DAFTAR ISI 2
3
PENGANTAR 9
BAB I 13
KARAKTERISTIK SEKOLAH INSPIRATIF KEBANGSAAN 15
BAB II 19
TATA KELOLA YAYASAN SEKOLAH KATOLIK KINI – KEDEPAN 24
BAB III
TATA KELOLA MANAJERIAL
BAB IV
TATA KELOLA MANAJEMEN OPERASIONAL
BAB V
PENYUSUNAN INSTRUMEN TATA KELOLA
BAB VI
KESIMPULAN
REFERENSI
LAMPIRAN
Ilustrasi : http://bit.ly/3tmb8LW
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 1
Kata Pengantar
Pandemi Covid-19 melanda seluruh kehidupan dan Pendidikan salah satu yang terkena
dampaknya. Dari peristiwa itu setiap perilaku kehidupan mengalami perubahan. Dalam pandangan
Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (Komdik KWI), Pandemi menjadi stimulus
sekaligus akselerasi untuk perubahan dalam seluruh gerak tata kelola. Untuk mengatasi perubahan
yang terjadi sekaligus mewujudkan Identitas Pendidikan Katolik maka perlu dibuat pedoman dasar
tata kelola Pendidikan. Pedoman ini untuk memastikan bahwa Pendidikan Katolik mampu tetap
berjalan menjawab kebutuhan jaman.
Maka mulai tahun 2020, pengurus Komdik KWI membentuk tim kerja untuk merefleksikan
dan membaca referensi-referensi berkaitan dengan peningkatan kualitas Pendidikan Katolik. Tim
Perumus sangat terbantu dengan berbagai referensi bacaan khususnya dari buku yang dibuat oleh
Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI). Dari referensi yang dibaca melengkapi dan meneguhkan
pengalaman Tim Perumus dalam mengelola sekolah. Dengan perubahan jaman yang terjadi
(pandemi, dll) maka Tim Komdik KWI merumuskan buku/modul dengan narasi yang diharapkan
bisa membantu para pengelola sekolah dan kepala sekolah untuk menyikapi perubahan pendidikan
kini dan kedepan. Dari seluruh proses selama dua tahun tim Tim Komdik KWI menghasilkan dua
buku yang berjudul : Pedoman Tata Kelola Sekolah Inspiratif Kebangsaan dan Pedoman Standar
Mutu Sekolah Inspiratif Kebangsaan.
Dua buku di atas diharapkan membantu Lembaga Pendidikan Katolik Indonesia untuk
melakukan penataan agar menjawab kebutuhan perubahan jaman ini. Buku ini sifatnya sebagai alat
bantu untuk meneropong proses pelaksanaan sekolah yang memfokuskan pada kedalaman
pengolahan karakter SDM dan Pedagogi pendampingan anak. Buku ini dalam bentuk digital agar
lebih efektif dan adaptif penggunaannya.
Maka bagi para pelaku sekolah silahkan buku ini dibaca dan silahkan diadaptasikan dengan
situasi kondisi sekolah. Point-point dalam pernyataan bisa ditambahi atau dikurangi agar lebih
menjawab konteks kebutuhan sekolah. Dan semoga kedua buku ini membantu untuk proses
mewujudkan Sekolah Katolik yang Inspiratif dengan Identitas Katolik dan Bangsa Indonesia.
Dengan kemendalaman proses perubahan ini diharapkan sekolah Katolik kini kedepan akan
Bergerak, Berubah dan akhirnya Berbuah untuk kebaikan bersama.
RP.TB.Gandhi Hartono,SJ
Sekretaris Eksekutif Komdik KWI
Tim Penyusun Komisi Pendidikan KWI
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 2
BAB I
KARAKTERISTIK
SEKOLAH INSPIRATIF KEBANGSAAN
A. Filosofi Pendidikan Inspiratif Katolik Kini - Kedepan
Bapa Suci mengingatkan kembali peran dan Identitas Lembaga Pendidikan Katolik (LPK)
sebagai sarana kesaksian kehadiran Gereja. Gereja perlu terus hadir mengembangkan orang muda
untuk tumbuh berkembang secara utuh (Pleno Kongregasi Pendidikan di Vatikan.2017). Maka
peran pendidikan sekolah Katolik pertama-tama adalah menghadirkan wajah Gereja yang
menumbuhkan harapan dan keselamatan.
Dalam menghadirkan pengajaran sebagai sarana keselamatan saat ini perlu mendalami
“cara” bagaimana siswa belajar daripada “apa” yang mereka pelajari. Seperti halnya cara mengajar
tampaknya lebih penting untuk didalami bentuknya daripada isinya. Pengajaran yang hanya
memberikan pembelajaran repetitif, tanpa mendorong peran serta aktif para siswa atau memicu rasa
ingin tahu mereka, tidak cukup menantang untuk menumbuhkan motivasi. Pembelajaran melalui
riset dan pemecahan masalah mengembangkan kemampuan kognitif dan mental yang lebih
signifikan, di mana para siswa melakukan lebih banyak hal daripada sekadar menerima informasi,
serta mendorong kerja sama tim. Meskipun demikian, nilai isi pembelajaran tidak boleh dianggap
remeh. Jika cara peserta didik belajar relevan, hal yang sama juga diterapkan pada apa yang mereka
pelajari: para guru harus tahu bagaimana memilih unsur-unsur penting dari warisan budaya yang
telah terakumulasi dari waktu ke waktu dan bagaimana menyajikan secara menarik kepada peserta
didik. Untuk mewujudkan pendidikan kini dan kedepan perlu mendasari dengan keunggulan
kualitas sebagai berikut :
- Hormat akan martabat dan keunikan pribadi (oleh karena itu dibutuhkan pengenalan itensif
terhadap setiap pribadi).
- Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menumbuhkan dan mengembangkan
sarana media teknologi yang terintegrasi dengan pengembangan talenta.
- Keseimbang dalam aspek-aspek kognitif, afektif, sosial, profesional, etis dan spiritual.
- Mendorong setiap siswa untuk mengembangkan talentanya dalam sebuah suasana yang
membawa pada harapan, kerja sama dan solidaritas.
- Komitmen untuk terus mengembangkan inovasi dengan keterbukaan pikiran dan kedalaman
hati.
- Penghargaan akan ide-ide, keterbukaan terhadap dialog, kemampuan berinteraksi dan
bekerja bersama dalam semangat kebebasan dan kepedulian.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 3
B. Arah Pendidikan Indonesia
Terdapat lima nilai karakter utama pendidikan Indonesia yang bersumber dari Pancasila,
yaitu nilai : religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan gotong royong. Masing-masing
nilai tidak berdiri sendiri melainkan saling terintegrasi satu sama lain, dinamis dan membentuk
keutuhan karakter pribadi manusia.
Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang
diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai
perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap agama/kepercayaan dan hidup rukun
damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap
cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, percaya diri, kerja sama
antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan/kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak
memaksakan kehendak, mencintai ciptaan, alam lingkungan, melindungi yang lemah, kecil dan
tersisih.
Ilustrasi : http://bit.ly/3Trq1qL
Nilai karakter nasionalis merupakan cara merasa, berpikir, bersikap, dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan
fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik bangsa dan menempatkan kepentingan bangsa di atas
kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap cinta terhadap
budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, cinta tanah air,
menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman suku dan budaya.
Adapun nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 4
pada upaya menjadikan dirinya sebagai pribadi yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,
memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan. Karakter integritas meliputi sikap
tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi
tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai
martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.
Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain
namun dapat bekerja sama dengan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk
merealisasikan harapan dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki rasa tanggung jawab, etos kerja
yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan
bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi
bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan peserta didik dapat
menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas
keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong-menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas,
anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap rela berkorban.
C. Karakter Pendidikan Katolik
Pertama, Tujuan Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) adalah mewartakan kabar gembira
dan keselamatan. Prinsip apostolik pelayanan sekolah Katolik yaitu ikut berpartisipasi dalam gerak
pelayanan Gereja. Dari tujuan karakteristik ini dapat diterapkan sebagai berikut:
Setiap sekolah perlu memiliki konsistensi sesuai dengan misi apostolik sekolah. Misi
sekolah mencerminkan kepedulian akan penegakan iman harapan dan kasih.
Yayasan pemangku kebijakan menyetujui dan mengembangkan pernyataan misi ke seluruh
komunitas sekolah. Perekrutan tenaga sumber daya manusia dan pemilihan anggota yayasan
haruslah mengacu kepada misi sekolah.
Pengurus yayasan dan kepala sekolah memastikan pelaksanaan misi melalui pengamatan
dan evaluasi berkala.
Kedua, Karakteristik kedua sekolah katolik adalah dimensi hidup rohani. Sekolah Katolik
memerlukan kerja sama dengan siapa saja dengan latar belakang budaya, agama, suku, dan ras yang
berbeda-beda yang mempunyai panggilan untuk memberikan pelayanan pendidikan. Panutan
bertindaknya adalah sikap Yesus sendiri sebagai contoh yang memberikan diri-Nya bagi sesama.
Maka dalam pelaksanaan pendidikan, sekolah-sekolah Katolik menanamkan nilai-nilai keutamaan
hidup menjadi manusia bagi sesama dan menanamkan pemahaman dasar akan nilai-nilai tersebut
kepada para siswa. Penerapannya dalam konteks sekolah adalah sebagai berikut:
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 5
Bagi siapa saja yang masuk dalam pendidikan sekolah Katolik memiliki kesempatan untuk
mengalami perjumpaan dengan Yesus Kristus dalam suasana saling menghormati perbedaan
agama dan merayakan dialog antar-agama.
Sekolah-sekolah Katolik perlu mengembangkan para siswa menjadi pribadi yang tumbuh
dewasa dalam komunitas beriman.
Pemangku kebijakan sekolah menanggapi tanggung jawab mereka dalam cara-cara yang
mencerminkan tujuan-tujuan dasar institusi.
Ketiga, Karakteristik ketiga adalah sekolah Katolik haruslah menyatakan secara publik
karakter pendidikan Katolik. Dan yang lebih terpenting adalah para anggota yayasan, guru, staf, dan
pemangku kebijakan lainnya secara terus-menerus mendidik para siswa untuk belajar menghidupi
iman. Penerapan dalam konteks sekolah adalah sebagai berikut:
Setiap sekolah menyatakan secara publik identitas Katolik.
Pengurus yayasan, kepala sekolah, dan anggota sekolah hidup dalam semangat injil.
Anggota sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk menyampaikan secara nyata dan
jujur keyakinan dasar Gereja.
Sekolah mengusahakan relasi kerja sama dengan Keuskupan dan MPK/KOMDIK.
Para siswa didorong untuk secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan komunitas
iman setempat.
Keempat, Karakteristik keempat adalah pendidikan dan formasi. Sekolah-sekolah Katolik
didorong untuk secara khusus memperhatikan para siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan
pemahaman yang benar menjadi manusia dan secara pribadi menyerahkan hidupnya kepada Kristus.
Penerapan dalam konteks sekolah adalah sebagai berikut:
Pengurus yayasan dan kepala sekolah memastikan bahwa program-program pendidikan
bersifat edukatif, formatif dan inovatif.
Sekolah bertanggung jawab terhadap formasi religius para siswa di sekolah dengan menjadi
pribadi-pribadi yang matang, antusias, dan penuh disiplin.
Pengurus yayasan, kepala sekolah, dan para guru merencanakan dan menganggarkan
program-program pendampingan yang mengarah pada formasi spiritualitas keutuhan diri.
Karakteristik Pendidikan Sekolah merupakan prinsip bertindak. Kesulitan-kesulitan yang
khusus dan nyata di dunia pendidikan seperti: sulitnya menerapkan disiplin bagi para siswa, sulitnya
mendengarkan keluhan orang tua, guru, dan masyarakat mengenai keadaan finansial dan
kebutuhan-kebutuhan praktis lainnya.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 6
Pendidikan Katolik dan Keadilan Sosial
Mendidik berarti bertindak adil dalam setiap kebijakan dan keputusan yang dikeluarkan oleh
sekolah. Kebijakan-kebijakan sekolah secara nyata mencerminkan rasa keadilan. Ajaran Sosial
Gereja diterapkan bukan hanya kepada para rekan kerja, namun juga dalam hal perencanaan yang
memberikan pengaruh kebutuhan-kebutuhan sosial-ekonomi komunitas sekelilingnya, terutama
bagi yang miskin dan tidak berdaya. Sekolah perlu mempersiapkan semua siswa untuk
mengarahkan hidup mereka bagi terbangunnya dunia yang lebih adil dan untuk lebih memahami
bagaimana menjadi berguna bagi dan dengan sesama.
Penerapan keadilan secara nyata mencerminkan rasa keadilan dan membangun penghormatan
terhadap hak seseorang, baik bagi para siswa, rekan kerja, orang tua maupun masyarakat sekitar
sekolah. Seluruh anggota sekolah bukan hanya mengajarkan keadilan, melainkan juga bertindak
adil. Sekolah Katolik mengamalkan solidaritas kepada yang kurang mampu dengan memberikan
bantuan finansial bagi yang membutuhkan dan mendidik siswa dari keluarga kurang mampu.
Sekolah perlu memiliki program-program sosial yang memampukan para siswa untuk melayani
sesama. Melalui program-program tersebut, sekolah mendidik para siswa mentransformasi pikiran
dan hati melalui pengalaman Kristus yang menderita dan bangkit.
Pendidian Katolik dalam Relasi dengan sesama
Pendidikan Sekolah Katolik harus memampukan para siswa secara kritis menanggapi nilai-
nilai hidup yang ditawarkan oleh budaya kontemporer, mampu menganalisa dan mengevaluasi
perubahan jaman. Di samping itu semua, pendidikan dan formasi yang ditawarkan di sekolah
melingkupi perhatian kepada ranah-ranah perlindungan hak-hak asasi manusia, konsekuensi saling
ketergantungan, menjaga kehidupan manusia, pengaruh media dalam layanan keadilan, perawatan
lingkungan, dan marginalisasi kemanusiaan.
Pendidikan Sekolah Katolik bertujuan mendidik para siswa untuk memiliki kemauan untuk
bekerja sama dengan orang lain; bekerja sama dengan semua pihak yang berjuang untuk membuat
dunia yang layak untuk dihuni bagi siapa saja. Penerapan dalam konteks sekolah adalah sebagai
berikut. Sekolah perlu mempersiapkan para lulusan untuk mencermati budaya kontemporer yang
hadir dengan hati dan budi, sehingga mencapai kemerdekaan untuk menegakkan keadilan.
Menanggapi Ajaran Sosial Gereja Katolik, Pendidikan sekolah Katolik memampukan para siswa
untuk memiliki kepedulian terhadap ranah-ranah ketidakadilan masyarakat modern dan
mengembangkan solidaritas kepada kaum lemah. Para siswa dimampukan untuk mengenali
penderitaan dan rasa sakit, yang diakibatkan kemiskinan, rasisme, seksisme, dan intoleransi agama
yang terjadi di masyarakat sekitar.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 7
Formasi Diri, Spiritual dan Pengembangan Berkelanjutan
Pengembangan identitas sekolah bergantung kepada pengurus yayasan, kepala sekolah, guru,
staf serta tenaga formasi yang mencukupi tentang karisma pendiri. Konsekuensinya adalah Yayasan
harus melayani para rekan kerja awam dengan memberikan pendampingan spiritual. Di sinilah letak
pentingnya formasi spiritual dan pengembangan berkelanjutan bagi sekolah Katolik. Penerapan
formasi spiritual dan pengembangan berkelanjutan dalam sekolah misalnya :
Pola perekrutan SDM untuk formasi secara spiritual dan profesional.
Sekolah mengembangkan formasi spiritual bagi yayasan, kepala sekolah, guru, dan staf.
Pemimpin sekolah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjamin bahwa pemimpin
sekarang dan masa depan dibentuk melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan.
Pimpinan tarekat/keuskupan memiliki tanggung jawab khusus untuk berpartisipasi dalam
program pengembangan spiritual.
Sekolah berusaha untuk menjadi pusat pendidikan iman dan intelektual bagi para siswa,
alumni, keluarga, dan masyarakat sekitar.
Penerapan formasi spiritual perlu didukung :
Anggota yayasan, kepala sekolah dan wakilnya, serta para guru memiliki sarana dan
kesempatan dan didorong mengalami pengolahan pedagogi dan management tentang diskresi.
Semua orang yang berkarya di ranah pendidikan dan formasi tumbuh dalam kebiasaan dengan
konsep dan tujuan yang dinyatakan dan dijelaskan dalam Karakteristik Pendidikan.
Ilustrasi : Instagram.com/@nadiemmakarim
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 8
BAB II
TATA KELOLA YAYASAN
SEKOLAH KATOLIK KINI – KEDEPAN
Bapa Suci Fransiskus dalam Instrumentum Labores (2015), menegaskan bahwa
Pendidikan Katolik kini kedepan harus terus diperbaharui. Tantangan penataan tata kelola dan
sumberdaya manusia di yayasan Katolik terus perlu diolah dan dikembangkan. Penataan dan
perbaikan ini adalah tuntutan perubahan jaman. Pandemi yang terjadi masih menancapkan luka
yang dalam dan menyingkapkan kerapuhan tata kelola berbagai bidang usaha. Dunia pendidikan
salah satu yang kena dampak dari kondisi pandemi ini. Apakah sekolah kita hanya mau meratapi
dan menyerah kalah atau memandangnya sebagai pijakan untuk bergerak, berbenah agar berbuah?
Menghadapi gerak perubahan ini para pelaku pendidikan diundang oleh realitas jaman untuk
menumbuhkan semangat gerak yang kreatif dan terbarukan. Gerak perubahan kini ke depan
membutuhkan perencanaan tata kelola kedalaman merasa, ketajaman berpikir dan keberanian untuk
membangun langkah yang solutif. Pandemi, membuka ruang kreativitas pembelajaran dari ruang
manual menjadi ruang virtual. Bahkan penguasaan kemampuan teknologi dianggap satu-satunya
keberhasilan dalam proses pembelajaran saat ini. Apakah memang demikian atau ada ruang
kebebasan lain yang perlu dibenahi?
Belum lagi tindak kekerasan dan perundungan secara verbal maupun fisik yang terjadi
dalam dunia remaja menjadi berita biasa masyarakat modern. Pelestarian lingkungan juga menjadi
target utama pendidikan generasi muda. Radikalisme agama dan kondisi pandemi menjadi
tantangan tersendiri bagi pendidikan. Tantangan terakhir yang muncul adalah campur tangan
pemerintah dalam kebijakan pendidikan.
Tata kelola di yayasan disusun untuk memastikan bahwa pendidikan sungguh sanggup
menjawab tantangan-tantangan tersebut. Karakteristik pendidikan memastikan sekolah dikelola
dengan baik. Tata kelola yang baik dalam ilmu manajemen disebut sebagai Good Institutional
Governance (GIG). Berikut ini tata kelola yang baik dalam sudut pandang ilmu manajemen dan
mendasarkan prinsipnya pada karakteristik pendidikan.
Prinsip dan Tujuan Tata Kelola sebagai Good Institutional Governance (GIG)
Sebagai sebuah institusi yang secara universal dapat dinyatakan baik (Good Institutional
Governance), maka sekolah Katolik harus menerapkan beberapa prinsip berikut: keterbukaan,
akuntabilitas, pertanggungjawaban, kemandirian, kewajaran, kecerdasan, dan kerohanian.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 9
1. Keterbukaan (transparency) adalah kelengkapan informasi dalam proses pengambilan
keputusan, dalam pengungkapan dan penyediaan informasi yang relevan mengenai institusi
yang mudah diakses oleh pemangku kepentingan.
2. Akuntabilitas (accountability) adalah kejelasan fungsi dan pelaksanaan
pertanggungjawaban organ institusi sehingga kinerja institusi dapat berjalan secara
transparan, wajar, efektif, dan efisien.
3. Pertanggungjawaban (responsibility) adalah kesesuaian pengelolaan institusi dengan
peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan dan organisasi, kode etik, dan standar
penyelenggaraan pendidikan yang sehat.
4. Kemandirian (independency) adalah keadaan isntitusi yang dikelola secara mandiri dan
profesional serta bebas dari benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak
mana pun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kode etik.
5. Kesetaraan dan kewajaran (fairness) adalah keseimbangan dan keadilan di dalam
memenuhi hal-hal yang terkait dengan pemangku kepentingan yang timbul berdasarkan
perjanjian, peraturan perundang-undangan, dan kode etik serta standar penyelenggaraan
pendidikan yang sehat.
6. Kecerdasan (ingenuity) adalah keadaan institusi yang mampu mengolah diri, beradaptasi
dan fleksibel dengan perubahan-perubahan yang terjadi dan memiliki semangat inovasi
dalam menanggapi tantangan zaman.
7. Kerohanian (spirituality) adalah semangat yang mendasari sebuah institusi untuk
melakukan pengelolaan.
Tujuan tata kelola di sekolah terutama adalah kepastian berlangsungnya pendidikan sesuai
dengan karakteristik pendidikan sekolah. Secara ilmu manajemen, beberapa hal berikut menjadi
tujuan tata kelola sebuah institusi yang baik.
1. Mengoptimalkan nilai institusi bagi pemangku kepentingan khususnya para peserta didik
yang berhak memperoleh manfaat.
2. Meningkatkan pengelolaan secara profesional, transparan, efektif, dan efisien.
3. Meningkatkan kepatuhan institusi pendidikan agar dalam membuat keputusan dan
menjalankan tindakan dilandasi pada etika yang tinggi, peraturan perundang-udangan yang
berlaku, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial institusi terhadap pemangku
kepentingan maupun kelestarian lingkungan.
4. Memurnikan setiap proses pengajaran dan pembelajaran yang dijiwai oleh nilai-nilai
gerejani dan nilai-nilai dasar sekolah (spirit pendiri).
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 10
5. Menjalankan tindakan yang berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika secara
konsisten.
Struktur Tata Kelola sebagai Good Institutional Governance (GIG)
Tata kelola institusi yang baik adalah struktur dan proses yang digunakan dan diterapkan oleh
organ institusi untuk meningkatkan pencapaian sasaran hasil karya dan mengoptimalkan nilai
institusi bagi seluruh pemangku kepentingan. Sekolah merupakan suatu organ institusional
pendidikan yang memiliki berbagai subsistem yang saling berkaitan. Dalam sebuah tata kelola
terdapat dua subsistem utama yang dibedakan sesuai dengan struktur dan fungsinya. Dua subsistem
tersebut adalah Manajerial dan Manajemen Operasional.
A. Tata Kelola Manajerial
Organ isntitusi yang termasuk dalam Tata Kelola Manajemen Atas (selanjutnya disingkat MA)
adalah Dewan Pembina, Dewan Pengawas, dan Dewan Pengurus. Institusi memiliki kewajiban
memberikan pelayanan kepada pemangku kepentingan (stakeholders) baik secara langsung maupun
tidak langsung. Manajemen Tingkat Atas bertanggung jawab terhadap penyusunan visi dan misi,
pelaksanaan pedagogi, menjaga nilai-nilai dan keyakinan institusi, serta penyusunan rencana-
rencana strategis jangka panjang.
GIG AT MANAGEMENT LEVEL – BUILDING UP PILLARS
(MANAJEMEN TINGKAT ATAS)
MISI-VISI
PEDAGOGI PEMBELAJARAN
NIANILAI-NILAI DAN KEYAKINAN INSTITUSI
STRATEGI JANGKA PANJANG
B. Tata Kelola Manajemen Operasional
Manajemen Operasional (selanjutnya disingkat MO) terdiri dari Kepala Sekolah, Pendidik,
dan Tenaga Kependidikan. Keterkaitan antara visi dan misi dengan seluruh aspek operasional
dan karakteristik sekolah tidak terpisahkan satu sama lain. Oleh karena itu, visi dan misi institusi
harus dipahami oleh mereka yang terlibat dalam kegiatan operasional institusi dari MA hingga
MO. Pada tingkat MO, prinsip-prinsip tata kelola amat perlu diperhatikan. Penanganan secara
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 11
profesional, transparansi, independensi, kesetaraan/kewajaran, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, kerja sama, komitmen, dan kode etik (code of conduct) adalah prinsipnya.
GIG AT OPERATIONAL LEVEL- BUILDING UP PILLARS
(MANAJEMEN OPERASIONAL)
PENANGANAN SECARA PROFESIONAL
TRANSPARANSI, INDEPENDENSI, KESETARAAN/KEWAJARAN
AKUNTABILITAS, PERTANGGUNGJAWABAN
KERJA SAMA
KOMITMEN
KODE ETIK
C. Kemitraan dengan Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud adalah komite sekolah, orang tua, pemerhati pendidikan, dan
donatur yang turut mendukung berkembangnya pendidikan sekolah Katolik. Kemitraan
dengan stakeholder menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan masyarakat pada
sekolah, dan mampu memberdayakan sekolah Katolik dalam need assessment bagi
pengembangan sekolah baik sumber daya manusia maupun pengembangan sarana prasarana
pendukung sekolah.
Ilustrasi : http://bit.ly/3E5X4Lw
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 12
BAB III
TATA KELOLA MANAJERIAL
Penerapan tata kelola di tingkat MA dijabarkan dalam tugas dan tanggung jawab Dewan
Pembina, Dewan Pengawas, dan Dewan Pengurus yang intinya telah diuraikan dalam Akte Yayasan
dan prinsip-prinsipnya dalam Karakteristik Pendidikan. Yayasan sebagai pemangku kebijakan
menyetujui dan mengembangkan pernyataan misi sekolah dan menyampaikannya kepada
komunitas sekolah. Perekrutan tenaga sumber daya manusia, termasuk pemilihan anggota yayasan
haruslah mengacu pada misi sekolah. Yayasan harus memastikan pelaksanaan misi melalui
pengamatan dan evaluasi berkala.
Pembina dan Pengawas Yayasan
Pembina dan Pengawas Yayasan merupakan pengambil puncak kebijakan dalam tata kelola
manajerial. Tata kelola Pembina dan Pengawas Yayasan yang merupakan manajerial mencakup
beberapa hal berikut.
1.Perumusan visi dan misi, atau bila institusi sudah memiliki, mengadakan pemeriksaan
kembali dan penyempurnaan bilamana perlu.
2.Perumusan nilai-nilai institusi yang kemudian dijabarkan menjadi kode etik (code of conduct)
dan menjadi ciri pokok budaya institusi.
3.Perumusan rencana induk jangka panjang yang akan menjadi dasar perumusan rencana kerja
dan anggaran pendapatan dan biaya tahunan.
4.Pembentukan perwakilan formal. Dalam melaksanakan perumusan tersebut diperlukan
keterlibatan semua anggota MA dan MO, yang oleh karena jumlah anggota maupun oleh
kesulitan kehadirannya bisa dibentuk perwakilan formal dari tingkatan yang sesuai, dengan
tujuan: memastikan adanya komitmen dari setiap tingkat dalam mewujudkan apa yang telah
dirumuskan; dan memperoleh pengesahan atas persetujuan dari para anggota MA maupun MO
atas setiap rumusan yang ditetapkan.
Dewan Pengurus Yayasan
Dewan Pengurus Yayasan menjadi anggota MA terdekat dengan MO. Sesuai dengan prinsip
tata kelola, tugas dan tanggung jawab Dewan Pengurus adalah sebagai berikut.
1. Menjamin pengambilan keputusan yang efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak
secara independen, tidak mempunyai kepentingan yang dapat mengganggu
kemampuannya untuk melaksanakan tugas secara mandiri dan kritis.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 13
2. Melaksanakan tugas pengawasan dan pemberian nasehat kepada institusi
operasionalnya.
3. Mengawasi institusi operasional dalam menjaga keseimbangan kepentingan semua
pihak, terlebih pihak yang berhak memperoleh manfaat.
4. Memantau efektivitas penerapan tata kelola institusi yang baik.
5. Berhak memperoleh informasi dari institusi operasionalnya mengenai kegiatan institusi
secara tepat waktu dan lengkap.
6. Dalam rangka mendukung tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Pengurus berhak
membentuk komite untuk membantu pelaksanaan program-program dan pengembangan
institusi dengan menggunakan tenaga baik dari dalam maupun luar yayasan.
Penyelenggaraan Rapat
Dalam rangka mendukung tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Pengurus wajib
menyelenggarakan rapat yang diatur sebagai berikut.
1. Menyelenggarakan rapat paling sedikit 6 kali dalam satu tahun.
2. Menuangkan risalah dalam rapat dan mendokumentasikan dengan baik.
3. Mencantumkan secara jelas dalam risalah rapat disertai alasan perbedaan pendapat
tersebut bila terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinion).
4. Memberikan salinan risalah rapat kepada setiap anggota dewan baik yang hadir maupun
yang tidak hadir.
5. Mencantumkan jumlah rapat yang telah diselenggarakan dan jumlah kehadiran para
anggota dewan dalam laporan hasil penilaian sendiri atas penerapan tata kelola institusi
yang baik.
Formasi Spiritual dan Pengembangan Berkelanjutan
Tingkat Manajerial berkewajiban menjaga dan mengembangkan identitas sekolah melalui
formasi spiritual yang mencakupi tentang kharisma dan misi sekolah. Pola perekrutan SDM dan
formasi tenaga kerja secara spiritual berkelanjutan. Pengembangan formasi spiritual ini dapat
dilakukan bersama dan per unit sekolah. Maka waktu pengolahan rohani dan keterlibatan dalam
retret, rekoleksi, dan olah rohani lain menjadi sarana formasi spiritual perlu dilakukan.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 14
BAB IV
TATA KELOLA MANAJEMEN OPERASIONAL
Manajemen operasional terdiri dari Kepala Sekolah dan seluruh jajaran di sekolah tersebut,
seperti para Wakil Kepala Sekolah, para wakil di bidang-bidang tertentu, para pendidik, dan tenaga
kependidikan. Adapun kelima prinsip tata kelola yang dipaparkan pada tingkat MA merupakan
prinsip yang juga harus diterapkan dan tetap berlaku bagi MO dalam mengatur kegiatan operasional
sekolah. Tata kelola sekolah merupakan proses yang integratif antara MA dan MO yang harus
dilaksanakan secara bersama sehingga karya pendidikan merupakan sebuah proses kebersamaan.
Hal ini perlu diperkuat agar keputusan MA dan pelaksanaan MO bisa linear sejalan dan bergerak
untuk mewujudkan pembelajaran. Tata kelola di tingkat MO lebih mengacu pada seluruh struktur,
sistem serta proses pengajaran dan pembelajaran yang pada dasarnya mencakup hal-hal berikut ini.
1. Tugas dan kewajiban Kepala Sekolah.
2. Tata Kelola investasi.
3. Pengendalian internal.
4. Pengendalian eksternal.
5. Keterbukaan informasi.
6. Tata kelola lingkungan, Kesehatan, dan keselamatan kerja,
7. Kode etik dalam berkarya.
A. Kepala Sekolah dan Staf
Tata kelola sekolah dalam MO menjadi tugas dan tanggung jawab utama kepala sekolah
yang harus memastikan seluruh tugas dan kewajibannya dilaksanakan secara konsisten. Seorang
kepala sekolah mempunyai kewajiban sebagai berikut ini.
1. Menjamin pengambilan keputusan yang efektif, tepat dan cepat serta dapat bertindak secara
independen, tidak mempunyai kepentingan yang dapat mengganggu kemampuannya untuk
melaksanakan tugas secara mandiri dan kritis.
2. Mematuhi perundangan, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, kebijakan Gereja
maupun standar operasional prosedur institusi dalam melaksanakan tugasnya.
3. Mengelola sekolah sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya.
4. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada Dewan Pengurus Yayasan.
5. Berupaya memastikan agar sekolah memperhatikan kepentingan semua pihak (diknas)
khususnya kepentingan peserta didik dan pihak yang berhak memperoleh manfaat.
6. Memastikan agar informasi mengenai sekolah diberikan kepada Dewan Pengurus Yayasan.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 15
Selain itu, kepala sekolah dan para wakilnya dilarang untuk melakukan hal-hal berikut.
Melakukan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan dengan kegiatan sekolah.
Memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan/atau pihak lain yang dapat
merugikan atau mengurangi kemanfaatan pribadi dari sekolah. Mengambil dan/atau menerima
keuntungan pribadi dari sekolah selain remunerasi dan fasilitas yang ditetapkan berdasarkan
keputusan Yayasan.
B. Investasi
Dalam hal tata kelola investasi, Kepala Sekolah wajib menyusun kebijakan dan strategi
investasi maupun divestasi secara tertulis. Ketaatan terhadap kebijakan dan strategi ini
dievaluasi dan dilaporkan kepada Yayasan secara berkala setiap triwulan. Kebijakan dan
strategi sebagaimana dimaksud tersebut wajib memenuhi beberapa hal berikut ini.
1. Ditetapkan berdasarkan Rencana Tahunan yang sudah disetujui oleh Dewan Pembina.
2. Disosialisasikan di tingkat sekolah.
3. Dicantumkan dalam Rencana Kerja Tahunan.
4. Memuat tujuan investasi.
5. Mencantumkan tingkat hasil investasi.
6. Menetapkan wewenang pemanfaatan investasi.
C. Pengendalian Internal
Dewan pengurus wajib menetapkan pengendalian internal yang efektif dan efisien
untuk memberikan keyakinan yang memadai dalam rangka tercapainya tujuan sekolah.
Pengendalian internal adalah tindakan untuk mengetahui perkembangan kegiatan sekolah
pada setiap tingkat dan unit dalam struktur organisasi sekolah, antara lain mengenai
kewenangan, otorisasi, verifikasi, rekonsiliasi, penilaian prestasi kerja, pembagian tugas,
dan keamanan terhadap aset sekolah.
Pengendalian internal sedikitnya mencakup hal-hal sebagai berikut ini. 1). Sistem
informasi dan komunikasi dalam penyajian operasional, finansial, dan ketaatan atas ketentuan
dan peraturan yang berlaku di Institusi Pendidikan. 2). Tata cara monitoring terhadap kualitas
sistem pengendalian internal termasuk fungsi internal audit pada tingkat dan unit struktur
organisasi sekolah.
D. Pengendalian Eksternal
Auditor eksternal yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus wajib menyertakan kesanggupan
yang ditandatanganinya, bertindak bebas dari pengaruh pejabat di Yayasan maupun institusi
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 16
operasionalnya. Sekolah wajib menyediakan semua cacatan dan data penunjang sehingga
memungkinkan auditor eksternal memberikan pendapat tentang kewajaran, ketaat-azasan dan
kesesuaian laporan keuangan institusi pendidikan dengan standar audit yang berlaku.
E. Keterbukaan Informasi
Keterbukaan informasi menjadi prinsip penting dalam tata kelola institusi yang baik.
Dalam dunia pendidikan, sekolah wajib mengungkapkan informasi kepada Dewan Pembina
melalui Dewan Pengawas mengenai hal-hal penting, paling sedikit tentang beberapa hal berikut
ini.
1. Tujuan, arah sekolah, dan strategi pencapaiannya.
2. Keadaan aset dan keuangan sekolah.
3. Informasi material tentang penilaian sekolah atas iklim kerja dan dampaknya
terhadap sekolah.
4. Informasi penting yang dimaksud di atas dicantumkan dalam laporan keuangan
tahunan.
F. Tata Kelola Lingkungan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja
Sekolah wajib berupaya memastikan bahwa aset dan lokasi kerja serta fasilitas sekolah
memenuhi peraturan perundang-undangan di bidang pelestarian lingkungan, kesehatan dan
keselamatan kerja. Sekolah juga wajib memastikan kerja sama dengan lembaga lain yang
terkait dengan tujuan sekolah.
G. Kode Etik dalam Berkarya
Sekolah terikat dengan kode etik dalam karya seperti beberapa hal berikut ini. 1).
Memberikan donasi hanya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
dan tidak mengganggu kesehatan keuangan sekolah. 2). Semua pejabat dan anggota yayasan
dan sekolah dilarang menawarkan atau memberikan sesuatu, baik langsung atau tidak langsung,
kepada pihak lain untuk mempengaruhi pengambilan keputusan yang terkait dengan transaksi
pengajaran dan pembelajaran. 3). Semua pejabat dan anggota yayasan dan sekolah dilarang
menerima sesuatu untuk kepentingannya, baik langsung maupun tidak langsung dari siapa pun
yang dapat mempengaruhi keputusan yang terkait dengan transaksi pengajaran dan
pembelajaran.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 17
H. Formasi Spiritual dan Pengembangan Berkelanjutan
Dalam tingkat MO, kepala sekolah dan staf, terikat juga pada pengembangan formasi
spiritual seperti pada tingkat MA. MO sebagai pelaksana kebijakan yang ditetapkan oleh MA,
perlu memastikan bahwa anggota komunitas di sekolah mendapatkan rencana pengembangan
dan pendampingan spiritual. Kepala sekolah memastikan bahwa program-program pendidikan
religiusitas dan kurikulum bersifat formatif dan menantang. Kepala sekolah merencanakan dan
menganggarkan program-program pendampingan yang mengarah pada formasi spiritual siswa
seperti retret, rekoleksi, perayaan-perayaan liturgis, dan bimbingan rohani lain.
Program-program formasi spiritual tidak hanya direncanakan oleh MO untuk para siswa,
namun juga untuk pengembangan berkelanjutan bagi diri mereka sendiri. MO menjadi orang-
orang yang bertanggung jawab terhadap formasi religius para siswa. Dengan demikian, mereka
adalah pribadi-pribadi matang, antusias, dan penuh disiplin yang perlu terlebih dahulu
mengalami retret tahunan, rekoleksi, perayaan-perayaan liturgis, dan bimbingan rahani.
Dok.Komdik KWI/Pengolahan Karakter Guru (Toraja)
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 18
BAB V
PENYUSUNAN INSTRUMEN TATA KELOLA
Tata kelola yang baik (Good Institutional Governance) selain terdiri dari struktur MA dan
MO juga terdiri dari instrumen praktis pelaksanaannya. Berikut ini instrumen-instrumen yang
dibutuhkan dalam tata kelola yayasan dan sekolah:
Penyusunan Visi dan Misi, Nilai-Nilai, dan Kode Etik (Code of Conduct)
Sekolah harus merumuskan secara eksplisit: 1). Visi atau suatu keadaan yang ingin dicapai
di masa yang akan datang; dan 2). Misi atau strategi utama apa yang ditetapkan untuk mencapai visi
dan yang merupakan alasan utama mengapa sekolah mencita-citakan keadaan masa depan itu.
Untuk itu pertanyaan-pertanyaan berikut ini perlu dijawab dan dianalisis secara mendalam.
1. Mengenai Sekolah:
a. Apa tujuan yang ingin dicapai institusi (institutional goals);
b. Apa falsafah atau semangat dasarnya?
c. Siapakah yang harus dilayani? Bagaimana sejarahnya bila ada, dan mengapa?
d. Apa yang menjadi kebutuhan mereka, jangka pendek, jangka menengah, jangka
panjang?
e. Bagaimana kebutuhan tersebut dapat dipenuhi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menjadi pedoman atau pegangan agar dalam
perjalanan institusi tidak menyeleweng dari visi institusi.
2. Untuk merumuskan tujuan organisasi (corporate golas), atau apa yang ingin dicapai,
sekolah perlu merumuskan pula:
a. Tujuan primer jangka panjang? Jangka menengah? Jangka pendek?
b. Apa tujuan sekundernya?
c. Apa yang melatarbelakangi tujuan tersebut ?
3. Setiap institusi selalu dilingkupi oleh pihak-pihak yang berkepentingan atau istilah umum
adalah stakeholders. Institusi pendidikan memiliki stakeholders, misalnya keuskupan, umat,
siswa, tarekat; maupun yang di dalam seperti anggota institusi dan karyawan yang bisa
terkena dampak dari karya institusi tersebut. Seluruh stakeholders perlu dianalisis
dampaknya melalui tahap seperti berikut:
a. Siapa saja stakeholders institusi pendidikan?
b. Apakah kepentingan dan minat mereka?
c. Tuntutan seperti apakah yang mungkin akan berdampak pada institusi?
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 19
d. Stakeholders mana yang paling utama dan terpenting dari perspektif sekolah?
e. Dampak apa yang dianggap cukup strategis dari adanya stakeholders?
f. Apa program yang dikembangkan untuk memperkuat kerja sama dengan stakeholders ?
Sekolah yang sudah memiliki atau merumuskan visi dan misinya dianjurkan untuk
meninjau kembali visi dan misi yang dimilikinya dengan mencoba menjawab pertanyaan-
pertanyaan di atas. MA maupun MO perlu mencoba menjawab setiap pertanyaan di atas satu per
satu hingga yang terakhir. Kumpulan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dipilah-
pilah dan ditetapkan atau dipilih sebagai misi yang harus dijalankan oleh institusi pendidikan dan
kemudian ditinjau ulang dan diputuskan oleh Dewan Pembina, Dewan Pengawas, dan Dewan
Pengurus Yayasan.
Hasil dari tahap ini merupakan landasan utama untuk membantu merumuskan strategi
karya sekolah yang lebih konkret, misalnya dengan mengadakan berbagai analisis seperti:
analisis atas keadaan internal (kelemahan, kekuatan, dan kompetensinya), analisis atas
keadaan eksternal (kelemahan, kekuatan, peluang, dan acaman), analisis kebutuhan sekolah,
dan analisis strategi operasional.
Perumusan nilai-nilai yang diangap penting oleh sekolah dapat dilakukan dengan
mengikuti tahap-tahap tertentu. Berdirinya sekolah sebagai sebuah organisasi mempunyai
falsafah dasar yang telah ditanamkan oleh Sang Pendiri yang dijadikan semboyan hidup.
Falsafah dasar ini dijabarkan dalam nilai-nilai yang tidak hanya perlu dihayati melainkan juga
dihidupi dan diwujudnyatakan dalam perilaku kehidupan sehari-hari dari setiap anggotanya.
Rumusan nilai-nilai yang dimaksudkan untuk menjiwai setiap perilaku para anggotanya dan
dijadikan spirit dalam gerak kode etik (code of conduct) atau Budaya Institusi. Untuk
menghidupkan code of conduct ini, sekolah perlu mensosialisasikan nilai-nilai spirit sebagai
semboyan harian sepanjang tahun sehingga dapat meresap dalam kesadaran dan perilaku.
A. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sekolah
Dengan telah ditetapkannya visi dan misi sekolah, Manajemen Operasional dapat
memulai menyusun Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS), Rencana Strategis Jangka
Menengah (RSJM), Rencana Kerja yang dilengkapi dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan
Biaya (RAPB). Rencana-rencana ini dilakukan dengan memakai dan berdasarkan hasil dari
analisis internal, analisis eksternal, analisis stakeholder sekolah, dan analisis kebutuhan sekolah.
Rencana Strategis Jangka Menengah merupakan penjabaran dari RIPS untuk jangka
waktu lima tahun (RSJM). Rencana Induk Pengembangan Sekolah memuat program jangka
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 20
panjang antara 10 dan 20 tahun yang tidak dapat dicapai dalam waktu singkat atau yang
memerlukan usaha bertahap dan berjangka panjang.
Di dalam RSJM ini paling sedikit memuat:
1. Evaluasi hasil pelaksanaan RIPS yang telah lalu;
2. Asumsi yang dipakai dalam penyusunan RIJM
3. Penetapan sasaran, strategi, kebijakan dan program kerja beserta keterkaitannya dengan
RIPS.
Sedangkan Rencana Kerja (RK) adalah penjabaran dari RSJM yang disusun sebagai Rencana
Kerja Tahunan. Baik RSJM maupun RK harus dilengkapi dengan perkiraan pendapatan dan
perkiraan belanja yang disingkat RAPB. RAPB yang dicantumkan dalam RK memuat:
1. Rencana Kerja yang memuat pokok-pokok misi yang dipilih untuk dilaksanakan pada
tahun yang bersangkutan, program dari setiap pokok misi yang terdiri dari: apa saja yang
akan dilaksanakan pada tahun yang bersangkutan, kebijakan kerja untuk memastikan
terlaksananya program;
2. Proyeksi keuangan berupa pendapatan yang dapat dihasilkan untuk setiap program pada
tahun yang bersangkutan; dan
3. Proyeksi biaya yang diperlukan untuk menjalankan Rencana Kerja pada tahun yang
bersangkutan.
Untuk memastikan diterapkannya Prinsip Tata Kelola secara konsisten, sekolah perlu melakukan
penilaian diri (self assessment) atas penerapan Tata Kelola Institusi yang baik. Kewajiban tersebut
dituangkan dalam bentuk laporan tahunan hasil penilaian diri.
B. Penyusunan Rencana Jangka Panjang
Untuk menyusun Rencana Strategis berjangka panjang, diperlukan suatu analisis yang
mendalam agar sekolah memperoleh gambaran tentang apa yang sebaiknya menjadi strategi jangka
panjang selaras dengan visi dan misi yang telah ditetapkan. Analisis pertama adalah Analisis
Internal (lihat Lampiran A: Analisis Internal) yang intinya adalah untuk menelaah apakah sekolah
memiliki Distinctive Competence, mempunyai nilai tambah yang dapat menarik peminat dan
menelaah apakah proses pendidikan dan pembelajaran merupakan kekuatan atau kelemahan bagi
sekolah kita. Sekolah harus bisa merumuskan nilai tambah dengan menerapkan biaya rendah, atau
menciptakan perbedaan yang khas yang berbeda dari sekolah lain. Kekuatan dalam memberikan
pembelajaran dan pendampingan dalam proses pendidikan merupakan nilai tambah, atau
karakteristik yang khas, nilai-nilai keutamaan dan karakter yang diperjuangkan yang dapat menjadi
alat bantu untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 21
Analisis kedua adalah Analisis Eksternal (lihat Lampiran B: Analisis Eksternal). Sebuah
Institusi Pendidkan dapat berhasil dalam karya apabila strategi karyanya konsisten dengan
lingkungan eksternal, karena model untuk mengenal lingkungan dapat memberikan gambaran
tentang peluang dan ancaman dalam karyanya.
Ada empat lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap rumusan strategi karya:
1). Masuknya karya atau pelayanan pendidikan dalam persaingan;
2). Kekuatan persaingan dalam karya pendidikan yang sudah ada;
3). Kekuatan daya tawar para pengguna pelayanan atau karya pendidikan;
4). Tantangan dan peluang dari karya pendidikan dari luar gereja.
Organisasi yang menjalankan karya pendidikan yang sama dengan yang kita jalankan adalah
pesaing yang belum tentu menyaingi tetapi mempunyai kemampuan untuk menyaingi. Kekuatan
untuk bersaing ini terletak pada sulit atau mudahnya karya pendidikan yang ditentukan oleh:
loyalitas terhadap nama sekolah (atau populernya disebut brand), keunggulan dalam biaya, dan
jumlah institusi yang menangani.
Kekuatan persaingan yang terungkapkan dengan istilah rivalitas sangat tergantung dari
kondisi permintaan (demand) dan sukar tidaknya masuk atau keluar dari persaingan. Pengguna
karya pendidikan kita dapat merupakan ancaman bila menuntut harga murah, kualitas tinggi atau
pelayanan baik.
Adapun tantangan terhadap sekolah kita terpusat pada karya pendidikan yang dijalankan
oleh “kelompok strategis” yaitu:
1. Institusi pendidikan yang memilih melayani pasar berskala rendah tetapi dalam skala
ekonomi yang besar karena yang dicari adalah harga murah;
2. Institusi pendidikan yang mengejar segmen yang lebih tinggi yang lebih mementingkan
kualitas, kemewahan, performa yang istimewa daripada harga;
3. Institusi pendidikan yang menjalankan karyanya untuk segmen pasar yang lebih besar.
Bila mengadakan analisis stakeholders sekolah (lihat Lampiran C: stakeholders sekolah) fokus
kita adalah pada:
1). Kebutuhan apa yang diperlukan stakeholders yang ingin kita penuhi;
2). Kelompok stakeholders mana yang akan kita layani;
3). Bagaimana kebutuhan mereka kita penuhi.
4). Program penguatan kerja sama dengan stakeholders sekolah.
Segmen pasar yang kita pilih merupakan cara kita untuk menetapkan Distinctive Competence
apa yang menjadi karakteristik pendidikan yang mereka pilih sehingga kita memperoleh
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 22
keuntungan kompetitif. Pilihan pertama adalah keunggulan biaya yang dapat berarti produk
pendidikan yang dipilih oleh pasar masih bisa dilaksanakan dengan biaya rendah, pelayanan yang
unik, dan kualitas pendidikan yang tinggi.
Persaingan juga dapat difokuskan pada kebutuhan stakeholders tertentu yang ingin kita layani.
Fokus semacam ini dapat menciptakan karakteristik pendidikan yang lebih berkualitas, karena
sekolah memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang stakeholders ini. Strategi ini terkait
dengan berapa banyak sumber daya, baik keuangan maupun tenaga kerja, dan tipe investasi yang
dimaksudkan untuk mencapai keuntungan kompetitif.
Analisis kebutuhan sekolah (need assessment) sangat penting dalam proses perencanaan
jangka panjang sekolah, meliputi :
1. Analisis konteks dan perkembangan jaman, serta perkembangan pendidikan
2. Kebutuhan sumber daya manusia sebagai aset sekolah
3. Kebutuhan sarana prasarana pendukung sekolah
4. Analisis program pengembangan SDM dan infrastruktur sekolah
5. Analisis program penguatan kompetensi dan karakter sekolah
C. Monitoring Rencana Strategis
Tujuan dari monitoring tata kelola sekolah adalah untuk memastikan rencana strategis
(renstra) berjalan dengan efektif dan terukur. Hasil dari monitoring tata kelola sekolah menjadi
landasan penyusunan rencana strategis, revisi rencana kerja maupun penyusunan action plan yang
baru.
Dok.Komdik KWI/Pengolahan Karakter Guru (Toraja)
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 23
BAB VI
KESIMPULAN
Pengembangan manajemen sekolah yang utama adalah melakukan tata kelola
organisasi. Tata kelola yang dimaksud adalah menata, mengatur, mengolah, dan memanage segala
aturan main yang berkaitan dengan kebijakan sekolah. Penerapan tata kelola menjadi mutlak
diperlukan yang sejalan dengan pengaktualisasian manajemen sekolah. Penerapan tata kelola
sejalan manajemen sekolah yang mengutamakan arti penting dari prinsip tata kelola. Menurut
UNDP (2000) ada empat prinsip yang umum diterapkan dalam tata kelola organisasi yang baik.
Keempat prinsip tata kelola tersebut adalah transparansi, partisipasi, akuntabilitas dan
koordinasi.
Dari uraian di atas Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) akan terus
hadir berkomitmen untuk mengolah prinsip-prinsip Tata Kelola Sekolah dengan praktik pelayanan
dalam karya pendidikan yang unggul berkualitas. Tata kelola juga memuat keharusan penyesuaian
dengan manajemen umum yang intinya adalah menentukan cita-cita institusi yang terumuskan
dalam visi misi dan budaya sekolah yang ingin dihidupkan dalam institusi, strategi apa yang
diperlukan untuk merealisasikan cita-cita itu baik dalam kerangka pengembangan institusi dengan
rencana jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Keputusan untuk menentukan langkah-langkah untuk merealisasikan cita-cita tersebut
harus didasari dengan analisis yang mendalam baik internal, eksternal, analisis stakeholder sekolah,
dan analisis kebutuhan sekolah, karena institusi pendidikan yang kita cita-citakan, didirikan,
dibesarkan, dan dikembangkan dalam arena persaingan yang semakin keras maupun di masyarakat
yang semakin berkembang. Besar harapan kami agar uraian Tata Kelola Sekolah ini berguna untuk
mengembangkan misi pewartaan Pendidikan Katolik untuk menghadirkan sukacita di bumi
Indonesia.
Dok. Komdik KWI/Guru Inspiratif
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 24
SUMBER REFERENSI UTAMA
Tata Kelola Pengembangan Pendidikan Sekolah Jesuit, ASJI.
Mendidik di Masa Kini dan Masa Depan : Semangat yang Diperbaharui, Instrumentum
Laboris,7 April 2014. Dokpen.KWI.2016
Jalan Baru Kepemimpinan dan Pendidikan, Haryatmoko, Gramedia.2020.
Keban, 2010. Pendidikan dan Pembelajaran Modern dan Konvensional. Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Stonner, R,J, 2012. Assessing Students Outcomes. Performance Assessment Using the
Dimensions of learning Model. Alexandria: ASCD Publications.
Aktualisasi Nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja dalam Pendidikan Katolik Indonesia, Rapat
Pleno Komdik.KWI.2018.
Mewujudkan Identitas dan Karakteristik Pendidikan Katolik Melalui Penyeleggaraan
Pendidikan Yang Berkualitas. Komdik.KWI.Yogyakarta.2017
Ilustrasi : http://bit.ly/3E5XXnk
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 25
LAMPIRAN
INSTRUMEN MONITORING TATA KELOLA SEKOLAH
No Pertanyaan Ya, Penjelasan atau penjabaran
Ragu
Belum
1 Apakah rencana strategis sudah dijabarkan
dalam program tahunan (action plan)?
2 Apabila belum dijabarkan, apakah harus
dilakukan sekarang, ditunda atau direvisi?
3 Apakah setiap perencanaan dalam action
plan sudah terlaksana?
4 Apakah sudah ditunjuk pelaksana dalam
setiap rencana action plan?
5 Apakah sudah ada rumusan dalam action
plan yang dijalankan?
6 Apakah sudah dirumuskan bagaimana
melaporkan hasilnya?
7 Apakah dalam pelaksanaannya tercantum
secara difinitif target yang harus dicapai?
Bagaimana cara melaporkannya?
8 Apabila terjadi hambatan dalam
pelaksanaannya, bagaimana hal tersebut
terjadi? Bagaimana mencari jalan
keluarnya?
9 Apakah sudah dapat diketahui potential
problem sebelumnya?
10 Apakah sudah dirumuskan secara definitif
jalan keluar dalam setiap potential problem
untuk memastikan sasaran maupun
tindakan yang dapat dilaksanakan?
No Struktur/fungsi Indikator Ya Tidak
1 Manajemen Atas
Mengesahkan Rencana Induk Pengembangan
Pembina Sekolah
Mengesahkan Visi, Misi dan Nilai-nilai
Dewan Pengawas Institusi
Memberikan persetujuan Rencana Kerja
Anggaran Tahunan
Memberikan persetujuan realisasi Rencana
Kerja Anggaran Tahunan
Melaksanakan pengangkatan / pemberhentian
Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus
Memberikan koreksi / saran dalam penyusunan
visi, Misi dan Nilai-nilai Institusi
Memberikan koreksi / saran Rencana Kerja
Anggaran Tahunan Dewan Pengurus
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 26
Dewan Pengurus Memberikan koreksi / saran realisasi Rencana
Kerja Anggaran Tahunan Dewan Pengurus
Kantor Yayasan Menyusun Rencana Induk Pengembangan
Sekolah dan Rencana Strategis Jangka Panjang,
Aturan Menengah dan Pendek
Kepegawaian Menyetujui Rencana Kerja dan anggaran
Rumusan Visi, tahunan
Misi, dan Nilai- Menyetujui realisasi rencana kerja dan
nilai Institusi anggaran tahunan
Mengadakan evaluasi tahunan mengenai tata
kelola institusi
Mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan
memberikan saran kepada manajemen
operasional
Melaksanakan pengangkatan dan
pemberhentian pejabat operasional
Memberi penugasan kepada kantor yayasan dan
mengawasi pelaksanaannya
Melaksanakan penerimaan dan pemberhentian
yayasan
Menjalankan seluruh administrasi yayasan:
sekretariat, keuangan, personalia, umum,
litbang
Memiliki hubungan subordinasi dengan
pengelola administrasi di tingkat sekolah
Menerapkan manajemen dan sistem keuangan
yang sehat dan transparan:
A. Melaksanakan internal dan eksternal
auditing
B. Melakukan pembayaran pajak sesuai dengan
perundangan yang berlaku
C. Memilih model pendanaan operasional
sekolah yang tidak terlalu membebani orang
tua murid dan masih berorientasi pada
option for the poor
D. Merintis sistem pendanaan di luar penerapan
SPP
Memilki peraturan kepegawaian yang dibahas
bersama MO dan disetujui oleh yayasan
Memuat Visi Tarekat, Keuskupan dan pendiri
yang menjawab kebutuhan primer stakeholder
Memuat strategi dasar untuk mencapai visi
Memuat rencana kerja pengembangan sekolah
jangka panjang
Memuat formulasi rencana kerja tahunan dan
anggrannya
Memuat rumusan nilai-nilai (values) yang harus
menjadi budaya institusi
Memuat rumusan Code of Conduct yang
termonitor pelaksanaannya
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 27
MA dan MO terlibat dalam proses penyusunan /
revisi Visi, Misi dan Nilai-nilai Institusi
Manajemen Operasional
Kepala sekolah dan Menjamin pengambilan keputusan yang efektif,
staf tepat, dan cepat serta dapat bertindak secara
independen, tidak mempunyai kepentingan
yang dapat mengganggu kemampuannya untuk
melaksanakan tugas secara mandiri dan kritis
Mematuhi perundangan, anggaran dasar dan
angaran rumah tangga, kebijakan gereja dan
standar operasional prosedur institusi
pendidikan dalam melaksanakan tugasnya
Mengelola sekolah sesuai dengan kewenangan
dan tanggung jawabnya
Mempertanggungjawabkan pelaksanaan
tugasnya kepada Dewan Pengurus Yayasan
Memastikan agar sekolah yang berkenaan
dengan bidang tanggung jawabnya dan
wewenangnya, memperhatikan kepentingan
semua pihak, khususnya kepentingan peserta
didik dan pihak yang berhak memperoleh
manfaat
Memastikan agar informasi mengenai sekolah
diberikan kepada Dewan Pengurus
Menentukan para fungsionaris sekolah sesuai
dengan kebutuhan; merumuskan secara tertulis
tentang uraian dan tanggung jawab fungsionaris
sekolah
Menunjukkan keterbukaan data dan keputusan
bagi para stakeholders
Dok.Komdik KWI/Pelatihan Guru Inspiratif (virtual)
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 28
A. KUESIONER ANALISIS INTERNAL
Kuesioner untuk menelaah Distinctive Competence
1. DC dalam hal sumber daya
a. Secara garis besar di manakah letak kekuatan atau kelemahan sekolah? Apa saja kekuatan
dan kelemahannya dalam menjalankan pendidikan?
b. Bila dibandingkan dengan sekolah lain bagaimana kekuatannya itu? Kurang kuat? Sama?
Lebih baik? Dalam hal apa kekuatan dan kelemahannya?
c. Dalam karya pendidikan kita, yang sesuai dengan misi sekolah kekuatan manakah yang
ingin dipertahankan? Dibesarkan? Sehingga memiliki daya saing yang lebih besar?
d. Bagaimanakah dengan kelemahan sekolah? Membahayakan bila didiamkan dalam jangka
pendek maupun panjang? Haruskah sekolah berbuat sesuatu untuk memperbaikinya?
e. Bagaimana posisi kelemahan sekolah di antara para pesaing? Seberapa jauh ini berdampak
pada visi misi sekolah bila tidak disempurnakan?
f. Apa saja yang masih harus diperbuat oleh sekolah untuk menambah daya saing dalam hal
sumber daya ini?
g. Bagaimana pengaruh kompetensi sekolah saat ini terhadap keberhasilan menjalankan misi
dan menuju pencapaian visi sekolah?
2. DC Mengenai Kemampuan/Kapabilitas
a. Bagaimana kemampuan mengelola sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya manusia,
maupun sarana prasarana pendukung sekolah ?
b. Bagaimana kemampuan mengelola anggaran sekolah bagi kontinuitas pengembangan
sekolah ?
c. Bagaimana kemampuan sekolah dalam membina kerja sama dan hubungan baik dengan
stakeholders sekolah ?
d. Mungkinkah cara pimpinan sekolah menyusun struktur organisasinya kurang atau sudah
tepat?
e. Mungkinkah terjadi bahwa sumber daya baik tetapi kapabilitas sekolah masih rendah? Di
manakah letak kekurangannya?
f. Bagaimanakah keberlangsungan kapabilitas sekolah ini dalam jangka panjang?
g. Seberapa cepat sekolah lain bisa menyaingi kapabilitas ini?
h. Lingkungan yang seperti apakah yang menyebabkan sekolah memiliki/tidak memiliki
kapabilitas tersebut?
i. Apa saja yang masih harus dilakukan sekolah agar visi dan misinya dapat dijalankan/dicapai
dengan lebih efektif?
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 29
3. Menciptakan Nilai Tambah
a. Bagaimana harga pendidikan kita di pasar? Sesuaikah dengan kualitasnya? Apakah cukup
bersaing di pasar?
b. Apakah nilai pendidikan sekolah kita sepadan dengan proses penyusunannya sehingga
biaya terlalu rendah/tinggi?
c. Apakah sekolah sudah cukup puas dengan segementasi pasarnya? Adakah kesesuaian
antara pendidikan dan segmen pasar yang dituju?
d. Dari harga pendidikan, promosi, lokasi sekolah, faktor apakah yang menjadi kekuatan/
kelemahan?
e. Apakah karya pendidikan di sekolah kita ditopang oleh penyediaan sarana dan prasarana
pendidikan yang memadai? Dalam pengadaannya? Pengendalianya?
f. Bagaimana sekolah kita menjalankan pemasarannya? Seberapa jauh pasar mengenal
pendidikan kita dan kualitasnya?
g. Bagaimana dengan pelayanannya? Bagaimana pelayanannya bila dibandingkan dengan
kompetitor lain? Lebih baik? Lebih Jelek?
4. Mengenai Infrastuktur
a. Bagaimana dengan infrastruktur sekolah kita untuk mendukung proses pendidikan?
Memadai atau tidak? Di mana letak kesesuaian/tidak kesesuaiannya?
b. Bagaimana sistem informasi yang dimiliki sekolah? Mendukung atau tidak dalam
pelaksanaan proses organisasinya?
c. Bagaimana sistem informasi membantu proses perencanaan program kerja baik jangka
pendek maupun jangka panjang?
d. Bagaimana sistem informasi yang dipakai dalam bidang keuangan/pembukuan? Untuk
membantu menyusun anggaran? Mengenali realisasi anggaran, variansi dan deviasinya?
e. Apakah sistem informasi juga bisa menyediakan info tentang arus kas? Harian, bulanan,
tahunan? Tentang likuiditas?
f. Bagaimana sistem informasi manajemen secara keseluruhan? Baik dalam hal proses
manajemen, maupun di bidang lain seperti personalia, hukum, general affairs?
B. KUESIONER ANALISIS EKSTERNAL
Pertanyaan tentang Pesaing Potensial
1. Dengan mempertimbangkan misi karya pendidikan kita, siapa saja yang menjadi ‘pesaing
potensial’?
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 30
2. Seberapa besar kekuatan para pesaing dibandingkan dengan kita?
3. Mengenai misi dalam karya pendidikan ini mudah atau tidak sekolah kita masuk ke pasar?
Dalam jangka dekat ini?
4. Seberapa besar loyalitas pasar terhadap pesaing bila dibandingkan dengan kita?
5. Bagaimana struktur pembiayaan di karya pendidikan kita? Unggulkah kita dalam hal biaya
operasional maupun investasi?
6. Seberapa luas cakupan karya pendidikan kita dibandingkan dengan yang lain-lain?
Pertanyaan tentang Rivalitas dalam Karya Pendidikan
1. Terkait dengan misi pendidikan yang kita jalankan seberapa besar karya atau pelayanan yang
sudah ada di pasar?
2. Dalam hal karya atau pelayanan tersebut, seberapa besarkah kebutuhan di pasar terhadap karya
dan pelayanan kita?
3. Seberapa besar hambatannya bila keluar? Apakah dampak keluar dari persaingan terhadap
strategi sekolah kita? Bagaimana perasaan pasar terhadap keluarnya kita dari persaingan?
Berat? Mudah? Mengapa?
Pertanyaan tentang Pesaing
1. Berapa besarkah pesaing kita dalam karya pendidikan atau pelayanan kita?
2. Berapa besar pula kebutuhan pasar terhadap pelayanan kita dan seberapa banyak?
3. Dalam hal karya atau pelayanan kita seberapa mudah pelanggan kita lari dari sekolah ?
Pertanyaan tentang Sumber Daya
1. Seberapa sukar atau mudahnya memperoleh sumber daya yang diperlukan dalam karya maupun
pelayanan kita?
2. Dalam karya atau pelayanan apakah dan dari sumber daya manakah sekolah merasa sangat
tergantung?
3. Seberapa mudah karya atau pelayanan kita ditiru dan dilaksanakan oleh sumber daya yang
mensuplai sumber daya yang kita perlukan?
Pertanyaan tentang Kelompok Strategik
1. Kita perlu merumuskan siapa kelompok strategik yang mereka jalankan dalam setiap misi
pendidikan?
2. Cobalah membandingkan setiap anggota kelompok dengan kita dalam berbagai aspek yang telah
kita lihat di atas. Termasuk kelompok strategik manakah kita?
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 31
3. Kita bisa me-review kembali hasil analisis kita dalam setiap aspek lingkungan eksternal
terdahulu. Pilih dan fokus sekali lagi dimana terdapat peluang untuk berkembang dan ancaman
yang dapat mempersulit kita.
C. KUESIONER ANALISIS OPERASIONAL
Kuesioner tentang Strategi Operasional
Untuk merumuskan strategi, baiklah kita mengingat kembali prinsip-prinsip yang kita pakai
untuk merumuskan visi dan misi, sebagai berikut:
Kebutuhan apa dari stakeholders yang ingin kita penuhi?
Kelompok stakeholders apa yang ingin kita puaskan?
Bagaimana kebutuhan stakeholder bisa kita penuhi?
1. Karya pendidikan seperti apakah yang ingin kita laksanakan sesuai dengan visi dan misi
sekolah? Di wilayah mana saja? Mengapa itu kita pilih?
2. Bagaimana tingkat persaingan karya pendidikan di wilayah itu? Di tingkat apakah posisi
persaingan karya kita di setiap wilayah itu? Kuat? Lemah? Di mana letak kekuatan dan
kelemahan kita?
3. Adakah kebutuhan spesifik dari para pelanggan di wilayah itu untuk didesain dalam karya
pendidikan di wilayah itu untuk mendapatkan keuntungan kompetitif?
4. Distinctive competence seperti apakah yang kita miliki di situ? DC seperti apakah yang kita
ingin bangun dalam karya pendidikan itu?
5. Bagaimana dengan biaya yang sudah kita simpulkan di atas? Murah atau mahalkah? Seberapa
jauh kemurahan/kemahalan bila dibandingkan dengan pesaing?
6. Apakah demi mempertahankan keuntungan kompetitif di situ, kita perlu mendesain kembali
karya pendidikan kita struktur biayanya?
7. Mari kita tinjau lagi desain dari karya pendidikan: kualitas seperti apakah yang ingin kita
tanamkan dalam karya kita? Sesuaikah ini dengan kebutuhan pelanggan?
8. Pasca pelayanan seperti apakah yang ingin kita lakukan dalam karya-karya itu?
9. Seberapa bagus yang kita inginkan? Apa dampaknya terhadap biaya?
10. Di atas kita sudah menetapkan segmen pasar untuk setiap karya kita, masih perlukah kita
membatasi atau malah memperluas segmenya? Mengapa? Atau perlukah kita justru
memfokus pada segmen tertentu saja?
11. Seberapa pastikah pengenalan kita tentang kebutuhan pelanggan di wilayah karya pendidikan
kita sehingga kita mampu untuk menetapkan fokus karya kita?
12. Untuk segala produk pelayanan atau karya yang hingga kini kita pilih, cobalah menelaah
kembali tenaga kerja yang seperti apa yang kita perlukan? Besar biaya yang diperlukan?
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 32
Kapan tenaga-tenaga itu diperlukan? Bagaimana cara pengadaannya? Berapa lama?
Kuesioner tentang Investasi
a. Dalam karya pendidikan sekolah kita hal manakah yang memerlukan investasi paling besar?
Apakah dalah hal: gedung, tenaga kerja, sarana prasarana, peralatan? Terkait strategi dasar
manakah investasi tersebut: differensiasi, atau karena ingin memfokuskan pada hal/bidang
tertentu; di wilayah tertentu?
b. Dibenarkankah investasi-investasi tersebut mengingat keadaan keuangan yayasan? Kalau
memang dikehendaki dan dibenarkan investasi tersebut, bagaimana pengadaan dananya?
c. Disarankan agar telaah investasi ini dilakukan oleh bagian keuangan yayasan yang disusun
berdasarkan strategi usaha yang telah ditentukan di atas.
D. CONTOH PEDOMAN BERTINDAK (WAY OF PROCEEDINGS)
Cara kita bertindak di sekolah yang perlu diingat dan dihidupi.
1. Kompetensi Personal Guru
a. Kedisiplinan
Datang ke sekolah tepat pada waktunya
Mengikuti briefing pagi, rapat-rapat, dan pertemuan-pertemuan yang dijadwalkan
sekolah
Hadir di kelas tepat waktu sesuai jadwal
Mengikuti kegiatan-kegiatan yang sudah dijadwalkan (upacara bendera termasuk di
dalamnya)
b. Kepribadian
Cara berpakaian rapi dan sopan sesuai dengan etika berpakaian sebagai seorang pendidik
Pembawaan tenang (percaya diri, tidak tergesa-gesa atau pun gugup)
Memiliki sikap menghargai orang lain, terbuka, dan tidak angkuh
Selalu berpikir positif dan tidak menaruh rasa curiga terhadap rekan kerja
Dinamika pribadi: air muka segar, bersemangat, berseri, menarik
Memiliki keluwesan dalam hal melayani siswa tanpa menjatuhkan wibawa sebagai
seorang guru
Jujur dalam berkata-kata dan jujur dalam bertindak
Gesit dalam mengambil keputusan dengan pertimbangan yang mendalam
Memiliki rasa tanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas, mengikuti maupun
mendampingi kegiatan dari awal hingga selesai
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 33
Berdedikasi sebagai pendidik (mendidik dengan kasih, tidak cepat emosi, tidak
pendendam, sehingga siswa tidak canggung berbicara dengan guru)
Memiliki keterbukaan menerima kritik dan saran untuk dirinya maupun terkait pekerjaan
yang dilaksanakannya
Berkomunikasi secara baik, bertutur kata sopan, lancar, dan selalu membangun atmosfer
positif dalam berkata-kata
Menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan (menjaga kebersihan dan kerapian
lingkungan, serta menghargai lingkungan hidup)
Menunjukkan sikap yang tidak reaktif atas pengalaman pribadi maupun orang lain
Menggunakan berbagai media komunikasi dengan bijaksana
c. Kerja sama
Bersedia membantu dan mendukung kepala sekolah beserta program-progam yang
disusunnya
Bersedia bekerja sama dengan kepada sekolah dan guru-guru lain dalam memecahkan
masalah terkait dengan pengajaran, pendampingan siswa, maupun masalah yang terkait
dengan kehidupan bersama dalam komunitas sekolah
Menciptakan hubungan yang baik dengan seluruh komponen sekolah (guru, karyawan
tata usaha, karyawan perpustakaan, karyawan kebersihan)
d. Partisipasi Aktif
Mengikuti rapat-rapat dengan perhatian dan memberi kontribusi positif dalam pemecahan
masalah
Mengikuti penataran, lokakarya, dan pertemuan guru dalam kegiatan pengembangan
kurikulum maupun pengembangan profesi, serta menyampaikan laporan hasil
keikutsertaannya kepada kepala sekolah
Berani berinisiatif dan berkreasi untuk suatu kemajuan dengan pertimbangan-
pertimbangan yang mendalam
Berani menyampaikan tanggapan yang membangun terhadap program maupun kegiatan
sekolah dengan mengusulkan solusinya
Memiliki kemauan belajar untuk meningkatkan kompetensinya
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 34
II. Kompetensi Profesional dan Pedagogis
Dalam proses belajar mengajar, pendidikan berkomitmen dan peduli kepada siswa dan
pembelajarannya; menunjukkan profesionalitasnya dalam memahami dan merefleksikan
perkembangan belajar siswa, teori belajar, pedagogi, kurikulum, etika, penelitian ilmiah dan hal-
hal yang mengembangkan profesionalitasnya; mendesain rencana pembelajaran, assessment dan
evaluasi serta menggunakan sumber-sumber belajar yang mendukung proses pembelajaran
siswa; menunjukkan kepemimpinan dalam komunitas belajar dan berpartisipasi aktif dalam
komunitas tersebut; mengembangkan sikap pembelajar seumur hidup yang pada akhirnya akan
membantu proses pencapaian hasil belajar maksimal bagi siswa.
Dok.Komdik KWI/Temu Lanjut Pengolahan Karakter Guru (Virtual)
a. Iklim Pembelajaran
Iklim pembelajaran dalam kelas menyertakan suasana sosial dan emosinal dimana
pembelajaran berlangsung.
Menunjukkan kehangatan/keramahan
Menunjukkan kepedulian
Menyatakan harapan guru pada siswa
Menciptakan ikatan dan interaksi antarsiswa
Mempromosikan tingkat bersaing siswa
Menunjukkan kerja sama
Menunjukkan kemandirian
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 35
b. Manajemen/Pengelolaan Kelas
Mengkomunikasikan peraturan kelas
Mengembangkan dan mengkomunikasikan sejumlah aturan dasar instruksional
Menggunakan teknik untuk manajemen kelas yang sederhana namun tepat guna
Menciptakan ikatan dan interaksi antarsiswa
c. Kejelasan Pelajaran
Kejelasan pelajaran mencakup banyak aspek, termasuk mengkomunikasikan dan
mempresentasikan isi materi dengan jelas pada level pemahaman siswa terkini. Kejelasan
pelajaran mencakup bukan hanya kejelasan visual dan oral (kemampuan wicara) dari pendidik,
melainkan juga organisasi dan struktur materi yang dipelajari.
Menginformasikan keterampilan dan pemahaman yang diharapkan
Menginformasikan konteks pembelajaran dengan yang sudah dan mengaitkannya dengan
kegunaan di masa depan
Menilik ulang (review) ringkasan, contoh, ilustrasi, media pembelajaran yang dapat
memperluas dan menjelaskan isi pembelajaran
d. Variasi Metode Mengajar
Variasi instruksional/metode pembelajaran mengarah kepada bagaimana siswa dan materi
terorganisasi dengan efektif.
Mempergunakan alat-alat pendukung belajar untuk membangkitkan minat belajar
Variasi dalam hal kontak mata, suara, dan bahasa tubuh
Menggunakan cara-cara mengajar alternatif (mis. melihat, mendengarkan, melakukan)
Menggunakan reward and punishment untuk mempertahankan minat belajar siswa
e. Orientasi Tugas Guru
Orientasi tugas guru pada dasarnya merupakan persentase alokasi waktu sebuah pelajaran
yang digunakan guru dalam penyusunan dan pemberian materi yang sesuai dengan topiknya.
Mengelola beragam aktivitas kelas secara efisien
Menangani perilaku menyimpang secara bijaksana
Mengurangi waktu yang sekadar untuk mencatat atau mendengarkan
Memaksimalkan waktu untuk mendiskusikan/mempraktikkan isi pelajaran
f. Keterlibatan Siswa
Mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran
Mendorong keterlibatan siswa dengan menyediakan latihan-latihan, persoalan-persoalan
yang tepat, aktivitas untuk mempraktikkan yang sudah mereka pelajari
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 36
g. Keberhasilan Belajar Siswa
Mengorganisasikan pelajaran dan unit yang mencerminkan pengetahuan awal siswa
Memberikan umpan balik dan koreksi secara tepat (tidak terlalu lama dan ditunda-tunda)
Memberi jeda atau transisi bertahap terhadap isi pelajaran
Me-review pelajaran, latihan, tes dan bentuk tagihan lainnya
h. Proses-proses Berpikir Tingkat Tinggi dan Hasil Belajar Siswa
Membawa kesuksesan siswa ke level yang lebih tinggi. Fokus berubah dari hanya secara
benar menjawab pertanyaan hafalan ke arah berpikir kritis, memberi alasan, dan pemecahan
masalah. Level selanjutnya adalah analisis, sintesis, dan pengambilan keputusan.
Menggunakan aktivitas-aktivitas kolaboratif dan kelompok
Menyediakan kesempatan untuk latihan dan pemecahan persoalan secara mandiri
Memanfaatkan assessment/penilaian kinerja dan portofolio siswa
Contoh “Action Plan”
Nama Proyek : Sumber Daya Manusia (SDM)
Pengadaan dan pengembangan tenaga pendidik serta tenaga kependidikan yang berkualitas
Long Term Objectives
Tersedia dan terpeliharanya tenaga pendidik dan kependidikan yang berkualitas dalam jumlah
yang memadai
Direkrutnya tenaga-tenaga purna waktu untuk teknisi IT, Laboran, dan Litbang
Dimilikinya profesionalitas tenaga pendidik dan kependidikan dalam bidang manajemen sesuai
tugas dan tanggung jawabnya
Dilaksanakannya program pengembangan S2 secara dini baik di bidang IPA maupun IPS, serta
humanuiora
Time Frame
No Action Plan PIC (Tahun)
12 3 4 5
A Pengadaan Tenaga Pendidik dan Kependidikan
1. Recruitment dan seleksi tenaga pendidik Kepala Sekolah
a Mencari tenaga pendidik di bidang Fisika (S1) Humas
dengan pemasangan iklan Kepala Sekolah
b Proses seleksi calon tenaga pendidik
c Pembuatan agreement Kepala Sekolah
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 37
d Proses monitoring Kepala Sekolah Time Frame
2. Kepala Sekolah (Tahun)
Pengadaan tenaga pendidik dengan program Humas
a beasiswa S2 bagi calon tenaga pendidik 12 3 4 5
Recruitment tenaga pendidik bidang BK dan Kepala Sekolah
b sosiologi melalui pemberian beasiswa bekerja Kepala Sekolah
c sama dengan universitas jurusan pendidikan Kepala Sekolah
d Proses seleksi Kurikulum
e
NO Proses agreement PIC
Proses pendidikan Kepala Sekolah
Kepala Sekolah
Proses monitoring Kurikulum
TIM Kurikulum
Action Plan
Kepala Sekolah
B Pengembangan Profesionalitas Tenaga Pendidik Kepala Sekolah
dan Kependidikan Kepala Sekolah
Kesiswaan
1. Pelatihan metodologi dan pedagogi kepada semua Kepala Sekolah
tenaga pendidik
Kepala Sekolah,
a Memilih instruktur Sarpras
Kepala Sekolah
b Melakukan pelatihan Kurikulum
Kepala Sekolah,
c Melakukan supervisi dan evaluasi Kurikulum
Pengembangan profesionalitas dengan penugasan
2. studi S2 bagi setiap tenaga pendidik di bawah 45
tahun
a Needs assesment bidang studi yang perlu
dikembangkan
b Melakukan seleksi tenaga pendidik yang akan
ditugaskan untuk studi S2
c Menugaskan guru untuk studi sesuai kebutuhan
sekolah
d Proses studi
e Monotoring
3. Pelatihan Manajemen
a Needs assesment manajemen yang perlu
ditingkatkan
b Memilih instruktur
c Melakukan pelatihan
d Melakukan monitoring, evaluasi dan supervisi
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 38
Contoh :
Nama Proyek : Sistem Administrasi
Long Term Objectives
Diterapkannya sistem administrasi, keuangan, dan informasi yang handal serta inovatif
Meningkatnya kemampuan institusi dalam mengembangkan dana
Time Frame
No Action Plan PIC (Tahun)
12 3 4 5
1 Memiliki sistem administrasi Sekolah (SAS) Kepala Sekolah
a Mengundang beberapa perusahaan IT untuk Waka Sarpras
mempresentasikan program yang akan dibuat Kepala Sekolah
b Memilih satu perusahaan IT
c Try out program Waka Sarpras
d Finalisasi Kepala Sekolah
2 Melakukan penyesuaian SAS untuk seminari
a Menyusun dan melakukan penyesuaian- Kepala Sekolah
penyesuaian administrasi dengan sistem yang Managerial
dibangun.
b Menerapkan SAS di Unit Sekolah
c Pengelolaan benda-benda promosi untuk kegiatan- Tim Promosi
kegiatan promosi yang lain
3 Menerapkan sistem informasi yang handal dan Waka
inovatif untuk membantu proses belajar dan kurikulum,
mengajar Waka
kesiswaan, dan
Waka Sarpras
a Menginput data base (data pribadi siswa, data
kesiswaan, data nilai SMP, dan data
ekstrakurikuler)
b Membuat sistem online (dari dalam dan ke luar)
4 Penerapan SAS Direktur Unit
a Pelatihan tenaga pendidik dan dan tenaga admin
b Monitoring/pendampingan dan evaluasi
c Memastikan bahwa sistem berfungsi dengan baik
5 Memilki Sistem Administrasi Keuangan Bendahara
Yayasan
a Memiliki sistem keuangan dengan bekerja sama
dengan perusahaan manajemen keuangan
b Mencoba sistem yang dibuat
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 39
c Finalisasi sistem keuangan secara menyeluruh di Sarpras
yayasan dan unit-unit
6 Memiliki tenaga administrasi keuangan dan
sosialiasi sistem administrasi keuangan
a Menyeleksi calon tenaga administrasi keuangan
b Melatih tenaga administrasi
c Sosialisasi sistem administrasi keuangan
d Monitoring dan evaluasi kinerja
7 Tumbuh Kembang Keuangan Yayasan
a Menentukan metode investasi
b Membangun kerja sama dengan institusi (internal-
eksternal) untuk beasiswa
c Mengembangkan networking dengan sosialisasi
alumni dalam rangka donor relasi dan
pengembangan pendidikan
Dok.Guru Inspiratif
Nama Proyek: Spiritual Center
Long Term Objectives
Terselenggaranya sistem dan mekanisme pendampingan yang baik dalam setiap program
pendidikan humaniora
Terselenggaranya kegiatan-kegiatan strategis untuk membentuk opini masyarakat
Kelestarian lingkungan hidup di sekitar kita
Terselenggaranya pengelolaan hidup rohani/iman dalam proses pendidikan
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 40
Time Frame
No Action Plan PIC (Tahun)
12 3 4 5
1 Pengembangan Keterampilan Pendampingan Waka kesiswaan
a Menyelenggarakan Raker dan Tim
1) Membuat evaluasi kegiatan kesiswaan setiap akhir
tahun
2) Membuat analisis pencapaian tujuan
pendampingan di setiap kegiatan
b Menyelenggarakan Raker OSIS
1) Merancang agenda kegiatan
2) Membangung sistem kegiatan senat
3) Menyelenggarakan pelatihan-pelatihan
manajemen kegiatan LDK
c Menyusun SOP Pendampingan Waka Kesiswaan
1) Membuat SOP pendampingan berbagai kegiatan
strategis: Jambore, Live in, School Competition,
dan Basar Amal,dll
2) Membuat SOP pelaksanaan kegiatan
ekstrakurikuler agar lebih terarah
3) Membuat SOP pendampingan berbagai kegiatan
yang menunjang kegiatan akademik (perwalian,
sarasehan, dan wawancara pribadi)
4) Membuat pengaturan penugasan kepada guru
untuk mendampingi setiap kegiatan
ekstrakurikuler siswa di sekolah
5) Monitoring kegiatan pasca belajar di kelas
2 Melaksanaka Kegiatan Strategis Moderator dan
Tim dan
a Melaksanakan kegiatan Jambore Moderator
Tim
1) Melakukan survei untuk memilih beberapa lokasi
Jambore
2) Menjalin kerja sama dengan agen kegiatan
outbond
3) Training untuk para guru mengenai pengelolaan
outbond
4) Melaksanakan kegiatan Jambore setiap tahun
b Melaksanakan Kegiatan Live In Kesiswaan dan
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 41
Tim
1) Melakukan survei untuk memilih beberapa lokasi
yang dapat digunakan untuk Live in
2) Menjalin kerja sama dengan paroki maupun
pemerintah daerah yang akan dipilih sebagai
lokasi Live in
3) Melaksanakan Live in setiap tahun pada saat yang
bersamaan dengan ujian sekolah
c Menyelenggarakan Bazar Amal Kesiswaan dan
Tim
1) Membuat pendataan terkait masyarakat sekitar
yang menjadi sasaran Bazar Amal
2) Melaksanakan Bazar Amal setiap tahun
d Mengkuti Kegiatan antar sekolah Kesiswaan dan
1) Mengikuti kegiatan, tanding olahraga,dll Tim
e Menyelenggarakan Kegiatan internal sekolah Kesiswaan dan
(School Meeting and Competition) Tim
1) Training untuk para guru terkait pendampingan
kegiatan kompetisi
2) Melaksanakan kegiatan kompetisi antar sekolah
setiap tahun.
f Menyelenggarakan pameran sekolah (Edufair)
3 Memiliki Kebiasaan dan Perilaku Peduli Tim Lingkungan
Lingkungan Sehat
a Mengadakan gerakan buang samapah pada Waka Sarpras
tempatnya
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 42
1) Menganalisis volume dan jenis sampah yang
dihasilkan sekolah setiap harinaya
2) Mengdakan tempat sampah yang sesuai dengan
volume dan jenis sampah yang dihasilkan
3) Mengerakkan siswa untuk melakukan operasi
semut dipelajaran terakhir setiap harinya
b Melakukan perawatan tanaman dan pengolahan
sampah
1) Penugasan karyawan pemelihara taman dan
karyawan kebersihan dengan sistem rolling
2) membangun instalasi penanganan limbah cair
3) Melatih karyawan untuk membuat kompos
4) Pengadaan tanaman-tanaman endemik Indonesia
sebagai sumber belajar
4 Menyelenggarakan Program Cura Spiritualitas Tim Kerohanian
Sekolah Tim Kerohanian
A Menyelenggarakan kegiatan Peribadatan,
kerohanian
1) Mendakan rekoleksi siswa Kelas XI
2) Mengdakan rekoleksi untuk pendidik dan tenaga
kependidikan guru
3) Mengadakan misa angkatan (kelas X, XI, XII)
4) Mengada misa Santo Pelindung
5) Mengdakan misa (Awal tahun ajaran, rabu abu,
Natal, Paskah, misa Perdana, Misa Valentine)
6) Mengadakan retret siswa kelas XII
7) Mengadakan retret pendidik dan tenaga
kependidikan
8) Mengadakan latihan doa di sekolah
9) Mengadakan misa/rekoleksi orangtua
B Supporting Tools
1) Rapat tim kerohanian
2) Pengadaan simbol-simbol rohani
Nama Proyek : Promosi
Long Term Objectives
1. Meningkatnya Reputasi Institusi
2. Meningkatnya layanan informasi sekolah yang reliable dan cepat
3. Meningkatnya jumlah peserta didik dengan kapasitas intelektual yang lebih tinggi
No Action Plan PIC Time Frame
(Tahun)
1
a 12 3 4 5
b
Up date Informasi Kepala Sekolah,
Waka Sarpras
Menempatkan karyawan IT full timer (purna
waktu) untuk mengelola web
Up date wesite setiap hari (informasi dan berita
terbaru)
2 Pembuatan benda-benda promosi Waka Sarpras
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 43
a Pembuatan design flyer, brosur, kalender, tas,
kaos, pulpen
b Pembuatan flyer, brosur, kalender, tas, kaos,
payung, jaket, pulpen,dll. Sarana untuk diingat
dan semakin dikenal.
c Pengelolaan benda-benda promosi untuk kegiatan- Tim Promosi
kegiatan promosi maupun kegiatan sekolah.
3 Mengadakan perlombaan akademik, pemberian
beasiswa,dll sebagai langkah promosi rekrut
siswa.
a Memilih kegiatan yang dilombakan
b Menyusun kriteria siswa yang akan mendapat
beasiswa
c Mengadakan lomba
4 Meningkatkan jumlah siswa yang diterima melalui
jalur prestasi dengan kriteria nilai, prestasi.
a Menyusun kriteria nilai yang akan digunakan
b Sosialisasi program penerimaan jalur prestasi
c Menyelenggarakan psikotes dan wawancara
5 Mengkuti program pameran (Edufair) sekolah. Humas
a Mencari informasi pameran/edufair di sekolah
b Merancang display untuk mengikuti edufair
c Mengikuti edufair di sekolah sebagai ajang
promosi
Nama Proyek : Pembangunan Fisik
Long Term Objectives
Dibangunnya fasilitas fisik sekolah untuk memenuhi kebutuhan ruang pendidikan
Dikelolanya fasilitas secara efektif dan efisien semua sarana belajar dan penunjangnya
Dipeliharanya fasilitas belajar serta sarana penunjangnya
No Action Plan Time Frame
PIC (Tahun)
12 3 4 5
1 Penambahan ruang belajar Minister dan
a Analisis kebutuhan ruang Kepala Sekolah
b Membuat rancangan bangunan untuk penambahan
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 44
ruang kelas guna mendukung pembelajaran
moving class dengan memperhatikan AMDAL
c Membuat rancangan bangunan untuk menambah
ruang kegiatan-kegiatan pendukung pembelajaran
(ruang ekskul, raung seni, ruang rapat)
d Pengajuan anggran dan persetujuan
e Proses tender
f Memilih kontraktor
g Proses pembangunan
h Penggunaan ruang
2 Pengadaan Alat dan Sarana Belajar Waka Sarpras
a Merancang kebutuhan alat dan sarana belajar
b Pemesanan alat dan sarana belajar
c Penempatan dan Pengaturan
3 Pengelolaan Fasilitas Minister dan
Waka Sarpras
a Menyusun inventaris semua alat dan sarana
belajar
b Membuat sistem pemeliharaan yang mendetail
c Menentukan operator dan job descriptionnya
d Memperbaharui perlengkapan elektronik setelah 3
tahun pemakaian
e Memastikan garansi untuk setiap barang inventaris
Dok.Komdik KWI/Dinamika Pengolahan Karakter Guru
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 45
LAMPIRAN
KEGIATAN/PROGRAM DAN STRATEGI PELAKSANAAN SEKOLAH UNGGUL
KEBANGSAAN (SUK)
Kegiatan SUK bisa diawali dengan langkah-langkah berikut :
Menemukan keresahan yang dihadapi saat ini terkait dengan konteks pendidikan karakter dan
semangat kebangsaan. Adapun beberapa keresahan yang dapat ditemukan di masyarakat antara lain:
Mulai lunturnya semangat kebangsaan dan nasionalisme Indonesia
GM tidak memahami nilai-nilai kebangsaan
Gadget dan teknologi yang semakin “memperbudak”
Tergerusnya nilai-nilai Pancasila
Kebangsaan semu akan kebendaan : hedonisme dll
Ideologi luar yang semakin masif : terorisme, radikalisme, komunisme dll.
Semangat kepahlawanan dan patriotisme yang tergadaikan
Siapa sih orang Indonesia itu? Bagaimana manusia Indonesia itu ?
Disintegrasi bangsa dan sektarianisme agama, budaya dan suku bangsa.
Candu globalisasi
Setelah menemukan dan merumuskan keresahan yang paling mengkhawatirkan maka perlu
dirumuskan tema yang sesuai dengan visi misi yang dikembangkan. Adapun usulan tema yang bisa
dikembangkan antara lain :
1. Kesadaran personal dan komunitas akademisi: Kebhinekaan dan pluralisme, tantangan
global, kejahatan transnasional dan global, tindak pidana korupsi, Integrasi NKRI, Pancasila
ideologi bangsa, penyakit mental globalisasi
2. Membangun wawasan kebangsaan dengan “ Wawasan Nusantara”
3. Sekolah kebangsaan berdasarkan kearifan lokal (perjuangan pahlawan; lokalitas)
4. Nilai-nilai perjuangan yang dapat ku teladani: “ Sekolah kebangsaan Cerdas Berkarakter “
5. Sekolah kebangsaan vs tantangan global 4.0, 5.0
6. Aksi nyata sekolah kebangsaan: agen perubahan, pembaharu, projek sosial lainnya.
Pendekatan yang bisa dipakai di sekolah untuk mengembangkan atau menjalankan proses
pembelajaran di kelas bisa dengan berbagai cara diataranya;
Konseptual dan praktis (best practice)
Dialog teoritis dan dialog kerja (laku hidup)
Metode yang bisa digunakan sekolah antara lain;
Discovery learning, inkuiri, jiqsaw dll
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 46
Problem solving, problem based learning
Project based learning, STEAM
Eksperimen dan projek lapangan
Output yang bisa diharapkan dalam pengembangan kegiatan kebangsan antara lain;
Produk kinerja siswa baik individu maupun kelompok
Program yang berkelanjutan “pembaharu “
Komunitas inspiratif “agen perubahan “
Sistem pembelajaran yang MERDEKA
Saluran chanel pembaharuan; website, aplikasi, kanal youtube, konten inspiratif dll
Kolaboratif dan jejaring sekolah, antar siswa inspiratif, komunitas-komunitas penggerak dll
Mencapai tujuan yang akan sesuai dengan sasaran, tujuan pembelajaran dan indikator keberhasilan
antara lain;
Panduan dan modul pelaksanaan sekolah kebangsaan per tingkatan jenjang dengan
menitikberatkan pada aspek olah laku, olah rasa dan olah nalar
Pelaksanaan sekolah kebangsaan dilakukan secara berkelanjutan, jadi tidak terpisahkan
program dari TK sampai SMA
Setiap sekolah diberikan kebebasan untuk menyusun strategi pembelajaran dan sistem
penilaiannya.
Sekolah kebangsaan sebagai pendidikan karakter maka ketercapaian pendidikan tidak hanya
diukur secara kognitif tetapi secara karakter dan output lulusan dari sekolah tersebut
Fokus pembelajaran Prinsip MERDEKA BELAJAR ; menumbuhkembangkan potensi dan
bakat anak menuju pada kekuatan kodrat anak, guru menuntun laku anak untuk dapat
berkembang, bergerak dan berbuah, memberikan ruang seluas-luasnya anak
mengembangkan potensi dan bakatnya.
Mewadahi dan mengapresiasi setiap gerak anak; salah satu bentuk cura personalis.
Bangun jejaring dan kolaborasi antar sekolah (kolaborasi antar sekolah bukan kompetisi
antar sekolah)
Kolaborasi antar sekolah-sekolah Katolik di seluruh Indonesia (sekolah jangan menonjol
sendiri)
Cara memulai awal atau langkah awal menuju pada Sekolah Unggul Inspiratif Kebangsaan di
sekolah yaitu?
Mulai dari diri sendiri : bangun kesadaran di sekolah tentang kebangsaan.
Rumuskan visi perubahan sesuai dengan core value sekolah dan rumuskan value
prepositionnya
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 47
Buat komunitas praktisi di sekolah yang memiliki satu visi dan misi yang sama
Buat jejaring seluas-luasnya dengan sekolah, masyarakat dan beragam pemangku
kepentingan
Anak berkarya, berdaya dan memberdayakan masyarakat
Belajar di luar kelas: bangun laboratorium sosial, budaya dan sains di masyarakat
Narsis itu baik tapi jangan kebablasan : liat sikon, pahami konteks dan selalu upgrade
konten
ATM (amati, tiru dan modifikasi) bukan hal yang tabu
Mulai hilangkan kompetisi diatara sekolah Katolik : sekolahku paling hebat, sekolahku
banyak dipuji dll.
Ilustrasi : http://bit.ly/3WVQM9R
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 48
Pedoman Tata Kelola Sekolah | 49