The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by imawati66, 2024-06-27 22:28:59

Buku CERITA RAKYAT kerupuk wedi

Buku CERITA RAKYAT kerupuk wedi

Kata Pengantar “Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi” Oleh : Juniati, S.Pd. Kepala Sekolah SD Al Falah Darussalam 2 Assalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh Hamdan Lillah Wa Musholliyan ‘alaa Rosulillah SAW. Suatu daerah pastilah mempunyai ciri khas, cerita rakyat yang menjadi pengingat atas berdirinya suatu daerah atau wilayah. Demikian juga dengan Sidoarjo yang mempunyai banyak cerita rakyat. Sekarang ini cerita rakyat sangatlah asing bagi generasi muda. Banyaknya budaya luar yang masuk ke Indonesia menyebabkan semakin banyaknya generasi muda yang lebih hafal dengan budaya bangsa lain disbanding dengan budaya bangsa sendiri. Hal ini sangat miris sekali. Diperlukan upaya – upaya yang dapat membuat generasi muda kenal dan cinta dengan budaya bangsa Indonesia dibandingkan dengan budaya bangsa lain. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu melalui buku cerita. Buku cerita rakyat maupun budaya daerah atau yang lebih dikenal dengan istilah budaya lokal pada generasi muda sangatlah dibutuhkan, supaya para generasi muda ini kenal dan akrab dengan budaya lokal daerahnya. Buku berjudul “Cerita Rakyat Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi” ini merupakan salah satu dari banyak upaya yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan budaya lokal pada generasi muda. Buku cerita rakyat Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi ini telah disusun dengan sangat menarik oleh penulisnya dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami bagi generasi muda. Kami yakin masih banyak kekurangan dalam buku ini. Oleh sebab itu saran dan masukan sangat kami perlukan untuk perbaikan buku-buku berikutnya. Semoga buku ini dapat menambah hasanah kita tentang budaya lokal Sidoarjo. Terima kasih dan selamat menikmati buku ini. Wassalamu’alaikum Wr.Wb. ii | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


DAFTAR ISI • Bagian 1 : Kerajaan Jenggala ..............................................1 • Bagian 2 : Sang Raja Gelisah............................................. 2 • Bagian 3 : Sayembara.......................................................... 3 • Bagian 4 : Putri Tlasih........................................................ 4 • Bagian 5 : Sang Bapak pergi ............................................. 5 • Bagian 6 : Kalung Giok Hijau ............................................... 7 • Bagian 7 : Di Pasar Larangan ............................................... 8 • Bagian 8 : Ikut Sayembara...................................................10 • Bagian 9 : Putri Lengo .........................................................12 • Bagian 10 : Menyerah.............................................................13 • Bagian 11 : Kalanganyar Sedati ............................................14 • Bagian 12 : Ikan bandeng dan udang raksasa....................16 • Bagian 13 : Masa genting sayembara ..................................18 • Bagian 14 : Nembang dan Pasir Ajaib.................................19 • Bagian 15 : Sayembara dimulai.............................................20 • Bagian 16 : Akhirnya Sang Raja ...........................................22 • Bagian 17 : Sang Pemenang ...................................................23 • Bagian 18 : Akhirnya semua bahagia...................................24 • Bagian 19 : Wilayah Tlasih....................................................25 • Bagian 20 : Terkenal dengan Kerupuk Wedi.....................26 Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | iii


Yok konco rungokno aku cerito. Ceritane judule Putri Tlasih lan kerupuk wedi. Yuk konco rungokno aku cerito. Mugo-mugo ana guna lan faedahe. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi iv | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Pada zaman dahulu kala, di alun-alun Kerajaan Jenggala riuh berkumpul banyak orang. Ternyata rakyat sedang ramai membicarakan Sang Raja yang sedang gundah gulana. Rakyat miskin bertambah banyak. Belanda semakin mempersulit untuk mendapatkan bahan pokok. Uang upeti yang harus dibayar juga semakin tinggi. Kerajaan Jenggala yang dipimpin oleh Airlangga dari Wangsa Isyana sedang resah. Badannya semakin hari semakin kurus karena memikirkan rakyatnya. Setiap hari Sang Patih melaporkan banyak rakyat yang meninggal karena kelaparan. Bayi, anak kecil, dan orang tua banyak yang meninggal bergelimpangan. Hasil bumi rakyat diperas habis oleh Belanda. Perekonomian rakyat semakin menurun. Banyak rakyat miskin tidak bisa menikmati hasil bumi sendiri. Karena semua harus diserahkan ke Belanda dan diganti dengan imbalan yang jauh di bawah harga pasar. Padahal pusat perekonomian di Bandar Sungai Porong selalu ramai, tapi entah kenapa penduduknya masih banyak yang kelaparan. Belanda juga mempersulit pembagian makanan ke rakyat jelata. Mereka harus membayar upeti yang mahal untuk menebus bahan-bahan makanan pokok. Sang Raja merasa ikut berempati dan beliau juga tidak mau makan dan minum. Meskipun makanan berlimpah di kerajaan, tapi Sang Raja ingin ikut merasakan bagaimana rasanya kelaparan yang dirasakan rakyatnya. Bagian 1 : Kerajaan Jenggala. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | v


Karena Sang Raja tidak tahan melihat rakyatnya yang meninggal bergelimpangan. Maka Sang Raja pada malam hari pergi diam-diam ke kampung Pucang Anom menemui Sang Patih yang bernama R. Ng. Djojohardjo. Dengan memakai selimut tebal menutup seluruh badannya, beliau berjalan hati-hati keluar kerajaan. Sang Patih sangat kaget dengan kedatangan raja yang sembunyi-sembunyi. “Ada apa raja? sehingga raja sembunyi-sembunyi ke kampung Pucang Anom?” tanya patih. “Iya patih aku sedang risau atas ulah Belanda yang semakin hari semakin mempersulit rakyat jelata dalam mendapatkan bahan makanan pokok. Aku ingin berembug bagaimana mengatasi masalah ini ?” tanya raja. “Baik paduka raja, bagaimana kalau kita membuat sayembara tentang kreasi makanan yang enak, lezat, dan dari bahan yang murah. Tapi saya bingung kira-kira hadiahnya apa ya raja?” tanya patih dengan menggarukgaruk kepala.. “Ide yang cemerlang patih. Dengan tema sayembara seperti itu, maka akan memotivasi para rakyat bagaimana mereka akan berlomba membuat makanan yang enak, mudah dibuat, dan murah. Tidak membutuhkan bahan makanan yang mahal. Untuk hadiah, bagaimana kalau pemenangnya akan diberi daerah kekuasaan dan mereka berhak mengelola rakyat dan wilayahnya. Agar menjadi wilayah yang maju dan berkembang,” jawab raja. “Benar paduka raja, ide yang luar biasa.” “Iya tolong besok patih umumkan sayembara ini kepada seluruh rakyat Sidoarjo. Saya harap jangan sampai ada wilayah yang terlewat.” “Baik sendiko dawuh raja.” Pada saat itu juga dengan mengendarai kuda, Sang Patih langsung pergi ke seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo di kampung Pangabahan. Setelah berdiskusi mereka akhirnya berencana besok pagi buta menyamar menjadi prajurit biasa dan mengumumkan sayembara. Bagian 2 : Sang Raja Gelisah vi | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Bagian 3 : Sayembara Keesokan harinya Sang Patih berkeliling dengan Sang Wedana untuk menyebarkan pengumuman sayembara. Dung… dung…dung … (suara gong kecil yang ditabuh Sang Wedana) “Sayembara-sayembara … ! Pengumuman dari Kerajaan Jenggala. Bahwa ada sayembara untuk membuat kreasi makanan enak, unik, dan dari bahan yang murah. Semua rakyat boleh mengikutinya,” ucap patih. Semua daerah sudah mereka kelilingi agar para rakyat semua bisa mengikutinya. Dari pelabuhan Bandar Sungai Porong, Tanggulangin, Candi, Pasar Larangan, Buduran, Sedati, Waru hingga daerah ujung Tambak Rejo. Terdengarlah sayembara itu ke telinga seluruh rakyat. Semua rakyat saling berkerumun memperhatikan pengumuman dari Sang Patih. Seorang bapak yang sedang mencari kayu pun mendengar berita tersebut. Sesampainya di rumah daerah Candi ia menyampaikan sayembara tersebut kepada ke tiga putrinya. Dua anak tiri dan satu lagi anak kandung. “Nduk, tadi ada sayembara dari raja tentang membuat kreasi makanan yang enak, unik, dan dari bahan yang murah. Ayo kita ikut semua. Kalian kan anak bapak yang jago masak semua, kalian pasti bisa,” kata bapak dengan semangat. “Iiih … apaan pak kita ini kan keluarga miskin. Mana punya bahan makanan yang bagus untuk ikut sayembara,” ucap Putri Abang. “Betul tuh pak, kita pasti kalah dengan keluarga Putri Lengo yang sombong dan kaya raya itu,” kata Putri Ijo. Putri Tlasih pun menyahut. “Iya bapak benar, apa salahnya kalau kita mencoba dahulu”. Ibu tiri berkata, “Kamu itu Putri Tlasih, apa nggak ngaca! Untuk hidup sehari-hari saja kita makan apa adanya, apalagi ikut syaembara. Ya pasti kalahlah. Lihat orang lain pasti menyajikan sesuatu yang lebih berkualitas dari kita.” Putri Tlasih langsung tertunduk. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | vii


Putri Tlasih adalah anak piatu yang tinggal dengan ibu dan dua saudara tirinya. Bapaknya yang sudah tua dan selalu mengalah dengan ibu tirinya. Ibu dan saudara tirinya sangat jahat dengan bapak dan Putri Tlasih. Putri Tlasih dianggap sebagai pembantu bagi keluarganya sendiri. Ia bangun paling pagi dan tidur paling malam. Memasak, mencuci baju, dan membersihkan rumah semua ia kerjakan sendiri. Ibu tiri dan saudaranya selalu bangun siang dan tinggal menikmati masakan yang sudah tersedia. Bapaknya selalu berangkat pagi buta mencari kayu di hutan. Suatu hari sebelum berangkat kerja bapaknya berpesan pada Putri Tlasih. “Nduk, maafkan bapak ya jika kamu merasa tersiksa di keluarga sendiri. Yang sabar Gusti Pengeran ora sare (tidak tidur), semoga Tuhan akan mengangkat derajat orang yang teraniaya dan sabar. Dan satu lagi apapun yang terjadi tetaplah menjadi orang baik,” pesan bapak. “Inggih pak, mboten nopo-nopo (tidak apaapa). Saya ikhlas kok pak kalau memang ini nasib saya. Saya akan menjaga pesan bapak,” jawab Putri Tlasih dengan mata berkaca-kaca. Sambil memegang tangan bapaknya yang keriput. Tangan bapak yang dulu kekar sudah berubah tampak lemah dan bergetar. Tapi senyum dan mata lembut bapak tidak berubah. Tampak kerut dan raut wajah bapak yang sudah menua. Mata yang sudah kurang jelas melihat. Alis dan rambut yang sudah berwarna putih. Bagian 4 : Putri Tlasih viii | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Mereka saling berpegangan tangan erat dan saling berpelukan. Sembari terdengar suara sesenggukan tangisan Putri Tlasih. “Iya nduk, dungakno (doakan) bapak bisa pulang cepet dan dapat hewan buruan. Nanti kita bisa makan malam bersama-sama,” kata bapak. “Inggih pak. Nanti saya juga masak spesial buntil daun pohong (singkong) dan ikan asin kesukaan bapak,” jawab Putri Tlasih dengan gembira. Bapaknya hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman lalu pergi. Setelah itu di persimpangan hutan mereka berpisah. Bapak pergi menuju hutan dan Putri Tlasih pergi menuju sungai untuk mencuci baju. Dipandangi bapaknya dari kejauhan yang berjalan membungkuk dengan tongkatnya. Semakin jauh semakin kecil dan hilang ditelan gelapnya hutan. Dengan berjalan lunglai Putri Tlasih menyusuri jalan setapak menuju sungai. Suara derasnya air terjun sudah terdengar pertanda sungai sudah dekat. Ketika mengeluarkan setumpuk baju kotor tiba-tiba ada bunyi klenting. Ternyata ada sebuah kalung batu giok hijau jatuh. Tidak mungkin itu milik saudaranya karena ia tidak pernah melihat saudara tirinya mempunyai kalung seperti itu. Bagian 5 : Sang Bapak pergi Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | ix


Kalung itupun dipakainya, tiba-tiba keluar cahaya dan suara bapaknya. “Nduk mungkin kamu tidak akan bertemu bapak lagi, karena bapak akan menempuh perjalanan jauh bersama ibumu. Kalung batu giok hijau ini adalah jimat dari bapak. Ini bisa sebagai temanmu saat kamu sedih dan akan menuntunmu ke jalan yang baik,” pesan bapak. Putri Tlasih langsung lemas dan duduk bersimpuh di atas batu kali. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia kehilangan bapak yang paling menyayanginya. Sudah tidak ada saudara lagi yang mengerti dia. Tidak ada tempat lagi untuk berkeluh kesah. Putri Tlasih sangat sedih. Sore hari saat bapaknya biasanya pulang ternyata benar tidak datang. Hingga larut malam pun tidak kunjung datang. “Di mana bapak ya bu, kok nggak pulang-pulang ?” tanya Putri Tlasih. “Sudah mati mungkin diterkam harimau, buktinya sudah dua hari nggak pulang,” jawab ibu tiri dengan ketus. “Ih ngapain juga ditunggu, toh bapak juga sudah tua nggak ada gunanya. Sudah tidak bisa menghidupi kita juga,” sahut Putri Ijo.Sejak saat itu, bapaknya tidak pernah kembali lagi untuk selamanya. Sekarang hanya kalung batu giok yang menjadi temannya. x | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Suatu hari saat Putri Tlasih sedang mengepel, Putri Abang mengamati kalung giok di leher Putri Tlasih. Terlihat sangat bagus dan bercahaya, ia pun ingin memilikinya. “Putri Tlasih kalung kamu baru ya? Dapat dari mana? bagus juga, buat aku ya,” tanya Putri Abang. “Ja … ja… ngan ini pemberian bapak, sebagai kenangan terakhir dari bapak,” jawab Putri Tlasih. “Ah nggak peduli, sini buat aku.” Kalung itupun ditarik paksa dan akhirnya Putri Abang mendapatkannya. “Haahaaahaaa … akhirnya aku bisa mengambil kalungmu,” kata Putri Abang dengam tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa saat kalung itu berada di tangan Putri Abang, tiba-tiba berubah menjadi hitam dan berbau busuk. “Yaa ampuuun … , iihh jijik sekali. Kenapa batu giok hijau secantik itu bisa langsung berubah jadi hitam dan bau seperti ini. Aku nggak mau.” Dilemparkanlah kalung itu ke lantai. Dengan cepat Putri Tlasih mengambilnya. Putri Tlasih berteriak, “Bapaaaaaak … .” Dielusnya batu giok itu dan kembali menyala hijau dan harum. Sejak saat itu tidak ada yang berani mengambil kalung giok itu lagi. Sepeninggal bapaknya Putri Tlasihlah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia menjual sayuran di Pasar Larangan. Bagian 6 : Kalung Giok Hijau Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xi


Tidak seperti biasanya, suasana pasar sangat ramai. Ternyata semua orang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk ikut sayembara Sang Raja. Putri Tlasih hanya duduk terdiam. Sambil mengamati orang yang sibuk berlalu-lalang. Semua membeli bahan makanan yang berkualitas dan mahal. Semua orang saling berlomba menciptakan kreasi makanan untuk ikut sayembara. “Kamu nggak ikut sayembara Putri Tlasih?” tanya Yuk Jum. “Enggak Yuk Jum, aku nggak punya uang untuk membeli bahan makanan yang mahal,” jawab Putri Tlasih dengan nada sedih. “Loh kan dari Sang Raja disuruh dari bahan yang murah.” “Iya, tapi pasti kalahlah. Apalagi Putri Lengo anak saudagar petis yang kaya raya itu ikut. Pasti aku kalah.” Tiba-tiba kalung giok hijau itu bersinar dan seakan berbisik. “Nduk kamu harus ikut, jangan menyerah. Bapak yakin kamu pasti bisa.” suara kalung giok. Putri Tlasih tersontak kaget dan ia tiba-tiba semangat ikut sayembara. Putri Tlasih berpikir dan memutar otak bagaimana agar ia bisa menghasilkan uang lebih untuk belanja bahan pokok demi ikut sayembara. Sehari-harinya ia hanya menjual sayuran. Dan untuk mendapatkan uang lebih ia sekarang berjualan beraneka macam ikan. Ada ikan udang, mujair, pindang dan bandeng. Putri Tlasih adalah anak yang kreatif. Sayur dan ikan yang tidak laku diolah dan dimasak lagi menjadi makanan yang enak. Seperti ikan pindang Bagian 7 : Di Pasar Larangan xii | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


diolah dengan ditambah pencit (mangga muda) menjadi brengkes (pepes). Sayuran direbus dipotong kecil dan diberi parutan kelapa muda, terasi, dan cabai. Maka jadilah urap-urap. Serta banyak lagi yang makanan olahan lainnya. Karena masakan Putri Tlasih terkenal murah dan sedap, maka jualannya selalu habis diserbu pembeli. Akhirnya Putri Tlasih mendapatkan banyak uang. Ia berencana membeli bahan makanan yang mahal agar bisa ikut sayembara. Setiap hari ia menyisihkan sedikit uangnya di bawah sebuah batu. Karena jika ibu dan saudara tirinya tahu dia punya uang banyak pasti akan mengambilnya. Ibu tiri dan saudaranya ternyata tahu kalau jualan makanan Putri Tlasih laris manis di Pasar Larangan. Malam harinya sepulang dari pasar, tiba-tiba saudara tirinya sudah berdiri menunggu di depan pintu. “Eh Putri Tlasih kamu kan sekarang banyak uang. Bikinkan dong resep masakan yang sedap dan mantab. Karena aku ingin ikut sayembara,” ucap Putri Abang. “Aku juga. Aku ingin menjadi pemenang mengalahkan Putri Lengo. Awas kalau nggak enak,” sahut Putri Ijo. “Iya kak,” jawab Putri Tlasih dengan lemas. Setelah menaruh barang-barangnya di pawon (dapur). Ia duduk di bayang (ranjang bambu), sambil mengusap keringat di dahinya. Ia tibatiba menitikkan air mata. Teringat akan bapak ibunya yang sudah tiada. Ia sangat rindu belai kasih sayang orang tuanya. Tempat ia bermanja dan beradu keluh kesah. Seandainya bapak ibu masih ada mungkin aku tidak sesengsara seperti ini. Rumah mereka sangat kecil, sehingga tiap malam Putri Tlasih tidur di atas bayang di dapur. Bergumul dengan bumbu dapur dan tungku arang. “Ah ... hari ini aku capek sekali. Aku ingin tidur sambil meluruskan punggung dan kakiku,” kata Putri Tlasih. Terlihat banyak tanda seperti memar berwarna ungu di kakinya, yang lama kelamaan bisa menghitam. Pertanda ia kecapekan. Dengan posisi terlentang hanya beralaskan jarik ibunya ia mencoba memejamkan mata. Sambil melihat sinar bulan di atas celah-celah genteng yang berlubang. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xiii


Bagian 8 : Ikut Sayembara Tiba-tiba kalung giok menyala. “Hai anakku kamu tidak boleh sedih, ada aku bapakmu yang selalu menemanimu. Sekarang kamu tidur, besok pagi kamu akan menemukan sesuatu.” “Bapak … !” teriak Putri Tlasih dengan kagetnya. Antara bermimpi dan tidak, ia seakan bertemu bapaknya. Keesokan harinya, seperti biasa ia harus membersihkan rumah dan mencuci baju di sungai. Saat melewati dapur terlihat ada yang bercahaya, ternyata itu adalah kuali ibunya. Dan kalung giok itu pun berbisik. “Ini adalah kuali ajaib. Apapun yang kamu masak pasti akan menjadi enak.” Putri Tlasih hanya terdiam dengan mata terbelalak. Tiba-tiba ibu tirinya masuk ke dapur. “Eh Putri Tlasih, hari ini ada berita bagus untukmu,” kata ibu tiri. “Iya bu, ada apa?” tanya Putri Tlasih. Ibu tiri langsung mengambil sekeranjang baju kotor yang ada di tangan Putri Tlasih. “Hari ini kamu bebas tidak usah mencuci baju atau jualan ke pasar.” “Kenapa bu?” “Apakah ini pertanda yang dikatakan kalung giokku tadi malam. Jika ada sesuatu pada pagi hari. Dan ibu tiriku tiba-tiba berubah menjadi baik,” gumam Putri Tlasih dari dalam hati. Ibu tiriku menjawab, “Karena sayembara kurang tiga hari lagi, jadi ibu mau kamu buatkan makanan yang enak dan sedap untuk dua saudara tirimu. Dan ibu tidak mau tahu. Harus jadi dua resep dan dari bahan yang berkualitas bagus dan enak. Karena ibu mau mengalahkan Putri Lengo,” kata ibu tiri. xiv | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


“Tapi bu … , mana mungkin sehari langsung menjadi dua makanan? Simpanan uang saya juga tidak cukup bu … ,” sanggah Putri Tlasih. “Aaahh … ibu gak mau tahu, pokoknya harus jadi. Kalau kamu tidak bisa maka kamu akan kuusir dari rumah ini. Biar jadi gelandangan tidur di luar,” sahut ibu tiri dengan mata melotot. ”Iiii…yaa…yaa bu,” jawab Putri Tlasih dengan ketakutan dan wajah merunduk. Ia pun langsung bergegas pergi ke Pasar Larangan. Menuju batu tempat ia menyimpan uang. Kemudian ia langsung pergi ke toko sembako. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xv


Bagian 9 : Putri Lengo Tiba-tiba … . “Eh kamu Putri Tlasih ya, yang katanya masakanmu paling enak sejagad Sidoarjo ini,” celetuk Putri Lengo. “Iii…yaa Putri Lengo,” jawab Putri Tlasih. “Kamu mau ikut sayembara? Jangan mimpi deh, meskipun kamu terkenal jago masak kamu tetap akan kalah denganku. Karena aku akan mendatangkan koki yang termashyur di daerah ini untuk membantuku. Dan satu lagi Sang Raja pasti tidak akan mau masakan dari orang miskin yang bau, kotor, dan menjijikkan kayak kamu ini,” ucap Putri Lengo dengan sombong. “Saya tidak ikut sayembara Putri Lengo. Yang ikut adalah kedua saudara tiriku. Saya hanya membantu masak saja.” “Ouh begitu, baguslah. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan jadi pemenangnya,” kata Putri Lengo dengan melenggang pergi. Dengan cekatan Putri Tlasih langsung membeli bahan makanan yang dibutuhkan. Ia ingin membuat brengkes pindang dan buntil daun singkong. Sesampainya di dapur ia langsung masak dengan kuali ajaibnya. Dalam sekejap kedua masakan tersebut langsung jadi. Dan pastinya sangat sedap. “Ini ibu masakan sudah jadi, silahkan.” “Saya ingin mencicipinya dulu. Heeemmm … mantab sedap banget. Pasti Puti Lengo akan kalah dengan kreasi masakanku.” Siang itu terasa sangat terik. Putri Tlasih sudah tidak semangat lagi untuk berjualan. Semua orang di pasar ramai membicarakan untuk ikut sayembara besok. Putri Tlasih hanya bisa bersedih melihat orang yang berlalu lalang sibuk menyiapkan sayembara. Semua uang dan bahan makanan Putri Tlasih sudah habis. Sudah tidak ada harapan lagi untuk ikut sayembara. xvi | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


“Maafkan bapak, aku tidak bisa ikut sayembara seperti pesanmu,” kata Putri Tlasih dari dalam hati. Tiba-tiba kalung giok itu menyala. “Nduk, kamu harus sabar dan tetap ikut sayembara. Bapak yakin kamu pasti bisa.” Putri Tlasih terasa seperti mendapat air es di tengah sahara. Langsung semangat ikut sayembara. Belanda yang semakin kejam ke rakyat jelata membuat bahan makanan menjadi susah dan sangat mahal. Sehingga rakyat kecil hanya bisa mengolah makanan dari singkong yang ditanamnya. Putri Tlasih juga menanam singkong di pekarangan belakang rumah. Daunnya bisa dibuat makanan buntil dan singkongnya bisa diparut menjadi sawut. Setelah mendapat firasat dari kalung tersebut. Putri Tlasih langsung pergi ke pekarangan belakang rumah. Dilihatnya banyak singkong yang melimpah. Tiba-tiba dia mendapat ide untuk membuat tepung. Maka diparutlah singkong tersebut dan diendapkan semalaman di dalam kuali ajaib. Dan esok harinya sudah menjadi sari pati singkong. Dijemurlah sari pati tersebut dan jadilah tepung. Tiba-tiba kalung giok menyala dan berbicara. “Pergilah ke arah Kalanganyar,” kata kalung giok. Kalanganyar Sedati adalah daerah tambak dekat dengan pesisir laut. Putri Tlasih yang tinggal di daerah Candi lumayan cukup jauh jika harus berjalan kaki ke daerah Kalanganyar. “Tapi tak mengapa meski jauh aku harus bertekad tetap ikut sayembara,” ucap Putri Tlasih dengan gigihnya. Bagian 10 : Menyerah Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xvii


Dengan segera Putri Tlasih berjalan ke arah utara menuju tambak di daerah Kalanganyar-Sedati. Menyusuri jalan setapak melewati hutan dan rawa-rawa yang sepi. Hingga sampailah ia di tepi tambak. Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan. Ia pun beristirahat sejenak duduk di atas batu yang besar. Putri Tlasih menangis sambil meratapi nasibnya. Kakinya lecet berdarah dan tenggorokannya sangat kering. Dari kejauhan ia melihat sebuah air yang mengucur dengan deras. Dihampirilah air tersebut. Sangat jernih dan segar. Ia pun mengambil dengan kedua tangan dan meminumnya. Serta mengusap wajahnya yang tampak lusuh dan lelah. Air matanya jatuh bercampur dengan aliran air menuju tambak. Tiba-tiba ia mendengar ada suara. “Nduk, kamu anak yang baik aku akan membantumu. Air matamu membangunkanku.” Dilihatnya kalung giok hijau yang biasanya bisa berbicara. Ternyata bukan dari kalung giok tersebut. Dengan wajah setengah takut dan bulu bergidik, ia menoleh pelan-pelan ke arah tambak. Tidak ada satu orangpun. Hanya ia sendiri yang berdiri. “Si… si… siapa yang berbicara padahal aku sendirian di tambak ini,” ucap Putri Tlasih dari dalam hati dengan ketakutan. Tiba-tiba munculah sebuah udang raksasa dari dalam tambak disertai dengan suara gemuruh air. “Nduk jangan takut, aku adalah udang ajaib di daerah ini. Kamu adalah orang yang beruntung. Karena tidak semua orang bisa aku temui,” kata udang ajaib. “Ka…ka…mu siapa?” tanya Putri Tlasih dengan nada terbata-bata dan keringat dingin yang bercucuran. Bagian 11 : Kalanganyar Sedati xviii | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Ia sangat takut karena udangnya sangat besar sekali. Tingginya seperti orang dewasa. Putri Tlasih menutup wajahnya tidak mau melihat. “Aku tahu kamu sedang sedih. Aku akan membantumu. Aku tadi terbangun saat air matamu menetes ke dalam air tambak. Air mata suci dari hati anak yang baik tapi sedang kalut hatinya. Maka aku harus menolomu.” “Iii… yaaa benar, aku memang sedang sedih,” jawab Putri Tlasih sambil membuka wajahnya pelan-pelan. “Baik, Putri Tlasih aku akan membantumu dengan memberi bahan makanan resep rahasia, sehingga kamu bisa ikut sayembara. Terimalah ini.” Diterimalah bungkusan kecil itu. Saat mau membukanya tiba-tiba udang ajaib menghilang. “Terima kasih udang ajaib,” jawab Putri Tlasih dengan mata berbinarbinar. Ia melihat serbuk putih yang berkilau sebening kristal. Dan ternyata itu adalah garam. Setelah itu Putri Tlasih berjalan pulang dengan berlari. Karena terlalu semangat ia pun terperosok ke tepi tambak yang berlumpur. Byuuurrr… . Seketika itu ia ingat akan kalung giok hijaunya. Dirabanya dan tidak ada. “Dimana kalungku. Itu pemberian bapakku.” Dengan bercampur lumpur tangannya meraba-raba ke dalam tambak. Ia menemukan benda yang sangat keras. Setelah ditarik ternyata seekor ikan raksasa. Whuaaahaaaaaa….. Putri Tlasih mencoba berlari akan tetapi kakinya tertahan lumpur ia pun tidak bisa berlari. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xix


“Aaaa…aaa…aaampun ikan raksasa aku tidak sengaja terjatuh. Dan aaa… kuuuu tidak ada niat jahat untuk mengganggu tidurmu,” kata Putri Tlasih dengan terbata-bata ketakutan. Ia berjalan mundur sambil melongok ke atas. Ternyata itu adalah ikan bandeng raksasa. Dengan mata terbelalak ikan bandeng terlihat sangat marah. Matanya sangat merah dan siripnya tegak berdiri tajam. “Hai anak manusia, kenapa kamu mengganggu tidurku. Aku sangat lapar. Sepertinya kamu ini lezat sekali. Karena kamu yang menganggu tidurku jadi kamu yang akan aku makan,” kata Si Bandeng dengan nada geram. “ Ti…ti…daak…ampun maaf, aku tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke dalam tambak. Aku tadi mencari kalung giokku yang jatuh.” Ternyata kalung tersebut berada di leher Si Bandeng itu. “Ouh ini kalungmu,” kata Si Bandeng. “I..ii..yaaa,” jawab Putri Tlasih “Hahahhah… kalungmu sangat bagus. Dan sepertinya sangat ajaib. Buat aku saja hahaah … ,” kata Si Bandeng dengan tertawa terbahak-bahak. “Ja… jaa… jangan itu adalah pemberian bapakku.” sahut Putri Tlasih. Dan ketika kalung tersebut dipegang Si Bandeng. Tiba-tiba menyala dan terasa sangat panas. “Aaahhh…. panaaasss… ,” kata Si Bandeng dengan merintih kesakitan. Bagian 12 : Ikan bandeng dan udang raksasa xx | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Maka terlepaslah kalung tersebut dan jatuh ke tangan Putri Tlasih. “Terima kasih Bandeng,” ucap Putri Tlasih. Setelah itu Si Bandeng raksasa yang tadinya jahat berubah menjadi sangat baik. “Putri maafkan aku yang tadi sudah jahat denganmu. Oh ya putri mengapa kamu terlihat sangat sedih. Mungkin aku bisa membantumu?” tanya Si Bandeng. “Iya bandeng. Aku mau ikut sayembara Sang Raja. Tiba-tiba tadi ketemu Si Udang raksasa dan diberi serbuk putih ajaib,” jawab Putri Tlasih. “Di tambak Kalanganyar Sedati ini ada dua penguasa yaitu udang dan bandeng raksasa. Kami adalah penunggu daerah Sidoarjo ini. Oleh karena itu, daerah ini terkenal akan udang dan bandengnya yang melimpah. Untuk melengkapi resepmu kamu kuberi ramuan ajaib lagi. Bukalah saat sampai di rumah.” “Baik, terimakasih bandeng.” Saat bungkusan ramuan itu diterima tiba-tiba Si Bandeng raksasa itu menghilang. Putri Tlasih pun ketakutan dan lari terbirit-birit ke arah daerah kampung Gedangan. Siang hari sesampainya di rumah Candi. “Eh Putri Tlasih kamu nggak ikut sayembara kan…??? Resepmukan sudah kita ambil semua. Besok kita akan menuju kerajaan untuk menyajikan makanan lezat kepada Sang Raja,” tanya Putri Abang. “Iya kamu jaga rumah saja, karena meskipun kamu ikut juga percuma. Pasti raja nggak mau mencicipi makanan dari orang yang lusuh, jelek, dan bau kayak kamu,” kata Putri Ijo. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxi


Dengan berjalan gontai ia berjalan menuju pawon (dapur). Ia berbaring di bayang (tempat tidur dari bambu) yang reot. Pandangannya menerawang ke kuali ajaibnya. Tiba-tiba ia teringat akan bungkusan dari Si Udang dan Si Bandeng ajaib. “Oh ya bungkusan itu.” gumam Putri Tlasih dari dalam hati. Putri Tlasih teringat akan tepung dari saripati singkong yang sudah dibuatnya. Maka dicampurlah tepung itu dengan bungkusan dari Si Udang yaitu serbuk garam. Diramunyalah menjadi adonan dengan ditambahkan sedikit bawang putih. Setelah menjadi adonan yang kalis, ia mengukusnya terlebih dahulu sehingga menjadi adonan yang padat. Memotongnya tipistipis berbentuk bulat. Lalu ia menaruhnya di atas tempeh (tempat dari anyaman kayu) dan dijemur di atas genteng. Krusuk-krusuk … , (terdengar seperti ada seseorang di balik dinding dapur) “Siapa itu ?” teriak Putri Tlasih. “Ternyata tidak ada siapa-siapa,” ucap Putri Tlasih sambil melihat keluar dapur. Setelah adonan kering dan menjadi seperti krupuk. Putri Tlasih bingung menggorengnya dengan apa, karena ia sudah tidak punya uang lagi untuk membeli minyak goreng. “Oh iya aku hampir lupa, aku masih punya satu bungkusan kecil dari Si Bandeng ajaib.” Dibukalah bungkusan itu. “Haaaa … pasir ??? ia sangat kaget dengan mata terbelalak. “Bagaimana bisa menggoreng kerupuk dengan pasir, biasanya kan dengan minyak,” ucap Putri Tlasih. Bagian 13 : Masa Genting Sayembara xxii | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Akhirnya, pasir tersebut di taruh di dalam kuali ajaib. Dipeganglah pasir itu ternyata berbeda dengan pasir pada umumnya. Di bawah sinar matahari pasir tersebut sangat berkilau seperti ada batuan kristalnya. Dan pasirnya pun sangat halus dan berwarna hitam legam. Putri Tlasih mencuci bersih dan menyangrai pasir tersebut di atas tungku kayu hingga panas. Lalu ia memasukkan kerupuknya. Dan ajaib kerupuk itu bisa mekar dan cantik. Rasanya pun sangat sedap tidak kalah dengan krupuk minyak pada umumnya. Karena digoreng dengan pasir atau wedi (bahasa jawa). Maka kerupuk tersebut ia beri nama “Kerupuk Wedi”. Putri Tlasih sangat senang akhirnya bisa ikut sayembara dan ia pun menggoreng kerupuk sambil berdendang. Kerupuk wedi kerupuke Putri Tlasih. Nggorenge nggawe wedi pilihan. Disangrai resik lan aman. Kerupuk wedi nggawene saka pati. Ditambah uyah lan bawang. Rasane enak renyah lego neng ati. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua orang berduyun-duyun menuju Kerajaan Jenggala untuk mengikuti sayembara Sang Raja. Mereka membawa hasil kreasi makanannya masing-masing. Tampak sangat lezat dan mewah. Tiba-tiba … . “Eh Putri Tlasih kamu nggak usah ikut sayembara, karena aku sudah mencuri resepmu,” kata Putri Lengo. Putri Tlasih sangat kaget. “Bagaimana kamu bisa tahu resepku?”tanya Putri Tlasih. “Iya, aku menyuruh jongos (pembantu) ku untuk mengintip dapurmu. Dan kamu tidak punya minyak gorengkan? Haaahaaa … dan aku punya minyak goreng yang bagus dan berkualitas. Jadi kamu pulang saja deh, karena hasil kerupukku akan jauh lebih cantik dan bagus daripada kerupukmu,” kata Putri Lengo dengan sombongnya. Putri Tlasih sangat sedih ia pun berjalan mundur menjadi urutan yang terakhir. Bagian 14 : Nembang dan Pasir Ajaib Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxiii


“Ini Raja Jenggala persembahan spesial dari kami. Makanan yang mewah dan lezat. Bentuknya pun sangat cantik dan berkilau. Karena kami membuatnya dari bahan makanan yang bagus dan berkualitas,” rayu Putri Lengo. “Iya benar Putri Lengo. Kerupuk buatanmu memang sangat bagus dan enak tapi sayangnya terlalu berminyak,” jawab Sang Raja. “Ini saja raja brengkes pindang kami. Dibuat dari ikan segar pilihan dan rasanyapun sangat lezat.” kata Putri Abang. “Lebih enak ini saja buntil singkong raja, rasanya sangat lezat dan beda dengan buntil yang lain. Monggo raja silahkan dicicipi.” kata Putri Ijo. Raja Jenggala hanya berlalu. Di depan aula kerajaan terdapat banyak makanan. Banyak rakyat yang menawarinya tapi raja hanya melewatinya dan tidak tertarik. Pada urutan paling terakhir, raja melihat seorang wanita yng berbaju kumal dan lusuh. Wajahnya tertunduk sambil membawa hasil makanan kreasinya. “Kamu siapa? dan makanan apa yang kamu sajikan?” tanya raja. “Saya Putri Tlasih. Ini raja kerupuk buatan saya. Memang tampak sederhana tapi mohon bisa dicoba, karena rasanya sangat sedap dan beda dengan krupuk lainnya,” kata Putri Tlasih sambil menyodorkan makanan kreasinya. “Ini kerupuk apa namanya. Karena bagi kami kasta raja biasanya makan kerupuk yang mahal dari kulit sapi yaitu rambak. Bukan kerupuk yang lusuh seperti ini. Kerupukmu tampak tidak menarik, tapi baiklah aku akan mencobanya.” Bagian 15 : Sayembara dimulai xxiv | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


“Memang raja kerupuk buatan kami tidak terlihat menarik tapi mohon raja untuk berkenan mencobanya.” Dengan wajah ragu, raja mengambil satu kerupuk tersebut. Bagian 16 : Akhirnya Sang Raja …. “Heeemmm… rasanya sangat enak, renyah dan sedap tiada tara. Baru kali ini aku menemukan kerupuk selezat ini. Bagaimana bisa kamu membuat kerupuk selezat ini?” tanya raja. “Ia raja, saya menggorengnya dengan wedi.” “Haahh wedi … wedi kan pasir. Bagaimana bisa kerupuk bisa digoreng dengan pasir?” Putri Tlasih menjelaskan panjang lebar bagaimana proses membuat kerupuk goreng wedi ini. “Luar biasa sangat unik dan kreatif. Dibuat dari bahan makanan yang murah meriah dan sangat sesuai dengan tema judul sayembara ini,” ucap raja. Sang raja pun memanggil Sang Patih untuk ikut mencobanya. “Patih silahkan dicoba kerupuk ini,” suruh raja. “Wow rasanya enak unik dan sedap. Sepertinya ada resep rahasia yang tersimpan di balik kerupuk ini,” kata patih. Semua makanan sudah dinilai. Tampak raja dan patih sedang berdiskusi untuk menentukan pemenangnya. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxv


“Heeemmm… rasanya sangat enak, renyah dan sedap tiada tara. Baru kali ini aku menemukan kerupuk selezat ini. Bagaimana bisa kamu membuat kerupuk selezat ini?” tanya raja. “Ia raja, saya menggorengnya dengan wedi.” “Haahh wedi … wedi kan pasir. Bagaimana bisa kerupuk bisa digoreng dengan pasir?” Putri Tlasih menjelaskan panjang lebar bagaimana proses membuat kerupuk goreng wedi ini. “Luar biasa sangat unik dan kreatif. Dibuat dari bahan makanan yang murah meriah dan sangat sesuai dengan tema judul sayembara ini,” ucap raja. Sang raja pun memanggil Sang Patih untuk ikut mencobanya. “Patih silahkan dicoba kerupuk ini,” suruh raja. “Wow rasanya enak unik dan sedap. Sepertinya ada resep rahasia yang tersimpan di balik kerupuk ini,” kata patih. Semua makanan sudah dinilai. Tampak raja dan patih sedang berdiskusi untuk menentukan pemenangnya. Bagian 16 : Sang Raja xxvi | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


“Baiklah patih aku akan mengumumkan siapa pemenang dari sayembara ini. Dan pemenangnya adalah … Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi,” kata raja. Putri Tlasih yang hendak bergegas pulang langsung berbalik arah ke arah Sang Raja. Dengan wajah berbinar seakan tidak percaya kalau ia pemenangnya. Putri Tlasih sangat gembira. “Maturnuwun (terima kasih) Gusti, bapak, udang, dan bandeng ajaib,” ucap Putri Tlasih. Sebagai pemenang, Putri Tlasih diberi daerah kekuasaan wilayah di ujung barat daya kota Sidoarjo yaitu daerah dekat Tulangan. Karena daerah tersebut belum punya nama, maka diberi nama Tlasih sesuai dengan nama Putri Tlasih. Ibu dan saudara tirinya sangat malu dan hendak pergi. “Ibu dan kakak mau kemana? Temani saya untuk mengembangkan daerah Tlasih ini. Saya juga sudah tidak punya saudara lagi. Kita kembangkan daerah ini bersama-sama.” tanya Putri Tlasih. “Terima kasih dan maafkan kami Putri Tlasih. Kamu masih baik dengan kami padahal kami sudah sangat jahat denganmu.“ jawab ibu tiri dengan wajah tertunduk malu. Bagian 17 : Sang Pemenang Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxvii


Merekapun saling berpelukan dengan bahagia. Akhirnya Putri Tlasih memimpin dan mengembangkan ekonomi di daerah tersebut. Semua rakyat dikenalkan dengan kerupuk wedi. Putri Abang bertugas memberi penjelasan bagaimana cara membuat kerupuk wedi. Putri Ijo bertugas memasarkan kerupuk wedi ke seluruh wilayah Sidoarjo hingga keluar pulau. Bahkan para pedagang di Bandar Sungai Porong pun banyak yang membeli kerupuk wedi untuk dibawa ke daerah mereka. Ibu tirinya bertugas menyeleksi bahan makanan pilihan yang berkualitas agar bisa menghasilkan kerupuk wedi yang berkualitas pula. Singkong dan wedi yang berlimpah membuat rakyat tidak kesulitan untuk membuat kerupuk wedi. Setelah mereka paham bagaimana cara membuat kerupuk wedi yang sedap dan renyah. Maka mereka bisa membuka usaha sendiri di rumah mereka masing-masing. Bagian 18 : Akhirnya semua bahagia xxviii| Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Akhirnya perekonomian daerah Tlasih berkembang sangat cepat dan pesat. Sudah tidak ada lagi rakyat yang mati kelaparan. Mereka bisa membeli bahan makanan pokok pada Belanda. Seantero daerah Sidoarjo pun tahu akan kelezatan kerupuk wedi khas Tlasih ini. Bahkan orang belanda dan kaum kasta bangsawan pun sangat suka dengan kerupuk wedi ini. Menurut mereka kerupuk wedi ini murah meriah, gurih, dan semua kalangn rakyat bisa menikmatinya. Raja Jenggala sangat bangga dengan Putri Tlasih atas kerja kerasnya. Sehingga rakyat daerah Tlasih bisa mandiri menghasilkan usaha sendiri. Nama Putri Tlasih pun dikenal dengan nama Putri Wedi. Karena ia yang pertama kali mengenalkan kerupuk wedi di masyarakat daerah ini. Kerupuk yang digoreng dengan wedi (pasir) disebut kerupuk wedi. Nama wedi pun menjadi ikon untuk kerupuk daerah Tlasih ini. Hingga saat ini daerah Tlasih terkenal menjadi sentra kerupuk wedi pertama kali di wilayah Sidoarjo. Bagian 19 : Wilayah Tlasih Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxix


Hingga saat ini jika kita melewati jalur selatan wilayah Sidoarjo kita akan disuguhkan pemandangan banyak sekali rumah yang menjemur kerupuk mentah. Daerah Tlasih merupakan wilayah yang searah saat menuju Pacet Mojokertio. Terkenal akan hoe industri kerupuknya. Hampir setiap rumah memproduksi kerupuk. Dari bahan mentah, membuat, mengolah dan menjadi kerupuk siap makan. Saking banyaknya, konsumen bisa bebas memilih kerupuk goreng pasir / wedi atau goreng minyak. Bnayak yang lebih senang goreng pasir, karena dari segi rasa lebih khas gurih dan non kolestrol. Berbagai jenis kerupuk pun ada, bentuk sangat unik dan beda. Mari bersama lestarikan kearifan lokal Sidarjo dengan sejarah dan kerupuk wedinya. Yuk kita ajak generasi muda untuk ikut melestarikan budaya lokal Sidoarjo. Bagian 20 : Terkenal dengan Kerupuk Wedi xxx | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Cerita rakyat Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi ini sudah mendapat rekomendasi dari tokoh budayawan Sidoarjo, Bapak Sukarno dan Camat desa Tlasih Tulangan. Foto dengan budayawan Sidoarjo Bapak Sukarno di Porong Foto di galeri lukisan Bapak Sukarno Cerita ini juga pernah mendapat juara 2 Lomba Mendongeng di Perpusda Sidoarjo tahun 2019. Oleh murid kami ananda Elua Mirabela kelas 4D, SD Al Falah Darussalam Sidoarjo. Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxxi


xxxii | Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi |xxxiii


Profil dengan Tokoh Sidoarjo Profil Cerita : Cerita Rakyat Putri Tlasih dan Kerupuk wedi ini diambil dari buku kumpulan esai pemenang lomba local content Sidoarjo. Yang diterbitkan Perpusda Sidoarjo. Yang berjudul “Dari Reog Sampai Kerupuk Wedi” Dengan judul subtema “Bukan Sidoarjo Jika Tanpa Kerupuk Wedi” Karya Imawati, M.Pd Guru SD Al Falah Darussalam 2 Waru-Sidoarjo xxxiv| Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi


Putri Tlasih dan Kerupuk Wedi | xxxv


Click to View FlipBook Version