Setengah jalan menuruni blok, ia masih bisa mendengar teriakan marah Pak
Harder dari dalam toko kecil itu. Hannah mulai berlari, ingin segera pergi dari
suara marah itu. Lutut kirinya terasa sakit.
Udara tiba-tiba terasa panas mencekik, berat dan lembab. Helaian-helaian rambut
di dahinya jadi kusut karena keringat.
Dia membayangkan Danny berjalan dari toko, memegang es krim dengan satu
tangan. Dia membayangkan ekspresi ketakutan di wajahnya saat ia melarikan diri.
Dia membayangkan Alan dan Fred tepat di belakangnya, sepatu mereka
berdebam di trotoar saat mereka melarikan diri.
Dan sekarang dia juga berlari. Dia tak yakin mengapa.
Lutut kirinya masih sakit akibat jatuh. Dia sekarang keluar dari alun-alun kota,
melewati rumah-rumah dan halaman-halaman gelap.
Dia berbelok di pojokan, lampu jalanan membuat kerucut cahaya putih di
sekelilingnya. Rumah-rumah lagi. Satu lampu serambi menyala. Tak ada seorang
pun di jalanan.
Kota kecil yang benar-benar membosankan, pikirnya lagi.
Dia berhenti sebentar ketika ia melihat tiga anak laki-laki. Mereka setengah jalan
naik ke blok, berkerumun di balik dinding tinggi seperti pagar.
"Hei - kalian!" Suaranya keluar menjadi bisikan.
Berlari di jalanan, ia berjalan ke arah mereka dengan cepat. Saat ia datang
mendekat, ia bisa melihat mereka tertawa bersama-sama, menikmati es krim
mereka.
Mereka tak melihatnya. Hannah melangkah ke dalam bayangan gelap di sisi lain
dari jalan. Menjaga dalam kegelapan, dia bergerak pelan-pelan mendekat, sampai
ia berada di halaman di seberang jalan dari mereka, tersembunyi oleh semak-
semak pepohanan lebat.
Fred dan Alan dengan main-main saling mendorong satu sama lain, menikmati
kemenangan mereka atas pemilik toko, Danny berdiri sendirian, di belakang
mereka pada pagar tinggi itu, dengan diam menjilati es krimnya.
"Harder punya satu malam khusus," kata Alan keras. "Es krim gratis!"
Fred tertawa kasar dan menampar Alan keras di punggungnya.
Kedua anak laki-laki berpaling kepada Danny. Cahaya dari lampu jalan membuat
wajah mereka terlihat pucat dan hijau.
"Kau tampak benar-benar takut," kata Alan pada Danny. "Kupikir kau akan
memuntahkan isi perutmu keluar."
"Hei, tak mungkin," tegas Danny. "Aku adalah orang pertama yang keluar dari
sana, kau tahu. Kalian begitu lambat, kupikir aku harus kembali dan
menyelamatkan kalian."
"Ya. Pasti." Jawab Fred sinis.
Danny berlagak jantan, Hannah menyadari. Dia berusaha menjadi seperti mereka.
"Tadi itu agak menarik," kata Danny, melemparkan sisa es krim ke dalam pagar.
"Tapi mungkin kita sebaiknya berhati-hati. Kalian tahu. Jangan nongkrong di sana
untuk sementara waktu."
"Hei, ini tak seperti kita merampok bank atau yang lainnya," kata Alan. "Ini hanya
es krim."
Fred mengatakan sesuatu kepada Alan yang tak bisa Hannah dengar, dan dua
anak laki-laki itu mulai bergulat di sekitarnya, mengeluarkan tawa bernada tinggi.
"Hei, kawan-kawan - jangan terlalu keras," kata Danny. "Maksudku -"
"Ayo kita kembali ke Harder," kata Alan. "Aku ingin dua sendok (es krim)!"
Fred tertawa kasar dan tos dengan Alan. Danny ikut tertawa.
"Hei, kawan-kawan - kita harus pergi sekarang," kata Danny.
Sebelum teman-temannya bisa menjawab, jalanan dipenuhi dengan cahaya.
Hannah berbalik untuk melihat dua lampu putih terang menjulang ke arah
mereka.
Lampu-lampu besar mobil.
Polisi, pikir Hannah.
Mereka tertangkap. Mereka bertiga tertangkap.
12.
Mobil itu berhenti.
Hannah mengintip keluar dari balik semak-semak.
"Hei, kalian anak-anak -" pengemudi memanggil kepada anak-anak laki-laki
dengan suara kasar. Ia menjulurkan kepalanya keluar jendela mobil.
Bukan polisi, Hannah menyadari, menarik napas panjang lega.
Anak-anak itu membeku di pagar. Dalam cahaya remang-remang dari lampu
jalanan, Hannah bisa melihat bahwa pengemudi itu seorang pria tua, berambut
putih, memakai kacamata.
"Kami tak melakukan apa-apa. Hanya ngobrol," kata Fred pada pria itu.
"Apa kalian tahu bagaimana untuk sampai ke Route 112?" tanya pria itu. Lampu
dalam mobil itu menyala. Hannah bisa melihat peta jalan di tangan pria itu.
Fred dan Alan tertawa, tertawa lega. Danny terus menatap pengendara itu,
ekspresinya masih ketakutan.
"Rute 112?" ulang pria itu.
"Jalan besar ini jadi Route 112," kata Alan pada pria itu, menunjuk ke arah mobil
itu tertuju. "Dua blok ke atas. Lalu belok ke kanan."
Lampu dalam mobil itu padam. Pria itu mengucapkan terima kasih kepada mereka
dan melaju pergi.
Anak-anak menonton sampai mobil itu menghilang di kegelapan. Fred dan Alan
saling ber-tos. Lalu Fred mendorong Alan ke pagar. Mereka semua tertawa secara
sembrono.
"Hei, lihat di mana kita berada," kata Alan, terkejut.
Anak-anak berbalik menuju jalanan masuk. Dari tempat persembunyiannya di
seberang jalan, Hannah mengikuti tatapan mereka.
Di akhir pagar berdiri sebuah kotak surat kayu yang tinggi pada sebuah tiang. Satu
pahatan tangan kepala angsa bertengger di atas kotak, dengan sayap-sayap yang
anggun menonjol keluar dari sisi-sisinya.
"Ini rumah Chesney," kata Alan, berjalan di sepanjang pagar menuju kotak surat.
Dia meraih sayap dengan kedua tangan. "Apa kau percaya kotak surat ini?"
"Chesney memahatnya sendiri," kata Fred, tertawa-tawa. "Konyol sekali."
"Ini kebanggaan dan kesenangannya," ejek Alan. Ia membuka penutupnya dan
mengintip ke dalam. "Kosong."
"Siapa yang akan menulis surat kepadanya?" kata Danny, berusaha terdengar
sekuat kedua temannya.
"Hei, aku punya ide, Danny," kata Fred. Dia melangkah ke belakang Danny dan
mulai mendorongnya menuju kotak surat.
"Wah," protes Danny.
Tapi Fred mendorongnya sampai ke kotak surat. "Mari kita lihat seberapa kuat
dirimu," kata Fred.
"Hei, tunggu -" teriak Danny.
Hannah melongok dari balik semak-semak rendah. "Oh, wow," gumamnya pada
dirinya sendiri. "Sekarang apa yang akan mereka lakukan?"
"Ambil kotak surat itu," ia mendengar Alan memerintah Danny. "Aku
menantangmu."
"Kami menantangmu," tambah Fred. "Ingat apa yang kau katakan pada kami
tentang keberanian, Danny? Bagaimana kau tak pernah menolak menerima satu
pun (tantangan)?"
"Ya. Kau bilang kau tak pernah menolak satu pun tantangan." Kata Alan,
menyeringai.
Danny ragu-ragu. "Yah, aku -"
Perasaan sangat takut terbentuk di perut Hannah. Melihat Danny langkah menuju
kotak pos pahatan tangan Pak Chesney, dia tiba-tiba memiliki firasat - perasaan
bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.
Aku harus menghentikan mereka, ia memutuskan.
Mengambil napas dalam-dalam, Hannah melangkah keluar dari balik semak-
semak.
Saat ia mulai memanggil mereka, semuanya menjadi gelap.
"Hei -!" teriak Hannah keras.
Apa yang terjadi?
Pikiran pertamanya adalah lampu jalanan telah padam.
Tapi lalu Hannah melihat dua lingkaran merah menyala di depannya.
Kedua mata bersinar yang dikelilingi oleh kegelapan.
Sosok bayangan itu berdiri beberapa inci di depannya.
Hannah mencoba berteriak, tapi suaranya teredam dalam kegelapan yang hebat
itu.
Hannah berusaha lari, tapi bayangan itu menghalangi jalannya.
Mata merah itu (menatap) tajam padanya.
Lebih dekat. Lebih dekat.
Ia sekarang menangkapku, Hannah tahu.
13.
"Hannah..." sosok itu berbisik. "Hannah..."
Begitu dekat, Hannah bisa mencium napas asam panas itu.
"Hannah... Hannah..."
Bisikan itu seperti derakan daun-daun kering.
Mata merah delima itu terbakar seperti api. Hannah merasa kegelapan itu
mengelilinginya, membungkusnya erat-erat.
"Tolong -" itu saja yang dia bisa keluarkan.
"Hannah..."
Dan cahaya itu kembali.
Hannah berkedip, berupaya untuk bernapas.
Bau asam itu melekat dalam hidungnya. Tapi jalanan itu terang sekarang.
Lampu-lampu mobil bergerak di atas dirinya.
Sosik itu - itu pergi, Hannah menyadari. Lampu-lampu itu telah mengusir sosok
bayangan itu.
Tapi akankah ia kembali?
Ketika mobil itu lewat, Hannah terjatuh ke tanah di balik semak-semak rendah
berdaun lebat dan berusaha untuk menarik napas. Saat dia mendongak, anak-
anak itu masih berkerumun di depan pagar Pak Chesney itu.
"Ayo kita pergi," desak Danny pada mereka.
"Tidak. Belum." Kata Alan, melangkah di depan Danny untuk menghalangi jalan.
"Kau lupa tantangan kami."
Fred mendorong Danny ke kotak surat itu. "Majulah. Ambil saja.."
"Hei, tunggu." Danny berputar. "Aku tak pernah bilang akan melakukannya."
"Aku menantangmu untuk mengambil kotak Chesney itu," kata Fred padanya.
"Ingat? Kau bilang kau tak pernah menolak suatu tantangan?"
Alan tertawa. "Chesney akan keluar besok dan berpikir angsanya itu terbang
menjauh."
"Tidak, tunggu -" protes Danny. "Mungkin ini ide yang bodoh."
"Ini adalah ide yang keren. Chesney adalah bajingan," tegas Alan. "Semua orang di
Greenwood Falls membenci isi perutnya."
"Ambil kotak itu, Danny," tantang Fred. "Tariklah. Ayo. Aku menantangmu."
"Tidak, aku -" Danny mencoba mundur, tapi Fred menahan bahunya dari
belakang.
"Kau pengecut (ayam)?" tantang Alan.
"Lihatlah ayam," kata Fred dengan suara mengejek kekanak-kanakan. "Petok.
Petok."
"Aku bukan pengecut," bentak Danny marah.
"Buktikan," tuntut Alan. Dia meraih tangan Danny dan mengangkatnya ke
pahatan sayap yang membentang dari sisi kotak surat. "Ayo. Buktikan."
"Lucu sekali!" kata Fred. "Kepala kantor pos kota - kotak suratnya terbang
menjauh."
Jangan lakukan itu, Danny, pinta Hannah diam-diam dari tempat
persembunyiannya yang gelap di seberang jalan. Tolong - jangan lakukan itu.
Seperangkat lampu mobil membuat tiga anak laki-laki itu kembali menjauh dari
kotak surat itu. Mobil itu meluncur lewat tanpa melambat.
"Ayo kita pergi. Sudah malam," Hannah mendengar Danny berkata.
Tapi Fred dan Alan bersikeras, menggodanya, menantangnya.
Saat Hannah menatap cahaya putih lampu jalan, Danny melangkah ke kotak surat
Chesney dan menyambar sayap itu.
"Danny, tunggu -" teriak Hannah.
Dia tampaknya tak mendengarnya.
Dengan mengerang keras, dia mulai menarik.
Kotak itu tak bergeming.
Dia menurunkan tangannya ke tiang dan memcekalnya rapat-rapat persis di
bawah kotak.
Dia menarik lagi,
"Ini benar-benar dalam," katanya kepada Alan dan Fred. "Aku tak tahu apakah aku
bisa mencabutnya."
"Coba lagi," desak Alan.
"Kami akan membantumu," kata Fred, menempatkan tangannya di atas tangan
Danny pada kotak.
"Ayo kita semua bekerja sama," desak Alan. "Pada hitungan ketiga."
"Aku tak akan melakukannya jika aku jadi kalian!" seru suatu suara serak di
belakang mereka.
Mereka semua berbalik dan melihat Pak Chesney memelototi mereka dari jalan
masuk, menggeram wajahnya sangat marah.
14.
Pak Chesney meraih bahu Danny dan menariknya menjauh dari kotak surat itu.
Salah satu sayap angsa kayu itu patah di tangan Danny. Saat Pak Chesney bergelut
menjauhkannya, Danny membiarkannya jatuh ke tanah.
"Kau bajingan!" Pak Chesney tergagap, matanya terbelalak marah. "Kau - Kau-"
"Lepaskan dia!" teriak Hannah dari seberang jalan. Tapi rasa takut meredam
suaranya. Teriakannya keluar menjadi bisikan.
Dengan mengerang keras, Danny menarik bebas (dirinya) dari pegangan orang itu.
Tanpa sepatah kata pun, ketiga anak laki-laki itu berlari, berlari di tengah jalanan
yang gelap, sepatu mereka berdebam keras di trotoar.
"Aku akan mengingat kalian!" teriak Pak Chesney setelah mereka. "Aku akan
mengingat kalian. Aku akan bertemu kalian lagi!. Dan saat berikutnya, aku akan
memegang senapanku!"
Hannah memperhatikan Pak Chesney membungkuk untuk mengambil sayap
angsa yang rusak itu. Dia memeriksa sayap kayu itu, menggelengkan kepalanya
dengan marah.
Lalu Hannah mulai berlari, menjaga di halaman depan yang gelap, tersembunyi
oleh pagar tanaman dan semak-semak rendah, berlari ke arah yang dituju Danny
dan teman-temannya.
Dia melihat anak-anak laki-laki itu berbelok di tikungan, dan terus berlari.
Menjaga jauh di belakang, dia mengikuti mereka melewati alun-alun kota yang
masih sepi dan gelap. Bahkan Harder's es krim sekarang tutup, toko gelap itu di
belakang cahaya merah dari neon jendela papan tanda.
Dua anjing tinggi, anjing kampung kaku dengan badan berbulu tipis, menyeberang
jalan di depan mereka, berlari perlahan-lahan, keluar untuk berjalan-jalan sore.
Anjing-anjing itu tak melihat saat anak-anak laki-laki yang berlari melewatinya.
Di pertengahan blok berikutnya, ia melihat Fred dan Alan roboh di bawah pohon
yang gelap, cekikikan ke langit saat mereka berbaring di tanah.
Danny bersandar pada batang pohon yang lebar itu, terengah-engah keras.
Fred dan Alan tak bisa berhenti tertawa.
"Apa kalian lihat ekspresi wajahnya saat sayap yang konyol itu jatuh?" teriak Fred.
"Kupikir matanya akan terlontar keluar!" seru Alan gembira. "Kupikir kepalanya
akan meledak!"
Danny tak ikut tertawa dengan mereka. Dia mengusap bahu kanannya dengan
satu tangan. "Dia benar-benar menghancurkan bahuku saat ia memegangku,"
katanya, mengerang.
"Kau harus menuntutnya!" saran Alan.
Dia dan Fred tertawa terbahak-bahak, duduk untuk setiap kali tos.
"Tidak. Sungguh," kata Danny pelan, masih mengusap-usap bahu. ". Dia benar-
benar menyakitiku. Ketika ia memutarku, kupikir -"
"Aneh sekali," kata Fred, sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita harus membuatnya membayar kembali," tambah Alan. "Yah harus -"
"Mungkin kita harus tinggal menjauh dari sana," kata Danny, masih terengah-
engah. "Kau dengar apa -yang dia katakan tentang mengambil senapannya."
Dua anak laki-laki lainnya tertawa menghina.
"Ya. Pasti. Dia pasti benar-benar mengejar kita dengan senapan," ejek Alan,
menyikat helaian-helaian rumput yang baru dipotong dari rambutnya yang
berantakan itu.
"Kepala kantor pos kota terhormat, menembaki anak-anak tak berdosa," kata
Fred, tertawa-tawa. "Tak mungkin. Dia hanya berusaha menakut-nakuti kita -
Benar kan, Danny?"
Danny berhenti menggosok bahu dan mengerutkan kening ke bawah pada Alan
dan Fred, yang masih duduk di rumput. "Aku tak tahu."
"Oooh, Danny takut!" teriak Fred.
"Kau tak takut pada bajingan tua itu kan?" tuntut Alan. "Hanya karena ia meraih
bahumu tak berarti -"
"Aku tak tahu," sela Danny marah. "Pria tua itu tampaknya agak di luar kendali
bagiku. Dia sangat marah! Maksudku, mungkin ia akan menembak kita untuk
melindungi kotak pos berharganya itu."
"Taruhan kita bisa membuatnya lebih marah lagi," kata Alan tenang, berdiri,
menatap tajam pada Danny.
"Ya. Taruhan kita bisa." Fred setuju sambil menyeringai.
"Kecuali kau takut, Danny," kata Alan, bergerak mendekati Danny, suaranya
menantang.
"Aku - ini sudah larut malam," kata Danny, mencoba membaca arlojinya dalam
gelap. "Aku janji pada ibuku aku akan pulang."
Fred berdiri dan pindah di samping Alan. "Kita harus memberi Chesney pelajaran,"
katanya, menyikat helaian-helaian rumput dari bagian belakang celana jinsnya.
Matanya berbinar nakal dalam cahaya yang redup. "Kita harus mengajarkan
kepadanya untuk tak menyerang pada anak-anak yang tak bersalah."
"Ya, kau benar," setuju Alan, matanya (tertuju) pada Danny. "Maksudku, dia
menyakiti Danny. Dia tak punya hak menyambarnya seperti itu.."
"Aku harus pulang. Sampai jumpa lagi besok," kata Danny, melambaikan tangan.
"Oke. Sampai jumpa." kata Fred kemudian.
"Setidaknya kita dapat beberapa es krim gratis malam ini!" Seru Alan.
Saat Danny cepat-cepat berjalan pergi, Hannah bisa mendengar Fred dan Alan
cekikikan riang, tawa bernada tinggi.
Es krim gratis, pikirnya, mengerutkan kening. Dua orang ini benar-benar mencari
masalah.
Hannah tak bisa menahan diri. Dia harus mengatakan sesuatu kepada Danny.
"Hei!" panggil Hannah, berlari mengejar ke arah Danny.
Dia berbalik, kaget. "Hannah - apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku - Aku mengikutimu. Dari toko es krim," aku Hannah.
Danny tertawa terkekeh-kekeh. "Kau melihat semuanya?"
Hannah mengangguk. "Mengapa kau bergaul dengan kedua orang itu?"
tuntutnya.
Danny merengut, menghindari mata Hannah, melangkah. "Mereka baik-baik
saja," gumamnya.
"Mereka akan mendapatkan kesulitan besar dalam satu hari ini," tebak Hannah.
"Mereka benar-benar akan dapat kesulitan."
Danny mengangkat bahu. "Mereka hanya bicara keras. Mereka pikir itu keren.
Tapi mereka benar-benar baik."
"Tapi mereka mencuri es krim dan -" Hannah memutuskan dia telah cukup
berkata.
Mereka menyeberangi jalan dalam keheningan.
Hannah mendongak untuk melihat bulan sabit pucat bulan menghilang di balik
gumpalan awan hitam. Jalanan makin gelap. Pohon-pohon mengguncang daun
mereka, mengirim berbisik seluruh.
Danny menendang batu di trotoar. Ini berdentang lembut ke rumput.
Hannah tiba-tiba teringat akan ke rumah Danny sebelumnya untuk mendapatkan
dia. Dalam semua kegembiraan dari pencurian es krim dan Pak Chesney dan kotak
suratnya, ia telah benar-benar lupa apa yang telah terjadi di beranda belakang
rumah Danny.
"Aku - aku pergi ke rumahmu malam ini," dia memulai dengan enggan. "Sebelum
aku pergi ke kota."
Danny berhenti dan berpaling padanya, matanya mempelajari Hannah. "Ya?"
"Kupikir mungkin kau ingin jalan-jalan ke kota atau apa," lanjut Hannah. "Ibumu
ada di rumah. Di dapur."
Danny terus menatap tajam pada Hannah, seolah-olah mencoba membaca
pikirannya.
"Aku mengetuk dan mengetuk pintu dapur," kata Hannah, menarik sehelai
rambut pirang dari dahinya. "Aku bisa melihat ibumu di meja. Dia
memunggungiku. Dia tak berbalik atau apa."
Danny tak menjawab. Dia merendahkan matanya ke trotoar dan mulai berjalan
lagi, tangan mendorong dalam saku.
"Itu sangat aneh," lanjut Hannah. "Aku mengetuk dan mengetuk. Benar-benar
keras. Tapi itu sepertinya - sepertinya ibumu berada di dunia lain atau apa. Dia tak
membuka pintu. Dia bahkan tak berbalik."
Rumah-rumah mereka mulai terlihat di depan mereka. Satu lampu beranda
mengirim cahaya kuning di halaman depan Hannah. Di sisi lain dari jalan, rumah
Danny tampak dalam kegelapan.
Tenggorakan Hannah tiba-tiba terasa kering. Dia berharap dia bisa bertanya pada
Danny apa yang benar-benar ingin ia tanyakan.
Apakah kau hantu? Apakah ibumu juga hantu?
Itulah pertanyaan yang sesungguhnya dalam pikiran Hannah.
Tapi itu terlalu gila. Terlalu bodoh.
Bagaimana kau bisa bertanya pada seseorang apakah ia nyata atau tidak? Apakah
ia masih hidup atau tidak?
"Danny - mengapa ibumu tak membukakan pintu?" tanya Hannah lirih.
Danny berbelok di ujung jalan, mengatur ekspresi wajahnya, matanya menyipit.
Wajahnya bersinar menakutkan dalam cahaya kuning pucat dari teras.
"Kenapa?" ulang Hannah tak sabar. "Kenapa dia tak membukakan pintu?"
Danny ragu-ragu.
"Kurasa aku harus memberitahumu yang sebenarnya," akhirnya dia berkata,
suaranya berbisik, selembut bisikan getaran pepohonan.
14.
Pak Chesney meraih bahu Danny dan menariknya menjauh dari kotak surat itu.
Salah satu sayap angsa kayu itu patah di tangan Danny. Saat Pak Chesney bergelut
menjauhkannya, Danny membiarkannya jatuh ke tanah.
"Kau bajingan!" Pak Chesney tergagap, matanya terbelalak marah. "Kau - Kau-"
"Lepaskan dia!" teriak Hannah dari seberang jalan. Tapi rasa takut meredam
suaranya. Teriakannya keluar menjadi bisikan.
Dengan mengerang keras, Danny menarik bebas (dirinya) dari pegangan orang itu.
Tanpa sepatah kata pun, ketiga anak laki-laki itu berlari, berlari di tengah jalanan
yang gelap, sepatu mereka berdebam keras di trotoar.
"Aku akan mengingat kalian!" teriak Pak Chesney setelah mereka. "Aku akan
mengingat kalian. Aku akan bertemu kalian lagi!. Dan saat berikutnya, aku akan
memegang senapanku!"
Hannah memperhatikan Pak Chesney membungkuk untuk mengambil sayap
angsa yang rusak itu. Dia memeriksa sayap kayu itu, menggelengkan kepalanya
dengan marah.
Lalu Hannah mulai berlari, menjaga di halaman depan yang gelap, tersembunyi
oleh pagar tanaman dan semak-semak rendah, berlari ke arah yang dituju Danny
dan teman-temannya.
Dia melihat anak-anak laki-laki itu berbelok di tikungan, dan terus berlari.
Menjaga jauh di belakang, dia mengikuti mereka melewati alun-alun kota yang
masih sepi dan gelap. Bahkan Harder's es krim sekarang tutup, toko gelap itu di
belakang cahaya merah dari neon jendela papan tanda.
Dua anjing tinggi, anjing kampung kaku dengan badan berbulu tipis, menyeberang
jalan di depan mereka, berlari perlahan-lahan, keluar untuk berjalan-jalan sore.
Anjing-anjing itu tak melihat saat anak-anak laki-laki yang berlari melewatinya.
Di pertengahan blok berikutnya, ia melihat Fred dan Alan roboh di bawah pohon
yang gelap, cekikikan ke langit saat mereka berbaring di tanah.
Danny bersandar pada batang pohon yang lebar itu, terengah-engah keras.
Fred dan Alan tak bisa berhenti tertawa.
"Apa kalian lihat ekspresi wajahnya saat sayap yang konyol itu jatuh?" teriak Fred.
"Kupikir matanya akan terlontar keluar!" seru Alan gembira. "Kupikir kepalanya
akan meledak!"
Danny tak ikut tertawa dengan mereka. Dia mengusap bahu kanannya dengan
satu tangan. "Dia benar-benar menghancurkan bahuku saat ia memegangku,"
katanya, mengerang.
"Kau harus menuntutnya!" saran Alan.
Dia dan Fred tertawa terbahak-bahak, duduk untuk setiap kali tos.
"Tidak. Sungguh," kata Danny pelan, masih mengusap-usap bahu. ". Dia benar-
benar menyakitiku. Ketika ia memutarku, kupikir -"
"Aneh sekali," kata Fred, sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita harus membuatnya membayar kembali," tambah Alan. "Yah harus -"
"Mungkin kita harus tinggal menjauh dari sana," kata Danny, masih terengah-
engah. "Kau dengar apa -yang dia katakan tentang mengambil senapannya."
Dua anak laki-laki lainnya tertawa menghina.
"Ya. Pasti. Dia pasti benar-benar mengejar kita dengan senapan," ejek Alan,
menyikat helaian-helaian rumput yang baru dipotong dari rambutnya yang
berantakan itu.
"Kepala kantor pos kota terhormat, menembaki anak-anak tak berdosa," kata
Fred, tertawa-tawa. "Tak mungkin. Dia hanya berusaha menakut-nakuti kita -
Benar kan, Danny?"
Danny berhenti menggosok bahu dan mengerutkan kening ke bawah pada Alan
dan Fred, yang masih duduk di rumput. "Aku tak tahu."
"Oooh, Danny takut!" teriak Fred.
"Kau tak takut pada bajingan tua itu kan?" tuntut Alan. "Hanya karena ia meraih
bahumu tak berarti -"
"Aku tak tahu," sela Danny marah. "Pria tua itu tampaknya agak di luar kendali
bagiku. Dia sangat marah! Maksudku, mungkin ia akan menembak kita untuk
melindungi kotak pos berharganya itu."
"Taruhan kita bisa membuatnya lebih marah lagi," kata Alan tenang, berdiri,
menatap tajam pada Danny.
"Ya. Taruhan kita bisa." Fred setuju sambil menyeringai.
"Kecuali kau takut, Danny," kata Alan, bergerak mendekati Danny, suaranya
menantang.
"Aku - ini sudah larut malam," kata Danny, mencoba membaca arlojinya dalam
gelap. "Aku janji pada ibuku aku akan pulang."
Fred berdiri dan pindah di samping Alan. "Kita harus memberi Chesney pelajaran,"
katanya, menyikat helaian-helaian rumput dari bagian belakang celana jinsnya.
Matanya berbinar nakal dalam cahaya yang redup. "Kita harus mengajarkan
kepadanya untuk tak menyerang pada anak-anak yang tak bersalah."
"Ya, kau benar," setuju Alan, matanya (tertuju) pada Danny. "Maksudku, dia
menyakiti Danny. Dia tak punya hak menyambarnya seperti itu.."
"Aku harus pulang. Sampai jumpa lagi besok," kata Danny, melambaikan tangan.
"Oke. Sampai jumpa." kata Fred kemudian.
"Setidaknya kita dapat beberapa es krim gratis malam ini!" Seru Alan.
Saat Danny cepat-cepat berjalan pergi, Hannah bisa mendengar Fred dan Alan
cekikikan riang, tawa bernada tinggi.
Es krim gratis, pikirnya, mengerutkan kening. Dua orang ini benar-benar mencari
masalah.
Hannah tak bisa menahan diri. Dia harus mengatakan sesuatu kepada Danny.
"Hei!" panggil Hannah, berlari mengejar ke arah Danny.
Dia berbalik, kaget. "Hannah - apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku - Aku mengikutimu. Dari toko es krim," aku Hannah.
Danny tertawa terkekeh-kekeh. "Kau melihat semuanya?"
Hannah mengangguk. "Mengapa kau bergaul dengan kedua orang itu?"
tuntutnya.
Danny merengut, menghindari mata Hannah, melangkah. "Mereka baik-baik
saja," gumamnya.
"Mereka akan mendapatkan kesulitan besar dalam satu hari ini," tebak Hannah.
"Mereka benar-benar akan dapat kesulitan."
Danny mengangkat bahu. "Mereka hanya bicara keras. Mereka pikir itu keren.
Tapi mereka benar-benar baik."
"Tapi mereka mencuri es krim dan -" Hannah memutuskan dia telah cukup
berkata.
Mereka menyeberangi jalan dalam keheningan.
Hannah mendongak untuk melihat bulan sabit pucat bulan menghilang di balik
gumpalan awan hitam. Jalanan makin gelap. Pohon-pohon mengguncang daun
mereka, mengirim berbisik seluruh.
Danny menendang batu di trotoar. Ini berdentang lembut ke rumput.
Hannah tiba-tiba teringat akan ke rumah Danny sebelumnya untuk mendapatkan
dia. Dalam semua kegembiraan dari pencurian es krim dan Pak Chesney dan kotak
suratnya, ia telah benar-benar lupa apa yang telah terjadi di beranda belakang
rumah Danny.
"Aku - aku pergi ke rumahmu malam ini," dia memulai dengan enggan. "Sebelum
aku pergi ke kota."
Danny berhenti dan berpaling padanya, matanya mempelajari Hannah. "Ya?"
"Kupikir mungkin kau ingin jalan-jalan ke kota atau apa," lanjut Hannah. "Ibumu
ada di rumah. Di dapur."
Danny terus menatap tajam pada Hannah, seolah-olah mencoba membaca
pikirannya.
"Aku mengetuk dan mengetuk pintu dapur," kata Hannah, menarik sehelai
rambut pirang dari dahinya. "Aku bisa melihat ibumu di meja. Dia
memunggungiku. Dia tak berbalik atau apa."
Danny tak menjawab. Dia merendahkan matanya ke trotoar dan mulai berjalan
lagi, tangan mendorong dalam saku.
"Itu sangat aneh," lanjut Hannah. "Aku mengetuk dan mengetuk. Benar-benar
keras. Tapi itu sepertinya - sepertinya ibumu berada di dunia lain atau apa. Dia tak
membuka pintu. Dia bahkan tak berbalik."
Rumah-rumah mereka mulai terlihat di depan mereka. Satu lampu beranda
mengirim cahaya kuning di halaman depan Hannah. Di sisi lain dari jalan, rumah
Danny tampak dalam kegelapan.
Tenggorakan Hannah tiba-tiba terasa kering. Dia berharap dia bisa bertanya pada
Danny apa yang benar-benar ingin ia tanyakan.
Apakah kau hantu? Apakah ibumu juga hantu?
Itulah pertanyaan yang sesungguhnya dalam pikiran Hannah.
Tapi itu terlalu gila. Terlalu bodoh.
Bagaimana kau bisa bertanya pada seseorang apakah ia nyata atau tidak? Apakah
ia masih hidup atau tidak?
"Danny - mengapa ibumu tak membukakan pintu?" tanya Hannah lirih.
Danny berbelok di ujung jalan, mengatur ekspresi wajahnya, matanya menyipit.
Wajahnya bersinar menakutkan dalam cahaya kuning pucat dari teras.
"Kenapa?" ulang Hannah tak sabar. "Kenapa dia tak membukakan pintu?"
Danny ragu-ragu.
"Kurasa aku harus memberitahumu yang sebenarnya," akhirnya dia berkata,
suaranya berbisik, selembut bisikan getaran pepohonan.
16.
Dicekam ketakutan, Hannah pikir dia melihat bayangan menyeringai jahat itu di
dalam bayangan yang lebih dalam melayang di atas beranda. "Hannah,
menjauhlah. Jauhi DANNY!."
"Jaaaangaaaan!"
Dalam kepanikannya, Hannah bahkan tak menyadari bahwa lolongan itu datang
dari tenggorokannya sendiri.
Mata merah itu bersinar lebih terang bereaksi pada teriakannya. Tatapan berapi-
api itu tertuju ke matanya, memaksanya untuk melindungi wajah dengan kedua
tangannya.
"Hannah - dengarkan peringatanku." Bisikan kering yang mengerikan.
Bisikan kematian.
Jari hitam berotot, terurai dalam lampu putih beranda, menunjuk kepadanya,
mengancamnya lagi.
Dan sekali lagi Hannah berteriak dengan suara serak dengan ketakutan:
"Jaaangaaaan!"
Sosok gelap itu menerjang lebih dekat.
Lebih dekat.
Dan lalu pintu dapur terbuka, menyorotkan persegi panjang cahaya di atas
halaman.
"Hannah - apa itu kau? Ada apa?"
Ayahnya melangkah ke cahaya, wajahnya berkerut prihatin, matanya mengintip
ke dalam kegelapan melalui kacamata perseginya.
"Ayah -!" Suara Hannah tersangkut di tenggorokannya. "Lihat, Ayah - dia - dia -"
Hannah menunjuk.
Menunjuk ke udara kosong.
Menunjuk ke persegi panjang cahaya kosong dari pintu dapur.
Menunjuk ke tidak ada apa-apa.
Sosok bayangan itu sekali lagi menghilang.
Pikirannya berputar-putar kacau, merasa bingung dan takut, ia bergegas
melewati ayahnya, ke dalam rumah.
Dia telah memberitahu orangtuanya tentang sosok gelap menakutkan dengan
mata merah yang menyala. Ayahnya dengan hati-hati mencari di halaman
belakang, lampu senternya bermain-main di halaman. Dia tak menemukan jejak
kaki di tanah lunak basah itu, tak ada tanda-tanda ada penyusup.
Ibu Hannah telah menatap penuh perhatian padanya, mempelajarinya, seakan
mencoba untuk menemukan semacam jawaban di mata Hannah.
"Aku - aku tidak gila," Hannah tergagap marah.
Pipi Bu Fairchild berubah merah muda. "Aku tahu itu," jawabnya tegang.
"Haruskah aku menelepon polisi? Tak ada apa pun di belakang sana," kata Pak
Fairchild, menggaruk rambut tipis cokelatnya, kacamatanya mencerminkan
cahaya dari langit-langit dapur.
"Aku akan pergi tidur," kata Hannah mereka, tiba-tiba bergerak ke pintu. "Aku
benar-benar lelah."
Kakinya terasa gemetar dan lemah saat ia bergegas menyusuri koridor ke
kamarnya.
Sambil mendesah letih, ia membuka pintu kamarnya.
Sosok bayangan gelap itu telah menunggunya di dekat tempat tidurnya.
17.
Hannah tersentak dan mulai mundur.
Tapi saat lampu di koridor jatuh ke kamar tidur, dia menyadari dia sama sekali tak
menatap sosok menakutkan itu.
Dia menatap lengan baju sweter gelap yang panjang yang dilemparkannya ke
tiang ranjang di kaki tempat tidurnya.
Hannah mencengkeram sisi pintu. Dia tak bisa memutuskan apakah harus tertawa
atau menangis.
"Malam apa ini!" serunya keras-keras.
Dia menyalakan lampu langit-langit kamar, lalu menutup pintu di belakangnya.
Saat dia melangkah ke tempat tidur untuk menarik sweter dari tiang ranjang, ia
gemetaran.
Dia melepas pakaiannya dengan cepat, melemparkannya ke lantai, dan
mengenakan baju tidur. Lalu ia naik di bawah selimut, segera ingin tidur.
Tapi dia tak bisa menghentikan pikirannya berputar-putar atas semua yang telah
terjadi. Dia tak bisa menghentikan gambaran menakutkan yang bermain-main di
kepalanya, lebih dan lebih.
Bayangan cabang-cabang pohon dari halaman depan bergerak dan muncul di
langit-langit. Biasanya, ia mendapati tarian-tarian diam itu menenangkan. Tapi
malam ini bayangan-bayangan bergerak itu membuatnya takut, mengingatkannya
pada sosok gelap mengancam yang memanggil namanya.
Dia mencoba berpikir tentang Danny sebagai gantinya. Tapi pikiran-pikiran itu
benar-benar seperti gangguan.
Danny hantu. Danny hantu.
Kalimat terulang-ulang lagi dan lagi dalam pikirannya.
Dia harus berbohong tentang ibunya, Hannah memutuskan. Ia mengarang cerita
tentang ibunya yang jadi tuli karena dia tak ingin aku mengetahui bahwa dia juga
hantu.
Pertanyaan, pertanyaan.
Pertanyaan yang tak bisa ia jawab.
Jika Danny hantu, apa yang dia lakukan di sini?
Mengapa ia pindah (jadi) tetanggaku?
Mengapa ia bergaul dengan Alan dan Fred?
Apakah mereka juga hantu?
Apakah itu sebabnya aku tak pernah melihat mereka di sekolah atau di kota
sebelumnya?
Apakah itu sebabnya aku tak pernah melihat salah satu pun dari mereka?
Mereka semua hantu?
Hannah menutup matanya, mencoba untuk melenyapkan semua pertanyaan-
pertanyaan itu dari benaknya. Tapi ia tak bisa berhenti berpikir tentang Danny -
dan sosok bayangan gelap itu.
Mengapa sosok gelap memberitahuku untuk menjauh dari Danny?
Apakah berusaha untuk menahanku dari membuktikan bahwa Danny adalah
hantu?
Akhirnya, Hannah tertidur. Tetapi bahkan dalam tidur, pikiran-pikiran
mengganggunya itu mengejarnya.
Bayangan hitam berotot itu mengikutinya ke dalam mimpinya. Dalam mimpi itu,
ia berdiri di sebuah gua abu-abu. Api menyala terang, jauh jaraknya dari mulut
gua.
Sosok hitam itu, mata merahnya bersinar lebih terang dari api, bergerak ke arah
Hannah. Lebih dekat. Dan lebih dekat.
Dan saat sosok hitam datang begitu dekat, cukup dekat untuk Hannah untuk
menjangkau dan menyentuhnya, sosok bayangan dengan tangan-tangan seperti
tongkat terulur ke atas dan menarik dirinya (sendiri) terpisah-pisah.
Bayangan itu terulur dengan tangan-tangan hitam dan dengan jari-jari seperti
tulang, kegelapan itu menarik diri di mana wajahnya seharusnya - menampakkan
Danny di bagian dalamnya.
Danny, melirik padanya dengan mata merah menyala tertuju padanya - sampai ia
terbangun terengah-engah.
Tidak, pikirnya, menatap ke luar jendela pada fajar kelabu. Tidak. Danny bukanlah
bayangan hitam itu.
Tak mungkin.
Itu bukan Danny.
Itu tak mungkin Danny. Mimpi itu tak masuk akal.
Hannah duduk. Seprainya basah karena keringat. Udara di dalam ruangan
tergantung berat dan asam.
Dia menyentakkan selimut dan menurunkan kakinya ke lantai.
Dia hanya tahu satu hal yang pasti setelah malam yang panjang dari pikiran-
pikiran yang menakutkan.
Dia harus bicara dengan Danny.
Dia tak bisa menghabiskan malam lainnya seperti ini.
Dia harus menemukan kebenaran.
***
Keesokan paginya, setelah sarapan, Hannah melihat Danny menendang bola di
sekitar halaman belakang rumahnya. Dia membuka pintu dapur dan berlari
keluar. Layar pintu terbanting keras di belakangnya saat Hannah mulai berlari
kepada Danny.
"Hei, Danny -" panggilnya. "Apakah kau hantu?"
18.
"Hah?" Danny meliriknya, lalu menendang bola hitam-putih ke sisi garasi. Dia
memakai kaus biru laut dan celana pendek denim. Dia memakai topi biru dan
merah Cubs ditarik menutupi rambut merahnya.
Hannah berlari dengan kecepatan penuh di jalanan masuk dan berhenti beberapa
meter darinya.
"Apakah kau hantu?" ulangnya terengah-engah.
Danny mengerutkan dahinya, menyipitkan mata pada Hannah. Bola melambung
melewati rumput. Dia melangkah maju dan menendangnya. "Ya. Tentu," katanya.
"Tidak. Sungguh," desak Hannah, jantungnya berdebar kencang.
Bola itu melambung tinggi dari garasi, dan Danny menangkapnya dengan
dadanya. "Apa katamu?" Dia menggaruk bagian belakang lutut.
Dia menatapku seolah-olah aku sinting, Hannah menyadari.
Mungkin aku memang sinting.
"Sudahlah," kata Hannah, menelan ludah. "Bisakah aku bermain?"
"Ya." Danny menjatuhkan bola ke rumput.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Danny. "Kau baik-baik saja hari ini?"
Hannah mengangguk. "Ya. Kurasa."
"Malam itu cukup liar," kata Danny, menendang bola dengan pelan padanya.
"Maksudku, di rumah Pak Chesney."
Bola diterima Hannah. Dia mengejarnya dan menendangnya kembali. Biasanya, ia
seorang atlet yang baik. Tapi pagi ini ia memakai sandal, bukan yang terbaik untuk
menendang bola sepak.
"Aku benar-benar takut," aku Hannah. "Kupikir mobil yang berhenti itu polisi dan
–“
"Ya. Itu agak menakutkan," kata Danny. Dia mengangkat bola dan
menyundulkannya kembali pada Hannah dengan kepalanya.
"Apa Alan dan Fred benar-benar pergi ke Sekolah Maple Avenue,?" tanya Hannah.
Bola membentur itu pergelangan kakinya dan bergulir ke arah jalan masuk.
"Ya. Mereka akan berada di kelas sembilan," kata Danny padanya, menunggunya
untuk menendang bola kembali.
"Mereka bukan anak-anak baru? Bagaimana bisa aku tak pernah melihat
mereka?" Dia menyepak bola itu dengan keras.
Danny berpindah ke kanan untuk menerima di belakangnya. Dia tertawa.
"Bagaimana mereka belum pernah melihatmu."
Dia tak memberikanku jawaban dengan sungguh-sungguh, Hannah menyadari.
Kupikir pertanyaanku membuatnya gelisah. Dia tahu aku mulai curiga kebenaran
tentang dirinya.
"Alan dan Fred ingin kembali ke rumah Chesney itu," kata Danny padanya.
"Hah? Mereka apa?"
Dia tak mengenai bola dan menendang gumpalan rumput, "Aduh aku tak bisa
bermain sepak bola dengan sandal!."
"Mereka ingin kembali malam ini. Kau tahu. Untuk membalas kembali Chesney
karena menakut-nakuti kami. Dia benar-benar melukai bahuku."
"Kupikir Alan dan Fred benar-benar mencari masalah," kata Hannah.
Danny mengangkat bahu. "Tak ada lagi yang bisa dilakukan di kota ini,"
gumamnya.
Bola itu bergulir di antara mereka.
"Aku dapat!" mereka berdua berteriak bersamaan.
Mereka berdua mengejar bola itu. Danny tiba terlebih dahulu. Dia mencoba untuk
menendang bola itu menjauh dari Hannah. Tapi kakinya mendarat di atas bola.
Dia tersandung dan jatuh tergeletak di rerumputan.
Hannah tertawa dan melompat di atasnya untuk mengambil bola. Dia menendang
ke sisi garasi, lalu berpaling kembali padanya, tersenyum penuh kemenangan.
"Satu untukku!" ia menyatakan.
Danny duduk perlahan, noda rumput mencoreng dada kausnya. "Bantu aku
berdiri."
Dia mengulurkan tangannya pada Hannah.
Hannah meraihnya untuk menarik Danny - dan tangannya menembusnya!
19.
Mereka berdua berteriak terkejut.
"Hei, ayolah! Bantu aku," kata Danny.
Jantungnya berdebar kencang, Hannah berusaha untuk meraih tangannya lagi.
Tapi sekali lagi tangannya menembus Danny.
"Hei -!" teriak Danny, matanya melebar ketakutan . Dia melompat berdiri,
menatap tajam Hannah.
"Aku tahu itu," kata Hannah pelan, mengangkat tangannya ke pipinya. Dia
mundur selangkah, menjauh dari Danny.
"Tahu? Tahu apa ?" Danny terus menatap Hannah, wajahnya penuh dengan
kebingungan. "Apa yang terjadi, Hannah?"
"Berhentilah berpura-pura," kata Hannah, tiba-tiba merasa seluruh (tubuhnya)
kedinginan meskipun sinar matahari pagi itu cerah. "Aku tahu kebenaran, Danny.
Kau hantu."
"Hah?" Mulut Danny ternganga tak percaya. Dia melepas topi Cubs-nya dan
menggaruk rambutnya, menatap tajam pada Hannah sebentar.
"Kau hantu," ulang Hannah, suaranya gemetar.
"Aku?" teriaknya. "Tak mungkin! Apakah kau gila? Aku bukan hantu!"
Tanpa peringatan, Danny melangkah ke depan Hannah dan menggerakkan
tangannya di dada Hannah.
Hannah tersentak saat tangan Danny menembus tubuhnya.
Dia tak merasakan apa-apa. Seolah-olah dia tak ada di sana.
Danny menjerit dan menyentakkan tangannya kembali seolah-olah terbakar. Dia
menelan ludah, ekspresinya penuh dengan kengerian. "K-kau -" dia tergagap.
Hannah mencoba untuk menjawab, tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya.
Melirik dirinya dengan ngeri untuk terakhir kalinya, Danny lalu berbalik dan mulai
berlari dengan kecepatan penuh menuju rumahnya.
Hannah menatap tak berdaya padanya sampai dia menghilang melalui pintu
belakang. Pintu itu terbanting keras di belakangnya.
Bingung, Hannah berbalik dan mulai berlari pulang.
Dia merasa pusing. Tanah tampak berputar-putar di bawahnya. Langit biru
berpendar dan menjadi terang menyilaukan. Rumahnya miring dan bergoyang-
goyang.
"Danny bukan hantu," kata Hannah keras. "Aku akhirnya tahu yang sebenarnya.
Danny bukan hantu. Akulah hantunya!"
20.
Hannah melangkah ke pintu belakang, lalu ragu-ragu.
Aku tak bisa pulang sekarang, pikirnya. Aku harus berpikir.
Mungkin aku akan berjalan-jalan atau yang lainnya.
Dia memejamkan matanya, mencoba untuk melenyapkan pusingnya. Ketika dia
membuka matanya, segalanya tampak lebih terang, terlalu terang untuk ditahan.
Melangkah hati-hati dari beranda belakang, ia menuju ke arah depan, kepalanya
berputar.
Aku hantu.
Aku bukan orang yang nyata lagi.
Aku hantu.
Suara-suara mendobrak ke dalam pikiran bingung Hannah. Seseorang mendekat.
Dia merunduk menghilang di balik pohon maple besar dan mendengarkan.
"Ini rumah indah yang sempurna." Hannah mengenali suara Bu Quilty itu.
"Sepupuku dari Detroit melihatnya minggu lalu," kata wanita lain. Hannah tak
mengenalinya. Mengintip keluar dari balik batang pohon, Hannah melihat bahwa
wanita itu ramping kelihatannya kurus memakai gaun kuning. Dia dan Bu Quilty
berdiri pertengahan jalan masuk, mengagumi rumah Hannah.
Takut dia mungkin terlihat, Hannah merunduk kembali ke balik pohon.
"Apakah sepupumu suka rumah itu?" tanya Bu Quilty pada temannya.
"Terlalu kecil," jawabnya singkat.
"Sayang sekali," kata Bu Quilty dengan desahan keras. "Aku benci punya sebuah
rumah kosong di blok ini."
Tapi rumah itu tak kosong! Pikir Hannah dengan marah. Aku tinggal di sini!
Seluruh keluargaku tinggal di sini - bukan begitu?
"Berapa lama rumah itu kosong?" tanya wanita lain itu.
"Sejak rumah itu dibangun kembali," Hannah mendengar jawaban Bu Quilty. "Kau
tahu. Setelah kebakaran mengerikan itu. Kurasa itu lima tahun yang lalu."
"Kebakaran?" Tanya teman Bu Quilty. "Itu sebelum aku pindah ke sini. Apakah
seluruh rumah terbakar?"
"Sebagian besar," kata Bu Quilty padanya. "Itu sangat mengerikan, Beth. Benar-
benar tragedi. Keluarga itu terperangkap di dalam. Keluarga yang benar-benar
baik. Seorang gadis muda. Dua anak laki-laki. Mereka semua meninggal malam
itu."
Impianku! Hannah berpikir, mencengkeram batang pohon untuk menahan
dirinya. Itu bukan mimpi. Itu kebakaran asli. Aku benar-benar mati malam itu.
Air mata bercucuran di wajah Hannah. Kakinya terasa lemas dan gemetar. Dia
bersandar di kulit kayu pohon yang kasar dan mendengarkan.
"Bagaimana itu terjadi?" Beth, teman Bu Quilty bertanya. "Apa mereka tahu apa
yang memulai api?"
"Ya. Anak-anak itu membuat semacam api unggun di belakang. Di belakang
garasi," lanjut Bu Quilty. "Ketika mereka masuk ke dalam, mereka tidak
memadamkannya sepenuhnya. Rumah terbakar setelah mereka tidur. Api
menyebar begitu cepat."
Hannah melihat dua wanita itu menatap rumah itu dengan penuh pikiran dari
posisi mereka di jalan masuk. Mereka menggelengkan kepala.
"Rumah itu musnah, lalu dibangun kembali," kata Bu Quilty. "Tapi tidak ada yang
pernah pindah ke sana. Sudah lima tahun. Bisakah kau bayangkan?"
Aku sudah mati selama lima tahun, pikir Hannah, membiarkan air mata mengalir
di pipinya. Tak heran aku tak tahu Danny atau teman-temannya.
Tak heran aku belum mendapatkan surat dari Janey. Tak heran aku belum
mendengar kabar dari teman-temanku.
Aku sudah mati selama lima tahun.
Sekarang, Hannah mengerti mengapa kadang-kadang waktu tampak tetap, dan
kadang-kadang melayang begitu cepat.
Hantu-hantu datang dan pergi, pikirnya sedih. Kadang-kadang aku cukup padat
untuk naik sepeda atau menendang bola sepak. Dan kadang-kadang aku begitu
tipis, tangan seseorang dapat menembus diriku.
Hannah melihat dua wanita itu berjalan ke blok sampai mereka menghilang dari
pandangan. Menempel di batang pohon, dia tak berusaha untuk bergerak.
Itu semua mulai masuk akal untuk Hannah. Mimpi seperti hari-hari musim panas.
Kesepian. Perasaan bahwa sesuatu tidak benar.
Tapi bagaimana tentang Ibu dan Ayah? tanyanya pada diri sendiri, mendorong diri
dari pohon. Bagaimana dengan si kembar? Apakah mereka tahu? Apakah mereka
tahu bahwa kami semua hantu?
"Bu!" teriaknya, berlari ke pintu depan. "Bu!"
Dia menghambur ke dalam rumah dan berlari melalui lorong ke dapur. "Bu! Ibu!
Di mana Anda! Bill? Herb?"
Sunyi.
Tak ada orang di sana.
Mereka semua telah lenyap.
21.
"Kalian dimana?" teriak Hannah dengan keras. "Bu! Bill! Herb!"
Apakah mereka lenyap selamanya?
Kami semua hantu, pikirnya sedih.
Semua.
Dan sekarang mereka telah meninggalkanku di sini sendirian.
Jantungnya berdebar-debar, ia menatap ke sekeliling dapur.
Dapur itu kosong. Kosong.
Tak ada kotak sereal di meja di mana kotak itu biasanya disimpan. Tak ada
magnet-magnet lucu di kulkas. Tak ada tirai di jendela. Tak ada jam di dinding. Tak
ada meja dapur.
"Kalian dimana?" panggil Hannah putus asa.
Dia menjauh dari meja dan berlari pergi melalui rumah.
Semuanya tak ada isinya. Semuanya kosong.
Tak ada pakaian. Tak ada perabot rumah. Tak ada lampu-lampu atau poster-
poster di dinding atau buku-buku di rak buku.
Lenyap. Semuanya lenyap.
Mereka sudah meninggalkanku di sini. Hantu. Satu hantu sendirian.
"Aku harus berbicara dengan seseorang," katanya lantang. "Siapapun!"
Dia mencari telpon dengan putus asa sampai ia menemukan satu telpon merah di
dinding dapur kosong itu.
Siapa yang bisa kutelpon? Siapa?
Tak ada.
Aku mati.
Aku sudah mati selama lima tahun.
Dia mengangkat gagang telepon dan membawanya ke telinga.
Sunyi. Telepon itu juga mati.
Dengan menangis putus asa, Hannah membiarkan tangkai telpon itu jatuh ke
lantai. Hatinya berdebar-debar, sekali lagi air mata membasahi pipinya, ia
menghempaskan diri turun ke lantai kosong itu.
Terisak pelan pada dirinya sendiri, ia membenamkan kepalanya di tangannya dan
membiarkan kegelapan melandanya.
***
Saat dia membuka matanya, kegelapan itu masih tetap ada.
Dia menarik diri, awalnya tak yakin di mana dia berada. Merasa gemetar dan
tegang, ia mengangkat matanya ke jendela dapur. Di luar, langit biru-hitam.
Malam.
Waktu mengapung keluar dan masuk saat kau itu hantu, Hannah menyadari.
Itulah mengapa musim panas telah terasa begitu singkat dan begitu terbatas pada
waktu yang sama. Dia merentangkan tangannya ke langit-langit, kemudian
berjalan dari dapur.
"Ada orang di rumah?" teriaknya.
Dia tak terkejut dengan kesunyian yang menyambut pertanyaannya.
Keluarganya sudah pergi.
Tapi di mana?
Saat ia berjalan melalui lorong gelap kosong ke depan rumah, dia punya firasat
lain. Perasaan takut lainnya.
Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sekarang? Malam ini?
Dia berhenti di pintu depan terbuka dan mengintip melalui layar pintu. "Hei -!"
Danny di atas sepedanya, mengayuh perlahan menyusuri jalan masuk rumahnya.
Menurui kata hatinya, Hannah membuka pintu dan berlari keluar. "Hei - Danny!"
Danny memperlambat sepedanya dan berpaling pada Hannah.
"Danny - tunggu!" panggilnya, berlari melintasi halaman rumahnya ke arah
Danny.
"Jangan - tolonglah!" Wajah Danny sangat ketakutan. Dia mengangkat kedua
tangannya seolah-olah untuk melindungi dirinya sendiri.
"Danny -?"
"Pergi!" teriak Danny, suaranya melengking ketakutan. "Tolong - menjauhlah!"
Dia mencengkeram setang dan mulai mengayuh mati-matian menjauh.
Hannah melompat mundur, kaget dan terluka. "Jangan takut padaku!" teriaknya
padanya, menangkupkan kedua tangan di sekitar mulutnya agar didengar.
"Danny, tolonglah - jangan takut!"
Bersandar di atas setang, Danny pergi tanpa menengok ke belakang.
Hannah menjerit terluka.
Saat Danny menghilang ke blok, perasaan takut melanda Hannah.
Aku tahu ke mana dia pergi, pikirnya.
Dia menemui Alan dan Fred, dan mereka akan ke rumah Pak Chesney. Mereka
akan membalas dendam pada Pak Chesney.
Dan sesuatu yang sangat buruk akan terjadi.
Aku akan ke sana juga, Hannah memutuskan.
Aku harus pergi juga.
Dia bergegas ke garasi untuk mengambil sepedanya.
***
Pak Chesney telah memperbaiki kotak suratnya, Hannah melihatnya. Sayap angsa
pahatan tangan melayang keluar dari tiang, yang telah dikembalikan ke posisi
lurus.
Meringkuk di balik pohon rendah yang sama, Hannah melihat tiga anak laki-laki
itu di seberang jalan. Mereka ragu-ragu di tepi halaman Pak Chesney,
tersembunyi dari rumah dengan pagar tinggi.
Dalam cahaya putih pucat lampu jalanan ini, Hannah bisa melihat mereka
tersenyum dan bercanda. Lalu ia melihat Fred mendorong Danny ke kotak surat
itu.
Hannah mengangkat tatapannya luar pagar pada rumah kecil Pak Chesney. Lampu
oranye itu bersinar samar-samar dari jendela ruang tamu. Lampu teras menyala.
Bagian rumah lainnya dalam kegelapan.
Apa Pak Chesney di rumah? Hannah tak tahu.
Mobil Plymouth tuanya tak ada di jalan masuk.
Hannah berjongkok di balik pohon hijau itu. Cabang-cabangnya yang berduri
bergerak naik turun dalam angin sepoi-sepoi.
Dia melihat Danny berusaha untuk menarik kotak surat itu. Alan dan Fred berdiri
di belakangnya, mendorongnya
Danny mencengkeram kedua sayap menonjol itu dan menarik.
Fred menepuk punggungnya. "Lebih keras!" teriaknya.
"Pengecut!" Alan menyatakan, tertawa.
Hannah terus melirik gugup ke rumah itu. Anak-anak itu begitu berisik. Apa yang
membuat mereka begitu yakin bahwa Pak Chesney tak ada di rumah?
Apa yang membuat mereka begitu yakin bahwa Chesney tak akan menepati
janjinya dan mengejar mereka dengan senapannya?
Hannah bergidik. Dia merasakan tetesan keringat meluncur di dahinya.
Dia melihat Danny mati-matian menarik kotak surat itu. Dengan satu tarikan
keras, dia membuatnya miring.
Fred dan Alan bersorak gembira.
Danny mulai mengayun-ngayunkan kotak surat itu, mendorongnya dengan
bahunya, lalu menariknya kembali. Kotak surat itu menjadi goyah, miring lebih
jauh di setiap dorongan, setiap tarikan.
Hannah mendengar erangan keras Danny saat ia memberi kotak itu dorongan
kuat yang terakhir - dan kotak surat itu jatuh ke samping di tanah. Ia mundur,
senyum kemenangan (tampak) di wajahnya.
Fred dan Alan bersorak lagi dan ber-tos.
Fred mengambil kotak surat itu, mengangkatnya di bahunya, dan mengaraknya
mondar mandir di depan pagar, seolah-olah itu bendera musuh.
Saat mereka merayakan kemenangan mereka, Hannah sekali lagi melirik ke atas
pagar ke rumah remang-remang itu.
Tak ada tanda dari Pak Chesney.
Mungkin dia tak ada di rumah. Mungkin anak-anak akan bisa pergi tanpa
tertangkap.
Tapi mengapa Hannah masih memiliki perasaan sangat takut yang
membebaninya, tubuhnya kedinginan?
Dia tersentak saat dia melihat suatu bayangan bergeser melewati sudut rumah.
Pak Chesney?
Bukan.
Menyipitkan mata dengan keras ke dalam cahaya redup itu, Hannah merasa
hatinya mulai berbunyi di dadanya.
Tak ada orang di sana. Tapi bayangan apa itu?
Dia dengan pasti melihatnya, sebentuk bayangan yang lebih gelap dari pada
malam yang panjang itu, bergerak pelan di rumah yang agak kelabu itu.
Suara keras anak-anak menyela pikirannya, menarik perhatiannya menjauh dari
rumah.
Fred melemparkan kotak pos itu ke pagar. Sekarang mereka telah bergerak ke
arah jalan masuk. Mereka sedang membicarakan sesuatu, berdebat keras. Alan
tertawa. Fred mendorong Alan dengan main-main. Danny mengatakan sesuatu,
tapi Hannah tak bisa mendengar kata-katanya.
Pergilah, desak Hannah pada mereka di dalam benaknya. Pergilah dari sana.
Kalian telah menarik kelakar bodoh kalian, telah melakukan balas dendam bodoh
kalian.
Sekarang pergilah - sebelum kalian tertangkap.
Dahan-dahan pepohonan hijau itu bergerak naik turun diam-diam dalam
hembusan angin panas. Hannah melangkah kembali ke kegelapan, matanya
tertuju pada anak-anak.
Mereka berkumpul bersama di bagian bawah halaman. Mereka berbicara dengan
bersemangat, ketiga-tiganya sekaligus. Lalu Hannah melihat kerlipan cahaya.
Cahaya itu terpancar sebentar, lalu padam.
Itu adalah korek api, Hannah menyadari.
Alan memegang kotak besar korek api dapur.
Hannah melirik gugup ke rumah itu. Semua masih tetap. Tak ada Pak Chesney.
Tak ada bayangan yang bergerak pelan di dinding.
Pulanglah. Tolong, pulanglah ke rumah, diam-diam dia mendesak anak-anak laki-
laki itu.
Tetapi untuk kecemasannya, mereka berbalik dan mulai berlari-lari kecil menaiki
jalanan berkerikil itu. Mereka merunduk rendah saat mereka berlari, berusaha
untuk tak terlihat dari rumah.
Apa yang mereka lakukan? Hannah bertanya-tanya, merasa semua otot-ototnya
menegang ketakutan. Gigilan ketakutan bergerak menuruni punggungnya saat ia
melangkah keluar dari balik pohon berdaun hijau itu.
Apa yang akan mereka lakukan?
Ia berjalan cepat melintasi jalan dan merunduk di depan pagar, jantungnya
berdebar-debar.
Dia tak bisa mendengar mereka. Mereka pasti hampir sampai ke rumah sekarang.
Haruskah ia mengikuti mereka?
Dia berdiri perlahan dan mengangkat dirinya berjinjit untuk melihat melalui
pagar.
Ketiga anak laki-laki itu, Alan memimpin, diikuti oleh Danny dan Fred,
membungkuk rendah, berlari cepat di depan rumah. Tertangkap dalam cahaya
oranye redup, cahaya dari jendela, Hannah bisa melihat ekspresi tekad mereka.
Kemana mereka pergi? Apa yang mereka rencanakan?
Hannah melihat mereka berlari ke dalam kegelapan di sekitar sisi rumah
Masih tak ada tanda-tanda dari Pak Chesney.
Menjaga dekat dengan pagar, Hannah berjalan ke jalan masuk. Lalu, tanpa
berpikir tentang hal itu, bahkan tanpa sadar, dia juga berlari.
Dia terdiam saat ia melihat Alan mendorong Danny masuk ke dalam jendela yang
terbuka. Lalu Fred melangkah maju, mengangkat tangannya ke langkan jendela,
dan membiarkan Alan mendorongnya.
Jangan - tolonglah! Hannah ingin berteriak.
Jangan masuk ke rumah itu! Jangan masuk ke sana!
Tapi dia sudah terlambat.
Mereka bertiga semuanya telah naik masuk ke dalam rumah.
Bernapas keras, Hannah mulai bergerak pelan ke arah jendela.
Tapi setengah jalan di sana, dia merasakan sesuatu meraih kakinya dan
menahannya di tempat.
22.
Hannah mengeluarkan jeritan diam.
Dia berusaha untuk membebaskan kakinya - dan segera menyadari bahwa ia telah
melangkah ke dalam gulungan selang taman.
Menghembuskan napas keras, ia mengangkat kakinya dari itu dan merayap di sisa
jalan ke jendela yang terbuka itu.
Sisi rumah itu tertutup dalam kegelapan. Jendela itu terlalu tinggi bagi Hannah
untuk bisa melihat ke dalam ruangan.
Berdiri di bawah jendela, Hannah bisa mendengar sepatu anak-anak itu berdebam
di papan lantai kosong itu. Dia bisa mendengar suara-suara berbisik dan tawa-
tawa teredam bernada tinggi.
Apa yang mereka lakukan di sana? dia bertanya-tanya, seluruh tubuhnya tegang
ketakutan.
Tidakkah mereka menyadari betapa banyak kesulitan yang akan mereka
dapatkan?
Cahaya terang di samping rumah membuat Hannah melompat kembali dengan
teriakan kaget.
Dia jatuh ke tanah dan berputar. Dan melihat lampu melalui pagar tinggi. Lampu
mobil mengambang ke arah jalan masuk.
Pak Chesney?
Apakah ia pulang ke rumah? Kembali pulang tepat waktu untuk menangkap ketiga
penyusup itu di rumahnya?
Hannah membuka mulutnya untuk meneriakkan peringatan kepada anak-anak
laki-laki itu. Tapi suaranya tercekat di tenggorokannya.
Lampu itu melayang lewat. Kegelapan bergulir kembali ke halaman.
Gemuruh mobil itu menghilang.
Itu bukan Pak Chesney, Hannah menyadari.
Dia berusaha berdiri dan kembali ke tempatnya di bawah jendela. Dia
memutuskan ia harus membiarkan anak laki-laki tahu bahwa ia ada di sana. Dia
harus membuat mereka keluar dari sana!
"Danny!" teriaknya, membungkus tangannya di sekitar mulutnya sebagai
pengeras suara. "Pergilah. Ayo - keluarlah sekarang!"
Perasaan takut membebaninya. Dia berteriak ke jendela lagi. "Keluarlah. Cepatlah
- tolong"
Dia bisa mendengar suara-suara teredam mereka di dalam. Dan dia bisa
mendengar gesekan-gesekan sepatu di lantai.
Menatap jendela, ia melihat suatu lampu menyala. Oranye terang, pertama-tama
redup, lalu terang.
"Apa kalian gila?" teriaknya kepada mereka. "Matikan lampu itu!"
Apa-apaan itu, mereka menyalakan lampu?
Apa mereka ingin tertangkap?
"Matikan lampu!" ulangnya dengan suara tinggi melengking, ketakutan.
Tapi cahaya oranye jadi lebih terang, menjadi kuning terang.
Dan saat ia menatap dengan ngeri, Hannah menyadari cahaya itu berkelap-kelip.
Bukan cahaya lampu.
Cahaya api.
Api!
Mereka membuat kebakaran!
"Jangan!" teriaknya, mengangkat tangannya pada sisi wajahnya. "Jangan! Keluar!
Keluar dari sana!"
Dia bisa mencium bau asap sekarang. Dia bisa melihat bayangan api berlompatan
di kaca jendela.
Dia mulai berteriak kepada mereka lagi - tapi berhenti ketika dia melihat
bayangan itu bergerak ke arahnya di dinding rumah.
Hannah berhenti dan memutar tatapannya.
Dan melihat sosok gelap itu, lebih hitam daripada malam, mata merahnya
bersinar terang dari kegelapan wajahnya.
Sosok itu diam-diam melangkah ke arahnya, melayang cepat di atas rerumputan
tinggi, rumput liar yang bertebaran. Mata merah itu tampak terang saat
mendekat.
"Hannah - menjauhlah!" kata bayangan bergerak itu dengan suara kering seperti
daun-daun kering,
"Hannah - menjauhlah."
"Jaangaaaan!" Hannah meraung ketakutan saat sosok itu bergerak ke arahnya.
Semburan udara sangat dingin melingkari tubuhnya. "Jaangaaan!"
"Hannah... Hannah..."
"Siapa kau?" tuntutnya. "Apa yang kau inginkan?"
Di belakangnya, ia bisa mendengar derakan lidah api sekarang. Cahaya kuning itu
berkelap-kelip di belakang gelombang asap hitam yang mencekik dari jendela
yang terbuka.
Mata berapi-api itu bersinar lebih terang, sosok bayangan itu mengangkat dirinya
sendiri, berdiri lebih dekat, lebih dekat, menjulurkan lengannya, bersiap-siap
menariknya masuk.
23.
Dicekam rasa takut, Hannah mengangkat kedua tangannya di depannya seakan
mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.
Dia mendengar garukan tiba-tiba di jendela. Satu jeritan tertahan di atas
kepalanya.
Sosok bayangan itu menghilang.
Dan kemudian dia merasa ada seseorang terguling di atas tubuhnya.
Mereka berdua jatuh bertumpukan ke tanah.
"Alan!" teriaknya.
Alan berusaha berdiri, matanya melebar panik. "Korek api!" jeritnya. "Korek api.
Kami - kami tak bermaksud. Kami -."
Sosok lain terjun keluar dari jendela saat derak lidah api berkembang menjadi
raungan. Fred mendarat keras di siku dan lututnya.
Hannah menatap pada wajah kebingungannya dalam cahaya oranye yang
bergerak cepat. "Fred - apa kau baik-baik saja?"
"Danny," gumamnya, menatap dengan ngeri. "Danny di sana. Dia tak bisa keluar."
"Hah?" Hannah melompat berdiri.
"Danny terjebak dalam api. Dia akan terbakar!" jerit Alan.
"Kita harus cari bantuan!" kata Fred, berteriak mengalahkan deru api. Dia menarik
lengan Alan. Kedua anak berangkat, berjalan limbung menyeberangi halaman
menuju rumah sebelah.
Lidah-lidah api oranye-kuning terang menjilat ambang jendela di atas kepala
Hannah.
Aku harus menyelamatkan Danny, pikirnya.
Dia menarik napas dalam-dalam, menatap kerlipan itu, kerlap-kerlip cahaya api.
Kemudian ia mulai menuju jendela yang terbuka.
Tapi sebelum dia bisa melangkah, cahaya dari jendela menghilang. Bayangan itu
naik di depannya.
"Hannah - pergilah." bisikan tajam yang menakutkan itu begitu dekat dengan
wajahnya. "Pergilah."
"Tidak!" jerit Hannah, lupa akan ketakutannya. "Aku harus menyelamatkan
Danny."
"Hannah... kau tak akan menyelamatkan dia!" terdengar jawaban serak.
Sosok gelap itu, bermata terbakar, melayang di atasnya, menghalangi jalan
Hannah ke jendela.
"Biarkan aku pergi!" jerit Hannah. "Aku harus menyelamatkannya!"
Mata merah mengancam itu semakin mendekat. Kegelapan turun menjadi lebih
berat di sekelilingnya.
"Siapa kau?" jerit Hannah. "Apa kau itu? Apa yang kau inginkan?"
Sosok gelap itu tak menjawab. Mata bersinar itu tertuju padanya.
Danny terjebak di sana, Hannah pikir. Aku harus masuk ke jendela itu.
"Minggirlah!" jerit Hannah. Dan dalam keputusasaan, dia mengulurkan kedua
tangannya - menyambar bahu sosok gelap itu - dan mencoba mendorongnya
keluar dari jalan.
Hannah kaget, sosok itu terasa padat. Dengan jeritan tekad, ia mengangkat kedua
tangannya ke wajah itu - dan menarik.
Kegelapan yang menyelubungi wajahnya terjatuh - dan di bawah kegelapan itu,
tampak wajah Danny!
24.
Hannah menatap ngeri dan tak percaya, berusaha untuk bernapas. Bau asam
mencekiknya. Kegelapan terus menyelubunginya, menahannya sebagai tahanan.
Danny menyeringai ke arahnya, dengan mata merah bersinar yang sama seperti
sebelum dia membuka kedoknya.
"Tidak!" jerit Hannah, suaranya berbisik serak, tegang ketakutan. "Ini bukan kau,
Danny. Bukan!."
Suatu senyum keji bermain-main di sosok dengan wajah bercahaya itu. "Aku
hantu Danny!" ia menyatakan.
"Hantu?" Hannah mencoba untuk menarik kembali. Tapi kegelapan menahannya
erat-erat.
"Aku hantu Danny. Saat ia mati dalam api, aku tak akan lagi jadi bayangan. Aku
akan LAHIR - Dan Danny akan pergi ke dunia bayangan di tempatku!"
"Tidak, tidak!" jerit Hannah, mengacungkan tinjunya di depannya. "Tidak! Danny
tak akan mati! Aku tak akan membiarkan dia mati!"
Hantu Danny membuka mulut dan mengeluarkan tawa berbau busuk.
"Kau terlambat, Hannah!" dia menyeringai. "Terlambat."
25.
"Tiiidaaaaak!"
Raungan Hannah bergema di kegelapan yang mengepungnya.
Mata merah hantu Danny menyala marah saat Hannah mendadak menembus
tubuhnya.
Sedetik kemudian, ia mengangkat tangannya ke langkan jendela. "Oh!" Kusen itu
panas karena api.
Menggunakan semua kekuatannya, ia menarik dirinya ke arah lidah-lidah api yang
menyambar-nyambar - dan masuk ke dalam rumah. Suatu tirai asap asam tebal
bereaksi untuk menyambutnya.
Mengabaikan asap dan dinding api yang terang, Hannah menurunkan dirinya
dengan keras ke lantai.
Aku hantu, katanya pada diri sendiri, melangkah ke ruangan lautan api itu.
Aku hantu. Aku tak bisa mati lagi.
Dia mengusap matanya dengan lengan kausnya, berusaha untuk melihat.
"Danny?" panggilnya, berteriak sekeras yang dia bisa. "Danny - aku tak bisa
melihatmu! Kau di mana?"
Melindungi matanya dengan satu tangan, Hannah melangkah lagi ke dalam
ruangan. Lidah-lidah api terangkat seperti geyser (air mancur panas) yang terang.
Kertas dinding di salah satu dinding telah tergulung ke bawah, pojokan
menghitam tertutupi dengan loncatan lidah-lidah api.
"Danny - kau di mana?"
Dia mendengar teriakan teredam dari kamar sebelah. Dengan bersemangat
melalui pintu yang dikelilingi api, Hannah melihat Danny - terperangkap di
belakang dinding tinggi api.
"Danny -!"
Danny mundur ke sudut, kedua tangannya terangkat bersama-sama di depannya,
melindungi wajah dari asap.
Aku tak bisa melalui lidah-lidah api yang tebal itu, Hannah menyadari dengan
ngeri.
Dia melangkah lagi ke dalam ruangan, lalu tertahan kembali.
Tidak.
Tak mungkin aku bisa menyelamatkannya.
Tapi sekali lagi, ia mengingatkan dirinya: aku hantu. Aku bisa melakukan hal-hal
yang tak bisa dilakukan orang-orang yang hidup.
"Tolong aku! Tolong aku!"
Suara Danny terdengar kecil dan jauh di belakang gelombang loncatan lidah-lidah
api.
Tanpa ragu-ragu lagi seketika itu, Hannah menghela napas dalam-dalam,
menahannya - dan melompat ke dalam lidah api.
"Tolong aku!" Danny menatap Hannah, matanya kosong. Dia tampaknya tidak
melihat Hannah. "Tolong!"
"Ayo!" Hannah meraih tangan Danny dan menariknya. "Ayo kita pergi!"
Lidah-lidah api membungkuk ke arah mereka, seperti lengan yang menyala-nyala
terulur untuk menangkap mereka.
"Ayo!"
Hannah menarik lagi, tapi Danny menahan diri. "Kita tidak bisa!"
"Ya - kita harus!" teriak Hannah.
Panas membakar lubang hidungnya. Hannah menutup matanya pada kuning
terang yang menyilaukan. "Kita harus!"
Hannah meraih tangan Danny dengan kedua tangannya dan menariknya.
Asap hitam beterbangan di sekitar mereka. Tersedak, Hannah menutup matanya
dan menarik Danny, menariknya ke dalam lidah-lidah api sangat panas yang
membakar.
Ke dalam lidah-lidah api.
Melaluinya.
Batuk dan tersedak. Dengan keringat menetes karena panas seperti tungku
pembakaran.
Menarik Danny. Menarik dengan membabi buta. Menarik dengan sekuat tenaga.
Hannah tak membuka matanya sampai mereka berada di jendela.
Dia tak bernapas sampai mereka jatuh jungkir balik ke tanah yang gelap yang
dingin.
Lalu, (bertumpu) pada tangan dan lututnya, terengah-engah begitu keras, megap-
megap untuk udara bersih, Hannah mendongak.
Di sana ada sesosok bayangan di dekat rumah, memutar dalam lidah-lidah api.
Saat api memangsanya, sosok itu mengangkat tangan gelapnya ke langit - dan
menghilang tanpa suara.
Dengan napas lega, Hannah menurunkan pandangannya kepada Danny.
Dia berbaring telentang, ekspresi bingung tampak di wajahnya. "Hannah,"
bisiknya serak. "Hannah, terima kasih."
Hannah merasakan suatu senyum terlintas wajahnya.
Semuanya berubah terang, seterang dinding lidah-lidah api.
Lalu semuanya menjadi gelap.
26.
Ibu Danny membungkuk di atasnya, menarik selimut tipis itu sampai ke dadanya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya dengan lembut.
Itu adalah dua jam kemudian. Danny telah dirawat oleh paramedis yang tiba tak
lama setelah petugas pemadam kebakaran. Mereka berkata kepada ibunya yang
khawatir bahwa ia menderita karena menghirup asap dan mengalami beberapa
luka bakar ringan.
Setelah mengobati luka bakar, mereka mengantarkan Danny dan Bu Anderson
pulang dengan mobil ambulans.
Sekarang Danny berbaring di atas tempat tidur, menatap ibunya, masih merasa
pening dan bingung. Bu Quilty berdiri dengan cemas di pojokan, tangannya
tergenggam tegang di depannya, melihat dengan diam. Dia bergegas untuk
melihat keributan apa itu.
"Aku - aku baik-baik saja, kurasa," kata Danny, menarik dirinya sedikit di atas
bantal. "Aku hanya sedikit lelah."
Ibunya mendorong seikat rambut pirang dari dahinya saat ia menunduk
menatapnya, membaca bibirnya. "Bagaimana kau bisa keluar? Bagaimana kau
bisa keluar dari rumah itu?"
"Itu Hannah," kata Danny padanya. "Hannah menarikku keluar."
"Siapa?" wajah Bu Anderson kebingungan. "Siapa Hannah?"
"Kau tahu," jawab Danny tak sabar. "Gadis tetangga sebelah."
"Tak ada gadis tetangga sebelah," kata ibunya. "Apakah ada, Molly?" Dia berbalik
untuk membaca bibir Bu Quilty.
Bu Quilty menggeleng. "Rumah itu kosong."