AIR HIDUP Jumat, 24 November 2023 Baca: 1 Petrus 2:18-25 DI BALIK PENDERITAAN ORANG BENAR ”Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Tuhan menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.” 1 Petrus 2:19 Ada penderitaan sebagai akibat dari kesalahan atau dosa, ada penderitaan karena serangan Iblis, dan ada pula penderitaan yang dialami oleh seseorang justru karena ia hidup dalam kebenaran. Alkitab menyatakan jika kita berbuat baik dan karena itu kita harus menderita, maka itu adalah kasih karunia (ayat nas), “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1 Petrus 2:21). Sering kita bertanya-tanya, mengapa sudah berjuang hidup dalam kebenaran tapi masalah malah datang bertubi-tubi, yang kita alami adalah tekanan dan penderitaan, seperti yang dirasakan pemazmur, ”Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.” (Mazmur 73:13-14). Nabi Yeremia, seorang hamba Tuhan yang diutus untuk menyampaikan nubuatan kebenaran justru mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi: ”Pasyhur bin Imer, imam yang pada waktu itu menjabat kepala di rumah TUHAN, mendengar Yeremia menubuatkan perkataan-perkataan itu. Lalu Pasyhur memukul nabi Yeremia dan memasungkan dia di pintu gerbang Benyamin yang ada di atas rumah TUHAN.” (Yeremia 20:1-2). Mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi? Tuhan mengijinkan Yeremia mengalami penderitaan karena Tuhan mau memproses dan memurnikan dia, sama seperti logam emas ketika dimurnikan harus melewati ujian api; Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah api yang menghanguskan (Ulangan 4:24). Yeremia diijinkan Tuhan melewati proses dengan suatu maksud yaitu supaya ia memiliki hati yang murni (motivasi) dalam melayani pekerjaan-Nya, serta punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menyerukan pertobatan, bukan berkhotbah hanya sekedar menyenangkan telinga orang. Tuhan ijinkan orang benar mengalami penderitaan karena Tuhan hendak menuntun kita kepada pengalaman mujizat. Tuhan tidak mau kita hanya mendengar dari kata orang bahwa Tuhan itu Sumber mujizat, tetapi Ia mau kita juga mengalami mujizat-Nya sehingga hidup kita menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain!
AIR HIDUP Sabtu, 25 November 2023 Baca: Mazmur 119:113-120 BUANG SEGALA KEBIMBANGAN DI HATI “Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai.” Mazmur 119:113 Dalam menjalani hari-hari dalam hidup ini acapkali kebimbangan timbul. Masalah datang bertubi-tubi, sakit tak sembuh-sembuh, krisis keuangan dalam keluarga. Bagaimana dapat membiayai sekolah anak-anak, bagaimana masa depan mereka, dan sebagainya. Rasarasanya beban hidup kian menumpuk! Hati pun menjadi bimbang. Sebagai orang percaya kita punya Tuhan yang besar, Dia Jehovah Jireh; Dia Raja di atas segala raja, Sang empunya segalanya. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak pernah berubah kasih dan kuasaNya, Tuhan yang tidak pernah gagal untuk setiap kehendak dan rencana-Nya, yang bagi-Nya tidak ada perkara yang mustahil. Kita diingatkan dengan keras untuk tidak bimbang dalam menjalani hidup ini, ada Tuhan yang tak pernah meninggalkan dan membiarkan kita. Buang segala kebimbangan di hati dan miliki penyerahan diri kepada Tuhan! Mari belajar berserah… berserah bukanlah pasrah dan tidak berbuat apa-apa, tetapi berserah berarti kita semakin mendekat kepada Tuhan, menyerahkan segala beban dan permasalahan hidup kepada Tuhan; berserah berarti kita benar-benar hidup mengandalkan Tuhan. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8). Hidup berserah kepada Tuhan berarti kita mengijinkan Tuhan memimpin, mengatur langkah hidup kita; kita taati jalan-jalan Tuhan, maka kita akan melihat kemenangan yang telah tersedia. “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.” (Mazmur 25:10). Meskipun rasanya perjalanan hidup ini semakin hari semakin berat, teruslah melangkah dan jangan bimbang hati. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” Markus 11:23
AIR HIDUP Senin, 27 November 2023 Baca: Galatia 6:4 MENGUJI PEKERJAAN SENDIRI! “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” Galatia 6:4 Hal mudah yang dapat dilakukan semua orang adalah melihat kesalahan, kelemahan dan kekurangan orang lain. Sekecil apa pun kesalahan yang diperbuat orang lain rasanya tampak besar di mata kita. Sebaliknya, sulit sekali melihat kesalahan, kekurangan diri sendiri meski kesalahan tersebut besar. Itu adalah sifat alamiah manusia! Firman Tuhan memperingatkan, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Matius 7:1-5). Sikap membenarkan diri sendiri atau merasa benar, merasa suci, atau rohani adalah sikap yang tak terpuji dan tak berkenan di hadapan Tuhan! Perhatikan perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus (baca Lukas 18:9-14) ini: ada dua orang datang ke Bait Tuhan untuk berdoa, seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Di mata manusia orang Farisi adalah orang yang tahu kebenaran dan ahli tentang Kitab Suci, karena itu ia begitu disegani dan dihormati oleh umat Israel dikala itu. “Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” (Lukas 18:11-12). Sikap si pemungut cukai sangat berbeda: ia berdiri jauh-jauh, bahkan tak berani menengadah ke atas, tapi menundukkan kepalanya dalamdalam karena merasa diri sebagai pendosa yang tak layak menghadap Tuhan, “…kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13). Jangan melihat keberadaan orang lain, uji selalu pekerjaan sendiri!
AIR HIDUP Jumat, 15 Desember 2023 Baca: Mazmur 23:1-6 TUHAN MENYEDIAKAN YANG KUPERLU “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Mazmur 23:1 Kehidupan kekristenan itu tak selamanya seperti berada di padang rumput yang hijau dan di dekat air yang tenang. Meski demikian, kita orang percaya harus tetap percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Gembala yang baik, sebagaimana yang Tuhan Yesus Kristus katakan, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yohanes 10:11). Sebagai gembala yang baik Tuhan Yesus Kristus bukan hanya memperhatikan dan menyediakan apa yang kita perlukan, bahkan Ia rela memberikan nyawanya bagi kita. Hal itu telah dibuktikan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menebus dosa dan menyelamatkan kita. Jadi sesulit apa pun keadaan yang kita alami dan seberat apa pun tantangan yang kita hadapi tak perlu takut dan cemas, milikilah keyakinan seperti Daud ini, “...sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4). Gada dan tongkat adalah perlambang jaminan kasih dan perlindungan Tuhan bagi kita, anak-anak-Nya. Perhatikan! “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” (Mazmur 23:5). Selain menyediakan apa yang kita perlukan, Tuhan juga menjanjikan kemenangan. Piala adalah lambang kemenangan! Sekalipun harus melewati harihari yang berat, asalkan kita hidup taat, hidup mengandalkan Tuhan dan berjalan bersama Dia, kita pasti menang. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13); “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37). Banyak orang pesimis dan kuatir menghadapi hari esok karena pandangan mereka tertuju kepada situasi dunia yang semakin tidak baik, krisis terjadi di segala bidang kehidupan. Daniel, sekalipun harus mengalami tekanan hebat di negeri pembuangan di Babel, sengsarakah ia? Keteguhan iman dan ketetapan hatinya untuk hidup benar dan tidak kompromi dengan dosa membuatnya mengalami pertolongan dan pembelaan Tuhan, sekalipun ia berada di tengah-tengah bangsa yang menyembah kepada berhala. “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Mazmur 23:6
AIR HIDUP Kamis, 14 Desember 2023 Baca: Pengkhotbah 5:7-19 HARTA DUNIAWI BUKANLAH TUJUAN AKHIR "Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetepi kekenyangan orang kaya sekali-kaki tidak membiarkan dia tidur." Pengkhotbah 5:11 Setiap orang pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai. Apa yang menjadi tujuan hidup Saudara di dunia ini? Mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya? Karena kita berpikir bahwa dengan memilki harta kekayaan yang melimpah hidup kita pasti akan terjamin dan kita akan berbahagia seumur hidup kita. Siapa yang tak tau tentang Salomo? Seorang raja yang sangat terkenal dengan hikmat dan kekayaan yang melimpah justru menyatakan bahwa kekayaan duniawi adalah sia-sia. Ternyata memiliki kekayaan tidak dengan serta merta membuat orang hidup dalam kebahagiaan. "Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?" Pengkhotbah 5:10. Salomo punya pengalaman bahwa kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan mereka tidur. Orang kaya selalu tidak tenang dalam hidupnya, tidurpun tidak bisa nyenyak, sebab ia selalu memikirkan harta kekayaannya. Sungguh benar apa yang firman Tuhan katakan, "Karena dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." ( Matius 6:21). Ketidakpuasan terhadap uang dan kekayaan mendorong setiap orang untuk mencari cara bagaimana meningkatkan kekayaanya: bekerja tanpa mengenal waktu sampai lupa jam-jam doa, mengesampingkan perkara-perkara rohani. Rasul Paulus meminta Timotius memperingatkan orang-orang kaya, "Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan..." (1 Timotius 6:17). Harta kekayaan dunia bukanlah tujuan akhir hidup ini, sebab semua itu hanya sementara, dan ...kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar." (1 Timotius 6:7). Jika saat ini kita dipercaya Tuhan mengelolah harta lebih, justru ini kesempatan untuk "...berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:18-19). Apalah artinya memperoleh seluruh dunia tapi hehilangan nyawa. (Matius 6:26).
AIR HIDUP Sabtu, 16 Desember 2023 Baca: Mazmur 14:1-15 DIPERSIAPKAN UNTUK BERPERANG “Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang;” Mazmur 144:1 Mungkin kita berpikir perjalanan bangsa Israel keluar dari negeri perbudakan di Mesir menuju ke Kanaan adalah perjalanan semudah membalikkan telapak tangan, tanpa hambatan atau kendala apa pun, karena Tuhan sendiri yang menyertai dan menuntun mereka. Benarkah? Kenyataannya tidak demikian! Terlihat saat Tuhan memerintahkan Musa untuk menghitung jumlah orang-orang Israel menurut kaum atau suku yang ada, Tuhan tidak asal memilih, hanya “...yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang. Engkau ini beserta Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya masing-masing.” (Bilangan 1:3). Jadi yang dihitung adalah mereka yang berusia di atas 20 tahun dan memiliki kesanggupan atau kesiapan untuk berperang. Jelas sudah bahwa kelak bangsa Israel akan menghadapi banyak sekali penghalang dan tantangan sebelum mereka mencapai Kanaan, di mana mereka harus berhadapan dengan musuh-musuh yang harus ditaklukkan dan itu memang terbukti. Salah satu contohnya adalah saat bangsa Israel harus berperang melawan orang Amalek di Rafidim. Tuhan tidak pernah membiarkan mereka berjuang sendirian, dikalahkannya orang Amalek, karena Tuhan turun tangan menolong mereka. Jadi, perjalanan menuju ke Kanaan bukan hal mudah, melainkan sangatlah berat. Saat berada di padang gurun banyak orang Isarel mati mengenaskan. Mereka mati bukan karena dibunuh oleh musuh tetapi karena ketidakpercayaan mereka sendiri. Betapa banyak orang Kristen berpikir bahwa menjadi pengikut Kristus perjalanan hidupnya pasti mulus, tanpa rintangan, tanpa masalah, tanpa penderitaan, tanpa peperangan setiap hari. Sesungguhnya menjadi pengikut Kristus harus siap berperang setiap saat melawan kedagingan dan hawa nafsu. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23), dan berperang melawan masalah, ujian dan pencobaan. Tak mengherankan bila ada banyak orang Kristen akhirnya kecewa dan undur dari Tuhan. Siapkah Saudara untuk berperang? Tak perlu takut, Tuhan selalu ada untuk kita!
AIR HIDUP Senin, 18 Desember 2023 Baca: Mazmur 84:1-13 RUMAH TUHAN MENJADI KESUKAAN “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” Mazmur 84:2 Bagi Daud tak ada tempat yang paling ia ingini di dunia ini selain berada di rumah Tuhan. Sebagai seorang raja tentunya Daud tidak tinggal di sembarang tempat atau tinggal di rumah sederhana, melainkan tinggal di sebuah istana yang megah, yang secara manusia membuatnya merasa nyaman dan aman, karena segala yang ia perlukan tersedia di situ, tapi perhatikan pernyataan Daud ini, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11); “Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN;” (Mazmur 84:3). Mengapa Daud lebih menyukai berada di bait Tuhan? Karena saat berada di bait Tuhan inilah Daud merasakan dan mengalami hadirat Tuhan. Hadirat Tuhan dapat diartikan sebagai kehadiran Tuhan; Tuhan hadir dan melawat umat-Nya dengan segala manifestasinya. Di dalam hadirat Tuhan ada kemenangan, pemulihan, kesembuhan, sukacita, damai sejahtera, dan ada jawaban untuk setiap pergumulan yang kita alami. Kita pun patut memiliki kerinduan untuk selalu berada di bait Tuhan! Dunia ini penuh dengan masalah, tekanan, penderitaan dan air mata, namun saat kita datang kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh di bait-Nya yang kudus kita akan mengalami kehadiran Tuhan dan lawatan-Nya: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Mazmur 56:9). Namun perhatikan! Tidak semua orang dapat mengalami kehadiran Tuhan dan lawatan-Nya, sebab ada syarat yang harus dipenuhi yaitu hidup dalam kekudusan: “TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus;” (Mazmur 11:4), artinya hadirat Tuhan itu kudus, maka tanpa kekudusan hidup tidak seorang pun dapat mengalami kehadiran Tuhan dan hadirat-Nya. “...hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16); “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Mazmur 27:4
AIR HIDUP Rabu, 20 Desember 2023 Baca: Yakobus 3:1-12 MENJAGA PERKATAAN, TIDAK ASAL BICARA “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar.” Yakobus 3:5a Jangan anggap sepele ucapan atau perkataan kita! Sadar atau tidak, sengaja atau tidak, kita seringkali tidak hati-hati berkata-kata. Firman Tuhan memperingatkan, “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21). Bila kita mempergunakan mulut kita untuk memperkatakan hal-hal yang positif sesuai dengan firman Tuhan akan berdampak positif bagi hidup kita sendiri dan juga orang lain yang mendengarnya. Apalagi bila kita senantiasa memperkatakan firman Tuhan di segala situasi, kuasa firman tersebut akan bekerja di dalam kita. Dalam hal ini diperlukan adanya penguasaan diri. Bagaimana kita dapat menguasai diri dalam hal perkataan dan tidak lagi asal bicara? Sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya,” (Yosua 1:8). Jika firman Tuhan yang memenuhi perbendaharaan hati kita, maka “...semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji,” (Filipi 4:8), itulah yang akan keluar dari mulut kita. Jadi janganlah asal bicara! Sebab perkataan kita akan menentukan arah hidup kita: memimpin pada jalan yang benar atau salah, menuntun kepada masa depan yang cerah atau masa depan yang suram. Bahkan kehidupan dan kematian juga ditentukan oleh lidah kita. Seseorang yang selalu memperkatakan perkataan-perkataan yang negatif atau buruk, cepat atau lambat akan menerima akibat dari perkataannya sendiri. “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya dari yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik,...” (1 Petrus 3:10). Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan! Keputusan ada di tangan kita. “Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.” Amsal 18:20
AIR HIDUP Kamis, 21 Desember 2023 Baca: Mazmur 16:1-11 JANGAN DIKALAHKAN OLEH INDERA “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” Mazmur 16:8 Ada kalimat bijak yang menyatakan bahwa musuh terbesar itu bukan orang lain, tapi diri sendiri: your greatest enemy is yourself. Hal ini nyata benar ketika kita membiarkan diri ini dikendalikan hanya oleh indera kita daripada tunduk kepada pimpinan Roh Kudus. Secara tubuh jasmani kehidupan kita bisa dikendalikan oleh keinginan indera yang ada. Namun apa akibatnya? Kedagingan kita yang dominan sehingga kita pun terpaku pada realita atau kenyataan yang ada. Ketika arah pandangan kita tertuju pada situasi atau kenyataan yang ada kita pasti semakin lemah, yang kita bicarakan hanyalah ketidakpercayaan, keragu-raguan, kebimbangan, kemustahilan, atau segala sesuatu yang berlawanan dengan iman atau bertentangan dengan firman Tuhan… dan tanpa sadar kita sedang berjalan menuju kepada kegagalan dan kehancuran, “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” (Roma 8:6). Hanya jika kita membawa indera kita dalam penyerahan dan kendali Roh Kudus serta firman Tuhan, maka kita mampu menghadapi segala sesuatunya dengan iman, kita mampu melangkah tanpa dihantui rasa takut dan kuatir lagi. Karena itu jangan terpaku pada situasi yang ada atau masalah yang sedang kita alami, tetapi arahkanlah pandangan Saudara hanya kepada Tuhan, sebagaimana yang dilakukan Daud. “Mataku tetap terarah kepada Tuhan,” (Mazmur 25:15). Jika mata kita tetap terarah kepada Tuhan, pandangan kita terus tertuju kepada Tuhan, iman dan pengharapan kita kembali dibangkitkan. Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan! Serahkan segala imajinasi, angan-angan dan pikiran-pikiran negatif kita yang bertentangan dengan firman Tuhan dalam kendali dan pimpinan Roh Kudus sepenuhnya. Inilah yang rasul Paulus lakukan: “Kami melawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus.” (2 Korintus 10:5b); “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” (2 Korintus 4:18). “...sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat..” 2 Korintus 5:7
AIR HIDUP Jumat, 22 Desember 2023 Baca: Amsal 15:1-33 JANGAN ASAL MEMBERI JAWAB “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah.” Amsal 15:1 Betapa sering kita mendengar keluhan-keluhan dari teman atau jemaat yang merasa terluka dan tersakiti ketika mendengar perkataan-perkataan pedas dari saudara seiman lainnya. Mungkin mereka menanyakan sesuatu secara baik-baik tetapi jawaban yang diterima bernada kasar, ketus dan tajam. Hal-hal demikian benar-benar membuat orang kecewa. Dalam situasi apa pun, ketika ada orang lain bertanya kepada kita tak sepatutnya kita menjawab asal-asalan dan cenderung kurang menghargai lawan bicara. Berhati-hatilah dengan jawaban yang keluar dari mulut kita, selain bisa berdampak pada diri sendiri juga dapat memengaruhi hidup orang lain. “...perkataan yang pedas membangkitkan amarah.” (ayat nas); terkadang pula pertanyaan kita yang belum selesai langsung dipotong dengan nada marah. “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (Amsal 18:13). Kita harus bisa menjadi berkat di mana pun berada, baik lewat perkataan dan perbuatan kita. Pada saat-saat tertentu ketika kita dihadapkan pada situasi-situasi di mana ada orang-orang dan bahkan saudara seiman bertanya sesuatu kepada kita, entah itu tentang firman Tuhan, tentang masalah dan sebagainya, jangan sampai jawaban yang keluar dari mulut kita didasari hati yang tidak bersih: marah, jengkel, benci, tidak sabar atau penuh emosi. Setiap jawaban yang keluar dari mulut kita jangan sampai membuat orang lain menjadi lemah, sebaliknya jawaban haruslah selalu membangun, menghibur dan menguatkan hati orang yang mendengarnya. Agar jawaban kita senantiasa menjadi berkat dan mendatangkan damai sejahtera, kita harus meminta hikmat dari Tuhan dan pimpinan Roh Kudus sebelum memberikan jawaban. “Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu, supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu.” (Mazmur 119:41-42). Dengan hikmat yang diberikan Roh Kudus, setiap jawaban yang keluar dari mulut kita pasti mendatangkan damai sejahtera bagi yang mendengarnya! Amin.
AIR HIDUP PERSEMBAHAN TERBAIK ADALAH HIDUP KITA Minggu 24 Desember 2023 Baca: Matius 2:1-12 "...masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujut menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersebahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur." Matius 2:11 Kerinduan yang besar unruk bertemu dengan Sang Juruselamat, orang-orang Majus rela menempuh perjalanan jauh dan melelahkan dari timur ke Yerusalem. Tujuannya? "...untuk menyembah Dìa." (Matius 2:2b) Ketika mereka mendapatkan bayi Yesus merekapun langsung menyembah Dia. "Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahkan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur." (ayat nas). Orang-orang Majus itu tidak datang dengan tangan hampa melainkan membawah harta bendanya yang berharga untuk dipersembahkan kepada Tuhan berupa: emas, kemenyan dan mur. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh seriap orang percaya ketika datang kepada Tuhan Yesus, tidak datang dengan tangan hampa, tapi membawa persembahan yang terbaik bagi-Nya. Pada zaman itu emas kemenyan dan mur adalah harta yang sangat berharga, tapi mereķa rela mempersembahkannya kepada Tuhan. Emas adalah lambang kekayaan, sesuatu yang sangat berharga dalam hidup orang. Semua yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan, oleh karena itu kita harus mempergunakannya utuk kemuliaan nama Tuhan! "Muliakanlah TUHAN dengan hartmu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu (Amsal 3:9a). Kemenyan melambangkan penyembahan kita! Penyembahan yang harus menjadi persembahan yang berbau harum dihadapan Tuhan. Ini berbicara tentang persekutuan yang karib dengan Tuhan, hidup taat melakukan kehendak Tuhan, dan hidup yang menjadi berkat adalah persembahan yang harum di hadapan-Nya. Mur adalah tumbuh-tumbuhan yang rasanya pahit tapi sangat berkhasiat untuk bahan obat. Ini berbicara tentang harga yang harus dibayar untuk mengikut Tuhan. Adalah pahit dan menyakitkan secara daging ketika kita harus menyangkal diri, meninggalkan segala kenyamanan, dan melepaskan semua keterikatan dengan dunia. Sudahkan kita berkorban dan memberi persembahan yang terbaik kepada Tuhan?
AIR HIDUP TERANG DUNIA YANG MEMBERI HIDUP Senin 25 Desember 2023 Baca: Yesaya 60:1-22 "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu." Yesaya 60:1 Hari ini adalah hari yang teramat istimewa bagi kita orang percaya, yang adalah umat kepunyaan Tuhan. Mengapa? Karena janji pemulihan dan keselamatan bagi umat-Nya telah digenapi melalui lahirnya Sang Juruselamat. Ini merupakan penggenapan dari nubuat yang disampaikan nabi Yesaya. "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; (Yesaya 9:1, 5). Kehadiran Sang Juruselamat yang adalah Terang Dunia memberikan pengharapan yang pasti dan jaminan keselamatan kekal bagi orang yang percaya kepada-Nya. Ini adalah bukti kasih terbesar Bapa, yang "...telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam kegelapan, sekalipun "...kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:2). Sangat disesalkan, banyak orang menolak kehadiran Yesus Kristus Terang Dunia itu, padahal Dia datang membawa keselamatan bagi umat manusia. Ini menunjukkan bahwa "...manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang," (Yohanes 1:4). Dalam bahasa Yunani ada dua kata yang dipakai untuk kata 'hidup' yaitu bios dan zoe. Bios adalah hidup secara biologis sedangkan zoe adalah hidup ilahi, hidup dalam segala berkat ilahi. Dalam arti rohani bios tanpa zoe adalah hidup yang jauh dari hadirat Tuhan, keberadaan tanpa berkat, hidup yang berada dalam penghukuman. Siapakah yang dapat memberikan zoe kepada manusia? Hanya Yesus yang sanggup, sebab Dia adalah Sumber Hidup, di dalam Dia ada berkat, keselamatan dan hidup kekal. Tuhan Yesus datang ke dunia untuk membawa Terang dan Kehidupan. Sambut Dia!. Selamat hari Natal bagi kita semua, amin!.
AIR HIDUP Selasa, 26 Desember 2023 Baca: Yohanes 17:1-26 AKU BUKAN DARI DUNIA “Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;” Yohanes 17:16,18 Kira-kira dua ribu tahun yang lalu Bapa di sorga mengutus Putera-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus, untuk datang ke dunia ini. Jelas sekali Yesus Kristus bukan dari dunia, tapi Dia diutus Bapa ke dalam dunia (ayat nas). Kedatangan Sang Juruselamat ini sudah dinubuatkan melalui nabi Yesaya, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan Namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yesaya 9:5). Kedatangan Yesus Kristus ke dunia selain mengemban misi untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal dan memberikan hidup yang kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16), juga menjadi Raja damai, yaitu memperdamaikan manusia dengan Bapa. Manusia telah terpisah dari Bapa karena dosa dan pelanggarannya, dan untuk dapat berdamai kembali dengan Bapa ada harga yang harus dibayar, yaitu melalui kematian, dan Yesus Kristus rela datang ke dunia demi membayar harga tersebut melalui kematian-Nya di kayu salib (2 Korintus 5:18-19). Ada banyak orang yang secara terang-terangan menolak dan tak mempercayai Yesus Kristus, tak mengakui ke-Ilahian-Nya, padahal Ia datang dari sorga untuk menjadi Juruselamat bagi manusia! Bersyukurlah, kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus menjadi orang-orang yang telah dipisahkan, dikhususkan, dan dibedakan dari dunia ini karena kita menjadi umat pilihan-Nya (1 Petrus 2:9-10). Sebagai umat pilihan Tuhan kita diutus untuk melanjutkan misi Tuhan Yesus. Pemisahan dan pembedaan ini sudah kita dapati sejak masa Perjanjian Lama, di mana bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan dipisahkan dari bangsa-bangsa lain yang bukan pilihan. Di momen istimewa saat ini kita diingatkan bahwa sebagai orang percaya kita harus memiliki kehidupan yang berbeda! “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu...” (Roma 12:2). Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan dan memisahkan umat pilihan-Nya.
AIR HIDUP Rabu, 27 Desember 2023 Baca: Keluaran 25:31-40 TEMPAAN YANG MENDATANGKAN KEBAIKAN "Haruslah engkau membuat kandil dari emas murni; dari emas tempaan harus kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya--dengan tombolnya dan kembangnya--haruslah seiras dengan kandil itu.”* Keluaran 25:31 Sebelum di dalam Kristus kita adalah orang-orang berdosa yang seharusnya menerima hukuman dari Bapa. Namun Bapa telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada kita sehingga Ia rela mengutus dan memberikan Putera-Nya, Yesus Kristus, ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya (1 Yohanes 4:9). Itu adalah bukti bahwa kita berharga di mata Tuhan. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4). Jika tidak demikian Tuhan Yesus Kristus tidak perlu turun dari sorga dan mengorbankan nyawa-Nya di atas kayu salib, menyelamatkan kita. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, betapa sering kita lupa akan kasih Tuhan yang luar biasa ini, apalagi saat masalah atau kesesakan terjadi, kita langsung kecewa kepada Tuhan, “Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Ia tidak mengasihi aku!” Tak selayaknya kita berkata demikian. Tuhan ijinkan masalah atau kesesakan kita alami sebagai bagian dari proses pembentukan, karena “...Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:6- 7). Ini sama dengan kandil yang menjadi salah satu perkakas penting di dalam Kemah Suci. Kandil itu harus terbuat dari emas yang murni dan merupakan hasil tempaan. Itu artinya emas harus terlebih dahulu diproses sedemikian rupa. Ditempa berarti dipukul secara bertubi-tubi, mungkin dengan palu atau godam. Andai emas bisa bersuara pastilah ia akan berteriak karena mengalami kesakitan yang luar biasa. Namun setelah proses itu selesai, kandil dari emas tempaan itu menjadi perkakas yang indah dan menyala di Kemah Suci. Begitu pula supaya kehidupan kita seperti kandil yang menyala bagi kemuliaan nama Tuhan, kita pun harus siap mengalami ‘tempaan’ yang mungkin akan kita rasakan sakitnya. Namun jangan putus asa dan menyerah, sebab Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk menjadi karya yang indah dan luar biasa. Berhentilah mengeluh dan bersungut-sungut! Di balik ‘tempaan’ yang menyakitkan ada rencana Tuhan yang indah!
AIR HIDUP Jumat, 29 Desember 2023 Baca: Mazmur 41:1-14 MEMPERHATIKAN ORANG LEMAH, DIBERKATI TUHAN “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka.” Mazmur 41:2 Pemazmur menegaskan bahwa orang-orang yang lemah (miskin) dan tiada berdaya ada dalam perhatian Tuhan, dan Tuhan akan memberkati orang-orang yang menunjukkan kasih dan perhatiannya kepada mereka yang lemah dan membutuhkan. Bukan hanya itu, Tuhan juga akan melepaskan mereka dari kesulitan, melindungi dari marabahaya, dan memulihkan keadaannya. “TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.” (Mazmur 41:3-4). Siapa pun yang hidupnya sesuai dengan firman Tuhan pasti mengalami penggenapan janji Tuhan, salah satunya adalah ketika ia memperhatikan orang yang lemah. Sesungguhnya apa yang dituntut Tuhan bagi kita tidaklah berat, yaitu membantu orang-orang miskin dan lemah, tetapi yang menjadi persoalan adalah sering kepentingan diri sendiri (ego) kita lebih menonjol sehingga kita pun dengan sengaja menutup mata dan tak punya empati sedikit pun terhadap kesusahan orang lain. “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Hidup di zaman yang sulit seperti saat ini, di mana kasih kebanyakan orang menjadi dingin, adalah mutlak bagi kita untuk meneladani pribadi Tuhan Yesus yang kasih-Nya tidak pernah berubah, hati-Nya dipenuhi oleh belas kasihan terhadap jiwa-jiwa. Kita harus memiliki hati yang rela dan terbeban untuk menolong lain yang hidup dalam kesusahan dan kekurangan. “Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.” (Amsal 14:21); “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat... ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka,...” (Yakobus 1:27). “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” Amsal 19:17