Kata Pengantar
0
Kata Pengantar
Bapak / Ibu Guru yang terkasih dalam dharma, tantangan hidup yang
dihadapi peserta didik di tengah persaingan global saat ini semakin berat. Selaras
dengan kondisi ini, tuntutan pembelajaran juga semakin meningkat. Selain
dituntut untuk semakin semangat belajar, peserta didik juga dituntut untuk
mampu berinovasi dalam pembelajaran. Kondisi saat ini belumlah cukup dengan
hanya mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa merestorasi
mental spiritual. Buddha bersabda dalam kotbah Beliau tentang berkah utama
(Manggala Sutta) berkaitan dengan hal ini sebagai berikut.
“Memiliki pengetahuan dan keterampilan. Terlatih baik dalam tata susila.
Ramah tamah dalam ucapan. Itulah Berkah Utama”. Tingginya tuntutan
pembelajaran bagi peserta didik merupakan tantangan tersendiri bagi Ibu/Bapak
Guru selaku fasilitator dalam pembelajaran. Buku Guru Pendidikan Agama
Buddha dan Budi Pekerti disajikan sebagai salah satu panduan bagi Ibu/Bapak
Guru dalam fasilitasi peserta didik. Melalui buku ini, kami berharap Ibu/Bapak Guru
dapat memfasilitasi peserta didik untuk terus berjuang menimba pengetahuan,
melatih keterampilan, dan mengembangkan sikap-sikap terpuji demi meraih
masa depan nan gemilang.
Buku ini sangat terbuka terhadap masukan dan akan terus diperbaiki untuk
penyempurnaan. Kritik, saran dan masukan dari Ibu/Bapak Guru sangat kami
harapkan guna perbaikan dan penyempurnaan buku ini. Atas kontribusi tersebut
kami mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat melakukan yang
terbaik bagi kemajuan dunia pendidikan. Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat
dan semoga semua makhluk hidup berbahagia.
1
DAFTAR ISI
Karma dan Tumimbal Lahir
Kata Pengantar.......................................................................................................................................0
DAFTAR ISI ............................................................................................................................................. 2
Peta Kompetensi ....................................................................................................................................4
Glosarium ............................................................................................................................................... 5
Petunjuk Penggunaan Modul..................................................................................................................8
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ..................................................................................................9
Tujuan Pembelajaran ............................................................................................................................ 10
Materi Pokok Pembelajaran.................................................................................................................. 10
A. Karma ........................................................................................................................................... 11
1.1. Apa itu karma?....................................................................................................................... 11
1.2. Karma dan Vipaka.................................................................................................................. 13
1.3. Apa penyebab karma? ........................................................................................................... 16
1.4. Klasifikasi karma.................................................................................................................... 18
Mari Berlatih ! ....................................................................................................................................... 26
Tugas Kelompok ................................................................................................................................... 26
Mari Bertanya! ...................................................................................................................................... 26
B. Kelahiran kembali ( Punarbhava ) .................................................................................................. 27
2.1. Hakikat Punarbhava........................................................................................................... 27
2.2. Proses Punarbhava ............................................................................................................ 29
2.3. Bukti Punarbhava .............................................................................................................. 30
2.4. Penyebab dari Punarbhava ................................................................................................ 33
2.5. Perumpamaan Lilin............................................................................................................ 34
2.6. Tiga kondisi terjadinya Punarbhava ................................................................................... 35
2.7. Empat Jenis Keturunan ...................................................................................................... 36
2.8. Alam Kehidupan (Loka) ......................................................................................................37
Tugas Kelompok ................................................................................................................................... 40
Mari Bertanya! ...................................................................................................................................... 41
C. Konteks......................................................................................................................................... 41
D. Renungan...................................................................................................................................... 42
2
E. Kesimpulan ................................................................................................................................... 44
F. Evaluasi ......................................................................................................................................... 47
Daftar Pustaka ...................................................................................................................................... 48
3
Peta Kompetensi
1. Peserta didik dapat memahami
mengenai karma dan kelahiran
kembali
2. Peserta didik dapat 6. Peserta didik dapat
memahami perbedaan menjelaskan bukti-bukti
bahwa punarbhava itu
karma dan vipaka
nyata
3. Peserta didik dapat 4. Peserta didik 5. Peserta didik dapat
menjelaskan penyebab dapat menjelaskan memahami cara untuk
karma dan punarbhava
jenis karma dan menghentikan
punarbhava kelahiran kembali
(Punarbhava)
4
1. Hukum Glosarium
2. Kebahagiaan adalah himpunan peraturan hidup yang
3. Takdir bersifat memaksa, berisikan perintah,
4. Masa lampau larangan, atau izin untuk berbuat atau
5. klasifikasi tidak berbuat sesuatu, serta dengan
6. Prinsip maksud mengatur tata tertib dalam
7. Doktrin kehidupan masyarakat.
adalah suatu keadaan pikiran atau
perasaan kesenangan, ketentraman hidup
secara lahir dan batin yang maknanya
adalah untuk meningkatkan visi diri.
sebuah sebutan atas pengetahuan Tuhan
Yang Maha Esa yang meliputi seluruh
alam.
adalah peristiwa atau kejadian yang telah
berlalu dan tidak dapat terulang lgi
misalnya kejadian hari kemarin, satu
minggu yang lalu, sebulan, setahun
bahkan bertahun-tahun yang lalu
Adalah pengaturan sistematis dalam
pembagian atau pengelompokan hal
berdasarkan kesamaan sifatnya.
adalah suatu pernyataan fundamental
atau kebenaran umum maupun individual
yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok
sebagai sebuah pedoman untuk berpikir
atau bertindak.
merupakan bentuk tindakan
mengharuskan atau memaksakan bahwa
5
8. Moral suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan
9. kehendak seperti apa yang disampaikan.
10. Kehidupan adalah ajaran tentang laku hidup yang baik
berdasarkan pandangan hidup atau agama
11. Mental tertentu.
12. Entitas
13. Pandangan adalah bidang pikiran yang saat disuruh
14. Dhamma memilih, dapat memilih keinginan dari
berbagai keputusan yang ada. Kehendak
tak merujuk kepada keputusan tertentu,
tetapi lebih kepada mekanisme untuk
memilih salah satu dari sejumlah
keputusan.
adalah ciri yang membedakan objek fisik
yang memiliki proses biologis (yaitu
organisme hidup) dengan objek fisik yang
tidak memilikinya, baik karena fungsi-
fungsi tersebut telah berhenti (karena
telah mati) atau karena mereka tidak
pernah memiliki fungsi tersebut dan
diklasifikasikan sebagai benda mati.
memiliki arti yang berhubungan dengan
watak dan batin manusia.
adalah satuan yang mempunyai
keberadaan yang unik dan berbeda
dengan yang lainnya, walaupun satuan
tersebut tidak harus dalam bentuk secara
fisik.
tanggapan atau cara pikir seseorang
terhadap sesuatu, proses perbuatan
memandang yang menghasilkan
pengetahuan dan pendapat.
6
15. Bertobat merupakan Hukum Abadi yang meliputi
16. karma alam semesta, yang membuat segala
sesuatu bergerak sebagai dinyatakan oleh
ilmu pengetahuan modern, seperti ilmu
fisika, kimia, hayat, astronomi, psikologi
dan sebagainya.
sadar dan menyesal akan perbuatan-
perbuatan yang salah yang tidak benar di
mata Tuhan dan kita berniat untuk
mengaku dosa kita dihadapan Tuhan dan
tidak akan mengulanginya kembali.
merupakan bahasa sansekerta yang
berarti perbuatan dan hasil yang akan di
dapat dari perbuatan tersebut dinamakan
karmaphala
7
Petunjuk Penggunaan Modul
1. Petunjuk bagi siswa
Untuk memperoleh prestasi belajar secara maksimal, maka langkah-langkah
yang perlu dilaksanakan dalam modul ini antara lain :
- Bacalah dan pahami materi yang ada pada setiap kegiatan belajar.
Bila ada materi yang belum jelas, siswa dapat bertanya apda guru
- Kerjakan tugas evaluasi terhadap materi-materi yang dibahas dalam
setiap kegiatan belajar
- Jika belum menguasai level materi yang diharapkan, ulangi lagi pada
kegiatan belajar sebelumnya atau bertanya kepada guru
2. Petunjuk bagi guru
Dalam setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:
- Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar
- Membimbing siswa dalam memahami konsep, analisa, dan
menjawab pertanyaan siswa mengenai proses belaja
8
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
Kompetensi Inti Kompetensi Dasar
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran 1.4. Menghayati berbagai fenomena
agama yang dianutnya dan kejadian berdasarkan proses
kerja hukum-hukum kebenaran
2. Menghayati dan mengamalkan perilaku
jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli 2.4. Menghayati perilaku bertanggung
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), jawab tentang berbagai fenomena
santun, responsif dan pro-aktif dan dan kejadian berdasarkan proses
menunjukkan sikap sebagai bagian dari kerja hukum-hukum kebenaran
solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan 3.4. Memahami pengetahuan tentang
lingkungan sosial dan alam serta dalam berbagai fenomena dan kejadian
menempatkan diri sebaga cerminan bangsa berdasarkan proses kerja hukum-
dalam pergaulan dunia hukum kebenaran
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural,
dan metakognitif berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifk
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah
4. Mengolah, menalar, dan menyaji 4.4. Menyaji berbagai fenomena dan
dalam ranah konkret dan ranah kejadian berdasarkan proses kerja
abstrak terkait dengan pengembangan dari hukum-hukum kebenaran
yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, bertindak
secara efektif dan kreatif, serta
mampu menggunakan metoda
sesuai kaidah keilmuan
9
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu :
Mengamalkan ajaran karma dalam kehidupan sehari-hari
Mengamalkan perilaku tanggung jawab atas perbuatan/karma yang telah
dilakukan
Memahami pengertian karma dan vipaka
Menghayati berbagai klasifikasi karma
Menghayati ajaran tentang tumimbal lahir
Memahami kisah tentang tumimbal lahir
Materi Pokok Pembelajaran
a) Kamma Dan Punarbhava
- Kamma, adalah Perbuatan yang dilakukan oleh manusia melalui
pikiran, perkataan, dan badan jasmani. bahkan ketika pikiran mulai
berjalan itu sudah dapat dikatakan karma. maka sering dikatakan
cetana adalah karma
- Punarbhava / Patisandhi, adalah kelahiran kembali suatu makhluk di
salah satu dari 31 macam alam kehidupan.
Ada 4 cara tumimbal-lahirnya makhluk-makhluk, yaitu :
Jajabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kandungan, seperti
manusia, kuda, kerbau dan lain-lain
Andaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari telur, seperti Burung,
ayam, bebek dan lain-lain
Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti
nyamuk, ikan dan lain-lain.
Opapatika-Yoni : Makhluk yang lahir secara spontan, langsung
membesar, seperti para dewa, brahma, makhluk neraka, setan
dan lain-lain.
10
A. Karma
Karma merupakan hukum sebab-akibat tentang perbuatan, artinya setiap
perbuatan yang kita lakukan akan selalu menghasilkan akibat. Teori tentang
karma merupakan salah satu ajaran dasar dalam agama buddha, akan tetapi
kepercayaan tentang karma telah ada dan lazim di Indian sebelum munculnya
Buddha. Namun demikian, Buddhalah yang menjelaskan dan merumuskan ajaran
ini dalam bentuk yang lengkap seperti yang ada sekarang.
1.1. Apa itu karma?
Karma dalam bahasa Sanskerta atau Kamma dalam bahasa Pali memiliki
arti tindakan atau perbuatan. Semua tindakan yang disengaja baik secara mental,
verbal mauopun fisik dianggap sebagai karma. Hal ini meliputi semua, termasuk
dalam pikiran, ucapan dan perbuatan jasmani. Semua tindakan yang didasari
kehendak baik ataupun buruk disebut sebagai karma. Tindakan yang dilakukan
secara tidak sengaja, di luar kemauan atau tanpa disadari, meskipun secara teknis
dinyatakan sebagai perbuatan, namun tidak termasuk karma. Karena kehendak
sebagai faktor terpenting dalam menentukan karma ada atau tidak ada.
Buddha menyatakan bahwa kehendak adalah karma, terdapat dalam Anguttara
Nikaya III : 415, dimana dengan memiliki kehendak, seseorang yang melakukan
segala perbuatan baik melalui badan jasmani, ucapan, dan pikiran akan menjadi
karma. Karma tidak hanya berarti perbuatan masa lampau, harus dipahami bahwa
kita yang sekarang tidak sepenuhnya merupakan hasil dari sesuatu yang kita
11
lakukan dulu, kita yang akan datang tidak mutlak merupakan hasil dari apa yang
kita lakukan sekarang.
Karma bukan saja sebuah “keberuntungan”, yang menunjukkan bahwa
sesuatu terjadi tanpa suatu sebab. Karma sendiri adalah sebuah sebab dan karma
akan membuahkan hasil yang setimpal. Tidak ada yang terjadi tanpa suatu sebab,
karena seseorang yang beruntung atau tidak beruntung itu adalah sebagai hasil
tindakan yang disertai kehendak yang dilakukan sebelumnya dalam kehidupan
sekarang atau dalam kehidupan sebelumnya. Ketika seseorang memahami
dengan benar prinsip “karma dan akibat- akibatnya”, seseorang akan mempunyai
pengertian benar dan pandangan benar. Pandangan benar (sammaditthi)
mengarahkan pada pikiran benar, perkataan benar, tindakan benar, kehidupan
benar dan moral yang baik. Jika seseorang tidak memperhatikan “karma dan
akibat-akibatnya”, tidak memahaminya dan mengabaikannya menimbulkan
pengertian salah dan pandangan salah.
Pandangan yang salah (miccaditthi) mengarahkan pada pikiran salah,
perkataan salah, tindakan salah, kehidupan salah, dan karakter yang buruk.
Pandangan benar menyebabkan perbuatan baik yang belum muncul akan muncul,
melipatgandakan perbuatan baik yang sudah muncul, dan akan mengkondisikan
kelahiran kembali yang bahagia setelah meninggal atau mati. Pandangan benar
tidak selamanya dalam pengondisikan kelahiran kembali yang bahagia di alam
yang membahagiakan. Sedangkan pandangan salah menyebabkan perbuatan
buruk yang belum muncul menjadi muncul, melipatgandakan perbuatan buruk
yang sudah muncul, dan akan mengkondisikan kelahiran kembali yang sengsara
setelah mati. Pandangan salah tidak selamanya dalam mengondisikan kelahiran
kembali yang sengsara di alam yang menyedihkan.
Menurut ajaran Karma Buddhis, seseorang tidak selalu dipaksa oleh
keharusan yang kuat, karna karma bukanlah nasib atau takdir yang diberikan
untuk kita oleh kekuatan yang tidak dikenal, yang dengan tanpa daya kita harus
menyerahkan diri kepadanya. Ia adalah perbuatan sendiri yang bereaksi pada siri
sendiri, dan oleh karena itu seseorang mempunyai kekuatan untuk membelokkan
jalannya Karma sampai batas-batas tententu. Sejauh mana seseorang
membelokkannya, tergantung pada dirinya sendiri.
12
Sang Buddha berkata:
“Aku menyatakan, O para bhikkhu, bahwa kehendak adalah Karma. Setelah
berkehendak seseorang bertindak melalui jasmani, ucapan, dan pikiran.”
(Anguttara Nikaya)
Setiap tindakan kehendak individu, kecuali Para Buddha dan Arahat,
disebut Karma. Pengecualian yang dibuat dalam kasus mereka adalah karena
mereka dibebaskan dari kebaikan dan kejahatan, mereka telah melenyapkan
ketidaktahuan dan nafsu keinginan, akar dari Karma.
“Dihancurkan benih benih mereka (Khina bija), keinginan egois tidak lagi
tumbuh,” kata Ratana Sutta dari Sutta nipata.
Ini tidak berarti bahwa Buddha dan Arahantas pasif. Mereka tanpa lelah
aktif dalam bekerja untuk kesejahteraan dan kebahagiaan sejati semua orang.
Perbuatan mereka biasanya diterima sebagai kebaikan atau moral, kurang daya
kreatif dalam hal diri mereka sendiri. Memahami hal-hal sebagaimana adanya,
mereka akhirnya menghancurkan belenggu kosmik mereka – rantai sebab dan
akibat.
1.2. Karma dan Vipaka
Karma merupakan aksi, sedangkan vipaka merupakan reaksi. Setiap benda
pasti memiliki bayangan, demikian juga dengan setiap perbuatan yang disertai
kehendak, pasti diikuti oleh akibat yang bersesuaian. Karma seperti benih atau
pohon yang kita tanam, dan vipaka seperti buah yang muncul dari pohon, sebagai
13
akibat atau hasil dari yang kita tanam. Buddha menyatakan dalam Samyuta
Nikaya I : 227 : “Sesuai dengan benih yang kita tanam, demikianlah buah yang
akan kita petik, pembuat kebajikan akan menuai kebahagiaan, pembuat
kejahatan akan menuai kesengsaraan. Taburlah benihnya dan Engkau yang akan
merasakan buah darinya.” Vipaka dikatakan sebagai kegembiraan, kebahagiaan,
ketidakbahagiaan, atau kesengsaraan. Sesuai dengan sifat dari benih karenanya.
Anisamsa adalah keuntungan yang menyertainya – hal-hal materi seperti
kemakmuran, kesehatan dan umur panjang. Ketika hal-hal material yang
menyertai Vipaka tidak menguntungkan, mereka dikenal sebagai Adinaya, penuh
kesengsaraan, dan muncul sebagai kemiskinan, keburukan, penyakit, umur
pendek dan sebagainya. Seperti yang kita tabur, kita menuai di suatu tempat dan
waktu, dalam hidupnya atau dalam kelahiran yang akan datang. Apa yang kita tuai
hari ini adalah apa yang telah kita tabur baik di masa sekarang maupun di masa
lalu.
Samyutta Nikaya menyatakan: “Sesuai dengan benih yang ditaburkan,
begitu juga buah yang Anda petik di sana, Pelaku kebaikan akan mengumpulkan
kebaikan, Pelaku kejahatan, kejahatan menuai, Turun adalah benih dan kamu
akan merasakannya buahnya."
Karma adalah hukum itu sendiri, yang beroperasi di bidangnya sendiri tanpa
intervensi dari badan penguasa eksternal yang independen. Kebahagiaan dan
kesengsaraan, yang merupakan nasib umum umat manusia, adalah akibat yang
tak terelakkan dari sebab-sebab. Dari sudut pandang Buddhis, itu bukanlah
penghargaan dan hukuman, yang diberikan oleh kekuatan supranatural yang
berkuasa yang maha tahu kepada jiwa yang telah melakukan kebaikan atau
kejahatan. Kaum teis, yang mencoba untuk menjelaskan segala sesuatu dalam
kehidupan ini dan kehidupan duniawi dan kehidupan masa depan yang kekal,
mengabaikan masa lalu, percaya pada keadilan 'postmortem', dan mungkin
menganggap kebahagiaan dan kesengsaraan saat ini sebagai berkah dan kutukan
yang dianugerahkan pada ciptaan-Nya oleh seorang yang mahatahu dan
Penguasa Ilahi yang mahakuasa yang duduk di surga di atas mengendalikan nasib
umat manusia. Buddhisme, yang dengan tegas menyangkal Yang Mahakuasa,
Pencipta Yang Maha Penyayang dan jiwa abadi yang diciptakan secara sewenang-
wenang, percaya pada hukum alam dan keadilan yang tidak dapat ditangguhkan
baik oleh Tuhan Yang Mahakuasa maupun Buddha yang Maha Pengasih. Menurut
14
hukum kodrat ini, tindakan membawa ganjaran dan hukumannya sendiri kepada
pelaku individu apakah keadilan manusia diketahui atau tidak.
Ada beberapa yang mengkritik demikian: "Jadi, Anda umat Buddha juga,
memberikan opium kapitalistik kepada orang-orang, dengan mengatakan: "Anda
terlahir miskin dalam kehidupan ini karena karma jahat masa lalu Anda. Ia terlahir
kaya karena Karma baiknya. Jadi, puaslah dengan banyak rendah hati Anda; tapi
berbuat baiklah untuk menjadi kaya di kehidupanmu selanjutnya. Anda sedang
ditindas sekarang karena karma jahat masa lalu Anda. Ada takdirmu. Bersikaplah
rendah hati dan menanggung penderitaan Anda dengan sabar. Lakukan yang baik
sekarang. Anda bisa yakin akan kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia
setelah kematian." Doktrin Buddhis tentang Karma tidak menjelaskan pandangan
fatalistik yang tidak masuk akal seperti itu. Juga tidak membuktikan keadilan
postmortem. Buddha Maha Penyayang, yang tidak memiliki motif egois yang
tersembunyi, tidak mengajarkan hukum Karma ini untuk melindungi orang kaya
dan menghibur orang miskin dengan menjanjikan kebahagiaan ilusi di kehidupan
setelah kematian.
Sementara kita dilahirkan dalam keadaan yang diciptakan oleh diri kita
sendiri, namun dengan usaha kita sendiri yang mengarahkan, ada setiap
kemungkinan bagi kita untuk menciptakan lingkungan baru yang menguntungkan
bahkan di sini dan sekarang. Tidak hanya secara individu, tetapi juga, secara
kolektif, kita bebas untuk menciptakan Karma baru yang mengarah pada
kemajuan atau kejatuhan kita dalam kehidupan ini.
Menurut doktrin Buddhis tentang Karma, seseorang tidak selalu dipaksa
oleh 'keperluan besi', karena Karma bukanlah takdir, atau takdir yang dipaksakan
kepada kita oleh suatu kekuatan misterius yang tidak diketahui yang kepadanya
kita harus tunduk tanpa daya. Itu adalah perbuatan seseorang yang bereaksi
terhadap dirinya sendiri, dan karena itu seseorang memiliki kemungkinan untuk
mengalihkan arah karmanya sampai batas tertentu. Seberapa jauh seseorang
mengalihkan itu tergantung pada dirinya sendiri.
Apakah seseorang pasti akan menuai semua yang telah ia tabur secara
proporsional?
15
Sang Buddha memberikan jawaban:
“Jika seseorang mengatakan bahwa seorang pria atau wanita harus menuai
dalam kehidupan ini sesuai dengan perbuatannya sekarang, dalam hal itu tidak
ada kehidupan religius, juga tidak ada kesempatan yang diberikan untuk
melenyapkan seluruh kesedihan. Tetapi jika ada yang mengatakan bahwa apa
yang pria atau wanita menuai dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan
datang sesuai dengan perbuatannya sekarang dan masa lalu, dalam hal itu ada
kehidupan religius, dan kesempatan diberikan untuk melenyapkan seluruh
kesedihan." (Anguttara Nikaya)
Meskipun dinyatakan dalam Dhammapada bahwa "tidak di langit, atau di
tengah laut, atau memasuki gua gunung ditemukan tempat di bumi di mana
seseorang dapat melarikan diri dari (akibat) perbuatan jahat", namun ia tidak
terikat untuk membayar semua tunggakan karma masa lalu seseorang. jika hal ini
berarti adalah kasus emansipasi tidak mungkin. Pengulangan abadi akan menjadi
hasil yang tidak menguntungkan.
1.3. Apa penyebab karma?
Penyebab dari karma adalah ketidaktahuan atau avijja. Tidak mengetahui
segala sesuatu sebagaimana adanya adalah penyebab dari karma. Dalam hukum
sebab-akibat yang saling bergantungan atau Paticcasamuppada, Buddha
mengatakan, “dari ketidaktahuan, timbul bentuk-bentuk karma” (Avijja Paccaya
Sankhara). Semua perbuatan baik yang dilakukan ditunjang dari tiga akar baik
yaitu :
16
- Tidak serakah atau alobha
- Tidak membenci atau adosa
- Kebijaksanaan atau amoha
Sedangkan perbuatan jahat selalu ditunjang oleh tiga akar kejahatan yaitu :
- Keserakahan atau lobha, yang disimbolkan sebagai babi
- Membenci atau dosa, yang disimbolkan dengan ular
- Kebodohan batin atau moha, yang disimbolkan sebagai ayam
‘ Siapa pelaku karma? Siapa yang menuai buah Karma? Apakah Karma
membentuk jiwa? ‘
Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan halus ini, Yang Mulia
Buddhaghosa menulis dalam Visuddhi Magga: “Tidak ada pelaku yang melakukan
perbuatan itu, juga tidak ada orang yang merasakan buahnya, bagian konstituen
saja berguling; Ini memang! Apakah kebijaksanaan yang benar."
Dalam pengertian tertinggi, apa yang disebut meja terdiri dari kekuatan dan
kualitas. Untuk tujuan biasa seorang ilmuwan akan menggunakan istilah air,
tetapi di laboratorium ia akan mengatakan H20. Dengan cara yang sama, untuk
tujuan konvensional, istilah seperti pria, wanita, makhluk, diri, dan sebagainya
digunakan. Apa yang disebut bentuk sekilas terdiri dari fenomena psikofisik, yang
terus berubah tidak tetap sama selama dua momen berturut-turut. Umat Buddha,
oleh karena itu, tidak percaya pada entitas yang tidak berubah, pada aktor yang
terpisah dari tindakan, pada pengamat yang terlepas dari persepsi, pada subjek
sadar di balik kesadaran. Lalu siapakah pelaku karma itu? Siapa yang mengalami
efeknya? Kemauan, atau Kehendak (tetana), adalah pelakunya sendiri, Perasaan
(vedana) itu sendiri adalah penuai dari buah tindakan. Terlepas dari kondisi mental
murni (suddhadhamma) ini, tidak ada yang menabur dan tidak ada yang menuai.
Hukum karma berdasarkan pandangan Buddhis, perbedaan-perbedaan
mental intelektual, moral dan watak sebagian besar bergantung pada perbuatan
atau karma masing-masing, baik pada saat lampau maupun pada saat sekarang.
Meskipun Buddhisme mengaitkan fenomena keberagaman ini dengan karma
sebagai penyebabnya, namun ini tidak berarti segala sesuatu hanya terjadi akibat
karma di masa lampau. Sang Buddha mengatakan : “Menurut pandangan ini, oleh
karena perbuatannya di masa lampau, seseorang menjadi pembunuh, pencuri,
17
pendusta, pemfitnah, tamak, dengki, dan sesat, Oleh sebab itu, bagi mereka yang
berpandangan bahwa perbuatan-perbuatan lampau sebagai satu-satunya
penyebab, tidak akan ada keinginan, usaha maupun kebutuhan untuk melakukan
suatu perbuatan, sebaliknya juga tidak akan ada keinginan, usaha, maupun
kebutuhan untuk tidak melakukan suatu perbuatan.” Buddha menyangkal
kepercayaan yang menyatakan bahwa semua fenomena baik fisik maupun mental
disebabkan semata-mata oleh karma masa lampau. Jika kehidupan saat ini
dikondisikan atau dikendalikan sepenuhnya hanya oleh karma masa lampau,
maka karma akan sama saja dengan fatalisme, nasib atau takdir.
1.4. Klasifikasi karma
I. Berdasarkan jenisnya
- Kamma Buruk/Jahat atau disebut dengan Akusala kamma, yaitu:
Perbuatan Jahat/buruk yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh lobha
(keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin). Contoh :
membunuh, mencuri, berbohong, mabuk-mabukan, dan sebagainya.
- Kamma Baik atau disebut dengan Kusala kamma, yaitu
Perbuatan Baik yang didasari oleh pikiran yang diliputi oleh adosa
ketidakbencian), alobha (ketidakserakahan), dan amoha (ketidak bodohan
batin). Contoh : berdana, menolong makhluk yang kesukaran, berkata jujur,
bermeditasi, dan sebagainya.
II. Berdasarkan salurannya
Kamma ini terdiri dari tiga macam, yaitu Mano Kamma, Vaci Kamma, Kaya
Kamma.
1. Mano Kamma adalah perbuatan yang dilakukan oleh pikiran.
Perbuatan baik yang dilakukan oleh pikiran dalam bahasa Pali disebut Akusala
Mano Kamma. Contoh : tidak serakah, tidak membenci, tidak memiliki
kebodohan, dll
Perbuatan jahat yang dilakukan oleh pikiran disebut Akusala Mano Kamma.
Contoh: membenci, serakah, irihati, dll
2. Vaci Kamma adalah perbuatan yang dilakukan oleh ucapan.
18
Perbuatan baik yang dilakukan melalui ucapan disebut Kusala Vaci Kamma.
Contoh: berkata jujur, tidak memfitnah, tidak membicarakan orang lain, dll.
Perbuatan jahat yang dilakukan melalui ucapan disebut Akusala Vaci Kamma.
Contoh: berdusta, omong kosong, memfitnah, sombong, bicara kasar, dll.
3. Kaya Kamma adalah perbuatan yang dilakukan melalui badan jasmani.
Perbuatan baik yang dilakukan melalui jasmani disebut Kusala Kaya Kamma.
Contoh: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbuat asusila, dll.
Perbuatan jahat yang dilakukan melalui jasmani disebut Akusala Kaya Kamma.
Contoh: mencubit, memukul, membunuh, mencuri, berbuat asusila, dll.
III. Berdasarkan jangka waktunya
i. Ditthadhammavedaniya Kamma (Kamma langsung berbuah) yaitu Kamma
yang menghasilkan akibat (vipaka) dalam jangka waktu satu kehidupan.
Kamma ini terbagi 2 macam, yaitu:
1. Kamma yang telah masak dan memberikan hasil dalam kehidupan
sekarang ini, atau disebut dengan Paripakka Dittha dhammavedaniya
Kamma.
Contoh 1: Seorang miskin bernama Punna yang memberikan dana makanan
kepada Y.A. Sariputta Maha Thera menjadi kaya-raya dalam waktu tujuh hari
setelah berdana.
Contoh 2: Misalnya saja ketika kita mengambil helm milik orang lain, karena helm
kita sendiri telah dicuri seseorang. Supaya tidak ketahuan, kita mengendarai
sepeda motor dengan kecepatan tinggi walaupun lampu lalu lintas berwarna
merah. Akhirnya kita ditangkap polisi. Terpaksa kita harus membayar tilang Rp
15.000 (padahal harga sebuah helm hanya Rp 10.000). Ini adalah salah satu contoh
sederhana kamma yang langsung berbuah.
2. Kamma yang memberikan hasil setelah lewat tujuh hari (Aparipakka
Ditthadhammavedaniya).
Contoh: Jika berbuat kebaikan atau kejahatan dalam usia muda, akan dipetik hasil
dalam usia muda atau usia tua dalam kehidupan sekarang ini juga.
19
ii. Upapajjavedaniya Kamma yaitu: Kamma yang menghasilkan akibat
(vipaka) pada kehidupan berikutnya, yaitu satu kehidupan setelah
kehidupan sekarang. Misalnya orang yang melakukan meditasi hingga
mencapai jhana tertentu, maka setelah meninggal ia akan langsung terlahir
di Alam Brahma.
iii. Aparapariyavedaniya Kamma yaitu: Kamma yang menghasilkan akibat
(vipaka) pada kehidupan berikutnya secara berturut-turut. Salah satu
contoh adalah orang yang sering mendengarkan Dhamma, besar
kemungkinan ia akan terlahir kembali di alam sorga dalam kehidupan-
kehidupan yang berikutnya. Mengapa demikian? Dengan mendengarkan
Dhamma, orang tersebut telah melakukan kamma baik karena ia telah
melatih berdana perhatian. Selama mendengarkan Dhamma, ia juga telah
memusatkan pikiran, ucapan serta perbuatannya ke arah kebajikan, apalagi
jika ia dapat mengerti serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan
sehari-hari. Kebajikan ini tentunya sangat selaras dengan salah satu isi
kotbah Sang Buddha yang menyatakan bahwa mendengarkan Dhamma
pada saat yang sesuai adalah Berkah Utama.
iv. Ahosi Kamma yaitu Kamma yang tidak sempat berbuah karena telah
kehabisan waktu atau kehilangan kesempatan untuk berbuah, karena:
Jangka waktu untuk memberikan hasilnya telah habis, atau
Kamma yang menghasilkan akibatnya telah habis, atau
Kamma tersebut telah menghasilkan akibatnya secara penuh.
Ahosi Kamma terbentuk ketika kekuatan suatu perbuatan (kamma) terhalangi
oleh kekuatan perbuatan (kamma) lain yang sangat besar. Selain itu Ahosi Kamma
terbentuk jika tidak adanya kondisi-kondisi pendukung yang dibutuhkan untuk
kamma itu berbuah, sehingga kamma tersebut tidak menghasilkan akibat
(vipaka).
Contoh: Angulimala Thera, dulunya sebelum menjadi anggota Sangha, pernah
menjadi penjahat dan telah membunuh 999 orang. Setelah Beliau bertemu
dengan Sang Buddha, Beliau bertobat dan kemudian ditahbiskan menjadi
Bhikkhu. Beliau melatih diri dengan jalan melaksanakan Vipassana Bhavana
secara tekun, dan akhirnya Beliau mencapai kesucian tingkat Arahat. Jadi,
20
kejahatan Beliau yang telah membunuh ratusan orang itu menjadi Ahosi Kamma,
karena sewaktu Beliau mencapai kesucian tingkat pertama, yaitu Sotapatti-
magga, maka dengan kekuatan magga pertama itu, Beliau telah membasmi Kilesa
(kekotoran batin) yang berat sehingga pintu alam Apaya tertutup dengan rapat.
Ini berarti pula perbuatan membunuh ratusan orang itu menjadi Ahosi Kamma,
yaitu Kamma yang tidak menimbulkan akibat sama-sekali.
Sering orang mengatakan bahwa tercapainya Nibbana (Bhs. Pali) atau Nirvana
(Bhs. Sanskerta) adalah ketika kamma baik dan kamma buruknya telah habis.
Padahal kamma itu sangat sulit untuk dapat habis berbuah karena jumlahnya yang
tidak terbatas. Namun, kamma dapat dipotong. Kita dapat merasakan buah
kamma apabila kita masih mempunyai badan dan batin, artinya kita masih hidup
setelah dilahirkan. Apabila kita tidak dilahirkan kembali, maka kesempatan untuk
merasakan buah kamma baik maupun buruk sudah tidak ada lagi. Dengan
demikian, ada berbagai kamma yang tidak sempat berbuah.
IV. Berdasarkan sifat bekerjanya
1) Janaka Kamma (Fungsi kamma penghasil) yaitu Kamma yang
menyebabkan timbulnya syarat untuk terlahirnya kembali suatu makhluk
didalam 31 alam kehidupan (bhumi 31). Kamma ini menimbulkan Batin
(Nama) dan Jasmani (Rupa).
Contoh: Seseorang terlahir dilingkungan keluarga yang bahagia, serba
berkecukupan dan memperoleh pendidikan yang baik, dan kebalikannya
seseorang terlahir dilingkungan keluarga yang amburadul, serba
kekurangan/miskin dan tidak pernah mengenyam pendidikan yang layak.
2) Upatthambhaka Kamma (Fungsi kamma pendukung) yaitu kekuatan yang
mendorong terpeliharanya suatu akibat dari pada sebab (kamma) yang
telah timbul. Kamma ini mendukung fungsi kamma yang melahirkan
(Janaka Kamma), yaitu:
Membantu Janaka Kamma yang belum waktunya untuk menimbulkan
hasil, memberikan waktu menimbulkan hasil /akibat.
Membantu Janaka Kamma yang sedang mempunyai waktu menimbulkan
hasil memberikan kekuatan untuk menimbulkan hasil secara sempurna.
Membantu Nama-Rupa (Batin-jasmani) yang dilahirkan Janaka Kamma
menjadi maju dan bertahan lama.
21
Contoh 1: Selain ia terlahir di keluarga yang miskin, dia juga terlahir dalam
keadaan cacat. Inilah salah satu contoh kamma yang mendukung.
Contoh 2: Umur seseorang yang semestinya ditetapkan oleh Janaka Kamma
hanya hidup selama 60 tahun dibumi ini, tetapi didalam kehidupannya sehari-hari
ia banyak melakukan perbuatan baik, suka menolong makhluk lainnya, berdana,
melaksanakan sila dan selalu waspada dalam semua tindakan pikiran, ucapan dan
perbuatan jasmaninya sehingga umur yang ditetapkan oleh Janaka Kamma
selama 60 tahun tersebut bertambah 20 tahun lagi.
3) Upapilaka Kamma (Fungsi kamma pelemah) yaitu Kamma yang menekan,
mengolah, menyelaraskan satu akibat dari satu sebab. Fungsi kamma
pelemah ini berhubungan dengan perbuatan baik maupun buruk yang
dilakukan dalam kehidupan saat ini. Kamma ini adalah menekan Janaka
Kamma, yaitu:
Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma supaya tidak ada waktu
menimbulkan hasil.
Upapilaka Kamma yang menekan Janaka Kamma yang mempunyai waktu
menimbulkan hasil supaya mempunyai kekuatan menurun
Upapilaka Kamma yang menekan Nama-Rupa (Batin-jasmani) yang
dilahirkan Janaka Kamma.
Contoh 1: Meskipun seseorang terlahir sebagai orang yang miskin serta cacat,
orang tersebut mungkin saja mempunyai perilaku kemoralan yang baik.
Contoh 2: Budi seorang narapidana yang divonis 10 tahun hukuman penjara,
namun dalam kesehariannya, ia sering menunjukan tabiat yang baik, rajin bekerja,
maka Budi mendapatkan keringanan hukuman menjadi 7 tahun saja.
4) Upaghataka Kamma (Fungsi kamma penghancur) yaitu fungsi kamma yang
menghancurkan atau memotong kekuatan akibat dari satu sebab yang
telah terjadi dan sebaliknya menyuburkan berkembangnya kamma baru.
Jadi upaghataka-kamma adalah kamma yang memotong kamma maupun
hasil dari kamma lainnya secara menyeluruh.
Pemotongan dari upaghataka-kamma ada 2 macam:
Memotong janaka-kamma supaya tidak ada waktu untuk menimbulkan
hasil/akibat untuk selamanya. (Kammantara-Upaghataka).
22
Memotong nama-rupa yang dilahirkan oleh janaka-kamma sampai rusak
(Kammanibbata-khandha-santana-upaghataka).
Contoh 1: Walaupun orang itu cacat tubuhnya, Karena perilaku kemoralannya
baik, ucapannya serta tingkah lakunya juga baik, maka mungkin saja ada orang
yang simpati kepadanya. Orang tersebut mungkin akan memberinya pekerjaan
yang sesuai dengan keadaannya. Inilah salah satu contoh kamma yang
memotong, artinya bertentangan atau memotong buah kamma yang sedang
berlangsung atau buah kamma yang sedang dialaminya.
Contoh 2: Misalnya: “A” adalah seorang pemain bulutangkis. Ia sering menjadi
juara dalam beberapa pertandingan dan bulutangkis adalah karirnya. Suatu hari,
saat “A” mengendarai mobil, tiba-tiba ia menabrak truk yang ada didepannya.
Akibatnya, tangan kanannya patah dan cacat seumur hidup sehingga karirnya
menjadi hancur.
Kamma sangat berhubungan dengan perbuatan seseorang saat ini. Segala
sesuatu yang dilakukan pada saat ini akan menentukan buah kamma di masa
depan. Dengan demikian, kamma bukanlah nasib yang tidak bisa diubah. Kamma
masih dapat diperbaiki dan diubah dengan melakukan berbagai kamma atau
perbuatan yang lain. Jadi, perbuatan saat inilah yang paling penting!
V. Berdasarkan kualitas akibatnya
a. Garuka Kamma yaitu Kamma Berat, yang memiliki kualitas kekuatan yang
besar yang mampu menimbulkan hasil dalam waktu satu kehidupan atau
kehidupan kedua, dan kekuatan kamma lain tidak mampu mencegahnya.
Garuka Kamma terdiri dari 2 jenis yaitu:
Akusala Garuka Kamma adalah Perbuatan Buruk/Jahat yang berat. Yang
disebut Akusala Garuka Kamma (Perbuatan jahat yang berat) adalah
Niyatamicchaditthi-Kamma (Perbuatan pandangan salah yang pasti) dan
Pancanantariya-Kamma (Lima perbuatan durhaka, yaitu membunuh ibu,
membunuh ayah, membunuh Arahat, melukai seorang Buddha dan
memecah-belah Sangha). Apabila seseorang melakukan salah satu atau
lebih dari kelima perbuatan buruk tersebut, maka setelah meninggal dunia,
orang tersebut langsung terlahir di Alam Neraka Avici. (Alam yang
menyedihkan, yaitu alam neraka, alam setan, alam binatang dan alam
asura). Akusala Garuka Kamma juga disebut dengan Anantariya Kamma
23
karena dampaknya masih dapat di rasakan dikehidupan selanjutnya. Hal ini
dijelaskan oleh Guru Buddha dalam Parikuppa Sutta; Anguttara Nikaya
5.129.
Contoh: Devadatta yang telah melukai kaki Guru Buddha dan memecah-belah
Sangha, dilahirkan kembali di alam neraka avici. Dan Raja Ajatasattu yang telah
membunuh ayahnya (Raja Bimbisara) tidak dapat meraih kesucian Sotapana
(tingkat kesucian pertama) karena kekuatan besar dari Akusala Garuka Kamma.
b. Kusala Garuka Kamma adalah Perbuatan Baik yang berat. Yang disebut
Kusala Garuka Kamma adalah hasil dari melaksanakan Samatha-Bhavana
(meditasi ketenangan batin) sehingga mencapai Rupa-Jhana 4 dan Arupa-
Jhana 4 atau disebut Jhana 8, akibatnyapun lebih cepat daripada tingkatan
batin yang lainnya. Akibat dari melakukan Kusala Garuka Kamma adalah
tumimbal-lahir di alam Brahma.
Kamma jenis ini juga bisa terjadi untuk mereka yang telah melatih meditasi
pengembangan kesadaran sehingga mencapai kebijaksanaan atau mencapai
Nibbana. Dengan tercapainya Nibbana, maka ia sudah tidak akan terlahir kembali
di alam manapun juga setelah ia meninggal di kehidupan ini.
c. Akusala Garuka Kamma, bila tidak ada waktu menimbulkan hasil, tetapi
mempunyai kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka Kamma (Kamma
penunjang). Sebaliknya, Kusala Garuka Kamma bila tidak ada waktu
menimbulkan hasil, akan menjadi Ahosi Kamma dan tidak mempunyai
kesempatan untuk menjadi Upatthambhaka Kamma (Kamma penunjang).
d. Asanna Kamma (Kamma yang berkesan yang muncul pada saat kematian)
Pada saat seseorang akan meninggal dunia, maka pikirannya akan
mengingat perbuatan kusala kamma (perbuatan baik) dan akusala kamma
(perbuatan buruk/jahat) yang dilakukannya.Apabila tidak ada perbuatan
berat (kamma berat) yang pernah dilakukan selama hidupnya, maka
pikirannya akan mengingat salah satu perbuatan yang paling berkesan
dalam hidupnya. Kamma inilah yang akan menentukan keadaan kelahiran
seseorang yang akan datang jika tidak ada kekuatan kamma lain yang lebih
besar lagi yang menentukan.
Misalnya: Ia teringat kesan baik ketika ia mendengarkan Dhamma atau sering
bertemu dengan para bhikkhu. Apabila ia meninggal pada saat mengingat kesan
24
baik tersebut, ia akan terlahir di alam bahagia. Sebaliknya kalau ia teringat kesan
perbuatan yang tidak baik, maka ia dapat saja terlahir di alam menderita.
Contoh: Seorang algojo pada saat menjelang ajalnya, ia mengingat pernah
memberi sedekah kepada Y.A. Sariputta. Dengan mengingat hal ini ia terlahir di
alam yang bahagia. Namun, meskipun terlahir di alam bahagia, ia tetap
memperoleh dampak buruk dari apa perbuatan buruk yang pernah ia lakukan.
Ini pula sebabnya seseorang yang akan meninggal dunia dilakukan upacara
pembacaan Paritta. Salah satu tujuan upacara ritual ini adalah untuk membantu
orang yang akan meninggal tersebut mengingat berbagai kesan kebajikan yang
telah dilakukannya selama hidup. Dengan demikian, ia akan mempunyai kondisi
untuk terlahir di alam bahagia.
e. Acinna Kamma atau Bahula Kamma adalah merupakan kamma yang
secara terus menerus dilakukan dan diingat seseorang serta padanya ia
mempunyai kemelekatan yang kuat (Kamma Kebiasaan), yaitu perbuatan
baik dan jahat yang merupakan kebiasaan bagi seseorang karena sering
dilakukan.
Kalau di dalam proses kematian itu tidak ada perbuatan yang berkesan atau tidak
sempat berpikir, misalnya karena ia meninggal dalam keadaan koma atau
kecelakaan fatal, maka hal yang menentukan kelahiran kembalinya adalah
perbuatan yang menjadi kebiasaan dalam hidupnya.
Misalnya, orang yang mempunyai kebiasaan bermain musik, apabila pada saat
meninggal dunia ia teringat dengan kebiasaannya itu, maka ia dapat saja terlahir
kembali sebagai orang yang memiliki bakat bermain musik sejak kecil.
Contoh: Cunda seorang penjagal babi, yang hidup disekitar vihara tempat Guru
Buddha berdiam, ia meninggal dengan mendengking seperti babi karena
kebiasaannya memotong babi.
f. Kattata Kamma adalah Kamma yang tidak terlalu berat dirasakan
akibatnya. Kamma ini yang paling lemah di antara semua kamma. Kamma
ini merupakan perbuatan baik (kusala kamma) dan perbuatan jahat
(akusala kamma) yang pernah dibuat dalam kehidupan lampau dan
kehidupan sekarang ini yang hampir tidak didorong oleh kehendak. Kamma
ini berproses apabila ketiga kamma diatas tidak pernah dilakukan.
25
Misalnya: Pada satu saat, seseorang pernah melihat dan menyingkirkan paku agar
tidak ada orang lain yang terluka karenanya, apabila kamma sederhana yang
membahagiakan ini timbul di saat kematian, ia dapat pula terlahir di alam bahagia.
Mari Berlatih !
1. Bagaimana kalian memahami tentang karma yang selama ini kalian
ketahui?
2. Berikan tanggapan kalian bagaimana manusia melakukan perbuatannya.
3. Berikan contoh tentang berlakunya hukum karma dalam kehidupan sehari-
hari!
Tugas Kelompok
Diskusikan dengan kelompok kalian di sekolah, kemudian Minggu depan
dipresentasikan di depan kelas. Materi tentang karma atau perbuatan manusia.
Perbuatan baik dan perbuatan jahat.
Mari Bertanya!
1. Amatilah lingkungan sekitar kalian. Dalam pergaulan sehari-hari, mengapa
ada orang terlahir cacat, ada pula orang yang terlahir sempurna, ada yang
kaya dan ada yang miskin, ada yang cantik atau ganteng sementara yang
lain biasa-biasa saja, ada yang berbudi baik ada juga yang berkelakuan
jahat, dan lain sebagainya. Tanyakan atau diskusikan dengan pemuka
agama Buddha, pandita atau bhikkhu/bhikkhuni di cetiya atau vihara yang
sering kalian kunjungi!
2. Setelah itu berikan tanggapan atau analisis kalian terhadap kenyataan-
kenyataan hidup seperti itu!
26
B. Kelahiran kembali ( Punarbhava )
2.1. Hakikat Punarbhava
Punabhava adalah istilah yang dikenal dalam agama Buddha sehubungan
dengan kelahiran kembali suatu mahluk hidup dalam alam kehidupan yang sama
atau berbeda serta tidak membawa kesadaran akan kehidupan dari alam
sebelumnya. Dalam agama Buddha dikenal juga dengan penerusan dari nama
(patisandhi vinnana). Ketika seseorang akan meninggal dunia, kesadaran ajal (cuti
citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma.
Kemudian kesadaran ajal padam dan langsung menimbulkan kesadaran
penerusan (patisandhi vinnana ) untuk timbul pada salah satu dari tiga alam
kehidupan sesuai dengan karmanya.
Keinginan tak terpuaskan akan keberadaan dan kenikmatan inderawi
adalah sebab tumimbal lahir. Dengan memadamkan nafsu keinginan maka kita
dapat menghentikan tumimbal lahir. Nafsu keinginan ini merupakan salah satu
sebab yang menimbulkan karma dan menimbulkan proses kelahiran kembali.
Ajaran agama Buddha tentang tumimbal lahir harus bedakan dari ajaran tentang
perpindahan dan reinkarnasi dari agama lain. Tumimbal lahir atau punarbhava
27
yang disebut juga penerusan (patisandhi) bukan perpindahan roh karena dalam
agama Buddha tidak mengenal roh yang kekal dan berpindah. Dalam agama
Buddha dikenal dengan penerusan dari nama (patisandhi vinnana). Secara umum
ada empat cara tumimbal lahirnya mahluk-mahluk, yaitu Jalabuja-yoni (lahir
melalui kandungan seperti manusia, sapi, dan kerbau), andaja-yoni (lahir melalui
telur seperti ayam, bebek, dan burung), sansedaja-yoni (lahir melalui kelembaban
seperti nyamuk dan ikan), dan opapatika-yoni (lahir secara spontan seperti
mahluk-mahluk alam dewa dan peta). Ada dua pendapat tentang tumimbal lahir,
yang pertama menurut Abhidhamma bahwa tumimbal lahir terjadi segera setelah
kematian suatu mahluk tanpa keadaan antara apapun. Sedangkan yang kedua ada
yang berpendapat bahwa suatu mahluk setelah mati maka kesadaran atau energi
mental mahluk tersebut tetap ada dalam suatu tempat, didukung oleh energi
mental akan nafsu dan kemelekatannya sendiri, menunggu hingga cepat atau
lambat tumimbal lahir terjadi.
Seorang Buddha atau arahat tidak akan terlahir kembali karena telah
menghentikan karma. Dalam Dhammacakkapavatana sutta sang Buddha
mengatakan bahwa “inilah kelahiran-ku yang terakhir, tiada lagi tumimbal lahir
bagi-ku”. Hal tersebut membuktikan bahwa seorang Buddha tidak akan terlahir
kembali. Dengan adanya proses menjadi maka terjadilah kelahiran, dengan
adanya kelahiran maka terjadilah kelapukan dan kematian. Kelapukan dan
kematian menyebabkan kelahiran. Itu adalah mata rantai yang tidak dapat
terputus, kelahiran terjadi setelah ada kematian dan kematian terjadi karena ada
kelahiran. Makhluk hidup setelah mati akan langsung terlahir kembali (patisandhi)
tanpa menunggu jeda.
28
2.2. Proses Punarbhava
Dalam agama Buddha dipercayai adanya suatu proses kelahiran kembali
(Punarbhava). Semua makhluk hidup yang ada di dalam semesta ini akan terus
menerus mengalami punarbhava selama makhluk tersebut belum mencapai
tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut.
Bila ia baik maka dia akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di
alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka
Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal
dia berpikirran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya
akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari
karma masing-masing. Di dalam proses kelahiran kembali sangat ditentukan oleh
karma, karena setiap perbuatan yang dilandasi kehendak akan membuahkan hasil
atau akibat.
Perbuatan baik, akan berubah baik, dan perbuatan buruk akan berubah
buruk. Karma adalah suatu hukum alam yang bekerja secara ketat sesuai dengan
tindakan kita. Kelahiran kembali terbentuk oleh suatu kebajikan dan kejahatan
yang diperbuat dalam kehidupan saat ini dan sebelumnya karena proses kelahiran
kembali dan kematian penuh dengan penderitaan, pembebasan dari lingkaran
29
kelahiran dan kematian. Kelahiran kembali akan selalu terjadi selama nafsu akan
keberadaan dan kesenangan melekat di dalam pikiran. Dalam mencapai suatu
kelahiran kembali harus selalu berharap, berdoa dan melakukan usaha yang
sungguh-sungguh untuk menghilangkan nafsu yang melekat dalam pikiran
manusia
2.3. Bukti Punarbhava
Bukti-bukti Kelahiran kembali berupa hasil riset dari Dr. Ian Stevenson,
seorang ilmuwan Amerika. Dr. Stevenson, yang adalah profesor di bidang Psikiatri
( Ilmu kedokteran Jiwa ) di Universitas Virginia, memulai risetnya di tahun 1958,
dan ternyata kemudian disambut dan dikenal dunia internasional. Selama
bertahun-tahun, dia melaporkan secara rinci kasus-kasus orang dewasa maupun
anak-anak yang dapat mengingat kehidupan lampaunya, semuanya dilatar
belakangi oleh metode riset ilmiah secara cermat. Rekan ilmuwannya, Dr.Harold
Leif, mengomentari riset Ian Stevenson, sebagai berikut : “ Hanya salah satu dari
dua kemungkinan, dia membuat satu kesalahan besar atau dia akan dikenal
sebagai Galileo-nya abad XX ”. Salah satu kasus penelitian Dr.Stevenson, adalah
sbb :
Seorang anak bernama Ravi Shankar, dilahirkan pada tahun 1951 di kota
Kanay- India Utara. Ayahnya bernama Ram Gupta; sejak berumur dua tahun si
anak berkeras bahwa ayah sebenarnya adalah seorang bankir bernama
Jogeshwar. Dia juga mengatakan bahwa pada kehidupan lalunya dia dibunuh
dengan digorok tenggorokannya oleh dua orang, Chaturi dan Jamahar. Sebagai
bukti, si anak menunjukkan tanda lahir dilehernya, yang memang bertanda lahir
seperti bekas luka potong. Penyelidikan kemudian membuktikan, bahwa ternyata
setengah mil dari kediaman mereka, ada seorang bernama Jogeshwar yang
mempunyai seorang anak laki-laki bernama Munna yang telah terbunuh, persis
seperti yang digambarkan oleh Ravi Shankar. Yang berwajib sejauh itu memang
sangat mencurigai dua orang sebagai pembunuhnya, seorang binatu bernama
Chaturi dan seorang bankir bernama Jamahar, namun mereka dibebaskan karena
kurangnya bukti. Munna dibunuh enam bulan sebelum Ravi lahir. Riset Dr.
Stevenson terbukti kebenarannya secara sangat rinci
Banyak dari kasus-kasus seperti diatas mempunyai bukti yang sangat kuat,
ialah bahwa setelah kematian, seorang akan terlahir kembali dengan ingatan yang
30
jelas pada kejadian yang sangat dramatis pada kehidupan lampaunya. Sebaliknya,
sejauh ini, tidak pernah ada bukti-bukti yang dapat mendukung pandangan bahwa
setelah kematian seorang akan pergi Surga kekal atau Neraka kekal yang
tergantung pada perbuatan atau agama orang itu. Begitu pula dengan pandangan
Materialistik yang memiliki paham “Kemusnahan pada kematian ”. Jumlah para
pemikir, filsuf serta ilmuwan yang menerima doktrin Kelahiran kembali meningkat
secara sangat mengesankan.
Thomas Huxley, ilmuwan yang memperkenalkan Sains pada abad XIX ke
sistem pendidikan di Inggris, yang pula adalah ilmuwan pertama yang mendukung
teori Darwin, percaya bahwa kelahiran kembali adalah doktrin yang benar-benar
dapat diterima. Dalam bukunya “ Evolution and Ethics and other Essays ”, dia
menulis : “ Pada doktrin kelahiran kembali, baik yang berasal dari pandangan
kaum Brahmin ataupun Buddhist, telah siap, semua sarana untuk menyusun
pertahanan yang beralasan yang menghubungkan kosmos(Alam Semesta)
dengan manusia,… Tapi paham yang adil ini belum lebih diterima dibanding yang
lainnya; dan para pemikir yang sembrono secara tak berhati-hati menolaknya
serta mencampakkannya sebagai sesuatu yang jelas tak masuk akal. Sama halnya
dengan doktrin evolusi; doktrin kelahiran kembali berakar pada dunia yang nyata;
dan mampu mendapatkan dukungan-dukungan seperti argumentasi yang kuat
dari persamaan yang dapat memenuhinya.” (The Soul and the Universe ).
Professor Gustaf Stromberg, ahli astronomi Swedia, ahli fisika yang adalah
kawan Einstein, juga menyebutkan paham Kelahiran kembali sebagai paham yang
sangat memikat hati sebagai berikut : “ Banyak pendapat yang berbeda, mengenai
dapat atau tidaknya jiwa manusia ber-reinkarnasi ke dunia lagi. Pada tahun 1936
suatu kasus yang sangat menarik dilaporkan dan diteliti secara luas oleh mereka
yang berwajib di India.” Seorang anak gadis (Shanti Devi dari Delhi) secara tepat
dapat menggambarkan kehidupan lalunya (di Mattra, lima ratus mil dari Delhi)
yang berakhir sekitar setahun sebelum “ Kelahiran keduanya ”. Dia menyebut
nama suami dan anaknya serta memberi gambaran mengenai riwayat hidup serta
rumahnya yang lalu. Panitia penyelidik membawanya kerumah keluarganya pada
kehidupan sebelumnya, yang ternyata membenarkan segala pernyataannya.
Diantara masyarakat India, Reinkarnasi adalah dianggap masalah biasa; hal yang
mereka anggap luar biasa pada kasus ini adalah sedemikian banyaknya hal yang
dapat diingat kembali oleh si gadis ini. Kasus ini dan kasus-kasus yang sama dapat
31
dianggap sebagai bukti tambahan tentang teori kekuatan daya ingat.” Profesor
Julian Huxley, ilmuwan terhormat dari Inggeris, mantan Direktur Jenderal
UNESCO, percaya bahwa paham kelahiran kembali seirama dengan jalan pikiran
ilmu pengetahuan : “ Tidak ada kekuatan yang dapat merintangi terlepasnya ‘Roh
kehidupan kekal’ makhluk pribadi, pada saat kematiannya, dengan berbagai cara
; sama seperti pesan-pesan radio yang terlepas dari pesawat pemancar radio
dengan caranya sendiri pula. Tapi, hendaknya dicamkan bahwa pesan-pesan radio
hanya akan berwujud kembali sebagai pesan setelah berkontak dengan struktur
materi baru, yakni pesawat penerima-radio. Pada Roh, kita keluar darinya.
Kemudian… tak pernah dapat berpikir atau merasakan lagi, bila tidak kembali “
berwujud “ dengan cara bagaimanapun. Kepribadian kita sangat didasari oleh
jasmani kita, yang dengan sendirinya tidak mungkin hidup dalam makna
sebenarnya, tanpa adanya “ Semacam badan “….. Saya dapat memikirkan sesuatu
yang terlepas, yang sama keadaannya, pada lelaki dan wanita, seperti pesan-
pesan radio pada pesawat pemancar; tapi dalam hal “ Kematian “ semestinya,
seperti yang dapat dimaklumi oleh siapa saja, yang terjadi adalah gejolak dalam
berbagai bentuk yang mengembara sampai mereka…...datang kembali dalam
wujud kesadaran yang aktual, setelah berkontak dengan sesuatu yang dapat
bekerja sebagai “ pesawat penerima untuk batin “.
Henry Ford, Industrialis Amerika, tertarik pada masalah kelahiran kembali,
sebab, tidak seperti paham agama lain, kelahiran kembali memberi kesempatan
untuk mengembangkan diri sendiri. Henry Ford berkata : “ Saya menerima
pandangan Reinkarnasi sejak saya berumur 26 tahun….., agama tidak
menawarkan apapun dalam satu hal…. bekerja juga tidak memberi kepuasan yang
lengkap, bekerja adalah hal yang sia-sia, bila kita tidak dapat menerapkan
pengalaman yang kita kumpulkan pada satu kehidupan, pada kehidupan
berikutnya. Sewaktu saya menemukan paham Reinkarnasi, rasanya seakan saya
menemukan suatu rencana alam semesta. Saya sadar bahwa selalu ada
kesempatan untuk melaksanakan ide-ide saya. Waktu bukan lagi suatu yang
terbatas. Saya bukan lagi budak dari jarum-jarum jam…. Genius adalah suatu
pengalaman. Ada pendapat yang menganggap, bahwa itu adalah karunia atau
bakat, tapi sebenarnya itu adalah buah dari pengalaman-pengalaman yang
panjang dalam beberapa kehidupan. Jiwa-jiwa ada yang lebih matang dari jiwa-
jiwa yang lainnya…. Dengan mengetahui adanya Reinkarnasi, membawa
32
ketenangan batiniah bagi saya… Apabila anda merekam percakapan ini, tulislah
demikian ; bahwa ini memberi ketenangan batiniah. Saya suka berkomunikasi
dengan yang lainnya tentang ketenangan yang diberikan oleh pandangan tentang
kehidupan yang panjang.”
“ Oh, para Bhikkhu, daur tumimbal lahir adalah tak berawal. Terhadap
makhluk yang berjalan tertatih-tatih dalam daur ini, yang terkurung oleh
kebodohan dan terikat oleh keinginan, tak ada awal yang bisa disebutkan .” (
Samyutta Nikaya 15 : 1 )
2.4. Penyebab dari Punarbhava
Menjadi ada dan lahir kembalinya suatu makhluk hidup di kehidupan
selanjutnya merupakan akibat dari adanya perbuatan penyebab lahir kembali
yang telah dilakukannya pada kehidupan sebelumnya. Ini berarti kelahiran
kembali bukan sesuatu yang mesti terjadi, bukan suatu takdir yang harus dijalani
oleh setiap makhluk hidup. Selama ada perbuatan penyebab lahir kembali yang
dilakukan suatu makhluk, maka ia pasti menjadi ada dan dilahirkan kembali.
Tetapi, ketika tidak ada perbuatan penyebab lahir kembali yang dilakukan maka
33
ia tidak akan menajdi ada dan dilahirkan kembali. Mereka yang telah mencapai
Pencerahan Sempurna tidak lagi melakukan perbuatan penyebab lahir kembali
dalam hidupnya, sehingga mereka tidak akan dilahirkan kembali setelah mereka.
Dalam 12 Nidāna, kelahiran didahului atau disebabkan oleh proses menjadi
ada/eksis. Ketika ditautkan ke belakang, proses menjadi ada/eksis disebabkan
oleh adanya kemelekatan (Pali: upādāna) yang muncul karena adanya
kehausan/ketagihan yang diawali dengan adanya ketidaktahuan/kebodohan
batin. Jadi, makhluk hidup apa pun yang mengalami proses menjadi ada/eksis dan
lahir kembali, merupakan makhluk yang masih memiliki kemelekatan pada
sesuatu dalam kehidupan sebelumnya. Karena ketidaktahuan/kebodohan batin
(Pali: avijjā) seseorang, disadari atau tidak disadarinya, tetap terus mengumbar
keinginan/kehausannya terhadap segala sesuatu sehingga timbul kemelekatan
pada dirinya terhadap segala sesuatunya itu.
2.5. Perumpamaan Lilin
Dalam proses menjadi ada dan lahir kembali tidak adanya peristiwa
perpindahan jiwa/roh/kesadaran. Hal ini dapat diperumpamakan seperti sebuah
api lilin. Ketika kita melihat sebuah api yang menyala pada sebuah lilin tampak
apinya sama saja walaupun telah satu jam telah berlalu. Tidak tampak adanya api
34
dari lilin lain yang menggantikannya. Yang jelas tampak oleh kita adalah
memendeknya ukuran lilin tersebut. Tetapi apakah ini berarti api yang menyala
tersebut merupakan api yang sama dengan api yang kita lihat satu jam yang lalu?
Jawabannya adalah tidak sama. Jika kita perhatikan secara seksama, api pada lilin
tidak akan hidup tanpa adanya unsur-unsur pendukung seperti batang lilin,
sumbu, dan udara (oksigen). Api yang menyala tersebut ternyata merupakan api
yang berbeda karena tiap saat disokong oleh bagian dari batang lilin, sumbu dan
molekul-molekul udara yang berbeda. Meskipun disokong oleh unsur-unsur yang
berbeda, tetapi api tersebut tetap menyala tanpa perlu padam kemudian menyala
lagi. Dengan kata lain adanya proses yang berkesinambungan.
Api disini tidak lain merupakan batin/kesadaran, batang lilin dan sumbu
adalah jasmani, dan udara adalah kamma. Jasmani dan kamma adalah penyokong
keberlangsungan batin/kesadaran. Dari perumpamaan di atas jelas bahwa dalam
proses kelahiran kembali tidak ada dan tidak diperlukannya jiwa, inti atau roh yang
keluar dari tubuh lama yang mati dan berpindah ke dalam tubuh baru dan menjadi
hidup. Dan proses ini berbeda dengan konsep reinkarnasi yang dipercaya oleh
kepercayaan lain.
2.6. Tiga kondisi terjadinya Punarbhava
Dalam Mahātaṇhāsaṅkhaya Sutta, dijelaskan: “Para bhikkhu, kemunculan
janin dalam rahim terjadi melalui perpaduan tiga hal. Di sini, ada perpaduan ibu
dan ayah, tetapi saat itu bukan musim kesuburan ibu, dan tidak ada kehadiran
gandhabba-dalam kasus ini tidak ada kemunculan janin dalam rahim. Di sini, ada
perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim kesuburan ibu, tetapi tidak ada
kehadiran gandhabba-dalam kasus ini juga tidak ada kemunculan janin dalam
rahim. Tetapi jika ada perpaduan ibu dan ayah, dan saat itu adalah musim
kesuburan ibu, dan ada kehadiran gandhabba, melalui perpaduan ketiga hal ini
maka kemunculan janin dalam rahim terjadi.”
Jadi ada tiga kondisi yang harus dipenuhi sehingga terjadi suatu kelahiran,
khususnya pada kelahiran manusia, yaitu: adanya sepasang (calon) orang tua yang
subur, adanya hubungan intim dari sepasang (calon) orang tua, dan adanya
makhluk yang siap untuk terlahir (gandhabba). Istilah “gandhabba” berarti
“datang dari tempat lain”, mengacu pada suatu arus energi batin yang terdiri dari
35
kecenderungan-kecenderungan, kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri
karakteristik yang diteruskan dari jasmani yang telah mati.
Ketika jasmani mati, batin juga mengalami kematian dengan mengalami
perubahan dan langsung muncul pada sel telur dari (calon) ibu yang baru saja
dibuahi. Janin tumbuh, lahir dan berkembang sebagai pribadi baru, dengan
diprasyarati, baik oleh karakteristik batin yang terbawa (dari kehidupan lampau)
juga oleh lingkungan barunya. Kepribadiannya akan berubah dan bermodifikasi
oleh usaha kesadaran, pendidikan, pengaruh orang tua dan lingkungan sosial.
Watak menyukai atau tidak menyukai, bakat kemampuan dan sebagainya, yang
dikenal sebagai “sifat bawaan” dari setiap individu sebenarnya adalah terbawa dari
kehidupan sebelumnya. Dengan kata lain, watak serta apa yang dialami pada
kehidupan kita saat sekarang, pada tingkat-tingkat tertentu adalah hasil (vipaka)
dari perbuatan (kamma vipaka) kehidupan lampau. Demikian pula perbuatan-
perbuatan seseorang selama hidup akan menentukan di alam kehidupan mana
kita akan dilahirkan.
2.7. Empat Jenis Keturunan
Ada empat jenis keturunan makhluk hidup yang telah dijelaskan di dalam
Mahāsīhanāda Sutta:
“Sāriputta, terdapat empat jenis keturunan ini. Apakah empat ini? Keturunan yang
terlahir dari telur (aṇḍajā yoni), keturunan yang terlahir dari rahim (jalābuja yoni),
keturunan yang terlahir dari kelembapan (saṃsedajā yoni), dan keturunan yang
terlahir spontan (opapātikā yoni). “Apakah keturunan yang terlahir dari telur?
Terdapat makhluk-makhluk ini yang terlahir dengan memecahkan cangkang
sebutir telur: ini disebut keturunan yang terlahir dari telur. Apakah keturunan yang
terlahir dari rahim? Terdapat makhluk-makhluk ini yang terlahir dengan
memecahkan selaput pembungkus janin: ini disebut keturunan yang terlahir dari
rahim. Apakah keturunan yang terlahir dari kelembapan? Terdapat makhluk-
makhluk ini yang terlahir di dalam ikan busuk, di dalam mayat busuk, di dalam
bubur busuk, di dalam lubang kakus, atau di dalam saluran air: ini disebut
keturunan yang terlahir dari kelembaban. Apakah keturunan yang terlahir
spontan? Terdapat para dewa dan para penghuni neraka dan manusia-manusia
tertentu dan beberapa makhluk di alam rendah: ini disebut keturunan yang
36
terlahir spontan. Ini adalah empat jenis keturunan.” Jadi secara singkat, makhluk
hidup dapat lahir melalui 4 yoni (tempat lahir) yaitu:
telur (aṇḍajā yoni)
rahim (jalābuja yoni)
kelembapan (saṃsedajā yoni)
spontan (opapātikā yoni)
2.8. Alam Kehidupan (Loka)
Setiap makhluk yang dilahirkan kembali akan terlahir di salah satu dari 31 alam
kehidupan (loka, bhūmi) sesuai dengan kammanya. Mereka yang cenderung
banyak melakukan kamma buruk pada umumnya akan terlahir di alam-alam
rendah atau alam penderitaan. Sedangkan mereka yang cenderung banyak
melakukan kamma baik pada umumnya akan terlahir di alam-alam tinggi atau
alam bahagia. Secara garis besar 31 alam kehidupan dibagi menjadi lima bagian
yaitu: terdapat empat alam kemerosotan (apāya loka), satu alam manusia
(manussa loka), enam alam dewa (devā loka), enam belas alam brahma berbentuk
(rūpa loka), dan empat alam brahma tanpa bentuk (arūpā loka).
37
a. Apāya loka (Apāyabhūmi) yang terbentuk dari tiga kosakata, yaitu “apa”
yang berarti tanpa atau tidak ada, “aya” yang berarti kebajikan. Alam ini
juga sering disebut dengan “duggati“. Istilah “duggati” terbentuk dari dua
kosakata, yaitu “du” yang berarti jahat, buruk, sengsara; dan “gati” yang
berarti alam tujuan bagi suatu makhluk yang akan dilahirkan kembali.
Apāya loka adalah suatu alam kehidupan yang tidak begitu ada kesempatan
untuk berbuat kebajikan. Apāya loka terdiri dari empat alam, yaitu: alam
neraka (niraya), alam hewan (tiracchāna), alam hantu (peta), alam asura
(asurakāya). Karena tidak semua hewan hidup dalam kesengsaraan, alam
hewan tercakup dalam duggatibhumi secara tidak menyeluruh dan
langsung.
b. Manussa loka (Manussabhūmi) terbentuk dari dua kosakata, yaitu
“manussa” dan “loka“. Kata “manussa” terdiri dari dua kosa kata yaitu
“mano” yang berarti pikiran, batin; dan “ussa” yang berarti tinggi, luhur,
meningkat, berkembang. Jadi manussa loka berarti alam tempat tinggal
manusia.
c. Devā loka (Devābhūmi) disebut juga alam surga (sugati). Alam ini
merupakan alam dimana makhluk penghuninya hidup dalam kenikmatan
inderawi. Tapi meskipun disebut sebagai alam surga, para makhluk yang
hidup di alam ini yaitu dewa dan dewi juga hidup dan ketidakekkalan. Alam
surga terbagi menjadi enam alam, yaitu: Cātummahārājika, Tāvatiṃsa,
Yāma, Tuṣita, Nimmānaratī, dan Paranimmitavasavattī.
d. Rūpa loka (Rūpābhūmi) merupakan alam tempat kelahiran jasmaniah serta
batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah
makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai
pencerapan Jhana (pemusatan pikiran yang kuat dalam memegang obyek)
yang luhur. Alam brahma terdiri dari 16 alam, yaitu: tiga alam bagi peraih
Jhana Pertama (Pathama), tiga alam bagi peraih Jhana Kedua (Dutiya), tiga
alam bagi peraih Jhana ketiga (Tatiya), dua alam bagi peraih Jhana Keempat
(Catuttha), dan lima alam Suddhāvāsa. Alam Suddhāvāsa merupakan alam
kehidupan bagi mereka yang telah terbebas dari napsu birahi (kāmarāga)
38
dan sebagainya, mereka adalah para Anāgāmī (tingkat kesucian ketiga)[8]
yang berhasil meraih pencerapan Jhana Kelima.
e. Arūpā loka (Arūpābhūmi) merupakan suatu alam tempat kelahiran batiniah
para brahma tanpa bentuk. Meskipun disebut sebagai suatu alam yang
mengacu pada tempat atau bentuk, namun di sini sesungguhnya sama
sekali tidak terdapat unsur jasmaniah/fisik sehalus apa pun dan dalam wujud
apapun. Kelahiran di alam brama tanpa bentuk ini terjadi karena
pengembangan perenungan yang kuat terhadap unsur jasmaniah yang
menjijikkan sehingga tidak ada keinginan untuk menginginkannya.
2.9. Menghentikan Kelahiran Kembali
Setelah mencapai Pencerahan Agung, Sri Buddha memekikkan pekik
kemenangan, ”Dengan melalui banyak kelahiran Aku telah mengembara dalam
samsara (siklus kehidupan). Terus mencari, namun tak kutemukan pembuat
rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini. O, pembuat
rumah, engkau telah kulihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh
39
atapmu telah runtuh dan tiang belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah
mencapai Keadaan Tak Berkondisi (Nibbana). Pencapaian ini merupakan akhir
daripada napsu keinginan.” (Dhammapada 153-154)
Bagi mereka yang telah sadar, mencapai Pencerahan Agung dan
merealisasikan Kebenaran Tertinggi, menjadi ada dan kelahiran kembali
merupakan suatu proses yang melelahkan dan menyakitkan seperti yang
diucapkan oleh Sri Buddha dalam pekik kemenangan tersebut. Oleh karena itu
bagi mereka yang telah sadar, mereka akan berusaha melepaskan diri dari proses
kelahiran kembali. Dan bagi mereka yang telah mencapai Pencerahan Agung dan
merealisasikan Kebenaran Tertinggi (Nibbana), tidak akan lagi mengalami
menjadi ada dan lahir kembali. Menjadi ada dan lahir kembali bukan suatu takdir
yang harus dijalani oleh setiap makhluk hidup. Menjadi ada dan lahir kembali
terjadi karena ada penyebabnya. Dan ketika penyebabnya telah dihilangkan,
maka tidak akan ada lagi menjadi ada dan lahir kembali.
Hal itu sesuai dengan hukum atau prinsip Kemunculan Ketergantungan
yang menyatakan bahwa: “Dengan adanya ini maka ada itu; dengan tidak adanya
ini maka tidak ada itu” (imasmiṃ sati idaṃ hoti, imasmiṃ asati idaṃ na hoti), maka
untuk menghentikan proses terjadinya kelahiran kembali, maka perlu meniadakan
atau melenyapkan penyebab dari proses menjadi tersebut. Penyebab dari proses
menjadi tersebut tidak lain adalah taṇhā (kehausan/ketagihan) dan avijjā
(ketidaktahuan/kebodohan batin) yang ada pada diri seseorang. Jalan atau cara
melenyapkan taṇhā dan avijjā adalah dengan melaksanakan kemoralan (sīla),
konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā) yang terdapat dalam Jalan Arya
Berunsur Delapan. Dengan menjalankannya, seseorang nantinya bukan hanya
terbebas dari kemunculan dan kelahiran kembali, tetapi juga dapat merealisasikan
Kebenaran Tertinggi (Nibbana).
Tugas Kelompok
Diskusikan dengan teman-teman kalian dalam kelompok diskusi tentang hukum
karma sebagai hukum sebab akibat. Setelah didiskusikan, buatlah kesimpulannya,
kemudian presentasikan dan diskusikan dengan kelompok diskusi kelas yang lain!
40
Mari Bertanya!
Tanyakan kepada orang tua kalian di rumah, perbuatan-perbuatan apa saja yang
menimbulkan kesengsaraan dan kebahagiaan?
C. Konteks
Anak Kembar
Anak kembar yang berasal dari satu telur memiliki kesamaan keturunan dan
kesamaan lingkungan. Namun, ahli psikologi telah meneliti bahwa mereka
berbeda dalam sifat dan wataknya. Oleh karena itu, mungkin perbedaan ini
disebabkan oleh faktor selain keturunan dan lingkungan, yaitu “pembawaan“
kepandaian yang lampau, dan tingkah laku dari kehidupan yang sebelumnya.
Adanya anak jenius atau yang luar biasa kepandaiannya tidak dapat diterangkan
dengan memuaskan dipandang dari segi keturunan atau lingkungan, hanya
kepandaian bawaan dari satu kehidupan ke kehidupan lain yang dapat
menjelaskan kasus-kasus khusus seperti itu. Ambillah contoh kasus kembar siam
Chang dan Eng yang terkenal. Ini adalah kasus dengan kesamaan keturunan dan
kesamaan lingkungan. Para ahli yang telah mempelajari tingkah laku mereka
melaporkan bahwa keduanya memiliki watak yang berbeda jauh, Chang
kecanduan minuman keras, sedangkan Eng tidak minum minuman keras.
41
Keadaan ini mendorong para pemikir untuk mempertimbangkan apakah
tidak ada faktor lain yang ikut terlibat di samping keturunan dan lingkungannya.
Adalah salah jika mengharapkan organisme tingkat tinggi yang kompleks seperti
manusia lahir hanya dari perpaduan dua faktor seperti sel sperma dan sel ovum
orang tua. Hanya karena campur tangan dari faktor ketiga, faktor batin yang
menghasilkan kelahiran seorang anak. Perpaduan dari dua faktor fisik saja,
sperma dan ovum orang tua, tidak dapat memberikan kesempatan bagi
pembentukan janin yang merupakan paduan batin dan materi. Faktor batin harus
dipadukan dengan dua faktor fisik untuk menghasilkan organisme jasmani-rohani
yang membentuk janin.
D. Renungan
Kisah Raja Naga Erakapatta
Ada seekor raja naga yang bernama Erakapatta. Dalam salah satu
kehidupannya yang lampau sewaktu masa Buddha Kassapa, ia telah menjadi
seorang bhikkhu untuk waktu yang lama. Karena kegelisahan (kukkucca) terhadap
pelanggaran kecil yang telah diperbuatnya, ia terlahir sebagai seekor naga.
Sebagai seekor naga, ia menunggu munculnya seorang Buddha baru. Erakapatta
memiliki seorang putri yang cantik, dan melalui putrinya itu, ia bertujuan
menemukan Sang Buddha. Ia mengumumkan bahwa siapa pun yang dapat
menjawab pertanyaan sang putri berhak memperistrinya. Dua kali dalam sebulan,
Ekarapatta menyuruh putrinya menari di tempat terbuka dan menyanyikan
pertanyaan-pertanyaannya. Banyak pelamar yang datang untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaannya dan berharap memilikinya, tetapi tak seorang pun
dapat memberikan jawaban yang benar.
42
Suatu hari, melalui kekuatan mata batin-Nya, Sang Buddha tampak seorang
pemuda yang bernama Uttara. Beliau juga mengetahui bahwa si pemuda akan
mencapai tingkat kesucian sotapatti, sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan
yang diberikan oleh putri Ekarapatta, sang naga. Waktu itu si pemuda berangkat
dalam perjalanannya untuk bertemu dengan putri Ekarapatta. Sang Buddha
menghentikannya dan mengajarinya bagaimana menjawab pertanyaan-
pertanyaan tersebut. Ketika sedang diberi pelajaran, Uttara mencapai tingkat
kesucian sotapatti. Sekarang di saat ia telah mencapai tingkat kesucian sotapatti,
ia tidak lagi memiliki keinginan terhadap putri Erakapatta. Bagaimanapun Uttara
tetap pergi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk kebaikan
bagi para makhluk.
Keempat pertanyaan pertama adalah sebagai berikut.
Siapakah penguasa?
Apakah seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran batin dapat disebut
sebagai seorang penguasa?
Penguasa apakah yang bebas dari kekotoran batin?
Orang yang seperti apakah yang disebut bodoh?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah sebagai berikut :
Ia yang mengontrol keenam indra adalah seorang penguasa.
Seseorang yang diliputi oleh kabut kekotoran batin tidak dapat disebut
seorang penguasa; ia yang bebas dari kemelekatan disebut seorang
penguasa.
Penguasa yang bebas dari kemelekatan adalah yang bebas dari
kekotoran moral
Seseorang yang menginginkan kesenangan-kesenangan hawa nafsu
adalah yang disebut bodoh
Mendapat jawaban yang benar seperti di atas, putri naga kemudian
menyanyikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan arus hawa
nafsu, kehidupan berulang-ulang, pandangan-pandangan salah, dan
ketidaktahuan, dan bagaimana dapat menanggulanginya. Uttara menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini seperti yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Ketika
Erapatta mendengar jawaban-jawaban ini, ia tahu bahwa seorang Buddha telah
43
muncul di dunia ini sehingga ia meminta kepada Uttara untuk mengantarkannya
menghadap Sang Buddha. Saat melihat Sang Buddha, Erakapatta menceritakan
kepada Sang Buddha bagaimana ia telah menjadi seorang bhikkhu selama masa
Buddha Kassapa, bagaimana ia tidak sengaja menyebabkan sebilah rumput patah
ketika ia sedang melakukan perjalanan di atas perahu, dan bagaimana ia sangat
khawatir karena ia tidak melakukan pengakuan atas kesalahan kecil tersebut
sebagaimana mestinya, dan akhirnya bagaimana ia terlahir sebagai seekor naga.
Setelah mendengarnya, Sang Buddha mengatakan kepada sang naga, betapa
sulit untuk dilahirkan di alam manusia, dan untuk dilahirkan pada saat munculnya
para Buddha atau selama para Buddha mengajar. Kemudian, Sang Buddha
membabarkan syair berikut:
“Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
Khotbah di atas bermanfaat bagi banyak makhluk.
Erakapatta sebagai seekor hewan tidak dapat mencapai tingkat kesucian
sotapatti.”
E. Kesimpulan
Karma merupakan hukum sebab-akibat tentang perbuatan, artinya setiap
perbuatan yang kita lakukan akan selalu menghasilkan akibat. Karma dalam
bahasa Sanskerta atau Kamma dalam bahasa Pali memiliki arti tindakan atau
perbuatan. Pandangan benar (sammaditthi) mengarahkan pada pikiran benar,
perkataan benar, tindakan benar, kehidupan benar dan moral yang baik. Jika
seseorang tidak memperhatikan “karma dan akibat-akibatnya”, tidak
memahaminya dan mengabaikannya menimbulkan pengertian salah dan
pandangan salah. Pandangan yang salah (miccaditthi) mengarahkan pada pikiran
salah, perkataan salah, tindakan salah, kehidupan salah, dan karakter yang buruk.
Karma merupakan aksi, sedangkan vipaka merupakan reaksi. Setiap benda pasti
memiliki bayangan, demikian juga dengan setiap perbuatan yang disertai
kehendak, pasti diikuti oleh akibat yang bersesuaian. Karma seperti benih atau
44
pohon yang kita tanam, dan vipaka seperti buah yang muncul dari pohon, sebagai
akibat atau hasil dari yang kita tanam. Penyebab dari karma adalah ketidaktahuan
atau avijja. Tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya adalah
penyebab dari karma. Dalam hukum sebab-akibat yang saling bergantungan atau
Paticcasamuppada, Buddha mengatakan, “dari ketidaktahuan, timbul bentuk-
bentuk karma” (Avijja Paccaya Sankhara).
Hukum karma berdasarkan pandangan Buddhis, perbedaan-perbedaan mental
intelektual, moral dan watak sebagian besar bergantung pada perbuatan atau
karma masing-masing, baik pada saat lampau maupun pada saat sekarang.
Meskipun Buddhisme mengaitkan fenomena keberagaman ini dengan karma
sebagai penyebabnya, namun ini tidak berarti segala sesuatu hanya terjadi akibat
karma di masa lampau. Buddha menyangkal kepercayaan yang menyatakan
bahwa semua fenomena baik fisik maupun mental disebabkan semata-mata oleh
karma masa lampau. Jika kehidupan saat ini dikondisikan atau dikendalikan
sepenuhnya hanya oleh karma masa lampau, maka karma akan sama saja dengan
fatalisme, nasib atau takdir. Klasifikasi pada karma terdapat berbagai macam,
yaitu karma berdasarkan jenisnya, salurannya, jangka waktunya, sifat bekerjanya,
serta kualitas akibatnya.
Punabhava atau tumimbal lahir adalah istilah yang dikenal dalam agama Buddha
sehubungan dengan kelahiran kembali suatu mahluk hidup dalam alam kehidupan
yang sama atau berbeda serta tidak membawa kesadaran akan kehidupan dari
alam sebelumnya. Dalam agama Buddha dipercayai adanya suatu proses
kelahiran kembali (Punarbhava). Semua makhluk hidup yang ada di dalam
semesta ini akan terus menerus mengalami punarbhava selama makhluk tersebut
belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma
makhluk tersebut, bila ia baik maka dia akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat
ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Menjadi ada dan lahir kembalinya
suatu makhluk hidup di kehidupan selanjutnya merupakan akibat dari adanya
perbuatan penyebab lahir kembali yang telah dilakukannya pada kehidupan
sebelumnya. Ini berarti kelahiran kembali bukan sesuatu yang mesti terjadi, bukan
suatu takdir yang harus dijalani oleh setiap makhluk hidup. Selama ada perbuatan
penyebab lahir kembali yang dilakukan suatu makhluk, maka ia pasti menjadi ada
dan dilahirkan kembali.
45
Dalam proses menjadi ada dan lahir kembali tidak adanya peristiwa perpindahan
jiwa/roh/kesadaran. Hal ini dapat diperumpamakan seperti sebuah api lilin. Ketika
kita melihat sebuah api yang menyala pada sebuah lilin tampak apinya sama saja
walaupun telah satu jam telah berlalu. Tidak tampak adanya api dari lilin lain yang
menggantikannya. Terdapat tiga kondisi yang harus dipenuhi sehingga terjadi
suatu kelahiran, khususnya pada kelahiran manusia, yaitu: adanya sepasang
(calon) orang tua yang subur, adanya hubungan intim dari sepasang (calon) orang
tua, dan adanya makhluk yang siap untuk terlahir (gandhabba). Istilah
“gandhabba” berarti “datang dari tempat lain”, mengacu pada suatu arus energi
batin yang terdiri dari kecenderungan-kecenderungan,
kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri karakteristik yang diteruskan dari jasmani
yang telah mati. Ada empat jenis keturunan makhluk hidup yang telah dijelaskan
di dalam Mahāsīhanāda Sutta:
- Keturunan yang terlahir dari telur (aṇḍajā yoni)
- keturunan yang terlahir dari rahim (jalābuja yoni)
- keturunan yang terlahir dari kelembapan (saṃsedajā yoni)
- keturunan yang terlahir spontan (opapātikā yoni)
Setiap makhluk yang dilahirkan kembali akan terlahir di salah satu dari 31 alam
kehidupan (loka, bhūmi) sesuai dengan kammanya. Mereka yang cenderung
banyak melakukan kamma buruk pada umumnya akan terlahir di alam-alam
rendah atau alam penderitaan. Sedangkan mereka yang cenderung banyak
melakukan kamma baik pada umumnya akan terlahir di alam-alam tinggi atau
alam bahagia. Secara garis besar 31 alam kehidupan dibagi menjadi lima bagian
yaitu: terdapat empat alam kemerosotan (apāya loka), satu alam manusia
(manussa loka), enam alam dewa (devā loka), enam belas alam brahma berbentuk
(rūpa loka), dan empat alam brahma tanpa bentuk (arūpā loka). Menjadi ada dan
lahir kembali bukan suatu takdir yang harus dijalani oleh setiap makhluk hidup.
Menjadi ada dan lahir kembali terjadi karena ada penyebabnya. Dan ketika
penyebabnya telah dihilangkan, maka tidak akan ada lagi menjadi ada dan lahir
kembali. Penyebab dari proses punarbhava tersebut tidak lain adalah taṇhā
(kehausan/ketagihan) dan avijjā (ketidaktahuan/kebodohan batin) yang ada pada
diri seseorang. Jalan atau cara melenyapkan taṇhā dan avijjā adalah dengan
46
melaksanakan kemoralan (sīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (paññā)
yang terdapat dalam Jalan Arya Berunsur Delapan. Dengan menjalankannya,
seseorang nantinya bukan hanya terbebas dari kemunculan dan kelahiran
kembali, tetapi juga dapat merealisasikan Kebenaran Tertinggi (Nibbana).
F. Evaluasi
Uraikan jawaban dari pertanyaan berikut ini!
1. Jelaskan pengertian dari karma dan sebutkan masing-masing satu contoh
tindakan yang termasuk karma dan tindakan yang bukan termasuk karma!
2. Jelaskan apa penyebab dari karma, serta sebutkan tiga akar yang
menunjang perbuatan yang baik maupun buruk!
3. Sebutkan dan jelaskan serta berikan masing-masing satu contoh karma
berdasarkan sifat bekerjanya!
4. Berikan dua macam bukti yang menyatakan bahwa kelahiran kembali
(punarbhava) itu benar-benar terjadi!
5. Sebutkan dan jelaskan lima bagian dari 31 alam kehidupan (loka)!
6. Sebutkan serta jelaskan empat jenis keturunan makhluk hidup yang telah
dijelaskan di dalam Mahāsīhanāda Sutta!
7. Jelaskan apa yang menjadi penyebab terjadinya punarbhava atau kelahiran
kembali!
8. Apa hubungan antara karma dan vipaka?
9. Jelaskan hubungan antara karma dengan kelahiran kembali (punarbhava)!
10. Jelaskan cara untuk menghentikan punarbhava atau tumimbal lahir!
47
Daftar Pustaka
Dhammananda, S. (2007). PUNARBHAVA DALAM AGAMA BUDDHA. Keyakinan Umat Buddha, 38-41.
Dr. Ir. J. Effendie Tanumihardja, S. M. (2016). PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA.
Jayaseno, Y. B. (2019, Juli 28). Memaknai Kehidupan Sebagai Manusia.
Rusli, A. R. (2022). KARMA DAN ETOS KERJA DALAM AJARAN BUDHA. Al-Adyan: Journal of
Religious Studies Volume 1, Nomor 1, Juni (2020), 1, 13.
Sukiman, S. P. (2017). Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti.
Tanhadi. (2011, Maret 27). BUKU PINTAR AGAMA BUDDHA. Pustaka Dhamma.
Unut Triyuliadi, S. M. (2021, Juni 3). Kelahiran Kembali Atau Punabbhava. Duta Dhamma Inspiratif.
48