The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini memberikan informasi mengenai tips dan triks dalam melakukan anestesia regional yang aman pada pasien pediatri.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Departemen Anestesiologi UI, 2023-04-13 02:13:55

Kupas Tuntas Anestesia Regional Pediatri

Buku ini memberikan informasi mengenai tips dan triks dalam melakukan anestesia regional yang aman pada pasien pediatri.

Keywords: anestesia regional pediatri,anestesia pediatri,anestesia regional,spinal anestesia

46 Teknik 1. Untuk blok unilateral anak diposisikan pada posisi lateral dekubitus (posisi sisi prosedur atau fraktur berada di sisi atas). Sedangkan untuk blok bilateral anak dapat diposisikan duduk (bila koperatif) atau posisi pronasi 2. Tangan pasien berada di atas dengan garis imaginer aksilaris terlihat jelas. 3. Lakukan identifikasi Os. costae sesuai dengan level analgesia yang ditargetkan, tandai sebagai landmark blok. Insersi jarum pada intersection garis midaksilaris (untuk anak <10 tahun) atau pada garis scapular (untuk anak >10 tahun). Untuk target N.Intercostal 11 dan N.Subkostal (T12), posisi insersi jarum lebih medial dari garis scapular. 4. Lakukan asepsis dan antisepsis pada daerah tersebut 5. Tutup dengan menggunakan duk steril 6. Gunakan needle ukuran 22-24-G, bevel menghadap ke sefalad, lakukan pungsi tepat dibawah batas posterior Os. costae kearah sefalad (angulasi 20’) hingga puncak jarum menyentuh permukaan Os. costae dan menemukan resistensi, kemudian tarik jarum perlahan ke arah caudal, sembari melakukan aspirasi dan penyuntikan anestesi lokal 7. Lakukan hingga puncak jarum tidak lagi berada di Os. costae dan resistensi berkurang 8. Injeksi dilakukan pada 1 level diatas dan 1 level dibawah target dermatom untuk mendapatkan efek analgesia yang adekuat. Insersi dimulai dari target Os. costae terendah. Gambar 5. 9. Posisi anak untuk blok interkostal dengan garis imaginer 9. Rekomendasi dosis anestesi lokal (Ropivacaine 0.2% dan Bupivacaine 0.25%) 0.1-0.15ml/kgBB/level. Maksimum dosis 3ml per level dermatom. 10.Dikarenakan daerah interkostalis merupakan daerah dengan vaskularisasi tinggi, disarankan untuk menggunakan adjuvant epinefrine untuk mengurangi daya absorpsi. Dosis yang disarankan 4mcg/ kgBB dengan konsentrasi 1:400.000. 11. Durasi blok dapat bertahan hingga 16-18 jam pascablok (dengan Bupivacaine 0.125- 0.25%) 12.Pendekatan dengan USG : Pada setiap level interkostalis, gunakan probe perpendikular (pada garis midaksilaris atau garis skapular), identifikasi arah sefalad dan kaudal dari costae. Selain itu penting dalam mengidentifikasi rongga pleura pada saat insersi jarum. Os. costae akan tampak hiperekoik dengan bayangan dibagian dorsal dan rongga pleura dengan gambaran lebih hipoekoik berada diantara atau dibawah dari Os. costae. Neurovaskular sulit tervisualisasi, namun gambaran dari vaskularisasi dapat tergambarkan melalui doppler. Gambar 5. 10. Blok interkostalis dengan pendekatan USG 4. Blok Perifer pada Kepala dan Leher 4.1. Blok Infraorbital Blok saraf perifer memiliki berbagai keunggulan pada pasien pediatrik yang menjalani pembedahan. Insiden komplikasi pasca pemberian blok perifer pada pasien pediatrik yang menjalani anestesia umum juga semakin menurun. Penggunaan blok saraf perifer untuk prosedur bedah kepala


47 leher juga semakin meningkat. Kebanyakan yang digunakan adalah jenis blok sensorik yang relatif lebih mudah digunakan. Selain itu, blok sensorik dapat memberikan analgesia pascaoperasi yang adekuat. Mayoritas inervasi area wajah dan scalp berasal dari nervus trigeminal (nervus kranialis V) dan pleksus servikal (C2-C4). Cabang V2 Nervus Trigeminal Cabang kedua dari nervus trigeminal merupakan divisi maksila yang keluar dari foramen maksilaris atau foramen infraorbital yang terletak 2 cm dari titik tengah (biasanya sejajar dengan pupil). Saraf ini merupakan sensorik pada upper lip, choana, sinus maksilari, bagian dari nasal septum dan tip of the nose. Blok ini biasa dilakukan pada bedah cleft lip, nasal septal repair dan bedah endoskopik sinus. Teknik 1. Rute ekstraoral Jarum diarahkan ke foramen infraorbital dari lokasi eksternal. Jarum yang biasa digunakan adalah 27 G. Setelah aspirasi biasa diberikan 1-2 ml anestetik lokal. 2. Rute intraoral Rute intraoral dapat diakses melalui area subsulcal di buccal mucosa. Rute ini merupakan salah satu rute yang sering digunakan. Upper incisor atau second bicuspid akan diblok. Untuk infant yang akan dijadwalkan cleft lip repair maka dapat diberikan 0.5 ml anestetik lokal dan untuk anak yang lebih besar maka dapat diberikan 1.5-2 ml anestetik lokal. Upper lip biasanya tetap terblok sampai beberapa jam. 4.2. Blok Pleksus Servikal Superfisialis Anatomi Pleksus servikal superfisialis berasal dari nervus servikal C2, C3, dan C4. Pleksus ini mengitari bagian perut dari otot sternocleidomastoideus dan terbagi menjadi 4 cabang utama, yaitu: nervus auricularis major, nervus occipitalis minor, nervus transversus colli, dan nervus supraclavicularis. Ketika diblok, nervus ini akan memberikan analgesia pada area postauricularis, pinna, bagian anterior dari leher, dan kulit area bahu. Nervus ini mudah ditemukan di setinggi cricoid dan pada pinggir dari otot sternocleidomastoideus. Indikasi Analgesia pasca operasi kepala dan leher: tiroidektomi, minimally invasive parathyroidectomy, pembedahan timpanomastoid, anterior cervical discectomy and fusion, kraniotomi infratentorial dan oksipital, tindakan pada saluran napas, dan rekonstruksi telinga. Teknik Batas posterior dari otot sternocleidomastoideus perlu diidentifikasi terlebih dahulu. Pada tingkat C6, dapat diidentifikasi garis transversal yang membagi otot menjadi dua. Setelah dilakukan tindakan antisepsis, dapat dilakukan injeksi subkutaneus dan dibuat skin wheal. Volume anestesi lokal 0.5 hingga 2 mL dapat memberikan analgesia hingga 12 jam setelah pembedahan mastoid tanpa mual dan muntah yang dihubungkan dengan penggunaan opioid pasca pembedahan.1 46 Buku Ajar Anestesi Regional Anak yang digunakan adalah jenis blok sensorik yang relatif lebih mudah digunakan. Selain itu, blok sensorik dapat memberikan analgesia pascaoperasi yang adekuat. Mayoritas inervasi area wajah dan scalp berasal dari nervus trigeminal (nervus kranialis V) dan pleksus servikal (C2-C4). Cabang V2 Nervus Trigeminal Cabang kedua dari nervus trigeminal merupakan divisi maksila yang keluar dari foramen maksilaris atau foramen infraorbital yang terletak 2 cm dari titik tengah (biasanya sejajar dengan pupil). Saraf ini merupakan sensorik pada upper lip, choana, sinus maksilari, bagian dari nasal septum dan tip of the nose. Blok ini biasa dilakukan pada bedah cleft lip, nasal septal repair dan bedah endoskopik sinus. Teknik 1. Rute ekstraoral Jarum diarahkan ke foramen infraorbital dari lokasi eksternal. Jarum yang biasa digunakan adalah 27 G. Setelah aspirasi biasa diberikan 1-2 ml anestetik lokal. 2. Rute intraoral Rute intraoral dapat diakses melalui area subsulcal di buccal mucosa. Rute ini merupakan salah satu rute yang sering digunakan. Upper incisor atau second bicuspid akan diblok. Untuk infant yang akan dijadwalkan cleft lip repair maka dapat diberikan 0.5 ml anestetik lokal dan untuk anak yang lebih besar maka dapat diberikan 1.5-2 ml anestetik lokal. Upper lip biasanya tetap terblok sampai beberapa jam. 4.2. Blok Pleksus Servikal Superfisialis Anatomi Pleksus servikal superfisialis berasal dari nervus servikal C2, C3, dan C4. Pleksus ini mengitari bagian perut dari otot sternocleidomastoideus dan terbagi menjadi 4 cabang utama, yaitu: nervus auricularis major, nervus occipitalis minor, nervus transversus colli, dan nervus supraclavicularis. Ketika diblok, nervus ini akan memberikan analgesia pada area postauricularis, pinna, bagian anterior dari leher, dan kulit area bahu. Nervus ini mudah ditemukan di setinggi cricoid dan pada pinggir dari otot sternocleidomastoideus. Indikasi Analgesia pasca operasi kepala dan leher: tiroidektomi, minimally invasive parathyroidectomy, pembedahan timpanomastoid, anterior cervical discectomy and fusion, kraniotomi infratentorial dan oksipital, tindakan pada saluran napas, dan rekonstruksi telinga. Teknik Batas posterior dari otot sternocleidomastoideus perlu diidentifikasi terlebih dahulu. Pada tingkat C6, dapat diidentifikasi garis transversal yang membagi otot menjadi dua. Setelah dilakukan tindakan antisepsis, dapat dilakukan injeksi subkutaneus dan dibuat skin wheal. Volume anestesi lokal 0.5 hingga 2 mL dapat memberikan analgesia hingga 12 jam setelah pembedahan mastoid tanpa mual dan muntah yang dihubungkan dengan penggunaan opioid pasca pembedahan.1 Gambar 5. 11. Nervus trigeminal Gambar 5. 12. Teknik blok infraorbital Gambar 5. 12. Teknik blok infraorbital


48 Komplikasi Risiko untuk terjadi injeksi pada pleksus servikal profunda, obstruksi jalan napas, paresis nervus frenikus, dan injeksi pada struktur vaskular yang terletak dekat dengan pleksus servikal superfisialis.1,8 Artikel terkait • Teknik USG lebih superior dibandingkan teknik landmark dalam melakukan blok pleksus servikalis superfisialis pada pasien kanker yang memerlukan pemasangan port kateter. Skor VAS, jumlah percobaan, dan durasi prosedur lebih rendah signifikan pada teknik USG dibandingkan teknik landmark. Kepuasan operator lebih tinggi pada teknik USG. • Blok pleksus servikalis superfisialis aman, memiliki risiko komplikasi rendah untuk tindakan oral dan maksiofasialis. • Anestesi umum dibandingkan anestesi pleksus memberikan stabilitas hemodinamik yang lebih baik dan kepuasan pasien yang lebih tinggi, dan tanpa nyeri intraoperatif pada anterior cervical discectomy. Tetapi, pada kelompok GA waktu pembedahan dan anestesi lebih panjang, memerlukan analgesia pasca oprasi yang lebih banyak dan biaya yang lebih mahal. 4.3. Blok Saraf Palatine Blok palatal dapat digunakan sebagai anestesia lokal pada prosedur dental dan maksilofasial, seperti pada tindakan palatoplasti. Blok ini dapat mengoptimalisasi manajemen nyeri pada anak dan memberikan Gambar 5. 13. Injeksi subkutan untuk blok pleksus servikal superfisialis keuntungan berupa durasi rawat inap rumah sakit yang lebih pendek dan peningkatan kepuasan orang tua. Salah satu teknik blok palatal yang umum digunakan yaitu kombinasi blok palatina mayor dan blok nasopalatine. Saraf palatina mayor menginervasi bagian posterior dari palatum durum dan saraf nasopalatina menginervasi jaringan lunak dan padat palatum dari kaninus ke kaninus. Blok palatina mayor dapat dilakukan dengan pendekatan high tuberosity ataupun kanal palatina mayor, sedangkan blok nasopalatine dapat dilakukan dengan penetrasi tunggal dan penetrasi ganda. Penggunaan blok palatina mayor dengan pendekatan kanal palatina mayor lebih umum dilakukan oleh karena faktor keamanan dan juga kemudahan, namun kesulitan dalam melokalisasi foramen palatina mayor dengan tepat dapat menyebabkan anestesi dan analgesia yang kurang memadai. Inervasi Saraf palatina mayor dan saraf nasopalatine merupakan cabang dari ganglion pterigopalatina yang membawa saraf sensorik dari saraf maksilaris (V2) dan saraf parasimpatis dari kanal pterigoid. Saraf palatina mayor muncul dari foramen palatina mayor dan menginervasi membran mukosa dari palatum durum, bagian posteroinferior dari dinding lateral hidung, dan dinding medial dari sinus maksilaris. Selanjutnya, saraf nasopalatine muncul dari foramen sfenopalatina dan menginervasi mukosa yang mengelilingi papila incisivus dan margin gingiva dari gigi seri rahang atas. Pada sisi inferior dari kanal nasopalatina terdapat suatu pembukaan yang disebut foramen incisivus. Gambar 5. 14. Persarafan nervus palatina mayor


Blok Saraf Tepi 49 Teknik Blok nervus palatina mayor dilakukan dengan menggunakan jarum 25-27G. Agen anestesi yang dapat digunakan yaitu bupivakain 0,25% dengan dosis 1-2 ml. Blok nervus palatina mayor paling umum dilakukan dengan pendekatan foramen palatina mayor. Penelitian mengenai cara mengidentifikasi lokasi dari foramen palatina mayor telah banyak dilakukan. Beberapa cara dalam mengidentifikasi lokasi dari foramen palatina mayor, yaitu: 1. Batas posterior palatum durum dan medial dari alveolus posterior. 2. Sudut posterolateral dari tulang palatina yang berada setelah gigi molar terakhir. Perlu diingat bahwa identifikasi dengan berpatokan pada gigi molar kedua tidak dapat dilakukan karena berbeda untuk setiap ras dan kondisi, seperti periodontitis. 3. Palatum durum setinggi sudut dihedral yang dibentuk oleh lamina horizontal tulang palatina dan permukaan dalam prosesus alveolar maksila. Blok nasopalatina dilakukan dengan menggunakan jarum pendek berukuran 25- 27G dengan menggunakan teknik penetrasi tunggal maupun penetrasi ganda. Pada teknik penetrasi tunggal, penyuntikan dilakukan pada foramen incisivus pada mukosa palatal, lateral dari papila insisivus, dan terletak pada garis tengah tepat di belakang gigi seri tengah. Insersi jarum dilakukan mendekati papila insisivus pada sudut 45 derajat dengan orientasi bevel ke arah jaringan palatal. Pada blok nasopalatine dengan penetrasi ganda, insersi jarum dilakukan pada 3 lokasi, yaitu frenulum labial di antara gigi seri sentral rahang atas, papila interdental antara gigi insisivus sentralis rahang atas, dan jaringan lunak palatal di lateral papila insisivus. Komplikasi Sama seperti blok anestesi regional lainnya, penggunaan agen anestesi dengan jumlah yang besar dapat menimbulkan reaksi toksisitas. Beberapa komplikasi lain yang dapat timbul yaitu diplopia, oftalmoplegia, ptosis, dan juga parestesia persisten oleh karena trauma pada saraf V2. Pada kasus yang lebih serius, blok nervus palatina mayor dapat menyebabkan cedera pada saraf infraorbital, kebutaan yang bersifat sementara, hingga tidak sadarkan diri apabila agen anestesi berdifusi ke dalam intrakranial melalui foramen rotundum, sedangkan blok nervus nasopalatina dapat menyebabkan pemisahan mukosa dari palatum durum, hingga iskemia dan nekrosis pada mukosa. 4.4. Blok Saraf Scalp Beberapa tahun terakhir, anestesia regional (neuraksial dan blok saraf perifer) semakin populer dan semakin banyak dilakukan pada pasien pediatrik. Pada pasien pediatrik, anestesia regional tersebut umumnya dilakukan secara kombinasi dengan anestesia umum atau sedasi dengan tujuan untuk menurunkan efek samping akibat konsumsi opioid dosis tinggi intraoperasi, menjaga stabilitas hemodinamik intraoperasi saat stimulus noksius, dan efek analgesia pascaoperasi. Gambar 5. 15. Lokasi penyuntikan pada blok nervus palatina mayor ditandai dengan tanda X Gambar 5. 16. Insersi jarum pada foramen incisivus untuk teknik penetrasi tunggal 48 Buku Ajar Anestesi Regional Anak Teknik Blok nervus palatina mayor dilakukan dengan menggunakan jarum 25-27G. Agen anestesi yang dapat digunakan yaitu bupivakain 0,25% dengan dosis 1-2 ml. Blok nervus palatina mayor paling umum dilakukan dengan pendekatan foramen palatina mayor. Penelitian mengenai cara mengidentifikasi lokasi dari foramen palatina mayor telah banyak dilakukan. Beberapa cara dalam mengidentifikasi lokasi dari foramen palatina mayor, yaitu: 1. Batas posterior palatum durum dan medial dari alveolus posterior. 2. Sudut posterolateral dari tulang palatina yang berada setelah gigi molar terakhir. Perlu diingat bahwa identifikasi dengan berpatokan pada gigi molar kedua tidak dapat dilakukan karena berbeda untuk setiap ras dan kondisi, seperti periodontitis. 3. Palatum durum setinggi sudut dihedral yang dibentuk oleh lamina horizontal tulang palatina dan permukaan dalam prosesus alveolar maksila. Blok nasopalatina dilakukan dengan menggunakan jarum pendek berukuran 25- 27G dengan menggunakan teknik penetrasi tunggal maupun penetrasi ganda. Pada teknik penetrasi tunggal, penyuntikan dilakukan pada foramen incisivus pada mukosa palatal, lateral dari papila insisivus, dan terletak pada garis tengah tepat di belakang gigi seri tengah. Insersi jarum dilakukan mendekati papila insisivus pada sudut 45 derajat dengan orientasi bevel ke arah jaringan palatal. Pada blok nasopalatine dengan penetrasi ganda, insersi jarum dilakukan pada 3 lokasi, yaitu frenulum labial di antara gigi seri sentral rahang atas, papila interdental antara gigi insisivus sentralis rahang atas, dan jaringan lunak palatal di lateral papila insisivus. Komplikasi Sama seperti blok anestesi regional lainnya, penggunaan agen anestesi dengan jumlah yang besar dapat menimbulkan reaksi toksisitas. Beberapa komplikasi lain yang dapat timbul yaitu diplopia, oftalmoplegia, ptosis, dan juga parestesia persisten oleh karena trauma pada saraf V2. Pada kasus yang lebih serius, blok nervus palatina mayor dapat menyebabkan cedera pada saraf infraorbital, kebutaan yang bersifat sementara, hingga tidak sadarkan diri apabila agen anestesi berdifusi ke dalam intrakranial melalui foramen rotundum, sedangkan blok nervus nasopalatina dapat menyebabkan pemisahan mukosa dari palatum durum, hingga iskemia dan nekrosis pada mukosa. 4.4. Blok Saraf Scalp Beberapa tahun terakhir, anestesia regional (neuraksial dan blok saraf perifer) semakin populer dan semakin banyak dilakukan pada pasien pediatrik. Pada pasien pediatrik, anestesia regional tersebut umumnya dilakukan secara kombinasi dengan anestesia umum atau sedasi dengan tujuan untuk menurunkan efek samping akibat konsumsi opioid dosis tinggi intraoperasi, menjaga stabilitas hemodinamik intraoperasi saat stimulus noksius, dan efek analgesia pascaoperasi. Gambar 5. 13. Lokasi penyuntikan pada blok nervus palatina mayor ditandai dengan tanda X Gambar 5. 16. Insersi jarum pada foramen incisivus untuk teknik penetrasi tunggal


50 Scalp block termasuk blok saraf perifer yang mudah dilakukan dan aman. Penggunaannya saat ini lebih banyak dilakukan untuk analgesia pada operasi kraniotomi pasien dewasa. Namun, karena penggunaanya pada kasus operasi pasien pediatrik masih terbatas, hingga saat ini belum banyak data penelitian yang menguatkan penggunaannya pada pasien pediatrik. Anatomi Scalp diinervasi oleh cabang dari saraf trigeminal dan saraf servikalis. Cabang pertama dari saraf trigeminal, saraf oftalmika (V1), bercabang kembali menjadi saraf frontalis dan selanjutnya menjadi saraf supraorbital dan saraf supratrochlear. Kedua saraf ini menginervasi bagian dahi dan kelopak mata atas. Cabang kedua dari saraf trigeminal, maksilaris (V2), menginervasi bagian pipi (saraf infraorbital, zygomaticofacial, dan zygomaticotemporal), sedangkan cabang ketiga dari saraf trigeminalis, mandibularis (V3), bercabang menjadi aurikulotemporal dan menginervasi bibir bagian bawah, wajah bagian bawah, daun telinga, serta scalp yang berada di depan dan di atas daun telinga.1,2,3 Saraf servikalis yang menginervasi scalp yaitu akar saraf servikal kedua (C2) dan ketiga (C3). Sebagian besar scalp posterior, kecuali scalp yang berada di belakang telinga, diinervasi oleh greater occipital nerve yang berasal dari ramus C2. Scalp yang berada di belakang telinga diinervasi oleh lesser occipital nerve yang berasal dari ramus C2 dan C3. Inervasi dari saraf scalp dapat dilihat pada gambar 5.17 Gambar 5. 17. Inervasi saraf pada regio scalp Pada pasien dewasa, scalp block adalah melakukan injeksi anestesi lokal (blok) pada enam saraf yang berada di area kepala, yaitu saraf supraorbital, supratrochlear, auriculotemporal, zygomaticotemporal, greater occipital, dan lesser occipital. Pada pasien pediatrik, teknik ini dapat diadaptasi dengan membagi blok saraf menjadi area anterior (supraorbital dan supratrochlear) dan posterior (greater occipital dan lesser occipital). Gambar 5. 18. Saraf-saraf yang menjadi target blok pada scalp block pasien pediatrik Teknik Saraf yang dapat diblok pada saraf scalp yaitu saraf supraorbital, supratroklear, auriculotemporal, zigomatikotemporal, greater occipital nerve, dan lesser occipital nerve. Scalp block dapat dilakukan dengan menggunakan agen anestesi berdurasi panjang seperti bupivacaine 0,25% atau ropivacaine 0,2-0,5% (dapat ditambahkan ajuvan epinefrin 1:200.000) melalui jarum 25- 27G sepanjang 1,5 inci. Volume dari anestesi lokal yang diberikan 1-3 ml untuk setiap lokasi penyuntikan. Setelah agen anestesi lokal disuntikkan, tekanan yang lembut dapat dilakukan di area penyuntikan untuk menurunkan risiko pembentukan hematom. Lokasi insersi jarum untuk setiap blok scalp dapat dilihat pada gambar 5.18. Blok supraorbital dan supratroklear 1. Pasien diposisikan dalam keadaan supinasi. 2. Palpasi takik supraorbital pada sepertiga medial dari lengkungan supraorbital. 3. Masukan jarum pada takik tersebut n. occipitalis magnus (C2) n. occipitalis minor (C2-C3) n. auricularis magnus (C2-C3) n. kutaneous anterior leher (C2-C3) n. supraklavikularis (C2-C3) n. supraorbita n. supratroklear n. temporozigomatik n. oksipitalis magnus n. oksipitalis minor


Blok Saraf Tepi 51 sedalam 0,5-1 cm tegak lurus dengan kulit hingga menyentuh tulang. 4. Tarik jarum sedikit dan lakukan aspirasi. 5. Bila aspirasi negatif, injeksikan 1-2 ml dari agen anestesi untuk melakukan blok pada saraf supraorbital. 6. Arahkan jarum yang berada di dalam kulit ke arah medial dan masukan kembali sedalam 1 cm. 7. Bila aspirasi negatif, injeksikan 1-2 ml dari agen anestesi untuk melakukan blok pada saraf supratrochlear. Blok aurikulotemporal 1. Palpasi arteris temporalis superior yang berada 0,5-1 cm diatas tragus. 2. Masukan jarum tegak lurus kulit tepat di belakang dari arteri temporalis hingga menembus fasia temporalis yang ditandai dengan suara klik atau hilangnya resistensi, umumnya setelah mencapai kedalaman 0,5-1 cm. 3. Lakukan aspirasi, bila negatif, injeksikan 1-2 ml dari agen anestesi dibawah fasia temporalis dan 1 ml sisanya diatas fasia temporalis setelah jarum ditarik. Blok zigomaticotemporal 1. Palpasi lengkungan sepanjang arkus zigomatikus yang berada lateral dari kantus mata lateral. 2. Masukan jarum tegak lurus kulit hingga menembus fasia temporalis yang ditandai dengan suara klik atau hilangnya resistensi. 3. Lakukan aspirasi, bila negatif, injeksikan 1-2 ml dari agen anestesi dibawah fasia temporalis. Blok greater occipital nerve 1. Palpasi arteri oksipital yang berada pada tonjolan oksipital dan prosesus mastoideus. 2. Masukan jarum pada sisi medial dari arteri oksipital. 3. Lakukan aspirasi, bila negatif, injeksikan 2-3 ml dari agen anestesi. Blok lesser occipital nerve 1. Palpasi arteri oksipital yang berada pada tonjolan oksipital dan prosesus mastoideus. 2. Masukan jarum pada superior nuchal line, 1-2 cm lateral dari arteri oksipitalis. 3. Lakukan aspirasi, bila negatif, injeksikan 2-3 ml dari agen anestesi. Manfaat Pada pasien pediatrik, scalp block memiliki potensi yang besar sebagai analgesia pada operasi kraniotomi, deep brain stimulation, prosedur stereotaktik, perbaikan craniosynostosis, operasi timpanomastoid, eksisi kista dermoid, dan operasi lainnya yang dilakukan di area sekitar scalp. Pada prosedur tersebut, scalp block dapat menurunkan efek samping akibat konsumsi opioid dosis tinggi intraoperasi (PONV, depresi napas, gatal), menjaga stabilitas hemodinamik intraoperasi (terutama saat respon terhadap stimulus noksius intraoperasi seperti pemasangan pin kepala dan insisi kulit), dan mendapatkan efek analgesia pascaoperasi. Penggunaan scalp block juga dapat digunakan untuk pengobatan nyeri kronik pada kepala dan leher. Gambar 5. 19. Blok saraf supraorbital dan supratrochlear Gambar 5. 20. Blok saraf great auricular dan landmark untuk lesser auricular


52 Kontraindikasi Kontraindikasi relatif dari penggunaan teknik ini yaitu pasien dengan koagulopati. Oleh karena itu, setiap kelainan koagulasi perlu dikoreksi sebelum operasi dilakukan. Selain itu, blok saraf oksipitalis dikontraindikasikan apabila pasien memiliki defek pada tulang tengkorak.2,4 Komplikasi Komplikasi dari scalp block umumnya jarang terjadi. Injeksi anestesi lokal banyak dihubungkan dengan peningkatan akut dari konsentrasi anestesi plasma yang berujung pada terjadinya toksisitas anestesi lokal. Oleh karena itu, direkomendasikan penggunaan epinefrin untuk memaksimalkan durasi blok dan menurunkan risiko peningkatan konsentrasi anestesi plasma yang terlalu tinggi. Selain itu, dekatnya saraf wajah dengan lokasi penyuntikan pada blok scalp memungkinkan terjadinya kelumpuhan pada saraf wajah. Hal ini dapat mengganggu penilaian komplikasi berupa trauma pada saraf wajah yang disebabkan karena tindakan operasi.


53 KONTRIBUTOR _ 1. Steven Yoe 2. Bernard 3. Toni Kusumawardana 4. Hilary Tan


54 Akelma H, Salık F, Bıçak M, Erbatur M. Local Anesthesia for Port Catheter Placement in Oncology Patients: An Alternative to Landmark Technique Using Ultrasound-Guided Superficial Cervical Plexus Block—A Prospective Randomized Study. Journal of Oncology. 2019;2019:1-10. Aoun G, Zaarour I, Sokhn S, Nasseh I. Maxillary nerve block via the greater palatine canal: An old technique revisited. J Int Soc Prev Community Dent. 2015;5(5):359–64. Aunac S, Carlier M, Singelyn F, De Kock M. The Analgesic Efficacy of Bilateral Combined Superficial and Deep Cervical Plexus Block Administered Before Thyroid Surgery Under General Anesthesia. Anesth Analg. 2002;95(3):746-50. B-‐Braun, Perifix PAED , manual guide. Berde CB., Sethna NF. Analgesics for The Treatment of Pain in Children N Engl J Med 2002 ; 347 : 1094-1103. Breschan C, Krumpholz R, Jost R, Likar R. Intraspinal haematoma following lumbar epidural anaesthesia in a neonate. Paediatr Anaesth 2001; 11:105-8. Bryskin RB, Ross AK. Regional Anesthesia. In : Smith’s Anesthesia for Infants and Children, 8th ed.2006. Philadelphia ; Elsevier. p. 474-‐6. Cregg N, Conway F, Casey W. Analgesia after otoplasty: regional nerve blockade vs local anaesthetic infiltration of the ear. Can J Anaesth. 1996;43(2):141-7. Davis JP, Cladis PF. Regional Anesthesia In : Smith’s Anesthesia for Infants and Children. 9th Ed. Philadelphia:Elsevier.2017. p.22: 481-484. De Beer, D.A.H.;Thomas, M.L. Caudal additives in childrensolutions or problems? Br. J. Anaesth. 2003; 90:487-498. Desai S, Varsha R, Mudakanagoudar M, Annigeri V. Comparison between caudal epidural and ultrasound-guided ilioinguinaliliohypogastric block with bupivacaine and dexmedetomidine for postoperative analgesia following pediatric inguinal hernia surgeries: A prospective randomized, double-blind study. Journal of Anaesthesiology Clinical Pharmacology. 2021;37(3):389. Desroches, Jean, MD FRCPC. The infraclavicular brachial plexus block by the coracoid approach is clinically effective: an observational study of 150 patients. Can J Anesth 2003; 50: 253-257. El motlb E, El-Emam E. Ultrasound-guided erector spinae versus ilioinguinal/iliohypogastric block for postoperative analgesia in children undergoing inguinal surgeries. Anesthesia: Essays and Researches. 2019;13(2):274. Fitzpatrick T, Downs B. Anatomy, Head and Neck, Nasopalatine Nerve. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021. Franklyn P., Litman RS. Transient Cardiovascular Toxicity with Unintentional Intravascular Injection of 3% 2-Chloroprocaine in a 2-month-old Infant. Anesthesiology; 100:181-3, 2004. Giaufre E, Dalens B, Gombert A. Epidemiology and morbidity of regional anesthesia in children: a one-year prospective survey of the French-Language Society of Pediatric Anesthesiologists. Anesth Analg 1996; 83:904-12. Gómez-Ríos M, López-Calviño B, Vizcaíno-Martínez L. General anesthesia plus ilioinguinal nerve block versus spinal anesthesia for ambulatory inguinal herniorrhapy. Saudi Journal of Anaesthesia. 2014;8(4):523. Gray AT., Collins AB., Schafhalter-Zoppoth I. Sciatic Nerve Block in a Child: A Sonographic Approach. Anesthe Analg 2003; 97: 1300-2. Gu J, Hao C, Yan X, Xuan S. Applied analysis of ultrasound-guided ilioinguinal and iliohypogastric nerve blocks in the radical surgery of aged cervical cancer. Oncology Letters. 2017;13(3):1637- 1640. Hadzic A., Vloka. Jerry., Hadzic N., et al. Nerve Stimulators Used for Peripheral Nerve Blocks Vary in Their Electrical Characteristics. Anesthesiology 2003 ;98:969-74. Hakim T, Shah A, Teli Z, Farooq S, Kosar S, Younis M. The Safety and Effectiveness of Superficial Cervical Plexus Block in Oral and Maxillofacial Surgery as an Alternative to General Anesthesia in Selective Cases: A Clinical Study. Journal of Maxillofacial and Oral Surgery. 2017;18(1):23-29. Homer R, Walker I, Bell G. Update in Anaesthesia. WFSA. 2015;30(1). Hu KS, Kwak HH, Song WC, Kang HJ, Kim HC, Fontaine C, et al. Branching patterns of the infraorbital nerve and topography within the infraorbital space. J Craniofac Surg. 2006;17(6):1111- 5. Jagannathan N, Sohn L, Sawardekar A, et al. Unilateral groin surgery in children: will the addition of an ultrasound-guided ilioinguinal nerve block enhance the duration of analgesia of a single-shot caudal block? Paediatr Anaesth. 2009;19(1):892-8. 2009. Janzen, Petronella R. M; Vipond, Amanda J; Bush, Dudley J. A Comparison of 1% Prilocaine with 0.5% Ropivacaine for Outpatient-Based Surgery Under Axillary Brachial Plexus Block. Anesth Analg 2001; 93:187-191. Jayaraman J, Scwartz S. Greater palatine nerve block. Dental Care; 2021. Jayaraman J, Scwartz S. Nasopalatine Nerve Block. Dental Care; 2021. Kasai, T.; Yaegashi, K.; Hirose, M.; Tanaka, Y. Spinal Cord Injury in a Child Caused by an Accidental Dural Puncture with a SingleShot Thoracic Epidural Needle. Anesth Analg 2003; 96:65-7. Kim J, Ko J, Bang S, Kim H, Lee S. Cervical plexus block. Korean Journal of Anesthesiology. 2018;71(4):274-288. Kokki H, Hendolin H. Hyperbaric bupivacaine for spinal anaesthesia in 7-18 yr old children: comparison of bupivacaine 5 mg/ml in 0.9% and 8% glucose solutions. Br J Anaesth 2000; 84:59-62. Kokki, Hannu; Ylönen, Paula; Heikkinen, Marja; et al. Levobupivacaine for Pediatric Spinal Anesthesia. Anesth Analg 2004; 98:64-7. Kokki, Hannu; Ylönen, Paula; Laisalmi, Merja; et al.Isobaric DAFTAR PUSTAKA Daftar Pustaka


55 Ropivacaine 5 mg/mL for Spinal Anesthesia in Children. Anesth Analg 2005;100:66 –70. Krane, Elliot Guidelines for Pediatric Regional Anesthesia. In Pediatric Anesthesia & Pain Management; Lucile Packard Children’s Hospital 2002. Lipp AK., Woodcock J., Hensman B., Wilkinson K. Leg weakness is a complication of ilio-inguinal nerve block in children. Br. J. Anaesth. 2004; 92:273-274. Osborn I, Sebeo J. Scalp block during craniotomy: a classic technique revisited. J Neurosurg Anesthesiol. 2010;22:187-194. Read. Carlos C., Escalona M, Churion J . First 300 Cases of Pediatric Regional Anesthesia in Venezuela (caudal,Sinal and Peridural) In: The Internet Journal of Anesthesiology 2000; vol 4 no 4. Roberts F., Wilson K. Pediatric Regional Block Guidelines In : World Anesthesia Tutorial of the Week. Roberts S. Peripheral nerve blocks for children. New York: NYROSA 2021. Roberts S. Ultrasonographic guidance in pediatric regional anesthesia. Part 2: techniques. Paediatr Anaesth. 2006 Nov;16(11):1112–24. Rochette, Alain; Raux, Olivier; Troncin, Rachel; et al. Clonidine Prolongs Spinal Anesthesia in Newborns: A Prospective DoseRanging Study. Anesth Analg 2004; 98:56-9. Rose, John B. Spinal Cord Injury in a Child After Single-Shot Epidural Anesthesia. Anesth Analg 2003; 96:3-6. Rosenblatt MA. Scalp block and cervical plexus block techniques. Philadelphia: Uptodate 2021. Ross AK, Eck JB, Tobias JD, Pediatric Regional Anesthesia: Beyond the Caudal. Anesth Analg 2000;91: 16-26. Ross AK. Pediatrc Regional Anesthesia In: Motoyama EK.,Davis PJ. Eds. Smith’s Anesthesia for Infant and Children 7th ed. Philadelphia. Mosby Elsevier 2006. Sahin L, Soydinc M, Sen E, Cavus O, Sahin M. Comparison of 3 different regional block techniques in pediatric patients. Saudi Medical Journal. 2017;38(9):952-959. Satapathy AR, Coventry DM. Axillary Brachial Plexus Block. Anesthesiol Res Pract. 2011;2011:173796. Sebeo J, Osborn IP. The use of scalp block in pediatric patients. O J Anes. 2012; 2:70-73. Shah R, Suresh S. Applications of regional anaesthesia in paediatrics. British journal of anaesthesia. 2013 Dec 1;111 Suppl 1:i114–24. Sujatha C, Zachariah M, Ranjan R, George S, Ramachandran T, Pillai A. Transversus abdominis plane block versus ilioinguinal/iliohypogastric nerve block with wound infiltration for postoperative analgesia in inguinal hernia surgery: A randomized clinical trial. Anesthesia: Essays and Researches. 2017;11(4):976. Suresh S, Barcelona SL, Young NM, Seligman I, Heffner CL, Cote CJ. Postoperative pain relief in children undergoing tympanomastoid surgery: is a regional block better than opioids? Anesth Analg.2002;94(4):859-62. Suresh S, Sawardekar A, Kho M. Common Peripheral Nerve Blocks in Pediatric Patients. Anesthesiology News. McMahon Publishing; 2010. Suresh S, Templeton L. Superficial Cervical Plexus Block for Vocal Cord Surgery in an Awake Pediatric Patient. Anesth Analg. 2004;:1656-7. Swaro S, Karan D, Mahapatra P, Banerjee A. Effect of dexmedetomidine as an adjuvant to ropivacaine in ilioinguinaliliohypogastric nerve blocks for inguinal hernia repair in pediatric patients: A randomized, double-blind, control trial. Anesthesia: Essays and Researches. 2018;12(4):924. Tsui BC, Suresh S, Dicken, JB. Rectus Sheath and Transvesus Abdominal Plane (TAP) Blocks In : Pediatric Atlas of Ultrasound -and Nerve Stimulation-Guided Regional Anesthesia. 1st ed. New York: Springer 2016. p.30: 464-475 Tsui BC, Suresh S. Intercostal Nerve Blocks. In : Pediatric Atlas of Ultrasound -and Nerve Stimulation-Guided Regional Anesthesia. 1st ed. New York: Springer 2016. p.29: 456-460. Uguralp S., Mutus M., Koroqlu A.,et al, Regional anesthesia is a good alternative to general anesthesia in pediatric surgery: experience in 1554 children. J Pediatr Surg 2002; 37:610-13. Varshney R, Ray S, Sharma N. Anatomic and anaesthetic considerations of greater palatine nerve block in Indian population. Saudi J Med Med Sci. 2014;2(3):197. Verghese, Susan T.; Hannallah, Raafat S. ; Rice, Linda Jo; et al. Caudal Anesthesia in Children: Effect of Volume Versus Concentration of Bupivacaine on Blocking Spermatic Cord Traction Response During Orchidopexy. Anesth Analg 2002; 95:1219-1223. Wang H, Ma L, Yang D, Wang T, Wang Q, Zhang L et al. Cervical plexus anesthesia versus general anesthesia for anterior cervical discectomy and fusion surgery. Medicine. 2017;96(7):e6119. Williams RK.,Adams DC., Aladjem EV., et al The Safety and Efficacy of Spinal Anesthesia for Surgery in Infants: The Vermont Infant Spinal Registry. Anesth Analg 2006; 102:67-71. Willschke H, Marhofer P, Bosenberg A. Ultrasonography for ilioinguinal/iliohypogastric nerve blocks in children. Br J Anaesth. 2005;95(2):226-30. 2005. Wittum, Sabine; Hofer, Christoph K.; Rölli, Urs; et al. Sacral Osteomyelitis after Single-shot Epidural Anesthesia via the Caudal Approach in a Child. Anesthesiology 2003; 99:503-5. W Van Meter M, K Davé A. What are the possible complications of nasopalatine nerve block? Medscape; 2019. Zeidan A.; Narchi, P.; Goujard, E.; Benhamou, D. Postoperative nerve irritation syndrome after epidural analgesia in a six-yearold child Br. J. Anaesth. 2004; 92:146-148. Zwass, Maurice S., Regional Anesthesia in Children. Anesthesiology Clin N Am 2005; 23 : 815-835. Daftar Pustaka


56 UNIVERSITAS INDONESIA PUBLISHING Jl Salemba Raya No 4, Jakarta Pusat 10430 UI PUBLISHING 0818 436500 E-mail: [email protected] website: www.uipublishing.ui.ac.id Komplek ILRC Gedung B Lt 1&2 Perpustakaan Lama Universitas Indonesia Kampus UI Depok, Jawa Barat - 16424 Tel. + 62 21 7888 8199, 0812 9476 1054


Click to View FlipBook Version