The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kemitraan Dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggotanya di Sumatera Utara serta Implikasinya di GKPI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Humala Lumbantobing, 2023-09-12 03:52:54

Sinopsis Disertasi

Kemitraan Dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggotanya di Sumatera Utara serta Implikasinya di GKPI

Keywords: Kemitraan

1 SINOPSIS KEMITRAAN DALAM MISI: KAJIAN TERHADAP STRATEGI PAULUS, UEM DAN GEREJA-GEREJA ANGGOTANYA DI SUMATERA UTARA SERTA IMPLIKASINYA BAGI GKPI DISERTASI Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Teologi Paulus Medan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Doktor (Dr.) Oleh: HUMALA LUMBANTOBING NIM: 2001002.3 PROGRAM STUDI DOKTOR SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PAULUS MEDAN 2 0 2 3


2 TIM PROMOTOR DAN OPONEN AHLI Jabatan Nama Promotor Dr. Irwanto Berutu, M.Th NIDN: 2302027301 Ko-Promotor 1 Dr. Adolfina E. Koamesakh, M.Th., M.Hum. NIDN: 0115076402 Ko-Promotor 2 Dr. Rosiany Hutagalung, M.Th NIDN: 2311017502 Oponen Ahli 1 Dr. Parluhutan Manalu, M.Th., MM NIDN: 0120066103 Oponen Ahli 2 Dr. Marojahan Hutabarat, M.PdK NIDN: 2329127103 Oponen Ahli 3 Dr. Ulung Napitu, M.Si NIDN: 0001096104


3 ABSTRAK Lumbantobing, Humala. Kemitraan Dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggotanya di Sumatera Utara serta Implikasinya bagi GKPI. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji strategi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggotanya di Sumatera Utara terkait dengan kemitraan dalam misi dan bagaimana implikasinya bagi GKPI. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang dilaksanakan melalui wawancara, studi dokumen dan observasi. Setelah mengkaji teori-teori kemitraan dan misi dan juga pemaparan data-data maka diperoleh hasil penelitian untuk menjawab Rumusan Masalah Penelitian (Bab I, butir 1.2.1-4), sbb.: Pertama, berdasarkan eksegese 1 Korintus 12:12-31, ditemukan dasar teologis kemitraan yaitu “gagasan satu tubuh, banyak anggota” yang menunjukkan betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya di seluruh dunia. Karena itu kemitraan dalam misi adalah keharusan (obligation), bukan pilihan (option). Selanjutnya berdasarkan eksegese Filipi 2:19-30; Filipi 4:10-20 ditemukan strategi kemitraan dalam misi Paulus, yang meliputi nilai-nilai kemitraan, yaitu: kesehatian dan berbagi karunia serta pola-pola kemitraan Paulus dengan rekan sekerjanya, juga dengan Jemaat Filipi yang meliputi pola kemitraan bilateral maupun trilateral. Kedua, berdasarkan kajian terhadap strategi kemitraan dalam misi UEM (2012-2022) peneliti menemukan bahwa strategi UEM yang paling pokok dalam membangun kemitraan Gereja-gereja Anggota UEM adalah dengan penetapan Pedoman Kemitraan UEM sejak Sidang Raya UEM 1997. Dengan itu UEM meningkatkan kapasitas Gereja-gereja Anggota, Pimpinan Gereja dan Personil yang menangani kemitraan dalam misi melalui konferensi-konferensi, seminar, konsultasi, sidang-sidang raya baik secara regional maupun internasional dan juga melalui proyek-proyek bersama Gereja Anggota. Ketiga, berdasarkan kajian terhadap strategi kemitraan Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara (HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI), peneliti menemukan bahwa gereja-gereja tersebut telah berusaha mendasarkan hubungan kemitraaannya kepada Pedoman Kemitraan UEM namun tidak sepenuhnya, masih parsial. Gereja-gereja tersebut telah berupaya membentuk komite kemitraannya, melaksanakan minggu kemitraan, proyek-proyek kemitraan, perkunjungan dan United Action namun masih ditemukan kelemahan-kelemahan. Di samping itu juga dilakukan peningkatan kapasitas para personil yang menangani kemitraan melalui kegiatan-kegiatan baik secara regional maupun internasional. Keempat, mengingat kemitraan dalam misi UEM yang sangat penting maka peneliti mengimplikasikannya di GKPI. Dalam hal ini GKPI ke depan harus mengkaji kembali dasar teologi kemitraannya, melakukan evaluasi hubungan kemitraannya dan berupaya membangun kemitraan yang setara dengan mitra dalam melaksanakan misinya berdasarkan Pedoman Kemitraan UEM. Kata Kunci: Kemitraan, Misi, Strategi, UEM, Gereja-gereja Anggota UEM, Implikasi, GKPI


4 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Gereja yang hidup selalu hadir dalam konteks dunia. Di situ gereja tampil mewujudkan panggilannya untuk merespons situasi yang sedang terjadi. Dalam hal ini misi gereja selalu hadir dalam ruang dan waktu. Karena itu berbicara tentang misi Gereja pada masa kini adalah berbicara tentang apa yang dilakukan oleh Allah di dunia melalui gereja-Nya. Misi Gereja itu adalah misi Allah yang disebut dengan Missio Dei, yaitu seluruh tugas panggilan yang diembankan oleh Allah untuk dilaksanakan oleh Gereja-Nya. Gereja yang sungguh-sungguh melaksanakan misi Allah menunjuk kepada gereja yang misioner. David J. Bosch menyebutkan bahwa Gereja pada hakikatnya bersifat misioner.1 Harapannya kehadiran gereja semakin nyata untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat. Dalam rangka mewujudkan tugas panggilan gereja tersebut, dibutuhkan kemitraan antara gereja-gereja. Dalam konteks gereja, kemitraan (partnership) adalah hubungan antar gereja atau hubungan antar institusi gereja yang telah sepakat untuk membangun kemitraan dan bersama-sama untuk melakukan sebuah proyek atau program misi. Dengan adanya kemitraan maka keuntungan atau manfaat yang diperoleh oleh institusi yang bermitra adalah sama-sama memperoleh hasil yang berguna untuk menunjang misi bersama yaitu misi Allah. Berkaitan dengan kemitraan tersebut para ahli telah melakukan pembahasan-pembahasan tentang kemitraan. Misalnya, Eleazar S. Fernandez, dalam jurnalnya A Theology of Partnership in a Globalized Word, mengemukakan bahwa dasar teologis kemitraan adalah hubungan Allah dengan kita melalui Kristus Yesus, di mana Yesus adalah pribadi yang inti utamanya adalah kasih yang mahal yang membebaskan dan mendamaikan yang dinampakkan dalam solidaritas pembebasan dan pendamaian.2 Dalam jurnal lainnya, Steven C. Hawthorne, Serving as Senders, menyinggung tentang kemitraan dalam pengutusan, dia menyebutkan kemitraan Paulus dengan Jemaat Filipi yang didasarkan kepada “karunia” baik yang diterima Paulus maupun Jemaat Filipi. Sama-sama memiliki karunia adalah sebuah potensi dalam kemitraan untuk menjangkau bangsa-bangsa.3 Kemudian ahli lain yang secara khusus meneliti tentang “Kemitraan Dalam Misi” adalah Bishop Erme R. Camba, di mana dalam jurnalnya Partnership in Mission, A Biblico-theological and Historical Overview 4 membahas tentang misi yang sebenarnya, yaitu Misio Dei. Dengan itu Allah memanggil gereja-Nya menjadi mitra dalam mewujudkan misi-Nya. Oleh sebab itu gereja ada karena misi. Selanjutnya Uwe Hummel dalam jurnalnya A Vemily in Three Continents: UEM Statement on Corporate Identity menyampaikan dasar teologis kemitraan gereja UEM dalam Pengkhotbah 4:9: “Berdua lebih baik dari seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” Mengacu kepada teks tersebut United Evangelical Mission (UEM) percaya bahwa kemitraan atau kerjasama yang dibangun di antara sesama ke-39 anggota Gereja UEM (38 gereja dan 1 lembaga Diakonia) pasti lebih 1 David.J. Bosch, Transformasi Misi gereja. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm.13. 2 Eleazar S. Pernandez, A Theology of Partnership in a Globalized World (USA: United Theological Seminary, 2016), page 27 in http://journal.sagepub.com/doi/ 3 Seteven C. Hawthorne, Serving as Senders in Perspectivers on the World Christian Movement (Ed. Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorne), (Pesadena, California: William Library, 1981), hlm.795. 4 Erme R. Camba, “Partnership in Mission, A Biblico-theological and Historical Overview” in Partnership Seminar in Asia (Medan: Uem Office, 2013), hlm.1-17.


5 baik dalam misi dari pada satu lembaga gereja saja. Dengan kemitraan UEM akan mampu dalam menghadapi tantangan sekularisasi, globalilisasi, penderitaan dan keputusasaan dunia.5 Salah satu gereja anggota UEM tersebut adalah Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) yang berkantor Sinode di Jln. Kapten M.H. Sitorus No.13 Pematangsiantar, Sumatera Utara yang berdiri pada tanggal 30 Agustus 1964. Sejak awal berdirinya GKPI hadir dalam semangat penginjilan, itulah sebabnya salah satu nilai awal berdirinya GKPI adalah membayar hutang untuk penginjilan.6 Dalam rangka melaksanakan misinya GKPI sejak tahun 1986 telah memiliki mitra (partner) yaitu dengan Jemaat Bonn-Beuel, Jerman yang disebut dengan Evangelische Kirchengemeinde Beuel, Germany dan tiga tahun sebelumnya sejak 1983 GKPI Silindung juga telah memiliki mitra dengan Gereja Distrik Kleve, Jerman yang disebut dengan, Evangelische Kirchenkreis Kleve. Dasar penting dalam membangun kemitraan GKPI dengan gereja-gereja baik di dalam maupun di luar negeri adalah Tata Gereja (TG) GKPI Pasal IV ayat 2 bahwa GKPI turut serta memelihara hubungan oikumenis dengan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Kristen di dalam dan di luar negeri.7 Dalam sejarah kemitraan GKPI dengan gereja yang ada di Jerman selama kurun waktu 40 tahun ternyata timbul masalah-masalah terkait hubungan kemitraannya. Dari observasi partisipatif yang dilakukan oleh penulis8 masalah-masalah kemitraan yang muncul, di antaranya adalah: 1) Banyak proyek-proyek kemitraan GKPI dengan mitra Jerman yang tidak berkesinambungan. 2) GKPI masih menganggap bahwa mitranya sebagai anggota UEM di Jerman masih tetap dianggap sebagai pemberi (giver) dana, sementara GKPI sendiri sebagai penerima (receiver) sumbangan dana. 3) Mitra GKPI di Jerman sangat pro-aktip, peduli dan konsisten terhadap kemitraan, sementara pihak GKPI masih kurang. 4) Dalam pelaksanaan program-program kemitraan GKPI lebih banyak didukung oleh pihak Jerman secara finansial sementara GKPI kurang. 5) Dalam rangka pelaksanaan kemitraan, GKPI kurang serius dalam pembentukan komite kemitraan, bahkan peningkatan kapasitasnya. 6) Dalam pelaksanaan perkunjungan (visitasi) antara kedua belah pihak yang bermitra (GKPI dan mitra Jerman) umumnya pembiyaaan masih ditanggung oleh mitra yang ada di Jerman. Hal tersebut menyebabkan timbulnya sikap dominasi (superior) dari mitra yang ada di Jerman, dan sebaliknya GKPI merasa sebagai gereja yang dikasihani. 7) Hingga sekarang ini GKPI belum memiliki pemahaman teologis yang mendasar tentang kemitraan yang terdokumen dalam Pokok-pokok Pemahaman Iman (P3IGKPI). Untuk menjawab masalah-masalah kemitraan GKPI tersebut dan untuk membangun serta meningkatkan kemitraan dalam misi GKPI dengan mitra yang ada di Jerman, maka perlu dilakukan kajian penelitian yang dirangkumkan dalam rumusan masalah berikut dan selanjutnya diimplikasikan bagi GKPI. 5 Uwe Hummel, “A Vemily in Three Continents: UEM Statement on Corporate Identity” in Mission Sparks Akademic Jurnal of Asia Region, (Medan: UEM Medan Office, 2016), hlm.28-29. 6 Jan S. Aritonang, Yubileum 50 Tahun GKPI (Pematangsiantar: Kolportase GKPI, 2014), hlm.80. 7 Abdul Hutauruk, Almanak GKPI (Pematangsiantar: Kolportse GKPI, 2013), hlm.390. 8 Masalah-masalah terkait dengan hubungan kemitraan GKPI yang diuraikan dalam kajian ini adalah hasil observasi penulis selama melayani di Kantor Sinode GKPI, mulai tahun 2010 – sekarang ini. Perlu di sampaikan para Periode 2010-2015, penulis adalah Kepala Biro I/Kerohanian di GKPI yang salah satu bidangnya adalah Kemitraan dan Oikumene. Kemudian pada Periode 2015-2020, penulis menjabat sebagai Kepala Departemen Apostolat GKPI, yang juga membidangi Kemitraan dan Oikumene, dan kini Periode 2020- 2025 menjabat sebagai Sekretaris Jenderal GKPI yang juga tetap memantau hubungan kemitraan GKPI. Opservasi yang dilakukan oleh penulis bersifat partisifatif. Sugiyono mengatakan bahwa dalam “Obeservasi Partisipatif”, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap , tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Lih. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2016), hlm.310.


6 1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah dasar teologi dan strategi kemitraan dalam misi Paulus ditinjau dari sudut Biblika, khususnya teks 1 Korintus 12; Filipi 2 dan 4? 2. Bagaimanakah strategi kemitraan dalam misi UEM yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi UEM (2012-2022)? 3. Bagaimanakah strategi kemitraan dalam misi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi? 4. Bagaimanakah implikasi kemitraan GKPI dalam misi dengan Jemaat-jemaat mitra di Jerman? Dengan memperhatikan rumusan masalah tersebut dan untuk terpenuhinya semua pertanyaan di atas, maka disertasi ini diberi judul: “Kemitraan Dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggotanya di Sumatera Utara dan Implikasinya bagi GKPI.” 1.3. Tujuan Penelitian Secara umum tujuan penelitian disampaikan untuk menunjukkan dan menetapkan apa sasaran yang akan diperoleh melalui penelitian. Menurut Locke sebagaimana dikutip oleh Subagyo mengatakan bahwa tujuan penelitian adalah keinginan eksplisit peneliti untuk mengumpulkan data dengan cara tertentu untuk menjawab pertanyataan penelitian yang dikemukakan sebagai sasaran penelitian.9 Dengan merujuk kepada pertanyaan penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk menemukan dasar teologi dan strategi kemitraan dalam misi Paulus ditinjau dari sudut Biblika, khususnya 1 Korintus 12; Filipi 2 dan 4. 2. Untuk menemukan strategi kemitraan dalam misi UEM yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam pelaksanaan misi UEM (2012-2022). 3. Untuk menemukan strategi kemitraan dalam misi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi. 4. Untuk menemukan implikasi kemitraan GKPI dalam misi dengan Jemaat-jemaat mitra di Jerman. 9 Andreas B. Subagyo, Pengantar Riset Kuantititaif & Kualitatif Termasuk Riset Teologi Dan Keagamaan, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2004), hlm.215.


7 BAB II KERANGKA TEORI 2.1. Pengertian Teori dan Fungsinya Menurut Suliyanto, teori adalah pernyataan yang secara umum diakui kebenarannya, sebagai dasar untuk menjelaskan atau memprediksi suatu fenomena atau variabel. Lebih jelas Sugyono mengatakan bahwa teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction) dan pengendalian (control) suatu gejala.10 Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa penelitian ini berfokus kepada “Kemitraan Dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggotanya di Sumatera Utara dan Implikasinya bagi GKPI.” Karena itu kerangka teori yang diuraikan di bawah ini menyangkut dua pokok yang sangat penting, yaitu: teori-teori tentang kemitraan dalam kaitannya dengan kemitraan dalam misi gereja yang sangat perlu dipaparkan sebagai pijakan untuk melihat strategi kemitraan dalam misi UEM. Kemudian teori-teori tentang misi dalam konteks kekristenan dan teori tentang kemitraan dalam misi Gereja. Teori-teori tentang misi sangat penting dipaparkan khususnya tentang misi gereja sehingga teori-teori tersebut menjadi dasar untuk melihat atau mengkritisi fenomena pelaksanaan misi UEM dan gereja-gereja anggotanya. 2.2. Terminologi Kemitraan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kemitraaan berasal dari kata mitra yang artinya: 1) teman; sahabat. 2) kawan kerja; pasangan kerja; rekan.11 Didasarkan kepada kata dasar mitra, kata kemitraan (kata benda) menurut KBBI berarti perihal hubungan (jalinan kerja sama dsb) sebagai mitra.12 Untuk penjelasan lebih jauh tentang teori-teori kemitraan dapat dilihat pada butir 2.3 berikut. 2.3. Teori-teori Kemitraan Dalam bagian ini diuraikan teori-teori kemitraan secara umum yang memuat: kemitraanpartnership, defenisi kemitraan, aspek-aspek kemitraan, prinsip-prinsip kemitraan. Teori-teori yang berkaitan dengan aspek-aspek kemitraan berhubungan satu sama lain. Kemudian akan dilanjutkan dengan kajian terhadap kemitraan yang berkaitan dengan misi Gereja. 2.3.1. Kemitraan - Partnership Kata kemitraan (Ind.) yang diadaptasi dari kata partnership (Eng.) yang berasal dari kata partner. Partner dapat diterjemahkan “pasangan”, “jodoh”, “sekutu” atau “kampanyon”. Berdasarkan kata dasar partner maka partnership yang diterjemahkan menjadi kemitraan yang diartikan sebagai persekutuan atau perkongsian.13 Untuk memahami lebih jauh pengertian kemitraan yang berasal dari kata partnership dapat ditinjau dari Kamus atau Ensiklopedi dalam Bahasa Inggris, sbb.: Menurut The Holt Intermediate Dictionary of Americana English, kata partnership (noun) yang berasal dari kata partner memiliki dua arti: 1) perkumpulan, khususnya sebuah perkumpulan 10 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2016), hlm.81. 11 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cet.2 (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989), hlm.588. 12 Ibid, hlm.588. 13 Ambar teguh Sulistiyani. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan (Yogyakarta: Gaya Media,2004), hlm.129.


8 yang berbadan hukum oleh dua atau lebih orang dalam suatu bisnis atau perusahaan). 2)perkumpulan dalam mana dua orang atau lebih membagi sesuatu: sebuah kemitraan dalam hal kejahatan).14 Menurut The Reader’s Digest Great Encyclopedic Dictionary, kata partnership (noun) juga memiliki dua arti: 1) keadaan atau hubungan menjadi sebuah mitra; kepentingan bersama; perkumpulan). 2) Dalam konteks hukum memiliki dua arti: a) sebuah hubungan yang berdasarkan perjanjian dalam mana dua atau lebih orang menyatukan modal, pekerjaan, dan lain-lain untuk mengadakan sebuah bisnis, biasanya berbagi keuntungan dan kerugian). b) Kontrak yang menciptakan hubungan yang sedemikian). c) Orang-orang yang dikumpulkan dalam sebuah hubungan yang sedemikian).15 Menurut The World Book Encyclopedia, 16 kata partnership dijelaskan sebagai berikut. Partnership adalah sebuah persetujuan antara dua orang atau lebih untuk mengadakan perniagaan (business) demi mencapai keuntungan. Mereka menyetujui baik secara lisan ataupun tertulis untuk menyumbangkan sejumlah uang tertentu atau tenaga (skills) kepada perniagaan itu. Perniagaan itu harus legal secara hukum dan tidak boleh merusak kepentingan umum. Persekutuan partnership menjadi sebuah kontrak, dan sebuah pokok penting dalam ketentuan-ketentuan umum yang berkaitan dengan kontrak.17 2.3.2. Defenisi Kemitraan Menurut Para Ahli Teori-teori kemitraan telah banyak dibahas oleh para ahli dalam konteks yang berbeda-beda. Berdasarkan kajian teori yang dilakukan para peneliti terhadap kemitraan maka berikut ini diuraikan beberapa defenisi-defenisi kemitraan, sbb.:18 1) Menurut Thoby Mutis, kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat bersama maupun keuntungan bersama sesuai dengan prinsip saling membutuhkan dan saling mengisi sesuai kesepakatan yang muncul. 2) Pengertian yang mirip dengan itu adalah apa yang disebutkan oleh Tugimin (2004), yang menyebutkan bahwa kemitraan adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa pihak secara bersama-sama dengan penuh tanggung-jawab untuk mencapai hasil yang lebih baik dari pada dikerjakan secara individu. 3) Menurut Sulistiyani (2004), kemitraan adalah bentuk persekutuan antara dua pihak atau lebih yang membentuk suatu ikatan kerjasama. Hal ini dilakukan atas dasar kesepakatan dan rasa saling membutuhkan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas di suatu bidang usaha tertentu atau tujuan tertentu sehingga dapat memperoleh hasil yang baik. 4) Menurut Purmaningsih (2007), kemitraan adalah salah satu bentuk jalinan kerjasama antar berbagai pihak dalam pengembangan usaha untuk mewujudkan tujuan bersama dan mampu meningkatkan pendapatan melalui peningkatan daya saing serta mampu meningkatkan kualitas organisasi. 14 Arti kata “partnership” dalam The Holt Intermediate Dictionary of Americana English, Holt, (New York, Chicago, San Fransisco, Tronto London: Rinehart and Winston, INC, 1965), hlm.572. 15 Arti kata “partnership” dalam The Reader’s Digest Great Encyclopedic Dictionary (New York: The reader‟s Digest Association, 1967), hlm.984. 16 John Alan Appleman, “Partnership” dalam The World Book Encyclopedia , Vol.15 (Chicago: Field Enterprises Educational Corporation, 1968), hlm.164-165. 17 John Alan Appleman, “Partnership” dalam The World Book Encyclopedia, hlm.165. 18 Sebagaimana dikutip oleh Riadi, Muchlisin (2022). Kemitraan – Pengertian, Aspek, Prinsip dan Jenis. Diakses 12 Juli 2023, dari https://www.kajianpustaka.com/2022/11/kemitraan.html


9 5) Menurut Luis Bush, kemitraan adalah suatu asosiasi (hubungan kerja sama) yang terdiri atas dua atau lebih badan mandiri yang telah membentuk suatu hubungan saling mempercayai, serta telah menyepakati tujuan yang diharapkan dicapai bersama melalui membagikan tujuan yang diharapkan dicapai bersama melalui membagikan kekuatan-kekuatan dan sumber-sumber mereka agar saling menguatkan.19 Masih banyak lagi defenisi-defenisi tentang kemitraan oleh para ahli, namun menurut penulis cukuplah keempat di atas disebutkan yang menjadi landasan untuk mengatakan bahwa kemitraan merupakan bentuk kerjasama dua orang atau lebih termasuk antara lembaga berdasarkan kesepakatan bersama untuk berbagi potensi masing-masing demi mewujudkan tujuan bersama. 2.3.3. Aspek-aspek Kemitraan Berdasarkan teori-teori di atas, kita melihat bahwa kemitraan merupakan bentuk kerjasama dua orang atau lebih atau lembaga yang di dalamnya terdapat aspek-aspek kesetaraan. Dalam kaitan itu Indrajit (2004),20 menyebutkan aspek-aspek kemitraan, sbb.: 1) Mempunyai tujuan yang sama (common goal). 2) Saling menguntungkan (mutual benefit). 3) Saling mempercayai (mutual trust). 4) Bersifat terbuka (trasparent). 5) Mempunyai hubungan jangka panjang (long term relationship). 6) Terus-menerus melakukan perbaikan dalam mutu dan harga/biaya (continuous improvement in quality and cost). 2.3.4. Prinsip-prinsip Kemitraan Dalam menjalin sebuah kemitraan ada prinsip yang sangat penting dan tidak dapat ditawartawar adalah saling percaya antar intuisi atau lembaga yang bermitra. Menurut Rukmana (2006),21 terdapat tiga prinsip utama dalam pelaksanakan kemitraan, yaitu: a) Prinsip kesetaraan (equity). b) Prinsip Keterbukaan. c) Prinsip Azas Manfaat Bersama. Selain ketiga prinsip tersebut, menurut Hafsah (1999), terdapat tiga prinsip tambahan lain dalam pelaksanaan kemitraan, yaitu: 1) Prinsip saling memerlukan. 2) Prinsip saling memperkuat. 3) Prinsip saling menguntungkan. 2.3.5. Pola-pola Kemitraan Menurut Sumarjono, dkk (2010) 22 dalam bukunya yang berjudul “Teori dan Praktek Kemitraan Agribisnis” disebutkan bahwa pola kemiraan ada lima, yaitu: 1) Pola Kemitraan Inti Plasma. 2) Pola Kemitraan Sub Kontrak. 3) Pola Kemitraan Dagang Umum. 4) Pola Kemitraan Keagenan. Berdasarkan kajian pustaka/literatur di atas dan juga teori-teori kemitraan oleh para ahli, maka peneliti (penulis) dapat menyimpulkan bahwa kemitraan adalah perihal hubungan (jalinan kerjasama, dsb.), yang bersifat persekutuan/perkongsian (ship) antara dua orang atau lebih, yang didasarkan kepada kesepakatan (agreement) bersama, dan memiliki tujuan yang sama atau demi kepentingan bersama. Masing-masing mitra dalam konteks kemitraan berbagi potensi masing-masing demi mewujudkan tujuan bersama. Secara umum kemitraan dikaitkan dalam konteks bisnis-ekonomi, di 19 Luis Bush (L. Bush & L. Lutz, Partnership in Ministry, The The Directory of World Evangelism), dikutip oleh Tom Steffen, “Partnership”, dalam A. Scott Moreau (peny.), Evangelical Dictionary of World Mission (Grand Rapids: Baker Books, 2000), hlm.727. 20 Riadi, Muchlisin, Kemitraan – Pengertian, Aspek, Prinsip dan Jenis, hlm. 2 21 Riadi, Muchlisin, Kemitraan – Pengertian, Aspek, Prinsip dan Jenis, hlm. 3. 22 Sumarjono, dkk., Teori dan Praktek Kemitraan Agribisnis, (Depok: Penebar Swadaya, 2010), hlm.84-85.


10 mana kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (termasuk antar perusahaan dua atau lebih) untuk meraih keuntungan (profit) dan bersama-sama memberikan pertanggung-jawaban (lialibility). Kemitraan yang dibangun tersebut memiliki aspek-aspek, prinsipprinsip dan pola-pola yang sangat perlu dilakukan untuk merawat kemitraan demi mewujukkan tujuan bersama atau terget yang sudah ditentukan secara bersama demi memperoleh keuntungan bersama. 2.3.6. Kemitraan dalam Misi Gereja Dalam sejarah misi, kemitraan dalam misi Gereja mulai dibahas dalam Konferensi IMC dilaksanakan tahun 1947 di Whitby, Canada dengan tema: Churches as Partners in Obidience (Gereja-gereja sebagai Mitra yang taat). Konferensi Whitby menyatakan sebuah konsep yang mana gereja-gereja adalah Together in Mission (Bersama dalam Misi) dan menyerukan gereja-gereja dengan sebutan Partners in Obedience (Mitra-mitra yang taat). Sangat jelas juga di konferensi ini dinyatakan bahwa Evangelism adalah tugas utama gereja-gereja dan secara esensil harus dilakukan bersama-sama.23 Untuk itu slogan Partnership in Obedience ditekankan untuk melakukan pembaharuan hubungan gereja-gereja Barat yang selama ini merasa superior terhadap gereja-gereja di dunia ketiga. Untuk itu dirindukan kesetaraan kemitraan baru dalam misi bersama, dan itu hanya mungkin jika masing-masing gereja berada dalam sikap rendah hati, kasih dan saling memaafkan untuk menyembuhkan luka-luka akibat perang.24 Kemitraan dalam misi merupakan bagian dari hakikat gereja. Dalam hubungan dengan kemitraan gereja, Andrew Kirk mengatakan bahwa kemitraan bukanlah terutama apa yang Gereja lakukan, melainkan apa yang menjadi sifatnya. Gereja-gereja (secara teologis) terikat satu sama lain, sebab Allah telah memanggil masing-masing “kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Kor.1:9). Sebab itu, kemitraan bukanlah slogan bagus yang diciptakan suatu panitia yang pintar, ia merupakan pernyataan dari suatu kehidupan yang adalah satu, tidak dapat dibagi-bagi dan kemitraan itu dimiliki bersama.25 Melalui sejarah gereja kita melihat terjadinya degradasi dalam pertumbuhan gereja karena gereja makin berpusat hanya ke dalam dan tidak menjalankan panggilannya secara utuh. Pekabaran Injil tidak lagi merupakan proyek bersama, tetapi hanya dikerjakan oleh individu-individu yang terbeban. Itulah sebabnya, lembaga misi mendorong warga jemaat yang memiliki beban misi untuk kembali mendorong gereja melakukan pengutusan. Tentu untuk melaksanakan misi Allah bukanlah pekerjaan yang ringan. Melaksanakan misi Allah mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi (Kis.1:8) dan bagaimana mewujudkan Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat.28:19-20) adalah pekerjaan yang sangat besar dan luas. Tidaklah mungkin orang-orang percaya dapat mengerjakan serta menggenapinya sendiri-sendiri, perlu dikerjakan bersama-sama agar efektif. Kemitraan yang diperlukan ini meliputi jemaat lokal, denominasi gereja, sekolah teologi/Alkitab/misi, dan berbagai lembaga yang terlibat dalam misi dalam segala bentuknya, dalam dan luar negeri. Memang kerja sama antara berbagai organisasi gereja yang berbeda-beda ini merupakan tantangan besar. Guder mengakui bahwa membuat apa yang disebut “struktur-struktur misional yang saling berhubungan” merupakan tugas yang cukup menantang. Namun, dia menegaskan bahwa “gereja memerlukan struktur-struktur yang saling berhubungan untuk menyatakan kesatuan dalam misi yang melampaui semua batas manusia dan perbedaan budaya.” 26 23 Erne R. Camba, Op.cit., hlm. 9. 24 Uwe Hummel, Op.cit., hlm. 29. 25 Sebagaimana dikutip oleh Jhon Ruck, Anne Ruck,dkk, Jemaat Misioner, hlm. 458. 26 Darrel Guder (peny.), Missional Church (Grand Rapids: Eerdmans, 1998), hlm. 264-265.


11 Perkembangan dunia modern dan misi sedunia masa kini juga mendorong kita untuk bermitra dalam misi. Misi tidak lagi hanya datang dari “Barat” menuju “Selatan”, melainkan seperti yang pernah dikatakan Bishop Nazir Ali, “dari mana saja ke mana saja.”27 Keuntungan dari era globalisasi adalah berkembangnya kemitraan di antara orang-orang Kristen di “Barat” dan Selatan/Timur, dan kerjasama antara gereja-gereja lokal dan agen misi. Misi menjadi multi arah. Dengan demikian tujuan kemitraan dalam misi ialah untuk memaksimalkan misi global yang dapat memberikan pengaruh bagi Kerajaan Allah. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, ada banyak alasan mengapa umat Allah perlu bermitra, sekaligus merupakan tujuan tertentu yang perlu dicapai dalam kemitraan, hal itu akan kita lihat, antara lain: 28 1) Saling mengasihi melalui kerja sama dan saling mendukung, supaya dunia percaya kepadaNya (bnd. Yoh.13:35). 2) Melibatkan seluruh gereja Tuhan secara nasional dan internasional untuk memenuhi panggilannya dan melaksanakan Amanat Agung. 3) Berkerjasama untuk menjangku suku atau golongan kelompok yang belum terjangkau, secara efektif. 4) Saling membagikan sumber-sumber yang dikarunia Allah (bersinergi). 5) Saling membagikan kemampuan dan keterampilan, termasuk spesialiasi dalam bidang seperti penginjilan, pelayanan sosial, pelayanan lintas budaya, dan lain-lain. 6) Tidak menghambur-hamburkan sumber-sumber yang ada, tetapi saling berbagi. 7) Menghindari kompetisi dan mengulangi hal yang sama. 8) Belajar satu dari yang lain. 9) Saling menguatkan dalam menghadapi penderitaan. Kemitraan bukan hanya membangun komunikasi, melainkan membangun orang yang bermitra; belajar bersama sebagai mitra dan menguatkan satu dengan yang lainnya dalam pimpinan Roh Kudus. Menurut Donney, jejaring yang baik dalam misi akan terjadi jika terdapat beberapa faktor: 1) Kemitraan setara yang saling membutuhkan. 2) Kemitraan yang bervariasi dan dinamis. 3) Kemitraan menjadi efektif melalui jejaring yang memungkinkan multiplikasi. 4) Kemitraan dapat diukur. 5) Kemitraan melalui hubungan yang dipelihara dengan baik. 2.4. Teori-teori tentang Misi 2.4.1. Misi Istilah misi berasal dari bahasa Latin “missio” (Inggris, mission) yang artinya mengirim atau mengutus. Di sini, yang dikirim atau diutus dengan otoritas dari yang mengirim, untuk tujuan khusus yang akan dicapai. Dari kata dasar missio dijabarkanlah juga kata benda missionaris/missionary = utusan Injil dan kata sifat missionary = missioner atau berwujud/bersifat/bersikap Pekabaran Injil (PI).29 Dengan demikian yang dimaksudkan dengan “misi” dalam kajian ini adalah misi kekristenan yaitu kegiatan menyebarkan Injil dilakukan atas dasar pengutusan Allah bagi gereja-Nya. Pengutusan misi tersebut merupakan kelanjutan pengutusan Kristus melalui gereja-Nya di tengah-tengah dunia ini untuk mewujudkan syalom Allah. Pemahaman tentang “misi” tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh R.M.C. Feffery dalam artikelnya tentang Theology of Mission, di mana dia menyebutkan bahwa misi itu sebagai aktivitas Allah Tritunggal untuk penebusan yang berpuncak pada diri Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus Allah datang membawa shalom (damai sejahtera) yang mengandung arti kebenaran, 27 Dalam bukunya: From Everywhere to Everywhere (London: Collins, 1991). 28 Andrew Kirk, What is Mission? (London: Darton, Longman, Todd, 1999), hlm.190-191. 29 de Kuiper, Missiologia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988), hlm.10.


12 keadilan, persekutuan, keutuhan dan keharmonisan hidup. Seluruh aktivitas Allah dalam penciptaan dan penebusan memiliki aspek misioner.30 Anak Allah adalah ungkapan kegiatan pengutusan Allah kepada manusia. Di dalam dia keputraan yang sempurna dengan Bapa tersedia bagi semua orang. Misi yang sesungguhnya hanya dapat dimulai dalam kuasa Kristus yang bangkit. Melalui karunia Roh Kudus, ciptaan baru dan zaman baru benar-benar diwujudkan dalam Kristus (Yoh.20:21-23). Roh Kudus adalah pusat misi Allah. Kegiatan misionaris Gereja mula-mula dimulai dengan Pentakosta. 2.4.1.1. Misi dalam PL Misi dalam Perjanjian Lama berfokus kepada tindakan Allah, yaitu pada apa yang Allah telah, sedang, dan masih akan lakukan, sesuai dengan kehendak-Nya yang telah dinyatakan-Nya.31 Untuk memahami misi dalam Perjanjian Lama kita perlu melihat tiga aspek pemilihan Allah atas umat-Nya, Israel, yakni: aspek universalime, aspek eskhatologis dan aspek Mesianis. Aspek universalime adalah tindakan atau perbuatan Allah terhadap seluruh dunia, di mana Allah bertindak secara universil. Kemudian dalam aspek eskhatologi, biasanya para Nabi menyampaikan berita dari Allah kepada bangsa-bangsa. Di dalam pemberitaan para nabi selalu saja ada pengharapan bahwa bangsa-bangsa lain akan ditarik menuju pusat kehadiran Allah Israel, lalu mereka (bangsa-bangsa lain itu) akan mengaku nama-Nya. Di dalam pengharapan itu bersatu janji dan seruan indikatif dan imperatif. Lalu gambaran keselamatan eskhatologis itu dalam PL digambarkan dengan datangnya berarak-arakan bangsa-bangsa, satu pawai yang besar ke arah Sion. Kedatangan itu merupakan gerakan sentripetal (pusaran), menuju ke pusat di mana tersedia keselamatan, di mana ada Yahwe dan umat-Nya, pusat kehadiran-Nya, pusat dunia! Bangsa-bangsa akan datang kepada Israel dan Allahnya. Kemudian aspek yang ketiga adalah aspek mesianis, yaitu pemilihan Allah atas umat-Nya adalah dalam kaitan masa depan Mesianis. Di dalam pengharapan Israel akan masa depan, pemegang kunci ialah Mesias yang dijanjikan selaku pembawa keselamatan. Oknum Mesias itu menunjuk kepada Hamba TUHAN yang menderita sebagaimana nampak dalam nyanyian-nyanyian Deutero Yesaya (Yes.40-55). Dengan demikian Israel sebagai fungsi perantara dalam rencana Allah, Ia harus menerima dengan taat keselamatan yang dari Allah, janji-Nya dan hukuman-Nya, supaya dapat memperlihatkan kepada bangsa-bangsa lain, siapa Allah Israel. Dalam misi Perjanjian Lama, fungsi Israel tidak lain daripada menjadi daya-penarik sehingga bangsa-bangsa akan datang menuju pusat, dengan perantaraan Israel selaku raja, imam dan nabi dalam pelayanan TUHAN. Pengharapan itu berfokus kepada kedatangan Mesias di masa depan yang gilang-gemilang atas Israel dan segala bangsa. 2.4.1.2. Misi dalam PB Jika dalam PL penekanan misi bersifat sentrifetal (menuju ke dalam) di mana bangsa-bangsa akan berduyun-duyun datang ke pusat (Israel), maka dalam Perjanjian Baru kita akan melihat gerakan misi keluar yang bersifat sentrifugal, di mana murid-murid dipanggil untuk pergi ke luar memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa. Titik berangkat misi dalam PB berpusat pada diri Yesus Kristus. Dalam diri-Nya kita melihat hubungan PL dengan PB, sebab Dialah Israel yang sesungguhnya, Israel yang baru. Yesus dalam diri-Nya mewakili, merangkumi dan menggenapi segenap sejarah umat Allah. Dalam kaitan dengan misi, titik tolak misi dalam PB adalah pengharapan eskhatologis mengenai pertobatan bangsa-bangsa dan penyembahan bangsa-bangsa dan penyembahan mereka kepada Allah yang benar dan tunggal. Karena itu inti pusat berita Injil ialah maklumat Yesus tentang Kerajaan Sorga yang telah mendekat (Mat.4:17). Apa yang dilakukan oleh Yesus 30 R.M.C. Feffery, “Mission, Theology of” in A Dictionary of Christian Theology (Chicago: Muddy Press, 1972), hlm.218. 31 David J. Bosch, Op.cit., hlm. 25.


13 menunjukkan tanda-tanda kasih kepada orang-orang sakit, lumpuh, menderita dan juga tanda pemenuhan janji-janji Allah kepada orang-orang kafir. Jadi Yesus belum melakukan pekabaran Injil dalam arti yang sebenarnya. Sedangkan perintah untuk keluar dan membawa berita Injil kepada orangorang kafir (bangsa-bangsa lain) belum diberikan. Diri-Nya sebagai kurban belum dipersembahkan sepenuhnya. Barulah di dalam kebangkitan-Nya tampak kedatangan kerajaan sorga; barulah setelah kebangkitan itu Yesus memberikan perintah yang tegas untuk keluar dan membawa kabar baik itu kepada semua bangsa (Mat.28:12-20). Setelah kebangkitan Yesus, kita melihat gerakan Jemaat Pertama dalam misi, khususnya dalam pekabaran Injil. Yang pertama adalah jemaat mula-mula di Yerusalem. Di sini nama Petrus menjadi tokoh yang sentral. Dia sendirilah saksi kebangkitan Yesus yang pertama (1 Kor.15:5) bnd. Luk.24:23 dan Yoh.20 dan 21). Boleh dikatakan bahwa gereja mula-mula memiliki gerakan yang kuat dalam misi setelah kebangkitan Yesus Kristus. Bahkan mereka juga berkorban secara finansial untuk mendukung pekabaran Injil, sehingga Injil dapat maju terus sampai ke ibukota dunia, Roma. Kemudian kegiatan misioner yang besar dapat kita lihat dalam misi Paulus, di Asia Kecil, di Yunani dan akhirnya di Roma (melalui Yerusalem). Dari karya pelayananannya kita melihat Rasul Paulus seorang pemikir ulung dalam PI dan seorang teolog yang dikaruniai oleh Tuhan. Paulus terpanggil secara khusus untuk bekerja di antara orang-orang kafir, orang-orang yang tak bersunat. Tuhan mempercarakan kepadanya untuk PI untuk orang-orang yang tak bersunat (Gal.2:7, bnd. Kis.9:15). Dapat disimpulkan bahwa misi dalam Perjanjian Baru didasarkan kepada inti kedatangan Yesus Kristus dan kebangkitan-Nya. Peristiwa kebangkitan itu adalah inti pusat bagi Jemaat Pertama dan para Rasul untuk diutus dan pergi memberitakan Injil ke luar. Gerakan sentrifugal dalam PI nyata kita lihat dalam PB, di mana Injil Kerajaan Sorga diberitakan ke mana-mana. Jadi gerakan misi sentrifugal dalam PB menandakan sebuah gerakan keluar di mana umat Allah diutus ke luar untuk menjangkau bangsa-bangsa dengan kesaksian.32 2.4.2. Missio Dei Teori tentang Missio Dei sangat penting dibahas sebagai landasan misi gereja di tengah-tengah dunia ini, termasuk sebagai landasan misi UEM. Sebenarnya misi Gereja bersumber dari misi Allah sendiri. Gereja tidak memiliki misi, tetapi Allah sendirilah pemilik misi itu. Dalam bidang Missiologi aktivitas Allah dalam misi disebut dengan istilah Missio Dei. Gagasan atau pemikiran tentang Missio Dei pertama sekali muncul dalam International Missionary Conference (IMC) di Willingen, Jerman (1952). Di situ misi dipahami berasal dari hakikat Allah sendiri. Berawal dari Centrisme Ecclesio Tambaran dan Whitby, dengan bertemakan Missionary Obligation of the Church (Kewajiban misioner Gereja) konferensi tersebut berakhir dengan mencatatkan sebagai Konferensi Misi yang paling teologis di abad ke-20, di mana ditemukannya kembali misi sesungguhnya dengan sebutan “Missio Dei”. Dengan demikian misi diletakkan dalam konteks doktrin Tritunggal, bukan eklesiologi atau soteriologi.33 Doktrin klasik tentang Missio Dei sebagai Allah Bapa yang mengutus Anak-Nya, dan Allah Bapa dan Anak mengutus Roh, diperluas hingga mencakup sebuah gerakan lain: Bapa, Anak dan Roh Kudus mengutus gereja ke dalam dunia. 32 Craig OTT, Stephen J. Strauss with Timothy C. Tennet, Op.cit., hlm.23. 33 Pada abad-abad sebelumnya misi dipahami dalam pengertian soteriologis: sebagai penyelamatan individu dari hukuman kekal. Atau dalam pengertian budaya: sebagai usaha memperkenalkan orang-orang dari Timur dan Selatan dengan berkat-berkat dan hak-hak istimewa dunia Barat yang Kristen. Sering kali misi dipahami dalam katergori-kategori Gerejawi: sebagai perluasan gereja (atau suatu denominasi tertentu). David J. Bosch, Op.cit., hlm.579.


14 Gambaran Willingen tentang misi adalah misi sebagai partisipasi di dalam pengutusan Allah. Misi kita tidak mempunyai kehidupannya sendiri: hanya di dalam tangan Allah yang mengutuslah misi benar-benar disebut misi, khusus karena inisiatif misioner itu datang dari Allah sendiri.34 Dengan pemahaman Missio Dei, maka misi bukanlah pertama-tama aktivitas gereja, melainkan suatu ciri Allah. Allah adalah missioner. Menurut David J. Bosch, seorang misiolog terkemuka Afrika Selatan, menuliskan: Mission is not the primarily an activity of the Church; but an attribute of God. God is [the] missionary (Misi itu pada intinya bukanlah sebuah aktifitas gereja; melainkan sebuah sifat Allah. Allah adalah misionaris [penginjil]-nya). Untuk menjelaskan butir itu Bosch mengutip pernyataan seorang teolog Jerman, Jurgen Moltman, yang mengatakan: “Bukanlah gereja yang memiliki misi penyelamatan di dunia ini; ini sesungguhnya misi Anak Allah dan Roh Kudus melalui Bapa yang menyertakan Gereja.” Untuk itu Bosch melanjutkan: “Misi dengan demikian dipandang sebagai sebuah gerakan dari Allah kepada dunia untuk mendatangkan syalom di dunia. Untuk itu gereja dipandang sebagai sebuah alat untuk melakukan misi tersebut. Gereja ada karena misi ada, bukan sebaliknya. Ikut serta dalam misi berarti ikut serta dalam gerakan kasih Allah kepada orang-orang, karena Allah adalah sumber kasih.”35 Terkait dengan Missio Dei, Andar Lumbantobing dalam bukunya, Azas dan Amanat Penginjilan mengatakan bahwa Missio Dei itu dimulai dari sorga. Sorga sendirilah yang menjadi home-base atau head-quarter, titik bertolak atau pangkalan besar dari zending (misi).36 Dengan pernyataan ini kita tidak bisa mengatakan bahwa gerejalah sebagai home-base dari misi, tetapi sebaliknya gerejalah sebagai fungsionaris dari Missio Dei itu. Karena itu menurut Andar bahwa Missio Dei bukan soal ekklesiocentris atau anthropocentus melainkan soal theologis dan christocentris. Menurut Ebenhaizer I. Nuban Timo berbicara tentang misi itu menunjuk kepada “pengutusan”. “Pengutusan adalah kata Indonesia untuk misi. Misi bukan salah satu aspek dari Gereja, melainkan Gereja adalah misi. Gereja ada karena misi. Misi adalah “ibu yang melahirkan Gereja”. Ia datang dari misi dan dalam terang misi itulah Gereja harus dipahami dan dimaknai. Misi adalah karya Allah di dalam Yesus Kristus, yang menciptakan Gereja dan membentuk bagaimana seharusnya Gereja. Misi bukan milik Gereja dan tidak berasal dari Gereja, tetapi Gerejalah yang berasal dari misi.37 Dalam pengutusan tersebut urutannya adalah: Allah mengutus Yesus (Missio Dei), Yesus mengutus Gereja (Missio Christi), Gereja mengutus warganya (Missio Ekklesia) dan warga Gereja terutus ke dunia (Missio Christiana).38 Menurut Widi Artanto, misi Allah menurut Alkitab sebenarnya hanya satu, yaitu Missio Dei, yang sering kita sebut sebagai misi atau karya penyelamatan Allah bagi seluruh ciptaan-Nya. Penyelamatan Allah itu bersifat utuh dan menyeluruh; mencakup keselamatan pribadi dan sosial; meliputi keselamatan jasmani dan rohani; masa depan dan masa kini; dalam semua bidang kehidupan (individu, keluarga, masyarakat, social, ekonomi, politik dan budaya; dan menuju kepada pemulihan seluruh ciptaan Allah.39 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya misi Gereja didasarkan kepada misi Allah: Missio Dei yang bersifat utuh dan menyeluruh. 34 Ibid., hlm.597. 35 Erne R. Camba, ”Partnership in Mission, A Biblico-theological and Historical Overview” in Partnership Seminar in Asia (Medan: UEM Asia, 2013), hlm. 9-10. 36 Andar Lumbantobing, Azas dan Amanat Penginjilan (Pematangsiantar: Perc. Mauli, 1982), 14. 37 Ebenhaezer I. Nuban Timo, Meng-Hari-Ini-Kan Injil di Bumi Pancasila (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), hlm.228. 38 Ebenhaezer I. Nuban Timo, Ibid., hlm.228. 39 Widi Artanto, Gereja dan Misi-Nya (Yogyakarta: Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, 2016), hlm.7.


15 2.4.3. Amanat Agung Dalam misi gereja, Amanat Agung Tuhan Yesus menjadi landasan yang sangat penting dalam pemberitaan Injil. Perhatian keilmuan Biblika secara sungguh-sungguh terhadap Amanat Agung (Matius 28:18-20) ini menjadi dasar alkitabiah untuk misi telah dimulai tahun 1940-an yang dirintis oleh Michel (1941 dan 1950/51) dan Lohmeyer (1951).40 Sejak saat itu muncullah minat untuk membahas dan meneliti teks Amanat Agung tersebut, khususnya dalam Injil Matius. Perikop tersebut menjadi bahan diskusi dan penelitian yang terus-menerus dilakukan oleh para ahli Biblika. Amanat Agung merupakan proklamasi anugerah Allah untuk keselamatan manusia di seluruh dunia sebelum sejarah berakhir. Karena pentingnya Amanat Agung tersebut, sampai-sampai Karl Barth mengatakan bahwa dalam amanat ini Yesus “mengharapkan sejarah pemerintahan Yesus dalam Gereja dan di seluruh dunia.”41 . Dalam Kitab Injil teks yang menunjukkan Mandat Injil/Amanat Agung – Mandat Allah kepada jemaat-jemaat berdasarkan Matius 28:18-20; Markus 16:15-18; Lukas 24:46-49; Yohanes 20:21-23; Kis.1:8 dan lain-lain, di mana Yesus yang telah bangkit mengutus para murid-Nya untuk membawa kabar baik dari Kerajaan-Nya dan menjadikan semua bangsa Murid-Nya. Di kalangan misionaris, khususnya Protestan sudah lama memperbincangkan “Amanat Agung” pada Matius 28:18-20 menjadi dasar untuk mengabarkan kabar baik bagi semua bangsa.42 Hal itu juga yang mendorong misi Protestan untuk mengabarkan Injil keseluruh dunia untuk menjangkau semua bangsa. Amanat Agung merupakan proklamasi anugerah Allah untuk keselamatan manusia di seluruh dunia sebelum sejarah berakhir. Kata “pergilah” dalam Matius 28:19 dalam bahasa Yunani poreuthentes yang menunjuk arti “berangkat, melintasi batas-batas” – batas-batas sosiologis, ras, budaya dan geografis untuk memberitakan Injil.43 Dengan pemahaman kata “pergilah” maka nampak misi Perjanjian Baru yang bersifat sentrifugal, di mana umat Allah tersebar ke segala penjuru dunia dan karena itu mereka diutus oleh Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil kepada segala bangsa.44 Dalam konteks sekarang orangorang percaya (=gereja) tidak merupakan pusat dan gaya penarik, melainkan ia harus pergi ke luar selaku gaya pusingan (sentrifugal), yaitu keluar dari lingkungan, milik dan keagamaannya sendiri untuk mempersiapkan gerakan sentripetal.45 Jadi berdasarkan perkataan “pergilah” merupakan dasar untuk ke luar dalam rangka menjangkau jiwa-jiwa bagi Kristus untuk diselamatkan. Dalam teks Amanat Agung itu, kita melihat tiga hakikat misi menurut Matius, yaitu: “menjadikan murid”, “membaptiskan”, dan “mengajarkan”. Hakikat pertama adalah menjadikan murid. Tujuan memberitakan Injil itu adalah permuridan. Murid yang dimaksud di sini bukanlah orang Kristen tetapi semua suku “bangsa (all nations) 46, tanpa batas (bnd. “semua kaum di bumi” Kej.12:1- 3; 18:18), yaitu manusia di seluruh dunia. Dengan demikian berkat yang dijanjikan kepada Abraham 40 David J. Bosch, Op.cit., 87-88. 41 Pernyataan Karl Barth sebagaimana dikutip oleh Paul Hertig, “The Great Commission Revisited: The Role of God‟s Reign in Disciple Making” (2001), Missiology, hlm.344. 42 David J. Bosch, Op.cit., hlm.88. 43 Johnnes Verkuyl, “The Biblical Foundation for the Worldwide Mission Mandate” dalam Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorn (editor), Perspectives on the Christian Movement A Reader, (Pesadena, California: William Carey Library, 1995), hlm. 49. 44 I Yoman Enos, Penuntun Praktis Misiologi Modern (Bandung: Kalam Hidup, 2012), hlm.30. 45 de Kuiper,Op.cit, hlm.45. 46 Memuridkan semua bangsa (disciple the nations) yang disebutkan di sini menurut Lesslie Newbigin bukanlah menunjuk “negara-negara bangsa” dalam pengertian modern, di mana bangsa-bangsa itu akan hidup sama sepeti ke-Yahudian dan hidup menurut Taurannya. Bukan pula mereka harus hidup sesuai dengan budaya (culture) Yahudi, sehingga budaya bangsa itu menjadi rusak. Tetapi secara alkitabiah “bangsa-bangsa” di sini menunjuk kepada komunitas di luar Israel, yang secara luas dimengerti sebagai komunitas dalam budayanya. Jadi objek baptisan dan pengajaran bukan bangsa (nations) tetapi persons (autous). Lesslie Newbigin, Mission in Christ’s Way (New York: Friendship Press, 1988), hlm.33-37.


16 dan keturunannya diteruskan kepada semua suku bangsa sebagai persiapan bagi waktu ketika “suatu kumpulan besar orang banyak… yang berasal dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta” Allah di sorga (bnd.Why.7:9). Hakikat misi yang kedua dalam Amanat Agung adalah membaptiskan. Dalam ay.19 dikatakan: “…dan baptislah mereka dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Sasaran misi para murid di sini adalah membaptis. Tugas panggilan untuk membaptis adalah perintah Tuhan Yesus itu sendiri: “Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka…” (Mat.28:19). Dengan dibaptis seorang murid mendapat identitas baru di dalam Kristus. Dia berada di bawah pemerintahan baru; dia menjadi abdi Allah; dia menjadi anggota komunitas Kristen, yaitu komunitas misioner.47 Baptisan adalah sarana anugerah Allah untuk masuk dalam persekutuan keluarga Allah. Hakikat misi yang ketiga dalam Amanat Agung adalah “…dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat.28:20a). Dari apa yang kita lihat, perintah “ajarlah mereka” ini, bersama-sama dengan perintah “baptislah mereka”, tampaknya merupakan isi yang sesungguhnya dari upaya pemuridan, karena itu pula, merupakan misi di dalam pemahaman Matius.48 Dalam konteks Matius pengajaran yang dikemukakan di sini bukanlah dimaksudkan di sini semata-mata suatu upaya intelektual tetapi merupakan panggilan untuk suatu keputusan konkrit untuk mengikuti Dia dan untuk taat kepada kehendak Allah. Dalam melaksanakan misi tersebut, Yesus berjanji akan menyertai murid-murid-Nya. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat.28:20b). Dalam hal ini Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa Dia akan senantiasa hadir di tengah-tengah mereka dalam pelaksanaan misi itu. 49 Hingga sekarang kita percaya bahwa janji penyertaan Yesus itu tetap nyata setiap hari bagi gereja-Nya. Janji penyertaan-Nya tidak pernah berubah dan akan tetap menuntun Gereja-Nya hingga akhir. 2.4.4. Misi Holistik Kata holistik berasal dari kata whole (Inggris) yang artinya: seluruhnya, sepenuhnya. Menurut pendapat para ahli pengertian holistik adalah sebuah cara pandang terhadap sesuatu yang dilakukan dengan konsep pengakuan bahwa hal keseluruhan adalah sebuah kesatuan yang lebih penting dari pada bagian-bagian yang membentuknya.50 Dalam konteks gereja, misi holistik adalah aktivitas/pelayanan yang memperhatikan kebutuhan manusia seutuhnya: roh, jiwa dan tubuh. 51 Kebutuhan roh dipenuhi dengan memberi pelayanan untuk keselamatan pribadi melalui Yesus Kristus. Kebutuhan jiwa dan tubuh dipenuhi dengan memberikan pelayanan tanggung-jawab sosial.52 Dalam persfektif Alkitabiah, misi holistik itu didasarkan kepada Allah yang menghendaki semua manusia dan ciptaan lainnya dapat menikmati syalom Allah. Beberapa tinjauan Alkitab sebagai dasar untuk misi holistik adalah: 1) Penciptaan manusia pertama (Adam) dari debu tanah dan memiliki nafas hidup (Kej.2:7). Lalu Allah memberikan buah-buahan sebagai makanannya (Kej.2:16) dan Allah memperhatikan kebutuhan jiwanya (Kej. 2:18). Karena itu misi holistik harus memperhatikan dimensi fisik, jiwa dan rohaninya; 2) Misi holistik harus memperhatikan dimensi sosial, sebab Allah 47 John Ruck, Anne Ruck, dkk., Jemaat Missioner (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2011), hlm.166. 48 David J. Bosch, Op.cit., hlm.103. 49 Johnnes Verkuyl, “The Biblical Foundation for the Worldwide Mission Mandate” dalam Ralph D. Winter, Steven C. Hawthorn (editor), Perspectives on the Christian Movement A Reader, hlm.49. 50 http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-holistik/, diakses 23 Sept.2022. 51 John Ruck, Anne Ruck, dkk., Op.cit., hlm.18. 52 Bambang Eko Putranto, Misi Kristen (Yogyakarta: Andi Offset, 2007), hlm.105.


17 menghendaki manusia memperoleh keselamatan atau kebebasan dari berbagai aspek yang mengikat (Yes. 58:6-7; Luk. 4:18-19); 3) Misi holistik juga memperhatikan dimensi alam, sebab Injil juga adalah untuk segala mahluk. Yesus berkata: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk." (Mrk.16:15). Misi holistik adalah mandat misi Allah yang membawa syalom Allah yang mencakup aspek jasmani, rohani. budaya, sosial, ekonomi, politik, ekologi, dll. Misi holistik tersebut, sering juga disebut dengan misi integral, di mana membawa kita kepada pelayanan yang terintegrasi, yaitu dengan memproklamirkan Kabar Baik dan sekaligus menunjukkan kasih Allah secara konkrit dalam pergumulan bangsa dan dunia. Implementasi misi holistik itu didasarkan kepada apa yang dilakukan oleh Yesus selama hidup-Nya di dunia.Yesus tidak hanya hadir di dunia sebagai penebus yang dapat mendamaikan kita dengan Allah (2 Kor.5:18-19). Tetapi pada saat yang tepat, di mana dunia di sekitar-Nya penuh dengan bencana, kemiskinan, kebencian, serta ketidakadilan. Kita dapat melihat misi Yesus secara menyeluruh (holistik): Dialah Juruselamat pembawa Kabar Baik bagi dunia (Luk.4:18-19). Selama pelayanan-Nya di dunia, Ia selalu menemui orang-orang yang berkekurangan secara rohani, sosial, politik, dan fisik. Contohnya, orang-orang seperti Zakheus pemungut cukai, pelacur, orang-orang “berdosa” lainnya (Luk.15:2), dan orang seperti Nikodemus (Yoh.3:1-13). Dalam Injil juga diceritakan bahwa Yesus memberikan makan 5000 orang. 53 Karena itulah Yesus menghendaki Gereja-Nya (= orang-orang percaya) untuk melanjutkan pelayanan yang telah dimulai-Nya di dunia ini, yaitu melakukan pelayanan dengan memperhatikan kebutuhan manusia secara holistik. 2.4.5. Paradigma Misi UEM UEM (United Evangelical Mission) adalah persekutuan gereja-gereja di tiga benua yang terdiri atas 39 lembaga gereja yang tersebar di Afrika, Asia dan Jerman, serta satu institusi Diakonia terbesar di Jerman yakni von Bodelschwing-Stiftung-Betel. Kantor Pusat UEM berada di Wuppertal, Jerman, sedangkan Kantor Regional di Afrika berlokasi di Dar es Salaam dan Kantor Regional Asia di Pematangsiantar. Dalam sejarahnya badan misi Jerman yang mengutus misionaris ke Afrika dan Asia (termasuk) ke Indonesia awalnya disebut dengan Rheinische Mission Gesellschaft (RMG) yang berdiri tanggal 23 September 1928.54 Sejak itu RMG begitu aktif mengadakan misi ke beberapa Negara/daerah di Afrika dan di Asia. Missionaris pertama mereka diutus ke Afrika Selatan pada tahun 1829. Untuk Asia dan Afrika, secara kronologis dicatat ke Kalimantan (1836), Naibia (1842), China (1847), Batak (1861), Nias (1865), PNG (1887), Mentawai (1903), Papua (1960) dan Karo (1961).55 Gereja-gereja sebagai hasil penginjilan RMG di Sumatera Utara – baik langsung atau tidak langsung – adalah: HKBP, GKPS, GPKB, GKPI, HKI, GKLI, GKPA dan GKPM; semuanya (kecuali GPKB) berkantor Sinode (pusat) di Sumatera Utara dan sekitarnya.56 53 Jhon Ruck dan Anne Ruck,dkk, Op.cit., hlm.313-316. 54 H.M. Girsang, Op.cit., hlm. 28. 55 H.M. Girsang, Ibid, 8 56 Jan S Aritonang, Op.Cit., hlm.23. Kini Gereja-gereja Anggota UEM di Indonesia, terdiri dari 13 Gereja, yaitu: Huria Kristen Protestan Indonesia (HKBP), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), Gereja Kristen Jawa Timur-Utara (GKJW), Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKI-TP) dan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE). Sementara itu ada lagi Chinese Rhenish Church Hongkong Synod (CRC), United Church of Christ in the Philippines (UCCP) dan Methodist Church of Sri Langka (MC-SL). Dengan demikian jumlah Gereja anggota UEM di Asia ada sebanyak 17 Gereja anggota. Lihat https://www.vemission.org/en/about-uem/uem-in-africa-asia-germany/uem-in-asia


18 Untuk memahami paradigma misi UEM kita mendasarkannya pada Tata Dasar UEM (UEM Constitution) yang disahkan oleh General Assembly di Ramatea (1993) dan juga yang diperbaharui dalam General Assembly 2018. Dalam Tata Dasar itu mandat dan tugas UEM secara jelas dinyatakan prinsip-prinsip misi yang mengikat UEM dalam melaksanakan tugasnya, yakni:57 a) UEM didirikan berdasarkan Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan dipanggilan untuk melaksanakan tugasnya demi mencapai maksud dan tujuan kerjasama misi (joint action in mission). b) Tugas tersebut dilakukan dengan jaringan kerjasama dari gereja-gereja yang ada di Afrika, Asia dan Jerman serta di tempat lain di mana dia terpanggil. c) Gereja-gereja anggota UEM sama-sama memproklamasikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat Dunia dan secara bersama-sama menjawab tantangan misi masa kini. d) Dalam dunia yang terpecah belah ini gereja-gereja anggota UEM berjanji untuk tetap menjadi anggota dari tubuh Kristus dan karena itu: (1) Tumbuh bersama (growing together) dalam persekutuan yang beribadah, belajar dan melayani. (2) Saling berbagi karunia, wawasan dan tanggung-jawab. (3) Memanggil semua umat manusia untuk bertobat dan menjalani hidup baru. (4) Menjadi saksi Kerajaan Allah dengan memperjuangkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. e) UEM juga ikut ambil bagian dalam pelaksanaan tugas dan tanggung-jawab misi dari gereja-gereja anggotanya dengan cara: (1) Menyediakan kesempatan untuk saling bertemu, berdialog, berbagi pengalaman, mengadakan diskusi terbuka dan berefleksi bersama mengenai tugas-tugas masa kini. (2) Meningkatkan pelatihan, pengutusan dan pertukaran tenaga untuk pelayanan misi di gerejagereja dan di daerah pelayanan misi bersama. (3) Mendorong untuk saling berbagi berkat maupun saling memberi dukungan dana untuk tugas-tugas misi, pelayanan kemanusiaan dan social gereja untuk program bersama maupun untuk organisasi-organisasi oikumenis. f) UEM juga melakukan tugasnya atas nama gereja-gereja anggota dan jemaatnya dalam kerjasama dengan kelompok-kelompok yang berkaitan dengannya. Juga bekerjasama dengan organisasiorganisasi yang giat dalam bidang pelayanan oikumenis, pengembangan gereja dan jaringan kerja misi lainnya. Misi UEM sangat dipengaruhi misi Kristen se-dunia dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur misi. UEM adalah salah satu lembaga gereja yang pertama dalam sejarah misi yang berubah menjadi struktur misi oikumenis internasional yaitu persekutuan gereja-gereja di tiga benua: Asia, Afrika dan Jerman. UEM memahami bahwa misi adalah Missio Dei, misi Allah sendiri yang bersifat holistik. Itulah yang kita lihat dalam UEM Statement on Corporate Identity tersebut. Asal-usul misi adalah di dalam hati Allah. Allah adalah sumber kasih yang mengutus. Misi adalah tindakan Allah yang berpaling kepada dunia sehubungan dengan ciptaan, pemeliharaan, penebusan dan penggenapan. Dalam Konstitusi UEM Pasal 2:2-b, “Bersama” [kita] menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat seluruh umat manusia dan harus mampu menghadapi tangtangan penginjilan.” Sejalan dengan itu dalam Pasal 2:2-c-(4) menyatakan bahwa anggota-anggota UEM berkomitmen untuk: “Melahirkan saksi-saksi bagi Kerajaan Allah dalam perjuangan untuk Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.”58 Dengan pemahaman itu misi UEM meliputi tugas evangelistik serta kesaksian untuk Kerajaan Allah di area-area sosial, budaya, ekonomi dan politik. Misi itu berlangsung dalam sejarah 57 https://www.vemission.org/fileadmin/redakteure/Dokumente/LegalTexs-2018 Druckfreigabe_01.03.2019.pdt,4. 58 Erme R. Camba, Op.cit., hlm.14.


19 manusia, bukan eksklusif di dalam dan melalui gereja. Berdasarkan pemahaman misi UEM itu, gerejagereja anggota UEM harus bekerjasama untuk mewujudkan Missio Dei itu dengan kemitraan (partnership). 2.5. Kerangka Berpikir Pada bagian ini dikemukakan konstrak berpikir yang didasarkan kepada kerangka teori yang telah dibahas sebelumnya. Kajian dalam disertasi ini adalah untuk menemukan dasar teologi dan strategi kemitraan dalam misi Paulus, UEM dan Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara. Berdasarkan teori-teori kemitraan dan misi kita menemukan bahwa yang menjadi landasan misi UEM adala Missio Dei (Misi Allah) yang merupakan misi holistik UEM. Untuk mewujudkan Missio Dei itu peranan kemitraan sangat menentukan. Tanpa kemitraan misi akan mandeg bahkan tidak berjalan. Selanjutnya stategi kemitraan dalam misi yang dilakukan oleh Paulus, UEM dan Gereja-gereja anggota UEM di Sumatera Utara menjadi sebuah kajian yang sangat penting untuk diimplementasikan di GKPI untuk merespons permasalahan yang ada terkait dengan hubungan kemitraannya. MISSIO DEI (Holistic Mission) KEMITRAAN (Partnership) PAULUS UEM GEREJA -GEREJA ANGGOTA UEM DI SUMUT GKPI


20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Metode penelitian yang dilakukan untuk pendekatan masalah penelitian sebagaimana dalam Bab I adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada obyek yang alamiah, yang berkembang apa adanya, di mana instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri.59 Penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati. Untuk meneliti pertanyaan dalam rumusan masalah, khususnya untuk mengkaji signifikansi kemitraan dalam misi UEM, maka penulis menggunakan penelitian kualitatif jenis “wawancara terpusat” (focused interviews),60 yaitu terhadap stakeholders kemitraan di gereja-gereja Anggota UEM (khususnya HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI) dan juga Pengurus UEM Asia. Di samping itu pendekatan penelitian studi dokumen (document study) juga sangat penting dilakukan untuk meneliti pemahaman dan praktek kemitraan UEM, khususnya dalam kurun waktu 2012-2022. Dalam hal ini akan meneliti strategi UEM terkait dengan kemitraan dalam misi. 3.2. Waktu Penelitian Jangka waktu untuk penelitian kualitatif pada umumnya menggunakan waktu yang cukup lama, karena tujuan penelitian kualitatif adalah bersifat penemuan. Namun demikian kemungkinan waktu penelitian bisa berlangsung dalam waktu yang pendek, bila telah ditemukan sesuatu dan datanya sudah jenuh.61 Jadi hal itu bergantung kepada proses waktu yang digunakan dalam wawancara yang sedetail-detailnya, dan bisa saja berkali-kali sesuai dengan kesediaan waktu para stakeholders kemitraan yang ada di Gereja-gereja Anggota UEM sebagaimana disebutkan di atas. Namun demikian peneliti melakukannya 4-6 bulan. 3.3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data adalah sebuah cara dalam pengumpulan data yang menggunakan beberapa metode. Untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dalam Rumusan Masalah (Bab I, butir 1.2.1-4) maka dalam penelitian ini penulis menggunakan 3 (dua) metode teknik pengumpulan data, yaitu: 3.3.1. Metode Eksegetis Untuk memahami dan menggali arti dan makna teks 1 Korintus 12:12-29 dan Filipi 2:19-20; 4:10-20 dalam rangka mengkaji dasar teologis kemitraan dan strategi Paulus terkait dengan kemitraan dalam misi dari sudut Biblika (Bab I, 1.2.1), maka peneliti menggunakan metode eksegesis 59 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2016), hlm.15 60 Wawancara terpusat merupakan proses penelitian yang memperoleh informasi dengan cara-cara tanya-jawab secara tatap muka antara peneliti (sebagai pewawancara dengan atau tidak menggunakan pedoman wawancara) dengan subjek yang diteliti. Wawancara terpusat adalah salah satu jenis Penelitian Kualitatif. Setidaknya ada 8 (delapan) jenis penelitian kualitatif, yakni etnografi (ethnography), studi kasus (case studies), studi dokumen/teks (document studies), observasi alami (natural observation), wawancara terpusat (focused interviews), fenomenologi (phenomenelogy), grounded theory, studi sejarah (historical research). https://www.ilmusaudara.com/2017/03/pengertian-penelitian-kualitatif-dan.html, diakses pada 23 September 2022. 61 Sugiyono, Op.cit., hlm.37


21 (penafsiran teks). Stuart memberikan penjelasan bahwa eksegesis adalah hal mempelajari Alkitab secara sistematis dan teliti untuk menemukan arti asli yang dimaksudkan.62 3.3.2. Metode Wawancara Wawancara merupakan teknik pengampilan data di mana peneliti langsung berdialog dengan informan untuk menggali informasi dari mereka. 63 Wawancara dilakukan secara tidak terstruktur (bersifat terbuka).64 Teknik untuk memperoleh data dengan wawancara ini adalah untuk mengumpulkan data dalam rangka menjawab pertanyaan dalam Rumusan Masalah (sebagaimana dalam Bab I butir 1.2.3-4). Informan penelitian dalam kajian ini adalah mereka yang menangani kemitraan (person in charge) atau stakeholders kemitraan di Gereja-gereja Anggota UEM sebagaimana disebutkan di atas dan juga wawancara dengan Pimpinan Gereja masing-masing sebagai pendukung. 3.3.3. Studi Dokumen Teknik pengumpulan data dengan “Studi dokumen” digunakan untuk melengkapi data dari hasil wawancara. Studi dokumen menunjukkan bahwa metode pengumpulan data kualitatif di mana sejumlah fakta dan data tersimpan dalam bahan dokumentasi.65 Dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis, untuk menjawab pertanyaan dalam Rumusan Masalah (sebagaimana dalam Bab I butir 1.2.2- 4), maka data-data yang akan dikumpulkan berupa: dokumen-dokumen Sidang Raya UEM tentang kemitraan dan misi, guide line kemitraan UEM, peraturan konstitusi UEM, laporan-laporan proyekproyek atau program-program kemitraan gereja-gereja anggota UEM, dll. 3.3.4. Observasi Observasi (pengamatan) adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu.66 Peneliti sendiri telah melakukan observasi partisipatif selama periode 2010-2020 sebagai personil yang menangani kemitraan di Kantor Sinode GKPI, dan yang turut aktip untuk mengikuti program-program kemitraan yang diselenggarakan oleh UEM. 3.4.Informan Untuk memperoleh data-data terkait dengan kajian terhadap strategi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara dalam hubungannya dengan kemitraan dalam misi maka peneliti mewawancarai atau menggali informasi dari stakeholders atau person in charge yang menangani kemitraan di 5 gereja Anggota UEM di Sumatera Utara, Pucuk Pimpinan Gerejanya masing-masing dan Wakil Sekretaris UEM Asia, yang keseluruhannya berjumlah 12 orang. 3.5.Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah tempat di mana peneliti mendapat informasi mengenai sesuatu yang akan diteli, lokasi penelitian yang dimaksud adalah: 62 Douglas Stuart & Gordon D. Fee, Hermeneutik Manafsir Firman Tuhan Dengan Tepat (Malang: Gandum Mas, 2011), hlm.19. 63 Suliyanto, Metode Penelitian Bisnia (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018), hlm.164 64 Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan dengan tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon. Sugiyono, Op.cit.,, hlm.194. 65 Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm.184. 66 V. Wiratna Sujarweni, Metodologi Penelitian-Bisnis, (Yogyakarta: Pustakabarupress, 2015), hlm.32.


22 1. Kantor Pusat HKBP Alamat: Jln. Putri Lopian, Pearaja Tarutung, Hutatoruan IX, Kec. Tarurung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 22411 2. Kantor Pusat HKI Alamat: Jln. Melanthon Siregar No.111, Parhorasan Nauli, Kec. Siantar Marihat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara 21128 3. Kantor Sinode GKPS Jln. Wismar Saragih No. 23. Kel. Bane, Kec. Siantar Utara, P. Siantar 4. Kantor Pusat GKPA Jln. Teuku Umar No. 102 Padangsidempuan 5. Kantor Sinode GKPI Alamat: Jln. Kapt. M.H. Sitorus No.13 Pematangsiantar, Sumatera Utara 21115 6. Kantor UEM Asia Jln. Wismar Saragih, Bane, Kec. Siantar Utara, Kota Pematang Siantar, 21142, Sumatera Utara, Indonesia. 3.6.Teknis Analisa Data Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber selanjutnya dianalisa. Analisa data kualitatif adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasi data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.67 Analisa data penelitian kualitatif dilakukan sebelum atau selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. 3.7.Validitas, Tranferabilitas, Reabilitas Uji keabsahan data dalam penelitian, menekankan tiga hal, yakni validitas, transferabilitas dan reabilitas. Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Kemudian dalam pengujian transferabilitas (validitas eksternal) menunjukkan derajad ketepatan atau dapat diterapkan hasil penelitian tersebut dalam situasi atau di tempat lain. Selanjutnya dalam uji reabilitas, berkaitan dengan derajad konsistensi dan stabilitas data atau temuan. 68 67 Sugiyono, Op.cit., hlm.335. 68 Ibid., hlm.364-365.


23 BAB IV KEMITRAAN DALAM MISI Dalam Bab ini peneliti melakukan kajian terhadap teologi dan strategi kemitraan dalam misi Paulus menurut kajian Biblika yang dalam hal ini fokus meneliti 1 Korintus 12:12-19, Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20. Selanjutnya dalam bagian yang kedua adalah mengkaji strategi UEM dalam hubungannya dengan kemitraan dalam misi dalam kurun waktu sejak 2012-2022. Juga dalam kaitan kemitraan dalam misi, pada bagian yang ketiga adalah mengkaji strategi Gereja-gereja anggota UEM di Sumatera Utara,yang dalam hal ini 5 gereja, yaitu: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI. Kelima gereja tersebut menjadi subyek penelitian penulis.69 4.1. Kemitraan Dalam Misi: Kajian Biblika - Strategi Paulus Berbicara tentang ide kemitraan dalam Alkitab dapat ditinjau dari bagian-bagian tertentu baik dalam PL maupun PB. Misalnya dalam PL hal kemitraan dapat dilihat dalam Kejadian 1:18-25, di mana Allah melihat tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, karena itu Allah menjadikan bagi manusia itu seorang perempuan sebagai penolong (counterpart), yaitu Hawa. Antara Adam dan Hawa menjadi mitra yang sepadan. Kemudian kebersamaan dua orang menggambarkan sesuatu yang indah bagi Tuhan. “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.” (Pkh.4:6-12). Kebersamaan dua orang tersebut telah melukiskan pola keseluruhan kemitraan dalam banyak ayat-ayat yang paralel dalam Alkitab. Sehingga dalam PB nampak Yesus mengutus para murid-Nya berdua-dua (two by two) dalam perjalanan melalui Israel. 70 Selanjutnya dalam PL kita melihat ide kemitraan tersebut dilanjutkan oleh Nuh yang diikuti oleh Abraham dan Yakub. Dengan mereka Allah membuat perjanjian. Mereka adalah sekutu dan mitra! Nantinya, perjanjian ini diteruskan dari nenek moyang mereka kepada keturunan mereka. Ini menyiratkan tidak hanya hubungan kemitraan dengan TUHAN tetapi juga di antara kaum Israel sendiri. Hubungan ini perlu harmonis karena perbedaan pendapat di satu sisi akan menyebabkan melemahnya kemitraan secara keseluruhan. Sebagian besar dalam PL adalah ketidaksesuaian (disagreements), karena dalam PB Allah telah memperbaharui perjanjian-Nya melalui Yesus Kristus yang tidak hanya dengan orang Israel tetapi dengan seluruh manusia. Dari sudut pandang Yahudi, semua orang yang di luar mereka, di negara dan benua manapun adalah sekutu atau mitra Tuhan.71 Dalam PB ada dua hal yang mendasar sebagai landasan untuk kemitraan dalam hal ini penulis akan melakukan kajian terhadap dua Kitab, yaitu: 1 Korintus 12:12-31, Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10- 20. Alasan memilih 1 Korintus 12:12-19 adalah karena dalam perikop ini Paulus menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus (the Body of Christ) di mana anggotanya terikat satu sama lain. Kemudian alasan memilih Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20 sebagai perikop berikutnya untuk dasar teologis kemitraan adalah karena dalam perikop ini nampak pola-pola kemitraan dalam misi yang dilakukan oleh Paulus dengan Jemaat Filipi dan rekan sekerjanya. 69 Sebagaimana disebutkan dalam butir 2.2.4. bahwa Gereja-gereja Anggota UEM di Indonesia, terdiri dari 13 Gereja, yaitu: HKBP, GKPI, HKI, GKPS, GKPA, GBKP, GPKB, GKPPD, BNKP, GKPM, GKJW, GKI-TP, GKE. Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel di 5 gereja yang ada di Sumatera Utara yang memiliki kemitraan dengan Gereja-gereja Anggota UEM di Jerman. 70 H.M. Girsang, “Partnership as Spiritual Frienship” in The Overveiew on the United Eavngelical Mission (UEM) Establisment (Medan: UEM Asia, 2014), hlm.3. 71 Ibid., hlm.3.


24 4.1.1. Eksegese 1 Korintus 12:12-31 Untuk mengkaji dasar teologis kemitraan dalam 1 Korinttus 12:12-31 sekaligus mengkaji strategi Paulus terkait dengan kemitraan dalam misi, peneliti melakukan metode eksegetis dengan menguraikan data-data penelitian yang meliputi latar belakang teks, waktu dan tempat penulisan, struktur teks, konteks nats dan tafsiran ayat per ayat. Dari proses eksegese 1 Korintus 12:12-31 di atas peneliti memaparkan konsep Paulus tentang gereja. Gereja (baca: orang-orang percaya) adalah tubuh Kristus (the body of Christ). Dalam teks tersebut Paulus menganalogikan “jemaat” sebagai tubuh manusia. Tubuh manusia adalah satu, tetapi terdiri dari banyak anggota, di mana anggotanya terikat satu sama lain. Sebagaimana anggota tubuh individu yang saling berhubungan dan berfungsi sebagai satu kesatuan, begitulah gereja saling berhubungan satu sama lain, karena anggota tubuh Kristus. Penekanan konsep “jemaat sebagai tubuh Kristus” sangat relevan di tengah situasi munculnya perselisihan dan golongan-golongan di Jemaat Korintus yang mengarah kepada perpecahan: ada kelompok Paulus, Apolos, Kefas, dan Kristus (1 Kor. 1:12). Karena itu Paulus berusaha mendorong jemaat itu untuk erat bersatu dan sehati sepikir (1 Kor.1:10). Mereka adalah satu dalam tubuh Kristus. Kerjasama antara kepala, tangan dan kaki, gerakan lengan dan kaki maka terciptalah sebuah kekuatan. Demikian pula, jemaat secara lokal maupun universal adalah satu di dalam Kristus. Sebagaimana tubuh adalah satu dengan banyak anggota dan anggota yang satu berbeda dengan anggota lainnya baik secara bentuk dan fungsi, demikian pula, jemaat lokal maupun universal, walaupun anggota jemaat yang satu memiliki peran dan kemampuan berbeda, tetapi anggota jemaat adalah satu dalam satu kesatuan tubuh Kristus. Dalam ayat 27 dikatakan: "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" Bagaimana “proses” anggota jemaat menjadi bagian tubuh Kristus didasarkan kepada baptisan. Sebab dalam satu Roh semuanya anggota jemaat apapun status dan kebangsaannya, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka jika mereka telah dibaptis menjadi satu tubuh atau menjadi bagian anggota tubuh Kristus (1 Kor.12:13). Karena kamu semua, yang telah dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus (Gal.3:27). Sebagaimana tubuh terdiri dari banyak anggota, demikian juga jemaat dalam skala lokal ataupun universal, terdiri dari banyak anggota maka setiap anggota yang berbeda-beda itu disatukan di dalam kesatuan tubuh Kristus. Anggota jemaat yang banyak itu, dibutuhkan bukan cuma jumlahnya, tetapi fungsi atau peran dari tiap-tiap anggota jemaat berbeda-beda, dengan tujuan untuk saling menolong dan melengkapi. Perhatian Paulus dalam 1 Kor.12 ini tidak hanya berbicara tentang kesatuan tetapi juga perbedaan. Masing-masing anggota jemaat memiliki karunia yang berbeda-beda (1 Kor.12:7-11), tapi satu Roh (ay.4). Perbedaan karunia-karunia dalam anggota jemaat adalah pernyataan Roh untuk kepentingan bersama (1 Kor.12:7). Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk saling melengkapi (1 Kor.12:26). Teologi “satu tubuh, banyak anggota” yang menunjuk kepada jemaat lokal maupun universal dan yang menjadi bagian tubuh Kristus sebagaimana dalam 1 Korintus 12 menjadi dasar teologis kemitraan gereja dalam misi. Jemaat yang berbeda-beda secara lokal maupun universal harus saling memperhatikan dan membutuhkan untuk kepentingan bersama (tubuh Kristus). Karena itu kemitraan yang didasarkan kepada kesatuan anggota dalam tubuh Kristus adalah suatu keharusan (obligation), bukan pilihan. Gagasan mengenai tubuh Kristus ini menunjukkan betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya di seluruh dunia untuk kepentingan agar tubuh Kristus berfungsi secara efisien dalam misi.


25 4.1.1. Eksegese Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20 Untuk mengkaji strategi Paulus terkait dengan kemitraan dalam misi dalam konteks Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20, peneliti juga melakukan metodologi eskegetis dengan menguraikan deskripsi surat Filipi yang meliputi waktu dan tempat penulisan surat, latar belakang penulisan, alasan Paulus menulis suratnya ke Jemaat Filipi, struktur surat dan penafsiran ayat. Dari proses eksegetis terhadap Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20 di atas maka peneliti memaparkan bahwa dalam rangka memajukan Pekabaran Injil Paulus membangun sebuah strategi dengan melakukan hubungan kerjasama dengan rekan-rekan sekerjanya, yang kita sebut kemitraan. Paulus bukanlah misionaris yang melakukan Pekabaran Injil secara sendiri, tetapi melibatkan rekanrekan sekerjanya.72 Dari Filipi 2:19-30 kita memahami pola pertama Kemitraan Paulus dalam pekabaran Injil menurut Surat Filipi adalah pola kemitraan personal (sebagai misionaris) dengan rekan sekerja (Timotius dan Epafroditus). Dalam hal ini disebut dengan pola kemitraan bilateral. Peranan Timotius dan Epafroditus untuk mendukung pelayanan PI Paulus sangat besar. Kemudian berdasarkan Filipi 4:10-20 kita memahami pola kedua kemitraan Paulus dalam Surat Filipi (yang juga bilateral) adalah kemitraan dengan sebuah gereja yaitu Jemaat Filipi yang begitu banyak memberi bantuan secara materi untuk mendukung penginjilan Paulus. Dalam hal ini Jemaat Filipi sudah merupakan sebuah gereja pengutus. Lalu kita juga melihat pola ketiga kemitraan Paulus dalam Surat Filipi adalah kemitraan trilateral, dalam kemitraan Paulus dengan Jemaat Filipi dan Epafroditus. Dasar teologis kemitraan dalam Surat Filipi ini adalah: 1) Kesehatian. Kepribadian Timotius sangat melekat di hati Paulus. Ia mengatakan: “Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu.” (Flp.2:20). Kata “yang sehati dan sepikir” (LAI) diterjemahkan dari kata isopsuchos (Yunani), terjemahan KJV “likeminded”; TEV “share my feelings”. Kata isopsuchos menunjukkan bahwa Paulus sama kemauan, pikiran dan sifatnya dengan Timotius dalam mengerjakan tugas pekabaran Injil termasuk memerhatikan kepentingan Jemaat Filipi. 2) Berbagai kasih karunia (share grace) dan itu nampak dengan apa yang dilakukan oleh Paulus kepada Jemaat Filipi dan juga sebaliknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Timotius, di mana dia menguatkan jemaat Filipi tentang Injil dan Epafroditus menunjukkan sikapnya yang begitu mengasihi misi Paulus, sehingga dengan segenap hati dia membawa bantuan jemaat Filipi kepada Paulus. 4.2. Kemitraan Dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi UEM Bagian ini disajikan untuk menjawab Rumusan Masalah dalam Bab I butir 1.2.2. “Bagaimanakah strategi kemitraan dalam misi UEM yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi UEM (2012-2022).” Untuk menjawab pertanyaan itu penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode studi dokumen terhadap dokumen-dokumen UEM yang membahas tentang strategi kemitraan dalam misi Gereja-gereja Anggota UEM 2012-2022. Berdasarkan uraian data Bab IV butir 4.2 maka melalui dokumen-dokumen tersebut nampak strategi UEM dalam mensukseskan kemitraan dalam misi melalui event-event seperti dalam: 1) Konferensi Kemitraan Internasional 2012 di Parapat. 2) Partnership Seminar di Asia 2013 di Medan. 3) Konsultasi Kemitraan ELCRN – Jerman 2013 di Bad Dribug, Jerman. 4) Perayaan Dua Dekade Internasional UEM 2016 di Medan. 5) Konferensi Kemitraan Internasional UEM 2017 di Wuppertal. 6) Seminar Kemitraan Asia UEM 2018. 72 Sikap Paulus dalam kemitraan, bisa dibandingkan dengan Roma 16:1-24, di mana Paulus menyebutkan salam bagi banyak orang sebagai mitra atau rekan-rekan sekerjanya. Ada 29 orang nama yang Paulus sebut, itu menunjukkan bahwa Paulus sangat mementingkan kemitraan dalam misinya.


26 7) Sidang Raya ke-10 UEM 2022 di Villigst di Jerman. Setelah meneliti sejarah perjalanan misi UEM tersebut, nampak bahwa kemitraan sangat signifikan dalam mewujudkan misi UEM di dunia ini. Kemitraan gereja-gereja anggota UEM untuk menjalankan misi bersama dipengaruhi oleh terbentuknya nama baru UEM (United Evangelical Mission) yang ditetapkan pada tanggal 5 Juni 1996 yaitu pada Sidang Raya UEM yang berlangsung 2-9 Juni 1996 di Bethel, Jerman. Dengan adanya persekutuan yang baru (UEM), maka rumah-rumah misi tersebar di tiga benua tersebut baik di Asia, Afrika dan Jerman. Gereja-gereja penerima dan pemberi telah berubah menjadi mitra jaringan gerejagereja di belahan dunia. Seluruh gereja mitra saling berbagi tugas dalam misi Allah dan misi tersebut tidak lagi dipandang dari evangelisasi dalam lingkup dirinya sendiri; justru, lebih luas lagi, merangkul makna keselamatan jiwa dan raga yang holistik. Jadi dalam pelaksanaan misi UEM (Misi Holistik) sebagaimana dalam Tata Dasar UEM harus dilakukan secara bersama dalam bingkai kemitraan. Kemitraan merupakan tulang pungung (back bone) UEM dalam misi. Jadi sejak internasionalisasi UEM 1996 pola kemitraan UEM berubah, yang tadinya mitra UEM adalah seluruh gereja-gereja buah penginjilan Zending Barmen (RMG), namun setelah internasionalisasi UEM, maka kemitraan itu memasuki bentuk baru, yaitu kemitraan antara gereja-gereja anggota UEM yang berada di benua Asia, Afrika dan Jerman baik secara bilateral maupun trilateral. Kemudian manfaat dan pentingnya kemitraan dalam misi UEM dilihat dari sudut sejarah perjalanan dan pengalaman gereja-gereja anggota UEM secara bersama yang diungkapkan melalui keputusan-keputusan bersama. Salah satu keputusan yang sangat penting UEM dalam membangun kemitraan yang kuat di antara gereja-gereja anggota UEM adalah Pedoman Kemitraan UEM (UEM Partnersip Guideline) yang ditetapkan melalui Sidang Raya UEM sejak 1997. Kemudian pada tahun 2008 Pedoman Kemitraan itu direvisi yang prosesnya telah mulai sejak 2007 melalui Konferensi Kemitraan Internasional. Revisi pedoman kemitraan itu dilakukan sesuai dengan perkembangan yang terjadi di lapangan secara khusus tentang kebutuhan bentuk struktur kemitraan yang baru agar kiranya kemitraan itu semakin produktif dan efektif. Pedoman Kemitraan untuk UEM dan Gereja-gereja Anggotanya adalah sebagai pedoman untuk tumbuh bersama dalam melaksanakan misi. Selanjutnya ditinjau dari sudut sejarah event-event (peristiwa) yang dilakukan oleh UEM, terlihat dengan jelas strategi besar yang dilakukan oleh UEM terkait dengan kemitraan. Dengan kata lain pemikiran, waktu, potensi, dan dana telah diupayakan oleh UEM bagaimana supaya kemitraan gereja-gereja Anggota UEM maju dalam menjalankan misinya. Berdasarkan event-event historis yang dilakukan oleh UEM terkait dengan kemitraan tersebut nampak jelas bahwa UEM terus berupaya untuk mengembangkan kemitraan ke depan, bukan hanya kemitraan yang bilateral dan trilateral bahkan multilateral. UEM ke depan juga berupaya untuk mengembangkan kemitraan yang setara di antara para mitra. Kemudian UEM mendorong gereja-gereja anggota untuk melaksanakan kemitraan yang penuh sukacita, kreatif dan semarak serta melaksanakan proyek kemitraan yang tematik. 4.3. Kemitraan dalam Misi: Kajian Terhadap Strategi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara.73 73 Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara, terdiri dari 7 Gereja, yaitu HKBP, HKI, GKPI, GKPS, GKPA, GKPPD, dan GBKP. Namun dalam kajian ini penulis akan meneliti strategi kemitraan dalam misi di 5 gereja yang memiliki akar sejarah yang sama sebagai buah hasil penginjilan RMG yaitu: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI. Mayoritas anggota Jemaat HKBP, HKI dan GKPI adalah Batak Toba. GKPS, GKPA dan GKPI dalam sejarahnya berasal dari HKBP. Yang menarik lagi bahwa HKI, GKPS dan GKPI sama-sama berkantor Sinode di Pematangsiantar dan sering bersama-sama dalam event-event yang diselenggarakan oleh UEM. Oleh karena itu peneliti merasa cukup untuk meneliti kelima gereja tersebut sebagai sampel dalam penelitian ini.


27 Bagian ini adalah untuk menjawab Rumusan Masalah dalam Bab I butir 1.2.3., “Bagaimanakah strategi kemitraan dalam misi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi? Berdasarkan data-data penelitian yang sudah diruraikan sebelumnya dalam butir 4.3., peneliti memaparkan kiprah kelima Gereja yang diteliti (HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI) dalam praktek kemitraannya dengan gereja-gereja yang ada di Jerman. Pemahaman akan kemitraan UEM dalam misi telah diperoleh melalui Sidang Raya UEM, Konferensi Kemitraan Internasional, Seminar Kemitraan Asia, Program United Action (Aksi Bersama). Kemudian sangat jelas pengalaman kemitraan dengan UEM dan gereja-gereja Anggota juga diperoleh melalui keterlibatan dalam proyekproyek UEM baik yang diorganisir oleh Kantor UEM di Wuppertal dan Asia maupun proyek yang dilakukan oleh gereja anggota berkat dukungan finansial dari Kantor UEM. Dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap Person in Charge (personil) yang menangani kemitraan di kelima gereja yang diteliti, nampak jelas bahwa kelima gereja itu telah berusaha untuk membangun kemitran dengan para mitra, gereja-gereja yang ada di Jerman. Hal itu nampak dari beberapa hal: 1) Bahwa masing-masing gereja sudah memiliki Departemen atau Biro yang membidangi kemitraan, juga Gereja masing-masing telah mengangkat Komite Kemitraan (Partnership Committee) yang boleh berhubungan langsung dengan Komite Kemitraan yang ada di Jerman, sekalipun masih di antara kelima gereja tersebut masih ada gereja yang memiliki Komite Kemitraannya (mis. GKPI yang bermitra dengan Bonn-Beuel, Jerman). 2) Kelima gereja tersebut telah memiliki agenda setiap tahun untuk melakukan UEM Sunday dan Minggu Kemitraan (Partnership Sunday), yang digunakan untuk membangun spiritual para mitra dengan terang tema yang disepakati. Pada minggu kemitraan itu masing-masing mitra saling mendoakan. 3) Masing-masing gereja dari kelima gereja tersebut telah mengenal Pedoman Kemitraan (Partnership Guideline) yang dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan kemitraan dengan gereja-gereja anggota UEM. Hanya saja gereja-gereja tersebut belum melakukan kriteria kemitraan dalam panduan tersebut secara utuh, masih parsial. Demikian juga kelima gereja tersebut telah mengenal misi UEM yang telah dimuat dalam UEM Corporate Identity. 4) Kelima gereja tersebut telah melakukan proyek-proyek yang didukung oleh Kantor UEM Wuppertal, Jerman yang disesuaikan dengan lima pilar atau misi pelayanan UEM: Evangelism, Diakonia, Advokasi, Developmen dan Kemitraan. Dalam hal itu kelima gereja telah menikmati proyek-proyek yang berhubungan dengan penginjilan, peningkatan kapasitas, pemeliharaan lingkungan hidup, membantu perekonomian warga jemaat, studi lanjut, bantuan di masa Covid-19, pelatihan pertanian dan peternakan organik. Hanya yang menjadi masalah adalah pertanggung-jawaban dari proyek-proyek itu kepada UEM sering terlambat. Dalam pertemuan kemitraan Tim Manajemen UEM sering menekankan dan mendorong gereja-gereja anggota UEM untuk menunjukkan transparansi dan pertanggung-jawaban yang baik. 5) Berdasarkan proyek-proyek kemitraan yang telah berjalan tersebut, umumnya responden (mereka yang menangani kemitraan) setuju mengatakan bahwa kemitraan gereja-gereja anggota UEM sangat bermanfaat dan signifikan. 6) Masing-masing gereja telah melakukan perkunjungan kemitraan sesuai dengan kesepakatan dengan para mitra di Jerman. Tujuan perkunjungan adalah untuk membangun keakraban dan mempererat persabahatan sesama mitra, saling belajar tentang budaya yang berbeda, membangun spiritualitas bersama, dan juga mengevaluasi kemitraan antara yang satu dengan yang lain serta memikirkan arah kemitraan ke depan. 7) Kendala-kendala yang dihadapi dalam hubungan kemitraan oleh kelima gereja tersebut dalam periode ini, di antaranya: soal bahasa, kurang konsisten melakukan kesepakatan, miskomunikasi, wabah Covid-19, dll. 8) Di antara kelima gereja tersebut masing-masing ada kelebihannya dalam kemitraan. Misalnya HKI dan mitranya EKK HAMM memiliki proyek yang


28 berkesinambungan hingga sekarang ini, yaitu menopang kebutuhan, pendidikan dan fasilitas anakanak Panti Asuhan Zarfat; Kemudian mitra GKPS yang ada di Jerman mendukung program Dana August Theis (DAT) GKPS khusus untuk Siswa/I SMA/SMK/STM yang tetap berjalan sampai dengan saat ini. Lalu GKPA telah mengembangkan kemitraan Selatan-Selatan, yaitu dengan GKJTU dalam program Church Community Mobilization. Termasuk GKPI pada bulan Juni 2023 ini telah membangun kemitraan Selatan-Selatan, yaitu dengan GKPM (Gereja Kristen Protetsan Mentawai) di bidang Pekabaran Injil dan Diakonia. Selanjutnya HKBP telah membangun kemitraan Trilateral yaitu: HKBP, Gereja Protestan di Jerman (EkiR, EkvW) dan ELCT Tanzania. Pada bulan Mei 2023 yang lalu telah berlangsung Konsultasi Kemitraan HKBP di Kota Bonn Jerman yang dihadiri para Pimpinan Gereja-gereja dari HKBP, EKiR, EkvW, ELCT dan UEM dengan tema: Being Light of the World – Chalengges for Churches/Partnerships: Racism and Paternalism (Menjadi Terang Dunia – Tantangan bagi Gereja/Kemitraan: Rasisme dan Paternalisme).


29 BAB V HASIL PENELITIAN, TEMUAN DAN IMPLIKASI Dalam bagian ini akan diuraikan hasil penelitian yang datanya telah dipaparkan dalam butir sebelumnya (butir 4.1, 4.2 dan 4.3). Data-data yang diperoleh melalui penelitian dokumen, observasi partisipatif, catatan lapangan dan wawancara tersebut akan dibahas dan dianalisa serta disusun ke dalam kategori dan pola dan selanjutnya akan menghadirkan temuan dan dilanjutkan dengan implikasi. 5.1.Hasil Penelitian Kajian Biblika – Strategi Paulus Bagian ini akan menjawab Rumusan Masalah dalam Bab I butir 1.2.1., “Bagaimanakah dasar teologis dan strategi kemitraan dalam misi Paulus dari sudut Biblika, khususnya 1 Korintus 12; Filipi 2 dan 4?” Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa tidak semua perikop itu dieksegese secara utuh, hanya bagian yang berkaitan dengan kemitraan. Dalam hal ini fokus untuk meneliti dasar teologis kemitraan khususnya dalam 1 Korintus 12:12-31 dan strategi misi Paulus dalam Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20. 5.1.1. Eksegese Tafsiran 1 Korintus 12:12-31 Setelah melakukan kajian eksegetis terhadap 1 Korintus 12:12-31, peneliti menemukan sebuah konsep Paulus tentang gereja. Gereja (baca: orang-orang percaya) adalah tubuh Kristus (the body of Christ). Dalam ayat 27 dikatakan: "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya". Dalam teks tersebut Paulus menganalogikan “jemaat” sebagai tubuh manusia. Tubuh manusia adalah satu, tetapi terdiri dari banyak anggota, di mana anggotanya terikat satu sama lain. Teologi “satu tubuh, banyak anggota” yang menunjuk kepada jemaat lokal maupun universal dan yang menjadi bagian tubuh Kristus sebagaimana dalam 1 Korintus 12 menjadi dasar teologis kemitraan gereja dalam misi. Jemaat yang berbeda-beda secara lokal maupun universal harus saling memperhatikan dan membutuhkan untuk kepentingan bersama (tubuh Kristus). Karena itu kemitraan yang didasarkan kepada kesatuan anggota dalam tubuh Kristus adalah suatu keharusan (obligation), bukan pilihan (option). Gagasan mengenai tubuh Kristus ini menunjukkan betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya di seluruh dunia untuk kepentingan agar tubuh Kristus berfungsi secara efisien dalam misi. 5.1.2. Eksegese Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20 Setelah melakukan proses eksegetis terhadap Filipi 2:19-30 dan Filipi 4:10-20 maka peneliti menyampaikan hasil penelitian bahwa dalam rangka memajukan Pekabaran Injil Paulus membangun sebuah strategi dengan melakukan hubungan kerjasama dengan rekan-rekan sekerjanya, yang kita sebut kemitraan. Paulus bukanlah misionaris yang melakukan Pekabaran Injil secara sendiri, tetapi melibatkan rekan-rekan sekerjanya.74 Dari Filipi 2:19-30 kita memahami pola pertama Kemitraan Paulus dalam pekabaran Injil menurut Surat Filipi adalah pola kemitraan personal (sebagai misionaris) atau bilateral dengan rekan sekerjanya (Timotius dan Epafroditus). Kemudian berdasarkan Filipi 4:10-20 kita memahami pola kedua kemitraan Paulus dalam Surat Filipi (yang juga bilateral) adalah kemitraan dengan sebuah gereja yaitu Jemaat Filipi yang begitu banyak memberi bantuan 74 Sikap Paulus dalam kemitraan, bisa dibandingkan dengan Roma 16:1-24, di mana Paulus menyebutkan salam bagi banyak orang sebagai mitra atau rekan-rekan sekerjanya. Ada 29 orang nama yang Paulus sebut, itu menunjukkan bahwa Paulus sangat mementingkan kemitraan dalam misinya.


30 secara materi untuk mendukung penginjilan Paulus. Lalu kita juga melihat pola ketiga kemitraan Paulus dalam Surat Filipi adalah kemitraan trilateral, dalam kemitraan Paulus dengan Jemaat Filipi dan Epafroditus. Dasar teologis kemitraan dalam Surat Filipi ini adalah: 1) Kesehatian. Kepribadian Timotius sangat melekat di hati Paulus. Ia mengatakan: “Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan aku dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu.” (Flp.2:20). Kata “yang sehati dan sepikir” (LAI) diterjemahkan dari kata isopsuchos (Yunani), terjemahan KJV “likeminded”; TEV “share my feelings”. Kata isopsuchos menunjukkan bahwa Paulus sama kemauan, pikiran dan sifatnya dengan Timotius dalam mengerjakan tugas pekabaran Injil termasuk memerhatikan kepentingan Jemaat Filipi. 2) Berbagai kasih karunia (share grace) dan itu nampak dengan apa yang dilakukan oleh Paulus kepada Jemaat Filipi dan juga sebaliknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Timotius, di mana dia menguatkan jemaat Filipi tentang Injil dan Epafroditus menunjukkan sikapnya yang begitu mengasihi misi Paulus, sehingga dengan segenap hati dia membawa bantuan jemaat Filipi kepada Paulus. 5.1.3. Temuan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas khususnya kajian terhadap strategi Paulus terkait dengan kemitraan dalam misi, maka peneliti menemukan beberapa hal yang sangat penting sebagai berikut: a) Bahwa 1 Korintus 12:12-31 merupakan perikop yang sangat tepat sebagai dasar teologi kemitraan gereja dalam misi. Berdasarkan perikop itu ditemukan satu prinsip baru kemitraan, yaitu sebuah keharusan. Jadi kemitraan dalam misi bukan pilihan (option), tetapi keharusan (obligation). Tanpa kemitraan tujuan “Tubuh” (misi Kristus) tidak akan jalan. b) Dalam praktek kemitraan sebagaimana dalam Surat Filipi peneliti menemukan strategi kemitraan yang dibangun oleh Paulus yaitu prinsip (nilai) yang harus dipegang sesama yang mitra adalah: 1) Kesehatian dan 2) Berbagai kasih karunia (sharing grace). Jadi temuan ini menguatkan teori kemitraan (Hafsah, pada butir 2.3.4) yang mengatakan prinsip-prinsip kemitraan dalam tiga hal: saling memerlukan, saling menguatkan dan saling menguntungkan. 5.2.Hasil Penelitian Kajian terhadap Strategi UEM 5.2.1. Hasil Penelitian Bagian ini menjawab Rumusan Masalah dalam Bab I butir 1.2.2. “Bagaimanakah strategi kemitraan dalam misi UEM yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi UEM (2012- 2022)?” Berdasarkan uraian data Bab IV butir 4.2 sebagai hasil pengkajian dokumen-dokumen UEM terkait dengan kemitraan dalam misi untuk kurun waktu 2012-2022 maka nampaklah strategi UEM dalam kiprah kemitraannya. Pertama adalah menetapkan Pedoman Kemitraan UEM (UEM Partnersip Guideline) yang ditetapkan melalui Sidang Raya UEM sejak 1997. Kemudian pada tahun 2008 Pedoman Kemitraan itu direvisi yang prosesnya telah mulai sejak 2007 melalui Konferensi Kemitraan Internasional. Pedoman Kemitraan untuk UEM dan Gereja-gereja Anggotanya adalah sebagai pedoman untuk tumbuh bersama sebagai umat Allah dalam melaksanakan misi. Kedua, melakukan konferensi, seminar, konsultasi regional maupun internasional dan sidang raya yang berhubungan dengan kemitraan dalam misi yang berujuan untuk memberdayakan dan memperlengkapi gerejagereja Anggota UEM. Berdasaskan program-program tersebut nampak bahwa kemitraan sangat signifikan dalam mewujudkan misi UEM di tengah-tengah dunia ini.


31 Ketiga, ditinjau dari sudut sejarah event-event (peristiwa) yang dilakukan oleh UEM, terlihat dengan jelas usaha-usaha besar yang dilakukan oleh UEM dalam memajukan kemitraan untuk menopang misi bersama. Berdasarkan event-event historis yang dilakukan oleh UEM terkait dengan kemitraan tersebut nampak jelas bahwa UEM terus berupaya untuk mengembangkan kemitraan ke depan, bukan hanya kemitraan yang bilateral dan trilateral bahkan multilateral. Dengan kata lain pemikiran, waktu, potensi, dan dana telah diupayakan oleh UEM bagaimana supaya kemitraan gerejagereja Anggota UEM maju dalam menjalankan misinya. Keempat, UEM melalui Tim Manajemen di Kantor UEM Wuppertal dan juga Kantor UEM Asia dan Afrika berusaha mendukung dan menjembatani kemitraan di antara gereja-gereja Anggota. Kelima, UEM selalu berupaya untuk melalukan pemberdayaan (empowerment) untuk para person in charge yang membidangi kemitraan di masing-masing gereja anggota baik di tingkat regional maupun internasional. Keenam, UEM terus menyemangati gereja-gereja anggota dalam kemitraan dengan menyelenggarakan secara berkala memberikan penghargaan kepada gereja-gereja anggota atas prestasinya dalam kemitraan yang disebut dengan UEM Partnership Award. Kemitraan gereja-gereja anggota UEM untuk menjalankan misi bersama dipengaruhi oleh terbentuknya nama baru UEM (United Evangelical Mission) yang ditetapkan pada tanggal 5 Juni 1996 yaitu pada Sidang Raya UEM yang berlangsung 2-9 Juni 1996 di Bethel, Jerman. Dengan adanya persekutuan yang baru (UEM), maka rumah-rumah misi tersebar di tiga benua tersebut baik di Asia, Afrika dan Jerman. Gereja-gereja penerima dan pemberi telah berubah menjadi mitra jaringan gerejagereja di belahan dunia. Seluruh gereja mitra saling berbagi tugas dalam misi Allah dan misi tersebut tidak lagi dipandang dari evangelisasi dalam lingkup dirinya sendiri; justru, lebih luas lagi, merangkul makna keselamatan jiwa dan raga yang holistik. 5.2.2. Temuan Peranan kemitraan dalam misi UEM sangat penting dan strategis, yaitu untuk mewujudkan misi UEM, Missio Dei. UEM menyatakan kemitraan adalah tulang punggung (back bone) dalam misi, maka peniliti menemukan bahwa kemitraan dalam misi gereja adalah keharusan (obligation), bukan pilihan (option) sebab tanpa kemitraan misi UEM akan timpang bahkan tidak akan berjalan, sebab kemitraan adalah “kaki misi.” 5.3.Hasil Penelitian Kajian terhadap Strategi Gereja-gereja Anggota UEM: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI 5.3.1. Hasil Penelitian Bagian ini adalah untuk menjawab Rumusan Masalah dalam Bab I butir 1.2.3., “Bagaimanakah strategi kemitraan dalam misi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara: HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI yang menunjukkan pentingnya kemitraan dalam misi? Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap Person in Charge (personil) yang menangani kemitraan di kelima gereja yang diteliti, nampak jelas bahwa strategi yang dilakukan tersebut dalam membangun kemitran dengan para mitra, gereja-gereja yang ada di Jerman adalah: 1) Menetapkan Departemen atau Biro yang membidangi kemitraan, juga Gereja masing-masing telah mengangkat Komite Kemitraan (Partnership Committee) yang menangani hubungan kemitraan. 2) Mempedomani Pedoman Kemitraan (Partnership Guideline) dalam melaksanakan kemitraan dengan gereja-gereja anggota UEM. 3) Melaksanakan UEM Sunday dan Minggu Kemitraan (Partnership


32 Sunday), yang digunakan untuk membangun spiritual para mitra dengan terang tema yang disepakati. 4) Melakukan proyek-proyek kemitraan yang didukung oleh Kantor UEM Wuppertal, Jerman yang disesuaikan dengan lima pilar atau misi pelayanan UEM: Evangelism, Diakonia, Advokasi, Developmen dan Kemitraan. 5) Mengikuti seminar, konsultasi dan konferensi kemitraan baik secara regional maupun internasional dalam rangka peningkatan kapasitas gereja anggota dalam kemitraan. 6) Melaksanakan program United Action (Aksi Bersama) setiap tahunnya, sekaligus sosialisasi misi dan kemitraan UEM kepada warga jemaat. 7) Melaksanakan perkunjungan kemitraan untuk membangun keakraban dan mempererat persabahatan sesama mitra, saling belajar tentang budaya yang berbeda, membangun spiritualitas bersama, dan juga mengevaluasi kemitraan antara yang satu dengan yang lain serta memikirkan arah kemitraan ke depan baik secara bilateral, trilateral maupun multilateral. 5.3.2. Temuan Strategi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara (dalam hal ini HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI) dalam kaitan dengan kemitraan dalam misi sesungguhnya telah diatur dalam Buku Pedoman Kemitraan (Partnership Guidelines) UEM. Di situ diutarakan: dasar-dasar kemitraan, bentuk-bentuk kemitraan, proyek-proyek kemitraan, komite kemitraan dan pertanggung-jawaban finansial. Hanya saja dalam implementasinya gereja-gereja anggota UEM tersebut belum sepenuhnya melakukan prinsip-prinsip kemitraan dimaksud dengan baik, dengan kata lain masih parsial. Kemudian dalam praktek kemitraannya, para Person in Charge (yang menangani kemitraan di gereja masing-masing) masih menghadapi kendala-kendala: mis. bahasa (Ingris atau Jerman) dalam komunikasi dengan mitra, pengajuan proposal yang sering tidak sesuai dengan kriteria UEM (yang meliputi 5 pilar kerja UEM). 5.4. Implikasi Bagian ini akan menjawab pertanyaan dalam Rumusan Masalah (Bab I butir 1.2.4): “Bagaimanakah implikasi kemitraan GKPI dalam misi dengan Jemaat-jemaat mitra di Jerman?” Berdasarkan kajian Biblika, prinsip-prinsip kemitraan sebagaimana dalam Pedoman Kemitraan UEM dan juga berdasarkan pengalaman praktek kemitraan gereja-gereja Anggota UEM (2012-2022) maka implikasinya terhadap kemitraan GKPI adalah sebagai berikut: 1) Sudah saatnya GKPI mengkaji secara teologis dasar kemitraannya dan agar dimasukkan dalam dokumen GKPI, misalnya dalam Pokok-pokok Pemahaman Iman (P3I-GKPI) dan juga Tata Gereja GKPI. Untuk itu kajian Biblika terhadap 1 Korintus 12:12-31 dan Filipi 2 dan 4 bisa dipertimbangkan sebagai perikop dasar kemitraan. 2) Agar kiranya GKPI dapat mempedomani dengan lebih baik Pedoman Kemitraan UEM (UEM Partnership Guideline) karena hal tersebut telah dipedomani dengan baik oleh mitra yang ada di Jerman baik Bonn-Beuel maupun Gereja Distrik Kleve. 3) Untuk membangun kemitraan yang lebih baik dengan mitra yang ada di Jerman maka Komite Kemitraan GKPI harus dibentuk, sehingga Komite akan berkomunikasi dengan baik dalam proyek-proyek kemitraan dengan Komite Kemitraan yang ada di Jerman. Hal ini sangat perlu sebab Kepala Departemen GKPI yang menangani langsung kemitraan ini tentunya tidak maksimal, karena harus juga menangani bidang-bidang lain di Departemennya. Lagi pula keberadaan Komite Kemitraan adalah yang diaturkan dalam Pedoman Kemitraan UEM. 4) Sudah saatnya GKPI memprakarsai proyek-proyek yang berkesinambungan sebagaimana dilakukan oleh gereja-gereja anggota UEM lainnya sehingga proyek-proyek yang disepakati tidak hanya temporal atau musiman.


33 5) Dalam mendukung proyek-proyek kemitraan GKPI diharapkan untuk memberikan partisipannya dalam keuangan sesuai dengan kemampuan, sehingga tidak tergantung kepada bantuan donor (mitra). Hal ini adalah langkah yang baik dalam mendukung kesetaraan dalam kemitraan. 6) Karena kemitraan itu sangat signifikan dalam mewujudkan misi gereja, maka GKPI harus berupaya untuk merawat kemitraannya dengan mitra yang ada di Jerman atau di tempat lain. Salah satu program untuk merawat kemitraan adalah perkunjungan (visiting). Dalam hal inipun harus diorganisir dengan baik. 7) Di samping perkunjungan, komunikasi adalah alat yang sangat penting untuk mengembangkan dan merawat kemitraan. Oleh karena itu GKPI diharapkan meningkatkan kemunikasinya dengan mitra dengan memanfatkan media online sekarang ini. 8) Selanjutnya nilai-nilai yang harus dikembangkan GKPI dalam merawat kemitraan dan juga karakter dalam pelaksanaan sebuah proyek atau program adalah: komunikasi yang baik (good communication), tepat waktu (on-time), dapat dipercaya (trust), bertanggung-jawab (accountable) dan keterbukaan (transparency).


34 BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 6.1. Kesimpulan 6.1.1. Dasar teologi kemitraan dalam misi Paulus berdasarkan eksegese 1 Korintus 12:12-31 mengacu kepada prinsip “satu tubuh, banyak anggota” yang menunjuk kepada jemaat lokal maupun universal dan yang menjadi bagian tubuh Kristus. Jemaat yang berbeda-beda secara lokal maupun universal harus saling memperhatikan dan membutuhkan untuk kepentingan bersama (tubuh Kristus). Gagasan mengenai tubuh Kristus ini menunjukkan betapa eratnya ikatan yang mempersatukan semua orang percaya di seluruh dunia untuk kepentingan agar tubuh Kristus berfungsi secara efisien dalam misi. Karena itu kemitraan dalam misi adalah keharusan (obligation), bukan pilihan (option). Selanjutnya berdasarkan Eksegese Filipi 2:19- 30 dan Filipi 4:10-20 ditemukan strategi Paulus dalam kemitraan, yang meliputi nilai-nilai kemitraan, yaitu: kesehatian dan berbagi karunia serta pola-pola kemitraan Paulus dengan rekan sekerjanya, juga dengan Jemaat Filipi yang meliputi pola kemitraan bilateral dan trilateral. 6.1.2. Berdasarkan kajian terhadap strategi UEM terkait dengan kemitraan dalam misi UEM (2012- 2022), yang dilakukan oleh peneliti melalui metode studi dokumen maka nampaklah strategi UEM yang begitu efektif dalam memperkuat kemitraan dalam misi. Bagi UEM misi adalah Misi Allah (Missio Dei), yaitu misi yang bersifat utuh dan menyeluruh (misi holistik). Untuk mewujudkan misi itu maka peranan kemitraan sangat penting. Karena itu UEM memperkuat kemitraan gereja-gereja Anggota dengan melakukan berbagai strategi, yaitu: perkuatan pemahaman pedoman kemitraan, melakukan konferensi atau seminar kemitraan regional/ internasional, mendukung proyek-proyek atau program kemitraan yang dilakukan dalam kurun waktu 2012-2022 serta memberikan penghargaan kemitraan. Selanjutnya derdasarkan event-event historis yang dilakukan oleh UEM terkait dengan kemitraan nampak jelas bahwa bagi UEM kemitraan adalah tulang punggung (back bone) untuk misi. 6.1.3. Melalui kajian terhadap strategi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara, khususnya HKBP, HKI, GKPS, GKPA dan GKPI dalam hubungannya dengan kemitraan dalam misi, nampaklah bahwa melalui aktivitas kemitraan yang dilakukan, struktur yang menangani kemitraan, juga melalui proyek-proyek kemitraan yang dilakukan, perkunjungan kemitraan, kebersamaan dalam United Action, pelaksanaan ibadah Minggu kemitraan, keterlibatan gereja dalam konferensi, sidang raya dan seminar kemitraan internasional UEM maka dapat disimpulkan bahwa kemitraan dalam misi Gereja-gereja Anggota UEM di Sumatera Utara sangat signifikan. Strategi untuk mensukseskan kemitraan itu telah diatur dengan baik dalam Pedoman Kemitraan UEM, hanya saja dalam prakteknya kelima gereja tersebut belum mempedomaninya secara lengkap, masih parsial. 6.1.4. Implikasi penelitian ini bagi kemitraan GKPI (gereja penulis) sangat penting. GKPI perlu mengkaji kembali dasar teologis kemitraannya, melakukan evaluasi dalam hubungan kemitran dengan mitranya yang ada di Jerman berdasarkan Pedoman Kemitraan UEM, membenahi Komite kemitraannya dengan baik, mewujudkan proyek kemitraan yang berkesinambungan, membangun kemitraan yang setara dan merawat kemitraan dengan nilai-nilai: komunikasi yang baik, tepat waktu, dapat dipercaya (trust), bertanggung-jawab (accountable) dan keterbukaan (transparency).


35 6.2. Rekomendasi Mengingat pentingnya kemitraan dalam misi sebagaimana telah dikaji secara Bibilika (1 Korintus 12:12-31 dan Filipi 2:19-30, 4:10-20) dan juga melalui pengalaman historis kemitraan UEM (2012-2022), serta kiprah kemitraan dalam misi Gereja-gereja anggota UEM di Sumatera Utara maka penulis perlu menyampaikan rekomendasi, sbb.: 6.2.1. Kepada Gereja-gereja Anggota UEM khususnya yang ada di Sumatera Utara dan di Indonesia pada umumnya agar tetap merawat dan memperkuat kemitraan mereka dengan mitra baik yang ada di Jerman (South-North) maupun yang ada di Afrika dan Asia (South-South) yang didasarkan kepada Pedoman Kemitraan (Partnership Guidelines). Hal itu merupakan strategi yang sangat efektif dalam mewujudkan misi UEM, yaitu misi holistik yang didasarkan kepada Missio Dei – Missi Allah. 6.2.2. Kepada Tim Manajemen UEM yang ada di Kantor UEM Wuppertal, Jerman yang dipimpin oleh General Secretary dan juga Sekretaris UEM Asia dan Afrika agar tetap memfasilitas gereja-gereja Anggota UEM untuk membangun dan meningkatkan kemitraannya. Dukungan doa, moril dan dana sangat dibutuhkan demi terwujudnya kemitraan yang semarak, sukacita dan setara dalam rangka akselerasi dan percepatan misi. 6.2.3. Kepada mitra gereja-gereja yang ada di Jerman – Anggota Gereja-gereja UEM, diharapkan untuk memandang gereja-gereja Anggota UEM baik yang ada di Asia dan Afrika betul-betul sebagai mitra yang setara, bukan sebagai gereja binaan (sebelum Internasionalisasi UEM 1996), sebab kedudukannya telah sama secara anggota, kepengurusan, hak dan kewajiban dalam melaksanakan misi UEM. 6.2.4. Dalam merawat kemitraan dengan gereja-gereja mitra baik yang ada di Jerman maupun di Asia dan Afrika sangat dibutuhkan transparansi dan pertanggung-jawaban yang baik atas seluruh bantuan pada proyek-proyek yang sudah dilakukan. Oleh karena itu direkomendasikan kepada seluruh Gereja-gereja Anggota UEM untuk senantiasa menyampaikan laporannnya ke UEM dengan tepat waktu dan dipertanggung-jawabkan dengan baik.


36 DAFTAR PUSTAKA Abineno J. L. CH. Tafsiran Surat Filipi, Jakarta: Badan Penerbit Kristen Kwitang, 1967. Anderson, Leith, Yesus: Biografi LengkapTentang Pribadi-Nya, Negara-Nya, dan Bangsa-Nya. Yogyakarta, Gloria Graffa, 2009. Appleman, John Alan. “Partnership” dalamThe World Book Encyclopedia(Volume 15), Field Enterprises Educational Corporation: Chicago, 1968. Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999. Artanto, Widi, Gereja dan Misi-Nya, Yogyakarta: Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia, 2016. Baker,David L. Roh dan Kerohanian dalam Jemaat. Jakarta: BPK GunungMulia, 1996. Barclay, John, “1 Corinthians” dalam Muddiman, John dan Barton, John (Ed), The Pauline Epistles. New York: Oxford University Press, 2010. Bayer, Ulrich, Memberidengan Sukacita. Jakarta: BPK GunungMulia, 2015. Bavinck, J. H. Sejarah Kerajaan Allah 2. Jakarta: BPK GunungMulia, 2016. Branick,Vincent P. The House Church in the Writings of Paul. Wilmington, Michael Glazier, 1989. Bocsch, David J, Transformasi Misi Gereja. Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999. Campbell, William, Reading Paul in Context: Explorations in Identity Formation. New York: T & T Clark Internasional, 2010. Curtis, A. Kenneth, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016. De Jonge, Chsritian. Menuju Keesaan Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990. Drane, John, Memahami Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996. Dua Dekade Internationalisasi UEM. Medan: UEM Departemen Asia-Medan Office, 2016. Duyverman,M. E. Pembimbing ke Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK GunungMulia, 2009. Enos, I Nyoman, Penuntun Praktis Misiologis Modern, Bandung: Kalam Hidup, 2012. Garland, David E. I Corinthians. Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2003. Gehring,Roger W. House Church and Mission: The Importance of Household Structure in Early Christianity. Peabody: Hendrickson, 2004. Girsang, H.M., “UEM‟s Evolution From „Foreign Mission‟ to „International Communion” dalam Partnership Seminar in Asia, Berastasi: UEM Office Medan, 2011. Girsang, H.M., “The History of Internationalization of UEM” dalam Mission Sparks: Academic Journal of Asia Region, Medan: UEM Office Asia, 2016. Groenen, C.Pengantar ke dalamPerjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 1984. Gromacki, Robert G. New Testament Survey. Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1989. Guthrie, Donald, TeologiPerjanjian Baru 2: MisiKristus, Roh Kudus, Kehidupan Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019. Guthrie, Donald, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi, Eskatologi, Etika. Jakarta: BPK GunungMulia, 2016. Hakh,Samuel Benyamin,Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok-pokok Teologisnya. Jakarta: BPK GunungMulia, 2019. Hays, Richard B. First Corinthians. Louisville: John Knox Press, 1997. Horsley, Richard A. Abingdon New Testament Commentaries: Corinthians. Nashville: Abingdon Press, 1998. Hummel, Uwe., “A Vemily in Three Continents: UEM Statement on Corporate Identity” dalam Mission Sparks Jurnal of Asia Region, Medan: UEM Office, 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Cet.2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta: 1989.


37 Keener,Craig S. 1-2 Corinthians: The New Cambridge Bible Commentary. New York: Cambridge University Press, 2005. Kummel Georg Werner., Introduction To The New Testament. Marburg: Abingdom Press, 1966. Krismawati, Dyah Ayu., Kabango,John Wesly., Parlindungan Andar, “Unites Evangelical Mission (UEM): Chalenges and Opportunities for Internationalization and EdualParsnertships” inMission Sparks, Academic Journal of Asia Region, Pematangsiantar: Regional Office Asia, 9th Edition. Kuiper de, Misiologia. Jakarta: BPK GunungMulia, 1968. Laporan Pimpinan Pusat GKPI pada Notulen Sinode Am Kerja XV GKPl 2003. Lumbantobing, Andar, Azas dan Amanat Penginjilan, Pematangsiantar: Perc. Mauli, 1982. MacArthur, John, Kitab Kepemimpinan. Jakarta: BPK GunungMulia, 2009. Merkado B. Rannieh, Partnership Seminar in Asia, Medan: Grand Antares, 2013. Minandar, J.S.Surat PertamaKorintus. Yogyakarta: Andi, 2021. Moeleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Temaja Rosdakarya, 2006. Moris, Leon, New Testament Commentary Series First Corinthians. Leicester: IVP, 1987. Nababan, S.A.E. “Bertumbuh Bersama Menuju Kedewasaan, Mengemban Tugas BersamaPekabaranInjil” dalam Buku Kenang-kenanganPerayaan Dua DekadeInternasionalisasi UEM , Medan: UEM Medan Office, 2016. Oden, Thomas C. (Ed.), Ancient Christian Commentary on Scripture: 1-2 Corinthians. London: Routladge, 1999. PanitiaPestaOlop-Olop 20 Thn GKPA, BertumbuhMenujuKedewasaan. Padangsidempuan: Kantor Pusat GKPA, 1999. Perkins, Pheme, I Corinthians: Paidea Commentaries of New Testament. Grand Rapids, Michigan: Baker Publishing, 2012. Pfitzner,V. C. Kesatuandalam Kepelbagaian. Jakarta: BPK GunungMulia, 2000. Putranto Eko Bambang, Misi Kristen. Yogyakarta: ANDI Offset, 2007. Ruck John, Ruck Anne, dkk., Jemaat Missioner. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1997. Simorangkir S.E. Mangisi, Ajaran Dua Kerajaan Luther. Pematang Siantar: Kolpotase Pusat GKPI, 2008. Sinaga Lukito Martin & Dasuha P. Raya Juandaha, Sejarah Seratus Tahun Pekabaran Injil di Simalungun, PematangSiantar: Kolportase GKPS, 2003. Sinaga Deonal, Buku Panduan Perayaan Dua Dekade Internasional UEM, (Medan: Panitia Pelaksanaan dan Departemen Asia – Medan Office, 2016). Siregar J.U. Sejarah Perwujudan GKPA dengan latar belakang perjalanan zending di daerah Angkola dan Mandailing, Padangsidempuan: Kantor Pusat GKPA, 1999. Sitompul A.A. Metode Penafsiran Alkitab. Jakarta: BPK GunungMulia, 2017. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Penerbit Alfabeta, 2016. Sumarjono, dkk., Teori dan Praktek Kemitraan Agribisnis, Depok: Penebar Swadaya, 2010. Sujarweni, V. Wiratna, Metodologi Penelitian-Bisnis, Yogyakarta:Pustakabarupress, 2015. Sulistiyani, Ambar Teguh. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan. Gaya Media: Yogyakarta, 2004 Suharyom,I. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius, 1991. Suliyanto, Metode Penelitian Bisnia. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2018. Tanzeh, Ahmad, Pengantar Metode Penelitian, Yogyakarta: Teras, 2009. Telaumbanua, Tuhoni, “Missio Dei dan Perubahan Paradigma MisiRMG/VEM/UEM” dalam Buku Kenang-kenangan Perayaan Dua DekadeInternasionalisasi UEM, Medan: UEM Departemen Asia, 2016.


38 The Holt Intermediate Dictionary of Americana English, Holt, Rinehart and Winston, INC, New York, Chicago, San Fransisco: Tronto London, 1965. The Reader’s Digest Great Encyclopedic Dictionary (Second printing, He reader‟s Digest Association: New York,1967. Theissen, Gerd, The Social Setting of Pauline Christianity: Essay on Corinth. New York: T & T Clark, 1990. Timo, Ebenhaezer I. Nuban, Meng-Hari-Ini-Kan Injil di Bumi Pancasila, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. Vang, Preven, “1 Corinthians” dalam Strauss, Mark L. dan Walton, John H. (Ed.), Teach the Text Commentary Series. Michigan: GrandRapids, 2014. Venema H. Injil untuk Semua Orang “Pembimbing Ke Dalam Ilmu Misiologi”, Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta, 1997. Internet https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=epafroditus, diakses 13 Mei 20023 https://id.wikipedia.org/wiki/Epafroditus, diakses 13 Mei 2023 https://kbbi.web.id/paradigma, diakses 19 Des. 2022 https://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma, diakses 19 Des. 2022 http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-holistik/,diakses23 Sept.2022. https://www.kajianpustaka.com/2022/11/kemitraan.html, diakses 12 Juli 2023


39 CURRICULUM VITAE I. Identitas Diri Nama : HUMALA LUMBANTOBING Tempat/Tanggal lahir : Simanampang, 30 Agustus 1968 Anak dari Ayah : Hatoguan Lumbantobing Ibu : Humillo Pakpahan Istri : Rusma Krida Siringoringo Anak : 1. drg. Gratia Dei Lumbantobing/drg. Faber Sidabutar 2. Agape Lumbantobing, SP 3. Timothy Maruli Tua Lumbantobing, S.Th 4. Natanael Lumbantobing Alamat : Jln. Lingga No.2 Pematangsiantar, SUMUT II. Riwayat Pendidikan: A. Pendidikan Dasar &Menengah Sekolah Dasar : SD 173120 Hutabarat, Lulus Tahun1981 Sekolah Menengah Pertama : SMP Negeri II Tarutung, Lulus 1984 Sekolah Menengah Atas : SMA Negeri Tarutung, Lulus 1987 B. Pendidikan Tinggi Sarjana Sarjana : STT-HKBP, Lulus 1992 Diploma III Akademi Bahasa Asing (ABA) YPTN Batam 1999 Akta Mengajar Universitas Riau 2003 Magister: STII Yogyakarta, Lulus 2006 Doktor : STT Paulus Medan, Lulus 2023 C. Judul Disertasi: KEMITRAAN DALAM MISI: KAJIAN TERHADAP STRATEGI PAULUS, UEM DAN GEREJA-GEREJA ANGGOTANYA DI SUMATERA UTARA SERTA IMPLIKASINYA BAGI GKPI III. Riwayat Pelayanan & Pekerjaan 1992-1994 : Vikar di GKPI Resort Dumai (Berkedudukan di GKPI Bagan Batu dan GKPI Batam). 11 Des.1994: Ditahbiskan menjadi Pendeta GKPI di GKPI Hutabarat Parbaju Res. Hutabarat, Wilayah Silindung. 1994-1996 : Pendeta di Perbantukan di GKPI Batam Resort Dumai 1996-2000 : Pendeta GKPI Resort Batam 2000-2003 : Sekretaris Umum (Sekum) PGI Wilayah Kepulauan Riau (Kepri) full-timer 2003-2005 : Pendeta GKPI Jemaat Khusus Tanjung Piayu (Wilayah Kepri). 2005-2010 : Pendeta GKPI Resort Saitnihuta, Wilayah Silindung 2006-2009: Korwil GKPI Wilayah Silindung 2010-2015 : Kepala Biro I/Kerohanian GKPI 2015-2020 : Kepala Departemen (Kadep) Apostolat GKPI 2020-2025 : Sekretaris Jenderal GKPI


40 IV. Karya tulis yang pernah dipublikasi PLEROMA DAN HIDUP BERSAMA KRISTUS, Suatu Studi Eksegetis Kolose 1:15- 20; 2:6-15 (STT-HKBP Pematangsiantar, Skripsi 1992). PENGINJILAN LINTAS BUDAYA DALAM KISAH PARA RASUL DAN RELEVANSINYA UNTUK MISI PENGINJILAN DI KEPULAUAN RIAU (STTII Yogyakarta, Thesis Magister, 2006). SPIRITUALITAS PELAYAN Sebuah Permenungan Menjawab Konteks Pergumulan Gereja dan Masyarakat (Pematangsiantar: Kolportase GKPI, 2020). Sebagai salah seorang Penulis Artiel dalam Buku DI SINI AKU BERDIRI, Percikan Pemikiran Dan Refleksi 500 Tahun Reformasi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2017), Penyunting: Dr. Anwar Tjen. Salah seorang Penerjemah Buku A SUMMARY OF CHRISTIAN DOCTRINE, 2nd Edition, Michigan USA ke dalam Bahasa Indonesia yang diterbitkan Kolportase GKPI bersama Lutheran Heritage Foundation. Dalam edisi Bahasa Indonesia buku tersebut berjudul INTISARI AJARAN KRISTEN (Pematangsiantar: Kolportase GKPI, 2010). Salah seorang penulis BUKU PEMBINAAN CALON PENATUA GKPI (Pematangsiantar: Kolportase GKPI, 2014). Salah seorang penulis BUKU KONSELING PRANIKAH GKPI (Pematangsiantar, Kolportase GKPI, 2014).


Click to View FlipBook Version