FRAGMEN 1.1
Pasundan Bubat yang
berlangsung pada tahun 1357
Masehi telah memupuskan hasrat
Prabu Hayam Wuruk untuk
menjadikan Citraresmi atau
dikenal juga dengan sebutan Dyah
Pitaloka sebagai permaisuri
Majapahit.
Setelah beberapa waktu
berselang, yakni setelah kondisi
psikologis semakin stabil, Prabu
Hayam Wuruk memutuskan untuk
menjadikan Bhre Parameswara
sebagai permaisurinya.Itulah
sebabnya, Bhre Parameswara
kemudian dikenal dengan sebutan
Paduka Sori. Perkawinan antara
Prabu Hayam Wuruk dengan Bhre
Parameswara melahirkan
Kusumawardhani.
Menurut Pararaton, Prabu
Hayam Wuruk juga memiliki anak
dari istri selir, yaitu bernama Bhre
Wirabhumi. Meskipun lahir dari istri
selir, Bhre Wirabhumi merasa berhak
atas tahta kerajaan, mengingat
statusnya sebagai anak lelaki.
Sebaliknya, Kusumawardani merasa
lebih berhak mewarisi tahta dan
mahkota kerajaan, mengingat
statusnya sebagai anak dari seorang
permaisuri.
Perselisihan mengenai siapa yang
berhak mewarisi tahta dan mahkota
kerajaan seperti inilah yang
kemudian berkembang menjadi
pangkal perselisihan antar keluarga
bangsawan Majapahit, tepatnya
terjadi setelah wafatnya Prabu
Hayam Wuruk pada tahun 1389.
Perselisihan yang berkembang
menjadi perang saudara atau
“Perang Paregreg” tersebut pada
kenyataannya semakin
memperlemah Kerajaan Majapahit
sebagai kerajaan yang pernah
memiliki kekuasaan di seantero
nusantara.
FRAGMEN 1.2
Diceritakan bahwa
Kusumawardhani menikah dengan
Wikramawardhana. Antara keduanya
sesungguhnya merupakan saudara
sepupu mengingat Wikramawardhana
adalah anak kandung Bhre Lasem,
adik kandung Prabu Hayam Wuruk
sendiri.
Menurut Pararaton, Bhre Lasem
juga memiliki anak perempuan yang
dikenal dengan sebutan Sang Alemu
atau Si Gendut. Sang Alemu inilah yang
kemudian diperistri oleh Bhre
Wirabhumi. Dengan demikian, antara
Wikramawardhana dan Bhre
Wirabhumi merupakan saudara ipar.
Pada masa pemerintahan Prabu
Hayam Wuruk, Kusumawardhani
yang didampingi oleh
Wikramawardhana diberi
kekuasaan di sekitar kotaraja
Majapahit, sementara Bhre
Wirabhumi diberi kekuasaan di
sekitar Blambangan.Akan tetapi,
sepeninggal Prabu Hayam Wuruk,
tampuk pimpinan Majapahit jatuh
ke tangan Wikramawardhana yang
dikenal juga dengan sebutan
Hyang Wisesa.
Pada tahun 1400, Wikramawardhana
mengundurkan diri dari tahta kerajaan, yang
kemudian memilih menjadi seorang pendeta
Budha selama setahun. Selanjutnya,Majapahit
diperintah oleh seorang rani atau raja putri.
Belum diketahui secara pasti apakah rani yang
dimaksud adalah Kusumawardhani atau Puteri
Suhita yang lahir dari perkawinan antara
Wikramawardhana dan Kusumawardhani.
Perselisihan tersebut akhirnya
meletus dalam bentuk perang
saudara yang dikenal dengan
Perang Paregreg yang terjadi pada
tahun 1404 sampai 1406.Perang
Paregreg yang melibatkan tentara
Majapahit berhadapan dengan
tentara Blambangan tersebut benar-
benar menguras stamina kerajaan
Majapahit.
Pada akhir perang, Bhre
Wirabhumi kalah dan melarikan
diri dengan menggunakan perahu
yang dilakukan pada malam hari.
Panglima Perang Majapahit ,
yaitu Ratu Angabaya Bhre
Narapati, yang melakukan
pengejaran berhasil menangkap
Bhre Wirabhumi dan memenggal
kepalanya untuk dibawa ke
Majapahit. Majapahit
memutuskan untuk tetap
menghormati jasad Bhre
Wirabhumi
FRAGMEN 1.3
Sebagai sebuah kerajaan,
Majapahit bertahan selama 233
tahun. Selama kurun waktu
tersebut, 184 tahun diantaranya
Majapahit merupakan kerajaan
yang merdeka dan berdaulat,
sementara 49 tahun diantaranya
merupakan negara bawahan dari
kerajaan Demak.Seperti diketahui
bahwa hal tersebut terjadi setelah
Majapahit jatuh ke dalam
kekuasaan Demak. Masa ini
dikenal sebagai masa post
period.Sebagai negara bawahan
Demak, Majapahit bertahan dari
tahun 1478-1527.
Pada masa post period tersebut
diketahui ada dua tokoh yang
berkuasa di Majapahit, yakni
Njoo dan Girindrawardana.Njoo
memerintah antara tahun 1478-
1486, sedangkan
Girindrawardhana memerintah
antara tahun 1486-1527. Dengan
demikian, diketahui terdapat
tiga belas raja yang berdaulat
penuh di Kerajaan Majapahit
dan dua penguasa pada masa
post period yang merupakan
bawahan penguasa Demak.
Setelah menyimak fragmen-fragmen
peristiwa sejarah di atas, maka setidaknya
akan mendapatkan beberapa informasi
sebagai berikut:
1.Adanya informasi tentang pelaku-pelaku
dalam peristiwa sejarah. Seperti yang tampak
pada Fragmen 1.2, terdapat informasi tentang
pelaku-pelaku sejarah dalam Perang
Paregreg, yaitu Wikramawardana yang
didukung oleh Ratu Angabaya Bhre Narapati
dari Majapahit berhadapan dengan Bhre
Wirabhumi dari Blambangan.
2. Adanya informasi tentang
tempat terjadinya peristiwa
sejarah seperti yang tampak pada
fragmen 1.1, terdapat informasi
tentang keterangan tempat,
bahwa di lapangan Bubat pernah
terjadi sebuah tragedi yang sangat
memilukan, baik bagi Kalangan
istana Majapahit maupun
kalangan istana Surawisesa, yakni
tewasnya Citraresmi atau Dyah
Pitaloka oleh ambisi Gajah Mada
untuk menaklukkan kerajaan
Sunda Galuh.
3. Adanya informasi tentang
waktu terjdinya peristiwa sejarah.
Seperti yang tampak pada
fragmen 1.3, terdapat informasi
tentang waktu jatuhnya kerajaan
Majapahit pada kekuasaan
Kesultanan Demak, yaitu pada
tahun 1478 Masehi.