The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Pesantren Kilat SMP Negeri 2 Lubuklinggau Tahun ajaran 2023/2024

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by vivijuniarti36, 2024-03-30 00:44:31

MODUL RAMADHAN

Modul Pesantren Kilat SMP Negeri 2 Lubuklinggau Tahun ajaran 2023/2024

1


1 A. THOHAROH 1. Pengertian Thoharoh Thoharoh atau bersuci menurut arti bahasa bermakna bersih. Sedangkan menurut syara’ thoharoh adalah membersihkan diri dari hadas dan najis agar dapat mengerjakan shalat, seperti berwudhu, mandi, tayamum dan menghilangkan najis yang melekat di badan, pakaian dan tempat. Dengan kata lain, thoharoh sebagai sebuah proses dan ritual dalam rangka mengangkat hadats atau membersihkan najis, membutuhkan semacam media. Para ulama sepakat bahwa media yang dominan digunakan untuk berthoharoh adalah air, di samping adanya media lain, yang bahkan menjadi salah satu syarat sempurnanya thoharoh seperti tanah. 2. Macam-macam Thoharoh Berdasarkan pengertian di atas, bersuci dalam Islam dibagi menjadi dua macam; yaitu : a. Bersuci dari Hadats. Bersuci dari hadats merupakan kategori bersuci khusus untuk badan. Bersuci dari hadats ada tiga yaitu bersuci dari hadats besar (mandi), bersuci dari hadats kecil (wudhu’) dan pengganti dari keduanya jika ada udzur yaitu tayammum. b. Bersuci dari Najis (kotoran) Bersuci dari najis dapat dihilang dengan membasuh, mengusap dan 3. Alat-alat bersuci Alat yang dapat digunakan untuk bersuci ada 4 (empat) yaitu: air, debu yang suci, alat samak, dan perubahan arak menjadi cuka. (TuhfatutThullab, hal. 3). Dari keempat alat bersuci tersebut, air merupakan alat yang paling utama yang disyariatkan dalam bersuci. Allah swt berfirman: َم َدا ِ ه ا اْلَقا َت ب ِ ب ُكام َويُثَ ِ اوب لُ ٰ ى قُ َط َعل ِ ِن َوِليَ ارب ِه َب َعان ُكام ِر اج َز ال َّشايطٰ ِ ه َويُذا َط هِ َر ُكام ب ِيُ ء ل ۤ ِء َما ۤ اي ُكام ِ م َن ال َّس َما َويُنَ زِ ُل َعلَ “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan- gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS. Al-Anfal : 11) 4. Pembagian Air Air adalah media yang paling dominan dipakai dalam ritual berthaharah (bersuci). Hanya saja tentu tidak semua jenis air atau benda cair dapat digunakan untuk berthaharah. Atas dasar inilah, para ulama kemudian mengklasifikasikan jenis air dalam berthaharah sekaligus hukum menggunakannya dalam beberpa jenis dan hukum. Maksud dari hukum air adalah status hukum air sebagai pengangkat hadats ataupensuci benda yang terkena najis. Dari segi hukumnya, air dibagi 4 macam, yaitu: a. Air suci dan dapat mensucikan dan tidak makruh digunakanAir jenis ini disebut air mutlak atau air yang masih murni. Air mutlak ada 7 macam, yaitu air hujan, air laut, air sumur, air sumber, air sungai, air embun dan air es yang telah mencair. 1) Air Hujan Para ulama sepakat bahwa air hujan yang turun dari langit hukumnya adalah suci dan juga mensucikan. Sekalipun seandainya jika air hujan itu telah tercemar dan mengandung asam yang tinggi karena polusi. Di mana air hujan yang terkena tercemar oleh ulah tangan manusia itu tetaplah berstatus suci dan mensucikan. 2) Air Laut Para ulama sepakat bahwa air laut juga berstatus hukum suci dan mensucikan, meskipun rasa air laut itu asin karena kandungan garamnya yang tinggi, namun hukumnya sama dengan air hujan, embun, atau pun salju. Faktor yang membedakan antara air laut dan jenis air lainnya inilah, yang membuat para shahabat pada awalnya meragukan kesucian air laut. Sehingga ketika ada dari mereka yang berlayar di tengah laut dan bekal air tawar yang mereka bawa hanya cukup untuk keperluan minum, mereka lalu berijtihad untuk berwudhu menggunakan air laut.


2 Sesampainya kembali ke daratan, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah saw tentang hukum menggunakan air laut sebagai media untuk berwudhu. Lantas Rasulullah saw menjawab bahwa air laut itu suci dan bahkan bangkainya (bangkai hewan laut) pun suci juga. Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah kami mengarungi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhudengan air laut?.” Rasulullah saw menjawab: “(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Abu Daud) 3) Air Sumur Para ulama sepakat bahwa air sumur, mata air, dan air sungai adalah air yang suci dan mensucikan. Sebab air itu keluar dari tanah yang telah melakukan proses pensucian. 4) Air Sumber Mata air atau air sumber adalah air yang suci dan mensucikan. Sebab air itu keluar dari tanah yang telah melakukan pensucian. Kita bisa memanfaatkan airair itu untuk wudhu, mandi atau mensucikan diri, pakaian dan barang dari najis. 5) Air Sungai Air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air. Sejak dahulu umat Islam terbiasa mandi, wudhu` atau membersihkan najis termasuk beristinja dengan air sungai. Namun seiring dengan terjadinya perusakan lingkungan yang tidak terbentung lagi, terutama di kota-kota besar, air sungai itu tercemar berat dengan limbah beracun yang meski secara hukum barangkali tidak mengandung najis, namun air yang tercemar dengan logam berat itu sangat membahayakankesehatan. Maka sebaiknya kita tidak menggunakan air itu karena memberikan madharrat yang lebih besar. Selain itu seringkali air itu sangat tercemar berat dengan limbah ternak, limbah wc atau bahkan orang-orang buang hajat di dalam sungai. Sehingga lamakelamaan air sungai berubah warna, bau dan rasanya. Maka bisa jadi air itu menjadi najis meski jumlahnya banyak. Sebab meskipun jumlahnya banyak, tetapi seiring dengan proses pencemaran yang terus menerus sehingga merubah rasa, warna dan aroma yang membuat najis itu terasa dominansekali dalam air sungai, jelaslah air itu menjadi najis. Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu`, mandi atau membersihkan najis. Namun hal itu bila benar-benar terasa rasa, aroma dan warnanya berubah seperti bau najis. 6) Air Salju Salju sebenarnya hampir sama dengan hujan, yaitu sama- sama air yang turun dari langit. Hanya saja kondisi suhu udaratertentu yang membuatnya menjadi butir atau kristal salju. Dengan demikian, hukum salju tentu saja sama dengan hukum air hujan, sebab keduanya mengalami proses yang mirip kecuali pada bentuk akhirnya saja. Seorang muslim bisa menggunakan salju yang turun dari langit atau salju yang sudah ada di tanah sebagai media untuk bersuci. Tentu saja harus diperhatikan suhunya agar tidak menjadi sumber penyakit. 7) Air Embun Sebagaimana salju, embun juga bagian dari air, yang turundari langit, meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras.Embun lebih merupakan tetes-tetes air yang akan terlihat banyak di hamparan dedaunan pada pagi hari. Maka tetes embun itu bisa digunakan untuk berthaharah. Sedangkan dalil kesucian salju dan embun serta fungsinya sebagai media bersuci, disandarkan kepada hadits yang menjelaskan tentang kedudukan dan fungsinya. Di dalam salah satu versi doa iftitah pada setiap shalat, disebutkan bahwa kita meminta kepada Allah swt agar disucikan dari dosadengan air, salju dan embun. “Ya Allah Jauhkan aku dari kesalahan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah sucikan aku dari kesalahan-


3 kesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkan dari kotoran. Ya Allah cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun.” (HR. Bukhari Muslim) b. Air suci dan dapat mensucikan tapi makruh digunakan Ada beberapa jenis air yang termasuk kategori ini antara lain : air musyammas, yaitu air yang dipanaskan pada terik matahari dalam kadar panas yang sangat tinggi dengan menggunakan bejana (wadah) selain emas dan perak. Kata musyammas diambil dari kata syams yang berarti matahari. Dasar pendapat mereka adalah atsar dari Umar bin Khattab ra. berikut: Rasulullah saw telah melarang berwudhu’ atau mandi dengan air musyammas (air yang dipanaskan oleh terik matahari). Dan Rasulullah bersabda : karena ia dapat menyebabkan penyakit belang (HR. Al-Bayhaqi) c. Air suci tetapi tidak dapat mensucikan baik untuk menghilangkan hadats maupun najis. Air jenis ini ada2 macam, yaitu: 1) Air Musta’mal Secara bahasa air musta’mal (berarti air yang telah digunakan. Maksudnya adalah air yang telah digunakan untuk bersuci baik menghilangkan hadats atau najis. Baik air yang menetes dari sisa bekas wudhu di tubuh seseorang atau sisaair bekas mandi janabah. Sedangkan jika air itu dipakai untuk membersihkan benda yang terkena najis, sekalipun diantara para ulama ada yang menyebutnya juga dengan air musta’mal, hakikatnya adalah air mutanajjis atau air yang terkontaminasi benda najis. Di mana masing-masing jenis air memiliki hukum yang berbeda Air musta’mal berbeda dengan air bekas mencuci tangan atau membasuh muka atau bekas digunakan untuk keperluan lain selain untuk wudhu atau mandi janabah. Air dengan kondisi seperti itu, statusnya tetap air mutlak yang bersifat suci dan mensucikan. 2) Air mutaghayyir Secara Bahasa Mutaghayyir artinya berubah yaitu air yang telah berubah salah satu sifatnya (warna, rasa dan bau) karenabercampur dengan suatu benda suci yang dapat menghilangkan kemuthlaqannya, seperti air kopi, air teh, air susu dan lain-lain. Apabila air tersebut tercampur dengan benda suci dan nama air itu masih melekat padanya, maka air itu hukumnya tetap suci dan mensucikan. Seperti air air yang tercampur dengan tanah sehingga warnanya agak keruh atau lumut sehingga membuat warnanya hijau. Meski kelihatannya kotor atau keruh, namun pada hakikatnya air itu tetap berada dalam kemutlakannya. d. Air Najis Air najis yaitu air suci yang terkena atau tercampur dengan benda najis. Air yang tercampur dengan benda najis disebut dengan air mutanajjis. Para ulama sepakat bahwa jika air tersebut terkontaminasi oleh benda najis hingga yang mendominasi adalah sifat kenajisan, maka air itu statusnyaadalah tidak suci, yang tentunya juga tidak bisa dipakai untuk mensucikan, sebesar apapun jumlah volume air tersebut. Untuk bisa menilai apakah air yang ke dalamnya kemasukan benda najis itu ikut berubah menjadi najis atau tidak, para ulama membuat indikator yaitu rasa, warna, dan aroma. a. Air najis sekali tidak bisa dipakai pula untuk mensucikan. Air najis dibagi menjadi 2 macam, yaitu: Air sedikit yang terkena najis, baik berubah salah satu sifatnya atau tidak berubah. Yang dimaksud air sedikit di sini adalahair yang kurang dari 2 qullah. b. Air banyak yang sudah berubah salah satu sifatnya karena bercampur dengan benda najis, baik berubahnya itu sedikit atau banyak. Yang dimaksud air banyak adalah air yang sampai 2 Qullah atau lebih


4 B. NAJIS 1. Pengertian Najis Najis secara bahasa adalah sesuatu yang menjijikkan atau sesuatu yang kotor. Menurut syara’ najis adalah segala sesuatu yang haram dikonsumsi/dimakan pada saat keadaan lapang (ikhtiyar), bukandalam keadaan terpaksa (dlarurat), yang mana sesuatu tersebut dapat menghalangi sahnya shalat. (Fathul Qarib al-Mujib, hal. 9). 2. Pembagian Najis dan Cara Mensucikannya Najis dibagi menjadi 3 macam, yaitu: a. Najis mukhaffafah yaitu najis ringan yang berupa air kencing bayi laki-laki yang belum berumur 2 tahun dan hanya minum air susu ibunya(ASI). Cara mensucikannya cukup dengan memercikkan air padatempat yang terkena kencing, asal airnya lebih banyak dari pada najis tersebut. (Hawasyil Madaniyah, hal. 174, Nihayah al-Zain, hal. 45) b. Najis mughallazhah yaitu najis berat, yaitu najis anjing dan babi dan keturunan dari keduanya. Cara mensucikan najis atau benda yang terkena najis mughallazhah adalah sebagai berikut: Dibasuh dengan air sebanyak 7 kali yang salah satunya dicampur dengan debu atau tanah yang suci. Apabila najis mughallazhah tersebut terdapat di lantai makasebelum mensucikan, najisnya harus dibuang terlebih dahulu, baik dengan kain atau benda lainnya yang dapat menghilangkan zat najis. (I'anah al-Thalibin, juz 1 hal 96) Campuran debu tersebut lebih utama diletakkan pada basuhan yang pertama. Namun apabila airnya sudah keruh (lekko: madura) karena sudah bercampur dengan tanah seperti air hujan, maka airnya tidak perlu dicampur dengan debu lagi. (Nihayah al-Zain, hal. 45) c. Najis mutawassithah yaitu najis sedang/ pertengahan antara najis mukhaffafah dan najis mughallazah. Termasuk dalam najis ini adalah segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur apapun bentuknya kecuali air mani, seperti kotoran binatang dan bangkai selain bangkai manusia, belalang dan ikan. Najis mutawassithah ada 2 macam, yaitu: 1) Najis Ainiyah, yaitu najis yang berwujud, nampak dandapat diketahui salah satu sifatnya (zat, warna dan bau). Cara mensucikannya najis ainiyah ialah dengan membasuhbenda atau tempat yang terkena najis dengan air sampai hilang ketiga sifatnya. Namun apabila warna atau baunyasulit dihilangkan, maka hukumnya dima’afkan (dima'fu).(I'anah al-Thalibin, juz 1 hal 94) 2) Najis Hukmiyah, yaitu najis yang tidak tampak dan tidak dapat dilihat bendanya, tapi diyakini adanya (menurut hukum), seperti bekas air kencing yang sudah mengering, sehingga sifatnya hilang. Cara mensucikan najis hukmiyah ini adalah cukup dengan menyiramkan air kepada benda atau tempat yang terkena najis satu kali dan Sunnah tiga kali. (Nihayah al-Zain, hal. 46).


5 C. WUDHU 1. Pengertian Wudhu Wudhu menurut arti bahasa (dalam bahasa Arab berasal dari kata alwadha'ah, Kata ini bermakna an-Nadhzafah yaitu kebersihan dan keindahan. Menurut pandangan syara’ wudlu adalahmembasuh sebagian anggota badan dengan syarat dan rukun tertentu untuk menghilangkan hadats kecil. (Fathul Qarib Al-Mujib, hal. 5) Pada dasarnya, wudhu diwajibkan setiap kali hendak melakukan sholat, karena wudhu merupakan syarat sahnya sholat. Ketentuan wudhu didasarkan firman Allah swt: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS. Al-Maidah : 6) 2. Syarat Sahnya Wudhu Air yang digunakan adalah air yang suci dan dapat mensucikan. Mengalirkan air pada anggota yang dibasuh. Tidak ada sesuatu yang dapat merubah sifat air pada anggotawudlu seperti sabun dll. Tidak ada yang menghalangi sampainya air pada anggotawudlu seperti cat, getah, dll. Harus masuk waktu shalat bagi orang yang terus menerushadats (da'imul al-hadats). (Fathu Al-Mu'in hal. 4). 3. Rukun Wudhu Niat. Niat adalah menyengaja melakukan sebuah pekerjaan saat memulai pekerjaan tersebut. Niat wudhu harus dilakukan ketika membasuh permulaan muka. Membasuh muka dari tempat tumbuhnya rambut kepalasebelah atas sampai kedua tulang dagu bawah, dan dari telingakanan sampai ke telinga kiri. Membasuh dua tangan, sampai ke dua siku. Mengusap sebagian dari kepala, baik itu berupa kulit ataurambut yang ada dalam batas kepala. Membasuh dua kaki sampai kedua mata kaki. Tertib, yaitu mengurutkan rukun-rukun di atas. 4. Sunnah-sunnah Wudhu Membaca bismillah pada permulaan wudhu Kemudian membasuh kedua telapak tangan sampai padapergelangan, sebelum berkumur-kumur. Lalu berkumur-kumur (madlmadlah) Menghisap air ke dalam hidung (istinsyaq) Kemudian menyemprotkan dan membersihkannya Membasuh muka sambil niat wudhu Membasuh kedua tangan sampai siku Mengusap sebagian kepala atau rambut yang ada dalam batas kepala. Tapi diSunnahkan untuk mengusap seluruh kepala dengan air. Sunnah mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam denganmemakai air yang baru Sunnah mengusap leher dengan air yang baru Kemudian membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki Do’a sesudah wudhu.


6 Catatan: 1. Setiap anggota Sunnah dibasuh atau diusap sebanyak 3 kali. Begitujuga berkumurkumur dan menghisap air ke dalam hidung. 2. Dalam wudlu juga diSunnahkan: Muwalah, yaitu membasuh anggota kedua sebelum anggotasebelumnya kering. Tayamun, yaitu mendahulukan anggota kanan dari pada anggotayang kiri. Menghadap kiblat. Bersiwak atau menyikat gigi. Menyela-nyelai jenggot yang tebal dengan air. 5. Wudhu’nya orang yang Udzur yang disempurnakan dengan tayammum Apabila seseorang yang hendak bersuci – wudhu atau mandi wajib - tidak bisa menggunakan air pada salah anggota tubuhnya karena sakit, terluka atau sejenisnya, dan anggota tersebut tidak diperban atau sejenisnya, maka anggota yang terluka yang seharusnya dibasuh dengan air, wajib diganti dengan tayamum dan anggota tubuh yang sehat wajib dibasuh sebagaimana biasa. Bagi orang yang sedang berhadats besar, tidak wajib tertibartinya tayamumnya boleh dikerjakan kapan saja. Sedangkan bagiorang yang berhadats kecil, maka wajib tertib sebagaimana rukun wudlu, artinya tayamumnya harus dikerjakan sesuai urutanfardunya wudlu. Apabila anggota wudlu yang terluka itu diperban atau sejenisnya, maka perbannya wajib diusap dengan air dan jugadiganti dengan tayamum. Shalat yang dikerjakan dengan praktik bersuci seperti ini hukumnya sah dan tidak wajib diulangi jika memenuhi syarat-syarat berikut : Perban dipasang dalam kondisi suci, baik dari hadats kecildan hadats besar. Anggota badan yang diperban bukanlah anggota tayamum,yaitu wajah dan kedua tangan. Perban tidak terlalu banyak menutupi anggota yang sehatkecuali sedikit saja. Sulit untuk melepaskan perban karena khawatir sakitnyabertambah parah atau menimbulkan bahaya. Jika salah satu syarat di atas tidak terpenuhi maka shalatnya wajib diulangi setelah sembuh dan bisa melakukan wudlu dengansempurna. (Fathul Qarib Al-Mujib) Praktik bersuci seperti di atas disebut wudhu mukammal bit tayammun (wudhu yang disempurnakan dengan tayammum). 6. Pembatal wudhu Keluarnya sesuatu dari pintu depan (qubul) dan pintu belakang(dubur), baik berupa zat atau angina; biasa, seperti darah atau tidak biasa seperti ulat; baik yang keluar itu najis ataupun suci. Hilangnya akal (kesadaran) yang disebabkan karena mabuk, gila, pingsan atau tidur yang tidak menetapi pada tempatnya (ghairu mumakkin). Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang sudah dewasadan bukan mahramnya secara langsung dan tidak ada penghalang (ha-il). Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan tanpa ada penutup, baik kemaluan sendiri maupun kemaluan orang lain, kemaluan orang dewasa maupun kemaluan anak kecil. (Tuhfah At-Thullab, hal. 7-8)


7 D. MANDI WAJIB 1. Pengertian Yang dimaksud mandi wajib adalah mengalirkan air ke seluruhbadan dengan niat tertentu dan karena ada sebab-sebab tertentu pula. (Fathul Qarib al-Mujib, hal. 6). Allah berfirman : ا َّط َّه ُر اوا ام ُجنُب ا فَ تُ َواِ ان كُنا “ Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al-Maidah : 6) 2. Hal-hal yang Mewajibkan Mandi 1. Keluar mani, baik keluarnya karena mimpi atau sebab lain, dengan disengaja atau tidak, dengan perbuatan sendiri atau orang lain. 2. Bersetubuh baik keluar mani ataupun tidak. 3. Haid, yaitu darah yang keluar dari kemaluan perempuan dalamkondisi sehat dan bukan karena melahirkan. 4. Nifas, yaitu darah yang keluar dari kemaluan perempuan setelah melahirkan. 5. Melahirkan 6. Mati selain mati syahid. Yang dimaksud mati syahid adalah mati di medan perang karena jihad fi sabilillah. 3. Rukun Mandi Jinabah Niat. Orang yang junub atau haid harus berniat menghilangkan hadats junubnya, atau hadats haidnya dan seterusnya. Berikut lafadz niat mandi wajib: Mandi wajib / Haid َ وَن ِعْفَ ُتْي ْسُغلا رِل ِرَب ف ْ َك ِثَدَحْ ألا لا هِّلِل َعتى َ اًضْرَ ِ َلا Saya niat mandi wajib menghilangkan hadas besar karena Allah. Mandi Nifas َوَن ِعْفَ َلْسُغْ رِل ُتْي لا َعتى ِن َ هِّلِل َلا الساَفِّ ِ Saya niat mandi menghilangkan hadas nifas karena Allah. Menghilangkan najis yang ada pada badan. Mengalirkan air ke seluruh badan. 4. Sunah-sunah Mandi Jinabah Membaca bismilah sebelum mandi. Berwudhu sebelum mandi. Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan. Muwalah (bersegera). Mendahulukan anggota tubuh yang kanan dari pada yang kiri.


8 MATERI TAMBAHAN TAYAMUM 1. Pengertian Tayamum Menurut arti bahasa tayamum adalah menyengaja. Menurut syara’tayamum adalah menyengaja mengusap muka dan kedua tangan sampai siku dengan debu yang suci dengan syarat-syarat tertentu. Tayamum adalah cara bersuci yang menjadi pengganti wudlu atau mandi dan sebagai rukhsah (keringanan) dari Allah swt bagi orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (udzur). Dengandemikian manusia tetap bisa melaksanakan shalat dan ibadah lainnya walaupun tidak ada air. Allah swt berfirman: “…dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih);sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al- Maidah: 6) 2. Syarat-syarat Tayamun Adanya udzur (halangan), yaitu: a. Udzur karena sakit, yaitu apabila memakai air maka akan bertambah parah atau lambat sembuhnya menurut keterangan dokter ahli. b. Karena dalam perjalanan (musafir). c. Karena tidak ada air atau ada air tapi air tersebut dibutuhkan untuk hal yang lebih penting dan mendesak,misalnya untuk diminum. Sudah masuk waktu shalat. Karena tayamum itu disyariatkan bagi orang yang dalam keadaan terpaksa. Sebelum masuk waktunya shalat, maka ia belum terpaksa, sebab shalat belum wajib atasnya ketika itu. Sudah berusaha mencari air, setelah masuk waktu shalat, tapi belum mendapatkan. Menggunakan tanah yang suci dan berdebu serta tidak bercampuran dengan benda lain. Menghilangkan najis yang mungkin melekat pada tubuh sebelum tayamum. 3. Fardu-fardu Tayamum o Niat. Niat tayamum harus dilakukan bersamaan ketika memindahkan debu ke wajah. Orang yang bertayamum hendaklah berniat hendak mengerjakan shalat dan sebagainya bukan semata-mata untuk menghilangkan hadats saja. Karena sifat tayamum tidak dapat menghilangkan hadats. Lafadz niat tayamum: “Saya niat tayamum untuk kebolehan melakukan sholat fardu karena Allah.” o Mengusap wajah dengan debu. o Mengusap kedua tangan sampai kedua siku. o Tertib, yaitu mengurutkan rukun-rukun di atas. 4. Sunnah Tayamum o Membaca bismilah. o Menghadap kiblat. o Mendahulukan tangan yang kanan dari pada tangan yang kiri. o Mendahulukan bagian atas ketika mengusap wajah. o Meniup debu dari telapak tangan agar menjadi tipis, sehinggatidak mengotori wajah atau tangan. o Mengusap anggota tayamum dengan melebihi batas yang wajibdiusap, baik dalam wajah atau tangan. o Muwalah yaitu sambung menyambung dalam mengusap anggota tayamum. 5. Hal-hal yang Membatalkan Tayamum 1. Segala sesuatu yang membatalkan wudlu. 2. Ada air. Orang yang bertayammum karena tidak ada air kemudian melihat air atau menduga ada air sebelum melaksanakan shalat, maka tayamumnya batal. 3. Murtad, yaitu orang yang keluar dari Islam (Fathul Qarib, hal. 8-9)


9


10


1 IBADAH PUASA MEMBENTUK PRIBADI YANG BERTAKWA A. PENGERTIAN PUASA Puasa berasal dari kata Shiyam atau Shaum yang artinya menahan diri dari segala sesuatu. Sedangkan menurut istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari yang disertai niat dan beberapa syarat tertentu. a. Syarat-syarat puasa: 1. Syarat wajib puasa: Islam, berakal, baligh, mampu/kuasa (orang yang tidak kuat berpuasa karena usia lanjut atau sakit yang tidak ada harapan sembuh/sakit menahun tidak wajib puasa). 2. Syarat sah puasa: Islam, mumayyiz (dapat membedakan yang baik dengan yang buruk), suci dari haid dan nifas (keduanya wajib mengqadha atau membayar puasa yang ditinggalkannya), dan dalam waktu yang diperbolehkan berpuasa. b. Rukun puasa: 1. Niat puasa pada malam hari. 2. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. c. Hal-Hal yang membatalkan puasa: 1. Makan, minum dan muntah dengan sengaja. 2. Melakukan hubungan suami isteri (jima’) di siang hari. 3. Keluar darah (haid/nifas) bagi perempuan. 4. Keluar mani (sperma) dengan sengaja. 5. Hilang ingatan/sakit jiwa. 6. Murtad (keluar dari agama Islam). d. Hal-hal yang disunahkan dalam berpuasa: 1. Menyegerakan berbuka dan mengakhiri makan sahur. 2. Berbuka dengan makanan yang manis seperti kurma. 3. Membaca do’a ketika berbuka puasa . 4. Memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, shalat malam, iktikaf serta amalan ibadah sunnah lainnya. e. Hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa: 1. Memfitnah atau mencela. 2. Menipu, mencuri, dan berdusta.


2 3. Menggunjing, marah, dan lain-lain. f. Orang-orang yang boleh berbuka puasa: 1. Orang yang sedang sakit, wajib mengganti (mengqadha) puasanya pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkannya apabila sudah sembuh. 2. Orang yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir), wajib mengganti pada hari yang lain. 3. Wanita yang hamil atau menyusui. Keduanya sama seperti orang yang sakit, maka ia boleh tidak berpuasa, akan tetapi wajib mengganti (mengqadha) puasanya pada hari yang lain. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang seperti ini hukumnya wajib mengqadha dan membayar fidyah juga. 4. Orang yang lanjut usia (tua), yang tidak kuat berpuasa, atau orang yang sakit berkepanjangan tidak ada harapan sembuh kembali, maka baginya boleh mengganti dengan fidyah yaitu memberi makan kepada fakir miskin. g. Waktu yang diharamkan berpuasa Waktu-waktu yang diharamkan (dilarang) berpuasa antara lain: 1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. 2. Hari tasyrik tanggal 11, 12, 13 Zulhijjah. h. Hikmah puasa 1. Menumbuhkan dan memupuk keimanan dan ketakwaan 2. Menjaga hawa nafsu dari berbagai godaan 3. Latihan disiplin, ketabahan dan kesabaran 4. Menumbuhkan semangat persaudaraan dan kasih sayang kepada fakir miskin 5. Menjaga dan memelihara kesehatan B. PUASA WAJIB Puasa wajib adalah puasa yang harus dikerjakan oleh setiap muslim yang sudah baligh dan apabila ditinggalkan mendapat dosa. Macam-macam puasa wajib antara lain 1. Puasa Ramadhan Puasa Ramadhan adalah puasa wajib yang dikerjakan khusus di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh (bisa 29 hari atau 30 hari). Hukum puasa Ramadhan adalah fardhu ‘ain (suatu keharusan bagi setiap manusia yang telah memenuhi syarat-syarat puasa). Puasa Ramadhan diperintahkan Allah mulai tahun kedua hijriyah, setelah Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah. Perhatikan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183 berikut:


3 ْو َن ْم تَتَّقُ كُ َّ ل ْم لَعَ ِذْي َن ِم ْن قَ ْبِلكُ َّ ُم َكَما كُتِ َب َعلَى ال ُم ال ِ صيَا ْيكُ ْوا كُتِ َب َعلَ َمنُ ٰ ِذْي َن ا َّ َها ال اَيُّ ٰٓ ٰي Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. ( QS. Al-Baqarah: 183). Dari kutipan ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ibadah puasa diwajibkan bagi umat muslim yang beriman, puasa diwajibkan pula kepada umat sebelum Nabi Muhammad SAW hanya aturannya yang berbeda dan tujuan diwajibkannya berpuasa agar seseorang meraih tingkat ketakwaan kepada Allah SWT. Lafadz niat puasa Ramadhan: ِ تَعَالَى ِن ٰهِذِه ال َّسنَ ِة ِّلِله ْر ِض شَ ْهِر َر َم َضا دَا ِء فَ َ َغٍد َع ْن أ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”. Lafadz do’a berbuka puasa: ال َّر ِح ِمْي َن َ ْر َحم ِ َر ْح َمتِ َك َيا اَ فْ َط ْر ُت ب َ َمنْ ُت َو َعلَى ِر ْزقِ َك أ ِ َك آ َك ُص ْم ُت َوب ُهَّم لَ اَلل Artinya : Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang. 2. Puasa Nazar Nazar artinya janji. Puasa nazar adalah puasa yang wajib dilakukan oleh seseorang karena nazar atau janji yang akan dilakukan. Nazar merupakan janji pada diri sendiri untuk berbuat suatu kebaikan yang asalnya tidak wajib menurut syari’at, tetapi karena dinazarkan menjadi wajib dilakukan. Contoh: Aisyah bernazar apabila lulus ujian dengan nilai yang memuaskan, ia akan puasa tiga hari. Setelah lulus ujian nilai Aisyah memuaskan, maka ia wajib puasa tiga hari, akan tetapi kalau apa yang dinazarkan tidak terpenuhi, ia tidak wajib puasa. Nazar yang diperbolehkan adalah khusus nazar hal-hal yang baik. Nazar yang melanggar perintah Allah SWT tidak boleh dilakukan. Perhatikan firman Allah SWT. tentang nazar berikut: ِالنَّدْ ا َكا َنِ َش ُّرهُ ُم ْستَ ِطْي ًرا ْو َن ب ْو َن يَ ْو َم يُ ْوفُ ِرَويَ َخافُ


4 Artinya: “Mereka menunaikan nazar (kewajiban) dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana”. ( QS. Al-Insan/76:7) Cara melaksanakan puasa nazar pada dasarnya sama dengan puasa Ramadhan, hanya niatnya saja yang berbeda. Niat puasa nazar: َى ِ تَعَال ِر ِّلِله النَّذَ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan nazar (dalam hati menyebut nazarnya) fardhu karena Allah Ta’ala”. 3. Puasa Qadha Puasa qadha adalah puasa yang wajib ditunaikan karena berbuka pada bulan Ramadhan karena ada uzur syar’i, seperti bepergian jauh, sakit, haid, nifas atau karena sebab lain. Batas waktu mengqadha adalah sampai datang bulan puasa berikutnya, sebanyak hari yang ditinggalkan. Apabila tidak dilakukan ia wajib mengqadha dan membayar fidyah (memberi makan fakir miskin). Cara melaksanakan puasa qadha pada dasarnya sama seperti puasa wajib lainnya, hanya saja niatnya yang berbeda. Niat puasa Qadha : ْر ِض َش ْهِر َر َم َضا َن ِّلِلِ تَعَالَى َضا ِء فَ َغٍد َع ْن قَ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: "Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadan karena Allah Ta'ala." 4. Puasa Kifarat Puasa kifarat adalah puasa untuk menebus dosa (sebagai denda) karena melakukan sesuatu yang dilarang agama, seperti orang yang sedang berpuasa melakukan hubungan suami isteri (jima’) di siang hari pada bulan Ramadhan, maka dendanya berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu melaksanakannya, maka dia harus memerdekakan budak. Jika keduanya itu masih tidak mampu, maka dia harus memberi makan enam puluh orang miskin. Hal ini dapat kita lihat dalam sabda Rasulullah saw. yang berbunyi: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, “Seorang laki-laki berpuasa di bulan Ramadhan, maka Rasulullah saw. Menyuruhnya membayar kifarat dengan memerdekakan seorang budak atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau memberi makan orang miskin sebanyak 60 orang.” (HR. Muslim)


5 Hal-hal yang menyebabkan seseorang berkewajiban menunaikan puasa kifarat, antara lain: a. Tidak mampu membayar nazar. Kifaratnya : membayar fidyah kepada 10 orang miskin, atau puasa 3 hari. b. Jima’ (melakukan hubungan suami isteri) di siang hari bulan Ramadhan. Kifaratnya: puasa 2 bulan berturut-turut. c. Membunuh secara tidak sengaja. Kifaratnya: puasa 2 bulan berturut-turut. d. Mengerjakan haji dan umrah dengan cara tamattu’ atau qiran. Kifaratnya: memotong seekor kambing atau puasa 10 hari ( 3 hari di tanah suci dan 7 hari di tanah air). Cara melaksanakan puasa kifarat pada dasarnya sama seperti puasa wajib lainnya, hanya niatnya saja yang berbeda. Adapun niat puasa kifarat sebagai berikut: ْر ًضاِهللِ تَعَالَى َرةِ فَ َغٍد ِل َكفَا َ َوْي ُت َصْوم ن Artinya: “Saya niat puasa esok hari untuk melaksanakan kifarat (dalam hati menyebut puasa kifaratnya) fardu karena Allah Ta’ala.” C. PUASA SUNAH Bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa, selain melaksanakan puasa wajib ada pula puasa yang disunahkan, yaitu puasa yang dianjurkan untuk melaksanakannya. Sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah saw. sebagai contoh teladan kepada umatnya. Dengan berpuasa Insya Allah kita akan terjauh dari dosa dan kesalahan. Kalau Rasulullah saw. yang suci dari dosa dan kesalahan saja sering melaksanakan puasa sunah, maka kita selaku muslim yang tidak luput dari kesalahan dan dosa hendaknya banyak melakukan puasa sunah. Puasa sunah adalah puasa yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Adapun tata caranya, baik syarat, rukun maupun yang membatalkannya sama seperti puasa wajib. Macam-macam puasa sunah antara lain: 1. Puasa Syawal Puasa Syawal adalah puasa sunah yang dikerjakan pada bulan Syawal selama enam hari sesudah hari raya Idul Fitri. Keutamaan puasa syawal antara lain:


6 a. Allah memberi pahala puasa sepanjang masa. b. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada puasa Ramadhan. c. Menjadi tanda diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah menerima amal seseorang maka Allah akan memberi taufik pada orang itu untuk mengerjakan amal soleh kembali. d. Tanda mensyukuri nikmat Allah, yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. e. Amal untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak berhenti dengan selesainya bulan Ramadhan, bahkan menjadi kekal untuk terus dilaksanakannya amal tersebut. Lafadz niat puasa syawal : ِل ِّلِلِ تَعَالَى ِة ال َّشَّوا دَا ِء سُنَّ َ َغٍد َع ْن أ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya : Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah swt. 2. Puasa Arafah Puasa Arafah adalah puasa sunah pada tanggal 9 Zulhijjah (bulan haji). Bagi orang yang sedang mengerjakan ibadah haji tidak disunahkan berpuasa. Hukum puasa Arafah adalah sunah mu’akkad ( sunah yang sangat dianjurkan/dikuatkan untuk dikerjakan). Keutamaan puasa Arafah antara lain: a. Dapat menghapus dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. b. Mendapat pahala dan dicintai Allah SWT. Hari Arafah adalah hari bersejarah karena pada hari itu Allah SWT. Menurunkan ayat yang terakhir kepada Nabi Muhammad SAW yaitu surat Al-Maidah ayat : 3. Pelaksanaan puasa Arafah bisa diikutkan dengan puasa Tarwiyah tanggal 8 Zulhijjah. Niat puasa arafah : ِ تَعَالَى ِّلِله َ َع َرفَةَ سُنَّةً َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala. 3. Puasa Senin-Kamis Puasa Senin-Kamis yaitu puasa sunah yang dikerjakan setiap hari Senin dan Kamis. Adapun keutamaan puasa Senin dan Kamis antara lain: a. Hari senin merupakan hari Rasulullah SAW dilahirkan, diangkat menjadi Rasul dan permulaan Al-Qur’an diturunkan. b. Pada hari Senin dan Kamis amalan kita dilaporkan atau ditunjukkan kepada allah SWT. Niat puasa hari senin:


7 ِ تَعَالَى ِّلِله ِن سُنَّةً نَ ْي ْ ْْلِث َغٍد فِي يَ ْوِم ا َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: Saya niat puasa besok pada hari Senin sunnah karena Allah Ta'ala. Niat puasa hari kamis : ِ تَعَالَى ِّلِله َح ِمْي ِس سُنَّةً ْ َغٍد فِي يَ ْوِم ال َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: Saya niat puasa besok pada hari Kamis sunnah karena Allah Ta'ala. 4. Puasa Asyura Puasa Asyura adalah salah satu ibadah puasa yang dikerjakan pada bulan Muharam tepatnya pada tanggal 10 Muharram. Keutamaan melaksanakan puasa Asyura yaitu Dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Hal ini berdasarkan hadis: “Dari Qatadah ra. Ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah, beliau menjawab: puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang. Dan beliau ditanya lagi tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab: Puasa Asyura dapat menghapus dosa yang lalu”. (HR. Al-Jama’ah, kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmizi). Namun, perlu diingat bahwa dosa yang diampuni melalui puasa Asyura adalah dosadosa kecil, bukan dosa besar seperti syirik. Puasa ini memberikan kesempatan bagi umat Muslim untuk merenungkan perbuatan-perbuatan masa lalu, berintrospeksi, dan memohon pengampunan dari Allah. Niat puasa asyura : َعا شُو َراء ِّلِلِ تَعَالَى ِةِ دَا ِء سُنَّ َ َغٍد َع ْن أ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: "Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT. 5. Puasa Syakban Puasa Syakban adalah puasa pada pertengahan bulan Syakban. Puasa Syakban termasuk juga yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan oleh beliau dalam sabdanya: “Dari Aisyah r.a. ia berkata: Saya tidak melihat Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan saya tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah kecuali bulan Syakban.”(HR. Bukhari dan Muslim) Keutamaan puasa Syakban antara lain: a. Mendapat syafaat Rasulullah SAW. b. Ibadah puasa yang dikerjakan masuk ke laporan amal.


8 c. Insya Allah mendapat ampunan dosa. Niat puasa Syakban : ِة َش ْعبَا َن ِّلِلِ تَعَالَى دَا ِء سُنَّ َ َغٍد َع ْن أ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: "Aku berniat puasa sunah Sya'ban esok hari karena Allah SWT." 6. Puasa Ayyamul Bidh Puasa Ayyamul Bidh merupakan salah satu amalan sunah yang dapat dilakukan oleh umat muslim. Puasa Ayyamul Bidh dilakukan setiap pertengahan bulan pada kalender Hijriyah. Waktu pelaksanaan puasa Ayyamul Bidh yaitu setiap tanggal 13,14,15 penanggalan Hijriyah, kecuali pada hari tasyrik yaitu 13 Zulhijjah. Keutamaan puasa Ayyamul Bidh adalah puasa tiga hari tiap bulan itu sama seperti melaksanakan ibadah puasa sepanjang tahun. Niat puasa ayyamul Bidh : ِ تَعَالَى ْي ِض ِّلِله ِ ب ْ يَّاِم ال َ أ َ َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: “Saya niat puasa ayyamul bidh karena Allah Ta'ala." 7. Puasa Daud Puasa Daud dilakukan dengan cara berpuasa secara bergantian atau selang-seling. Puasa satu hari dan berbuka pada hari berikutnya. Jika hari ini sedang berpuasa, maka besok tidak, dua hari kemudian berpuasa lagi, dan dilakukan secara konsisten. Puasa Daud adalah salah satu jenis puasa sunnah dalam agama Islam. Artinya, puasa ini tidak diwajibkan, namun dianjurkan untuk dilakukan sebagai bentuk ibadah tambahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mengamalkan ajaran Nabi. Keutamaan Puasa Daud 1. Terpeliharanya seseorang dari perbuatan maksiat. 2. Menumbuhkan akhlakul karimah atau akhlak yang baik. 3. Menerima pemberian Allah dengan lapang dada, baik ataupun buruk. 4. Bisa mengendalikan emosi dengan baik bagi seorang muslim yang secara konsisten melaksanakan puasa daud. 5. Menentramkan kondisi jiwa. 6. Mendatangkan rezeki.


9 7. Menjadi hamba yang bersyukur. Niat puasa Daud : ِ تَعَالَى ِّلِله ُودَ َسنَّةً َ دَا َوْي ُت َصْوم نَ Artinya: "Saya niat puasa Daud esok hari, sunnah karena Allah Ta'ala."


1 SHOLAT 1. Pengertian Sholat Secara bahasa, sholat itu bermakna do’a, Adapun makna menurut syariah, sholat didefinisikan sebagai : “serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulaidengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai sebuah ibadah ritual”. 2. Waktu Pensyariatan Ibadah Sholat Sebelum sholat lima waktu yang wajib disyariatkan, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat sudah melakukan ibadah sholat. Hanya saja ibadah sholat itu belum sepertisholat 5 waktu yang disyariatkan sekarang ini. Barulah pada malam Isro mi`raj disyariatkan sholat 5 kali dalam sehari semalam yang asalnya 50 kali. Peristiwa ini dicatat dalam sejarah terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun ke-5 sebelum peristiwa hijrah nabi ke Madinah. 3. Dalil-dalil Pensyariatan Sholat Sholat diwajibkan dengan dalil yang qath`i dari Al-Quran, As- Sunnah dan Ijma’ umat Islam sepanjang zaman. Tidak ada yang menolak kewajiban sholat kecuali orang-orang kafir atau zindiq. Sebab semua dalil yang ada menunjukkan kewajiban sholat secara mutlak untuk semua orang yang mengaku beragama Islam yang sudah akil baligh. Bahkan anak kecil sekalipun diperintahkan untuk melakukan sholat ketika berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih tidak mau sholat usia 10 tahun, meski belum baligh. a. Dalil dari Al-Quran Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kareim ّٰر ِكِعْين تُوا ال َّز ٰكوةَ َوا ْر َكعُ ْوا َم َع ال ٰ وةَ َوا ٰ َواَقِ ْي ُموا ال َّصل "Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang- orang yang ruku".(QS. Al-Baqarah : 43) b. Dalil dari As-Sunnah Di dalam sunnah Raulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ada banyak sekali perintah sholat sebagai dalil yang kuat dan qath`i tentang kewajiban sholat. Diantaranya adalah hadits-hadits berikutini : Dari Ibni Umar radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Islam didirikan di atas lima hal. Sahadat bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, penegakan sholat, pelaksanaan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan hajike Baitullah bila mampu". (HR. Bukhari dan Muslim) c. Dalil dari Ijma` Bahwa seluruh umat Islam sejak zaman nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga hari ini telah bersepakat atas adanya kewajiban sholat dalam agama Islam. Lima kali dalam sehari semalam. Dengan adanya dalil dari Quran, sunnah dan ijma` di atas, maka lengkaplah dalil kewajiban sholat bagi seorang muslim. Maka mengingkari kewajiban sholat termasuk keyakianan yang menyimpang dari ajaran Islam, bahkan bisa divonis kafir bila meninggalkan sholat dengan meyakini tidak adanya kewajiban sholat. 4. Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat Para ulama sepakat bahwa seorang muslim yang sudah akil baligh bila meninggalkan sholat dengan mengingkari kewajibannya adalah kafir dan murtad (keluar) dari agama Islam, sehingga halal darahnya. Pihak pemerintah Islam melalui mahkamah syar`iyah berhak memvonis mati orang yang murtad karena mengingkari kewajiban sholat. Namun bila seseorang tidak sholat karena malas atau lalai, sementara dalam keyakinannya masih ada pendirian bahwa sholat itu adalah ibadah yang wajib dilakukan, maka dia adalah fasik dan pelaku maksiat. Demikian juga vonis kafir tidak bisa dijatuhkan kepada orang meninggalkan sholat karena seseorang baru saja masuk Islam atau karena tidak sampai kepada mereka dakwah Islam yang mengajarkan kewajiban sholat.


2 Secara duniawi, hukuman seorang muslim yang tidak mau mengerjakan sholat menurut para ulama antara lain : 1. Al-Hanafiyah Menurut kalangan Al-Hanafiyah, orang muslim yang tidak maumengerjakan sholat hukumannya di dunia ini adalah dipenjara atau dipukul dengan keras hingga keluar darahnya. Hingga dia merasakapok dan mau mengerjakan sholat. Bila tidak mau juga, maka dibiarkan terus di dalam penjara hingga mati. Namun dia tidak boleh dibunuh kecuali nyata-nyata mengingkari kewajiban sholat. Seperti berkeyakinan secara sadar sepenuhnya bahwa di dalam Islam tidak ada perintah sholat. 2. Ulama lainnya Sedangkan para ulama lainnya mengatakan bahwa bila ada seorang muslim yang malas tidak mau mengerjakan sholat tanpa ‘udzur syar`i, maka dia dituntun untuk bertobat (yustatab) dengan masa waktu tiga hari. Artinya bila selama tiga hari itu dia tidak bertaubat dan kembali menjalankan sholat, maka halal darahnya dan boleh dibunuh. 3. Al-Malikiyah dan Asy-Sya2i`iyah Mereka mengatakan kebolehan untuk dibunuhnya itu karena dasar hudud (hukum dari Allah), bukan karena pelakunya kafir. Sehingga orang itu tidak dianggap sebagai kafir yang keluar dari Islam. Kondisinya sama dengan seorang muslim yang berzina, mencuri, membunuh dan sejenisnya. Mereka ini wajib dihukum hudud meski statusnya tetap muslim. Sehingga jasadnya pun tetap harus disholatkan dan dikuburkan di pekuburan Islam. 5. Sholat Dalam Berbagai Kondisi Sholat lima waktu adalah kewajiban / fardhu `ain bagi setiap muslim dan muslimah. Allah telah menentukan waktu-waktunya. Sebagaimana Allah SWT juga telah memberikan rukhsah / keringanan bagi musafir atau orang sakit dalam pelaksanaannya. Namun rukhsah (keringanan) yang Allah berikan tidak berarti boleh dikerjakan sesukanya. Tayammum misalnya, baru boleh dikerjakan bila memang tidak didapat air setelah berusaha mencarinya. Namun dalam kondisi seseorang berada di tengah peradaban atau kota, tidak bisa dikatakan bahwa dia boleh bertayammum. Bukankah di tengah jalanan yang macet itu justru banyak penjaja minuman kemasan? Apakah minuman kemasan bukan termasuk air? Bukankah di kanan kiri jalan itu ada gedung yang pasti memiliki kran air? Karena itu bertayammum di tengah kota yang berlimpah dengan air tidak dapat dibenarkan. Begitu juga dengan menjama` sholat Maghrib dan Isya`. WaktuMaghrib memang sangat sempit sehingga harus segera dikerjakan. Tetapi waktu `Isya` sangat panjang hingga menjelang subuh. Karena itu tidak ada alasan untuk menjama` sholat Isya` dengan Maghrib. Selain itu juga harus diperhatikan syarat dibolehkannya menjama` dua sholat yaitu bila dalam keadaan safar atau perjalanan. Sedangkan dia masih dalam kategori bukan safarkarena masih berada di dalam kota. Safar adalah perjalanan keluar kota yang secara jarak memang ada perbedaan para ulama dalam batas-batasnya. Namun tidak dikatakan safar bila masih dalam kota sendiri. Ini adalah pendapat yang paling kuat. Jadi yang harus diakukan adalah membuat perhitungan bagaimana agar bisa sholat Maghrib tepat pada waktunya. Misalnya bila dalam perjalanan pulang harus berganti bus, usahakan saat berganti bus itu untuk mencari tempat sholat. Dalam hal ini tidak harus berupa masjid atau mushalla, tetapi sebuah tempat yang bersih di mana saja asal bisa melakukan sholat. Bisa terminal, emper toko, halaman, trotoar dan sebagainya. Karena kelebihan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dijadikan bumi ini sebagai masjid, dimana pun kamu harussholat maka sholatlah di mana pun di muka bumi. Yang penting sudah punya wudhu. Bila tidak, bisa membawa bekal sebuah botol kemasan yang diisi dengan air dan berwudlu` cukup dengan air sebotol itu. Ini lebih ekonomis dari pada membeli air minum kemasan yang dijual di jalan. Alternatif kedua seperti yang dilakukan oleh banyak orang, kitabisa menunda waktu pulang hingga maghrib tiba lalu tunaikan sholat maghrib di tempat kerja. Setelah itu barulah pulang ke rumah. Konon bila pulang di atas Mahgrib, kemacetan jalan sudahmulai berkurang. Sedangkan sholat Isya` cukup dilakukan nanti dirumah karena waktu masih panjang. Dalam kasus tertentu, bila memang bus itu khusus karyawan dan bus jemputan yang mana temanteman seperjalanannya sudah saling kenal, maka tidak ada salahnya bila jadi pelopor dengan mengusulkan


3 kepada mereka agar bus itu bisa berhenti sejenak dipinggir tol agar bisa memberikan kesempatan kepada mereka yang muslim untuk mengerjakan sholat maghrib. WAKTU – WAKTU SHOLAT FARDHU 1. Waktu Sholat Fajr (Shubuh) Dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari. Fajar dalam istilah bahasa arab bukanlah matahari. Sehingga ketika disebutkan terbit fajar, bukanlah terbitnya matahari. Fajar adalah cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Ada dua macam fajar, yaitu fajar kazib dan fajar shadiq. Fajar kazib adalah fajar yang `bohong` sesuai dengan namanya. Maksudnya, pada saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah di langit.Bentuknya seperti ekor sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib. Sedangkan fajar yang kedua adalah fajar shadiq, yaitu fajar yang benarbenar fajar yang berupa cahaya putih agak terang yang menyebar di ufuk Timur yang muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh. Jadi ada dua kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yang pertama disebut dengan fajar kazib dan fajar yang kedua disebut dengan fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yang menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq dan terbitnya matahari itulah yangmenjadi waktu untuk sholat shubuh. 2. Waktu Sholat Zhuhur Dimulai sejak matahari tepat berada di atas kepala namun sudah mulai agak condong ke arah barat. Istilah yang seringdigunakan dalam terjemahan bahasa Indonesia adalah tergelincirnya matahari. Sebagai terjemahan bebas dari kata zawalussyamsi. Namun istilah ini seringkali membingungkan karena kalau dikatakan bahwa `matahari tegelincir`, sebagian orang akan berkerut keningnya, "Apa yang dimaksud dengan tergelincirnya matahari?". Zawalusy-syamsi adalah waktu di mana posisi matahari ada di atas kepala kita, namun sedikit sudah mulai bergerak ke arah barat. Jadi tidak tepat di atas kepala.Dan waktu untuk sholat zhuhur ini berakhir ketika panjang bayangan suatu benda menjadi sama dengan panjang benda itu sendiri. Misalnya kita menancapkan tongkat yang tingginya 1 meter di bawah sinar matahari pada permukaan tanah yang rata. Bayangan tongkat itu semakin lama akan semakin panjang seiringdengan semakin bergeraknya matahari ke arah barat. Begitu panjang bayangannya mencapai 1 meter, maka pada saat itulah waktu Zhuhur berakhir dan masuklah waktu sholat Ashar. Ketika tongkat itu tidak punya bayangan baik di sebelah barat maupun sebelah timurnya, maka itu menunjukkan bahwa mataharitepat berada di tengah langit. Waktu ini disebut dengan waktu istiwa`. Pada saat itu, belum lagi masuk waktu zhuhur. Begitu muncul bayangan tongkat di sebelah timur karena posisi mataharibergerak ke arah barat, maka saat itu dikatakan zawalus-syamsi atau`matahari tergelincir`. Dan saat itulah masuk waktu zhuhur. Namun hukumnya mustahab bila sedikit diundurkan bila siang sedang panas-panasnya, dengan tujuan agar memudahkan dan bisa menambah khusyu’. 3. Waktu Sholat Ashar Waktu sholat Ashar dimulai tepat ketika waktu sholat Zhuhur sudah habis, yaitu semenjak panjang bayangan suatu benda menjadi sama panjangnya dengan panjang benda itu sendiri. Danselesainya waktu sholat Ashar ketika matahari tenggelam di ufuk barat. Dalil yang menujukkan hal itu antara lain hadits berikut ini : Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Orang yang mendapatkan satu rakaat dari sholat shubuh sebelum tebit matahari, maka dia termasuk orang yang mendapatkan sholat shubuh. Dan orang yang mendapatkan satu rakaat sholat Asharsebelum matahari terbenam, maka dia termasuk mendapatkan sholat Ashar". (HR. Muttafaq ‘alaihi). Namun jumhur ulama mengatakan bahwa dimakruhkan melakukan sholat Ashar tatkala sinar matahari sudah mulai menguning yang menandakan sebentar lagi akan terbenam. Sebab ada hadits nabi yang menyebutkan bahwa sholat di waktu itu adalah sholatnya orang munafiq. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,”Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"...Itu adalah sholatnya orang munafik yang duduk menghadap matahari hingga saat matahari berada di antara


4 dua tanduk syetan, dia berdiri dan membungkuk 4 kali, tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit". (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Ibnu Majah). Bahkan ada hadits yang menyebutkan bahwa waktu Ashar sudah berakhir sebelum matahari terbenam, yaitu pada saat sinarmatahari mulai menguning di ufuk barat sebelum terbenam. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Dan waktu sholat Ashar sebelum matahari menguning".(HR. Muslim) 4. Waktu Sholat Maghrib Dimulaisejak terbenamnya matahari dan hal ini sudah menjadiijma` (kesepakatan) para ulama. Yaitu sejak hilangnya semua bulatan matahari di telan bumi. Dan berakhir hingga hilangnya syafaq (mega merah). Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Dari Abdullah bin Amar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Waktu Maghrib sampai hilangnya shafaq (mega)". (HR. Muslim). Syafaq menurut para ulama seperti Al-Hanabilah dan As- Syafi`iyah adalah mega yang berwarna kemerahan setelah terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan Abu Hanifahberpendapt bahwa syafaq adalah warna keputihan yang berada diufuk barat dan masih ada meski mega yang berwarna merah telahhilang. Dalil beliau adalah : Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Dan akhir waktu Maghrib adalah hingga langit menjadi hitam". (HR. Tirmizy) 5. Waktu Sholat Isya` Dimulai sejak berakhirnya waktu maghrib sepanjang malam hingga dini hari tatkala fajar shadiq terbit. Dasarnya adalah ketetapan dari nash yang menyebutkan bahwa setiap waktu sholatitu memanjang dari berakhirnya waktu sholat sebelumnya hingga masuknya waktu sholat berikutnya, kecuali sholat shubuh. Dari Abi Qatadah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Tidaklah tidur itu menjadi tafrith, namun tafrith itu bagi orang yang belum sholat hingga datang waktu sholat berikutnya". (HR. Muslim) WAKTU SHOLAT YANG DIHARAMKAN Ada lima waktu dalam sehari semalam yang diharamkan untukdilakukan sholat di dalamnya. Tiga di antaranya terdapat dalam satu hadits yang sama, sedangkan sisanya yang dua lagi berada di dalam hadits lainnya. Dari 'Uqbah bin 'Amir Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu berkata,"Ada tiga waktu sholat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami untuk melakukan sholat dan menguburkan orang yang meninggal di antara kami. }1] Ketika matahari terbit hingga meninggi, }2] ketika matahari tepat berada di tengah-tengah cakrawala hingga bergeser sedikit ke barat dan }3] berwarna matahari berwarna kekuningan saat menjelang terbenam. .(HR. Muslim) Sedangkan dua waktu lainnya terdapat di dalam satu hadits berikut ini : Dari Abi Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata,"Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Tidak ada sholat setelah sholat shubuh hingga matahari terbit. Dan tidak ada sholat sesudah shallat Ashar hingga matahari terbenam.(HR. Bukhari dan Muslim). Kedua waktu ini hanya melarang orang untuk melakukan sholat saja, sedangkan masalah menguburkan orang yang wafat, tidak termasuk larangan. Jadi boleh saja umat Islam menguburkan jenazah saudaranya setelah sholat shubuh sebelum matahari terbit, juga boleh menguburkan setelah sholat Ashar di sore hari. Maka kalau kedua hadits di atas kita simpulkan dan diurutkan, kita akan mendapatkan 5 waktu yang di dalamnya tidak diperkenankan untuk melakukan sholat, yaitu : a. Setelah sholat shubuh hingga matahari agak meninggi. Tingginya matahari sebagaimana di sebutkan di dalam hadits Amru bin Abasah adalah qaidarumhin aw rumhaini. Maknanya adalah matahari terbit tapi baru saja muncul dari balik horison setinggi satu tombak atau dua tombak. Dan panjang tombak itu kira-kira 2,5 meter 7 dzira' (hasta).


5 Atau 12 jengkal sebagaimana disebutkan oleh mazhab Al-Malikiyah. b. Waktu Istiwa` Yaitu ketika matahari tepat berada di atas langit atau di tengah-tengah cakrawala. Maksudnya tepat di atas kepala kita. Tapi begitu posisi matahari sedikit bergeser ke arah barat, maka sudah masukwaktu sholat Zhuhur dan boleh untuk melakukan sholat sunnah atau wajib. c. Saat Terbenam Matahari Yaitu saat-saat langit di ufuk barat mulai berwarna kekuninganyang menandakan sang surya akan segera menghilang ditelan bumi. Begitu terbenam, maka masuklah waktu Maghrib dan wajibuntuk melakukan sholat Maghrib atau pun sholat sunnah lainnya. d. Setelah Sholat Shubuh Hingga Matahari Terbit Namun hal ini dengan pengecualian untuk qadha' sholat sunnah fajar yang terlewat. Yaitu saat seseorang terlewat tidak melakukan sholat sunnah fajar, maka dibolehkan atasnya untuk mengqadha'nya setelah sholat shubuh. e. Setelah Melakukan Sholat Ashar Hingga Matahari Terbenam. Maksudnya bila seseorang sudah melakukan sholat Ahsar, maka haram baginya untuk melakukan sholat lainnya hingga terbenam matahari, kecuali ada penyebab yang mengharuskan. Namun biladia belum sholat Ashar, wajib baginya untuk sholat Ashar meski sudah hampir maghrib. BILA WAKTU SHOLAT TELAH LEWAT Bila seseorang bangun kesiangan dari tidurnya dan belum sholat shubuh, maka yang harus dilakukan adalahsegera sholat shubuhpada saat bangun tidur. Tidak diqadha dengan zhuhur pada siangnya atau esoknya. Sebab kita telah mendapatkan keterangan jelas tentang hal itu dari apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Beliau dan beberapa shahabat pernah bangun kesiangan dan melakukan sholat shubuh setelah matahari meninggi. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya”. (HR Muttafaq alaihi) SYARAT – SYARAT SHOLAT Syarat sholat adalah hal yang harus terpenuhi untuk sahnya sebuah ibadah sholat. Syarat ini harus ada sebelum ibadah sholat dilakukan. Bila salah satu dari syarat ini tidak terdapat, maka sholat itu menjadi tidak sah hukumnya. Syarat sholat itu ada dua macam. Pertama, syarat wajib. Yaitusyarat yang bila terpenuhi, maka seseorang diwajibkan untukmelakukan sholat. Kedua, syarat sah. Yaitu syarat yang harus terpenuhi agar ibadah sholat itu menjadi sah hukumnya. a. SYARAT WAJIB SHOLAT Bila semua syarat wajib terpenuhi, maka wajiblah bagi seseorang yang telah memenuhi syarat wajib untuk melakukan ibadah sholat. Sebaliknya, bila salah satu dari syarat wajib itu tidakterpenuhi, maka dia belum diwajibkan untuk melakukan sholat. Adapun yang termasuk dalam syarat wajib sholat adalah hal-hal berikut ini. 1. Beragama Islam Seseorang harus beragama Islam terlebih dahulu agar punya beban kewajiban sholat. Selama seseorang belum menjadi seoarang muslim, maka tidak ada beban kewajiban sholat baginya. 2. Baligh


6 Seorang anak kecil yang belum mengalami baligh tidak wajib sholat. Dasarnya adalah sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam : Dari Ali radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Pena telah diangkat dari tiga orang, dari seorang yang tidur hingga terjaga, dari seorang anak kecil hingga mimpi dan dari seorang gila hingga waras "(HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim) Meskipun demikian, seorang anak kecil yang belum baligh tetap dianjurkan untuk diperintahkan mengerjakan sholat ketika berusia 7 tahun. Dan boleh dipukul bila masih belum mau mengerjakannya setelah berusia 10 tahun. Dalilnya adalah hadits berikut ini : Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Perintahkanlah anakmu untuk sholat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka (anak-anak laki dan anak-anak perempuan)".(HR. Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim) 3. Berakal Orang yang tidak waras seperti gila, ayan dan berpenyakit syaraf tidak wajib mengerjakan sholat. Sebab orang yang demikian tidaksadar diri dan tidak mampu berpikir. Maka tidak ada beban kewajiban beribadah atas dirinya. Kewajiban sholat hanya ada pada saat mereka sadar dan waras, dimana terkadang memang seseorang tidak selamanya gila atau hilang akal. Namun begitu ketidak-sadaran atas dirinya datang, maka dia tidak wajib mengerjakan sholat. b. SYARAT SAH SHOLAT Sebagaimana dijelaskan di atas, syarat sah sholat adalah hal-hal yang harus terpenuhi sebelum seseorang mengerjakan sholat agar sholatnya menjadi sah hukumnya. Diantaranya adalah : 1. Mengetahui Bahwa Waktu Sholat Sudah Masuk Bila seseorang melakukan sholat tanpa pernah tahu apakah waktunya sudah masuk atau belum, maka sholatnya itu tidakmemenuhi syarat. Sebab mengetahui dengan pasti bahwa waktu sholat sudah masuk adalah bagian dari syarat sah sholat. Dasar keharusan adanya syarat ini adalah firman Allah SWT : َمْوقُوتا ُمْؤ ِمنِي َن ِكتابا ْ َّن ال َّصالةَكانَ ْت َعلَى ال ِ إ "...Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. AnNisa : 103) 2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil Hadats besar adalah haidh, nifas dan janabah. Dan untukmengangkat / menghilangkan hadats besar harus dengan mandi janabah. Sedangkan hadats kecil adalah kondisi dimana seseorang tidak punya wudhu atau batal dari wudhu`nya. Dan untuk mengangkat hadats kecil ini bisa dilakukan dengan wudhu` atau bertayammum. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Sholat Dari Najis. Tidak sah seseorang sholat dalam keadaan badannya terkena najis, atau pakaiannya atau tempat sholatnya. Sebelum berwudhu, wajiblah atasnya untuk menghilangkan najis dan mencucinya hingga suci. Setelah barulah berwudhu` untuk mengangkat hadats dan mulai sholat. 3. Menutup Aurat Tidak sah seseorang melakukan sholat bila auratnya terbuka, meski pun dia sholat sendirian jauh dari penglihatan orang lain. Atau sholat di tempat yang gelap tidak ada sinar sedikitpun. 4. Menghadap ke Kiblat Tidak sah sebuah ibadah sholat manakala tidak dilakukan dengan menghadap ke kiblat. Pengecualian Namun syarat harus menghadap ke kiblat ini tidak mutlak, karena masih ada beberapa pengecualian karena ada alasan yang memang tidak mungkin dihindari. Pertama : sholat khauf


7 Dibolehkan tidak menghadap kiblat pada saat sholat khauf, yaitu sholat yang dilakukan pada saat perang menghadapi musuh. Maka bolehlah tidak menghadap kiblat tetapi malah menghadap ke arah dimana musuh berada. Kebolehan ini karena memang telah dilakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan telah dijelaskan teknisnya dalam hadits-hadits nabawi. Kedua : sholat nafilah Boleh tidak menghadap kiblat` pada saat sholat sunnah(nafilah) di atas kendaraan. Sebab dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukannya. Ketiga : dalam keadaan sakit Al-Malikiyah dan Al-Hanafiyah memberikan kelonggaran lainnya yaitu bila seseorang dalam keadaan sakit yang parah dan membuatnya tidak bisa berubah posisi menghadap ke kiblat. Padakondisi demikian, maka dibolehkan baginya sholat menghadap kemana saja yang dia mampu melakukannya.


8 MATERI TAMBAHAN RUKUN – RUKUN SHOLAT Rukun adalah pondasi atau tiang pada suatu banguna. Bila salah satu rukunnya rusak atau tidak ada, maka bangunan itu akan roboh. Bila salah satu rukun sholat tidak dilakukan atau tidak sah dilakukan, maka keseluruhan rangkaian ibadah sholat itu punmenjadi tidak sah juga. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa rukun adalah perbuatan yang hukumnya wajib dilakukan dan menjadi bagian utuh dari rangkaian ibadah. Sedangkan syarat adalah gerakan ibadah yang wajib dilakukan namun bukan bagian dari rangkaian gerakan ibadah. PERBEDAAN ULAMA DALAM MENENTUKAN RUKUN SHOLAT Para ulama mazhab yang paling masyhur berbeda-beda pendapatnya ketika menetapkan mana yang menjadi bagian dari rukun sholat. Kalangan mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa jumlahrukun sholat hanya ada 6 saja. Sedangkan Al-Malikiyah menyebutkan bahwa rukun sholat ada 14 perkara. As-Syafi`iyah menyebutkan 13 rukun sholat dan Al-Hanabilah menyebutkan 14 rukun. RINCIAN RUKUN SHOLAT 1. Takbiratul Ihram Takbiratul Ihram maknanya adalah ucapan takbir yang menandakan dimulainya pengharaman. Yaitu mengharamkan segala sesuatu yang tadinya halal menjadi tidak halal atau tidak boleh dikerjakan di dalam sholat. Seperti makan, minum, berbicara dan sebagainya. Dalil tentang kewajiban bertakbir adalah firman Allah SWT : ِ ْر وَ َربَّ َك فَ َكب "dan Tuhanmu agungkanlah! (Bertakbirlah untuknya)" (QS. Al-Muddatstsir : 3) Lafaz takbiratul-ihram adalah mengucapkan lafadz Allahu Akbar, artinya Allah Maha Besar. Sebuah zikir yang murni dan bermakna pengakuan atas penghambaan diri anak manusia kepada Sang Maha Pencipta. Ketika seseorang mengucapkan takbiratul-ihram, maka dia telah menjadikan Allah SWT sebagai prioritas perhatiannya dan menafikan hal-hal lain selain urusan kepada Allah dan aturan dalam sholatnya. 2. Berdiri Berdiri adalah rukun sholat dengan dalil berdasarkan firman Allah SWT : نِتِي َن َٰ ِ قَ ِلِلَّ َوقُو ُموا "...Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'." (QS. Al-Baqarah : 238) Juga ada hadits nabawi yang mengharuskan berdiri untuk sholat Dari `Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang sholat seseorang sambilduduk, beliau bersabda,"Sholatlah dengan berdiri, bila tidak sanggup maka sambil duduk dan bila tidak sanggup sambil berbaring".(HR. Bukhari) Hadits ini juga sekaligus menjelaskan bahwa berdiri hanya diwajibkan untuk mereka yang mampu berdiri. Sedangkan orang-orang yang tidak mampu berdiri, tidak wajib berdiri. Misalnya orang yang sedang sakit yang sudah tidak mampu lagi berdiri tegak. Bahkan orang sakit itu bila tidak mampu bergerak sama sekali,cukuplah baginya menganggukkan kepala saja menurut Al- Hanafiyah. Atau dengan mengedipkan mata atau sekedar niat saja seperti pendapat Al-Malikiyah. 3. Membaca Al-Fatihah Jumhur ulama menyebutkan bahwa membaca surat Al-Fatihahadalah rukun sholat, dimana sholat seseorang tidak sah tanpa membacanya. Selain itu mereka berpendapat bahwa di dalam Al-Quran diperintahkan membaca ayat Quran yang mudah. Sebagaimana ayat berikut ini :


9 ِن ْر َءا َف َما تَيَ َّس َر ِم َن قُ ٱ َر ُءوا قْ ...maka bacalah apa yang mudah dari Al Qur'an (QS. Al-Muzzamil : 20) Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Tidak sah sholat itu kecuali dengan membaca al-Quran".(HR. Muslim) 4. Ruku` Ruku` adalah gerakan membungkukkan badan dan kepala dengan kedua tangan diluruskan ke lulut kaki. Dengan tidak mengangkat kepala tapi juga tidak menekuknya. Juga dengan meluruskan punggungnya, sehingga bila ada air di punggungnya tidak bergerak karena kelurusan punggungnya. Para ulama fiqih menyebutkan bahwa perbedaan ruku`nya laki-laki dan wanita adalah pada letak tangannya. Laki-laki melebarkan tangannya atau merenggangkan antara siku dengan perutnya. Sedangkan wanita melakukan sebaliknya, mendekatkan tangannya ke tubuhnya1 . 5. `tidal I`tidal adalah gerakan bangun dari ruku` dengan berdiri tegap dan merupakan rukun sholat yang harus dikerjakan menurut jumhur ulama. 6. Sujud Secara bahasa, sujud berarti ▪ al-khudhu` ▪ at-tazallul yaitu merendahkan diri badan. ▪ al-mailu yaitu mendoncongkan badan ke depan. Sedangkan secara syar`i, yang dimaksud dengan sujud menurut jumhur ulama adalah meletakkan 7 anggota badan ke tanah, yaituwajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua tapak kaki. Manakah yang lebih dahulu diletakkan, lutut atau tangan? Dalam masalah ini ada dua dalil yang sama-sama kuat namunmenunjukkan cara yang berbeda. Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat juga di kalangan ulama. Jumhur ulama umumnya mengatakan bahwa yang disunnahkan ketika sujud adalah meletakkan kedua lutut di atas tanah telebih dahulu, baru kemudian kedua tangan lalu wajah. Dan ketika bangun dari sujud, belaku sebaliknya, yang diangkat adalah wajah dulu, kemudian kedua tangan baru terakhir lutut. 7. Duduk Antara Dua Sujud Duduk antara dua sujud adalah rukun menurut jumhur ulama dan hanya merupakan kewajiban menurut Al-Hanafiyah. Posisi duduknya adalah duduk iftirasy, yaitu dengan duduk melipat kaki ke belakang dan bertumpu pada kaki kiri. Maksudnya kaki kiri yang dilipat itu diduduki, sedangkan kaki yang kanan dilipat tidak diduduki namun jari-jarinya ditekuk sehingga menghadap ke kiblat. Posisi kedua tangan diletakkan pada kedua paha dekat dengan lutut dengan menjulurkan jari-jarinya. 8. Duduk Tasyahhud Akhir Duduk tasyahhud akhir merupakan rukun sholat menurut jumhur ulama dan hanya kewajiban menurut Al-Hanafiyah. Sedangkan jumhur ulama menetapkan bahwa posisi duduk untuk tasyahhud akhir adalah duduk tawaruk. Posisinya hampir sama dengan istirasy namun posisi kaki kiri tidak diduduki melainkan dikeluarkan ke arah bawah kaki kanan. Sehingga duduknya di atas tanah tidak lagi di atas lipatan kaki kiri seperti pada iftirasy. 9. Salam Pertama Ada dua salam, yaitu salam pertama dan kedua. Salam pertama adalah fardhu sholat menurut para fuqaha, seperti Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah. Sedangkan salam yang kedua bukan fardhu melainkan sunnah. Namun menurut Al-Hanabilah, kedua salam itu hukumnya fardhu, kecuali pada sholat jenazah, sholat nafilah, sujud tilawah dan sujud syukur. Pada keempat perbuatan itu, yang fardhu hanya salam yang pertama saja 10. Salam Pertama


10 Ada dua salam, yaitu salam pertama dan kedua. Salam pertama adalah fardhu sholat menurut para fuqaha, seperti Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah. Sedangkan salam yang kedua bukan fardhu melainkan sunnah.Namun menurut Al-Hanabilah, kedua salam itu hukumnya fardhu, kecuali pada sholat jenazah, sholat nafilah, sujud tilawah dan sujud syukur. Pada keempat perbuatan itu, yang fardhu hanyasalam yang pertama saja. Dari Hudzaifah ra bahwa beliau melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Ketika telah selesai dari sholatnya,beliau memanggil orang itu dan berkata kepadanya,”Kamu belum sholat, bila kamu mati maka kamu mati bukan di atas fitrah yang telah Allah tetapkan di atasnya risalah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari)1 11. Tertib HAL – HAL YANG MEMBATALKAN SHOLAT 1. Berbicara Dari Zaid bin Al-Arqam radhiyallahu ‘anhu berkata,"Dahulu kami bercakap-capak pada saat sholat. Seseorang ngobrol dengan temannya di dalam sholat. Yang lain berbicara dengan yang disampingnya. Hingga turunlah firman Allah SWT "Peliharalah semua sholat, dan sholat wusthaa Berdirilah untuk Allah dengan khusyu". Maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara dalam sholat". (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah) 2. Makan dan Minum 3. Banyak Gerakan dan Terus Menerus Yang dimaksud adalah gerakan yang banyak dan berulang-ulang terus. Mazhab As-syafi'i memberikan batasan sampai tigakali gerakan berturut-turut sehingga seseorang batal dari sholatnya. Namun bukan berarti setiap ada gerakan langsung membatalkan sholat. Sebab dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat sambil menggendong anak (cucunya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sholat sambil mengendong Umamah, anak perempuan dari anak perempuannya. Bila beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sujud, anak itu diletakkannya dan bila berdiri digendongnya lagi". (HR. Bukhari dan Muslim) Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah orang yangsedang sholat untuk membunuh ular dan kalajengking (al-aswadain). Dan beliau juga pernah melepas sandalnya sambil sholat. Kesemuanya gerakan itu tidak termasuk yang membatalkan sholat. 4. Tidak Menghadap Kiblat Bila seserang di dalam sholatnya melakukan gerakan hingga badannya bergeser arah hingga membelakangi kiblat, maka sholatnya itu batal dengan sendirinya. 5. Terbuka Aurat Secara Sengaja Bila seseorang yang sedang melakukan sholat tiba-tiba terbuka auratnya, maka sholatnya otomatis menjadi batal. Maksudnya bilaterbuka dalam waktu yang lama. Sedangkan bila hanya terbuka sekilas dan langsung ditutup lagi, para ulama mengatakan tidak batal menurut As-Syafi'iyah dan AlHanabilah. 6. Mengalami Hadts Kecil atau Besar Bila seseorang mengalami hadats besar atau kecil, maka batal pula sholatnya. Baik terjadi tanpa sengaja atau secara sadar. Namun harus dibedakan dengan orang yang merasa ragu-ragu dalam berhadats. Para ulama mengatakan bahwa rasa ragu tidak lah membatalkan sholat. Sholat itu baru batal apabila memang ada kepastian telah mendapat hadats. 7. Tersentuh Najis baik pada Badan, Pakaian atau Tempat Sholat Bila seseorang yang sedang sholat terkena benda najis, maka secara langsung sholatnya menjadi batal. Namun yang dijadikan patokan adalah bila najis itu tersentuh tubuhnya atau pakaiannya.Adapun tempat sholat itu sendiri bila mengandung najis, namun tidak sampai tersentuh langsung dengan tubuh


11 atau pakaian,sholatnya masih sah dan bisa diteruskan. Demikian juga bila ada najis yang keluar dari tubuhnya hingga terkena tubuhnya, seperti mulut, hidung, telinga atau lainnya, maka sholatnya batal. Namun bila kadar najisnya hanya sekedar najis yang dimaafkan, yaitu najis-najis kecil ukuran, maka hal itu tidak membatalkan sholat. 8. Tertawa Orang yang tertawa dalam sholatnya, batallah sholatnya itu. Maksudnya adalah tertawa yang sampai mengeluarkan suara. Adapun bila sebatas tersenyum, belumlah sampai batal puasanya. 9. Murtad, Mati, Gila atau Hilang Akal Orang yang sedang melakukan sholat, lalu tiba-tiba murtad, maka batal sholatnya. Demikian juga bila mengalami kematian. Dan orang yang tiba-tiba menjadi gila dan hilang akal saat sedangsholat, maka sholatnya juga batal. 10. Berubah Niat Seseorang yang sedang sholat, lalu tiba-tiba terbetik niat untuktidak sholat di dalam hatinya, maka saat itu juga sholatnya telah batal. Sebab niatnya telah rusak, meski dia belum melakukan hal-hal yang membatalkan sholatnya. 11. Meninggalkan Salah Satu Rukun Sholat Apabila ada salah satu rukun sholat yang tidak dikerjakan, maka sholat itu menjadi batal dengan sendirinya. Misalnya, seseorang lupa tidak membaca surat Al-Fatihah lalu langsung ruku', maka sholatnya menjadi batal. Kecuali dalam kasus sholat berjamaah dimana memang sudahditentukan bahwa imam menanggung bacaan fatihah makmum, sehingga seorang yang tertinggal takbiratul ihram dan mendapati imam sudah pada posisi rukuk, dibolehkan langsung ikut ruku' bersama imam dan telah mendapatkan satu rakaat. Demikian pula dalam sholat jahriyah (suara imam dikeraskan),dengan pendapat yang mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah imam telah menjadi pengganti bacaan Al-Fatihah buat makmum, maka bila makmum tidak membacanya, tidak membatalkan sholat. 12. Mendahului Imam dalam Sholat Jama'ah Bila seorang makmum melakukan gerakan mendahului gerakan imam,seperti bangun darisujud lebih dulu dari imam, maka batal-lah sholatnya. Namun bila hal itu terjadi tanpa sengaja, maka tidak termasuk yang membatalkan sholat. AS-Syafi'iyah mengatakan bahwa batasan batalnya sholat adalah bila mendahului imam sampai dua gerakan yang merupakan rukun dalam sholat. Hal yang sama juga berlaku bila tertinggal dua rukundari gerakan imam. 13. Terdapatnya Air bagi Orang yang Sholatnya dengan Tayammum Seseorang yang bertayammum sebelum sholat, lalu ketika sholat tiba-tiba terdapat air yang bisa dijangkaunya dan cukup untuk digunakan berwudhu', maka sholatnya batal. Dia harus berwudhu'saat itu dan mengulangi lagisholatnya. 14. Mengucapkan Salam Secara Sengaja Bila seseorang mengucapkan salam secara sengaja dan sadar, maka sholatnya batal. Dasarnya adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam yang menyatakan bahwa salam adalah hal yang mengakhiri sholat. Kecuali lafadz salam di dalam bacaan sholat, seperti dalam bacaa tahiyat.


Click to View FlipBook Version