The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by dalim al-gilbariey, 2023-02-12 21:44:34

Biografi KH. Abdul Mughni

Buku ini berisi tentang perjalanan hidup dari KH. Abdul Mughni

Keywords: KH. Abdul Mughni

K.H. Abdul Mughni Ulama Nahwiyyin Penghidup Majelis Taklim Sebuah Biografi Ringkas Dalim al-Gielbariy Kata Pengantar: Dr. K.H. Zamakhsyari Abdul Majid, M.A K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc


2 | New Normal Cara Kami K.H. Abdul Mughni Ulama Nahwiyyin Penghidup Majelis Taklim Sebuah Biografi Ringkas Copy Right © 2021 by Dalim al-Gielbariy Penulis: Dalim al-Gielbariy Editor: Dalim al-Gielbariy Lay Out: Tim Penerbit Desain Cover: Agus Istianto Diterbitkan oleh: Penerbit Wahana Resolusi Jl Golo 21, Umbulharjo Kota Yogyakarta Cetakan 1, Mei 2021 ISBN: 978-623-7639-97-8 Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang All Right Reserved Dicetak oleh Percetakan WR Printing Isi buku di luar tanggung jawab percetaka


iii “Kutuliskan biografi guru kita ini, agar engkau mau mengambil hikmah dan iktibar. Karena betapa banyak biografi mereka yang mulia dibuat, namun semua seakan tiada manfaat.”


iv SAMBUTAN KELUARGA ALMARHUM K.H. ABDUL MUGHNI BIN H. HASBI Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh Bismillahirrohmanirrohim Puji dan syukur kehadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan berbagai macam ni’mat dan karunia kepada kita semua dari yang terkecil sampai yang terbesar yaitu ni’mat iman dan islam. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam yang telah diutus oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyempurnakan akhlak dan membawa rahmat bagi semesta alam, yang mana perjalanan hidupnya patut kita jadikan contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Kami atas nama keluarga almarhum KH. Abdul Mughni mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ustadz Dalim al-Gilbary selaku penulis biografi ini yang telah berupaya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan menuliskan pengalaman pribadinya semasa menuntut ilmu dari Al marhum ayahanda KH. Abdul Mughni sehingga menjadi sebuah buku biografi singkat yang patut diberikan apresiasi dan di acungi jempol karena memuat segala sisi dari kehidupan beliau.


v Semoga buku biografi singkat ini dapat mengenalkan sosok beliau kepada masyarakat luas terutama di wilayah Bekasi utara dan kota Bekasi pada umumnya serta dapat memberikan contoh teladan juga motivasi kepada generasi muda agar senantiasa giat menuntut ilmu agama agar kelak dapat meneruskan estafet perjuangan dakwah para ulama sebagai pewaris para nabi. Terima kasih yang tak terhingga pula kami ucapkan kepada para da’i, ulama dan teman seperjuangan al marhum khususnya kepada al-mukarrom Bapak KH. Ishomuddin Muchtar, Lc pimpinan Pondok Pesantren Al Muchtar Bekasi dan al-mukarrom Bapak Dr. KH. Zamakhsyari Abdul Majid, MA, Ketua Umum Majelis Mudzakaroh Ulama (MAJMU) Bekasi Raya, yang telah memberikan kata pengantar dan sambutannya di dalam buku biografi al-marhum rohmatal abror KH. Abdul Mughni ini. Semoga para ulama kita senantiasa dipelihara dan dijaga oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar mereka dapat terus membimbing dan mengajak kita ke jalan yang di ridhoi oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya, rasa cinta, rasa bangga dan terima kasih yang tak terhingga kami haturkan kepada orang tua kami al-marhum rohmatal abror ayahanda KH. Abdul Mughni Bin H. Hasbi dan uminda tercinta al-marhumah Ustadzah Hj. Maqbulah Binti H. Muhammad yang telah mengasuh dan mendidik kami dari kecil hingga dewasa dengan tulus dan penuh kasih sayang serta memberikan contoh dan keteladanan kepada anak cucunya tentang kepemimpinan dalam rumah tangga, menjadi imam dalam masyarakat


vi dan seorang guru bagi murid-muridnya. Hanya kiriman doa yang dapat kami panjatnya ke hadirat ilahi semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menerima semua amal ibadahnya semasa hidupnya dan mengampuni dosadosanya dan kelak menempatkan keduanya di dalam jannah-Nya. Semoga karya ini menjadi salah satu amal soleh yang tak terputus pahalanya untuk penulis, diberkahi ilmunya dan kehidupannya serta mendapat ganjaran pahala yang besar dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin ya robbal ‘alamin. Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh. Bekasi, 29 April 2021/ 17 Ramadhan 1442 H H. Humaidi Abdul Mughni, Lc


vii MAJELIS MUDZAKARAH ULAMA (MAJMU )BEKASI RAYA Sekretariat : Masjid An-Nuur, MT. Haryono Ds. Burangkeng Kec. Setu Kab. Bekasi 17320 Ponpes Darul Muttaqin, Jl. Siliwangi KM 11,5 Pangkalan 1B Bantargebang Kota Bekasi 1751 SAMBUTAN KETUA UMUM MAJELIS MUDZAKARAH ULAMA (MAJMU) BEKASI RAYA Salah satu kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh para ulama-ulama salaf adalah melakukan dokumentasi atas orang orang yang telah berjasa dalam membina dan menyebarluaskan ajaran Islam. Berdasarkan pendekatan historis, aktor utama dalam penyebaran ajaran Islam dilakukan oleh ulama dengan menuangkan ide-ide mereka dalam karya-karya tulis sejarah bahkan sains. Tokoh-tokoh yang terlibat sangat beragam, mulai dari para Shabat, Tabi’in, Tabi’i at-Tabi’in, hingga para ulama yang memiliki andil dalam memperkenalkan Islam dengan ajaran-ajarannya yang suci, dan sudah tentu di atas kehidupan mereka semua adalah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan contoh dan suri tauladan bagi umat manusia. Dengan begitu, lahirlah kitab-kitab tarajum yang sangat berguna bukan saja untuk


viii mengenal kehidupan mereka yang telah berjasa pada Islam dan perkembangannya, namun juga bermanfaat dalam mendukung keilmuan yang lain. Kitab-kitab semisal Usdu al-Ghabah fi Ma’rifati ash-Shabah, al-Kamil fi atTarikh, al-Bidayah wa an-Nihayah, dan Siyaru A’lami anNubala merupakan naskah-naskah yang menggambarkan tingginya kualitas intelektual ilmuwan muslim yang berkhidmat kepada ajaran dan nilai-nilai Islam di dunia. Keberadaan ilmuwan muslim (ulama) memiliki peran dan fungsinya sebagai pewaris ilmu pengetahuan bagi kepentingan peradaban Islam di dunia. Kekayaan intelektual yang diwariskan oleh para ulama/intelektual muslim dimasa-masa awal tidak akan lahir tanpa kreatifitas, produktifitas, mobilitas sosial dan intelektual yang dimiliki. Sehingga peran ulama akan sangat kontstruktif dalam hal pemikiran dan tindakan jika seluruhnya dapat dibuktikan dengan naskah-naskah ilmiah yang terujikualitasnya. Karena sejatinya, kegiatan ini bukan saja mendokumentasikan kehidupan mereka, tetapi lebih jauh adalah menggali dan mengelaborasi berbagai nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang mereka pegangi untuk kemudian memperkenalkan serta mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada generasi mendatang. Dari sisi inilah, mengapa penulisan sebuah tarajum amat berharga karena ia berhubungan dengan pendidikan bagi generasi mendatang, generasi masa depan. Dan bila berbicara generasi masa depan sudah tentu ia merupakan tema yang sangat krusial dan substansial untuk diperjuangkan dengansungguh-sungguh dan dengan segenap tenaga.


ix Di Indonesia, khususnya di Bekasi, dan lebih khusus dalam lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), sosok dan figur ulama yang dapat dijadikan teladan dan diketahui nilai serta ajaran- ajarannya amatlah banyak. Di antara ulama tersebut adalah K.H. Abdul Mughni, Rawa Bugel, Kota Bekasi. Beliau adalah sosok ulama kharismatik yang berada di dalam tubuh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Kota Bekasi yang sisi kehidupannya telah “dibedah” oleh Sdr. Dalim al-Gielbariy dalam bukunya ini. Tentu saja kami sangat mengapresiasi usaha tersebut. Semoga apa yang dilakukan oleh Sdr. Dalim al-Gielbariy ini bukan saja memperkenalkan sosok K.H. Abdul Mughni dalam bentuk tulisan, namun lebih dari itu ikut menyemaikan nilai-nilai moralitas dan religuitas dari seorang ulama yang merupakan pewaris para nabi. Ketua umum Majelis Mudzakarah Ulama (MAJMU) Bekasi Raya mengapresiasi yang setinggi tingginya kepada penulis buku yang sangat berharga ini, semoga bermanfaat bagi keluarga almagfurlah KH Abdul Mugni dan ummat Islam sebagai khazanah ilmiyah. Bekasi, 15 Maret 2021 Dr. K.H. Zamakhsyari Abdul Majid, M.A


x KATA PENGANTAR PIMPINAN PONDOK PESANTREN AL-MUCHTAR BEKASI Bismillahirrohmanirrohim Biografi Singkat K.H. Abdul Mughni KH. Abdul Mughni dilahirkan di Kampung Rawa Bugel, Bekasi, pada tanggal 20 Juni tahun 1937. Dimasa kecilnya, beliau belajar dengan guru-guru di kampung, di antaranya Guru H. Asymawi Rohimahulloh , Guru H. Anwar Rohimahulloh. Begitu beliau beranjak usia remaja melanjutkan belajarnya pada ayahanda Syaikh Muchtar Thobroni Nirun Muhammad Syukri Abdulloh Rohimahumulloh Rohmatal Abror sampai dapat menguasai kitab kuning khususnya nahwu dan shorof termasuk di antaranya unggul dalam i’rob panjang, fikih, tauhid, tafsir, dan lain-lain. Beliau pernah mengatakan kepada saya, “Alhamdulillah, ana bisa membaca/menguasai kitab gundul dari Hadrotusysyaikh al-Marhum asy-Syaikh Muchtar Thobroni.” Almarhum KH. Abdul Mughni dikenal dengan sosok yang ceria, tawadhu’, mencintai ilmu (belajar dan mengajar) sampai akhir hayatnya. Bahkan saya sendiri lama bermulazamah dengan hadrotusysyaikh Muhajirin Amsar di kediaman beliau bersama almarhum KH. Abdul Mughni Rohimahulloh, KH. Alawi Rohimahulloh, KH


xi Asymawi Rohimahulloh, Ust Abdul Mu’iz Rohimahulloh dan lain-lain. Setelah ayahanda (Syaikh Muchtar Thobroni) meninggal dunia, barulah melanjutkan belajar pada kyaikyai lain, di antaranya: Syaikh Muhajirin Amsar Rohimahulloh, Syaikh Syafi’i Hazami Rohimahulloh, Syaikh Syukron Ma’mun Hafizhohulloh dan Ustadz Dhiyauddin Rohimahulloh. Semasa belajar pada al-Marhum ayahanda Syaikh Muchtar Thobroni, beliau dikenal dengan anak yang rajin, bukan dalam belajar saja, akan tetapi juga khidmat, rajin bekerja di rumah gurunya seperti menyiram tanamtanaman di antaranya pohon cengkeh, pohon lada, pohon jeruk, dan lain-lain. Di musim hujan, waktu itu jalan raya belum dicor, dari mulai jembatan Sumarecon, dahulu dikenal dengan nama Sasak Papan, Teluk Buyung, sampai kediaman ayahanda masih belok/nyeblok1 maka beliau al-Marhum Kyai Mughni bersama teman-temannya di antaranya Ustadz Muhasan, almarhum Ustadz Ja’roni Rohimahulloh, dan lain-lain menjemput Hadrotusysyaikh di waktu malam setibanya al-Marhum dari mengajar di Jakarta dan sekitarnya. Beliau menjemput Hadrotusysyaikh di waktu malam sekitar jam 00.30 atau jam satu malam di jembatan Sumarecon/Teluk Buyung. Beliau pernah bercerita, bahwa pada suatu hari beliau dan teman-teman ketiduran sehingga tidak 1 Nyeblok: becek dan berlumpur.


xii menjemput. Maka ayahanda, Hadrotusysyaikh, pulang sendiri berjalan kaki dari jembatan Sumarecon sampai rumah dengan jarak tempuh sekitar 2 km. Begitu tiba munggangan2 atau Pintu Air Kelapa, yang sekarang dikenal dengan tikungan Masjid al-Azhar (Sumarecon), tiba-tiba menjumpai beberapa orang penyamun atau penjahat yang ingin membegalnya. Lalu ayahanda Hadrotusysyaikh mengucapkan salam kepada penjahat itu dari kejauhan, jarak 5 meter, yang intinya mengamalkan hadits Nabi Besar Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa alihi wa sallam yang bunyinya: َّسَل ُشوا ال أَفْ وا ُ لَم ْ َس ت َ م “Tebarkanlah ucapan salam, insya Alloh Anda diberikan keselamatan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.”3 Lalu apa yang terjadi? Ternyata beberapa orang penyamun tersebut diberinya pisang ambon, setiap orang satu buah pisang. Mereka menerimanya sambil bergetar, menggigil tangannya. Kemudian ayahanda melanjutkan perjalanannya menuju rumah kediaman, alhamdulillah dengan selamat. Singkat cerita, al-Marhum K.H. Abdul Mughni melangsungkan pernikahan dengan al-Marhumah Ustadzah Hj. Maqbulah Rohimahallohu Rohmatal Abror. Beliau suka meninggalkan anak-anak didiknya yang ada beberapa anak di rumahnya belajar al-Qur’an, demi 2 Tikungan 3 HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod, Bab: Ifsyaa-u as-Salaam, hadits no. 979. Hadits Hasan.


xiii mencari nafkah untuk istri. Ketika berjumpa dengan ayahanda Hadrotusysyaikh al-Marhum Kyai Muchtar Thobroni, beliau diberikan nasihat, “Mughni, anak-anak jangan ditinggal, ajarkan mereka al-Qur’an dan (kitab) Perukunan (fikih), belajar sholat dan sebagainya, in sya Alloh berkah.” Seiring dengan waktu, kondisi ekonomi beliau masih juga seperti itu. Lalu beliau, al-Marhum ayahanda Kyai Muchtar memberinya sebuah amalan untuk diamalkan. Beliau memberikan suatu amalan kepada alMarhum Kyai Mughni dengan mengatakan, “Mughni, kerjakan sholat qobliyyah subuh 2 rakaat. Usahakan sholat tahajjud. Qobliyyah saja 2 rakaat, in sya Alloh berkah, bermanfaat.” Di mana Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: 4 ا َ ْه ي ِ ا ف َ م َ ا و َ ْي دن ال ُّ َ ن ِ م ٌ ْر َخي ْجِر َف ا الْ َ ت َ ْكع َ ر Qobliyyah Shubuh atau diistilahkan sebagian orang dengan sholat sunnah fajar, maksudnya sholat qobliyyah Shubuh, hanya 2 rakaat, apabila dikerjakan/diamalkan, insya Alloh imbalannya sangat dahsyat, melebihi dari dunia dan isi-isinya. Seandainya kita punya rumah tingkat, mobil alpard, istri empat, itu belum apa-apa ketimbang qobliyyah Shubuh, apalagi bisa melaksanakan sholat tahajjud. Maka dikerjakan oleh al-Marhum Kyai 4 HR. Muslim dalam Shohihnya, Kitab: Sholaati al-Musaafiriina wa Qoshrihaa, Bab: Istihbaabi Rak’atai Sunnati al-Fajri wa al-Hatstsi ‘alaihimaa wa Takhfiifihimaa wa al-Muhaafazhoti ‘alaihimaa wa Bayaani maa Yustahabbu an Yuqro-a fiihimaa, hadits no. 725. Hadits Shahih.


xiv Mughni. Kemudian ternyata Alhamdulillah terkabul/diijabah oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala doanya. Sehingga beliau, al-Marhum, mengatakan: “Alhamdulillah, saya amalkan. Saya mengajar tetap, anakanak tidak saya tinggalkan. Teman-teman saya yang seangkatan punya kontrakan, alhamdulillah saya punya madrasah; teman-teman saya pada menyekolahkan anak di UIN/IAIN waktu itu, saya menyekolahkan anak saya ke IAIN juga bahkan ada yang ke Mesir; dan pada waktu itu teman-teman saya bisa menunaikan ibadah haji, Alhamdulillah saya juga bisa menunaikan ibadah haji.” Inilah keberkahan al-Marhum K.H. Abdul Mughni karena taat kepada gurunya, kepada Alloh dan Rosul-Nya, sehingga diberikan keberkahan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala sampai sekarang dinikmati oleh anak cucunya dan masyarakat sekitarnya. Adapun halnya Hadrotusysyaikh KH. Muchtar Thobroni demikian besar jasanya bagi perkembangan Islam di Bekasi sehingga untuk mengenang dan sebagai bentuk penghargaan maka jalan (mulai) jembatan Sumarecon menuju kediaman alMarhum Kyai Muchtar Thobroni sampai dengan pom bensin as-Sufiyah diabadikan namanya menjadi Jalan K.H. Muchtar Thobroni. Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh. Bekasi, 03 April 2021 M/20 Sya’ban 1442 H K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc


xv KATA PENGANTAR Menulis sebuah biografi dari seseorang yang telah berjasa besar dalam perkembangan dakwah dan pengajaran merupakan sesuatu yang sangat besar. Saking besarnya, ia membutuhkan kompetensi yang cukup untuk bisa mengurai dan menyulam benang kehidupan sang tokoh. Sedangkan pada sisi kami, terdapat banyak kekurangan untuk dapat menghadirkan sebuah tulisan yang komprehensif terkait dengan tokoh yang ditulis. Namun, bukan berarti itu menjadi alasan untuk menghentikan atau tidak memperdulikan kehidupan sang tokoh. Mendeskripsikan kehidupannya dalam sebuah dokumen yang bukan saja bisa dibaca bersama, tetapi juga dapat diwariskan kepada orang-orang yang datang belakangan. Demikian juga kiranya dalam mengurai perikehidupan dari guru yang mulia, K.H. Abdul Mughni. Sambil menunggu orang yang tepat untuk menguraikan kehidupan beliau kami memberanikan diri menuliskan apa yang telah kami alami saat bersama beliau. Dalam mengonstruksi kehidupan K.H. Abdul Mughni yang diberkahi, kami telah melakukan serangkaian kegiatan sebagai berikut. 1. Mengumpulkan dan menelaah sumber-sumber atau dokumen-dokumen tertulis yang membicarakan tentang K.H. Abdul Mughni.


xvi 2. Mendengarkan sumber-sumber lisan (oral story) berupa cerita-cerita tentang kehidupan serta sepak terjang K.H. Abdul Mughni, baik dari putra-putra beliau, sahabat-sahabat beliau, dan murid-murid beliau yang lain. 3. Mendengarkan dan melihat langsung–dan ini merupakan bagian yang terbesar dalam tulisan ini– dari beliau. Alhamdulillah, kami berkesempatan untuk mengaji kepada beliau dalam beberapa tahun yang paling berkesan dalam hidup kami. Bahkan boleh dikata, jadinya kami seperti saat ini adalah karena “campur tangan” beliau. Kemudian apa yang telah kami dengar atau lihat dari beliau kami beri analisis, pemaknaan dan interpretasi untuk mengeluarkan kandungan mutiara dari setiap peristiwa yang kami alami bersama beliau. Dalam menganalisis, memaknai dan menginterpretasi segala ucapan dan tindakan beliau tersebut kami menggunakan beberapa referensi yang dalam pendapat kami sangat membantu dalam menafsirkan dan memaknai apa yang kami dengar dan lihat. 4. Menuliskan dalam sebuah tulisan utuh, seperti yang ada di tangan pembaca sekalian. 5. Sedapat mungkin setiap hadits yang kami kutip dalam tulisan ini kami sertakan takhrijnya agar pembaca yang budiman bisa merujuk kepada sumber-sumber asli dari hadits-hadits tersebut, demikian juga dengan kutipan lain. Ini sebagai


xvii bentuk tanggung jawab ilmiah kami atas tulisan ini. Dengan demikian, tulisan kecil ini bukan hanya biografi ansich namun memuat juga pengetahuanpengetahuan keislaman dalam beberapa seginya. Akhirnya, tak ada gading yang tak retak, tak ada sesuatu yang sempurna. Demikian pula dengan tulisan kecil ini, niscaya terdapat juga kekurangan di sana-sini. Oleh sebab itu kami membuka diri bagi saran-saran yang konstruktif guna perbaikan pada tulisan-tulisan berikutnya. Dalam kesempatan ini juga kami ucapkan terima kasih tak berhingga kepada Dr. K.H. Zamakhsyari Abdul Majid, M.A dan K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc, yang telah berkenan memberikan sambutan dan pengantarnya yang sangat berharga. Demikian pula kepada pihak-pihak yang telah membantu kami, terutama kepada al-Ustadz H. Badeng Saputra, serta putra-putri dari K.H Abdul Mughni yang telah mengizinkan dan mendorong kami untuk mengonstruksi kehidupan beliau yang diberkahi, khususnya kepada al-Ustadz H. Humaidi Abdul Mughni, Lc yang telah banyak memberikan infomasi berharga dan dokumen yang kami butuhkan guna penyelesaian tulisan kecil ini serta dengan rela hati meluangkan waktunya yang berharga untuk melakukan koreksi atas naskah ini. Kepada Allah sajalah kami serahkan balasan pahala atas kebaikan mereka semua serta andilnya dalam melahirkan tulisan ini. Dan semoga apa yang kami lakukan ini menjadi rintisan awal dan pembuka jalan bagi lahirnya penelitian-


xviii penelitian lanjutan mengenai kehidupan K.H. Abdul Mughni dalam segi dan sisi yang lain. Bekasi, Maret 2021 Penulis


xix DAFTAR ISI SAMBUTAN KELUARGA K.H. ABDUL MUGHNI iv SAMBUTAN KETUA UMUM MAJMU BEKASI RAYA ................................................................................ vii KATA PENGANTAR PIMPINAN PONDOK PESANTREN AL-MUCHTAR .................................... x KATA PENGANTAR..................................................... xv DAFTAR ISI .................................................................... xix Bab 1 Fragmen Kehidupan K.H. Abdul Mughni .... 1 A. Nasab K.H. Abdul Mughni .............................. 1 B. Masa Kecil K.H. Abdul Mughni ...................... 2 C. Semangat Mencari Ilmu K.H. Abdul Mughni 4 D. Semangat Menyebarkan Ilmu........................... 23 a. Membina Majelis Taklim.............................. 25 b. Menyulap Tempat Tinggal Menjadi Halaqoh Ilmu ................................................. 32 E. Membina Rumah Tangga .................................. 48 F. Sakit dan Wafatnya ............................................ 53 G. Kezuhudan K.H. Abdul Mughni...................... 60 H. Akhlak dan Ibadah K.H. Abdul Mughni ........ 67 Bab 2 Kiprah K.H. Abdul Mughni dalam Dakwah 72 A. Persiapan Mental ................................................ 74 B. Persiapan Ilmiah ................................................. 76 C. Metode dan Pendekatan Dakwah ................... 79 D. Media Dakwah.................................................... 84 Bab 3 Kiprah K.H. Abdul Mughni dalam Bidang Pendidikan ............................................................ 93 A. Kiprah Sebagai Pendidik .................................. 95 B. Kiprah Lembaga Pendidikan yang Didirikan 101


xx Bab 4 Epistemologi Ilmu K.H.Abdul Mughni ......... 107 A. Perintah Menuntut Ilmu.................................... 108 B. Dua Jalan Mendapatkan Ilmu........................... 115 Bab 5 Mengikuti Tes Pegawai Negeri dan Nasihat Singkat Sang Guru .............................................. 124 Memetik Hikmah Kehidupan ............................. 127 a. Regenerasi Ulama .............................................. 128 b. Menjaga Mentalitas ............................................ 130 c. PNS Bukanlah Segalanya .................................. 131 Bab 6 Kepedulian K.H. Abdul Mughni Pada Hal-Hal Kecil........................................................ 133 A. Salam Pembuka Pada Pidato atau Ceramah Didahului Lafazh Basmalah.............................. 138 B. Waqaf dalam Pembukaan Pidato atau Ceramah: Amma Ba’d ......................................... 141 C. Imam Sholat Wajib Mengucapkan: ash-Sholatu Jami’ah ................................................................... 143 D. Cara Baca: Wahdahuu laa syariikalah ................. 145 E. Cara Mewashal Surat al-Ikhlas ......................... 146 F. Membaca Apa Adanya ...................................... 149 G. Memperhatikan Makna Bacaan ....................... 153 H. I’rob Basmalah .................................................... 155 I. Pendekatan Puasa Syawal ................................ 161 J. Nah, Ini Baru Benar............................................ 166 Bab 7 Menantang Adrenalin Ilmiah Para Murid ..... 171 A. Memberi Tantangan ........................................... 172 B. Hikmah Sebenarnya .......................................... 178 Bab 8 Penutup ................................................................ 183 Daftar Pustaka ................................................................ 190 Apendiks I ...................................................................... 196 Apendiks II ...................................................................... 203


1 BAB 1 FRAGMEN KEHIDUPAN K.H. ABDUL MUGHNI “Teruslah belajar, hingga siapa yang lebih dahulu menemui kita: apakah habisnya usia ataukah habisnya kitab yang kita baca.” ~K.H. Abdul Mughni (1937–2019)~ A. Nasab K.H. Abdul Mughni Kami memulai penulisan biogragi ringkas K.H. Abdul Mughni ini dengan menyebutkan nasab atau garis keturunan beliau karena dengan mengetahui nasab seseorang maka akan jelaslah identitasnya. Dengan mengenal nasab seseorang maka akan semakin besarlah penghormatan kita pada orang tersebut dan terjaganya tali persaudaraan serta silaturahmi. Terkait dengan pentingnya nasab ini, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: ُ الَ نَّه ِ فَإ ْ ُكم َ ام َ ْح ِصلُوا أَر َ ت ْ ُكم َ اب َ ْس ْعِرفُوا أَن ا ذَا ِ ِم إ َّرحِ ْ َب ِِبل قُ ر ْ َدةً ي ِ ع َ َ ْت ب ْن َكان ِ إ َ ْت و ِصلَ ُ ِذَا و ا إ َ ْ َد ِبِ ع ُ َالَ ب ةً و َ ب ْ َ ْت قَِري ْن َكان ِ إ َ َ ْت و ع ِ قُط “Kenalilah nasab-nasabmu, maka tali persaudaraanmu akan terus bersambung. Sesungguhnya jika tali persaudaraan terputus, maka hubungan itu menjadi jauh meskipun sebetulnya


2 dekat. Sebaliknya, tali persaudaraan itu menjadi dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun jauh hubungannya.”5 Beliau adalah Abdul Mughni bin H. Hasbih bin Zabun, sedangkan ibu beliau bernama Hj. Sakinah binti H. Cimplan. Putra asli Bekasi yang lahir di Kampung Rawa Bugel pada tanggal 20 Juni 1937 ini merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Adapun keenam saudara kandung beliau secara berurutan adalah H. Syafi’ih, H. Mahmud, H. Sarbinih, Hj. Kebon, Masenah dan Maselah. Hingga tulisan ini dibuat semua saudara beliau telah lebih dahulu meninggal dunia. Dengan demikian, beliau adalah anak dari H. Hasbih yang terakhir menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. H. Hasbih sendiri merupakan seorang petani yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. B. Masa Kecil K.H. Abdul Mughni Masa kecil yang dijalani oleh K.H. Abdul Mughni boleh dibilang sama dengan anak-anak lain seusia beliau. Sebagai anak yang lahir dari keluarga petani biasa, tanpa ada gaya gelamor yang biasanya tampak pada anak-anak dari keluarga berada. Apalagi Abdul Mughni kecil telah ditinggal mati oleh ayahnya saat ia masih kecil. Jadilah ia diasuh oleh ibu dan saudara-saudaranya. Kehidupan yang serba susah di awal-awal kemerdekaan memaksanya 5 HR. ath-Thoyalisi dan al-Hakim dalam al-Mustadroknya. Dimuat oleh as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir min Ahaditsi al-Basyir anNadzir, Harfu “al-Hamzah”, hlm. 85, hadits no. 1154.


3 seringkali ikut dengan orang tuanya untuk nderep6 dari satu kampung ke kampung lainnya. Bila berada di rumah atau kampung sendiri, ia biasanya mengisi waktunya dengan menggembalakan kerbau. Saban pagi hingga sore Abdul Mughni kecil menggembalakan kerbau di pematang sawah yang memang saat itu masih terbentang luas di kampungnya. Kondisi kampung yang bersahaja, tenang, dan kondusif sangat tepat dan membantu Abdul Mughni kecil menjalani proses pembelajarannya. Benar-benar berpengaruh pada hati, jiwa, perasaan, dan pertumbuhannya yang kelak akan menjadi seorang tokoh ulama yang disegani di wilayahnya, umumnya di Bekasi. 6 Kegiatan berpindah-pindah tempat yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Bekasi, dan Betawi pada umumnya, dari satu kampung ke kampung lain guna mencari daerah-daerah yang sedang panen padi. Bila telah selesai, mereka kembali ke kampung halamannya, ataupun pindah ke kampung lainnya. Masa nderep ini tidak menentu, bisa dalam hitungan minggu bahkan bisa juga dalam hitungan bulan. Semua akan sangat tergantung pada kondisi panen yang dilaksanakan di tempat nderep. Sumber foto: Dokumen penulis Gambar 1. Ilustrasi Kampung Rawa Bugel era sekitar tahun 1960-an


4 C. Semangat Mencari Ilmu K.H. Abdul Mughni Layaknya orang-orang tua tempo dulu, dimana anak-anak mereka diwajibkan untuk menempuh pendidikan agama, terutama al-Qur’an, mengaji bersama dengan guru-guru mengaji terdekat di kampung mereka. Demikian juga dengan orang tua Abdul Mughni kecil, mereka mewajibkan putra mereka untuk mulai belajar membaca al-Qur’an dengan guru mengaji yang ada di kampung mereka. Maka disuruhlah Abdul Mughni kecil untuk mengaji kepada K.H. Anwar (Guru Anwar) Kaliabang Nangka, hingga ia pun pandai membaca alQur’an. Selain kepada Guru Anwar, ia pun mulai belajar ilmu-ilmu agama kepada K.H Asymawi Bulak Sentul, kepada Guru Abdulloh, K.H. Alawi, Guru Asmat dan Guru Jenih Kaliabang Nangka. Keenam gurunya tersebut merupakan murid-murid senior dari K.H. Muchtar Thobroni sebelum beliau berangkat menuntut ilmu ke tanah suci Mekah. Niat hati hendak menempuh pendidikan di pesantren, namun karena latar belakang Abdul Mughni kecil yang secara ekonomi sangatlah sederhana dan terbatas memaksanya mengubur impiannya tersebut, ia mencukupkan diri dengan belajar bersama dengan guruguru yang ada di kampungnya serta sekitarnya. Namun, cita-citannya untuk mengecap pendidikan agama serta ilmu-ilmunya yang lebih mapan tidak sepenuhnya pupus, kesempatan ke arah itu ternyata masih terbuka lebar. Dan kesempatan itu dimulai ketika K.H. Muchtar Thobroni 7 7 Beliau adalah salah seorang ulama besar Bekasi yang lahir pada tahun 1901 di sebuah kampung sederhana, Kampung Kaliabang


5 pulang dari studinya di Mekah, kembali ke kampung tercinta, yaitu Kampung Kaliabang Nangka, setelah hampir lebih dari 12 tahun belajar di Mekah. Peristiwa kembalinya salah satu guru besar di Bekasi tersebut terjadi pada tahun 1950. Sepulangnya K.H. Muchtar Thobroni ke kampung halamannya tersebut, nyatalah di hadapan beliau bagaimana kondisi masyarakat Bekasi, dan khususnya kampung beliau sendiri. Keterbelakangan ekonomi dan agama seakan menjadi pemandangan yang sangat menonjol. Pada satu sisi praktik agama sangat minim, sedangkan pada sisi yang lainnya praktik-praktik yang bertentangan dengan agama justru tumbuh dengan subur. Kenyataan tersebut membuat beliau merasa risau, hingga akhirnya menggugahnya untuk terjun ke masyarakat, turut mengatasi kondisi sosial budaya di masyarakatnya, terutama merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan ilmu-ilmu keislaman yang beliau dapat selama ini, dan melakukan internalisasi (penanaman) nilai-nilai hidup yang Islami serta mengikis sedapat mungkin praktikNangka, Bekasi (sekarang Bekasi Utara). Setelah selesai mengaji dengan Guru Marzuqi, Cipinang Muara, pada tahun 1937 beliau berangkat haji sekaligus untuk menuntut ilmu. Di antara guru-guru beliau adalah Syaikh Muchtar at-Tharid, Syaikh Ahyad, Syaikh Alwi alMaliki, dan beberapa masyaikh lainnya. Beliau belajar di Mekah sekitar lebih dari 12 tahun, memasuki tahun ke-13 beliau pulang. Ulama besar ini meninggal pada tahun 1971 dalam usia 70 tahun dengan meninggalkan sebuah pondok pesantren, yakni Pondok Pesantren Annur dan beberapa karya tulis (kitab), antara lain Targhibu al-Ikhwan fi Fadhilati Ibadati Rojab wa Sya’ban wa Romadhon dan Tanbihu alGhofil fi at-Tathowwu’at wa al-Ibadati wa an-Nawafil.


6 praktik kehidupan yang tidak Islami.8 Beliau sadar, semua niat dan cita-cita tersebut hanya akan maujud (baca: terwujud) bila beliau mendirikan sumber-sumber penyebaran ilmu. Dengan dorongan niat tulus ikhlas, pada tahun 1950 beliau mendirikan Pondok Pesantren Kaliabang Nangka9 (diambil dari nama kampung beliau) meskipun dalam bentuknya yang masih sangat sederhana. Suatu hari, demikian tulis Kiki (2017),10 berkumpullah beberapa orang murid senior K.H. Muchtar Thobroni, di antaranya K.H. Alawi, K.H.Asmawi, K.H. Anwar, K.H. Abdulloh, Guru Asmat dan Guru Jenih. Dari hasil musyawarah keenam ulama tersebut, tercapailah sebuah kesepakatan bahwa seluruh santri yang mengaji pada keenam ulama tersebut akan diseleksi secara khusus. Bagi santri yang lulus seleksi, maka santri tersebut dapat mengaji langsung di bawah bimbingan K.H. Muchtar 8 Sebenarnya usaha untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakatnya telah beliau lakukan sebelum beliau berangkat ke Mekah, tepatnya setelah beliau pulang dari berguru kepada Guru Marzuqi, Cipinang Muara. Meskipun dalam kondisi yang relatif muda, sekitar 20 tahun, beliau sudah menjadi tokoh yang disegani sehingga merasa bertanggung jawab merubah masyarakatnya ke arah yang lebih baik, terutama untuk memperkenalkan nilai-nilai Islam. Dan keinginan tersebut semakin kuat sepulangnya beliau dari pergi haji sekaligus belajar di Mekah. 9 Pondok pesantren inilah yang merupakan cikal-bakal bagi Pondok Pesantren Annur yang kita kenal saat ini. 10 Rakhmad Zailani Kiki (2017), Mengenal Sosok K.H. Mochtar Tabrani, Ulama Berpengaruh asal Kaliabang. Dalam BEKASIMEDIA.COM. Tersedia dalam: https://bekasimedia.com/ 2017/05/15/mengenal-sosok-kh-mochtar-tabrani-ulamaberpengaruh-asal-kaliabang/


7 Thobroni. Maka terpilihlah sekitar 20 orang santri (angkatan pertama). Dan Abdul Mughni kecil merupakan salah satu santri yang lulus dalam seleksi tersebut sehingga berhak untuk mengaji langsung kepada K.H. Muchtar Thobroni. Sedangkan santri yang tidak lulus seleksi, mereka meneruskan kembali mengaji dan belajar agama di bawah bimbingan keenam orang guru tersebut. Keuletan Abdul Mughni muda menuntut ilmu mengantarkannya ke tangga pencapaian ilmu yang banyak diidam-idamkan bukan saja oleh para pencari ilmu, namun juga orang-orang tua mereka. Di bawah gemblengan dan tempaan K.H. Muchtar Thobroni yang terkenal keras dan tegas, Abdul Mughni kecil tumbuh menjadi seorang anak yang berbeda. Kecerdasan yang didukung keberanian membuatnya beberapa langkah lebih maju daripada teman-temannya di pengajian. Ilmuilmu yang ia pelajari bersama K.H Muchtar Thobroni adalah ilmu-ilmu pada umumnya di pesantren, seperti nahwu, shorof, fikih, tauhid, tafsir, hadits, dan sebagainya seakan dengan mudah ia kuasai. Bila rekan-rekannya takut untuk membaca, Abdul Mughni kecil justru paling berani untuk membaca kitab di hadapan gurunya, K.H. Muchtar Thobroni, meskipun untuk itu risikonya ia harus siap mendapatkan hukuman dari sang guru, mengingat gaya mengajar K.H. Muchtar Thobroni merupakan sosok guru yang sangat tegas dan keras terhadap santri-santrinya. Bila


8 mereka salah membaca atau menghafal,11 tak jarang pukulan kayu harus dengan rela mereka rasakan. Belum lagi kata-kata khas orang Bekasi yang keluar saat marah.12 Hal tersebutlah yang membuat ciut nyali santri-santri beliau untuk membaca di hadapan beliau, kecuali yakin bisa dan benar.13 Namun tidak demikian dengan Abdul Mughni kecil. Ia selalu berani berhadapan dengan sang guru untuk membaca. Dan inilah salah satu faktor keberhasilan Abdul Mughni kecil dalam menimba ilmu di bawah bimbingan K.H. Muchtar Thobroni dan menjadikannya semakin dekat dengan sang guru, bahkan menjadi santri kesayangan beliau.14 Dengan berbekal ketekunan, keuletan serta keberanian, dan ditunjang dengan kecerdasan maka keilmuan Abdul Mughni muda terbentuk, terutama dalam penguasaan fan (disiplin ilmu) nahwu dan shorof, dua 11 Salah satu metode K.H. Muchtar Thobroni dalam mengajar adalah metode mendengar (sama’) pembacaan kitab oleh santrinya. Sambil berkebun, K.H. Muchtar Thobroni yang memang telah menghafal kitab tersebut akan mendengarkan bacaan si santri. Ketika terdapat kesalahan, maka teguran keras harus siap didapatkan oleh si santri. Ketegasan inilah yang membuat santri-santrinya berhasil menggapai ilmu-ilmu keislaman. 12 K.H. Abdul Mughni pernah bercerita kepada kami, bahwa selama beliau belajar dengan K.H. Muchtar Thobroni, beliau pernah mendapatkan satu kali amarah sang guru, bahkan bukan saja amarah, namun juga disertai dengan pukulan kayu di bahunya. 13 Maka tidak aneh, dari 20 santri di awal pertemuan, yang mampu bertahan hingga selesai hanya 10 orang. sisanya, telah lebih dahulu mengundurkan diri. Dari santri yang 10 orang inilah kelak, salah satunya, ilmu-ilmu K.H. Muchtar Thobroni tersebar. 14 Sebagaimana hal ini beliau sampaikan sendiri kepada kami.


9 ilmu yang sangat penting dan harus dikuasai oleh seseorang yang ingin mendalami ilmu-ilmu keislaman lain, seperti tafsir, hadits, fikih, dan cabang-cabang ilmu Islam yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syaroh al-Ajurumiyyah (2005, hal. 9-10): Sesungguhnya ilmu nahwu merupakan ilmu yang mulia, ilmu pengantar (ilmu bantu atau ilmu alat), yang mengantarkan dengannya pada dua hal yang sangat penting. Pertama, memahami Kitabullah (alQur’an) dan Sunnah Rasul-Nya (al-Hadits). Sesungguhnya, memahami keduanya (al-Qur’a dan al-Hadits) hanya akan terjadi ketika seseorang meguasai ilmu nahwu. Kedua, memperbaiki lisan berdasarkan lisan orang-orang Arab (yang fasih), yang dengannya Kalamullah (al-Qur’an) diturunkan. Itulah sebabnya, memahami ilmu nahwu merupakan perkara yang sangat penting. Ilmu nahwu memang sulit diawalnya dan mudah diakhinya. Maksudnya, sulit dimasuki (dipelajari) namun ketika sudah masuk (sudah dipelajari), maka ia akan mendatangkan kemudahan bagimu untuk (mempelajari) segala sesuatu. Maka tidak mengherankan bila para ulama ahli bahasa Arab mengatakan terkait dengan ilmu nahwu ini, sebagaimana dinazhamkan oleh Yahya al-Imrithi, dalam Ibrahim al-Baijuri (hal. 5): ال َ و ُ ََل أََّوًال أَ ْن ي ْ أَو ُ ْحو نَّ َ لَم ْ ع ْ لَن ُ َه ن ْ ُو د ُ الْ َكَلم ِذِ ما َ َه ْف ُ # إ ي


10 “Ilmu nahwu adalah ilmu yang harus pertama kali dipelajari, karena tanpa nahwu, kita tidak akan bisa memahami (kalam Arab).” Selain faktor internal yang bersumber dari dalam Abdul Mughni muda, sebenarnya ada faktor eksternal yang juga menjadi faktor penentu keberhasilan Abdul Mughni muda dalam menuntut ilmu. Ya, faktor eksternal tersebut adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh sang guru, K.H. Muchtar Thobroni. Menurut cerita beliau kepada kami, bahwa saat kecil beliau belajar dengan K.H. Muchtar Thobroni. Sang guru mengajarkan kepada beliau dan rekannya dimulai dari kitab-kitab dasar. Tamat kitab-kitab dasar, mulai naik ke kitab-kitab yang lebih tinggi, hingga akhirnya yang paling tinggi. Beliau menceritakan, bahwa beliau belajar kitab-kitab nahwu dari K.H. Muchtar Thobroni secara berjenjang. Dimulai dari yang paling rendah, yaitu al-Ajurumiyyah, Imrithi, kemudian Mukhtashor Jiddan dan Mutammimah alAjurumiyyah. Kemudian naik ke kitab-kitab pertengahan, yaitu al-Kawakib ad-Duriyyah, Qothru an-Nada wa Balli ashShoda, dan Syarah al-Kafrawi ‘ala al-Ajurumiyyah. Kemudian naik ke yang tinggi, yakni Alfiyah Ibnu Malik beserta beberapa syarahnya, mulai dari Syarah Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah Ibnu Malik dan Syarah al-Asmuni ‘ala Alfiyah Ibnu Malik. Dan dilanjutkan ke kitab-kitab tertinggi, yaitu Hasyiyah alKhudhori ‘ala Syarhi Ibnu Aqil dan Hasyiyah ash-Shobban ‘ala Syarhi al-Asymuni ‘ala Alfiyah Ibnu Malik. Sedangkan untuk Shorof beliau belajar Kitab Kailani, Matan al-Bina’ wa alAsas, dan Nazham al-Maqshud atau biasa disebut Matan


11 Yaqulu. 15 Fakta Ini menunjukkan bahwa K.H.Muchtar Thobroni mengajarkan santri-santrinya secara sistematis. Tidak asal mengajar, tidak hanya memberi, namun memperhatikan perkembangan dan kemampuan akal. Metode atau pendekatan yang dilakukan oleh K.H. Muchtar Thobroni–yang pada gilirannya kelak ditiru juga oleh K.H. Abdul Mughni–sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Ali bin Abi Tholib: َس ِبَ ُوا النَّا ث ُ َ دِ ْ ح لُه ُو َس ر َ َب هللاُ و َك َّذ ُ َن أَ ْن ي ْ ُّ و ب َن أَُُتِ ْ ِرفُ و ْ ع َ ا ي “Berbicaralah kepada manusia dengan bahasa yang dapat mereka pahami. Apakah kalian suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?”16 Dan tidak dapat dipungkiri, metode pembelajaran ini merupakan kunci keberhasilan dari santri-santri beliau, tak terkecuali Abdul Mughni muda. Penguasaan Abdul Mughni muda terhadap kedua ilmu tersebut (ilmu nahwu dan shorof) terlihat pada dua hal. Pertama, kemampuan membaca kitab kuning atau kitab gundul17 di hadapan sang guru, K.H. Muchtar 15 Nazham Maqshud disebut juga Matan Yaqulu karena memang kitab atau nazham ini dimulai dengan kata: Yaquulu, lengkapnya: Yaquulu ba’da hamdi dzil Jalaali # Mushalliyan ‘alan Nabiyyi wal Aali. 16 Atsar ini dinukil oleh al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: al-Ilm. Bab: Man Khoshsho bil ‘Ilmi Qouman duuna Qoumin Karaahiyata an laa Yafhamuu, hlm. 44. Atsar ini sedikit banyak bersesuaian dengan teori-teori pendidikan dan psikologi modern. Salah satunya teori psikologi kognitif oleh J. Piaget. Sekali lagi ini membuktikan bahwa ajaran-ajaran Islam, diakui atau tidak, banyak menginspirasi para teoretis-teoretis Barat. 17 Disebut kitab kuning karena memang kertas yang digunakan berwarna kuning; disebut kitab gundul karena memang kitab tersebut


12 Thobroni, yang sedikitpun tidak pernah salah. Logikanya, bila tidak didukung dengan penguasaan yang paripurna terhadap “bapak dan ibunya ilmu” tersebut,18 maka mana mungkin seorang santri akan sanggup membaca dengan benar dan tepat kitab-kitab berbahasa Arab yang tanpa diberi harakat (gundul). Apalagi kitab tersebut dibaca di hadapan seorang ulama yang memang ahli dalam bidang tersebut. kedua, dan ini paling penting, adanya pengakuan dari sang guru, K.H. Muchtar Thobroni, kepada Abdul Mughni muda bahwa ia telah bisa membaca kitab gundul. Pengakuan yang diberikan oleh seorang yang ahli tentu saja memuat legalitas terpenting atas keilmuan seseorang, dan pengakuan tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang memang benar-benar bisa, mampu dan mumpuni penguasaannya atas suatu ilmu. Dan apa yang dilakukan oleh K.H. Muchtar Thobroni tersebut merupakan kebiasaan yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu, yaitu memberikan pengakuan dan pujian atas keilmuan yang dimiliki oleh seorang ulama yang lain. tidak diberi baris atau tanda baca alias gundul. Baik kitab kuning maupun kitab gundul merupakan khasanah Islam yang sangat berharga. Kitab kuning atau kitab gundul ini dibagi dalam dua golongan, pertama kitab-kitab klasik (turots) dan kitab-kitab modern (mu’ashir). 18 Bagi yang pernah belajar ilmu nahwu dan sharaf mungkin tidak asing mendengar adagium: an-Nahwu Abu al-Ulum wa ash-Shorfu Ummuhaa (ilmu nahwu adalah bapaknya ilmu, dan ilmu sharaf adalah ibunya) atau ash-Shorfu Ummu al-Ulum wa an-Nahwu Abuhaa (ilmu sharaf adalah ibunya ilmu, dan ilmu nahwu adalah bapaknya). Demikian juga yang dikatakan oleh K.H. Abdul Mughni kepada kami saat kami belajar kepada beliau.


13 Selepas dari mengaji dengan K.H. Muchtar Thobroni, dan berbekal dengan ilmu yang didapat saat belajar dengan beliau, Abdul Mughni muda mulai mendirikan majelis-majelis taklim. Meskipun usianya saat itu tergolong muda, namun ia telah berhasil membentuk dan membangun jaringan majelis taklim yang langsung diasuh olehnya. Meskipun telah memiliki ilmu yang telah diakui oleh sang guru, namun bukan berarti itu membuat Abdul Mughni muda merasa puas, merasa cukup, atau membusungkan dada. Dahaganya akan ilmu terus bergelora, sehingga disela-sela kesibukannya sebagai guru pada beberapa majelis taklim, Abdul Mughni muda mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab (LIPIA), Jakarta, dan lulus, sehingga ia menjadi salah satu mahasiswa dari lembaga pendidikan milik kerajaan Arab Saudi tersebut. Kemampuannya dalam bidang ilmu nahwu dan shorof kembali teruji. Selama menempuh pendidikan di LIPIA, setiap dosen yang “iseng” menggelar quis mengenai lika-liku tata bahasa Arab selalu ia yang sanggup menjawab. Boleh dibilang, selama berkuliah di LIPIA ia adalah bintangnya dalam ilmu nahwu dan shorof. Menurut pengakuan beliau kepada kami, selama berkuliah di LIPIA hanya satu saja kekurangan beliau di mata dosennya yaitu soal menulis leher huruf Sin atau Syin yang dinilai kurang memenuhi “standar Saudi.” Semangatnya untuk menuntut ilmu tidak berhenti sampai di situ. Sepeninggal guru utama beliau, yakni K.H. Muchtar Thobroni pada tahun 1971, beliau melanjutkan


14 belajarnya kepada guru-guru yang ada di Bekasi dan Jakarta, di antaranya kepada Kyai Mu’allim Mu’thi Buaran, kepada K.H. Syafi’i Hazami (Mu’allim Hazami), KH. Dhiyauddin dan K.H. Syukron Ma’mun dari Jakarta yang mengajar taklim di Bekasi dan juga kepada Fadhilatussyaikh K.H. Muhajirin Amsar Addary, 19 salah seorang ulama Bekasi pendiri Pondok Pesantren Annida al-Islami, Bekasi. Kepada K.H. Muhajirin beliau mengkaji kitab-kitab fikih, tafsir, hadits, dan juga karangankarangan K.H.Muhajirin hingga K.H. Muhajirin meninggal dunia di tahun 2003. Dalam pengajian yang digelar di kediaman K.H. Muhajirin Amsar tersebut yang hadir adalah kyai-kyai dan para ustadz yang tinggal di Bekasi dan Jakarta. Dan lagilagi kemampuan beliau teruji di sini. Salah satunya adalah 19 Beliau adalah Muhajirin Amsar Addary, pendiri Pondok Pesantren Annida al-Islami, Bekasi. Lahir di Kampung Baru, Cakung, Jakarta Timur pada tanggal 10 November 1924 dan wafat di Bekasi tanggal 31 Januari 2003. Beliau memiliki banyak guru mulai dari dalam negeri hingga luar negeri (Mekah). Di antara guru-guru beliau saat belajar di Mekah adalah Syaikh Abdul Ghani Jamal, Syaikh Muhammad Ahyad, Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath, Syaikh Zaini Bawean, Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki, Syaikh Mukhtar Ampetan, Syaikh Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Ibrahim Fathani, Syaikh Muhammad Amin al-Khutbi dan Syaikh Ismail Fathani. K.H. Muhajirin merupakan tipikal ulama yang mushannif (pandai mengarang kitab). Tidak kurang 31 kitab telah beliau tulis. Dan yang paling terkenal adalah Mishbah azh-Zholam Syarah Bulughi al-Maram yang telah diterbitkan oleh penerbit Dar al-Hadits (Mesir) dalam 4 jilid. Dalam: laduni.id. Biografi Syaikh K.H. Muhajirin Amsar ad-Dary. Dapat diakses dalam: https://www.laduni.id/post/read/54649/biografi-syaikh-khmuhajirin.amsar-ad-dary


15 dengan sering ditunjuknya beliau sebagai juru baca dari kitab yang dikaji di pengajian tersebut. Itu menunjukkan bahwa bacaan kitab beliau dihadapan K.H. Muhajirin Amsar dinilai benar, karena bila tidak benar, apalagi salah, maka manalah mungkin beliau selalu dimintakan untuk membaca kitab di pengajian K.H. Muhajirin Amsar. Apalagi bila mengingat sikap dan watak dari K.H.Muhajirin Amsar pun tidaklah beda jauh dengan guru beliau, K.H. Muchtar Thobroni, tegas dan keras. Pengakuan atas ilmu beliau tersebut juga terlihat dari kesediaan K.H. Muhajirin Amsar memberikan sanad keilmuan kepada beliau yang bersambung (ittishal) kepada guru-gurunya. Dengan demikian, selain hubungan keduanya yang semakin dekat, kualitas keilmuan K.H. Abdul Mughni pun kian meningkat dengan mendapatkan sanad keilmuan hingga guru-guru K.H. Muhajirin Amsar yang merupakan ulama-ulama kelas dunia saat beliau belajar di dua kota suci, yakni Mekah dan Madinah. Karena seringnya beliau diminta menjadi juru baca kitab dalam pengajiannya, maka terciptalah hubungan yang semakin dekat antara beliau dengan K.H. Muhajirin Amsar. Saking dekat dan kenalnya sang guru dengan beliau, sampai-sampai terbawa ke dalam kegiatan mengajar K.H. Muhajirin di kelas. Sebagaimana diketahui, bahwa dua orang putri beliau, yakni Hudriah dan Ulfah Yulyanah bersekolah di Annida. Maka setiap kali K.H. Muhajirin mengajar di kelas di mana sang putri berada, selalu saja K.H. Muhajirin memanggil putri beliau dengan


16 panggilan nama sang ayah, Abdul Mughni; dan bukan Hudriah atau Ulfah. Meskipun beliau telah berubah menjadi seorang ulama yang disegani, namun itu tidak lantas membuatnya membusungkan kepala, beliau tetap rendah hati dan tawadhu. Nalurinya sebagai seorang santri yang haus ilmu tidaklah hilang dan tumpul. Hal ini terlihat ketika seorang ulama besar dalam bidang fikih dan tafsir kelas dunia, yakni Prof. Dr. Wahbah Zuhaili,20 datang ke Jakarta, Indonesia, di tahun 2004, maka beliau bersama dengan beberapa ulama lainnya bersilaturahmi menemui ulama kenamaan tersebut. Bukan sekadar silaturahmi saja, namun beliau memanfaatkan momen langka tersebut untuk menyerap ilmu dan pengalaman dari sang syaikh. Walhasil, beliau dan beberapa ulama lainnya, di antaranya K.H. Ishomuddin Muchtar, Lc, mendapatkan ijazah atas beberapa kitab Syaikh Wahbah Zuhaili, yakni Kitab Tafsir al-Munir, al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, dan Ushul al-Fiqh al-Islam. Demikianlah, santri tetaplah santri. Di mana ada ilmu memanggil, ke sana hati dan akal akan melangkah. Dari sini kita tahu bahwa K.H. Abdul Mughni adalah tipikal kyai dan santri tradisional pada umumnya. Di mana seorang kyai tradisional dalam mencari ilmu sangat 20 Beliau adalah seorang ulama Ahlussunnah dunia. Lahir di Dir Athiah, utara Damaskus, Syiria, tahun 1932. Beliau merupakan seorang ulama yang sangat produktif. Tak kurang dari 500 an karya ilmiah telah beliau tulis. Maka tak mengherankan bila ada yang menyamakan beliau dengan as-Suyuthi pada masa lalu. Anggota dewan fikih di Mekah, Jeddah, India, Amerika, dan Sudan ini wafat pada Sabtu sore, 8 Agustus 2015 dalam usia 83 tahun.


17 memperhatikan kebersihan sumber-sumber ilmu, meneliti kejelasan jalur-jalur sanad keilmuan dan sanad kitab yang dipelajari. Hal ini dilakukan agar ilmu yang dipelajari dan didapat bersambung terus kepada sang pemilik ilmu sejati, yakni Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala; 21 atau ketika membaca dan mempelajari suatu kitab, maka guru yang menyampaikan kitab tersebut sampai sanadnya langsung kepada pengarang kitab.22 Pencarian dan penyebaran ilmu dengan model seperti ini merupakan model dan contoh yang berlaku dalam dunia intelektual Islam sejak dahulu kala. Para ulama-ulama salaf ikutan kita telah mempraktikkannya. Dengan model penyebarn ilmu seperti ini maka ilmu yang diperoleh selain jelas asalusulnya, juga terjaga kebenaran serta kesahihannya.23 Dan 21 Seperti yang ditunjukkan dalam model transmisi dari K.H. Muhajirin Amsar, dari guru-guru beliau, dari para tabi’i at-tabi’in, dari para tabi’in, dari para Sahabat, dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dari Alloh ‘Azza wa Jalla. 22 Seperti yang ditunjukkan dalam model transmisi Syaikh Wahbah Zuhaili di atas. Dan ijazah sanad kitab yang diperoleh K.H. Abdul Mughni ini merupakan sanad kitab paling tinggi karena langsung diberikan oleh pengarang kitab. 23 Contoh, al-Hafizh Ibnu Hajar ketika akan menjelaskan (mensyarah) Kitab Shohih al-Bukhari, beliau membuka syaroh tersebut dengan menjelaskan sanad dari mana beliau mendengar dan mempelajari Kitab Shohih al-Bukhori. Beliau berkata, “Menurut saya, ada baiknya jika syaroh ini dimulai dari penyebutan sanad saya kepada kitab asal (Shohih al-Bukhari), baik yang melalui penyimakan langsung maupun ijazah. Saya akan mencantumkannya dalam format yang baru. Saya mendengar sebagian ulama yang mulia mengatakan, ‘Sanad adalah nasab kitab.’ Maka dari itu, saya akan menyebutkan setiap sanad saya menurut metodologi penyebutan nasab.” Kemudian beliau


18 harus diketahui, bahwa hanya dalam tradisi Islam saja hal seperti ini akan kita dapati, sedangkan dalam tradisi agama-agama lain tidaklah akan kita temukan.24 Selain dengan bantuan seorang guru, semangat K.H. Abdul Mughni dalam mencari ilmu juga dilakukan dengan banyak melakukan telaah (muthola’ah) kitab-kitab yang mu’tabar. Dan ini beliau lakukan sesuai dengan petunjuk sang guru, K.H. Muchtar Thobroni yang memintanya agar banyak menelaah (muthola’ah) kitab, 25 karena sang guru sudah mengetahui kemampuan ilmu alat26 beliau, sehingga dengan banyak menelaah, selain belajar lewat bimbingan guru, maka kualitas keilmuannya menyebutkan sanad-sanadnya. Lihat al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, edisi bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta: 2010, Jilid 1, hlm. 43. 24 Itulah sebabnya para ulama mengatakan bahwa sanad merupakan bagian agama, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu alMubarak, dalam az-Zahrani (2011, hal. 41), “Sanad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena sanad, maka sungguh, siapa pun akan mengatakan (segala) sesuatu yang dia kehendaki.” 25 Dari permintaan K.H. Muchtar Thobroni ini dapat diambil pelajaran, bagi siapapun yang telah menguasai ilmu nahwu dan shorof maka hendaklah keduanya dijadikan sebagai alat untuk membuka gerbang ilmu-ilmu keislaman yang demikian luas dan menjelajahinya. Bila seseorang yang menguasai ilmu alat dengan sangat baikpun bila tidak dipergunakan untuk membuka gerbang keilmuan Islam, maka rasanya mustahil ia akan menjadi seorang yang paham dalam ilmuilmu agama (faqih). 26 Ilmu nahwu dan shorof disebut ilmu alat karena keduanya merupakan alat (yang bisa menghantarkan pemiliknya) untuk membaca dan memahami kitab-kitab berbahasa Arab yang notabene ditulis tanpa tanda baca dan harakat.


19 akan semakin mumpuni. Maka tidak mengherankan bila K.H. Abdul Mughni tergolong ke dalam ulama yang memiliki banyak kitab dan suka membeli kitab. Keduanya terdorong karena hobi beliau membaca dan menelaah kitab. Bila ada kitab yang dianggap penting dan banyak memuat jawaban atas permasalahan fikih, misalkan, maka beliau akan berusaha membelinya sekuat tenaga. Bahkan pernah beliau meminta bantuan seorang muhsinin, yakni H. Madinah, Kaliabang Nangka, untuk membeli Kitab Majmu’ Syaroh al-Muhadzdzab27 yang harganya hampir 2 juta rupiah. Untuk ukuran saat itu, dan mengingat pekerjaan beliau yang hanya seorang guru biasa, tentu saja kitab dengan harga sebesar itu merupakan harga yang tidak terjangkau. Kegiatan menelaah kitab-kitab tersebut terus berlanjut hingga usia senja beliau. Hal ini terlihat dari setiap kali kami datang akan mengaji, maka beliau terlihat sudah menelaah beberapa kitab. Kemudian beliau akhiri setelah kami datang dan masuk menemui beliau untuk memulai pengajian. Beliau sungguh memegang pesan dari sang guru, K.H. Muchtar Thobroni untuk banyak muthola’ah kitab. 27 Karya Imam an-Nawawi terdiri atas 27 jilid terbitan Dar Kutub alIlmiyyah (Beirut, Lebanon) dan 22 jilid dalam terbitan Dar al-Hadits (Mesir). Kitab ini merupakan salah satu kitab pokok dalam Madzhab asy-Syafi’i yang bukan saja menguraikan fiqh Madzhab asy-Syafi’i namun juga membandingkan dengan madzhab-madzhab lain.


20 Sumber foto: Dokumen keluarga Gambar 2. Sanad keilmuan K.H. Abdul Mughni dari K.H. Muhajirin Amsar Kemampuan dan ilmu beliau pun diakui oleh organisasi keagamaan sekelas Nahdlatul Ulama. Hal ini terbukti dari beberapa kali beliau disertakan dalam kegiatan bahtsul masail (pembahasan masalah) yang diadakan setiap kali organisasi tersebut menggelar muktamar. Beliau ditunjuk oleh PCNU Kota Bekasi untuk mewakili PCNU Kota Bekasi duduk dalam majelis bahtsul matsail. Dan kita tentunya sudah tahu dan paham, bahwa ulama-ulama yang duduk di majelis bahtsul masail bukanlah ulama-ulama sembarangan, melainkan ulama-


21 ulama yang telah diakui tingkat kemapanan ilmunya, terutama dalam penguasaan teks-teks kitab klasik. Sebagaimana dikatakan oleh Ahmad Muntaha (2017):28 Dalam tradisi kajian hukum Islam NU yang akrab disebut bahtsul masail, terdapat dewan perumus yang bertugas mengarahkan alur pembahasan dan kesimpulan rumusan hukum. Tugas perumus yang juga merupakan amanah ilmiah ini tentu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Sebab di dalamnya terdapat proses menganalisis kasus-kasus aktual yang belum ditemukan jawabannya dalam kitab kuning, sehingga harus menempuh berbagai metode seperti ilhaqul masail bi nazhairiha (menyamakan hukum permasalahan-permasalahan baru dengan hukum permasalahan-permasalahan yang sudah ada jawabannya dalam kitab-kitab otoritatif29). Dalam hal 28 Ahmad Muntaha AM (2017), 4 Syarat Perumus Bahtsul Masail. Dalam aswajamuda.com. Dapat diakses dalam: https://aswajamuda.com/syarat-perumus-bahtsul-masail/ 29 Menurut informasi beliau kepada kami, kitab-kitab otoritatif yang banyak memuat jawaban atas permasalahan yang dibahas dalam bahtsul matsail di antaranya adalah Kitab Hasyiata al-Qolyubi wa Umairoh ‘ala Kanz ar-Roghibin karya dua orang ulama, yaitu Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qalyubi (w. 1069 H) dan Ahmad al-Burullusi al-Mishri yang dikenal dengan panggilan al-Umairah (w. 907 H), Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala Syarhi Manhaj ath-Thullab karya Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Kanzu ar-Roghibin Syaroh Minhaju athTholibin karya Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Tuhfah al-Muhtaj Syarhu Minhaj karya Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), Nihayah alMuhtaj ila asy-Syarhi Minhaj karya ar-Ramli (w. 1004 H), dan Hawasyi asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj karya asy-Syarwani (w. 1301 H).


22 ini, pelaku ilhaqul masail, menurut Syaikh Muhammad Hasan Hito, harus memenuhi empat syarat berikut. 1. Faqih an-Nafs: mempunyai bakat dan talenta alami dalam memahami berbagai permasalahan fikih. 2. Secara faktual menguasai berbagai permasalahan fikih dan punya pengalaman luas di dalamnya. 3. Mampu menyajikan berbagai permasalahan fikih, baik permasalahan-permasalahan yang punya banyak kesamaan atau yang hanya punya satu kesamaan, serta mampu menjelaskan berbagai perbedaan dan faktor-faktor yang mencegah untuk menyamakannya. 4. Mampu menyajikan berbagai cabang/sub-sub fikih di luar kepala. Dengan menempatkan K.H. Abdul Mughni dalam majelis bahtsul masail ini, semakin jelaslah kedudukan, keilmuan, serta keulamaan K.H. Abdul Mughni di lingkungan NU kota Bekasi pada khususnya, dan di tengah-tengah masyarakat Bekasi pada umumnya. Bentuk pengakuan lainnya atas kapabilitas beliau sebagai salah seorang ulama di Bekasi, beliau tercatat sebagai pengurus di organisasi Islam terbesar di dunia tersebut. beliau pernah menjabat Wakil Katib dan ketua Dewan Syuro NU Kota Bekasi. Untuk masa khidmat 2018- 2023, beliau duduk sebagai dewan Mustasyar PCNU Kota Selain tentu saja kitab-kitab pokok seperti al-Majmu’ Syaroh Muhadzdzab karya an-Nawawi (w. 676 H).


23 Bekasi bersama Dr. K.H. Zamakhsyari Abdul Majid, M.A, K.H. Mohammad Noor Tambih, Dr. K.H. Abdul Majid Khon, M.A, dan beberapa ulama lainnya.30 Dan puncaknya adalah mendapat gelar kehormatan Doktor Honoris Causa (Dr. H.C)31 dari Hawai University, Amerika Serikat pada tahun 2006, tapi beliau tidak sempat diwisuda. D. Semangat Menyebarkan Ilmu Sebagaimana telah kita singgung di atas, bahwa K.H. Abdul Mughni adalah tipikal ulama yang sangat menggemari kegiatan ilmiah berupa pencarian ilmu. Dan dengan kecerdasan, keuletan, dan keberanian beliau dalam menuntut ilmu–dan di atas itu semua adalah kehendak Alloh yang menghendaki agar beliau mendapatkan kebaikan, sebagaimana sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, niscaya Alloh beri ia pemahaman dalam bidang agama”32–beliau pun 30 Untuk lengkapnya struktur pengurus PCNU Kota Bekasi masa khidmat 2018-2023 dapat diakses dalam: https://nubekasi.id/p/inilahsusunan-pengurus-pcnu-kota-bekasi-2018-2023/ 31 Mengutip Permendikbud No. 21 tahun 2013 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan, pasal 1 angka 2, “Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, dan/atau berjasa dalam bidang kemanusiaan dan/atau kemasyarakatan.” 32 HR. al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: al-‘Ilm, Bab: Man Yuridillahu bihi Khoiron Yufaqqihhu fi ad-Diin, hlm. 35, hadits no. 71 dan Muslim dalam Shohihnya, Kitab: az-Zakaah, bab: an-nahyi ‘anil Mas-alah, hlm. 311, hadits no. 1037. Hadits Shohih.


24 menggapai dan merasakan manisnya buah-buah ilmu. Dan setelah beliau memiliki ilmu tersebut, beliau pun tidak segan-segan untuk berbagi dengan yang lain, turut mencerdaskan kehidupan umat sesuai dengan kemampuan yang beliau miliki. Dan membaktikan apa yang beliau miliki demi ketinggian Islam dan kaum Muslimin. Selama kami mengenal beliau, banyak karakter utama yang beliau miliki. Salah satu karakter tersebut adalah mudah berbagi. Yang beliau bagi ini bukan saja harta beliau, namun juga ilmu yang beliau miliki. Terkait dengan harta, dalam beberapa kali kesempatan kami mengaji dengan beliau dan kebetulan ada yang datang dan membutuhkan bantuan, entah para tetangga maupun para peminta-minta, beliau senantiasa memenuhi hajat mereka dengan memberikan bantuan semampunya. Pada suatu kali beliau menyebutkan alasannya, yaitu karena beliau berharap doa yang diucapkan oleh malaikat yang satu dan berlindung dari doa malaikat yang satu lagi. Kemudian beliau menyebutkan sebuah hadits kepada kami: الْ ُ ِح ُ ْصب ي ٍ م ْ َو ي ْ ن ِ ا م َ م َّم ُ َلله ا: ا َ ُد ُُهَ ُل أَح ْ ُقو َ فَ ي ِزَالنِ ْ ن َ ي لَ َكانِ َ َِّال م إ ِ ه ْ ي ِ ف ُ اد َ ب ِ ع َف َلَ ِس ًكا ت ْع ِط ُُمْ ُ َّم أَ َلله : ا ُ ُل اْْل َخر ْ ُقو َ ي َ َخلًَفا. و ًقا ِ ْف ن ُ ْع ِط م أَ “Tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Alloh berikanlah ganti bagi


25 orang yang berinfak.’ Dan yang lainnya berdoa, ‘Ya Alloh, hancurkanlah (harta) orang yang kikir.’”33 Ada dua pelajaran yang dapat kami tangkap dari sikap beliau ini. Pertama, beliau secara tidak langsung mengajarkan kepada kami, murid-murid beliau, untuk gemar bersedekah dan berinfak. Kedua, sedapat mungkin dalam beramal senantiasa dilandasi dengan niat yang ikhlas dan disertai dasar atau dalil, baik dalil itu dari alQur’an, al-Hadits, maupun yang lainnya. Terkait dengan ilmu, sikap kedermawanan beliau setidaknya terlihat dalam dua hal, yaitu kemauan serta perjuangan beliau dalam membina majelis taklim dalam hampir seluruh masa kehidupan beliau; dan sikap terbuka beliau kepada siapa pun yang datang untuk menuntut ilmu, meminta fatwa dan membutuhkan nasihat. Bahkan bisa kita sebutkan yang ketiga, yaitu kesediaan beliau untuk menjadi “orang tua” atau “orang yang dituakan” dalam segala hajat masyarakat yang ada di kampung beliau. a. Membina Majelis Taklim Sebagai seorang ulama yang memiliki penguasaan terhadap ilmu-ilmu keislaman, khususnya tata bahasa 33 HR. al-Bukhori dalam Shohihnya, Kitab: az-Zakaah, Bab: Qouluhu Ta’ala (Fa Amma man A’thoo wattaqaa wa Shoddaqa bil Husnaa Fasanuyassiruhuu lil Yusraa wa Ammaa man Bakhila was Taghnaa wa Kadzdzaba bih Husnaa Fasanuyassiruhuu lil ‘Usraa) [al-Lail: 5-10], hlm. 238, hadits no. 1441 dan Muslim dalam Shohihnya, Kitab: az-Zakaah, Bab: Fi al-Munfiq wa al-Mumsik, hlm. 305, hadits no. 1010. Hadits Shohih.


26 Arab, yang mumpuni sudah barang tentu K.H. Abdul Mughni menjadi “incaran” para pencari ilmu. Tentunya pencari ilmu yang dimaksud adalah pencari ilmu yang bersih, yang mencari guru dengan sanad (jalur) keilmuan yang jelas, dan bersumber langsung dari kitab-kitab mu’tamad para ulama. Bukan pencari ilmu yang mudah terpukau dengan gaya retorika semata namun kosong dari referensi keilmuan yang sebenarnya serta tiada memiliki sanad keilmuan sama sekali, kecuali sanad tersebut hanya sebatas buku-buku, kutipan-kutipan di google, serta cara instan lainnya yang tidak saja dangkal tetapi juga rapuh. Ada dua fakta terkait para penuntut ilmu ini. Pertama, mereka yang datang langsung ke kediaman beliau untuk mengaji. Kedua, beliau sendiri yang datang ke majelismajelis ilmu (majelis taklim). Mengenai fakta pertama, beliau adalah tipikal kyai yang mudah ditemui, gampang diajak berkomunikasi, dan sudah barang tentu senantiasa menyediakan waktunya untuk para penuntut ilmu. Beliau selalu ada untuk mereka. Para penuntut ilmu yang tertarik mengaji kepada beliau tinggal datang saja untuk meminta waktu beliau guna mengajarkan ilmunya. Kemudian beliau secara demokratis akan menanyakan kitab apa yang mau dipelajari. Setelah disetujui, maka kegiatan pengajian pun akan segera berjalan pada waktu-waktu yang disepakati. Itulah sebabnya, banyak penuntut ilmu yang datang ke kediaman beliau, mereka dibagi dalam hari-hari belajar yang berbeda dengan kitab yang berbeda pula. Perbedaan kitab yang diajarkan ini sangat tergantung pada kesiapan dan kesanggupan penuntut ilmu. Bagi


27 mereka yang datang dari latar belakang pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang memang terkenal mengajarkan tata bahasa Arab dengan baik, maka dapat memilih dan memulai dari kitab-kitab tingkatan pertengahan sampai tingkat tinggi. Sedangkan yang datang dengan “kepala kosong” akan memulai dari awal serta dasar. Sepengetahuan penulis, dikediaman beliau yang asri, para penuntut ilmu yang belajar kepada beliau mempelajari kitab yang berbeda-beda. Dalam bentuk halaqoh-halaqoh ada yang mempelajari Mukhtashar Jiddan, al-Kawaakib ad-Duriyyah, Alfiyah ibnu Malik, Qotrun Nadaa dalam ilmu nahwu; Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Hasyiyah alBaijuri, Kifayatul Akhyar, al-Iqna’, al-Muhadzdzab dalam bidang fiqh; Risalatul Mu’awwanah dalam akhlak, Ta’lim Muta’allim dalam akhlak menuntut ilmu. Semua diajarkan dalam setiap pertemuan pada waktu-waktu yang berbeda, sesuai dengan permintaan dan kesiapan para penuntut ilmu. Mengenai fakta kedua, beliau mendatangi majelismajelis taklim yang berada di masjid-masjid atau musholla-musholla yang tersebar di kampung Rawa Bugel dan kampung-kampung sekitarnya. Saat kyai atau ustad lain lebih menganderungi pola ceramah bebas yang kadangkala dihiasi gelak tawa, beliau lebih memilih menghidupkan majelis-majelis taklim sebagai basis pengajaran ilmu beliau. Maka tak heran bila majelis taklim tempat beliau menyebarkan ilmunya berjumlah cukup banyak. Dan kegiatan serta kepedulian beliau terhadap


28 majelis taklim ini telah ditekuni semenjak beliau masih muda. Fakta lain, selain menyebarkan ilmu beliau lewat majelis-majelis taklim yang beliau bina dan asuh, beliau juga perah beberapa kali diminta untuk memberikan pengajaran bagi pegawai-pegawai di lingkungan Departemen Agama, khususnya yang bernaung dalam Kantor Urusan Agama (KUA). Dengan senang hati beliau menerima dan menyanggupinya, karena pada prinsipnya, siapapun yang membutuhkan sentuhan beliau, baik sentuhan ilmu maupun perhatian yang lainnya maka beliau akan dengan ikhlas menyambut uluran tangan tersebut. Berbagi ilmu dan pengalaman kepada mereka yang membutuhkan. Semua keputusan ini bukan tanpa dasar, namun sebaliknya ia memiliki landasan serta dasar yang sangat kuat. Dalam sebuah kesempatan beliau menyebutkan alasan sikap beliau ini, yaitu beliau tidak ingin termasuk dalam golongan orang-orang yang menyembunyikan ilmu. Kemudian beliau mengutip sebuah hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam berikut. ٍر َ ْ َن ن ِ م امٍ َ ج ِ ل ِ ب ِ ة َ ام َ ي ِ الْق َ م ْ َو ي َ م أُ ْْلِ ُ ه َ َم ُُثَّ َكت ُ ه َ م ِ ل َ ْلٍم ع ْ عِ َن ع َ ِل ئ ُ ْ س َن م “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia mengetahuinya, namun dia menyembunyikannya, maka dia akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat.”34 34 HR. at-Timidzi dalam Sunannya, Kitab: al-‘Ilm, Bab: Maa Jaa-a fi Kitmaani al-‘Ilm, hlm. 495, hadits no. 2649; Abu Daud dalam Sunannya, Kitab: al-‘Ilm, Bab: Karaahiyati Man’i al-‘Ilm, hlm. 484, hadits no. 3658;


29 Daftar Majelis Taklim Asuhan K.H. Abdul Mughni No Nama Majelis Taklim (MT) Alamat 1 MT. Assu’ada Kp. Rawa Bugel RT.03/03 Marga Mulya Bekasi Utara 2 MT. Bidayatul Hidayah Kp. Rawa Bugel TR.07/26 Harapan Jaya Bekasi Utara 3 MT. Al-Muhtadin Kp. Rawa Bugel RT.03/10 Marga Mulya Bekasi Utara 4 MT. Al-Hikmah Kp. Rawa Bugel RT.03/10 Kel. Harapan Mulya Kec. Medan Satria Kota Bekasi 5 MT. Al-Ikhlas Kp. Rawa Bugel RT.05/03 Marga Mulya Bekasi Utara 6 MT. Nurul Yaqin Gg. Lori Kaliabang Tengah Bekasi Utara 7 MT. Nurul Yaqin Kp. Kaliabang Nangka RT.02/06 Kel. Perwira Kec. Bekasi Utara 8 MT. Masjid Darul Mu’minin Kaliabang Nangka Perwira Bekasi Utara 9 MT. Masjid Nurul Yaqin Kp. Bulak Macan Harapan Jaya Bekasi Utara Kepedulian beliau terhadap kehidupan majelis taklim ini terlihat dari sikap serta keputusan beliau untuk meninggalkan bangku perkuliahan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Sebuah lembaga milik pemerintah Saudi Arabia dan di bawah naungan Universitas Islam Muhammad bin Su’ud Riyadh, Ibnu Majah dalam Sunannya, Bab: Man Suila ‘an ‘Ilmin Fakatamahu, hlm. 40, hadits no. 261, 264, 265, dan 266. Hadits Shohih.


30 yang diperebutkan oleh ribuan santri serta alumni pondok pesantren se-Indonesia. Jam pembelajaran di LIPIA yang demikian ketat dan padat benar-benar membuat beliau sibuk luar biasa. Boleh dikata, waktu beliau habis terkuras untuk mengikuti segala kegiatan serta pembelajaran di lembaga berbahasa Arab tersebut. Tak jarang, kegiatan majelis taklim harus libur karena beliau terhalang hadir. Mengetahui dan menyadari hal tersebut beliau dihadapkan pada dua pilihan sulit. Terus melanjutkan studi di LIPIA namun majelis taklim bubar, atau memilih menghidupkan majelis taklim tapi studi beliau di LIPIA justru yang akan putus. Setelah istikhoroh, meminta petunjuk Alloh, maka dengan mantap beliau tinggalkan bangku perkuliahan beliau di LIPIA, beliau memilih mempertahankan dan menghidupkan majelis-majelis taklim. Padahal bila beliau lanjutkan, niscaya beliau akan mengantongi gelar yang cukup mentereng dari lembaga pendidikan milik kerajaan Arab Saudi itu. Namun beliau lebih memilih kepentingan umat daripada kepentingan beliau sendiri. Sebuah teladan yang langka, apalagi saat ini, dimana orang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang lain. Lebih suka mengejar gelar dan titel ketimbang memberikan kehidupan kepada ruh dan jiwa. Beliau konsisten dengan pilihan ini. Menjaga dan menghidupkan majelis-majelis taklim yang berada di pelosok-pelosok kampung. Aktivitas ini beliau lakukan


Click to View FlipBook Version