PENGARUH TEPUNG KUNYIT (Curcuma domesticaa) DAN JAHE (Zingiber officinale van rubrum) SEBAGAI IMBUHAN PAKAN TERHADAP VOLUME PUTIH TELUR, VOLUME KUNING TELUR DAN TEBAL KERABANG TELUR PADA AYAM RAS LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH : TRI EFENDI 192112 FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK UNIVERSITAS MUHAMMADIAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
PENGARUH TEPUNG KUNYIT (Curcuma domesticaa) DAN JAHE(Zingiber officinale van rubrum) SEBAGAI IMBUHAN PAKAN TERHADAP VOLUME PUTIH TELUR, VOLUME KUNING TELUR DAN TEBAL KERABANG TELUR PADA AYAM RAS Disusun Oleh : TRIEFENDI NPM. 192112 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiah Karanganyar FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK UNIVERSITAS MUHAMMADIAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
SURAT PERTANYATAAN KEASLIAN DAN BEBAS PLAGIASI LAPORAN TUGAS AKHIR Saya yang bertanda tangan di bahwa ini Nama : Tri Efendi NPM : 192112 Dengan ini menyatakan sebagai berikut : Karya ilmiah yang berjudul Pengaruh Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber offinale van rubrum) Sebagai Imbuhan Pakan Terhadap Voleme Putih Telur, Volume Kuning Telur dan Tebal Kerabang Telur Pada Ayam Ras 1. Penelitian yang terkait dengan karya ilmiah ini adalah hasil kerja karya sendiri. 2. Setiap ide dan kutipan dari orang lain berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam karya ilmiah ini telah diakui sesuai dengan standar prosedur displin ilmu serta bukan merupakan tiruan ataupun plagiasi dari karya orang lain. 3. Saya juga mengakui karya ilmiah ini dapat dihasilkan berkat bimbingan dan dukungan penuh pembimbingan saya yaitu : Desna Ayu Wijyanti, S.Pt,M.Pt, Karanganyar, 13 Juli 2022 Penulis Tri Efendi PERPUSTAKAAN UMUKA
PENGARUH TEPUNG KUNYIT (Curcuma domesticaa) DAN JAHE (Zingiber officinale van rubrum) SEBAGAI IMBUHAN PAKAN TERHADAP VOLUME PUTIH TELUR, VOLUME KUNING TELUR DAN TEBAL KERABANG TELUR PADA AYAM RAS Disusun Oleh Tri Efendi NPM. 192112 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiah Karanganyar Persetujuan Pembimbing Pembimbing Desna Ayu Wijayanti, S.Pt, M.Pt, NIDN.0614129401 PERPUSTAKAAN UMUKA
MOTO Belajar dari sebuah kesalahan, awal merubah masa depan PERPUSTAKAAN UMUKA
PERSEMBAHAN Karya ini dipersembahkan kepada : Tuhan Yang Maha Esa ”Allah SWT’’ Bapak dan Ibu tercinta Sahabat-sahabatku tercinta Rekan seangkatan Dan almamater tercinta PERPUSTAKAAN UMUKA
i PENGARUH TEPUNG KUNYIT (Curcuma domestica) DAN JAHE(Zingiber officinale van rubrum) SEBAGAI IMBUHAN PAKAN TERHADAP VOLUME PUTIH TELUR, VOLUME KUNING TELUR DAN TEBAL KERABANG TELUR PADA AYAM RAS Disusun Oleh TRI EFENDI NPM. 192112 LAPORAN TUGAS AKHIR Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiah Karanganyar dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan Pada Hari : Tanggal : Mengesahkan : Dekan Drs. Sujalwo, M. Kom NIK. 2022.004 Dewan Penguji 1. Desna Ayu Wijayanti, S.Pt, M.Pt, NIDN. 0614129401 2. Drh. Heru Suripta, Mp NIP. 1960110031989011001 3. Ardian Ozzy Wijayant, S.Pt, M.Pt, M.Si NIDN. 0610099301 PERPUSTAKAAN UMUKA
ii RINGKASAN Penelitian dengan judul “Pengaruh Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai Imbuhan Pakan Terhadap Voleme Putih Telur, Volume Kuning Telur dan Tebal Kerabang Telur Ayam Ras” bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung kunyit dan tepung jahe pada pakan terhadap kualitas telur ayam ras. Materi yang digunakan penelitian yaitu ayam ras petelur dengan strain Lohman Brown dengan umur 49 minggu dengan rata - rata bobot badan awal sebesar 1,8 kg/ekor sebanyak 60 ekor ayam. Penelitian ini menggunakan 60 ekor ayam yang dibagi menjadi 4 perlakuan, setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan, sedangkan masing masing ulangan terdiri dari 5 ekor ayam. Perlakuan P0 : pakan basal tanpa diberi tepung kunyit dan jahe ; P1 : pakan basasl diberi tepung jahe dan kunyit sebanyak 1% ; P2 : pakan basal diberi dengan tepung kunyit dan tepung jahe sebanyak 2% ; P3 : pakan basal diberi tepung kunyit dan jahe sebanyak 3%;. Pemberian air minum diberikan secara adlibitum. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah kualitas telur meliputi volume putih telur, volume kuning telur dan tebal kerabang telur. Metode yang digunakan adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh diuji dalam SPSS. Hasil analisis statistik menunjukan penambahan tepung kunyit dan tepung jahe dalam ransum menunjukan hasil berbeda tidak nyata tehadap volume putih telur, volume kuning telur, dan tebal kerabang. Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung kunyit dan jahe sebagai tambahan dalam pakan sampai level 3 % tidak memberikan pengaruh terhadap kualitas telur melipti volume putih telur, volume kuning telur dan tebal kerebang telur ayam ras Kata kunci : Ayam petelur, jahe, kunyit, tebal kerabang, volume kuning PERPUSTAKAAN UMUKA telur, volume putih telur
iii KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melimpahkan Rahmat-Nya, sehingga penyusunan Laporan Tugas Akhir dengan judul “Pengaruh Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber offinale van rubrum) Terhadap Voleme Putih Telur, Kuning Telur dan Tebal Kerabang Pada Ayam Ras” dapat diselesaikan. Laporan Tugas Akhir ini ditulis untuk memenuhi sebagaian persyaratan mendapatakan sebutan profesional Ahli Madya Peternakan pada Muhammadiah Karanganyar. Pada kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat : 1. Dekan Universitas Muhammadyah Karanganyar, yang telah menyetujui atas permohonan penulisan Laporan Tugas Akhir. 2. Desna Ayu Wijayanti, S.Pt, M.Pt sebagai pembimbing, yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan, sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. 3. Orang tua yang telah meberikan dukungan sepenuhnya kepada penulis selama penulisan Laporan Tugas Akhir 4. Rekan satu kelompok atas kerjasamanya, serta semua pihak yang telah membantu dan melaksanakan tugas akhir. Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun penulis harapkan untuk kesempurnaannya semoga, Laporan Tugas Akhir ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu peternakan pada khususnya. Karanganyar, 13 Juli 2022 Tri Efendi PERPUSTAKAAN UMUKA
iv DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN ..................................................................................................... ii KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii DAFTAR ISI...................................................................................................... iv DAFTAR TABEL.............................................................................................. vi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vii DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... viii I. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1 A. Latar Belakang........................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................. 3 C. Tujuan Penelitian.................................................................................... 4 D. Manfaat Penelitian.................................................................................. 4 II. TINJAUAN PUSTAKA................................................................................ 5 A. Ayam Petelur.......................................................................................... 5 B. Pakan ...................................................................................................... 7 C. Kunyit (Curcuma domestica) ................................................................. 9 D. Jahe merah (Zingiber officenale van rubrun)....................................... 11 E. Volume Putih Telur.............................................................................. 14 F. Volume Kuning Telur........................................................................... 14 G. Kerabang Telur..................................................................................... 15 H. Hipotesis............................................................................................... 16 III. MATERI DAN METODE......................................................................... 17 A. Materi Penelitian ......................................................................................... 17 B. Metode ........................................................................................................ 18 C. Variabel Peneletian..................................................................................... 19 PERPUSTAKAAN UMUKA
v D. Prosedur Peneletian .................................................................................... 19 E. Analasis Data .............................................................................................. 21 IV. PEMBAHASAN........................................................................................ 22 A. Volume Putih Telur..................................................................................... 22 B. Volume Kuning Telur................................................................................. 24 C. Tebal Kerabang............................................................................................ 26 V. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................... 29 A. Kesimpulan.................................................................................................. 29 B. Saran ............................................................................................................ 29 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 30 PERPUSTAKAAN UMUKA
vi DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Karakteristik Produksi Ayam ...................................................................... 5 2. Kebutuhan Nutrisi Ayam Ras Petelur.......................................................... 7 3. Rata – rata Konsumsi Pakan Strain Ayam Ras Petelur................................ 8 4. Nutrisi Pakan Basal...................................................................................... 16 5. Rata – rata Volume Putih Telur ................................................................... 22 6. Rata – rata Volume Kuning Telur................................................................ 25 7. Rata – rata Tebal Kerabang ......................................................................... 26 PERPUSTAKAAN UMUKA
vii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kunyit........................................................................................................... 10 2. Jahe............................................................................................................... 12 3. Proses Pembuatan Tepung Jahe dan Kunyit ................................................ 19 4. . Lay Out Kandang ....................................................................................... 20 PERPUSTAKAAN UMUKA
viii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Volume putih telur dan uji setatistik ............................................................ 33 2. Rata – rata Volume Kuning Telur dan Uji Statistik..................................... 34 3. Rata – rata Tebal Kerabang dan uji Statsistik .............................................. 35 4. Berat Telur ................................................................................................... 36 5. Data Konsumsi Pakan .................................................................................. 37 6. Prose Pembuatan Tepung............................................................................. 38 7. Tepung Kunyit dan Jahe............................................................................... 39 6. Riwayat Hidup ............................................................................................. 40 PERPUSTAKAAN UMUKA
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ayam petelur merupakan salah satu ternak unggas yang dapat menghasilkan telur konsumsi dan sudah begitu populer disemua kalangan masyarakat. Telur ayam tersebut merupakan salah satu sebagai sumber protein hewani dan hampir semua lapisan masyarakat juga mengkonsumsi, dan untuk mendapatkan hasil yang baik maka perlu diperhatikan beberapa faktor diantaranya bibit, manajemen, dan pakan. ketiga faktor tersebut harus diperhatikan dan dijalankan sesuai ketentuan agar dapat memproduksi dengan optimal. Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi produktivitas telur ayam ras adalah pemberian ransum yang berkualitas, serta dilakukannya upaya alternatif untuk meningkatkan produksi telur tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh peternak untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan pakan adalah dengan cara menambahkan feed additive dalam pakan. Salah satu fungsi feed additive adalah untuk meningkatkan produktivitas. Kunyit dan jahe merupakan tanaman tradisional yang memiliki sifat antimikroba dan aman digunakan pada ternak karena tidak meninggalkan residu yang merugikan sehingga sangat potensial digunakan sebagai feed additive pada unggas, khususnya ayam petelur. Kunyit mengandung zat aktif kurkumin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, sedangkan jahe dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah koksidiosis dan CRD (Chronic Respiratory Disease) (Sukamto, 2005; Bintang dan Nataamidjaya, 2003; PERPUSTAKAAN UMUKA
2 Iskandar dan Husein, 2003). Sebagai catatan, penurunan produksi dan kualitas telur dari ayam petelur seringkali disebabkan oleh penyakit karena ayam petelur sangat resisten untuk terjangkit. Berdasarkan manfaat yang terdapat di dalamnya, diharapkan penambahan jahe, kunyit, maupun kombinasi keduanya dalam ransum dapat berperan dalam mengoptimalkan fungsi organ tubuh, terutama organ pencernaan dan reproduksi, sehingga produktivitas dan kualitas produksi ayam petelur dapat meningkat, tanpa memberikan dampak yang negatif. Kunyit mengandung zat aktif kurkumin yang dapat berfungsi sebagai antibakteri, sedangkan jahe dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah koksidiosis dan CRD (Chronic Respiratory Disease) (Sukamto, 2005; Bintang dan Nataamidjaya, 2003; Iskandar dan Husein, 2003). Sebagai catatan, penurunan produksi dan kualitas telur dari ayam petelur seringkali disebabkan oleh penyakit karena ayam petelur sangat resisten untuk terjangkit. Rondonuwu et al. (2014) yang menyatakan bahwa fungsi tanaman herbal kunyit dalam meningkatkan kerja organ pencernaan unggas adalah merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase, dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Tambahan dari Rahmat dan Kusnadi (2008) menyatakan bahwa senyawa aktif pada kunyit memiliki sifat salah satunya adalah sebagai antioksidan pada ternak sehingga mampu mengatasi atau mengurangi stres oksidatif, akibatnya gangguan terhadap PERPUSTAKAAN UMUKA
3 sintesis karbohidrat, protein dan lemak dapat dilakukan dengan baik sehingga kandungan nutrisi akan lebih tinggi dan telur pun akan semakin berat . jahe merah mampu menurunkan penyerapan lemak sehingga vitamin D yang larut dalam lemak tidak terserap sempurna dalam pembentukan tebal cangkang telur. Sejalan dengan Herawati dan Marjuki (2011). Kandungan minyak atsirih pada jahe mampu meningkatkan ketebalan kerabang sesuai pendapat (Nobakht dan Moghaddam, 2013; Abbas, 2013) tanaman yang mengandung senyawa bioaktif, seperti minyak atsiri, flavonoid, dan karotenoid, mempengaruhi haugh unit dan ketebalan cangkang secara positif. Berdasarkan manfaat dan potensi yang dimiliki kunyit, dan jahe, perlu diteliti manfaatnya pada ayam, untuk diketahui pengaruhnya terhadap kualitas telur ayam ras dan tingkat produktivitas ayam tanpa meninggalkan dampak negatif. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengaruh pemberian tepung kunyit dan jahe terhadap volume putih telur ? 2. Bagaimana pengaruh pemberian tepung kunyit dan jahe dapat mempemgaruhi volume kuning telur ? 3. Bagaimana pengaruh penambahan tepung kunyit dan jahe terhadap tebal kerabang telur ayam ras ? PERPUSTAKAAN UMUKA
4 C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui pengaruh penambahan tepung kunyit dalam pakan terhadap volume putih telur dan volume kuning telur ayam ras 2. Mengetahui pengaruh penambahaan tepung kunyit dan jahe terhadap kualitas tebal kerabang D. Manfaat Penelitian Sebagai bahan informasi mengenai pemanfaatan bahan-bahan aktif yang terdapat dalam tepung kunyit dan tepung jahe sehubungan dengan penggunaannya untuk memproduksi telur yang mengandung komponen yang dapat menunjang kondisi kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsinya sehingga dapat menambah nilai manfaat dari telur selain sebagai sumber protein PERPUSTAKAAN UMUKA
5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Petelur Hampir semua orang pasti telah mengenal telur ayam ras. Selain karena rasanya yang lezat dan bergizi tinggi, telur ayam ras juga termasuk salah satu sumber protein hewani dengan harga yang relatif terjangkau oleh masyarakat luas, disukai oleh konsumen segala umur, tersedia dalam jumlah yang cukup, dan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, serta penyebarannya menjangkau seluruh wilayah indonesia. Tidak heran jika permintaan terhadap telur ayam ras cenderung meningkat setiap tahunnya. Karena hal tersebut perkembangan mutu genetik ayam ras petelur dari tahun ke tahun terus berkembang dengan cukup nyata. Para ahli memiliki catatan individu ayam hasil persilangan antar-bibit dan dijadikan dasar untuk membentuk strain ayam yang sesuai dengan tujuan performa yang diinginkan. Sebelum ada proses perbaikan genetik, ayam hanya memproduksi 100 butir telur selama satu siklus hidupnya. Setelah adanya proses perbaikan mutu genetik ayam sejak tahun 1990, satu ekor ayam mampu memproduksi telur lebih dari 250 butir (Fadillah dan Fatkhuroji 2013). Saat ini strain ayam petelur yang banyak dipelihara adalah Isa Brown, Hisex Brown dan Lohman Brown, Hyline Brown. Rata – rata tiap ekor ayam ras petelur dapat bertelur sebanyak 300 – 310 butir. Tabel 1 berikut ini menunjukkan karakteristik produksi ayam ras petelur dari beberapa macam strain, menurut Fadillah dan Fatkhuroji (2013). PERPUSTAKAAN UMUKA
6 Tabel 1. Karakteristik Produksi Ayam (umur 21 – 30 minggu) Strain Hen Day Egg Berat Telur Massa Telur % g/butir g/ekor/hari Hy-Line Brown Isa White Hisex Brown Lohman Brown Isa Brown 88,4 88,4 91,7 88,81 90,22 57,88 54,73 55,71 57,73 58,25 48,76 50,94 51,18 52,74 Sumber: Fadilah dan Fatkhuroji (2013) Menurut Fadilah dan Fatkhuroji (2013) secara garis besar ayam ras petelur yang tersebar di seluruh dunia terdiri atas dua jenis, yaitu ayam ras petelur yang menghasilkan telur dengan kerabang berwarna putih (white shell) atau disebut juga dengan telur putih dan telur dengan kerabang berwarna putih (brown shell) atau disebut dengan telur cokelat. Ayam ras petelur coklat sama baiknya dengan produksi telur ayam ras petelur putih. Ukuran telur coklat lebih besar dibandingkan dengan telur putih, tetapi ketebalan kerabangnya lebih tipis dibandingkan dengan telur putih. Perbedaan antara ayam ras petelur putih dan ayam ras petelur coklat dari segi ukuran tubuh ayam ras petelur cokelat mempunyai ukuran tubuh lebih besar sekitar 30 – 50% dibandingkan dengan ayam ras petelur putih. Perbedaan dari segi pakan karena ayam ras petelur cokelat ukuran tubuhnya lebih besar, maka tingkat konsumsi pakan lebih banyak dibandingkan dengan ayam ras petelur putih. Karena itu biaya untuk menghasilkan satu kilogram telur cokelat PERPUSTAKAAN UMUKA
7 lebih mahal dibandingkan dengan biaya untuk menghasilkan satu kilogram telur putih. B. Pakan Ayam petelur membutuhkan sejumlah unsur gizi untuk hidupnya, misalnya bernapas, peredaran darah, dan bergerak. Disamping itu, unsur gizi juga dibutuhkan untuk produksi telur. Kebutuhan yang pertama itu disebut dengan kebutuhan untuk hidup pokok, sedangkan yang kedua untuk produksi. Sudah tentu untuk kebutuhan hidup pokok yang utama sebab tanpa terpenuhi kebutuhan untuk hidup pokok, maut sudah diambang pintu. Bila ada kelebihan, barulah digunakan untuk kebutuhan produksi telur. Oleh karena itu, untuk ayam petelur yang sedang bertelur, sudah pasti keduanya itu harus terpenuhi sekaligus, tetapi jangan berlebih. Disinilah dipentingkan rekomendasi kebutuhan untuk ayam bertelur. Rekomendasi ini sudah berdasarkan penelitian yang berulang ulang. Misalnya berapa kebutuhan protein, asam amino, dan sebagainya. Dengan demikian, ransum yang dimakan oleh ayam itu harus memenuhi kedua kebutuhan itu pula (Rasyaf, 1994). Komposisi nutrisi dalam pakan yang diberikan pada periode bertelur harus seimbang sesuai dengan yang direkomendasikan oleh setiap strain. Kebutuhan energi untuk ayam ras petelur yang sedang produksi sangat tergantung pada pertumbuhan, pemeliharaan, produksi, dan temperatur lingkungan. Di bawah kondisi normal dengan temperatur lingkungan ideal sebesar 27 C, energi yang diperlukan ayam ras petelur sudah terpenuhi dengan PERPUSTAKAAN UMUKA
8 jenis pakan khusus petelur (Fadilah dan Fatkhuroji 2013). Tabel 2 berikut ini menunjukkan kebutuhan nutrisi ayam ras petelur. Tabel 2. Kebutuhan Nutrisi Ayam Ras Petelur Sumber: Rahayu dkk. (2011) Fadilah dan Fatkhuroji (2013) fase menjelang puncak produksi merupakan titik rawan periode produksi, karena pada fase ini terjadi perubahan yang mendasar pada organ reproduksi dan sistem hormonal. Pada kondisi seperti ini, ayam memerlukan asupan nutrisi yang cukup untuk produksi telur yang tinggi, pemeliharaan dan pertambahan bobot badan. Jika asupan nutrisi kurang, produksi tidak akan mencapai puncak, bobot telur rendah, dan pada tingkat lebih lanjut produksi telur akan turun drastis. Akibat negatif lebih lanjut, ayam akan mengalami rontok bulu (molting). Saat ayam molting, produksi telur sama sekali berhenti. Tabel 3 menunjukkan rata – rata konsumsi pakan berbagai strain ayam ras petelur umur 21 – 30 minggu Zat Gizi Fase Starter (0 – 6 minggu) Fase Grower (6 – 20 minggu) Fase Layer (20 minggu – afkir) Metabolisme Energi (kkal/kg) 2.700 – 3.000 2.600 – 2.900 2.650 – 2.900 Protein (%) 20 – 22 14 – 16 17 - 19 Lemak (%) 4 5 5 Serat Kasar (%) 4 – 6 7 – 9 6 – 8 Kalsium (%) 1 1 0,3 Fosfor (%) 0,7 0,6 0,5 – 0,6 PERPUSTAKAAN UMUKA
9 Tabel 3. Rata – rata Konsumsi Pakan Ayam Ras Petelur (Umur 21 -30 Minggu) Strain Konsumsi pakan Bobot badan g/ekor/hari kg/ekor Hy-Line 102 1.847 Isa White 106 1.544 Hisex Brown 109 1.808 Isa Brown 112 1.812 Lohman Brown 108 1.800 Sumber: Fadilah dan Fatkhuroji (2013) C. Kunyit (Curcuma domestica) Kunyit merupakan tanaman herbal dan tingginya dapat mencapai 100 cm. Batang kunyit semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dan berwarna hijau kekuningan. Fungsi kunyit dalam meningkatkan kerja organ pencernaan unggas adalah merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase, dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Minyak atsiri yang dikandung kunyit dapat mempercepat pengosongan isi lambung (Riyadi, 2011). Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.), adalah termasuk salah satu tanaman rempah-rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tinggi batang mencapai 40 cm-100 cm. Daun kunyit terdiri dari pelepah daun, gagang daun dan helaian daun. Panjang helaian daun antara PERPUSTAKAAN UMUKA
10 30-60 cm, lebar antara 10-18 cm. Bunga kunyit berbentuk kerucut runcing berwarna putih atau kuning muda dengan pangkal berwarna putih. Bagian utama tanaman kunyit adalah rimpangnya yang merupakan tempat tumbuhnya tunas. Kulit rimpang berwarna kecoklatan dan bagian dalamnya berwarna kuning tua, kuning jingga, atau kuning jingga kemerahan sampai kecoklatan. Kurkumin (diferuloylmethane) adalah pigmen kuning dalam kunyit yang banyak digunakan sebagai bumbu, pewarna makanan (kari) dan pengawet. Kurkumin menunjukkan berbagai efek farmakologis yang sudah banyak dilaporkan secara ilmiah dalam hasil-hasil penelitian. Beberapa manfaat farmakologis kandungan kurkumin pada kunyit yang sudah terbukti secara ilmiah adalah sebagai berikut: aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antivirus, antibakteri, diabetes, radang sendi, penyakit Alzheimer, dan penyakit kronis lainnya. Rimpang kunyit juga memiliki aktivitas sebagai imunomodulator dan antivirus, berpotensi sebagai obat herbal untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kunyit merupakan tanaman herbal dan tingginya dapat mencapai 100 cm. Batang kunyit semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dan berwarna hijau kekuningan. Fungsi kunyit dalam meningkatkan kerja organ pencernaan unggas adalah merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase, dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Disamping itu minyak atsiri yang dikandung kunyit dapat mempercepat pengosongan isi lambung PERPUSTAKAAN UMUKA
11 (Riyadi, 2011). Kandungan utama kunyit terdiri dari minyak atsiri, kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, dan bidesmetoksikurkumin, damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi (Rahardjo dan Rostiana 2005). (Winarto 2003) mengatakan bahwa zat warna kuning (kurkumin) dimanfaatkan untuk menambah cerah atau warna kuning kemerahan pada kuning telur. Kunyit jika dicampurkan pada pakan ayam, dapat menghilangkan bau kotoran ayam dan menambah berat badan ayam, juga minyak atsiri kunyit bersifat antimikroba. Kandungan kimia minyak atsiri kunyit terdiri dari ar˗tumeron, α dan β˗tumeron, tumerol, α˗atlanton, β˗kariofilen, linalol, 1,8 sineol (Rahardjo dan Rostiana 2005). Gambar kunyit dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. kunyit D. Jahe merah (Zingiber officenale van rubrum) Jahe merah merupakan tanaman berbatang semu, tinggi 30 cm sampai dengan 1 m, tegak, tidak bercabang, tersusun atas lembaran pelepah daun, berbentuk bulat, berwarna hijau pucat dan warna pangkal batang kemerahan. Akar jahe berbentuk bulat, ramping, berserat, berwarna putih sampai coklat terang. Tanaman ini berbunga majemuk berupa mulai muncul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur yang sempit, dan sangat tajam (Salim, 1990). PERPUSTAKAAN UMUKA
12 Jahe merah merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domesticaa), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain -lain. Jahe merah merupakan tanaman berbatang semu, tinggi 30 cm sampai dengan 1 m, tegak, tidak bercabang, tersusun atas lembaran pelepah daun, berbentuk bulat, berwarna hijau pucat dan warna pangkal batang kemerahan. Akar jahe berbentuk bulat, ramping, berserat,berwarna putih sampai coklat terang. Tanaman ini berbunga majemuk berupa mulai muncul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur yang sempit, dan sangat tajam (Salim, 1990). Tanaman jahe membentuk rimpang yang ukurannya tergantung pada jenisnya. Bentuk rimpang pada umumnya gemuk agak pipih dan tampak berbuku-buku. Rimpang jahe berkulit agak tebal yang membungkus daging rimpang, yang kulitnya mudah dikelupas. (Dalimartha, 1991). Jahe merah mengandung minyak atsiri, gingerol, zingeron, resin, zat pati, dan gula. Rimpang dipakai sebagai obat batuk, antimual, dan dijadikan minuman pengusir masuk angin dan kembung. Kandungan gingerol˗zat antiradang˗ dalam jahe merah lebih tinggi dibanding dua macam jahe lainnya. Kandungan PERPUSTAKAAN UMUKA
13 minyak atsirinya mampu menghangatkan tubuh sehingga melegakan saluran pernapasan, meredakan batuk dan asma (Sandi, 2009). Jahe dapat mencegah dan mengobati aflatoksikosis pada ayam, yaitu keracunan aflatoksin pada pakan, yang dapat menurunkan bobot badan, produksi telur, penurunan tingkat kekebalan tubuh terhadap penyakit dan juga berpotensi meninggalkan residu pada produk ternaknya. Penggunaan jahe pada ayam petelur juga efektif sebagai immuno-modulator, peningkatan respon kekebalan, yang ditunjukkan dengan meningkatnya titer antibody terhadap ND ayam (Murdiati dkk., 1998). Ditambahkan oleh Iskandar dan Husein (2003), jahe juga bermanfaat dalam mencegah dan mengobati koksidiosis dan CRD atau Chronic Respiratory Disease yang sering menyerang ayam petelur. Gambar jahe dapat dilahat pada Gambar 2 Gambar 2. Jahe Merah Berbagai penelitian membuktikan bahwa jahe mempunyai sifat antioksidan dan antikanker. Beberapa komponen utama dalam jahe seperti gingerol, shogaol dan gingerone memiliki antioksidan melebihi Vitamin E. Selain itu, jahe mampu menaikkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel natural killer (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang PERPUSTAKAAN UMUKA
14 terinfeksi virus (Zakaria et al., 1999). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Atmoko (2004) dan Subekti (2004), dilaporkan bahwa penambahan tepung jahe hingga 0,9% pada ransum b , 2010). ayam petelur layer umur 80 minggu tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap HDP, skor warna kuning telur, berat telur maupun HU. E. Volume Putih Telur Putih telur merupakan salah satu bagian dari sebuah telur utuh yang mempunyai persentase sekitar 58-60 % dari berat telur itu dan mempunyai dua lapisan, yaitu lapisan kental dan lapisan encer (King’Ori 2012). Bell and Weaver (2002) menambahkan bahwa lapisan kental terdiri atas lapisan kental dalam dan lapisan kental luar dimana lapisan kental dalam hanya 3% dari volume total putih telur dan lapisan kental putih telur mengandung protein dengan karakteristik gel yang berhubungandengan jumlah ovomucin protein. Putih telur (albumin) yang berkualitas baik adalah kental dan jernih. Karena kentalnya albumin, yolk tidak bisa bergerak bebas di dalamnya (Nurwantoro dan Mulyani, 2003) F. Volume Kuning Telur Kuning telur atau egg yolk merupakan bagian yang paling penting bagi isi telur, hal ini dikarenakan pada kuning telur terdapat dan tumbuh embrio hewan, khususnya pada bagian telur yang sudah dibuahi. Selain itu bagian kuning telur ini paling banyak tersimpan zat gizi yang sangat menunjang perkembangan embrio (Hardini, 2000). Kuning telur berbatasan dengan putih telur dan dibungkus oleh suatu lapisan tipis yang elastis yang disebut membran PERPUSTAKAAN UMUKA
15 vitelin yang terbuat dari keratin dan musin (Yuwanta, 2010). Kuning telur terletak di pusat telur dan berwarna kuning. Kuning telur terdiri atas dua tipe emulsi lipoprotein yaitu kuning agak tua dan kuning cerah. Warna kuning telur mulai dari kuning pucat sekali sampai orange tua kemerahan. Hal ini disebabkan oleh pigmen dalam pakan ternak ayam, seperti betakarotein. Persentase kuning telur sekitar 30--32% dari berat telur. Asam lemak yang banyak terdapat pada kuning telur adalah linoleat, oleat dan stearat (Bell dan Weaver, 2002) G. Kerabang Telur Kualitas cangkang telur ditentukan oleh tebal dan struktur kulitnya. Cangkang telur sebagian besar tersusun atas kalsium karbonat (CaCO3) sehingga kandungan kalsium dalam ransum perlu diperhatikan untuk mendapatkan ketebalan cangkang telur yang optimum (Yamamoto, dkk., 2007) Cangkang telur merupakan pembungkus telur paling tebal, bersifat keras dan kaku. Cangkang mempunyai pori-pori yang berfungsi untuk pertukaran gas. Permukaan luar cangkang terbentuk dari lapisan kutikula sebagai pembungkus terluar. Selaput cangkang dalam lebih tipis dari selaput kerabang luar dan keduanya mempunyai ketebalan 0,01 sampai 0,02 mm (Nurwantoro dan Mulyani, 2007 ) Nilai tebal kerabang telur kelima jenis Ayam Kedu relatif sama dan tidak berbeda jauh menurut standar oleh Yuwanta (2004), dimana tebal kerabang telur ayam yang baik berkisar antara 0,33 - 0,35 mm. Faktor umur berpengaruh nyata terhadap ketebalan kerabang telur Yuwanta (2010). PERPUSTAKAAN UMUKA
16 H. Hipotesis Hipotesis penelitian dengan penambahan tepung kunyit dan tepung jahe dapat menurunkan persentase volume putih telur, dan meningkatkan persentase volume kuning telur serta meningkatkan tebal kerabang telur PERPUSTAKAAN UMUKA
17 III. MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul ‘‘Pengaruh Penambahan Herbal Kunyit Jahe Bentuk Tepung Sebagai Imbuhan Pakan Terhadap Volume Putih dan Kuning Telur dan kerabang’’ dilakukan di UPT Univeritas Muhammdiyah Karanganyar, Desa Bejen, Kabupaten Karanganyar, yang dimulai 14 April – 24 Mei 2022. A. Materi Penelitian 1. Ayam Petelur Ayam peetelur fase layer umur 49 minggu dengan jenis strain Lohman Brown dengan bobot rata 1,8 berjumlah 60 ekor 2. Pakan Pakan basal yang digunakan dalam penelitian di dapatkan dari perusahaan CV. Royal Super Feed. Kandungan nutrisi pada pakan basal dapat dilihat pada tabel 4 Tabel 4. Nutrisi Pakan Basal Nutrisi Kandungan Kadar Air 11 – 12 % Protein Kasar Min 18 % Lemak Kasar Min 4.0 % Serat Kasar Max 5.0 % Abu Max 13.0 % Calcium 3,7 – 4,0 % Phospor Min 0,6 % Methionine Min 0,44 % Sumber : CV. Royal Super Feed (2022) PERPUSTAKAAN UMUKA
18 3. Tepung Jahe dan Tepung Kunyit Tpung kunyit dan tepung jahe yang digunakan berasal dari UPT Materia Medica Batu Malang dengan harga tepung kunyit 10.000 / 100 gram dan tepung jahe 30.000 / 100 gram 4. Peralatan yang digunakan a) Ember dan karung sebanyak 4 buah untuk wadah pakan setiap unit perlakuan b) Takaran pakan, botol mineral yang dibelah c) Kain yang digunakan untuk membersihkan tempat minum B. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu eksperimen, terhadap ayam ras petelur sebanyak 60 ekor. Penilitian dibagi menjadi 4 perlakuan masing – masing diulang 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 minggu. yang digunakan dengan komposisi yang berbebeda, perlakuan tersebut meliputi: 1. (P-0): Pakan basal 2. (P-1) : Pakan basal + 1% campuran tepung kunyit dan tepung jahe 3. (P-2) : pakan basal + 2% campuran tepung kunyit dan tepung jahe 4. (P-3) : pakan basal + 3% campuran tepung kunyit dan tepung jahe Pengambilan sempel data telur dilakukan pada minggu terakhir kemudian dilakukan pengujian terhadap volume putih telur, kuning telur, dan tebal kerabang. PERPUSTAKAAN UMUKA
19 C. Variabel Peneletian Variabel yang diteliti meliputi volume putih telur, kuning telur dan tebal kerabang. 1. Volume putih telur diperoleh dari memisahkan antara putih dan kuning yang dikur dengan menggunakan gelas ukur. 2. Volume kuning telur diperoleh dari memisahkan antara putih dan kuning yang dikur dengan menggunakan gelas ukur. 3. Tebal kerabang telur dapat diukur dengan alat mikrometer sekrup, pengukuran dilakukan di dua sisi kerabang pada sisi atas dan sisi samping kemudian di rata- rata D. Prosedur Peneletian 1. Pencampuran pakan Pencampuran pakan ayam petelur dengan perlakuan dilakukan secara manual dengan takaran P0: Pakan basal , P1: Pakan basal + 1% Ramuan herbal kunyit dan jahe bentuk tepung , P2: Pakan basal + 2% Ramuan herbal kunyit dan jahe bentuk tepung, P3 : Pakan basal + 3% Ramuan herbal kunyit dan jahe bentuk tepung. 2. Pemeliharaan Pemberian pakan dilakukan sehari dua kali yaitu pagi hari pukul 08.00 WIB, sore hari pukul 14.00 WIB. Sedangkan pengambilan dan penimbangan telur dilakukan setiap hari pada pukul 14.30 WIB. PERPUSTAKAAN UMUKA
20 3. Lay Out Materi Penelitian Penempatan materi penelitian dilakukan dengan pemberian nomor urut pada kandang masing-masing unit. Kemudian masing-masing perlakuan diundi sesuai dengan nomor kandang tersebut dan di tempatkan secara acak. Tujuan pengajaakan kadang adalah untuk memakssimalakan dalam pemeratanan pemberian pakan. Hasil pengundian nomor kandang setiap perlakuan adalah sebagai berikut. P0 U3 P1 U3 P2 U1 P1 U1 P0 U1 P3 U3 P2 U3 P3 U1 P1 U2 P0 U2 P2 U2 P3 U2 Gambar. 3 . Lay Out Kandamg Keterangan : a. P0U3 : Perlakuan 0, ulangan 3 b. P1U3 : Perlakuan 1, ulangan 3 c. P2U1 : Perlakuan 2, ulangan 1 d. P1U1 : Perlakuan 1, ulangan 1 e. P0U1 : Perlakuan 0, ulangan 1 f. P3U3 : Perlakuan 3, ulangan 3 g. P2U3 : Perlakuan 2, ulangan 3 h. P3U1 : Perlakuan 3, ulangan 1 i. P1U2 : Perlakuan 1, ulangan 2 PERPUSTAKAAN UMUKA
21 4. Pemeliharaan ayam petelur Pemberian pakan diberikan dengan sistem pembatasan yaitu dua kali dalam sehari yaitu pagi 30 (g) dan sore hari 100 (g) dan pemberian air minum dilakukan secara adlibitum. Sehingga air minum akan selalu tersedia di tempat minum setiap hari. Pakan tersisa ditempat pakan akan ditimbang setiap satu minggu sekali untuk mengetahui konsumsi pakan. Pemberian pakan dilakukan sehari dua kali yaitu pagi hari pukul 08.00 WIB, sore hari pukul 14.00 WIB dilakukan pemerataan pakan. Sedangkan pengambilan dan penimbangan telur dilakukan setiap hari pada pukul 14.30 WIB. E. Analasis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan program SPSS. Jika analasis tejadi perbedaan diantara perlakuan dilanjutka dengan uji tes Duncant Multi Range Test ( DMRT ). PERPUSTAKAAN UMUKA
22 IV. PEMBAHASAN Hasil peneletian yang berjudul “Pengaruh Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) Sebagai Imbuhan Pakan Terhadap Voleme Putih Telur, Volume Kuning Telur dan Tebal Kerabang Telur Pada Ayam Ras”. Terlampir sebagai berikut. A. Volume Putih Telur Berdasarkan hasil pengamatan penambahaan Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan tepung Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai imbuhan dalam pakan terhadap Volumre Putih Telur telur ayam ras petelur dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rata – rata Volume Putih Telur ULANGAN PERLAKUAN P0 P1 P2 P3 U1 19 28 27 28 U2 18 31 30 34 U3 32 21 32 34 RATA RATA 23,00 ± 7,81 26,67±5,13 29,67±2,51 32,00±5,62 Keterangan ; berbeda tidak nyata (Sig. 240 ) Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase putih telur ayam Lohmann Brown umur 49 minggu yang diberi perlakuan P0 adalah 23.,00. putih telur ayam yang diberi perlakuan P1 adalah 26,67 dan pada perlakuan P2 adalah 29,67 lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan P1). Ayam yang diberi perlakuan P3 adalah 32,00 lebih kecil dibandingkan dengan ayam yang diberi perlakuan P2. PERPUSTAKAAN UMUKA
23 Hasil analisis statistik menunjukan bahwa penambahan Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai imbuhan dalam pakan memberikan hasil berbeda tidak nyata ( Sig 240 ) hal ini berarti penggunaan tepung kunyit dan jahe sebagai imbuhan pakan level 1% ; 2% : 3 % tidak memberikan pengaruh terhadap putih telur pada ayam ras. Telur yang diamati memiliki tingkat kesegaran sama yaitu pada satu hari setelah pengambilan telur sehingga telur masih dalam keadaan segar. Persentase putih telur berkorelasi negatif dengan persentase kuning telur, yaitu bila persentase putih menurun, maka persentase pada kuning telur meningkat. Sependapat dengan peryataan Basak et al (2002) Menyatakan kandungan nutrisi yang tinggi terdapat dalam pakan non-konvensional, yang kemudian berpengaruh terhadap bobot putih telur meskipun memiliki serat kasar yang tinggi. Putih telur akan menurun karena nutrisi yang terserap akan membentuk kuning telur terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan pembentukan albumen daripada telur, maka dari itu bila persentase kuning meningkat, persentase putih telur akan menurun. Tinggi rendahnya tingkat konsumsi pakan akan menentukan tingkat konsumsi zat-zat makanan yang meliputi protein, vitamin, dan mineral (Marhiyanto, 2000).. Protein dan energi merupakan faktor yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan putih telur. Hal ini sesuai pendapat Yuwanta (2004) mengemukakan karakter yang lebih spesifik pada putih telur adalah kandungan protein (lisosim), yang berpengaruh pada kualitas putih telur. Selanjutnya Ratnasari (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa jenis protein di dalam putih telur antara lain adalah ovalbumin, konalbumin, PERPUSTAKAAN UMUKA
24 ovomusin, globulin (G1, G2, dan G3), ovomukoid, flavoprotein, ovoglikoprotein, ovomakroglobulin, ovoinhibitor, dan avidin. Jahe merah tidak berpengaruh terhadap konsumsi protein dan kecernaan protein sehingga jahe merah tidak berpengaruh terhadap volume telur ( H. Witantri, E. Suprijatna, dan W. Sarengat 2013) Anti oksidan pada kunyit dapat menningkatkan kerja organ pencernaan dan oksidasi pada ternak sehingga dapat meningkatkan volume putih telur sependapat dengan Rondonuwu et al. (2014) yang menyatakan bahwa fungsi tanaman herbal kunyit dalam meningkatkan kerja organ pencernaan unggas adalah merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu dan merangsang keluarnya getah pankreas yang mengandung enzim amilase, lipase, dan protease yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Tambahan dari Rahmat dan Kusnadi (2008) menyatakan bahwa senyawa aktif pada kunyit memiliki sifat salah satunya adalah sebagai antioksidan pada ternak sehingga mampu mengatasi atau mengurangi stres oksidatif, akibatnya gangguan terhadap sintesis karbohidrat, protein dan lemak dapat dilakukan dengan baik sehingga kandungan nutrisi akan lebih tinggi dan telur pun akan semakin berat . B. Volume Kuning Telur Berdasarkan hasil penggamatan Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai imbuhan dalam pakan terhadap Volume Kuning telur ayam ras dapat dilihat pada Tabel 6. PERPUSTAKAAN UMUKA
25 Tabel . 6 Rata – rata Volume Kuning Telur ULANGAN PERLAKUAN P0 P1 P2 P3 U1 12 17 17 17 U2 10 16 16 18 U3 16 14 16 18 RATA RATA 12,67±1,15 15,67±5,27 16,33±1,00 17,67±0,58 Keterangan ; Berbeda tidak nyata ( Sig. 539)* Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase putih telur ayam Lohmann Brown umur 49 minggu yang diberi perlakuan P0 adalah 15,00. Persentase putih telur ayam Lohmann Brown umur 49 minggu yang diberi perlakuan P1 adalah 15,67 dan pada perlakuan P2 adalah 16,00 lebih lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan P1). Ayam yang diberi perlakuan P3 adalah 16,67 lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang diberi perlakuan P2. Hasil analisis setatistik menunjukan bahwa penambahan Tepung Kunyit (Curcuma domesticaa) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai imbuhan dalam pakan memberikan hasil berbeda tidak nyata ( Sig 539 ) hal ini berarti penggunaan tepung kunyit dan jahe sebagai imbuhan pakan level 1% ; 2% : 3 % tidak memberikan pengaruh terhadap volume kuining telur pada ayam ras. Telur yang diamati memiliki tingkat kesegaran sama yaitu satu hari setelah pengambilan telur sehingga telur masih dalam keadaan segar. Kandungan fitoestrogen pada kunyit dapat meningkatkan volume kuning telur hal ini sependapat dengan (Hafsah dan Sarjuni, 2017) Menyatakan Peningkatan persentase kuning pada telur ayam terjadi dikarenakan kunyit memiliki senyawa aktif yaitu fitoestrogen yang merupakan cadangan estrogen yang dapat berfungsi sama dengan estrogen sebagai bahan pembentuk kuning PERPUSTAKAAN UMUKA
26 telur. Rondonuwu et al. (2014) menyatakan bahwa fungsi ekstrak kunyit dalam meningkatkan kerja organ pencernaan unggas adalah merangsang dinding kantong empedu mengeluarkan cairan empedu yang berguna untuk meningkatkan pencernaan bahan pakan seperti karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga nutrisi pada pembentukan kuning telur akan diserap dengan baik akibatnya persentase kuning telur akan meningkat. Senada dengan pendapat tersebut. C. Tebal Kerabang Berdasarkan hasil penggamatan Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai imbuhan dalam pakan terhadap kualita kerabang telur ayam ras dapat dilihat pada Tabel 7 Tabel. 7 Rata – rata Tebal Kerabang ULANGAN PERLAKUAN P0 P1 P2 P3 U1 0.38 0.35 0.41 0.33 U2 0.28 0.33 0.33 0.48 U3 0.34 0.32 0.32 0.40 RATA RATA 0,33±.0,05 0,33±.0,01 0,35±.0,05 0,40±0,75 Keterangan ; berbeda tidak nyata ( Sig. 367) Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase putih telur ayam Lohmann Brown umur 49 minggu yang diberi perlakuan P0 adalah 0,33. perlakuan P1 masih sama dengan P0. P2 adalah 0,35 lebih lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan ( P0 dam P1). Ayam yang diberi perlakuan P3 adalah 0,40 lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang diberi perlakuan P2. Hasil analisis setatistik menunjukan bahwa penambahan Tepung Kunyit (Curcuma domesticaa) dan Jahe (Zingiber officinale van rubrum) sebagai PERPUSTAKAAN UMUKA
27 imbuhan dalam pakan memberikan hasil berbeda tidak nyata ( Sig. 367) hal ini berarti penggunaan tepung kunyit dan jahe sebagai imbuhan pakan leve 1% ; 2% : 3 % tidak memberikan pengaruh terhadap tebal kerabang pada ayam ras. Tebal tipisnya kerabang telur dipengaruhi oleh strain ayam, pakan, stress dan penyakit. Dalamam penelitan ini kandungan Gingerol Pada jahe dapat menekan pertumbuhan lemak sehingga vitamin D dapat terserap dengan sempurna. hal ini seusi dengan pendapat, (Argawal dan Rao, 2000) menyatakan zat- zat yang fitokimia yang terdapat pada tepung jahe, dapat dapat mengikat lemak atau menghambat pembentukan kolesterol. Kadar vitamin D yang cukup diperlukan untuk absorpsi kalsium dalam proses pembentukan tebal cangkang telur. Hal ini dimungkinkan tepung jahe merah mampu menurunkan penyerapan lemak sehingga vitamin D yang larut dalam lemak tidak terserap sempurna dalam pembentukan tebal cangkang telur. Sejalan dengan Herawati dan Marjuki (2011). Kandungan minyak atsirih pada jahe mampu meningkatkan ketebalan kerabang sesuai pendapat (Nobakht dan Moghaddam, 2013; Abbas, 2013) tanaman yang mengandung senyawa bioaktif, seperti minyak atsiri, flavonoid, dan karotenoid, mempengaruhi haugh unit dan ketebalan cangkang secara positif. Adanya curcumin pada kunyit yang berfungsi sebagai zat antibakteri dapat mengoptimalkan penyerapan nutrisi hal ini sependapat dengan (Gosler et al., 2005) yang menyatakan curcumin pada kunyit dapat digunakan dalam upaya optimalisasi penyerapan nutrisi pada saluran pencernaan ayam sehingga penyerapan mineral terutama kalsium dan PERPUSTAKAAN UMUKA
28 magnesium yang dibutuhkan untuk pembentukan kulit telur pun berjalan dengan optimal. Senada dengan pendapat tersebut, ketebalan kulit pada telur ayam ras memiliki hubungan dengan pigmen protophorpirin, kunyit dapat merangsang pembentukan pigmen protophorpirindengan membantu tubuh ternak dalam menyerap mineral pembentukan pigmen tersebut, yaitu dengan menyerap magnesium secara optimal. Pigmen ini memiliki fungsi dalam pembentukan kekuatan struktur kerabang karena pigmen ini dapat mengikat ion logam seperti magnesium, sehingga dapat menyebabkan struktur kulit telur menjadi lebih tebal dan kuat. Adanya zat antibakteri pada kunyit juga dapat mengoptimalkan penyerapan nutrisi kalsium pada ayam yang sudah tua. PERPUSTAKAAN UMUKA
29 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung kunyit dan tepung jahe sebagai tambahan dalam pakan sampai level 3 % tidak memberikan pengaruh terhadap kualitas telur melipti volume putih telur, volume kuning telur dan tebal kerebang telur ayam ras. Dikarenakan adanya pembatasan dalam pemberian pakan B. Saran Perlu adanya penelitian ulang terntang penambahan tepung jahe dan kunyit dalam ransum ayam petelur dengan dosis yang sama dengan pemberian pakan secara adlibitum PERPUSTAKAAN UMUKA
30 DAFTAR PUSTAKA . Ali, Muhammad, dkk. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Pendidikan Disiplin Ilmu. Jakarta: PT. IMTIMA Ardhiyanti, Y., Pitriani, R., Damayanti, PI. 2014. Panduan Lengkap Keterampilan Dasar Kebidanan 1. Yogyakarta: Deepublish. Argawa. L.S. and A.V. Rao. 2000. Role of antioxidant lycopene in cancer and heart desease. J. Coll. Nutr. 19 (5): 563-569. Aoyama S, Yamamoto Y. Antioxidant activity and flavonoid contento f Welsh onion (Allium fistulosum) and the effect of termal treatment. Food Sci. Technol. Res 2007; 13:67-72.. Basak, A., Merja Halme, Markku Kallio, dan Markku Kuula, 2012, Consumer Preferences for Sustainability and Their Impact on Supply Chain Management, Intermational Journal of Physical Distribution and Logistics Management, Vol. 43: 380-406. Bell, Weaver. 2002. Commercial Chicken Meat and Egg Production. 5th Edition. Springer Science and Business Media, Inc., New York, USA. Bogaard dan Stobberingh, 1999; Mellor, 2000. Imbuhan pakan atau Feed additives, Tersedia di alamat http://eprints.mercubuana:yogya.ac.id. Dalimrtha. S. 1991. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1-2. Trubus Agriwidya. Jakarta Fadilah, R. dan Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras Petelur. Agromedia Pustaka. Jakarta. Gosler, A. G., J. P. Higham, and S. J. Reynolds. 2005. Why Are Bird’s Eggs Speckled. Ecol Lett. 8: 1105W1113. Hafsah, dan Sarjuni, S. 2017. Evaluasi Penggunaan Bahan Pakan Lokal terhadap Performa Produksi Telur dan Kinerja Penetasan Ayam Kampung Super. Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako. Sulawesi Tengah. 415-421. Hendy M Fakhruddin. 2008. Istilah Pasar Modal A-Z. Jakarta: Elex Media Komputindo. Herawati and Marjuki. 2011. The Effek of feeding red ginger (Zingiber officinale rosc) as phytobiotic on broier slaughter weight and meat quality. Int. J. Poult. Sci. 10(12): 983-985 Karim, A.A and R. Bhat. 2009. Fish Gelatin:Properties, Challenges, and Prospects as an Alternative To Mammalian Gelatins. Journal Food Hydrocolloids. 23(3): 56-576. PERPUSTAKAAN UMUKA
31 King’ ori, AM. 2012. Uses of poultry egg: Egg albumen and egg yolk. J. Poultry. Sci. 5 (2): 9-13. Kusumaningrum , B.D. 2008. Analisis Vegetasi Epifit di Area Wana Wisata Gonoharjo. Semarang Marhiyanto, B. 2000. Suksses Beternak Ayam Arab. Difa Publiser. Jakarta. Nurwantono dan Mulyani, 2003. Buku Ajar Dasar Teknologi Hasil Ternak, Fakultas peternakan Universitas Diponegoro Semarang 2003.Tearsedia di alamat https;//www.csribd.com. Nobakht, A., & Moghaddam, M. (2013). The effects of different levels of costmary (Tanacetum balsamita) medicinal plant on performance, egg traits and blood biochemical parameters of laying hens. Iranian Journal of Applied Animal Science, 3(2), 307–312 Rahardjo Mono dan Rostiana Otih. 2005. Budidaya Tanamana Kunyit . Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika Sirkulr 11. Rahmat dan Kusnadi. 2008. Pengaruh Penambahan Tepung Kunyit (Curcuma domesticaa Val.) dalam Ransum Yang Diberi Minyak Jelantah terhadap Performan Ayam Broiler (The Effect of Curcuma domesticaa In Ration That Containing Residue Coconut Oil on Broiler Performance. Rasyaf, M. 1994. Baternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya . Jakarta. Ratnasari. 2007. Perubahan Mutu Protein Putih Telur Ayam Ras yang Diakibatkan proses Pembuatan Minuman Effervescent. Skripsi.IPB Repository. Bogor Riyadi, Slamet. 2011. Pengaruh Kompensasi Finansial, Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Perusahaan Manufaktur Di Jawa Timur. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Volume 13 No 1 Maret 2011:40-45 Rondonuwu, C. Saerang, J. L. P. Nangoy, F. J. Laatung, S. 2014. Penambahan Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.), Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Dan Temu Putih (Curcuma zedoaria Rosc.) Dalam Ransum Komersil Terhadap Kualitas Telur Burung Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica). Vol 34 No 1: 106-11 Rostiana, O., N. Bermawie, dan M. Rahardjo. 2005. Budi daya tanaman jahe. Sirkuler No. 11, 2005. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. 13 hlm. Salim, Emil. 1990, Konsep Pembangunan Berkelanjutan, Jakarta. Sarshar, M., Finnemore, M., R.haigh & J.goulding, 1999. SPICE: Is a Capability. Uwanta, T. 2010. Pemanfaatan Kerabang Telur. Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. PERPUSTAKAAN UMUKA
32 Witantri, E. Suprijatna, dan W. Sarengat 2013, Pengaruh Penambahan Tepung Jahe Merah (zingiber officinale var rubrum) Dalam Ransum Terhadap Kualitas Telur Ayam Kampung Periode Layer. Animal Agriculture Journal, Vol. 2. No. 1, 2013, halaman 380 Winarto, W.P., 2003. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Penerbit Agromedia Pustaka. Jakarta. Yuwanta, T. 2004. Dasar ternak Unggas.PenerbitKanisius. Yogyakarta Zakaria, F.R. dan T.M. Rajab. 1999. Pengaruh ekstrak jahe (Zingiber officinale Roscoe) terhadap produksi radikal bebas makrofag mencit sebagai indikator imunostimulan secara in vitro. Persatuan Ahli Pangan Indonesia (PATPI). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pangan: 707−716. PERPUSTAKAAN UMUKA
33 LAMPIRAN Lampiran 1. Analisis Volume Putih Telur ULANGAN PERLAKUAN P0 P1 P2 P3 U1 19 28 27 28 U2 18 31 30 34 U3 32 21 32 34 RATA RATA 23,00 26,66 29,67 32,00 Descriptives vputih N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimu m Maximu m Lower Bound Upper Bound P0 3 23.0000 7.81025 4.50925 3.5983 42.4017 18.00 32.00 P1 3 26.6667 5.13160 2.96273 13.9191 39.4143 21.00 31.00 P2 3 29.6667 2.51661 1.45297 23.4151 35.9183 27.00 32.00 P3 3 32.0000 3.46410 2.00000 23.3947 40.6053 28.00 34.00 Total 12 27.8333 5.62193 1.62291 24.2613 31.4053 18.00 34.00 ANOVA vputih Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 136.333 3 45.444 1.720 .240 Within Groups 211.333 8 26.417 Total 347.667 11 VPutih Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 P0 3 23.0000 P1 3 26.6667 P2 3 29.6667 P3 3 32.0000 Sig. .079 PERPUSTAKAAN UMUKA
34 Lampiran 2. Analisis Setatistik Volume Kuning Telur ULANGAN PERLAKUAN P0 P1 P2 P3 U1 12 17 17 17 U2 10 16 16 18 U3 16 14 16 18 RATA RATA 12.67 15.67 16.33 17.67 Descriptives vkuning N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimu m Maximu Lower Bound Upper Bound m P0 3 15.3333 1.15470 .66667 12.4649 18.2018 14.00 16.00 P1 3 15.6667 1.52753 .88192 11.8721 19.4612 14.00 17.00 P2 3 16.0000 1.00000 .57735 13.5159 18.4841 15.00 17.00 P3 3 16.6667 .57735 .33333 15.2324 18.1009 16.00 17.00 Total 12 15.9167 1.08362 .31282 15.2282 16.6052 14.00 17.00 ANOVA vkuning Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 2.917 3 .972 .778 .539 Within Groups 10.000 8 1.250 Total 12.917 11 Vkuning Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 P0 3 15.3333 P1 3 15.6667 P2 3 16.0000 P3 3 16.6667 Sig. .207 PERPUSTAKAAN UMUKA
35 Lampiran 3. Analisis Setatistik Tebal Kerabang ULANGAN PERLAKUAN P0 P1 P2 P3 U1 0.38 0.35 0.41 0.33 U2 0.28 0.33 0.33 0.48 U3 0.34 0.32 0.32 0.40 RATA RATA 0.33 0.33 0.35 0.40 Descriptives tkerabang N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimu m Maximu m Lower Bound Upper Bound P0 3 .3333 .05033 .02906 .2083 .4584 .28 .38 P1 3 .3333 .01528 .00882 .2954 .3713 .32 .35 P2 3 .3533 .04933 .02848 .2308 .4759 .32 .41 P3 3 .4033 .07506 .04333 .2169 .5898 .33 .48 Total 12 .3558 .05351 .01545 .3218 .3898 .28 .48 ANOVA tkerabang Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups .010 3 .003 1.209 .367 Within Groups .022 8 .003 Total .031 11 Tkerabang Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 P0 3 .3333 P1 3 .3333 P2 3 .3533 P3 3 .4033 Sig. .160 PERPUSTAKAAN UMUKA
36 Lampiran 4. Berat telur P0 P1 P2 P3 U1 56 57 58 63 66 58 54 59 53 59 - 55 51 60 60 - 64 58 55 - U2 52 54 55 55 55 54 55 49 58 59 64 41 - 57 59 - - 58 - - U3 55 60 53 - 59 59 56 57 51 52 63 55 49 51 59 61 59 - 54 63 JUMLAH 728 796 745 558 RATA-RATA 56 57 57 56 PERPUSTAKAAN UMUKA