”.
Mendengar itu,rusa hanya memandang remeh kemampuan yang dimiliki oleh kura-kura. “Kerahkan
saja semua kemampuan yang engkau miliki untuk menendang betisku. Ayolah jangan ragu”.
Kura-kura pun bersiap dan mengambil ancang-ancang tempat tinggi. Kemudian, ia pun
menggelindingkan tubuhnya. Dan ketika sudah hampir mendekati tubuh rusa, ia pun menaikkan
tubuhnya sampai melaayng. Ternyata kura-kura mengincar hidung sang rusa.
Dengan sangat keras, akhirnya tempurung kura ura berhasil menyebabkan hidung sang rusa putus.
Dan akhirnya ia pun mati.

Keledai Pemalas

Pada musim panas. tampak seekor keledai berjalan di gunung. Keledai itu membawa
beberapa karung garam di punggungnya. Karung itu sangat berat. sementara matahari
bersinar dengan panas.
“Panas sekali aku tidak berpikir aku bisa berjalan lagi.” kata keledai itu. Di depan, terlihat
seperti sungai. “Ah, ada sungai! Sebaiknya aku istirahat dulu.” kata keledai dengan gembira.
Tanpa pikir panjang si menceburkan dirinya ke sungai, alhasil dia pun terpeleset. Dia mencoba
untuk bediri kembali. tetapi tidak berhasil. Ia masih berusaha untuk berdiri, tetapi ada yang
aneh dia merasa beban di punggungnya semakin ringan. Akhirnya keledai itu bisa berdiri lagi.
“Ya ampun, garamnya larut!” Tuan itu berkata dengan marah, “Oh, maaf, garamnya larut di
air ya?” kata keledai itu. Beberapa hari kemudian. keledai mendapat tugas lain untuk
membawa garam.
Seperti biasa, dia harus berjalan melewati gunung oleh tuannya. “Sebentar lagi akan ada
sungai di depan.” kata keledai di hatinya. Saat Keledai melintasi sungai, ia sengaja
menjatuhkan dirinya kembali.
Byuuuuur! Tentu saja garam yang ada di punggungnya langsung larut di dalam air. Beban
menjadi ringan. “Ahhh ringan sekalii,” kata keledai senang, mengetahui keledai menjatuhkan
dirinya dengan sengaja, tuannya menjadi marah.
“Dasar Keledai pemalas!” Tuannya berkata dengan marah. Keesokan harinya, keledai
mendapat pekerjaan membawa kapas. Sama seperti sebelumnya, dia berjalan bersama
tuannya melalui pegunungan yang dilaluinya kemaren.

Sesampainya mereka di sungai, keledai pemalas itu kembali sengaja menjatuhkan dirinya ke
sungai. Tetapi kapas yang dapat menyerap air membuat muatannya menjadi seberat batu.
Mau tidak mau, keledai pemalas itu harus terus berjalan dengan beban yang amat berat di
punggungnya. Keledai berjalan pelan dan lemas di bawah terik matahari sampai tujuan.


Click to View FlipBook Version