Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 242 – Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan Direksi Pengawas. c) Syarat-syarat Pelaksanaan • Mutu beton. Mutu beton yang digunakan adalah sebagai mana tertera didalam Gambar Rencana dan harus memenuhi ketentuan-ketentuan lain sesuai dengan PBI-1971. • Pembesian. – Pembuatan tulangan harus sesuai dengan persyaratan yang tercantum pada PBI-1971. – Pemasangan tulangan beton harus sesuai dengan gambar konstruksi. Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin besi tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran dan harus bebas dari papan acuan dengan memasang beton decking sesuai dengan ketentuan dalam PBI-1971. – Besi beton yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari lapangan kerja dalam waktu 2 jam setelah ada perintah tertulis dari Direksi pengawas. • Cara pengadukan – Cara pengadukan harus menggunakan beton molen. – Takaran untuk semen portland, pasir dan koral harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pengawas dan tercapai mutu pekerjaan seperti yang ditentukan dalam uraian dan syaratsyarat. – Selama pengadukan kekentalan adukan beton harus diawasi dengan jalan memeriksa slump pada setiap campuran baru. Pengujian slump, minimum 5 cm dan maksimum 10 cm. • Pengecoran beton. – Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan persiapan dengan membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh, pemeriksaan ukuran-ukuran, ketinggian, pemeriksaan penulangan dan penempatan penahan jarak.
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 243 – Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atau persetujuan Direksi Pengawas. – Pengecoran harus dilakukan dengan sebaik mungkin dengan menggunakan alat penggetar untuk menjamin beton cukup padat dan harus dihindarkan terjadinya cacat pada beton seperti keropos dan sarang koral/split yang dapat memperlemah konstruksi. – Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada hari berikutnya maka tempat perhentian tersebut harus disetujui oleh Direksi Pengawas. • Pekerjaan Acuan/Bekisting – Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang telah ditetapkan/yang diperlukan dalam gambar. Dari papan jenis kayu yang memenuhi persyaratan dalam NI-2 pasal 5.1. – Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan perkuatanperkuatan sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan tetap pada kedudukan selama pengecoran. – Acuan harus rapat tidak bocor, permukaannya licin, bebas dari kotoran-kotoran seperti tahi gergaji, potongan-potongan kayu, tanah dan sebagainya sebelum pengecoran dilakukan dan harus mudah dibongkar tanpa merusak permukaan beton. – Tiang-tiang acuan harus diatas papan atau baja untuk memudahkan pemindahan perletakan. Tiang-tiang tidak boleh disambung lebih dari satu. Tiang-tiang dari dolken diameter 8-10 cm atau kaso 5/7 cm. – Tiang acuan 1 dengan yang lain harus diikat dengan plang papan/balok secara cross. – Pembukaan acuan baru dibuka setelah memenuhi syarat-syarat yang dicantumkan dalam PBI 1971. – Kayu yang dipakai adalah papan tebal 3 cm. – Penggunaan bekisting “formwork” harus sesuai dengan petunjuk/spesifikasi pabrik. • Kawat Pengikat
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 244 – Kawat pengikat besi beton/rangka dibuat dari baja lunak dan tidak disepuh seng, dengan diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan dalam NI-2 (PBI tahun 1971). – Pekerjaan pembongkaran acuan/bekisting hanya boleh dilaksanakan dengan izin tertulis dari Direksi Pengawas setelah bekisting dibuka, tidak diijinkan mengadakan perubahan apapun pada permukaan beton tanpa persetujuan tetulis dari Direksi Pengawas. – Pelaksana/Kontraktor bertanggung jawab atau kesempurnaan pekerjaannya sampai dengan saat-saat penyerahan selesai). – Kontraktor harus mengikuti semua peraturan, baik yang terdapat pada uraian dan syarat-syarat apapun yang tercantum dalam gambar-gambar atau peraturan yang berlaku baik dalam negeri maupun luar negeri. – Sebelum pelaksanaan pekerjaan Kontraktor harus memberikan contoh-contoh material (besi, koral/split, pasir,PC) untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi Pengawas. – Mutu beton tersebut harus dibuktikan oleh Kontraktor dengan mengambil benda uji berupa kubus – silinder yang ukurannya sesuai dengan syarat-syarat/ ketentuan dalam PBI 1971. Pembuatannya harus disaksikan oleh Direksi Pengawas dan diperiksa di laboratorium konstruksi beton yang ditunjuk Direksi Pengawas. Jumlah dn frekuensi pembuatan kubus beton serta ketentuan-ketentuan lainnya sesuai dengan PBI 1971. – Beton yang telah dicor dihindarkan dari benturan benda keras selama 3 X 24 jam setelah pengecoran. – Beton harus dilindungi dari kemungkinan cacat yang diakibatkan dari pekerja2 lain. – Bila terjadi kerusakan Kontraktor diwajibkan memperbaikinya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 245 – Bila beton setelah dicor selama dalam masa pengerasan harus selalu dibasahi dengan air terus-menerus selama 1 (satu) minggu atau lebih (sesuai ketentuan dalam PBI 1971). • Bagian-bagian yang tertanam dalam beton : – Pasang angkur dan lain-lain yang akan menjadi satu dengan beton bertulang. – Diperhatikan juga tempat untuk sparing atau instalasi • Sparing conduit dan pipa-pipa : – Letak dari sparing supaya tidak mengurangi kekuatan struktur. – Tempat-tempat dari sparing dilaksanakan sesuai dengan gambar pelaksanaan dan bila tidak ada dalam gambar, maka Kontraktor harus mengusulkan dan minta persetujuan dari Direksi Pengawas. – Bilamana sparing (pipa, conduit, dan lain-lain) berpotongan dengan tulangan besi, maka besi tidak boleh ditekuk atau dipindahkan tanpa persetujuan dari Direksi Pengawas. – Semua sparing-sparing (pipa/conduit) harus dipasanng sebelum pengecoran dan diperkuat sehingga tidak akan bergeser pada saat pengecoran beton. – Sparing-sparing harus dilindungi sehingga tidak akan terisi beton waktu pengecoran. (4) PEKERJAAN BAJA NON STRUKTURAL a) Lingkup Pekerjaan • Dalam pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan ini hingga dapat dicapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. • Pekerjaan meliputi pemasangan besi kusen, angkut tiang, pembesian plat meja, tutup septictank, tutup bak kontrol apabila dilakukan dalam bangunan ini serta seluruh detail yang disebutkan/ditunjukan dalam gambar. b) Persyaratan Bahan
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 246 • Digunakan besi beton mutu U-24 dan besi plat ST.30 diameter besi minimal 10 mm atau sesuai dengan detail gambar. Bahan yang harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat seperti serpihserpih dan sebagainya. Penampang besi beton adalah bulat atau berulir dan memenuhi syarat-syarat PBI 1971. • Kontraktor diwajibkan bila dipandang perlu memeriksa mutu bahan yang digunakan kelaboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atau biaya Kontraktor. • Pengendalian pekerjaan ini harus memenuhi : – peraturan/standar setempat yang biasa dipakai. – Peraturan beton bertulang Indonesia 197 ± (NI-2). – Peraturan Pembangunan Pemerintah Setempat. – Ketentuan-ketentuan Umum Untuk Pelaksana Pemborong Pekerjaan Umum (A.V.) no.9 tanggal 28 Mei 1941 Dan Tambahan Lembaran Negara No.14571. – Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan lisan maupun tertulis yang diberikan Direksi Pengawas. c) Syarat-syarat Pelaksanaan • Pembuatan tulangan dan pemasangan harus sesuai dengan yang ditentukan dalam gambar dan sesuai dengan persyaratan yang tercantum pada PBI 1971. • Penggunaan tulangan beton harus sesuai dengan gambar rencana. • Bila merupakan suatu rangkaian, tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin besi tersebut tidak berubah tempat selama pengecoran dan harus bebas dari papan acuan dengan memasang beton decking sesuai dengan ketentuan dalam PBI 1971. • Kawat pengikat besi beton/rangka dibuat dari baja lunak yang tidak disepuh seng, dengan diameter kawat lebih besar atau sama dengan 0,40 mm. Kawat pengikat besi beton/rangka harus memenuhi syaratsyarat yang ditentukan dalam NI-2 (PBI 1971). • Kontraktor harus bertanggung jawab atau kesempurnaan dan kebenaran dari semua pekerjaan-pekerjaan besi non struktural tanpa melalaikan semua persyaratan yang ditentukan.
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 247 • Kontraktor harus mengikuti semua peraturan, baik yang terdapat pada uraian dan syarat-syarat apapun yang tercantum dalam gambar-gambar. • Bila terjadi kerusakan Kontraktor diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak mengurangi mutu pekerjaan, seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor. • Pasangan angkur dan lain-lain harus dapat menyatu dengan adukan beton. Pemasangan harus tepat dan kuat pada tempatnya. (5) PEKERJAAN PASIR URUG PADAT a) Lingkup Pekerjaan • Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga dapat diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna. • Pekerjaan urugan pasir padat dibawah lantai (lantai dasar), bawah pondasi beton/batu serta seluruh detail yang ditunjukan dalam gambar. b) Persyaratan bahan • Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras, bebas lumpur, tanah lempung dan lain sebagainya, serta konsisten terhadap NI-3 (PUBA tahun 1970) pasal 14 ayat 3. • Air siraman digunakan air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asal alkali dan bahan-bahan organik lainnya serta memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam NI-3 pasal 10. • Apabila dipandang perlu, Direksi Pengawas dapat minta kepada Kontraktor supaya air yang dipakai untuk keperluan ini diperiksa di laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah atau biaya Kontraktor sepenuhnya. • Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi syrata-syarat yang ditentukan diatas dan harus dengan persetujuan Direksi Pengawas. c) Syarat-syarat pelaksanaan
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 248 • Pasir urug yang digunakan harus dengan persetujuan pihak Direksi Pengawas. • Pekerjaan urugan pasir dilakukan bila seluruh pekerjaan lain dibawahnya/didalamnya telah selesai dengan baik dan sempurna. • Lapisan pasir urug dilakukan lapis demi lapis, dipadatkan hingga mencapai tebal 5 cm – 10 cm, atau seperti yang disyaratkan dalam gambar. • Setiap lapis pasir urug harus diaratakan, disiram air dan dipadatkan dengan alat pemadat yang disetujui Direksi Pengawas. Pemadatan dilakukan hingga mencapai tidak kurang dari 95% dari kepadatan maksimum hasil laboratorium. • Ditempat-tempat yang sulit dilakukan pemadatan dengan alat pemadat, dapat dikerjakan dengan tenaga manusia yang disetujui Direksi Pengawas. Hasil pemadatan harus memenuhi persyaratanketentuan. • Lapisan pekerjaan diatasnya dapat dikerjakan bilamana pekerjaan urugan pasir padat telah sempurna, memenuhi semua persyaratan yang ditentukan dan sudah mendapati persetujuan Direksi Pengawas. B. PEKERJAAN STRUKTUR (1) Macam Pondasi a) Pondasi Beton Setempat/ Lajur • Pondasi beton setempat ini dibuat dengan mutu beton K250 yang ukuran serta penulangannya sesuai dengan gambar. • Sebelum pondasi dipasang diatas tanah / kepala tiang pancang harus diberi lapisan pasir urug dan lantai kerja dengan mutu beton K 100 dengan ketebalan sesuai gambar. (2) Pekerjaan Konstruksi Beton a) Beton cor di tempat • Lingkup Pekerjaan Bagian ini meliputi pengadaan bahan-bahan, peralatan, tenaga kerja dan jasa lain sehubungan dengan pekerjaan beton biasa, beton
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 249 bertulang, pondasi dan lain-lain sesuai dengan gambar persyaratan dan teknis ini. • Persyaratan Umum Kecuali disebutkan lain, maka semua pekerjaan beton harus mengikuti ketentuan seperti yang tertera dalam. – NI – 2 PBI 1971 – NI – 3 – 1970 – NI – 5 – 1961 – NI – 8 – 1974 • Bahan – bahan Dapat dibuat setempat di dalam site, dengan syarat : – Semen. Agregat dan pasir diukur menurut beratnya. – Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin. – Kecepatan mengaduk, jumlah adukan beton harus sesuai dengan rekomendasi pembuat mesin tersebut. – Mesin pengaduk yang tidak dipakai labih dari 30 menit harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipakai, ➢ Agregat Beton – Berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu dengan wet system stone crusher – Agregat beton harus sesuai dengan spesifikasi agregat beton menurut PBBI 1971 – Ukuran agregat terbesar adalah 2,5 cm – Sistem penyimpanan sedemikian rupa agar memudahkan pekerjaan dan menjaga agar tidak terjadi kontaminasi bahan yang tidak diinginkan – Agregat harus bersih dari segala kotoran, tidak melebihi 5% ➢ Agregat Kasar – Agregar kasar untuk beton harus terdiri dari butir-butir yang kasar, keras, tidak berpori dan berbentuk kubus. – Bila ada butir-butir yang pipih jumlahnya tidak boleh melebihi 20% dari jumlah berat seluruhnya.
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 250 – Agregat kasar tidak boleh mengalami pembubukan hingga melebihi 20% dari jumlah berat seluruhnya. – Agregat kasar harus bersih dari zat organis, zat reaktif alkali atau substansi yang merusak ozon. Tabel Gradasi Agregat Kasar Gradasi Saringan Ukuran % lewat saringan 1” 25 mm 100 ¾” 20 mm 90-100 3/8” 95 mm 20-55 No.4 4.76 mm 0-10 ➢ Agregat Halus – Agregar halus dapat digunakan pasir alam yang berasal dari tempat terdekat dari lokasi – Pasir harus bersih dari bahan organis, zat alkali dan substansi yang merusak beton – Pasir tidak boleh mengandung segala jenis substansi lebih dari 5% – Pasir laut tidak boleh digunakan untuk beton – Partikel harus terdiri dari partikel yang tajam dan keras – Cara dan penyimpanannya harus sedemikian rupa agar menjamin kemudahan pelaksanaan pekerjaan dan menjaga agar tidak terkontaminasi. Tabel Gradasi Agregat Halus Gradasi Saringan Ukuran % lewat saringan 3/8” 9,5 mm 100 No.4 4,76 mm 90-100 No.8 2,38 mm 80-100 No.16 1,19 mm 50-85 No.30 0,595 mm 25-65
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 251 No.50 0,297 mm 10-30 No.100 0,149 mm 5-10 No.200 0,074 mm 0-5 ➢ PC (Portland Cement) – Semen yang dipakai harus dari mutu yang diisyaratkan dalam NI-8 Bab 3.2 – Kontraktor harus mengusahakan agar satu Merek saja yang dipakai – Semen harus dibawa ke tempat pekerjaan dalam zak yang tertutup dari pabrik, dan terlindung, dan harus dalam jumlah sesuai dengan urutan pengirimannya – Semen harus disimpan di tempat rapat air dengan lantai terangkat, di tumpuk sesuai urutan pengiriman – Semen yang rusak atau tercampur apapun tidak boleh dipakai dan harus di keluarkan dari lapangan. ➢ Pembesian/Penulangan – Besi penulangan beton harus disimpan dengan cara sedemikian agar bebas dari hubungan langsung dengan tanah lembab atau basah – Besi harus disimpan berkelompok berdasarkan ukurannya masing-masing – Besi harus sesuai dengan persyaratan NI-2 Bab 3.7, yang yang menyatakan sebagai U-24 dan U-39 sesuai gambar – Besi harus bebas dari karat dan kotoran lain, apabila harus dibersihkan dengan cara disikat atau digosok tanpa mengurangi diameter penampang besi ➢ Kawat Pengikat – harus berukuran minimal diameter 1 mm seperti yang disyaratkan NI-2 Bab 3.7 ➢ Air – Air harus bersih dan jernih sesuai persyaratan NI-2 Bab 3.6
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 252 – Sebelumnya air harus diperiksa di labortorium PAM/PDAM setempat yang disetujui oleh pengawas – Kontraktor harus menyediakan air atas biaya sendiri ➢ Additive – Untuk mencapai slump yang disyaratkan, bila perlu dapat digunakan bahan additive yang disetujui oleh pengawas • Pelaksanaan Sebelum dilaksanakan, Kontraktor harus mengadakan trial test atau mixed design yang dapat membuktikan bahwa mutu beton yang diinginkan tercapai. ➢ Pengecoran Beton – Memberitahukan Direksi selambat-lambatnya 24 jam sebelum pengecoran dilaksanakan – Adukan beton tidak boleh dituang bila waktu sejak dicampurnya air pada semen dan agregat telah lebih dari 1 jam – Beton harus dicor sedemikian rupa agar terhindar dari terjadinya pemisahan material dan perubahan letak tulangan, Alat penuang seperti talang, pipa chute dan sebagainya harus selalu bersih dan bebas dari lapisan beton yang mengeras – Adukan beton tidak boleh dijatuhkan bebas lebih dari 2 meter – Penggetaran tidak boleh dilaksanakan pada beton yang telah mengeras dalam batas dimana akan terjadi plastis karena getaran. – Bila pengecoran harus berhenti sementara, dan beton sudah menjadi keras dan tidak berubah bentuk, harus dibersihkan dari lapisan air semen dan partikel yang lepas sampai suatu kedalaman yang cukup hingga tercapai beton yang padat ➢ Pemadatan beton – Kontraktor harus bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan untuk mengangkut dan membuang beton dengan kekentalan secukupnya agar didapat beton padat tanpa menggetarkan secara berlebihan
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 253 – Pelaksanaan penuangan dan penggetaran beton adalah sangat penting. Beton digetarkan dengan vibrator secukupnya dan dijaga agar tidak berlebihan – Pada daerah besi yang padat harus digetarkan dengan penggetar berfrekuensi tinggi, agar menjamin pengisian beton dan pemadatan yang baik – Penggetaran beton harus dilakukan oleh tenaga kerja yang sudah mengerti ➢ Lantai Kerja – Semua beton yang berhubungan dengan tanah dasarnya harus diurug serta padat sesuai dengan gambar – Lantai kerja menggunakan mutu beton K100 kg/cm2. ➢ Beton Rabat – Beton rabat menggunakan mutu beton K175 kg/cm2, dimana dibawahnya harus diberi pasir padat sesuai dengan gambar. Ketebalan beton rabat = 5 cm. ➢ Slump kekentalan beton untuk jenis konstruksi berdasarkan pengujian dengan PBI-1971 adalah sebagai berikut: Tabel Kekentalan beton untuk jenis konstruksi Jenis Konstruksi Slump/maks (mm) (mm)/min Kaki dan dinding pondasi 125 50 Pelat, balok dan dinding 150 75 Kolom 150 75 Pelat diatas tanah 125 50 Bila tidak digunakan alat penggetar dengan frekuensi tinggi harga tersebut diatas dapat dinaikan sebesar 50%, tetapi dalam hal apapun tidak boleh melebihi 150 mm. ➢ Penyambungan Beton dan Water Stop
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 254 Setiap penyambungan beton permukaan harus bersih dan dikasarkan dan diberi bahan bonding agent, yang dapat menjamin kontinuitas adukan beton lama dengan yang baru Tempat penyambungan pengecoran yang terletak dibawah tanah atau tempat genangan air harus diberi PVC water stop dan dipasang sesuai petunjuk ➢ Konstruksi Joint Rencana pengecoran harus dipersiapkan untuk penyelesaian satu struktur secara menyeluruh. – Dalam schedule tersebut direksi akan memberikan persetujuan dimana konstruksi joint tersebut – Permukaan konstruksi joint harus bersih dengan mengupas seluruh permukaan sampai didapat permukaan beton yang padat dengan menyemprotkan air pada permukaan beton – Bila pada sambungan terjadi retak perbaikan dilakukan dengan Concresive Process atau sejenisnya ➢ Pengujian kekuatan Beton – Selama masa pelaksanaan mutu beton harus diperiksa secara kontinu dari hasil pemeriksaan benda uji. – Paling sedikit 5 M3 beton harus dibuat 1 benda uji. – Benda uji harus diperiksa kekuatan tekannya di laboratorium yang disetujui pengawas dan biaya sepenuhnya menjadi tanggungan Kontraktor. – Mutu beton yang disyaratkan adalah K-250 ➢ Pemeriksaan Lanjutan – Bila hasil pemeriksaan tersebut diatas masih meragukan, maka pemeriksaan dilakukandengan menggunakan concrete gun atau bila perlu dengan core drilling untuk meyakinkan penilaian terhadap kualitas beton. b) CETAKAN BETON • Standar Seluruh cetakan harus mengikuti persyaratan normalisasi NI-2-1971 dan NI-3-1970
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 255 • Bahan-Bahan – Bahan pelepas acuan (releasing agent) harus sepenuhnya digunakan pada semua acuan untuk pekerjaan beton. – Cetakan untuk beton cor ditempat biasa. Bahkan cetakan harus dibuat dari logam (scafolding) terutama untuk pekrjaan balok dengan plat lantai, atau dari kayu lapis dengan diberi penguat secukupnya sehingga keseluruhan bentuk pekerjaan dapat berdiri stabil dan tidak terpengaruh oleh desakan beton pada waktu pengecoran – Rencana seluruh cetakan menjadi tanggung jawab Kontraktor – Cetakan harus sesuai dengan bentuk, ukuran batas bidang dari hasil beton yang diinginkan oleh perencana dalam gambar. – Cetakan harus sedemikian rupa menghasilkan muka beton yang rata. Untuk itu dapat digunakan cetakan dari multipleks, plat besi, atau papan dengan permukaan yang halus dan rata. – Sebelum beton dituang konstruksi cetakan harus diteliti untuk memastikan bahwa benar dalam letak, kokoh, rapat, tidak terjadi penurunan dan pengembangan pada saat beton dituang serta bersih dari segala benda yang tidak diinginkan dan kotoran. – Permukaan cetakan harus diberi minyak yang biasa diperdagangkan (form oil) untuk mencegah lekatnya beton pada cetakan – Pelaksanaannya agar hati-hati jangan terjadi kontak dengan besi yang dapat mengurangi daya lekatnya pada besi dan beton – Permukaan beton harus dibasahi dengan rata agar tidak terjadi penyerapan air beton yang baru dituang – Cetakan beton dapat dibongkar dengan persetujuan tertulis dari direksi atau jika umur beton telah melampaui waktu sebagai berikut : – Bagian sisi balok : 2 hari – Balok tanpa beban konstruksi : 7 hari – Balok dengan beban konstruksi : 21 hari – Pelat lantai/pelat atap : 21 hari
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 256 – Dengan persetujuan direksi, cetakan beton dapat dibongkar lebih awal asal benda uji yang kondisi perawatannya 75% dari kekuatan pada umur 28 hari – Segala ijin yang diberikan oleh direktur sekali-kali tidak boleh menjadi bahan untuk mengurangi/membebaskan tanggung jawab kontraktor dari adanya kerusakan-kerusakan yang timbul akibat pembongkaran cetakan tersebut. – Pembongkaran cetakan beton tersebut harus dilaksanakan dengan hati-hati sehingga tidak meninggalkan cacat pada permukaan beton dan menghasilkan sudut yang tajam, tidak pecah. – Bekas cetakan beton untuk bagian konstruksi yang terpendam dalam tanah harus dicabut dan dibersihkan sebelum dilaksanakan pengurugan tanah kembali. • Hasil Pengecoran dan Finishing – Semua permukaan beton yang dihasilkan harus rapi, bersih dan tanpa cacat, lurus dan tepat pada posisinya sesuai dengan gambar rencana. – Permukaan beton yang di finish dengan cat, tidak akan diplester lagi tetapi langsung di plamir dan cat. – Pengecatan dapat dilaksanakan setelah pengawas memeriksa dan menyatakan persetujuannya. C. PEKERJAAN ARSITEKTUR (1) Pekerjaan Dinding Batu Bata a) Lingkup Pekerjaan • Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini sehingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu dan sempurna. • Pekerjaan pasangan batu bata/bata semen ini meliputi pekerjaan dinding bangunan tebal ½ batu pada seluruh detail yang
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 257 disebutkan/ditunjukkan dalam gambar dan sesuai dengan petunjuk Direksi Pengawas. b) Persyaratan Bahan • Batu bata yang dipasang adalah dari mutu terbaik, ex lokal yang disetujui Dewan Pengawas syarat-syarat batu bata harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam NI-1 dan PUBI 1982. • Batu bata/bata merah yang digunakan ukuran 5 x 11 x 220 cm dengan mutu terbaik, siku dan sama ukuran, sama warna, sempurna pembakarannya dan disetujui Dewan Pengawas. • Semen Portland yang digunakan harus dari satu Merek produk, mutu 1 dan memenuhi syarat-syarat dalam NI-8. • Pasir aduk harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2. • Air untuk adukan pasangan, harus air yang bersih, tidak mengandung lumpur/minyak/asam basa serta memenuhi PUBI-1982 pasal 9. c) Syarat-syarat Pelaksanaan • Bahan-bahan yang digunakan sebelum dipasang, terlebih dahulu harus diserahkan contoh-contohnya kepada Direksi Pengawas, minimal 3 (tiga) contoh dari hasil produk yang berlainan, untuk mendapatkan persetujuannya. Seluruh dinding dari pasangan batu bata/bata merah tebal ½ batu dengan adukan campuran 1 pc : 4 pasir, kecuali pasangan batu bata semen raam/rapat air. • Untuk dinding semen raam/rapat air dengan adukan campuran 1 pc : 3 pasir, dipasang pada dinding dari atap permukaan sloof/balok pondasi sampai minimum 200 cm diatas permukaan lantai setempat, dan sampai setinggi 15 cm diatas permukaan lantai setempat untuk sekeliling dinding ruang-ruang basah (toilet, kamar mandi, wc) serta pasangan batu bata dibawah permukaan tanah. • Sebelum digunakan batu bata harus direndam air dalam bak atau drum hingga jenuh. • Setelah bata terpasang dengan aduk, naad/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm dan dibersihkan dengan sapu lidi dan setelah kering permukaan pasangan disiram air. Dinding batu bata sebelum
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 258 diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu dan siar-siar dibersihkan. • Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap setiap tahap maksimum 24 lapis/harinya, serta diikuti dengan cor kolom praktis. Bidang dinding batu bata setebal ½ batu yang luasnya maksimal 9 m2 harus ditambahkan kolom dan balok penguat praktis dengan kolom ukuran 12 x 12 cm. • Pelubangan akibat pembuatan perancah/steger pada pasangan bata merah sama sekali tidak diperkenankan. • Bagian pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 10 mm jarak 75 cm, yang terlebih dahulu ditanah dengan baik pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang tertanam dalam pasangan bata sekurang-kurangnya 30 cm kecuali bila satu dan lain hal ditentukan lain oleh Direksi Pengawas. • Tidak diperkenankan memasang bata merah patah dua. • Pasangan dinding batu bata tebal ½ batu harus menghasilkan dinding finish setebal 15 cm setelah diplester (lengkap acian) pada kedua belah sisinya. Pelaksanaan pasangan harus cermat, rapi dan benarbenar tegak lurus terhadap lantai serta merupakan bidang rata. • Pasangan batu bata trasraam bawah permukaan tanah / lantai harus diisi dengan adaukan 1 pc : 3 psr • Pasangan batu bata dapat diterima/diserahkan apabila deviasi bidang pada arah diagonal dinding seluas 9 M2 tidak boleh dari 0.5 Cm (sebelum diacai /diplester). Adapun toleransi terhadap as dinding yang diizinkan maksimal 1 cm (sebelum diaci/diplester).
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 259 Lampiran 3 – Spesifikasi Teknis Jasa Lainnya SPESIFIKASI TEKNIS JASA PENYELENGGARAAN STUDI BANDING DALAM RANGKA CAPACITY BUILDING PEGAWAI DI LINGKUNGAN SEKDA KABUPATEN XYZ 1. Latar Belakang Sekertariat Daerah Kabupaten XYZ memiliki tugas pokok dan kewajiban membantu bupati dalam menyusun kebijakan dan mengoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah. Sedangkan fungsi yang diemban adalah penyusunan kebijakan pemerintahan daerah; pengoordinasian pelaksanaan tugas dinas daerah dan lembaga teknis daerah; pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan pemerintahan daerah; dan pembinaan administrasi dan aparatur pemerintahan daerah. Dalam menjalankan tugas pokok, kewajiban dan fungsi di atas maka peranan jajaran SDM di lingkungan Sekertariat Daerah Kabupaten XYZ menjadi kunci utama, di mana tuntutan yang ada baik dari masyarakat, provinsi ataupun pemerintah pusat semakin berkembang seiring dengan keberadaan Kawasan terpadu di Kabupaten XYZ dalam program pembangunan strategis Nasional. Sesuai dengan program kerja Kabupaten XYZ, maka telah direncanakan untuk melakukan program pengembangan capacity building pegawai di lingkungan Sekda Kabupaten XYZ untuk memotivasi pagawai dalam meningkatkan layanan kepada para pemangku kepentingan, termasuk mendorong inovasi dalam melaksanakan fungsi terkait. Salah satu kegiatan dalam capacity building ini adalah melakukan studi banding ke Sekda Kabupaten KLM untuk melihat secara langsung inovasi-inovasi layanan yang telah diberikan selama ini sehingga banyak mendapat apresiasi baik di lingkup Regional ataupun Nasional. Pihak Event Organizer (EO) diharapkan dapat mendukung suksesnya program ini. 2. Maksud, tujuan a. Maksud Melakukan capacity building pegawai di lingkungan Sekda Kabupaten XYZ sekaligus studi banding ke Sekda Kabupaten KLM. b. Tujuan • Capacity Building
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 260 o Agar peserta mendapatkan pengetahuan baru yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas pokok, kewajiban dan fungsi Sekda. o Diharapkan meningkatkan kepercayaan diri para pegawai dalam melakukan pelayanan dan melakukan inovasi. o Menciptakan fungsi sekda yang strategis dengan memberi layanan yang proaktif dan kinerja yang baik kepada seluruh unit kerja di Kabupaten XYZ. o Menciptakan praktik unggulan dengan berinovasi dan berkelanjutan secara akuntabel untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. o Melakukan pengembangan dan pembinaan kepada seluruh pemangku kepentingan yang kompeten, berintegrasi, dan professional. • Studi banding o Menambah wawasan dan pengetahuan yang akan diterapkan di Kabupaten XYZ kedepannya untuk menjadi lebih baik. Kegiatan seperti ini tentunya diperlukan bagi perkembangan organisasi sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan sebagaimana mestinya. o Menjadikan sebuah konsep belajar yang dilakukan di lokasi dan lingkungan berbeda yang merupakan kegiatan yang lazim dilakukan untuk maksud peningkatan mutu, perluasan kompetensi, perbaikan sistem, penentuan kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan, berbagi pengalaman dan lain-lan. o Menggali sebanyak mungkin informasi yang bisa didapat secara teknis real dan empiris. Untuk dijadikan barometer dan pembanding yang kemudian masuk untuk menemukan sebuah pembaharuan yang aplikatif, sebagai referensi pelaksanaan tugas pokok, kewajiban dan fungsi Sekda, terutama pelaksanaan pelayanan yang proaktif dan berkesinambungan. 3. Sasaran a. Terlaksananya seluruh rangkaian acara capacity building selama 3 hari untuk 20 orang pejabat di lingkungan Sekertariat Daerah Kabupaten XYZ. b. Terlaksananya studi banding di Kabupaten KLM. 4. Lokasi Lokasi pelaksanaan Capacity Building dan studi banding: Kantor Sekertariat Daerah Kabupaten KLM
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 261 5. Sumber Dana dan Perkiraan Biaya Pengadaan ini dibiayai dari DPA APBD Sekertariat Daerah Kabupaten XYZ Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp. 167.296.000,- (seratus enam puluh tujuh juta dua ratus Sembilan puluh enam ribu rupiah), sudah termasuk pajak-pajak yang berlaku. 6. Pejabat Pengadaan a. Nama : ……….. b. Pangkat/Gol : ……….. c. NIP : ……….. d. Jabatan : ……….. 7. Dasar Hukum a. Undang-Undang …………. b. Peraturan …………. c. Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah d. Peraturan Daerah …………. 8. Kebutuhan peralatan dan tenaga kerja a. Peralatan Menyediakan peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung acara selama 3 hari, minimal meliputi: • Alat komunikasi antar personil EO • Alat dokumentasi digital untuk keperluan foto dan video b. Tenaga Kerja • Team leader: 1 orang • Pemandu dan pendamping peserta: 1 orang • Pengelola transportasi dan akomodasi: 1 orang • Dokumentasi foto dan video: 1 orang • Pengelola konsumsi dan logistik: 1 orang 9. Lingkup Pekerjaan a. Menyediakan fasilitas ke 20 orang peserta kegiatan capacity building selama 3 hari: • Hotel (minimal Bintang 3) yang lokasinya berdekatan dengan kantor Sekertariat Daerah Kabupaten KLM
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 262 • Penerbangan ke lokasi dengan menggunakan maskapai penerbangan Nasional kelas ekonomi, minimal Citilink atau Batik Air. • Transportasi darat • Pengurusan perijinan perjalanan • Penyediaan konsumsi (2 kali snack box, makan siang dan makan malam) yang disesuaikan dengan agenda acara • Penyiapan seragam peserta sebanyak 3 set untuk setiap peserta selama perjalanan, yang penggunaannya disesuaikan dengan agenda acara • Penyediaan doorprize untuk 3 orang pegawai terbaik Sekertariat Daerah Kabupaten XYZ pada acara penutupan • Penyediaan obat-obatan standar termasuk menyediakan akses untuk kondisi darurat • Pengelolaan bagasi dan logistik peserta. b. Mempersiapkan dan melaksanakan seluruh rangkaian acara, meliputi: • Perencanaan program dan agenda kegiatan • Pemesanan hotel, transportasi darat dan udara • Penyiapan seluruh peralatan dan logistic kebutuhan acara • Koordinasi dengan pejabat pengadaan Sekda Kabupaten XYZ dan contact person di Sekertariat Daerah Kabupaten KLM • Koordinasi dengan pengelola tempat lainnya yang akan dikunjungi • Briefing ke seluruh peserta terkait acara dan pembagian pernik acara • Mengelola proses keberangkatan dari Kantor Sekertariat Daerah Kabupaten XYZ • Memandu dan mengkoordinir seluruh rangkaian kegiatan di lokasi • Mengelola proses kepulangan sampai tiba kembali di Kantor Kabupaten XYZ 10.Tingkat layanan Penyedia dalam hal ini EO harus memberikan tingkat layanan minimal sebagai berikut: a. Kesesuaian fasilitas transportasi dan akomodasi. b. Ketepatan waktu seluruh rangkaian proses, maksimal keterlambatan 30 menit di setiap acara
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 263 c. Ketersediaan seluruh perlengkapan pada saat dibutuhkan sesuai dengan agenda acara. d. Ketersediaan obat-obatan standar bagi peserta selama melaksanakan rangkaian aktifitas. e. Ketersediaan personil sesuai dengan penugasan. 11.Keluaran a. Dokumentasi pelaksanaan kegiatan b. Laporan pelaksanaan kegiatan 12.Jadwal Pekerjaan a. Perkiraan waktu pelaksanaan Capacity Building: 29 - 31 Agustus 2019 b. Lokasi pelaksanaan Capacity Building: Kantor Sekertariat Daerah Kabupaten KLM …., …………….. 20… PA/KPA …………………………... NIP ……………………….
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 264 Lampiran 4 – KAK Jasa Konsultansi KERANGKA ACUAN KERJA JASA KONSULTAN PENGAWAS PEMBANGUNAN UNIT SEKOLAH BARU SMAN DI KECAMATAN ABC TAHUN ANGGARAN 2019 1. Latar Belakang Pentingnya suatu program pendidikan yang terstruktur dan terorganisasi dengan baik dari sekolah sangat menentukan kualitas siswa, begitu pula dengan kualitas tenaga pengajar. Salah satu aspek pendukung dari keberhasilan pendidikan adalah tersedianya sarana prasarana yang memadai, bukannya tidak mungkin kualitas serta motivasi belajar mengajar siswa dan tenaga pengajar yang baik akan menurun jika tidak di imbangi dengan sarana prasarana yang baik pula. Di tahun 2019 Dinas Pendidikan Kabupaten XYZ telah telah memprogramkan Pembangunan Unit Sekolah Baru SMAN di Kecamatan ABC yang pendanaannya bersumber dari APBD. Mengacu ke Permendiknas No. 24 Tahun 2017 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA serta Standar minimal bangunan Sekolah Menengah Atas yang dikeluarkan olek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, DirJen Pendidikan Menengah. Untuk memastikan kontraktor melaksanakan pekerjaan sesuai rencana teknis, maka perlu mendapatkan pengawasan secara teknis di lapangan. Dimana kegiatan pengawasan lapangan harus dilakukan oleh pemberi jasa pengawasan yang kompeten dan dilakukan secara penuh dengan menempatkan tenaga-tenaga ahli pengawasan di lapangan sesuai kebutuhan dan kompleksitas pekerjaan. 2. Maksud, tujuan a. Maksud Melaksanakan pengawasan pekerjaan pembangunan Unit Sekolah Baru SMAN di Kecamatan ABC yang dilakukan oleh kontraktor yang ditunjuk b. Tujuan • Memastikan kontraktor dapat melaksanakan pembangunan Unit Sekolah Baru SMAN di Kecamatan ABC sesuai dengan kualitas yang ditetapkan dan selesai tepat pada waktunya
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 265 • Mengelola setiap permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan 3. Sasaran a. Terlaksananya pekerjaan pembangunan Unit Sekolah Baru SMAN di Kecamatan ABC sesuai dengan rencana. b. Terkelolanya setiap permasalahan dalam pelaksanaan pekerjaan pembangunan. 4. Lokasi Kegiatan Kecamatan ABC Kabupetan XYZ 5. Sumber Dana dan Perkiraan Biaya Kegiatan ini dibiayai dari sumber pendanaan DPA APBD Dinas Pendidikan Kabupaten XYZ Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp. 428.161.300,- (Empat ratus dua puluh delapan juta seratus enam puluh satu ribu tiga ratus rupiah), sudah termasuk pajak-pajak yang berlaku. 6. Pejabat Pembuat Komitmen a. Nama : ……….. b. Pangkat/Gol : ……….. c. NIP : ……….. d. Jabatan : ……….. 7. Studi Terdahulu a. Untuk melaksanakan tugasnya, konsultan pengawas harus mencari sendiri informasi yang dibutuhkan selain informasi yang diberikan oleh PPK b. Konsultan pengawas harus memeriksa kebenaran infromasi yang digunakan dalam pelaksanaan tugasnya, baik yang berasal dari kegiatan maupun yang dicari sendiri. Kesalahan pengawasan/kelalaian pekerjaan sebagai akibat dari kesalahan informasi menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari konsultan pengawas. c. Informasi pengawasan antara lain: • Dokumen pelaksanaan o Gambar-gambar pelaksanaan o Rencana kerja dan syarat-syarat o Berita Acara Aanwijzing sampai dengan penunjukan kontraktor o Dokumen kontrak pelaksanaan pekerjaan konstruksi
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 266 • Jadwal pelaksanaan pekerjaan/S-Curve dari pekerjaan yang dibuat oleh kontraktor (setelah disetujui) • KAK Pengawasan • Peraturan, standar dan pedoman yang berlaku untuk pekerjaan pengawasan teknis konstruksi, termasuk petunjuk teknis pengawasan mutu pekerjaan, dll. 8. Referensi Hukum a. Undang-Undang …………. b. Peraturan …………. c. Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah d. Peraturan Daerah …………. e. Keputusan …………. 9. Persyaratan Pekerjaan Pengawasan a. PERSYARATAN UMUM PEKERJAAN Setiap bagian dari pekerjaan pengawasan harus dilaksanakan secara benar dan tuntas sampai dengan memberi hasil yang telah ditetapkan dan diterima dengan baik oleh PPK b. PERSYARATAN OBYEKTIF Pelaksanaan pekerjaan pengawasan teknis konstruksi yang obyektif untuk kelancaran pelaksanaan, baik yang menyangkut macam, kualitas, dan kuantitas dari setiap bagian pekerjaan sesuai standar hasil kerja pengawasan yang berlaku. c. PERSYARATAN FUNGSIONAL Pekerjaan pengawasan konstruksi fisik harus dilaksanakan dengan komitmen dan profesionalisme yang tinggi, sebagai konsultan Pengawas yang secara fungsional dapat mendorong peningkatan kinerja kegiatan. d. PERSYARATAN PROSEDURAL Penyelesaian administratif sehubungan dengan pekerjaan di lapangan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku. e. PERSYARATAN TEKNIS LAINNYA Selain kriteria umum diatas, untuk pekerjaan pengawasan berlaku pula ketentuan-ketentuan seperti standar, pedoman, dan peraturan yang berlaku.
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 267 10.Lingkup kegiatan Melakukan pekerjaan pengawasan secara umum, pengawasan lapangan, koordinasi dan inspeksi kegiatan-kegiatan pembangunan agar pelaksanaan teknis maupun administrasi teknis yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik sampai pekerjaan diserahterimakan. a. Pekerjaan Persiapan • Menyusun program kerja, alokasi tenaga dan konsepsi pekerjaan pengawasan. • Memeriksa Time Schedule, S-Curve, dan Net Work Planning yang diajukan oleh kontraktor pelaksana untuk selanjutnya diteruskan kepada PPK untuk mendapatkan persetujuan. b. Pekerjaan Teknis Pengawasan Lapangan • Melaksanakan pekerjaan pengawasan secara umum, pengawasan lapangan, koordinasi dan inspeksi kegiatan-kegiatan pembangunan agar pelaksanaan teknis maupun administrasi teknis yang dilakukan dapat secara terus menerus sampai dengan pekerjaan diserahkan untuk kedua kalinya. • Mengawasi kebenaran ukuran kualitas dan kuantitas dari bahan atau komponen bangunan , peralatan dan perlengkapan selama pekerjaan pelaksanaan dilapangan atau ditempat kerja lainnya. • Mengawasi kemajuan pelaksanaan dan pengambilan tindakan yang tepat dan cepat, agar batas waktu pelaksanaan minimal sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. • Memberikan masukan, pendapat teknis tentang penambahan atau pengurangan pekerjaan yang dapat mempengaruhi biaya dan waktu pekerjaan serta berpengaruh pada ketentuan kontrak, untuk mendapatkan persetujuan dari PPK. • Memberikan petunjuk, perintah sejauh tidak mengenai pengurangan dan penembahan biaya dan waktu pekerjaan serta tidak menyimpang dari kontrak, dapat langsung disampaikan kepada pelaksana, dengan pemberitahuan tertulis kepada PPK. • Memberikan bantuan dan petunjuk kepada kontraktor dalam mengusahakan perijinan sehubungan dengan pelaksanaan pembangunan
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 268 c. Konsultasi • Melakukan konsultasi ke PPK untuk membahas segalah masalah dan persoalan yang timbul selama masa pembangunan. • Mengadakan rapat lapangan secara berkala, sedikitnya dua kali dalam sebulan, dengan PPK, Perencana dan kontraktor dengan tujuan untuk membicarakan masalah dan persoalan yang timbul dalam pelaksanaan, untuk kemudian membuat risalah rapat dan mengirimkan kepada semua pihak yang bersangkutan, serta sudah diterima paling lambat 1 minggu kemudian. • Mengadakan rapat diluar jadwal rutin tersebut apabila dianggap mendesak d. Pelaporan • Memberikan laporan dan pendapat teknis maupun administratif kepada PPK, mengenai volume, prosentase dan nilai bobot bagian-bagian pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh kontraktor. • Melaporkan kemajuan pekerjaan yang nyata dilaksanakan, dan dibandingkan dengan jadwal yang telah disetujui. • Melaporkan bahan-bahan bangunan yang telah dipakai, jumlah tenaga kerja dan alat yang digunakan. • Memeriksa gambar-gambar kerja tambahan yang dibuat oleh kontraktor terutama yang mengakibatkan tambah atau berkurangnya pekerjaan, dan juga perhitungan serta gambar konstruksi yang dibuat oleh Kontraktor (Shop Drawings). e. Dokumen • Menerima dan menyiapkan Berita Acara sehubungan dengan penyelesaian pekerjaan di lapangan, serta untuk keperluan pembayaran angsuran. • Memeriksa dan menyiapkan daftar volume dan nilai pekerjaan, serta penambahan atau pengurangan pekerjaan guna keperluan pembayaran. • Mempersiapkan formulir, laporan harian, mingguan dan bulanan, Berita Acara kemajuan pekerjaan, penyerahan pertama dan kedua serta formulir-formulir lainnya yang diperlukan untuk kebutuhan dokumen pembangunan, serta keperluan pendaftaran sebagai bangunan gedung negara.
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 269 11.Keluaran a. Buku harian, yang memuat semua kejadian, perintah/petunjuk yang penting dari PPK, Kontraktor dan Konsultan Pengawas b. Laporan harian (softcopy), berisi keterangan tentang; • Tenaga Kerja • Bahan-bahan yang datang, diterima atau ditolak • Alat-alat • Keadaan cuaca • Pekerjaan-pekerjaan yang diselenggarakan • Waktu pelaksanaan pekerjaan c. Laporan mingguan (softcopy) dan bulanan (hardcopy) sebagai resume laporan harian d. Berita Acara Kemajuan Pekerjaan untuk pembayaran angsuran e. Surat Perintah Perubahan Pekerjaan dan Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan f. Gambar-gambar sesuai dengan pelaksanaan (as-built drawing) dan manual peralatan-peralatan yang dibuat oleh kontraktor pelaksana g. Laporan Rapat di lapangan (site meeting) h. Laporan Visual/Dokumentasi sesuai kemajuan pekerjaan yang dilaksanakan sampai dengan pekerjaan selesai i. Gambar rincian pelaksanaan (shop drawing) dan Time Schedule yang dibuat oleh kontraktor pelaksana j. Kelengkapan dokumen pendaftaran bangunan gedung negara lengkap dengan lampiran-lampirannya k. Laporan Akhir pekerjaan pengawasan 12.Peralatan Kerja a. Laptop, printer dan peralatan pendukung office lainnya. b. Kamera untuk mendokumentasikan kondisi/progress di lapangan c. Alat kerja yang mendukung tugas konsultan pengawas dalam memastikan kebenaran ukuran kualitas dan kuantitas bahan atau komponen bangunnan, peralatan dan perlengkapan selama pekerjaan pelaksanaan di lapangan atau di tempat kerja lainnya. 13.Jangka Waktu Penyelesaian Kegiatan
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 270 Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini adalah 180 (seratus delapan puluh) Hari Kalender sejak dikeluarkannya SPMK dan dapat disesuaikan dengan rencana kerja yang dibuat oleh pihak kontraktor pelaksana. 14.Personil Kualifikasi minimal dari tenaga ahli yang diperlukan adalah: No JABATAN JUMLAH PENDIDIKAN SKA/PENGALAMAN 1 Team Leader 1 S1 Teknik Arsitrektur SKA Ahli Arsitektur Tingkat Madya/10 tahun pengalaman 2 Tenaga Ahli SIpil/Teknik Bangunan Gedung 1 SI Teknik Sipil SKA Ahli Teknik Bangunan Gedung Tingkat Muda/5 tahun pengalaman 3 Pengawas Lapangan Bidang Sipil/Arsitektur 2 STM/SMA SKT Pelaksana Bangunan Gedung/5 tahun pengalaman 4 Administrasi/ Operator Komputer 1 SMU/SMK 2 tahun pengalaman 15.Laporan Akhir a. Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 minggu sebelum SPMK berakhir. b. Laporan final berisi seluruh Output yang wajib dihasilkan sebanyak 3 eksempar. 16.Alih Pengetahuan Jika diperlukan, penyedia Jasa Konsultansi berkewajiban untuk menyelenggarakan pertemuan dan pembahasan dalam rangka alih pengetahuan kepada Direksi/PPK dan pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten XYZ. …., …………….. 20…
Modul Jenis Kompetensi Melakukan Perencanaan PBJP Level 3 | 271 PA/KPA …………………………... NIP ……………………….