SEJARAH INDONESIA - XI
Dampak Kolonialisme
dalam bidang Ekonomi
& Pendidikan
"sesungguhnya tidak ada apa yang disebut politik etis di tanah jajahan,
karena tujuan politik colonial ialah eksploitasi bangsa yang terbelakang,
walaupun tujuan yang sebenarnya sering disembunyikan di belakang kata-
kata indah" - Van Kol.
MAR'ATUS TANTRI VIVIANI
PENDAHULUAN
A. Identitas
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas/semester : XI/I
Alokasi Waktu : 1 × 45 Menit (1 Pertemuan)
Materi : Dampak Ekonomi & Pendidikan pada Masa
Penjajahan Bangsa Eropa
B. Kompetensi Dasar
KD Menganalisis dampak politik, budaya, sosial,
3.3 ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan bangsa
Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris)
dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini.
Menyajikan informasi mengenai dampak politik budaya,
sosial, ekonomi, dan pendidikan pada masa penjajahan
KD bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris)
4.3 dalam kehidupan masa kini dan menyajikannya dalam
bentuk pertanyaan dan jawaban yang dikemas dalam
bentuk Story Board Digital.
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
3.3.1 Menjelaskan kebijakan- 4.3.1 Menciptakan Story Board
kebijakan dalam bidang ekonomi
pada masa penjajahan Eropa. Digital sejarah mengenai dampak
ekonomi dan pendidikan pada masa
penjajahan bangsa Eropa (Portugis,
Spanyol, Belanda, dan Inggris)
dalam kehidupan bangsa Indonesia.
3.3.2 Menggambarkan kondisi 4.3.2 Mempresentasikan dan
pendidikan pada masa penjajahan mendiskusikan hasil proyek yang
Eropa. sudah dibuat di Padlet.
3.3.3 Menganalisis dampak ekonomi
dan pendidikan pada masa
penjajahan bangsa Eropa dalam
kehidupan bangsa Indonesia masa
kini.
D. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui cuplikan video, PPT, dan literasi peserta didik dapat
menganalisis bagaimana kebijakan ekonomi seperti sistem sewa
tanah, tanam paksa, dan pembangunan insfrastruktur dan jalan
pada masa penjajahan Eropa.
2. Melalui pengamatan video dan analisis lingkungan sekitar,
siswa dapat mengetahui kondisi pendidikan pada masa penjajahan
Eropa.
3. Melalui diskusi siswa dapat menganalisis dampak yang diberikan
dari kebijakan ekonomi dan pendidikan masa pejajahan Eropa.
4. Peserta didik dapat Membuat Story Board digital sesuai dengan
materi yang diberikan dan dapat mempresentasikan hasil
proyeknya.
Sebelum memulai belajar mari kita berdoa terlebih dahulu yaa
APERSEPSI
Apakah kalian
pernah
mendengar atau
mengetahui nama
Jl. Raya Anyer-
Panarukan?
Jalan raya Anyer-Panarukan atau biasa lebih dikenal dengan nama
jalan Pantura yang membentang di sepanjang pantai utara Pulau Jawa,
jalan ini merupakan salah satu peninggalan jaman kolonial Belanda
dengan nama De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos. Jalan ini dibangun
pada kepemimpinan Herman Willem Daendels (1808-1811). Pemanfaatan
jalan Raya Pos ini digunakan sebagai pengantar hasil perkebunan pada
masa sistem tanam paksa, transportasi masyarakat, dan kereta pos.
Tanpa kita sadari dengan adanya Jalan Raya Anyer-Panarukan ini
sebagai peninggalan dari zaman pemerintahan kolonial Belanda di
Indonesia akibat adanya dampak kebijakan ekonomi. Lalu apakah kalian
ingin mengetahui lebih lanjut mengenai peninggalan bangsa barat di
Indonesia baik dalam sisi positif atau negatif? Yuk mari kita bahas di
pembahasan selanjutnya!
Jika kamu ingin tahu lebih banyak mengenai Jalan Raya Anyer
Panarukan, kamu bisa kunjungi atau scan barcode dibawah ini!
Hallo perkenalkan nama ku Hiro, disini saya
akan menemani kamu di perjalanan
pembelajaran ini ☺
Untuk perjalanan pertama yuk kita
simak dahulu peta konsep di bawah ini!
PETA KONSEP
1. DAMPAK KOLONIALISME DI BIDANG EKONOMI
Datangnya bangsa Eropa ke Indonesia membawa banyak kebudayaan barat.
Masyarakat Indonesia pada masa itu dikenalkan pada mata uang. Pengenalan mata uang
dilakukan karena adanya kebijakan sistem sewa tanah. Setelah Gubernur Jenderal
Daendles pergi dari Indonesia dan kepulauan Jawa berapa dalam kekuasaan Inggris
(1811-1816). Kebijakan-kebijakan yang berlaku pada masa Inggris dikomandoi oleh
Letnan Gubernur Stamford Rafless. Kehidupan ekonomi masyarakat jawa pada masa itu
masih sangat tradisonal dan feodal, hal ini terbukti dengan sistem ekonomi di India pada
abad ke-16 yang sudah mengenal sistem money economy, arus perdagangan yang ramai,
perdagangan ekspor-impor yang ramai. Berbeda dengan perkembangan ekonomi di Jawa
pada abad ke-19 yang masih bersifat ekonomi menyeluruh dan belum banyak melakukan
perdagangan ekspor. Maka pada masa pemerintahan Raffles dikenalkan sistem mata uang
yang terdiri dari mata uang kertas dan mata uang logam dan menyebabkan munculnya
bank modern Hindia-Belanda yang bernama de Javasche Bank yang dirikan di Batavia
pada tahun 1828.
Gambar : De Javasche Bank
Sumber : https://www.sejarahhone.id
Sistem tanam paksa yang dilakukan pada masa pemerintah kolonial Belanda
dikenal dengan nama Cultur Stelsel yang di prakarsai oleh Johaner Van Den Bosch
selaku gubernur jenderal di Hindia-Belanda. Ia datang ke Hindia-Belanda dengan tujuan
membangun kembali perekonomian yang sedang kritis sehingga melakukan pemanfaatan
sumber daya alam di Indonesia. Maka dari itu ia mengadakan kebijakan tanam paksa
(Culturstelsel). Pada dasarnya sistem tanam paksa mewajibkan para petani di Jawa untuk
menanam tanaman yang diperdagangkan di pasar dunia. Proses pemungutan hasil
tanaman dilakukan oleh pemerintah pribumi atau penguasa setempat seperti kepela desa.
Jenis tanaman yang wajib Gambar
No
ditanam
1 Gula (tebu)
3 Teh
4 Tembakau
5 Kayu Manis
6 Kapas
Dampak dari penerapan sistem tanam paksa ini ialah kekerasan demi mengambil
keuntungan, rakyat Indonesia hidup menderita dan kekurangan bahan pangan seperti
contohnya kasus kelaparan di Cirebon dan Grobogan yang mengakibatkan kematian
dimana-mana. Melihat banyaknya masalah yang disebabkan akibat tanam paksa, maka
hal ini mendapat respons dari kalangan humanis dan liberal. Mereka sama-sama
mengecam kebijakan Belanda yang jauh akan kemanusiaan. Hingga akhrinya sebuah
tulisan yang berjudul Max Havelar karya E. Douwes Dekker yang berisi mengenai nasib
rakyat Indonesia di Pulau jawa yang melakukan sistem tanam paksa.
Gambar : masyarakat mengangkut hasil tanam Gambar : Buku Max Havelaar
Sumber : https://riolan.id Sumber : https://www.liputan6.com
Bagaiman perjalanan awal kita? Seru bukan?!
Apakah ada yang ingin kamu tanyakan? Jika ada tanyakan
kepada guru mu yaa…
Jika kamu masih penasaran dengan
perkembangan mata uang masa
kolonialisme dan sistem tanam paksa
kamu bisa menonton tayangan di
samping ini ☺
Setelah membahas sistem tanam paksa, yuk kita lanjutkan ke materi
selanjutnya! Saat sistem tanam paksa sedang berlangsung diadakan pula pembangunan
insfrastruktur jalan yang sangat berguna dalam memperlancar jalur perekonomian.
Terlebih lagi tujuan Belanda datang ke Indonesia ialah mencari rempah-rempah sehingga
dibutuhkan insfrastruktur yang memadai guna mengefisiensikan pengangkutan pasokan
rempah-rempah. Belanda melakukan pembangunan sarana-sarana irigasi yang dibangun
untuk kepentingan pengairan perkebunan besar, selain itu juga pemerintah kolonial
membangun jaringan kereta api, jalan raya, dan jembatan. Pembangunan dilakukan oleh
rakyat Indonesia dengan sistem kerja rodi. Pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan
merupakan pembangunan jalan dan tranportasi kereta api sepanjang 1000 km, yang
muncul pada masa sistem tanam paksa tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur
Jenderal Hindia Belanda, Herman Williem Daendles. Pemanfaatan jalan raya pos ini
sebagai sarana pengantar hasil perkebunan dan trasnportasi masyarakat. Selain
memperlancar kegiatan perekonomian, jalan raya Anyer-Panarukan juga berfungsi
sebagai efektivitas hubungangan melalui kereta pos, hal ini lah yang membuat jalan ini
dinamai jalan Raya Pos. Ramai nya arus tranportasi perdagangan pasa masa ini membuat
mereka membangun rel kereta api dan jalan raya, membuat waduk, irigasi.
Gambar : pembuatan jalur kereta api Scan me to read the article!
Sumber : https://www.sejarahone.id
Dampak yang dihasilkan dari berbagai kebijakan dalam bidang ekonomi dan
pembangunan insfrastruktur seperti munculnya kota-kota baru, tentu saja memberikan
keuntungan dan penambahan kas Negara Belanda, namun rakyat Indonesia merasakan
sebaliknya yaitu kemiskinan dan penderitaan. Rakyat dipaksa untuk bekerja melakukan
kebijakan tanam paksa dan ekonomi liberal yang menuntut rakyat Indonesia sebagai
pembuat bahan mentah semata, rakyat juga diperlakukan dengan tidak manusiawi karena
kerap kali terjadi kekerasan dalam setiap praktiknya. Kebiasaan yang sudah dilakukan
sejak zaman penjajahan Belanda yang membuat rakyat Indonesia pada saat itu minim
akan pengetahuan dalam mengelola usaha dan bisnis, sehingga rakyat Indonesia
mayoritas hanya menjadi buruh saja.
Yeayy!!
Perjalanan pertama kamu sudah selesai. Jika ada yang ingin
kamu tanyakan terkait materi, tanyakan kepada guru mu
yaa…
Perjalanan pembelajaran kamu sebentar lagi selesai nih, yuk
siapkan semangat dan rasa ingin tahu mu ya di materi
selanjutnya yaa☺
2. DAMPAK KOLONIALISME DI BIDANG PENDIDIKAN
Hai bertemu lagi sama aku Hiro, aku
sedang membaca buku nih mengenai
pendidikan pada masa kolonial barat.
Ternyata awal mula adanya pendidikan utuk kaum pribumi
diawali oleh pemikiran tokoh liberal bernama Van Deventer
yang memberikan kecaman terhadap politik keuangan Belanda
yang memisahkan keuangan negeri induk dengan keuangan
negeri jajahan.
Lalu gagasan itu diterima dan dikembangkan menjadi praktek politik
baru yang dinamakan politik etis atau politik balas budi.
Politik etis bergerak dalam 3 bidang yaitu, edukasi, imigrasi, & irigasi.
Jika kamu masih penasaran mengenai politik etis, kamu bisa memonton dan membaca artikel
dibawah ini!
Sebelum adanya politik etis, pendidikan memang sudah ada di Indonesia, namun
sangat disayangkan pendidikan pendidikan ini hanya dapat ditempuh oleh orang-orang
Belanda dan bangsawan pribumi. Terdapat salah satu tokoh pejuang pendidikan perempuan
yang terkenal pada masa politik etis, yaitu Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika. Mereka
merupakan tokoh perempuan yang memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Era politik
etis yang mulai menganggap pendidikan penting membuat bermunculannya sekolah-sekolah
yang menganut sistem pendidikan barat yang kurikulumnya pun disusun sendiri oleh
Belanda, dengan syarat bahwa yang hanya dapat merasakan pendidikan ini hanyalah orang-
orang Belanda, keturunan raja, bangsawan, dan orang berpengaruh pada masa itu. Tujuan
pendidikan pada masa ini menurut Fock ialah, memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang dapat
membaca dan menulis, yang nanti akan disalurkan di berbagai tempat pemerintah kolonial
dan pengelolaan perkebunan. Selain tujuan itu, ternyata pendidikan pada masa kolonial juga
ditujukan sebagai sarana penyebaran agama protestan di Indonesia. Berikut beberapa contoh
sekolah yang didirikan pada masa awal pemerintah kolonial Belanda, antara lain :
Tingkatan Sekolah Masa Kolonial Belanda
Sekolah Rendah Sekolah Menengah Sekolah Kejuruan
HIS OSVIA
Sekolah angka 1 STOVIA
Eersste Klase MULO NIAS
AMS
Sekolah Rendah
SSeTekkwoolealaehldahRseaeeKnngdlakasahe2
Pendidikan pada masa kolonial dapat terlihat adanya sebuah diskriminasi antara dua
macam sekolah yaitu sekolah ongko siji yang dipergunakan untuk kaum pribumi yang
mempunyai kedudukan atau jabatan, dan sekolah ongko loro yang diperuntukan untuk
masyarakat pribumi biasa dengan tujuan untuk mengisi kekosongan pegawai rendahan
sehingga sekolah ongko loro pun hanya mendapatkan pembelajaran membaca, menulis, dan
berhitung (Afandi, A.N., Dkk. 2020. Hlm. 24).
Tingkatan pendidikan sekolah menengah pada masa kolonialisme di tahun 1900-1930,
setelah dibangunya Holland Inslasche School (HIS) pada tahun 1914 yang lama belajarnya
selama tujuh tahun dan menggunakan bahasa Belanda, sekolah ini hanya diperuntukan oleh
kalangan elit pribumi. Lalu para lulusan HIS melanjutkan ke MULO yang dibentuk pada
tahun 1914 dengan syarat yang dapat bersekolah di MULO ialah lulusan sekolah rendah
terkecuali sekolah desa. Setelah lulus dari MULO, para lulusannya dapat melanjutan ke AMS
atau Algemeene Middlebare School yang didirkan pertama kali di Yogayakarta pada tahun
1919, dengan lama belajar selama tiga tahun. AMS sendiri memiliki dua jurusan yaitu,
pengetahuan kebududayaan atau humanioran yang terbagi menjadi sastra humaniora timur
dan klasik barat. Dan jurusan kedua ialah pengetahuan pasti dan ilmu alam (Afandi, A.N.,
Dkk. 2020. Hlm. 28).
Scan me to find out more….
Untuk menunjang pelaksanaan pengajaran di tingkat rendahan, yaitu pengajaran untuk
bumiputera, maka pemerintah kolonial membuka sekolah guru atau kweekscholl di beberapa
daerah seperti Surakarta, Bukittinggi, Tapanuli, dan Bandung antara tahun 1852-1866. Dalam
perkembangan selanjutanya hoofdenschool diganti menjadi OSVIA atau Opleiding School
voor Inlandsche Ambtenaren. Setelah lulus dari OSVIA para murid akan dijadikan sebagai
anggota korps pangreh praja dengan jabatan yang tinggi di pemerintahan pribumi. Pendirian
OSVIA tentu saja memberikan dampak bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia terutama
di Madiun yang hanya mempunyai sekolah menegah kejuruan OSVIA yang akan
menyiapkan lulusannya kepada terwujudnya seorang Ambtenaar yang siap dipekerjakan
sebagai seorang bupati, patih, wedana dan berbagai jabatan birokrat lainnya, namun
disamping hal itu OSVIA juga menyebabkan adanya kesenjangan sosial antara golongan
pryayi baru dan priyayi lama. Dalam hal ini golongan priyayi lama menolak sistem
pendidikan barat dan merasa tersaingi dengan golongan priyayi baru dari pendidikan OSVIA
(Utami, R. P., & Rahayui, S. D. I. S. 2017. Hlm 187).
Pada tahun 1900 sebanyak 169 Eurepese Lagree School (ELS) tersebar di Hindia Belanda.
Biasanya setelah lulus dari ELS, para lulusannya melanjutkan sekolah ke STOVIA atau
School tot Opleiding Voor Inlandsche Arsten. STOVIA merupakan sekolah kedokteran di
Batavia yang diremiskan pada tahun 1902 yang pada masa itu masa studinya selama tujuh
tahun dengan catatan menempuh pendidikan tingkat persiapan terlebih dahulu untuk 2 atau 3
tahun, baru kemudian melanjutkan di bagian kedokteran. Lulusan STOVIA nantinya diberi
gelar “Dokter Bumiputera” (Inlandsch Arts) (Cahyani, H. 2019. Hlm 188). Perkembangan
selanjutnya pada tahun 1913 terdapat perubahan gelar menjadi Indiche Arts atau Dokter
Hindia Belanda.
Pada tahun 1927 STOVIA tidak lagi menerima mahasiswa baru dan focus untuk meluluskan
pendidikan siswa yang sudah ada. Beberapa muridnya yang masih berada ditingkatan rendah
direkomendasikan untuk pindah ke NIAS dan siswa yang tingkatan tinggi direkomendasikan
pindah ke GHS (geneeskundige Hoogeschool). Pada tahun 1913 pemerintah Hindia-Belanda
mendidikan sekolah kedokteran di Surabaya dengan nama Nederlandch Indische Artenschool
atau NIAS. Tujuan didirikannya sekolah NIAS ini untuk mendidik dokter-dokter yang
langsung bekerja untuk melayani kesehatan masyarakat sesuai dengan Staatsblad, 1914, No.
291 (Prayudi, G. M., & Salindri, D. 2015. Hlm 30). Tidak sembarang murid dapat bersekolah
di NIAS, hanya siswa lulusan MULO saja. Perubahan selanjutnya pada tahun 1928 dimana
masa studi NIAS berubah, yang pada awalnya 10 tahun menjadi 8,5 tahun dengan resmi
disebut dengan gelar "Dokter Djawa".
Adanya kebijakan dalam bidang pendidikan yang bersifat diskriminatif ini ternyata
memberikan sebuah dampak positif. Dari pendidikan ini mulai banyaknya muncul tokoh-
tokoh pergerakan Indonesia seperti, Soetomo, Cipto Mangunkusuno, Soekarno, Moh. Hatta
dan tokoh-tokoh lain yang bersekolah di sekolah pemerintahan kolonial. Dengan kata lain
pendidikan pada masa ini banyak menciptakan golongan terpelajar dan mendapatkan
wawasan yang berguna untuk perjuangan menuju Indonesia merdeka.
3. Rangkuman
1) Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah dijajah oleh negara lain, hal ini
dikarenakan letak geografis Indonesia yang strategis yang di penuhi oleh kekayaan
alam Indonesia yang menyababkan Indonesia pada saat itu menjadi primadona negara
lain untuk melakukan ekspolitasi. Akibat dari penjajahan inilah rakyat pribumi pada
saat itu merasakan kehidupan yang sulit dan dilakukan secara semena-mena.
2) Dampak dari adanya pengaruh kolonialisme bangsa barat masih dapat dirasakan
hingga saat ini baik dari unsur pendidikan ataupun ekonomi. Dampak yang dirasakan
pun tidak selalu bersifat negatif saja tetapi juga terdapat dampak yang
menguntungkan Indonesia seperti, dalam bidang pendidikan munculnya kaum
terpelajar di Indonesia dan dampak pada bidang ekonomi saat dikerahkan kebijakan
berbagai tanam paksa yang memperkenalkan cara bercocok tanam dan berbagai jenis-
jenis tanaman baru.
3) Selain dampak positif yang sudah disebutkan diatas, tidak menutup kemungkinan
penajajahan Eropa yang dilakukan di Indonesia berdampak terhadap terhambatnya
perkembangan Indonesia untuk menjadi wilayah yang independen. Masyarakat juga
banyak yang mengalami kemiskinan, kelaparan, dan penderitaan akibat penjajahan
dan kebijakan yang diterapkan oleh negara koloniali barat. Kerap kali Belanda
melakukan Devide et Impera atau politik adu domba yang menyebaban persatuan
Indonesia sulit dicapai.
Yeayyy!!
Perjalanan pembelajaran kita kali ini sudah
berakhir
Mari kita apresiasi terlebih dahulu kepada diri
kita masing-masing karena sudah mau berusaha
belajar pada materi kali ini yaa, ayo katakan
“terimakasih diriki ku sudah berusaha untuk
hari ini” ☺
Sebelum mengakhiri perjalanan kali ini
mari kita kerjakan tugas mandiri
setelah ini yaaa!
4. Penugasan Mandiri
Setelah menyelaikan materi diatas, silahkan kerjakan soal berikut ini dengan memberikan
uraian jawaban!
1) Saat ditetapkan kebijakan sistem sewa tanah oleh Rafles dalam menjalankan politik
uang banyak rakyat Indonesia tidak mudah menerima kebijakan tersebut. Uraikanlah
alasan yang menyebabkan rakyat begitu sulit menerima kebijakan tersebut?
2) Uraikanlah mengapa politik etis menjadi jendela dari munculnya para kaum terpelajar
Indonesia?
3) Nilai-nilai apa sajakah yang dapat kalian ambil dari adanya dampak dari kebijakan
ekonomi dan pendidikan pada masa penjajahan kolonial barat di Indonesia?
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, A. N., Swastika, A. I., & Evendi, E. Y. (2020). PENDIDIKAN PADA MASA
PEMERINTAH KOLONIAL DI HINDIA BELANDA TAHUN 1900-1930. Jurnal
Artefak Vol, 7(1).
Cahyanti, H. (2019). PERKEMBANGAN SEKOLAH KEDOKTERAN STOVIA DI BATAVIA
1902-1927. Ilmu Sejarah-S1, 4(3).
Endah Sri, H. (2018). Dua Abad Jalan Raya Pantura. Sejak Era Kerajaan Mataram Islam Hingga
Orde Baru. Nurmahera.
Ginting, R., & Sutono, A. (2011). SISTEM SEWA TANAH DALAM UPAYA
PENGHAPUSAN FEODALISME DI JAWA ABAD XIX. CIVIS, 1(1).
DOI: https://doi.org/10.26877/civis.v1i1/Januari.575
Prayudi, G. M., & Salindri, D. (2015). Pendidikan Pada Masa Pemerintahan Kolonial Belanda Di
Surabaya Tahun 1901-1942 (Education on Dutch Government in Surabaya At 1901-
1942). Publika Budaya, 3(1), 20-34.
Sondarika, W. (2019). Dampak Culturstelsel (Tanam Paksa) Bagi Masyarakat Indonesia dari
Tahun 1830-1870. Jurnal Artefak, 3(1), 59-66.
Utami, R. P., & Rahayui, S. D. I. S. (2017). Opleiding School voor Indlandsche Ambtenaren
(OSVIA):“Pendidikan Bagi Calon Pejabat Pribumi di Madiun Tahun 1900-
1938” (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).