The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by celtosdjabun, 2022-11-11 01:56:29

PEDOMAN STANDAR MUTU SEKOLAH INSPIRATIF KEBANGSAAN

KOMISI PENDIDIKAN KWI

c. Live in karya
Live in karya yaitu program live in, dengan menempatkan peserta didiknya di

lembaga-lembaga ekonomi masyarakat, misalnya industri rumah tangga, masyarakat
yang memberdayakan pertanian seperti tembakau, cengkeh, atau coklat, dan lembaga
ekonomi lainnya selama 3- 4 hari. Tujuan dari program ini adalah agar peserta didik
mampu mengolah rasa, mengasah pikir, dan memiliki kehendak untuk mampu
memberdayakan ekonomi masyarakat, terutama masyarakat ekonomi kecil.

Inilah penanaman karakter yang bisa dikembangkan melalui program sekolah.
Nilai-nilai Pancasila, tersirat dan tersurat secara nyata dalam pembangunan karakter
peserta didik melalui program live in karya. Karakter melayani, memberdayakan,
berjuang untuk keadilan, dan kesejahteraan masyarakat menjadi spririt yang dihidupi
dalam kerangka mewujudnyatakan nilai-nilai Pancasila.

Setelah live in selesai, peserta didik diminta merefleksikan dan menemukan
makna dari live in yang telah dilakukan, dan mampu membangun komitmen,
kehendak, dan sikap yang positif dalam upaya memberdayakan masyarakat sekitar,
terkhusus masyarakat ekonomi kecil.

d. Donor Darah (khusus untuk SMA)
Program donor darah merupakan program unggulan yang mampu

dikembangkan sekolah setingkat SMA untuk melatih peserta didik peduli, berbela
rasa, dan memiliki semangat berbagi pada sesama yang membutuhkan. Setetes darah
yang kita sumbangkan bagi sesama, mampu menyelamatkan saudara kita yang
membutuhkan. Kasih harus diwujudnyatakan dalam tindakan, inilah spririt yang
menginspirasi bergulirnya program donor darah.

Program ini dilaksanakan setahun 2 kali, yaitu pada semester 1 dan 2. Sekolah
bisa melakukan kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) di daerahnya
masing-masing. Dari program ini, mampu menumbuhkan semangat man women for
others, semangat berbagi demi kemanusiaan, dan demi mewujudnyatakan kasih
Allah di dalam hidup peserta didik.

e. Sidang Akademi (public speaking)
Dalam kerangka memperkuat literasi membaca dan menulis peserta didik, juga

diadakan program public speaking atau sering disebut program sidang akademi yang
mengolah isu-isu strategis bangsa ini, tema-tema kepemimpinan, dan pengolahan
nilai-nilai Pancasila dalam konteks bangsa Indonesia dan misi membangun dunia.

Pedoman Mutu Sekolah | 50

Kerangka berpikir program ini adalah, setiap peserta didik menyampaikan
makalah, opini, pidato, resensi buku yang telah dibuat dan diolah di depan peserta
didik yang lain. Temanya bisa dipilih tema-tema kebangsaan, kontekstualisasi nilai-
nilai Pancasila, dan tema strategis yang sedang berkembang di dunia. Setelah peserta
didik mempresentasikan hasil karyanya, maka peserta didik lain sebagi audience
diberi kesempatan bertanya secara kritis konstruktif, mengapresiasi, dan memberikan
tanggapan atas tampilan presentator. Sidang akademi ini dilakukan dalam 3 bahasa,
yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Daerah sebagai upaya
pelestarian bahasa lokal.

Dalam program sidang akademi ini, peserta didik dilatih untuk menghargai
orang lain, mampu menerima perbedaan pendapat, menghormati pendapat orang lain,
semangat memanusiakan manusia, dan terbangun olah rasa, olah pikir, dan olah
kehendak dalam diri peserta didik. Selain itu, semangat berbagi pengetahuan pada
peserta didik lain juga menjadi spirit untuk menumbuhkan peserta didik yang
berkarakter Pancasila.

2. Program intrakurikuler yang bisa dikembangkan
a. Materi religiusitas – dialog antar umat beragama
Pengembangan materi religiusitas menjadi sangat penting agar peserta didik
dimampukan untuk menemukan esensi yang mendalam / core values dari setiap
agama yang ada di Indonesia. Analoginya seperti ini, ada 2 orang anak sebut saja
namanya Bintang dan Bulan menggunakan 2 kacamata yang berbeda untuk melihat
seekor sapi. Bintang menggunakan kacamata hitam dan Bulan menggunakan kaca
mata merah, maka Bintang mengatakan sapi itu warnanya hitam, sedangkan Bulan
mengatakan sapi itu warnanya merah. Nah antara Bintang dan Bulan bisa konflik
karena saling memaksakan pendapatnya. Dari analogi ini, pendalaman religiusitas
fokusnya adalah memampukan peserta didik untuk melepas kacamatanya, dan
mampu menemukan esensi atau core values dari setiap agama di Indonesia, sehingga
terbangun semangat kasih, toleransi, dan saling menguatkan sebagai anak bangsa.
Materi bisa dikembangkan dengan materi dialog Kristen - Muslim, merajut
toleransi dalam keberagaman, dan masih banyak referensi yang bisa dijadikan acuan
pembelajaran. Dari proses ini, peserta didik dilatih untuk mampu masuk pada
kemendalaman atau core values suatu agama dan mampu menemukan kasih sebagai
dasar umat beriman sehingga tumbuh semangat toleransi, menghormati dan

Pedoman Mutu Sekolah | 51

menghargai agama lain, dan semangat membangun persatuan dalam keberagaman
Indonesia bahkan keberagaman dunia.
b. Mitigasi bencana

Pembelajaran mitigasi bencana juga menjadi aspek penting dalam membangun
literasi hidup peserta didik, apalagi negara Indonesia adalah negara yang memiliki
konteks rawan bencana baik gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, banjir, dan
berbagai bencana alam lainnya. Dari kenyataan geografis inilah, diperlukan
pendalaman mengenai mitigasi bencana bagi peserta didik, tujuannya adalah peserta
didik memiliki life skill untuk “bergerak” menyelamatkan diri dan sesama saat
bencana, mampu memberdayakan masyarakat dalam literasi kebencanaan, mampu
membantu sesamanya, dan kelak mampu melayani sesama yang menjadi korban
bencana alam tersebut.

Pembelajaran mitigasi bencana ini sebenarnya sudah tercakup dalam
pembelajaran geografi, namun yang menjadi fokus pembelajaran adalah bagaimana
mitigasi bencana ini tidak hanya menjadi konsep yang ada dalam benak peserta didik
saja, melainkan mampu menjadi sarana literasi hidup peserta didik dan mampu
membangun keterampilan hidup peserta didik dan memberdayakan masyarakat
dalam literasi kebencanaan.

Dok.Komdik KWI/Pengolahan Karakter Guru (Timika)
Pedoman Mutu Sekolah | 52

Pedoman Mutu Sekolah | 53


Click to View FlipBook Version