www.anakrajin.com Listoman Tanjung Payung Terbang Cerita Anak
Payung Terbang © Hak Cipta Dilindungi Undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari www.anakrajin.com. Pertama kali di terbitkan oleh : www.anakrajin.com Penulis Cerita : Listoman Tanjung Ilustrator : Dede Rahmat Tataletak : Gie Cerita ini fiktif, hanya imajinasi penulis belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Cerita Anak
Zia menatap keatas, banyak awan kelabu menggantung di langit. “Pasti akan turun hujan” katanya dalam hati. Zia berjalan semakin cepat melewati kawasan perkebunan. Gadis kecil ini baru pulang sekolah. © www.anakrajin.com 1
Benar saja, hujanpun turun dengan lebat. Zia berlari menghindari hujan dan berteduh di salah satu gubuk petani. 2 © www.anakrajin.com
Hujan semakin besar disertai guntur dan petir. Zia kuatir hujan akan turun sampai sore. Perutnya mulai pedih menahan rasa lapar. © www.anakrajin.com 3
Seorang bapak tua tampak berjalan menghampiri gubuk tempat zia berteduh. Badannya sangat pendek, mungkin kurang dari 50cm dan dagunya dipenuhi janggut lebat berwarna putih. 4 © www.anakrajin.com
Bapak kerdil ini tersenyum ramah kepada Zia, ia mengeluarkan sesisir pisang dari dalam tasnya dan memberikan kepada Zia. © www.anakrajin.com 5
“Makanlah pisang ini, pasti kamu sudah lapar” kata Bapak kerdil. Awalnya Zia agak ragu, tapi akhirnya dia menyantap pisang itu dengan lahap. 6 © www.anakrajin.com
Setelah Zia memakan beberapa pisang, bapak kerdil menyerahkan payungnya kepada Zia sambil berkata. “Pakailah payung ini, nanti kamu kemalaman”. Zia menerima payung itu dengan gembira. “Terima kasih bapak yang baik hati” kata Zia sambil tersenyum. © www.anakrajin.com 7
Sebelum Zia meninggalkan gubuk, bapak kerdil berpesan “Jika nanti payung sudah terbuka, sebutkan namaku 3x “Kurcaci, kurcaci, kurcaci”. 8 © www.anakrajin.com
Setelah berada di depan gubuk, Zia membuka payung dan langsung berkata “Kurcaci, kurcaci, kurcaci”. Tiba-tiba payung itu naik keatas mengangkat tubuh zia. Hebatnya lagi, Zia bisa dengan mudah mengarahakan payung itu ke arah yang dia inginkan. © www.anakrajin.com 9
Dengan mengendarai payung terbang, hanya dalam waktu 10 menit Zia sudah sampai di rumahnya. Zia menceritakan pengalmananya kepada kedua orangtuannya. Ayah ibunya hanya saling pandang, seakan tak percaya dengan cerita puterinya itu. 10 © www.anakrajin.com