Salam Redaksi
Puji syukur kepada Tuhan yang maha esa yang masih memberikan kesempatan untuk belajar
tentang Islamisasi yang ada di Nusantara. Awal kedatangan Islam ke Indonesia memiliki sejarah
yang panjang. Salah satu diantaranya tentang Interaksi budaya Islam dengan budaya di
Nusantara sehingga memunculkan sebuah akulturasi budaya dan perkembangan budaya Islam.
Ajaran dan Budaya Islam dibawa masuk sampai ke lingkungan istana lewat jaringan
perdagangan.
Salah satu kerajaan yang dimasuki ajaran Islam melalui jaringan perdagangan yaitu kerajaan
Ternate. Sejak awal diketahui bahwa kerajaan Ternate merupakan kerajaan besar bercorak Islam.
Hal ini diketahui dengan adanya sumber-sumber berupa naskah-naskah kuno dalam bentuk
hikayat. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang proses Islamisasi yang ada di
Kerajaan Ternat,mari kita pelajari sejarahnya.
1. Teori Masuknya Islam Ke Indonesia
Agama Islam pertama kali lahir di Mekkah, Arab Saudi. Para pemeluknya menyebarkan agama
Islam lewat berbagai jalur. Salah satu teori menyebutkan bahwa agama Islam di Indonesia masuk
lewat jalur perdagangan. Ketika Islam menyebarkan agama dan kebudayaannya ke Indonesia,
prosesnya cenderung berjalan dengan damai. Karena itu, raja hingga rakyat biasa menerimanya
dengan hangat. selain perdagangan, ada saluran lain yang menyebabkan agama Islam dapat
masuk dan berkembang di Indonesia. Saluran tersebut di antaranya adalah saluran perkawinan,
pendidikan, dan seni budaya.
Para ahli sejarah memberikan 4 teori bagaimana proses masuknya Islam ke Nusantara. Masing-
masing teori dijelaskan berdasarkan rentan waktu yang berbeda. Mulai dari abad ke 7, hingga
ada pula yang menyebutkan abad ke 13.
Berikut ini teorinya :
1. Teori Gujarat
Teori ini beranggapan bahwa agama dan kebudayaan Islam dibawa oleh para pedagang
dari daerah Gujarat, India yang berlayar melewati selat Malaka. Teori ini menjelaskan
bahwa kedatangan Islam ke Nusantara sekitar abad ke-13, melalui kontak para pedagang
dan kerajaan Samudera Pasai yang menguasai selat Malaka pada saat itu.
Teori ini juga diperkuat dengan penemuan makam Sultan Samudera Pasai, Malik As-
Saleh pada tahun 1297 yang bercorak Gujarat. Teori ini dikemukakan oleh S. Hurgronje
dan J. Pijnapel.
2. Teori Persia
Umar Amir Husen dan Hoesein Djadjadiningrat berpendapat bahwa Islam masuk ke
Nusantara melalui para pedagang yang berasal dari Persia, bukan dari Gujarat. Persia
adalah sebuah kerajaan yang saat ini kemungkinan besar berada di Iran.
Teori inni tercetus karena pada awal masuknya Islam ke Nusantara di abad ke 13, ajaran
yang marak saat itu adalah ajaran Syiah yang berasal dari Persia. Selain itu, adanya
beberapa kesamaan tradisi Indonesia dengan Persia dianggap sebagai salah satu penguat.
Contohnya adalah peringatan 10 Muharam Islam-Persia yang serupa dengan upacara
peringatan bernama Tabuik/tabut di beberapa wilayah Sumatera (khususnya Sumatera
Barat dan Jambi).
3. Teori China
Lain halnya dengan Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby, mereka berpendapat
bahwa sebenarnya kebudayaan Islam masuk ke Nusantara melalui perantara masyarakat
muslim China.
Teori ini berpendapat, bahwa migrasi masyarakat muslim China dari Kanton ke
Nusantara, khususnya Palembang pada abad ke 9 menjadi awal mula masuknya budaya
Islam ke Nusantara. Hal ini dikuatkan dengan adanya bukti bahwa Raden Patah (Raja
Demak) adalah keturunan China, penulisan gelar raja-raja Demak dengan istilah China,
dan catatan yang menyebutkan bahwa pedagang China lah yang pertama menduduki
Pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.
4. Teori Mekkah
Dalam teori ini dijelaskan bahwa Islam di Nusantara dibawa langsung oleh para
musafir dari Arab yang memiliki semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia
pada abad ke 7. Hal ini diperkuat dengan adanya sebuah perkampungan Arab di Barus,
Sumatera Utara, yang dikenal dengan nama Bandar Khalifah.
Selain itu, di Samudera Pasai mahzab yang terkenal adalah mahzab Syafi’i. Mahzab ini
juga terkenal di Arab dan Mesir pada saat itu. Kemudian yang terakhir adalah
digunakannya gelar Al-Malik pada raja-raja Samudera Pasai seperti budaya Islam di
Mesir. Teori inilah yang paling banyak mendapat dukungan para tokoh seperti, Van Leur,
Anthony H. Johns, T.W Arnold, dan Buya Hamka.
2. Karakteristik Kehidupan Masyarakat,Pemerintah,dan
Kebudayaan pada masa Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
Kehidupan masyarakat dalam pemerintahan pada masa kerajaan Islam,dipimpin
oleh Sultan ( Raja dalam bahasa Arab) Oleh karena pemimpinnya disebut Sultan,pada
masa itu Kerajaan disebut Kesultanan. Sultan merupakan pemimpin tertinggi,selain
sultan,sebutan lain untuk seorang pemimpin disebut maulana,susuhan,dan penambahan.
Pada masa kerajaan Islam, seorang sultan memperkuat kedudukannya dengan
mengaitkan dirinya melalui garis keturunan Nabi Muhammad SAW. Selain itu pada masa
kerajaan Islam, tidak ada sistem Kasta,sehingga seorang sultan bukanlah seorang yang
harus ditaati,dan Sultan juga juga bukan titisan dari Allah.
Dalam pengambilan keputusan,baik itu yang berkaitan dengan agama dan
pemerintahan,sultan biasanya berkonsultasi lebih dahulu dengan ulama agar keputusan-
keputusan-keputusan tersebut dapat diterima oleh rakyat. Salah satu kelompok ulama
yang terkenal di Nusantara yaitu Wali Songo ( Sembilan Wali)
Dan juga dalam pengangkatan raja dimasa Islam terdapat kesamaan dengan
Sistem Pemerintahan agama Hndu-Buddha. Sultan diangkat berdasarkan garis keturunan.
Jika dilihat mampu dan berwibawa untuk memimpin,maka anak sultan akan
mendapatkan takhta untuk memimpin kerjaan.
Ada beberapa contoh dan bukti-bukti bahwa pemerintahan pada masa Kerjaan-
kerajaan Islam dipimpin oleh Sultan. Salah satu contohnya di Kerjaan Ternate yaitu
Masjid Sultan Ternate,Keraton Kesultanan Ternate,makam sultan Baabullah,dan benteng
Tolukko.
Kehidupan kebudayaan masyarakat pada masa kerajaan Islam terjadi kemajuan
dari segi kebudayaan. Salah satunya ditemukannya naskah-naskah Islam dan sastra-sastra
Islam yang menjadi salah satu sumber sejarah berkembangnya Islam di Indonesia dan
juga menambah khazanah budaya Islam pada masa itu merupakan fakta pendukungnya.
Selain itu ada beberpa ajaran yang memengaruhi kehidupan masyarakat
Nusantara khususnya Jawa yaitu dengan adanya ajaran Tasawuf. Ajaran Tasawuf ini
diajarkan oleh Sunan Bolang,yang juga telah menulis “Suluk”. Agama Islam ini
menyebabkan terjadinya pergeseran budaya dalam kehidupan masyarakat.
Salah satu kebudayaan yang dibawa agama Islam ke Nusantara yaitu munculnya
banyak bangunan keraton atau Istana yang dijadikan tempat tinggal bagi Sultan bersama
sanak dan keluarganya. Bangunan keraton ini umumnya memadukan antara kebudayaan
local dan kebudayaan Islam.
Contoh dan bukti-bukti kebudayaan Islam yang masih ada pada saat ini yaitu:
Khitanan,manten sapi,makam dan batu nisan,pesantren,dan Keraton atau Istana serta
berjilbab.
3. Masuknya Agama Islam Ke Indonesia Secara Kronologis Dan
Pengaruh Pada Kehidupan Indonesia Saat Ini
Ada pendapat masuknya itu abad ke 13, sumber sejarah :
Catatan perjalanan Marcopolo Ditemukan nisan makam Raja Samudra Pasai Sultan Malik al-
Saleh yang berangka tahun 1297 M.
Ada juga abad ke 11,
Pendapatnya didasarkan pada bukti adanya makam seorang muslimah yang bernama Fatimah
Binti Maemun yang berangka tahun 1082 M di Leran, Gresik, Jawa Timur.
Abad ke 15, sumber sejarah :
Catatan Ma-Huan seorang Musafir Cina IslamPemakaman muslim kuno di Troloyo dan
Trowulan. Makam salah seorang Wali Songo di daerah Gresik. Pada batu nisannya tertulis
nama Malik Ibrahim (Bangsa Persia) yang wafat pada tahun 1419 M.
Abad ke 7, Sumber sejarah :
Berita Cina zaman Dinasti Tang Pada waktu Sriwijaya mengembangkan kekuasaan sekitar
abad ke-7 dan 8, para pedagang Muslim telah ada yang singgah di kerajaan itu sehingga
diduga beberapa orang di Sumatera telah memasuki Islam.Pada tahun 674 M, Raja Ta-Shih
mengirim duta ke kerajaan Holing.
Berikut adalah pengaruh pada kehidupan Indonesia saat ini :
Walaupun masa jaya Kerajaan Islam di Nusantara tidak berlangsung lama, namun tetap
memberikan pengaruh besar yang masih bisa kita rasakan saat ini. Bahkan, sekarang Indonesia
menjadi negara yang memiliki penduduk beragama Islam terbanyak di dunia. Selain berpengaruh
pada kepercayaan masyarakat Nusantara masa itu, kehadiran Islam tentunya juga memengaruhi
aspek lainnya
1. Kehidupan Ekonomi
Tentu masih ingat kalau kerajaan Islam bertumpu pada perdagangan, Ternyata,
perdagangan antarpulau dan antarnegara itu memiliki peran yang penting, seperti
menghubungkan penduduk antarpulau maupun terjadi penyebaran budaya antardaerah.
Selain kedua hal di atas, pelabuhan yang dulu menjadi tempat berdagang masih ada yang
digunakan. Lokasi tersebut masih digunakan karena merupakan lokasi strategis untuk berdagang.
Pulau Batam (Riau) serta Bangka dan Belitung menjadi beberapa tempat yang memiliki lokasi
strategis di Selat Malaka.
2. Bahasa
Bahasa Melayu menjadi bahasa yang tumbuh berkembang sejalan dengan penyebaran
Islam, serta pelayaran dan perdagangan di Nusantara. Bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan
antarsuku bangsa sehingga disebut lingua franca.
Bangsa Melayu tersebar ke mayoritas wilayah Nusantara seiring dengan pesatnya perdagangan
pada abad ke-15. Aktivitas bangsa Melayu yang menggunakan bahasa Melayu sehari-hari
semakin menyebarkan bahasa dan budaya Melayu ke berbagai wilayah Nusantara.
Salah satu naskah huruf Arab gundul dan Bahasa Melayu Kuno.
3. Jaringan Keilmuan di Nusantara
Ketika di masa jayanya, Samudra Pasai pernah menjadi pusat studi Islam di Nusantara,
dan menyiarkan Islam di wilayah Malaka. Sistem pendidikan Islam ini diadaptasi oleh sekolah-
sekolah saat ini seperti pesantren ataupun madrasah.
Pesantren Al-Kahfi Somalangu merupakan pesantren pertama di Asia Tenggara. Sayangnya,
pesantren ini tidak didirikan oleh orang Indonesia.
4. Akulturasi Budaya Islam dengan Nusantara
Ketika pertama kali masuk, Islam tidak bisa diterima begitu saja oleh masyarakat Nusantara,
karena mereka saat itu masih beragama Hindu-Buddha atau masih menganut animisme,
dinamisme, dll. Agar dapat diterima, Islam perlu berbaur dengan budaya asli Nusantara.
Akulturasi budaya itu dapat lihat pada:
1. Masjid dan Menara
Pada beberapa masjid peninggalan kerajaan Islam, kamu dapat melihat perpaduan unsur budaya
Islam dengan praislam. Masjid Agung Demak, misalnya. Atapnya berbentuk seperti meru (nama
gunung) yang bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Kemudia, di bagian puncak menara
masjidnya ada mustaka. Perpaduan praislam juga ada pada menara seperti Masjid Kudus.
Menara Masjid Kudus mirip candi Jawa Timur.
Mustaka di Kubah Masjid Agung Yogyakarta
2. Makam
Makam-makam biasanya terdapat dekat dengan masjid agung. Seperti makam sultan-sultan
Demak di samping Masjid Agung Demak, kompleks makam di Samudra Pasai, makam sultan-
sultan Aceh di Kandang XII, makam sultan-sultan Gowa di Tamalate.
3. Seni Ukir
Pada masa Islam, mulai berkembang seni-seni kaligrafi. Ini disebabkan karena seni ukir patung
kurang berkembang karena adanya ajaran yang tidak boleh menggambarkan manusia atau
hewan. Sampai saat ini, kamu masih bisa menemukan seni kaligrafi di banyak tempat.
4. Aksara dan Sastra
Huruf Arab-Melayu mulai dikenal pada masa kerajaan Islam Nusantara dan digunakan dalam
surat, kaligrafi, dan karya sastra. Pengaruh Persia (banyak pedagang datang dari sana) cukup
kuat pada bidang sastra seperti cerita tentang Amir Hamzah, Bayan Budiman, dan Cerita 1001
Malam. Ada empat macam seni sastra masa Islam yaitu:
a. Hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa berisi cerita, peraturan, dan silsilah
bersifat rekaan, keagamaan, historis, maupun biografis. Contohnya: Hikayat Raja-raja
Pasai dan Hikayat Iskandar Zulkarnain.
b. Babad adalah karya sastra kisahan berbahasa Jawa, Sunda, Bali, Sasak, dan Madura yang
berisi tentang sejarah dengan balutan mitos. Contohnya: Babad Tanah Jawi dan Babad Cirebon.
c. Suluk yaitu kitab-kitab tentang tasawuf. Contohnya: Suluk Sukarsa dan Suluk Wujil.
d. Syair adalah sajak-sajak yang terdiri atas empat baris dalam setiap baitnya. Contohnya: syair
pada nisan makam putri Pasai di Minye Tujoh.
5. Kalender
Squad pernah dengar perayaan 1 Sura di Yogyakarta? Itu adalah salah satu pengaruh Islam yang
masih bisa kamu ikuti sekarang. Akulturasi budaya pada perayaan tersebut berawal dari
penyampuran Kalender Saka dengan Kalender Islam yang akhirnya melahirkan Kalender Jawa.
Dalam Kalender Saka, ada nama hari seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Sedangkan
dalam Kalender Islam, ada nama bulan Muharram, Shafar, Rabiul
Awal, Rajab, Syakban, Ramadhan, dan Syawal. Selain itu, nama-nama harinya adalah Ahad,
Isnen, Tsulatsa, Arba’a, Khomis, Jumuah, dan Sabtu.
Perpaduan keduanya melahirkan Kalender Jawa yang memiliki nama
bulan Sura, Safar, Mulud, Rajab, Ruwah, Pasa, dan Sawal. Selain itu, nama-nama harinya
menjadi seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Perayaan Malam Satu Suro selalu diadakan setiap tanggal satu di bulan Muharram
4. Nilai-Nilai Dan Unsur-Unsur Kebudayaan Yang Berkembang
Pada Masa Kerajaan Dan Masih Berkelanjutan Dalam
Kehidupan Bangsa Indonesia Pada Saat Kini
Unsur-unsur dan nilai-nilainya yaitu:
1. Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi manusia yang sangat dibutuhkan dalam
berbudaya. Bahkan, Koentjaraningrat berpendapat bahwa bahasa atau sistem
perlambangan manusia baik secara tertulis maupun lisan yang digunakan adalah
salah satu ciri terpenting dari suatu kebudayaan suku bangsa.
Masih senada, Keesing berpendapat bahwa kemampuan manusia dalam
membangun tradisi budaya dan mewariskannya ke generasi penerusnya sangatlah
bergantung pada bahasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa memiliki andil
yang sangat signifikan dalam menjadi salah satu unsur unsur budaya dari
kebudayaan manusia.
2. Sistem Pendidikan
Sejatinya kebudayaan adalah pengetahuan yang diikuti oleh masyarakat
penganutnya. Sehingga sistem pengetahuan dalam konteks kultural universal
sangatlah dibutuhkan. Misalnya, bagaimana sistem peralatan hidup hingga sistem
kalender pertaian tradisional yang disebut sistem pranatamangsa telah digunakan
sejak dahulu oleh nenek moyang kita untuk menjalankan pertaniannya.
Menurut Marsono, sistem pranatamangsa tersebut telah digunakan oleh masyarakat
Jawa lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sistem tersebut digunakan untuk
menentukan kaitan tingkat curah hujan dengan kemarau, sehingga petani akan
mengetahui kapan saat yang tepat untuk mengolah tanah, saat menanam dan masa
panen yang baik.
Menurut Koentjaraningrat, sistem pengetahuan pada awalnya belum menjadi
pokok pembahasan dari penelitian antropologi (studi budaya), karena para Ahli
berasumsi bahwa suatu kebudayaan di luar bangsa Eropa tidak mungkin memiliki
sistem pendidikan yang lebih maju. Namun, asumsi tersebut terpatahkan secara
lambat laun, karena tidak ada suatu masyarakat yang sanggup berbudaya atau
bahkan bertahan hidup jika tidak memiliki sistem pengetahuan yang diwariskan
kepada penerusnya.
3. Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Unsur budaya berupa sistem ini merupakan usaha antropologi untuk memahami
bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui kelompok sosial. Menurut
Koentjaraningrat, setiap kelompok masyarakat kehidupannya diatur oleh aturan-
aturan dan adat istiadat dari kesatuan yang ada di lingkungan sehari-hari
masyarakat tersebut.
Satuan terkecil dari kelompok yang menghasilkan aturan dan adat tersebut adalah
keluarga inti. Kemudian, kesatuan lain yang lebih besar dapat berupa letak
geografis, suku, hingga kerajaan ataupun kebangsaan.
Sistem kekerabatan dan organisasi sosial dapat dilihat melalui beberapa cara
mereka melakukan: jenis perkawinan, prinsip menentukan pasangan (mencari
jodoh), adat menetap, dan jenis keluarga
4. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Sistem peralatan dan teknologi adalah salah satu unsur kebudayaan yang menadi
perhatian awal dari para antropolog dalam memahami kebudayaan manusia.
Rasanya jelas alasannya, karena peralatan hidup dan teknologi yang mereka
gunakan akan banyak memberikan informasi mengenai kehidupan sehari-hari dari
masyarakat.
Koentjaraningrat mengatakan bahwa masyarakat tradisional terdapat delapan
macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik yang digunakan oleh
masyarakat dalam budayanya. Berikut adalah beberapa sistem peralatan tersebut.
a. Alat-alat produktif
Alat produktif adalah alat untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang menghasilkan
sesuatu yang memiliki nilai guna bagi individu atau masyarakat dan budaya secara
umumnya. Dapat sesederhana batu untuk menumbuk padi, atau alat kompleks
untuk menenun kain.
b. Senjata
Sebagai alat produktif, senjata digunakan untuk berburu binatang atau menangkap
ikan. Namun, alat ini juga digunakan untuk melindungi diri dari binatang buas
hingga berperang.
c. Wadah
Yakni alat untuk menyimpan, memuat, dan menimbun barang. Awalnya wadah
tampak sepele bagi masyarakat, namun seiring dengan meningkatnya aktivitas
ekonomi, wadah menjadi kebutuhan primer dan terus dikembangkan. Misalnya,
salah satu wadah yang paling besar dan permanen adalah lumbung padi.
d. Alat Menyalakan Api
Api merupakan unsur penting dalam kehidupan masyarakat. Sehingga cara
menyalakannya menuntut sistem dan teknologi yang lebih maju. Pada zaman
prasejarah, manusia membuat api dengan cara menggesek-gesek dua buah batu.
Cara tersebut terus berkembang menjadi menggesekkan kayu kering di atas
dedaunan kering, minyak hingga penggunaan gas.
e. Kuliner (Makanan, Minuman, Jamu-jamuan, dsb)
Sistem pengetahuan cara memasak setiap kelompok masyarakat berbeda-beda.
Dalam antropologi, jenis dan bahan makanan tertentu dapat memberikan arti dan
simbol khusus bagi masyarakatnya, atau dikaitkan dengan keagamaan tertentu.
Misalnya, babi diyakini haram oleh kaum muslim, sehingga umat Islam tidak akan
memiliki tata cara memasak babi. Sebaliknya, di Papua babi justru menjadi simbol
makanan penting dan biasa dijadikan mahar dalam pesta pernikahan.
f. Pakaian dan Tempat Perhiasan
Pembahasan fungsi pakaian sebagai alat produktif dalam studi antropologi termuat
pada “bagaimana teknik pembuatan dan cara menghias pakaian dan tempat
perhiasan?”. Suatu masyarakat biasanya selalu memiliki tradisi atau adat istiadat
dalam pembuatan pakaian adat.
Sehingga setiap negara atau bahkan suku bangsa memiliki ciri khas pakaian
kebesarannya sendiri. Pakaian ini juga dapat berfungsi sebagai simbol-simbol
budaya tertentu yang merepresentasikan adat istiadat, norma dan nilai-nilai suku
bangsa tersebut.
g. Tempat Berlindung dan Perumahan
Seperti pakaian, setiap suku bangsa dan negara cenderung memiliki rumah khas
yang berbeda dengan kebudayaan lain. Manusia juga cenderung membangun
rumah yang disesuaikan dengan kebutuhan dan letak geografis yang ditempatinya.
Masyarakat Jawa membangun rumah dengan jendela yang besar karena suhu udara
tropis yang lembab. Sementara masyarakat eskimo justru memanfaatkan
bongkahan es yang tersedia di sekitarnya karena bahan yang terbatas dan ternyata
cara itu berhasil menghindarkan mereka dari kedinginan.
h. Alat-Alat Transportasi
Manusia selalu memiliki kebutuhan untuk berpindah dan bergerak dari titik 1 ke
titik 2. Kebutuhan mobilitas tersebut semakin tinggi hingga dibutuhkan alat
transportasi yang bukan hanya untuk memindahkan manusia saja, namun untuk
memindahkan barang-barang hasil dari perekonomian yang semakin maju.
Beberapa contoh dari alat transportasi adalah sesederhana sepatu, binatang yang
dilatih, alat seret, kereta beroda, rakit dan perahu. Kini, manusia sudah
memanfaatkan alat transportasi yang lebih canggih seperti kereta api, kapal laut,
mobil, hingga kapal terbang.
5. Sistem Ekonomi/Mata Pencaharian Hidup
Sistem ini menjadi fokus kajian penting dari etnografi. Bagaimana masyarakat
mencari mata pencaharian atau bagaimana sistem perekonomian mereka dapat
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya. Sistem ekonomi
pada masyarakat tradisional meliputi: 1) berburu dan meramu; 2) beternak; 3)
bercocok tanam di ladang; 4) menangkap ikan; 5) bercocok tanam, menetap
dengan sistem irigasi.
Namun setelah terpengaruh oleh arus modernisasi dengan patokan utama
berkembangnya sistem industri, pola hidup manusia berubah dan tidak hanya
mengandalkan mata pencaharian tradisional. Di dalam masyarakat modern,
individu masyarakat lebih banyak mengandalkan pendidikan dan keterampilannya
dalam mencari pekerjaan untuk mendapatkan upah.
6. Sistem Religi
Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam
masyarakat adalah dua pertanyaan berikut: 1) mengapa manusia percaya kepada
adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada
manusia?, 2) Mengapa manusia melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan
mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut?
Usaha menjawab kedua pertanyaan tersebutlah yang menjadi penyebab lahirnya
sistem religi. Selain itu, pendekatan antropologi dalam memahami unsur sistem
religi tidak dapat dipisahkan dari religious emotion atau emosi keagamaan.
Emosi keagamaan adalah perasaan dalam diri manusia yang mendorongnya untuk
melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religius. Emosi keagamaan ini pula
yang memunculkan konsep benda-benda sakral dalam kehidupan manusia.
Dalam sistem religi terdapat tiga unsur yang harus dipahami selain emosi
keagamaan, yaitu: 1) sistem keyakinan, 2) sistem upacara keagamaan, dan 3) umat
yang menganut religi itu.
Sistem religi juga mencakup mengenai dongeng, legenda, atau cerita (teks) yang
dianggap suci mengenai sejarah para dewa-dewa (mitologi). Cerita keagamaan
tersebut terhimpun dalam buku-buku yang dianggap sebagai kesusastraan suci.
Selain teks keagamaan, unsur lain yang menjadi bagian dari sistem religi adalah
sebagai berikut.
1. Tempat dilakukannya upacara keagamaan, seperti candi, pura, kuil, surau, masjid,
gereja, wihara atau tempat-tempat lain yang dianggap suci oleh umat beragama.
2. Waktu dilakukannya upacara keagamaan, yaitu hari-hari yang dianggap keramat
atau suci atau hari yang telah ditentukan untuk melaksanakan acara religi tersebut.
3. Benda-benda dan alat-alat yang digunakan dalam upacara keagamaan, yaitu
patung-patung, alat bunyi-bunyian, kalung sesajen, tasbih, rosario, dsb.
4. Orang yang memimpin suatu upacara keagamaan, yaitu orang yang dianggap
memiliki kekuatan religi yang lebih tinggi dibandingkan anggota kelompok
keagamaan lainnya. Misalnya, ustad, pastor, dan biksu. Dalam masyarakat yang
tingkat religinya masih relatif sederhana pemimpin keagamaan adalah dukun,
saman atau tetua adat.
7. Kesenian
Perhatian antropologi terhadap seni bermula dari penelitian etnografi mengenai
aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Data yang dikumpulkan berupa
deskripsi mengenai benda-benda atau artifak yang memuat unsur seni seperti:
patung, ukiran, dan hiasan. Awalnya, teknis pembuatan adalah hal yang paling
diperhatikan.
Namun seiring perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian mendalam mengenai
teks, simbol dan kepercayaan yang menyelubungi seni dalam berbagai wujudnya
mulai dari seni rupa, tari, drama, dikaji dan diteliti pula.
Kata penutup :
Terima kasih bagi yang telah membaca buku ini, semoga buku ini berguna untuk
anda.
Kami sadar bahwa di dalam buku ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu,
kami sangat mengharap kritik dan saran dari pembaca. Agar dalam tugas
berikutnya kami dapat lebih baik lagi
God Bless