Ir. Martinus Putuhena
Martinus Putuhena adalah putra Maluku pertama yang mendapatkan
insinyur dari Institut Teknologi Bandung (Technische Hoogeschool). Pendidikan
dasarnya "apat di Saparoeasche Schoolt Saparua, pada tahun yang
kemudian dilanjutkan ke sekolah menengah (MULO) di Tondano, Minahasa
Setelah lulus MULO pada tahun 1919, beliau melanjuüan studnya ke AMS
Jurusan B di Yogyakarta Putuhena memulai studinya di Bandung pada tahun
1923 mempelajari ilmu Sipil Basah, di Fakuttas Teknik (Faculteit Technische
kuliah Martinus Putuhena menjadi anggota Algemeene Studie Club (ASO.
KJab tersebut adalah sebuah kelompok kuliah umum yang didirikan oleh para
intelektual nasionalis Bumiputera di Bandung pada tahun 1926. satu
anggota pendirinya adalah Sukarno, yang akan menjadi presiden pertama
Republik Indonesia.
51
Ir.Lim A Goh :
Kontraktor Sipil Gedung Sate
Kol.Zeni II Victor Louis Slors:
Ketua Tim Perancang Pembangunan GB
(Gouvernements Bedrijven)
52
Ir.Johan Gerber :
Arsitek Utama Gedung Sate
Hendriks Petrus Berlage:
Tokoh Arsitektur
53
Hendrik Freerk Tillema :
Penggagas Ide Pemindahan Ibu Kota Hindia-
Belanda
Prof.Dr.Ir.Jan Klopper :
Pendukung Ide Pemindahan Ibu Kota Hindia-
Belanda
54
BA
B VI :
LAYANAN INFORMASI
MUSEUM GEDUNG
SATE
55
Layanan Informasi
Museum Gedung Sate
Museum Gedung Sate merupakan
sebuah tempat rekreasi dan
pendidikan yang terbuka untuk
khalayak umum (Wibowo, 2015).
56
Museum Gedung Sate sebagai tempat
yang terbuka untuk masyarakat
tentunya perlu memperhatikan
kualitas layanan yang disediakannya.
Menurut Zeithaml dan Bitner (2006)
kualitas layanan mencakup lima
perspektif yaitu reliability,
responsiveness, assurance, empathy,
dan tangible (Kiswantoro, 2018).
57
Reliability Responsiveness
akurat dan terpercaya membantu pengunjung
Assurance Empathy
menjaga kepercayaan perilaku staf dalam
pengunjung membantu pengunjung
tangible
fasilitas yang disediakan
(Kiswantoro, 2018) 58
Reliability
Para Staf Museum Gedung Sate
memberikan pelayanan yang akurat
dikarenakan museum merupakan
pelayanan publik, sehingga sumber
informasi yang disediakan di museum
tentunya akurat dan terpercaya.
59
Responsiveness
Para Staf Museum Gedung Sate sangat
membantu pengunjung. Seperti, mengarahkan
pengunjung supaya tidak tersesat, memberitahu
pengunjung ketika masih ada tempat kosong
untuk menonton film dokumenter, bersifat
terbuka dan asik ketika diwawancara. Selain
itu, museum menyediakan edukator yang dapat
membantu pengunjung untuk memenuhi
kebutuhan informasinya dan sosial media untuk
memudahkan pengunjung dalam mencari
informasi seputar museum. Hal ini berdasarkan
hasil wawancara bahwa “Kita ada 5 edukator,
jika dalam museum disebutnya edukator,
edukator berbeda dengan pemandu.” Serta,
“Sosial media Gedung Sate dan kerjasama
dengan berbagai hotel”
60
Assurance
Keramahan para staf museum dapat
membuat nyaman pengunjung
museum.
61
Empathy
Para Staf Museum Gedung Sate
bersikap ramah kepada pengunjung.
Seperti, memberitahukan alur
pembelian tiket museum kepada
pengunjung, bersikap ramah ketika
menjawab pertanyaan pengunjung.
62
Tangible
Fasilitas yang disediakan oleh Museum Gedung
Sate memadai keperluan pengunjung. Seperti,
tempat parkir, tempat duduk, toilet, ruang
teater, virtual reality, AC, proyektor, lampu. Hal
ini didukung dengan hasil wawancara bahwa
“Fasilitas umum sudah tersedia, seperti wifi
namun jaringannya tidak terlalu kencang, toilet,
selanjutnya fasilitas lainnya dirasa sudah
memfasilitasi pengunjung.” Serta, informan
mengatakan bahwa “Aesthetic, patung
Gubernur Jawa barat menjadi salah satu daya
tarik pengunjung museum untuk berkunjung,
ruang audio visual yang menampilkan film,
augmented reality, virtual reality.”
63
BA
B VII :
PENGGUNA
INFORMASI
MUSEUM GEDUNG
SATE
64
Museum Gedung Sate adalah salah satu
tempat untuk masyarakat memenuhi
kebutuhannya terkait informasi. Nur Riani
memaparkan bahwa k
ebutuhan yang harus 13
dipenuhi menurut Ka
tz, Gurevitch dan Haas
yang dikutip Alexis Tan adalah sebagai
berikut:
1.Kebutuhan Kognitif
Kebutuhan kognitif ini bertujuan untuk memperkuat
pengetahuan dan pemahaman orang terhadap
lingkungannya.
65
66
2. Kebutuhan Afektif
Disamping kebutuhan kognitif terdapat kebutuhan
afektif yang perlu terpenuhi. Kebutuhan afektif
sendiri adalah kebutuhan yang dikaitkan dengan hal-
hppaeelnnggduaalpnaajmutnamngeenmbyueoknsaiaonnngakhl.aaJnna
yddaiadnidMdaatuapnsaegtummkeaGnrejeanddaui nseugbnSutauathke
pengetahuan akan tetapi sebagai liburan. Tidak
jarang pengunjung yang mengunjungi museum
hanya untuk hiburan, contohnya seperti melakukan
museum date yang saat ini sedang ramai
diperbincangkan. Museum date tidak hanya untuk
sebuah pasangan kekasih saja tapi bisa saja
pertemanan, persahabatan atau kekeluargaan, yang
terpenting dari museum date ini adalah mengunjungi
museum dengan orang tersayang.
67
3. Kebutuhan Integrasi
Personal
Kebutuhan ini berasal dari hasrat diri untuk
mencari harga diri, sehingga kebutuhan ini
dikaitkan dengan penguatan kredibilitas,
kepercayaan, stabilitas, da
n status individu.
68
4. Kebutuhan Integrasi Sosial
Dari namanya kita sudah bisa mengetahui bahwa
kebutuhan ini didasari dari kebutuhan seseorang
untuk berkomunikasi dengan orang lain entah itu
keluarga, teman, matmeamuuseoenruuamnh
gi lain dalam masyarakat.
Layanan dalam Gedung Sate sudah
dikatakan dapat kebutuhan ini. Hal ini
dikarenakan banyak hal yang bisa dipelajari sehingga
pengunjung pasti berkomunikasi antara satu sama
lain membicarakan hal-hal yang terdapat di dalam
Museum entah itu informasi, sarana atau fasilitas
lainnya atau dengan membagikan pengalaman
mereka selama di 14 museum ke dalam media sosial.
69
5. Kebutuhan Berkhayal
Kebutuhan ini dikaitkan dengan kebutuhan hiburan,
mencari ketenangan untuk melepaskan ketegangan,
dan melarikan diri dari hal-hal yang membuat diri
mkkietebamuteutnihduaahnkinyanin,yiasamlaMahnussae(tusutmnre
ysa).GadeDadluaanlhagmdenSpgaeatemn eandsuuahdnaaynha
layanan augmented reality. Karena dalam augment
reality pengunjung seakan-akan ikut dalam ilustrasi
pembangunan Gedung Sate itu sendiri.
70
BA
B VIII :
PROMOSI
MUSEUM GEDUNG
SATE
71
Promosi
Museum Gedung Sate
Museum Gedung Sate merupakan
salah satu museum di Indonesia yang
memanfaatkan platform media sosial
untuk melakukan promosi.
72
Dan Zarella (2010), Social media
marketing adalah strategi kegiatan
pemasaran menggunakan situs –situs
media sosial seperti Facebook,
Instagram, Twitter, Youtube dan
sebagainya. Media sosial merupakan
salah satu cara yang ampuh untuk
mempromosikan produk barang dan
jasa yang kita miliki melalui internet
marketing. Caranya mudah sederhana
tetapi memiliki efek yang luar biasa
(Untari, 2018).
73
DIMENSI SOSIAL
MEDIA MARKETING
Online Communities Interaction
membangun suatu memberikan
komunitas pemberitahuan
Sharing of Content Accessible
media pertukaran dapat diakses dengan
informasi mudah
Credibility
menyampaikan pesan
dengan jelas
(As' ad, 2014) 74
Museum Gedung Sate
menggunakan teknik promosi
melalui kerjasama dengan berbagai
hotel dan pada platform media sosial.
Hal ini berdasarkan pernyataan
narasumber bahwa promosi
dilakukan dengan “Sosial media
Gedung Sate dan kerjasama dengan
berbagai hotel.”
75
Penggunaan media sosial instagram
sebagai media promosi museum akan
dikaji menggunakan 5 dimensi sosial
media marketing.
76
Online Communities
77
Interaction
78
Sharing of Content
79
Accessible
80
Credibility
81
BA
B IX :
FASILITAS & RUANGAN
MUSEUM GEDUNG
SATE
82
Fasilitas
Cafe yang diberi
nama "GESA CAFE
83
Fasilitas
Toilet
Resepsionis
84
Fasilitas
Kantin
Pintu Gesat
untuk
kegiatan
perizinan
85
Fasilitas
Masjid Al-Muttaqin
86
Ruangan
87
Ruangan
88
Daftar Pustaka
Dewi, A. R. P., & Nurusholih, S. (2019).
Perancangan Promosi Program Tematik
Museum Gedung Sate. eProceedings of Art &
Design, 6(2).
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Bandung. (n.d). Museum Gedung Sate.
[Online]. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kota Bandung
Kemdikbud. (2022). Gedung Sate. Diakses
pada 3 Oktober 2022 di laman
http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/caga
rbudaya/detail/PO2016040100001/gedun
g-sate
Kiswantoro, A., & Damiasih, D. (2018).
Persepsi Kualitas Pelayanan Museum
Sebagai Sarana Edukasi Masyarakat (Studi
Kasus: Museum Gunung Api Merapi
Yogyakarta). Kepariwisataan: Jurnal Ilmiah,
12(2), 57-70.
89
Daftar Pustaka
Mahmud, E. Z., Ampera, T., Risagarniwa,
Y. Y., & Sidiq, I. I. (2019). Kedudukan
dan Fungsi Bahasa dalam Permuseuman.
Metahumaniora, 9(1), 54-64.DOI:
https://doi.org/10.24198/metahumanio
ra.v9i1.22871
Nazhar, R. D., & Rosid, Y. S. (2020).
Penyajian Ruang Pameran Sejarah
Berteknologi Augmented Reality pada
Museum Gedung Sate Bandung. Waca
Cipta Ruang, 6(1), 13-18.DOI:
https://doi.org/10.34010/wcr.v6i1.4193
Riani, N. (2017). Model perilaku
pencarian informasi guna memenuhi
kebutuhan informasi (studi literatur).
Publication Library and Information
Science, 1(2), 14-20. DOI :
http://dx.doi.org/10.24269/pls.v1i2.693
90
Daftar Pustaka
Sano,D.V.A.(n.d).Beberapa Definisi
Tentang Data, Informasi, dan Sistem
Informasi Menurut BeberapaAhli.
[Online].https://binus.ac.id/malang/20
20/12/beberapa-definisi-tentang-data-
informasi-dan-sistem-informasi-
menurut-beberapa-
ahli/#:~:text=Definisi%20Informasi&te
xt=Menurut%20Kelly%20(2011%3A10),i
nformasi%20dalam%20pemakaian%20si
stem%20informasi.
Wibowo, A. J. I. (2015). Persepsi kualitas
layanan museum di Indonesia: Sebuah
studi observasi. Jurnal Manajemen
Maranatha, 15(1).
91
Daftar Pustaka
Widiyanti, R., Rahmawati, R., &
Muhammad, N. R. (2021). Persepsi
Wisatawan Milenial Terhadap
Penerapan Smart Tourism di Museum
Gedung Sate. Jurnal Pengembangan
Wiraswasta, 23(2), 115-124.DOI:
http://dx.doi.org/10.33370/jpw.v23i2.58
3
As' ad, H. A. R., & Alhadid, A. Y. (2014).
The impact of social media marketing on
brand equity: An empirical study on
mobile service providers in Jordan.
Review of Integrative Business and
Economics Research, 3(1), 315.
92
Penutup
Museum Gedung Sate merupakan salah satu bentuk upaya dalam
melestarikan bangun bersejarah sekaligus nilai-nilai historis yang
terkandung di dalamnya.Terlebih lagi,Gedung Sate merupakan salah satu
ikon kota Bandung sekaligus menjadi pusat Kantor Pemerintahan Provinsi
Jawa Barat.
Penulis membuat paket informais ini berdasarkan hasil wawancara dari
narasumber yang merupakan staff museum gedung sate.
Paket Informasi ini memiliki keunggulan dari segi isinya karena,selain
berisikan fakta-fakta terkait gedung sate dalam setiap informasi yang
tertuang didalamnya dibaurkan dengan bidang ilmu lain.
Penulis Berharap dengan adanya Paket Informasi Museum Gedung Sate ini
dapat meningkatkan minat literasi serta pengetahuan masyarakat
khususnya masyarakat Jawa Barat tentang Gedung Sate
93
PROFIL
PENULIS
94
Amalia Muthaharah
NIM :22234124
Haloooo,Saya Amalia Muthaharah.Mahasiswa Semester 5 Program
Studi Perpustakaan dan Sains Informasi,Universitas Pendidikan
Indonesia. Asal dari Majalengka, Jawa Barat
Pada Kesempatan kali ini saya sedang melakukan program PERMATA-
LPTK di Universitas Negeri Padang.
Kontribusi dalam Pembuatan E-Book:
Pengguna Informasi
95
Awalia Latifa Mayda
Ikrimah
NIM : 22234125
Haloooo, Saya Awalia Latifa Mayda Ikrimah.Mahasiswa Semester 5 Program
Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas Pendidikan Indonesia.
Asal dari Bandung, Jawa Barat
Pada Kesempatan kali ini saya sedang melakukan program PERMATA-LPTK di
Universitas Negeri Padang.
Kontribusi dalam Pembuatan E-Book:
Tokoh (Pengagas utama), Layanan Informasi, Promosi, Profil Narasumber
96
Eka Rahmawati
NIM : 22234127
Haloooo,Saya Eka Rahmawati.Mahasiswa Semester
5 Program Studi Perpustakaan dan Sains
Informasi,Universitas Pendidikan Indonesia.Asal
dari Kabupaten Indramayu,Jawa Barat
Pada Kesempatan kali ini saya sedang melakukan
program PERMATA-LPTK di Universitas Negeri
Padang.
Kontribusi dalam Pembuatan E-Book:
Cover - Tokoh, Fasilitas dan Ruangan, Profil Penulis
97
PROFIL
NARASUMBER
98
Ridwan Miftahul Khoer
Financial Acountant di Gedung Sate
Bandung, Jawa Barat
99
LAMPIRAN
100