The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mobilechina48, 2022-11-23 01:29:04

KISAH ULUL AZMI

DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................................................... 1
Kisah Ulul Azmi.......................................................................................................................................... 2
A. Pengertian Ulul Azmi ........................................................................................................................ 2
B. Kisah Nabi dan Rasul Ulul Azmi ..................................................................................................... 3

1. Kisah Nabi Nuh as ..................................................................................................................... 3
2. Kisah Nabi Ibrahim as .............................................................................................................. 5
3. Kisah Nabi Musa as .................................................................................................................. 7
4. Kisah Nabi Isa as …………………………………………………………………… 10
5. Kisah Nabi Muhammad saw ………………………………………………………... 12
Sumber ……………………………………………………………………………………... 14

1

KISAH ULUL AZMI

A. Pengertian Ulul Azmi

Ulul Azmi adalah gelar yang diberikan kepada para rasul yang memiliki
kedudukan tinggi (istimewa) karena ketabahan dan kesabaran yang luar biasa
dalam menyebarkan agama. Gelar ulul azmi adalah gelar tertinggi/istimewa di tingkat
para nabi dan rasul. Tentang gelar ini, telah dijelaskan pada QS. Al-Ahqaaf: 35 dan
QS. Asy-Syuraa: 13.

‫َفا ْصبِ ْر َك َما َصبَ َر اُولُوا ا ْل َع ْز ِم ِم َن ال ُّر ُس ِل َوََل تَ ْستَ ْع ِج ْل لَّ ُه ْم ۗ َكاَنَّ ُه ْم يَ ْو َم يَ َر ْو َن‬
ࣖ ‫َما يُ ْو َع ُد ْو َۙ َن َل ْم يَ ْل َبثُ ْٓوا ِاََّل َسا َعةً ِم ْن نَّ َها ٍر ۗ َب ٰل ٌغ ۚفَ َه ْل يُ ْه َل ُك اََِّل ا ْلقَ ْو ُم ا ْل ٰف ِسقُ ْو َن‬

Artinya: Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang
yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah
meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika melihat azab yang
dijanjikan, seolah-olah mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari.
(Nasihatmu itu) merupakan peringatan (dari Allah). Maka, tidak ada yang dibinasakan
kecuali kaum yang fasik. (QS. Al-Ahqaaf: 35)

‫َش َر َع لَ ُك ْم ِم َن ال ِد ْي ِن َما َو ّٰصى بِ ٖه نُ ْو ًحا َّوالَّ ِذ ْٓي اَ ْو َح ْي َنآْ ِالَ ْي َك َو َما َو َّص ْي َنا بِ ٖ ْٓه‬
‫ِا ْب ٰر ِه ْي َم َو ُم ْو ٰسى َو ِع ْي ٰ ْٓسى اَ ْن اَ ِق ْي ُموا ال ِد ْي َن َوََل تَتَفَ َّرقُ ْوا ِف ْي ِۗه َكبُ َر َع َلى‬

‫ا ْل ُم ْش ِر ِك ْي َن َما تَ ْد ُع ْو ُه ْم ِالَ ْي ِۗه َّللَّٰاُ يَ ْجتَ ِب ْٓي اِ َل ْي ِه َم ْن يَّ َش ۤا ُء َويَ ْه ِد ْٓي ِا َل ْي ِه َم ْن يُّ ِن ْي ۗ ُب‬

Artinya: Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga)
kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah
Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan
dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi
orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka.
Allah memilih orang yang Dia kehendaki pada (agama)-Nya dan memberi petunjuk
pada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya). (QS. Asy-Syuraa: 13)

Ada beberapa kriteria yang menjadi acuan untuk mendapatkan gelar ini, antara lain:
1. Memiliki kesabaran yang tinggi ketika berdakwah.
2. Senantiasa memohon kepada Allah agar tidak menurunkan azab kepada kaumnya.
3. Senantiasa berdoa agar Allah memberi hidayah kepada kaum mereka.

2







Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama
politeisme yaitu menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganism. Nabi
Ibrahim kemudian mencari Tuhan yang sebenarnya, seperti diceritakan dalam QS.
Al-An`am: 76-79, hingga berkesimpulan bahwa sesungguhnya aku menghadapkan
diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada
agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.
Pada suatu hari, Ibrahim menghancurkan berhala-berhala yang ada dan
meninggalkan salah satunya (yang paling besar) karena ada tujuan tertentu. Ketika
orang-orang berdatangan ke tempat tersebut, mereka menemukan semuanya
hancur berantakan, mereka pun marah, dendam, dan berjanji akan memberikan
hukuman yang sangat berat kepada orang yang telah melakukannya. Setelah
berusaha mencari pelakunya, mereka mengetahui bahwa Ibrahim bin Azar yang
melakukannya. Setelah itu, mereka menyidangnya. Di dalam firman Allah
disebutkan, “Mereka bertanya, ‘Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini
terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Dia (Ibrahim) menjawab, ‘Sebenarnya
(patung) besar itu yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada mereka, jika
mereka dapat berbicara. ‘Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan
berkata, ‘Sesungguhnya kalianlah yang menzalimi (diri sendiri),” (QS. Al-Anbiya:
62-64).
Semuanya terdiam setelah mendapat tamparan keras dari hujjah Nabi Ibrahim
tersebut. Bagi mereka, tidak ad acara lain kecuali membakarnya setelah beliau
membuat mereka berada dalam kebuntuan yang paling buruk. “Mereka berkata,
“Dirikanlah sebuah bangunan untuk (membakar Ibrahim), lalu lemparkanlah dia ke
dalam api yang menyala-nyala itu.” (QS. Ash-Shaffat: 97). Sebaliknya, api tersebut
menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim. “Kami berfirman, ‘Hai api, dinginlah
engkau dan berilah keselamatan pada Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya: 69).
Setelah kasus itu, Nabi Ibrahim as melakukan hijrah bersama istrinya (Sarah) dan
keponakannya (Nabi Luth as) ke tempat yang sangat diberkahi Allah untuk seluruh
alam yakni Palestina. Allah berfirman, “Maka Luth membenarkan (kenabian
Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat
yang diperintahkan) Rabbku. Sungguh, Dialah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana,” (QS. Al-Ankabut: 26). Kemudian, “Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan
Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam,” (QS. Al-Anbiya:
71).

6

Oleh karena lama tidak dikaruniai putera, Nabi Ibrahim meminta izin Sarah untuk
menikahi Hajar, bersama Hajar Nabi Ibrahim dikaruniai Ismail as. Nabi Ibrahim,
istrinya Hajar, dan anak mereka yang masih menyusu, Ismail berjalan ke suatu
tempat yang diperintahkan Allah. Ibrahim diperintahkan untuk berhenti di sebuah
lembah yang tandus. Dengan bertawakal, berharap Allah melindungi anak dan
istrinya, Ibrahim berdoa seperti yang tertuang dalam firman Allah, “Ya Rabb,
sesungguhnya aku telah menempatkan Sebagian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya
Rabb, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati
Sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari
buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37).
Allah mengeringkan air di tempat Hajar dan bayinya berada hingga mereka
sangat kehausan. Hajar segera mencari air dari sumber yang ada. Dia bolak-balik
antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, tetapi tidak mendapatkan apa-apa.
Saat dia kembali menemui Ismail, dia melihat percikan air dari bawah tungkai kaki
anaknya. Air tersebut terpancar melalui perantara Jibril.
Ketika Allah memerintahkan Ibrahim as membangun Ka`bah (Masjidil Haram),
beliau bergegas ke Mekah. Dan kepada Ismail as, Nabi Ibrahim berkata, “Allah
memerintahkan aku agar membangun Baitullah untuk-Nya”. Ismail menjawab,
“Laksanakanlah perintah Rabbmu, aku akan membantu ayah dalam urusan agung
ini.” Selama membangun, mereka berdua senantiasa berdoa, “Ya Rabb kami,
terimalah (amal) dari kami, sungguh Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha
Mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 127). Nabi Ibrahim berulang kali mengunjungi
keluarganya. Suatu hari, beliau bermimpi menyembelih putranya, Ismail. Ismail as
memenuhi perintah itu. Namun, Allah menggantikannya dengan seekor sembelihan
yang besar. (QS. Ash-Shaffat: 102-111).
Pada saat Nabi Ibrahim as kembali ke Palestina, kemudian membangun peradaban
manusia yakni membangun masjid kedua, yakni Masjidil Aqsha. Allah menyifati
Nabi Ibrahim ini di dalam firman-Nya, “Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan
bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seseorang yang lurus, muslim, dan
dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik,” (QS. Ali-Imran: 67).

C. NABI MUSA AS
Musa lahir di Mesir, 1527 SM., meninggal di Gunung Nebo, dataran Maab, tepi timur
Sungai Yordan sekitar 1407 SM pada umur 120 tahun. Musa adalah seorang pemimpin

7

dan nabi orang Israel yang menyampaikan Hukum Taurat dalam Al-Kitab Ibrani atau
Perjanjian Lam. Musa ditugaskan untuk membawa Bani Israil (Israel) keluar dari Mesir.
Namanya disebutkan sebanyak 136 kali di dalam Al-Qur`an.
Musa adalah anak Amram bin Kehat bin Lewi, anak Yakub bin Ishak. Ia diangkat
menjadi nabi sekitar tahun 1450 SM. Ia memiliki dua orang anak (Gersom dan Eliezer)
dari istrinya, Zipora. Diperkirakan Musa tenar bersamaan sekitar masa Ramses II, dan
dianggap pimpinan perpindahan besar-besaran bangsa Israel dari Mesir. Musa wafat
di Tanah Tih (Gunung Nebo) sekitar sebulan sebelum bangsa Israel memasuki tanah
Kana`an setelah 40 tahun mengembara di padang gurun sesudah keluar dari Mesir.

Kisah kesabaran dan keteguhan jiwa Nabi Musa as

Pada masa Nabi Yusuf, sekelompok Bani Israil telah menetap di daerah Mesir setelah
bermigrasi dari negeri Kan`an. Mereka adalah pemeluk agama tauhid yang
berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim, berbeda dengan para Fir`aun yang
menyembah patung dan berhala. Para Fir`aun khawatir jika mereka mencampuri urusan
politik dan agama kehidupan masyarakat Mesir. Akhirnya, mereka menyiksa Bani Israil
dengan siksaan yang pedih.
Fir`aun memutuskan untuk untuk membunuh bayi laki yang lahir di wilayah Mesir. Hal ini
terekam dalam QS. Al-Baqarah: 49. Di tengah kesulitan yang dialami Bani Israil, Allah
berkehendak atas kelahiran Musa. Ibu Musa as menyembunyikan kelahirannya dan
menghanyutkan ke Sungai Nil sebagaimana firman Allah QS. Al Qashash: 7. Sehingga
Musa as sampai di taman sungai istri Fir`aun selanjutnya mengadopsi sebagai bagian
dari keluarga kerajaan.
Musa dibesarkan di lingkungan istana Fir`aun, di tangan para dukun dan pemuka-
pemuka agama mereka. Ketika dewasa, Allah memberinya ilmu dan hikmah. Sehingga
dalam perkembangannya menjadi penentang Fir`aun. Akibat pembunuhan atas
seorang warga Mesir, Musa as keluar dari istana Fir`aun menuju Madyan, daerah di
bagian barat laut Jazirah Arab. Di sana bertemu dengan Nabi Syu`aib as untuk
kemudian menikahi putrinya.
Ketika sampai di Bukit Tursina, Musa tersesat. Tibalah waktu malam saat Allah hendak
memberikan tugas kenabian dan wahyu kepadanya. Pada saat itu, malam terasa dingin
dan Musa melihat cahaya api dari kejauhan. Dia lantas menyuruh keluarganya agara
tidak meninggalkan tempat mereka karena dia ingin pergi mencari sedikit api untuk
penerangan. Tatkala dia sampai ke tempat api tersebut, Allah berfirman kepadanya,

8

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah
shalat untuk mengingat-Ku. “(QS. Thaha: 14). Peristiwa itu menjadi tanda kenabian Musa
as, bersama Harun as, sesuai permintaan Musa as, sebagai pembantunya.
Allah memerintahkan mereka berdua (Musa dan Harun) agar bertutur lemah lembut
saat memperingatkan Fir`aun. Selain itu, mereka juga diperintahkan untuk mengatakan
kepada Fir`aun, “Kami adalah utusan Rabb alam semesta kepadamu. Lepaskanlah Bani
Israil dan jangan siksa mereka. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti pentunjuk.”
Fir`aun mengejek dan menuduh Nabi Musa as, melakukan sihir. Fir`aun lalu
memerintahkan tukang sihirnya untuk menghadapi mereka berdua. Ahli sihir Fir`aun pun
berdatangan dan melemparkan tali-tali mereka dan menyihirnya menjadi ular untuk
menandingi Musa. Nabi Musa lantas melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah
menjadi ular dan menelan ular-ular mereka atas pertolongan Allah.
Fir`aun lalu berencana membunuh Musa dan Harun serta semakin keras menyiksa Bani
Israil. Nabi Musa memerintahkan mereka untuk menguatkan jiwa dan bersabar. Dia
kemudian berdoa kepada Allah agar menurunkan adzab yang pedih kepada Fir`aun
dan kaumnya. Allah berfirman, “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang,
kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti yang jelas,
tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
(QS. Al-A`raf: 133).
Bani Israil berkumpul dan meminta kepada Nabi Musa san Nabi Harun agar dia
membawa mereka keluar Mesir. Nabi Musa dan Nabi Harun pun membawa kaumnya
dan berangkat kea rah negeri Kan`an melewati Sinai. Fir`aun beserta bala tentaranya
mengejar mereka. Namun, Nabi Musa dan Nabi Harun beserta kaumnya dapat
menyeberangi laut dengan mukjizat yang telah Allah berikan kepada Musa. Fir`aun
dan pasukannya juga ikut menyeberang laut mengejar mereka, tetapi Allah
menenggelamkan Fir`aun beserta seluruh tentaranya. Dalam perjalanan menuju
Palestina, di Sinai Bani Israil dipengaruhi As Samiri telah mempengaruhi Bani Israil untuk
menyembah anak sapi sehingga mereka meminta bantuan kepada Nabi Musa as agar
dibuatkan patung untuk disembah.
Nabi Musa lantas marah dan mengecam permintaan mereka. Dia ingin menjadikan
sebuah pusat pemerintahan untuk kaumnya. Dia kemudian pergi menuju kota Ariha
(Jericho), tetapi kaumnya tidak mau dan berkata seperti termaktub dalam Al-Qur`an,
“Mereka berkata, ‘wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasuki, selagi
mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabbmu, dan

9

berperanglah kalian berdua, biarlah kami tetap (menanti) di sini saja,’” (QS. Al-
Ma`idah: 24).
Di saat mereka menolak untuk masuk negeri yang disucikan itu, Allah membalasnya
dengan adzab. Mereka pun tersesat di Lembah Tih selama 40 tahun. Beberapa tahun
setelah itu, Nabi Harun wafat lalu disusul Nabi Musa. Setelah Nabi Musa wafat, Bani
Israil baru merasakan buruk dan bodohnya perbuatan serta tingkah laku mereka
kepada Nabi Musa. Karena itu, mereka mengangkat Yusya` bin Nun sebagai raja.
Dialah yang kemudian membawa mereka menyeberangi Sungai Jordan (asy-Syari`ah)
menuju Kota Ariha.

D. NABI ISA AS
Isa hidup sekitar 1-32 M. Dalam Al-Qur`an, ia disebut Isa bin Maryam atau Isa Al-
Masih. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada
Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Qur`an. Ia
mendapat gelar dari Allah dengan sebutan Ruhullah. Cerita tentang Isa kemudian
berlanjut dengan pengangkatannya sebagai utusan Allah, penolakan oleh Bani Israil
dan berakhir dengan pengangkatan dirinya ke Surga.
Menurut teks-teks Islam, Isa diutus kepada Bani Israil untuk mengajarkan tentang
keesaan Tuhan dan menyelamatkan mereka dari kesesatan. Muslim percaya Isa telah
dinubuatkan dalam Taurat., membenarkan ajaran-ajaran nabi sebelumnya. Isa
digambarkan juga dalam ajaran Islam, memiliki mukjizat sebagai bukti kenabiannya,
seperti berbicara sewaktu masih bayi dalam peraduan, memberikan
nyawa/penghidupan pada burung yang terbuat dari tanah liat, menyembuhkan orang
yang terkena lepra, menyembuhkan orang tuna netra, membangkitkan orang mati, dan
meminta makanan dari surga atas permintaan hawariyun.
Dalam berdakwah, Isa didampingi para pengikutnya yang disebut Hawariyyun, yang
jumlahnya 12 orang, sesuai dengan jumlah suku (sibith) Bani Israil, sehingga masing-
masing hawari ini ditugaskan untuk menyampaikan risalah Injil bagi masing-masing suku
Bani Israil. Namun, nama-nama hawari tersebut tidaklah disebutkan di dalam Al-
Qur`an. Kisah para sahabat Isa ini terdapat surat Al-Ma`idah: 111-115 dan surat Ali
Imran: 52.

Kisah Cinta dan Kelembutan Jiwa Nabi Isa as

10

Nilai satu-satunya yang disembah oleh manusia di zaman Isa as adalah uang.
Kemewahan materi tidak ada perbedaan antara para rahib dengan manusia biasa.
Nabi Isa as memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia melihat kaum kafir
mati kelaparan. Mengapa orang-orang fakir banyak berhutang? Kemudian, Nabi Isa
as pergi dari tempat penyembahan itu dan ia meninggalkan kota menuju gunung untuk
beribadah. Wajahnya tampak semakin pucat ketika melihat berbagai macam
kejahatan memenuhi dunia.
Nabi Isa as memulai perjalanannya yang berat dan penuh tantangan serta penderitaan
di lingkungan sosial masyarakat. Nabi Isa as mulai berdakwah dan membangun
kerajaan yang tegak berdasarkan kerendahan hati dan cinta dengan tujuan
membebaskan dan menyucikan ruh, disamping keimanan akan hari
kiamat/kebangkitan,
Dalam berdakwah, Nabi Isa as didukung oleh ruhul kudus sepanjang masa dan aneka
mukjizat. Tentu itu adalah nikmat yang tak seorang pun dari nabi sebelumnya diberi.
Allah SWT berfirman: “(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: ‘Hai Isa utra Maryam,
ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu
dengan roh kudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam
buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis,
hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu
bentuk) yang berupa burung dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu
menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang
berpenyakit sapak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani
Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada
mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka
berkata: ‘Ini tidak lain hanya sehir yang nyata.’ Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan
kepada pengikut Isa yang setia: ‘Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.’ Mereka
menjawab: ‘Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rsul) bahwa sesungguhnya kami
adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).’” (QS. Al Ma`idah: 110-111). Dan
bahkan Nabi Isa as, dan para pengikutnya telah dapat menikmati hidangan dari surga
(QS. Al- Ma`idah: 112-115). Kemampuan Nabi Isa as yang lain adalah mengetahui
apa yang dikonsumsi oleh para sahabatnya di rumah (QS. Ali Imran: 49).
Nabi Isa terus melangsungkan dakwahnya dan mengajak manusia untuk menyembah
Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya. Dakwah Nabi Isa itu sangat memukul
kalangan para pendeta Yahudi. Mula-mula pemerintahan Romawi tidak turut campur
dalam masalah tersebut karena melihat bahwa itu hanya sekadar perselisihan internal

11

antara kelompok-kelompok Yahudi. Bagi mereka, selama orang-orang Yahudi tidak
peduli dengan kekuasaan, mereka tidak turut campur.
Kemudian, para pendeta Yahudi mulai merancang suatu persengkokolan untuk
menyingkirkan Nabi Isa as,. Mereka ingin mengusir dan membuktikan bahwa Nabi Isa
as datang untuk menghancurkan syariat Musa. Syariat Musa as memutuskan untuk
merajam wanita yang berzina. Para pendeta Yahudi menghadirkan wanita yang salah
yang berhak dirajam. Mereka berkumpul di sekelling Nabi Isa as dan bertanya
kepadanya: “Tidakkah syariat menetapkan untuk merajam wanita yang bersalah?”
Nabi Isa as menjawab: “Benar,” Mereka berkata: “Ini adalah wanita yang bersalah.”
Nabi Isa as memandang wanita itu dan para pendeta Yahudi. Nabi Isa as mengetahui
bahwa para pendeta Yahudi lebih banyak kesalahannya daripada wanita tersebut.
Para pendeta itu menunggu jawaban. Nabi Isa as memahami bahwa ini adalah
persengkokolan. Beliau tersenyum dan wajahnya tampak bercahaya. Kemudian beliau
melihat para pendeta Yahudi dan wanita itu sambil berkata: “ Barangsiapa di antara
kalian yang tidak memiliki kesalahan, maka hendaklah ia merajam wanita itu.”
Kemudian Nabi Isa as menetapkan peraturan baru yakni orang yang tidak berbuat
salah menghukum orang yang salah dan tidak berhak seseorang menghukum orang
yang bersalah jika ia sendiri bersalah, tetapi yang menghukum Allah.
Puncak persekongkolan para pendeta, rahib Yahudi dan pemerintah Romawi Nabi Isa
as, pembunuhan. Tetapi mereka berselisih apakah benar yang dibunuh adalah Nabi Isa
as? Al-Qur`an memberi bantahan bahwa yang dibunuh/salib bukan Nabi Isa as, tetapi
sosok yang diserupakan, dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah
membunuh Al Masih, Isa, Putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak
membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang
yang diseupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih
paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang
dibunuh itu. (QS. An Nisa`: 157).

E. NABI MUHAMMAD SAW
Muhammad SAW lahir di Makkah, pada 12 Rabi`ul Awal tahun 571 M. Silsilah
Muhammad SAW adalah Muhammad SAW bin Abdukkah bin Abdul Muthallib bin
Hasyim bin Abdi Manf bin Qushai bin Kilab bin Murra bin Ka`ab bin Lu`ay bin Ghalib
bin Quraisy (Fihr) bin Malik bin Nazar bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah bin
Ilyas bin Mazar bin Nazar bin Ma`ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim.

12

Pada Ramadhan tahun ke-3 dari masa mengasingkan diri di Gua Hira di Jabal Nur,
Allah mengangkatnya sebagai Rasul pada usia 40 tahun, memuliakan dengan cahaya
kenabian, dan menurunkan Jibril untuk menyampaikan wahyu pertama pada Ramadhan
tahun 610 M yakni QS. Al-Alaq: 1-5. Setelah diangkat Allah SWT sebagai Nabi dan
Rasul, Muhammad SAW dianugerahkan sejumlah kebaikan dan budi pekerti luhur
sebagai landasan hidupnya; “aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan budi
pekerti luhur”. Pada hari Senin, tanggal 12 Rabi`ul Awal 11 H/ 8 Juni 632 M, Rasulullah
SAW wafat di rumah istrinya, Aisyah dan dimakamkan di tempat tersebut.

13

Sumber:
Saiful Huda Usman dan Rokhmat Jaelani, Busantik: Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah
Berdasarkan KMA 165 Tahun 2014. Mojokerto: Ladunni. 2018. Hal. 104-111.
Qur`an Kemenag, dalam https://quran.kemenag.go.id/, diakses pada 21 November
2022.
Syahida, Kisah Nabi Nuh (Bagian Ke-8): Suara Hati Nabi Nuh, dalam
https://www.syahida.com.
Ahmad Fauzi Qosim, Kisah-Kisah Teladan Nabi Ulul Azmi, dalam https://zakat.or.id.

14

15


Click to View FlipBook Version