5. Menyediakan panduan ilmiah dan berbasis bukti terhadap kemanan, kualitas,
ketersediaan dan penggunaan produk darah.
6. Menerapkan jejaring hemovigilance
Melalui serangkaian langkah penting diatas diharapkan layanan transfusi yang
aman dapat dipertahankan dan meningkatkan keselamatan pasien. Pertimbangan
memulai transfusi darah harus tetap berpegang pada prinsip 5R (right product to the
right patient in the right dose at the right time for the right reason).
Referensi:
Towsend, M. ASCLS: Transfusion Safety and Blood Management Specialists: New Roles for a
New Medical Paradigm. 2014. Phoenix
Dhingra, N. Blood transfusion safety, essential health technology. ISBT. Article online.
Davis RE, Vincent CA, Murphy MF. Blood transfusion safety: the potential role of patient. Transfus
Med Rev, 25 (2011), pp. 12-23
48 | Kumpulan Artikel Populer
HALAMAN SEHAT
PROMKES
HEMOVIGILANCE : Sudahkah RS Kita Melakukan ?
Penulis : dr Teguh Triyono, Sp PK (K)
Transfusi darah merupakan terapi penunjang yang diberikan kepada pasien
yang membutuhkan untuk mengganti atau meningkatkan salah satu atau beberapa
komponen darah. Tindakan ini merupakan rangkaian proses yang panjang sejak
dilakukan penjaringan donor, pengambilan darah donor, pengolahan komponen,
penyimpanan darah, pemeriksaan pretransfusi, pemberian transfusi kepada pasien,
sampai dengan pemantauan transfusi.
Transfusi darah memiliki berbagai risiko disamping banyak manfaat yang
didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya 16% kesalahan transfusi terjadi
secara bedside pada kategori IBCT(Incorrect Blood Component Transfused).
Selama ini angka kejadian efek samping transfusi di Indonesia belum diketahui
dengan pasti. Padahal informasi terkait hal ini sangat dibutuhkan dalam rangka
keselamatan pasien. Hal inilah yang mendasari pentingnya pelaksanaan jejaring
hemovigilace.
Istilah hemovigilance dikenal sejak tahun 1990an di Perancis, berasal dari
bahasa Latin “haema” berarti darah dan “vigilans” yang berarti memberikan
perhatian khusus. Hemovigilance telah umum dilaksanakan di negara berkembang,
meskipun secara teknis masih tertinggal dibanding negara-negara seperti Jepang,
Perancis, dan Inggris. Hemovigilance merupakan bagian integral dari program
keselamatan pasien.
Hemovigilance memiliki variasi dalam pemaknaannya, tetapi secara umum
didefinisikan sebagai “ seperangkat prosedur surveilans yang dilakukan sejak
pengambilan darah donor dan komponen darah sampai dengan pemantauan pasien
dengan tujuan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi informasi tentang efek
samping yang terjadi karena penggunaan produk darah dan mencegah kejadian
tersebut”.
49 | Kumpulan Artikel Populer
Sistim hemovigilance di dunia saat ini, dapat diklasifikasikan berdasarkan
status legal, cakupan pelaporan, pengorganisasian dan pembiayaan. Secara umum
terdapat 2 kiblat sistim hemovigilance yaitu di Inggris dan di Perancis.
Tabel perbandingan sistem hemovigilance Inggris dan Perancis
Parameter Inggris Perancis
Status legal Sukarela Wajib
Cakupan pelaporan Reaksi serius (tingkat 2-4), Seluruh reaksi (tingkat 1-4),
termasuk kejadian tanpa tidak memasukkan kejadian
tanda klinis dan kejadian tanpa tanda klinis atau
nyaris cedera kejadian nyaris cedera
Pengorganisasian Nasional di kantor SHOT Nasional
(Serious Hazard of
Transfusion)
MENGAPA HARUS MELAKUKAN
HEMOVIGILANCE?
Transfusi memiliki risiko berupa
efek samping yang kurang dapat
digambarkan oleh laporan yang
tersedia. Efek samping adalah segala
sesuatu yang terjadi pada tahapan
transfusi yang dapat menimbulkan
kematian atau membahayakan nyawa
donor atau pasien, menimbulkan
penambahan waktu rawat di rumah sakit
atau kecacatan. Efek samping transfusi
yang mendatangkan kecacatan dan atau kematian seorang pasien dinamakan
reaksi transfusi, sedangkan bila mengenai donor dinamakan komplikasi.
Sistem hemovigilance ditujukan untuk mengenali, melaporkan, menganalisis
dan melakukan tindak lanjut atas efek samping transfusi. Informasi hemovigilance
akan dapat berperan dalam meningkatkan keselamatan pasien dengan cara
menyediakan saran tentang tindakan pencegahan, memberikan peringatan kepada
50 | Kumpulan Artikel Populer
rumah sakit tentang adanya risiko efek samping penggunaan darah, menyusun
kebijakan, serta mengembangkan standar.
Wood et al.(2014) menyatakan bahwa dalam penerapan program
hemovigilance maka beberapa hal berikut harus diperhatikan, yaitu: 1)menentukan
tujuan secara jelas;2)saling berbagi baik individual, grup, maupun institusi tentang
pengalaman masing-masing;3)melakukan penyatuan sistim dengan yang sudah ada
bila memungkinkan;4)segera memulai, meskipun sistim yang ada dirasakan belum
sempurna;5)memantau dan mereview secara periodik;6)melakukan pelaporan balik
sehingga peserta akan mengerti benar kemanfaatannya; 7)menghilangkan stigma
sumber kesalahan.
Pembentukan jejaring hemovigilance memungkinkan pengeluaran laporan
rutin yang dapat dijadikan umpan balik bagi rumah sakit atau unit donor darah.
Pengembangan jejaring hemovigilance akan terbantu dengan penggunaan LIS
(Laboratory Information Systems). Laboratory Information Systems dapat
menyajikan data terpercaya atas penggunaan komponen darah kepada pasien di
suatu rumah sakit. Kesepakatan definisi secara internasional telah tersedia untuk
pendataan dan surveilans komplikasi donor darah dan efek samping transfusi.
Pelaporan yang tidak adekuat (under-reporting) masih menjadi masalah
dalam sistem hemovigilance karena adanya variasi rentang data. Formulir pelaporan
reaksi transfusi menjadi tantangan bagi sistim hemovigilance agar rumah sakit atau
unit donor darah lebih terpacu dalam pelaporan.
Sebagai penutup, belum diketahuinya angka pasti kejadian efek samping
transfusi di Indonesia dapat disebabkan oleh kegagalan deteksi kejadian efek
samping , belum tersedia media pelaporan, atau sengaja tidak dilaporkan. Informasi
terkait hal ini dapat digali melalui program hemovigilance. Program hemovigilance
dengan jejaring di tingkat lokal, regional maupun nasional sudah saatnya untuk
diimplementasikan demi peningkatan keselamatan pasien.
51 | Kumpulan Artikel Populer
Cidera Anterior Cruciate Ligament (ACL)
Penulis : dr. Luthfi Hidayat, Sp.OT (K) - Hip Knee
Sendi lutut merupakan salah satu sendi yang
sering mengalami cidera. Cidera pada lutut bisa
menyebabkan patah tulang pembentuk sendi
lutut maupun kerusakan jaringan ikat di lutut,
seperti ligamen.
Pada lutut, terdapat empat jenis ligamen utama
yang menghubungkan tulang-tulang di sendi lutut
dan menjaga stabilitas sendi lutut. Ligamen-ligamen tersebut adalah: ACL (Anterior Cruciate
Ligament), PCL (Posterior Cruciate Ligament), LCL (Lateral Collateral Ligament), dan MCL
(Medial Collateral Ligament). Dari keempat ligamen tersebut, ACL adalah ligamen yang
paling sering mengalami cidera.
ACL merupakan ligamen yang menghubungkan antara tulang paha dan tulang kering pada
sendi lutut. ACL sendiri berfungsi untuk mencegah pergeseran berlebih tulang kering ke
depan tulang paha dan menjaga stabilitas rotasional lutut.
Tingkat keparahan cidera ligamen
Cidera ligamen disebut juga sebagai “sprain” dan dibagi berdasarkan tingkat keparahannya
menjadi 3 derajat.
1. Sprain derajat 1
Ligamen hanya teregang dan mengalami robekan-robekan mikroskopis, sehingga
ligamen masih dapat berfungsi menjaga stabilitas sendi.
2. Sprain derajat 2
Ligamen mengalami robekan parsial (sebagian), sehingga stabilitas sendi akan
berkurang.
52 | Kumpulan Artikel Populer
3. Sprain derajat 3
Ligamen mengalami robekan komplit, sehingga sendi akan menjadi tidak stabil.
Kebanyakan cidera ACL merupakan robekan komplit atau hampir komplit. Robekan parsial
pada ACL jarang terjadi.
Penyebab cidera ACL
Biasanya, cidera ACL terjadi ketika orang sedang melakukan olah raga yang melibatkan
perubahan arah gerakan lutut terlalu cepat, seperti olah raga basket atau sepak bola. Selain
itu, cidera ini juga dapat disebabkan karena mengurangi kecepatan gerak lutut secara
mendadak, mendarat dari lompatan dengan posisi yang tidak tepat, atau karena benturan
langsung pada daerah lutut.
Gejala cidera ACL Orang yang mengalami cidera ACL
(seperti tidak bisa menahan beban tubuh). biasanya menderngar bunyi “pop” dan
merasakan nyeri yang tiba-tiba ketika
mengalami cidera. Nyeri karena cidera
ACL pada umumnya terasa sangat
berat. Kemudian, lutut akan
membengkak dalam beberapa jam
setelah cidera dan terasa tidak stabil
Cidera ACL membutuhkan penanganan medis. Bila Anda mengalami gejala seperti yang
telah dideskripsikan di atas, segeralah mencari bantuan medis.
Diagnosis cidera ACL
Diagnosis cidera ACL dibuat berdasarkan gejala yang dirasakan, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Hampir semua cidera ligamen dapat terdeteksi melalui
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.
53 | Kumpulan Artikel Populer
Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan adalah X-ray dan MRI lutut. X-ray
dilakukan untuk melihat ada tidaknya patah
tulang yang mungkin menyertai cidera ACL,
sedangkan MRI untuk melihat cidera berupa
robekan ACL itu sendiri.
Penanganan cidera ACL
Penanganan cidera ACL tergantung dari
kebutuhan masing-masing individu. Contohnya, seorang atlet muda yang memerlukan
kelincahan lebih membutuhkan tindakan bedah daripada orang tua dengan aktivitas ringan.
Penanganan non-bedah
ACL yang robek tidak akan sembuh tanpa operasi. Namun, penanganan non-bedah dapat
dipilih untuk orang dengan tingkat aktivitas fisik rendah. Selain itu, bila hasil pemeriksaan
stabilitas sendi lutut secara keseluruhan baik, dokter dapat merekomendasikan
penanganan non-bedah.
Knee brace (penyangga lutut). Knee brace digunakan untuk menambah stabilitas sendi
lutut. Kemudian, Anda dapat menggunakan kruk untuk mengurangi beban pada lutut yang
cidera.
Terapi fisik. Latihan fisik tertentu dapat meningkatkan fungsi lutut dan menguatkan otot
tungkai yang ikut menyokong sendi lutut. Latihan ini dapat dimulai setelah bengkak dan
nyeri berkurang.
Penanganan bedah
Adanya cidera ACL yang berdampak pada gangguan stabilitas lutut merupakan faktor risiko
terjadinya kerusakan lutut lebih lanjut, seperti kerusakan pada kartilago dan bantalan sendi
lutut (meniscus). Pada kondisi ini, perlu dilakukan operasi rekonstruksi ACL untuk
mengembalikan fungsi stabilisasi ACL.
Hampir semua robekan ACL tidak dapat dijahit menjadi satu kembali. Karena itu, dokter
akan mengganti ACL yang robek dengan jaringan ikat lain. Terdapat beberapa sumber
donor jaringan ikat yang dapat digunakan. Masing-masing sumber donor memiliki kelebihan
dan kekurangan. Anda dapat mendiskusikan sumber donor jaringan mana yang terbaik
untuk Anda dengan dokter ortopedi Anda.
54 | Kumpulan Artikel Populer
Sebelum operasi, biasanya akan dilakukan terapi fisik terlebih dahulu. Terapi fisik ini
bertujuan untuk mengembalikan rentang gerak sendi dan memberikan waktu untuk
pembengkakan berkurang. Bila operasi dilakukan ketika masih terdapat bengkak, kekakuan
lutut, dan rentang sendi buruk, hasil operasi tidak akan maksimal. Pada umumnya, terapi
fisik dilakukan selama tiga minggu atau lebih sejak terjadi cidera.
Prosedur Operasi
Operasi rekonstruksi ACL dilakukan dengan menggunakan arthroscope. Operasi ini
tergolong lebih tidak invasif dengan irisan kulit yang kecil. Teknik ini memiliki keuntungan
berupa nyeri pasca operasi yang lebih ringan dan waktu pemulihan yang lebih singkat.
Prosedur operasi rekonstruksi ACL diawali dengan pemberian obat anestesi. Saat pasien
sudah rileks karena efek obat anestesi, dokter akan kembali melakukan pemeriksaan fisik
pada lutut untuk memastikan bahwa memang ada robekan pada ACL dan untuk melihat
kondisi ligamen lutut lain. Bila hasil pemeriksaan ini menunjukkan adanya robekan ACL,
dokter akan mengambil donor jaringan yang sesuai dan menyiapkan donor jaringan tersebut
agar ukurannya sesuai untuk pasien.
Bila donor jaringan sudah siap, dokter akan membuat sayatan kecil di kulit (1 cm) sebagai
portal tempat masuknya arthroscope dan alat-alat lainnya. Dengan arthroscope, dokter
akan memeriksa kondisi dalam sendi lutut dan mengambil sisa ACL yang robek. Kemudian,
donor jaringan dimasukkan ke dalam lutut melalui terowongan yang dibuat melalui tulang
kering dan tulang paha. Setelah donor jaringan berhasil menempati posisi yang sesuai,
dilakukan fiksasi donor jaringan ke tulang.
Sebelum operasi selesai, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa
lutut yang dioperasi memiliki rentang gerak sempurna dan stabil. Setelah itu, sayatan kulit
akan ditutup dan pasien biasanya dapat pulang di hari yang sama dengan hari operasi itu
juga.
Hasil Operasi
Hampir semua operasi rekonstruksi ACL memberikan hasil yang baik. Tindakan operasi ini
dapat mengembalikan kekuatan dan fungsi sendi lutut seperti sebelum terjadi cidera.
Biasanya, seorang atlet dapat kembali ke aktivitas olah raganya dalam 6-12 bulan pasca
operasi, tergantung jenis olah raganya dan kepatuhan atlet terhadap program rehabilitasi.
55 | Kumpulan Artikel Populer
PERAWATAN LUKA MODERN DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
Penulis : Lucia Anik Purwaningsih Skep.,Ns.,M.Kep (ETN)
PENDAHULUAN
Dengan semakin kompleksnya
kasus rujukan pasien ke RSUP Dr. Sardjito
yang disertai dengan komplikasi luka
kompleks seperti fistula enterokutaneus,
dehisensi, pressure ulcer, ekstravasasi,
iritasi yang luas pada kasus stoma pediatric
ataupun luka bakar, perawatan luka pun berkembang sejak 3 (tiga) perawat RSUP Dr.
Sardjito mendapatkan sertifikasi Internasional Enterostomal Therapy Nurse (ETN) dari
World Council of Enterostomal Therapy (WCET, 2007) yang merupakan badan tertinggi
dunia untuk bidang keilmuan perawatan luka, stoma dan inkontinensia.
Perawatan luka dikembangkan dengan tehnik modern sesuai standart Internasional
yaitu perawatan luka berbasis lembab atau “moist wound healing dan moist wound
dressing” yang didukung dengan telah tersedianya jenis jenis dressing modern berbasis
lembab untuk hasil penyembuhan luka yang optimal, baik dilihat dari kualitas integritas
jaringan, waktu proses penyembuhan, peningkatan quality of life dan patient safety dengan
memperhatikan kendali mutu dan kendali biaya.
Bagaimana Moist Wound Healing ?
Moist wound healing merupakan suatu metode yang mempertahankan lingkungan luka
tetap terjaga kelembabannya untuk memfasilitasi penyembuhan luka. Luka lembab dapat
diciptakan dengan cara occlusive dressing (perawatan luka tertutup). Metode “moist wound
healing” ini sudah mulai dikenalkan oleh Prof. Winter pada tahun 1962. Di Indonesia mulai
dikembangkan pada tahun 2000 an.
56 | Kumpulan Artikel Populer
Ada perbedaan mendasar antara perawatan luka konvensional dengan perawatan luka
modern. Di dalam teknik perawatan luka konvensional tidak mengenal perawatan luka
lembab, kasa biasanya lengket pada luka karena luka dalam kondisi kering. Pada cara
konvensional pertumbuhan jaringan lambat sehingga menyebabkan tingkat risiko infeksi
lebih tinggi.
Sedangkan teknik modern atau moist wound healing, perawatan luka lembab sehingga are
luka tidak kering sehingga mengakibatkan kasa tidak mengalami lengket pada luka.
Dengan adanya kelembaban tersebut dapat memicu petumbuhan jaringan lebih cepat dan
tingkat risiko terjadinya infeksi menjadi rendah.
Perawatan RSUP Dr. Sardjito menggunakan metode untuk mempertahankan kelembaban
lingkungan luka, dimulai dengan wound bed preparation menggunakan metode TIME untuk
mendapatkan jaringan luka yang sehat berwarna merah/red. TIME merupakan singkatan
dari :
(T) Tissue adalah tissue management dengan debridement jaringan nekrotik untuk
menjadikan dasar luka menjadi sehat berwarna merah (Red Yellow Black),
(I) Infection/Inflamasi adalah pengendalian infeksi dengan PHMB antiseptik pencuci
luka dan antimicrobial dressing untuk mengontrol infeksinya,
(M) Moisture adalah moisture balance dengan absorb dressing untuk menyerap eksudat,
atau melakukan hidrasi untuk luka yang kering sehingga didapatkan keseimbangan
kelembaban,
(E) Edge of wound dengan mengevaluasi epitelisasi pada tepi luka. Tepi luka yang keras
dan kering akan menghambat proses epitelisasi dalam penyembuhan luka. Sehingga
tepi luka harus disiapkan sejak dini. Luka yang sehat ditandai dengan adanya
epitelisasi pada tepi luka, bila dalam 2-4 minggu tidak ada kemajuan tepi luka
dilakukan reassessment untuk TIM.
Pada luka delay healing dikelola secara multidisiplin dengan adjuvant therapy
menggunakan Vaccum Assisted Closure (VAC) atau Platelette Rich Plasma (PRP)
57 |Kumpulan Artikel Populer
Pemilihan Moist Wound Dressing
Dalam pemilihan jenis dressing untuk tetap menjaga suasana lembab berdasarkan warna
dasar luka (wound bed) dengan menggunakan algoritma sebagai berikut:
• Luka dengan warna dasar Red/merah merupakan jaringan epitelisasi/granulasi prinsip
perawatannya moisture retentive dressing untuk menjaga kelembaban
• Luka dengan warna dasar Yellow/kuning merupakan jaringan slough berexudate prinsip
perawatanya exudate management dengan dressing absorband.
• Luka dengan warna dasar Black/hitam merupakan jaringan nekrotik avaskuler prinsip
perawatannya wound hydration dressing dengan hydroavtive gel yang memberikan
kelembaban.
• Luka dengan tanda tanda terinfeksi warna kehijauan dengan menggunakan antimicrobial
dressing/hidrofobik dressing untuk mengontrol infeksi.
HASIL
Perawatan luka berbasis lembab (moist wound healing) meningkatkan epitelisasi, angka
infeksi lebih rendah dibandingkan dengan perawatan kering (2,6% vs 7,1%), proses
penyembuhan luka menjadi lebih cepat dan waktu rawat inap pasien/Length of Stay (LOS)
menjadi lebih pendek.
58 |Kumpulan Artikel Populer
DAFTAR PUSTAKA
1. Sood, et al. 2014. Wound Dressing and Comparative Effectiveness Data. Advances in Wound
Care Journal, vvol 3, number 8. Wound Healing Society
2. Baranoski & Ayello. 2012. Wound Care Essensials Practice Principles. Lippincott Williams &
Wilkins: Philadelphia
3. Blackly P. 2004. Practical Stoma, Wound and Continence Management, Second Editon.
Research Publication Pty Ltd 27A Boronia Road, Vermont, Victoria, Australia
4. Bryant R & Nic D. 2007. Acut and Chronic Wounds, Current Management Concepts, Third
Edition, Msby, Inc un affiliateof Elsevier Inc. Philadelphia
5. Carville K, 1998. Wound Care Manual, Third Edition, Copyright Silver Chain Foundation,
Sundercombe St. Osborne Park, Western, Australia.
6. Dealy C, 2007, The Care of Wounds, A quide for Nurses, Third Edition, Blackwell Publishing
Ltd, British, USA, Australia, Hong Kong
7. Nixon J cit Marison MJ, Ovington LG, Wilkie K 2004, Chronic Wound Care, A Problem – Based
Learning, Approach chapter Pressure Ulcer, Copyright, Licencing Agency, 90 Tottenham
Courd Road, London
59 |Kumpulan Artikel Populer
OSTEOPOROSIS
Penulis : Ediana Kurniawati, SKM
PENDAHULUAN
Osteoporosis adalah penyakit tulang
sifat khas berupa
yang mempunyai kepadatan tulang
massa atau mengakibatkan
jaringan tulang
menurun yang
menimbulkan
penurunan kualitas Osteoporosis
satu penyakit
yang akhirnya
kerapuhan tulang.
merupakan salah
degeneratif yang bisa menyerang siapa saja termasuk di usia muda.
International Osteoporosis Foundation (IOF) mengungkapkan bahwa 1 dari 4 perempuan
di Indonesia dengan rentang usia 50-80 tahun memiliki risiko terkena osteoporosis. Risiko
akan meningkat pada sebagian besar wanita setelah menopause dengan berkurangnya
hormon estrogen. Osteoporosis tidak menampakkan tanda-tanda fisik yang nyata hingga
terjadi keropos atau keretakan pada usia senja.
Tulang manusia terus beregenerasi dari waktu ke waktu dari tulang yang telah rapuh akan
berganti dengan tulang baru. Saat masih kanak-kanak, tulang kita tumbuh dan mampu
memperbaharui diri dengan cepat. Pada rentang usia 16 – 18 tahun, tulang perlahan akan
berhenti tumbuh, sementara massa tulang akan terus bertambah hingga usia akhir 20 an.
Namun proses ini melambat seiring dengan pertambahan usia manusia. Secara perlahan
kepadatan tulang akan makin berkurang dan proses ini dimulai sekitar umur 35 tahun.
60 |Kumpulan Artikel Populer
FAKTOR RESIKO
Faktor risiko terjadinya osteoporosis diantaranya usia, wanita dengan menopause, adanya
riwayat keluarga yang osteoporosis, kurangnya aktifitas fisik, konsumsi minuman
beralkohol dan merokok, penyakit kelenjar tiroid, kurangnya konsumsi kalsium dan vitamin
D, malabsorbsi atau ketidakmampuan usus untuk menyerap nutrisi dari makanan dan
konsumsi obat steroid jangka panjang.
GEJALA
Gejala osteoporosis pada sebagian orang tidak menimbulkan gejala tapi kadang kala pada
sebagian muncul nyeri punggung, postur tubuh
membungkuk, menurunnya tinggi badan atau
adanya keretakan tulang tanpa riwayat trauma atau
trauma minimal dan kejadian ini sering diketahui
pada saat pemeriksaan.
PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Penting yaitu dengan BMD (Bone Mineral Density) atau tes kepadatan
tulang yaitu pemeriksaan yang mengukur densitas / kepadatan mineral dalam tulang
dengan sinar X khusus, Ct scan atau ultrasonografi. Pemeriksaan ini menunjukkan
kepadatan tulang saat pemeriksaan dilakukan dan tidak bisa memprediksi densitas
tulang pada waktu mendatang.
2. Kadar Kalsium Darah
Kadar Kalsium (Ca) dalam darah menurun, kadar Fosfat (P/PO4) dalam darah
meningkat disertai iPTH (Hormon Paratiroid) meningkat dan kadar Vitamin D3(25-OH)
Total yang menurun.
61 |Kumpulan Artikel Populer
BAHAYA
Osteoporosis dapat menimbulkan bahaya, diantaranya adalah
1. Patah Tulang (Bone Fractures)
Hilangnya kepadatan, tulang menjadi lebih mudah rapuh sehingga jatuh atau
terpeleset bisa menyebabkan patah tulang terutama tulang pinggul.
2. Fraktur Kompresi (Compression Fractures)
Tulang belakang juga akan menjadi rentan terhadap efek osteoporosis. Banyak
penderita osteoporosis yang mengalami fraktur kompresi, kondisi dimana tulang
belakang menjadi tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Fraktur kompresi
biasanya terjadi saat melakukan kegiatan sehari-hari seperti membungkuk dan
mengangkat benda berat.
3. Perubahan Penampilan
Fraktur kompresi yang disebabkan oleh osteoporosis bisa mengakibatkan kehilangan
tinggi badan sekitar 15-20 persen dari tinggi semula. Hal ini disebabkan kondisi tulang
belakang yang saling menumpuk atau tumpang tindih. Pada beberapa kasus, fraktur
juga bisa menyebabkan kifosis (kyphosis), kondisi dimana tulang belakang melengkung
yang terkadang disebut dengan bungkuk (humpback).
4. Nyeri
Kondisi osteoporosis semakin memburuk sering mengalami nyeri tulang yang
terlokalisasi di area tertentu, misalnya punggung, pinggul, leher, bahu dan kaki.
5. Kehilangan Keseimbangan
Nyeri yang timbul akibat osteoporosis sering menyebabkan tubuh lebih kaku untuk
bergerak, sehingga berdampak negatif terhadap keseimbangan. Kondisi ini sering
menyebabkan jatuh, yang bisa menyebabkan patah tulang, sehingga menciptakan siklus
nyeri yang lebih parah karena patah tulang.
62 |Kumpulan Artikel Populer
PENCEGAHAN
Pencegahan osteoporosis dimulai sedini
mungkin untuk mencapai massa tulang yang
maksimal. Usaha yang bisa dilakukan untuk
mencegah osteoporosis yaitu pola makan
sehat dengan mengkonsumsi makanan yang
kaya vitamin D dan Kalsium diantaranya
brokoli, susu, keju, pisang, jeruk, ikan sarden,
kacang-kacangan, bayam, sayuran hijau dan ikan, tidak merokok, rajin berolah raga
minimal 30 menit 5 kali dalam seminggu, jaga berat badan berat badan ideal, waspadai
nyeri tulang dan lakukan tes pemeriksaan dini osteoporosis saat menopause.
Sumber : Materi “Osteoporosis” oleh Dr. dr Deddy Nur Wackhid, Sp PD – KR Pada Edukasi
Paguyuban Lansia Adhiyuswo Ngesti Rahayu
63 |Kumpulan Artikel Populer
UPAYA MEMBANGUN KOMITMEN DAN KEKOMPAKAN KERJA
MELALUI YEL-YEL ILK ; SUATU PENDEKATAN NEUROLINGUISTIK UNTUK MUTU
Penulis : Andaru Dahesih Dewi, Ambarsari Kusuma Ningtyas
Instalasi Labratorium Klinik
PENDAHULUAN
Instalasi Laboratorium
Klinik (ILK) RSUP Dr. Sardjito
mengemban tugas pelayanan
kepada pasien, tugas pelayanan
pendidikan dan penelitian, serta
menjadi sumber pendapatan
rumah sakit sekaligus peningkatan
kesejahteraan karyawan.
Pengembangan kekuatan Instalasi
untuk merebut peluang di seluruh
bidang layanan dengan
mempertimbangkan kondisi sosioekonomi masyarakat dan persaingan antar
laboratorium klinik bertujuan untuk memberikan pelayanan prima yang menempatkan
kepuasan pelanggan dan keselamatan pasien sebagai fokus. Kepuasan pelanggan
laboratorium Patologi Klinik meliputi aspek biaya, kelengkapan parameter pemeriksaan,
kemudahan prosedur, kecepatan dan kenyamanan layanan. Fokus keselamatan pasien
dilaksanakan melalui upaya jaga mutu dimulai tahap praanalitik, analitik, sampai dengan
pasca analitik.
64 | Kumpulan Artikel Populer
Instalasi Laboratorium Klinik merupakan suatu organisasi yang terdiri dari individu
yang unik dan spesifik. Komitmen dan kekompakan kerja harus dibangun sehingga
kelebihan dan kekurangan masing-masing individu menjadi sinergi. Membangun iklim
kerja yang efektif merupakan karakter, perilaku kerja, serta kultur budaya organisasi.
Komitmen dan kekompakan kerja sangat penting dalam membangun suatu organisasi.
Semakin kompak individu yang mendukung sebuah kegiatan, semakin besar pula
peluang kesuksesan yang dimiliki.
Salah satu cara dalam membangun komitmen dan kekompakan kerja dalam suatu
organisasi adalah melalui pendekatan neurolinguistik. Neurolinguistik merupakan bidang
ilmu linguistik interdisipliner yang tercakup dalam bidang makrolinguistik, yaitu lahir dari
dua bidang ilmu yang bekerja sama, yakni neurologi dan linguistik. Objek kajian neurologi
adalah anatomi otak manusia (susunan saraf otak) manusia. Sedangkan, objek kajian
linguistik adalah bahasa. Bahasa bersumber dari pikiran yang melahirkan sikap dan
perilaku positif atau negatif.1 Yel-yel ILK menjadi satu pendekatan neurolinguistik yang
dipilih dalam upaya peningkatan mutu kinerja di lingkungan ILK RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta.
PEMBAHASAN
Yel-yel berasal dari bahasa inggris yaitu yell berarti teriakan yang keras
(loudshout).2 Yel-yel yaitu semacam artefak berupa teriakan dengan kata-kata tertentu
yang bermakna semangat untuk maju.3 Pada umumnya yel-yel berisi kata-kata
pembangkit semangat. Metode ini merupakan upaya membangun ujaran-ujaran positif
yang ditransformasikan ke dalam bahasa otak.1
Salah satu upaya yang dilakukan oleh ILK RSUP Dr. Sardjito dalam 5 tahun
terakhir guna meningkatkan mutu kinerja adalah melalui pengucapan yel-yel ILK pada
forum laporan pagi. Kegiatan laporan pagi diawali dengan doa yang dilanjutkan dengan
meneriakkan yel-yel bersama, dan diakhiri dengan kembali meneriakkan yel-yel. Yel-yel
ini dipimpin oleh moderator dan diikuti oleh seluruh peserta laporan pagi. Yel-yel
diteriakkan dengan lantang dalam posisi tubuh berdiri tegap dan variasi gerakan tangan.
Berikut adalah yel-yel ILK yang rutin diucapkan di ILK RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
65|Kumpulan Artikel Populer
“ILK, siap!
Melayani, dengan hati
Motto: cepat, akurat teliti
Fokus: satu padu jaga mutu
Semangat, yes! yes! yes!”
Lirik dari yel-yel ILK dipilih sedemikian rupa sehingga mampu memberikan efek
berupa sikap dan perilaku positif bagi seluruh masyarakat ILK. Dimulai dari kata-kata
“ILK, siap!”. Hal ini menyugesti seluruh masyarakat ILK bahwa dalam setiap harinya
haruslah siap dalam memberikan pelayanan. Kalimat “melayani dengan hati”menjadi
pengingat bagi seluruh masyarakat ILK agar dalam melaksanakan tugas, tanggung
jawab, serta kewajiban setiap hari senantiasa dilandaskan oleh keikhlasan dan bukan
sekedar rutinitas. Dalam lirik yel-yel ILK juga terdapat motto ILK yakni “cepat, akurat,
teliti” diharapkan untuk memberikan hasil pemeriksaan laboratorium dengan cepat,
namun tetap akurat dan teliti. Lirik dalam yel-yel ILK selanjutnya adalah ”Fokus: satu padu
jaga mutu”. Bersatu padu dalam menjaga mutu pelayanan laboratorium. Pelayanan
laboratorium melibatkan berbagai unsur yang terdiri dari antara lain dokter spesialis,
dokter residen, analis, tenaga administrasi, hingga pekarya yang semuanya harus saling
bersinergi untuk memberikan pelayanan bagi pasien. Akhir dari lirik dalam yel-yel ILK
adalah “Semangat, yes! yes! yes!”.
Melalui pendekatan neurolinguistik berupa yel-yel ILK, masing-masing individu di
ILK senantiasa mengingat identitas diri sebagai bagian dari ILK. Identitas diri seorang
individu dapat mempengaruhi pembentukan identitas sosial, emosi dan suasana hati
kelompok, dan membentuk kecerdasan emosional. Identitas diri adalah cara-cara
seseorang dalam mendefinisikan siapa dia sebagai individu unik dalam membina
hubungan. Sedangkan identitas sosial dikembangkan dari interaksi individu dengan
kelompoknya yang saling mempengaruhi. Suasana hati kelompok adalah perkembangan
alamiah dari emosi kelompok. Emosi bersifat tidak tetap, cepat, dan reaktif; sedangkan
suasana hati masih membekas dalam periode waktu tertentu. Kecerdasan emosional
adalah keadaan dimana individu belajar tidak hanya mengobservasi tetapi juga
memanfaatkan dan mengendalikan emosi tim dalam rangka membantu proses-proses
dalam pikiran. Yel-yel ILK diharapkan mampu untuk mewujudkan hierarki pengembangan
sosial dan perilaku.5
66|Kumpulan Artikel Populer
KESIMPULAN
Membangun komitmen dan kekompakan kerja merupakan langkah penting dalam
penyelenggaraan kegiatan pelayanan dalam satu organisasi besar seperti ILK. Namun,
untuk menciptakan komitmen dan kekompakan kerja bukanlah hal yang mudah karena
harus menyatukan sifat dan karakter dari setiap individu yang berbeda. Salah satu cara
adalah melalui pendekatan neurolinguistik berupa yel-yel ILK.
DAFTAR PUSTAKA
1. Elfiky, Ibrahim, Dr. 2007. Terapi NLP (Neuro–Linguistic Programming). Cetakan 2. Jakarta:
Hikmah.
2. Oxford learner’s pocket dictionary, (Oxford University Press,1995), h.481.
3. http://srasyid.wordpress.com/category/motivasi/
4. Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta, PT Bumi Aksara, 2001), h.158.
5. Adam, Susan L. & Anantatmula, Vittal. 2010. Social and behavioral influences on team
process. Project Management Journal, Vol. 41, No. 4, pp. 89-98.
67|Kumpulan Artikel Populer