KANGENNanTi kAMuIni
Naisya Rosy PratiwiIntan FitrasariTalitha Valda Athalia
Zine ini kami susun sebagai kumpulan cerita pendek yangdiambil dari pengalaman sehari-hari yang sederhana, tetapiberkesan. Melalui Nanti Kamu Kangen Ini, kami mencobamenghadirkan berbagai cerita yang dekat dengankehidupan, mulai dari kejadian lucu, momen yang tidakterduga, hingga pengalaman kecil yang tanpa disadarimemberikan pelajaran.Selain sebagai bacaan ringan, zine ini juga merupakanbagian dari proses belajar kami dalam menyunting tulisan.Dalam proses tersebut, kami belajar untuk lebih teliti dalammemperbaiki kesalahan, menyusun kalimat dengan lebihjelas, serta membuat cerita agar lebih nyaman dibaca.Kami menyadari bahwa zine ini masih memiliki kekurangan.Namun, kami berharap setiap cerita yang ada di dalamnyatetap bisa dinikmati dan memberikan kesan tersendiri bagipembaca.Semoga zine ini dapat menjadi bacaan yang santai,menghibur, dan mungkin sedikit mengingatkan padapengalaman-pengalaman yang pernah dirasakan.Kalau suatu hari nanti kamu keinget salah satu cerita di sini,berarti zine ini berhasil sampai ke kamu.PrakataKarawang, 26 April 2026Penulis
BERBURU DISKONEFEK SAMPING HORRORSALAH KOSTUMBUKAN BANGUN PAGIBONEKAKU HIDUPCEK DULUMINGGU HARI SIAL KUBALON MENYESATKANMANIAK PINKDaftar Isi147111620252730PAKATADAFTAR ISI
SelamatMembaca
Waktu kecil, aku sering diajak ibuku belanja di mall saatakhir tahun, momen ketika banyak toko melakukan cucigudang dan diskon besar-besaran. Aku ingat sekalisuasananya yang penuh, sesak, dan ramai. Sopan santunseolah lenyap di sana. Baik muda maupun tua, tidak satupun mau mengalah, saling berebut barang yang sebenarnyatidak terlalu diperlukan, namun karena diskon besar,akhirnya dibeli juga.BerburuDiskon BelanjaKarya: NayaKetika menginjak usia 18 tahun, aku sudah terbiasabepergian sendiri dan rasa rindu itu muncul. Aku rindumomen ikut ibuku belanja di akhir tahun, jadi tepat di malamtahun baru, aku pergi ke mall dekat rumah. Sebuah mallyang dari luar tampak hampir hancur, wajar saja, karena mallini sudah berdiri lebih dari 40 tahun, dua kali usiaku punbelum menandinginya. Namun seperti kata pepatah, don'tjudge a book by its cover, walaupun luarnya tampak hampirroboh, bagian dalamnya masih sangat bagus dan penuhtoko-toko cantik.1
Sebuah toko pakaian menarik perhatianku dengan posterbertuliskan \"Buy 1 Get 1\". Siapa yang tidak berbinar melihatdiskon seapik itu? aku hanya membayar separuh harga?Dengan semangat, aku masuk ke toko tersebut. Namunanehnya, toko ini sangat sepi. Hanya ada aku. Untuk sebuahdiskon yang begitu apik, kesunyian ini terasa janggal.2Akan tetapi, aku sudah terbutakan oleh pakaian-pakaiancantik yang tergantung di sana, sehingga aku tidak lagipeduli dengan kejanggalan itu. Aku mengambil dua potongdari setiap section, totalnya empat baju dan dua celana.Kasir toko itu tersenyum senang melihatku menghampirinyadengan setumpuk pakaian. Pasti ia bersorak dalam hati,akhirnya ada malaikat berwujud manusia yang mau mampirke sini.Awalnya kami sama-sama tersenyum, namun senyumkuhilang ketika kasir itu menyebutkan nominal belanjaanku.\"Totalnya satu juta dua ratus tiga puluh ribu. Pembayarancash atau transfer, Kak?\"Tubuhku membeku. Pandanganku lurus ke layar yangmenampilkan harga tiap pakaian yang kupilih. Dengansenyum canggung, aku bertanya,\"Um… Mbak… bukannya di depan ada tulisan beli satu gratissatu, ya?\" ucapku berusaha tenang.Mbak kasir itu tersenyum lalu menjawab dengan ramah,\"Oh, soal poster di depan toko ya? Sepertinya adakesalahpahaman di sini. Tulisannya 'Buy 1 Get 1', artinya apa,coba?\"Seolah sedang bermain kuis berhadiah, aku cobamengartikannya.\"Beli satu gratis satu?\"
3Mbak kasir itu menggeleng,\"Salah. Artinya, beli satu, dapat satu. Jadi tidak ada diskon.Kakak beli enam pakaian, ya dapat enam pakaian. Begitu,Kak.\"Mendengar jawaban itu, aku sadar ia tidak sepenuh-nyasalah. Seharusnya aku lebih teliti dan tidak sembaranganmenafsirkan sebuah kalimat berdasarkan asumsi sendiri.Itulah pentingnya pemahaman dua arah, apa yang kitapikirkan belum tentu sesuai dengan maksud sebenarnya.Akhirnya, dengan perasaan kesal, aku membayar totalbelanjaan menggunakan uang tabungan yang tadinya inginkupakai untuk jalan-jalan hari Minggu bersama temanteman. Maka di hari Minggu itu, aku hanya bisa rebahansambil meratapi nasib uangku yang raib demi beberapahelai pakaian, dan menonton Instagram Story temantemanku di kebun binatang tanpaku.Drrrrt… drrrrt…\"Teman-temanmu mengalami kecelakaan saat pulang darikebun binatang. Mamah lagi di rumah sakit X. Kalau maumenyusul ke sini, mamah titip belikan parsel buah ya.\"Sebuah pesan dari ibuku masuk ke ponselku, membuattubuhku menegang antara kaget dan tidak percaya. Pesanitu bertuliskan:Wah… sebuah plot twist yang sungguh tidak terduga.Toko \"penipu\" itu secara tidak langsung menyelamatkankudari petaka. Seandainya aku tidak kena tipu saat itu, akupasti ikut jalan-jalan hari ini, dan aku pun bisa menjadi salahsatu korban kecelakaan tersebut.Entah ini keberuntungan atau kesialan, namun aku merasaagak bersyukur.***
Setiap orang pasti punya hobi atau kegemaran, begitupula aku. Hobiku adalah menonton film, terutama film horor,karena aku suka sensasi menegangkan dan deg-degannya.Dulu, zaman masih nonton pakai kaset, aku mengoleksibanyak sekali kaset film horor yang kalau dijejerkan, bisajadi pagar yang mengelilingi gedung DPR.Efek SampingNonton HororKarya: Naya4Suka bukan berarti tidak takut. Tiap kali selesai menonton film horor, aku suka merasa paranoid melakukanhal-hal yang menjadi adegan horor di film, misalnyamembuka mata saat keramas, mengintip kolong tempattidur, atau mendengar ketukan di jendela. Setiap gerakankecil dan suara kecil dari luar pun bisa membuatku parno.Namun, aku punya satu aturan yang tidak pernahkulanggar: tidak menonton horor di malam hari. Biasanyaaku menonton saat pagi atau siang hari ketika cuaca cerah,karena menurutku itu bisa mengurangi rasa takut saatmenonton.
5Turun dari angkot, aku harus melewati jalanan sepi yangcukup panjang, dengan penerangan terbatas dan rumahrumah warga yang sangat tertutup. Awalnya aku fokus mainHP sambil mengalihkan rasa takut, efek terlalu seringnonton film horor, tapi entah kenapa berbagai skenariohoror terus berputar di kepalaku. Tepat saat aku berusahamenenangkan diri, aku merasakan seseorang mengikutikudari belakang. Jantungku berdebar kencang, bahkanmungkin bisa dijadikan pembangkit listrik tenaga jantung.Suatu hari, entah aku kesambet apa, aku menyetujuiajakan temanku untuk menonton film horor pukul tujuhmalam. Aku setuju karena film yang akan kami tontonadalah horor thriller tentang pembunuh berantai, bukanhoror mistis soal hantu dan sejenisnya. Kami sangatmenikmati film itu; ratingnya 10/10, deg-degannya dapet,alur ceritanya dapet, sinematografinya pun dapet. Setelahselesai, kami langsung berpisah. Temanku dijemputkekasihnya, sedangkan aku naik angkot karena jarakbioskop ke rumahku tidak terlalu jauh.Kubuka kamera dan kuperiksa arah belakang lewat layar.Tampak seorang pria berjaket hitam, bermasker hitam, danbercelana jeans berjalan di belakangku. Aku menggenggamponsel erat-erat dan mempercepat langkah. Sialnya, pria ituikut mempercepat langkah, bahkan hampir berlarimengejarku. Aku pun berlari sekuat tenaga. Pria itu berteriaksesuatu, tapi aku sudah terlanjur panik.Di tengah pelarian, tali sepatuku lepas dan membuatkutersandung. Tubuhku jatuh ke depan. Rasa sakitnya kalahdengan rasa takutku, aku sampai menangis keraskarenanya. Pria itu mendekat dengan panik dan menyentuhpundakku.
6Pria itu menurunkan maskernya dan tertawa.\"Anu... makasih, Mas. Maaf ya, saya lari karena kira Masnyaorang jahat.\"\"Maaf ya kalau bikin takut, saya pakai masker karena lagiflu.\"Ia mengulurkan tangan dan membantuku berdiri, lalumenawarkan untuk mengantarku pulang. Aku menolakkarena rasa malu masih menyelimutiku. Setelah berterimakasih sekali lagi, aku berjalan tertatih-tatih menuju rumah.Sejak hari itu, aku benar-benar menolak menonton film horormaupun thriller di malam hari.Aku membeku dan meraba sisi tubuhku. Lah, iya, taskumemang tidak ada. Dengan wajah memerah menahan maludan nyeri, aku mengambil tasku dari pria itu.\"Mbak nggak apa-apa? Kenapa lari, Mbak? Saya maungembaliin tas Mbak, tadi jatuh.\" katanya sambilmengulurkan tasku.***
Reuni selalu terdengar menyenangkan saat masihsebatas rencana. Orang-orang membayangkannyasebagai pertemuan hangat, penuh tawa, dan ceritatentang masa lalu. Aku juga membayangkannyabegitu. Aku hanya ingin datang, bertemu teman-temanlama, lalu pulang sambil membawa sedikit rasa rindupada masa SMK. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Hari itu, aku datang bukan sebagai tamu biasa,melainkan sebagai pusat perhatian yang tidak sengaja.Salah KostumKarya: Naya7Semuanya bermula dari pesan di grup angkatan tigahari sebelum acara. Pesannya singkat. Reuni akandiadakan di aula sekolah, dengan tema ”kembali kemasa SMK”. Di akhir pesan itu ada tambahan kalimat,“Pakai outfit yang berkesan, ya.” Kalimat itu sederhana,tetapi entah bagaimana aku menafsirkannya terlalujauh.Sebagai alumni Rekayasa Perangkat Lunak, masaSMK bagiku identik dengan laboratorium komputer,kabel yang kusut, keyboard yang beberapa hurufnyasudah hilang, dan tugas coding yang membuat tidurterasa seperti hadiah mahal.
8Kabel LAN bekas kulilitkan seperti aksesori. Sebuahkeyboard rusak kugantungkan di punggung. Di kepala,kupasang bando bertuliskan 404 Not Found yang kubuatsendiri dengan spidol hitam. Bahkan sebuah mouse lama kutempelkan ke saku baju agar penampilanku terasa lebihlengkap. Saat berdiri di depan cermin, aku tersenyum puas.Dalam pikiranku, teman-temanku pasti akan melihatpenampilanku sebagai sesuatu yang lucu, unik, dan sangatRPL.Pagi harinya, aku datang ke aula sekolah dengan penuhpercaya diri. Namun, baru beberapa langkah masuk kehalaman, langkahku mulai melambat. Teman-temankuternyata datang dengan cara yang jauh lebih sederhana.Ada yang memakai seragam putih abu-abu lama mereka.Ada yang mengenakan jaket angkatan. Ada juga yangcukup datang dengan pakaian rapi biasa. Semuanya tampakwajar, sopan, dan cocok untuk suasana reuni. Sementaraaku, berdiri di sana seperti toko servis komputer yangmendadak punya kaki.Orang pertama yang melihatku adalah Rafki. Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki selama beberapa detik,lalu tertawa begitu keras sampai membungkuk,Malam sebelum reuni, aku membuka lemari danmembongkar kotak barang lama. Aku memilih kemeja putihdan rok hitam seperti seragam sekolah dulu. Setelah itu, akumulai menambahkan detail yang menurutku kreatif.“Naya, itu keyboard beneran?”Aku mengangguk pelan,“Iya. Biar konsepnya kuat.”Rafki menatapku lagi, kali ini sambil tertawa lebih keras,“Konsep apa? Korban tugas komjar yang di tolak pak baharkarena kode errornya 145 baris?”
9“Astaga, Naya kelihatan seperti pesan error yang keluar darilayar.”Aku mencoba tersenyum, walaupun rasanya pipiku mulaipanas karena malu. Dengan langkah pelan, aku mendekatimeja panitia.“Sebenarnya dress code acara ini seperti apa, sih?” tanyakulirih.Beberapa teman yang mendengar langsung menoleh.Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang hampir sama.Bingung, terkejut, lalu tertawa. Dalam hitungan detik, akusudah menjadi tontonan yang sangat menarik. Salah satutemanku bahkan berkata,Salah satu panitia menatapku, lalu tersenyum sopan,“Maksudnya outfit yang berkesan itu bebas, Nay. Yangpenting mengingatkan ke masa SMK. Tidak harus sampaisekreatif ini juga.”Sekreatif ini juga. Kalimat itu terdengar halus, tetapicukup untuk membuatku ingin memesan ojek saat itu juga.Aku sudah membayangkan pulang diam-diam, masukkamar, lalu menganggap reuni itu tidak pernah terjadi.Namun, keadaan justru berjalan di luar dugaanku. Semakinlama, teman-temanku malah semakin menikmatikekonyolan itu. Mereka mengajakku foto satu per satu.Bahkan ada yang bilang aku pantas berdiri di tengah saatsesi dokumentasi karena penampilanku paling mudahdikenali.Saat pembawa acara membuka sesi perkenalan, iaberkata,“Kalau ada penghargaan alumni paling total hari ini,kayaknya pemenangnya sudah jelas.”
Di perjalanan pulang, rasa malu itu masih ada. Namun,di balik semua itu, aku sadar bahwa sesuatu tidak harusberjalan sempurna untuk menjadi berkesan. Kadang justrukesalahan kecil itulah yang membuat sebuah pertemuanterasa hidup. Hari itu, aku memang salah kostum. Tetapisetidaknya, di antara semua alumni yang hadir, akulah yangpaling sulit dilupakan.10Kalian pikir sampai situ saja momen memalukannya?kalian salah. Puncak paling memalukannya adalah ketikaguru komjar kami, Pak Bahar, datang. Beliau menatapkucukup lama, lalu menggeleng pelan,Satu aula langsung tertawa, termasuk aku yang tertawacanggung dengan pasrah.“Naya, Naya... dari dulu kamu memang bug yang palingsulit diperbaiki.”Ruangan langsung pecah oleh tawa. Untuk pertamakalinya sejak datang, aku benar-benar ikut tertawa tanpamenahan diri.At least, di antara semua alumni yang hadir, akulah yangpaling sulit dilupakan, anjay.***
Setiap orang pasti memiliki pengalaman pertama yangtidak mudah, meskipun terlihat sederhana. Ada rasa takut,ragu, bahkan sedikit malu saat mengalaminya. Namun, darisitulah, kita belajar banyak hal tanpa disadariBukanBangun PagiKarya: IntanSaat aku masih kecil, sekitar usia delapan tahun, ada satupengalaman yang cukup menguras tenaga, emosi, bahkansedikit harga diri yaitu belajar naik sepeda. Di lingkunganrumah, anak-anak lain sudah terlihat mahir. Setiap sore, akuhanya menjadi penonton setia. Duduk di pinggir jalan sambilberpura-pura santai, padahal dalam hati merasa iri setengahmati melihat mereka bisa melaju kencang, berbelok tanpajatuh, bahkan ada yang sengaja melepas tangan demiterlihat lebih keren.11
12Sementara aku? sepedaku saja masih menggunakanroda empat. Padahal warnanya biru-hitam, khas sepedaanak laki-laki, keren banget kan? Minusnya belum jagongebut aja.“Mama pegang ya?” tanyaku, memastikan semuanyaaman, termasuk masa depan lututku.“Iya, Mama pegang,” jawab Mama dengan santai. Terlalusantai, bahkan terasa seperti ini bukan situasi yangberpotensi berakhir dengan tragedi kecil.Aku mulai mengayuh dengan sangat pelan. Jika adasiput lewat, kemungkinan besar ia bisa menyalipku sambilmenoleh dua kali.Satu kayuhan. Aman.Dua kayuhan. Mulai goyang.Tiga kayuhan “MAAAA!”BRUK.Aku terjatuh dengan posisi yang, jika dilihat orang lain,mungkin disangka sedang sujud syukur, padahalsebenarnya sedang mencari harga diri yang jatuh lebihdulu.“Aduh, Ma… sakit,” Kataku setengah dramatis, setengahberharap mendapat es krim, apalagi saat itu ada penjual espotong lewat dan sempat kulihat dengan tatapan agak siniskarena aku hampir menabrak gerobaknya.Mama mendekat, melihat lututku, lalu bilang,“Baru jugasekali jatuh.”Aku dalam hati: Ma, ini bukan promo ‘jatuh 10 kali gratis1’ ya…
13“Tapi sakit,” protesku.Mama hanya menjawab,“Kalau jatuh, ya bangun lagi.”Aku tidak tahu apakah itu motivasi atau sekadar caraMama menghemat tenaga. Namun, daripada terlihat lemah,aku mencoba lagi. Walaupun jujur saja, saat itu aku lebihtakut jatuh lagi dibandingkan menghadapi ulanganmatematika.Aku kembali naik sepeda dengan sisa keberanian yangmungkin tinggal lima persen. Kali ini aku berusaha fokus kedepan. Katanya, itu bisa membantu menjagakeseimbangan. Meskipun kenyataannya, melihat ke depan,samping, atau bahkan ke belakang, hasilnya tetap sama:goyah.Aku mulai mengayuh lagi.Pelan… tapi stabil.“Bisaaa!” jawab Mama.“Ma! Aku bisa!” teriakku dengan bangga, sudah siapmenerima penghargaan anak paling hebat sedunia.Rasa percaya diriku meningkat. Dalam bayanganku, akusudah siap mengikuti balapan sepeda kelas dunia versikomplek. Bahkan sempat terlintas dipikiranku adeganwawancara,“Apa rahasia kesuksesan Anda?” dan akumenjawab,“Latihan dan doa.” Padahal, jarak yangkutempuh baru sekitar lima meter.Sampai aku sadar satu hal penting.Aku nengok sedikit.Suara Mama terdengar semakin jauh.
14Dan di situlah aku menemukan fakta yang lebihmengejutkan! Mama sudah berdiri jauh di belakang, tidakmemegang sepedaku sama sekali.Dan seperti hukum alam yang tidak bisa dilawan“Ma…?”BRUK.Aku jatuh lagi.Kali ini jatuhnya lebih total. Paket lengkap: lutut, siku,dan harga diri yang semunya ikut.Mama ketawa kecil.“Tadi kamu sudah bisa sendiri.”Aku diam.Di tengah lutut yang mulai penuh “jejak sejarah”, aku barusadar… oh iya juga, tadi aku sempat mau jalan sendiri.Walaupun sebentar.Sejak hari itu, aku jatuh berkali-kali. Sungguh. Bahkan jikalututku bisa berbicara, mungkin ia akan bilang: “Kita pindahsaja dari tubuh ini.”Dan anehnya, lama-lama aku beneran bisa.Terkadang aku jatuh di tempat yang sama, sampaisampai aku hafal tekstur aspalnya. Bahkan mungkin aspalitu juga sudah mengenalku. Dan setiap jatuh, Mama selalubilang hal yang sama,“Bangun lagi.”Sekarang, setiap melihat bekas kecil di lutut itu, akujustru tersenyum sendiri. Dulu terasa sangat menyakitkan,sekarang justru menjadi kenangan seperti tanda kecilyang hampir menyerupai tato.
15Kadang kita merasa belum siap, padahal sebenarnyakita sudah mampu, hanya saja belum percaya pada dirisendiri. Dalam hidup pun, tidak selalu ada yang akan terusmemegang dan menjaga kita. Akan ada saatnya kita“dilepas” tanpa pemberitahuan.Dan yang paling penting, lebih baik jatuh saat masihkecil. Karena kalau jatuh sekarang, yang terasa sakit bukanhanya lutut, tetapi juga hal-hal lain yang tidak bisa diobatidengan betadine.Jatuh tentu tidak bisa dihindari. Namun justru dariproses itulah kita belajar berdiri, mencoba lagi, danakhirnya menjadi lebih kuat. Hal-hal kecil seperti itu seringkali menjadi awal dari keberanian yang lebih besar di masadepan.***
Imajinasi sering kali berjalan lebih cepat daripada logika.Apalagi kalau sudah terbiasa menonton hal-hal yangsebenarnya belum dipahami. Dari situlah, pikiranberkembang ke arah yang tidak terduga, membuat sesuatuyang biasa saja terasa berbeda.BonekakuHidupKarya: IntanWaktu kecil, aku pernah curiga kalau bonekaku hidup.Bukan karena ada sesuatu yang terjadi, tapi lebih karenaaku kebanyakan nonton film horror di umur yang belumsiap. Akibatnya, pikiranku menganggap bahwa “Semuakemungkinan itu nyata.”16Padahal, bonekanya terlihat biasa aja, bahkan imut.Namun, justru di situlah letak kecurigaanku. Terlalu tenang,terlalu tidak mencurigakan. Dan di film-film, hal seperti itubiasanya justru berbahaya.
17Sejak saat itu, aku mulai sering memperhatikannya.Kadang aku berpura-pura pergi, lalu kembali lagi tiba-tiba,dengan harapan dapat melihatnya bergerak atauberpindah posisi. Namun, hal tersebut tidak pernah terjadi.Seolah-olah boneka itu sangat “profesional” dalammempertahankan posisinya. Dari situ aku merasa satu hal,aku butuh bukti!Aku membawa boneka itu ke luar rumah, lalu membuatsebuah ayunan sederhana dari kain untuk menaruhnya.Logikanya cukup sederhana: jika boneka itu bergerak,maka ayunan akan ikut bergerak sehingga perubahantersebut akan terlihat lebih jelas. Bahkan, aku sempatmerasa bangga dengan ide ini.Akhirnya aku memutuskan untuk membuat rencana.Rencana yang menurutku waktu itu sangat cerdas, yaituaku akan menguji bonekaku. Iya, menguji. Kayak ilmuwan,keren kan?Aku juga sempat memikirkan hal-hal yang tidak masukakal, seperti,“Kenapa dia diAm terus ya?” Padahaljawabannya sederhana: karena itu hanya boneka. Namun,saat itu logikaku belum sampai sejauh itu. Hmmm dankarena aku anak kecil dengan imajinasi yang cukup aktif,aku lebih percaya kalau bonekaku hidup!Kemudian aku mendudukkan boneka itu di ayunan,merapikan posisinya, dan menghadapkannya lurus kedepan. Setelah itu, aku berkata pelan,“Coba gerak kalauberani.” Namun setelah mengucapkan kalimat tersebut, akujustru mundur perlahan. Ternyata, aku sendiri tidak benarbenar siap jika boneka itu benar-benar bergerak.
18Aku masuk ke dalam rumah dan mulai mengintip darijendela. Aku melakukannya dengan posisi mengintipsetengah jongkok sambil memegang gorden, seolah-olahsedang melakukan pengamatan yang sangat serius.Awalnya… tidak terjadi apa-apa.Aku mulai mikir,“Oh yaudah, mungkin di hanya boneka.”Tapi karena aku sudah terlanjur niat, aku tetap nunggu.Soalnya di film horror, kejadian aneh itu biasanya munculpas kita mulai merasa aman, bener kan??Ayunannya diam. Bonekanya juga diam. Semua terlihatnormal, damai, dan tidak menyeramkan.Dan benar saja.Pelan sekalit. Hampir tidak kelihatan. Tapi cukupmembuat aku langsung kaku.Ayunannya gerak.“Itu… gerak?”Semakin fokus. Nafas ditahan. Jantung langsungberdetak kencang. Beberapa detik kemudian, ayunannyagerak lagi. Kali ini lebih jelas! Ya tuhan! Pada saat itulah,aku mengambil kesimpulan tercepat dalam hidupku:boneka ini hidup.Aku sempat berjalan mondar-mandir di dalam rumahdengan perasaan seolah-olah baru saja menemukansuatu teori penting. Padahal, jika dipikir kembali,kesimpulan tersebut hanya didasarkan pada perasaankusemata.
19HAHAHAHAHATapi tidak ada salahnya, waktu itu aku merasa senang!Dari pengalaman itu, aku belajar bahwa tidak semua halyang terlihat aneh benar-benar seperti yang kita bayangkan.Kadang, pikiran kita sendiri yang terlalu cepat mengambilkesimpulan.HAHAHAHAHA***
Cek DuluKarya: IntanDalam kehidupan sehari-hari, sering kali kitamenganggap hal-hal kecil tidak terlalu penting. Padahal,dari hal kecil itulah muncul berbagai masalah yangsebenarnya bisa dihindari. Hal ini juga yang sering akualami, terutama karena kebiasaanku yang pelupa danterlalu santai dalam menghadapi sesuatu.Aku memiliki satu kebiasaan yang kelihatannya sepele,tetapi dampaknya cukup terasa dalam kehidupan seharihari, yaitu pelupa. Bukan sekadar lupa sesekali, melainkancukup sering. Ditambah lagi, aku termasuk orang yangcukup cuek, sehingga hal-hal kecil yang seharusnya diceksering terlewat begitu saja.20
Contohnya, suatu hari ketika di rumah hanya ada akusendiri. Pagi itu semuanya terasa normal. Aku sudah mandi,berpakaian rapi, bahkan merasa siap untuk berangkat.Sebelum keluar rumah, aku sempat menyetrika baju, laluberangkat dengan tenang. Tidak ada yang terasa aneh.Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul satupikiran:Aku mencoba mengingat, tetapi tidak menemukanbayangan apa pun. Rasa panik mulai muncul. Pikirankumelayang ke berbagai kemungkinan, mulai dari rumahyang menjadi panas, kabel meleleh, hingga skenariodramatis seperti rumah kebakaran yang sering muncul diberita.Banyanganku, Mamah akan marah besar! Aku langsungteringat wajahnya, nada bicaranya, dan kemungkinan besarceramah panjang yang akan menyusul setelahnya. Saat ituaku hanya bisa berpikir,“Kalau sampai terjadi sesuatu… inibukan cuma soal setrika.”Semakin dipikirkan, semakin terasa nyata. Dan di tengahsemua bayangan itu, muncul satu hal yang justru lebihmembuatku khawatir. Karena di rumah hanya ada aku, dankalau benar terjadi sesuatu, berarti semuanya berawaldariku.“Tadi setrikanya sudah dimatikan belum, ya?”Akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang.Sesampainya di rumah, aku langsung masuk danmemeriksa setrika.Dan seperti biasa… pikiranku langsung kosong.21
22Aku hanya berdiri sejenak, menatap setrika itu, sambilberpikir,“Berarti tadi aku panik untuk apa?”Ternyata… sudah mati.Meski begitu, setidaknya situasi tetap aman, meskipun disisi lain aku juga merasa sedikit malu pada diri sendiri.Masalahnya, kejadian seperti itu bukan hanya terjadi sekali.Suatu hari, aku memiliki jadwal renang. Dengan penuhsemangat, aku berangkat dan sesampainya di tempat, akulangsung bersiap, merasa semua sudah lengkap.Namun saat hendak mengganti baju…Aku terdiam.Dan di situlah aku menyadari satu hal penting: aku lupamembawa baju ganti!Aku hanya bisa menarik napas dan berpikir,“Sebenarnyaaku datang ke sini untuk apa, ya?”. Akhirnya aku tetapberenang karena sudah terlanjur datang. Namunkonsekuensinya, aku harus pulang dengan baju yangbasah.Tas kubuka kembali. Aku periksa satu per satu.Aku sempat berharap itu hanya perasaanku saja. Namunsetelah dicek berulang kali, hasilnya tetap sama, tidak ada.Sepanjang perjalanan pulang, rasanya cukup tidaknyaman. Angin mengenai tubuh, baju terasa dingin, danaku mulai menyesali keputusan yang sebenarnya bisadihindari sejak awal.
23Sore itu, temanku pernah ingin meminjam buku paketBahasa Indonesia kelas 8. Aku yang merasa cukup yakinlangsung mengambilkan buku di rumah. Waktu melihatangka romawi di sampulnya, aku sempat memastikan,“Ohiya, ini VIII.”Tanpa berpikir panjang, buku itu langsung kubawa dankuserahkan ke temanku.Namun, tidak lama kemudian, temanku protes.“Ini bukan kelas 8…” dengan nada sedikit kesal.Aku langsung bingung. Dalam pikiranku, tadi sudah benar.Akhirnya aku lihat lagi bukunya.Dan ternyata, bukan cuma itu saja.Dan di situlah aku sadar.Itu bukan VIII.Itu VII.Aku terdiam beberapa detik, mencoba menerimakenyataan bahwa aku salah membaca angka romawi yangsebenarnya cukup sederhana.Padahal, jika dipikir kembali, masalahnya sangatsederhana: aku hanya tidak memeriksa isi tas sebelumberangkat.Dari situ aku semakin sadar, kadang aku bukan hanyalupa, tapi juga terlalu cepat yakin tanpa benar-benarmemastikan.Rasanya ingin ketawa, tapi juga sedikit malu.
24Awalnya aku menganggap hal-hal seperti itu wajar dantidak perlu terlalu dipikirkan. Namun, semakin seringterjadi, aku mulai menyadari bahwa kebiasaan kecil iniperlahan membawa dampak yang cukup merepotkan. Darisitu, aku mulai mempertanyakan kebiasaanku sendiri yangterlalu santai dalam menghadapi hal-hal sederhana.Sekarang, aku mulai membiasakan diri untuk memeriksakembali sebelum pergi atau sebelum melakukan sesuatu.Walaupun terkadang masih saja lupa, setidaknya sudahada usaha untuk lebih teliti, walaupun hasilnya sama saja,heheheHal kecil seperti itu saja bisa menimbulkan masalah,apalagi kalau yang lain.***
Minggu HariSialkuKarya: TalithaHari Minggu biasanya identik dengan hari santai.Orang-orang bangun agak siang, sarapan dengantenang, lalu menjalani hari tanpa banyak beban. Akujuga awalnya berpikir hari itu akan berjalan sepertiMinggu pada umumnya: tidak ada rencana besar, hanyakeluar sebentar naik motor, lalu pulang.Ternyata aku salah besar.Siang itu aku keluar rumah dengan perasaan santai.Cuaca cukup cerah dan jalanan tidak terlalu ramai. Akuberkendara seperti biasa, tidak terburu-buru, bahkansambil menikmati suasana jalan yang sepi. Sampaiakhirnya aku tiba di sebuah jalan yang sedikit menanjak.Awalnya semuanya baik-baik saja. Namun, tiba-tibamotorku terasa tidak stabil. Entah karena jalanan licinatau aku kurang fokus, dalam hitungan detik motorkukehilangan keseimbangan.25
25Setelah memastikan motorku baik-baik saja, akumelanjutkan perjalanan. Kali ini aku jauh lebih hati-hati,bahkan mungkin terlalu hati-hati. Yang penting, kejadianitu tidak terulang lagi.Padahal, di dalam hati aku hanya berpikir, kenapa bisajatuh, sih?Beberapa detik aku hanya diam, mencobamemahami apa yang baru saja terjadi. Lututku terasasakit, tanganku kotor karena menyentuh aspal, danyang paling terasa tentu saja rasa malu. Beberapaorang di sekitar melihat ke arahku. Ada yang bertanyaapakah aku baik-baik saja.Namun, justru di situlah masalahnya.Aku segera berdiri, mengangkat motorku, lalutersenyum sambil berkata,“Iya, enggak apa-apa, kok.”Beberapa jam kemudian, aku kembali naik motoruntuk pulang. Aku masih ingat kejadian siang tadi, jadiaku benar-benar berusaha fokus di jalan. Ketika sampaidi turunan, aku langsung mengurangi kecepatan.Pelan. Sangat pelan.Aku tidak ingin jatuh lagi.Bruk.Aku jatuh.
26Beberapa orang kembali melihat ke arahku, mungkindengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya,khawatir tetapi juga heran. Aku hanya tertawa kecil, laluberdiri dan membersihkan debu dari pakaian.Ketika akhirnya sampai di rumah, aku menceritakankejadian itu kepada keluarga. Bukannya dimarahi ataudiingatkan, mereka justru tertawa. Dan jujur saja, akujuga ikut tertawa. Setelah dipikir-pikir, kejadian itumemang cukup konyol. Siapa juga yang jatuh darimotor dua kali dalam satu hari?Saat itu aku mulai sadar satu hal: hari itu benar-benarbukan hariku.Sejak saat itu, aku sering menyebut hari tersebutsebagai “Minggu Hari Sialku.” Namun, mungkinsebenarnya bukan hanya soal sial. Bisa jadi itu carahidup mengingatkanku bahwa kadang-kadang hidupmemang suka bercanda.Karena terlalu berhati-hati dan masih kepikirankejadian sebelumnya, motorku sedikit oleng. Akumencoba menyeimbangkan, tetapi sudah terlambat.Bruk.Aku jatuh lagi.Di tempat berbeda, di waktu berbeda, tetapi masih dihari yang sama.Serius?Dua kali?Dalam satu hari?***
BalonMenyesatkanKarya: TalithaAku masih kecil waktu itu. Hari Raya Idul Fitri selalumenjadi momen yang paling aku tunggu. Selain karenabisa memakai baju baru, suasana setelah salat Id jugaselalu ramai dan penuh hal menarik. Banyak orangberkumpul, pedagang berjualan, dan anak-anakberlarian ke sana kemari. Pagi itu aku pergi salat Idbersama mamaku. Kami datang cukup pagi dan dudukberdampingan seperti biasa. Setelah salat selesai,orang-orang mulai berdiri, saling bersalaman, dansuasana menjadi semakin ramai.Di tengah keramaian itu, tiba-tiba perhatiankutertarik pada sesuatu di langit.Sebuah balon.27
28Aku mengikuti arahnya dengan mata.Lalu, tanpa sadar, kakiku juga ikut melangkah sedikitdemi sedikit.Aku terus melihat balon itu. Rasanya seperti sedangmenonton sesuatu yang sangat menarik. Aku bahkantidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi disekitarku.Sampai akhirnya balon itu semakin jauh.Aku berhenti berjalan.Dan baru menyadari satu hal penting.Mamaku tidak ada di sampingku.“Loh… Mama mana?”Aku langsung melihat ke kiri, ke kanan, lalu kebelakang. Orang-orang di sekitarku banyak sekali, tapitetapi tidak ada wajah yang aku kenal. Saat ituperasaanku mulai berubah dari penasaran menjadipanik.Balon itu terbang perlahan mengikuti arah angin.Warnanya cerah dan terlihat sangat menarik di antaralangit pagi yang biru. Aku menatapnya cukup lama.Entah mengapa, balon itu terlihat begitu bebas danmenyenangkan untuk dilihat.Balon itu bergerak pelan.
29Aku hanya bisa berdiri sambil merasa bersalah.Namun, ketika kami mengingat kejadian itu beberapawaktu kemudian, semuanya justru terasa lucu.Kepanikan itu ternyata bermula dari satu hal sederhana.Sebuah balon yang terbang di langit. Balon yang begitumenarik perhatianku, sampai aku lupa memperhatikandunia di sekitarku.Aku mulai berjalan mencari-cari. Namun, semakin akumelihat sekeliling, semakin aku merasa bingung. Semuaorang terlihat asing. Sementara itu, di sisi lain, mamakujuga sedang mencariku. Karena tadi aku berdiri didekatnya, lalu tiba-tiba saja menghilang daripandangannya. Beberapa menit kemudian,yang terasasangat lama bagi seorang anak kecil akhirnya kamibertemu kembali. Mamaku langsung memanggilkudengan wajah yang campur aduk antara lega dansedikit kesal.***
Setiap orang biasanya punya warna favorit. Ada yangsuka biru karena terlihat tenang. Ada juga yang sukahitam karena terlihat elegan.Sejak dulu aku selalu tertarik dengan warna itu.Kalau ada barang dengan banyak pilihan warna,mataku hampir selalu langsung tertuju padawarna pink.Kalau aku?Pink.Dan bukan sekadar suka.Mungkin sudah bisa dibilang maniak warna pink.Maniak PinkKarya: TalithaTas berwarna pink.Tempat minum berwarna pink.30
31“Talitha banget ini,” kata mereka setiap kali melihatbarang pink berwarna pink.Kadang, mereka bahkan tidak perlu bertanya lagi.Kalau ada barang berwarna pink di meja, merekalangsung berkata,“Ini pasti punya Talitha.”Lucunya, ketika suatu hari aku membawa barangdengan warna lain, justru mereka yang heran.“Loh? Kok bukan pink warna pink?”Seolah-olah itu sudah menjadi aturan tidak tertulisdalam hidupku.Awalnya aku tidak terlalu menyadari kebiasaan itu.Bagiku, itu hanya kebetulan saja. Namun, lamakelamaan teman-temanku mulai memperhatikannya.Dompet berwarna pink.Bahkan aksesoris aksesori kecil seperti gantungankunci pun… berwarna pink.Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya warna biasa.Namun, bagiku, warna pink selalu terasa ceria danmenyenangkan. Rasanya seperti membawa sedikitkeceriaan ke dalam hal-hal kecil sehari-hari.Pink.Aku juga pernah mencoba memilih warna lain.Namun, entah mengapa, pada akhirnya aku selalukembali ke warna yang sama.
32Dan tanpa aku sadari, warna itu perlahan menjadibagian dari identitasku.Sekarang, kalau seseorang melihat sesuatu yang serbaberwarna pink lalu langsung teringat padaku, sepertinyaitu bukan kebetulan lagi.Mungkin memang benar.Aku memang sedikit… maniak warna pink.***
Tentang PenulisNAYA INTAN TALITHAKenalan yuk sama 3 serangkai yang anti bubar walaupundihantam badai halilintar.Naya, si anak tengah yang umurnya juga ada di tengahtengah antara intan dan talitha, lahir pada 23 Maret 2005.Hobinya bermalas malasan, tapi tetap produktif di alammimpi.Intan, si anak bungsu yang jadi paling tua diantara tigaserangkai, lahir pada 28 November 2004. Hobinya dengerinlagu dan kalau dia suka sama satu lagu, dia bisa puter itulagu 1000 kali sampe orang rumah mual.Talitha, si anak sulung yang jadi paling muda diantara tigaserangkai, lahir pada 18 Agustus 2005. Hobinya adalahmengoleksi barang berwarna pink, si maniak pink yang kalaudarah bisa request warna, dia bakal pilih punya darah pink.
Terima kasih