The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

GEMBIRA DONG (Gerakan Mari Budayakan Literasi Dongeng)
INOVASI SD NEGERI 226 Palembang oleh DIAN ANGGRAINI (Guru SD Negeri 226 Palembang).

Latar belakang gerakan " Mari Budayakan Literasi Dongeng" muncul sebagai respons terhadap tren penurunan minat baca dan budaya membaca dongeng di masyarakat. Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali dan mempromosikan kembali kebiasaan membaca dongeng dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara inovatif dan inspiratif.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by diananggraini01, 2023-07-26 05:59:21

GEMBIRA DONG

GEMBIRA DONG (Gerakan Mari Budayakan Literasi Dongeng)
INOVASI SD NEGERI 226 Palembang oleh DIAN ANGGRAINI (Guru SD Negeri 226 Palembang).

Latar belakang gerakan " Mari Budayakan Literasi Dongeng" muncul sebagai respons terhadap tren penurunan minat baca dan budaya membaca dongeng di masyarakat. Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali dan mempromosikan kembali kebiasaan membaca dongeng dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara inovatif dan inspiratif.

Keywords: GEMBIRA DONG

GEMBIRA DONG email : diananggraini01.guru.sd.belajar.id ig: Dieanggie Yt: Dian Anggraini Syaikhu (Gerakan Mari Budayakan Literasi Dongeng) e- Guide Book Tingkatkan Kemampuan Berimajinasi dan Bernalar Kritis Disusun Oleh : Dian Anggraini, S.Pd. Guru SDN 226 Palembang


KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah. SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang, Kami panjatkan pujisyukur atas kehadirat Allah. SWT. Yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kami. Sehingga penulis dapat menyelesaikan buku pedoman untuk guru sekolah dasar dengan baik. Buku pedoman ini disusun untuk membantu para guru melaksanakan kegiatan berdongeng. Dengan buku pedoman ini diharapkan proses pembelajaran dapat memudahkan guru dan proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan memberikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Tak lupa penulis sampaikan terima kasih pada para pihak yangturut serta membantupenyusunan buku pedoman ini. Akhir kata penulis sampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam penyusunan buku pedoman bercerita, saran dan kritik penulis harapkan sebagai perbaikan. Terima Kasih. Palembang, September 2022 Penulis


DAFTAR ISI


LATAR BELAKANG Dongeng telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia sejak zaman kuno. Seiring berjalannya waktu, peran dongeng dalam memperkenalkan imajinasi, nilai-nilai moral, dan kearifan lokal telah semakin diapresiasi. Namun, dengan kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup modern, minat terhadap dongeng dan budaya literasi secara umum telah menurun di kalangan anak-anak dan bahkan dewasa. Kemajuan teknologi, khususnya internet dan media sosial, telah mengalihkan perhatian anak-anak dan remaja dari membaca buku, termasuk dongeng. Banyak dari mereka lebih tertarik pada konten digital yang cepat dan menarik daripada memperdalam imajinasi melalui literasi tradisional. Latar belakang Gerakan "Mari Budayakan Literasi Dongeng" muncul sebagai respons terhadap tren penurunan minat baca dan budaya membaca dongeng di masyarakat. Gerakan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali dan mempromosikan kembali kebiasaan membaca dongeng dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara inovatif dan inspiratif. GEMBIRA DONG (Gerakan Mari Budayakan Literasi Dongeng) bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berimajinasi peserta didik , meningkatkan kemampuan literasi berbahasa Indonesia, keterampilan berbicara di depan umum, dan kepercayaan diri para peserta didik. Kegiatan ini diharapkan dapat menghidupkan kembali budaya dongeng yang telah tenggelam, mengembangkan cara berpikir peserta didik untuk bernalar kritis dengan cara yang menyenangkan.


TUJUAN Modul pedoman ini disusun untuk memudahkan guru dan orang tua mempersiapakan kegiatan berdongeng; Sebagai media persiapan dalam mendukung pembelajaran mengingkatkan kemampuan berbicara dengan metode berdongeng ini; Membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna; Sebagai sumber Referensi untuk mengetahui langkah-langkah praktek bercerita, serta mengembangkan langkah-langkah praktek berdongeng. Tujuan penyusunan buku pedoman GEMBIRA DONG yaitu : 1. 2. 3. 4.


GEMBIRA DONG


TUJUAN & MANFAAT Meningkatkan kemampuan berimajinasi peserta didik melalui stimulasi dan kosakata pada kegiatan dongeng. Menghidupkan kembali dan mempromosikan kembali kebiasaan membaca dongeng dalam kehidupan seharihari Meningkatkan kemampuan literasi berbahasa Indonesia, keterampilan berbicara di depan umum dan kepercayaan diri peserta didik. Meningkatkan cara berpikir peserta didik untuk bernalar kritis dengan cara yang menyenangkan Mengembangkan bakat, minat dan potensi dirinya dan menghasilkan output sesuai gaya belajar peserta didik. Tujuan & Manfaat kegiatan GEMBIRA DONG yaitu : 1. 2. 3. 4. 5.


AGENDA GEMBIRA DONG Kampanye Literasi Dongeng: Mengadakan kampanye dan sosialisasi tentang pentingnya membudayakan literasi dongeng di sekolah, perpustakaan, dan masyarakat umum. Kelas Dongeng: Mengadakan kelas dongeng di sekolah-sekolah dan pusat pendidikan untuk mendorong minat baca dan kreativitas anak-anak dengan kegiatan kegiatan 1 day 1 book, 1 kelas 1 pojok baca, dongeng bersama akhir pekan, pentas drama dan gambar bercerita. Festival Dongeng: Mengadakan festival dongeng dengan pertunjukan dongeng aktivis, deramah, dan kegiatan interaktif untuk menarik minat masyarakat terhadap dongeng. Program Online: Membuat platform online yang menyediakan akses mudah ke dongeng-dongeng digital dengan beragam pilihan cerita dan pengalaman berbaca yang interaktif. Penyusunan Buku Dongeng: Penyusunan sebuah buku elektronik dongeng dari sekumpulan dongeng yang dibuat oleh guru dan peserta didik. 1. 2. 3. 4. 5.


Bimtek / Sosialisasi Kampanye Literasi Dongeng: Mengadakan kampanye dan sosialisasi tentang pentingnya membudayakan literasi dongeng di sekolah, perpustakaan, dan masyarakat umum. 1.


Kelas Dongeng Kelas Dongeng: Mengadakan kelas dongeng di sekolah-sekolah dan pusat pendidikan untuk mendorong minat baca dan kreativitas anak-anak dengan kegiatan kegiatan 1 day 1 book, 1 kelas 1 pojok baca, dongeng bersama akhir pekan, pentas drama dan gambar bercerita.


Festival Dongeng Festival Dongeng: Mengadakan festival dongeng dengan pertunjukan dongeng aktivis dongeng "kak inug", , drama, dan kegiatan interaktif untuk menarik minat masyarakat terhadap dongeng.


Program Online Program Online: Membuat platform online yang menyediakan akses mudah ke dongengdongeng digital dengan beragam pilihan cerita dan pengalaman berbaca yang interaktif.


Penyusunan Buku Dongeng Penyusunan sebuah buku elektronik dongeng dari sekumpulan karya dongeng dan gambar bercerita yang dibuat oleh guru dan peserta didik.


WAKTU Kegiatan GEMBIRA DONG dilaksanakan secara berkala Kegiatan GEMBIRA DONG dilaksanakan di tempat strategis, kondusif dan dapat dijangkau (SD 226 Palembang) Kegiatan GEMBIRA DONG dipublikasikan melalui beragam media massa yang efektif dan efisien seperti Media Sosial, media elektronik, dan spanduk TEMPAT PUBLIKASI


SASARAN KEGIATAN Warga Sekolah (Kepala Sekolah, Guru, Tenaga Pendidik, Peserta didik) Masyarakat Umum Orang Tua dan Peserta Didik Media Cetak, Media Elektronik dan Media Sosial


SOP PELAKSANAAN INOVASI


MATERI DONGENG


1.PENGERTIAN DONGENG Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) dongeng diartikan sebagai kisah yang tidak benarbenar terjadi. Dongeng diceritakan untuk hiburan, meskipun dalam kenyataannya banyak cerita dalam sebuah dongeng yang melukiskan kebenaran karena mengandung pelajaran moral, bahkan sindiran. Kebanyakan dari dongeng tersebut terkandung nasihat yang baik dan mendidik bagi anak-anak. Berdongeng merupakan sebuah seni bercerita yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai kepribadian pada anak yang dilakukan tanpa perlu memerintah sang anak. Berdongeng merupakan suatu cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada pendengar, dengan menggunakan suara yang lantang, gerakan tubuh serta ekspresi wajah yang menggambarkan isi cerita. Dalam hal ini anak dapat berkembang daya kreatifitasnya sesuai perkembangannya, senantiasa mengaktifkan bukan hanya aspek intelektual saja tetapi juga aspek kepekaan, kehalusan budi, emosi, seni, daya berfantasi, dan imajinasi anak yang tidak hanya mengutamakan kemampuan otak kiri tetapi juga otak kanan.


2. JENIS - JENIS DONGENG A. Myth (Mitos) Bentuk dongeng ini menceritakan tentang kepercayaan terhadap alam gaib atau benda-benda magis dari suatu wilayah. Setiap wilayah biasanya mempunyai mitos tertentu walaupun terkadang ceritanya masih sama dengan mitos dari wilayah lain. Contoh: Nawang Wulan dan Jaka Tarub (Jawa Tengah), Batu Menangis (Pulau Kalimantan), Ratu Pantai Selatan (Jawa Tengah), Si Hulembe (Kisaran), dan siluman ular


2. JENIS - JENIS DONGENG b. Legenda Bentuk cerita ini biasanya mengenai riwayat atau asal-usul terjadinya suatu daerah. Contoh: Legenda Gua Kemang (Medan) Legenda Batu Belah Batu Bertangkup (Sumatera Utara) Legenda Rawa Pening (Jawa Tengah) Legenda Tangkuban Perahu (Jawa Barat)


2. JENIS - JENIS DONGENG C. Fabel Dalam fabel, biasanya menceritakan mengenai kisah yang bertokoh utamakan binatang. Dongeng berbentuk fabel ini sering dijadikan sebagai media untuk mendidik anak-anak. Contoh: Si Kancil dan Buaya, Si Kancil dan Pak Petani, KuraKura dan Monyet


2. JENIS - JENIS DONGENG d. Sage Dalam dongeng berbentuk sage ini biasanya menceritakan mengenai kisah-kisah kepahlawanan, keberanian, maupun kisah kesaktian seseorang. Contoh: Ciung Wanara (Jawa Barat), Patih Gadjah Mada (Jawa Timur), Calon Arang (Jawa Timur)


2. JENIS - JENIS DONGENG e. Jenaka atau Pandir Dongeng jenaka atau pandir ini menceritakan mengenai orang-orang yang selalu bernasib sial. Dongeng ini bersifat dongeng dan menghibur pendengar atau pembacanya karena kelucuan yang dilakukan oleh sang tokoh. Contoh: Dongeng Si Pandir, Si Kabayan, Lebay Malang


3. METODE BERDONGENG Dhien (2009) mengemukakan, berdasarkan jenis media yang digunakan, metode berdongeng dibagi menjadi beberapa bentuk, diantaranya yaitu: a. Metode berdongeng dengan alat peraga. Metode bercerita dengan alat peraga adalah metode bercerita menggunakan media atau alat pendukung supaya lebih jelas penyampaian cerita yang akan disampaikan. Bercerita dengan menggunakan alat peraga merupakan bentuk bercerita yang mempergunakan alat peraga bantu untuk menghidupkan cerita. Fungsi alat peraga tersebut yaitu untuk menghidupkan fantasi dan imajinasi sehingga terarah sesuai dengan yang diharapkan si pencerita. Bentuk bercerita dengan alat peraga terbagi menjadi dua, yaitu alat peraga langsung dan alat peraga tidak langsung. 1) Alat peraga langsung, seperti menggunakan benda asli atau benda sebenarnya, seperti bunga. 2) Alat peraga tak langsung, seperti menggunakan bendabenda yang bukan alat sebenarnya, seperti benda tiruan, gambar, papan flanel, membacakan cerita, sandirwara boneka, boneka menyerupai wayang yang terbuat dari kardus.


3. METODE BERDONGENG b. Metode bercerita (storytelling) tanpa alat peraga Bercerita tanpa alat peraga yaitu kegiatan bercerita yang dilakukan oleh guru atau orang tua tanpa menggunakan media atau alat peraga yang diperlihatkan pada anak. Bercerita tanpa alat peraga adalah bentuk cerita yang mengandalkan kemampuan pencerita dengan menggunakan mimik (ekspresi muka), pantomim (gerak tubuh), dan vokal pencerita sehingga yang mendengarkan dapat menghidupkan kembali dalam fantasi dan imajinasinya. Guru harus memperhatikan ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh, dansuara guru harus dapat membantu fantasi anak untuk mengkhayalkan hal-hal yang diceritakan guru. c. Metode bercerita sambil bernyanyi. Dalam metode bercerita sambil bernyayi, guru dapat menggunakan alat bantu berupa sound sistem atau speaker untuk memutarkan sebuh lagu-lagu anak, lagu daerah hingga lagu wajib nasional disamping kegiatan bercerita. Seperti, menceritakan salah satu tokoh pahlawan Bapak Ir. Soekarno dan bisa diiringi lagu wajib nasional. Selain guru bisa menghibur peserta didik, guru juga dapat mengajarkan sejarah para pahlawan dengan cara penyampaian yang riang gembira dengan bantuan lagu-lagu yang di putarkan. d. Metode bercerita dengan membaca langsung bahan cerita dari buku. Pada metode ini guru dapat langsung menyampaikan cerita, puisi, dongeng dari buku cerita langsung. Kegiatan ini memberikan pengajaran yang fokus kepada pesan yang akan di tangkap anak dan di mengerti anak. Pesan tersebut dapat berupa perbuatan yang benar, sikap yang baik yang harus dilakukan anak.


4. LANGKAH- LANGKAH BERDONGENG Menurut Tarigan (2008), terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan dalam pelaksanaan metode bercerita yaitu sebagai berikut: Langkah-langkah praktek berdongeng di kelas tinggi (kelas 4,5 dan 6) yaitu: a. Menentukan topik cerita yang lucu dan menarik. Topik merupakan pokok pikiran atau pokok pembicaraan. Pokok pikiran dalam cerita harus menarik agar pendengar tertarik dan senang dalam mendengarkan cerita. Contoh topik cerita: pendidikan, sumber daya alam, kejujuran, persahabatan dan sebagainya. b. Menyusun kerangka cerita dengan mengumpulkan bahan- bahan Menyusun kerangka cerita merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu cerita. Dalam menyusun kerangka cerita, harus mengumpulkan bahan-bahan seperti dari buku, majalah, koran, makalah dan sebagainya, untuk memudahkan dalam merangkai suatu cerita. Contoh kerangka cerita dengan topik persahabatan: 1) Ada dua orang bersahabat, 2) Dua orang sahabat berselisih paham, dan 3) Penyelesaian masalah & kembali bersahabat. c. Mengembangkan kerangka cerita Kerangka cerita yang sudah dibuat kemudian dikembangkan sesuai dengan pokok-pokok cerita. Contoh pengembangan kerangka cerita ada 2 orang bersahabat sejak lama. Namanya Udin dan Beni. Mereka saling membantu satu sama lain. Saat Udin sedang mengalami kesulitan, Beni selalu membantu dan menghibur Udin. Begitupun sebaliknya, saat Beni sedang mengalami kesulitan, Udin selalu membantu & menghibur Beni. d. Menyusun teks cerita Penyusunan teks cerita dilakukan dengan menggabungkan poin-poin dari kerangka cerita yang telah dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan antar poin. Contohnya : yaitu menggabungkan pengembangan kerangka cerita poin 1 sd 3 yang telah dijelaskan di atas sehingga menjadi sebuah teks cerita yang baik. e. Praktek membacakan teks cerita di depan kelas


CONTOH DONGENG


KISAH SEMUT DAN BELALANG Dongeng fabel ini menceritakan kisah belalang yang malas. Suatu hari, belalang yang sedang bersantai melihat semut lewat sambil membawa biji jagung ke sarangnya. Belalang lalu meminta semut bergabung bersamanya untuk bersenang-senang. Semut menolak dan memberi tahu belalang bahwa dia sedang bersiap mencari makanan untuk cadangan musim dingin. Di musim dingin, makanan akan langka dan sulit dicari. Belalang mengabaikan cerita semut karena dia tak mau repot. Akhirnya musim dingin pun tiba dan belalang tidak memiliki makanan untuk bertahan hidup. Ia kesusahan bertahan hidup di musim dingin. Hal ini berbanding terbalik dengan semut. Di musim dingin, semut justru sedang menikmati jagung dalam kehangatan di sarangnya. Dari cerita semut dan belalang tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa bekerja keras dapat membuahkan hasil yang baik dan dapat menjadikan kita sukses di masa depan. Jadilah anak rajin dan dengarkan nasihat baik dari teman dan orang disekitar kita.


ASAL MULA SELAT BALI Dahulu ada seorang Brahmana yang bernama Sidi Mantra. Ia mendapat hadiah berupa harta serta mendapat istri yang cantik. Dari pernikahan mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Manik Angkeran, yang tumbuh sangat gagah. Namun, ia mempunyai kebiasaan yang buruk yaitu menghabiskan berbagai harta kekayaan kedua orang tuanya untuk berjudi. Kemudian, pada suatu hari ayahnya melakukan pertapaan. Beliau mendengar bisikan untuk menyuruhnya pergi ke Gunung Agung serta menemui seekor Naga Besukih. Ketika bertemu naga, ia mengatakan bahwa tujuannya, kemudian naga itu menggeliat dan menjatuhkan sisik emas yang ia bawa pulang. Mengetahui itu Manik penasaran ayahnya dapat dari mana. Setelah mengetahui informasinya, Manik memutuskan untuk pergi ke bagian gunung tersebut dengan tujuan memperoleh harta dari naga tersebut. Karena sifat yang serakah, ia memotong ekor naga tersebut ketika naga akan berputar menuju ke sarangnya. Oleh perbuatannya Manik menjadi terbakar hingga mati. Kemudian, Sang ayah memohon kepada naga untuk menghidupkan anaknya kembali, naga menyanggupi dengan syarat mereka harus mengembalikan ekor yang telah diambil Manik. Namun, setelah Manik hidup kembali Sang ayah tidak menginginkan hidup dan tinggal bersama dengan anaknya. Ayah manik membuat pemisah diantara mereka dan disitulah muncul Selat Bali.


NILAI MORAL DONGENG Dalam suatu dongeng tidak hanya memuat sebuah cerita saja tetapi juga ada nilai-nilai moral yang ada di dalamnya. Nilai-nilai moral dalam sebuah dongeng biasanya meliputi nilai kepatuhan, tawakal, keberanian, rela berkorban, jujur, adil, bijaksana, menghormati sesama, bekerja keras, kasih sayang, kerukunan, kepedulian, dan lain-lain. Pada umumnya, sebuah dongeng memang membawa misi dari penulisnya untuk mengedukasi pembaca terutama anak-anak. Melalui dongeng, diharapkan emosi anak dapat terkendali dan mereka dapat meniru nilainilai positif yang termuat dalam dongeng tersebut.


HASIL INOVASI Kegiatan inovasi ini menjadikan peserta didik lebih aktif dan termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, siswa berani mengungkapkan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Kegiatan inovasi ini meningkatkan kemampuan berimajinasi peserta didik dan mengembangkan cara berpikir peserta didik untuk bernalar kritis dengan cara yang menyenangkan, sehingga peserta didik dapat mengembangkan bakat, minat dan potensi dirinya dan menghasilkan output sesuai gaya belajar mereka. Peserta didik dengan belajar auditori menghasilkan sebuah karya dongeng dongeng dan mampu dengan percaya diri tampil dihadapan peserta didik lainnya. Peserta didik dengan belajar kinestetik menghasilkan output berupa sebuah drama yang diperankan oleh mereka sendiri. Peserta didik dengan belajar visual menghasilkan output berupa gambar bercerita seperti dongeng hasil karya sendiri maupun komik . kegiatan inovasi ini juga menjadi penghubung emosional guru dan peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA Azmi, M., & Puspita, M. (2019). Metode Storytelling Sebagai Solusi Pembelajaran Maharah Kalam Di PKPBA. UIN Malang. Atin Istiarni, Triningsih. (2018). Jejak Pena Pustakawan. Yogyakarta: Azyan Mitra Media. Afriyelni, Wira. (2018). Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Storytelling di Taman Kanak-kanak Ketilang. UIN Jakarta. Annisa, K. (2021). 8 Cerita Fabel untuk Dongeng Anak, Kaya Pesan Moral dan Nilai Kehidupan. https://www.haibunda.com (diakses 17 Juni 2021). Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pekan Baru. (2019). Storytelling dan manfaat dari storytelling. (diakses 11 juni 2021). Gunarti, Winda, dkk. (2008). Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini.Jakarta: Universitas Terbuka. Muchlisin, Riadi. (2019). Metode Bercerita. https://www.kajianpustaka.com (diakses 11 Juni).


Click to View FlipBook Version