45 atau sebaliknya, dan (3) bentuk berimbuhan dengan bentuk berimbuhan. Istilah dapat dibentuk dari gabungan kata atau bentuk dasar. Contoh: bahu bahu jalan jalan Kata bahu dan jalan, keduanya merupakan bentuk dasar yang ketika digabungkan membentuk istilah bermakna khusus. Demikian pula, contoh berikut merupakan istilah majemuk yang dibentuk dari gabungan bentuk dasar. garis lintang garis + lintang rawat jalan rawat + jalan pasar bebas pasar + bebas jalan layang jalan +layang unit gawat darurat unit + gawat + darurat kereta api listrik kereta + api +listrik rumah sangat sederhana rumah + sangat + sederhana Istilah juga dapat dibentuk dari gabungan bentuk dasar dengan bentuk berimbuhan. Gabungan itu dapat berupa bentuk dasar dan bentuk berimbuhan, atau sebaliknya. Contoh: proses proses berdaur berdaur Istilah proses berdaur dibentuk dari proses (bentuk dasar) dan berdaur (bentuk berimbuhan, yakni imbuhan ber- dan bentuk dasar
46 daur). Contoh lain yang merupakan istilah majemuk yang berupa gabungan bentuk dasar dan bentuk berimbuhan dapat dilihat pada contoh berikut. analisis pengaktifan analisis + pengaktifan sistem terbuka sistem + terbuka sistem pencernaan sistem + pencernaan tanah tercemar tanah + tercemar Ada pula istilah yang dibentuk dari gabungan bentuk berimbuhan dengan bentuk dasar. Contoh: pembaca kartu pembaca + kartu pengubah arus pengubah + arus pendataan kanker pendataan + kanker permukaan aktif permukaan + aktif Istilah majemuk dapat juga dibentuk dari gabungan bentuk berimbuhan dengan gabungan bentuk berimbuhan. Contoh: kemampuan berproduksi ability to produce kendaraan pengantar delivery vehicle kebijakan pembuangan disposal policy pengendalian pencemaran pollution control kesehatan lingkungan environmental health pertanian berkelanjutan sustainable agriculture Bentuk terikat sering pula dimanfaatkan dalam pembentukan istilah. Karena bentuk tersebut merupakan bentuk atau unsur terikat, penulisannya tentu harus serangkai dengan bentuk yang mengikutinya. Bentuk terikat tersebut, antara lain, ialah adi-, antar-,
47 awa-, catur, dasa-, dwi-, eka-, lir-, maha-, nir-, panca-, para-, pasca-, pra-, pramu-, purna-, serba-, su-, swa-, tak-, tan-, dan tuna- . Contoh pemakaian bentuk terikat: 1) adi-: bentuk terikat adi- dapat digunakan dalam pembentukan istilah sebagai padanan super- atau high dalam bahasa Inggris, yang bermakna 'tinggi, agung'. Contoh: adikarya masterpiece adikuasa superpower adikodrati supernatural adibusana high fashion 2) antar-: bentuk terikat antar- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan inter- dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'di antara'. Contoh: antarbangsa international antarkota intercity antarmolekul intermolecular antarmuka interface antarpulau interisland antarsel intercell 3) awa-: bentuk terikat awa- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan de- atau dis- dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'menghilangkan'.
48 Contoh: awaair dewater awabau deodorize awabusa defoam awalengas dehumidity awaracun detoxify 4) catur-: bentuk terikat catur- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan quadri- dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Latin yang memiliki makna 'empat'. Contoh: caturwulan quarter caturlarik quatrain caturkutub quadrupole 5) dasa-: bentuk terikat dasa- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan deca- dalam bahasa Inggris yang menyerap dari bahasa Latin dan Yunani deka yang memiliki makna 'sepuluh'. Contoh: dasawarsa decade dasalomba decathlon 6) dwi-: bentuk terikat dwi- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan bi-, di-, atau duum dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'dua'. Contoh: dwibahasa bilingual dwikutub dipole dwinama binomial dwitunggal duumvirate
49 7) eka-: bentuk terikat eka- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan uni atau mono dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'satu'. Contoh: ekamatra unidimension ekasuku monosyllable 8) lir-: bentuk terikat lir- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan, misalnya, -like dan -y dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'bagaikan, seperti'. Contoh: lirkaca glassy lirintan diamondlike lirruang spacelike 9) maha-: bentuk terikat maha- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan kata asing yang memiliki makna 'besar' atau 'sangat'. Contoh: maharaja emperor maharatu empress mahatahu omniscient 10) nir-: bentuk terikat nir- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan unsur a-, an-, e-, ill- in-, un-, non-, dan akhiran -less yang memiliki makna 'tanpa' atau 'tiada'.
50 Contoh: nirbangun amorphous nirlaba nonprofit nirgelar nondegree niraksara illiterate nirbatas unlimited nirbentuk formless 11) pasca-: bentuk terikat pasca- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan post- dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'sesudah'. Contoh: pascalahir postnatal pascapanen postharvest pascaperang postwar pascasarjana postgraduate 12) pra-: bentuk terikat pra- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan ante- dan pre- dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'di depan' atau 'sebelum'. Contoh: praperang antebellum pracampur premix pranatal prenatal prasangka prejudice prasejarah prehistory 13) pramu-: bentuk terikat pramu- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan kata asing yang memiliki makna 'orang yang'.
51 Contoh: pramugari stewardess pramukantor officeboy pramusaji waiter; waitress pramubarang porter pramuniaga salesman/(girl) pramuwisata guide 14) swa-: bentuk terikat swa- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan self- dan auto- dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'sendiri'. Contoh: swalayan self-service swacerna autolysis swasembada selfsupporting swatantra selfgovernment 15) tak-: bentuk atau unsur terikat tak- merupakan bentuk singkat dari tidak yang dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan a-, ab-, in-, il-, im-, ir-, un-, non-, de-, dan dis- dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'tidak'. Contoh: takadil unjust taklangsung indirect takmurni impure takteratur irregular takpasti unsure taksetuju disagree
52 16) tan-: bentuk atau unsur terikat tan- merupakan bentuk singkat dari tanpa yang dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan -less dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'tanpa' atau 'bukan'. Contoh: tansuara soundless tanwarna colorless 17) tuna-: bentuk terikat tuna- dimanfaatkan dalam pembentukan istilah sebagai padanan, antara lain im-, un-, atau -less dalam bahasa Inggris yang memiliki makna 'kurang' atau 'tidak memiliki'. Contoh: tunakarya unemployed tunasusila immoral tunawisma homeless Di samping itu, terdapat bentuk terikat, seperti unsur a-, ab-, bi-, de-, dia-, dis-, hiper-, hipo-, im-, in-, inter-, ko-, kon-, mono-, multi-, neo-, non-, pan-, penta-, poli-, pro-, re-, semi-, super-, tele-, dan trans- yang langsung diserap ber-sama dengan bentuk lain yang mengikutinya. Contoh: abnormal abnormal binominal binominal degradasi degradation hiperaktif hyperactive hiponim hyponym semipermanen semipermanent telekonferensi teleconference transmigrasi transmigration
53 3.5 Istilah Bentuk Hasil Analogi Pembentukan istilah dapat juga dilakukan melalui analogi dengan bertolak dari bentuk yang sudah ada dalam bahasa Indonesia. Misalnya, bertolak dari istilah yang mengandung bentuk tata, juru, dan pramu-, atau pemanfaatan bentuk afiks. Contoh: tata boga, tata busana, tata kelola beranalogi dengan tata bahasa juru bahasa, juru masak, juru sita beranalogi dengan juru tulis pramuwisata, pramubarang, pramusiwi beranalogi dengan pramugari pegolf, peselancar, peski beranalogi dengan pegulat 3.6 Istilah Bentuk Hasil Metanalisis Istilah hasil metanalisis adalah istilah yang terbentuk melalui analisis unsur yang keliru, misalnya bentuk perinci disangka terdiri atas pe- + rinci sehingga muncul istilah rinci dan rincian. Demikian pula, bentuk mupakat dianalisis menjadi mu + pakat yang kemudian menghasilkan istilah sepakat. Bentuk sinergitas disangka terdiri atas sinergi + -itas. Padahal, bentuk asalnya tidak ada bentuk synergity. 3.7 Istilah Bentuk Singkatan Yang dimaksud dengan istilah bentuk singkatan ialah istilah yang penulisannya dipendekkan. Istilah bentuk jenis ini penulisannya dapat mengikuti tiga cara.
54 a. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang dilisankan sesuai dengan bentuk istilah lengkapnya (biasanya ini merupakan lambang). Contoh: cm dilisankan sentimeter km dilisankan kilometer l dilisankan liter sin dilisankan sinus Rp dilisankan rupiah b. Istilah yang bentuk tulisannya terdiri atas satu huruf atau lebih yang lazim dilisankan huruf demi huruf. Contoh: singkatan dilisankan UMR (upah minimum regional) u-em-er DNA (deoxyribonucleic acid) de-en-a PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pe-be-be KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ka-pe-ka OJK (Otoritas Jasa Keuangan) o-je-ka c. Istilah yang sebagian unsurnya ditanggalkan, atau sering disebut sebagai bentuk pangkas. Contoh: lab berasl dari laboratorium info berasal dari informasi demo berasal dari demonstrasi promo berasal dari promosi kawat berasal dari surat kawat harian berasal dari surat kabar harian
55 3.8 Istilah Bentuk Akronim Istilah juga dapat dibentuk dengan pengakroniman, yakni memendekkan bentuk majemuk (gabungan kata) yang berupa gabungan huruf awal suku kata, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf awal dan suku katanya dari deret kata, yang diperlakukan sebagai kata. Contoh: asi (air susu ibu) breast milk calir (cairan alir) lotion daring (dalam jejaring) online luring (luar jejaring) offline rudal (peluru kendali) missile asbut (asap kabut) smog (smoke fog)
56 4. MAKNA DALAM PERISTILAHAN 4.1 Makna Denotatif dan Makna Konotatif Di dalam peristilahan, selain tata bahasa, makna juga sangat penting. Makna dapat dibedakan dari makna denotatif dan makna konotatif. Terminolog (pencipta, pereka, atau penerjemah istilah) harus memahami betul makna yang terkandung dalam suatu istilah. Suatu istilah mengandung suatu konsep tertentu sehingga pelaku peristilahan harus dapat dengan cermat menerjemahkan konsep tersebut dalam bentuk istilah. Untuk dapat memahami makna, para pelaku istilah juga harus memahami makna denotatif dan makna konotatif. Dengan memahami makna tersebut, istilah yang diciptakan atau diterjemahkan dapat mewakili konsep yang terkandung dalam suatu istilah. Jika orang mengatakan sebuah kata atau istilah, misalnya kuda, orang akan mengacu pada hewan kuda. Kuda bermakna 'hewan berkaki empat, berkuku tunggal, biasa dipiara orang sebagai kendaraan (tunggangan, angkutan) atau penarik kendaraan'. Makna yang terdapat dalam istilah itu disebut makna denotatif. Sementara itu, ada juga orang yang menyebut istilah kuda hitam, tetapi acuannya bukan pada binatang kuda yang berwarna hitam. Istilah kuda hitam ternyata mengacu pada 'peserta pertandingan atau perlombaan yang semula tidak diperhitungkan akan menang, tetapi akhirnya menjadi pemenang'. Makna yang dikandung itulah yang disebut sebagai makna konotatif.
57 4.2 Pemberian Makna Baru Untuk memaknai kata dalam peristilahan dapat dilakukan dengan memberikan makna baru suatu kata, yakni dengan penyempitan makna atau peluasan makna. 4.2.1 Penyempitan Makna Penyempitan makna ialah makna yang terkandung dalam suatu kata dimaknai secara khusus untuk keperluan pemaknaan suatu istilah. Misalnya, kata gaya yang pada mulanya memiliki makna 'kekuatan' kemudian untuk keperluan peristilahan di bidang fisika menjadi bermakna 'dorongan atau tarikan yang menggerakkan benda bebas' sebagai padanan istilah Inggris force. Kata kendala 'penghalang, perintang' yang dipersempit menjadi 'pembatas keleluasaan gerak' kemudian digunakan untuk padanan istilah Inggris constraint. Demikian pula, kata ranah yang dalam bahasa Minang bermakna 'tanah rata, dataran rendah' dipersempit maknanya menjadi 'lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan yang digunakan sesuai dengan topik, partisipan, dan tempat' sebagai padanan domain. 4.2.2 Peluasan Makna Kebalikan dari penyempitan makna, peluasan makna ialah makna yang semula hanya mengacu pada hal yang spesifik mengalami perkembangan makna sehingga dapat mencakup atau mengacu pada hal yang lebih luas lagi. Misalnya, garam yang awalnya hanya digunakan untuk menyebut garam dapur (NaCl) kemudian mengalami peluasan makna, yakni maknanya menjadi mencakup semua jenis senyawa dalam bidang kimia. Kata canggih, misalnya, yang semula bermakna 'banyak cakap, bawel, cerewet' juga mengalami peluasan makna, yaitu 'kehilangan kesederhanaan aslinya (sangat rumit, terkembang)'. Kata canggih akhirnya digunakan sebagai padanan sophisticated. Demikan pula, kata pamer yang diserap dari
58 bahasa Jawa yang semula memiliki makna negatif, yakni 'berlagak, beraga' kemudian maknanya bergeser menjadi 'menunjukkan sesuatu yang dimiliki kepada orang banyak dengan maksud memperlihatkan kebolehan atau keunggulannya'. Makna itu menjadi memiliki nilai positif yang kemudian digunakan sebagai padanan show atau display. 4.3 Istilah Sinonim Sinonim adalah dua bentuk atau lebih yang memiliki makna sama atau mirip. Di dalam peristilahan, tidak jarang suatu istilah memiliki sinonim. Sinonim tersebut muncul karena dimungkinkan oleh beberapa hal, seperti adanya perbedaan waktu (pada masa dulu hulubalang digunakan untuk komandan), perbedaan tempat (saya dan beta bersinonim, tetapi beta hanya digunakan di kawasan Indonesia Timur), jarak sosial (saya dan aku digunakan secara berbeda karena melihat siapa yang diajak bicara), atau nilai rasa (penganggur dan tunakarya bersinonim, tetapi tunakarya akan memiliki nilai rasa yang lebih halus daripada penganggur), serta adanya penyerapan dan penerjemahan. Contoh penyerapan dan penerjemahan: Istilah Asing Istilah Indonesia (terjemahan) Sinonim Istilah Indonesia (serapan) absorb serap absorb acceleration percepatan akselerasi diameter garis tengah diameter frequency kekerapan frekuensi relative nisbi relatif temperature suhu temperatur comparative bandingan komparatif rotation perputaran rotasi
59 Istilah terjemahan dan istilah serapan tersebut pemakaiannya dapat bersaing di masyarakat. Keduanya dapat dipakai secara bergantian. Ada orang yang lebih menyukai istilah serapan, tetapi ada pula orang menyukai istilah terjemahan. Di dalam dunia peristilahan, kata yang memiliki makna bermiripan dapat dikelompokkan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai padanan istilah asing yang juga memiliki makna yang bermiripan. Contoh: axiom aksioma law hukum postulate postulat rule kaidah regulation (per)aturan healing penyembuhan recovery pemulihan treatment; care perawatan treatment; medication pengobatan 4.4 Istilah Homonim Dua istilah atau lebih yang memiliki sama ejaan dan lafalnya, tetapi maknanya berbeda karena berlainan asalnya disebut sebagai istilah homonim. Contoh: pacar '1. tumbuhan yang digunakan sebagai pemerah kuku; 2. daun inai' pacar 'kekasih' hak 'yang benar' hak 'telapak sepatu pada bagian tumit'
60 Istilah homonim dapat dibedakan menjadi homograf dan homofon. 4.4.1 Homograf Dua istilah atau lebih yang sama bentuknya (sama ejaannya), tetapi berbeda lafalnya disebut istilah homograf. Contoh: teras 'inti' teras /téras/ 'lantai datar, agak tinggi, atau agak rendah yang berada di depan rumah' 4.4.2 Homofon Dua istilah atau lebih yang memiliki lafal sama, tetapi berbeda bentuk atau ejaannya disebut istilah homofon. Contoh: bank denganbang massa denganmasa sanksi dengansangsi (kedua istilah ini sering dikelirukan pemakaiannya) tank dengantang 4.5 Istilah Polisem Istilah polisem adalah satu bentuk yang memiliki makna lebih dari satu, tetapi masih bertalian maknanya. Kepoliseman (polisemi) timbul karena adanya perkembangan makna akibat pergeseran makna. Di dalam kamus biasanya ditandai dengan angka Arab dalam deskripsi satu entri. Di dalam memadankan istilah asing yang bersifat polisem harus diterjemahkan sesuai dengan makna dalam konteksnya. Dalam hal seperti itu, suatu istilah asing tidak selalu ber-
61 padanan dengan kata Indonesia yang sama karena medan makna yang berbeda. Contoh: cushion head topi tiang pancang head gate pintu air atas nuclear head hulu nuklir velocity head tinggi tenaga kecepatan Bentuk head dalam kelompok itu memiliki makna yang berbedabeda (polisem) sehingga terjemahannya pun berbeda-beda sesuai dengan konteksnya. Demikian pula, kelompok bentuk berikut. detonating fuse sumbu ledak fuse sekering to fuse melebur, berpadu center of interest pusat perhatian public interest kepentingan publik penalty interest bunga denda 4.6 Istilah Hiponim Istilah hiponim merupakan istilah yang maknanya terangkum dalam superordinatnya yang memiliki makna lebih luas. Dengan kata lain, hiponim ialah kata atau istilah yang maknanya lebih spesifik daripada makna yang mencakupnya. Misalnya, kata kucing, anjing, harimau, singa, dan ayam, masing-masing disebut hiponim atau bawahan dari kata hewan. Dengan demikian, kata hewan disebut sebagai hiperonim atau superordinat, atau atasan kucing, anjing, harimau, singa, dan ayam. Di dalam terjemahan, superordinat pada umumnya tidak diterjemahkan dengan salah satu hiponimnya, kecuali jika dalam bahasa sasaran tidak terdapat istilah super-
62 hewan kucing anjing harimau singa ayam unggas ayam itik ordinatnya. Kata poultry diterjemahkan dengan unggas, bukan dengan ayam atau itik. Hubungan hiponim dan superordinatnya dapat digambarkan dalam bagan berikut. Demikian pula, kata mawar, melati, kenanga, anyelir, dan teratai masing-masing merupakan hiponim dari kata bunga yang menjadi atasan atau superordinatnya.
63 bunga mawar melati kenanga anyelir teratai Untuk memudahkan pemahaman, dapat dikatakan bahwa mawar, melati, kenanga, anyelir, dan teratai merupakan jenis bunga. Hubungan antara mawar, melati, kenanga, anyelir, dan teratai disebut kohiponim. Ihwal hubungan hiponim ini perlu dipahami betul dalam proses membentuk istilah. Ketika seseorang hendak menerjemahkan suatu istilah yang bersifat spesifik atau khusus, terjemahan yang dipilih bukan istilah atau kata yang bersifat generik atau umum, melainkan kata atau istilah yang khusus juga. Misalnya, penguin tidak diterjemahkan menjadi burung (istilah burung sangat umum karena istilah burung merupakan superordinat dari penguin). Dengan demikian, jika tidak ada terjemahannya, istilah penguin dapat diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi penguin. 4.7 Istilah Taksonim Taksonim adalah hiponim yang beringkat-tingkat yang menunjukkan sistem klasifikasi konsep bawahan dan konsep atasan. Untuk lebih jelasnya, taksonim dapat digambarkan dalam bagan berikut.
64 Bagan tersebut menunjukkan bahwa makhluk merupakan superordinat dari bakteri, hewan, dan tumbuhan. Dalam ketaksoniman tersebut terdapat hubungan antara kelas atasan (makhluk) dan bawahan (bakteri, hewan, tumbuhan), atau hubungan hewan dengan mamalia, burung, ikan, dan juga serangga. Didalam pembentukan peristilahan, pemahaman tentang ketaksoniman sangat penting agar istilah yang dihasilkan tepat. Untuk mengetahui bahwa suatu istilah merupakan istilah inti dari suatu bidang ilmu, diperlukan penyusunan taksonomi atau sering disebut pohon ilmu. Dengan penyusunan taksonomi, akan terlihat bahwa superodinat atau hiperonimnya akan memiliki hiponim secara bertingkat-tingkat seperti yang terlihat dalam bagan di atas. Setelah memahami taksonominya, pembentukan istilah dapat dilakukan secara cermat. 4.8 Istilah Meronim Istilah meronim adalah istilah yang memiliki hubungan dengan istilah lain yang merupakan bagian dari keseluruhan. Istilah yang menyeluruh itu disebut holonim. Untuk lebih jelasnya, hubungan tersebut dapat dilihat dalam bagan organ tubuh berikut. makhluk bakteri hewan tumbuhan mamalia burung ikan serangga unggas teri tuna semut capung anjing sapi itik ayam
65 Bagan tersebut memperlihatkan bahwa istilah tubuh mengandung makna keseluruhan terhadap bagian-bagiannya, yakni kepala, leher, dada, lengan, dan tungkai. Dengan kata lain, dapat dikata-kan bahwa istilah kepala, leher, dada, lengan, dan tungkai merupakan bagian dari tubuh. Hubungan antara tubuh dan bagian-bagiannya itu disebut hubungan kemeroniman. Kemudian lidah, gigi, dan bibir merupakan bagian dari mulut karena mulut mengandung makna keseluruhan yang mencakup makna lidah, gigi, dan bibir. Sementara itu, istilah bibir mengandung makna ke-seluruhan yang mencakup makna bagian-bagiannya, yakni bibir atas dan bibir bawah. Wawasan tentang hubungan kemeroniman juga diperlukan oleh pencipta istilah. Untuk membentuk istilah yang merupakan bagian keseluruhan, pencipta istilah harus memahami betul hakikat hubungan makna kata tersebut. Misalnya, bagian pisau untuk memotong atau mengiris disebut pisau juga. Padahal, yang dimaksud ialah mata pisau. Jadi, mata pisau merupakan bagian (meronim) tubuh kepala leher dada lengan tungkai rambut dahi mata hidung mulut lidah gigi bibir bibir atas bibir bawah
66 dari pisau. Oleh karena itu, pemilihan untuk istilah harus saksama sehingga diperoleh istilah yang tepat dan cermat.
67 5. PERANGKAT ISTILAH BERSISTEM Di dalam peristilahan, makna yang terkait dalam suatu kata harus dapat diwujudkan dalam bentuk yang ringkas dan padat. Untuk itu, perlu suatu perangkat yang bersistem. Perangkat bersistem dalam peristilahan menunjukkan keteraturan bentuk dan makna. Dengan keteraturan bentuk, makna yang dikandung pun dapat diuraikan secara jelas dan terperinci. Contoh: Asing Indonesia sorb erap absorp serap adsorp jerap Kata sorb dan erap merupakan akar kata dari absorp dan adsorp serta serap dan jerap. Dapat dikatakan bahwa sorb (Inggris) dan erap (Indonesia) membentuk paradigma istilah. Dari kata absorb dan serap yang dibentuk dari akar kata sorb dan erap dapat dibentuk paradigma atau istilah bersistem. Kebersisteman tersebut dapat dilihat pada contoh berikut. Asing Indonesia absorb serap absorber penyerap absorption 1. penyerapan; 2. serapan absorbed terserap absorable terserapkan absorbability keterserapan
68 adsorb jerap adsorber penjerap adsorption 1. penjerapan; 2. jerapan adsorbed terjerap adsorbable terjerapkan adsorbability keterjerapan (to) analyze menganalisis analyzed teranalisis analyzable teranalisiskan analyzer penganalisis analysis analisis analysibility keteranalisisan normal normal (to) normalize menormalkan normalized ternormal(kan) normalizer penormal normalizable ternormalkan normalization penormalan normality kenormalan
69 disperse tebar dispersed tertebar disperser penebar dispersible tertebarkan dispersibility ketertebaran dispersing menebar dispersion 1. penebaran; 2. tebaran dispersive bertebar dispersivity kebertebaran (to) diffuse baur, membaur diffused terbaur(kan) diffuser pembaur diffusible terbaurkan diffusion 1 pembauran; 2. perbauran; 3. bauran diffuseness kebauran diffusivity, diffusiveness keberbauran diffusibility keterbauran Bentuk-bentuk bersistem, seperti unsur -ed, -able, -er, -tion, -ability atau -ibility dalam bahasa Inggris dapat dipadankan dengan bentuk ter-, ter--kan, peng-, peng--an, dan keter--an. Khusus unsur -able dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan menjadi ter--kan yang bermakna 'dapat di-' seperti pada contoh berikut.
70 Asing Indonesia -able (a) ter--kan 'dapat di-' detachable prefix prefiks tertanggalkan exchangeable cation kation tertukarkan extracable phosphate fosfat terekstrakkan flammable ternyalakan hidrolyzable cation kation terhidrolisiskan loanable fund dana terpinjamkan renewable energy energi terbarukan Di samping itu, jika dari segi makna, istilah yang memiliki medan makna yang sama dapat dikelompokkan ke dalam satu perangkat medan makna. Contoh: Asing Indonesia axiom aksioma law hukum postulate postulat rule kaidah regulation (per)aturan
71 Asing Indonesia assumption andaian; asumsi hypothesis hipotesis theory teori theorem teorema proposition dalil; proposisi proof bukti formula rumus; formula healing penyembuhan recovery pemulihan treatment; care perawatan treatment; medication pengobatan collection kumpulan assemblage himpunan cluster gugus group kelompok array susunan; larik assembling perakitan tool(s) alat equipment peralatan device peranti instrument instrumen appliance perkakas machine mesin; pesawat engine mesin motor motor
72 Asing Indonesia income penghasilan revenue pendapatan salary gaji wage upah boulder bongkah cobble berangkal pebble kerakal gravel kerikil stone crushings kricak sand pasir dust debu; abu; duli fine dust serdak powder bubuk; tepung cost biaya; ongkos expense biaya charge beban tariff tarif accurate cermat; teliti precise saksama exact tepat correct betul; jitu right betul true benar
73 Asing Indonesia mean purata (pukul rata) average rerata (rata-rata) median median core teras nucleus inti dwelling tempat tinggal; hunian residence 1. kediaman; 2. permukiman house rumah; griya cottage pondok bungalow bungalo villa vila townhouse rumah bandar (kota) hotel hotel inn penginapan lodge penginapan; pemondokan motel motel hostel hostel shine bersinar glow berpijar gloss berkilap; kilap glitter berkilau glimmer berkedip flicker berkedip; kedipan flash berkilat; denyar gleam berseri
74 Dengan mengelompokkan kata yang termasuk dalam suatu medan makna yang sama (atau dapat dikatakan suatu perangkat yang bersistem) seperti contoh tersebut, pembentuk atau pencipta istilah akan mudah dalam mememilih kata yang sesuai dengan konsep yang dikandung dalam istilah. Pembedaan kata sesuai dengan makna yang dikandungnya juga mencerminkan prinsip atau definisi istilah, yaitu kata atau gabungan kata yang digunakan sebagai nama atau lambang yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pengelompokan kata berdasarkan medan makna tersebut merupakan contoh untuk memudahkan mereka yang berminat membentuk istilah atau memadankan kata atau istilah dari satu bahasa ke bahasa lain, khususnya dalam hal ini pemadanan bahasa asing atau bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia.
75 DAFTAR PUSTAKA Adiwimarta, Sri Sukesi dkk. 1978. Tata Istilah Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Cabré, M. Teresa. 1998. Terminology: Theory, Methods and Appli- cations. Amsterdam: John Benjamins. Collin, James T. 2009. Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Dubuc, Robert. 1985. Manuel Pratique de Terminologie. Paris: Conseil International de la Langue Française. Felber, Helmut. 1984. Terminology Manual. Paris: Unesco, Infoterm Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. -------. 2006. Glosarium IStilah Asing-Indonesia. (CD). Jakarta: Pusat Bahasa. Johannes, Herman. Tanpa Tahun. "Perangkat Istilah Bersistem".
76 Jumariam, C. Ruddyanto, Meity T. Qodratillah. 1995. Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata Asing. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. -------. 1996. Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Klein, Ernest. 1971. A Comprehensive Etymological Dictionary of The English Language. London: Elsevier Publishing Company. Lerat, Pierre. 1995. Les Langues Spécialitées. Paris: Presses Universitaires de France. Macdonell, Arthur Anthony. 1954. A Practical Sanskrit Dictionary. Oxford: University Press. Mardiwarsito, L. dkk. 1992. Kamus Indonesia-Jawa Kuno. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Moeliono, Anton M. 1993. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan. ------- (Ed). 2001. Tata Istilah: Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Qodratillah, Meity Taqdir. 2003. "Sumbangan Bahasa-Bahasa Roman dalam Bahasa Indonesia. Dalam Prancis dan Kita: Strukturalisme, Sejarah, Politik, Film, dan Bahasa. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
77 Sedyawati Edi dkk. 1994. Kosakata Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Melayu Masa Kini. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tim Penyusun. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.