The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Savira Dyalova, 2023-02-28 09:53:18

22_Nabila Talitha R.

22

Kerajaan Kalingga Disusun Oleh : Nabila Talitha R. (22) SMK NEGERI 2 SEMARANG Jl. Dr. Cipto No. 121 A, Semarang


A. Sejarah Kerajaan Kalingga Kerajaan Kalingga juga dikenal dengan nama kerajaan Holing yang letaknya berada di Jawa Tengah, nama Kalingga bukan berasal dari Nusantara. Kalingga berasal dari sebuah kerajaan di India bagian selatan, meskipun di Nusantara letaknya berada di sebelah utara dari Gunung Muria. Tepatnya di Kabupaten Jepara, kerajaan ini didirikan pada abad ke-6. Kerajaan ini didirikan oleh orang pelarian dari India setelah kerajaan di negaranya dihancurkan, dan masyarakatnya menganut agama Hindu dan Budha. Pada masa kejayaannya, kerajaan Kalingga menjadi pusat perkembangan agama Buddha di Jawa. Agama Buddha yang berkembang di Kalingga merupakan ajaran Buddha hinayana. Sementara nama Holing berasal dari bahasa Tiongkok, karena banyaknya pendeta yang datang ke Nusantara pada saat itu. Hal ini juga berpengaruh pada bahasa yang dipakai sehari-hari, bahasa Tiongkok yang dipakai oleh masyarakat di tempat tersebut. B. Raja – raja di Kalingga Raja pertama Kalingga adalah Prabu Wasumurti, pemimpin di tahun 594 sampai 605 masehi, sebelum digantikan Prabu Wasugeni hingga 632 Masehi. Prabu Wasugeni juga merupakan ayah dari Ratu Shima atau juga dikenal dengan nama Dewi Wasuwari, sosok yang berhasil membawa kerajaan Kalingga ke puncak kejayaannya. Beberapa nama raja yang memimpin Kalingga sebelum takhta diduduki Ratu Shima, antara lain Prabu Wasudewa, Prabu Wasukawi dan Prabu Kirathasingha. Hingga raja yang paling terkenal pada masa kerajaan Kalingga adalah Ratu Shima resmi diangkat sebagai raja pada 674 masehi. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin perempuan yang tegas. Ia memerintah Kerajaan Kalingga untuk menggantikan suaminya, Raja Kartikeyasinga, yang wafat pada 674 Masehi. Berkat ketegasan Ratu Shima selama memimpin, Kerajaan Kalingga dikenal di seluruh dunia kala itu. 1. Prabu Wasumurti (594-605 M) 2. Prabu Wasugeni (605-632 M) 3. Prabu Wasudewa (632-652 M) 4. Prabu Kirathasingha (632-648 M) 5. Prabu Wasukawi (652 M) 6. Prabu Kartikeyasingha (648-674 M) 7. Ratu Shima (674-695 M) Prabu Wasumurti Ratu Shima (594-605 M ) (674-695 M)


C. Kehidupan Ekonomi, Politik, dan Budaya Kerajaan Kalingga: a. Ekonomi Kerajaan Kalingga mengembangkan perekonomian perdagangan dan pertanian. Letaknya yang dekat dengan pesisir utara Jawa Tengah menyebabkan Kalingga gampang diakses oleh para pedagang dari luar negeri. Kalingga adalah daerah penghasil kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading sebagai barang dagangan. Sementara wilayah pedalaman yang subur, dimanfaatkan penduduk untuk mengembangkan pertanian.Minuman tesebut mempunyai rasa manis dan bisa memabukkan. Dari hasil perdagangan dan pertanian itu, penduduk Kalingga hidup makmur. b. Politik Kehidupan Politik Pada abad VII Masehi Kerajaan Kalingga pernah dipimpin seorang ratu bernama Sima. Ratu Sima menjalankan pemerintahan dengan tegas, keras, adil, dan bijaksana. Dia melarang rakyatnya untuk menyentuh dan mengambil barang bukan milik mereka yang tercecer di jalan. Bagi siapa pun yang melanggar akan memperoleh hukuman berat. Hukum di Kalingga dapat ditegakkan dengan baik. Rakyat taat pada peraturan yang dibuat ratu mereka. Oleh sebab itu, ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan baik. Menurut naskah Carita Parahyangan, Ratu Sima mempunyai cucu bernama Sahana yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari Kerajaan Galuh. Sahana mempunyai anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi Dinasti Sanjaya. Sepeninggalan Ratu Sima, Kerajaan Kalingga ditaklukan oleh Kerajaan Sriwijaya. c. Budaya Penduduk Kalingga hidup dengan teratur. Ketertiban dan ketentraman sosial di Kalingga dapat berjalan dengan baik berkat kepemimpinan Ratu Sima yang tegas dan bijaksana dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Dalam menegakkan hukum Ratu Sima tidak membedakan antara rakyat dengan anggota kerabatnya sendiri. Berita mengenai ketegasan hukum Ratu Sima pernah didengar oleh Raja TaShih. Ta-Shih adalah sebutan Cina untuk kaum muslim Arab dan Persia. Raja TaShih lalu menguji kebenaran khabar tersebut. Dia memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di jalan wilayah Kerajaan Ratu Sima. Selama tiga tahun kantong itu dibiarkan tergeletak di jalan dan tidak seorang pun berani menyentuh. Setiap orang melewati kantong emas itu berusaha menyingkir. Pada suatu hari putra mahkota tidak sengaja menginjak kantong itu sehingga isinya berhamburan. Kejadiaan ini membuat Ratu Sima marah dan memerintahkan hukuman mati untuk putra mahkota. Akan tetapi, para menteri berusaha memohon pengampunan untuk putra mahkota. Ratu Sima menanggapi permohonan itu dengan


memerintahkan agar jari kaki putra mahkota yang menyentuh kantong emas dipotong.Peristiwa ini adalah bukti ketegasan Ratu Sima dalam menegakkan hukum. D. Peninggalan – Peninggalan Kerajaan Kalingga : 1. Prasasti Tuk Mas Prasasti Tukmas bertuliskan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sansekerta. Prasasti ini ditemukan di Dusun Dakawu, Desa Lepak, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tepatnya di lereng Barat Gunung Merapi. Prasasti ini bertuliskan tentang mata air yang jernih dan bersih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga yang berada di India. Pada Prasasti Tuk Mas juga terdapat gambar-gambar seperti kendi, kelasangka, trisula, cakra, bunga teratai dan kapak. Gambar tersebut melambangkan latar belakang dari keagamaannya yaitu agama Syiwa. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa agama yang dianut pada saat prasasti ini dibuat diperkirakan agama Hindu beraliran Syiwa. Makna dari prasasti tuk mas sendiri bahwa batu alam berukuran cukup besar ini berada di dekat sebuah mata air yang jernih. Kemungkinan besar, mata air tersebut merupakan sumber air suci, seperti air suci dari Sungai Gangga di India, yang dipercaya oleh masyarakat dan pemuka agama Siwa. Kesucian mata air tersebut dikuatkan dengan keberadaan prasasti, yang berada di tepi sungai yang mata airnya berasal dari pegunungan. 2. Prasasti Sojomerjo Prasasti Sojomerjo bersifat keagamaan Siwais dan ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti Sojomerjo bertuliskan huruf Kawi dan berbahasa Melayu Kuno serta berasal dari kira-kira abad ke-7 M. Prasasti ini berisi keluarga dari tokoh utama Dapunta Selendra yaitu ayahnya bernama Santanu sedangkan ibunya bernama Bhadrawati lalu istrinya bernama Sampula. Menurut Prof. Drs. Boechari, Dapunta Selendra merupakan cikal bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang kemudian berkuasa di


Kerajaan Mataram Hindu. Tulisan di dalam prasasti ini terdiri dari 11 baris yang sebagian tulisannya sudah rusak dan tidak dapat dibaca karena rusak terkikis usia. Hingga 2021, Prasasti Sojomerto diketahui berada di halaman rumah warga dan dipagari. 3. Candi Angin Candi Angin, yang kini hanya berupa reruntuhan, terletak di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Berdasarkan penelitian, usia candi ini diduga kuat lebih tua dari Candi Borobudur. Oleh karena itu, Candi Angin diperkirakan menjadi salah satu peninggalan Kerajaan Kalingga. Kendati demikian, belum diketahui siapa pendirinya dan kapan candi ini didirikan. 4. Candi Bubrah Peninggalan Kerajaan Kalingga yang masih bisa masyarakat temukan di Jawa Tengah adalah Candi Bubrah. Candi Bubrah adalah salah satu candi Hindu-Budha yang terletak di dalam kompleks Candi wisata Prambanan. Letak Candinya sendiri berada di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Candi Bubrah ditemukan di lokasi sekitar Candi Angin. Dinamakan Candi Bubrah karena pada saat ditemukan, kondisinya sudah luluh lantak termakan usia. Candi ini diperkirakan dibangun pada sekitar abad ke-9 Masehi. 5. Situs Puncak Sanga Likur Situs ini terletak di puncak Gunung Muria yang disebut Rahtawu, di area situs ini terdapat empat arca batu yang masing-masing bernama Arca Batara Guru, Narada, Togog dan Wisnu. Meski begitu belum bisa dipastikan bagaimana empat arca yang diangkut ke puncak gunung, karena jalan untuk sampai ke puncak sangat curam. E. Alasan penyebab kehancuran Kalingga: Kerajaan Kalingga mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Ratu Shima pada 674-695M. Di bawah kepemimpinannya kondisi Kerajaan Kalingga berada dalam kondisi politik dan ekonomi yang sangat stabil. Stabilitas tidak lepas dari peran seorang


Ratu Shima yang sangat memperhatikan kondisi rakyatnya. Meskipun sempat mencapai kejayaan di masa kepemimpinan Ratu Shima, tidak menutup kemungkinan Kerajaan Kalingga mengalami keruntuhan akibat beberapa faktor, seperti : Kebijakan politik yang kurang sesuai. Pasca berakhirnya kepemimpinan Ratu Sima di Kerajaan Kalingga, indikasi-indikasi keruntuhan mulai terlihat terutama ketika sistem kebijakan politik yang dilakukan oleh pengganti Ratu Sima tidak sesuai dengan harapan rakyat. Rakyat yang biasanya mendapat dukungan secara penuh oleh kebijakan politik yang diterapkan Ratu Sima, pada akhirnya harus beradaptasi dengan kebijakan politik baru yang tidak jarang merugikan rakyat. Kebijakan politik tersebut membuat rakyat merasa tidak puas dengan kerajaan, sehingga mengakibatkan adanya konflik antara rakyat dengan kerajaan. Akibatnya kerajaan tidak mampu melanjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Kondisi perekonomian tidak stabil. Selain politik, kondisi perekonomian juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Banyaknya faktor luar yang mempengaruhi Kerajaan Kalingga membuat aktivitas perdagangan menjadi terganggu. Hal itu seiring dengan persaingan kerajaan lain seperti Sriwijaya yang juga mempengaruhi wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Sehingga Kerajaan Kalingga kehilangan stabilitas ekonomi. Kerusuhan terjadi dilingkungan kerajaan. Melemahnya stabilitas politik dan ekonomi yang dialami Kerajaan Kalingga membuat kerusuhan semakin banyak terjadi. Tindakan kriminal dan pelanggaran hukum semakin tak terkendali. Hal ini diakibatkan tidak adanya kepastian dari kerajaan terhadap rakyat dalam hal pemilihan stabilitas, sehingga kehidupan masyarakat semakin menurun. Kerusuhan tersebut menyebabkan Kerajaan tidak memiliki kekuatan terutama dalam segi sumber daya ketika memperoleh perlawanan dari luar. Banyaknya pengaruh kerajaan seperti Sriwijaya membuat posisi Kerajaan Kalingga semakin melemah. Ketidakpuasan rakyat terhadap kerajaan. Ketidakpuasan rakyat muncul ketika kerajaan tidak mampu memulihkan keadaan. Meskipun tidak terjadi secara langsung namun sangat berpengaruh terhadap kondisi rakyat yang semakin terpuruk. Kondisi semacam itu membuat kondisi kerajaan seolah-olah tidak memiliki kendali dan rawan terhadap keruntuhan. Serangan dari kerajaan Sriwijaya.


Kerajaan Kalingga mengalami runtuh ketika mendapat serangan dari kerajaan Sriwijaya. Penaklukan oleh Sriwijaya tersebut berjalan dengan lancar mengingat kondisi Kerajaan Kalingga yang sedang sulit dalam berbagai bidang, terlebih pada saat yang bersamaan Kerajaan Kalingga sama sekali tidak memiliki kekuatan militer untuk membendung perlawanan Sriwijaya. Alasan Kerajaan Sriwijaya menyerang Kerajaan Kalingga sendiri adalah Kerajaan Kalingga masih masuk dalam bagian jaringan perdagangan Hindu bersama dengan Melayu dan Tarumanegara yang sebelumnya telah ditaklukkan oleh Sriwijaya. Maka sejak serangan tersebut Kerajaan Kalingga sudah berhasil dikuasai oleh Sriwijaya pada 752 M dan tidak ada lagi kekuasaan Kalingga yang berdiri. F. Kesimpulan: Kerajaan Kalingga adalah suatu kerajaan bercorak Buddha yang dipimpin oleh Ratu Sima yang memiliki sifat bijaksana dan tegas dalam menerapkan keadilan pada siapapun tanpa pandang bulu, hal inilah yang menyebabkan penduduk Kalingga hidup dengan ketertiban dan ketentraman sosial. Selain itu, sebagian besar penduduk Kalingga bermatapencaharian sebagai berdagang karena letaknya yang berada di pesisir jawa bagian tengah yang menyebabkan sektor perdagangan maritim dapat berkembang di Kalingga. Dalam segi politik, walaupun hanya berdiri sekitar satu abad, Kerajaan Kalingga pernah membawahi 28 kerajaan kecil yang diberi kebebasan dalam mengatur pemerintahannya sendiri. Tapi sayangnya, masa kejayaan kerajaan Kalingga harus hancur karena serangan dari kerjaan Sriwijaya dan meninggalnya Ratu Sima membuat Kalingga mulai mengalami keruntuhan.


G. Daftar Pustaka Nuryani, Siti. “Kelas X – Kerajaan Hindu Buddha di Indonesia Part 1 Sejarah Indonesia.” YouTube, diunggah oleh Siti Nuryani, 24 September 2021, https://youtu.be/0QaIEa06TrE Faradiba, Nadia. (2022, Maret, 6). Sejarah dan Penyebab Runtuhnya Kerajaan Holing atau Kalingga. Kompas.com. https://www.kompas.com/sains/read/2022/03/06/173100923/sejarah-danpenyebab-runtuhnya-kerajaan-holing-atau-kalingga Pena, Sterno. (2013). Kehidupan Politik, Ekonomi, Agama dan Sosial Budaya Kerajaan Kalingga. BELAJAR ILMU SOSIAL. https://www.belajarsosial.com/2016/10/kehidupan-politik-ekonomi-agamadan.html?m=1


Click to View FlipBook Version