KARYA TULIS
BERBENTUK :
LAPORAN
HASIL PERCOBAAN KIMIA
LAPORAM PRAKTIKUM KIMIA
Percobaan Asam Basa
Nama Kelompok :
1. Jason Leonhard / XI IPA / 10
2. Michael Sebastian / XI IPA / 14
3. Nadia Marvella / XI IPA / 15
4. Vivian Daelly / XI IPA / 23
SMA KATOLIK SANTO STANISLAUS
Jl. Kalijudan 25 – 33 Surabaya
A. Dasar Teori
Asam dan basa merupakan dua golongan zat kimia yang sangat penting. Dalam
sehari-hari, kita mengenal berbagai zat yang digolongakan sebagai asam, misalnya asam
cuka, asam sitrun, asam jawa, asam belimbing, serta “‘asam lambung”. Salah satu sifat
asam adalah rasanya masam. Kita juga mengenal berbagai zat yang kita golongkan sebaga
basa, misalnya kapur sirih, kaustik soda, air sabun, serta air abu. Salah satu sifat basa adalah
dapat melarutkan lemak. Itulah sebabnya (abu gosok) digunakan untuk mencuci piring.
Asam dan basa tentu memiliki sifat yang berbeda. Untuk menentukan sifat asam
atau basa terdapat beberapa cara. Yang pertama dapat menggunakan indikator bahan alam.
Bahan-bahan alam yang berwarna seperti bunga kembang sepatu, kulit manggis dan kunyit
dapat digunakan sebagai indikator alami. Yang kedua dapat menggunakan indikator warna,
yang akan menunjukkan sifat suatu larutan dengan perubahan warna yang terjadi. Misalnya
Lakmus, akan berwarna merah dalam larutan yang bersifat asam dan akan berwarna biru
dalam larutan yang bersifat basa. Dapat pula menggunakan indikator sintesis seperti
fenolftalein, metil merah, bromtimol biru dan masih dsb. Kemudian dengan mengukur pH.
pH merupakan suatu parameter yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman
larutan. Larutan asam memiliki pH kurang dari 7, larutan basa memiliki pH lebih dari 7,
sedangkan netral pH nya 7.
Dalam pembelajaran, siswa acap kali melakukan praktikum penentuan asam basa.
Namun dikarenakan ketersideaan indikator sintesis sering kali terbatas. Maka penggunaan
indikator alami menjadi pilihan yang praktis dn mudah digunakan.
B. Metode Praktikum
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Asam Basa dari bahan alami ini kami lakukan pada:
Hari :
Tempat :
B. Alat dan Bahan
Alat
lumpang dan alu
tabung reaksi
rak tabung reaksi
pipet tetes
tisu
Bahan
kembang sepatu
kunyit
kol ungu
cuka
air jeruk
air sabun
air kapur
aquades
C. PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
Indikator alami dapat dibuat dengan cara mengambil ekstrak dari tanaman yang akan dijadikan
indikator asam basa, yakni kembang sepatu, kunyit dan kol ungu.
Cuka dan air jeruk bersifat asam karena setelah ditetesi dengan indikator kembang sepatu
menghasilkan warna merah muda, dengan indikator kunyit memberikan warna kuning muda, dan
menghasilkan warna pink pekat ketika ditetesi dengan kol ungu.
Air sabun dan air kapur bersifat basa karena menghasilkan warna hijau setelah ditetesi indikator
kembang sepatu, berwarna coklat kehitaman dengan indikator kunyit, dan dengan indikator kol ungu
memberikan warna kuning kehijauan.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
“PERCOBAAN LILIN MENYALA DITUTUP
GELAS”
Disusun Oleh : Xmipa / 01
Agnes Pricillia Raharjo Xmipa / 02
Bernadus Christyan Reagant Utomo Xmipa / 03
Billi Martinus Aryanta Surya Xmipa / 04
Charoline Stephanie Seegho
SMA Katolik Santo Stanislaus
Jl. Kalijudan No. 25-33, Surabaya
Laporan Hasil Praktikum
Percobaan Lilin Menyala Ditutup Gelas
A. Rumusan Masalah
1. Apa yang terjadi pada lilin yang menyala setelah ditutup dengan gelas?
2. Apa yang terjadi pada air yang terdapat di piring pada saat gelas menutupi lilin yang
menyala?
3. Apakah hasil dari percobaan tesebut akan berubah jika menggunakan gelas dengan
ukuran yang berbeda?
B. Tujuan Praktikum
1. Untuk mengetahui apa yang terjadi pada lilin yang menyala setelah ditutupi gelas.
2. Untuk mengetahui apa yang terjadi pada air yang terdapat di piring pada saat gelas
menutupi lilin yang menyala.
3. Untuk mengetahui apakah hasil percobaan tersebut akan berubah jika menggunakan
gelas dengan ukuran yang berbeda.
C. Dasar Teori
Lilin yang dinyalakan akan tetap menyala selama berada pada tempat terbuka dan
cukup udara. Namun, jika lilin itu ditutupi maka dalam beberapa detik saja, lilin tersebut
akan padam karena kekurangan udara. Udara merujuk kepada campuran gas yang terdapat
pada permukaan bumi. Udara tidak tampak mata, tidak berbau, dan tidak ada rasanya.
Kehadiran udara hanya dapat dilihat dari adanya angin yang menggerakan benda. Udara
termasuk salah satu jenis sumber daya alam karena memiliki banyak fungsi bagi makhluk
hidup.
Kandungan elemen senyawa gas dan partikel dalam udara akan berubah-ubah dengan
ketinggian dari permukaan tanah. Udara terdiri dari 3 unsur utama, yaitu udara kering, uap
air, dan aerosol. Kandungan udara kering adalah 78,09% nitrogen, 20,95% oksigen, 0,93%
argon, 0,04% karbon dioksida, dan gas-gas lain yang terdiri dari neon, helium, metana,
kripton, hidrogen, xenon, ozon, radon.
Sedangkan, api adalah sesuatu yang sering kita lihat. Baik itu dalam skala kecil seperti
pada nyala korek api atau lilin, maupun dalam skala besar seperti saat terjadi kebakaran.
Peristiwa api menyala sebenarnya merupakan peristiwa pembakaran atau istilah kerennya
oksidasi. Peristiwa itu adalah persenyawaan yang terjadi antara oksigen dengan unsur lain.
Untuk dapat membuat api yang menyala, umumnya unsur yang bersenyawa dengan
oksigen itu adalah unsur karbon, seperti metana, propana, dan butana. Unsur itu jika
bereaksi dengan oksigen dapat menghasilkan panas dengan suhu tinggi dan juga pancaran
energi yang menyala-nyala yang kita lihat sebagai api. Sehingga api akan menyala bila
terdapat oksigen, yang bereaksi bersamaan dengan reaksi yang dikeluarkan oleh lilin.
D. Hipotesis
1. Lilin yang menyala akan padam ketika ditutup oleh gelas.
2. Air yang terdapat di piring akan terserap masuk ke dalam gelas.
3. Tidak akan ada perubahan hasil dari percobaan tersebut meskipun menggunakan gelas
dengan ukuran yang berbeda.
E. Variabel
Variable bebas : ukuran gelas yang digunakan
Variable terkendali : kecepatan lilin padam
Variable terkontrol : volume air 100 ml
F. Alat dan Bahan
ALAT
Gelas kaca kecil dan besar Korek api Piring
BAHAN
Lilin Air Pewarna
G. Prosedur Percobaan 1 KETERANGAN
Letakkan sebuah piring di atas
NO GAMBAR/FOTO
lantai/meja
1
Ambil lilin dan korek api kemudian
2 nyalakan lilinnya
Letakkan lilin yang telah menyala tadi
3 di atas piring
Tuang air yang telah dicampur
4 pewarna ke atas piring
Ambil gelas kaca lalu letakkan secara
5 terbalik untuk menutupi lilin
Setelah tertutup, lilin semakin lama
akan meredup dan dalam 3 detik lilin
6 itu pun padam. Air warna yang berada
di atas piring pun terserap semua ke
dalam gelas
H. Prosedur Percobaan 2
NO GAMBAR/FOTO KETERANGAN
1 Ulangi langkah nomor 1-4 pada percobaan 1
Ambil gelas kaca yang lebih besar
2 lalu letakkan secara terbalik untuk
menutupi lilin
Setelah tertutup, lilin semakin lama
akan meredup dan padam dalam 8
3 detik. Air warna yang terserap masuk
ke dalam gelas lebih tinggi
dibandingkan dengan yang ada di luar
I. Data Hasil Praktikum
Percobaan 1
Gambar 1 Gambar 2 Tetap Keterangan
Padam
Menyala
Lilin akan padam
ketika tertutup rapat
oleh gelas kaca dalam
3 detik
Gambar 1 Gambar 2 Terserap Tetap Keterangan
Setelah gelas menutupi
lilin menyala, semua
airnya akan terserap
masuk ke dalam gelas
Percobaan 2 Gambar 2 Padam Tetap Keterangan
Gambar 1 Menyala
Lilin akan padam ketika
tertutup rapat oleh gelas
kaca dalam 8 detik
Gambar 1 Gambar 2 Terserap Tetap Keterangan
Setelah gelas menutupi
lilin menyala, air yang
terserap masuk ke dalam
gelas akan lebih tinggi
dibandingkan air yang
berada di luar gelas.
J. Pembahasan
Ketika lilin yang menyala di tutup dengan gelas, apinya semakin lama akan semakin
redup bahkan padam. Hal ini disebabkan karena kadar oksigen yang diperlukan dalam
proses pembakaran tidak mencukupi. Oksigen yang ada di dalam gelas akan terus
berkurang karena digunakan dalam proses pembakaran lilin. Saat oksigen di dalam gelas
habis, maka api akan benar-benar padam karena tidak dapat lagi melakukan proses
pembakaran.
Molekul oksigen yang hilang karena proses pembakaran mengakibatkan tekanan
udara di dalam gelas lebih kecil jika dibandingkan dengan yang ada di luar gelas. Hal itu
membuat tekanan udara mengalir dari luar ke dalam gelas. Selain itu, kurangnya oksigen
di dalam gelas akan menyebabkan tekanan udaranya menjadi turun. Hal ini mengakibatkan
air yang ada di piring terserap masuk ke dalam gelas. Air yang berada di dalam gelas
cenderung naik lebih tinggi daripada air yang ada di luar gelas.
K. Pertanyaan dan Jawaban
1) Bagaimana cara menentukan hipotesis?
Hipotesis merupakan dugaan sementara. Ketika akan meneliti sesuatu, kita
harus membuat dugaan terlebih dahulu. Masalah benar atau salah dari dugaan
tersebut tidak perlu dipikirkan karena akan dibuktikan setelah melakukan
percobaan.
Saat melakukan percobaan kita mencatat, mengolah, dan menganalisis data
sehingga mendapatkan hasil. Dari hasil percobaan tersebut kita bisa menarik
kesimpulan apakah hipotesis tadi benar atau salah. Untuk percobaan “Lilin
Menyala Ditutup Gelas” ini harus ada 2 buah gelas yang digunakan.
2) Bagaimana cara menentukan variabel bebas, variabel terkendali, dan variabel
terkontrol?
Dalam merumuskan hipotesis, kita menggunakan banyak variabel diantaranya,
yaitu variabel bebas, variabel terkendali, dan variabel terkontrol.
Percobaan “Lilin Menyala Ditutup Gelas” :
Sebuah lilin menyala diletakkan di atas piring yang diisi air sebanyak 100 ml,
ditutup oleh gelas kaca secara terbalik. Ketika menggunakan gelas berukuran
kecil, lilin padam dalam waktu 3 detik. Ketika menggunakan gelas berukuran
lebih besar, lilin padam dalam waktu 8 detik.
Variabel bebas :
Ukuran gelas yang bisa diubah-ubah sesuai keinginan kita itulah yang disebut
variabel bebas.
Variabel terkendali :
Kecepatan lilin padam yang harus kita tentukan sebelumnya itulah yang disebut
variabel terkendali.
Variabel terkontrol :
Volume air 100 ml yang harus kita kontrol dalam percobaan itulah yang disebut
variabel terkontrol.
L. Kesimpulan
Melalui praktikum ini, dapat dibuktikan bahwa hipotesis satu dan dua tepat. Lilin yang
menyala ketika ditutup oleh gelas akan padam, karena tidak adanya udara di sekeliling api.
Air yang berada di piring juga akan ikut terserap ke dalam gelas karena rendahnya tekanan
udara di dalam gelas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa udara merupakan faktor penting
dalam pembakaran karena api tidak akan bisa menyala tanpa adanya udara.
Sedangkan hipotesis tiga kurang tepat. Perbedaan ukuran gelas, seperti perbedaan
tinggi dan diameter gelas ternyata dapat menyebabkan perbedaan terhadap hasil
percobaan. Semakin besar diameter gelas akan semakin mudah menyerap air ke dalamnya.
Sedangkan, semakin tinggi gelas maka udara di dalam gelas pun akan jauh lebih banyak
sehingga akan semakin sedikit air yang terserap masuk ke dalam gelas. Hal ini lah yang
menyebabkan terjadinya perbedaan waktu dan tinggi air yang masuk ke dalam gelas antara
percobaan pertama dan kedua.
M.Penutup dan Saran
Dalam percobaan dan penyusunan laporan kali ini, mungkin kami masih melakukan
kesalahan dan ada kekurangan dalam meneliti. Namun, kami berharap laporan hasil
praktikum kami ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca sekalian.
Saran dari kami, bagi yang hendak melakukan percobaan “lilin menyala ditutup gelas”
seperti yang sudah kami lakukan ini, harus lebih teliti agar dapat menghasilkan hasil yang
sesuai dan akurat. Sekian laporan hasil praktikum ini kami sampaikan terima kasih.
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
LARUTAN ELEKTROLIT
DAN
NON ELEKTROLIT
Anggota Kelompok :
1. M. Vallen Soepatra
2. Sondang P
3. Alfredo Calvin Adolf
4. Joshua Christian Lesmana
5. Jonathan Nelson Susanto
SMA KATOLIK ST STANISLAUS
Jl. Kalijudan 25 – 33 Surabaya
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Pengetahuan mengenai larutan sangat penting, karena sebagian besar reaksi kimia
dan biologis terjadi dalam bentuk cairan, terutama dalam bentuk larutan dengan pelarut
air. Larutan dapat didefinisikan sebagai suatu system homogen yang terdiri dari dua
komponen atau lebih. Terdapat banyak tipe larutan yang berlainan. Salah satunya dapat
dibedakan berdasarkan kemampuannya menghantarkan arus litrik. Larutan yang dapat
menghantarkan arus listrik disebut larutan elektrolit. sedangkan larutan yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik disebut larutan non elektrolit.
Apa yang kita lakukan untuk membedakan larutan elektrolit dengan larutan non
elektrolit ? Pernahkah kita menguji daya hantar listrik suatu larutan ? Daya hantar listrik
tersebut dapat dilihat dari menyala atau tidaknya lampu yang digunakan pada alat uji.
Jika pada pengujian tersebut ternyata lampunya menyala, hal itu menunjukkan larutan
tersebut bersifat elektrolit.
Larutan memiliki peran besar dalam kehidupan sehari-hari beberapa contoh
diantaranya seperti air mineral yang kita konsumsi sehari-hari, larutan elektrolit, dan air
garam. Selain itu kita sering tidak menyadari bahwa ternyata larutan-larutan di atas bisa
menghantarkan listrik jika disambungkan dengan alat uji tertentu.
Larutan berdasarkan daya hantar listriknya terbagi atas dua yaitu larutan elektrolit
dan non-elektrolit.zat –zat elektrolit dibagi menjadi dua kelompok yaitu elektrolit kuat
dan elektrolit lemah.
b. Tujuan
Pembuatan laporan ini bertujuan untuk :
1. Mengenal alat-alat laboratorium kimia
2. Menguji daya hantar listrik suatu larutan
3. Mengelompokan larutan-larutan sebagai larutan elektrolit dan non elektrolit
4. Mengelompokan larutan elektrolit kuat dan larutan elektrolit lemah
c. Manfaat Percobaan
Manfaat dari percobaan ini adalah praktikan dapat megenali dan mengetahui cara
kerja serta fungsi dari alat-alat yang ada di laboratorium kimia, dapat mengetahui zat
kimia yang mengandung elektrolit dan yang tidak mengandung elektrolit.
BAB II
Dasar Teori
Larutan adalah campuran homogen dua zat atau lebih yang saling melarutkan dan
masing-masing zat penyusunnya tidak dapat dibedakan lagi secara fisik. Zat yang jumlahnya
lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang jumlahnya
lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solven. Komposisi zat
terlarut dan pelarut dalam larutan ini dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses
pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi.
Contoh larutan yang umum dijumpai adalah padatan yang dilarutkan dalam cairan,
seperti garam atau gula dilarutkan dalam air. Gas juga dapat pula dilarutkan dalam cairan,
misalnya karbon dioksida atau oksigen dalam air. Selain itu, cairan dapat pula larut dalam
cairan lain, sementara gas larut dalam gas lain. Terdapat pula larutan padat,
misalnya aloi (campuran logam) dan mineral tertentu.
Larutan elektrolit adalah Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Svante
Arrhenius, ahli kimia terkenal dari Swedia mengemukakan teori elektrolit pada tahun 1884.
Menurut Arrhenius, ‘‘larutan elektrolit dalam air terdisosiasi ke dalam partikel-partikel
bermuatan listrik positif dan negatif yang disebut ion (ion positif dan ion negatif) Jumlah
muatan ion positif akan sama dengan jumlah muatan ion negatif, sehingga muatan ion-ion
dalam larutan netral’’ Ion-ion inilah yang bertugas mengahantarkan arus listrik.
Larutan ini memberikan gejala berupa menyalanya lampu atau timbulnya gelembung
gas dalam larutan. Larutan elektrolit mengandung partikel-partikel yang bermuatan (kation
dan anion). Berdasarkan percobaan yang dilakukan oleh Michael Faraday, diketahui bahwa
jika arus listrik dialirkan ke dalam larutan elektrolit akan terjadi proses elektrolisis yang
menghasilkan gas. Gelembung gas ini terbentuk karena ion positif mengalami reaksi reduksi
dan ion negatif mengalami oksidasi. Contoh, pada laruutan HCl terjadi reaksi elektrolisis
yang menghasilkan gas hidrogen sebagai berikut.
HCl(aq)→ H+(aq) + Cl-(aq)
Reaksi reduksi : 2H+(aq) + 2e- → H2(g)
Reaksi oksidasi : 2Cl-(aq) → Cl2(g) + 2e-
Larutan elektrolit dapat dibedakan menjadi tiga yaitu larutan elektrolit kuat , larutan
elektrolit lemah dan non elektrolit.
a. Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan baik.
Hal ini disebabkan karena zat terlarut akan terurai sempurna (derajat ionisasi = 1)
menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut banyak mengandung ion-ion. Karena
banyak ion yang dapat menghantarkan arus listrik, maka daya hantarnya kuat.
Contohnya: NaCl
b. Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan
lemah. Hal ini disebabklan karena zat terlarut akan terurai sebagian (derajat ionisasi = 0
< α < 1) menjadi ion-ion sehingga dalam larutan tersebut sedikit mengandung ion. Hal
ini disebabkan tidak semua terurai menjadi ion-ion (ionisasi tidak sempurna) sehingga
dalam larutan hanya ada sedikit ion-ion yang dapat menghantarkan arus listrik.
Contohnya: air biasa, dan NH3
c. Pada larutan non elektrolit, molekul-molekulnya tidak terionisasi dalam larutan,
sehingga tidak ada ion yang bermuatanyang dapat menghantarkan arus listrik. (derajat
ionisasi = 0) Contohnya: Larutan urea, dan glukosa.
BAB III
Metodologi Praktikum
A. Waktu dan tempat
Hari : Rabu
Tanggal : 19 Januari 2022
Waktu : 08.50 – 10.10
Tempat di : SMA Stanislaus Surabaya
B. Alat dan bahan
Alat
– Baterai
– Kabel listrik
– Elektroda karbon
– Bola lampu kecil
– 6 macam larutan yakni : larutan A, B, C, D, E, dan
– Air secukupnya (pembersih elektroda)
– Tisu
– Gelas kimia
Bahan :
Garam dapur/NaCl
Alcohol / C2H5OH
Urea /CO(NH2)2
Natrium hidroksida / NaOH
Air suling/
Asam cuka / CH3COOH
Larutan gula pasir/C12H22O11
C. Prosedur kerja
Langkah-Langkah Pengujian
Dalam pengamatan dilakukan beberapa langkah pengujian sebagai berikut :
1. menyiapkan larutan pada setiap gelas kimia
2. merangkai rangkaian alat penguji yakni baterai, kabel, lampu dan elektroda
3. menguji larutan dengan cara memasukkan kedua buah elektroda kedalam larutan
tanpa membuat keduanya saling bersentuhan
4. mengamati perubahan yang terjadi pada lampu apakah menyala terang, redup, atau
tidak menyala sama sekali, dan pada elektroda apakah terdapat banyak gelembung,
sedikit atau tidak ada gelembung samasekali.
5. setelah menguji sebuah larutan maka kita harus membersihkan terlebih dahulu
elektroda yang digunakan dengan cara dibilas dengan air biasa lalu dikeringkan
dengan tisu agar pada saat kita menguji larutan lain, larutan tersebut tidak
terkontaminasi/tercampur.
6. dengan cara yang sama pada cara kerja no.3, uji daya hantar larutan lain yang telah di
sediakan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Nyala lampu Gelembung gas Larutan elektrolit
No. Larutan Rumus Tidak Tak Non
yang di uji kimia menyala ada kuat lemah elektr
terang redup banyak sedikit
NaCl olit
1. Garam C2H5OH
dapur CO(NH2)
2. Alcohol 2
3. Urea NaOH
4. Natrium CH3COO
hidroksida H
5. Air suling C12H22O
6. Asam 11
cuka
7. Larutan
gula pasir
B. Pembahasan
Berdasarkan tabel di atas maka didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Larutan garam adalah larutan yang diperoleh dari hasil reaksi asam dan basa. Garam
adalah suatu senyawa yang terbentuk bila hidrogen dari suatu asam diganti oleh
suatu logam. Garam dinamakan menurut logam dan asam yang membentuknya. Bila
larut, garam membentuk ion di dalam larutan, satu kation dari logam dan satu anion
dari asam (Kamus sains bergambar;2000). Pada percobaan ini Larutan Garam dapur,
merupakan larutan elektrolit kuat karena pada saat pengujian didapatkan bahwa
indikator lampu menyala terang dan terdapat banyaknya gelembung di sekitar
elektrode.
2. Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain alcohol; dan
kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini disebabkan karena
memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan
metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan alkohol yang digunakan
dalam dunia farmasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah etanol. Pada percobaan ini
Larutan Alkohol, merupakan larutan Non elektrolit karena lampu indikator tidak
menyala dan tidak ada gelembung gas.
3. Urea adalah senyawa organik yang tersusun dari unsur karbon,
hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga
dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa. Nama
lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl
diamide dan carbonyldiamine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis pertama
yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik, yang akhirnya meruntuhkan
konsep vitalisme. Pada percobaan ini Larutan Urea, merupakan larutan elektrolit
lemah karena pada saat pengujian didapatkan bahwa indicator lampu tidak menyala
dan terdapat banyak gelembung.
4. Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik, soda api,
atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida
terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida
membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di
berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses
produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium
hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.
Pada percobaan ini Natrium hidroksida, merupakan larutan elektrolit kuat karena
nyala lampunya terang dan terdapat banyak gelembung.
5. Air suling adalah air yang berasal dari proses distilasi (penyulingan).pada
percobaan Air suling, merupakan larutan non elektrolit karena lampu indicator tidak
menyala dan tidak ada gelembung gas
6. Asam cuka[10] adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi
rasa asam dan aroma dalam makanan.Pada percobaan iniLarutan Cuka, merupakan
larutan elektrolit lemah karena meskipun lampu indikator tidak menyala namun
masih terdapat gelembung disekitar elektrode.
7. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi
perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam
bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk
mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman. Gula
sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim
atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.Pada
percobaan ini Larutan Gula, merupakan larutan Non elektrolit karena lampu
indikator tidak menyala dan tidak ada gelembung gas.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pada percobaan di atas,
o Yang merupakan larutan elektrolit lemah adalah larutan garam
o Yang merupakan larutan non elektrolit adalah alkohol dan gula
o Yang merupakan larutan elektrolit kuat adalah larutan garam
o Yang merupakan larutan larutan elektrolit lemah adalah cuka.
Penjelasan :
o Jika elektroda dialiri arus listrik kemudian muncul gelembung pada elektroda, itu
berarti bahwa larutan tersebut merupakan larutan elektrolit. Sedangkan yang tidak
bergelembung merupakan larutan non-elektrolit.
o Apabila adanya gelembung pada elekroda disertai dengan menyalanya lampu, maka
larutan tersebut merupakan larutan elektrolit kuat (karena larutan terionisasi dengan
baik). Sedangkan jika lampu menyala redup atau tidak menyala sama sekali (karena tidak
dapat terionisasi dengan baik dan sedikit menghasilkan ion) tetapi muncul gelembung
pada elektoda maka larutan tersebut merupakan larutan elektrolit lemah.
o Kuat lemah keelektrolitan suatu larutan bergantung pada kesempurnaan ionisasi larutan
jika dialiri arus listrik.
B. Saran
1. Dalam melaksanakan praktikum kita harus berhati - hati dalam melaksankan
pengamatan agar hasilnya nanti tidak salah atau adanya kekeriluan dalam
pembacaan hasil praktikum.
2. Pengamatan ini sangat penting dengan tujuan agar kita dapat mengetahui larutan
yang dapat menghantarkan listrik dan tidak dapat menghantar listrik.
3. Periksa alat uji elektrolit secara teliti, karena alat uji yang tidak benar akan
mempengaruhi hasi percobaan.
4. Larutan yang diuji jika seperti air jeruk, air kapur, dan air garam usahakan dengan
mencampurkn air secukupnya, jangan terlalu banyak ataupun terlalu sedikit.
5. Lebih baik percobaan dilakukakan lebih dari 1 kali, tujuannya untuk lebih
meyakinkan atau memastikan terhadap hasinya.
6. Bersihkan alat uji elektrolit supaya larutan yang telah diujikan tidak lagi menempel
pada elektroda.
7. Usahakan menuangkan larutannya secukupnya saja agar larutan yang akan diuji
tidak tumpah.