IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING
UNTUK MENINGKATKAN HASIL PEMBELAJARAN SISWA
PADA MASA PANDEMI COVID-19 DENGAN MATERI GAYA MAGNET
DI SD NARADA, JAKARTA
Vivi Purnamasari Utama
Guru SD Narada, Jakarta
Perumahan Kosambi Baru Blok. A Ext-1, Jl. Kosambi Baru No.9, RT.10/RW.13, Duri Kosambi,
Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11750
Email : [email protected]
ABSTRAK
The background of this research is that science learning activities during the Covid-19
pandemic only present science in the form of finished products and have not invited students to
discover and experience the knowledge they will learn for themselves, resulting in low student
learning outcomes. This study aims to improve the learning outcomes of 5th grade students of
SD Narada, Jakarta in Basic Competencies: Magnetic Force and Magnetic Properties. The
data collection technique in this study used a video observation sheet demonstration of
magnetic properties by students and by using a test to determine the extent of the ability/success
of students during the learning activities that had been carried out. Observation results show
that students who get scores above the KKM of 70 in the pre-cycle are 36 students from the
total number of students, namely 90 students. While the results of the first cycle test showed 72
students scored above the KKM, because in the first cycle there were still students who had not
completed and the indicators of success had not been achieved, the researchers planned
improvements in the second cycle. The results of the second cycle test showed 100% or the total
number of students in the class met the KKM and had met the indicators of success. This shows
that Classroom Action Research by applying the discovery learning method in 5th grade
science learning at SD Narada, Jakarta has been successful because it has achieved the goals
of the specified success indicators.
.
Keywords: Discovery Learning, Magnetism, Classroom Action Research, Covid-19
PENDAHULUAN
Penutupan sementara lembaga pendidikan sebagai upaya menahan penyebaran pandemi
Covid-19 di seluruh dunia berdampak pada jutaan pelajar, tidak kecuali di Indonesia. Gangguan
dalam proses belajar langsung antara siswa dan guru berdampak pada psikologis anak didik dan
menurunnya kualitas keterampilan murid. Beban itu merupakan tanggung jawab semua elemen
pendidikan, termasuk guru, guna melakukan pembelajaran jarak jauh. (Aji, 2020).
Menurut Handayani dan Jumadi (2021), pandemi Covid-19 berdampak pada kegiatan
belajar. Pembelajaran online dilakukan dengan menggunakan media Google Meet, Google
Classroom, dan WhatsApp. Faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran online,
yaitu alat komunikasi, jaringan internet, motivasi siswa, dan dukungan dari orang tua.
Pembelajaran online kurang efektif karena materi tidak tersampaikan sepenuhnya kepada siswa.
Sebagian besar kegiatan dilakukan hanya dengan memberikan materi dan tugas serta
mengumpulkan tugas.
Pada masa pembelajaran daring ini, guru seharusnya menyadari bahwa kehadiran guru
bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan yang mereka miliki melainkan untuk memfasilitasi
pembelajaran. Kehadiran internet dan gadget bukan menjadi saingan guru dalam mengajar.
Sebaliknya guru harus menguasai teknologi sehingga teknologi menjadi partner guru yang
sangat efektif dalam membuat inovasi pembelajaran.
Konsep pembelajaran IPA tidak jauh berbeda dengan konsep pembelajaran pada mata
pelajaran lainnya. Hanya, penekanannya harus sesuai dengan hakikat IPA itu sendiri, yaitu
terlaksananya proses sains, menghasilkan produk sains dengan melakukan eksperimen dan
terbentuknya sikap ilmiah. Pembelajaran IPA tidak bisa dilaksanakan dengan cara menghafal
atau pasif mendengarkan guru menjelaskan konsep saja. Seharusnya, siswa sendiri yang harus
melakukan pembelajaran melalui percobaan, pengamatan dan penalaran. Kegiatan ini akan
membentuk sikap ilmiah yang pada gilirannya akan mengasah kemampuan menyelesaikan
masalah.
Menurut Andriana, et.al. (2020), proses pembelajaran IPA harus menekankan pada
pemberian pengalaman secara langsung oleh peserta didik untuk mengembangkan kompetensi
agar menjelajahi dan memahami alam sekitar, yang pada akhirnya mereka menemukan sendiri
konsep materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Selain itu pembelajaran IPA diarahkan
untuk memberi pengalaman langsung sehingga dapat membantu peserta didik untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam untuk alam sekitar. Salah satu model
pembelajaran yang sesuai dengan kriteria ini adalah model Discovery Learning.
Discovery Learning adalah model pembelajaran yang menuntut siswa mencari dan
menyelidiki suatu masalah dengan sistematis, kritis, dan logis. Tujuannya adalah penemuan
pengetahuan oleh usaha siswa sendiri. Sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa, bukan
guru. Siswa mengalami sendiri proses pembelajaran hingga mencapai kesimpulan.
Menurut Bruner (2007), siswa perlu melalui beberapa proses untuk mengembangkan
kemampuan kognitif siswa. Proses tersebut adalah perolehan informasi, pengolahan informasi,
dan mengadakan tes kecukupan. Pada akhir pembelajaran, siswa akan mencapai pembelajaran
penemuan atau discovery learning.
Langkah umum dalam Discovery Learning menurut Hosnan (2014) adalah identifikasi
masalah, stimulasi, penghimpunan data, mengolah data, verifikasi, kesimpulan. Dalam
mengidentifikasi masalah, siswa dipandu untuk membuat pertanyaan dan prediksi (hipotesis).
Kemudian guru akan menstimulasi siswa agar dapat melakukan observasi mandiri. Siswa
kemudian melakukan observasi mandiri dengan uji coba dan membaca literatur. Data kemudian
diolah dengan penghitungan, tabulasi, dan pengkategorian. Lalu siswa akan memverifikasi
kebenaran hipotesis yang mereka buat di awal pembelajaran. Terakhir, siswa akan
menggeneralisasi data untuk membuat kesimpulan dengan cara induksi.
Pembelajaran daring di SD Narada terus berkembang karena tuntutan keadaan di masa
pandemi. Pada awalnya pembelajaran belum menggunakan zoom sehingga tidak ada meeting
daring antara guru dan murid. Pembelajaran hanya menggunakan google classroom dan WA
grup. Materi pembelajaran yang mencakup rangkuman, halaman pada buku teks pelajaran,
penugasan dan penilaian diunggah pada laman google classroom. Tanggapan dari siswa dan
orang tua mengenai pembelajaran daring ini kurang positif karena membosankan sehingga
sebagian siswa langsung mengerjakan tugas yang disampaikan melalui WA grup sebelum
membaca penjelasan guru di google classtoom. Hasil belajar siswa menjadi lebih rendah dari
tahun-tahun sebelumnya.
Pada semester berikutnya, pembelajaran daring menggunakan aplikasi zoom meeting,
google classroom dan WA grup. Zoom meeting memfasilitasi meeting daring antara guru dan
murid. Materi pembelajaran diunggah di google classroom. Materi tersebut mencakup
rangkuman, halaman pada buku teks pelajaran, penugasan dan penilaian. WA grup
memfasilitasi komunikasi antara guru dengan orang tua murid. Selain itu sekolah juga
membagikan bahan pembelajaran secara berkala, dimana orang tua datang ke sekolah untuk
mengambil materi pembelajran. Salah satu bahan pembelajaran yang dibagikan adalah bahan-
bahan eksperimen IPA. Dengan bahan eksperimen IPA, siswa dapat melakukan uji coba sendiri
di rumah sehingga Discovery Learning dapat dilakukan.
Berdasarkan keadaan tersebut, pada awal pandemi tidak ada model pembelajaran
Discovery Learning di Narada. Namun pada semester berikutnya, model pembelajaran
Discovery Learning mulai diaplikasikan. Dengan demikian, maka peneliti mengadakan
penelitian dengan judul “Implementasi Model Pembelajaran Discovery Learning Untuk
Meningkatkan Hasil Pembelajaran Siswa Pada Masa Covid-19 Dengan Materi Gaya Magnet
Di SD Narada, Jakarta.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan yang timbul pada penelitian sebagai berikut:
”Apakah model pembelajaran Discovery Learning tentang gaya magnet dapat meningkatkan
hasil pembelajaran siswa kelas V Semester II SD Narada Jakarta?”
Dalam penelitian diharapkan bermanfaat yaitu:
1. Bagi siswa
Dari penelitian ini diharapkan dapat menciptakan kreatifitas dan membantu meningkatkan
hasil belajar siswa.
2. Bagi guru dan peneliti
Dari penelitian ini diharapkan akan menjadi acuan untuk mengembangkan model
pembelajaran yangdapat memberikan manfaat bagi siswa.
3. Bagi Sekolah
Penelitian ini dilakukan agar dapat menjadi masukan dalam upaya meningkatkan
kreatifitas dan hasil belajarsiswa.
Hipotesis penelitian ini adalah model pembelajaran Discovery Learning tentang gaya
magnet dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa kelas V Semester II SD Narada Jakarta.
METODE PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Arikunto (2013) adalah pencermatan kegiatan
pembelajaran dengan tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
bersamaan. PTK adalah kegiatan ilmiah dan terdiri dari Penelitian, Tindakan, Kelas. Penelitian
adalah tindakan mencermati objek dengan aturan metodologi untuk memperoleh data atau
informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu dalam suatu hal yang menarik minat dan
penting bagi peneliti. Tindakan adalah kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu
dalam rangkaian siklus kegiatan dalam penelitian. Kelas adalah sekelompok peserta didik yang
sama dan menerima pelajaran yang sama dari seorang pendidik.
Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas 5 SD Narada Kecamatan Cengkareng,
Jakarta Barat Semester II Tahun Ajaran 2021/2022 dengan jumlah 90 siswa. Adapun siswa laki-
laki sebanyak 46 siswa dan siswa perempuan berjumlah 44 siswa. Penelitian dilakukan pada
bulan Februari – Maret 2022.
Variabel penelitian dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu variabel input,
variabel proses dan variabel output. Variabel input dalam penelitian ini adalah permasalahan
yang terjadi pada kelas 5 SD Narada yaitu siswa belajar dengan menggunakan metode ceramah
dengan bantuan power point presentation, video Youtube dalam zoom meeting. Hasil belajar
siswa dengan metode ini menjadi kurang maksimal. Variabel Proses dalam penelitian ini adalah
penggunaan metode discovery learning yaitu suatu metode pembelajaran yang memandu siswa
menemukan sendiri informasi yang akan mereka pelajari, bukan diberikan secara langsung
sebagai pengetahuan yang sudah jadi atau diceramahkan saja. Variabel output dalam penelitian
ini adalah hasil belajar. Hasil belajar yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah hasil
belajar yang mencakup penguasaan materi pelajaran IPA sebagai produk, proses, dan aplikasi.
Indikator kinerja yang digunakan adalah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil
belajar diukur melalui KKM. Hasil belajar siswa dapat dikatakan berhasil apabila indikator
hasil tercapai. Siswa dapat dikatakan berhasil jika nilai yang diperolehnya diatas angka Kriteria
Ketuntasan Minimal ( KKM ) dan dikatakan tidak berhasil jika nilai yang diperoleh siswa
dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ). SD Narada memberikan patokan minimal
indikator hasil adalah 80% dari jumlah semua siswa mencapai ketuntasan belajar siswa dengan
memperoleh nilai ≥70 sesuai dengan KKM.
Adapun kompetensi yang harus dicapai dalam materi Gaya Magnet adalah menjelaskan
bahwa magnet tidak dapat menarik benda-benda non magnetic, magnet dapat menarik benda-
benda magnetic, menjelaskan metode induksi untuk membuat magnet, menjelaskan magnet
sementara, mencari kutub-kutub magnet, menjelaskan bahwa gaya magnet dapat menembus
benda-benda non magnetic. Semua kompetensi ini akan didemonstrasikan siswa dengan magnet
yang telah dibagikan di dalam video. Video dikumpulkan melalui Google Classroom. Tes butir
soal (pretes, postes) diberikan melakui Google Form di Google Classroom.
Rencana penelitian yang digunakan adalah Model Kemmis dan Mc. Taggart dalam
Wiriaatmadja (2005:66) yaitu menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan
rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, perencanaan kembali yang merupakan ancang-ancang
pemecahan masalah. Tahap perencanaan, meliputi: penyusunan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran, persiapan materi IPA (magnet) yang akan dibagikan kepada siswa, penyiapan
instrumen tes (pretes, postes), lembar observasi video dan membuat penjelasan dengan
unggahan di Google Classroom dan Youtube video, (2) tahap pelaksanaan tindakan, meliputi:
pelaksanaan kegiatan dari perencanaan yang dibuat dengan Zoom Meeting dan pembagian
magnet kepada siswa, (3) tahap observasi, yaitu pengamatan dari pelaksanaan tindakan melalui
pedoman observasi, dan (4) tahap refleksi, yaitu menganalisis dan memberi pemaknaan dari
pelaksanaan tindakan, sehingga dapat dibuat perencanaan tindakan pada siklus berikutnya.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, observasi dan
dokumentasi. Instrument pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes
berupa tes butir soal dan non tes berupa lembar observasi video para siswa.
Pengadaan postes dilaksanakan pada setiap akhir siklus sedangkan untuk mengamati
kegiatan guru dan siswa digunakan pedoman observasi video. Untuk mendukung hasil
pengamatan, peneliti juga merekam kegiatan Zoom Meeting dengan kamera laptop.
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif dan
deskriptif kualitatif. Deskriptif komparatif yaitu dengan membandingkan nilai kondisi awal,
setelah siklus I dan setelah siklus II, untuk mengetahui peningkatan hasil belajar kognitif siswa.
Deskriptif kualitatif yaitu hasil penelitian diuraikan secara deskriptif dan bersifat kualitatif
artinya penelitian yang menggunakan kualitas, tanpa mengukurnya dengan angka-angka hasil
perhitungan sebagai tolak ukur keberhasilannya. Deskriptif kualitatif diperoleh dari lembar
observasi pelaksanaan pembelajaran dengan metode discovery learning.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Awal Hasil evaluasi pembelajaran IPA pada materi Gaya Magnet sebelum
menggunakan metode discovery learning membuktikan bahwa belum semua peserta didik
mencapai ketuntasan belajar. Dalam proses pembelajaran masih dijumpai peserta didik yang
belum memiliki hasil belajar yang baik meskipun sebelumnya guru telah menjelaskan materi
pelajaran melalui unggahan di google classroom, Youtube video, penjelasan dengan Zoom
Meeting dan power point presentation. Penyebab rendahnya nilai diantaranya karena
penggunaan media pembelajaran dipandang membosankan sehingga perhatian siswa mudah
teralihkan dan siswa hanya menerima pengetahuan IPA sebagai produk. Sementara seharusnya
IPA sebagai Ilmu Pengetahuan meliputi tiga dimensi, meliputi proses, prosedur dan produk.
(Sutrisno, Leo, dkk. 2007:20). Penjelasan materi yang dilakukan oleh guru dengan
menggunakan metode ceramah yang membuat siswa tidak aktif dalam pembelajaran sehingga
berpengaruh pada perolehan nilai siswa. Perolehan nilai siswa masih terlalu rendah dari yang
diharapkan sekolah yaitu mencapai KKM 70.
Analisis Hasil Penelitian
Tabel 1
PRA SIKLUS I SIKLUS II
No SIKLUS
Tuntas Tidak Tuntas Tidak Tuntas Tidak
Tuntas Tuntas Tuntas
1. 36 54 72 18 90 0
Jumlah 90 90 90
Persentase Ketuntasan 40% 80% 100%
Nilai Tertinggi 80 90 95
Nilai Terendah 40 50 75
Rata-rata 55,33 75 85,66
Berdasarkan tabel 1 dapat terlihat terdapat kenaikan hasil belajar siswa kelas 5 SD Narada
Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat dari kegiatan pra siklus, siklus I dan siklus II. Perolehan
nilai rata-rata antara pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 meningkat. Pada kegitan pra siklus nilai
rata-rata pada kelas 5 SD Narada adalah 55,33. Pada siklus I meningkat menjadi 75 dan pada
siklus II meningkat lagi menjadi 85,66. Selain itu, perolehan nilai tertinggi pada kegiatan pra
siklus yaitu 80 dan nilai terendah yaitu 40. Sedangkan perolehan nilai tertinggi pada siklus I
yaitu 90 dan nilai terendah yaitu 50. Pada siklus II perolehan nilai tertinggi yaitu 95 dan nilai
terendah 75. Jumlah siswa yang tuntas pada antara pra siklus, siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan. Pada kegiatan pra siklus atau kondisi awal siswa yang tuntas dalam pembelajaran
hanya 36 siswa dengan persentase ketuntasan 40%.
Pada siklus I sudah terdapat peningkatan hasil belajar yaitu dari 36 siswa menjadi 72
siswa dengan persentase ketuntasan 80% dan dari 54 siswa yang tidak tuntas menjadi 18 siswa.
Tiga siswa yang tidak tuntas dalam siklus I disebabkan karena kurang fokus dalam
pembelajaran dan kurang paham dengan materi pembelajaran. Pada pembelajaran daring, siswa
dapat bermain game online selama pembelajaran ataupun teralihkan oleh kondisi rumah
masing-masing.
Karena pada siklus I hasil belajar belum maksimal dan belum mencapai indikator hasil
maka penelitian dilanjutkan pada siklus II. Peneliti memperbaiki kekurangan pada siklus II
dengan memberikan materi pembelajaran IPA berupa benda-benda non magnetic dan benda-
benda magnetic untuk siswa yang kesulitan mencarinya di rumah. Hasil pembelajaran pada
siklus II setelah pembagian benda magnetic dan non magnetic, maka didapatkan hasil belajar
siswa yang tuntas adalah 90 siswa dengan persentase ketuntasan 100%. Sehingga dari analisis
diatas membuktikan bahwa metode discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa
kelas 5 SD Narada Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.
Pembahasan
Pra Siklus
Pada proses pembelajaran pra siklus, guru kelas menggunakan metode ceramah dengan
media Google Classroom dan Youtube video sehingga siswa kurang fokus dalam mengikuti
pembelajaran. Setelah diadakan tes formatif ternyata hasilnya sangat rendah. Dari 90 siswa
hanya 36 siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM, sehingga presentase ketuntasan belajar
siswa pada pembelajaran pra siklus yaitu 40% yang tuntas dari jumlah seluruh siswa, dengan
gambaran tersebut tampak sekali jika prestasi belajar siswa kelas 5 SD Narada Kecamatan
Cengkareng, Jakarta Barat sangat rendah. Karena rendahnya hasil tes maka peneliti
mengadakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan 2 siklus 4 kali pertemuan. Peneliti
berharap dengan dilakukan PTK maka hasil belajar siswa akan lebih baik sehingga prestasi
belajar siswa akan meningkat pula.
Siklus I
Pada siklus I ini peneliti merancang pembelajaran dengan menggunakan metode
discovery learning dan media berupa magnet, benda-benda magnetic dan benda-benda non
magnetik sebagai alat penelitian yang memudahkan siswa untuk melakukan uji coba sendiri.
Perencanaan media sederhana ini yang akan digunakan untuk praktikum digunakan sebagai
penunjang pembelajaran IPA. Pada kegiatan pembelajaran yang dirancang agar siswa
mendemonstrasikan seluruh kompetensi yang diminta ini, siswa lebih fokus dalam
pembelajaran karena siswa aktif memperagakan pembelajaran itu sendiri. Selain itu dengan
penggunaan metode discovery learning siswa menguji dan membuktikan sifat-sifat magnet dan
bukan hanya membacanya di buku. Penggunaan metode discovery learning membuat siswa
tidak bisa bermain game online selama pelajaran sehingga bisa fokus dalam pembelajaran.
Pada siklus I peneliti meperbaiki kegiatan pembelajaran dengan membagi magnet sebagai
alat peraga dan stimulus untuk merangsang pemahaman siswa. Setelah itu guru menjelaskan
bagaimana melakukan penelitian tentang sifat-sifat magnet sehingga siswa harus aktif dalam
mengikuti pembelajaran karena siswa aktif menguji dan membuktikan sifat-sifat magnet
tersebut.
Siklus I mendapatkan hasil yang baik dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai 72 siswa
dan sudah adanya peningkatan hasil belajar dari pra siklus ini sejalan dengan teori yang
dikemukanan oleh Prihantoro dalam Triyanto (2010:126) “IPA merupakan suatu produk, proses
dan aplikasi. Sebagai produk, IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan
konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA merupakan suatu langkah yang
dipergunakan untuk mempelajari objek studi, menemukan dan mengembangkan produkproduk
sains. Sebagai aplikasi, teori-teori IPA akan melahirkan teknologi yang dapat memberi
kemudahan bagi kehidupan” bahwa IPA sebagi produk, proses dan aplikasi akan membuat
siswa lebih memahami konsep pembelajaran IPA yang akan berpengaruh terhadap hasil belajar.
Pada akhir pembelajaran diadakan tes formatif. Dari hasil tes siklus I dapat disimpulkan
hasilnya meningkat dari 90 siswa ada 72 siswa yang mendapat nilai diatas KKM dan hasil
belajar beberapa siswa meningkat. Sehingga dapat diukur presentase ketuntasan belajar siswa
80% dari seluruh siswa. Dengan hasil ini dapat disimpulkan presentase ketuntasan siswa
meningkat dari 40% yaitu dari 40% menjadi 80%. Namun demikian masih ada 20% siswa yang
memperoleh nilai di bawah KKM dan belum mencapai indikator hasil. Oleh karena itu peneliti
melanjutkan pada siklus II.
Adapun siswa-siswa yang tidak tuntas belajar mengalami kesulitan dalam mencari benda-
benda magnetic dan benda-benda non magnetik. Adapula yang kehilangan magnet yang telah
dibagikan. Untuk mengatasi masalah ini, SD Narada membagikan benda-benda magnetic dan
benda-benda non magnetik pada siswa-siswa yang tidak tuntas tersebut. Untuk yang kehilangan
magnet, sekolah memberikan magnet yang baru untuk menggantikannya.
Siklus II
Pada siklus II ini guru kelas melakukan pembelajaran dengan metode discovery learning
dan uji coba individual tentang sifat-sifat magnet yang direkam menjadi video. Kegiatan ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi siswa tentang gaya
magnet setelah mengikuti pembelajaran dalam II siklus 4 pertemuan. Pada akhir pembelajaran
diadakan tes formatif, dari hasil tes tersebut terdapat peningkatan yang signifikan semua siswa
dalam kelas 5 SD Narada Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat yaitu 90 siswa dengan
persentase 100% mendapatkan nilai diatas KKM dan perolehan hasil belajar juga sangat
memuaskan. Ini menunjukkan bahwa penggunaan metode discovery learning akan
meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sama dengan yang diungkapkan oleh Budiningsih
(2005:43) yang menggungkapkan metode discovery learning adalah suatu metode yang akan
membuat siswa memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya
sampai kepada suatu kesimpulan selain itu penelitian ini juga menunjukkan hasil yang hampir
sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Kristiawan (2012) dan Dammayanti (2016) yang
menggunakan metode discovery learning dalam proses belajar mengajar yang terbukti dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.
Gambar 1. Informasi Pembagian Materi Pembelajaran Kepada Orang Tua Siswa
Gambar 2. Pra Siklus: Penjelasan Materi di Google Classroom
Gambar 3. Pra-Siklus: Lampiran PPT, Youtube Video
Dan Rekaman Penjelasan Zoom Meeting Di Google Classroom Pada Siklus I
Gambar 4. Penjelasan Teknis Pelaksanaan Uji Coba Sifat-Sifat Magnet
Di Google Classroom Pada Siklus I
Gambar 5. Pengumpulan Video Pada Siklus I
Gambar 6. Tes Butir Soal di G-Form
Gambar7. Rekaman Penjelasan Siklus II Pada Zoom Meeting
Gambar 8. Video Demonstrasi Sifat-Sifat Magnet Oleh Para Siswa Pada Siklus II
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan pada kondisi awal siswa yang nilainya tuntas hanya 36
siswa dengan presentase 40% dan yang belum memenuhi KKM ada 54 siswa dengan presentase
60%. Setelah mengetahui bahwa pada saat awal pembelajaran dengan menggunakan metode
ceramah kurang efektif dalam pembelajaran maka peneliti merencanakan pembelajaran dengan
menggunakan metode discovery learning dan membagikan materi pembelajaran berupa magnet
untuk melakukan sebuah penelitian agar siswa fokus dan aktif membuktikan kebenaran materi
pembelajaran. Pada siklus I siswa yang tuntas ada 72 siswa (80%) dan yang masih dibawah
KKM ada 18 siswa (20%). Setelah siklus I pertemuan dirasa masih kurang karena masih ada
siswa yang belum tuntas, kemudian peneliti merencanakan pembelajaran siklus II. Hasil dari
siklus II hasilnya sangat memuaskan karena seluruh siswa (90 siswa) dengan presentase 100%
mendapat nilai diatas KKM dan nilai yang didapakan siswa juga sangat baik.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa melalui
penggunaan metode pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA
siswa di kelas 5 SD Narada Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat pada materi “Gaya Magnet”.
Saran
a. Bagi guru
Dengan dilaksanakannya penelitian ini guru bisa terinspirasi untuk menerapkan metode
discovery learning pada pembelajaran IPA karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar
IPA siswa dan agar pelajaran di kelas lebih variatif serta dapat menemukan konsep yang
kuat siswa dalam proses pemahaman materi pelajaran IPA.
b. Bagi siswa
Dengan digunakannya metode discovery learning para siswa diharapkan untuk lebih
memahami konsep IPA, antusias dan bergairah dalam pembelajaran di kelas karena tujuan
pembelajaran metode discovery learning adalah untuk memaksimalkan pemahaman,
meningkatkan kegiatan belajar dan rasa sosial siswa dalam pembelajaran.
c. Bagi sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hendaknya dapat memotivasi dan
menginspirasi guru agar dapat menerapkan berbagai metode pembelajaran yang variatif dan
selektif sehingga bisa memaksimalkan proses dan hasil pembelajaran serta meminimalkan
rasa jenuh siswa terhadap pembelajaran yang kurang menarik.
d. Bagi peneliti selanjutnya
Agar dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang
penggunaan metode pembelajaran discovery learning yaitu dengan membagikan materi
pembelajaran IPA dan mengajak siswa untuk merumuskan hipotesis berdasarkan apa yang
pernah dialami dan dilihat siswa sebelumnya karena akan mendorong siswa untuk tertarik
melakukan penelitian dan penemuan.
DAFTAR PUSTAKA
Aji, R.H.S. (2020). Dampak Covid-19 Pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah,
Keterampilan, dan Proses Pembelajaran. Jurnal Sosial dan Budaya Syar-I, 7 (5).
https://journal.uinjkt.ac.id/index.php/salam/article/view/15314/0
Andriana, et.al. (2020). Pembelajaran IPA Di SD Pada Masa Covid-19. Prosiding Seminar
Nasional Pendidikan FKIP UNTIRTA, 3(1).
https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/view/9961
Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Budiningsih, Ari. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta
Bruner, Jerome, S. 2007. Discovery Learning at Learning Theories. Retrieved June 10th, 2007.
Dammayanti, Setya. 2016. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPA Dengan Menggunakan
Metode Discovery Learning Pada Siswa Kelas 4 SD Negeri Kemitir 02 Kabupaten Semarang
Semester II Tahun Ajaran 2015/2016. Skripsi, Salatiga: S1 PGSD UKSW
Handayani, N. A. & Jumadi. (2021). Analisis Pembelajaran IPA Secara Daring Pada Masa
Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia.
http://jurnal.unsyiah.ac.id/JPSI/article/view/19033
Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Kristiawan, Yohanes Andri. 2012. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Pada
Mata Pelajaran IPA Dengan Menggunakan Metode Discovery di SDN Tingkir Tengah
02 Salatiga Semester II Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi, Salatiga: S1 PGSD UKSW
Sutrisno, Leo. Dkk. 2007. Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Jakarta: Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Triyanto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu: Konsep, Strategi dan Implementasinya dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Bumi Perkasa
Wiriaatmadja, Rochiati. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja
Rosdakarya