KERAGAMAN SUKU DAN BUDAYA "PAPUA" Buku kelas 7B Keragaman Suku dan Budaya Papua
Daftar Isi 1. ) Rumah adat Papua Halaman 1 Daftar Isi 2. ) Makanan Khas Papua Halaman 5 Halaman 7 Halaman 10 3. ) Binatang khas Papua 4. ) Tempat wisata Papua Anggota kelompok Halaman Akhir Halaman Awal Rumah Adat Honai Jenis-jenis Rumah Honai Rumah Honai Halaman 2 Halaman 3 Halaman 4 Papeda Halaman 6 Cendrawasih Halaman 8 - 9 -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- -------------------------------------------------------------------------- Raja Ampat Halaman 11 -------------------------------------------------------------------------- 5. ) Alat Musik Khas Papua Tifa Halaman 12 Halaman 13 - 14
Rumah Adat Khas Papua Rumah Adat Honai (1) Pencarian: Detikcom
Rumah Honai diciptakan dari suku Dani. Sebelum menciptakan rumah Honai mereka banyak tinggal di bawah pohon-pohon besar. Namun dikarenakan kondisi alam yang tidak menentu, mereka lalu memutuskan untuk membuat rumah. Suku Dani merupakan suku yang sangat bergantung pada alam. Mereka menghabiskan seluruh waktunya di alam. Terciptanya rumah Honai pun juga terinspirasi dari burung. Suku Dani memperhatikan bagaimana burung-burung bisa membuat sarang ketika bertelur. Burung akan mengumpulkan ranting-ranting kayu dan rumputrumput kering untuk dapat membuat sarang. Kemudian, para burung tersebut akan membuat sarang yang berbentuk bulat dari ranting dan rumput kering yang mereka kumpulan. Dari peristiwa tersebutlah yang menginspirasi suku Dani mengamati jika burung dapat membuat tempat tinggal untuk melindungi telur-telurnya hingga mereka menetas. Oleh karena itulah lahirlah Honai. Honai adalah rumah adat yang khas. Bentuknya bundar hingga lingkaran seperti sarang burung. Honai juga terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari Jerami. Atap dari Jonai sendiri berbentuk kerucut seperti jamur. Honai memiliki keunikan yaitu hanya ada satu pintu dan dibangun tanpa jendela. Diameter rumah Honai sangat bervariasi namun biasa berkisar 5 meter dengan tinggi 2,5 meter. Honai merupakan hunian yang tidak besar, hal itu bertujuan untuk menjaga suhu ruangan agar tetap hangat. Rumah Adat Honai (2)
Jenis-jenis Rumah Honai Rumah Honai di bedakan jadi 3 jenis, yaitu Honai: Rumah untuk para lelaki. Ebei: Rumah untuk para wanita. Wamai: Rumah untuk ternak Rumah Honai dibuat berkelompok karena terkadang satu keluarga membutuhkan lebih dari satu rumah untuk tempat ternak dan anak-anak yang sudah dewasa. (3) Untuk tempat tidur, laki-laki tidur pada lantai dasar secara melingkar, sementara perempuan tidur di lantai dua. Terdapat api unggun di tengah ruangan pada lantai pertama yang digunakan untuk menghangatkan diri.
Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Bangunan dibuat tanpa jendela karena untuk melindungi suku Dani yang tinggal di daerah dengan udara sangat dingin pegunungan Papua. Oleh karena itu, bentuk rumah Honai juga dibuat menyesuaikan udara di sekitarnya. Bahan untuk membangun rumah didapat dari alam sehingga ramah lingkungan, seperti kayu yang dibuat menjadi badan rumah, jerami sebagai bahan atapnya, papan kayu kasar sebagai bahan dinding, dan rumput atau jerami sebagai bahan lantai. Rumah Honai memiliki bentuk bulat untuk mengurangi suhu dingin maupun tiupan angin yang kencang. Atap rumah berbentuk bulat kerucut atau setengah bola yang terbuat dari jerami atau ilalang. Bentuk atap tersebut berfungsi agar dinding tidak terkena air hujan dan dapat mengurangi suhu dingin agar tidak masuk ke dalam rumah. Atap rumah Honai memakai ilalang tidak hanya sebagai penutup atau atap, tetapi juga memiliki makna. Rumah Honai (4)
Pencarian: Merdeka.com (5) Makanan Khas Papua Papeda
(6) Papeda Papeda adalah makanan berupa bubur sagu khas Maluku dan Papua yang biasanya disajikan dengan ikan tongkol atau mubara yang dibumbui dengan kunyit. Papeda berwarna putih dan bertekstur lengket menyerupai lem dengan rasa yang tawar. Papeda merupakan makanan yang kaya serat, rendah kolesterol, dan cukup bernutrisi. Di berbagai wilayah pesisir dan dataran rendah di Papua, sagu merupakan bahan dasar dalam berbagai makanan. Sagu bakar, sagu lempeng, dan sagu bola menjadi sajian yang paling banyak dikenal di berbagai pelosok Papua, khususnya dalam tradisi kuliner masyarakat adat di Kabupaten Mappi, Asmat, hingga Mimika. Papeda merupakan salah satu sajian khas sagu yang jarang ditemukan. Antropolog sekaligus Ketua Lembaga Riset Papua, Johszua Robert Mansoben, menyatakan bahwa papeda dikenal lebih luas dalam tradisi masyarakat adat Sentani dan Abrab di Danau Sentani dan Arso, serta Manokwari. Pada umumnya, papeda dikonsumsi bersama dengan ikan tongkol. Namun, papeda dapat juga dikombinasikan dengan ikan gabus, kakap merah, bubara, hingga ikan kue. Selain ikan kuah kuning, bubur papeda juga dapat dinikmati dengan sayur ganemo yang diolah dari daun melinjo muda yang ditumis dengan bunga pepaya muda dan cabai merah. Dalam 100 gram sagu, terkandung energi sebesar 209 kkal, protein 0,3 gram, karbohidrat 51,6 gram, lemak 0,2 gram, kalsium 27 miligram, fosfor 13 miligram, dan zat besi 0,6 miligram. Selain itu di dalam tepung sagu juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,01 miligram, dan vitamin C 0 miligram. Berdasarkan kandungan- kandungan tersebut, sagu bermanfaat sebagai sumber utama karbohidrat atau makanan pokok, mengatasi pengerasan pada pembuluh darah, mengatasi sakit pada ulu hati, dan perut kembung. Selain itu, kandungan indeks glikemik yang rendah pada sagu membuatnya aman untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus. Tingginya kadar serat dalam sagu berperan sebagai pre-biotik, menjaga mikroflora usus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi risiko terjadinya kanker usus, mengurangi risiko terjadinya kanker paru-paru, mengurangi risiko kegemukan atau obesitas serta memperlancar buang air besar. Mengonsumsi papeda secara rutin dipercaya mampu menghilangkan penyakit batu ginjal karena sifat papeda yang dapat berperan sebagai pembersih organ-organ di dalam tubuh manusia. Bagi yang sering merokok, dianjurkan juga mengonsumsi makanan khas Papua yang satu ini karena dapat secara perlahan membersihkan paru-paru. Papeda merupakan makanan yang eksotis dan unik sehingga mulai dicari oleh petualang kuliner. Kini, papeda dapat ditemukan di beberapa restoran di Jakarta. Salah satu restoran yang menyediakan papeda sebagai menunya adalah Restoran Yougwa di kawasan Kelapa Gading yang merupakan cabang dari Restoran Yougwa cabang Danau Sentani, Jayapura.
Pencarian: star farm internasional (7) Binatang khas Papua Cendrawasih
Burung Cendrawasih merupakan anggota dari famili Paradisaeidae dan dari ordo Passeriformes. Burung ini memiliki ukuran yang beragam tergantung dari spesiesnya. Seperti spesies King bird of paradise yang memiliki ukuran 15 cm hingga spesies Black Sicklebill yang berukuran 110 cm. Burung ini terdiri atas 14 genus dan 43 spesies. Jenis Cendrawasih yang paling terkenal adalah Cendrawasih Kuning Besar atau Paradisaea apoda yang berasal dari genus Paradisaea. Karakteristik utama burung ini adalah warna bulunya yang cerah dan menarik perhatian seperti kuning, hijau, merah, dan biru. Cendrawasih biasanya dinamakan sesuai dengan warna dominannya, seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Kuning Besar, dan Cendrawasih Merah. Cendrawasih Saking cantiknya, burung ini dinamai Birds of Paradise atau Burung Surga oleh orang Inggris yang sebelumnya tidak mempercayai eksistensi burung tersebut. Bahkan Cendrawasih sempat menjadi hadiah untuk raja-raja pada tahun 1522 setelah orang-orang Eropa mengakui eksistensinya. Tidak hanya itu, bulunya yang cantik sempat menjadi komoditas perdagangan pada akhir abad 19 dan awal abad 20 karena menjadi tren untuk menghias topi oleh wanita di Eropa. Burung ini hanya dapat ditemukan di Indonesia bagian timur seperti pulau-pulau di Selat Torres dan Papua, Papua Nugini, dan bagian timur Australia. Dari 41 spesies Cendrawasih yang ada di Indonesia, 37 di antaranya hidup di Papua. Habitat aslinya di hutan lebat yang berada di dataran rendah. Cendrawasih pertama kali populer di Barat pada tahun 1996. Popularitas tersebut berkat program televisi yang dipandu oleh penyiar dan pencinta alam David Attenborough. Saat itu, Attenborough mengambil cuplikan kehidupan Cendrawasih saat ia sedang dalam perjalanan di Papua Nugini. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan kebiasaan makan dan kawin, serta atribut dari spesies Cendrawasih tertentu. Cendrawasih jantan memiliki bulu yang berwarna cerah dan juga ritual tarian yang dimanfaatkan untuk menarik perhatian Cendrawasih betina. Tarian Cendrawasih jantan termasuk spektakuler karena menampilkan fleksibilitas bulu dan bentuk badan mereka yang semakin menonjolkan keindahan warna bulunya. Cendrawasih jantan juga selalu serius dalam mempersiapkan ritual menari ini. Mereka bahkan terlihat membersihkan paruh mereka dan lingkungan di sekitar sarangnya untuk menjadi panggung ritual tarian mereka. Karena kecantikannya, Cendrawasih menjadi sasaran perburuan liar. Belum lagi deforestasi untuk mengubah lahan hutan menjadi kebun yang tentu mengancam habitat mereka. Hal ini menjadikan Cendrawasih sebagai salah satu satwa yang dilindungi pemerintah. Pemerintah Indonesia telah melindungi Cendrawasih melalui UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 tahun 1999. (8)
Walaupun termasuk satwa yang dilindungi, kamu masih bisa menikmati kecantikan burung Cendrawasih di alam liarnya. Ada beberapa daerah tujuan wisata di Papua, seperti di daerah Mamberamo Foja, Merauke, Wamena dan Jaya Wijaya di mana kalian bisa langsung mengamati Cendrawasih. Ada beberapa tips penting yang harus diingat untuk mengamati Cendrawasih, yaitu jangan menggunakan parfum atau mandi sebelum mengamati burung. Karena Cendrawasih termasuk burung dengan indra penciuman yang sensitif. Selain itu, indra pendengaran Cendrawasih juga termasuk tajam jadi jangan membuat suara-suara ketika kalian berada di wilayahnya. Kalian juga direkomendasikan untuk bersembunyi di balik pohon dan memakai pakaian berwarna gelap sehingga kalian tidak terlihat oleh Cendrawasih. (9)
(10) Tempat Wisata Papua Raja Ampat Pencarian: Indonesia Travel
Raja Ampat Ketika petang tiba, semburat jingga muncul dari langit Raja Ampat. Berlatar laut tenang dan pohon nyiur, Sang Surya perlahan turun dari singgasananya. Lebih cantik lagi, sunset Raja Ampat akan tampak tercermin sempurna lewat laut yang tenang. Inilah fenomena alam memukau yang bisa turis lihat begitu ada di Raja Ampat. alam bawah laut Raja Ampat sangat menakjubkan. Ada banyak terumbu karang aneka dan ikan aneka warna hidup di sana. Sekali menyelam, dijamin ketagihan untuk lanjut menjelajah alam bawah laut Raja Ampat 'keajaiban' lain yang bisa turis temukan saat berada di Raja Ampat, yakni tebing mirip wajah manusia. Tebing ini bisa Anda temukan di Ibukota Kabupaten Raja Ampat, Waisai. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang aneh dengan tebing ini. Namun jika diamati lebih detil, tebing ini berbentuk seperti wajah manusia. Ada lekukan tebing yang membentuk mata, hidung, bibir. Wajah yang terbentuk seperti seseorang yang sedang memejamkan mata. Benar-benar mirip seperti wajah manusia. Keren! Keajaiban lain yang bisa ditemukan di Raja Ampat adalah laut sebening kaca. Hampir seluruh perairan di Kepulauan Raja Ampat memilik air sebening kaca. Saking beningnya, turis tak perlu menyelam untuk melihat dasar laut dan biota laut. Cukup tengok dari kapal, alam bawah laut Raja Ampat sudah terlihat jelas. Pianemo dan Wayag juga jadi keajaiban alam lain yang ada di Raja Ampat. Inilah gugusan atol yang membentuk formasi cantik. Saking cantiknya, formasi pulau karang ini sudah terkenal hingga mancanegara. (11)
Alat Musik Khas Papua Tifa Pencarian: Wikipedia (12)
Setiap daerah di Indonesia memiliki instrumen musik yang unik dan khas. Salah satu di antaranya yang sudah dikenal luas hingga mancanegara adalah alat musik tifa. Bila dilihat sekilas, tifa hampir mirip dengan kendang. Bedanya, bagian bawah instrumen ini berlubang di tengahnya. Alat musik tifa berasal dari daerah Indonesia timur, tepatnya Papua dan Maluku. Cara memainkan alat musik tifa yakni dengan ditabuh atau dipukul, sampai berbunyi suara mirip kendang. Tifa Secara umum, fungsi alat musik tifa adalah sebagai instrumen pengiring tarian adat masyarakat Papua dan Maluku. Akan tetapi, jika ditinjau lebih jauh lagi khsusnya dalam konteks sosial budaya, fungsi alat musik tifa yakni sebagai bentuk kebesaran kepala suku, sekaligus menjadi alat musik bernilai sakral. Menurut buku Alat Musik Tradisional Nusantara (2016) karya Akhmalul Khuluq, alat musik tifa dari Papua memiliki perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan tifa asal Maluku. Perbedaan ini terlihat pada bentuk tifa. Dalam buku tersebut dijelaskan, ukuran alat musik tifa dari Papua jauh lebih besar dan panjang ketimbang tifa asal Maluku. Kemudian di bagian sampingnya terdapat semacam tali untuk pegangan. Suara yang dihasilkan tifa Papua terdengar begitu khas. Alat musik tifa terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi. Selain itu ada juga kulit hewan yang berfungsi sebagai membran. Membran ini dililitkan melingkar dengan rotan supaya kencang. Untuk memainkannya, diperlukan teknik menabuh yang benar supaya iramanya enak didengar telinga. (13)
Besar dan kecilnya ukuran alat musik tifa akan mempengaruhi nada yang dihasilkan. Selain berfungsi sebagai pengiring tarian, alat musik tifa juga sering digunakan untuk menyambut tamu. Alat musik tifa bisa dikategorikan sebagai single-headed frame drum. Instrumen ini biasanya dihiasi oleh ukiran dan corak warna dasar masyarakat Papua. Di Maluku, tifa dikenal juga dengan sebutan tihal atau tahito. Saat ini tifa tidak hanya dimainkan di tanah Papua atau Maluku saja. Melainkan sudah menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia. Alunan nada ritmik yang dihasilkan alat musik tifa, mampu mengiringi setiap gerakan tari tradisional suku-suku di Papua dengan irama yang pas. Keunikan alat musik tifa terletak pada bunyi, serta motif di beberapa bagiannya. Motif ukiran pada tifa pun dapat menjadi tanda kepemilikan dan dari marga mana orang itu berasal. Dikutip dari Indonesia.go.id, alat musik tifa dapat dikelompokan berdasarkan jenis tifa. Secara umum, jenis alat musik tifa yaitu Jekir, Potong, Dasar, dan Bas. Pembagian jenis tifa ini didasari dari warna suara, sehingga saat dimainkan bersama, jenis-jenis tifa tersebut akan menghasilkan suara berbeda. Namun, tetap dengan irama yang harmonis. Masyarakat Papupa menganggap alat musik tifa sebagai indentitas diri, simbol kebanggaan diri, dan menjadi sarana pengikat hubungan dengan orang Papua lainnya. Tifa pun kini sudah sering digunakan dalam acara-acara besar. Tidak diketahui secara pasti bagaimana alat musik tifa bisa terkenal, bahkan sampai dikenal luas hingga mancanegara. Namun yang jelas, ada satu fakta yang sulit dibantahkan yaitu instrumen ini sudah menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Sejarah alat musik tifa tidak bisa lepas dari cerita rakyat. Melansir dari Indonesia Kaya, setiap suku di Papua dan Maluku memiliki narasi tersendiri terkait asal-usul alat musik ini. Misalnya cerita yang berkembang di tengah masyarakat Biak. Dalam cerita rakyat tersebut dikisahkan, di sebuah desa di Biak terdapat seorang anak yatim yang dihantui rasa bersalah karena tidak memiliki harta, atau bahan makanan untuk disumbangkan pada suatu acara pesta besar di kampungnya itu. Anak itu berlari ke tengah hutan dan kemudian duduk termenung di bawah pohon. Sembari menangis, dia memohon pertolongan kepada leluhurnya agar diberi petunjuk untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Setelah berdoa, anak tersebut dikagetkan dengan kemunculan seekor kadal. Kadal tersebut menyuruh anak itu mengambil kulitnya untuk dijadikan sireb atau tifa. Dari cerita inilah, alat musik tifa kemudian dipandang sebagai instrumen sakral bagi masyarakat Biak. (14)
Anggota kelompok Ranu Artho Wicaksono Muhammad Fatihul Faiq Ashari Evan Firrizqi Bachtiar Adi Surya Gemilang 7B
Created by Ranu