PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PAKAN AYAM RAS PETELUR LAPORAN TUGAS AKHIR DISUSUN OLEH: YUSRO SULIS SETYAWAN NPM. 192133 PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
ii PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PAKAN AYAM RAS PETELUR Disusun oleh YUSRO SULIS SETYAWAN NPM. 192133 LAPORAN TUGAS AKHIR Ditulis dan Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mendapatkan Sebutan Ahli Madya Peternakan pada Universitas Muhammadiyah Karanganyar PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KARANGANYAR KARANGANYAR 2022 PERPUSTAKAAN UMUKA
iii SURAT PERNYATAAN DAN KEASLIAN BEBAS PLAGIASI LAPORAN TUGAS AKHIR Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Yusro Sulis Setyawan NPM : 192133 Dengan ini menyatakan sebagai berikut: 1. Karya ilmiah yang berjudul : Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Bawang Merah Dalam Pakan Terhadap Efisiensi Biaya Pakan Ayam Ras Petelur dan penelitian yang terkait dengan karya ilmiah ini adalah hasil kerja karya sendiri. 2. Setiap ide dan kutipan dari orang lain berupa publikasi atau bentuk lainnya dalam karya ilmiah ini telah diakui sesuai dengan standar prosedur disiplin ilmu serta bukan merupakan tiruan ataupun plagiasi dari karya orang lain. 3. Saya juga mengakui karya ilmiah ini dapat dihasilkan berkat bimbingan dan dukungan penuh pembimbing saya yaitu: Ir. Lusia Risyani PM, MP Karanganyar, Juli 2022 Penulis Yusro Sulis Setyawan PERPUSTAKAAN UMUKA
iv PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PAKAN AYAM RAS PETELUR Disusun oleh YUSRO SULIS SETYAWAN NPM. 192133 LAPORAN TUGAS AKHIR Telah Disetujui untuk Dipertahankan Di Hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir di Universitas Muhammadiyah Karanganyar Persetujuan Pembimbing Pembimbing Ir. Lusia Risyani P.M, MP NIP. 19590202 198503 2 003 PERPUSTAKAAN UMUKA
v PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BAWANG MERAH DALAM PAKAN TERHADAP EFISIENSI BIAYA PAKAN AYAM RAS PETELUR OLEH : YUSRO SULIS SETYAWAN NPM. 192133 LAPORAN TUGAS AKHIR Dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Laporan Tugas Akhir Universitas Muhammadiyah Karanganyar dan Diterima untuk Memenuhi sebagai persyaratan mendapatkan Sebutan Profesional Ahli Madya Peternakan Pada hari : Senin Tanggal : 11 Juli 2022 Mengesahkan : Dekan Dewan Penguji Drs. Sujalwo, M.Kom. 1. Ir. Lusia Risyani PM, MP NIK. 2022.004 NIP. 19590202 198503 2 003 2. Ir. Damaryanto Widharto, M.Si NIP. 19590311 198803 1 002 3. Desna Ayu Wijayanti, S.Pt, M.Pt NIDN. 0614129401 PERPUSTAKAAN UMUKA
vi MOTTO FINISH WHAT YOU START “Selesaikan Apa Yang Sudah Kamu Mulai” PERPUSTAKAAN UMUKA
vii PERSEMBAHAN Karya ini dipersembahkan, kepada : Ayah dan Ibu tercinta Keluargaku tersayang Bapak, Ibu dosen dan karyawan Rekan-rekan seangkatan Dan Almamater PERPUSTAKAAN UMUKA
viii RINGKASAN Penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Bawang Merah Dalam Pakan Tehadap Efisiensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur” bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak kulit bawang merah dalam ransum terhadap efisiensi biaya produksi ayam ras petelur. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2022 sampai 26 April 2022. Materi penelitian yaitu ayam ras strain Lohman Brown umur 32 minggu sebanyak 27 ekor dengan bobot badan rata-rata 1,82 kg. dan ekstrak kulit bawang merah. 27 ekor ayam dibagi menjadi 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan pertama terlihat (T0) ayam diberi pakan basal tanpa ekstrak kulit bawang merah, perlakuan kedua (T1) ayam diberi pakan basal dan 5% ekstrak kulit bawang merah dan perlakuan ketiga (T2) ayam diberi pakan basal dan 10% ekstrak kulit bawang merah. Variabel yang diamati dalam penelitian ini berupa konsumsi pakan, konversi pakan, feed cost per egg, dan estimasi biaya produksi. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis variasi menggunakan Program SPSS For Windows. Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa pemberian ekstrak kulit bawang merah dalam pakan menunjukan hasil berbeda tidak nyata terhadap konsumsi pakan (Sig. 115), dan konversi pakan (Sig. 591), feed cost per egg mass paling ekonomis ditunjukkan pada pemberian 5% ekstrak kulit bawang merah, demikian pula estimasi biaya pakannya paling rendah. Kesimpulan dari penelitian ini pemberian ektrak kulit bawang merah (Allium cepa L.) tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan dan konversi pakan ayam ras. Penggunaan ekstrak bawang merah dengan level 5% menghasilkan efisiensi biaya produksi sebesar 7,60%, pemberian ekstrak bawang merah dengan level 10% memperoleh efisiensi biaya produksi sebesar 5,23%. Kata kunci : Ekstrak kulit bawang merah, efisiensi biaya, feed cost per egg mass, PERPUSTAKAAN UMUKA ayam petelur.
ix KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan dengan baik laporan tugas akhir dengan judul Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Bawang Merah Dalam Pakan Terhadap Efisiensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur. Laporan Tugas Akhir ini ditulis untuk memenuhi sebagai persyaratan mendapatkan sebutan professional ahli madaya peternakan pada Akademi Peternkan Karanganyar. Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih banyak kesalahan yang masi perlu dibenahi. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat : 1. Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Karanganyar. 2. Ketua Program Studi Produksi Ternak, yang telah menyetujui atas permohonan penulisan Laporan Tugas Akhir. 3. Ir. Lusia Risyani P.M, MP. Sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan, sehingga Laporan Tugas Akhir ini dapat diselesaikan. 4. Teman-teman mahasiswa Universitas Muhammadiyah Karanganyar. 5. Semua pihak yang telah membantu mensukseskan kegiatan penelitian. Penulis menyadari adanya kekurangan dalam pelaksanaan dan penulisan Laporan Tugas Akhir. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan selanjutnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya maupun pada pembaca dan masyarakat pada umumnya. Karanganyar, Juli 2022 Penulis PERPUSTAKAAN UMUKA
x DAFTAR ISI Halaman MOTTO ................................................................................................................. vi RINGKASAN ...................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix DAFTAR ISI........................................................................................................... x DAFTAR TABEL................................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................ xiv I. PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 II. TINJAUN PUSTAKA........................................................................................ 3 A. Ayam Petelur ............................................................................................ 3 B. Pakan Ayam Petelur.................................................................................. 7 C. Bawang Merah .......................................................................................... 8 D. Konsumsi Pakan...................................................................................... 13 E. Konversi Pakan ....................................................................................... 15 F. Feed Cost Per Egg................................................................................... 16 G. Biaya Produksi........................................................................................ 16 H. Hipotesis ................................................................................................. 17 III. MATERI DAN METODE.............................................................................. 18 A. Materi...................................................................................................... 18 B. Metode Penelitian ................................................................................... 19 C. Parameter Penelitian ............................................................................... 20 D. Prosedur Penelitian ................................................................................. 20 E. Desain Penelitian .................................................................................... 23 PERPUSTAKAAN UMUKA
xi F. Teknik Analisis Data............................................................................... 23 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................... 24 A. Konsumsi Pakan...................................................................................... 24 B. Konversi Pakan ....................................................................................... 25 C. Feed Cost Per Egg Mass......................................................................... 26 D. Estimasi Biaya Produksi ......................................................................... 27 V. KESIMPULAN ................................................................................................ 28 A. Kesimpulan ............................................................................................. 28 B. Saran ....................................................................................................... 28 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 29 LAMPIRAN.......................................................................................................... 32 PERPUSTAKAAN UMUKA
xii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Kebutuhan zat makanan .....................................................................................7 2. Kebutuhan minimal asupan protein tercerna pada konsumsi pakan harian .......8 3. Kandungan nutrient pakan basal ......................................................................19 4. Rata-rata konsumsi pakan ayam selama penelitian..........................................24 5. Rata-rata konversi pakan ayam petelur............................................................25 6. Feed cost per egg mass....................................................................................26 PERPUSTAKAAN UMUKA
xiii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Aplikasi ekstrak pada ayam .......................................................................21 2. Lay out penempatan unit percobaan ..........................................................22 PERPUSTAKAAN UMUKA
xiv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Rata-rata konsumsi pakan selama penelitian .............................................32 2. HDA ...........................................................................................................33 3. Berat telur...................................................................................................34 4. Rata-rata konversi pakan............................................................................35 5. Pakan perlakuan .........................................................................................36 6. Perhitungan ekonomi pakan ekstrak kulit bawang merah..........................36 7. Feed cost per egg mass ..............................................................................37 PERPUSTAKAAN UMUKA
1 I. PENDAHULUAN Salah satu sumber protein hewani yang terjangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia adalah telur konsumsi. Telur merupakan pangan sumber protein nabati yang sangat baik, karena selain kualitas gizinya tinggi, juga mempunyai tingkat biologicvalue yang paling tinggi diantara sumber pangan hewani. Disatu sisi, semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka untuk kebutuhan akan telur pun meningkat, sehingga industri penggunggasan termasuk ayam petelur pun semakin berkembang. Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2019, populasi ayam petelur mengalami peningkatan dari 161.364.000 ekor pada tahun 2016 meningkat sebanyak 60,4% dari tahun 2015 dan pada tahun 2017 mengalami peningkatan sebesar 1,19%. Untuk menjaga kesehatan ayam petelur diperlukan berbagi upaya prefentif, salah satu nya dengan memberikan berbagai obat termasuk antibiotik, yang tujuan nya adalah mencegah terjadi nya infeksi terhadap mikroorganisme patogen. Namun demikian penggunaan antibiotik selama ini dikhawatirkan akan berdampak negatif dalam jangka panjang, terutama bagi manusia yang menggkonsusmsi produk peternakan sepertri telur dan daging, hal ini disebabkan antibiotik dapat membunuh bakteri mikroba pencernaan yang menguntungkan, serta menyebabkan resistensi bagi ternak, maupun bagi konsumen produk hewan Oleh sebab itu Pemerintah menetapkan pelarangan penggunaan AntibioticGrowth Promotor (Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor 14/PERMENTAN/PK.350/5/2017 tentang klasifikasi obat hewan). PERPUSTAKAAN UMUKA
2 Berkaitan hal tersebut diperlukan pengkajian suplemen alternatif yang aman. Suplemen pakan tersebut antara lain probiotik, prebiotik, sinbiotik, enzim, herbal (fitobiotik), asam organik dan antioksi dan salah satu rempah-rempah yang paling umum digunakan selain sebagai bumbu masak juga sebagai obat tradisional adalah bawang merah (Allium cepa L.). Bawang merah (Allium cepa L.) dipercaya merupakan obat dari beberapa penyakit dan biasa digunakan sebagai obat penyembuh luka. Pemanfaatan bawang merah (Allium cepa L.) terbatas pada dagingnya saja, sedangkan kulitnya tidak dimanfaatkan (Arung dkk, 2011). Hal ini dikarenakan masyarakat sering menganggap kulit bawang merah (Allium cepa L.) sebagai limbah yang dihasilkan dari industri pangan dan rumah tangga yang sebagian besar belum bisa dimanfaatkan (Rahayu dkk, 2015). Di dalam kulit bawang merah (Allium cepa L.) mengandung banyak senyawa-senyawa kimia seperti flavonoid, saponin, tanin, glikosida dan steroida atau triterpenoid(Manullang, 2010). Penelitian Apriasaridkk (2013) mengatakan bahwa senyawa kimia seperti flavonoid, saponin dan tanin memiliki efek bakteriostatik terhadap Streptococcusmutans Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi biaya biaya produksi ayam ras petelur dengan pemberian ekstrak kulit bawang merah dalam pakan nya. Manfaat dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberikan informasi tentang penggunaan ekstrak kulit bawang merah terhadap efisiensi biaya produksi ayam ras petelur. PERPUSTAKAAN UMUKA
3 II. TINJAUN PUSTAKA A. Ayam Petelur Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Ayam unggas pada awalnya berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Ayam petelur yang berkembang sekarang ini termasuk ke dalam species Gallus domesticus. Galur atau strain yang ada sekarang ini dapat berasal lebih dari satu bangsa. Umumnya tipe ringan berasal dari White Leghorn, tipe medium dari Rhode Island Red, Australop dan Barred Plymouth Rock sedangkan tipe berat dari bangsa New Hampsire, White Plymouth Rock dan Cornish (Amrullah, 2003). Ayam domestics temasuk dalam species Gallus gallus tetapi kadang ditujukan kepada Gallus domesticus. Ayam diklasifikasikan sebagai berikut (Scanes et al.,2004) : Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Aves Superordo : Carinatae Ordo : Galliformes Family : Phasianidae Genus : Gallus Species : Gallus gallus PERPUSTAKAAN UMUKA
4 Tipe ayam ras petelur pada umumnya dibagi menjadi dua macam yaitu: 1. Tipe ayam petelur ringan Tipe ayam ini sering disebut juga dengan ayam petelur putih. Ayam petelur ringan ini mempunyai badan yang ramping/kurusmungil/kecil dan mata bersinar. Bulunya berwarna putih bersih berjengger merah. Ayam ini berasal dari galur murni white leghorn. Ayam galur ini sulit dicari, tapi ayam petelur ringan komersial banyak dijual di Indonesia dengan berbagai nama. Setiap pembibitan ayam petelur di Indonesia pasti memiliki dan menjual ayam petelur ringan (petelur putih) komersial ini. Ayam ini mampu bertelur lebih dari 260 telur per tahun produksi hen house. Sebagai petelur, ayam tipe ini memang khusus untuk bertelur saja sehinggasemua kemampuan dirinya diarahkan pada kemampuan bertelur, karena dagingnya sedikit. Ayam petelur ringan ini sensitive terhadap cuaca panas dan keributan. Ayam ini juga mudah kaget dan bila kaget ayam ini produksinya akan cepat turun, begitu juga bila kepanasan. 2. Tipe ayam petelur medium Bobot tubuh ayam ini cukup berat. Meskipun demikian , beratnya masih berada di antara berat ayam petelur dan ayam broiler. Oleh karena itu, ayam ini disebut tipe ayam petelur medium. Tubuh ayam ini tidak kurus, tetapi juga tidak terlalu gemuk. Telurnya cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Ayam ini disebut juga dengan ayam tipe dwiguna. Karena warnanya yang cokelat, maka ayam ini disebut dengan ayam petelur coklat yang umumnya mempunyai warna PERPUSTAKAAN UMUKA
5 bulu yang cokelat juga. Di pasaran, orang mengatakan telur cokelat lebih disukai daripada telur putih. Kalau dilihat dari warna kulitnya memang lebih menarik yang cokelat daripada yang putih, tapi dari segi gizi dan rasa relatif sama. Satu hal yang berbeda adalah harganya di pasaran, harga telur cokelat lebih mahal daripada telur putih. Hal ini dikarenakan telur cokelat lebih berat daripada telur telur putih dan produksi telur cokelat lebih sedikit daripada telur putih. Selain itu, daging dari ayam petelur medium akan lebih laku dijual sebagai ayam pedaging dengan rasa yang enak. Strain adalah klasifikasi ayam berdasarkan garis keturunan tertentu melalui persilangan dari berbagai kelas, bangsa atau varietas sehingga ayan tersebut memiliki bentuk, sifat dan tipe produksi tertentu sesuai dengan tuuan produksi. Strain-strain ayam petelur di Indonesia, antara lain: 1. Ross Brown Ross Brown merupakan strain ayam petelur yang diciptakan di Inggris pada tahun 1972. Perudahaan pembibitan di Indonesia yang mengembangkan ayam petelur strain Ross Brown yaitu PT. Cibadak Indah Sari Farm. Ciri-ciri strain ini antara lain berbulu coklat, produksi rata-rata telur 270 butir, koversi ransum 2,0 kg/dosis telur. 2. Hysex Brown Dikembangkan oleh PT. Ayam Manggis Indonesia. Strain ayam petelur ini memiliki bulu berwarna coklat, produksi rata-rata telur 272 butir, konversi ransum 1,98 kg/ dosis telur. PERPUSTAKAAN UMUKA
6 3. Lohman Brown Lohman brown merupakan strain ayam petelur yang diproduksi oleh Multibrader Adirama Indonesia. Kebanyakan ayam ini memiliki bulu berwarna cokelat seperti caramel, dengan bulu putih di sekitar leher dan ddi ujung ekor. Ayam ini mulai dapat bertelur pada umur 18 minggu, menghasilkan 1 butir telur perr hari, dapat bertelur sampai 300 butir pertahun dan biasanya bertelur pada saat pagi atau sore hari. Kebanyakan orang akan mengira ayam ini pada fase grower atau fase dimana ayam ini akan mulai berproduksi. 4. Isa Brown Strain ayam petelur Isa Brown dikembangkan oleh PT. ISA Inkud Breeder/PT Cargill Indonesia. Ayam Isa Brown merupakan strain ayam ras yang diciptakan di Inggris pada 1972. Ayam petelur Isa Brown merupakan jenis ayam hasil persilangan antara ayam rhode island dan rhode island. Isa Brown termasuk ayam petelur tipe medium yang memiliki produktivitas yang cukup tinggi. 5. Badcock Jenis ayam petelur ini dikembangkan oleh CV. Missouri ciri-ciri dari jenis ayam petelur ini adalah berbulu coklat, produksi rata-rata telur 260-15 butir, konversi ransum 1,9 kg/dosin telur. 6. Hubbard Golden Comet Dikembangkan oleh PT. Cipendawa Farm Enterprise/ PT. Wonokoyo. Memiliki ciri-ciri antara lain berbulu coklat, produksi ratarata telur 260 butir, konversi ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur. PERPUSTAKAAN UMUKA
7 B. Pakan Ayam Petelur Fungsi pakan yang diberikan ke ayam pada prinsipnya memenuhi kebutuhan pokok untuk hidup, membentuk sel-sel dan jaringan tubuh, serta menggantikan bagian –bagian yang rusak. Selanjutnya makanan itu untuk keperluan berproduksi ( Rahayu, dkk., 2011). Zat-zat gizi yang diperlukan ayam adalah karbohidrat, lemak, protein, serat kasar, mineral dan vitamin. Tabel 1. Menunjukkan kebutuhan nutrisi ayam ras petelur sesuai fase-fase kehidupannya. Tabel 1. Kebutuhan Zat Makanan Zat Gizi Kebutuhan Zat Makanan Fase Starter (0-6 Minggu) Fase Grower (6- 20 Minggu) Fase Layer (20 Mingguafkir) Metabolisme Energi (ME) (kkal/kg) 2700-3000 2600-2900 2650-2900 Protein (%) 20-22 14-16 17-19 Lemak (%) 4 5 5 Serat Kasar (%) 4-6 7-9 6-8 Kalsium (%) 1 1 0,3 Fosfor (%) 0,7 0,6 0,5-0,6 Sumber : Rahayu dkk. (2011). Pakan dengan kandungan nutrisi tinggi sangat diperlukan, karena pada periode ini kenaikan produksi telur stiap harinya cukup tinggi sampai puncak produksi mendekati 100%. Selain komposisi nutrisi yang dirancang khusus untuk puncak produksi, maka harus diperhatikan asupan pakan per ekor per hari (feed intake). Feed intake harus naik per ekor perharinya sesuai dengan kenaikan produksi telur per hari (Fadilah dan Fatkhuroji, 2013). Ayam ras petelur yang dipelihara di daerah iklim panas, kemungkinan untuk mencapai feed intake yang normal sangat sulit. Dengan PERPUSTAKAAN UMUKA
8 demikian pakan yang digunakan adalah jenis pakan yang bernutrisi tinggi (higher in nutrient consentrasion) dan mudah tercerna (digestable). Dengan demikian, feed intake rendah, masih tetap memberikan kompensasi kecukupan nutrisi yang dibutuhkan untuk produksi telur (Fadilah dan Fathuroji, 2013). Tabel 2 berikut menunjukkan kebutuhan minimal asupan protein tercerna pada konsumsi pakan. Tabel 2. : Kebutuhan minimal asupan protein tercerna pada konsumsi pakan harian. Konsumsi Pakan Harian (Gram Per Ekor) Protein (%) Produksi 90% Produksi 85% Produksi 80% Produksi 75% Produksi 70% 82 22,0 21,3 20,7 20,1 19,5 86 20,9 20,3 19,8 19,2 18,6 90 19,8 19,2 18,7 18,1 17,6 95 18,,9 18,4 17,9 17,4 16,8 100 18,0 17,5 17,0 16,5 16,0 104 17,3 16,8 16,3 15,9 15,4 109 16,5 16,1 15,6 15,1 14,7 113 15,9 15,5 15,0 14,6 14,2 118 15,3 14,8 14,4 14,0 13,6 Sumber : Fadilah daan Fatkhuroji (2013). C. Bawang Merah Bawang Merah (Alliumcepa L.) merupakan tanaman Spermatophyta dan berumbi, berbiji tunggal dengan sistem perakaran serabut. Klasifikasi tanaman bawang merah (Allium cepa L.): Kindom : PlantaeDivisio : Spermatophyta Sub – divisio : Angiospermae Ordo : Liliales (Liliaflorae) Famili : Liliaceae Genus : Allium PERPUSTAKAAN UMUKA
9 Species : Allium cepa L. Bawang merah (Allium cepa L.) dalam genus Allium mempunyai lebih dari 600 - 750 spesies dan terdapat 7 kelompok yang sering dibudidayakan, yaitu Alliumcepa L., Alliumsativum L., Alliumampeloprasum L., Alliumfistulosum L., Alliumachoenoprasum L., Alliumchinese. dan AlliumtuberosumRotterexSprengel. Beberapa Allium menjadi gulma invasif, namun sebagian besar dapat dikonsumsi dan beberapa spesies Allium dibudidayakan sebagai tanaman pangan penting. Budidaya bawang merah di dataran rendah memiliki umur panen antara 60-80 hari setelah tanam, sedangkan di dataran tinggi memiliki umur panen 90-110 hari. Umur panen bawang merah dipengaruhi oleh varietas 5 yang digunakan, apakah varietas umur dalam atau umur genjah. Bawang merah (Allium cepa L.) varietas Brebes sesuai namanya merupakan varietas lokal asal Brebes dan dapat dipanen pada umur 60 hari setelah tanam. Produksi bawang merah Brebes mampu mencapai 10 ton/ha umbi kering dan 22% susut bobot umbi dari umbi panen basah. Varietas lokal asal Brebes ini resisten terhadap penyakit busuk umbi (Botrytisalli) dan peka terhadap busuk daun (Phytopthoraporri) sehingga cocok ditanam di dataran rendah. Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Sebagai salah satu komoditas sayuran yang secara ekonomis menguntungkan dan mempunyai prospek pasar yang luas, bawang merah (Allium cepa L..) cukup banyak digemari oleh masyarakat, terutama sebagai bumbu penyedap masakan, namun dapat pula sebagai bahan obat, seperti: untuk menurunkan kadar PERPUSTAKAAN UMUKA
10 kolesterol, sebagai obat terapi, antioksidan, dan antimikroba. Bawang merah (Allium cepa L..) memiliki karakteristik senyawa kimia, yaitu senyawa kimia yang dapat merangsang keluarnya air mata jika bawang merah tersebut disayat pada bagian kulitnya dan senyawa kimia yang mengeluarkan bau yang khas. Salah satu penghasil bawang merah (Allium cepa L..) yaitu Kota Palu, Sulawesi Tengah yang menjadi penghasil oleh-oleh bawang merah, karena pengetahuan masyarakat yang terbatas tentang pemanfaatan kulit bawang merah (Allium cepa L.) yang dapat digunakan sebagai antibakteri dan dapat menyembuhkan penyakit-penyakit lainnya. Bawang merah (Alliumcepa L.) mempunyai kandungan sulfur compound seperti AllylPropylDisulphida (APDS) dan flavonoid seperti quercetin yang dipercaya bisa mengurangi resiko kanker, penyakit jantung dan kencing manis. Kulit bagian luar bawang yang mengering dan kerap berwarna kecoklatan kaya serat dan flavonoid serta antibakteria terhadap Stapylococcusaureus dan E. coli. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kulit bawang merah mengandungantioksidan, bahkan lebih dari bawang itu sendiri. Ini secara signifikan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Lapisan luarnya adalah sumber yang kaya antioksidan, serat makanan, dan flavanoid yang meningkatkan kesehatan kulit. Selain itu, kulit bawang merah tinggi dalam pigmen yang dikenal sebagai quercetin yang mencegah penyumbatan arteri dan mengurangi hipertensi, memiliki sifat penenang yang kuat, dan mengobati insomnia. Ia memiliki kualitas antibakteri, antioksidan, dan antijamur yang kuat. Bahan utama dalam kulit bawang merah, quercetin adalah flavanoid dan antioksidan yang menghancurkan penyebab utama kanker dan radikal bebas. Penelitian PERPUSTAKAAN UMUKA
11 telah menunjukkan bahwa kulit bawang merah kaya serat tidak larut yang mendukung gerakan peristaltik yang tepat dari usus besar. Selanjutnya, serat yang tidak larut menghilangkan racun yang terkumpul dari usus, mengatur pH, dan mencegah pembentukan sel kanker (Jaelani, 2007). Bawang merah dipercaya merupakan obat dari beberapa penyakit dan biasa digunakan sebagai obat penyembuh luka (Jaelani, 2007). Pemanfaatan bawang merah terbatas pada dagingnya saja, sedangkan kulitnya tidak dimanfaatkan (Arung dkk, 2011). Hal ini dikarenakan masyarakat sering menganggap kulit bawang merah sebagai limbah yang dihasilkan dari industri pangan dan rumah tangga yang sebagian besar belum bisa dimanfaatkan (Rahayu dkk, 2015). Padahal di dalam kulit bawang merah mengandung banyak senyawa-senyawa kimia seperti flavonoid, saponin, tanin, glikosida dan steroida atau triterpenoid (Manullang, 2010). Penelitian Apriasari dkk. (2013) mengatakan bahwa senyawa kimia seperti flavonoid, saponin dan tanin memiliki efek bakteriostatik terhadap Streptococcusmutans. Flavonoid memiliki kemampuan mendenaturasi protein sehingga metabolisme sel bakteri terhenti. Saponin berinteraksi dengan sel bakteri yang menyebabkan sel tersebut pecah atau lisis (Poeloengan dan Praptiwi, 2010). Tanin dapat berikatan dengan asam lipoteikoit pada permukaan sel. Bawang merah merupakan rempah-rempah asli Indonesia yang mempunyai nilai jual cukup tinggi di masyarakat. Pemanfaatan bawang merah terbatas pada dagingnya saja, sedangkan kulitnya tidak termanfaatkan. Hal ini menyebabkan kulit bawang merah menjadi limbah yang dapat menyebabkan polusi bau, pencemaran air tanah, dan penyumbatan saluran air PERPUSTAKAAN UMUKA
12 „siring‟. Padahal kulit bawang merah mengandung senyawa golongan flavonoid. Flavonoid mempunyai sifat antioksidan disebabkan kemampuannya bertindak sebagai radikal akseptor yang bebas dan juga sifat metalnya yang kompleks. Jenis flavonoid yang ada pada kulit bawang merah adalah kuersetin. Kuersetininlah yang berfungsi sebagai inhibitor tirosinase atau pemutih kulit (Arung, 2011). Limbah kulit bawang hasil pertanian belum termanfaatkan secara maksimal sehingga dapat menyebabkan polusi bau dan pencemaran air. Limbah kulit bawang merah dapat dijadikan sebagai sebagai bahan baku untuk produk kecantikan lulur. Hal ini karena senyawa aktifnya dapat berfungsi sebagai pemutih kulit. Kulit bawang merah (Allium cepa L) atau sisik daun merupakan limbah yang terbuang dan tersedia cukup banyak, merupakan bagian terluar dari umbi bawang merah yang berisi makanan cadangan. Selain makanan cadangan kulit bawang merah juga mengandung zat yang disebut flavonol. Flavonol yaitu sejenis pigmen kuning yang mempunyai sifat antioksidan cukup kuat disebabkan kemampuannya bertindak sebagai radikal akseptor yang bebas dan juga sifat metalnya yang komplek. Flavonol termasuk golongan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan, disamping flavon, isoflavon, kateksin, dan kalkon. Flavonol yang terkandung dalam bawang merah berjumlah 38,2 mg/kg dan merupakan zat yang larut dalam air, terdiri dari dua gugusan, yaitu gugusan glycon (gula), dan gugusan aglycon (tanpa gula). Beberapa gugusan aglycon yang terdapat dalam hasil pertanian misalnya quercetin, apigenin, hesperitin (Harvey 2000). PERPUSTAKAAN UMUKA
13 Dari hasil uji fitokimia diketahui kulit bawang merah mengandung golongan senyawa flavonoid, fenol, dan tanin. Senyawa yang bertanggung jawab sebagai inhibitor tirosinase (pemutih kulit) adalah kuersetin. Kuersetin merupakan senyawa dalam golongan flavonoid. Dari uji fitokimia diharapkan kulit bawang merah berpotensi sebagai inhibitor tirosinase (pemutih kulit) karena mengandung flavonoid. Selain itu, flavonoid memiliki manfaat sebagai antioksidan. D. Konsumsi Pakan Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dimakan ayam selama masa pemeliharaan. Konsumsi pakan merupakan hal terpenting, karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan baik untuk hidup pokok maupun untuk produksi (Yantimala, 2011). Konsumsi ransum diukur setiap minggu berdasarkan jumlah ransum yang diberikan (g) pada awal minggu dikurangi dengan sisa ransum (g) pada akhir minggu, bila dibagi tujuh maka hasilnya jumlah konsumsi rata-rata perhari (Rasyaf, 2010). Menurut Rasyaf (2003) konsumsi pakan ayam petelur strainLohmanBrown pada saat produksi adalah 110-120 gram/ekor/hari. Sudaryani (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pakan terdiri dari: 1). Tingkat produksi, semakin tinggi produksi semakin banyak pula tuntutan zat-zat makanan yang harus dipenuhi guna mengganti kekosongan akan zatzat makanan yang hilang bersama telur. PERPUSTAKAAN UMUKA
14 2). Besar tubuh, pada umumnya semakin besar badan ternak akan semakin berat pula timbangan dan semakin banyak pula makanan yang diperlukan. 3). Iklim, merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pakan yang dihabiskan. Konsumsi pakan dipengaruhi oleh suhu, semakin tinggi suhu dapat menurunkan konsumsi pakan. Hal ini sesuai dengan Setyono dkk., (2013) yang mengatakan kenaikan suhu kandang dapat menyebabkan nafsu makan berkurang dan ayam akan mengonsumsi air lebih banyak untuk membantu menyesuaikan suhu tubuhnya. Rasyaf (2010) menyatakan bahwa dalam suhu lingkungan yang dingin menyebabkan ternak akan mengkonsumsi pakan lebih banyak yaitu antara 20 sampai 30 persen diatas konsumsi pakan pada lingkungan yang panas. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi pada unggas adalah kandungan serat kasar dalam pakan, tingkat kualitas pakan dan palatabilitas atau cita rasa pakan (Ichwan, 2003). Pakan yang berkualitas baik, tingkat konsumsinya juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pakan yang berkualitas lebih rendah, ternak yang mempunyai sifat dan kapasitas konsumsi yang lebih tinggi, produksinya pun relatif akan lebih tinggi dibanding ternak dengan kapasitas atau sifat konsumsi yang rendah (Kartadisastra, 1994). Konsumsi pakan diukur setiap minggu berdasarkan jumlah pakan yang diberikan (g) pada awal minggu dikurangi dengan sisa pakan (g) pada akhir minggu, bila dibagi tujuh maka hasilnya jumlah konsumsi rata-rata perhari (Rasyaf, 2010). Menurut Scott dkk., (1982) konsumsi pakan ayam petelur dewasa tipe ringan pada umumnya PERPUSTAKAAN UMUKA
15 100 gram/ekor/hari, tipe medium sebesar 120-150 gram/ekor/hari dan tipe berat mengkonsumsi pakan diatas 150 gram/ekor/hari. E. Konversi Pakan Salah satu cara untuk mengetahui efisiensi dan efektifitas usaha peternakan adalah konversi pakan. Konversi pakan yang merupakan gambaran pemanfaatan pakan oleh ayam berupa perbandingan pakan yang dihabiskan dalam menghasilkan sejumlah telur. Konversi pakan merupakan perbandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur (Alex, 2012 dalam Jawirani, 2017). Nilai konversi pakan yang tinggi menunjukkan bahwa efesiensi produksi yang rendah karena lebih banyak pakan yang dimanfaatkan untuk memproduksi telur, begitupun sebaliknya. Rendahnya angka konversi ransum diharapkan akan meningkatkan keuntungan peternak. Konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bangsa ayam, kecepatan pertumbuhan, produksi telur, kandungan energi dan protein pakan, kesehatan ayam, temperatur lingkungan, ventilasi kandang dan kandungan amonia di dalam kandang (Sjofjan, 2003). Parameter terbaik untuk menilai mutu pakan adalah dengan melihat efisiensi penggunaan pakan tersebut. Konversi pakan sangat penting diperhatikan karena erat kaitannya dengan biaya produksi. Tinggi rendahnya nilai konversi bergantung keseimbangan nutrisi dalam pakan. Semakin rendah nilai konversi maka semakin efisien. PERPUSTAKAAN UMUKA
16 F. Feed Cost Per Egg Nilai ekonomis pakan atau feed cost per egg adalah banyaknya biaya pakan yang di gunakan untuk membentuk 1 kg telur. Dengan melihat konversi pakan dapat diperhitungkan nilai ekonomisnya sehingga diketahui seberapa jauh perlakuan tersebut dalam menekan biaya pakan. Menurut Murtidjo (1992) bahwa biaya pakan yang di keluarkan untuk ternak unggas komersial sekitar 65% dari biaya produksi. Nilai Income Over Feed Cost (IOFC) merupakan indicator yang dapat memperlihatkan suatu usaha peternakan mendapat keuntungan atau tidak. Besarnya nilai IOFC dapat diketahui dengan membandingkan pendapat terhadap biaya ransum (Rasyaf, 2005). IOFC merupakan perbandingan antara pendapatan biaya usaha dengan biaya ransum. Pendapatan usaha merupakan perkalian antara hasil produksi peternakan dengan harga produksi, sedangkan biaya ransum adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan kilogram produk ternak (PT. Medion,2015) G. Biaya Produksi Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan selama proses manufakturing atau pengelolaan dengan tujuan menghasilkan produk yang siap dipasarkan. Perhitungan biaya produksi ini akan dilakukan mulai dari awal pengolahan, hingga barang jadi atau setengah jadi (Anonimus, 2021). Biaya produksi peternakan ayam petelur merupakan komponen yang penting untuk menetapkan harga pokok yang nantinya akan digunakan dalam penentuan harga jual. Pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha PERPUSTAKAAN UMUKA
17 peternakan ayam petelur yaitu 60 – 70% dari total biaya produksi, sehingga peternak dituntut untuk menggunakan pakan yang murah dan berkualitas agar dapat memenuhi kebutuhan nutrien ternak, baik untuk pertumbuhan maupun produksi telur. H. Hipotesis Hipotesis penelitian ini adalah pemberian ektrak kulit bawang merah dalam pakan dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi ayam ras petelur. PERPUSTAKAAN UMUKA
18 III. MATERI DAN METODE Penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Bawang Merah Dalam Pakan Terhadap Efisiensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur” dilaksanakan di UPT Jl. Ronggowarsito Bejen Karanganyar, selama 5 minggu pada tanggal 21 Maret 2022 sampai dengan 26 April 2022. A. Materi Materi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. Ayam ras strain Lohman umur 32 minggu sebanyak 27 ekor, dengan bobot badan rata-rata 1,8 kg. 2. Kandang sistem batteray sebanyak 9 unit, dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. 3. Timbangan digital merk DS-682 untuk menimbang pakan dan telur. 4. Pakan diberikan secara ad libitum. Pakan yang diberikan adalah merk “Super Feed” yang diproduksi oleh CV. Royal Super Feed Sragen Jawa Tengah, dengan komposisi seperti pada tabel 3. 5. Ekstrak kulit bawang merah,yang dibuat dengan cara : a. Menyiapkan kulit kedua dari bawang merah (Allium cepa L.). b. Cuci kulit bawang merah hingga bersih. c. Tiriskan kulit bawang merah yang telah dicuci. d. Siapkan panci untuk merebus kulit bawang merah sampai mendidih. e. Perbandingan antara volume kulit bawang merah dengan aquades 1:1. f. Kemudian dinginkan di suhu kamar dan di saring dengan saringan. PERPUSTAKAAN UMUKA
19 g. Didapat ekstrak kulit bawang merah. Tabel 3. Kandungan nutrien pakan basal Nutrisi Kandungan Kadar air 11-12 % Protein kasar Min 18 % ME / Energi 2800 Kkal/Kg Lemak kasar Min 4,0 % Serat kasar Max 5,0 % Abu Max 13,0 % Calium 3,7 - 4,0 % Phospor Min 0,6 % AVP Min 0,3 % Lysine Min 0,87 % Methionine Min 0,44 % M+C Min 0,74 % Sumber : CV. Royal Super Feed Sragen B. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode eksperimen, 27 ekor ayam dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, setiap perlakuan diulang 3 kali dan setiap ulangan terdiri dari 3 ekor ayam. Semua unit percobaan diberi pakan dan minum secara adlibitum. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian ekstrak kulit bawang merah yang disemprotkan ke pakan dengan level perlakuan sebagai berikut. T0 : Ayam diberi pakan basal, tanpa tambahan ekstrak kulit bawang merah T1 : Ayam diberi pakan yang mengandung 5% ekstrak kulit bawang merah T2 : Ayam diberi pakan yang mengandung 10% ekstrak kulit bawang merah PERPUSTAKAAN UMUKA
20 C. Parameter Penelitian 1. Konsumsi pakan, diukur setiap minggu dengan cara menimbang pakan tersedia di awal dan menimbang sisa pakan di akhir periode mingguan, kemudian menghitung selisihnya. Konsumsi pakan = pakan tersedia - pakan tersisa (gram/ekor/hari) jumlah hari x jumlah ekor 2. Konversi pakan, hasil pembagian antara konsumsi pakan dan produksi telur (massa telur) dalam satuan waktu yang sama. Konversi pakan = Konsumsi pakan (gram/hari) Massa telur (gram/hari) 3. Feed cost per egg diukur dari konversi pakan dikalikan harga pakan dengan rumus Feed Cost per Egg : konversi pakan x harga pakan ( Rp). 4. Estimasi biaya produksi, dengan rumus Biaya produksi = D. Prosedur Penelitian 1. Persiapan kandang Kandang yang digunakan berupa kandang batteray, setiap unit terdiri dari 3 sekat, masing-masing sekat berisi satu ekor, total jumlah kandang bateray 9 unit. Kemudian dilakukan pengacakan unit penelitian dan penempelan label untuk setiap unit penelitian. 2. Pembuatan Ekstrak Kulit Bawang Merah Pembuatan ekstrak kulit bawang merah dalam penelitian ini menggunakan metode maserasi. Maserasi menggunakan cara penyaringan yang sederhana. Ekstrak kulit bawang merah dibuat dengan cara : a. Menyiapkan bawang merah (Allium cepa L.) PERPUSTAKAAN UMUKA
21 b. Cuci kulit bawang merah hingga bersih. c. Tiriskan kulit bawang merah yang telah dicuci. d. Siapkan panci untuk merebus kulit bawang merah sampai mendidih. e. Perbandingan volume antara kulit bawang merah dengan air bersih 1:1. f. Kemudian dinginkan di suhu kamar dan disaring dengan saringan. 3. Aplikasi eksrak kulit bawang merah : Ekstrak disemprotkan menggunakan sprayer sesuia dengan masing-masing perlakuan. Untuk pengaplikasian ekstrak kulit bawang merah bisa dilihat di gambar 1. Gambar 1. Aplikasi ekstrak pada pakan 4. Pemberian pakan dan minum Pemberian pakan dan minum dilakukan secara ad libitum, sehingga pakan dan minum akan selalu tersedia di tempat pakan setiap hari. Penimbangan pakan dilakukan setiap satu minggu sekali. Pakan yang sudah ditimbang kemudian disimpan di ember untuk persediaan selama satu minggu kedepan. Pemberian pakan dilakukan dua kali dalam satu hari, yaitu pagi pukul 07.00 WIB dan siang pukul 14.00 WIB. Sedangkan pengambilan dan penimbangan telur dilakukan setiap hari sekitar pukul 14.30 WIB. PERPUSTAKAAN UMUKA
22 5. Lay Out Materi Penelitian Penempatan materi penelitian dilakukan dengan pemberian nomor urut pada kandang masing-masing unit. Kemudian masing-masing perlakuan diundi sesuai dengan nomor kandang tersebut dan ditempatkan secara acak. Hasil pengundian nomor kandang setiap perlakuan adalah seperti pada gambar 2. T0.1 T2.2 T2.3 T1.3 T0.2 T1.2 T2.1 T0.3 T1.1 Gambar 2. Lay Out Penempatan Unit Percobaan Keterangan : T0.1 : Perlakuan T0, ulangan 1 T0.2 : Perlakuan T0, ulangan 2 T0.3 : Perlakuan T0, ulangan 3 T1.1 : Perlakuan T1, ulangan 1 T1.2 : Perlakuan T1, ulangan 2 T1.3 : Perlakuan T1, ulangan 3 T2.1 : Perlakuan T2, ulangan 1 T2.2 : Perlakuan T2, ulangan 2 T2.3 : Perlakuan T2, ulangan3 PERPUSTAKAAN UMUKA
23 E. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Rancangan ini dipilih karena karakteristik obyek penelitian bersifat homogen ditinjau dari sisi ayam ras petelur, bentuk dan jenis kandang serta kondisi geografis dimana eksperimen dilakukan. F. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis statistik SPSS for Windows Release 10.0. Feed cost per egg mass dan efisiensi biaya pakan dianalisis secara deskriptif. PERPUSTAKAAN UMUKA
24 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Bawang Merah Dalam Pakan Terhadap Efisiensi Biaya Produksi Ayam Ras Petelur” dilaksanakan di UPT Jl. Ronggowarsito Bejen Karanganyar, selama 5 minggu di UPT. Jl. Ronggowarsito Bejen Karanganyar. Adapun hasil dan pembahasan penelitian yang meliputi konsumsi pakan, produksi telur dalam hen day average (HDA), berat telur rata-rata, konversi pakan, feed cost per egg dan estimasi biaya produksi sebagai berikut: A. Konsumsi Pakan Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dihabiskan oleh ayam selama pemeliharaan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap konsumsi pakan ayam ras dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Rata-rata konsumsi pakan ayam selama penelitian (gram/ekor/hari) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 116.20 118.30 112.33 2 119.22 117.74 117.99 3 121.86 117.55 111.40 Rata- rata 119.09 117.86 113.91 Keterangan : Non significant/ berbeda tidak nyata (Sig.0,115) Tabel 4. menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi pakan ayam petelur sebagai materi penelitian pada perlakuan T0 : 119.09 ; T1 : 117.86 ; T2 : 113.91 gram/ekor/hari. Berdasarkan analisis statistik diketahui bahwa pemberian ekstrak kulit bawang merah terhadap konsumsi pakan selama penelitian PERPUSTAKAAN UMUKA
25 berbeda tidak nyata (Sig. 0,115), hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit bawang merah tidak mempengaruhi konsumsi pakan. Dalam penelitian ini konsumsi pakan dengan hasil T0 : 119.09 ; T1 : 117.86 ; T2 : 113.91 gram/ekor/hari, hal ini sesuai dengan pendapat Rasyaf (2003) konsumsi pakan ayam petelur strain LohmanBrown pada saat produksi adalah 110-120 gram/ekor/hari. Anonimous (2003) menyatakan baahwa kebutuhan konsumsi pakan dipengaruhi oleh strain dan lingkungan. Dalam penelitian ini menggunakan strain dan lingkungan yang sama sehingga dapat dipahami jika diperoleh konsumsi yang berbeda. B. Konversi Pakan Pengaruh pemberian ektrak kulit bawang merah dalam pakan terhadap konversi pakan dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini. Tabel 5. Rata-rata konversi pakan ayam selama penelitian. Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 2.16 2.22 2.52 2 2.44 2.21 2.1 3 2.38 2.34 2.65 Rata-rata 2.33 2.26 2.42 Keterangan: non significant/berbeda tidak nyata (Sig.0,591) Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata konversi pakan perlakuan T0, T1 dan T2 secara berturut-turut yaitu 2,33; 2,26 dan 2,42. Hasil dari analisa statistik menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ekstrak kulit bawang merah sampai level 10% tidak mempengaruhi konversi pakan ayam ras petelur. Seperti halnya pemberian ekstrak kulit bawang merah PERPUSTAKAAN UMUKA
26 terhadap konsumsi pakan dan massa telur pada penelitian ini tidak menunjukkan pengaruh yang nyata, sehingga tidak menyebabkan perbedaan nilai konversi pakan pula. Menurut Sjofjan (2003) bahwa konversi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bangsa ayam, kecepatan pertumbuhan, produksi telur, kandungan energi dan protein pakan, kesehatan ayam, temperature lingkungan, ventilasi kandang, dan kandungan ammonia di dalam kandang. C. Feed Cost Per Egg Mass Feed cost per egg mass selama penelitian dapat dilihat pada tabel 6. Pada perlakuan T0 diperoleh Feed cost per egg mass atau biaya pakan per kilogram telur adalah Rp. 15.588,67. Pemberian pakan dengan tambahan 5% ektrak kulit bawang merah (T1) untuk menghasilkan 1kg telur dibutuhkan biaya pakan sebesar Rp. 14.404,30. Sedangkan untuk pemberian pakan dengan tambahan 10% ektrak kulit bawang merah (T2) untuk biaya pakan dibutuhkan biaya produksi yakni Rp. 14.772,64. Tabel 6. Feed cost per egg mass ayam selama penelitian Perlakuan Harga Pakan (Rp) Konversi Pakan Feed Cost/ Egg Mass (Rp) T0 6.700 2.33 15.588,67 T1 6.383 2.26 14.404,30 T2 6.096 2.42 14.772,64 Pemberian ektrak kulit bawang merah dalam level 0%, 5%, dan 10% menghasilkan peformans sama, akan tetapi dari segi biaya pakan dalam menghasilkan 1kg telur perlakuan yang paling ekonomis ditunjukkan pada PERPUSTAKAAN UMUKA
27 perlakuan T1 (5%) Rp. 14.404,30. Karena memperoleh konversi pakan yang rendah, dengan harga pakan yang lebih rendah dari pada kontrol. Perlakuan T1 memperoleh efisiensi biaya pakan sebesar 7,60%, sedangkan perlakuan T2 mendapatkan efisiensi biaya pakan sebesar 5,23% dibandingkan control (lampiran 7). D. Estimasi Biaya Produksi Berdasarkan Feed cost per egg mass didapatkan data estimasi biaya produksi ektrak kulit bawang merah sebagai berikut. Estimasi Biaya Produksi = 100 x Feed Cost Per Egg (Rp.) 65 Maka : T0 = 100 x Rp. 15.588,67 65 = Rp. 23.982,56 T1 = 100 x Rp.14.404,30 65 =Rp. 22.160,46 T2 = 100 x Rp.14.722,64 65 =Rp. 22.650,46 Catatan : Asumsi biaya pakan adalah 65% dari total biaya produksi. Berdasarkan hasil diatas maka dapat disimpulkan bahwa penambahan ekstrak kulit bawang merah pada ransum petelur memperoleh hasil biaya produksi paling rendah pada level penambahan ekstrak kulit bawang merah 5% (T1) dengan total biaya Rp. 22.160.46, biaya tersebut lebih rendah dari pemberian 10% ekstrak kulit bawang merah dengan total biaya Rp. 22.650,46, sedangkan harga yang paling tinggi adalah T0 atau kontrol, yaitu Rp. 23.982,56. PERPUSTAKAAN UMUKA
28 V. KESIMPULAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan terhadap semua variabel pada penelitian ini maka dapat di tarik kesimpulan bahwa 1) Pemberian ektrak kulit bawang merah (Allium cepa L.) tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan dan konversi pakan ayam ras petelur. 2) Penggunaan ekstrak bawang merah dengan level 5% menghasilkan Feed Cost per egg mass paling rendah , yaitu sebesar Rp. 14.404,30, dan estimasi total cost yang paling rendah pula, yaitu Rp. 22.160,46. 3) Efisiensi biaya pakan dengan pemberian 5% ekstrak kulit bawang adalah 7,60%, sedangkan pemberian 10% ekstrak kulit bawang memperoleh efisiensi biaya pakan yang lebih rendah (5,23%). B. Saran Bagi peternak dapat menggunakan ekstrak bawang merah sebanyak 5% dalam ransum. PERPUSTAKAAN UMUKA
29 DAFTAR PUSTAKA Al Nasser, A., A. Al Saffar, M. Mashaly, H. Al Khalaifa, F. Khalil, M. Al Baho, dan A. Al Haddad. 2005. A comparative study onproductionefficiencyofbrownandwhitepullet. Bulletinof Kuwait InstituteforScientificResearch 1 (1): 1 – 4. Anonimus. 2021. Cara Menghitung Biaya Produksi: Pengertian, Contoh dan Unsur-unsurnya. https://www.gramedia.com/literasi/biaya-produksi/ (diakses 29 Agustus 2022, pukul 11.00 WIB) Amrullah, I.K. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunung Budi, Bogor. Apriasari, M.L., Fadhilah, A. dan Caraelly, A.N. 2013. Aktivitas Antibakteti Ekstrak Metanol Batang Pisang Mauli (Musa sp) terhadap Streptococcus mutans. Univeritas Lambung Mangkurat. Banjarmasin. Arung, T., Shimizu, K., Kusuma, I.W. dan Kondo, R. 2011. Inhibitory Effect of Quercetin 4‟-O-B-glucopyranoside from Dried Skin of Red Onion (Allium cepa L.). Natural Product Research. 25 (3): 256-263. Dewi . 2010. Potensi Ekstrak Air, Ekstrak Etanol Dan Minyak Atsiri Bawang Merah (Alliumcepa L.) Kultivar Batu Terhadap Isolat Bakteri Asal Karies Gigi. Jurnal Biotika (7) 1 : P. 40-48. Fadilah, R. Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras Petelur. Agromedia Pustaka. Jakarta. Harvey, David. 2000. Modern Analytical Chemistry. McGraw-Hill Comp. New York. Ichwan. 2003. Membuat Pakan Ras Pedaging. Agro Media Putaka. Tangerang. Jaelani. 2007. Khasiat Bawang Merah. Kanisius. Yogyakarta. Jawirani, G. N. 2017. Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Mengkudu (Morinda cirifolia) dalam Pakan Terhadap Performans Ayam Petelur. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang. Kartadisastra, H. R. 1994. Pengelolaan Pakan Ayam. Kanisius. Yogyakarta. Manullang, L. 2010, Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Kulit Bawang Merah (Aliumcepaebulbusvarascalonicum) dengan Metode Uji BrineShrimp (BST), Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Sumatra Utara, Medan PERPUSTAKAAN UMUKA
30 Misna, dan diana, K. 2016. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Bawang Merah (Alliumcepa L.) Terhadap Bakteri Staphylococcusaureus. GALENIKA JournalofPharmacy Vol. 2 (2) : 138 - 144 ISSN : 2442-8744 Murtidjo, B. A. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Kanisius. Yogyakarta. Poelongan M, Praptiwi. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana linn). Media Litbang Kesehatan 20(2). Rahayu, S., Kurniasih, N. dan Amalia, V. 2015, Ekstraksi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Limbah Kulit Bawang Merah sebagai Antioksidan Alami, alKimiya, 2 (1) : 1-8. Rahayu, I., T Sudaryani., H Santosa. 2011. Panduan Lengkap Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf, M. 2003. Manajemen Peternakan Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf, M. 2005. Beternak Ayam Pedaging. Jakarta: Penebar Swadaya Rasyaf, M. 2010. Pengelolaan Produksi Telur. Kanisius. Yogyakarta Risyani. Lusia, PM. 2018. Pengaruh Pemberian Tepung Daun Sirsak (Annonamuricatalinn) Dalam Ransum Terhadap Produksi dan Kualitas Telur Ayam Ras. Laporan Penelitian. Akademi Peternakan Karanganyar. Karanganyar. Scannes, C., G. G. Brant, and M. E. Ensminger. 2004. Poultry Science. Fourth edition. Food Product Press. An Imprint of the Haworth Press, Inc. New York. Scott. M. L., M. C, Nesheim and R.J. Young. 1982. Nutrions of the Chickens Second Ed. M. L. Scott and Asociates Ithaca. New York. Setyono, D. J. dkk. 2013. Sukses Meningkatkan Produksi Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta. Sjofjan, O. 2003. Kajian ProbiotikAB (Apergilus niger dan Bacillus sp) sebagai Imbuhan Ransum dan Implikasi Efeknya Terhadap Mikroflora Usus Serta Penampilan Produksi Ayam Petelur. Disertasi. Universitas Padjajaran. Bandung. Solikin, T. 2016. Bobot Akhir, Bobot Karkas dan Income Over Feed and Chick Cost Ayam Sentul Barokah Abadi Farm Ciamis. Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran, Bandung. Sudaryani. T. 2000. Kualitas telur. Cetakan ke-4. Penebar Swadaya. Jakarta. PERPUSTAKAAN UMUKA
31 Wahyu, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Yanti Mala, Dewi. 2011. Pengaruh Pemberian Tepung Kaki Ayam Broiler Sebagai Subtitusi Tepung Ikan di dalam Ransum Terhadap Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Konversi Pakan Ayam Arab (Gallus turcicus). Unversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang. PERPUSTAKAAN UMUKA
32 LAMPIRAN Lampiran 1. Rata-rata konsumsi pakan selama penelitian (gram/ekor/hari) Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 116.202 118.296 112.334 2 119.22 117.742 117.99 3 121.856 117.554 111.4 Rata-rata 119.09 117.86 113.91 Keterangan : Non significant/berbeda tidak nyata (Sig. 0,115) Descriptives Konsumsi Pakan N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimu m Maximu Lower Bound Upper Bound m T0 3 119.0927 2.82915 1.63341 112.0647 126.1207 116.20 121.86 T1 3 117.8640 .38575 .22271 116.9057 118.8223 117.55 118.30 T2 3 113.9080 3.56583 2.05873 105.0500 122.7660 111.40 117.99 Total 9 116.9549 3.27445 1.09148 114.4379 119.4719 111.40 121.86 ANOVA Konsumsi Pakan Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 44.040 2 22.020 3.166 .115 Within Groups 41.736 6 6.956 Total 85.776 8 Konsumsi pakan Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 T2 3 113.9080 T1 3 117.8640 T0 3 119.0927 Sig. .059 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA
33 Lampiran 2. HDA Rata-rata konsumsi HDA Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 94.29 94.29 76.83 2 88.25 97.14 96.19 3 91.11 87.30 73.33 Rata-rata 91.22 92.91 82.12 Keterangan : Non significant/berbeda tidak nyata (Sig. 0,273) Descriptives HDA N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimu m Maximu m Lower Bound Upper Bound T0 3 91.2167 3.02141 1.74441 83.7111 98.7223 88.25 94.29 T1 3 92.9100 5.06307 2.92317 80.3326 105.4874 87.30 97.14 T2 3 82.1167 12.31286 7.10883 51.5298 112.7035 73.33 96.19 Total 9 88.7478 8.47728 2.82576 82.2316 95.2640 73.33 97.14 ANOVA HDA Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups 202.173 2 101.087 1.627 .273 Within Groups 372.740 6 62.123 Total 574.914 8 HDA Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 T2 3 82.1167 T0 3 91.2167 T1 3 92.9100 Sig. .156 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA
34 Lampiran 3. Berat telur ANOVA Berattelur Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Between Groups 4.868 2 2.434 2.645 .150 Within Groups 5.520 6 .920 Total 10.388 8 Berattelur Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 T1 3 56.2333 T0 3 56.2533 T2 3 57.8033 Sig. .101 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. Descriptives Berattelur N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimu m Maximu m Lower Bound Upper Bound T0 3 56.2533 .83345 .48119 54.1829 58.3237 55.36 57.01 T1 3 56.2333 1.28025 .73915 53.0530 59.4136 54.87 57.41 T2 3 57.8033 .65310 .37706 56.1810 59.4257 57.19 58.49 Total 9 56.7633 1.13953 .37984 55.8874 57.6393 54.87 58.49 PERPUSTAKAAN UMUKA
35 Lampiran 4. Rata-rata konversi pakan ayam petelur Ulangan Perlakuan T0 T1 T2 1 2.16 2.22 2.52 2 2.44 2.21 2.1 3 2.38 2.34 2.65 Rata-rata 2.33 2.26 2.42 Keterangan : Non significant/berbeda tidak nyata (0,591) ANOVA Descriptives Konversi Pakan N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for Mean Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound T0 3 2.3267 .14742 .08511 1.9604 2.6929 2.16 2.44 T1 3 2.2567 .07234 .04177 2.0770 2.4364 2.21 2.34 T2 3 2.4233 .28746 .16597 1.7092 3.1374 2.10 2.65 Total 9 2.3356 .18070 .06023 2.1967 2.4745 2.10 2.65 Konversi pakan Sum of Squares df Mean Square F Sig. Between Groups .042 2 .021 .575 .591 Within Groups .219 6 .037 Total .261 8 Konversi Pakan Duncana Perlakuan N Subset for alpha = 0.05 1 T1 3 2.2567 T0 3 2.3267 T2 3 2.4233 Sig. .341 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000. PERPUSTAKAAN UMUKA
36 Lampiran 5. Pakan perlakuan T0 = Rp. 6.700,- T1 (5%) = (5/100 x 60) + 6.700 =3 + 6.700 =6.703 x 100/105 =Rp. 6.383/kg T2 (10%) = (10/100 x 60) + 6.700 = 6 + 6.700 = 6.706 + 100/110 = Rp. 6.096/kg Catatan : Biaya 1 liter ekstrak kulit bawang : Rp. 60,- Lampiran 6. Perhitungan ekonomi pakan ekstrak kulit bawang merah Harga 1 kg gas elpigi = Rp. 6.000 1 kg gas elpigi setara 11.255 Kkal atau 11.255.000 kalori Mendidihkan air (25 -100˚) sebanyak 1,5 liter/1.500 ml, membutuhkan energy : 75 x 1.500 = 112.500 kalori atau 112,5 Kkal Harga 112,5 Kkal = 112,5 x Rp. 6.000 11.255 = = Rp. 60,- Jadi, harga 1 liter ekstrak = Rp. 60,- 675.000 11.255 PERPUSTAKAAN UMUKA