INSIGHT Majalah Edukasi Universitas Krisnadwipayana Tokoh Pancasila Yudi latif Mahasiswa UnKris Berprestasi Opini Mahasiswa Tentang Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Pancasila Sebagai Sistem Budaya
Susunan Redaksi Dr. Susetya Herawati, St., M. Ip (Penanggung Jawab) Pemimpin Redaksi Adelia Maharani Manulang (2236021007) Penjaga Rubrik 1 Adelia Intan (2236021029) Penjaga Rubrik 2 Jovanka Anjelina R Ingkiriwang (2236021051) Desain & Layout Helda Nur Zahra (2236021020)
Contents Mahasiswa UnKris Berprestasi Table Of 01 02 03 04 Tokoh Pancasila Yudi Latif Opini Mahasiswa Tentang Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus Pancasila Sebagai Sistem Budaya
01 Mengenal Tokoh Pancasila Masa Kini Prof. Dr. Yudi Latif, MA, Ph.D BIOGRAFI Yudi Latif lahir di Sukabumi, pada tanggal 26 Agustus 1964. Ia termasuk anak yang cerdas. Lulus sekolah dasar, ia meneruskan ke Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur. Kemudian, ia menyelesaikan studi S1 di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung pada 1990. Lulus kuliah, pada tahun 1991, Yudi menjadi dosen Universitas Islam Nusantara dan Universitas Padjajaran. Lalu, ia melanjutkan S2 Sosiologi Politik tahun 1999 dan S3 Sosiologi Politik dan Komunikasi tahun 2004 di Australian National University (ANU).
Sementara kariernya sebagai peneliti dimulai setelah bergabung dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)) saat usianya menginjak 29 tahun.Yudi Latif sering menuangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam tulisan baik dalam bentuk buku maupun artikel koran dan jurnal ilmiah. Salah satu karya Yudi Latif yang terkenal yaitu 'Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila'. Buku ini diluncurkan di Ruang Rapat Nusantara V Gedung MPR RI, pada 11 April 2011. Pada saat yang sama, Yudi Latif juga menjadi editor tamu di Center for Information and Development Studies (CIDES). Selain itu, Yudi Latif juga merupakan peneliti senior di Center for Presidential and Parliamentary Studies. Yudi Latif ditunjuk sebagai Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) dan diambil sumpahnya pada 7 Juni 2017 oleh Presiden Joko Widodo.
02 UNKRIS Beri Beasiswa Kepada 26 Mahasiswa Berprestasi Universitas Krisnadwipayana (Unkris) memberikan beasiswa kepada 26 mahasiswa dari berbagai program studi dengan kategori Beasiswa Prestasi dan Beasiswa Unkris Peduli. Beasiswa Prestasi diberikan kepada mahasiswa dengan prestasi akademik pada mahasiswa yang memiliki catatan prestasi akademik di SMA yang ditunjukkan dengan nilai rapor SMA/SMK. " Kami memberikan apresiasi bagi mahasiswa yang memang memiliki catatan prestasi baik itu tingkat provinsi, tingkat nasional, maupun internasional. Mereka bisa masuk ke Unkris melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa dari Unkris, ” kata Rektor Unkris Dr Ayub Muktiono saat menyerahkan beasiswa di Kampus Unkris, dalam siaran persnya, Kamis (20/10/2022).
03 Opini Mahasiswa Tentang Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus
Peristiwa pelecehan ini melanggar dari sila kedua pancasila yang mana para pelaku pelecehan tersebut tidak beradab dan juga tidak bermoral. Jadi, mari kita hentikan kasus ini dan kita jalankan nilai pancasila. " Gilang Gemilang " Kita sebagai generasi muda harus menghentikan kekerasan seksual ini dan kita sebagai generasi muda harus melindungi serta merangkul korban pelecahan seksual. Peristiwa pelecahan di kampus ini sangat melanggar nilai pancasila, karena pancasila itu sendiri adalah akal, pikiran, dan juga perilaku kita sebagai warga negara. Selaku bangsa Indonesia harus menjalankan aspek kehidupan sesuai norma dan nilai pancasila. Retno Dwi Rahayu " Kampus sebagai lembaga pendidikan yang bermoral tidak menutup kemungkinan terjadinya kekerasa seksual di dalamnya. Hal ini sangat melenceng dari sila kedua dan sila kelima. Oleh karena itu, mari kita tanamkan nilai pancasila dalam diri kita. Karena pancasila sebagai akal pikiran dan sebagai pedoman hidup kita, yang harus diimplementasikan dikehidupan sehari-hari. Untuk para korban pelecehan seksual bisa melaporkannya kepada pihak yang berwenang. "
Faktor Penyebab Kekerasan Seksual dalam Kampus Menurut pandangan Foucault (dalam Gordon, 2018), kekerasan seksual dapat terjadi karena adanya variabel penting, seperti kekuasaan, konstruksi sosial, dan target kekuasaan. Oleh karena itu, terdapat beberapa penyebab terjadinya kasus kekerasan seksual di kampus, yakni sebagai berikut: Adanya relasi kuasa yang timpang antara pelaku dan korban kekerasan seksual. Budaya victim-blaming yang banyak terjadi sebelumnya Mahasiswa masih kurang memahami konsep kekerasan seksual. Minimnya laporan atas kekerasan seksual. Pihak kampus yang menutupi kasus kekerasan seksual.
Usaha pencegahan kasus seksual di kampus Merespons tingginya kasus kekerasan seksual terutama di perguruan tinggi, pemerintah telah hadir dalam penyediaan regulasi dan kepastian hukum melalui Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021. Peraturan ini mengamanatkan penumbuhan lingkungan kampus yang nyaman dan kondusif bagi semua warga kampus. Langkah pencegahan kekerasan seksual oleh kampus dilakukan melalui kegiatan pembelajaran, penguatan tata kelola, serta penguatan budaya komunitas mahasiswa, pendidik, dan tenaga kependidikan. Sedangkan langkah penanganan diwujudkan dalam empat langkah nyata berupa pendampingan terhadap korban, perlindungan korban, pemulihan korban secara fisik maupun psikis, dan pengenaan sanksi administratif kepada pelaku. kasus kekerasan seksual sebenarnya bisa diupayakan untuk dikontrol dan dicegah oleh anggota masyarakat itu sendiri melalui langkahlangkah sederhana. Selain itu, keluarga sebagai lingkungan terdekat selayaknya berperan sebagai tempat pendidikan, penguatan moral, dan lingkungan komunikasi yang baik bagi setiap anggotanya.
Pancasila Sebagai Sistem Budaya Pancasila sebagai dasar negara menyangkut lima prinsip, yaitu kebangsaan Indonesia, internasionalisme (kemanusiaan), mufakat/permusyawaratan, kesejahteraan (keadilan sosial), dan akhirnya ketuhanan. Pancasila menjadi kekuatan Negara Indonesia dimana pancasila tidak dapat ditemukan di negara manapun selain di indonesia Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berbeda-beda, dari suku, budaya, agama, dan bahasa. Dewasa ini perbedaan tersebut bahkan sering dijadikan faktor dan alasan untuk memperpecah belah Negara Indonesia. Perbedaan yang ada dijadikan sebagai bahan provokasi antara golongan satu dengan golongan yang lain. Memudarnya rasa nasionalisme terhadap bangsa kini juga sudah dirasakan. Tetapi perpecahan tidak akan terjadi jika warga negara paham akan Bhineka Tunggal Ika, jika warga negara paham makna pancasila, 04
dan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Upaya penerapan tersebut dapat menjadi alasan bagi pancasila dalam mengamanahkan nilai-nilainya dalam mendorong warga negara untuk lebih mengedepankan persatuan dalam perbedaan, daripada kepentingan individu dan kelompok yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan yang sudah diciptakan Indonesia merdeka hingga usia 74 tahun ini. Pancasila dalam sosial dan budaya penerapannya dapat melalui hal sederhana, yang dapat ditemukan di kehidupan masyarakat. Dengan sosial dan budaya yang berpancasila, kita perlu menekankan agar seluruh masyarakat paham akan perbedaan yang ada di negara indonesia, yang harusnya sekarang sudah tidak perlu dijelaskan lagi bahwa negara indonesia adalah negara yang berbeda beda golongannya. Penerapan nilai pancasila dapat dimulai dari diri sendiri misalnya dengan menghargai dan menghormati adanya perbedaan agama, menempatkan sesama sebagai makhluk tuhan dengan segala martabat dan hak asasi, menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi dan golongan, menjunjung tinggi sosial kemasyarakatan, dan sikap hidup tolong menolong, kekeluargaan, dan gotong royong.
Thank you and See you soon UNKRIS