The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Karanganyar, 2024-02-04 23:44:58

Untoro Wirekso Jati_192120

Untoro Wirekso Jati_192120

Keywords: ayam broiler,ekstrak meniran dan pegagan

36 Perlakuan T0 (kontrol) berbeda nyata dengan T2 (ekstrak meniran dan pegagan) dikarenakan pada T2 terdapat campuran antara meniran dan pegagan, kedua tanaman ini sama-sama bersifat sebagai immunomodulator yang berarti dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga ayam memiliki sistem kekebalan tubuh yang bagus, dan antioksidan yang meningkat, sehingga dapat diartikan ayam pada perlakuan T2 (ekstrak meniran dan pegagan) lebih sehat dan dalam mengkonsumsi pakan lebih efisien dibandingkan dengan perlakuan T0 (kontrol) dan pertambahan bobotnya lebih tinggi daripada perlakuan kontrol, sehingga konversi pakannya rendah. Konversi pakan ayam broiler yang diberikan ekstrak meniran, pegagan, dan campurannya lebih rendah daripada perlakuan kontrol. Konversi pakan ini sesuai dengan data konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan, konsumsi pakan lebih rendah dan pertambahan bobotnya lebih tinggi daripada perlakuan kontrol, sehingga konversi pakannya rendah. Faktor utama yang mempengaruhi konversi pakan adalah genetik, kualitas pakan, jenis pakan, penggunaan zat aditif, kualitas air, penyakit, dan manajemen pemeliharaan (Adil dkk, 2010). E. Feed Cost Per Gain (FCG) Feed Cost per Gain adalah besarnya biaya pakan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 kg gain. Feed Cost Per Gain (FCG) adalah biaya yang dikeluarkan per kg bobot badan per ekor yang diperoleh dari hasil perkalian konversi pakan dengan harga pakan per kg (Mohebodini dkk, 2009). Biaya PERPUSTAKAAN UMUKA


37 pakan yang murah belum tentu menghasilkan FCG yang rendah (Sagala, 2011). Nilai Feed Cost Per Gain dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 12. Feed Cost Per Gain (FCG) (Rp/Kg) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 T3 1 14.808,80 16.237,14 16.345,07 17.033,83 2 14.980 17.128,17 16.505,46 16.756,32 3 14.295,20 16.358,18 17.704,86 17.803,87 Rata-rata 14.723,20 16.574,50 16.851,80 17.198,01 Perhitungan Feed Cost Per Gain dapat dilihat pada Lampiran 9. Feed Cost Per Gain digunakan untuk mengetahui macam pakan perlakuan yang lebih ekonomis dalam menghasilkan daging dan dihitung berdasarkan harga pakan (per kg) (Handayana, 2004). Feed Cost Per Gain (FCG) dinilai baik apabila angka yang diperoleh serendah mungkin, yang berarti dari segi ekonomi penggunaan pakan lebih efisien. Berdasarkan tabel 12, biaya pakan atau feed cost per gain masing-masing perlakuan T0 = Rp 14.723,20; T1 = Rp 16.574,50; T2 = 16.851,80; T3= 17.198,01. Tingkat perbandingan nilai feed cost per gain dapat dilihat pada Ilustrasi 2. Ilustrasi 2. Grafik Perbandingan FCG (Rp) 13.000,00 14.000,00 15.000,00 16.000,00 17.000,00 18.000,00 T0 T1 T2 T3 FCG (Rp) PERPUSTAKAAN UMUKA


38 Perbandingan nilai FCG pada (Ilustrasi 2) menunjukkan bahwa biaya pakan yang paling efisien adalah T0 (kontrol) yaitu Rp 14.723,20,- lalu T1 (pemberian ekstrak meniran) = Rp. 16.574,50 , kemudian T2 (pemberian ekstrak meniran dan pegagan) = Rp. 16.851,80 dan yang paling tinggi T3 (pemberian ekstrak pegagan) = Rp. 17.198,01. Hal ini berarti bahwa T0 (kontrol) membutuhkan biaya pakan sebesar Rp 14.723,20,- untuk menghasilkan 1 kilogram berat badan. Selisih nilai efisiensi Feed Cost Per Gain setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Selisih Nilai Feed Cost Per Gain (FCG) Perlakuan Selisih (Rp) Persentase (%) T0 < T1 1.851,3 12,57 T0 < T2 2.128,6 14,46 T0 < T3 2.474,81 16,81 Selisih biaya pakan Tabel 13 menunjukkan bahwa perbedaan yang cukup tinggi dengan perlakuan kontrol. Selisih biaya ini diakibatkan oleh penambahan ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum. Selisih nilai FCG dari yang tertinggi ke yang terendah yaitu, pemberian ekstrak meniran pada perlakuan (T1) sebesar Rp. 1.851,3,- diikuti pemberian ekstrak meniran dan pegagan pada perlakuan (T2) sebesar Rp. 2.128,6,- kemudian pemberian ekstrak pegagan pada perlakuan (T3) sebesar Rp. 2.474,81,-. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan T0 (kontrol) lebih efisien 12,57% dari pada T1(ekstrak meniran), T0 lebih efisien 14,46% daripada T2 (ekstrak meniran dan pegagan), dan lebih efisien 16,81% daripada T3 (ekstrak pegagan). PERPUSTAKAAN UMUKA


39 F. Income Over Feed Cost (IOFC) 1. Penerimaan Menurut Prasetyo (2013) penerimaan adalah perkalian antara produksi peternakan atau PBBH dengan harga jual. Harga jual pada waktu penelitian adalah sebesar Rp 20.500 per kilogram bobot badan hidup. Hasil perhitungan penerimaan diperoleh dari rata-rata bobot badan akhir per kg per ekor dikalikan harga jual ayam broiler. Rata-rata penerimaan yang diperoleh pada penelitian ini terdapat pada Tabel 14. Tabel 14. Penerimaan Penjualan Ayam Broiler per Kg (Rp) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 T3 1 30.975,5 33.312,5 32.595,0 33.784,0 2 31.631,5 31.652,0 33.702,0 32.882,0 3 32.021,0 32.431,0 31.139,5 32.308,0 Rata-rata 31.542,7 32.465,2 32.478,8 32.991,3 Dari Tabel 14 dapat dilihat bahwa rata-rata penerimaan masingmasing perlakuan sebesar T0= 31.542,7; T1= 32.465,2; T2 = 32.478,8; T3= 32.991,3. Perhitungan penerimaan dapat dilihat pada Lampiran 11. Hal ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak dapat meningkatkan penerimaan dari penjualan ayam broiler. Tingkat perbandingan penerimaan setiap perlakuan dari penjualan ayam pada penelitian ini dapat dilihat pada Ilustrasi 3. PERPUSTAKAAN UMUKA


40 Ilustrasi 3. Grafik Perbandingan Penerimaan per kg (Rp) Hasil perbandingan penerimaan pada (Ilustrasi 3) menunjukkan bahwa penerimaan tertinggi diperoleh pada pemberian ekstrak pegagan pada perlakuan (T3) sebesar Rp. 32.991,3,- per kg bobot badan ayam, diikuti penerimaan pada ekstrak campuran meniran dan pegagan (T2) sebesar Rp 32.478,8,- per kg bobot badan ayam, dan pemberian ekstrak meniran perlakuan (T1) Rp 32.465,2, kemudian penerimaan terendah adalah perlakuan kontrol (T0) sebesar Rp 31.542,7,- per kg bobot badan ayam. Selisih penerimaan penjualan ayam broiler per kilogram bobot badan setiap perlakuan dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Selisih Penerimaan Penjualan Ayam broiler Perlakuan Selisih (Rp) Persentase (%) T0 < T1 922,5 2,92 T0 < T2 936,1 2,97 T0 < T3 1448,6 4,59 Data selisih penerimaan pada Tabel 15 menunjukkan bahwa pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum mampu meningkatkan penerimaan, lebih lanjut selisih penerimaan menunjukkan pemberian ekstrak meniran dan pegagan pada perlakuan T1, T2, dan T3 30.500,00 31.000,00 31.500,00 32.000,00 32.500,00 33.000,00 33.500,00 T0 T1 T2 T3 Penerimaan (Rp) PERPUSTAKAAN UMUKA


41 lebih tinggi dari perlakuan kontrol T0, dengan selisih paling tinggi adalah perlakuan T3 sebesar Rp 1.448,6,- atau 4,59%, diikuti perlakuan T2 sebesar Rp 936,1,- atau 2,97% ,dan T1 yang memiliki selisih sama yaitu sebesar Rp 922,5,- atau 2,92%. Analisa penerimaan ini menunjukkan bahwa dalam pemeliharaan ayam broiler dengan menambahkan ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum dapat meningkatkan bobot badan ayam broiler yang berdampak pada peningkatan penerimaan per kg bobot badan (Rp). Penerimaan tertinggi diperoleh dari perlakuan (T3) yang diberi penambahan ekstrak pegagan yaitu Rp 32.991,3,- per kg bobot badan ayam. 2. Analisis Total Feed Cost (biaya pakan) Menurut Prasetyo (2013), biaya pakan adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan ternak. Biaya pakan diperoleh dari jumlah rata-rata konsumsi pakan dikali lama pemeliharaan dikali harga pakan ditambah rata-rata konsumsi air minum dikali lama pemeliharaan dikali dosis pemberian dikali harga ekstrak. Rata-rata total biaya pakan per ekor yang digunakan selama penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16. Biaya Pakan (Rp) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 T3 1 20.861,75 21.608,01 21.486,65 22.014,90 2 21.314,74 21.647,17 22.253,68 22.613,29 3 20.840,18 21.302,30 22.002,50 22.954,61 Rata-rata 21.005,56 21.519,16 21.914,28 22.527,60 PERPUSTAKAAN UMUKA


42 Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa rata-rata total biaya pakan masingmasing perlakuan sebesar T0 =21.005,56 ; T1 =21.519,16; T2= 21. 914,28; T3 = 22. 527,60. Hal ini menunjukan bahwa penambahan ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum dapat meningkatkan biaya pakan. Tingkat perbandingan biaya pakan dapat dilihat pada Ilustrasi 4. Ilustrasi 4. Grafik Perbandingan Biaya Pakan per kg (Rp) Hasil perbandingan biaya pakan pada Ilustrasi 4 bahwa biaya pakan pada penelitian ini mengalami kenaikan. Biaya pakan tertinggi terjadi pada perlakuan T3 (ekstrak pegagan) sebesar Rp 22. 527,60,-, kemudian pada perlakuan T2 (ekstrak campuran) sebesar Rp 21.914,28-, lalu pada perlakuan T1 ( ekstrak meniran ) sebesar Rp 21.519,16-, dan biaya yang paling rendah adalah biaya pakan perlakuan T0 (kontrol) yaitu sebesar Rp 21.005,56. Selisih biaya pakan antar perlakuan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17. Selisih Biaya Pakan Antar Perlakuan Perlakuan Selisih (Rp) Persentase (%) T0 < T1 513,6 2,45 T0 < T2 908,72 4,33 T0 < T3 1.522,04 7,25 20.000,00 20.500,00 21.000,00 21.500,00 22.000,00 22.500,00 23.000,00 T0 T1 T2 T3 Biaya Pakan (Rp) PERPUSTAKAAN UMUKA


43 Selisih biaya pakan Tabel 17 menunjukkan bahwa perbedaan yang cukup tinggi dengan perlakuan kontrol, selisih biaya pakan tertinggi pada pemberian ekstrak pegagan pada perlakuan (T3) sebesar Rp 1.522,04,- atau 7,25 % diikuti pemberian ekstrak campuran meniran dan pegagan pada perlakuan (T2) sebesar Rp 908,72,- atau 4,33% kemudian pemberian ekstrak meniran pada perlakuan (T1) sebesar Rp 513,6,- atau 2,45% Analisis ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak pada setiap perlakuan (T1), (T2), dan (T3) dapat meningkatkan biaya pakan dibandingkan perlakuan kontrol (T0). Biaya pakan tertinggi yaitu pada pemberian ekstrak pegagan (T3), sebesar Rp 22.527,60,- sedangkan biaya pakan terendah pada perlakuan kontrol (T0) yaitu sebesar Rp 21.005,56,-. 3. Analisis Income Over Feed Cost (IOFC) Income Over Feed Cost (IOFC) merupakan tolak ukur yang digunakan untuk menentukan seberapa besar pendapatan yang dihasilkan berdasarkan biaya ransum yang dikeluarkan. Saat konsumsi ransum ayam cukup dan tidak berlebih serta mampu dimanfaatkan dengan baik untuk energi dalam pertambahan bobot badan maka IOFC semakin besar (Wardiny dan Sinar, 2013). Hasil analisis Income Over Feed Cost merupakan pendapatan yang diperoleh dari analisa penerimaan dikurangi dengan biaya pakan. Uraian rata-rata Income Over Feed Cost pada pemeliharaan ayam broiler selama penelitian terdapat pada Tabel 18. PERPUSTAKAAN UMUKA


44 Tabel 18. Income Over Feed Cost (IOFC) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 T3 1 10.113,75 11.704,49 11.108,35 11.769,10 2 10.316,76 10.004,83 11.448,32 10.268,71 3 11.180,82 11.128,70 9.137,00 9.353,39 Rata-rata 10.537,11 10.946,01 10.564,56 10.463,73 Tabel 19. Indeks Income Over Feed Cost (IOFC) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 T3 1 1,48 1,54 1,52 1,56 2 1,48 1,46 1,51 1,45 3 1,54 1,52 1,42 1,41 Rata-rata 1,50 1,51 1,48 1,47 Tabel 18 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata income over feed cost masing- masing perlakuan T0= 10.537,11; T1= 10.946,01; T2= 10.564,56 ; T3= 10.463,73 per kg ayam. Hal ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak dalam air minum dapat meningkatkan income over feed cost. Tingkat perbandingan income over feed cost setiap perlakuan dapat dilihat pada Ilustrasi 5. Ilustrasi 5. Grafik Perbandingan IOFC per kg (Rp) 10.200,00 10.400,00 10.600,00 10.800,00 11.000,00 T0 T1 T2 T3 PERPUSTAKAAN UMUKA Income Over Feed Cost (Rp)


45 Hasil perbandingan pada Ilustrasi 5 menunjukkan bahwa income over feed cost pada penelitian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan perlakuan kontrol, IOFC tertinggi pada perlakuan yang diberikan ekstrak meniran (T1) Rp10.946,01,-, kemudian pemberian ekstrak campuran (T2) sebesar Rp 10.564,56, sementara perlakuan kontrol (T0) sebesar Rp 10.537,11, sedangkan perlakuan ekstrak pegagan (T3) sebesar Rp 10.463,73 dan paling rendah IOFCnya. Selisih pendapatan antar perlakuan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut. Tabel 20. Selisih IOFC antar perlakuan Perlakuan Selisih (Rp) Persentase(%) T0 <T1 408,9 3,87 T0 <T2 27,45 0,26 T0 >T3 73,38 0.70 Selisih income over feed cost pada Tabel 20 menunjukkan bahwa pada pemberian ekstrak meniran dan pegagan pada perlakuan (T1), dan (T2) memiliki income over feed cost lebih tinggi dibanding perlakuan kontrol (T0), sedangkan perlakuan (T3) lebih rendah dari (T0). Selisih paling tinggi yaitu pemberian ekstrak meniran pada perlakuan (T1) sebesar Rp .408,9,- atau 3,87% kemudian diikuti pemberian ekstrak campuran meniran dan pegagan pada perlakuan (T2) sebesar Rp 2,45 atau 0,26%. Berdasarkan analisis income over feed cost, pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum ayam dapat meningkatkan biaya pakan namun dapat memberikan dampak pada hasil IOFC yang lebih tinggi. PERPUSTAKAAN UMUKA


46 Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata indeks IOFC masing-masing perlakuan T0 =1,50; T1 =1,51; T2 =1,48; T3 =1,47. Perlakuan T3 (ekstrak meniran) memiliki nilai indeks terbaik dibandingkan perlakuan lain yaitu 1,51, yang artinya setiap pengeluaran Rp 1,00,- untuk ransum akan mendapat keuntungan sebesar Rp 0,51. Menurut Rasyaf (2012) besarnya nilai indeks yang baik untuk usaha peternakan adalah lebih dari satu. Nilai indeks IOFC untuk ayam broiler berkisar antara 1,86 dan 1,95 (Yahya, 2003). Faktor yang mempengaruhi nilai indeks IOFC adalah jumlah ransum yang dikonsumsi, harga ransum, bobot badan akhir, dan harga jual. Perhitungan nilai indeks IOFC dapat dilihat pada Lampiran 15. Analisis ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum berdampak meningkatkan income over feed cost, karena selisih pendapatan dari penjualan ayam tanpa perlakuan (kontrol ) lebih rendah dibandingkan dengan yang diberi penambahan ekstrak meniran dan pegagan. Sejatinya pemberian ekstrak meniran dan pegagan meningkatkan penerimaan penjualan karena mempengaruhi konsumsi pakan yang lebih efisien, penambahan ekstrak meniran dan pegagan meningkatkan biaya pakan dibandingkan dengan T0 sehingga mempengaruhi selisih nilai IOFC yang tidak terlalu tinggi. Menurut Tantolo (2009) nilai IOFC sangat dipengaruhi oleh bobot tubuh akhir, konsumsi ransum, harga ransum dan harga jual ternak. Ardiansyah, dkk (2013), menyatakan bahwa semakin tinggi nilai Income Over Feed Cost (IOFC) PERPUSTAKAAN UMUKA


47 akan semakin baik karena tingginya Income Over Feed Cost (IOFC) berarti penerimaan yang didapat dari hasil penjualan ayam juga tinggi. PERPUSTAKAAN UMUKA


48 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum ayam broiler dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum ayam broiler dengan dosis 10 ml/1 liter air minum meningkatkan efisiensi konsumsi pakan dan menurunkan nilai FCR (efisien), akan tetapi tidak mempengaruhi konsumsi air minum dan pertambahan bobot badan harian. 2. Pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum ayam broiler dengan dosis 10 ml/1 liter air minum ayam broiler meningkatkan nilai Feed Cost Per Gain (FCG) 3. Pemberian ekstrak meniran dan pegagan dalam air minum ayam broiler meningkatkan Income Over Feed Cost (IOFC). B. Saran Ekstrak meniran 10 ml/liter air minum dapat digunakan sebagai feed PERPUSTAKAAN UMUKA additive ayam broiler.


49 DAFTAR PUSTAKA Abidin, Z. 2002. Meningkatkan Produktivitas ayam Ras pedaging. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. Adil. S, T.Banday, G. A bhat, M.S Mir and M. Rehman. 2010. Effect of dietary sumpplemention of organic acids on performance, intestinal histomorphology, and serum biochemistry of broiler chicken. Veterinary medicine international. 7: 479-485. Adnan, K. 2011. Standar Berat Badan Konsumsi Pakan dan FCR Ayam Broiler. PT.Agromedia Pustaka. Jakarta. Aldi Y, Rasyadi Y, dan Handayani D. 2014. Aktivitas Imunomodulator dari Ekstrak Etanol Meniran (Phyllanthus niruri Linn) terhadap ayam broiler. Jurnal Sains Farmasi dan Klinis. Vol 1(1).65-76 Amrullah, 2004. Nutrisi Ayam Broiler. Lembaga Satu Gunungbudi. Bogor. Anggitasari, S., O. Sjofjan dan I. H. Djunaidi. 2016. Pengaruh beberapa jenis pakan komersial terhadap kinerja produksi kuantitatif dan kualitatif ayam pedaging. J. Buletin Peternakan. 40 (3): 187-196. Annaila, F. (2015). Menjadi Kaya dengan Beternak Ayam Broiler. Istana Media. Yogyakarta. Ardiansyah, F. Tantalo, S. Dan Nova, K. 2013. Perbandingan Performa Dua Strain Ayam Jantan Tipe Medium Yang Diberi Ransum Komersial Broiler. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu.1(2) Astuti, P., Suripta, H., dan Risyani L., 2017. Upaya Peningkatan Kualitas Daging Ayam Broiler Melalui Pemberian Ekstrak Meniran. Jurnal Ilmu Pertanian. Vol 1 No 1. Astuti. F.K dan Jaiman. E. 2019. Perbandingan Pertambahan Bobot Badan Ayam Pedaging di CV Arjuna Grub Berdasarkan Tiga Ketinggian Tempat Yang berbeda. Jurnal sains Peternakan. 7(2) hal 75-90. Astutik, S. I. B., M. Arifin, dan W. S. Dilaga. 2002. Respon sapi PO berbasis pakan jerami padi terhadap berbagai formula “urea molases blok”. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang. Cahyono, B. 2018. Panen Ayam Broiler 2 kg Dalam 42 hari. Lily Publisher.Yogyakarta PERPUSTAKAAN UMUKA


50 Cobb-Vantress, Inc. 2003. Cobb broiler Nutrition Guide. Cobb-Vantress, Inc. Siloam Spring, AR. Fahruddin, A., W. Tanwirah, H. Indrijani. 2016. Konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum ayam lokal di Jimmy’s FarmCipanas kabupaten Cianjur. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Fatimaningsih. R, Riyanti. R, dan Nova. K. 2016. Performa Ayam Pedaging pada Sistem Brooding Konvensional dan Thermos. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. 4(3) Hendriyanto, W. 2019. Sukses Beternak & Berbisnis Ayam Pedaging (Broiler). Laksana .Yogyakarta Iman Rahayu H.S., Sudaryani, T., dan Santosa, H., 2011. Panduan Lengkap Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta. Ito, Y., Pandey, P., Place, A., Sporn, M.B., GriBBle, G. W., Honda, T., Kharbanda, S., Kufe, D. 2000. The Novel triterpenoid 2-cyano-3,12- dioxoolean-1,9-dien28-oic acid induces apoptosis of human myeloid leukemia cells by a caspase8-dependent mechanism. Cell Growth & Differetiation. Vol. 11, 261-267. James JT. 2009. Pentacilin triterpenoid from the medicinal herb, Centella asiatica (L) urban. Molecules, 14: 3922-3941. Japfa Comfeed Indonesia. 2012. Performa Broiler MB 202. PT. Japfa Comfeed Indonesia, Jakarta. Kardinan, I. A., dan Kusuma, F. R. 2004. Meniran penambah daya tahan tubuh alami. Agromedia. Jakarta Kartasudjana, R. dan E. Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadya. Jakarta. Kasse. A.S, Lisnahan, C. V, dan Nahah, O.R. 2021. Pengaruh pemberia tepung Kunyit Yang dicampur dalam air minum terhadap pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan ayam broiler. JAS, 6(4), 69-71. Kiswanto, E. 2010. Pengaruh Pemberian Ekstrak Sambiloto Dalam Air Minum Terhadap Performans Ayam Broiler. Laporan Tugas Akhir. Akademi Peternakan Karangnayar. Leba, M. A. U. 2017. Ekstraksi dan Real Kromatografi. CV. Budi Utama. Yogyakarta. PERPUSTAKAAN UMUKA


51 Lacy, M. and L. R. Vest. 2000. Improving feed conversion in broiler: A Guide Forgrowers. Lesson, S. dan J.D. Summers. 2005. Commercial Poultry Nutrition 3rd. University Books, Guelph, Ontario. Canada. Lestariningsih, Sjofjan O, dan Sudjarwo E. 2015. Pengaruh Tepung Tanaman Meniran (Phyllanthus niruri Linn) Sebagai Pakan Tambahan Terhadap Mikroflora Usus Halus Ayam Pedaging. Agripet. Vol 15 (2):85-91. Mohebodini, H., B. Dastar, M. Sham Sharg, & S. Zarehdaran. 2009. The comparison of early feed restriction and meal feeding on performance, carcass characteristics and blood constituents of broiler chickens. J. Anim. Vet. Adv. 8: 2069 – 2074. Monalisa, D. Handayani, T. Sukmawati. Dalia. 2011, Pengaruh Pemberian Ekstrak Meniran Terhadap Gambaran Histopatologi Hepar Ayam Broiler Yang Diinfeksi E.Coli. Departement of Poultry Science, Venterinary College and Research Institute. Namakka-637991. Patimah dan Burhanudin, H. (2020). Pengaruh pemberian ektrak centela asiatica terhadap jumlah leukosit dan diferensiasi leukosit ayam petelur, Jurnal Nutrisi ternak Tropis dan Ilmu Pakan. 2(4) Pasaribu, T. 2019. Peluang Zat Bioaktif Tanaman sebagai Alternatif Imbuhan Pakan Antibiotik Pada Ayam. Juranal Litbang Pertanian. Vol 38(2) hal 96- 104. Prasetyo, A.F. 2013. Partisipasi Pelaksanaan Program Sarjana Membangun Desa Dalam Pengembangan Sapi Potong Di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Thesis. Fakultas Peternakan, Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Qurniawan, A. 2016. Kualitas daging dan performa ayam broiler di kandang terbuka pada ketinggian tempat pemeliharaan yang berbeda di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. (Thesis). Rahayau. I, Sudaryani.T, Santosa. H. 2011. Panduan Ayam Lengkap. Penebar Swadaya. Jakarta Rasyaf, M. 2004. Makanan Ayam Broiler. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf, M. 2007. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta Rasyaf, M., 2012. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta PERPUSTAKAAN UMUKA


52 Rivai HR, Septika, Boestari A. 2013. Karakterisasi Ekstrak herbal Meniran (Phylanthus nirusi Linn) dengan Analisa Fluorensi. Jurnal Farmasi Higea 5(2): 15- 22. Saffar dan Khajali. 2010. Application of meal feeding and skip a day feeding with or without probiotics for broiler chickens grown at high-altitude to prevent ascites mortality. American J. Animal & Vet. Sci .5: 13 –19. Sagala, W. 2011. Analisis biaya pakan dan performa sapi potong local pada ransum hijauan tinggi yang disuplementasi ekstrak lerak (sapindusrarak). Skripsi Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Santoso, H., dan Sudaryani, T. 2009. Pembesaran Ayam Pedaging Hari Per Hari Di Kandang Panggung Terbuka. Penebar Swadaya. Jakarta Setyono, dan Ulfa, M. 2011. 7 Jurus Sukses Menjadi Peternak ayam Ras Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta Sholikhah, E. H. 2009. Efektivitas Campuran Meniran Pilatus niruri dan Bawang Putih Allium Sativum dalam pakan untuk mengendalikan infeksi bakteri aeromonas hydrophila pada ikan lele dumbo clarias sp. Skripsi. Fakultas Perikanan Dan Kelautan. Institute Pertanian Bogor. Siregar, A.P., dan Sabrani. 2005 .Teknik berternak ayam pedaging di indonesia. Merdie group, Jakarta. Siregar. D. J.S. 2017. Pemanfaatan Tepung Bawang Putih (Allium sativum L) Sebagai Feed Additif pada Pakan Terhadap Pertumbuhan Ayam Broiler. Jurnal Abdi Ilmu. 10(2) 1823-1828. SNI 8173, 2015. Pakan Ayam Ras Pedaging (Broiler). Badan Standar Nasional. ICS 65. 120. Soesanto, L. 2021. Dahsyatnya Meniran Hijau. Lily Publisher. Yogyakarta Suci, D.M. dan Hermana W. 2012. Pakan Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta Sutardi, S. (2016). Kandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan Dan Khasiatnya Untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 35(3) 121-130. Syifaiyah, 2008. Analisis Usaha Pemberian Ekstrak Pegagan Pada Ayam Broiler. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri Malang Tamalluddin, 2014. Panduan Lengkap Ayam Broiler. Penebar Swadaya. Jakarta. PERPUSTAKAAN UMUKA


53 Tamalluddin, F. 2012. Ayam Broiler 22 Hari Panen Lebih Untung. Penebar Swadaya. Jakarta. Tangendjaja, B. 2007.Inovasi Teknlogi Pangan Menuju Kemandirian Usaha Ternak Unggas. Balai penelitian Ternak .Bogor Tantolo, S. 2009. Perbandingan Performans Dua Strain Broiler yang Mengkonsumsi Air Kunyit. Fakultas Pertanian Jurusan Peternakan. Skripsi. Universitas Lampung. Tobing, V. 2005. Berternak Ayam Broiler Bebas Antibiotika Murah & Bebas Residu. Penebar Swadaya. Jakarta. Ustomo, E. 2017. 99% Gagal Berternak Ayam Broiler.Penebar Swadaya. Jakarta Uzer, F. N. Iriyanti dan Roesdiyanto. 2013. Penggunaan pakan fungsional dalam ransum terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ayam broiler. J. Ilmiah Peternakan. 1(1):282-288 Wahyu, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Widharto, D dan PM, L. R. 2020. Analisis Ekonomi Penggantian Pakan Komersial dengan Ampas Kecap Ekstrusi dan Ampas Kecap Fermentasi pada Pemeliharaan Ayam Pedaging. AGRIMOR, 5 (4) hal : 60-62. Widhyari, S.D. 2009. Efektifitas Pemberian Kombinasi Mineral Zink dan Herbal Sebagai Imunomodulator. Bogor: Jurnal llmu Pertanian Indonesia .Vol. 14 No.1, hlm. 30-14. Wijayanti, R. P. 2011. Pengaruh Suhu Kandang Yang Berbeda Terhadap Performans Ayam Pedaging Periode Starter. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang. Winarto, W.R. dan M. Surbakti. 2003. Khasiat dan Manfaat Pegagan. Agromedia Pustaka, Jakarta. Wardiny, T. M. Dan T. E. A. Sinar. 2013. Sumplementasi Jamu Ternak Pada Ayam Kampung di Peternakan Unggas Sektor 4. Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA III. Yahya, A. 2003. Pengaruh Penambahan Saccharomyces cerevisiae Dalam Ransum Terhadap Pertumbuhan Broiler. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. PERPUSTAKAAN UMUKA


54 LAMPIRAN Lampiran 1. Data bobot badan ayam broiler Perlakuan BB Awal (Umur 4 hari) BB Akhir (Umur 32 hari) Gain ADG T0 – 1 106 1511 1405 50,18 T0 – 2 117 1543 1426 50,93 T0 – 3 106 1562 1456 52,00 Rata – Rata 109,67 1538,67 1429,00 51,04 T1 – 1 113 1625 1512 54,00 T1 – 2 115 1544 1429 51,04 T1 – 3 108 1582 1474 52,64 Rata - Rata 112,00 1583,67 1471,67 52,56 T2 – 1 113 1590 1477 52,75 T2 – 2 112 1644 1532 54,71 T2 – 3 109 1519 1410 50,36 Rata - Rata 113,33 1584,33 1473,00 52,61 T3 – 1 109 1648 1539 54,96 T3 – 2 111 1604 1493 53,32 T3 – 3 114 1576 1462 52,21 Rata - Rata 111,33 1609,33 1498,00 53,50 PERPUSTAKAAN UMUKA


55 Lampiran 2. SPSS Homogenitas BB Awal (Umur 4 Hari) Descriptives BBAwal N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound T0 3 109.6667 6.35085 3.66667 93.8903 125.4431 106.00 117.00 T1 3 112.0000 3.60555 2.08167 103.0433 120.9567 108.00 115.00 T2 3 111.3333 2.08167 1.20185 106.1622 116.5045 109.00 113.00 T3 3 111.3333 2.51661 1.45297 105.0817 117.5849 109.00 114.00 Total 12 111.0833 3.52803 1.01845 108.8417 113.3249 106.00 117.00 ANOVA BBAwal Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups (Combined) 8.917 3 2.972 .186 .903 Linear Term Contrast 2.817 1 2.817 .176 .686 Deviation 6.100 2 3.050 .191 .830 Within Groups 128.000 8 16.000 Total 136.917 11 BBAwal Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 T0 3 109.6667 T2 3 111.3333 T3 3 111.3333 T1 3 112.0000 Sig. .519 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA


56 Lampiran 3. SPSS Pertambahan Bobot Badan Harian Ayam Broiler Descriptives ADG N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound T0 3 51.0367 .91468 .52809 48.7645 53.3088 50.18 52.00 T1 3 52.5600 1.48162 .85541 48.8795 56.2405 51.04 54.00 T2 3 52.6067 2.17854 1.25778 47.1949 58.0185 50.36 54.71 T3 3 53.4967 1.38349 .79876 50.0599 56.9334 52.21 54.96 Total 12 52.4250 1.61710 .46682 51.3975 53.4525 50.18 54.96 ANOVA ADG Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups (Combined) 9.381 3 3.127 1.291 .342 Linear Term Contrast 8.273 1 8.273 3.415 .102 Deviation 1.108 2 .554 .229 .801 Within Groups 19.384 8 2.423 Total 28.765 11 ADG Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 T0 3 51.0367 T1 3 52.5600 T2 3 52.6067 T3 3 53.4967 Sig. .107 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA


57 Lampiran 4. Rata-rata konsumsi pakan ayam broiler (g/ekor/hari) Perlakuan M-1 M-2 M-3 M-4 Jumlah Rata-rata konsumsi gr/ekor/hari pakan T0-1 36,14 66,86 98,64 146,5 348,14 87,04 T0-2 38,94 70,29 101,14 145,36 355,73 88,93 T0-3 37 65,43 100,79 144,58 347,80 86,95 Rata-Rata 37,36 67,53 100,19 145,48 350,56 87,64 T1-1 34,86 56,86 92,5 140,1 324,32 81,08 T1-2 34,43 69,57 102,5 121,58 328,08 82,02 T1-3 32,86 57,86 95,79 134,92 321,43 80,36 Rata-Rata 34,05 61,43 96,93 132,20 324,61 81,15 T2-1 35,86 62,11 95 134 326,97 81,74 T2-2 37,43 66,34 97 136,1 336,87 84,22 T2-3 36,1 65,26 97,21 135 333,57 83,39 Rata-Rata 36,46 64,57 96,40 135,03 332,47 83,12 T3-1 35,64 67,06 97,00 137,04 340,74 85,19 T3-2 35,00 65,40 96,38 139,58 336,36 84,09 T3-3 37,86 66,71 97,17 140,42 341,16 85,29 Rata-Rata 35,83 66,39 96,85 139,01 339,42 84,85 PERPUSTAKAAN UMUKA


58 Lampiran 5. SPSS Konsumsi Pakan Ayam Broiler Descriptives Konsumsi_Pakan N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound T0 3 87.6400 1.11808 .64552 84.8625 90.4175 86.95 88.93 T1 3 81.1533 .83243 .48060 79.0855 83.2212 80.36 82.02 T2 3 83.1167 1.26239 .72884 79.9807 86.2526 81.74 84.22 T3 3 84.8567 .66583 .38442 83.2026 86.5107 84.09 85.29 Total 12 84.1917 2.63061 .75939 82.5203 85.8631 80.36 88.93 ANOVA Konsumsi_Pakan Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups (Combined) 68.161 3 22.720 22.834 .000 Linear Term Contrast 6.118 1 6.118 6.149 .038 Deviation 62.043 2 31.021 31.177 .000 Within Groups 7.960 8 .995 Total 76.121 11 Konsumsi_Pakan Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 2 3 T1 3 81.1533 T2 3 83.1167 T3 3 84.8567 T0 3 87.6400 Sig. 1.000 .065 1.000 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA


59 Lampiran 6. Rata-rata konsumsi air minum ayam broiler (ml/ekor/hari) Perlakuan M-1 M-2 M-3 M-4 Jumlah Rata-rata konsumsi ml/ekor/hari air minum T0-1 119,49 174,06 293,54 471,46 1058,55 264,64 T0-2 107,37 177,51 298,46 481,25 1064,59 266,15 T0-3 119,6 177,2 311,23 452 1060,03 265,01 Rata-rata 115,49 176,26 301,08 468,24 1061,06 265,26 T1-1 116,77 163,94 279,49 475,42 1035,62 258,9 T1-2 104,09 166,2 295,51 381,17 946,97 236,74 T1-3 118,09 167,26 279,77 407,08 972,2 243,05 Rata-rata 112,98 165,80 284,92 421,22 984,93 246,23 T2-1 126,31 153,31 270,86 352 902,48 225,62 T2-2 115,66 166,43 289,46 413,13 984,68 246,17 T2-3 107,03 174,91 309,69 368,17 959,8 239,95 Rata-rata 116,33 164,88 290,00 377,77 948,99 237,25 T3-1 121,34 161,77 315,34 515,63 1114,08 278,52 T3-2 107,11 171,2 301,77 351 931,08 232,77 T3-3 121,66 191,23 315,63 453,67 1082,19 270,55 Rata-rata 116,70 174,73 310,91 440,10 1042,45 260,61 PERPUSTAKAAN UMUKA


60 Lampiran 7. SPSS Konsumsi Air Minum Descriptives minum N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound 1.00 3 265.26 .787 .454 263.31 267.22 2.00 3 246.23 11.417 6.591 217.86 274.59 3.00 3 237.24 10.538 6.084 211.06 263.42 4.00 3 260.61 24.440 14.110 199.90 321.32 Total 12 252.33 17.004 4.908 241.53 263.14 ANOVA minum Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups (Combined) 1502.063 3 500.688 2.386 .145 Linear Term Contrast 78.959 1 78.959 .376 .557 Deviation 1423.103 2 711.552 3.391 .086 Within Groups 1678.691 8 209.836 Total 3180.753 11 Minum Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 3.00 3 237.2467 2.00 3 246.2300 4.00 3 260.6133 1.00 3 265.2667 Sig. .057 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000. PERPUSTAKAAN UMUKA


61 Lampiran 8. Konversi Pakan Perlakuan Rata - Rata Konsumsi Pakan ADG (gr/ekor/hari) FCR T0-1 87,04 50,18 1,73 T0-2 88,93 50,93 1,75 T0-3 86,95 52,00 1,67 Rata-Rata 87,64 51,04 1,72 T1-1 81,08 54,00 1,50 T1-2 82,02 51,04 1,60 T1-3 80,36 52,64 1,53 Rata-Rata 81,15 52,56 1,54 T2-1 81,74 52,75 1,55 T2-2 84,22 54,71 1,54 T2-3 83,39 50,36 1,65 Rata-Rata 83,12 52,61 1,58 T3-1 85,19 54,96 1,55 T3-2 84,09 53,32 1,58 T3-3 85,29 52,21 1,63 Rata-Rata 84,86 53,50 1,59 PERPUSTAKAAN UMUKA


62 Lampiran 9. SPSS Konversi Pakan Descriptives FCR N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound T0 3 1.7167 .04163 .02404 1.6132 1.8201 1.67 1.75 T1 3 1.5467 .05686 .03283 1.4054 1.6879 1.50 1.61 T2 3 1.5833 .06658 .03844 1.4179 1.7487 1.54 1.66 T3 3 1.5867 .04041 .02333 1.4863 1.6871 1.55 1.63 Total 12 1.6083 .08089 .02335 1.5569 1.6597 1.50 1.75 ANOVA FCR Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups (Combined) .050 3 .017 6.030 .019 Linear Term Contrast .019 1 .019 6.789 .031 Deviation .031 2 .016 5.651 .030 Within Groups .022 8 .003 Total .072 11 FCR Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 2 T1 3 1.5467 T2 3 1.5833 T3 3 1.5867 T0 3 1.7167 Sig. .397 1.000 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA


63 Lampiran 10. Perhitungan FCG Perlakuan Konsumsi Pakan PBBH Konversi Pakan Biaya Pemeliharaan FCG (Rp) g/ekor/hari T-1 U-1 87,04 50,19 1,73 8560 14.808,8 U-2 88,93 50,91 1,75 8560 14.980 U-3 86,95 52 1,67 8560 14.295,2 Rata-Rata 87,64 51,03 1,72 8560 14.723,20 T-1 U-1 81,08 54,16 1,50 10.824,76 16.237,14 U-2 82,02 51,18 1,61 10.638,62 17.128,17 U-3 80,36 52,44 1,53 10.691,62 16.358,18 Rata-Rata 81,15 52,59 1,55 10.718,33 16.574,50 T-2 U-1 81,74 52,75 1,55 10.545,21 16.345,07 U-2 84,22 54,62 1,54 10.717,83 16.505,46 U-3 83,39 50,39 1,66 10.665,58 17.704,86 Rata-Rata 83,12 52,59 1,58 10.642,87 16.851,80 T-3 U-1 85,19 54,82 1,55 10.989,57 17.033,83 U-2 84,09 53,28 1,58 10.605,27 16.756,32 U-3 85,29 52,4 1,63 10.922,62 17.803,87 Rata-Rata 84,86 84,86 1,59 10.839,15 17.198,01 Lampiran 11. Perhitungan Penerimaan Perlakuan Bobot Badan Akhir Harga/gram Penerimaan T-0 U-1 1511 20.5 30.975,5 U-2 1543 20.5 31.631,5 U-3 1562 20.5 32.021,0 Rata-Rata 1538,67 20.5 31.5426,7 T-1 U-1 1625 20.5 33.312,5 U-2 1544 20.5 31.652,0 U-3 1582 20.5 32.431,0 Rata-Rata 1583,67 20.5 32.4651,7 T-2 U-1 1590 20.5 32.595,0 U-2 1644 20.5 33.702,0 U-3 1519 20.5 31.139,5 Rata-Rata 1584,33 20.5 32.4788,3 T-3 U-1 1648 20.5 33.784,0 U-2 1604 20.5 32.882,0 U-3 1576 20.5 32.308,0 Rata-Rata 1609,33 20.5 32.9913,3 PERPUSTAKAAN UMUKA


64 Lampiran 12. Analisis Total Feed Cost (Biaya Pakan) Perlakuan Ulangan Konsumsi Pakan Lama Pemeliharaan Harga Pakan Per gram (Rp) Biaya Pakan (Rp) T0 1 87,04 28 8,56 20.861,75 2 88,93 28 8,56 21.314,74 3 86,95 28 8,56 20.840,18 Rata-rata 87,64 28 8,56 21.005,56 T1 1 81,08 28 8,56 19.433,25 2 82,02 28 8,56 19.658,55 3 80,36 28 8,56 19.260,68 Rata-rata 81,15 28 8,56 19.450,83 T2 1 81,74 28 8,56 19.591,44 2 84,22 28 8,56 20.185,85 3 83,39 28 8,56 19.986,92 Rata-rata 83,12 28 8,56 19.921,4 T3 1 85,19 28 8,56 20.418,34 2 84,09 28 8,56 20.154,69 3 85,29 28 8,56 20.442,31 Rata-rata 84,86 28 8,56 20.338,45 Lampiran 13. Analisis Total Feed Cost (Biaya Ekstrak) Perlakuan Ulangan Konsumsi Air Minum Lama Pemeliharaan Dosis Harga ekstrak Per ml (Rp) Biaya Pembuatan Per ml (Rp) Biaya Ekstrak (Rp) T0 1 264,64 28 0 0 0 2 266,15 28 0 0 0 3 265,01 28 0 0 0 Rata-rata 265,26 28 0 0 0 T1 1 258,9 28 0,01 25 5 2.174,76 2 236,74 28 0,01 25 5 1.988,62 3 243,05 28 0,01 25 5 2.041,62 Rata-rata 246,23 28 0,01 25 5 2.068,33 T2 1 225,62 28 0,01 25 5 1.895,21 2 246,17 28 0,01 25 5 2.067,83 3 239,95 28 0,01 25 5 2.015,58 Rata-rata 237,25 28 0,01 25 5 1.992,87 T3 1 278,52 28 0,01 25 5 2.339,57 2 232,77 28 0,01 25 5 1.955,27 3 270,55 28 0,01 25 5 2.272,62 Rata-rata 260,61 28 0,01 25 5 2.189,15 PERPUSTAKAAN UMUKA


65 Lampiran 14. Analisis Total Feed Cost (Biaya Pakan + Ekstrak) Perlakuan Ulangan Biaya Pakan (Rp) Biaya Ekstrak (Rp) Biaya Pakan+ Ekstrak (Rp) T0 1 20.861,75 0 20.861,75 2 21.314,74 0 21.314,74 3 20.840,18 0 20.840,18 Rata-rata 21.005,56 0 21.005,56 T1 1 19.433,25 2.174,76 21.608,01 2 19.658,55 1.988,62 21.647,17 3 19.260,68 2.041,62 21.302,30 Rata-rata 19.450,83 2.068,33 21.519,16 T2 1 19.591,44 1.895,21 21.486,65 2 20.185,85 2.067,83 22.253,68 3 19.986,92 2.015,58 22.002,50 Rata-rata 19.921,40 1.992,87 21.914,28 3 1 20.418,34 2.339,57 22.014,90 2 20.154,69 1.955,27 22.613,29 3 20.442,31 2.272,62 22.954,61 Rata-rata 20.338,45 2.189,15 22.527,60 Lampiran 15. Income Over Feed Cost (IOFC) Perlakuan Ulangan Penerimaan (Rp) Biaya pakan (Rp) IOFC (Rp) Indeks IOFC T0 1 30.975,5 20.861,75 10.113,75 1,48 2 31.631,5 21.314,74 10.316,76 1,48 3 32.021,0 20.840,18 11.180,82 1,54 Jumlah 31.611,33 Rata-rata 10.537,11 1,50 T1 1 33.312,5 21.608,01 11.704,49 1,54 2 31.652,0 21.647,17 10.004,83 1,46 3 32.431,0 21.302,30 11.128,70 1,52 Jumlah 32.838,02 Rata-rata 10.946,01 1,51 T2 1 32.595,0 21.486,65 11.108,35 1,52 2 33.702,0 22.253,68 11.448,32 1,51 3 31.139,5 22.002,50 9.137,00 1,42 Jumlah 31.693,67 Rata-rata 10.564,56 1,48 T3 1 33.784,0 22.014,90 11.769,10 1,53 2 32.882,0 22.613,29 10.268,71 1,45 3 32.308,0 22.954,61 9.353,39 1,41 Jumlah 31.391,20 Rata-rata 10.463,73 1,47 PERPUSTAKAAN UMUKA


66 Lampiran 16. Suhu Kandang TANGGAL SUHU RATA-RATA PAGI SIANG MALAM 25-Mar-22 27,5 32,5 29 29,7 26-Mar-22 30,5 30,5 29 30,0 27-Mar-22 31 34 30 31,7 28-Mar-22 31 34,5 30 31,8 29-Mar-22 30,5 33,5 31 31,7 30-Mar-22 31 33 31,5 31,8 31-Mar-22 31 33 30 31,3 01-Apr-22 31 32 30 31,0 02-Apr-22 30 33 31 31,3 03-Apr-22 31 32 31 31,3 04-Apr-22 29 31 31 30,3 05-Apr-22 30 31 29 30,0 06-Apr-22 28 31 30 29,7 07-Apr-22 28 31 30 29,7 08-Apr-22 30 32 30 30,7 09-Apr-22 29 30 29 29,3 10-Apr-22 30 31 28 29,7 11-Apr-22 30 32 30 30,7 12-Apr-22 29 31 29 29,7 13-Apr-22 29 30 28 29,0 14-Apr-22 28 32 29 29,7 15-Apr-22 27 31 30 29,3 16-Apr-22 29 32 28 29,7 17-Apr-22 30 33 30 31,0 18-Apr-22 30 33 30 31,0 19-Apr-22 30 32 29 30,3 20-Apr-22 29 31 30 30,0 21-Apr-22 29 32 28 29,7 22-Apr-22 28 31 29 29,3 23-Apr-22 30 33 30 31,0 24-Apr-22 29 33 29 30,3 25-Apr-22 29 32 30 30,3 PERPUSTAKAAN UMUKA


67 RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Wonogiri pada 03 Maret 2000 putra pertama dari Bapak Puji Dwi Santoso dan Ibu Sutarni . Pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 2 Tirtomoyo dan tamat pada tahun 2012, Sekolah pendidikan pertama di SMP Negeri 1 Tirtomoyo dan tamat pada tahun 2015 serta pendidikan sekolah atas di SMA Negeri 02 Wonogiri dan tamat pada tahun 2018 dengan jurusan MIPA, kesemuanya diselesaikan di Kota Wonogiri Pada tahun 2020 penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Produksi Ternak Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan pada 29 Juni 2022 penulis mempertahankan Laporan Tugas Akhir (LTA) dengan judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Meniran (Phyllanthus Niruri L) Dan Pegagan (Centella asiatica) Dalam Air Minum Terhadap Nilai Ekonomi Pakan (Feed Cost Per Gain) Ayam Broiler”. PERPUSTAKAAN UMUKA


Click to View FlipBook Version