The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

flipbook ini menjelaskan tentang entomologi pada pembahasan serangga sebagai penginvestigasi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 44 Nurhaniefa, 2022-03-31 10:13:32

Flipbook Entomologi

flipbook ini menjelaskan tentang entomologi pada pembahasan serangga sebagai penginvestigasi

Keywords: entomologi

SERANGGA SEBAGAI PENGINVESTIGASI

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Entomologi

Dosen Pengampu :
Dr. H. Uus Toharudin, M.Pd
Ibu Ida Yayu Nurul Hizqiyah, S.Pd., M.Si

Saiman Rosamsi, M.Pd

Disusun Oleh :

Fahrunnisa Adtiali 185040037

Nurhaniefa 185040044

Kelas : Biologi A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PASUNDAN
2022

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia,
serta taufik dan hidayahNya kami selaku penulis dapat menyelesaikan flipbook dengan judul
“Serangga Sebagai Penginvestigasi” ini tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga
tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarganya, sahabatnya serta pengikutnya sampai dengan
akhir zaman, Aamiin.

Ucapan terima kasih atas bantuan dari berbagai pihak dalam menyelesaikan tugas
flipbook. Maka pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak yang
membantu dalam pembuatan flipbook ini, terutama kepada dosen pengampu mata kuliah
Entomologi Bapak Dr. H. Uus Toharudin, M.Pd., Ibu Ida Yayu Nurul Hizqiyah, S.Pd., M.Si.,
serta bapak Saiman Rosamsi, M.Pd.

Penulis sangat menyadari akan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, meskipun
demikian penulis berusaha dengan sekuat daya untuk menyusun flipbook ini dengan sebaik-
baiknya. Oleh karena itu, flipbook ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih atas
perhatiannya, kritik dan saran sangat diperlukan untuk menyempurnakan flipbook ini.

Bandung, Maret 2022

Penyusun

i

Serangga sebagai Penginvestigasi

Serangga merupakan kelompok hewan dengan memiliki jumlah ordo paling banyak
diantara semua hewan (Moore, 2006) dan memiliki penyebaran yang luas di dalam semua habitat
dengan berbagai macam kondisi lingkungan (Elkinton, 2003). Serangga mampu bertahan hidup
dengan berbagai makanan seperti memakan bangkai (necrophagous). Lalat (Callophoridae)
adalah salah satu contoh serangga necrophagous yang memakan bangkai terutama bangkai
mayat (cadaver), sehingga hewan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan
postmortem atau waktu kematian (Allen, 2003). Sehingga serangga dapat digunakan untuk
investigasi kriminal (medicocriminal investigations) yang dikaji dalam ilmu entomologi forensik
(Amendt et al., 2004a).

Entomologi forensik adalah salah satu cabang dari sains forensik yang memberikan
informasi mengenai serangga yang digunakan untuk menarik kesimpulan ketika melakukan
investigasi yang berhubungan dengan kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan dengan
manusia atau satwa (Gaensslen, 2009; Gennard, 2007). Dalam kasus entomologi forensik,
Gomes et al. (2006) menyatakan bahwa lalat merupakan invertebrata primer yang
mendekomposisi komponen organik pada hewan termasuk juga mayat manusia. Pada saat lalat
mengambil materi organik yang ada di dalam tubuh mayat, maka lalat tersebut akan
memindahkan telur yang akan berkembang menjadi larva dan pupa (Sukontason et al., 2007).
Adanya berbagai perubahan dari berbagai jenis lalat dan serangga lain akan menimbulkan suatu
komunitas dalam mayat yang secara ekologi dan evolusi akan terjadi proses kompetisi, predasi,
seleksi, penyebaran dan kepunahan lokal dalam tubuh mayat tersebut (Hangeveld, 1989).

Suksesi Populasi Serangga Necrophagous

Di alam banyak ditemukan serangga yang berfungsi sebagai pengurai sisa-sisa organisme
yang sudah mati. Diantaranya adalah serangga pemakan bangkai yang dikenal sebagai
necrophagous. Dalam membahas kajian entomologi forensik, serangga necrophagous tersebut
mengalami dinamika suksesi populasi dari berbagai spesies yang berbeda secara ekologis pada
tubuh bangkai (Gambar 1 dan 2). Berbagai macam jenis serangga tersebut akan saling

1

berinteraksi baik bersifat netral, kompetisi, maupun predasi dalam proses dekomposisi bangkai
(James, 2010; Tomberlin et al., 2011).

Gambar 1 Mekanisme dekomposisi pada Gambar 2 (A) instar III Chrysomya megacephala.
bangkai babi selama enam hari (Tomberlin (B) overview TKP. (C) mayat korban yang

et al., 2011). dibakar. (D) larva lalat yang ditemukan di wajah
dan kepala (Pai et al., 2007).

Amendt et al. (2004a) menyebutkan bahwa ada empat kategori secara ekologi untuk
mengidentifikasi suatu komunitas pada bangkai/mayat, antara lain:

1. Adanya spesies necrophagous yang memakan bangkai/mayat.
2. Adanya predator dan parasit pada terhadap spesies necrophagous yang memakan

serangga atau golongan Arthropoda yang lain. Terkadang juga ditemukan
spesies Schizophagous, yakni spesies yang hadir untuk memakan pada saat pertama kali,
namun akan menjadi predator pada tahap larva.
3. Adanya spesies omnivora seperti semut, lebah, dan beberapa jenis kumbang yang
memakan baik pada bangkai maupun pada koloni serangga yang ada.
4. Adanya spesies lain seperti laba-laba yang menggunakan bangkai/mayat untuk tempat
tinggalnya.

Selama proses dekomposisi pada bangkai hewan atau manusia, bangkai tersebut akan
mengeluarkan senyawa kimia yang dilepaskan ke udara yang mampu menarik serangga

2

necrophagous. Sensor kimia serangga necrophagous sangat sensitif pada senyawa kimia tersebut
akan tertarik pada sumber bau tersebut. Senyawa kimia tersebut bersumber dari mekanisme
autolisis sel-sel yang melibatkan berbagai macam enzim pendegradasi sel (Gennard, 2007).

Salah satu contoh serangga necrophagous adalah lalat yang masuk ke tubuh manusia
dengan tujuan untuk bertelur, pada umumnya lalat memilih dalam lubang tubuh lembab, seperti
mulut, hidung, atau mata. Setelah beberapa saat telur menetas, dan larva lalat (belatung) muncul
serta memakan pada tubuh tersebut hingga membusuk. Ketika larva telah mencukupi kebutuhan
untuk makanannya, maka belatung akan keluar dari tubuh mayat dan mencari tempat untuk
membentuk pupa (kepompong). Pada tahap berikutnya dari siklus hidupnya, munculah generasi
berikutnya yang berupa serangga dewasa (imago) yang muncul dari pupa tersebut yang siap
memulai siklus selanjutnya (Gambar 3) (Byrd, 2011; Gaensslen, 2009).

Gambar 3 Siklus Lalat
Jenis-jenis serangga necrophagous yang sering dijumpai adalah Lalat yang berasal dari
famili Calliphoridae, Muscidae, Fanniidae, Sarcophagidae, Piophilidae, Sepsidae, Phoridae,
Sphaeroceridae, Heleomyzidae, Stratiomyidae; Kumbang yang meliputi famili Staphylinidae,
Histeridae, Silphidae, Cleridae, Trogidae, Dermestidae, Scarabaeidae, Nitidulidae; Tungau;
Tawon; Semut; dan Ngengat (Amendt et al., 2004a; Gennard, 2007; Kaneshrajah & Turner,
2004; Oliveira et al., 2011). Diantara jenis-jenis serangga tersebut, terdapat juga serangga yang
bertindak sebagai parasit dan predator terhadap serangga necrophagous, kemudian ada juga
serangga yang bersifat omnivora (Tabel 1) (Goff, 2003).

3

Tahapan Dekomposisi

Peristiwa dekomposisi melibatkan berbagai aspek selain faktor biotik, yakni faktor abiotik
yang meliputi parameter fisik seperti temperatur, kelembaban, dan lain-lain. Menurut Gennard
(2007) dan Goff (2003), tahapan dekomposisi terdiri dari lima tahap antara lain:

a) Tahap 1: fresh stage, tahapan dimulai pada saat kematian dan ditandai adanya tanda
penggelembungan pada tubuh. Serangga yang pertama kali datang adalah lalat dari famili
Calliphoridae dan Sarcophagidae. Lalat betina akan meletakkan telurnya di daerah yang
terbuka seperti daerah kepala (mata, hidung, mulut, dan telinga).

a) Tahap 2: bloated stage, merupakan tahapan pembusukan yang sedang dimulai. Gas yang
dihasilkan oleh aktivitas metabolisme bakteri anaerob menyebabkan penggelembungan
pada pada perut mayat. Selanjutnya suhu internal naik selama tahapan ini sebagai akibat
dari aktivitas bakteri pembusuk dan aktivitas metabolime dari larva lalat. Lalat dari famili
Calliphoridae sangat tertarik pada mayat selama tahapan ini. Kemudian selama
mengembang akibat adanya gas, cairan dalam tubuh terdorong keluar dari lubang-lubang
tubuh dan meresap ke dalam tanah. Cairan tersebut tersusun oleh senyawa seperti amonia
yang dihasilkan oleh aktivitas metabolisme dari larva lalat sehingga akan menyebabkan
tanah di bawah mayat itu untuk menjadi alkali (basa) dan fauna tanah menjadi tertarik
untuk menuju ke mayat.

b) Tahap 3: decay stage, tahapan ini ditandai adanya kerusakan kulit dan mengakibatkan
gas keluar dari tubuh. Larva lalat membentuk gerombolan yang besar pada mayat.
Meskipun beberapa serangga predator, seperti kumbang, tawon, dan semut, pada tahap
bloated stage, serangga necrophagous dan predator dapat diamati dalam jumlah besar
menjelang tahapan ini berakhir. Pada akhir tahap ini, lalat dari famili Calliphoridae dan
Sarcophagidae telah menyelesaikan perkembangan siklusnya dan meninggalkan mayat
untuk menjadi pupa. Pada akhir tahap ini, larva lalat akan menghilang dari jaringan tubuh
pada mayat.

c) Tahap 4: postdecay stage, pada tahap ini sisa-sisa tubuh seperti kulit, kartilago dan usus
sudah mengalami pembusukan. Selanjutnya sisa jaringan tubuh yang masih ada akan
mengering. Indikator pada tahap ini adalah hadirnya kumbang dan berkurangnya
dominansi lalat di dalam tubuh mayat.

4

d) Tahap 5: skeletal stage, pada tahap ini hanya tersisa tulang belulang dan rambut.
Tahapan ini tidak jelas serangga apa saja yang hadir. Pada kasus tertentu, kumbang dari
famili Nitidulidae terkadang ditemukan. Tubuh mayat sudah mengalami akhir dari
dekomposisi.

Entomotoksikologi
Pada peristiwa dekomposisi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, spesies-spesies

yang ada pada mayat beberapa diantaranya menghasilkan senyawa racun yang berasal dari
serangga (entomotoksin). Toksin tersebut juga dapat digunakan untuk mengestismasi waktu
kematian (Goff et al., 1994). Berdasarkan adanya racun pada serangga tersebut, maka muncullah
kajian entomotoksikologi yang mempelajari sampel toksin yang terdapat pada serangga selama
proses dekomposisi dan digunakan untuk mendeteksi adanya obat dan berbagai macam toksin
pada jaringan tubuh mayat (Introna et al., 2001).

Berdasarkan penelitian Tracqui et al. (2004) telah ditemukan 29 macam senyawa
necropsies atau senyawa yang bukan dari tubuh mayat (meliputi benzodiazepines, barbiturates,
antidepressants, phenothiazine, opiates, cannabinoids, meprobamate, digoxin dan nefopam).
Dalam penelitian tersebut menyatakan ada korelasi antara konsentrasi obat pada tubuh manusia
terhadap larva.

Pada kasus entomotoksikologi tersebut, serangga-serangga yang ditemukan pada mayat
dapat digunakan untuk analisis toksikologi. Namun ada kelemahan jika menggunakan analisis ini
untuk menghitung interval postmortem jika salah dalam menghitung tahapan perkembangan
serangga. Sehingga alternatifnya adalah mengkaji efek biomakumulasi obat dan metabolismenya
pada serangga necrophagous dan efeknya terhadap laju perkembangannya (Amendt et al., 2004).

Estimasi Waktu Kematian

Ahli entomologi forensik sering memeriksa bukti serangga pada mayat manusia dan
menetukan berapa lama serangga tersebut berada di mayat. Periode waktu tersebut di
interpretasikan dalam postmortem interval (PMI) atau waktu sejak kematian. Analsis PMI
terbagi menjadi dua, yakni precolonization interval (pre-CI) dan postcolonization interval (post-
CI). Adapun penjelasan masing-masing interval tertera pada Gambar 4 (Tomberlin et al., 2011).

5

Gambar 4 Fase entomologikal
pada proses dekomposisi vertebrata (Tomberlin et al., 2011).
Pada Gambar 4 tersebut menggambarkan periode kolonisasi dan aktivitas serangga pada
mayat. Adapun perubahan-perubahan pada mayat manusia setelah mengalami kematian disajikan
pada Tabel 1. Pola-pola perubahan pada Tabel 1 dapat digunakan untuk mengetahui estimasi
waktu kematian pada manusia. Selain itu, untuk waktu kematian berdasarkan perkembangan
serangga disajikan pada Gambar 5. Contoh pada Gambar 5 tersebut adalah menentukan waktu
kematian berdasarkan siklus hidup serangga Protophormia terraenovae.
Tabel 1. Perubahan postmortem pada tubuh manusia (pada suhu 21oC dan kelembaban 30%)
(Amendt et al., 2004a).

6

Gambar 5 Kurva pertumbuhan Protophormia terraenovae mulai dari larva, pupa, dan dewasa
(adult) pada suhu 15, 20, 25, 30 and 35 oC (Amendt et al., 2004a).

Untuk mengukur waktu kematian dapat digunakan suhu yang dibutuhkan oleh serangga
untuk hidup. Serangga merupakan hewan poikilotermik atau hewan yang suhu tubuh dan
aktivitas metabolismenya dipengaruhi oleh lingkungan. Serangga menggunakan energi panas
(thermal unit) untuk pertumbuhan dan perkembangnya. Sehingga kebutuhan energi selama masa
hidupnya dapat dikalkulasi. Thermal unit disebut juga hari derajat (degree days-oD ) yang mana
nilai oD dapat ditambahkan bersamaan yang akan menghasilkan nilai accumulated degree days
(ADD). Jika periode thermal unit pendek maka bisa digunakan accumulated degree hours
(ADH). Dari peristiwa tersebut, maka waktu kematian dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
ADH= Waktu (hours) × (temperature - temperatur basal)

ADD= Waktu (days) × (temperatur− temperatur basal)

Waktu yang digunakan adalah waktu tahapan perkembangan serangga yang dapat
diketahui dari literatur yang sudah ada. Sementara temperatur yang digunakan adalah temperatur
lingkungan yang bisa diperoleh melalui stasium badan meteorologi. Sementara temperatur basal
adalah temperatur fisiologi terendah yang setiap serangga memiliki nilai temperatur yang
berbeda-beda (Tabel 2).

Tabel 2. Nilai temperatur basal (Gennard, 2007).

7

Sebagai contoh ditemukan larva instar III dari spesies Calliphora vicina yang periode
waktunya selama 68 jam. Kemudian suhu lingkungan adalah 26,7 0C dan tempertur basalnya
adalah 2 0C. Sehingga akan diperoleh nilai:

ADH = 68 × (26, 7 – 2) = 1679, 6
ADD = 1679, 6/24 = 7
Dari perhitungan tersebut dapat diperkirakan waktu kematiannya adalah 7 hari (Gennard, 2007).

MATERI

A. Pengertian Insecta (serangga)
Insecta (serangga) dalam bahasa latin disebut dengan Insectum yang artinya terpotong

menjadi bagian-bagian yang disebut dengan serangga. Ukuran dari tubuh serangga sendiri
bermacam-macam, dengan panjangnya 2-40 mm. Ada juga serangga dengan ukuran mikroskopis
dan ada juga yang mempunyai ukuran panjang sampai 260 mm, contohnya seperti Phobaeticus
serratipes , tubuh serangga sendiri terdiri dari tiga bagian yaitu kepala (kaput), dada (toraks),
serta perut (abdomen). Serangga memiliki jumlah yang sagat banya dan tersebar di seluruh
dunia. Dapat ditemukan di permukaan tanah atau di dalam air. menurut engel dan Grimaldi
(2004) menyatakana jika serangga telah hidup dibumi sejak 396 juta tahun lalu.

Serangga tidak memiliki paru-paru, namun dapat bernapas melalui sejumlah lubang-
lubang kecil ditubuhnya yaitu trakea. Pada saat bernapas, udara masuk melalui lubang-lubang
tersebut dan kemudian disalurkan ke seluruh tubuh langsung ke jaringan-jaringan melalui

8

tumpukan tabungtabung tipis yang bercabang sehingga darahnya tidak terlalu penting dalam
transpor oksigen ke jaringan. Darah serangga sendiri hanya berfungsi sebagai media untuk
mengantarkan nutrisi, sistem pertahanan tubuh, dan sistem ekskresi serangga. Serangga juga
dapat mencium dengan bantuan antena, beberapa rasa dapat dilakukan melalui bagian tungkai,
sebagian bunyi dapat didengarnya dengan organ khusus di perut, tungkai depan atau antena.
Sayap pada serangga ini secara evolusi berbeda dengan sayap hewan vertebrata (burung,
kelelawar, dan lain-lain). Sayap hewan vertebrata merupakan modifikasi dari tungkai depan,
sedangkan pada serangga merupakan penambahan sepasang tungkai.

Serangga termasuk ke dalam golongan hewan berdarah dingin. Saat suhu lingkungannya
menurun, suhu tubuh serangga juga ikut menurun yang menyebabkan proses fisiologis menjadi
rendah. Namun demikian, kita kenal berbagai jenis serangga dapat tahan hidup pada suhu rendah
(dingin), walaupun hanya untuk periode tertentu saja. Hal ini dikarenakan serangga mampu
menyimpan senyawa gliserol dalam jaringan tubuhnya. Senyawa kimia tersebut sering kali
digunakan sebagai senyawa tambahan dalam air radiator kendaraan, khususnya di negara empat
musim, untuk mencegah membekunya air pada radiator selama musim dingin.

B. Klasifikasi Insecta (serangga)
Berdasarkan ada atau tidak adanya sayap insect sendiri terbagi dalam beberapa sub kelas
antara lain yaitu Apterygota dan Ptergota.
1. Apterygota yaitu kelompok serangga yang tidak mempunyai sayap, sedikit atau tidak

mengalami proses metamorphosis, mempunyai appendage pada bagian ventral abdomen,
serta pada umumnya mempunyai ukuran kurang dari 5 mm. Appendage sendiri yaitu
bagian tubuh yang menonjol, bisa digerakkan dan berfungsi sebagai alat gerak, untuk
makan, alat indra. Dan apterygota sendiri hidupnya di tempat lembab dimana

9

mengandung humus atau sampah organic, da nada juga yang memakan buku atau
pakaian. Serangga yang termasuk ke dalam apterygota yaitu ordo Thysanura (Lepisma
saccharina atau kutu buku) dan Archaeognatha (petrobius martimus). Ciri-ciri
Apterygota :

 Tidak mempunyai sayap
 Tidak mengalami metamorphosis (ametabola)
 Contoh dari spesiesnya yaitu kutu buku(Lepisma sachariana)
 Tipe mulutnya mengigit
 Batas dari kepala, dada, dan juga perutnya tidak jelas.
2. Pterygota yaitu kelompok serangga yang mempunyai sayap dan ada juga yang tidak
mempunyai sayap, mengalami metamorphosis.
Ciri-ciri Apterygota :
 Mempunyai sayap
 Mengalami metamorphosis
 Tipe mulutnya bervariasi
C. Ciri-ciri Insecta (serangga):
 Tubuhnya dibedakan menjadi 3 yaitu kepala, dada dan juga perut
 Alat mulut nya digunakan untuk menggigit, mengunyah, menghisap, dan menjilat
 Bentuk kakinya berubah sesuai dengan fungsinya
 Pada kepalanya terdapat satu pasang mata facet (majemuk), mata tunggal

(occellus), dan satu pasang antena yang digunakan sebagai alat peraba
 Tempat hidupnya di darat dan air tawar
 Sistem peredaran darah terbuka
 Alat kelaminnya terpisah (jantan dan betina)
 Alat pencernaanya terdiri dari mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, usus,

rectum, serta anus
 Pada bagian mulut terdiri dari rahang belakang (mandibular), rahang depan

(maksila), serta bibir atas (labrum), dan bibir bawah (labium)
 Sistem pernapasannya dengan sistem trachea
D. Peranan Insect

10

Serangga memiliki berbagai peranan pada bidang pertanian, perikanan, peternakan, industri,
dan seni. Berikut peranan serangga pada berbagai bidang :

1. Peranan Serangga pada Bidang Pertanian :
- Dapat berperan sebagai fitopag. Serangga fitopag ini menyerang tanaman dengan cara
menusuk atau menhisap ataupun dengan menggigit dan mengunyah tubuh inangnya.
Serangga yang termasuk pada fitopag ini berperan sebagai hama yang dapat
mengakibatkan kerusakan dan kerugian secara ekonomis. Contohnya spesies fitopag
sebagai hama adalah wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) yang menyerang
tanaman padi (Herlinda, Apryanti and Anggraini, 2018).

Gambar 6 Imago wereng batang coklat (Nilaparvata lugens)
(Sumikarsih, Herlinda and Pujiastuti, 2019)

- Berperan sebagai predator yang menekan populasi serangga fitopag yang berfungsi
sebagai hama. Serangga ini memangsa mangsa dengan menggigit, mengunyah,
menusuk, manghisap mangsanya. Contohnya Paederus fusipes dan Andrallus
spinindens (Herlinda et al., 2019).

- Parasitoid merupakan serangga yang memarasit dengan menghisap tubuh serangga dan
mematikan inangnya. Contoh spesies serangga adalah Hemiptarsenus varicornis
emiptarsenus varicornis yang memarasitkan larva pengorok daun Liriomyza sativae
dan Tryoxis sinensis yang menyerang nimfa Aphis gossypii (Herlinda et al., 2011).

- Serangga yang berperan dalam vektor penyakit tumbuhan umumnya membahayakan
tumbuhan karena perannya bisa sebagai fitopag yang menyerang langsung tanaman
atau dapat dengan menularkan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan. Serangga

11

yang berperan dalam vektor penyakit tumbuhan adalam tipe mulut menusuk,
menghisap seperti ordo Hemiptera. Contoh Aphis gossypii yang menularkan cucumber
mosaic virus (CMV) pada cabai (Shah et al., 2008).

Gambar 7 Aphis gossyipii serangga yang
berperan dalam vektor penyakit tumbuhan

- Serangga sebagai penyerbuk yang memliki peranan dalam meningkatkan produktivitas

tanaman. Contoh spesies yang berperan sebagai penyerbuk, antara lain Apis sp.,
Polites fuscata, Trigona sp. (Widhiono and Sudiana, 2015), dan Xylocopa sp.

Gambar 8 Apis sp (Lebah)

2. Peran Serangga pada Bidang Perikanan, Peternakan dan Industri

Pada bidang perikanan dan peternakan, serangga dapat memiliki peran sebagai sumber
pakan karena mengandung protein dan karbohidrat yang dibutuhkan ikan atau ternak. Contoh
larva serangga yang dapat dijadikan pakan ikan dan hewan laut, yaitu Hermetia illucens (Ula et
al., 2018) yang mengandung protein hingga 52.79% (Herawati, Windarto and Rismaningsih,
2020). H. illucens juga dapat dijadikan pakan ternak (Mokolensang, Hariawan and Manu, 2018).

12

Dan pada bidang industri, serangga menghasilkan berbagai produk-produk seperti ulat sutra
(Bombyx mori) yang dapat menghasilkan sutra pada industri pakaian.

Gambar 9 Larva (A), pupa, dan imago Hermetia illucens
(Mokolensang, Hariawan and Manu, 2018)

Gambar 10 Ulat Sutra penghasil sutra
3. Peran insect (serangga) untuk manusia

Insecta mempunyai peran yang sangat menguntungkan sekali bagi manusia tetapi ada
juga yang bisa merugikan untuk manusia antara lain yaitu:

1) Insecta (serangga) yang menguntungkan
 Insecta yang sangat menguntungkan terutama dari golongan kupu-kupu dan juga lebah
sangat bermanfaat sekali bagi petani karena bisa membantu dalam proses penyerbukan
bunga
 Bisa menghasilkan madu contohnya lebah madu
 Di dalam bidang industri kupu-kupu, ulat sutera yang membuat kepompong bisa
menghasilkan sutra
13

2) Insecta (serangga) yang merugikan
 Bisa merusak tanaman yang dibudidayakan oleh manusia, contohnya belalang, dan
ular
 Bisa merusak bahan bangungan contohnya kumbang kayu dan rayap
 Bisa menularkan beberapa macam penyakit contohnya lalat, tikus, dan kecoak

E. Perkembangbiakan Insecta (serangga)

Masa perkembangan serangga di dalam telur dinamakan perkembangan embrionik, dan
setelah serangga keluar (manetas) dari telur dinamakan perkembangan pasca embrionik. Insecta
selama pertumbuhannya dari telur sampai dewasa mengalami metamorfosis, hanya sebagian
kecil saja yang tidak mengalami metamorfosis (ametabola): yaitu telur menetas dan langsung
dalam stadium dewasa contoh kutu buku (Lepisma saccharina). Metamorfosis adalah proses
perubahan bentuk secara bertahap menuju ke arah dewasa (imago). Metamorfosis pada insecta
dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Metamorfosis tidak sempurna (hemimetabola) Yaitu telur menetas menjadi nimfa

(miniatur dewasa) dan dewasa (imago). Metamorfosa tidak sempurna mempunyai tiga
bentuk: mulai dari telur, menjadi nimfa, kemudian dewasa. Dengan demikian
metamorfosa tidak sempurna tidak terdapat bentuk kepompong. Berikut contoh serangga
yang bermetamorfosis tidak sempurna :
a) Ordo: Achiptera/Isoptera. Contoh: Rayap
b) Ordo: Orthoptera. Contoh: Belalang, Jangkrik
c) Ordo: Odonata. Contoh: Capung
d) Ordo: Hemiptera. Contoh: Walang Sangit
e) Ordo: Homoptera. Contoh: Wereng.

2. Metamorfosis sempurna (holometabola) Yaitu telur yang menetas menjadi larva

kemudian berkembang menjadi pupa dan akhirnya menjadi dewasa (imago). Pada tipe ini
serangga pradewasa (larva dan pupa) biasanya memiliki bentuk yang sangat berbeda
dengan serangga dewasa (imago). Larva merupakan fase yang sangat aktif makan,
sedangkan pupa merupakan bentuk peralihan yang dicirikan dengan terjadinya
perombakan dan penyusunan kembali alat-alat tubuh bagian dalam dan luar.
a) Ordo: Neuroptera. Contoh: Undur-undur

14

b) Ordo: Lepidoptera. Sub ordo: Rhopalocera (Kupu-kupu) dan Sub ordo: Heterocera
(Ngengat)

c) Ordo: Coleoptera. Contoh: Kumbang Kelapa
d) Ordo: Siphonoptera. Contoh: Kutu Kucing
e) Ordo: Hymenoptera. Contoh: Lebah Madu
f) Ordo: Diptera. Contoh: Lalat

Gambar 11 Metamorfosis Serangga
a) Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Serangga
Faktor yang mempengaruhi pekembangan serangga dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor
dalam dan luar.
1) Faktor Dalam

a. Kemampuan Berkembang Biak
Kemampuan berkembang biak suatu jenis serangga dipengaruhi oleh kepiridian dan
fekunditas serta waktu perkembangan (kecepatan berkembang biak). Kepiridian
(natalis) adalah besarnya kemampuan suatu jenis serangga untuk melahirkan
keturunan baru. Serangga umunya memiliki kepiridinan yang cukup tinggi. Sedangkan
fekunditas (kesuburan) adalah kemampuannya untuk memproduksi telur. Lebih
banyak jumlah telur yang dihasilkan oleh suatu jenis serangga, maka lebih tinggi
15

kemampuan berkembang biaknya. Biasanya semakin kecil ukuran serangga, semakin
besar kepiridinannya (Jumar, 2000).

b. Perbandingan Kelamin

Perbandingan kelamin adalah perbandingan antara jumlah individu jantan dan betina
yang diturunkan oleh serangga betina. Perbandingan umunya 1:1 namun terdapat
pengaruh-pengaruh terntetu seperti keadaan musim yang membuat perbandingan
kelamin berubah.

c. Sifat Mempertahankan diri

Serangga memiliki alat untuk mempertahankan dan melindungi dirinya dari musuh.
Kebanyakan serangga akan lari dengan cara terbang, meloncat ataupun berenang.
Beberapa serangga melakukan mimikri untuk menakut-nakuti atau mengelabui
musuhnya. Mimikri terjadi apabila suatu spesies serangga mimiknya menyerupai
spesies serangga lain untuk menghindari musuh.

d. Siklus Hidup

Siklus hidup adalah suatu rangkaian berbagai stadia yang terjadi pada seekor serangga
selama pertumbuhannya, sejak dari telur sampai menjadi imago (dewasa).

2) Faktor Luar

a. Suhu

Serangga memiliki kisaran suhu untuk mereka hidup. Jika diluar kisaran suhu tersebut
serangga akan mati kedinginan atau kepanasan. Umumnya kisaran suhu yang efektif
sekitar suhu minumun 150C, suhu optimum 250C dan suhu maksimum 450C.

b. Kelembaban

Kelembaban tanah, udara dan tempat hidup serangga merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi perkembangan serangga. Umunya serangga tahan terhadap terlalu
banyak air. akan tetapi, jika kebanyakan air seprti banjir merupakan bahaya bagi
beberapa serangga.

16

c. Cahaya
Cahaya matahari dapat mempengaruhi aktivitas dan distribusi lokalnya. Serangga ada
yang bersifat diurnal, yakni yang aktif pada siang hari mengunjungi beberapa bunga,
meletakkan telur atau makan pada bagian-bagian tanaman dan lain-lain. Seperti contoh
Leptocorixa acuta. Selain itu serangga-serangga yang aktif dimalam hari dinamakan
bersifat nokturnal, misalnya Spodoptera litura.

d. Angin
Berperan dalam membantu penyebaran serangga terutama serangga kecil. Misalnya
Apid (Homoptera; Aphididae) dapat terbang terbawa oleh angin sampai sejauh 1.300
km. Selain itu, angin juga mempengaruhi kandungan air dalam tubuh serangga, karena
angin mempercepat penguapan dan penyebaran udara.

17

DAFTAR PUSTAKA

Cahyani, M. P., & Dr. Delima Engga Maretha, M. A. (2020). ENSIKLOPEDIA INSECTA.
Palembang: CV. Amanah.

Herlinda, S., Pujiastuti, Y., Irsan, C., Riyanto, Arsi, Anggraini, E., et al. (2021). Pengantar
Ekologi Serangga . In H. Siti, Batasan dan Ruang Lingkup Ekologi Serangga (p. 47).
Palembang : Universitas Sriwijaya (UNSRI)/Unsri Press.

Mawardi, S. (2012). Perkembangan Dan Metamorfosis Serangga. Wahana Foresta: Jurnal
Kehutanan Vol. 13 No. 7, 12.

Permana, A. D., & Putra, R. E. (2014). Modul Entomologi. In: Serangga dan Manusia .
Universitas Terbuka .

18


Click to View FlipBook Version