ANTONIUS ZWENGLY, S.Pd
SMA NEGERI 1 TOMPASO
KABUPATEN MINAHASA
SULAWESI UTARA
MEMAHAMI DAN
MENGENALI DIRI SEBAGAI
PENDIDIK
MENGENALI DIRI DAN PERANNYA
SEBAGAI PENDIDIK
APA PERAN SAYA SEBAGAI GURU?
INGIN MENJADI GURU SEPERTI
APA SAYA?
6
Mengenali Diri dan
Perannya Sebagai
Pendidik
5
MENGENALI DIRI DAN PERANNYA SEBAGAI PENDIDIK
Sebagai Pendidik tentu sudah seharusnya mampu mengenali karakteristik dan kebutuhan
murid. Akan tetapi hal yang paling mendasar juga harus dimulai dari diri sendiri yaitu
mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Mari kita refleksikan kekuatan dan kelemahan yang kita
punyai, lalu bagaimana kita dapat mengelola apa yang kita miliki tersebut untuk berperan
mendidik murid-murid kita.
Guru hadir setiap hari untuk murid-murid dan menambah kapasitas diri
Menyadari kebutuhan untuk terus belajar secara mandiri apapun profesi yang dijalani kita
memang perlu terus belajar.
Dengan peran kita sebagai pendidik atau guru kita perlu terus belajar agar bisa mengantarkan
murid-murid untuk berdaya dan menjadi manusia merdeka dengan kesadaran untuk terus
belajar secara mandiri. Mengatur diri sendiri adalah bagian dari perjalanan kita menjadi manusia
merdeka. Menurut Ki Hajar Dewantara, manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya
bersandar pada kekuatan sendiri baik lahir maupun batin tidak tergantung pada orang lain.
Jika kita mengharapkan murid-murid kita kelak menjadi pribadi yang mandiri dan merdeka
tentunya penting untuk mereka mengenali diri berdaya untuk menentukan tujuan dan
kebutuhan belajarnya yang relevan dan kontekstual terhadap diri dan lingkungannya
MENGENALI DIRI DAN PERANNYA SEBAGAI PENDIDIK
Murid-murid kita kini memiliki cara belajar yang sungguh berbeda dengan kita dahulu
mereka sangat fasih dan teknologi menjadikan internet sebagai salah satu sumber belajar
utama mereka bisa dengan cepat mencari dan mengkonfirmasi pengetahuan dengan
teknologi dalam genggaman mereka bisa menjangkau pengetahuan sekalipun tanpa kita
berikan.
Ki Hajar Dewantara dalam dasar-dasar pendidikan, maksud pendidikan itu adalah
menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia
maupun sebagai anggota masyarakat.
Sebagai seorang pendidik harus bisa menjadi pendidik yang relevan dengan konteks
Sama murid-murid kita memang sudah jauh berbeda dengan kita namun mereka tetap
butuh kehadiran sosok pendidik.
Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan, pendidik itu menuntun tumbuh dan hidupnya
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan
tumbuhnya kekuatan kodrat anak bukan datangnya.
Apa peran saya sebagai
Guru?
5
APA PERAN SAYA SEBAGAI GURU
Menjadi pendidik yang relevan dengan konteks murid dan zaman
Membekali murid-murid dengan pengetahuan keterampilan dan sikap untuk terus
belajar, mendampingi mereka, untuk memahami dan mencapai tujuan belajar dengan
memberi kesempatan murid-murid menyiapkan presentasi untuk dibawakan di depan
kelas murid-murid dituntun untuk menulis konsep menyusun kata-kata dan
menyampaikan ide nya di depan teman-teman sekelasnya. Dengan demikian sebagai
pendidik kita menuntun perjalanan belajar mereka sampai akhirnya menemukan siapa
diri mereka dan mengantarkan mereka menuju cita-citanya
Mengutip pernyataan Ki Hajar Dewantara, memberi ilmu demi kecakapan hidup anak
dalam usaha mempersiapkannya untuk segala kepentingan hidup manusia baik dalam
hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya
Peranan seorang pendidik sangat besar hal apapun yang kita lakukan di kelas dari segi
memfasilitasi proses belajar atau dia kerja kelompok atau hal sekecil ucapan pujian maupun
cemoohan yang tidak sengaja terucap akan meninggalkan makna bagi murid-murid yang
kelak akan menjadi bagian dari masyarakat.
Sebagai guru kita harus hadir secara utuh setiap hal kecil yang kita sampaikan di kelas akan
berkontribusi pada kecakapan hidup anak saat dewasa.
Ingin menjadi guru
seperti apa saya
5
INGIN MENJADI GURU SEPERTI APA SAYA?
Murid seringkali terinspirasi dari Ibu dan Bapak gurunya. Tentu sebagai guru, kita ingin
memberikan pengaruh-pengaruh yang baik di masa depan murid. Saat ini mari kita
memproyeksikan menjadi guru seperti apa di masa depan, sambil kita ingat kembali,
Pengalaman menyenangkan apa yang ibu dan bapak guru miliki saat masa sekolah dulu?
Pengalaman tidak menyenangkan dengan sosok guru saat kita sekolah dulu?
Ketika memutuskan bekerja sebagai guru sebenarnya kita ingin menjadi sosok guru
seperti apa?
Mari kita ingat-ingat lagi keseharian kita mengajar di kelas,
Sudahkah kita menjadi seperti sosok guru yang kita kagumi?
Apakah kita sudah menjadi sosok guru yang menyenangkan untuk murid-murid?
Guru perlu adaptif terhadap perubahan seperti disampaikan Ki Hajar Dewantara,
pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti
yaitu kekuatan batin dan karakter pikiran atau mental dan tubuh tidak hanya materi tapi
juga semua tingkah laku tutur kata dan cara kita mengajar akan membekas dan
membentuk murid-murid sebagaimana kita dibentuk oleh guru-guru kita dahulu
memang tidak mudah namun layak diperjuangkan
MENDIDIK DAN
MENGAJAR
MENDIDIK MENYELURUH
PENDIDIKAN SELAMA SATU ABAD
MENJADI MANUSIA (SECARA)
UTUH
6
Mendidik Menyeluruh
5
MENDIDIK MENYELURUH
Pemahaman terhadap kata “pendidikan dan pengajaran” kadang masih membingungkan.
Penggabungan istilah tersebut dapat mengaburkan pengertian yang sesungguhnya.
Pengajaran adalah suatu cara menyampaikan ilmu atau manfaat bagi kehidupan anak-
anak secara lahir maupun batin. Maka, pengajaran merupakan salah satu bagian dari
pendidikan. Sama halnya dengan mengajar yang merupakan salah satu bagian dari mendidik.
Sementara Pendidikan adalah tempat menaburkan benih-benih kebudayaan yang hidup
dalam masyarakat sekaligus sebagai instrumen tumbuhnya unsur peradaban agar
kebudayaan yang kita wariskan kepada anak cucu kita di masa depan.
Pendidikan tidak hanya berbentuk pengajaran yang memberikan pengetahuan kepada
murid tapi juga mendidik keterampilan berpikir, mengembangkan kecerdasan batin, dan
pada akhirnya murid dapat melancarkan hidup untuk mencapai keselamatan dan
kebahagiaan.
Dengan memberikan praktek pembelajaran yang mengembangkan kerjasama, empati
menghargai sesama dan berkontrIbusi sosial kepada sesama. Sehingga murid dapat
menemukan dan terbekali dengan kebudayaan-kebudayaan bangsa yang jika terus-
menerus ditumbuhkan maka kebudayaan bangsa akan semakin kuat dan tentu saja akan
membantu murid atas kehidupan dan penghidupannya. Dan yang paling utama dan yang
paling penting yang dapat membantu keberlangsungan hidup sebagai bangsa Indonesia.
Pendidikan Selama Satu
Abad
5
PENDIDIKAN SELAMA SATU ABAD
Metode pengajaran di zaman kolonial Belanda yang menggunakan sistem pendidikan
perintah dan sanksi, tanpa sadar masuk ke dalam warisan cara guru-guru kita mendidik
murid-muridnya. Bahkan mungkin sampai saat ini praktek itu masih saja berlangsung. Sistem
pendidikan di zaman kolonial Belanda didasarkan atas diskriminasi yaitu adanya
perbedaan perlakuan terhadap anak-anak pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang
sifatnya masih materialistik individualistik dan intelektualistik. Hal ini bertentangan
dengan keadaan dan kebudayaan bangsa timur. Sebagai perlawanan terhadap sistem yang
diskriminatif ini Ki Hajar Dewantara menggagas perlunya sebuah sistem pendidikan yang
humanis dan transformatif yang dapat memelihara kedamaian dunia.
Ki Hajar Dewantar perkenalkan sistem among yaitu yang dikenal dengan slogannya Ing
Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ing Ngarso Sung
tulodo artinya seorang guru haruslah berkomitmen menjadi seorang teladan. Ia harus
memberikan contoh yang baik. Ing Madyo Mangun Karso artinya seorang guru haruslah
membangkitkan atau menguatkan semangat murid-muridnya bukan orang yang
melemahkan semangat. Dan Tut wuri Handayani yaitu seorang guru haruslah
memberikan dorongan atau menjadikan murid-muridnya orang-orang yang mandiri atau
orang-orang yang merdeka yang tumbuh kembang secara maksimal.
PENDIDIKAN SELAMA SATU ABAD
Meskipun semboyan ini diingat dengan sangat baik oleh banyak guru dengan istilah Tut
Wuri Handayani. Tetapi masih banyak juga yang belum memahami roh dan maknanya,
yaitu untuk kemerdekaan murid yang menghidupkan dan menggerakan kekuatan lahir
dan batinnya yang kemudian menjadi bagian dari jiwa-jiwa kita sebagai pendidik.
Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yang sesuai dengan bangsa kita adalah
pendidikan yang humanis, kerakyatan, dan kebangsaan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara
tersebut adalah gagasan yang melampaui zamannya, dimana beliau hidup dan masih
relevan hingga masa sekarang ini.
Ki Hajar Dewantara melihat bahwa sistem pendidikan di zaman kolonial Belanda ini
hanyalah tempat pendidikan pikiran atau rasio yang menyebarkan ilmu pengetahuan dan
kecerdasan saja tanpa adanya pendidikan sosial emosional atau tanpa adanya olah rasa.
Selain pendidikan kecerdasan atau keterampilan berpikir, pendidikan kultural yaitu
pendidikan yang berdasarkan garis bangsa dan budaya. Misalnya dengan menghargai
proses belajar murid, merayakan setiap pencapaian pembelajarannya, dan tu sesuai dengan
kompetensinya juga sangat dibutuhkan oleh murid.
PENDIDIKAN SELAMA SATU ABAD
Pendidikan kultural ini akan melengkapi mempertajam dan memperkaya pendidikan
kecerdasan murid. Sifat pendidikan yang intelektualistis materialistis kolonialis dan
minimnya pengaruh kebudayaan yang kita alami pada zaman Belanda, jangan sampai
terulang kembali. Kita sebagai pendidik perlu menjaganya dengan menyambungkan naluri
tradisi dan kontinuitas dengan masa lampau. Model pendidikan dan pengajaran dan
pengetahuan atau kecerdasan ala barat mungkin dapat kita gunakan dengan syarat
pendidikan kebudayaan dan nasional kita berikan kepada murid demi terwujudnya
keluhuran manusia nusa dan bangsa serta menjadi bagian dari kesatuan
perikemanusiaan
Untuk mencapai semua dasar utama yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu
kemerdekaan setiap murid yang mampu mengatur dirinya sendiri agar murid-murid
berperasaan, berpikiran, dan bekerja merdeka dalam ketertiban bersama demi
mewujudkan cita-cita Pendidikan Nasional. Pendidikan Nasional yang berdasarkan pada
garis-garis kebudayaan bangsanya untuk berkehidupan mengangkat derajat rakyat dan
negerinya serta setara bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain demi kemuliaan umat
manusia di dunia. Maka, pendidikan yang memerdekakan murid lah yang dapat menjadi
pegangan kita sebagai pendidik untuk dapat mewujudkannya.
PENDIDIKAN SELAMA SATU ABAD
Kita juga perlu melengkapinya dengan ilmu pendidikan yang selaras dengan zamannya.
Tuntunan yang baik kepada murid didasarkan pada panduan atau teori atau pengetahuan
tentang tuntunan yang terbaik. Sehingga pendidik dapat memberikan hak-hak kepada
murid untuk kesempatan mempelajari ilmu pengetahuan sesuai dengan keinginan dan
bakatnya.
Menjadi Manusia
(secara) Utuh
5
MENJADI MANUSIA (SECARA) UTUH
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa memiliki dua bagian utama pada
tubuhnya yaitu badan jasmani atau lahir dan badan rohani atau batin. Sebagai pendidik
dapat membantu murid untuk memenuhi kebutuhan keduanya agar mencapai
keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Pendidikan atau tuntunan seyogyanya mampu
memberikan didikan lahir dan didikan batin kepada para murid agar terpenuhi kebutuhan
kehidupan dan penghidupannya.
Menurut Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah berdaya tempat persemaian benih-benih
kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil budi manusia secara lahir dan batin yang
didapat dari perjuangan terhadap dua pengaruh kuat yaitu alam dan zaman pengembangan.
Budi pekerti berupa olah pikiran atau olah cipta, olah rasa atau menghaluskan perasaan
atau karakter, olah karsa atau menguatkan kemauan, dan olahraga atau menyehatkan
jasmani adalah sebuah bentuk pendidikan yang holistik yang akan menuntun bagaimana
murid dapat tumbuh kembang secara baik, sekaligus menjadikannya sebagai manusia
yang merdeka yaitu manusia yang dapat bersandar atas kekuatan lahir dan batinnya
sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain
MENJADI MANUSIA (SECARA) UTUH
Agar mencapai keseimbangan menjadi manusia, Murid juga sebaiknya dilatih dan
dikuatkan kebutuhan batinnya dalam menentukan tujuan belajarnya mengembangkan
kerjasama, membangun empati, menghargai sesama, refleksi diri untuk mengembangkan
dirinya dan tentunya berkontribusi di lingkungan sosialnya. Sehingga pembelajaran yang
direncanakan sesuai dengan kebutuhan murid dan ditujukan untuk memajukan
perkembangan budi pekerti akan membantunya menjadi manusia-manusia yang
merdeka.
Manusia Merdeka perlu memiliki modal keterampilan berpikir atau bernalar yang baik.
Keterampilan berpikir atau bernalar membutuhkan proses sepanjang hayat. Proses
mengasah nalar atau keterampilan berpikir murid menurut Benjamin Bloom dan Anderson
yang disebut level kognitif yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis.
Mengevaluasi, dan mencipta. Sesuatu dapat difasilitasi dalam proses pembelajaran di
semua jenjang pendidikan paud, dasar menengah dan tinggi.
Semua level kognitif dari mulai mengingat sampai mencipta atau mengkreasi ini dapat
dicapai pada semua jenjang pendidikan, dimana kedalaman dan kompleksitas
pembelajaran dapat disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan
MENDAMPINGI MURID
DENGAN UTUH DAN
MENYELURUH
KODRAT MURID
TRIKON
6
Kodrat Murid
5
KODRAT MURID (KODRAT ALAM DAN ZAMAN)
Kodrat keadaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dasar pendidikan murid.
Kodrat keadaan terdiri dari dua hal yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Ki Hadjar
Dewantara mengatakan bahwan segala perubahan yang terjadi pada murid dihubungkan
dengan kodrat keadaan, baik alam maupun zaman. Kodrat alam adalah dasar pendidikan
murid yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana mereka berada. kodrat
zaman adalah bagian dasar pendidikan murid yang berhubungan dengan isi dan irama. Isi
dan irama pendidikan bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Seiring
dengan perubahan yang terjadi dalam pendidikan secara global, Ki Hadjar Dewantara
mengingatkan bahwa pengaruh-pengaruh dari luar hendaknya tetap dipilah, mana yang
sesuai dengan kearifan lokal, sosial, budaya Indonesia. Namun di era berlimpahnya
informasi saat ini, kita pendidik tidak bisa membatasi, menolak, dan memilih informasi-
informasi secara langsung. Pengaruh-pengaruh luar sangatlah banyak dan terus-menerus
membanjiri halaman kita. Untuk mewujudkan dan menjaga itu semua diperlukan prinsip-
prinsip dalam melakukan perubahan. Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai Asas
Tricon : Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris. Kontinyu, kemajuan kebudayaan merupakan
keharusan lanjutan langsung dari kebudayaan itu sendiri. Konvergensi kebudayaan
menuju arah kesatuan kebudayaan dunia atau kemanusiaan. Konsentris kebudayaan harus
mempunyai karakteristik dan sifat kepribadian sendiri sebagai pusatnya dalam lingkungan
kebudayaan dunia atau kemanusiaan.
TRIKON
5
TRIKON
Pendidikan terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi zaman dan juga kondisi
murid. Setiap sekolah memiliki kondisi dan permasalahan masing-masing sehingga
pengembangan satu sekolah dengan sekolah lain sangat beragam sesuai karakteristik
lingkungannya. Sehingga murid dapat melihat hubungan antara dirinya dengan lingkungan,
masalah, serta potensi yang terhubung pada dirinya dengan proses pendidikan yang berjalan
sangat dinamis. Budaya, kebudayaan, atau cara hidup bangsa itu bersifat kontinyu;
bersambung tak putus-putus. Dari zaman penjajahan sampai zaman kemerdekaan,
perkembangan dan kemajuan kebudayaan serta cara hidup bangsa terus menerima
pengaruh nilai-nilai baru.
Terbentuknya kemampuan pengaturan belajar mandiri atau self-regulatory learning,
Konvergen. Pengembangan yang dilakukan dapat mengambil dari berbagai sumber di luar
bahkan dari praktek pendidikan di luar negeri.
Pengembangan pendidikan yang dilakukan harus tetap berdasarkan kepribadian kita sendiri.
Oleh karena itu meskipun Ki Hajar Dewantara menganjurkan kita untuk mempelajari
kemajuan bangsa lain namun tetap semua itu ditempatkan secara konsentris dengan
karakter budaya kita sebagai pusatnya.
MENDIDIK DAN MELATIH
KECERDASAN BUDI
PEKERTI
MENUMBUHKAN BUDI PEKERTI
6
Menumbuhkan Budi
Pekerti
5
MENUMBUHKAN BUDI PEKERTI
Apakah cukup hanya kecakapan kognitif saja? Sementara murid membutuhkan tuntunan
yang dapat menumbuhkan budi pekerti dalam kehidupannya. Budi pekerti atau yang
disebut watak diartikan sebagai bulatnya jiwa manusia yang merupakan hasil dari
bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak, atau kemauan sehingga menimbulkan
suatu tenaga. Budi pekerti juga dapat dimaknai sebagai perpaduan antara cipta (kognitif)
dan rasa (afektif) sehingga menghasilkan karsa (psycho motoric). Keluarga menjadi
tempat melatih kecerdasan budi pekerti agar siap menjalani hidup dalam masyarakat.
Pendidik harus mampu memahami kemampuan kodrat anak atau murid sebagai individu
yang sadar mampu memikirkan, memahami, merasakan, berempati, berkehendak, dan
bertindak semestinya. Maka murid dapat menjadi “manusia atau individu yang merdeka”
berakal budi yang menentukan keberadaan dan jatidirinya. Teori konvergensi didasarkan
atas dua teori utama. Yang pertama TEORI TABULARASA dan TEORI NEGATIF. Ki Hadjar
Dewantara menggabungkan atau mengintegrasikan kedua pendekatan teori tersebut
menjadi suatu pendekatan yang disebut dengan teori konvergensi. Ki Hadjar Dewantara
percaya bahwa kode manusia sebagai suatu kertas yang sudah terisi dengan tulisan-
tulisannya samar dan belum jelas arti dan maksudnya. Maka tugas pendidikan adalah
menebalkan dan memperjelas arti dan maksud tulisan samar yang ada di kertas tersebut
dengan tuntunan terbaik. Teori konvergensi membagi budi pekerti atau watak manusia
menjadi 2 bagian yaitu bagian biologis dan bagian intelligible.
PENDIDIKAN YANG
MENGANTARKAN KESELAMATAN
DAN KEBAHAGIAAN
MENGANTARKAN MURID SELAMAT
DAN BAHAGIA
MENCIPTAKAN LINGKUNGAN
PEMBELAJARAN TERBAIK MURID
6
Mengantarkan Murid
Selamat dan Bahagia
5
MENGANTARKAN MURID SELAMAT DAN BAHAGIA
Fungsi pendidikan untuk mengantarkan siswa selamat dan bahagia. Guru tidak boleh
membatasi sumber belajar yang digunakan oleh siswa, karena jika dibatasi/ditentukan,
maka siswa merasa terkekang bahkan ketakutan. Hal seperti inilah yang tidak
memerdekakan siswa. Pendidik juga harus memberikan pemahaman tentang fungsi dan
kegunaan materi pelajaran dalam kehidupan. Pendidik juga sebaiknya mampu
memahami dan mengenali kekuatan kodrat anak bahwa setiap anak dapat
mengekspresikan dan membuat pemahamannya sendiri dengan cara yang berbeda.
Demikian halnya dalam melakukan penilaian, sebaiknya tidak hanya menggunakan satu
jenis alat pengukuran lalu menyimpulkannya. Penilaian dapat dilakukan dengan alat
pengukuran lainnya yang melibatkan siswa untuk merefleksikan pemahaman dari
pengalaman belajar dan evaluasi diri. Sebagai pendidik harus memahami beberapa hal,
yaitu:
1.Setiap siswa memiliki kodrat kekuatan/potensi-potensi yang berbeda
2.Pendidikan hanyalah sebagai tuntunan agar siswa selamat dan Bahagia
3.Pendidik tidak dapat berkehendak atas kodrat kekuatan atau potensi siswa
4.Pendidik dapat memberikan daya upaya maksimal untuk mengembangkan akal budi
pekerti siswa
5.Pendidik membantu mengantarkan siswa untuk merdeka atas dirinya sendiri untuk
kehidupan dan penghidupannya, memelihara dan menjaga bangsa dan alamnya
MENGANTARKAN MURID SISTEM AMONG
Sebagai pendidik diingatkan bahwa penekanan pada proses belajar murid amatlah penting
bagi tumbuh kembang murid terkadang kita lupa pada proses belajar yang terjadi dalam
diri murid ketika ia mengerjakan sesuatu tidak sekedar menilai hasil apa yang ditugaskan
Ki Hajar Dewantara mengenalkan sistem Among sebagai suatu metode pendidikan yang
menekankan pada proses pembelajaran yang dikenal dengan Ing Ngarso Sung tulodo, Ing
Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Sistem Among didasarkan pada dua hal yaitu kodrat alam sebagai syarat untuk mencapai
kemajuan pendidikan sesuai dengan potensi murid. kemerdekaan sebagai syarat untuk
menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin murid hingga dapat mencapai
selamat dan bahagia
Among yaitu memberikan contoh tentang baik dan buruk tanpa harus mengambil hak
murid agar bisa tumbuh dan berkembang dalam suasana basa Dalam suasana batin yang
merdeka sesuai dengan dasarnya sedangkan ngemong adalah proses untuk mengamati
merawat dan menjaga agar murid mampu mengembangkan dirinya bertanggung jawab
dan disiplin Berdasarkan nilai-nilai tradisi oleh sesuai dengan kodratnya
MENGANTARKAN MURID MERDEKA BELAJAR ABAD 21
Metode pembelajaran abad 21 yang berpusat pada murid adalah pembelajaran berbasis
proyek guru dapat mengajak murid mengamati permasalahan dan potensi yang ada di
sekitarnya kemudian guru bersama murid merancang proyek yang akan dilakukan selalu
murid mencari data dan informasi dengan bimbingan guru sampai murid dapat
menyimpulkan dan menyampaikan hasilnya melalui media yang menurutnya sesuai
Guru membimbing murid untuk memiliki kompetensi berpikir kritis atau critical thinking
creative atau creativity kolaborasi atau collaboration dan komunikasi atau
communication dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dalam proses
belajar murid seperti Bagaimana menurutmu tentang kondisi lingkungan sekitar kita saat ini
apa yang menarik dari masalah atau potensi ini sehingga kamu ingin bahas pertanyaan-
pertanyaan tersebut mendorong murid untuk berpikir kritis dan logis dalam melihat dan
mengamati sesuatu yang terkoneksi dengan dirinya
Menciptakan Lingkungan
Pembelajaran Terbaik Murid
5
MEMBIMBING MURID MEMPERBAIKI BANGSA
Ada sebuah pemahaman, jika semakin tinggi nilai angka yang diraih siswa, maka semakin
tinggi pula tingkat kepintaran. Sebaliknya, jika semakin rendah nilai angka, maka semakin
dianggap tidak pintar atau tidak cerdas. Kedua sisi berbeda tersebut dapat
mempengaruhi motivasi belajar siswa, hingga cenderung fokus pada upaya agar
mendapatkan nilai tinggi dari guru. Sehingga, siswa akan bersaing dan berkompetisi
dengan teman-temannya. Budaya yang selama ini kita lakukan adalah pemberian nilai
dengan angka dan peringkat kelas, bisa dirubah dengan sistem penilaian dan apresiasi.
Tujuannya adalah agar harkat dan martabat anak tetap terjaga. Penilaian atau
pengukuran dimaksudkan untuk mengukur hasil atau dampak dari implementasi
pembelajaran dari sudut pandang siswa.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan guru agar siswa menjadi pusat pembelajaran
diantaranya:
1.Membimbing siswa untuk membangun koneksi dan konteks belajar terhadap dirinya
sehingga ia mampu menentukan tujuan belajarnya
2.Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan, sehingga siswa
berani bertanya dan mengemukakan pendapat
3.Mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan kerjasama dan gotong
royong membantu siswa lainnya yang mengalami kesulitan belajar
PERAN SEKOLAH, KELUARGA DAN MASYARAKAT
Tri sentra pendidikan adalah 3 wadah Dasar proses pembentukan pendidikan murid yang
terdiri dari alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda atau komunitas
atau masyarakat. ketiganya berperan dan berkontribusi mengembangkan pengetahuan
nilai-nilai dan keterampilan murid kita tidak cukup hanya membantu murid dengan
wawasan ilmu pengetahuan dan teladan sikap tetapi juga dapat dibantu untuk dapat
menemukan suasana atau atmosfer dimana ia hidup dan berada. Guru bersama orang tua
membantu murid untuk menemukan dan memiliki budi pekerti luhur yang siap digunakan
dalam mengembangkan rasa sosial murid di lingkungan dimana ia berada. Maka
hubungan antara alam keluarga alam perguruan dan alam pergerakan pemuda atau
masyarakat perlu dikuatkan dan diwujudkan dalam pembelajaran.
Pertama yaitu keluarga, anak mendapatkan data pendidikan budi pekerti dan
pendidikan manusia karena secara naluri ini Baik disadari atau tidak manusia memiliki
kecakapan dan keinginan untuk mendidik anak-anaknya secara rohani dan jasmani.
Kedua adalah alam peristiwa alam perguruan meliputi semua jenis dan bentuk satuan
pendidikan yang berperan dalam mengembangkan kecakapan berpikir murid
Ketiga yaitu alam pergerakan pemuda atau masyarakat atau masyarakat sebagai
penguat pendidikan baik itu untuk kecerdasan budi pekerti dan sosial emosional murid
Sebagai refleksi pemahaman materi,
mohon sekiranya ibu/bapak menuliskan
komentar dengan melanjutkan kalimat
dibawah ini .
Dari paparan yang disampaikan, sebelumnya saya
pikir ..............,
Ternyata .................,
Langkah kecil yang akan saya lakukan setelah ini
adalah ................
TERIMA KASIH
ANTONIUS ZWENGLY, S.Pd
SMA NEGERI 1 TOMPASO
KABUPATEN MINAHASA
SULAWESI UTARA