1
Air Negeri Water Mill
Karya: Nur Hikmah CS
Di sebuah negeri yang bernama Negeri Water Mill hiduplah seorang
pertapa yang bernama Ki Water Pamungkas. Beliau adalah orang yang jujur, adil,
dan amanah. Apa yang dikatakannya selalu menjadi panutan dan dilakukan oleh
setiap orang. Karena kejujurannya, maka ia dipercaya menjadi penasihat raja.
Negeri Water Mill adalah negeri yang sangat subur, hal ini disebabkan
negeri tersebut memiliki sumber daya alam air yang sangat berlimpah. Ada sungai
yang selalu mengalir dari mata air puncak gunung, danau yang biru berkilau, dan
lautan lepas dengan bibir pantai yang bersih. Karena kekayaannya itu, sang Raja Negeri
Water Mill tidak pernah menyuruh rakyatnya untuk berhemat air. Bahkan hampir
setiap minggu beliau selalu mengadakan perayaan Perang Air. Dalam perayaan itu,
mereka menghambur-hamburkan begitu banyak air.
Sampai pada suatu hari, sang pertapa turun gunung dan menghadap Raja.
“Yang Mulia, mohon agar perayaan Perang Air yang diadakan tiap minggu
dihentikan, karena—”
2
”Mengapa harus dihentikan? Perang Air ini sangat menyenangkan." Dengan
gusar, Raja berdiri dari kursi singgasananya dan memandang tajam Ki Water Pamungkas.
“Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba tak bermaksud menghalangi Yang Mulia dan
seluruh rakyat untuk bersenang-senang. Hanya saja, akan jauh lebih baik jika kita tidak
membuang-buang limpahan rezeki Tuhan dengan sia-sia. Hamba khawatir, di musim
kemarau yang akan datang, kita sudah tidak memiliki persediaan air yang cukup."
"Aku tidak peduli! Negeri ini memiliki ribuan mata air, sungai yang panjang, danau
yang luas. Mana mungkin kita akan kekeringan? Pokoknya, perayaan Perang Air tetap
dilaksanakan!" Sang raja masih bersikeras dan tidak mengindahkan peringatan Ki Water
Pamungkas.
Pertapa kerajaan itu hanya mengembuskan napas panjang, memandangi Raja pergi
meninggalkannya. Ia sangat khawatir firasatnya bakal terbukti. Bila air di negeri ini
dihambur-hamburkan maka lama kelamaan akan habis. Negeri Water Mill tidak akan
memiliki persediaan cukup air untuk mengadang musim kering.
***
Peringatan sang pertapa rupanya benar terjadi. Tak lama setelah berpekan-pekan
perayaan Perang Air berlangsung, musim kemarau pun datang. Celakanya, musim kemarau
kali ini lebih panas dan panjang. Sumur-sumur dan mata air mengering. Sungai dan danau
menampakkan dasarnya. Lahan pertanian meranggas, dan hewan ternak banyak yang mati
kehausan. Rakyat mencoba bertahan dari sisa-sisa sumber air yang masih ada, sambil
berharap hujan segera turun.
3
Sang raja terdiam di atas singgasananya. Para menteri sibuk melaporkan keadaan bencana
kekeringan yang melanda. Raja mulai menyesali keputusannya dengan tidak mengindahkan
peringatan Ki Water Pamungkas.
"Apa kita bisa melakukan sesuatu dengan air laut?" tanya raja kepada para menteri.
Salah satu menteri muda maju untuk menjawab, "Ampun, Yang Mulia. Mustahil untuk
membuat air laut bisa diminum atau untuk menyiram tanaman. Kadar garam dalam air laut akan
merusakkan organ-organ tubuh manusia dan tumbuhan. Selain itu, air laut tidak bisa menghilangkan
dahaga."
Raja mengangguk-angguk lemah, membenarkan perkataan menteri itu.
"Baiklah. Panggil Ki Water Pamungkas menghadapku."
Keesokan harinya, sang pertapa hadir kembali di istana. Dengan mata berkaca-kaca, raja
berdiri di depannya. "Aku minta maaf, Ki. Kau benar. Seharusnya, kami tidak berbuat kesia-siaan atas
anugerah Tuhan."
"Yang Mulia sudah saya maafkan. Betul sekali. Anugerah Tuhan wajib kita jaga dan
pergunakan dengan sebaik mungkin. Itulah bukti syukur kita pada sang Pencipta. Semakin baik kita
bersyukur dan merawat, maka akan ditambah nikmat-Nya."
"Kau benar, Ki. Lalu, kita harus bagaimana? Sedangkan, rakyat sudah sangat kesusahan,"
ratap sang raja.
Ki Water Pamungkas tersenyum hangat. "Hamba punya solusinya. Pada kediaman hamba di
kaki gunung, sedikit agak naik ke atas, ada dua mata air yang masih melimpah. Hamba menjaganya
dengan cermat selama ini. Syukurlah, mata air tersebut sepertinya tidak terpengaruh oleh kemarau."
4
"Betulkah itu, Ki?" Berseri-seri raut muka sang raja mendengarnya.
"Betul, Yang Mulia. Hanya saja, hamba harap Yang Mulia dan rakyat semua
mempergunakannya dengan bijak. Kita tidak tahu sampai kapan kemarau berlangsung."
"Tentu saja, penasihatku! Aku akan memerintahkan seluruh rakyatku untuk berhemat air
dan mulai sekarang tidak ada lagi perayaan Perang Air." Sang raja langsung memerintahkan para
menteri berkoordinaasi untuk membagikan air dari pertapaan Ki Water Pamungkas, dengan adil dan
merata.
Sejak saat itu, Negeri Water Mill benar-benar menjaga sumber mata air mereka. Raja dan
seluruh rakyat sudah belajar untuk hidup berhemat dan tidak menyia-nyiakan nikmat Tuhan.
Selepas kemarau panjang, para penduduk negeri sibuk membangun kincir air dan irigasi
untuk pengairan, menjaga kebersihan sungai dan danau, serta melakukan penghijauan. Negara
Water Mill pun kembali subur dan makmur.
TAMAT
5
ASYIKNYA BERGOTONG ROYONG
Karya: Rita Manurung CS
Santi, Putri, Lia, Dio, dan Willy berjalan kaki berangkat ke sekolah
bersama-sama pagi itu. Kebetulan rumah mereka tak begitu jauh dari sekolah.
Mereka duduk di kelas lima sekolah dasar. Mereka bersahabat sejak duduk di
kelas satu. Hubungan mereka sudah seperti saudara.Setiap masalah dapat
mereka selesaikan bersama.
Seperti pagi itu, Lia berangkat tanpa sarapan pagi karena ibunya berada di
rumah sakit menunggu adiknya yang dalam perawatan.Sebagai sahabat, Putri
membawakan sarapan untuk Lia, mereka sarapan pagi bersama-sama di serambi
sekolah sebelum bel masuk berbunyi.Kelima sahabat itu sarapan dengan saling
berbagi.
Bel masuk berbunyi, mereka bergegas mengambil posisi duduk masing-
masing.Dio, ketua kelas memimpin kawan-kawannya berdoa.Seperti pesan gurunya,
tidak perlu menunggu ibu atau bapak guru, jika bel masuk pagi berbunyi maka
anak-anak segera berdoa.
Hingga doa selesai ternyata ibu guru yang ditunggu belum juga datang. Dio
segera turun dan berjalan menuju ruang guru. Ternyata Bu Tantri, guru mereka
berhalangan hadir karena harus pulang ke kampungnya menjenguk orang tua
beliau yang sedang sakit. Akhirnya Dio kembali ke kelas diiringi Ibu Zubaedah
sebagai guru pengganti hingga selesai pembelajaran hari itu.
Pada saat pulang sekolah, mereka asik bergurau tanpa menghiraukan
teriknya matahari.Lia tidak ikut pulang bersama karena langsung menuju rumah
sakit untuk menjenguk adiknya.Putri sampai lebih dahulu di rumahnya, sementara
yang lainnya satu persatu tiba di rumah masing-masing. Mereka berpisah sambil
mengucap salam.
6
Sabtu pagi, mereka libur.Seperti biasa mereka punya agenda untuk bersepeda
bersama.Namun sayang, hari itu hujan turun dengan lebat disertai angin dan
petir yang memekik memekakkan telinga.Pohon besar diujung komplek tumbang
dan menimpa sebuah bangunan.Ternyata bangunan yang tertimpa adalah rumah
Putri.Rumah itu porak poranda.Bersyukur penghuninya selamat dan tidak
mengalami cedera.Seluruh warga di komplek tempat tinggal mereka sigap
membantu walau basah tersiram hujan.
“ Pak Hadi, silahkan istirahat di rumah saya dan barang-barang biar di aula
untuk sementara, nanti siang kita bahas bersama kelanjutannya.” Kata Pak RT
kepada ayah Putri.
“ Baik Pak, terima kasih.” Kata Pak Hadi, ayah Putri yang masih terlihat
panik. Sementara Putri dan ibunya telah terlebih dahulu berada di kediaman Pak
RT.
Siang hari saat hujan telah reda, seluruh warga berkumpul membahas
tentang musibah yang dialami oleh keluarga Putri.
“ Selamat siang, Assalamu alaikum saudara-saudara, salam sejahtera.
Terima kasih atas kehadiran dan bantuan tenaga yang telah diberikan pagi
tadi.Saya berharap sumbang saran untuk membantu saudara kita yang sedang
tertimpa musibah.Jika kita lihat tadi, kerusakan cukup parah pada ruang tamu.
Bagaimana solusinya, mari kita pikirkan bersama. Silakan langsung saja, siapa
yang ingin menyampaikan sarannya terlebih dahulu?” Pak Rt membuka rapat.
“ Saya Pak.” Ayah Dio angkat bicara.
“ Kita di komplek ini kan saudara, sebaiknya kita galang dana lalu kita
bergotong royong membantu memperbaiki rumah Pak Hadi. Bagaimana saudara-
saudara sekalian, setuju?”
7
“ Setuju!!!” Hampir serempak warga yang hadir menyetujui saran ayah Dio.
“ Baik kalau begitu, selain dana dari kas RT, kita masih akan menggalang
dana untuk perbaikan rumah Pak Hadi. Kita kumpulkan sekarang dan segera
mungkin kita perbaiki rumah Pak Hadi.Mohon maaf Pak Hadi, semoga tidak
keberatan dan tidak tersinggung, kami hanya ingin membantu sebagai saudara.”
Ujar Pak RT . Pak Hadi yang sejak tadi menyimak percakapan tetangganya dan
Pak RT, tersenyum, lalu
“ Pak RT dan saudara-saudara yang saya hormati, terima kasih atas segala
perhatian dan bantuannya. Entah apa yang harus saya katakan. Hanya ucapan
terima kasih dan puji syukur yang tak terhingga atas segala yang Bapak-Bapak
berikan bagi keluarga saya, terima kasih Pak RT, terima kasih saudara-
saudara.Hanya Allah yang membalas semua kebaikan saudara-saudara
semua.”Ucap Pak Hadi parau, keharuan menyeruak di hati para hadirin.Pak RT
menepuk-nepuk bahu Pak Hadi, menguatkan hati.
Sabtu siang itu hingga malam harinya, cuaca sangat bersahabat.Warga
bergotong royong membantu memperbaiki rumah Pak Hadi.Perbaikan berlangsung
hingga minggu menjelang sore. Dio dan sahabat Putri yang lain ikut membantu
menyiapkan minuman bersama para ibu. Mereka bergotong royong dengan tulus
ikhlas.
“ Alhamdulillah... akhirnya selesai sudah perbaikan rumah saudara kita, Pak
Hadi. Semoga hal ini semakin mempererat hubungan kita sebagai tetangga dan
sebagai saudara.Mohon maaf ya Pak Hadi, jika mungkin tidak serapi pekerjaan
tukang, semoga Pak Hadi dan keluarga berkenan.“Pak RT menyalami ayah Putri.
“ Alhamdulillah Pak. Sungguh tak terhingga kebahagiaan dan kebanggaan
kami kepada saudara-saudara saya di sini. Terima kasih yang tak
terhingga.Terima kasih kami sampaikan atas bantuan yang saudara-saudara
berikan untuk keluarga kami.“Kata Pak Hadi sambil menyalami para tetangganya.
8
Sore harinya Putri bersama ayah dan ibunya telah kembali ke rumah
dengan bantuan dari para tetangga.Anak-anak termasuk keempat sahabatnya
membantu merapikan rumah.Kini rumah Putri telah kembali rapi walau belum
sempurna, namun mereka bersyukur karena memiliki tetangga yang baik yang
telah meringankan beban dari musibah yang mereka alami.
“ Terima kasih ya teman-teman, kalian sudah membantuku. Kalian memang
saudaraku yang takkan pernah bisa tergantikan.Terima kasih.”Ujar Putri penuh
haru.Lia dan Santi memeluk Putri.Sementara Dio dan Willy menjabat tangan Putri.
Menjelang pukul 21.00 wib, semua hampir selesai.Sahabat Putri
berpamitan.Mereka harus beristirahat karena besok pagi harus kembali ke
sekolah.Mereka pulang dengan riang, penuh tawa ceria dan rasa syukur.
9
HARI INDAH TETAP MILIKMU SAHABATKU
Karya: Desty Kemi Andika CS
Hari ini adalah hari yang paling aku nanti-nantikan. Hari pertamaku masuk
sekolah di kelas 5 SD. Senang hatiku melihat teman-teman semuanya naik kelas, itu
berarti akan bertambah erat persahabatan kami.
Oh, ya, namaku Nurwida. Aku memiliki tiga sahabat sejak kelas satu. Kokom,
Yayah, dan Bachtiar. Ketiganya adalah sahabat sekaligus teman bermainku di rumah. Kecuali,
Bachtiar. Rumahnya sedikit jauh dari kompleks perumahanku dengan Kokom dan Yayah.
Kami belum pernah sama sekali main ke rumah Bachtiar. Karena Bachtiar tidak pernah jelas
mengatakan alamat rumahnya.
Jam istirahat pun tiba. Bersama Kokom dan Yayah, aku pergi ke kantin. Saat kami
sedang menikmati bakso dan membahas soal ruangan kelas baru, tiba-tiba Yayah berkata,
"Eh, gaes. Kalian tahu nggak?"
"Enggak," jawab Kokom.
"Yaiyalah, kan aku belum ngomong," timpal Yayah.
"Trus, kenapa nanya, Yayaah?!" Cubit Kokom gemas.
10
Aku yang melihat kelakuan sahabat-sahabatku, hanya bisa terbahak. "Udah buruan,
Yah. Mau cerita apa, sih?"
"Itu loh, Nur. Soal Bachtiar," jawab Yayah sambil menyuap potongan bakso.
"Kenapa sama Bachtiar? Eh, iya, dia hari ini izin nggak masuk, ya. Aneh banget, deh.
Di hari pertama sekolah udah nggak masuk. Nggak biasanya, Bachtiar gitu. Dia anak yang
rajin, kan?" Aku memandangi Kokom dan Yayah bergantian.
"Iya, bener. Mana Bachtiar nggak punya hp, lagi. Jadi nggak bisa hubungi, deh,"
timpal Kokom.
"Nah, itu. Tempo hari, mamaku pergi ke perkampungan di belakang kompleks kita.
Trus, lihat Bachtiar lagi jualan gorengan gitu. Sama Mama ditanya, kenapa nggak main ke
rumah, mumpung liburan. Jawab Bachtiar, bapaknya lagi sakit. Jadi, dia bantuin emaknya
jualan buat nambahin uang berobat. Karena bapaknya nggak bisa kerja." Panjang lebar
Yayah menjelaskan.
"Ya, Allah. Kasihan, ya, Bachtiar. Yuk, kita tengok ke rumahnya." Kokom memberi
usul.
"Setuju, Kom. Cuma ... kita kan nggak tahu rumah Bachtiar," jawabku.
"Ah, iya. Benar juga. Eh, mama Yayah nggak tahu juga di mana rumah Bachtiar?"
"Enggak. Aku dah tanya Mama. Waktu itu Mama ketemunya di jalan masuk
kampungnya. Dan kayaknya, Bachtiar nggak jualan di kompleks kita, buktinya selama liburan
kita nggak lihat dia, kan?"
"Bener juga, Yah. Apa mungkin, Bachtiar malu ketemu kita, ya?" tanyaku. "Trus,
gimana, dong?"
"Ya, udah, kita tunggu sampai dia masuk. Semoga aja besok dia sekolah," ujar
Kokom.
11
Untunglah, keesokannya, Bachtiar sudah masuk sekolah lagi. Tampangnya tampak
sedih. Dia juga seperti menghindari kami. Membuat kami kesusahan untuk menayakan
keadaannya.
Hingga ....
"Eh, gaes, aku punya ide!" Aku tarik tangan Yayah dan Kokom mendekat setelah
bel pulang berdering.
"Ide apaan, Nur? Aku mau buru-buru pulang, nih. Laper banget!"
"Bentar, dong, Yah. Sabar. Gini, aku punya ide buat ngikutin Bachtiar pulang. Kita
kan searah jalan pulangnya. Entar kita pura-pura belok ke kompleks, kalau Bachtiar curiga.
Yayah tahan dulu lapernya, entar aku beliin cilok, deh!"
"Ah, aku setuju dengan ide Nurwida. Kalau kita sudah tahu rumah Bachtiar, kita
bisa menggalang dana dari teman-teman lalu menyampaikannya sekaligus menengok
ayahnya. Gimana?" Kokom ikut menimpali.
"Itu lebih baik lagi!" sahutku bersemangat.
"Oke-oke. Aku juga setuju— eh, itu Bachtiar di gerbang luar. Ayo, cepat susul!"
Yayah bersemangat 45 menggandengku dan Kokom mengejar Bachtiar.
***
Keesokan harinya ....
"Bachtiar anak yang tabah, ya, gaes. Aku jadi malu selama ini masih kurang
bersyukur dan malas belajar. Padahal, ada Bachtiar yang rumah dan hidupnya lebih
sederhana, tapi dia tidak pernah berkeluh kesah," lirih Yayah mengaduk es tehnya saat kami
berkumpul di kantin.
"Iya, sama, Yah. Aku juga begitu. Eh, lalu, gimana soal penggalangan dananya? Hari
ini Bachtiar izin lagi, kita kumpulin sekarang aja, yuk. Setuju?" Kokom mengusulkan.
"Ayo!" jawabku serempak dengan Yayah.
12
Penggalangan dana pun kami lakukan. Ayah Bachtiar mengalami kecelakaan saat di
tempat kerja. Beliau bekerja sebagai kuli bangunan sejak Bachtiar kecil. Ibunya adalah
penjual nasi pecel dan gorengan. Kami mendapat cerita tersebut dari tetangga dekat
mereka, saat diam-diam mengikuti Bachtiar pulang. Sejak ayahnya sakit dan tidak bisa
bekerja, Bachtiar yang membantu ibunya berjualan keliling kampung.
Syukurlah, teman-teman seluruh kelas berkenan dan ikhlas memberi sumbangan.
Bahkan, beberapa guru juga ikut menyumbang dan mendoakan kesembuhan ayah Bachtiar.
Kami berencana bersama Bu Dian, wali kelas kami, mengunjungi rumah Bachtiar sepulang
sekolah.
***
"Nurwida? Yayah? Kokom? Bu—Bu Dian? Ma—mari masuk." Bachtiar tampak
kaget mendapati kami di depan rumahnya.
"Maaf, ya, Bachtiar. Ibu tiba-tiba datang begini. Kamu kenapa nggak masuk lagi,"
tanya Bu Dian.
"Maafkan saya, Bu. Hari ini saya terpaksa bolos, karena harus menjaga rumah dan
adik kecil saya. Ibu sedang mengantar Ayah ke rumah sakit untuk kontrol."
"Kenapa nggak bilang kalau kamu kesusahan, Bachtiar? Ibu nggak akan marah, kok.
Bahkan, teman-temanmu ini diam-diam peduli padamu."
"Iya, Bachtiar. Kita kan sahabatan. Harus saling membantu jika ada yang kesusahan.
Oh, ya, ini dari teman-teman sekelas. Semoga bisa membantumu." Aku menyerahkan
amplop berisi uang kepada Bachtiar.
Mata Bachtiar berkaca-kaca. "Terima kasih, teman-teman. Terima kasih, Bu Dian ...
Maafkan saya, karena tidak cerita apa-apa. Saya nggak mau merepotkan kalian."
Serempak kami memeluk Bachtiar yang menangis haru. Bu Dian juga ikut menangis.
"Hari indah tetap milikmu sahabatku, Bachtiar!" seru kami semua.
***
13
IBU, MAAFKAN AKU
Karya: Jayantih CS
Hari Sabtu ini waktuku menerima rapor. Bu Maya, guruku, mengucapkan selamat pada
Ibu karena aku kembali menjadi juara pertama. Ibu tampak berseri-seri dan mencium pipiku sambil
mengatakan dia sangat bangga. Aku hanya tersenyum sekilas. Kalian tahu, bukan ciuman yang aku
harapkan dari Ibu.
"Selamat, ya, Nandita! Keren deh, kamu." Naela, sahabatku tiba-tiba muncul dan
memelukku.
"Iya, dong. Keren sangat, lah!" balasku.
14
"Hey, jangan sombong, Nandita. Anak sombong digigit nenek ompong, tahu!" Santi ikut
menimpali dari belakang Naela. Kami bertiga serempak tertawa. Mereka adalah sahabat-sahabatku
sejak kelas 1 hingga kelas 6 SD ini.
"Ke kantin, yuk. Aku traktir es teh," ajak Naela. Kulihat sekilas ke Ibu yang mengangguk
memberi izin.
"Eh, Nae, tumben nraktir? Uang sakumu nambah, ya?" Santi bertanya pada Naela.
"Nggak, sih. Ini kan hadiah dari Papa. Kalau bisa masuk tiga besar, aku dapat duit
seratus rIbu buat nraktir kalian."
"Wah, terima kasih, Nae! Jangan lupa menabung juga, ya. Aku juga dapat hadiah, lo.
Besok, ya, kalian ke rumahku. Aku punya rumah Barbie baru. Kalian boleh main sepuasnya," timpal
Santi.
Aku hanya diam sambil menyesap es teh-ku. Rasanya iri sekali mendengar cerita Naela
dan Santi. Yah, aku tahu, ibuku hanya penjual nasi pecel dan ayahku sudah tiada, tetapi sejak kelas
tiga, Ibu selalu berjanji akan memberiku hadiah jika juara satu di kelas. Ibu janji akan membelikanku
baju yang ada gambar Little Pony-nya. Namun, hingga aku kelas 6 ini, Ibu belum menepati janjinya
sama sekali. Sedih banget, rasanya.
***
"Nandita, makan siang dulu, yuk," ajak Ibu sepulang kami dari sekolah.
"Males, ah. Nandita mau tidur!" jawabku ketus. Sungguh, aku tak bermaksud kasar
pada ibuku, tapi ....
"Jangan gitu, Nan. Nanti sakit, loh." Ibu membuntutiku ke kamar dan duduk
menjejeriku di kasur. "Maaf, ya, Sayang. Ibu tahu, kamu pasti kecewa lagi. Uang ibu masih terpakai
untuk memperbaiki genting bocor kemarin. Ibu janji—"
"Sudah, Bu, nggak apa-apa. Nandita kenyang, tadi dibeliin bakso sama Naela. Ibu
makan sendiri aja," ujarku berbohong. Aku sebenarnya memang kecewa dan marah dengan Ibu.
Ibu pun keluar dari kamar dengan wajah sedih.
***
Hari sepertinya sudah sore, saat aku bangun dari tidur. Perutku terasa sakit sekali.
Kepalaku juga pusing. Mungkin, karena aku melewatkan makan siang. Tadi pagi pun aku hanya
sarapan sedikit.
"Nandita, kamu sudah bangun?" Ibu melongok dari balik pintu kamar. Aku tidak bisa
menjawabnya, karena tiba-tiba aku muntah di atas kasur. Ibu yang melihatku begitu, langsung
masuk dan merengkuhku. "Ya Allah, Nak! Kamu, kenapa? Kita ke dokter, ya!"
15
***
Kata bu dokter, aku terkena asam lambung karena telat makan. Beliau berpesan agar
aku makan dengan teratur agar tidak mendapat masalah pencernaan lagi.
Di rumah, Ibu tidak marah sama sekali melihat kasurku kotor oleh bekas muntahan.
Padahal, itu jelas kesalahanku karena tidak mau makan siang hingga asam lambungku naik. Sudah
dua hari ini Ibu membuatkan bubur ayam kesukaanku, dan menyuapiku dengan telaten. Aku merasa
tidak enak sudah marah-marah hanya karena hadiah juara kelas. Pasti uang ibu habis untuk dokter
dan obatku.
"Maaf, Bu Merry, saya terpaksa merepotkan Ibu. Saya janji, akhir bulan ini pasti saya
lunasi." Terdengar Ibu bercakap-cakap di telepon dengan Bu Merry, tetangga kami. Sepertinya Ibu
hendak meminjam uang.
"Terima kasih, Bu." Ibu menutup telepon dan melihatku mendekat. Dengan senyum
tersungging, Ibu berkata, "Besok kita belanja baju Little Pony kesukaanmu, Nandita."
"Ibu pinjam uang ke Bu Merry buat beli bajuku, ya, Bu?" tanyaku langsung.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa, janji ibu ke kamu sudah tertunda lama. Maafkan, Ibu, ya."
"Ibuuu! Maafin, Nandita!" Aku memeluk Ibu sambil menangis. Ternyata, Ibu sudah
sangat baik dan berkorban segalanya buatku. Namun, aku masih saja menyusahkan beliau.
Ibu membelai kepalaku lembut. "Nandita kenapa nangis? Kan, mau dapat baju baru."
"Nandita nggak mau baju baru lagi, Bu! Nandita sudah egois, Bu."
Ibu menatapku dengan berkaca-kaca.
"Nandita janji, nggak akan merepotkan Ibu lagi. Nandita juga janji akan tetap belajar
rajin dan jadi juara kelas, bukan karena hadiah baju baru. Tapi, karena demi masa depan Nandita
sendiri."
"Ya Allah, Nandita. Kamu memang anak yang baik. Beneran, kamu nggak mau baju
baru?" kubalas pertanyaan Ibu dengan anggukan mantap.
"Terima kasih, ya, Nak. Ibu sayang sama Nandita. Selamanya." Ibu terlihat lega sekali.
Aku kembali memeluk Ibu erat. Aku sadar, Ibu-lah sebenarnya hadiah terbaik yang
sudah aku dapat dari Tuhan, dan aku berjanji tidak akan menyusahkan ibuku lagi.
***
Note editor:
16
Saya harus mengubah total dengan pertimbangan target pembaca yang masih anak-
anak. Versi asli menampilkan tokoh anak yang terlalu antagonis. Jika memang Nandita harus jahat
pada Ibunya, perlu diberikan motif mengapa dia begitu. Karena itu, saya membuat Nandita kecewa
karena ada janji Ibu yang belum tertunaikan. Saya membuat motif "hadiah juara kelas" sebab jika
menggunakan isu kemiskinan, akan terkesan bias/abstrak. Anak-anak memerlukan objek yang bisa
dibayangkan/konkret. Kejadian sakit dan mendengar Ibu harus berhutang menjadi antiklimaks-nya.
Saya pribadi suka dengan ide awal cerita ini. Jika ada masukan atau penulis ingin menulis versi
lainnya sendiri (tidak menggunakan versi editor), dipersilakan sekali. Dengan catatan, tidak terlalu
menunjukkan antagonisme yang berlebihan. Ilustrasi harap disesuaikan. Terima kasih
17
PELANGI DI UJUNG SENJA
Karya: Nana Salami CS
Matahari bersinar garang, Annisa berkali-kali mengusap keringat yang
singgah di wajahnya. Tak sabar rasanya, dia ingin segera tiba di rumah, dan
menyampaikan kabar baik untuk ibunya. Diliriknya jam tangan, waktu sudah
menunjukkan pukul 13.09 WIB. Annisa semakin mempercepat langkahnya.
Sementara sinar matahari masih saja riang menari di atas sana.
Annisa, gadis kecil kelas lima sekolah dasar di belahan selatan Jakarta.
Gadis cantik semampai, cerdas nan lincah, juga salihah. Memiliki banyak teman
bahkan semua guru mengakui kepandaian dan kebaikannya.
“Nisa, kalau
sudah selesai salatnya,
mari makan siang, Nak,”
suara ibunya terdengar
dari balik pintu kamar.
Annisa bangkit dan
bergegas merapikan
sajadahnya. Bu,
“Ya,
sebentar."
18
“Ibu sudah buatkan sayur bayam kesukaanmu dengan dadar jagung juga. Makan
yang banyak, ya. Agar Nisa sehat dan kuat," ujar ibu sambil memberikan piring berisi nasi
kepada Annisa.
"Terima kasih, Bu, sudah masakin kesukaan Nisa. Ibu terbaik, deh!"
"Ah, anak ibu memang paling pandai memuji. Nanti setelah makan, Ibu minta tolong
jaga toko ya. Ibu mau belanja keperluan toko yang menipis, sebentar. Nanti kalau
Ibu belum pulang dan Nisa mengantuk, tutup saja tokonya lalu tidur siang.”
Ayah Annisa sudah lama berpulang saat ia masih kecil. Beruntung, ibunya memiliki
toko kelontong yang menjadi sumber penghasilan mereka. Sebab itu, Annisa belajar dengan
sangat giat agar selepas SD, ia bisa mendapat beasiswa SMP sehingga tidak perlu
merepotkan ibunya lagi.
“Iya, Bu. Nisa sambil kerjakan PR sekalian. Oiya, Bu. Nisa ada kabar baik buat Ibu.
Nisa berhasil masuk final lomba Matematika tingkat provinsi. Hari Sabtu minggu depan, Nisa
berangkat ke kantor Balaikota bersama Bu Guru."
"Alhamdulillah! Anak ibu sungguh luar biasa! Ibu bangga padamu, Nak." Ibu
memeluk Annisa dengan eratnya. "Selamat, ya, Sayang. Jangan lupa belajar dan berdoa,
juga jaga staminamu. Menang atau kalah tidak masalah, terpenting adalah pengalamannya."
"Iya, Bu. Nisa akan mengingat pesan ibu. Doakan Nisa, ya, Bu. Hadiah lombanya
lumayan besar. Bisa untuk memperbaiki atap yang bocor di kamar ibu."
"Ibu pasti mendoakan Nisa. Hadiahnya masuk tabunganmu saja. Soal kamar ibu,
gampang." Senyum ibu hangat sambil mengecup dahi Annisa.
***
Seminggu Annisa belajar mempersiapkan lomba. Keinginannya untuk menang kali ini
sangat besar. Selain hadiah uang, panitia juga menyiapkan beasiswa di SMP favorit Annisa.
Annisa berharap sekali bisa mendapatkannya.
Kurang satu hari lagi lomba berlangsung. Besok pagi, Annisa dan Bu Helmi—wali
kelasnya—berangkat ke Balaikota. Sambil berjalan riang, ia pulang ke rumahnya. Tinggal
pemantapan soal-soal, PR-nya malam ini.
"Assalammualaikum. Ibu, Nisa pulang!"
19
Tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Annisa melongok ke toko, juga tidak ada
siapa-siapa. Berderap ia langkahkan kaki masuk ke kamar ibu. Kosong.
Annisa kebingungan. Tumben sekali sesiang begini, Ibu tak ada di rumah. Ibu tidak
pernah keluar rumah di jam pulang sekolahnya. Dengan masih terheran, Annisa mendengar
suara dari pintu depan.
"Nis ... Annisa? Sudah pulang?"
"Eh, Bude Marti. Iya, Bude, mari masuk. Cari Ibu, ya?"
"Nngg ... anu, Nisa. Begini ... duduk dulu."
Annisa melihat wajah Bude Marti tampak kebingungan.
"Kenapa, Bude? Sepertinya ada yang penting."
"Iya, Nak. Bude mau bilang sesuatu, tapi Nisa jangan kaget, ya. Ibumu tadi pagi
sepulang dari pasar diserempet motor."
"Apa, Bude? Terus ... lalu, Ibu sekarang gimana? Ibu di mana, Bude?" suara Annisa
mulai pecah karena menangis.
"Sabar, Nisa. Tenang dulu." Peluk Bude Marti mencoba menenangkannya. "Ibumu
sudah di bawa ke rumah sakit. Sekarang, Bude antar kamu ke sana. Tapi, kamu makan siang
dulu. Jangan sampai nggak."
"Iya, Bude," jawab Annisa gemetar.
Kecelakaan yang menimpa Ibu rupanya cukup parah. Beliau ditabrak oleh anak SMP
yang belum cukup umur membawa kendaraan bermotor.
Annisa memandangi Ibu yang masih belum sadar, dari sisi ranjang. Hatinya bergetar
dalam kesedihan. Ibu adalah pelitanya, penyemangatnya, tempatnya mendulang kasih.
Sekarang, pelita itu tampak tua dan lemah. Air mata deras membanjiri pipi Annisa.
Keraguan masuk ke sanubarinya. Ia tidak tega meninggalkan ibunya untuk pergi
lomba ke Balaikota. Namun, langkahnya tinggal sejengkal lagi untuk beasiswa yang ia
impikan. Digenggamnya tangan ibu.
Baru sore hari, Ibu akhirnya sadar. Annisa tersenyum bahagia sekali. "Ibu ... ini Nisa,
Bu. Mana yang sakit?"
"Nisa, Sayang. Ibu nggak apa-apa, kok. Hanya luka di kepala saja. Nisa kenapa di sini?
Persiapan lombamu besok, gimana? Nggak apa-apa kalau Nisa mau pulang. Nanti Ibu bilang
Bude Marti buat nungguin kamu belajar."
20
"Nggak, Bu. Nisa mau di sini aja. Mau nemenin Ibu sampai sembuh. Lomba bisa
kapan-kapan lagi, kok."
"Jangan gitu, Nisa. Ibu nggak apa-apa ditinggal. Banyak suster dan dokter, nanti juga
ditemenin Bude Marti. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Nak."
Bude Marti yang sedari tadi diam saja, ikut bicara. "Benar, Nisa. Kamu tidak perlu khawatir.
Para Ibu-ibu PKK desa kita sudah sepakat untuk bergiliran menjaga ibumu, rumah serta toko. Jadi,
Nisa tetap bisa ikut lomba sampai selesai."
Rasa syukur menjalari hati Annisa. Masyarakat desanya begitu guyub rukun dan selalu ringan
tangan saling membantu. Kelegaan terpancar di wajah Annisa. "Alhamdulillah," lirihnya.
***
Siang itu, si gadis periang nan cerdas mengayun langkah riangnya menuju kamar perawatan
sang bunda. Piala juara satu lomba matematika tertenteng di tangan kanannya. Dilihatnya sang ibu
yang sudah semakin membaik.
"Ibu, Nisa menang, Bu!" Nisa menghambur ke dalam dekapan ibunya. Senyumnya
mengembang lebar.
"Alhamdulillah! Selamat, ya, Nisa! Ibu bangga padamu," ucap Ibu sambil membelai lembut
rambut Nisa.
"Terima kasih, Ibu. Semua berkat doa dan semangat dari Ibu. Sekarang, Nisa udah lega trus
bisa nemenin Ibu sampai sembuh. Kata Bu Guru, Nisa boleh izin dua hari." Ibu mengangguk menatap
Annisa.
Ibu dan Annisa pun kembali berpelukan erat. Sesungguhnya Tuhan tidak akan meninggalkan
umatNya. Asal kita selalu berdoa dan berusaha tanpa henti. Setelah badai terbesar, akan datang
pelangi yang indah. Ingat itu, ya, teman-teman.
21
TAMAT
22