The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Karanganyar, 2024-02-04 23:17:10

Rofiyatus Adamiya_192089

Rofiyatus Adamiya_192089

Keywords: limbah cucian beras,efisiensi biaya produksi,ayam ras petelur

PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH CUCIAN BERAS (AIR LERI) DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PRODUKSI AYAM RAS PETELUR LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : ROFIYATUS ADAMIYA NMP. 192089 PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


ii PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH CUCIAN BERAS (AIR LERI) DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PRODUKSI AYAM RAS PETELUR Disusun Oleh ROFIYATUS ADAMIYA NPM . 192089 LAPORAN TUGAS AKHIR Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Ahli Madya Peternakan pada Program Studi Produksi Ternak Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR PERPUSTAKAAN UMUKA


iii 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA


iv SURAT PERNYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI LAPORAN TUGAS AKHIR Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Rofiyatus Adamiya NPM : 192089 Dengan ini menyatakan sebagai berikut : 1. Karya ilmiah yang berjudul : PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH CUCIAN BERAS (AIR LERI) DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PRODUKSI AYAM RAS PETELUR dan penelitian yang terkait dengan karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri. 2. Setiap ide dan kutipan dari orang lain berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam karya ilmiah ini telah diakui sesuai dengan stadar prosedur disiplin ilmu serta bukan merupakan tiruan ataupun plagiasi dari karya orang lain. 3. Saya juga mengakui karya ilmiah ini dapat dihasilkan berkat bimbingan dan dukungan penuh pembimbing saya yaitu : Ir. Lusia Risyani P. M, MP. Karanganyar, Juli 2022 Rofiyatus Adamiya PERPUSTAKAAN UMUKA


v PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH CUCIAN BERAS (AIR LERI) DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PRODUKSI AYAM RAS PETELUR Disusun Oleh ROFIYATUS ADAMIYA NPM. 192089 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Program Studi Produksi Ternak Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar Persetujuan Pembimbing Pembimbing PERPUSTAKAAN UMUKA


vi Ir. Lusia Risyani P. M, MP NIP. 19590202 198503 2 003 PERPUSTAKAAN UMUKA


vii PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH CUCIAN BERAS (AIR LERI) DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PRODUKSI AYAM RAS PETELUR Disusun Oleh ROFIYATUS ADAMIYA NPM. 192089 LAPORAN TUGAS AKHIR Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan Diterima untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan Pada Hari : Selasa Tanggal : 12 Juli 2022 Mengesahkan : Dekan, Drs. Sujalwo, M.kom. NIP. 2022.004 Dewan Penguji 1, Ir. Lusia Risyani P. M, MP NIP. 19590202 1985032 003 Dewan penguji 2 Ir. Puji Astuti, MP NIP. 19610524 198803 2 001 PERPUSTAKAAN UMUKA


viii Dewan Penguji 3 Drh. Heru Suripta NIP. 19601003 198901 1 001 PERPUSTAKAAN UMUKA


ix MOTTO “Bersusah – susah dahulu bersenang – senang kemudian” “seperti air yang tenang, tetapi menghanyutkan” “jangan kamu merasa lemah dan jangan bersedih, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”. (Q.S Ali Imran. 139.) PERPUSTAKAAN UMUKA


x PERSEMBAHAN Karya ini dipersembahkan, kepada : Ibu dan bapak yang tercinta. Kakak dan adikku tersayang, Keluarga besarku yang terbaik, FM 98 Ter The Best, Teman – teman seperjuanganku, Rekan –rekan seangkatanku, Almamater tercinta. PERPUSTAKAAN UMUKA


xi RINGKASAN Penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Limbah Cucian Beras (Air Leri) Dalam Pakan Terhadap Efisiensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur” bertujuan untuk mengetahui Efisiensi biaya produksi ayam ras petelur dengan pemberian limbah cucian beras dalam pakannya. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret sampai 26 April 2022. Materi penelitian yaitu Ayam ras Strain Lohman Brown umur 32 minggu sebanyak 27 ekor, dengan bobot rata-rata 1,82 kg, Kandang sistem batteray sebanyak 9 unit, timbangan digital merk DS-682 untuk menimbang pakan dan telur, dan limbah cucian beras. Perlakuan pertama (T0) ayam diberikan pakan tanpa air cucian beras, (T1) ayam diberi pakan basal dan 5% limbah cucian beras, (T2) Ayam diberi pakan basal dan 10% limbah cucian beras. Variabel yang diamati dalam penelitian ini berupa konsumsi pakan, konversi pakan, Feed cost per egg mass, dan Estimasi biaya produksi. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis variasi menggunakan program SPSS for w Biaya produksi Feed cost per egg mass dianalisa secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa pemberian air cucian beras dalam pakan menunjukkan hasil berbeda nyata terhadap konsumsi pakan (sig. 015) tetapi berbeda tidak nyata terhadap konversi pakan (Sig. 314), Feed cost per egg mass paling ekonomis ditunjukkan pada perlakuan T1 (5%) yaitu Rp. 14.194,68, dan estimasi biaya produksi penambahan air leri pada ransum ayam petelur memperoleh hasil biaya produksi paling rendah pada penambahan air leri 5% (T1) dengan total biaya Rp. 21.834,55. Kesimpulan : pemberian air leri berpengaruh sangat nyata terhadap konsumsi pakan dan tidak berpengaruh terhadap konversi pakan ayam ras petelur. Penggunaan air leri dengan level 5% menghasilkan efisiensi biaya produksi sebesar 4,72%, sedangkan penggunaan 10% menghasilkan efisiensi biaya produksi sebesar -5,58%. Kata Kunci : Limbah cucian beras, Efisiensi Biaya Produksi, Ayam Ras Petelur. PERPUSTAKAAN UMUKA


ix KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas Kasih dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan Laporan Tugas Akhir. Laporan Tugas Akhir ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan sebutan profesional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar. 2. Ketua program studi produksi ternak, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar. 3. Ir. Lusia Risyani P. M, MP. Selaku pembimbing, yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan, sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. 4. Kedua orangtuaku atas doa dan dukungannya baik materi maupun finansial. 5. Saudara dan teman-teman seperjuangan yang telah memberi bantuan baik moral maupun spiritual sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang. Akhirnya penulis harapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Karanganyar, Juli 2022 Penulis PERPUSTAKAAN UMUKA


x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................... i HALAMAN PENJELASAN .............................................................................. ii SURAT PERNYATAAN ................................................................................... iii HALAMAN PERSETUJUAN............................................................................ iv HALAMAN PENGESAHAN............................................................................. v MOTTO .............................................................................................................. vi PERSEMBAHAN............................................................................................... vii RINGKASAN.....................................................................................................viii KATA PENGANTAR ........................................................................................ ix DAFTAR ISI....................................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xiii BAB I. PENDAHULUAN.................................................................................. 1 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 3 A. Pengertian ayam................................................................................ 3 B. Limbah cucian beras ......................................................................... 4 C. Konsumsi pakan................................................................................ 6 D. Konversi pakan ................................................................................. 7 E. Feed cost per egg mass..................................................................... 8 F. Biaya produksi .................................................................................. 9 BAB III. MATERI DAN METODE PENELITIAN .......................................... 11 A. Materi ................................................................................................ 11 B. Metode .............................................................................................. 12 C. Parameter penelitian.......................................................................... 13 A. Prosedur penelitian............................................................................ 14 B. Desain penelitian............................................................................... 16 C. Teknik analisis data........................................................................... 17 PERPUSTAKAAN UMUKA


xi BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 18 A. Pengaruh perlakuan terhadap konsumsi pakan ................................. 18 B. Pengaruh perlakuan terhadap konversi pakan................................... 19 C. Feed cost per egg mass..................................................................... 20 D. Estimasi biaya produksi .................................................................... 21 BAB V. KESIMPULAN .................................................................................... 23 A. Kesimpulan ....................................................................................... 23 B. Saran.................................................................................................. 23 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 25 LAMPIRAN........................................................................................................ 26 PERPUSTAKAAN UMUKA


xii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Komposisi pakan super feed ........................................................................ 12 2. Rata – rata konsumsi pakan ayam ras petelur selama penelitian ................. 18 3. Konversi pakan ayam ras petelur................................................................. 19 4. Feed cost per egg mas.................................................................................. 20 PERPUSTAKAAN UMUKA


xiii DAFTAR LAMPIRAN Gambar Halaman 5. Lay out penempatan unit percobaan ............................................................ 16 PERPUSTAKAAN UMUKA


1 BAB I. PENDAHULUAN Salah satu sumber protein hewani yang terjangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia adalah telur konsumsi. Telur merupakan pangan sumber protein nabati yang sangat baik, karena selain kualitas gizi nya tinggi, juga mempunyai tingkat biologic value yang paling tinggi diantara sumber pangan hewani. Disatu sisi, semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka untuk kebutuhan akan telur pun meningkat, sehingga industri penggunggasan termasuk ayam petelur pun semakin berkembang. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2019, populasi ayam petelur mengalami peningkatan dari 161.364.000 ekor pada tahun 2016 meningkat sebanyak 60,4% dari tahun 2015 dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 1,19%. Untuk menjaga kesehatan ayam petelur diperlukan berbagi upaya prefentif, salah satu nya dengan memberikan berbagai obat termasuk antibiotik, yang tujuan nya adalah mencegah terjadi nya infeksi terhadap mikroorganisme patogen. Namun demikian penggunaan antibiotik selama ini dikhawatirkan akan berdampak negatif dalam jangka panjang, terutama bagi manusia yang menggkonsumsi produk peternakan seperti telur dan daging, hal ini disebabkan antibiotik dapat membunuh bakteri mikroba pencernaan yang menguntungkan, serta menyebabkan resistensi bagi ternak, maupun bagi konsumen produk hewan. Oleh sebab itu Pemerintah menetapkan pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promotor PERPUSTAKAAN UMUKA


2 (Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor 14/PERMENTAN/PK.350/5/2017 tentang klasifikasi obat hewan) Berkaitan hal tersebut diperlukan pengkajian suplemen alternatif yang aman. Suplemen pakan tersebut antara lain probiotik, prebiotik, sinbiotik, enzim, herbal (fitobiotik), asam organik dan antioksidan. Limbah cucian air beras merupakan hasil buangan yang berasal dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga) yang tidak memiliki nilai ekonomis lagi, air cucian beras mengandung banyak nutrisi yang terlarut didalamnyadiantaranya adalah 80% vitamin B1, 70% vitamin B3 , 90% vitamin B6, 50% mangan, 50% fosfor, 60% zat besi (Nurhasanah, 2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi biaya produksi ayam ras petelur dengan pemberian limbah cucian beras dalam pakan nya. Manfaat hasil penelitian adalah untuk memberikan informasi terhadap pemanfaatan limbah cucian beras terhadap efisiensi biaya pakan PERPUSTAKAAN UMUKA ayam ras petelur.


3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Ayam Ras Petelur Ayam ras petelur adalah ayam ras final stock yang dihasilkan dari ayam ras bibit parent stock (Rahayu et al., 2011). Ayam ras petelur merupakan jenis ayam yang memiliki laju pertumbuhan sangat pesat dan kemampuan berproduksi telur yang tinggi. Untuk produksi telur yang baik dibutuhkan pakan yang baik, pemeliharaan dan pencegahan penyakit yang baik. Ayam ras petelur sepanjang hidupnya terkurung sehingga segala kebutuhannya dipenuhi oleh manusia (Muhammad Rasyaf, 1985 : 72). Secara umumnya, ayam dapat di bedakan berdasarkan anatomi, morfologi dan klasifikasi menurut dari jurnal penelitian Rose, 2001 adalah sebagai berikut : Klasifikasi ayam Kingdom : Animalia Sub Kingdom : Metazoa Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata Devisi : Carinathae Kelas : Aves Ordo : Galliformes Family : Phasianidae Genus : Gallus PERPUSTAKAAN UMUKA


4 Spesies : Gallus gallus domestic asp. Jenis ayam petelur dibagi menjadi tipe ayam petelur ringan dan medium. Tipe ayam petelur ringan mempunyai badan yang ramping dan kecil, bulu berwarna putih bersih, dan berjengger merah, berasal dari galur murni white leghorn, dan mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Ayam petelur ringan sensitive terhadap cuaca panas dan keributan, responnya yaitu produksi akan menurun. Tipe ayam petelur medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat, tidak terlalu gemuk, kerabanlg telur berwarna coklat dan bersifat dwiguna (Bappernas 2010). B. Limbah Cucian Beras Limbah cucian air beras merupakan hasil buangan yang berasal dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga) yang tidak memiliki nilai ekonomis lagi, air cucian beras mengandung banyak nutrisi yang terlarut di dalamnya di antaranya adalah 80% vitamin B1, 70% vitamin B3 , 90% vitamin B6, 50% mangan, 50% fosfor, 60% zat besi (Nurhasanah, 2011) Air cucian beras telah banyak digunakan sebagai salah satu pupuk organik yang bisa memperbaiki unsur hara tanah dan bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas panen adalah limbah air cucian beras. Air cucian beras mempunyai banyak manfaat untuk tanaman, mudah diperoleh petani dan ramah lingkungan memiliki harga yang murah sehingga dapat terjangkau oleh petani (Abidin, 1990). Berdasarkan hasil penelitian Istiqomah (2012) bahwa air cucian beras berpengaruh terhadap PERPUSTAKAAN UMUKA


5 pertumbuhan tanaman tomat dan terong, konsentrasi air cucian beras yang digunakan yaitu 0.25 L , 0.5 L, 0.75 L, dan 1 L, konsentrasi 1 L atau 100% ml memberikan pengaruh yang paling efektif terhadap tinggi dan jumlah daun tanaman tomat dan terong. Menurut hasil penelitian Ariwibowo (2012) bahwa pemberian kulit telur dan air cucian beras berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Air cucian beras banyak mengandung vitamin B1 yang berasal dari kulit ari beras yang ikut hanyut dalam proses pencuciannya, dimana vitamin B1 merupakan unsur horman (fitohormon) dan hormone tersebut dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman. Air cucian beras Air cucian beras digadang-gadang mengandung banyak vitamin dan mineral yang berguna bagi kesehatan. Kandungan nutrisi dalam air cucian beras, yaitu asam amino, vitamin B dan E, mineral, serta zat antioksidan. Air cucian beras telah digunakan selama berabad-abad di negaranegara Asia untuk menjaga kulit tampak muda dan membantu rambut tumbuh sehat dan kuat. Air cucian beras mengandung vitamin dan mineral yang berguna bagi tubuh. Air cucian beras mengandung beragam vitamin dan mineral yang berguna bagi kesehatan, seperti seperti vitamin A, vitamin C, dan vitamin B1. Dalam air cucian beras juga terdapat asam amino, gammaoryzanol, dan sifat antioksidan. Selain mudah didapat dan murah, mudah cara pembuatannya, tidak mengakibatkan pencemaran lingkungan. Air limbah cucian beras mempunyai kandungan unsur hara P dan N yang cukup tinggi, yang PERPUSTAKAAN UMUKA


6 dibutuhkan tanaman. Saat ini sudah dimulai penelitian untuk memanfaatkan pupuk air limbah cucian beras pada tanaman hortikultura, yaitu tanaman hias anggrek dan sayur-sayuran, seperti bayam dan selada, yang secara umum hasilnya menyatakan bahwa pupuk air limbah cucian beras dapat menggantikan pupuk kimia, sehingga pupuk air limbah cucian beras mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan. Selain hal tersebut air cucian beras yang terbuang sia-sia ternyata masih bernilai ekonomis dan berpotensi mendatangkan keuntungan. C. Konsumsi Pakan Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dimakan ayam selama masa pemeliharaan. Konsumsi pakan merupakan hal terpenting, karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan baik untuk hidup pokok maupun untuk produksi (Yanti Mala, 2011). Sudaryani (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pakan terdiri dari: 1). Tingkat produksi, semakin tinggi produksi semakin banyak pula tuntutan zat-zat makanan yang harus dipenuhi guna 13 mengganti kekosongan akan zat-zat makanan yang hilang bersama telur, 2). Besar tubuh, pada umuKmnya semakin besar badan ternak akan semakin berat pula timbangan dan semakin banyak pula makanan yang diperlukan, 3). Iklim, merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pakan yang dihabiskan. PERPUSTAKAAN UMUKA


7 Konsumsi pakan dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu dapat menurunkan konsumsi pakan. Hal ini sesuai dengan Setyono dkk., (2013) yang mengatakan kenaikan suhu kandang dapat menyebabkan nafsu makan berkurang dan ayam akan mengonsumsi air lebih banyak untuk membantu menyesuaikan suhu tubuhnya. Rasyaf (2010) menyatakan bahwa dalam suhu lingkungan yang dingin menyebabkan ternak akan mengkonsumsi pakan lebih banyak yaitu antara 20 sampai 30 persen diatas konsumsi pakan pada lingkungan yang panas. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pada unggas adalah kandungan serat kasar dalam pakan, tingkat kualitas pakan dan palatabilitas atau cita rasa pakan (Ichwan, 2003). Pakan yang berkualitas baik, tingkat konsumsinya juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pakan yang berkualitas lebih rendah, ternak yang mempunyai sifat dan kapasitas konsumsi yang lebih tinggi, produksinya pun relatif akan lebih tinggi dibanding ternak dengan kapasitas atau sifat konsumsi yang rendah (Kartadisastra, 1994). Konsumsi ransum diukur setiap minggu berdasarkan jumlah ransum yang diberikan (g) pada awal minggu dikurangi dengan sisa ransum (g) pada akhir minggu, bila dibagi tujuh maka hasilnya jumlah konsumsi rata-rata perhari (Rasyaf, 2010). Menurut Scott dkk., (1982) konsumsi pakan ayam petelur dewasa tipe ringan pada umumnya 100 gram/ekor/hari, tipe medium sebesar 120-150 gram/ekor/hari dan tipe berat mengkonsumsi pakan diatas 150 gram/ekor/hari. PERPUSTAKAAN UMUKA


8 D. Konversi Pakan Salah satu cara untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas usaha peternakan adalah konversi pakan. Konversi pakan yang merupakan gambaran pemanfaatan pakan oleh ayam berupa perbandingan pakan yang dihabiskan dalam menghasilkan sejumlah telur. Konversi pakan merupakan perbandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur (Alex, 2012 dalam Jawirani, 2017). Nilai konversi pakan yang tinggi menunjukkan bahwa efesiensi produksi yang rendah karena lebih banyak pakan yang dimanfaatkan untuk memproduksi telur, begitupun sebaliknya. Rendahnya angka konversi ransum diharapkan akan meningkatkan keuntungan peternak. Konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bangsa ayam, kecepatan pertumbuhan, produksi telur, kandungan energi dan protein pakan, kesehatan ayam, temperatur lingkungan, ventilasi kandang dan kandungan amonia di dalam kandang (Sjofjan, 2003). Parameter terbaik untuk menilai mutu pakan adalah dengan melihat efisiensi penggunaan pakan tersebut. Konversi pakan sangat penting diperhatikan karena erat kaitannya dengan biaya produksi. Tinggi rendahnya nilai konversi bergantung keseimbangan nutrisi dalam pakan. Semakin rendah nilai konversi maka semakin efisien. E. Feed Cost Per Egg Nilai ekonomis pakan atau feed cost per egg adalah banyaknya biaya pakan yang di gunakan untuk membentuk 1 kg telur. Dengan melihat PERPUSTAKAAN UMUKA


9 konversi pakan dapat diperhitungkan nilai ekonomisnya sehingga diketahui seberapa jauh perlakuan tersebut dalam menekan biaya pakan. Menurut Murtidjo (1992) bahwa biaya pakan yang di keluarkan untuk ternak unggas komersial sekitar 65% dari biaya produksi. Nilai ekonomis pakan atau feed cost per egg dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya jumlah konsumsi pakan, efisiensi penggunaan pakan untuk dijadikan produk dan kompetisi ayam dalam mengambil pakan (Solikin, 2016). Penentuan besar kecilnya nilai feed cost per egg meliputi input yang dihitung hanya biaya ransum tanpa mengidentifikasi input yang lain begitupun dengan outputnya yang dihitung hanya penerimaan dari hasil penjualan produk ayam berupa telur (Indra, 2015). Nilai pendapatan usaha diperoleh dari perkalian antara hasil produksi peternakan dengan harga produksi, sedangkan biaya pakan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan kilogram produk ternak (Solikin, 2016). F. Biaya Produksi Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh produsen untuk memperoleh faktor produksi dan penunjang lainnya yang digunakan agar produk tertentu yang telah direncanakan dapat tercapai dengan baik (Hermanto, 1996). Biaya produksi peternakan ayam petelur merupakan komponen yang penting untuk menetapkan harga pokok yang nantinya akan digubnakan dalam penentuan harga jual. Pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur yaitu PERPUSTAKAAN UMUKA


10 60 – 70% dari total biaya produksi, sehingga peternak dituntut untuk menggunakan pakan yang murah dan berkualitas agar dapat memenuhi kebutuhan nutrien ternak, baik untuk pertumbuhan maupun produksi telur. G. Hipotesis Hipotesis penelitian ini adalah pemberian air cucian beras dalam pakan dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi ayam ras petelur. PERPUSTAKAAN UMUKA


11 III. MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul ”Pengaruh Pemberian Limbah Cucian Beras (Air Leri) Dalam Pakan Terhadap Efisisensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur” Dilaksanakan di UPT Jl. Ronggowarsito Bejen Karanganyar, selama 5 minggu pada tanggal 21 Maret 2022 sampai dengan 26 April 2022. Lokasi tersebut dipilih karena aksesnya dapat dicapai dengan cepat dan mudah, sehingga penelitian bisa dilakukan dengan lancar. A. Materi Materi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. Ayam ras strain Lohman umur 32 minggu sebanyak 27 ekor, dengan bobot badan rata-rata 1,82 kg. 2. Kandang siste batteray senbanyak 9 unit, dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Pemberian pakan dilakukan secara ad – libitum. 3. Pakan diberikan secara adlibitum, pakan yang diberikan adalah merk “Super Feed” yang diproduksi oleh CV. Royal Super Feed Sragen Jawa Tengah, dengan komposisi seperti pada tabel 1. PERPUSTAKAAN UMUKA


12 Tabel 1. Komposisi Pakan Super Feed Nutrien Kandungan Protein Kasar Min 18% ME / Energi 2800 Kkal/Kg Serat Kasar Max 5% Lemak Kasar Min 4% Kadar air 11-12 % ABU MAX 13,0 % Calium 3,7 – 4,0 % Phospor Min 0,6 % AVP Min 0,3 % Lysine Min 0,87 % Methionine MIN 0,44 % M+C MIN 0,74 % Sumber : CV. Royal Super Feed Sragen 4. Limbah Cucian Beras, diperoleh dengan cara : Mengumpulkan air cucian beras rumah tangga yang diperoleh dari pembersihan beras yang akan dimasak, kemudian diendapkan untuk memperoleh bahan padatan limbah cucian beras. 5. Peralatan dan perlengkapan penelitian : a. Ember sebanyak 9 buah untuk wadah pakan setiap unit percobaan. b. Botol spray untuk menyemprotkan air limbah cucian beras kedalam pakan. c. Nampan untuk alas saat mencampur pakan. d. Sendok makan untuk menakar jumlah air cucian limbah yang akan dicampurkan pada pakan. e. Timbangan digital merk DS-682 untuk menimbang pakan dan telur. PERPUSTAKAAN UMUKA


13 B. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode eksperimen, 27 ekor ayam dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, setiap perlakuan diulang 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 3 ekor ayam. Semua unit percobaan diberi pakan dan minum secara ad libitum. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian air limbah cucian beras yang disemprotkan ke pakan dengan level perlakuan sebagai beriku. T0 : Ayam diberi pakan basal, tanpa tambahan limbah cucian beras T1 : Ayam diberi pakan dengan tambahan 5% limbah cucian beras T2 : Ayam diberi pakan dengan tambahan 10% limbah cucian beras C. Parameter Penelitian Parameter yang diamati dalam penelitian ini berupa performans ayam petelur yang meliputi konsumsi pakan, produksi telur (%HDA), Berat telur rata-rata, Konversi pakan, Feed cost per egg, Estimasi biaya produksi. 1. Konsumsi pakan, diukur setiap minggu dengan cara menimbang pakan tersedia di awal dan menimbang sisa pakan di akhir periode mingguan, kemudian menghitung selisihnya. Konsumsi pakan : pakan tersedia−pakan tersisa jumlah hari x jumlah ekor (gram/ekor/hari) 2. Konversi pakan, hasil pembagian antara konsumsi pakan dan produksi telur (massa telur) dalam satuan waktu yang sama. Konversi pakan : Konsumsi pakan masa telur PERPUSTAKAAN UMUKA


14 3. Feed cost per egg mass diukur dari konversi pakan dikalikan harga pakan konversi pakan x harga pakan. Feed cost per egg mass : konversi pakan x harga pakan 4. Estimasi biaya produksi. Estimasi biaya produksi : 100 65 x feed cost per egg D. Prosedur Penelitian 1. Persiapan kandang Kandang yang digunakan berupa kandang batteray, setiap unit terdiri dari 3 sekat, masing-masing sekat berisi satu ekor, total jumlah kandang bateray 9 unit. Kemudian dilakukan pengacakan unit penelitian dan penempelan label untuk setiap unit penelitian. Lay out penempatan perlakuan dalam unit penelitian dapat dilihat pada ilustrasi 1. 2. Limbah Cucian Beras, diperoleh dengan cara : a. Mengumpulkan air cucian beras rumah tangga yang diperoleh dari pembersihan beras yang akan dimasak, kemudian diendapkan untuk memperoleh bahan padatan limbah cucian beras. b. Air cucian beras yang digunakan adalah cucian pertama (paling kental), dihasilkan dengan cara mencuci beras sebanyak 500 gram dengan air bersih sebanyak 300 mililiter, menghasilkan air cucian beras kental sebanyak 250 mililiter. PERPUSTAKAAN UMUKA


15 c. Air cucian beras kental diendapkan dalam kulkas selama 2 hari, menghasilkan endapan sebanyak 25 mililiter. Sehingga dari pembersihan 500 gram beras, diperoleh endapan air cucian beras kental sebanyak 25 mililiter endapan atau 5%. d. Endapan air cucian beras kental dibekukan dalam frezzer, sampai siap akan digunakan. Penggunaan endapan air cucian beras kental bertujuan untuk mempermudah aplikasi pemberian pada pakan ayam. 3. Aplikasi air cucian beras / leri Leri disemprotkan menggunakan sprayer kedalam pakan diatas nampan. 4. Pemberian Pakan dan Minum. Pemberian pakan dan minum dilakukan secara ad libitum, sehingga pakan dan minum akan selalu tersedia di tempat pakan setiap hari. Penimbangan pakan dilakukan setiap satu minggu sekali. Pakan yang sudah ditimbang kemudian disimpan di ember untuk persediaan selama satu minggu kedepan. Pemberian pakan dilakukan dua kali dalam satu hari, yaitu pagi pukul 07.00 WIB dan siang pukul 14.00 WIB. Sedangkan pengambilan dan penimbangan telur dilakukan setiap hari sekitar pukul 14.30 WIB. 5. Lay Out Materi Penelitian Penempatan materi penelitian dilakukan dengan pemberian nomor urut pada kandang masing – masing unit. Kemudian masing – masing PERPUSTAKAAN UMUKA


16 perlakuan diundi sesuai dengan nomor kandang tersebut dan ditempatkan secara acak. Hasil pengundian nomor kandang setiap perlakuan adalah sebagai berikut. T0.1 T2.2 T2.3 T1.3 T0.2 T1.2 T2.1 T0.3 T1.1 Gambar 1. Lay Out Penempatan Unit Percobaan. Keterangan : T0.1 : Perlakuan T0, ulangan 1 T0.2 : perlakuan T0, ulangan 2 T0.3 : Perlakuan T0, ulangan 3 T1.1 : perlakuan T1, ulangan 1 T1.2 : Perlakuan T1, ulangan 2 T1.3 : perlakuan T1, ulangan 3 T2.1 : Perlakuan T2, ulangan 1 T2.2 : perlakuan T2, ulangan 2 T2.3 : Perlakuan T2, ulangan 3 E. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Rancangan ini dipilih karena karakteristik obyek penelitian bersifat homogen ditinjau dari sisi ayam ras PERPUSTAKAAN UMUKA


17 petelur, bentuk dan jenis kandang serta kondisi geografis dimana eksperimen dilakukan. F. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistik SPSS for Windows Release 10.0. PERPUSTAKAAN UMUKA


18 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Limbah Cucian Beras Dalam PakanTerhadap Efisiensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur” telah dilaksanakan selama 5 minggu di UPT Jl. Ronggowarsito Bejen Kranganyar. Adapun hasil dan pembahasan penelitian yang meliputi konsumsi pakan, produksi telur (%HDA), Berat telur rata-rata, Konversi pakan, Feed cost per egg, Estimasi biaya produksi. Hasil dan pembahasan penelitian adalah sebagai berikut : A. Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Pakan Hasil penelitian terhadap konsumsi pakan ayam ras petelur dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Rata – rata konsumsi pakan selama penelitian (Gram/ekor/hari). Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 116,20 117,45 114,74 2 119,22 118,79 111,83 3 121,86 119,12 110,66 Rata-rata 119,09 118,45 112,41 Keterangan : Significant/Berbeda nyata (Sig. 015) Berdasarkan tabel 2, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa konsumsi pakan selama penelitian dengan penambahan limbah cucian beras atau leri ke dalam ransum memberikan hasil yang berbeda sangat nyata (Sig.015). Hal ini berarti bahwa pemberian ransum dengan tambahan limbah cucian beras dengan level sampai 10 % memberikan pengaruh sangat nyata terhadap konsumsi pakan. Pemberian leri berfungsi menghasilkan konsumsi pakan terendah. PERPUSTAKAAN UMUKA


19 Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa T0 dan T1 menghasilkan konsumsi pakan lebih tinggi dari pada T2. Dengan demikian dapat diketahui bahwa semakin sedikit pemberian limbah cucian beras akan semakin tinggi konsumsi pakan pada ayam. Menurut Afikasari et al. (2020) bahwa standar konsumsi pakan ayam petelur strain Lohman saat masa produksi berkisar antara 110 – 120 gram/ hari. Dalam penelitian pakan yang dikonsumsi berturut-turut T0, T1 dan T2 adalah 119,09 ; 118,45 dan 112,41 gram/ekor/hari yang secara statistik dapat dilihat pada (lampiran 2). Kandungan nutrisi yang ada dalam air cucian beras (leri) seperti vitamin B1, B3, dan B6 dapat meningkatkan nafsu makan pada ayam. Hal ini sesuai dengan manfaat yang terdapat di dalam vitamin tersebut yaitu dapat mengolah makanan menjadi energi. Konsumsi pakan akan meningkat apabila energi menurun, sebaliknya konsumsi pakan akan menurun apabila energi dalam pakan meningkat (Wahyu, 2004). B. Pengaruh Perlakuan Terhadap Konversi Pakan Pengaruh pemberian limbah cucian beras dalam pakan terhadap konversi pakan dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Konversi pakan ayam ras petelur. Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 2.16 2.17 2.18 2 2.44 2.14 2.61 3 2.38 2.35 2.6 Rata-rata 2.33 2.22 2.46 Keterangan : Non Significant/Berbeda tidak nyata (sig. 314). PERPUSTAKAAN UMUKA


20 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata konversi pakan perlakuan T0,T1 dan T2 secara berturut-turut yaitu 2,33; 2,22; 2,46. Hasil dari analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan pemberian air leri sampai level 10% selama penelitian berbeda tidak nyata (sig. 314) hal tersebut menunjukkan bahwa penambahan air cucian beras tidak mempengaruhi terhadap konversi pakan ayam ras petelur. Tidak seperti halnya pemberian air cucian beras terhadap konsumsi pakan pada penelitian ini menunjukkan pengaruh nyata, sehingga menyebabkan perbedaan nilai konversi pakan pula. Menurut Aggrodi (1994) bahwa konversi pakan dipengaruhi oleh kadar protein pakan, energi metabolis, besar tubuh, bangsa, tersedianya zat-zat makanan dan kesehatan ternak. Sedangakan dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi konversi pakan seperti umur ayam, berat badan dan bangsa ayam adalah sama, sehingga tidak berpengaruh pada konversi pakan. C. Feed Cost Per Egg Mass Hasil penelitian terhadap Feed cost per egg mass selama masa penelitian dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Feed cost per egg mass Perlakuan harga pakan (Rp) konversi pakan feed cost/egg mass (Rp) T0 6.700 2.33 15.611,00 T1 6.700 2.22 14.874,00 T2 6.700 2.46 16.482,00 Keterangan : Data Hasil Pengolahan Data. PERPUSTAKAAN UMUKA


21 Pada perlakuan T0 diperoleh Feed cost per egg mass atau biaya pakan per kilogram telur adalah Rp. 15.611,00. Pemberian pakan dengan tambahan 5% air cucian beras (T1) untuk menghasilkan 1 kg telur dibutuhkan biaya pakan sebesar Rp. 14.874,00. Sedangkan untuk pemberian pakan dengan tambahan 10% air cucian beras (T2) untuk biaya pakan dibutuhkan biaya sebesar Rp. 16.482,00. Pemberian air cucian beras dalam level 0%, 5%, dan 10% menghasilkan hasil yang sama, akan tetapi dari segi biaya pakan dalam menghasilkan 1 kg telur perlakuan yang paling ekonomis ditunjukkan pada perlakuan T1 (5%) Rp. 14.874,00. Karena memperoleh konversi pakan yang rendah, dengan harga pakan yang lebih rendah dari pada kontrol. Perlakuan T1 memperoleh efisiensi biaya pakan sebesar 4,72%, sedangkan perlakuan T2 mendapatkan efisiensi biaya pakan negatif, yaitu sebesar - 5,58% dibandingkan kontrol. (lampiran 3) D. Estimasi Biaya Produksi Berdasarkan Feed cost per egg mass penelitian didapatkan data estimasi biaya produksi air cucian beras sebagai berikut : Estimasi biaya produksi dengan rumus : 100 65 Feed Cost Per Egg (Rp.) Maka : T0 = 100 x Rp. 15.611,00 65 = Rp. 24.016,92. T1 = 100 x Rp. 14.874,00 PERPUSTAKAAN UMUKA


22 65 = Rp. 22.883,08 T2 = 100 x Rp. 16.482,00 65 = Rp. 25.356,93. Berdasarkan hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa penambahan air cucian beras pada ransum ayam ras petelur memperoleh hasil biaya produksi paling rendah pada level penambahan air cucian beras 5% yakni (T1) dengan total biaya Rp. 22.883,08. Biaya tersebut lebih rendah dari pemberian 10% yakni (T2) dengan total biaya Rp. 25.356,93, sedangkan harga normal adalah T0 atau kontrol, yaitu Rp. 24.016,92. PERPUSTAKAAN UMUKA


23 BAB V. KESIMPULAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan terhadap semua variabel penelitian ini maka dapat di tarik kesimpulan bahwa : 1. Pemberian air cucian beras dalam pakan sampai level 10% berpengaruh terhadap Konsumsi Pakan. Sedangkan Konversi Pakan tidak dipengaruhi. 2. Penggunaan air cucian beras dengan level 5%menghasilkan feed cost per egg mass paling rendah yaitu sebesar Rp.14.874,00 dan estimasi total cost yang paling rendah pula, yaitu Rp. 22.883,08. 3. Efisiensi biaya pakan pada pemberian 5 % Rp. 14.874,00 adalah sebesar 4,72 %. 4. Estimasi biaya produksi dengan pemberian 5% air cucian beras adalah (Rp. 22.883,08) sedangkan pemberian 10% air cucian beras memperoleh efisiensi biaya yang lebih rendah (Rp. 25.456,93) B. Saran 1. Dapat dilakukan penelitian berkelanjutan dengan penambahan jumlah pemberian limbah cucian beras pada ransum ayam ras petelur. 2. Pemberian limbah cucian beras level 5% dapat digunakan oleh para peternak ayam ras petelur, karena dapat menurunkan biaya produksi. PERPUSTAKAAN UMUKA


24 DAFTAR PUSTAKA Abidin Z, Sumarna A, Subhan, Veggal KV. 1990. Pengaruh cara penanaman, jumlah bibit, dan aplikasi nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil kangkung darat pada tanah Latosol. Penelitian Hortikultura. 19 (3):14-26. Al Nasser, A., A. Al Saffar, M. Mashaly, H. Al Khalaifa, F. Khalil, M. Al Baho, dan A. Al Haddad. 2005. A comparative study on producti onefficiency of brown and white pullet. Bulletinof Kuwait Institute for Scientific Research 1 (1): 1 – 4. Andrianto, H. 2007. Pengaruh air cucian beras pada Adenium. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhamadiyah Surakarta. Abstrak. . Diakses tanggal 27 Mei 2011 Ariwibowo F. 2012. Pemanfaatan kulit telor ayam dan air cucian beras pada pertumbuhan tanaman tomat (SolonumLycopercium) dengan media tanam hidroponik. Skripsi S-1 Program Biologi. Surakarta. Universitas Muhammadiah Surakarta Bappenas, 2010. Ayam Ras. Kanisius, Yogyakarta. Bukhari, 2013. Pengaruh pemberian pupuk organic dan air cucian beras terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung (SolanumMelongena L.). Nama penelitian pupuk organik 3(1):1-8 Ichwan. 2003. Membuat Pakan Ras Pedaging. Agro Media Putaka. Tangerang. Istiqomah N. 2012. Efektivitas pemberian air cucian beras coklat terhadap produktivitas tanaman kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) pada lahan rawa lebak. JurnalZiraa’ah. 1(33):99-108. Kartadisastra, H. R. 1994. Pengelolaan Pakan Ayam. Kanisius. Yogyakarta. Leonardo, M. 2009. Pengaruh Konsentrasi Air Cucian Beras terhadap Pertumbuhan Tanaman Tomat dan Terong. Diakses tanggal 4 Maret 2011. Murtidjo, B. A. 1992. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius, Yogyakarta. Nurhsanah, (2011). Kandungan Air Cucian Beras. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Rasyaf. M. 2003. Panduan Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta. Rasyaf, H 2010. Produksi dan Pemberian Ransum Unggas. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. PERPUSTAKAAN UMUKA


25 Risyani. Lusia, PM. 2021. Pengaruh Pemberian Pakan Herbal Fermentasi Dalam Ransum Terhadap Produksi dan Kualitas Telur Ayam Ras. Laporan Penelitian. Akademi Peternakan Karanganyar. Karanganyar. Scott. M. L., M. C, Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrions of the Chickens Second Ed. M. L. Scott and Asociates Ithaca. New York. Setyono, D. J. dkk. 2013. Sukses Meningkatkan Produksi Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta. Sjofjan, O. 2003. Kajian ProbiotikAB (Apergilus niger dan Bacillus sp) sebagai Imbuhan Ransum dan Implikasi Efeknya Terhadap Mikroflora Usus Serta Penampilan Produksi Ayam Petelur. Disertasi. Universitas Padjajaran. Bandung. Solikin, T. 2016. Bobot Akhir, Bobot Karkas dan Income Over Feed and Chick Cost Ayam Sentul Barokah Abadi Farm Ciamis. Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran, Bandung. Sudaryani. T. 2000. Kualitas telur. Cetakan ke-4. Penebar Swadaya. Jakarta. Wardiah L, Hafnati R. 2014. Potensi limbah air cucian beras sebagai pupuk organik cair pada pertumbuhan pakchoy (Brassica Rapa L.).Jurnal Biologi. 1(6):34- 38. Wahyu, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Yanti Mala, Dewi. 2011. Pengaruh Pemberian Tepung Kaki Ayam Broiler Sebagai Subtitusi Tepung Ikan di dalam Ransum Terhadap Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Konversi Pakan Ayam Arab (Gallus turcicus). PERPUSTAKAAN UMUKA Unversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang.


Click to View FlipBook Version