The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sucipermata2424, 2023-01-19 07:33:41

Paket Informasi Tradisi Perkawinan Masyarakat Nagari Bukikbatabuah Kecamatan Canduang Kabupaten Agam

Paket Informasi

TRADISI PERKAWINANAN MASYRAKATAT NAGARI BUKIKBATABUAH KECAMATAN CANDUANG KABUPATEN AGAM INFORMASI PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG // 2023 PAKET INFORMASI SUCI PERMATA SARI


KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapkan atas kehadiran Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paket informasi yang berjudul " Paket Informasi Tradisi Perkawinan Masyrakat Nagari Bukikbatabuah Kecamatan Canduang Kabupaten Agam". Pada saat pembuatan paket informasi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih atas bimbingan ibu Malta Nelisa, S.Sos, M.Hum selaku dosen pembimbing penulis dalam menulis paket informasi ini dan kepada beberapa narasumber lainya. Paket informasi ini penulis susun guna untuk memberikan informasi tentang proses perkawinan masyrakat Nagari Bukikbatabuah dalam sebuah buku. Paket informasi ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat khususnya para generasi muda dan banyak pihak lainya. Penulis menyadari bahwa paket informasi ini terdapat kekurangan. oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga paket informasi ini dapat memberikan manfaat baik untuk penulis ataupun pembaca. Suci Permata Sari 1


DAFTAR ISI 1 KATA PENGANTAR 2 DAFTAR ISI 3 GAMBARAN UMUM NAGARI BUKIKBATABUAH 4 MAKNA PERKAWINAN BAGI MASYARAKAT MINANG KABAU 5-19 PROSES TRADISI PERKAWINAN MASYARAKAT NAGARI BUKIKBATABUAH SANGSI PELANGGARAN ADAT ISTIADAT PERKAWINAN NAGARI BUKIKBATABUAH 20-24 2 25 TENTANG PENULIS


Nagari Bukikbatabauh adalah salah satu Nagari yang ada di Kabupaten Agam, dimana Nagari terletak dilereng Gunung Marapi dalam Wilayah Kecamatan Canduang yang terdiri dari empat jorong yaitu : 1) Jorong Batang Silasiah, 2) Jorong Gobah, 3) Jorong Kubang Duo Koto Panjang, 4) Jorong Batabuah Koto baru Dengan luas wilayah 11,22 Km persegi. Bukikbatabuah berbatasan sebelah utara dengan Nagari Batu Taba, sebelah selatan dengan Gunung Marapi, sebelah barat dengan Nagari Kubang Putiah dan sebelah timur dengan Nagari Lasi. Nagari Bukikbatabuah dipimpin oleh wali nagari (kepala desa) dibantu oleh perangkat nagari yang terdiri dari sekretaris nagari, kepala-kepala urusan dan kepala jorong dengan mengacu pada peraturan daerah kabupaten Agam No.31 Tahun 2001 tentang pemerintahan nagari. Sistem adat yang berlaku di nagari Bukikbatabuah menurut struktur dan penerapanya adat istiadat semenjak dahulu adalah menganut sistem Bodi Caniago yaitu dudak samo randah tagak samo tinggi, duduak saedaran tagak sahamparah, bulek aia kapambuluah, bulek buliah digolongkan pipiah buliah dilayangkan, bulek kato samufakat. Nagari Bukikbatabuah dikenal dengan sebutan Hindu Nan Tangah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh untuk sebutan Niniak Mamak. GAMBARAN UMUM NAGARI BUKIKBATABUAH Nagari Bukikbatabuah mempunyai medan nan bapaneh yang disebut Medan Hindu Nan Tangah Limo Puluah terletak di Gobah digunakan untuk melaksanakan musyawarah adat. 3 ( Sumber : Dokumentasi Pribadi) Pemandangan Nagari Bukikbatabuah


Perkawinan bagi orang Minangkabau dianggap sebagai suatu masa peralihan hidup yang amat penting. Setelah menikah seorang dianggap telah memasuki dunia dewasa. Bagi orang Minangkabau, perkawinana merupakan sebuah bentuk peresmian ikatan antara dua kaum yang disatukan. Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinana merupakan salah satu peristiwa penting dalam siklus kehidupan. Bagi kaum lelaki minang perkawinan menjadi proses untuk masuk kelingkungan baru yaitu keluarga pihak perempuan, sedangkan bagi pihak istri, perkawinan merupakan salah satu proses dalam menambah anggota keluarga baru dirumah gadang mereka. Orang minang sangat menjunjung tinggi adat istiadat dimanapun mereka berada. Sama halnya dengan masyarakat Nagari Bukikbatabuah makna perkawinanan ialah untuk melanjutkan perkembangan keturunan yang dilaksanakan berdasarkan presepsi adat istiadat adat salingka nagari, yang mana dengan adanya adat salingka nagari dapat menghasilkan keturunan yang bersih suci, sebab adat Minangkabau mengatakan "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah", syarak mangato adat mamakai, dengan beberapa pengecualian seperti contoh kawin sasuku yang dilarang keras oleh adat salingka nagari atas kesepakatan alim ulama dengan niniak mamak. oleh karena itu pentingnya makna sebuah ikatan perkawinan di Minangkabau, maka perkawinan merupakan menjadi suatu hal yang patut dirayakan lewat upacara adat dan keagamaan yang berlaku. MAKNA PERKAWINAN BAGI MASYARAKAT NAGARI BUKIKBATABUAH 4 (sumber : https://pin.it/1NZhXor ) Pelaminan Adat Minangkabau


TAHAPAN PROSES TRADISI PERKAWINAN MASYARAKAT NAGARI BUKIKBATABUAH A. MALAM PATAMUAN Malam pertamuan dilaksanakan dirumah pihak perempuan pada saat malam hari selepas sholat isya, para niniak mamak pihak perempuan batamu (berkumpul) untuk merundingkan calon menantu untuk keponakanya, niniak mamak mengusulkan beberapa orang calon menantu yang akan dinilai dari beberapa aspek seperti asal keluarga besarnya, pendidikan, dan lingkungan sosialnya. Tuan rumah juga menyiapkan jamuan untuk niniak mamak dan dimakan bersama-sama sebelum perundingan dimulai, setelah makan bersama selesai baru niniak mamak mulai berunding. 5 Jika malam patamuan dilakukan di kediaman perempuan maka putuih etongan dilakukan dikediaman laki-laki. Putuih etongan dihadiri oleh mamak dari pihak perempuan yang akan disambut oleh niniak mamak pihak laki-laki, kedatangan pihak perempuan dikediaman laki-laki bertujuan untuk menyampaikan bahwasanya ingin menjalin hubungan kekeluargaan dengan menikahkan anak kemenakan dari kedua belah pihak, apabila maksud dan tujuan disambut baik oleh pihak laki-laki maka disana akan dirundingkan kapan tanggal akan dilaksanakanya pernikahan, setelah semua disepakati maka akan dilanjutkan dengan tahap selanjutnya dengan sebutan batimbang tando. putuih etongan biasanya juga disebut dengan mangubak pisang gadang, sebuta tersebut hanya istilah yang disebut oleh masyarakat bukikbatabuah saja. B. PUTUIH ETONGAN (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Pertemuan Para Niniak Mamak


C. BATIMBANG TANDO/ MAHANTA KAIN Japuik jangkau atau batimbang tando wajib dilakukan menurut adat istiadat yang berlaku dalam Hindu Nan Tanggah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh, yang maksudnya merupakan pernyataan kedua belah pihak telah sepakat melangsungkan perkawinan antara calon mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki dalam pelaksanaan ini peranan dilakukan oleh Bundo Kanduang (Kaum Ibu), yang disebut dengan istilah Malapeh Kain di rumah pihak perempuan dan Menanti Kain dirumah pihak laki-laki. Bagi yang manyiriah (Maimbau) untuk Japuik Jangkau (Batimbang Tando) baik bagi pihak laki-laki maupun pihak perempuan adalah perempuan yang telah bersuami. Barang yang dijadikan tando dalam Japuik Jangkau (Baanta Kain), adalah Kain Balipek (Kain Cidagang atau Songket), Ameh Bapuro, Pinang Batampuak, Siriah Bagugu. yang ditugaskan untuk membawa tando dalam Japuik Jangkau adalah istri dari Niniak Mamak dan Bako dari calon penganten Perempuan. Pakaian untuk pergi Japuik Jangkau (Baantaan Kain), adalah Baju Gadang (Baju Adat) kain kodek sejenis songket, tingkuluak putiah polos, basaok (selimut) kain saruang bugis. 6 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Kain dan Siriah Carano (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Pihak Japuik Jangkau


Pihak calon mempelai perempuan membawa uang sebesar Rp. 55.000.- (Lima Puluah Lima Ribu Rupiah) sebagai ganti ameh bapuro dengan ketentuan Rp. 50.000.- (Lima Puluh Ribu Rupiah) diambil oleh pihak calon mempelai laki-laki dan yang Rp. 5.000.- (Lima Ribu Rupiah) dikembalikan kepada pihak calon mempelai perempuan sebagai tando, kato bapamacik saik bapamenang bagi Panghulu Suku (Kaum) dan Tuanku Sidang Nilainya ditetapkan Rp. 110.000.- (Seratus Sepuluh Ribu Rupiah). Rombongan berangkat dari rumah pihak perempuan sesudah shalat zuhur (jam 14.00 Wib) pada hari Senin atau Kamis atau yang disepakati dan tidak dibenarkan Japuik Jangkau atau Batimbang Tando pada hari jumat. yang menanti dirumah pihak laki-laki adalah Bundo Kanduang (Kaum Ibu) yang terdiri dari Ipa Bisan, Karik Kabiah menurut adat dan urang sahalaman yang tidak condong marawanya (yang terkena sangsi pelanggaran adat), juga hadir Niniak Mamak Amai Bapak, Anak Pusako dan Bako. Pihak yang menghidang atau mangatangahkan jamba baik dirumah pihak perempuan atau pihak laki-laki adalah Ipa Bisan, dan yang sajamba makan dan minum tidak boleh orang yang dalam masalah pelanggaran adat (yang Marawanya condong) serta yang pergi malapeh dan menanti Japuik Jangkau sama-sama dilepas Niniak Mamak dan jika kalau keluar daerah harus diikuti Niniak Mamak. Tando yang dibawa (Kain Balipek, Ameh Bapuro, Pinang Batampuak, Siriah Bagugu) dibuka oleh Niniak Mamak pihak laki-laki, dan diserahkan kepada Ipa Bisan yang tertua kemudian Bisan menyerahkan kepada Bako dan Anak Pusako serta karib kabiah yang hadir serta urang sahalaman. Pada saat Japuik Jangkau (Batimbang Tando) ditetapkan janji untuk menentukan hari Pernikahan, yang disebut janji menurut adat lima belas hari dan ini boleh diubah sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Setelah selesai Japuik Jangkau (Batimabang Tando) kedua calon penganten tidak boleh bergaul bebas, jika dilakukan hal ini menurut adat disebut "Sumbang Salah Laku Parangai" juga hal semacam ini sangat dilarang dalam agama. Japuik Jangkau (Batimbang Tando) sudah harus selesai pada jam 18.00 Wib. sebelum waktu magrib. 7


D. MANUMBUAK BAREH DAN MANGACAU KALAMAI Manumbuak bareh adalah salah satu rangkaian tradisi perkawinan masyarakat nagari bukikbatabuah, manumbuak bareh dilakukan oleh kaum ibu-ibu, pemudi dan karib kerabat yang ada pada lingkungan sekitar tempat pernikahan, manumbuak bareh dilakukan pada pagi hari menjelang siang, maksud dan tujuan dari manumbuak bareh ialah memberitahukan kepada karib kerabat serta tetangga sekitar bahwasanya anak perempuanya akan melangsungkan pernikahan serta menjalin silaturahmi persaudaraan, manumbuak bareh dilakukan sehari sebelum akad nikah dilaksanakan. Alat yang digunakan seperti lasuang, alu dan ayak dan bahan yang digunakan beras dan pulut. Beras sedikit demi sedikit dimasukan kedalam lasuang dan di pukulpukul mengunakan alu sampai halus lalu setelah halus di saring menggunakan ayak agar mendapatkan hasil yang lebih bagus sehingga menjadi tepung yang halus, tepung tersebut akan digunakan menjadi olahan makanan yang akan di hidangkan di acara baralek, misalnya seperti ajik, anak inti, pinyaram dan sebagainya yang berbahan tepung. Setelah selesai para wanita akan dijamu oleh tuan rumah 8 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tradisi Manumbuak Bareh


Mangacau kalamai dilakukan oleh kaum bapak-pabak, pemuda dan karib kerabat yang ada pada lingkungan tempat pernikahan, maksud dan tujuan dari mangacau kalamai sama saja dengan manumbuak bareh, mangacau kalamai dilakukan dimalam hari selepas shalat isya, mangacau kalamai yaitu membuat kalamai, alat yang digunakan yaitu kancah (kuali besar) dan kuia ( sendok besar) dan bahan yang digunakan yaitu tepung hasil olahan ibu-ibu tadi pagi, tangguli ( cairan gula merah) serta santan, cara membuat kalamai yaitu dengan memasukan semua bahan yang telah disediakan kedalam kancah (kuali besar) lalu bapakbapak dan pemuda secara bergantian-gantian 4-6 orang mengaduk mengunakan kuia (sendok besar) sampai adonan kalamai menjadi kental, lalu di cetak dalam plastic besar atau talam sesuai kebutuhan. Setelah kalamai matang para laki-laki di jamu oleh tuan rumah untuk makan bersama. 9 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tradisi Mangacau Kalamai


E. AKAD NIKAH Sebelum mengurus model N kekantor wali nagari kedua belah pihak harus memintak surat izin menikah kepada kepala kaum (kepala batang payuang) yang diketahui oleh kepala dusun dan kepala jorong. Mamak kepala waris kedua belah pihak setelah mendapatkan surat-surat tersebut harus memintak rekomendasi kepada kerapatan adat nagari (KAN) untuk melaksanakan perkawinan anak kemanakannya menurut adat istiadat Hindu Nan Tanggah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh di Nagari Bukikbatabuah dan rekomendasi ini tidak dipungut biaya administrasi oleh kerapatan adat nagari (KAN) Pada waktu melaksanakan pengurusan surat-surat, calon mempeai lakilaki diharuskan memakai kemeja lengan panjang, celana dasar (tidak dibenarkan memakai celana jeans), pakai kopiah/peci dan kain sarung, bagi calon mempelai perempuan memakai baju kuruang, kain kodek dan jilbab dan tidak dibenarkan memakai celana panjang. Setelah selesai mengurus model N dikantor wali nagari langsung dilaksanakan pemberian nasehat nikah oleh P.3 N setempat. Calon mempelai laki-laki yang akan menikah dijemput oleh laki-laki pihak calon mempelai perempuan yang telah baligh dan berakal. Pelaksanaan akad nikah dilaksanakan dimesjid atau siding setempat dan tidak dibenarkan dilaksankan dirumah calon mempelai. Akad nikah dihukumi sah apabila disaksikan oleh minimal dua orang saksi yang memenuhi syarat seperti, lakilaki muslim, baligh, merdeka dan adil. Jadi sebuah akad nikah itu minimal dihadiri oleh 4 orang laki-laki, yaitu wali, suami dan dua orang saksi. Akad nikah berarti mengikat perjanjian antara mempelai laki-laki dengan wali dari mempelai perempuan dengan syarat disaksikan oleh dua orang saksi dari kedua mempelai. 10 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Ijab Kabul


Wali atau yang mewakili mempelai wanita dihadapkan dengan calon yaitu mempelai pria. Setelah itu, dua orang saksi hadir di sebelah kanan atau di sebelah kiri wali. Setelah wali, calon pengantin laki-laki, qori atau orang yang membacakan ayat Al Quran, khatib serta orang yang berdoa hadir dilanjutkan dengan pembacaan Ayat Suci Al QuranUsai pembacaan ayat Al Quran, dilanjutkan dengan khutbah nikah yang biasanya dibacakan oleh penghulu atau orang yang ditugaskan khusus oleh pihak mempelai perempuan. Khutbah nikah ini berisi pesan agar pasangan suami istri nantinya bisa hidup rukun dan menjaga rumah tangganya tetap utuh Selesai dilaksanakan khutbah nikah maka penghulu akan melontarkan beberapa pertanyaan kepada mempelai pria seperti menanyakan status hubungannya, jumlah dan bentuk mas kawin yang diserahkan kepada mempelai wanita, dan lain sebagainya. Selepas itu barulah akad nikah sudah bisa dilaksanakan dengan keadaan khusyuk, ijab dan qobul mulai disuarakan oleh wali mempelai wanita dengan mempelai pria secara lantang dan tegas. Akad nikah atau ijab kabul ini merupakan inti dari proses pernikahan. Ijab kabul merupakan rukun nikah dan diucapkan saat akad nikah. Ijab yakni pengucapan atau akad dari wali pengantian perempuan. Sedangkan kabul atau diucapkan mempelai pria atau wakilnya disaksikan dua saksi. Jika semuanya telah terlaksana maka acara ijab dan qabul langsung ditutup dengan doa yang dipimpin langsung ustad atau pemuka agama yang menghadiri acara akad tersebut. Selesai pembacaan doa penutup dilanjutkan dengan prosesi penandatanganan buku nikah yang disaksikan petugas pencatat nikah dan penghulu. Buku nikah sekaligus dokumen sah bagi pasangan suami istri yang telah menikah dan dicatat dalam dokumen negara. 11 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) kedua Mempelai Adat Minangkabau


Di Minangkabau terdapat pepatah yang berbunyi “ketek banamo, gadang bagala” yang artinya kecil memiliki nama ketika besar memiliki gelar. Gelar ini diberikan sebelum acara resepsi atau perhelatan di pihak marapulai/pengantin laki-laki. Setelah akad nikah dilangsungkan, dikediaman marapulai (pengantin lakilaki) seluruh karib kerabat pihak laki-laki berkumpul untuk malewakan gala kepada marapulai (pengantin laki-laki). Gelar yang diberikan pada mempelai lakilaki bergantung kepada gelar mamak dalam suku. Pada suku Malayu berupa gelar Rajo Bujang, Rajo Mudo, Rajo Mangkuto. Pada suku Caniago berypa Rajo Basa, Rajo Kayo, Rajo Lelo. Dan dalam suku Koto berupa Rajo Batuah, Rajo Diam, Rajo Intan, Rajo Mole. Sebab melalui gelar ini kita dapat mengetahui garis keturunan seorang laki-laki di Minangkabau terkhususnya laki-laki yang sudah menikah. Setelah gelar diberikan kepada marapulai, dari rumah marapulai akan diiringi dengan rabano menuju rumah anak daro, rabano dimainkan oleh rombong bapak-bapak secara melingkar di tengah rumah dengan melantunkan dikia(zikir) tertentu. proses ini biasanya disebut dengan sapatang pulang. Sapatang pulang (sarumah) tidak boleh dilakukan pada hari rubu dan kamis sebab dapat megganggu penganten laki-laki untuk pergi shalat jumat yang akan bertepatan dengan hari panggia mamanggia atau sumandan manyumandan (menghilangkan syiar agama islam) Yang akan pergi mengantar marapulai atau penganten laki-laki terdiri dari amai bapak. Anak pusako, dan urang sabuek sapabuatan tiok barih bapaek , tiok lubang bacicia, dengan jumlah pengantar sebanyak dua jamba (12 orang), dengan pakaian kemeja lengan panjang, celana dasar, pakai kopiah atau peci tidak boleh pakai topi pet / tarabuih dan pakai kain saruang. Duduak dalam malapeh maupun mananti marapulai adalah duduak bapanyambuik, makan bajamba, baik yang tua maupun yang muda. Dilarang meninggalkan rumah marapulai sebalum marapulai turun atau berangkat kerumah anak daro dan hendaknya marapulai sudah sampai dirumah anak daro sebelum waktu magrib. Bagi keluarga pihak laki-laki yang melaksanakan perkawinan harus mengantarkan singgang ayam sabalah kerumah bakonya (saudara bapak penganten laki-laki) pada hari mamanggia pertama/ panggia gadang. Hidangan sapatang pulang ditetapkan empat macam yakni gulai randang, kuah kentang kapai daging ayam, sayur buncis dan gulai pangek, minum kawa adalah ketan pinyaram kalamai dan pisang sedangkan dirumah laki-laki tidak pakai pisang. Karena diawal tadi pihak laki-laki sudah melakukan proses mangubak pisang gadang saat hari putuih etongan. F. SAPATANG PULANG (MAAGIAH GALA, MALAPEH BARABANO, MANANTI MARAPULAI) 12


Pihak yang akan pergi mengantar marapulai atau penganten laki-laki terdiri dari amai bapak, anak pusako, dan urang sabuek sapabuatan tiok barih bapaek , tiok lubang bacicia, dengan jumlah pengantar sebanyak dua jamba (12 orang), dengan pakaian kemeja lengan panjang, celana dasar, pakai kopiah atau peci tidak boleh pakai topi pet / tarabuih dan pakai kain saruang. Duduak dalam malapeh maupun mananti marapulai adalah duduak bapanyambuik, makan bajamba, baik yang tua maupun yang muda. Dilarang meninggalkan rumah marapulai sebalum marapulai turun atau berangkat kerumah anak daro dan hendaknya marapulai sudah sampai dirumah anak daro sebelum waktu magrib. Bagi keluarga pihak laki-laki yang melaksanakan perkawinan harus mengantarkan singgang ayam sabalah kerumah bakonya (saudara bapak penganten laki-laki) pada hari mamanggia pertama/ panggia gadang. Hidangan sapatang pulang ditetapkan empat macam yakni gulai randang, kuah kentang kapai daging ayam, sayur buncis dan gulai pangek, minum kawa adalah ketan pinyaram kalamai dan pisang sedangkan dirumah laki-laki tidak pakai pisang. Karena diawal tadi pihak laki-laki sudah melakukan proses mangubak pisang gadang saat hari putuih etongan. 13 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tradisi Malewakan Gala (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tradisi Barabano


G. SUMANDAN MANYUMANDAN Acara sumandan manyumandan dilakukan esok hari setelah sapatang pulang/sarumah yang biasa disebut panggia gadang dilakukan oleh bako anak daro (mempelai perempuan), dengan manta nasi kuniang panjapuik menuju rumah orang tua marapulai, nasi kuning tersebut dibagi dua, setelah sampai dirumah orang tua marapulai separohnya diantarkan kerumah bako marapulai. Dari rumah marapulai beragkat pula rombongan panjapuik anak daro sebanyak satu jamba (6 orang), salah satunya memakai baju gadang (baju adat) membawa siriah carano. Setelah sampai rombongan panjapuik marapulai dirumah anak daro, kemudian anak daro berangkat kerumah marapulai dengan diiringi oleh ipa bisan, anak pusako serta urang kampuang. Keberangkatan anak daro dari rumah marapulai dilepas dengan beberapa talam yang disebut talam nan ampek, talam bako dan talam nan banyak, talam nan banyak ini secara keseluruhan tidak diatur banyaknya hanya disesuaikan dengan keadaan saja. Pada hari ketiga anak daro dan marapulai bersama pengiring lebih kurang 6 orang menjemput sumandan kerumah marapulai dan juga pada hari itu apabila bako marapulai menghendaki panggia bako maka sekaligus dilakukan panggia bako kerumah bako marapulai, kemudian sumandan berangkat dari rumah marapulai kerumah anak daro sebanyak duo jamba (12 orang) dan juga tidak dibenarkan membawa anak-anak, setelah selesai makan dan minum rombongan sumandan kembali pulang. Pada hari keempat dilakukan mamanggia mintuo (majapuik mintuo) yakni anak daro dan marapulai diiringi oleh dua orang anak gadis. Pada hari ke lima dan enam diadakan acara di rumah mempelai laki-laki. Pada hari ketujuh pihak marapulai memberikan uang panindiah bali dan pakaian anak daro sebagai persiapan maantaan talam kerumah orang tua marapulai. Dalam pelaksanaan maantaan talam ialah anak daro dan marapulai diiringi oleh dua anak gadis dan anak daro pada hari tersebut memakai pakaian yang diberikan oleh marapulai disebut dengan manindiah bali. 14 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Rombongan Panjapuik Marapulai


H. BARALEK PAI MAKAN/ UNDANGAN Dalam melaksanakan perhelatan bagi mempelai perempuan dibolehkan memakai tingkuluak tanduak dan suntiang saat alek bairiang sapanjang labuah baarak sapanjang jalan dari rumah penganten perempuan kerumah penganten laki-laki dan bersanding sewaktu menyambut tamu undangan. Bagi kaum ibu penggiring anak daro harus memakai baju kuruang, kodek kain songket/kain panjang, memakai kain duo bagi yang telah bersuami dan tidak dibenarkan memakai celana panjang atau rok celana bagi anak gadis maupun yang telah bersuami. Bagi kaum ibu/bundo kanduang mamanggia kerumah laki-laki yang bakarik bakabiah membawa singgang ayam dan beras, dijujuang diatas talam tuduang saji. Manggia-mamanggia baarak sapanjang jalan, bairiang sapanjang labuah tidak dibenarkan pada hari jumat karena menjaga syiar agama islam dan panggia-mamanggia dimualai jam 14.00 Wib sampai jam 18.00 Wib sebelum waktu magrib dalam panggia-mamnggia ini juga tidak dibenarkan membawa anak-anak. Pai makan menurut adat kerumah penganten perempuan, bagi laki-laki berpakaian baju kemeja celana dasar pakai peci dan kain saruang, dan memberikan siriah sacabiak, pinang sagotok (uang pai makan) langsung diberikan kepada anak daro dan tidak memakai amplop, yang bernilai sekitar Rp. 10.000.- sampai Rp.50.000.- tergantung dekat jauhnya hubungan kekeluargaan. Bagi kaum ibu/bundo kanduang memakai baju kuruang, kain kodek selendang/jilbab, bagi anak gadis tidak dibenarkan pakai celana panjang atau rok celana, membawa beras di kambuik baih (2-4 liter kecil). Kenduri atau alek perkawinan dilaksanakan paling lama selama 6 hari. Anak daro dan marapulai hanya boleh duduk bersanding pada waktu undangan saja, tidak dibenarkan memekai hiburan yang bertentangan dengan adat basyandi syarak,syarak basandi kitabbullah serta melanggar norma dan kaedah adat yang berlaku di nagari bukikbatabuah, dengan batas waktu hiburan hanya sampai pukul 18.00 wib (sebelum masuk waktu magrib) 15


16 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tamu Undangan (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tradisi Pai Makan Urang Kampuang (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Hidangan Baralek (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Foto Bersama Kedua Mempelai


1. Satu ekor ayam besar 2. Sasukek beras (4 liter kecil) 3. Ketan satu piring (2 liter beras) 4. 25 buah anakinti merah 5. 25 buah anakinti putih 6. 25 buah pinyaram KETENTUAN TALAM DAN ISINYA Talam pertama berisi 45 buah pinyaram kecil, 5 buah pinyaram besar, 45 buah anak inti merah, 45 buah anak inti putiah, kalamai dan ajik nasi ketan sebanyak 4 liter beras Talam kedua berisi 1 ekor ayam singgang besar dan 12 liter beras Talam ketiga berisi 1 ekor ayam singgang dan 8 liter beras Talam keempat berisi 1 ekor ayam singgang dan 6 liter beras Dan talam penggiring lainya berisi 1 ekor singgang ayam dan 1 liter beras 1. 2. 3. 4. 5. Talam siriah langkok isinya adalah siriah bagugu pinang batampuak, sadah dan gambia. Dan katidiang sariang isinya 10 liter beras pulut dan duabuah kelapa besar ditambah satu bungkus garam. Isi talam pengiring anak daro (talam nan ampek) Isi talam mengantar nasi kuniang: 17 (Sumber : Dokumentasi Pribadi) Tradisi Mahanta Talam


Pergi manyiriah/maimbau/mengundang sapatang pulang baik bagi pihak laki-laki maupun pihak perempuan ialah anak perempuan yang sudah baligh dan berakal, memakai pakaian baju kuruang lengkap dengan salendang kain penutup kepala (jilbab), dengan membawa tembakau (santo) daun untuk laki-laki dan siriah pinang langkok untuk perempuan Bagi yang menyiriah/maimbau harus “naiak di janjang, turun ditanggo” artinya dalam manyiriah harus duduk diatas rumah. Pada alek bakampuang makan dan minum harus dihidangkan. Untuk hari pelaksanaan acara undangan harus dipisah dengan alek bakampuang. Manatiang jamba dirumah perempuan bila dibantu oleh anak gadis pakaiannya harus baju kuruang pakai selendang (jilbab) 1. 2. 3. 4. 5. KETENTUAN LAIN YANG HARUS DIPERHATIKAN 18


SANGSI PELANGGARAN ADAT ISTIADAT PERKAWINAN NAGARI BUKIKBATABUAH Kawin Sumbang/ kawin satu suku Kawin akibat perzinaan Kawin Lari Paga Makan Tanaman Dalam melaksanakan adat istiadat perkawinan di Nagari Bukikbatabuah sesuai dengan adat yang telah ditetapkan oleh Hindu Nan Tangah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh yang dipaturun panaiak selama ini ada beberapa hal yang ditetapkan sebagai pelanggaran adat antara lain yaitu: KAWIN SUMBANG/ KAWIN SATU SUKU Kawin Sumbang adalah kawin yang dilakukan oleh anak nagari antara laki-laki dengan perempuan dalam satu suku yang sama, baik dalam satu kaum maupun dalam kaum yang berbeda dan apabila hal ini dilakukan maka dikenakan denda barek nan kadipikua ringan nan kadijinjiang, bagi yang laki-laki dikenakan sikua kabau bareh saratuih dengan haliman nan kalalu (uang pengganti) sebesar Rp. 10.000.000.- (Sepuluh Juta Rupiah) dan bagi pihak perempuan dikenakan asam garamnya serta malehkan dengan haliman na kalalu (uang pengganti) sebesar Rp. 6.000.000.- (Enam Juta Rupiah) kepada Hindu Nan Tangah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh ditambah dengan maisi buek perbuatan yang telah diterapkan oleh Niniak Mamak dimana kejadian perkawinan tersebut terjadi. 19


Kawin akibat perzinaan ini dilakukan oleh anak nagari lakilaki dan perempuan yang melakukan perzinaan sebelum perkawinana dilangsungkan, dan apabila hal ini terbukti menurut adat yang disebut dengan "Tatando tabiti dulu bajak dari sangka ayam dapek musang dapek atau ayam dapek musang lari", yaitu perempuan yang telah hamil duluan atau telah melahirkan anak, maka akan dikenakan denda barek nan dipikia ringan nan kadijijnjiang, menurut adat bagi yang laki-laki dikenakan saikua kabau bareh saratuih dengan haliman nan kalalu (uang pengganti) sebesar Rp. 10.000.000.- (Sepuluh Juta Rupiah) dan bagi pihak perempuan dikenakan asam garamnya serta malehkan dengan haliman na kalalu ( uang pengganti) sebesar Rp. 6.000.000.- (Enam Juta Rupiah) kepada Hindu Nan Tangah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh ditambah dengan maisi buek perbuatan yang telah diterapkan oleh Niniak Mamak dimana kejadian perkawinan perzinaan tersebut terjadi. apabila "musang lari ayam dapek" maka denda adat tersebut ditanggung oleh seluruh pihak perempuan. KAWIN KARNA PERZINAAN 20


Kawin lari adalah perkawinana yang dilakukan oleh anak nagari tanpa proses adat istiadat yang berlaku di Nagari dan proses peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan perkawinan dilakukan diluar nagari Bukikbatabuah. Pada adat disebut dengan “Tatando Tabiti Mancotok Malarika, manggungguang mambaok tabang” akan dikenakan sangsi adat barek kadipikia ringan kadijinjiang, bagi pihak laki-laki dikenakan ciek kapalo kabau bareh saratuih dengan haliman nan kalalu (uang pengganti) sebesar Rp. 6.000.000.-(Enam Juta Rupiah) dan bagi pihak perempuan akan dikenakan asam garamnya serta maalehkan dengan haliman nan kalalu(uang pengganti) sebesar Rp. 3.000.000.- (Tiga Juta Rupiah) kepada Hindu Nan Tangah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh dengan maisi buek perbuatan yang telah ditetapkan oleh Niniak Mamak setempat dimana kejadian kawin lari tersebut terjadi. KAWIN LARI 21


Dalam hal paga makan tanaman ini adalah perkawinan yang dilakukan oleh anak nagari laki-laki yang mana dia berfungsi sebagai Niniak Mamak, alim ulama, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan nagari dengan seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda atau siperempuan yang seharusnya diayomi, akan tetapi dia melakukan sumbang salah laku paranggai “Tatando tabiti bajajak bak bakikia bauriah bak sipasan, kalau tak ado barado indak tampuo basarang randah” dan dijadikan istrinya. Maka ini lah yang disebut Adat tatando tabiti paga makan tanaman barek nan kadipikua ringan nan kadijijnjiang , menuryt adat denda yang diberikan kepada pihak laki-laki dikenakan sikua kabau bareh saratuih dengan haliman nan kalalu (uang pengganti) sebesar Rp. 10.000.000.- (Sepuluh Juta Rupiah) dan bagi pihak perempuan akan dikenakan asam garamnya serta maalehkan dengan haliman nan kalalu (uang pengganti) sebesar Rp. 6.000.000.- (Enam Juta Rupiah) kepada Hindu Nan Tangah Limo Puluah Angku Nan Tigo Baleh ditambah dengan maisi buek perbuatan yang telah ditetapkan oleh Niniak Mamak setempat dimana kejadian perkawinaan paga makan tanaman tersebut terjadi. PAGA MAKAN TANAMAN 22


Apabila keempat jenis pelanggaran adat tersebut dan denda yang diberikan belum dibayarkan “ rabuak alun bagantiak kuma alun basasah” maka kaumnya dinyatakan tingga sepanjang adat dan marawanya dinyatakan condong, bagi semua anak kemanakan dalam kaum tersebut tidak dibenarkan melakukan proses adat istiadat dalam nagari “ kok kahilia indak dibaok sarangkuah dayuang”, kamudiak indak dibaok saantak galah dan indak sahilia samudiak jo masyarakat”. Tetapi setelah denda dibayarkan maka kaumnya dinyatakan bersih dan marawanya tidak condong lagi sudah dibolehkan bagi anak kemanakan untuk melakukan proses adat istiadat dalam Nagari. Denda dari pelanggaran adat tersebut dipergunakan 40% untuk kebutuhan Kerapatan Adat Nagari dan 60% untuk pembangunan dan kegiatan sosial lainya di Nagari. 23


PENUTUP Setiap daerah di Minangkabau tentunya memilik tradisi kebudayaan masing-masing. salah satunya yaitu tradisi perkawinan masyarakat nagai Bukikbatabuah kecamatan canduang kabupaten agam, yang merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang harus kita lestarikan agar tidak pudar. proses tradisi perkawinan masyarakat nagari bukikbatabuah memiliki 8 tahapan yaitu : 1) Malam patamuan, 2) putuih etongan/mangubak pisang gadang, 3) batimbang tando/mahanta kain.4) manumbuak bareh dan mangacau kalamai, 5) akad nikah, 6) sapatang pulang/ maagiah gala, malapeh barabano, mananti marapulai, 7) sumandan manyumandan, 8) baralek pai makan/undangan informasi yang terdapat dalam produk paket informasi ini sangat bermanfaat bagi pengguna untuk menambah pengetahuan mengenai tradisi perkawinan masyarakat nagari bukikbatabuah juga dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi mengenai tradisi perkawinan di Nagari Bukikbatabuah, serta dapat ikut melestarikan budayanya. 24


Suci Permata Sari lahir di Kubuapar, Sumatera Barat, pada 14 Juli 2001, sedang menyelesaikan studi di Universitas Negeri Padang, Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Program Studi Informasi Perpustakaan dan Kearsipan. Telah menamatkan pendidikan di SD N 09 Gobah Bukikbatabuah, MTsN 1 Bukittingggi, SMA N 5 Bukittinggi. TENTANG PENULIS 24 Nama : Suci Permata Sari Panggilan : Suci Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Bukikbatabuah, . Ampek Angkek, ..... ........................... Kecamatan candung, ............................Kabupaten Agam, ............................Sumatera Barat. Agama : Islam Instagram : suciprmta_sari Email : [email protected]


Click to View FlipBook Version