NAMA : Kokom Komariah,S.Pd. NO UKG : 201699586056 LPTK : Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka LK 3.1 Menyusun Best Practices Menyusun Cerita Praktik Baik (Best Practice) Menggunakan Metode Star (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak) Terkait Pengalaman Mengatasi Permasalahan Siswa Dalam Pembelajaran Lokasi SMAN 1 Rancah Lingkup Pendidikan Sekolah Menengah Atas Tujuan yang ingin dicapai 1. Meningkatkan kemampuan representasi matematis peserta didik melalui model Problem Based Learning 2. Meningkatkan kemandirian belajar matematika peserta didik Penulis Kokom Komariah,S.Pd. Tanggal Aksi 1 : Sabtu, 10 Desember 2022 Pertemuan 1 : 07.00-09.30 Pertemuan 2 : 10.00-11.30 Aksi 2 : Senin, 9 Januari 2023 Pertemuan 1 : 07.00-09.30 Pertemuan 2 : 14.30-16.00 Situasi: Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini. Kondisi yang menjadi latar belakang masalah Untuk dapat mengkomunikasikan sesuatu, seseorang perlu representasi baik berupa gambar, grafik, diagram, maupun bentuk representasi lainnya. Dengan representasi, masalah yang semula terlihat sulit dan rumit dapat di lihat dengan lebih mudah dan sederhana, sehingga masalah yang disajikan dapat dipecahkan dengan lebih mudah. Matematika tidak luput dari kemampuan representasi. Kemampuan representasi matematis diartikan sebagai kemampuan mengungkapkan atau merepresentasikan gagasan/ ide matematis sebagai alat bantu untuk menemukan solusi dari masalah matematika. Menurut NCTM
(Fasa,I.L.:2020:82) representasi merupakan translasi suatu masalah atau ide dalam bentuk baru, termasuk di dalamnya dari gambar atau model fisik ke dalam bentuk simbol, kata-kata atau kalimat. Berdasarkan hasil observasi penulis dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, peserta didik mengalami kesulitan dalam mengubah kalimat matematika menjadi bentuk variabel karena keliru melakukan pemodelan dari permasalahan kontekstual, dan kekeliruan dalam melaksanakan proses penyelesaian masalah. Untuk representasi visual, secara umum peserta didik mampu mengubah permasalahan ke dalam bentuk gambar namun belum lengkap dalam penyajiannya. Berdasar hasil tes formatif KD 3.3 Menyusun sistem persamaan linear tiga variabel dari masalah kontekstual peserta didik kelas X MIPA 4 diperoleh data 25 dari 36 peserta didik mampu menentukan model matematika dari permasalahan kontekstual SPLTV (representasi simbolik), namun hanya 10 peserta didik yang mempu menerapkan prosedur penyelesaian masalah melibatkan ekspresi matematis sampai tuntas dan tepat (representasi verbal). 27 peserta didik masih terdapat kekeliruan dalam melakukan operasi hitung penyelesaian masalah Untuk mengeksplorasi penyebab masalah, penulis melakukan observasi, wawancara kepada peserta didik, rekan guru dan wawancara kepada ahli, hal yang melatarbelakangi kemampuan representasi masih rendah adalah sebagai berikut. Faktor dari peserta didik a. kesalahan konseptual yang mengakibatkan peserta didik kurang memahami soal yang diujikan. Peserta didik dominan mampu mengerjakan soal LOTS rutin. b. Faktor kesalahan serius (kesalahan membuat kesimpulan menentukan jawaban akhir dari soal) c. Faktor kesalahan operasional (ketidaktepatan operasi perhitungan menentukan hasil). Faktor dari guru a. Model pembelajaran yang digunakan kurang memacu kemampuan representasi peserta didik b. Metode pembelajara yang digunakan guru belum optimal untuk meningkatkan kemampuan representasi peserta didik c. Pemahaman guru dalam membuat variasi soal permasalahan kontekstual meliputi representasi matematika dalam menyajikan ragam table,
gambar, grafik, pernyataan matematika, teks tertulis, ataupun kombinasi dari semuanya belum optimal d. Belum optimalnya penggunaan bahan ajar, dan Lembar kerja peserta didik (LKPD) berorientasi pada kemampuan representasi matematika e. Penggunaan alat peraga penunjang pembelajaran belum optimal Belum optimalnya kemampuan representasi matematis peserta didik mengakibatkan peserta didik masih bergantung kepada peserta didik lain. Sehingga peserta didik kurang inisiatif mengungkapkan ide, (kemandirian belajar rendah). Hasil kuesioner kemandirian belajar X MIPA 4 No Aspek kemandirian Skor (%) Kriteria 1 Kepercayaan diri 47 lemah 2 Disiplin 92 Sangat kuat 3 Inisiatif 13 Sangat lemah 4 Tanggung jawab 41 lemah 5 Tidak bergantung pada orang lain 28 lemah Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kemandirian dan wawancara kepada peserta didik dan ahli dalam bidang matematika, terdapat hal yang menjadi latar belakang permasalahan tersebut, yaitu: a. Peserta didik kurang percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga mereka kurang termotivasi untuk aktif dalam pembelajaran matematika b. Keterampilan guru memberikan penguatan (reinforcement skills) dalam memicu peserta didk untuk percaya diri belum optimal c. Metode pembelajaran yang digunakan belum mengakomodir peserta didik untuk aktif dan mandiri d. Metode scaffolding guru dalam memberikan bimbingan, perlu diterapkan pada peserta didik yang kurang mandiri dalam pembelajaran
e. Kemampuan guru dalam memberikan apresiasi kepada setiap respon yang diberikan peserta didik dalam pembelajaran perlu ditingkatkan Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik untuk melaksanakan aksi praktik pembelajaran 1 dan 2 dengan upaya meningkatkan kemampuan representasi matematis dan kemandirian belajar peserta didik. Mengapa praktik ini penting untuk dibagikan? Praktik ini penting untuk dibagikan karena: a. Dengan menerapkan model pembelajaran yang inovatif, peserta didik belajar merepresentasikan permasalahan kontekstual ke dalam simbol dan menggunakan representasi tersebut untuk memudahkan dalam penyelesaian masalah b. Media dan alat/bahan pembelajaran berbasis TPACK lebih inovatif dan tidak monoton sehingga menarik perhatian peserta didik/tidak membosankan. c. Proses bembelajaran lebih tersetruktur. d. Pembelajaran berpusat pada kolaborasi peserta didik dan guru e. Metode scafolding dapat diterapkan untuk meminimalisir peserta didik melakukan kesalahan representasi matematis saat pembelajaran f. Tercapainya tujuan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan. g. Praktik ini bisa menjadi referensi bagi guru yang mengalami hal masalah yang sama. apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini a. merancang model pembelajaran inovatif agar dapat meningkatkan kemampuan representasi dan kemadirian belajar peserta didik; b. menciptakan suasana kelas yang nyaman bagi peserta didik untuk bisa mengeksplorasi potensi dalam dirinya; c. memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kompetensinya dengan membimbing baik secara indivu maupun kelompok agar peserta didik percaya dengan kemampuan dirinya d. memfasilitasi peserta didik dengan mengembangkan media pembelajaran disesuaikan dengan aset sumber daya yang ada di sekolah
Tantangan : Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat, Tantangan untuk mencapai tujuan dari guru sebagai berikut. a. kreatifitas guru dalam mempersiapkan dan memadukan pembelajaran menggunakan media pembelajaran inovatif berbasis TPACK perlu ditingkatkan baik belajar otodidak maupun melakukan kolaborasi bersama rekan guru dalam MGMP b. peran guru dalam pembelajaran lebih dominan, perlu adanya interaksi kolaborasi antara guru dan peserta didik c. guru harus mahir dalam pemilihan model pembelajaran tepat dan inovatif disesuaikan dengan karakteristik materi Tantangan untuk mencapai tujuan dari peserta didik sebagai berikut. a. Terdapat peserta didik yang kurang aktif dalam proses pembelajaran baik secara mandiri atau kelompok saat proses pembelajaran b. Peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, meliputi auditori, visual maupun kinestetik. Perlu strategi pembelajaran yang tepat untuk mengakomodir keberagaman karakteristik peserta didik. Dari beberapa tantangan diatas, guru dituntut untuk merancang pembelajaran yang inovatif sehingga dapat melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan terfokus pada menuntaskan permasalahan. Terdapat beberapa pihak yang terlibat pada praktik pembelajaran, diantaranya: a. Peserta didik sebagai subjek dalam kegiatan pembelajaran. b. Rekan Guru (Wiwin Wisriani, S.Pd) membantu mempersiapkan kelas sebelum PPL dan membantu pengambilan video. c. Kepala sekolah (Rohmat Slamet, S.Pd. M.Pd.) sebagai koordinator dan pengawas dalam kegiatan PPL. d. Peserta didik dalam kelompok yang ditunjuk sebagai ketua untuk senantiasa membantu rekan anggota kelompoknya menjadi tutor sebaya Aksi : Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi Langkah-langkah apa yang dilakukan Berdasarkan tantangan yang dihadapi, maka langkahlangkah yang dilakukan adalah sebagai berikut. 1. Melakukan kajian literatur untuk mencari referensi model dan media pembelajaran yang dapat mengatasi
tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini permasalahan yang dihadapi. Menentukan model Problem based Learning (PBL) dengan memadukan metode scaffolding pada materi trigonometri 2. Melakukan wawancara dengan rekan guru, peserta didik, ahli dalam bidang matematika untuk mencari solusi dalam perbaikan praktik pembelajaran 3. Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari rpp, bahan ajar, media pembelajaran, lkpd, instrumen penilaian, menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi, kahoot sebagai kuis pembelajaran,padlet, power point, youtube. 4. Penentuan jadwal aksi PPL 1 dan konfirmasi kepada Dosen pembimbing dan Guru Pamong untuk jadwal sit in. Aksi PPL 1dilaksanakan 10 Desember 2022 dan aksi 2 : 9 Januari 2022 5. Melibatkan rekan sejawat Guru (Ibu Wiwin Wisriani, S.Pd. sebagai juru kamera dan membantu segala persiapan sebelum aksi dilaksanakan). 6. Mempersiapkan fasilitas dan media yang digunakan yaitu: ruangan kelas X, Proyektor, laptop dan video pembelajaran. Selain itu menyiapkan RPP, Bahan ajar, LKPD per kelompok, lembar penilaian pengetahuan dan sikap, tes formatif, peserta didik, internet, loudspeaker dan perangkat lainnya yang mendukung keterlaksanaan aksi. Stretegi apa yang digunakan Berdasarkan hasil studi literatur: 1. Delfita,O.,dkk. (2020:1184) dalam jurnal Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Menggunakan Model Problem Based Learning Untuk Memfasilitasi Kemampuan Representasi Matematis Peserta Didik menyatakan bahwa rendahnya kemampuan representasi matematis peserta didik dan perangkat pembelajaran yang dibuat oleh guru belum memfasilitasi kemampuan representasi matematis yang menjadi tujuan utama dalam penelitian ini. Peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, RPP, dan LKPD menggunakan model Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis peserta didik. 2. Fasa,I.L. (2020:89) jurnal Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis Dan Kemandirian Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran PBL Berbantuan Geogebra menyatakan bahwa kemandirian belajar siswa yang memperoleh model pembelajaran PBL berbantuan Geogebra lebih baik daripada siswa yang memperoleh model ekspositori
Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa kemampuan representasi matematis dan kemandirian belajar siswa masih relatif belum optimal sehingga perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan representasi matematis dan kemandirian belajar siswa. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan tersebut adalah melakukan variasi terhadap model pembelajaran. Salah satu model yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan tersebut adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Dengan menggunakan PBL, peserta didik belajar merepresentasikan permasalahan kontekstual ke dalam simbol dan menggunakan representasi tersebut untuk memudahkan dalam penyelesaian masalah. Media yang digunakan power point, padlet, kahoot, youtube dan LKPD dengan harapan peserta didik dapat percaya dengan kemampuan diri, dan kemandirian belajarnya pun dapat meningkat. Penggunaan media ICT bertujuan untuk mengurangi kesulitan belajar yang diakibatkan oleh abstraknya objek kajian dalam matematika PPL Aksi 1 Pertemuan 1 Materi Ukuran Sudut Kegiatan Pendahuluan dimulai persiapan (salam, berdoa, mengecek kehadiran peserta didik), kegiatan apersepsi dengan menyampaikan judul materi pelajaran, mengingat kembali materi ukuran sudut yang sudah dipelajari di SMP dengan menggunakan media kahoot. Peserta didik scan barcode link kahoot di layar proyektor. Peserta didik terlihat bingung dengan teknis scan barcode kuis. Terdapat 4 peserta didik yang tidak bisa akses link kahoot karena gawai yang kurang mendukung aplikasi. Sehingga hanya 26 dari 30 peserta didik saja yang bisa akses soal kuis kahoot. Guru memberikan solusi peserta didik yang terkendala untuk bergabung bersama rekan sebangkunya untuk mengisi soal kuis secara bersama. Guru mengaktifkan soal dalam bentuk pertanyaan langsung, sehingga peserta didik menjawab soal samasama dengan durasi waktu 10-20 detik. Secara umum di soal pertama, peserta didik masih bingung mengenai teknis mengisi kuis kahoot, terlihat dari hasil perolehan yang menjawab soal 1 hanya 12 peserta didik. Terdapat 18 peserta didik terlambat untuk memilih jawaban karena habis durasi menjawab soal. Untuk no soal 2 dan selanjutnya, peserta didik sudah faham mengenai teknis
menjawab kuis, meskipun terdapat beberapa siswa yang tidak mengisi karena terlambat dalam memilih jawaban. Guru memberikan reward kepada peserta didik yang memperoleh hasil kahoot urutan ke-1 agar mereka lebih termotivasi untuk belajar matematika. Kemudian memberikan motivasi dengan memberikan gambaran mengenai manfaat mempelajari trigonometri menampilkan video youtube. Di kegiatan pendahuluan ini guru menjelaskan indikator representasi yang akan dijadikan acuan dalam penyelesaian masalah Pada tahapan kegiatan inti, fase orientasi peserta didik pada masalah, guru membagikan bahan ajar kepada peserta didik. Guru menampilkan permasalahan dalam PPT dan melakukan tanya jawab dengan peserta didik berkaitan dengan penyelesaian masalah yang ditampilkan dalam PPT. Pada kegiatan ini, peserta didik secara umum dapat merespon permasalahan di PPT, karena materi ukuran sudut ini sudah pernah mereka pelajari di SMP kelas VIII. Peserta didik menuliskan informasi berdasarkan permasalahan yang diamati. Di fase mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, peserta didik duduk berkelompok secara heterogen 4-5 orang, guru membagikan LKPD kepada masing-masing peserta didik dalam kelompok. Guru memberikan motivasi peserta didik untuk aktif dan melakukan kolaborasi dengan kelompok. Peserta didik dipantau dalam keterlibatannya dalam kelompok selama diskusi dalam menyelesikan masalah di LKPD. Terdapat 2 kelompok peserta didik yang terlihat mampu berkolaborasi sesama anggota dan mampu menjawab LKPD secara bersama-sama. Namun terdapat 4 kelompok yang terlihat perumusan jawaban hanya diberatkan pada 1-2 orang saja dalam kelompok, karena berdalih mereka sulit menyelesaikan soal. Pada fase membimbing penyelidikan individual dan kelompok, guru memberikan bimbingan secara individual (scaffolding) kepada peserta didik yang mengalami hambatan dalam mengerjakan LKPD. Pada kegiatan ini, guru lebih dominan memberikan bimbingan kepada kelompok yang terhambat dalam menyelesaikan soal. Guru menegaskan agar peserta didik di tiap kelompok untuk membantu rekan kelompoknya yang mengalami kesulitan dengan teknik tutor sebaya. Pada tahap pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah, peserta didik dari kelompok lain diberi kesempatan untuk menanggapi dan mengomentari hasil pekerjaan kelompok yang tampil kemudian guru bersama peserta didik memberikan penekanan dan
pembenaran langkah dalam penyelesaian permasalahan. Terdapat bebrapa kelompok yang mampu menyampaikan pendapatnya karena perbedaan dalam mengisi soal. Kegiatan Penutup guru bersama peserta didik menyimpulkan materi yang telah dipelajari, diberi tes formatif dalam google formulir. Selagi guru memeriksa hasil tes formatif, peserta didik mengisi kuesioner kemandirian di google formulir dengan scan barcode di PPT. Guru menginformasikan perolehan hasil penilaian pada pembelajaran yang telah dilaksanakan. Guru memberikan motivasi pada peserta didik yang belum mencapai KKM untuk mengerjakan tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah dan dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya. Hasil temuan di PPL Aksi 1 pertemuan 1, terdapat peningkatan kemampuan representasi peserta didik, ditandai dengan 25 dari 30 peserta didik mampu mencapai KKM, 12 peserta didik mampu dengan lengkap menjawab soal sesuai dengan indikator representasi visual dalam bentuk gambar, persamaan atau ekspresi matematis, kata-kata atau teks tertulis. Hal ini bisa dilihat dari hasil lembar kerja jawaban siswa, siswa menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya secara rinci dan benar. Terdapat 13 peserta didik yang masih belum runtut dalam menuliskan interpretasi langkah penyelesaian masalah, dan ditemui beberapa kekeliruan dalam membuat ekspresi matematik. kemandirian belajar siswa yang memperoleh model pembelajaran PBL berbatuan media berbasis ICT lebih baik dari pembagian kuesioner pada awal pembelajaran. Perubahan signifikan terdapat pada indikator kemandirian belajar aspek inisiatif 67% peserta didik selalu dan sering menanyakan hal jika ada yang belum dimengerti. Namun untuk indikator kemandirian tidak bergantung pada orang lain, terdapat 47% peserta didik masih bergantung kepada peserta didik lain. PPL Aksi 1 Pertemuan 2 Materi Rasio Trigonometri Untuk langkah pembelajaran pertemuan 2 sama dengan alur di PPL aksi 1 pertemuan 1. Hal berbeda, penulis terapkan dalam mengerjakan soal kuis kahoot di bagian pendahuluan tahapan apersepsi dalam bentuk penugasan, sehingga peserta didik tidak menjawab soal secara bersamaan. Kegiatan ini penulis lakukan karena
berdasarkan PPL aksi 1 pertemuan 1, ada 3 orang peserta didik yang tidak bisa mengikuti kuis kahoot secara langsung akibat gawai yang tidak mendukung aplikasi. Solusi pemberian kuis dalam bentuk penugasan ini diharapkan, peserta didik yang terkendala gawai yang tidak suport aplikasi bisa meminjam gawai rekannya untuk mengisi kuis. pada tahapan orientasi peserta didik pada masalah, peserta didik diarahkan untuk menscan bahan ajar online yang sudah dibuat guru. Bahan ajar online tersedia di link anyflif yang sudah dishare guru. Hal ini merupakan upaya memberikan situasi baru bagi peserta didik dalam mencari informasi, biasanya guru memberikan hasil print out bahan ajar kemudian dibagikan. Hal ini dirasa lebih efektif karena guru memadukan pembelajaran berbasis ICT dalam pengembangan bahan ajar. Sehingga peserta didik dapat mengakses bahan ajar dimanapun dan kapanpun. Namun dalam tahapan penyajian hasil penyelesaian masalah, peserta didik yang tampil untuk persentasi, menuliskan terlebih dahulu jawaban mereka di whiteboard, meskipun teknik penulisan jawaban dibagikan kepada masing-masing anggota, namun hal ini dirasa kurang efektif karena peserta didik lama dalam menuliskan jawaban, sehingga persentasi dari 1 kelompok saja memerlukan waktu yang lumayan lama. Pada bagian penutup, guru memberikan tes formatif, guru memberikan soal tes bentuk uraian menggunakan google formulir. Peserta didik menjawab dengan menuliskan proses penyelesaian masalah kemudian memfoto hasil pekerjaannya dan diupload di google formulir yang telah disediakan. Pada tahapan Aksi 1 pertemuan 2 ini, peserta didik sudah terbiasa mengenai berbagai aplikasi yang guru gunakan dalam pembelajaran. Karena peserta didik sudah memperoleh gambaran pada PPL aksi 1. Hanya saja untuk tes formatif bentuk uraian menggunakan google formulir dirasa kurang efektif karena ketika peserta didik memfoto hasil pengerjaan mereka, ketika peserta didik mengupload jawaban di google formulir, terdapat 4 peserta didik yang tidak dapat upload jawaban, karena kendala teknis dari gawai mereka. Sehingga guru memberikan alternatif dengan mengumpulkan kertas jawaban langsung. PPL Aksi 2 Pertemuan 1 Materi Rasio Trigonometri kuadran 1 Untuk alur langkah pembelajaran sama halnya dengan PPL aksi 1. Hal berbeda penulis lakukan pada kegiatan pendahuluan tahapan apersepsi mengingat kembali
materi sebelumnya, peserta didik sangat antusias dalam menjawab soal kuis kahoot yang dilakukan secara langsung. Adapun 3 peserta didik tidak dapat akses karena jaringan wifi yang tidak stabil, guru memberikan solusi dengan memberikan hotspot seluler ke peserta didik yang terkendala. Berdasarkan hasil perolehan kuis kahoot, peserta didik memberikan apresiasi karena 3 besar perolehan skor tertinggi diperoleh peserta didik yang mereka tidak duga sebelumnya. Perolehan hasil kuis kahoot ini menandakan bahwa peserta didik sudah mulai terlihat memiliki kemandirian belajar matematika. Karena mereka bisa menjawab soal dengan percaya diri, tidak bergantung pada jawaban teman yang lain. Suasana semakin riuh ketika guru memberikan reward dengan memberikan hadiah kepada peserta didik yang memperoleh skor teringgi. Hal ini penulis lakukan sebagai salah satu upaya meningkatkan kemandirian belajar peserta didik agar peserta didik lebih termotivasi. Di kegiatan inti penyajian hasil penyelesaian masalah, guru meminta peserta didik untuk memfoto hasil kerja kelompok mereka dan mengirimkannya ke WA grup untuk ditampilkan di layar monitor saat persentasi. Hal ini lebih efektif dari pertemuan sebelumnya karena peserta didik di pertemuan ke-2 menuliskan jawaban di whiteboard untuk dipersentasikan, sehingga waktu untuk persentasi per kelompok semakin lama karena menunggu peserta didik menuliskan jawaban hasil kerja kelompok mereka. Pada kegiatan inti fase analisis dan evaluasi hasil penyelesaian masalah di akhir setelah mengumpulkan LKPD, guru mempersilahkan peserta didik untuk kembali ke tempat duduk asal. Hal ini penulis lakukan karena pada tahapan PPL aksi 1, peserta didik menjawab tes formatif dengan posisi duduk masih berkumpul dalam kelompok. Sehingga ada beberapa 8 peserta didik yang terlihat bertanya kepada temannya. Hal ini menandakan peserta didik masih belum mandiri dalam pembelajaran matematika. Sehingga pada tahapan ini, peserta didik kembali ke tempat duduk asal sebelum masuk ke kegiatan penutup dalam pembelajaran. Tes formatif yang diberikan guru tidak lagi dalam bentuk google formulir, namun dengan membagikan print out soal tes formatif. Soal tes uraian dalam google formulir kurang efektif untuk soal tes bentuk uraian dan peserta didik mengalami kesulitan dalam mengupload foto hasil kerja mereka di pertemuan sebelumnya. PPL Aksi 2 Pertemuan 2 Materi Aturan Sinus Pada kegaiatan PPL aksi 2 pertemuan 2, semua kegiatan pendahuluan, inti dan penutup sudah lebih baik dari
pertemuan sebelumnya. Namun peserta didik terlihat kurang bersemangat di awal pembelajaran, karena waktu belajar 14.30-16.00. Sehingga guru memberikan memberikan motivasi di kegiatan pendahuluan (melalui ice breaking menari bersama dengan musik dreamer Jungkook). Pada kegiatan inti memberikan bimbingan individu dan kelompok, peserta didik secara umum sudah tidak segan bertanya kepada rekan sekelompok maupun kepada guru berkaitan dengan hal yang belum mereka pahami. Peserta didik mebagi tugas untuk masing-masing anggota dalam kelompok, sehingga tiap individu dalam kelompok memperoleh tanggung jawab untuk mampu menyelesaikan permasalahan yang harus ia selesaikan dalam kelompok. Dalam kegiatan penutup, peserta didik mampu menyimpulkan materi yang telah dipelajari dengan baik. Hasil tes formatif diperoleh hasil peserta didik secara umum sudah mampu merepresentasikan permasalahan ke dalam bentuk visual (gambar), simbol maupun uraian dalam tulisan mengenai alur penyelesaian masalah. Kemampuan representasi matematis dan kemandirian belajar peserta didik di kegiatan PPL aksi 2 jauh lebih meningkat. Siapa saja yang terlibat: a. Saya sendiri sebagai guru matematika b. Peserta didik sebagai objek belajar c. Rekan sejawat sebagai observer, memberi masukan dan yang membantu dalam proses pengambilan video pembelajaran Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini: a. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) b. Bahan ajar c. Buku paket d. Power Point e. Google Formulir f. Kahoot g. Padlet h. Youtube i. Laptop j. LCD proyektor k. Speaker aktif l. White Board m. spidol dan penghapus n. Handphone o. Tripod Refleksi Hasil dan dampak Refleksi hasil
Bagaimana dampak dari aksi dari Langkahlangkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif? Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif? Mengapa? Berikut perolehan hasil penyebaran kuesioner kemandirian belajar peserta didik X MIPA 1 pada tahapan awal sebelum pelaksanaan PPL aksi 1 dan 2 No Aspek kemandirian Skor (%) Kriteria 1 Kepercayaan diri 47 lemah 2 Disiplin 91 Sangat kuat 3 Inisiatif 13 Sangat lemah 4 Tanggung jawab 41 lemah 5 Tidak bergantung pada orang lain 28 lemah Hasil dapat dilihat di link https://docs.google.com/spreadsheets/d/1sld8XDd8exc CnEkRVa72DoBOKc0KL3mygTGNg8gkdY/edit?usp=sharing Hasil tes formatif KD 3.3 Menyusun sistem persamaan linear tiga variabel dari masalah kontekstual peserta didik kelas X MIPA 4 diperoleh data 25 dari 36 peserta didik mampu menentukan model matematika dari permasalahan kontekstual SPLTV (representasi simbolik), namun hanya 10 peserta didik yang mempu menerapkan prosedur penyelesaian masalah melibatkan ekspresi matematis sampai tuntas dan tepat (representasi verbal). 27 peserta didik masih terdapat kekeliruan dalam melakukan operasi hitung penyelesaian masalah Berdasarkan hasil tes formatif kemampuan representasi matematis dan kuesioner kemandirian belajar dan observasi kemandirian belajar yang telah dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut. 1. PPL aksi 1 pertemuan 1 Berdasarkan hasil temuan di PPL Aksi 1 pertemuan 1, terdapat peningkatan kemampuan representasi peserta didik, ditandai dengan 25 dari 30 peserta didik mampu mencapai KKM, 12 peserta didik mampu dengan lengkap menjawab soal sesuai dengan
indikator representasi visual dalam bentuk gambar, persamaan atau ekspresi matematis, kata-kata atau teks tertulis. Hal ini bisa dilihat dari hasil lembar kerja jawaban siswa, siswa menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya secara rinci dan benar. Terdapat 13 peserta didik yang masih belum runtut dalam menuliskan interpretasi langkah penyelesaian masalah, dan ditemui beberapa kekeliruan dalam membuat ekspresi matematik. Jawaban peserta didik dapat dilihat di link https://docs.google.com/spreadsheets/d/1bogsw7X6 aHcjiQcH_IGGBwElrVV5XerpuYCyfC6fjQ/edit?usp=sharing Peserta didik mampu mengubah permasalahan kontekstual ke dalam representasi gambar dan simbol, namun belum lengkap dalam representasi tulisan alur penyelesaian masalah
Peserta didik mampu melakukan representasi simbolik dan tulisan namun belum lengkap dan belum tepat Kemandirian belajar siswa yang memperoleh model pembelajaran PBL berbatuan media berbasis ICT lebih baik dari pembagian kuesioner pada awal pembelajaran. Perubahan signifikan terdapat pada indikator kemandirian belajar aspek inisiatif 67% peserta didik selalu dan sering menanyakan hal jika ada yang belum dimengerti. Namun untuk indikator kemandirian tidak bergantung pada orang lain, terdapat 25% peserta didik masih bergantung kepada peserta didik lain ketika dihadapkan pada soal sulit. Dan 58% peserta didik kadang-kadang berusaha memecahkan sendiri tanpa meminta bantuan teamnnya. Hasil kuesioner kemnadirian di link https://docs.google.com/spreadsheets/d/134ub134wl6tNZ1u DvEi4kBAhRGNxQer-3fgoZBRnO9I/edit?usp=sharing
2. PPL aksi 1 pertemuan 2 Pertemuan 2 dengan materi rasio trigonometri dari segitiga siku-siku sebangun, menuntut peserta didik untuk mampu merepresentasikan permasalahan kontekstual ke dalam bentuk visual gambar dengan tepat, kemudian dari representasi gambar yang diperoleh dikembangkan dalam representasi simbol matematika dan representasi tulisan. Dari hasil tes formatif diperoleh hasil 33 peserta didik mampu mengubah permasalahan matematika ke dalam bentuk gambar representasi visual dengan tepat, namun terdapat 13 peserta didk keliru dalam melakukan representasi simbolik menggunakan rumus tangen dalam penyelesaian masalah. 23 peserta didik mampu merepresentasikan dalam bentuk visual, simbol dan verbal namun belum tuntas sampai selesai. Berikut representasi visual (gambar) dari hasil tes formatif peserta didik Peserta didik sudah mampu mengubah permasalahan ke dalam representasi visual, simbolik dan tulisan
Peserta didik sudah mampu merepresentasikan permasalahan ke dalam bentuk gambar secara jelas dan lengkap Hasil tes formatif : https://docs.google.com/spreadsheets/d/1ki2vrJt3GX1YfudIJWaMEzkrHrod0dO8BRldNO3bxo/edit?usp=sharing Kemandirian belajar peserta didik sudah mulai meningkat terlihat dari hasil kuesioner indikator inisiatif, terdapat 19 % peserta didik yang masih belum memiliki inisiatif dalam belajar matematika, artinya 81% peserta didik sudah mulai menunjukkan inisatifnya dalam belajar matematika. Berikut jawaban peserta didik dalam salah satu butir soal indikator kemandirian belajar inisiatif 19% peserta didik belum memiliki inisiatif dalam pembelajaran, terlihat dari diagram warna ungu dan hijau Hasil kuesioner di link : https://docs.google.com/spreadsheets/d/134ub134wl6tNZ1uDv Ei4kBAhRGNxQer-3fgoZBRnO9I/edit?usp=sharing 3. PPL aksi 2 pertemuan 1
Hasil signifikan kemampuan representasi matematis terlihat dalam tabel berikut No Indikator representasi matematis Persentase 1 Representasi visual Peserta didik mampu membuat gambar untuk memperjelas masalah 90% 2 Representasi simbolik Peserta didik mampu membuat persamaan atau ekspresi matematis dan menyelesaikan masalah dengan membuat konjektur dari pemecahan bilangan 73% 3 Representasi tulisan Peserta didik mampu menuliskan langkah penyelesaian masalah secara runtut 71% Berdasarkan tabel, 90% peserta didik sudah mampu membuat gambar dari permasalahan kontekstual rasio trigonometri, 73% mampu membuat ekspresi matematis dan 71% mampu menuliskan secara runtut alur penyelesaian masalah. Kemampuan representasi visual sudah sangat baik di PPL aksi 2 pertemuan ke 1 ini. Adapun perolehan hasil kuesioner kemandirian di PPL aksi 2 pertemuan 1 sebagai berikut. No Aspek kemandirian Skor (%) Kriteria 1 Kepercayaan diri 79 Sangat kuat 2 Disiplin 97 Sangat kuat 3 Inisiatif 62 kuat 4 Tanggung jawab 90 Sangat kuat 5 Tidak bergantung pada orang lain 77 kuat Hasil kuesioner pertemuan ke 1 tanggal 10 Desember 2022 di link : https://docs.google.com/spreadsheets/d/134ub134wl6tNZ1uDv Ei4kBAhRGNxQer-3fgoZBRnO9I/edit?usp=sharing
4. PPL aksi 2 pertemuan 2 Hasil signifikan kemampuan representasi matematis terlihat dalam tabel berikut No Indikator representasi matematis Persenta se 1 Representasi visual Peserta didik mampu membuat gambar untuk memperjelas masalah 95% 2 Representasi simbolik Peserta didik mampu membuat persamaan atau ekspresi matematis dan menyelesaikan masalah dengan membuat konjektur dari pemecahan bilangan 93% 3 Representasi tulisan Peserta didik mampu menuliskan langkah penyelesaian masalah secara runtut 87% Berdasarkan tabel, 95% peserta didik sudah mampu membuat gambar dari permasalahan kontekstual rasio trigonometri, 93% mampu membuat ekspresi matematis dan 87% mampu menuliskan secara runtut alur penyelesaian masalah. Kemampuan representasi visual sudah sangat baik di PPL aksi 2 pertemuan ke 1 ini. Adapun perolehan hasil kuesioner kemandirian di PPL aksi 2 pertemuan 1 sebagai berikut. N o Aspek kemandirian Skor (%) Kriteria 1 Kepercayaan diri 85 Sangat kuat 2 Disiplin 97 Sangat kuat 3 Inisiatif 89 Sangat kuat 4 Tanggung jawab 93 Sangat kuat 5 Tidak bergantung pada orang lain 79 Sangat kuat Hasil kuesioner pertemuan ke 1 tanggal 10 Desember 2022 di link : https://docs.google.com/spreadsheets/d/134ub134wl6tNZ1uDv Ei4kBAhRGNxQer-3fgoZBRnO9I/edit?usp=sharing Setelah diterapkan model pembelajaran Problem based Learning (PBL) pada aksi 1 dan 2, dampak dari aksi dan langkah-langkah yang telah dilakukan yaitu: 1. Proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan meningkatan kemampuan representasi dan
kemandirian belajar peserta didik. Melibatkan peserta didik secara langsung dan penggunaan media pembelajaran yang kreatif, sehingga peserta didik lebih antusias dan tertarik dengan hal-hal yang ditampilkan. 2. Penggunaan media belajar yang berbasis digital dapat meningkatkan antusias dan fokus peserta didik. Hal ini terjadi karena media power point, youtube, kuis di kahoot menampilkan gambar lebih menarik, bahkan dapat menampilkan audio visual, sehingga peserta didik lebih tertarik dan memerhatikan apa yang disampaikan oleh guru. 3. Pemilihan model pembelajaran inovatif yaitu Model Problem Based Learning (PBL) yang divariasikan dengan metode scaffolding sangat membantu dalam mengatasi rendahnya kemandirian belajar peserta didik. Peserta didik menjadi lebih aktif, tidak bosan dalam mengikuti proses pembelajaran, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna, serta memiliki keberanian dan rasa percaya diri mempresentasikan hasil pekerjaan peserta didik di depan kelas dengan baik. Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan? Respon guru sebagai observer yang membantu penulis dalam perekaman video melakukan kegiatan aksi 1 dan 2 termotvasi untuk memadukan pembelajaran dengan memadukan TPACK, beliau meminta penulis untuk melakukan kolaborasi dengan belajar cara membuat media pembelajaran berbasis ICT yaitu diantaranya kahoot, membuat bahan ajar online pada link anyflif. Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? 1. Faktor keberhasilan strategi yang dilakukan adalah kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran terutama dalam hal pemilihan media yang tepat dan menarik disesuaikan dengan aset sumber daya yang ada. Kreatifitas guru dalam mengelola sumber daya yang ada dikembangkan sesuai karakteristik peserta didik. Media pembelajarn berbasis TPACK memang sesuai dengan perkembangan peserta didik saat ini, namun terkadang terdapat kendala teknis misalnya gawai peserta didik yang tidak dapat mengakses media pembelajaran online
yang diberikan, sehingga guru perlu memberikan inisiatif lain, misalnya dengan menyiapkan gawai sekolah untuk dijadikan alternatif jika ada yang terkendala maupun meberikan opsi pilihan lain dalam proses belajarnya. 2. 3. Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut 4. Pembelajarn di kelas merupakan kegiatan guru untuk memfasilitasi keberagaman peserta didik yang memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Tujuannya untuk memaksimalkan potensi minat dan bakat yang dimiliki setiap peserta didik. Guru tidak lagi berperan sebagai sumber utama belajar melainkan berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses pembelajaran dan meyalani kebutuhan peserta didik dengan memenuhi hal yang bisa membuat anak didik tersebut berkembang secara optimal salah satunya adalah membuat suasana nyaman untuk belajar. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dan menyenangkan akan tercipta kondisi nyaman dalam belajar. Jika peserta didk didik sudah nyaman maka akan memiliki perasaan yang senang dan jika sudah senang maka apapun yang diberikan untuk memaksimalkan potensinya akan tercapai.