The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book Flip ini berisi materi tentang Peristiwa sekitar Proklamasi dan Menyambut Kemerdekaan Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by isawati isawati, 2022-05-24 01:55:16

MATERI AJAR SEJARAH INDONESIA BARU 2

E-Book Flip ini berisi materi tentang Peristiwa sekitar Proklamasi dan Menyambut Kemerdekaan Indonesia

Keywords: Materi Ajar

* Peristiwa Rengasdengklok*

-Jepang mengumumkan menyerah tanpa
syarat pada Sekutu tanggal 15 Agustus 1945,
dan dengan demikian menghadapkan
para pemimpin Indonesia pada suatu
masalah yang berat. Pihak Jepang masih
tetap berkuasa, tetapi telah menyerah.
Sedangkan di sisi lain tidak tampak
kehadiran pasukan sekutu yang akan
menggantikan Jepang.

-Rencana-rencana bagi kemerdekaan yang
disponsori pihak Jepang secara teratur
tampaknya terhenti dan pada hari
berikutnya Gunseikan telah mendapat
perintah khusus supaya mempertahankan
status quo sampai kedatangan pasukan
Sekutu.

-Soekarno, Hatta dan generasi tua ragu-
ragu tentang apa yang harus dilakukan
dan takut memancing konflik dengan
pihak Jepang. Maeda menurut Ricklef
ingin melihat pengalihan kekuasaan
secara cepat kepada generasi tua
karena merasa khawatir terhadap
kelompok-kelompok pemuda yang
dianggapnya berbahaya maupun
terhadap pasukan-pasukan Jepang
yang kehilangan semangat.

-Para pemimpin pemuda menginginkan
suatu pernyataan kemerdekaan secara
dramatis di luar kerangka yang disusun
pihak Jepang. Pendapat Pemuda
tersebut didukung oleh Sutan Syahrir,
akan tetapi menariknya, tak
seorangpun berani bergerak tanpa
Soekarno dan Hatta.

- Sore hari tanggal 15 Agustus 1945, para
pemuda mengadakan pertemuan rahasia
di Kebun Jarak di belakang Laboratorium
Bakteriologi Pegangsaan Timur 16.
Pertemuan tersebut merundingkan
bagaimana menghadapi Sukarno dan
Hatta agar segera memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia atas kehendak
rakyat, tanpa ikatan apapun dengan
Jepang.

-Malam harinya (sekitar pukul 21.30),
ketika Hatta sedang mengetik naskah
pernyataan kemerdekaan yang akan
dibagikan kepada anggota PPKI besok
pagi, datang Mr. Subardjo dan mengajak
pergi ke rumah Sukarno. Atas desakan
para pemuda, yang mulai berkerumun di
kediaman Sukarno, Mr. Subardjo meminta
pernyataan kemerdekaan disuarakan
malam itu juga melalui corong radio.

-Mengapa para pemuda bersikukuh agar
kemerdekaan Indonesia diumumkan
segera? karena mereka tidak mau
Indonesia merdeka dicap buatan Jepang.

-Mereka mau Indonesia merdeka buatan

Indonesia sendiri, sehingga malam itu juga

Sukarno atas nama pemimpin rakyat

memproklamasikan kemerdekaan

Indonesia sebelum pukul 24.00. Namun

Sukarno dengan tegas menolak gagasan

itu, begitu juga Hatta.

-Dalam perdebatan malam itu Wikana
mengatakan:

“Apabila Bung Karno tidak mau

mengucapkan pengumuman

kemerdekaan itu malam ini juga, besuk

pagi akan terjadi pembunuhan dan

penumpahan darah”

- Mendengar ancaman itu, Sukarno naik
darah, menuju ke Wikana sambil
menunjukkan lehernya dan berkata, “Ini
leherku, seretlah aku ke pojok sana dan
sudahilah nyawaku malam ini juga,
jangan menunggu sampai besuk”.

-Wikana rupanya terperanjat melihat
sambutan Sukarno yang tidak
disangkanya lalu berkata:

“Maksud kami bukan membunuh Bung,
melainkan kami mau memperingatkan
apabila kemerdekaan Indonesia tidak
dinyatakan malam ini juga, besuk rakyat
akan bertindak dan membunuh orang-
orang yang dicurigai yang dianggap pro-
Belanda seperti orang- orang Ambon dan
lain-lain.”

-Sukarno memulai percakapan bahwa
dalam suatu peperangan dan revolusi
dibutuhkan waktu yang tepat. Di Saigon
Sukarno sudah merencanakan seluruh
pekerjaan ini akan diselesaikan tanggal 17.
Meski demikian, pertemuan itu juga tidak
menghasilkan kata sepakat.

*Perbedaan Pandangan Golongan Tua
dan Muda*

-Golongan Tua:
Mereka yang dicap sebagai golongan
tua adalah para anggota PPKI yang

diwakili oleh Sukarno dan Hatta.
Mereka adalah kelompok konservatif
yang menghendaki bahwa pelaksanaan
proklamasi harus melalui PPKI sesuai
dengan prosedur maklumat Jepang,
yakni pada tanggal 24 Agustus 1945.
Alasan mereka adalah bahwa meskipun
Jepang telah kalah, namun kekuatan

militernya di Indonesia harus
diperhitungkan demi menjaga hal-hal

yang tidak diinginkan. Kembalinya

Tentara Belanda ke Indonesia, dianggap
lebih berbahaya dari pada sekedar
masalah tanggal waktu pelaksanaan
proklamasi itu sendiri.

-Golongan Muda:

Menanggapi sikap konservatif golongan tua,
golongan muda yang diwakili oleh para
anggota PETA dan mahasiswa merasa

kecewa. Mereka tidak setuju terhadap sikap
golongan tua, dan menganggap bahwa PPKI

adalah bentukan Jepang. Oleh karena itu,
mereka menolak jika proklamasi

dilaksanakan melalui PPKI. Sebaliknya
mereka menghendaki terlaksananya

proklamasi kemerdekaan adalah dengan
kekuatan sendiri, terbebas dari pengaruh

Jepang.

-Perbedaan pendapat antara golongan
tua dengan golongan muda tidak
menemui titik terang sehingga telah

membawa golongan pemuda kepada
tindakan berikutnya, yaitu
mengamnakan Ir.Soekarno dan

Muhammad Hatta ke Rengasdengklok.
Pilihan ini diambil berdasarkan
kesepakatan rapat terakhir golongan

pemuda pada tanggal 16 agustus 1945 di
Asrama Baperpi, Cikini, Jakarta yang
dimaksudkan untuk menjauhkan

Soekarno Hatta dari pengaruh Jepang.

-Menurut Ricklefs, Hatta dan Soekarno

dibawa ke Rengasdengklok pada
malam hari tanggal 16 Agustus 1945,
dengan dalih melindungi mereka jika

meletus pemberontakan PETA dan
Heiho.Ternyata tidak ada
pemberontakan sama sekali, sehingga

Soekarno dan Hatta segera menyadari
bahwa kejadian tersebut merupakan
usaha memaksa mereka supaya

menyatakan kemerdekaan di luar
rencana pihak Jepang.

*Alasan dipilihnya Rengasdengklok:

-Menurut Oemar Bahsan yang dikutip
oleh Restu Gunawan, dkk dalam buku
“Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia”,ada beberapa alasan:

Pertama, dikatakan bahwa
Rengasdengklok merupakan basis
pasukan Peta di bawah pimpinan
Cudanco Subeno. Rengasdengklok adalah
daerah belakang sebelah timur Jakarta
sehingga baik sekali untuk dijadikan

pangkalan mundur.

Kedua, tempat ini tepat sekali untuk
langkah awal penyerangan atau

terobosan dengan jalan kaki ke Jakarta.

Ketiga, Rengasdengklok dan Cilamaya

sudah dalam posisi mengancam
terhadap keberadaan Jepang di

Cikampek
Keempat, pos-pos Peta yang tersebar
di Tanjungpura, Karawang, Cilamaya,

Sungai Batu, Cabangbungin, Pedes
dan Rengasdengklok sewaktu-waktu

terjadi pemberontakan secara
otomatis sudah siap sebagai pos-pos

yang berfungsi sebagai alat
propaganda yang menyebar ke
seluruh wilayah di sekitarnya dengan
jumlah penduduk hampir setengah
juta orang. Hal ini diperkuat juga oleh
Suyono Hadiprojo dalam buku Baperki
yang menyatakan bahwa pemilihan
Rengasdengklok dikarenakan
letaknya yang tidak jauh dari Jakarta
dan di pelosok agak jauh dari jalan
raya Jakarta-Cikampek- Cirebon.

-Sedangkan menurut Aman dalam
bukunya “Sejarah Indonesia Masa
Kemerdekaan Tahun 1945-1998“, Kota
Rengasdengklok dipilih dengan alasan
perhitungan militer. Ketika anggota Peta

Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta
mengadakan latihan bersama, terjalin
hubungan yang baik di antara mereka. Di
samping itu Rengasdengklok letaknya
strategis bagi pengamanan karena
letaknya yang terpencil sekitar 15 km dari
Kedunggede, Karawang pada Jalan Raya
Jakarta-Tegal. Oleh karena itu
pemantauan sangat mudah dilakukan oleh
tentara Peta yang mengawasi setiap gerak
langkah tentara Jepang baik yang datang
dari arah Bandung, Jawa Tengah, maupun
Jakarta, karena pastilah mereka harus
melewati Kedunggede terlebih dahulu.

-Sejumah pendapat dan bahkan
perdebatan berkembang terkait peristiwa
tanggal 16 Agustus 1945, ketika Sukarno
dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok.
Setidaknya ada dua pendapat. Satu
pendapat mengatakan bahwa Sukarno
dan Hatta diselamatkan dengan cara
dijauhkan dari Jakarta agar tidak
dipengaruhi pimpinan militer dan
pemerintahan Jepang. Hal ini diungkap
Latief Hendraningrat dan para pemuda
yang membawanya ke Rengasdengklok,
seperti Sukani dan Chaerul Saleh.
Pendapat kedua, yang berkembang luas
di tengah masyarakat, mengatakan
bahwa Sukarno dan Hatta diculik para
pemuda.

* Proses jalannya peristiwa
Rengasdengklok:

-Dini hari tanggal 16 Agustus 1945,
Sukarni, Singgih, dan Jusuf Kunto
mengunjungi rumah Bung Hatta di jalan
Diponegoro. Saat itu Ketika Bung Hatta
sedang sahur. Sukarni dan kawan-
kawannya menunggu di luar. Selang
beberapa lama, Hatta keluar menemui
para pemuda. Sukarni mengatakan
bahwa pada pukul 12.00 tengah hari
akan ada 15.000 rakyat yang akan
menyerbu ke kota. Bersama-sama
pemuda, mahasiswa dan Peta akan
melucuti tentara Jepang. Untuk
menghindari suasana itu, maka Sukarno
dan Hatta akan dibawa ke luar Jakarta.

-Menghadapi kondisi tersebut, Bung
Hatta berusaha menjelaskan bahwa
yang dilakukan pemuda tersebut
hanyalah fantasi belaka, dan para
pemuda akan berbenturan dengan
kekuatan Jepang yang masih lengkap di
Jawa. Namun, Sukarni mengatakan
bahwa keputusan para pemuda sudah
bulat dan tidak dapat dipersoalkan lagi,
dan memaksa Bung Hatta untuk ikut
mereka. Setelah meninggalkan beberapa
pesan kepada adik dan dua kemenakan
yang tinggal bersamanya, dengan
terpaksa Bung Hatta ikut kehendak
para pemuda tersebut. Rombongan
segera menuju rumah Bung Karno.
-Hal berbeda terjadi di rumah Bung
Karno. Pagi dini hari sekitar pukul
03.00, Bung karno masih bangun karena
tidak bisa tidur. Ketika sedang duduk
sendiri di ruang makan sambil
menunggu waktu sahur, terdengar suara
dari balik semak-semak dan
serombongan pemuda berpakaian
seragam masuk secara diam-diam.
Dalam waktu sekejap mereka sudah
berhadapan dengan Sukarno.

-Dengan lagak seorang petualang sejati
Sukarni mencabut pisaunya dan

menghardik, bersiaplah Bung… waktunya
sudah tiba. Ya! aku menjawab, mataku
menyala marah. Sudah tiba waktunya
bagiku untuk dibunuh! Jika aku yang
memimpin pemberontakanmu ini dan
gagal, kepalaku akan dipenggal. Engkau
pun juga…. Begitu pun yang lain-lain.
Mereka mati ada gantinya, pemimpin
tidak. Kalau aku mati menurutmu siapa

yang akan memimpin rakyat, bila datang
waktunya nanti?

Muncul pemuda yang lain sambil
mengayunkan pedang Jepang. Itulah
sebabnya kami akan melarikan Bung ke

luar kota di malam buta ini. Sudah
diputuskan untuk memindahkan Bung
demi keamanan… Sekarang ini saatnya,
lagi-lagi mereka mendesak dengan tidak
sabar. Sekarang! Sekarang selagi moral
orang-orang Jepang sedang merosot dan

semangat mereka hancur. Sekarang
mereka dalam keadaan putus asa.
Sekarang kita harus angkat senjata.

-Pukul 04.30 saat Subuh, Bung Karno,
Bung Hatta, Fatmawati dan Guntur yang
baru berumur 9 bulan didampingi Sukarni
dan Winoto Danuasmoro yang ada di
belakang kemudi, meluncur ke arah
pinggiran kota. Sampai di Cipinang
mereka berhenti, Bung Karno dan Bung
Hatta diminta mengenakan seragam Peta.
Dalam perjalanan ketika sampai di
Krawang, mobil berhenti dan rombongan
disuruh ganti mobil pick up , dengan
alasan bahwa mobil sedan terlalu besar
untuk jalan ke Rengasdengklok. Itu
ternyata hanya siasat belaka, agar sopir
pertama tidak tahu, kemana rombongan
Sukarno dan Hatta pergi, sehingga
memutus mata rantai informasi.

*Berdasarkan kesaksian Bung Hatta
dalam “Melawan Lupa: Semangat

Kemerdekaan Rengasdengklok”:

“Saat itu datang Sukarni bersama kawan-
kawannya yang lain…

“Sukarni berkata: “ya, sekarang kita
harus pergi ke Rengasdengklok…”
“Untuk apa?” tanya Bung Hatta
“Untuk menyatakan
kemerdekaan…memimpin
pemerintahan…”Jawab Sukarni

Bung Hatta bertanya” Pemerintahan
macam apa?pemerintahannya belum

terbentuk, bukan?”
Sukarni menjawab:” Pemerintah

Indonesia…”
“Dimana pemerintah Indonesia itu? Terdiri
dari siapa saja di dalamnya?” Tanya Bung

Hatta, selanjutnya menegaskan:
“ Kami masih berurusan dengan
pernyataan kemerdekaan…, dan itu
belum terjadi… dan Rengasdengklok,

dimana itu?”

Soekarni belum bilang dimana
Rengasdengklok..hanya menjawab
singkat: di luar Jakarta…Soekarni

meminta Bung Hatta untuk ikut
saja.Soekarni mengatakan bahwa Bung
Karno tidak ingin pergi jika Bung Hatta

juga tidak pergi.
-Selanjutnya mereka menjemput Bung
Karno.Dari rumah Bung Karno lalu pergi

ke Rengasdengklok.
-Bung Hatta ditanya apakah saat itu

seakan-akan menjadi tawanan?
-Bung Hatta menjawab: “ya, semacam

itu”
-“Bukankah itu sebuah kejadian yang

aneh? Menurut anda?”
“Ya, aneh..”jawab Bung Hatta
Bung Hatta mengatakan:” jika demikian,

ini awal dari kegagalan”
“Lalu, anda ditahan disana?”
“Ya, di Rengasdengklok…ya kami pergi
ke sana, ke Rengasdengklok…
“Lalu ditahan…rumah dikosongkan…di

depan pintu kami ada seorang anak
muda…dengan sebuah bambu runcing

sebagai penjaga..”

Bung Hatta ditanya: “ anda tidak
tertawa karenanya atau anda dibuat

marah?”
“ Kami dibuat tertawa” Jawab Bung
Hatta..

“Kami sempat ditahan di Dedang…, lalu
datang pula asisten wedana
Rengasdengklok…ditangkap, juga

dibawa ke sana…
“Ternyata di bagian atas juga ada ruang
untuk tidur…di sana juga kami

berada…ditambah dengan asisten
wedana…menjadi lima orang..
“Apa yang diinginkan pemuda itu?”

“Mereka hendak menjalankan revolusi”
kata Soekarno.
Sambil tertawa, ia menjawab: “Kita akan

lihat apakah akan berhasil”
“Lalu saya dibawa ke rumah milik tuan
tanah Tionghoa itu…Di sana menunggu

hingga menjelang pukul 12.00…
“Saya katakan pada si anak
muda…yang bersenjatakan bambu

runcing itu…

“Panggilkan orang itu ke sini, yang
membawa kami ke sini…”
“Siapa?” tanya pemuda itu

“Sukarni” jawab Bung Hatta
“dimana dia?” tanya Bung Hatta
“Di Dedang…”jawab pemuda tersebut
Bung Hatta meminta pemuda tersebut

untuk memanggil Soekarni.
Lalu, Sukarni datang menemui Sukarno

Hatta.
“Nah, apakah revolusimu sudah berhasil?

Pergerakan 15.000 orang menuju kota
Jakarta?”

Sukarni bilang:
“kami belum terima berita…
“Segeralah menghubungi Jakarta” saran

Bung Hatta
“Kami menunggu, tetapi Sukarni tidak
datang juga…akhirnya Sukarni kembali

dan berkata:
“Kami belum terima kontak dari

Jakarta…”

“Saya jamin, revolusimu tidak berhasil”
kata Bung Hatta..

Saat itu datanglah Soebarjo untuk
membawa kami pulang ke

Jakarta…Subarjo memberitahukan
terlebih dulu kepada Soekarno:”

“Sebaiknya kita beristirahat saja di

sini…ini sudah malam…pukul 7…, tetapi
Fatmawati protes:

“Guntur sudah tidak punya susu
lagi…sebab persediaan susu Guntur saat
kami mengganti mobil, tertinggal di mobil

yang dibawa pengemudi pulang ke
rumah…”

Lalu Sukarno berkata” ayo kita pulang”
Lalu kami pulang…

“Dalam perjalanan pulang dari
Rengasdengklok, kami melihat warga

membakar alang-alang…
Lalu Sukarno berkata:” orang mulai
membakar rumah-rumah orang Tionghoa”
Sukarno meminta sopir untuk menyelidiki

apa yang sebenarnya terjadi…
Lalu diketahui bahwa warga hanya
sekedar membakar alang-alang…
Kami melanjutkan pergi ke Jakarta, ke

rumah Laksamana Maeda…

*Pertemuan dengan Maeda*

-Berdasarkan keterangan di Museum
Perumusan Naskah Proklamasi, terdapat
keterangan tentang Pertemuan dengan

Maeda:
-Pada tanggal 16 Agustus 1945, Bung
Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo

diterima oleh Laksamana Muda Tadashi
Maeda di kediamannya sekitar pukul
22.00, sepulang dari

Rengasdengklok…Mereka menjelaskan
kepada Maeda tentang akan
diadakannya pertemuan untuk persiapan

menjelang Indonesia merdeka. pesan
-Maeda memberitahukan
Gunseikan (Pemerintah Militer Jepang)

kepada rombongan yang pulang dari
Rengasdengklok agar menemuinya…

-Kemudian mereka dengan ditemani Maeda dan
Miyoshi Sunkichiro (Juru bicara Angkatan Darat
Jepang) berangkat ke Gunseikan dan bertemu
dengan Mayor Jenderal Nishimura Otoshi.Mayor
Jenderal Nishimura menjelaskan bahwa pihak
Jepang tidak dapat membantu karena telah ada
kesepakatan dengan pihak Sekutu untuk
mempertahankan status quo di Indonesia. Ia
juga melarang adanya rapat yang akan
dilangsungkan di rumah Maeda.

-Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Subardjo
tiba kembali ke rumah Maeda sekitar pukul
02.30 WIB. Mereka menjelaskan kepada Maeda
akan memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia sekarang juga.Maeda tidak campur
tangan dan mengundurkan diri di lantai atas.

-Berdasarkan Kesaksian
Muhammad Hatta:

Maeda mengatakan bahwa dia
sudah tahu..sementara orang-
orang sudah hadir di sana..para

anggota panitia persiapan
kemerdekaan…mereka berada di

sebuah kamar…di sana kami
duduk bersama..Sukarno, Sukarni,

seorang lainnya dan saya…
Kami berempat membuat
teksnya…Soekarno berkata: “Kamu
saja yang tulis.Kamu berbahasa
Indonesia lebih baik dari saya”
Bung Hatta mengatakan:” Kalau
saya yang berpikir untuk
mengingat naskahnya…sebaiknya
kamu saja yang menulis…saya
tidak bisa berpikir dan menulis
secara bersamaan…Kamu yang
tulis, saya yang mendikte…

Dua kalimat. Keseluruhan teks terlalu
panjang..Jadinya dua kalimat

singkat…Yang mencakup pengertian:
Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan

kemerdekaannya.Hal-hal mengenai

pemindahan kekuasaan akan
diselenggarakan dengan cara seksama

dalam tempo sesingkat-
singkatnya…Tidak mungkin lebih singkat

dari itu bukan?
Tidak bisa, mengapa sangat singkat?
Apakah anda sudah tidak tahu lagi apa

yang harus dinyatakan?
Itu sudah cukup. Intinya adalah tentang

pernyataan kemerdekaan.Teks secara
keseluruhan termasuk imperialisme dan
lain-lain telah kami susun sebelumnya,
tidak perlu lagi dibacakan.Jadi hanya 2

kalimat.

Bung Hatta selanjutnya mengatakan…
“Disana semuanya berkumpul (ruang

tengah rumah Maeda)
Lalu Sukarno membacakan
teksnya..Disambut tepuk tangan

meriah.Maeda mendengarnya..ia bergegas
turun ke ruang bawah dari kamar
tidurnya..memberi ucapan selamat kepada

kami semuanya…
Dan itu adalah Deklarasi resmi
kemerdekaan?”Bung Hatta ditanya

Bung Hatta menjawab: ya, lalu ditetapkan
malam itu…untuk dibacakan keesokan
harinya pada pukul 10.00.di pegangsaan

56, tempat Soekarno tinggal.Dan disanalah
teks proklamasi kemudian dibacakan lagi.
Soekarno di belakang mikrofon dalam

setelan baju putihnya dan anda berdiri
beberapa langkah di belakangnya?”
“Apa yang anda pikirkan saat itu, apa

yang terlintas dalam pikiran anda saat
itu?”
Bung Hatta menjawab:” Biasa…itu sudah

terjadi.
“Anda puas?”
“saya puas…

*Perumusan Naskah Proklamasi*

-Menjelang dini hari sekitar pukul 03.00
WIB, tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno,
Bung Hatta, dan Ahmad
Subardjo,memasuki ruang makan. Mereka
duduk mengitari meja makan panjang.
Bung Karno mulai mempersiapkan draf
naskah proklamasi, sedangkan Bung Hatta
dan Ahmad Subardjo menyumbangkan
pikirannya secara lisan.
-Setelah teks diberi judul “Proklamasi”,
dialog pertama yang dihasilkan dari
kesepakatan tiga tokoh nasional itu adalah
“ Kami bangsa Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaan Indonesia”
-Kemudian kalimat kedua ditambah oleh
Bung Hatta berupa pernyataan mengenai
pengalihan kekuasaan.Akhirnya, selesailah
naskah proklamasi dengan beberapa
coretan sebagai tanda pertukaran
pendapat dalam merumuskannya.
-Setelah selesai, naskah tersebut dibawa ke
serambi muka untuk dibacakan di hadapan
para tokoh yang telah menunggu.

-Setelah teks proklamasi selesai disusun,
muncul permasalahan tentang siapa
yang harus menandatangani teks
tersebut.
-Hatta mengusulkan agar teks
proklamasi itu ditandatangani oleh
seluruh yang hadir sebagai wakil bangsa
Indonesia.
-Namun dari golongan muda Sukarni
mengajukan usul bahwa teks proklamasi
tidak perlu ditandatangani oleh semua
yang hadir, tetapi cukup oleh Soekarno
dan Hatta saja atas nama bangsa
Indonesia, dan Soekarno-lah yang
nantinya membacakan teks proklamasi
tersebut.
-Usul tersebut didasari bahwa Soekarno
dan Hatta merupakan dwi-tunggal yang
pengaruhnya cukup besar di mata rakyat
Indonesia. Usul Sukarni kemudian
dterima, dan Soekarno meminta kepada
Sayuti Melik untuk mengetik naskah
proklamasi tersebut, disertai perubahan
perubahan yang disetujui bersama.

-Terdapat tiga perubahan pada naskah
tersebut dari yang semula berupa tulisan
tangan Soekarno, dengan naskah yang
telah diketik oleh Sayuti Melik.
-Perubahan-perubahan itu adalah:

1) Kata ‘tempoh” diubah menjadi
“tempo”
2) Konsep “wakil-wakil bangsa
Indonesia” diubah menjadi “atas nama
bangsa Indonesia”,
3) Tulisan “Djakarta 17-08-‘05”, diubah
menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8
Tahoen ‘05”.
-Setelah selesai diketik, naskah teks
proklamasi tersebut ditandatangani oleh
Soekarno-Hatta.

*Pembacaan Teks Proklamasi*

-Setelah selesai merumuskan dan
mengesahkan teks proklamasi, pagi harinya
tanggal 17 agustus 1945 para pemimpin

nasional dan para pemuda kembali ke
rumah masing-masing untuk
mempersiapkan penyelenggaraan

pembacaan teks proklamasi.
-Rakyat dan tentara Jepang menyangka
bahwa pembacaan proklamasi akan

dilaksanakan di lapangan Ikada.
-Jepang telah mengetahui rencana
pembacaan proklamasi, sehingga tentara

Jepang memblokade lapangan Ikada.
-Bahkan Barisan Pemuda telah
berdatangan ke lapangan Ikada dalam

rangka menyaksikan pembacaan teks
proklamasi.
-Pemimpin Barisan Pelopor Sudiro juga

datang ke lapangan Ikada dan melihat
pasukan Jepang dengan senjata lengkap
menjaga ketat lapangan itu.

-Sudiro kemudian melaporkan keadaan itu
kepada Muwardi, Kepala Keamanan
Soekarno dan mengetahui bahwa

proklamasi akan diikrarkan di rumah
Soekarno Jalan Pegangsaan Timur 56
Jakarta.

Bung Karno memulai pidatonya dengan
pidato singkat:

“Saudara-saudara sekalian! Saya telah
meminta saudara-saudara hadir di sini

untuk menyaksikan suatu peristiwa
penting dalam sejarah kita. Berpuluh-
puluh tahun kita bangsa Indonesia telah
berjuang untuk kemerdekaan tanah air
kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun.
Gelombang aksi kita untuk mencapai
kemerdekaan kita itu ada naik dan ada
turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju
kearah citacita kita. Juga di dalam jaman

Jepang usaha kita untuk mencapai
kemerdekaan nasional tidak berhenti-

henti…

“Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya
saja kita menyandarkan diri kepada

mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap
kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap
kita percaya kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-
benar mengambil nasib bangsa dan nasib

tanah air kita di dalam tugas kita
sendiri.

Hanya bangsa yang berani mengambil
nasib dalam tangannya sendiri akan
dapat berdiri dengan kuatnya. Maka
kami tadi malam telah mengadakan

musyawarah dengan pemuka-pemuka
rakyat Indonesia. permusyawarahan itu

seia sekata sependapat, bahwa
sekaranglah datang saatnya untuk
menyatakan kemerdekaan kita….

Saudara-saudara! Dengan ini kami
menyatakan kebulatan tekad itu.
Dengarkanlah proklamasi kita.

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan
kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan
dengan cara seksama dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta hari 17 bulan 8 tahun ‘05.
Atas nama bangsa Indonesia
Sukarno Hatta

Demikianlah, saudara-saudara Kita
sekarang telah merdeka, tidak ada satu
ikatan lagi yang mengikat tanah air kita.
Mulai saat ini kita menyusun Negara kita,
Negara merdeka, Negara Republik
Indonesia, merdeka kekal dan abadi. Insya
Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan
kita itu.

-Setelah selesai ternyata masih banyak masa
rakyat yang datang karena sebagian baru tahu
kalau upacara dipindahkan dari Lapangan
Ikada ke Pegangsaan Timur 56. -Di antara yang
terlambat datang adalah Barisan Pelopor dari
Penjaringan di bawah pimpinan S Brata.
-Sebagian dari mereka meminta kepada Bung
Karno agar upacara tersebut diulang kembali.
Bung Karno menjelaskan bahwa peristiwa itu
tidak bisa diulang lagi dan hanya diucapkan
sekali saja tetapi berlaku selama-lamanya.
-Tidak lama setelah itu, Bung Hatta pulang dan
Bung Karno masuk ke rumah kembali karena
kondisi kurang sehat.
-Untuk menjaga anggota Barisan Pelopor
pimpinan Sumantojo yang bertugas menjaga
Bung Karno dan Bung Hatta.
-Namun, secara mendadak datang tentara
Jepang memasuki rumah Bung Karno. Mereka
diutus oleh Gunseikan dan menegur dengan
keras kepada Bung Karno agar tidak
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia,
karena Jepang akan menyerahkan roda
pemerintahan kepada Sekutu. Mendengar itu,
Sukarno mengatakan bahwa proklamasi sudah
diucapkan. Namun karena jumlahnya kalah
banyak dengan pemuda Barisan Pelopor,
akhirnya tentara Jepang tersebut pergi begitu
saja.

-Setelah pernyataan proklamasi
kemerdekaan, pada tanggal 18 Agustus

1945 PPKI mengadakan sidang lanjutan.
Sebelum sidang PPKI dimulai, Hatta
menemui Ki Bagus Hadikusumo, Wahid

Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan
Mr. Teuku Hasan dari Sumatera untuk
mengadakan rapat pendahuluan

membicarakan masalah dasar negara
tersebut. Setelah dibicarakan dalam
rapat terbatas, mereka sepakat untuk

menghilangkan kata “dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam
bagi para pemeluknya‘ dan

menggantinya dengan “Ketuhanan
Yang Maha Esa” .Dengan penggantian
kalimat tersebut, mereka menyadari

bahwa semangat dari Piagam Jakarta

tidak hilang.

-Dalam sidang PPKI tersebut, Chairul
Saleh, Sukarni dan Wikana -
mendesak agar rapat tidak
diadakan di Pejambon, dan nama
Panitia Persiapan Kemerdekaan
harus diubah menjadi Komite
Nasional Indonesia.

-Menurut Chaerul Saleh, PPKI adalah
badan yang berbau Jepang. Setelah
Indonesia merdeka, semestinya
semua yang berbau Jepang diputus,
dan menyarankan agar
pembentukan pemerintahan dan
pengesahan UUD dikerjakan di
tempat lain.

- Bung Hatta mempunyai pendapat
yang berbeda, bahwa Sukarno dan
Hatta sulit memisahkan tanggung
jawabnya terhadap Jepang dan rakyat
Indonesia. Tiga tokoh tersebut tetap
tidak mau menerima jalan pikiran
Sukarno dan Hatta, sehingga
meninggalkan sidang sebagai protes
terhadap golongan tua dan
menyatakan rapat tersebut berbau
Jepang dan kurang representatif‘.

- Sukarno tetap melanjutkan sidang

PPKI menghasilkan beberapa

keputusan penting di antaranya

pengesahan Pembukaan dan UUD

secara bulat, dan mengangkat Sukarno

sebagai Presiden dan Moh. Hatta

sebagai Wakil Presiden Indonesia.

-Revolusi Indonesia sudah dimulai dan
mendapat respon luar biasa di seluruh
Nusantara. Jepang bereaksi cepat. Atas
perintah Panglima Militer Jepang di Jawa,
Maeda beserta seluruh stafnya ditangkap dan
pengumuman kemerdekaan yang dikirimkan
lewat pos ke berbagai wilayah disobek oleh
Kempetai. Pada hari berikutnya, Jepang
mengumumkan pembubaran Peta, Heiho dan
semua organisasi Indonesia bersenjata.

-Konsekuensi dari kebijakan itu, semua
senjata yang dibawa oleh pemuda pejuang
harus diserahkan kepada Jepang. Namun,
pemuda pejuang bersikukuh dan tidak mau
menyerahkan, bahkan di beberapa daerah
terjadi perlawanan terhadap tentara
Jepang.45 Bendera kebangsaan Indonesia
dilarang oleh Jepang. Akan tetapi Sukarno
menganggap bahwa bendera merah putih
adalah simbol perjuangan, ia memerintahkan
untuk mengibarkan merah putih di gedung-
gedung umum. Dalam enam minggu, bendera
merah putih yang merupakan simbol revolusi
Indonesia sudah berkibar di seluruh gedung
penting di Jawa.

-M.C. Ricklefs.2008. Sejarah Indonesia
Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi

- Sartono Kartodirdjo, Marwati
Djoened Poesponegoro, Nugroho
Notosusanto.1977. Sejarah Nsional
Indonesia VI. Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

-Restu Gunawan, dkk. 2015. Sejarah
Berita Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia. Jakarta: Direktorat Sejarah
dan Nilai Budaya Direktorat Jenderal
Kebudayaan Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan

-Aman.2015. Sejarah Indonesia Masa
Kemerdekaan 1945-1998.Yogyakarta:
Ombak

-Melawan Lupa “Semangat Merdeka di

Rengasdengklok” dalam

https://www.youtube.com/watch?v=Db

R6xlHRpmI&t=199s

Congratulation
Sudah Mempelajari Materi
dalam E-Book Flip ini sampai
selesai. Sampai Jumpa lagi
Pada Pertemuan Berikutnya


Click to View FlipBook Version