EBOOK
SEJARAH , MOTIF , DAN PROSES PEMBUATAN BATIK BERDASAKAN
SEJARAHNYA
Nama : Naufal Ahmad Syafiq
Kelas : X MIPA 1
Kata Pengantar
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya. Penulis dapat
menyelesaikan tugas EBOOK yang berjudul “Pembuatan batik berdasarkan sejarahnya”
dengan tepat waktu.Makalah di susun untuk memenuhi tugas mata pelajaran Muatan Lokal
Membatik.Selain itu,makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan tentang Batik bagi
para pembaca dan juga penulis.Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Ibu Anita
sari selaku guru pengajar.
Walaupun mungkin terdapat kesalahan dan kekurangannya,penulis sebagai manusia biasa
yang tak terlepas dari kesalahan dan kekurangannya.Sangat mengharapkan bimbingan dan
kritik dari berbagai pihak ,dengan harapan penulis dapat menyempurnakan segala kesalahan
dan kekurangan makalah ini. Saya mengakui bahwa Ebook saya masih jauh dari sempurna .
Oleh sebab itu,saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan Ebook
ini.Oleh karena itu sudah sepatutnya jika penulis menyampaikan ucapan terimakasih ,rasa
hormat dan penghargaan setinggitingginya kepada guru pembimbing,
Daftar isi
Kata pengantar.......................................................................................................i
Daftar isi...............................................................................................................ii
Kesimpulan..........................................................................................................iii
Daftar pustaka......................................................................................................iv
Bab 1
A.Batik berdasarkan sejarahnya...........................................................................v
B.Batik Berdasarkan motifnya.............................................................................vi
C.Proses pembuatannya.....................................................................................vii
Bab 2
A.Kesimpulan....................................................................................................viii
B.Daftar pustaka..................................................................................................ix
BAB 1
1. Batik Keraton
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fgpswisataindonesia.info%2Fbatik-
keraton%2F&psig=AOvVaw1CGSlWxJ96_kaNmtaZeZGN&ust=1633866913094000&source=images&c
d=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCIjPsqyjvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Pada awalnya batik hanya dibuat dan dikenakan di lingkungan keraton,sehingga setiap
motif memiliki filosofi atau makna tertentu. Batik keraton yaitu jenis batik yang
dikembangkan dan digunakan di lingkungan keraton.Motif dan penggunaannya diatur
dengan norma-norma keraton. Setiap corak menunjukkan status pemakainya.
Corak motif keraton disebut motif larangan, karena pada awalnya motif-motif tertentu
dilarang dikenakan masyarakat umum, kecuali oleh kerabat keraton. Dalam tradisi
masyarakat keraton (jawa) membatik dianggap sebagai kegiatan pengabdian kepada
raja.Batik Keraton memiliki pola atau motif tradisional, karena tumbuh dan berkembang di
keraton-keraton Jawa. Motif, susunan ragam hias, maupun
Pewarnaannya merupakan perpaduan antara seni, adat, filosofi, dan jatidiri kehidupan
masyarakat keraton. Batik jenis ini sangatlah eksklusif, karenatidak sembarang orang bisa
mengenakannya.Awal tradisi membatik berlangsung di keraton, kain putih yang digunakan
merupakan hasil tenunan sendiri. Sedangkan, bahan-bahan pewarna yang dipakai sendiri
dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia seperti pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila.
Sementara, bahan sodanya dibuat dari soda abu dan garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Warna dasar putih merupakan salah satu ciri khas Batik Keraton Kasultanan Yogyakarta. Ciri
khas lainnya,pola geometri Batik Keraton Kasultanan Yogyakarta besar-besar dan
sebagiannya diperkaya dengan motif parang.Motif batik keraton disebut dengan motif
larangan karena hanya boleh dipakai orang orang keraton, Batik larangan Keraton disebut
juga Awisan Dalem,adalah motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan aturan-
aturan tertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak semua orang boleh memakainya.
Salah satu hal yang melatarbelakangi adanya batik larangan di Yogyakarta adalah adanya
Keyakinan akan kekuatan spiritual dan makna filsafat yang terkandung dalam motif kain
batik. Motif pada batik dipercaya mampu menciptakan suasana yang religius serta
memancarkan aura magis sesuai dengan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu
beberapa motif, terutama yang memiliki nilai falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik
larangan. Adapun yang termasuk batik larangan di Keraton Yogyakarta antara lain Parang
Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe ,Sawat Gurdha, Semen
Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, Parang-parangan, Cemukiran, Kawung, dan Huk.
2. Batik Pesisir
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fkasihwisata.wordpress.com%2F2016%2F04
%2F18%2Fbatik-pesisir-selatan%2F&psig=AOvVaw3V0g-
jXEM_0E3wZIEMNCyk&ust=1633867000448000&source=images&cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCPDi
iI-jvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Batik pesisiran yaitu batik yang berkembang di luar keraton. Pertumbuhan di pesisir Jawa
bagian Timur dimulai sejak masa pra-Islam yaitu sekitar abad ke-15 M dan 16 M. Orientasi
pengembangan seni batik pesisiran juga dipengaruhi oleh budaya keraton yang saat itu
menjadi pusat pemerintahan. Dalam sejarah batik pesisiran seperti Pekalongan, Tegal,
Indramayu, Cirebon, Karawang, Ciamis, Tasikmalaya, dan garut, secara keseluruhan pola
batiknya mengambil pola hias pada keraton Cirebon.
Pilihan warna yang mencolok dari batik pesisiran tampaknya dipengaruhi warna keramik
pada masa dinasti Ming yang hanya diproduksi pada abad ke- 17 M sampai abad ke- 18
M.Pada masa zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi dua kelompok
besar, yakni batik vorstenlanden dan batik pesisir. Batik vorstenlanden adalah batik dari
daerah Solo dan Yogyakarta yang dikenal
dengan batik keraton, sedangkan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya
dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta atau diluar keraton.Istilah batik “pesisir”
muncul karena perkembangan batik ini berada di daerah pesisir utara pulau jawa seperti
Cirebon, Indramayu, Lasem, Bakaran, dan lain sebagainya. Pola yang ada pada batik pesisir
lebih bebas dan warnanya lebih beraneka ragam, hal ini karenakan pengaruh budaya luar
yang begitu kuat.
Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan sebagai barang dagangan. Di
samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat mempengaruhi bentuk ragam hias batik-
nya terutama pada saat masuknya agama Islam pada abad 16. Ragam flora non figuratif
menjadi alternatif dalam motif batik pesisir dikarenakan adanya larangan dikalangan ulama
Islam dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.Perkembangan batik pesisir mengalami
kemajuan sekitar abad ke-19, hal ini terjadi karena adanya kemunduran produksi tekstil dari
India yang menjadi salah satu produsen kain terbesar di pulau jawa hal ini mengakibatkan
banyak konsumen beralih ke kain batik.
Puncak perkembangan batik pesisir terjadi pada masa pengusaha Indo-Belanda berperan
pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal dengan nama “Batik Belanda”. Selain
pengusaha dari belanda pengusaha Tionghoa juga ikut dalam usaha pengembangan batik
pesisir.Mengutip dari Yayasan Batik Indonesia, Senin (1/10/2018), Batik pesisir memiliki
variasi yang lebih banyak mulai dari segi warna maupun motifnya. Pola yang ada pada batik
pesisir lebih bebas dan warnanya lebih beraneka ragam seperti merah, biru, hijau, kuning,
bahkan ada pula yang oranye, ungu, dan warna-warna muda lainnya. Hal ini dikarenakan
pengaruh budaya luar yang begitu kuat.
Ciri khas batik pesisir terlihat dari motif-motif yang menjadi simbol akulturasi budaya
Indonesia pesisir, Tiongkok dan Belanda. Maka tidak heran jika batikpesisir lebih
menerapkan motif-motif seperti burung hong, naga, kereta kuda,kapal, kupu-kupu, burung
merak dan pipit. Juga motif-motif dengan ciri khas lingkungan yang sangat kuat. Biasanya
batik pesisir memiliki pilihan warna dan motif yang cenderung tidak kaku.
Batik berdasarkan motifnya
1. Batik Klasik
https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Fjogjatv.tv%2Fbatik-klasik-dan-
filosofinya%2F&psig=AOvVaw1YbxBqSyZbXK0nZpsnn9sf&ust=1633867115078000&source=images&
cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCOjo3cGjvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Batik Klasik adalah batik yang dihasilkan melalui proses menghias kain atau bahan lain
dengan malam atau lilin sebagai perintang warna untuk membentuk motif atau ragam hias
menggunakan canting. Jadi Batik Klasik adalah Batik Tulis juga. Namun, Batik Klasik
merupakan Batik Klasik yang bernilai seni tinggi, karena mengangkat nilai-nilai masa lampau
yang indah tak lekang oleh zaman.
Batik Klasik bernilai seni tinggi dan tidak lekang tergerus oleh perkembangan zaman,
karena di dalamnya sarat dengan makna filosofi yang tinggi sebagai ajaran hidup, khususnya
bagi masyarakat jawa. Dengan demikian, Batik Klasik mempunyai dua macam keindahan,
yaitu keindahan visual dan keindahan filosofi. Beberapa motif Batik Klasik, antara lain Sido
Mukti, Parang Rusak, Truntum, Kawung, Ceplok, Nitik, Sogan, Tambal, dan sebagainya.
- See more at: http://alonabatik.com/berita/detail/batik-klasik-56715.html#sthash.nbwo6E1x.dpuf
2. Batik Pekalongan
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fbergaya.id%2Fbatik-
pekalongan%2F&psig=AOvVaw2RCPe0kFSqrmrQ2AL4gEUe&ust=1633867185506000&source=image
s&cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCNiDn_SjvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Batik Pekalongan termasuk batik pesisiran. Dari sisi motif, sebenarnya batik Pekalongan
mirip dengan batik Solo maupun Yogyakarta. Keunggulan batik Pekalongan terletak pada
penggunaan warna. Sehelai kain batik bisa menggunakan delapan warna sehingga terlihat
lebih indah dan menarik dibanding batik-batik dari daerah lain. Warna-warna yang
digunakan antara lain gradasi merah muda, merah tua, kuning terang, jingga, cokelat, biru
muda, hijau muda, hijau tua, dan ungu.
Motif batik Pekalongan umumnya mengambil inspirasi dari flora dan fauna. Tapi sebagai
wilayah pesisir, Pekalongan juga menjalin kontak dengan banyak pedagang dari beragam
bangsa. Perjumpaan itu mewarnai motif dan tata warna batik Pekalongan. Budaya yang
beragam diserap masyarakat sekitar dan dituangkan dalam goresan motif batik. Inilah
sebabnya Pekalongan punya motif batik yang beragam dan luwes. Motif jlamprang yang
menjadi ciri khas batik Pekalongan, misalnya, mendapat pengaruh dari India dan Arab. Batik
encim dan klengenan dipengaruhi oleh peranakan Cina.
Motif batik Pekalongan berkembang dinamis mengikuti zaman. Di masa pendudukan
Jepang, muncul batik pagi sore atau motif jawa hokokai yang mirip motif kimono Jepang.
Lalu ada motif tritura yang muncul pada 1960-an. Belakangan muncul motif tsunami.
Usaha batik Pekalongan mengalami kejayaan pada 1950-an. Tumbuh koperasi-koperasi
batik yang memperkuat posisi Pekalongan sebagai pusat industri batik. Berbagai pabrik mori
berdiri megah di Setono, Pringlangu, Buaran, Kedungwuni, dan Pekajangan. Hal ini
menjadikan Pekalongan sebagai penghasil mori yang cukup besar sekaligus sebagai pemasok
untuk seluruh Jawa.
Industri batik Pekalongan bertopang pada ratusan industri rumahan yang membuat batik
secara tradisional. Industri batik sempat mendapat tantangan dari kemunculan batik
printing yang membanjiri pasar domestik. Hal tersebut diperburuk dengan penggunaan
pewarna sintetik atau kimia. Namun, ketika banyak perusahaan batik tradisional di
Indonesia gulung tikar, para perajin batik Pekalongan mampu mengatasinya. Mereka
memperkenalkan teknik pewarnaan baru yang disebut coletan dengan menyapukan larutan
zat pewarna dengan kuas sehingga menghemat waktu dan bahan pewarna.
Hingga kini, Pekalongan adalah penghasil batik terbesar di Indonesia. Hal ini didukung
dengan keberadaan Pasar Grosir Setono, yang didirikan tahun 1941, sebagai pusat
penjualan batik terbesar dan terlengkap –selain sentra belanja batik lainnya seperti Pasar
Banjarsari dan International Batik Center.
Di dalam negeri, batik Pekalongan dipasarkan hingga ke daerah luar Jawa, seperti Sumatra
Barat, Sumatra Selatan, Jambi, Minahasa, dan Makassar. Biasanya motif yang dipesan
disesuaikan dengan adat daerah setempat. Sedangkan untuk luar negeri, batik Pekalongan
diekspor ke Malaysia, Thailand, dan beberapa negara di Timur Tengah.
Jika ingin mengetahui sejarah batik Pekalongan, kunjungilah Museum Batik di sana yang
didirikan tahun 1990. Anda juga wajib datang ke kampung batik Kauman dan menonton
festival batik yang dihelat setiap tahun. Dan jangan lupa, pulang membawa oleh-oleh
berupa kain batik khas Pekalongan.
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ah
UKEwjw9KvKlr3zAhUPfX0KHQ_rC20QFnoECDQQAQ&url=https%3A%2F%2Findonesiakaya.com%2Fp
ustaka-indonesia%2Fbatik-pekalongan%2F&usg=AOvVaw1tgIm3yVTwI4Gjj0zt8ln2
3. Batik Monokromatik
https://www.google.com/url?sa=i&url=http%3A%2F%2Fsemarangbatik.blogspot.com%2F2012%2F1
0%2Fjejak-sejarah-batik-
semarang.html&psig=AOvVaw2EAjzx5DysiqFIZ2wGOSzP&ust=1633867280686000&source=images&
cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCOiJ1JSkvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Monokromatik berasal dari kata mono dan chrom. Mono artinya satu atau tunggal,
chrom artinya warna. Jadi monokromatik berarti memiliki warna tunggal atau satu warna.
Oleh karena itu batik monokromatik hanya mempunyai satu jenis warna. Yang termasuk
batik monokromatik adalah batik kelengan dan batik putihan.
Batik monokromatik menggunakan dua atau lebih warna yang sejenis. Misalnya biru dan
biru tua, hijau muda dan hijau tua, merah muda dan merah tua.
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ah
UKEwiSo7Kel73zAhWIXSsKHYogBBIQFnoECAMQAQ&url=http%3A%2F%2Fparasakti7970.blogspot.co
m%2F2012%2F03%2Fbatik-monokromatik.html&usg=AOvVaw0nM4Ai_kq-fUWlGIcRe5ue
4. Batik Simbut
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fretizen.republika.co.id%2Fposts%2F12549
%2Fbatik-simbut-pkm-k-slipcool&psig=AOvVaw1Ys-
KHpTrkcSxSqvLDGWFM&ust=1633867384882000&source=images&cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCLj
VrcSkvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Motif batik Simbut berbentuk daun yang menyeruai daun talas. Motif tersebut
merupakan motif yang paling sederhana, hanya menyusun dan merapikan satu jenis motif
saja. Motif Simbut berasal dari suku Badui pedalaman di Sunda yang kental dengan
peradaban lama. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, para penduduk badui yang
menerima modernitas mengembangkan batik ini di daerah pesisir Banten. Sehngga batik
motif Simbut dikenal juga dengan batik Banten.
5. Batik Jumputan
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fshopee.co.id%2FButik-emil-kain-batik-
jumputan-motif-tumpal-kupu-handmade-2mx115cm-
i.100258993.1900570649&psig=AOvVaw0ozA3p67ScsQcUfUGWGedt&ust=1633867448824000&sou
rce=images&cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCNC9-eSkvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Sejarah batik ini berasal dari Tiongkok. Karena zaman dahulu perdagangan
melalui lautan sudah lumayan maju. Banyak pedagang dari satu wilayah
menjelajah lautan untuk menyinggahi wilayah lain dan mengadopsi
budayannya, termasuk batik.
Salah satu kelompok saudagar yang dianggap berjasa membawa teknik Batik
Jumputan ke Nusantara ialah para pedagang dari India. Perkenalan Batik
Jumputan ini menggunakan misi perdagangan. Di Indonesia, teknik tersebut
disambut gembira. Salah satu penyebabnya, hasil batiknya beragam dengan
rangkaian warna-warna yang bagus. Karena disebarkan oleh saudagar India,
maka batik ini diterima dengan baik di banyak daerah. Diantaranya Sumatra,
khususnya Palembang, di Kalimantan Selatan, Jawa dan Bali.
Di Jawa, daerah yang mengembangkan Batik Jumputan ialah Solo,
Yogyakarta dan Pekalongan. Meski akarnya sama, dari Tiongkok, namun
dalam perkambangannya dipengaruhi kondisi daerahnya masing-masing. Dan
itu sangat berpengaruh pada motifnya.
Pada zaman dahulu, batik ini diwarnai menggunakan pewarna alam. Namun
seiring berkembangnya zaman para pembtik lebih suka menggunakan
pewarna sintetis. Karena pewarna sintetis memiliki jumlah warna yang tak
terbatas. Selain itu jika menggunakan perawna alam prosesnya sangat rumit
dan lama. Namun sebenarnya antara pewarna alam dan sintetis sama-sama
memiliki kelebihan dan kekurangan.
Batik jumputan termasuk dalam golongan jenis batik baru atau modern. Dari
bahasanya, Batik Jumputan memang banyak dikenal di Jawa, meski ada juga
daerah di luar Jawa yang mampu memproduksinya. Jumputan dari Bahasa
Jawa artinya mengambil atau memungut dengan menggunakan semua ujung
jari tangan.
6. Batik Formika
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fbatiktiara.wordpress.com%2F2017%2F04%
2F08%2Fmacam-macam-
batik%2F&psig=AOvVaw0nopy_0_d_MIdexlCDZ2rC&ust=1633867578499000&source=images&cd=vf
e&ved=0CAkQjRxqFwoTCJiDqp6lvfMCFQAAAAAdAAAAABAD
Batik formika merupakan contoh batik modern yang pembuatannya dengan
cara menempelkan warna pada kain. Motif yang dihasilkan adalah motif
abstrak. Teknik ini digunakan dalam tekstil di daerah Pekalongan pada tahun
1973.
7. Batik Lukis
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Ffasnina.com%2Flukisan-
batik%2F&psig=AOvVaw0IsLXY5bNv-
95RXGrK0sAR&ust=1633867637440000&source=images&cd=vfe&ved=0CAkQjRxqFwoTCMCx2Lulvf
MCFQAAAAAdAAAAABAD
Batik Lukis termasuk batik kreasi baru. Batik lukis tidak menggunakan motif
tradisional, dan motif kreasi sendiri. motif yang digunakan biasanya motif
sederhana. Batik lukis disebut juga dengan batik painting, proses
pembuatannya langsung diatas kain yang menghasilkan tampilan yang lebih
cerah dan warna yang beraneka ragam. Pembuatan batik ini biasanya
dilakukan langsung diatas kain tanpa menggunakan sketsa atau coretan
terlebih dahulu. Pada pembuatan batik ini seringkali pencantingan dan
pewarnaan dilakukan beriringan untuk mendapatkan hasil lukisan yang
diinginkan. Untuk mendapatkan warna atau efek yang diinginkan pengrajin
tidak hanya menggunakna kuas tetapi juga menggunakan kapas, spons
ataupun potongan kain. Hal yang terpenting dalam pembuatan batik lukis ini
adalah perpaduan dari pengerjaan pembatikan dan pewarnaan yang
tergantung dari citarasa pembuatnya.
Proses Pembuatannya
1.Cara pembuatan Batik Keraton
-Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam
penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka
untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif
umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang
terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik
pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupukupu. Membuat design
atau motif ini dapat menggunakan pensil.
-Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam
menggunakan canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
-Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna
putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran
besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian
yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
-Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin
dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu .
-Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
-Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam
menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada
pewarnaan yang pertama.
-Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
-Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan
kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
-Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan
penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
-Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan
banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
-Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air
panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah
digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan
membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut
masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik
tersebut telah siap untuk digunakan.
-Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya
dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
2. Cara pembuatan Batik Pesisir
Teknik Pembuatan Batik Pesisir -proses pembuatan batik dimulai dengan bahan baku. Bahan
baku yang dipergunakan untuk membuat Batik Pesisir ada 2, yaitu: Mori Katun – Rayon
(Polyester) – Sutra.Bahan baku ini dicuci dengan memasukkan bahan-bahan tersebut
kedalam tungku air panas, untuk menghilangkan bahan-bahan kimia (auxillaries) yang
dipergunakan oleh pabrik pembuat bahan tersebut.
-Setelah proses ini dilakukan pengeringan dan pelurusan, bahan ini dikirim kebagian pola,
untuk digambarkan pola/designnya.
-Setelah diberikan pola/design sesuai dengan rencana produksi, maka bahan Batik Pesisir
yang telah berdesign itu dikirimkan kebagian pengrajin batik tulis.
-Proses pembuatan batik memang rumit, dengan beberapa kali proses pewarnaan
pola/design, dimana setiap pemberian warna tertentu, bagian lainnya harus ditutup dengan
wax (malam) supaya tidak terwarnai. Proses pewarnaan ini bisa sampai sepuluh kali, bahkan
lebih, sesuai dengan tingkat kesulitan maupun pola/design warnanya.
-Dapat dilihat pada gambar diatas, proses pewarnaan dan cara memegang “canting” yang
bervariasi, sebagaimana setiap orang berbeda dalam hal menulis dengan tangan.Kemudian,
dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
-Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan
kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
-Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan
penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
-Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan
banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
-Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air
panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah
digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan
membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut
masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik
tersebut telah siap untuk digunakan.
-Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya
dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
3. Cara pembuatan Batik Kelasik
-Persiapan
Kain katun putih dengan lebar kira-kira 110 cm dan panjang 240 cm digarap sebelumnya
agar bisa dipakai untuk pengolahan selanjutnya. Penggarapan ini terdiri dari mencuci,
menganji, menjemur dan mengetuknya, suatu proses yang memakan waktu berhari-hari.
-Design
Jika kain sudah siap untuk proses selanjutnya, maka motif-motif digambar dengan mengikuti
pola yang sudah tersedia pada kertas atau langsung menggambar pada kain bagi pengrajin
batik yang telah ahli. Setelah desain dibuat maka satu persatu diberi warna. Namun bisa
juga menggambar kelilingdesain dulu supaya bidang-bidangnya bisa ditutupi. Cara
menggambar dilakukan dengan cairan malam yang keluar daricanting dalam bentuk
pancuran halus, sedangkan ukuran canting pun bervariasi.Canting berbentuk seperti poci
teh kuningan kecil sebesar kepala pipa tembakau dan bertangkai kayu. Semakin kecil
cantingsemakin halus aliran malam yang keluar. Sebelumnya malam dicairkan dengan cara
memanaskan lebih dulu, yang terpenting adalah menjaga suhu agar tepat. Kemudian pada
permukaan kain sebaliknya, dilakukan desain dan pengerjaan yang sama agar tidak terdapat
perbedaan di kedua sisi kain batik.
-Pewarnaan
Selanjutnya kain bisa dicelupkan dalam bahan pewarna biru. Pewarnaan/pencelupan ini
diulang berkali-kali hingga hasilnya tercapai. Pada produk-produk bermutu tinggi pewarnaan
hingga 30 kali adalah suatu keharusan. Pewarna tradisional adalah indigo, keistimewaan
warna ini adalah warnanya baru timbul sesudah kain yang diberi pewarna ini dijemur dan
terkena udara. Jika kain masih basah maka bagian-bagian desain yang akan diberi warna
coklat, dikerik malamnya. Setelah itu bagianbagian yang diberi warna biru dan tetap harus
berwarna biru juga ditutup dengan malam. Kemudian kain dicelup ke dalam pewarna coklat.
Bahan pewarna tradisional untuk coklat adalah soga, sejenis kulit pohon tertentu.
Penggarapan warna yang baik memakan waktu 15 hari, dengan 3 macam pewarnaan
perhari. Bagian-bagian yang mulamula diwarna biru dan kemudian diwarna coklat menjadi
hitam warnanya. Dengan demikian terjadilah tiga warna dari dua bahan pewarna, yaitu biru,
coklat dan hitam. Dan disamping itu beberapa bagian tetap berwarna putih.
-Penghilangan Malam
Setelah pengulangan pewarnaan dilakukan sehingga sesuai. Selanjutnya seluruh malam
dapat dilepaskan, hal ini dilakukan dengan merebus kain hingga malam mencair, dan cairan
malam akan mengapung di permukaan. Setelah itu kain dicuci lagi.Pengerjaan batik pada
kain sutera digunakan tehknik yang berbeda, karena memerlukan malam dan bahan
pewarna yang berbeda agar tidak merusak kain suteranya.
4. Cara pembuatan Batik Pekalongan
-Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam
penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka
untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif
umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang
terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik
pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupukupu. Membuat design
atau motif ini dapat menggunakan pensil.
-Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam
menggunakan canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
-Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna
putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran
besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian
yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
-Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin
dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu .
-Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
-Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam
menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada
pewarnaan yang pertama.Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang
kedua.
-Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan
kain
tersebut dengan air panas diatas tungku.Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat
dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat
canting)untuk menahan warna pertama dan kedua. -Proses membuka dan menutup lilin
malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas
motif yang diinginkan.
-Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air
panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah
digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan
membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut
masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik
tersebut telah siap untuk digunakan.
-Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya
dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.
5. Cara pembuatan Batik Monokromatik
- Siapkan alat dan bahan untuk membuat batik seperti kain mori, lilin atau malam, canting,
alat tulis, pewarna kain, gawan , wajan dan kompor.
- Membuat pola pada kain mori dengan pensil.
- Panaskan lilin atau malam menggunakan wajan dan kompor yang telah disediakan.
- Isi canting dengan lilin yang sudah cair, kemudian gambar mengikuti pola yang sudah
dibuat sebelumnya.
- Proses pembatikan ada baiknya dilakukan secara perlahan dengan urutan atas ke bawah,
kiri ke kanan atau sebaliknya.
- Proses pewarnaan pada batik dapat dilakukan apabila lilin pada batik tersebut sudah
mengeras. Untuk mendapatkan warna sesuai dengan keinginan, pewarnaan dapat dilakukan
berulang - ulang.
- Proses pelorotan adalah langkah selanjutnya setelah proses pewarnaan. Pelorotan
merupakan proses pelepasan lilin pada kain dengan menggunakan air mendidih.
- Setelah lilin sudah terlepas dari kain, bilas kain lalu kemudian dikeringkan. Proses
pengeringan ini dapat dilakukan dengan di angin - anginkan dan tidak boleh dijemur yang
terkena matahari langsung.
- Batik siap untuk dipergunakan.
6. Cara pembuatan Batik Simbut
Langkah Membuat Kain Simbut
Langkah 1: Menyiapkan Kain Cuci kain dengan tangan dan gunakan deterjen lalu bilas.
Setelah itu, angkat dan keringkan.
Langkah 2: Membuat Desain Buat sketsa desain pada selembar kertas, pertama dengan
pensil lalu tebalkan dengan spidol hitam, ini akan menjadi pola desain.kemudian buat desain
dengan rasio 1: 1 pada kertas roti.
Langkah 3: Persiapan
-Bingkai kayu digunakan untuk menyebarkan kain agar bias ditarik. Bingkai bias terbuat dari
kayu atau bahan lainnya, bahkan bias menggunakan bingkai foto yang tidak terpakai. Kayu
harus cukup lunak agar pin mudah dipasang kekayu. Bingkai yang akan digunakan harus
dilapisi dengan lakban atau cat kayu sehingga warnanya tidak menempel pada kayu. Hal ini
akan mengakibatkan cat tembus / menempel pada kayu dan sulit dibersihkan, sehingga
akan mencemari kain yang akan dibentangkan. d) Langkah 4: Penjaplakan desain Gambar 7
Menyalin Desain ke Kain Desain yang telah dibuat pada kertas roti harus dipindahkan
dengan menggambar ulang dengan referensi atau menyalin gambar. Letakkan kain di atas
pola desain, dengan menggunakan pensil, pindahkan desain kekain dengan menelusuri jejak
garis desain. e) Langkah 5: Memasangkain Peregangan dan peregangan kain diatas bingkai
kayu, jadi terentang kencang, diperkuat dengan semacam pin khusus untuk kain. f) Langkah
6: Pengaplikasian Simbut Gambar 8 Pengaplikasian Simbut Pegang botol aplikator yang
berisi bubur simbut secara vertical dengan ujung menyentuh kain, tarik garis dengan lembut
dan perlahan saat menggam bargaris pada pola yang sudah tersedia. Biarkan kering. g)
Langkah 7: Pewarnaan Gambar 9 Zat Warna JURNAL LITBANG KOTA PEKALONGAN VOL. 14
TAHUN
- Sebelum mengaplikasikan warna pada kain, pertama baurkan warna sesuai kebutuhan.
Setelah pewarna diolah, sebaiknya di coba dulu pada jenis kain yang sama, apakah
warnanya sesuai dengan warna yang diinginkan.gunakan kuas lembut untuk menyapu
pewarna ke area tengah yang dikelilingisimbut. Gambar 10 Proses Pewarnaan h) Langkah 8:
Pelorodan dan Pencucian Gambar 11 Pelorodan dan Pencucian Jika Anda telah selesai
mengoleskan pewarna kekain, maka langkah selanjutnya adalah menghilangkan
bubursimbut pada kain (pelorodan) dengan cara mencucinya dengan air dingin. Setelah itu
jemur kain hingga kering.
7. Cara pembuatan Batik Jumputan
1. Cara membuat batik jumpatan yang pertama adalah tentukan bagian kain yang ingin
diberi zat
pewarna. Setelah itu, buatlah motif di atas kain polos sesuai keinginan.
2. Langkah berikutnya, bungkus kelereng, batu-batuan, dan uang logam menggunakan kain
yang telah
disiapkan. Lalu, tutup bagian kain yang tidak ingin diberi zat pewarna dengan plastik.
3. Selanjutnya, ikat kain dengan karet atau tali rafia dan lakukan proses pencelupan.
4. Jika sudah, panaskan dua liter air sampai mendidih untuk melarutkan satu bungkus
pewarna wantek
dan tambahkan dua sendok makan garam atau cuka ke dalamnya. Aduk larutan tersebut
dengan
spatula agar zat warna tidak mengendap.
5. Masukkan kain polos yang sudah diikat ke dalam larutan pewarna sampai terendam
sempurna.
Diamkan sekitar 2 menit hingga zat pewarna meresap.
6. Langkah berikutnya, tiriskan kain pada permukaan yang rata dan jemur kain di tempat
yang bersih.
Setelah itu, buka ikatan pada kain untuk melihat efek warna yang dihasilkan, lalu cuci kain
tersebut
dan bilas.
7. Setelah kain jumputan kering, setrika kain tersebut dengan suhu sedang.
8. Batik jumputan siap digunakan.
8.Cara pembuatan Batik Formika
1. Siapkan selembar kain mori putih sesuai ukuran yang dibutuhkan
2. Isi bak dengan air sampai penuh (2 cm dibawah mulut bak)
3. Encerkan cat minyak dengan terpentin. Pilih cat yang memiliki warna cerah dengan
kualitas yang baik.
4. Ciprat-cipratkan cat secara acak ke permukaan air dalam bak.
5. Untuk membantu penyebaran warna digunakan kipas angin.
6. Bentangkan dan tempelkan permukaan kain yang akan diberi warna ke atas permukaan
cat dalam bak.
9. Cara pembuatan batik Lukis
1. Sketsa, Selembar kain putih di buat sketsa lukisan menggunakan pensil sesuai keinginan.
Motif yang digunakan bisa bebas sesuai ekspresi, misalnya pemandangan, abstrak, wayang,
dan lain-lain. 2. Pencantingan, Kain putih yang sudah selesai di buat sketsa, kemudian mulai
dilakukan pencantingan. Selain dengan media canting, bisa digunakan media kuas, pelepah
pisang, sapu lidi, kapas, dll untuk melukis tergantung ekspresi pelukis.
3. Pewarnaan, Pewarnaan bisa dilakukan dengan proses pencelupan dan colet. Atau bisa
dengan penggabungan kedua proses ini. Pewarnaan sintetis umumnya menggunakan
naphtol, indigosol dan remazol. Tiap-tiap pewarna sintetis mempunyai pengunci tersendiri,
gunanya untuk mengunci warna agar tidak mudah luntur nantinya. Misalnya remazol,
penguncinya adalah dengan water glass, kemudian proses ke 2 dan 3 bisa dilakukan
berulang ulang.
4. Pelorotan, Setelah kain selesai dimalam dan diwarna juga di kunci, kain dimasukkan ke
dalam air mendidih sebagai proses penghilangan malam. Setelah kain dikeringkan, maka
jadilah sebuah lukisan batik yang indah.
BAB 2
Kesimpulan
Bahwa setiap batik yang ada di Indonesia memiliki sejarah dan keunikan
masingmasing,sejarah yang di hasilkan sampai batik tersebut jadi sangat panjang dan
beberapa budaya ikut dalam hal itu.Keunikannya pun menjadi ciri khas tersendiri dan bisa di
jadikan menjadi sebagai simbol dalam batik tersebut.Tugas kita sebagai generasi muda
adalah kita harus tetap melestarikan kebudayaan kita ini,yaitu batik.Dengan cara kita dapat
menggunakannya dan melestrikannya agar Batik ini tidak punah.
Daftar Pustaka
http://alonabatik.com/berita/detail/batik-klasik-56715.html#sthash.nbwo6E1x.dpuf
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ah
UKEwjw9KvKlr3zAhUPfX0KHQ_rC20QFnoECDQQAQ&url=https%3A%2F%2Findonesiakaya.com%2Fp
ustaka-indonesia%2Fbatik-pekalongan%2F&usg=AOvVaw1tgIm3yVTwI4Gjj0zt8ln2
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ah
UKEwiSo7Kel73zAhWIXSsKHYogBBIQFnoECAMQAQ&url=http%3A%2F%2Fparasakti7970.blogspot.co
m%2F2012%2F03%2Fbatik-monokromatik.html&usg=AOvVaw0nM4Ai_kq-fUWlGIcRe5ue
http://jualbatikpekalonganindonesia.blogspot.com/2015/04/cara-membuat-batik-kraton.html
http://jualbatikpekalonganindonesia.blogspot.com/2015/04/teknik-pembuatan-batik-pesisir.html
https://brainly.co.id/tugas/15155118
http://jualbatikpekalonganindonesia.blogspot.com/2015/04/teknik-pembuatan-
batikpekalongan.html#:~:text=Langkah%20pertama%20adalah,digunakan%20dan%20dipakai
https://brainly.co.id/tugas/27782325#:~:text=%20Siapkan%20alat%20dan,siap%20untuk%20dipergu
nakan
https://docplayer.info/129067163-Bubur-simbutsebagai-perintang-warna-dalam-pembuatan-ragam-
hias
padakain.html#:~:text=Langkah%20Membuat%20Kain%20Simbut%20a)%20Langkah%201%3A%20M
e nyiapkan,Simbut%20JURNAL%20LITBANG%20KOTA%20PEKALONGAN%20VOL.%2014%20 TAHUN
https://brainly.co.id/tugas/27779552#:~:text=1.%20Siapkan%20selembar,cat%20dalam%20bak.