The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by cicik.wulandari, 2022-02-11 22:32:50

GOOSEBUMP - BERGAYA SEBELUM MATI

GOOSEBUMP - BERGAYA SEBELUM MATI

Dia tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
Memaksakan diri menjauh dari jendela, ia bergegas untuk menemui kedua temannya.

22

"Tidak akan," kata Bird panas, bersandar di bangku bangku. "Apa kau benar-benar pergi?"
Sambil mengayunkan kamera itu dengan kabelnya, Greg berbalik berharap penuh pada Michael. Tapi
Michael menghindari tatapan Greg. "Aku dengan Bird," katanya, matanya pada kamera itu.
Sejak itu setelah makan malam, taman bermain itu hampir sunyi. Beberapa anak-anak kecil di atas
ayunan di ujung lain. Dua anak kecil mengendarai sepeda mereka berputar dan mengelilingi lapangan
sepak bola.
"Kupikir mungkin kalian akan datang denganku," kata Greg, kecewa. Dia menendang serumpun rumput
dengan sepatunya. "Aku harus mengembalikan benda ini," lanjutnya, menaikkan kamera itu. "Aku tahu
itu yang harus kulakukan. Aku harus mengembalikannya ke tempat aku menemukannya.."
"Tidak," ulang Bird, menggelengkan kepala. "Aku tak akan kembali ke rumah Coffman. Satu kali sudah
cukup."
"Ayam (pengecut)?" Greg bertanya dengan marah.
"Ya," aku Bird dengan cepat.
"Kau tak harus mengembalikannya," bantah Michael. Dia menarik dirinya ke sisi bangku-bangku, naik ke
dek ketiga kursi, lalu menurunkan dirinya ke tanah.
"Apa maksudmu?" tanya Greg tak sabar, menendang rumput.
"Buang saja, Greg," desak Michael, membuat gerakan melempar dengan satu tangan. "Itu saja.
Lemparkan ke tempat sampah di suatu tempat."
"Ya. Atau tinggalkan saja di sini," saran Bird. Dia meraih kamera itu. "Berikan padaku. Aku akan
menyembunyikannya di bawah kursi."
"Kau tak mengerti," kata Greg, mengayunkan kamera di luar jangkauan Bird. "Membuangnya tak akan
ada gunanya."
"Mengapa tidak?" tanya Bird, membuat ayunan lain untuk (mengambil) kamera itu.
"Spidey akan kembali untuk kamera itu," kata Greg dia panas. "Dia akan kembali ke kamarku
mencarinya. Dia akan datang setelah aku. Aku tahu itu."

"Tapi bagaimana kalau kita tertangkap saat mengembalikannya?" Tanya Michael.
"Ya. Bagaimana jika Spidey yang di rumah Coffman, dan ia menangkap kita?" kata Bird.
"Kau tak mengerti," teriak Greg. "Dia tahu di mana aku tinggal. Dia berada di rumahku. Dia berada di
kamarku. Dia ingin kamera itu kembali, dan -.!!"
"Sini. Berikan padaku,." Kata Bird. "Kita tak harus kembali ke rumah itu. Dia dapat menemukannya. Di
sini."
Dia meraih lagi untuk (mengambil) kamera itu.
Greg memegang erat tali dan mencoba menariknya.
Tapi Bird meraih sisi kamera itu.
"Tidak!" Greg berteriak saat kamera itu berkilat. Dan berputar.
Satu (kertas) persegi film meluncur keluar.
"Tidak!" Greg berteriak pada Bird, ngeri, menatap persegi putih yang mulai berproses. "Kau mengambil
fotoku!"
Tangannya gemetar, ia menarik hasil jepretan dari kamera.
Apa yang akan kamera itu tunjukkan?

23

"Maaf," kata Bird. "Aku tak bermaksud untuk -"
Sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya, satu suara memutuskannya dari belakang bangku penonton.
"Hei - Bagaimana kalian sampai di sana?"
Greg memandang hasil cetak itu dengan terkejut. Dua anak laki-laki yang tampak tangguh melangkah
keluar dari bayang-bayang, ekspresi mereka keras, mata mereka (menatap) kamera itu.
Dia mengenali mereka dengan segera - Joey Ferris dan Mickey Ward - dua anak kelas sembilan yang
selalu keluar bersama-sama, selalu berlagak sombong di sekitarnya, bertingkah tangguh, memilih anak-
anak yang lebih muda dari mereka.
Mereka khususnya mengambil sepeda anak-anak , mengendarainya, dan membuangnya di suatu
tempat. Ada desas-desus di sekitar sekolah bahwa Mickey pernah memukuli seorang anak begitu parah

sehingga anak itu lumpuh seumur hidup. Tapi, Greg percaya Mickey membuat sendiri rumor itu dan
menyebarkannya sendiri.

Kedua anak laki-laki itu cukup besar untuk umur mereka. Tak ada seorangpun dari mereka yang sangat
baik di sekolah. Dan bahkan meskipun mereka selalu mencuri sepeda dan skateboard, meneror anak-
anak kecil, dan terlibat perkelahian, tak satu pun dari mereka pernah kelihatan untuk mendapat masalah
yang serius.

Joey memiliki rambut pirang pendek, diatur rapi lurus ke atas, dan mengenakan perhiasan bulat seperti
intan di satu telinga. Mickey berwajah bulat merah penuh jerawat, rambut hitam nenjuntai ke bahunya,
dan meremas-remas tusuk gigi di antara giginya. Kedua anak laki-laki memakai kaos Heavy Metal dan
celana jeans.

"Hei, aku harus pulang," kata Bird cepat, setengah meloncat dan setengah menari menjauh dari bangku
penonton.

"Aku juga," kata Michael, tak mampu untuk menutupi rasa takut yang tampak di wajahnya.

Gregg menyelipkan hasil foto itu ke dalam saku celana jinsnya.

"Hei, kau menemukan kameraku," kata Joey, meraih kamera itu dari tangan Greg. Mata abu-abu
kecilnya terbakar pada Greg seakan mencari reaksi. "Trims, Bung."

"Berikan kembali, Joey," kata Greg sambil mendesah.

"Ya. Jangan ambil kamera itu," kata Mickey temannya, satu senyum tersebar di wajahnya yang bundar.
"Ini milikku!" Dia bergulat (untuk mendapatkan) kamera menjauh dari Joey.

"Berikan kembali," desak Greg marah, mengulurkan tangannya. Lalu ia memelankan nada suaranya.
"Ayolah guys, kamera itu bukan milikku.."

"Aku tahu itu bukan milikmu," kata Mickey, menyeringai. "Karena itu punyaku!"

"Aku harus mengembalikannya kepada pemiliknya," kata Greg, berusaha untuk tak mengeluh, tetapi
suaranya terdengar di tepian.

"Bukan, kau bukan pemiliknya, Aku pemiliknya sekarang," desak Mickey.

"Apakah kau belum pernah mendengar tentang penemu adalah pemelihara?" tanya Joey bersandar
pada Greg mengancam. Dia enam inci lebih tinggi dari Greg, dan lebih berotot.

"Hei, biarkan dia memiliki benda itu," bisik Michael di telinga Greg. "Kau ingin menyingkirkannya?
Benar"

"Tidak!" protes Greg.

"Apa masalahmu, wajah bintik?" tanya Joey pada Michael, memandangi Michael naik dan turun.

"Tak ada masalah," kata Michael lembut.

"Hei - katakan cheese!" Mickey mengarahkan kamera pada Joey.

"Jangan lakukan itu," sela Burung, melambaikan tangannya panik.

"Mengapa tidak?" tuntut Joey.

"Karena wajahmu akan mematahkan kamera," kata Bird, tertawa.

"Kau benar-benar lucu," kata Joey sinis, menyipitkan matanya mengancam, mengeraskan wajahnya.
"Kau ingin senyum bodoh itu jadi permanen?" Dia mengangkat sekepalan besar.

"Aku tahu anak ini," kata Mickey pada Joey, menunjuk pada Bird. "Dia mengira dia barang panas."

Kedua anak laki-laki itu menatap tajam Bird, mencoba untuk menakut-nakutinya.

Bird menelan ludah. Dia mundur selangkah, menabrak bangku-bangku. "Tidak, aku tidak," katanya
pelan. "Aku tak berpikir aku barang panas."

"Dia terlihat seperti sesuatu yang kuinjak kemarin," kata Joey.

Ia dan Mickey tertawa terbahak-bahak bernada tinggi, tawa hyena (hewan mirip anjing dari Afrika atau
Asia selatan) dan saling menepuk satu sama lain.

"Dengar, guys. Aku benar-benar butuh kamera itu kembali," kata Greg, mengulurkan tangan untuk
mengambilnya. "Ini tidak bagus, toh itu rusak.. Dan itu bukan milikku."

"Ya, itu benar. Ini rusak," tambah Michael, mengangguk-angguk.

"Ya. Benar,." Kata Mickey sinis. "Kita lihat saja." Dia mengangkat kamera lagi dan mengarahkannya pada
Joey.

"Sungguh, guys. Aku butuh itu kembali,." Kata Greg putus asa.

Jika mereka mengambil foto dengan kamera itu, Greg menyadarinya, mereka mungkin menemukan
rahasianya. Foto itu akan menunjukkan masa depan, hanya menunjukkan hal-hal buruk terjadi kepada
orang-orang. Kamera itu jahat. Mungkin bahkan menyebabkan kejahatan.

"Katakan cheese," perintah Mickey pada Joey.

"Cukup tekan benda bodoh itu!" jawab Joey dengan tak sabar.

Tidak, pikir Greg. Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Aku harus mengembalikan kamera itu ke rumah
Coffman, pada Spidey.

Menuruti kata hatinya, Greg melompat maju. Dengan berteriak, ia menyambar kamera itu dari wajah
Mickey.

"Hei -" Mickey bereaksi terkejut.

"Ayo kita pergi!" teriak Greg pada Bird dan Michael.

Dan tanpa berkata lagi, ketiga sahabat itu berbalik dan mulai berlari melewati taman bermain yang sepi
menuju rumah mereka.

Jantungnya berdebar di dadanya, Greg mencengkeram erat kamera itu dan berlari secepat dia bisa,
sepatunya membentur keras di atas rumput kering.

Mereka akan menangkap kita, pikir Greg, nafasnya sekarang terengah-engah keras sekarang saat dia
berlari ke jalan. Mereka akan menangkap kita dan memukul kita. Mereka akan mengambil kembali
kamera itu. Kami daging mati. Daging mati.

Greg dan teman-temannya tidak berbalik sampai mereka di seberang jalan. Dengan napas ribut, mereka
menoleh ke belakang - dan berteriak kaget lega.

Joey dan Mickey tak beranjak dari samping bangku. Mereka tak mengejar. Mereka bersandar di bangku-
bangku, tertawa.

"Kalian nanti akan kami tangkap, guys!" teriak Joey setelah mereka.

"Ya. Nanti." Ulang Mickey.

Mereka berdua tertawa lagi, seolah-olah mereka telah mengatakan sesuatu yang lucu.

"Hampir saja," kata Michael, masih terengah-engah.

"Mereka serius," kata Bird, tampak sangat susah. "Mereka nanti akan menangkap kita. Kita tinggal
sejarah."

"Omong kasar. Mereka cuma kebanyakan udara panas," desak Greg.

"Oh, ya?" teriak Michael. "Lalu kenapa kita lari seperti itu?"

"Karena kita terlambat untuk makan malam," canda Bird. "Sampai nanti, guys. Aku akan menangkapnya
jika aku tak terburu-buru.."

"Tapi kamera itu-" protes Greg, masih mencengkeram erat dengan satu tangan.

"Sudah terlambat," kata Michael, dengan gugup menyapu tangan kebalakang pada rambut merahnya.

"Ya Kita akan melakukannya besok atau lainnya." Bird setuju.

"Lalu kalian akan ikut denganku?" tanya Greg penuh semangat.

"Eh.. Aku harus pergi,." Kata Bird tanpa menjawab.

"Aku juga," kata Michael dengan cepat, menghindari tatapan Greg.

Mereka bertiga dari memalingkan mata mereka kembali ke taman bermain. Joey dan Mickey sudah
lenyap. Mungkin pergi untuk meneror anak-anak lainnya.
"Sampai nanti," kata Bird, menepuk bahu Greg sambil berjalan pergi. Ketiga sahabat itu berpisah, berlari
ke arah yang berbeda melewati rumput dan jalanan masuk, menuju rumah.
Greg telah berlari sepanjang jalan ke halaman depan sebelum ia teringat hasil foto yang ia masukkan ke
dalam saku celana jinsnya.
Dia berhenti di jalan masuk dan menariknya keluar.
Matahari merendah di belakang garasi. Dia memegang hasil foto itu dekat ke wajahnya untuk melihat
dengan jelas.
"Oh, tidak!" teriaknya. "Aku tak percaya!"

24

"Ini tak mungkin!" Greg berteriak keras, menganga dengan hasil foto di tangannya yang gemetar.
Bagaimana Shari masuk ke foto?
Foto ini diambil beberapa menit sebelumnya, di depan bangku-bangku di taman bermain.
Tapi ada Shari, berdiri dekat di samping Greg.
Tangannya gemetar, mulutnya ternganga tak percaya, Greg terbelalak menatap foto itu.
Itu sangat jelas, sangat tajam. Mereka di sana di tempat bermain. Dia bisa melihat lapangan kasti di latar
belakang.
Dan di sanalah mereka, Greg dan Shari.
Shari berdiri begitu jelas, begitu tajam - tepat di sampingnya.
Dan mereka berdua menatap lurus ke depan, mata mereka nelebar, mulut mereka terbuka, ekspresi
mereka membeku karena ketakutan ketika suatu bayangan besar menutupi mereka berdua.
"Shari?" teriak Greg, menurunkan hasil foto dan matanya melesat atas halaman depan. "Apa kau di sini
? Bisakah kau mendengarku?"
Dia mendengarkan.
Sunyi.

Dia mencoba lagi.
"Shari? Apa kau di sini?"
"Greg!" satu suara memanggil.
Mengeluarkan teriakan kaget, Greg berbalik. "Hah?"
"Greg!" ulang suara itu. Ia perlu waktu beberapa saat untuk menyadari bahwa itu adalah ibunya,
memanggilnya dari pintu depan.
"Oh, Hai Bu." Merasa bingung, ia menyelipkan hasil foto itu kembali ke saku celana jinsnya.
"Ke mana saja kau?" tanya ibunya sambil berjalan ke pintu. "Aku mendengar tentang Shari. Aku begitu
kesal. Aku tak tahu di mana kau berada."
"Maaf, Bu," kata Greg, mencium pipinya. "Aku - aku harusnya meninggalkan catatan."
Dia melangkah ke dalam rumah, merasa aneh dan bermacam-macam, sedih, bingung dan ketakutan,
semuanya pada waktu yang sama.

****

Dua hari kemudian, pada hari yang (bercuaca) tinggi, awan abu-abu, udara panas dan berkabut, Greg
berjalan mondar-mandir di kamarnya setelah pulang sekolah.
Rumah itu kosong kecuali untuk dirinya. Terry sudah pergi beberapa jam sebelum ke pekerjaannya
setelah sekolah di Freeze Dairy. Mrs Bank pergi ke rumah sakit untuk menjemput ayah Greg, yang
akhirnya pulang.
Greg tahu ia harusnya senang ayahnya kembalinya. Tapi masih ada terlalu banyak hal mengganggunya,
menarik-narik pikirannya.
Menakutkannya.
Untuk satu hal, Shari masih belum ditemukan.
Polisi benar-benar bingung. Teori baru mereka adalah bahwa dia telah diculik.
Panik (memikirkannya), orang tuanya dengan sedih menunggu telepon di rumah. Tapi tak ada penculik
yang menuntut uang tebusan.
Tak ada petunjuk apapun.
Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menunggu. Dan harapan.

Saat hari-hari berlalu, Greg merasa lebih dan lebih bersalah. Dia yakin Shari tak diculik. Dia tahu bahwa
entah bagaimana, kamera itu telah membuatnya menghilang.

Tapi ia tak bisa memberitahu orang lain apa yang diyakininya.

Tak seorang pun akan percaya kepadanya. Setiap orang yang dia coba untuk menceritakan kisah itu akan
berpikir dia gila.

Kamera tak akan bisa jahat, setelah semuanya.

Kamera tak bisa membuat orang jatuh dari tangga. Atau mencelakakan mobil mereka.

Atau menghilangkan dari pandangan.

Kamera hanya dapat merekam apa yang dilihat.

Greg menatap keluar dari jendela kamarnya, menekankan dahinya kaca, memandang ke halaman
belakang Shari itu. "Shari - di mana kau?" tanyanya dengan keras, menatap pohon tempat ia berpose.

Kamera itu masih tersembunyi di dalam ruangan rahasia di ujung tempat tidurnya. Tak seorang pun dari
Bird maupun Michael yang setuju untuk membantu Greg kembali ke rumah Coffman.

Selain itu, Greg memutuskan untuk menahan kamera itu beberapa saat lagi, dalam kasus ini ia
membutuhkannya sebagai barang bukti.

Dalam hal ia memutuskan untuk menceritakan ketakutannya tentang hal itu kepada seseorang.

Dalam kasus. . .

Ketakutannya yang lain adalah Spidey akan kembali, kembali ke kamar Greg, kembali untuk (mengambil)
kamera itu.

Begitu banyak yang harus ditakutinya.

Dia menjauhkan dirinya dari jendela. Dia telah menghabiskan begitu banyak waktu dalam beberapa hari
terakhir menatap halaman belakang Shari yang kosong itu.

Berpikir. Berpikir.

Sambil mendesah, dia merogoh ujung ranjang dan menarik keluar dua hasil foto yang disembunyikannya
di sana bersama dengan kamera itu.

Kedua hasil foto itu diambil Sabtu lalu di pesta ulang tahun Shari itu. Memegang satu foto di masing-
masing tangan, Greg menatap mereka, berharap ia bisa melihat sesuatu yang baru, sesuatu yang tak
perhatikannya sebelumnya.

Tetapi foto tak berubah. Foto itu masih menunjukkan pepohonnya, halaman belakangnya, kehijauan di
bawah sinar matahari. Dan tak Shari. Tak ada satu pun di mana Shari telah berdiri. Seolah-olah lensa itu
telah menembus tepat melalui dirinya.
Menatap foto, Greg menjerit sedih.
Kalau saja ia tak pernah pergi ke rumah Coffman.
Kalau saja ia tiak pernah mencuri kamera.
Kalau saja ia tak pernah mengambil foto-foto dengan kamera itu.
Kalau saja. . . kalau saja. . . kalau saja. . .
Sebelum ia menyadari apa yang dia lakukan, dia merobek dua hasil foto itu menjadi potongan-potongan
kecil.
Dadanya naik turun, terengah-engah keras, ia merobek foto itu dan membiarkan potongannya jatuh ke
lantai.
Ketika ia merobek keduanya menjadi pecahan-pecahan kertas kecil, ia menjatuhkan dirinya
tertelungkup di tempat tidurnya dan memejamkan matanya, menunggu hatinya berhenti berdebar-
debar, menunggu perasaan berat dari rasa bersalah dan ngeri hilang.
Dua jam kemudian, telepon di samping tempat tidurnya berdering.
Itu Shari.

25

"Shari - itu benar-benar kau?" Greg berteriak di telepon.
"Ya. Ini aku!" Dia terdengar sama terkejutnya dengannya.
"Tapi bagaimana? Maksudku -" Pikirannya berlomba. Dia tak tahu harus berkata apa.
"Tebakanmu sebaik tebakanku," kata Shari padanya. Dan kemudian dia berkata, "Tunggu sebentar."
Dan Greg mendengar langkah menjauhnya dari telepon untuk berbicara dengan ibunya. "Bu - Ibu sudah
berhentilah menangis -. Ini benar-benar aku. Aku sudah pulang.."
Beberapa detik kemudian, dia kembali di telepon. "Aku sudah di rumah selama dua jam, dan Ibu masih
menangis dan menangis."
"Aku juga merasa akan menangis," aku Greg. "Aku - aku tak bisa percaya ini. Shari, di mana kau?!"

Jalur ini hening beberapa saat.

"Aku tak tahu," Shari akhirnya menjawab.

"Hah?"

"Aku benar-benar tak tahu. Itu hanya sangat aneh, Greg. Satu menit, ada aku di pesta ulang tahunku.
Menit berikutnya, aku berdiri di depan rumahku. Dan itu dua hari kemudian.. Tapi aku tak ingat pergi
jauh. Atau sedang di tempat lain. Aku tak ingat apa-apa sama sekali. "

"Kau tak ingat pergi ? Atau pulang?" tanya Greg.

"Tidak. Tak ada," kata Shari, suaranya gemetar.

"Shari, foto-foto yang ku ambil darimu - ingat? Dengan kamera aneh itu? Kau tak kelihatan di dalamnya
?"

"Dan lalu aku menghilang," kata Shari, menyelesaikan pikiran Greg.

"Shari, menurutmu -?"

"Aku tak tahu," jawabnya cepat. "Aku -. Aku harus pergi sekarang. Polisi ada di sini. Mereka ingin
menanyaiku. Apa yang akan kukatakan pada mereka. Mereka akan berpikir aku sudah hilang ingatan
atau jadi gila atau sesuatu (yang lain)..?."

"Aku - aku tak tahu," kata Greg, benar-benar bingung. "Kita harus bicara. Kamera itu -."

"Aku tak bisa sekarang," katanya. "Mungkin besok. Oke?" Dia berteriak pada ibunya bahwa dia akan
datang. "Sampai jumpa, Greg. Sampai ketemu." Dan kemudian dia menutup telepon.

Greg meletakkan gagang telepon, tetapi duduk di tepi tempat tidurnya menatap telepon untuk waktu
yang lama.

Shari kembali.

Dia sudah kembali sekitar dua jam.

Dua jam. Dua jam. Dua jam.

Lalu matanya beralih ke jam radio di samping telepon.

Baru dua jam sebelumnya, ia telah merobek dua hasil foto Shari yang tak terlihat.

Pikirannya berputar dengan ide-ide liar, ide-ide gila.

Apakah ia membawa Shari kembali dengan merobek foto-foto itu?

Apakah ini berarti bahwa kamera itu menyebabkan dia menghilang? Bahwa kamera itu menyebabkan
semua hal mengerikan yang muncul dalam foto tersebut?

Greg menatap telepon untuk waktu yang lama, berpikir keras.
Dia tahu apa yang harus ia lakukan. Dia harus bicara ke Shari. Dan ia harus mengembalikan kamera itu.

****

Dia bertemu Shari di tempat bermain sore berikutnya. Matahari melayang tinggi di langit yang tak
berawan. Delapan atau sembilan anak-anak terlibat dalam keributan berisik dalam satu pertandingan
sepak bola, berlari ke satu arah, lalu yang lain persis di luar lapangan bisbol.
"Hei - kau terlihat seperti dirimu!" seru Greg saat Shari berlari-lari kecil datang ke tempatnya berdiri di
samping bangku-bangku. Dia mencubit lengan Shari. "Ya. Ini kau, oke."
Shari tak tersenyum. "Aku merasa baik-baik saja," katanya sambil menggosok-gosok lengannya. "Hanya
bingung. Dan lelah. Polisi mengajukan pertanyaan-pertanyaan padaku selama berjam-jam Dan ketika
akhirnya mereka pergi, orang tuaku mulai masuk."
"Maaf," kata Greg pelan, menatap sepatunya.
"Kupikir Ibu dan Ayahku percaya entah bagaimana itu salahku bahwa aku menghilang," kata Shari,
mengistirahatkan punggungnya ke sisi bangku, menggelengkan kepala.
"Ini salah kamera itu," gumam Greg. Dia mengangkat matanya ke Shari. "Kamera itu jahat."
Shari mengangkat bahu. "Mungkin. Aku tak tahu harus berpikir apa. Aku benar-benar tak tahu."
Greg menunjukkan Shari hasil foto itu, yang menunjukkan mereka berdua di taman bermain menatap
dengan ngeri saat bayangan bergerak pelan ke atas mereka.
"Begitu aneh," seru Shari, mempelajarinya dengan keras.
"Aku ingin mengembalikan kamera itu ke rumah Coffman," kata Greg panas. "Aku bisa pulang dan
mengambilnya sekarang. Maukah kau membantuku? Maukah kau ikut denganku?."
Shari akan menjawab, tapi berhenti.
Mereka berdua melihat bayangan gelap bergerak, meluncur ke arah mereka dengan cepat, diam-diam,
di atas rumput.
Dan kemudian mereka melihat pria itu berpakaian serba hitam, kakinya yang kurus itu naik turun
dengan keras saat ia datang pada mereka.
Spidey!

Greg meraih tangan Shari itu, membeku ketakutan.
Dia dan Shari terganga ngeri saat bayangan Spidey yang merayap bergerak pelan di atas mereka.

26

Greg mengakui punya perasaan ngeri. Dia tahu hasil foto itu baru saja menjadi kenyataan.
Saat sosok gelap Spidey bergerak menuju mereka seperti tarantula hitam, Greg menarik tangan Shari
itu. "Lari!" teriaknya dengan suara melengking yang tak dikenalinya.
Dia tak harus mengatakannya. Mereka berdua berlari sekarang, terengah-engah saat mereka berlari
melintasi rerumputan ke jalanan. Sepatu mereka berdebam keras di tanah saat mereka mencapai
trotoar dan terus berlari.
Greg berbalik untuk melihat Spidey memperkecil jarak. "Dia mengejar!" ia berhasil berteriak ke Shari,
yang beberapa langkah di depannya.
Spidey, wajahnya masih tersembunyi dalam bayang-bayang topi kasti hitam, bergerak dengan kecepatan
mengejutkan, kakinya yang panjang menendang tinggi saat ia mengejar mereka.
"Dia akan menangkap kita!" teriak Greg, merasa seolah-olah dadanya hendak meledak. "Dia... Terlalu...
Cepat!"
Spidey bergerak lebih dekat, bayangannya merayap di atas rumput.
Lebih dekat.
Saat mobil itu membunyikan klakson, Greg menjerit.
Dia dan Shari berhenti sebentar.
Klakson berbunyi lagi.
Greg berbalik dan melihat seorang pria muda yang dinealnya dalam sebuah hatchback kecil (mobil yang
pintunya dibuka keatas). Itu Jerry Norman, yang tinggal di seberang jalan.
Jerry menurunkan jendela mobilnya. "Apa orang ini mengejar kalian?" tanyanya penuh semangat. Tanpa
menunggu jawaban, ia memundurkan mobil ke arah Spidey. "Tuan, aku akan menelepon polisi!"
Spidey tak menjawab. Sebaliknya, ia berbalik dan melesat di seberang jalan.
"Kuperingatkan Anda -" Jerry meneriakinya.
Tapi Spidey sudah lenyap di balik pagar tinggi.

"Anak-anak apa kalian baik-baik saja?" Desak tetangga Greg.
"Ya. Baik," Greg berhasil menjawab, masih terengah-engah, dadanya naik-turun.
"Kami baik-baik saja. Terima kasih, Jerry," kata Shari.
"Aku telah melihat orang itu di sekitar lingkungan ini," kata pemuda itu, menatap melalui kaca depan di
pagar tinggi. "Tak pernah terpikir kalau ia berbahaya. Anak-anak, kalian ingin aku menelepon polisi?."
"Tak apa-apa," jawab Greg.
Begitu aku memberikan kembali kameranya, dia akan berhenti mengejar kami, pikir Greg.
"Yah, hati-hati - oke?" Jerry berkata. "Kalian butuh tumpangan ke rumah atau apa?" Dia mempelajari
wajah-wajah mereka seolah-olah mencoba untuk menentukan bagaimana ketakutan dan kesal mereka.
Baik Greg dan Shari menggelengkan kepala mereka.
"Kami akan baik-baik saja," kata Greg. "Terima kasih."
Jerry memperingatkan mereka sekali lagi untuk berhati-hati, kemudian melaju pergi, ban mobilnya
berdecit saat ia berbelok.
"Hampir saja," kata Shari, matanya pada pagar. "Mengapa Spidey mengejar kita?"
"Dia mengira aku punya kamera itu. Dia menginginkannya kembali," kata Greg padanya. "Temui aku
besok, oke. Di depan rumah Coffman? Bantu aku mengembalikannya?"
Shari menatapnya tanpa menjawab, ekspresinya berpikir, waspada.
"Kita akan berada dalam bahaya - kita semua - sampai kita mengembalikan kamera itu," desak Greg.
"Oke," kata Shari tenang. "Besok."

27

Sesuatu bergerak cepat melalui rerumputan liar yang tinggi yang tak dipotong di halaman depan.
"Apa itu?" teriak Shari, berbisik meskipun tidak ada orang lain di depan mata. "Itu terlalu besar untuk
tupai."
Dia berlama-lama di belakang Greg, yang berhenti untuk melihat ke rumah Coffman. "Mungkin itu
racoon atau sesuatu yang lain," kata Greg padanya. Dia mencengkeram erat kamera itu di kedua
tangannya.

Saat itu pukul tiga lebih sedikit, sore berikutnya, hari yang berkabut dan mendung. Pegunungan awan
gelap mengancam hujan yang bergulir di langit, membentang di belakang rumah, menuangkannya
dalam bayangan.

"Akan badai," kata Shari, tinggal dekat belakang Greg. "Ayo kita selesaikan ini dan pulang."

"Ide bagus," kata Greg, sambil menatap langit yang berat.

Guntur bergemuruh di kejauhan, meraung rendah. Pepohonan tua yang menghiasi halaman depan
berbisik dan menggeleng-geleng.

"Kita tak bisa lari begitu saja ke dalam," kata Greg, mengamati langit yang gelap. "Pertama kita harus
pastikan Spidey tak ada."

Mereka berjalan cepat melalui rerumputan tinggi dan rumput-rumput liar, mereka berhenti di jendela
ruang tamu dan mengintip masuk. Guntur bergemuruh, rendah dan panjang, di kejauhan. Greg pikir ia
melihat makhluk lain berlari tergesa-gesa melalui rerumputan liar di sekitar sudut rumah.

"Terlalu gelap di sana. Aku tak bisa melihat apa-apa," keluh Shari.

"Ayo kita periksa ruang bawah tanah," usul Greg. "Di situlah Spidey menghabiskan waktunya, ingat?"

Langit jadi gelap hijau keabu-abuan menakutkan saat mereka berjalan ke belakang rumah dan berlutut
untuk mengintip ke bawah melalui jendela ruang bawah tanah di permukaan tanah.

Sambil memicingkan mata melalui kaca jendela yang berdebu mereka bisa melihat meja kayu lapis
darurat yang dibuat Spidey, lemari pakaian di dinding, pintunya masih terbuka, pakaian tua berwarna-
warni tertumpah keluar, kotak makanan beku yang kosong berserakan di lantai.

"Tak ada tanda dari dia," bisik Greg, menggendong kamera itu di lengannya seolah-olah kamera itu
mungkin mencoba melarikan diri darinya jika dia tidak memegangnya erat-erat. "Ayo kita bergerak."

"Apa - apa kau yakin?" Shari tergagap. Dia ingin jadi berani. Tapi pemikiran bahwa ia telah menghilang
selama dua hari - benar-benar lenyap, kemungkinan besar karena kamera itu - pemikiran menakutkan
itu melekat dalam pikirannya.

Michael dan Bird adalah ayam (pengecut), pikirnya. Tapi mungkin merekalah yang cerdas.

Dia berharap ini berakhir. Semuanya berakhir.

Beberapa detik kemudian, Greg dan Shari membuka pintu depan. Mereka melangkah ke dalam ruang
depan yang gelap. Berhenti.

Mendengarkan.

Dan kemudian mereka berdua melompat saat mendengar suara keras, dentaman tiba-tiba tepat di
belakang mereka.

28

Sharilah yang pertama untuk mendapatkan kembali suaranya. "Ini hanya pintu!" teriaknya. "Angin -"
Hembusan angin yang keras telah membuat pintu depan terbanting.
"Ayo kita selesaikan ini," bisik Greg, sangat gemetar.
"Kita tak seharusnya masuk ke rumah ini sejak pertama kali," bisik Shari saat mereka berjalan berjingkat-
jingkat, langkah demi langkah berderit, menyusuri lorong gelap menuju tangga ruang bawah tanah.
"Sudah agak terlambat untuk itu," jawab Greg tajam.
Membuka pintu ke anak tangga ruang bawah tanah, ia berhenti lagi. "Suara keras apa itu yang terdengar
di lantai atas ?"
Raut muka Shari menegang ketakutan saat ia mendengarnya juga, suara ketukan, berulang yang hampir
berirama.
"Daun penutup jendela?" tebak Greg.
"Ya," Shari dengan cepat setuju, bernapas lega. "Banyak dari daun �daun jendela itu yang longgar,
ingat?"
Seluruh rumah tampak mengerang.
Guntur bergemuruh luar, lebih dekat sekarang.
Mereka melangkah ke tangga, lalu menunggu mata mereka untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan.
"Tak bisakah kita tinggalkan kamera itu di sini, dan lari?" tanya Shari, lebih mirip permohonanan
daripada pertanyaan.
"Tidak, aku ingin mengembalikannya," desak Greg.
"Tapi, Greg -" Shari menarik-narik lengan Greg saat ia mulai menuruni tangga.
"Tidak!" Greg menarik diri dari genggamannya. "Dia berada di kamarku, Shari. Dia merobek segala
sesuatu, mencari kamera itu. Aku ingin dia menemukannya di tempatnya! Jika dia tak menemukannya,
dia akan kembali ke rumahku. Aku tahu dia akan! "
"Oke, oke. Ayo kita cepat-cepat.."
Lebih terang dalam ruang bawah tanah, cahaya abu-abu merembes turun dari jendela-jendela tingkat
empat bawah tanah. Di luar, angin berputar-putar dan mendorong kaca-kaca jendela. Satu kilatan pucat

petir membuat bayangan-bayangan berkedip di dinding ruang bawah tanah. Rumah tua itu mengerang
seakan tak senang akan badai.

"Apa itu ? Langkah kaki?" Shari berhenti separuh jalan di ruang bawah tanah dan mendengarkan.

"Ini hanya rumah ini," Greg bersikeras. Tapi suaranya bergetar mengungkapkan bahwa ia sama takutnya
seperti temannya, dan dia berhenti untuk mendengarkan juga.

Duk. Duk. Duk.

Daun jendela tinggi di atas mereka meneruskan irama pukulannya.

"Di mana kau menemukan kamera itu, sih?" bisik Shari, mengikuti Greg ke dinding yang jauh di seberang
tungku perapian besar dengan saluran jaring laba-laba yang tumbuh tinggi bagaikan dahan pohon yang
pucat.

"Di sini," kata Greg padanya. Dia melangkah ke meja kerja dan meraih catok yang terjepit di tepi. "Saat
aku memutar catok itu, pintu terbuka. Beberapa macam rak tersembunyi. Disitulah kamera itu -.."

Ia memutar gagang catok itu.

Sekali lagi, pintu rak-rak rahasia itu muncul terbuka.

"Bagus," bisiknya penuh semangat. Dia berkelebat. Shari tersenyum.

Dia memasukkan kamera itu ke rak itu, menyelipkan tali pengikat untuk membawa di bawahnya. Lalu ia
mendorong menutup pintu itu. "Kita keluar dari sini."

Dia merasa jauh lebih baik. Jadi lega. Jadi jauh lebih ringan.

Rumah itu mengerang dan berderit. Greg tak peduli.

Kilatan petir lainnya, kali ini lebih terang, seperti kedipan kamera, mengirimkan bayangan yang
berkelap-kelip di dinding.

"Ayo," bisiknya. Tapi Shari sudah di depannya, berjalan dengan hati-hati di atas kotak makanan
berserakan di mana-mana, bergegas menuju tangga.

Mereka sudah berjalan menaiki setengah tangga, Greg satu langkah di belakang Shari, saat, di atas
mereka, Spidey diam-diam melangkah tampil di atas tangga , menghalangi pelarian mereka.

29

Greg mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala, seolah-olah ia bisa mengusir bayangan dari sosok
muram yang menatap ke bawah ke arahnya.

"Tidak!" teriak Shari, dan jatuh kebelakang melanggar Greg.

Greg menyambar pagar, lupa bahwa pagar itu telah jatuh ke bawah karena berat badan Michael saat
kunjungan pertama mereka yang tidak beruntung ke rumah itu. Untungnya, Shari kembali
keseimbangan sebelum menjatuhkan mereka berdua menuruni tangga.

Petir menyambar di belakang mereka, mengirimkan kilatan cahaya putih di tangga. Tapi sosok tak
bergerak di tangga di atas mereka tetap terselubung dalam kegelapan.

"Ayo kita pergi!" Greg akhirnya berhasil berteriak, dapat bersuara lagi.

"Ya, Kami telah mengembalikan kamera Anda!" Shari menambahkan, terdengar melengking dan
ketakutan.

Spidey tak menjawab. Sebaliknya, ia melangkah ke arah mereka, ke anak tangga pertama. Dan kemudian
ia menuruni anak tangga yang lain.

Hampir tersandung lagi, Greg dan Shari mundur ke lantai ruang bawah tanah.

Tangga kayu itu berderit memprotes saat sosok gelap itu melangkah perlahan, mantap, turun. Saat ia
sampai di lantai ruang bawah tanah, sambaran petir berderak menebarkan cahaya biru di atasnya, dan
Greg dan Shari melihat wajahnya untuk pertama kalinya.

Dalam kilatan warna yang singkat sekali, mereka melihat bahwa ia sudah tua, lebih tua daripada yang
mereka bayangkan. Matanya yang kecil dan bulat seperti kelereng gelap. Mulutnya itu kecil, juga
berkerut meringis, menyeringai mengancam.

"Kami telah mengembalikan kamera itu," kata Shari, menatap ketakutan saat Spidey perlahan-lahan
mendekat. "Tidak bisakah kami pergi sekarang? Tolonglah?"

"Coba kulihat," kata Spidey. Suaranya lebih muda daripada wajahnya, lebih hangat daripada matanya.
"Ayo."

Mereka ragu-ragu. Tapi dia tak memberi mereka pilihan.

Mengantarkan mereka kembali melewati lantai yang berantakan ke meja kerja, dia membungkus tangan
laba-labanya yang besar, di catok dan memutar pegangan. Pintu terbuka. Dia mengeluarkan kamera itu
dan memegangnya dekat ke wajahnya untuk memeriksanya.

"Kalian seharusnya tak mengambilnya," katanya kepada mereka, berbicara pelan, membalikkan kamera
itu di tangannya.

"Kami minta maaf," kata Shari cepat.

"Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Greg, berjalan pelan menuju tangga.

"Ini bukan kamera biasa," kata Spidey, mengangkat mata kecilnya untuk mereka.

"Kami tahu," kata Greg tanpa berpikir. "Foto-foto yang diambil. Foto-foto itu -."

Mata Spidey terbelalak, ekspresinya marah. "Kalian mengambil foto dengan kamera itu?"

"Hanya beberapa," kata Greg padanya, berharap dia menutup mulutnya. "Foto-foto itu tidak keluar.
Sungguh.."

"Kau tahu tentang kamera, lalu," kata Spidey, bergerak cepat ke tengah lantai.

Apakah dia mencoba untuk menghalangi pelarian mereka? Greg bertanya-tanya.

"Itu rusak atau sesuatu yang lainnya," kata Greg ragu-ragu, memasukkan tangannya ke saku celana
jeans.

"Ini tak rusak," Sosok tinggi, berkulit gelap berkata pelan. "Kamera ini jahat." Dia menunjuk ke arah meja
kayu lapis rendah. "Duduklah di sana."

Shari dan Greg saling pandang. Lalu, dengan enggan, mereka duduk di tepi papan, duduk kaku, gugup,
mata mereka melesat ke tangga,ke arah melarikan diri.

"Kamera ini jahat," ulang Spidey, berdiri atas mereka, memegang kamera itu dengan kedua tangannya.
"Aku harusnya tahu. Aku membantu menciptakannya."

"Kau seorang penemu?" tanya Greg, sambil melirik Shari, yang gugup menarik-narik sehelai rambut
hitamnya.

"Aku seorang ilmuwan," jawab Spidey. "Atau, harus kukatakan, aku dulu seorang ilmuwan. Namaku
Frederick. Dr Fritz Frederick." Dia memindahkan kamera dari satu tangan ke tangan lain. "Rekan
laboratoriumku menemukan kamera ini. Ini adalah kebanggaan dan kegembiraannya. Lebih dari itu, itu
akan memberinya suatu keberuntungan. Apa yang harus kukatakan." Dia berhenti sejenak, suatu
ekspresi penuh pemikiran tenggelam di wajahnya.

"Apa yang terjadi padanya? Apakah dia mati?" tanya Shari, masih mengutak-atik sehelai rambutnya.

Dr Fredericks mencibir. "Tidak. Lebih buruk. Aku mencuri penemuannya. Aku mencuri rencana dan
kamera itu. Aku jahat, kalian lihat. Aku masih muda dan serakah. Jadi sangat rakus. Dan tidaklah sulit
bagiku mencuri untuk membuat keberuntunganku."

Dia berhenti, menatap mereka berdua seolah menunggu mereka untuk mengatakan sesuatu, untuk
mengajukan pencelaan mereka kepadanya, mungkin. Tapi ketika Greg dan Shari tetap diam,
menatapnya dari meja kayu lapis rendah, ia melanjutkan ceritanya.

"Ketika aku mencuri kamera itu, secara mengejutkan aku tertangkap rekanku. Sayangnya, sejak saat itu,
semua kejutan itu adalah milikku." Satu senyum aneh, sedih, terlintas di wajah tuanya. "Rekanku, kalian
lihat, jauh lebih jahat daripadaku."

Dr Fredericks terbatuk ke tangannya, lalu mulai berjalan mondar-mandir di depan Greg dan Shari saat ia
berbicara, berbicara pelan, perlahan-lahan, seakan mengingat cerita itu untuk pertama kalinya dalam
waktu yang lama.

"Rekanku adalah seorang yang benar-benar jahat. Dia berkecimpung dalam seni kegelapan. Aku harus
mengoreksi diriku sendiri. Dia tak hanya mencoba-coba. Dia cukup menguasai semuanya."

Dia mengangkat kamera itu, melambaikan itu di atas kepalanya, kemudian menurunkannya. "Rekanku
mengutuk kamera itu. Jika dia tak dapat keuntungan darinya, ia ingin memastikan bahwa aku tak akan
pernah mendapatkannya, juga. Dan dia menaruh kutukan di atasnya."

Ia melayangkan pandangannya pada Greg, bersandar di atasnya. "Apakah kalian tahu tentang beberapa
orang-orang primitif yang takut kamera? Mereka takut kamera karena mereka percaya bahwa jika
kamera itu mengambil foto mereka, kamera itu akan mencuri jiwa mereka." Dia menepuk-nepuk kamera
itu. "Nah, kamera ini benar-benar mencuri jiwa."

Menatap kamera itu, Greg bergidik.

Kamera itu mencuri Shari pergi.

Apakah kamera itu telah mencuri semua jiwa mereka?

"Orang-orang telah meninggal karena kamera ini," kata Dr Frederick, mengucapkan napas, lambat sedih.
"Orang-orang yang dekat denganku. Itulah caranya bagaimana aku belajar kutukan itu, mempelajari
kejahatan kamera itu. Dan kemudian aku belajar sesuatu yang sama menakutkannya. Kamera itu tak
dapat dihancurkan."

Dia terbatuk, berdeham keras-keras, dan mulai mondar-mandir di depan mereka lagi. "Dan jadi aku
bersumpah untuk menjaga rahasia kamera itu. Menjauhkannya dari orang-orang sehingga tak dapat
melakukan kejahatan. Aku kehilangan pekerjaanku. Keluargaku. Aku kehilangan segalanya karena
kamera itu. Tapi aku bertekad untuk menjaga kamera itu agar tidak bisa membahayakan. "

Dia berhenti mondar-mandir dengan punggungnya ke arah mereka. Dia berdiri diam, bahu
membungkuk, tenggelam dalam pikirannya.

Greg segera bangkit dan memberi isyarat untuk Shari untuk melakukan hal yang sama. "Yah... Eh.. Saya
kira. Ada baiknya kami mengembalikannya," katanya ragu-ragu. "Maaf kami telah menyebabkan begitu
banyak masalah."

"Ya, kami sangat menyesal," ulang Shari tulus. "Kurasa kamera itu kembali di tangan yang tepat."

"Selamat tinggal," kata Greg, mulai menuju langkah. "Sudah larut, dan kami -"

"Tidak!" teriak Dr Fredericks, mengejutkan mereka berdua. Dia bergerak cepat untuk memblokir jalan.
"Aku khawatir kalian tak bisa pergi. Kalian tahu terlalu banyak.."

30

"Aku tak dapat membiarkan kalian pergi," kata Dr Frederick, wajahnya berkedip dalam cahaya biru kilat.
Dia menyilangkan tangannya yang kurus di depan kaus hitamnya.

"Tapi kami tak akan memberitahu siapa pun," kata Greg, suaranya naik sampai kata-katanya menjadi
permohonan. "Sungguh."

"Rahasia Anda aman ditangan kami," desak Shari, mata ketakutan tertuju pada Greg.

Dr Fredericks menatap mereka mengancam, tapi tak menjawab.

"Kau bisa mempercayai kami," kata Greg, suaranya bergetar. Dia melemparkan pandangan ketakutan
pada Shari.

"Selain itu," kata Shari, "bahkan jika kami memberitahu setiap orang, siapa yang akan mempercayai
kami?"

"Cukup bicaranya," bentak Dr Frederick. "Ini tak akan memberi kalian kebaikan apapun. Aku telah
bekerja terlalu lama dan terlalu keras untuk menjaga rahasia kamera ini."

Satu desakan angin kembali mendorong jendela-jendela, mengirimkan satu lolongan rendah. Angin
membawa suara gemuruh drum hujan. Langit yang melalui jendela ruang bawah tanah hitam seperti
malam hari.

"Anda - tak bisa terus menahan kami di sini selamanya!" teriak Shari, tak mampu menahan kengerian
yang tumbuh dari suaranya.

Sekarang hujan memukul-mukul jendela, hujan yang tetap.

Dr Fredericks menegakkan dirinya, sepertinya tumbuh lebih tinggi. Matanya kecilnya membara pada
Shari. "Maafkan aku," katanya, suaranya (jadi) bisikan penyesalan. "Maaf. Tapi aku tak punya pilihan.."

Dia mengambil langkah lain terhadap mereka.

Greg dan Shari saling pandang ketakutan. Dari tempat mereka berdiri, di depan meja kayu lapis yang
rendah di tengah ruang bawah tanah, anak-anak tangga tampaknya seratus mil jauhnya.

"A-apa yang akan Anda lakukan?" teriak Greg, teriakannya melebihi ledakan guntur yang mengguncang
jendela ruang bawah tanah.

"Tolong -!" Shari memohon. "Jangan -!"
Dr Fredericks bergerak maju dengan kecepatan yang mengejutkan. Memegang kamera di satu tangan, ia
meraih bahu Greg dengan yang tangannya yang lain.
"Tidak!" Greg menjerit. "Lepaskan!"
"Lepaskan dia!" jerit Shari.
Dia tiba-tiba menyadari bahwa kedua tangan Dr Frederick dipergunakan.
Ini mungkin satu-satunya kesempatanku, pikir Shari.
Dia menarik napas dalam-dalam dan menerjang maju.
Mata Dr Fredericks melotot, dan dia berteriak kaget saat Shari merebut kamera itu dengan kedua
tangannya dan menarik kamera itu menjauh darinya. Dia dengan panik membuat satu sambaran untuk
mengambil kamera itu, dan Greg sepenuhnya bebas.
Sebelum pria putus asa itu bisa mengambil langkah lain, Shari mengangkat kamera itu dengan mata dan
lensa menunjuk ke arahnya.
"Tolong - jangan! Jangan tekan tombol itu!" teriak orang tua itu.
Dia melesat maju, matanya liar, dan meraih kamera itu dengan kedua tangan.
Greg menatap ngeri saat Shari dan Dr Fredericks bergulat, keduanya memegang kamera itu, masing-
masing berusaha mati-matian untuk merebut menjauhkannya dari yang lain.
Sret!
Ledakan cahaya terang mengejutkan mereka semua.
Shari menyambar kamera itu. "Lari!" jeritnya.

31

Ruang bawah tanah itu menjadi berputar kabur abu-abu dan hitam ketika Greg melesat sendiri menuju
tangga.
Dia dan Shari berlari berdampingan, tergelincir di atas kotak makanan, melompati kaleng dan botol
kosong.
Hujan guntur kembali ke jendela. Angin melolong, mendorong kaca-kaca itu. Mereka bisa mendengar
jeritan sedih Dr Frederick di belakang mereka.

"Apakah kamera itu mengambil foto kita atau dia?" tanya Shari.
"Aku tak tahu. Ayo cepat!" jerir Greg.
Orang tua itu melolong seperti binatang yang terluka, jeritannya bersaing dengan hujan dan angin yang
mendorong jendela.
Anak-anak tangga itu tak terlalu jauh. Tapi tampaknya butuh (waktu) selamanya untuk menjangkaunya.
Selamanya.
Selamanya, Greg berpikir. Dr Fredericks ingin menahan Shari dan dia di sana selamanya.
Terengah-engah keras, mereka berdua mencapai anak tangga yang gelap. Satu sambaran petir yang
memekakkan telinga membuat mereka berhenti dan berbalik.
"Hah?" teriak Greg nyaring.
Terkejut, Dr Frederick tak mengejar mereka.

Dan jeritan sedih itu telah berhenti.
Ruang bawah tanah itu sunyi.
"Apa yang terjadi?" teriak Shari terengah-engah.
Menyipitkan mata kembali ke kegelapan, Greg butuh waktu untuk menyadari bahwa bentuk, gelap
kusut berbaring di lantai di depan meja kerja adalah Dr Frederick.
"Apa yang terjadi?" teriak Shari, dadanya naik-turun saat ia berusaha menarik napas. Masih memegang
erat tali kamera itu, ia ternganga karena terkejut tubuh pria tua itu, masih telentang pada lantai.
"Aku tak tahu," jawab Greg berbisik terengah-engah.
Dengan enggan, Greg mulai kembali ke Dr Frederick. Mengikuti dekat di belakang, Shari menjerit pelan
ngeri ketika dia dengan jelas melihat wajah manusia yang jatuh.
Mata melotot, mulut terbuka seperti (huruf) O ngeri, wajah itu menatap mereka. Beku. Mati.
Dr Fredericks sudah mati.
"Apa yang - terjadi!" Shari akhirnya berhasil berkata, menelan ludah, memaksakan dirinya untuk
berpaling dari wajah mengerikan menderita.
"Kupikir dia mati ketakutan," jawab Greg, meremas bahu Shari dan bahkan ia tak menyadarinya.
"Hah? Ketakutan?"

"Dia tahu lebih baik dari siapa pun apa yang kamera itu bisa lakukan," kata Greg. "Ketika kau
memfotonya, kupikir... Kupikir itu membuatnya takut hingga mati!"

"Aku hanya ingin dia melepas penjagaannya," teriak Shari. "Aku hanya ingin kita diberi kesempatan
untuk melarikan diri. Aku tak berpikir -."

"Foto itu," sela Greg. "Ayo kita lihat foto itu."

Shari mengangkat kamera itu. Foto itu masih setengahnya di dalam kamera. Greg menariknya keluar
dengan tangan gemetar. Dia mengangkatnya sehingga mereka berdua bisa melihatnya.

"Wow," seru Grg tenang. "Wow."

Foto itu memperlihatkan Dr Frederick terbaring di lantai, matanya melotot, mulutnya membeku terbuka
ngeri.

Ketakutan Dr Fredericks , Greg menyadari - ketakutan yang telah membunuhnya - ada di sana, membeku
pada film, beku di wajahnya.

Kamera itu meminta korban lain. Kali ini, selamanya.

"Apa yang kita lakukan sekarang?" Shari bertanya, menatap sosok tergeletak itu di kaki mereka.

"Pertama, aku menempatkan kamera ini kembali," kata Greg, mengambil kamera itu darinya dan
memasukkannya kembali di raknya. Ia memutar gagang catok, dan pintu ke ruangan rahasia itu tertutup.

Greg menghela napas lega. Menyembunyikan kamera mengerikan itu jauh membuatnya merasa jauh
lebih baik.

"Sekarang, ayo kita pulang dan menelepon polisi," katanya.

***

Dua hari kemudian, di hari yang sejuk cerah dengan angin sepoi-sepoi gemerisik pohon-pohon, empat
sahabat itu berhenti di pinggir jalan, bersandar pada sepeda mereka, dan menatap rumah Coffman.
Bahkan dalam terang sinar matahari, pohon-pohon tua yang mengelilingi rumah itu menutupinya dalam
bayangan.

"Jadi kau tak memberitahu polisi tentang kamera itu?" tanya Bird, menatap jendela, depan yang kosong
dan gelap .

"Tidak. Mereka tak akan percaya," kata Greg padanya. "Selain itu, kamera itu harus tetap dikurung
selamanya! Selamanya!. Aku berharap tak ada yang pernah tahu tentang hal itu."

"Kami mengatakan kepada polisi kami berlari ke dalam rumah itu untuk menghindari hujan," tambah
Shari. "Dan kami mengatakan kami mulai menjelajahi sambil kami menunggu badai berhembus diatas.
Dan kami menemukan tubuh itu di ruang bawah tanah.."
"Apa Spidey mati?" tanya Michael, menatap rumah.
"Polisi bilang itu gagal jantung," kata Greg padanya. "Tapi kita tahu yang sebenarnya."
"Wow. Aku tak percaya satu kamera tua itu bisa melakukan begitu banyak kejahatan," kata Bird.
"Aku percaya," kata Greg tenang.
"Ayo keluar dari sini," desak Michael. Dia mengangkat sepatunya ke pedal dan mulai menggelinding.
"Tempat ini benar-benar mengerikan."
Tiga anak lainnya mengikuti, mengayuh pergi berpikir dalam.
Mereka telah berbelok dan menuju blok berikutnya ketika dua sosok muncul dari pintu belakang rumah
Coffman. Joey Ferris dan Mickey Ward melangkahi rumput liar yang memenuhi ke jalur mobil.
"Anak-anak bodoh itu tidak terlalu cerdik," kata Joey temannya. "Mereka bahkan tak pernah melihat
kami hari yang lain. Tak pernah melihat bahwa kami mengawasi mereka melalui jendela ruang bawah
tanah.."
Mickey tertawa. "Ya Mereka. Brengsek."
"Mereka tak bisa menyembunyikan kamera ini dari kami. Tak mungkin, man," kata Joey. Dia mengangkat
kamera dan memeriksanya.
"Ambil fotoku," tuntut Mickey. "Ayo, kita mencobanya.."
"Ya. Oke.. Joey mengangkat jendela bidik untuk matanya. "Katakanlah Cheese."
Satu klik. Satu kilatan. Suatu suara mendesing.
Joey menarik hasil foto itu dari kamera, dan kedua anak laki-laki itu dengan antusias berkerumun di
sekitarnya, menunggu untuk melihat (foto) apa yang dicetak.

Edit by : zheraf.net
http://www.zheraf.net


Click to View FlipBook Version