1
KATA PENGANTAR
ِب ْســــــــــــــــــــــ ِمال ّل ِهال َّر ْح َمنِال َّر ِح ْي ِِم
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-nya sehingga
penulisan buku “Kumpulan Dolanan Anak” ini dapat terselesaikan dengan waktu yang telah
ditentukan. Penyusunan e book “Kumpulan Dolanan Anak” ini dibuat dengan tujuan untuk
memenuhi tugas mata kuliah “Dolanan Anak”, topik yang dibahas adalah ” Kumpulan
Dolanan Anak Tradhisional dari berbagai daerah di Indonesia”.
Penyusunan tugas ini dengan harapan dapat membantu pembaca untuk lebih
memahami materi tentang “Kumpulan Dolanan Anak”. Namun demikian, tentu saja dalam
penyusunan masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan dan pemilihan kata yang
tepat. Dengan ini, memohon saran dan kritik yang konstruktif, sehingga penulis bisa
menyempurnakan hasil e book yang telah dibuat.
Yogyakarta, 01 November 2020
Tim Penulis
I
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan dari tugas mata kuliah Dolanan anak adalah melestarikan dan mengkreasikan
permianan tradisional. Melestarikan permaiann tradisional merupakan salah satu wujud pelestarian
kebudayaan lokal, dalam permianna tradidional setiap daerah pasti memiliki permaianna yang
beragam dan bercirikan daerah masing-masing. Bentuk dan pelaksanakan permianantradisioanal
terus berkembang dan beraneka ragam sesuai dengan daerah asal permaian tradisional masin-
masing. Permianan tradisional biasanya mirip dalam suatu daerah yang berdekatan contohnya
seperti pulau jawa pasti di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat ada permianan yang sama
tetapi nama permianan tradional tersebut saja yang berbeda mengikuti dialeg kebahasaan setiap
daerah bagian,
Permaianan tradisional ini perlu dilestarikan dan dikenalkan untuk anak-anak jaman
sekarang. Anak jaman sekarang sudah langka untuk bermaian permaiana tradisional karena seiring
berkembangnya teknologi, anakjaman sekarang lebih terfokus bermaian dengan teknologi salah
satunya gadget. Dengan mengenalkan permainan tradisional kepada anak jaman sekarang sejak
tingkat dasar yaitu Sekolah Dasar merupakan bentuk penanamna pelestarian kebudayaan sejak
dini. Perminan tradisional sendiri membuak anak bergerak aktif dan mengeksplore lingkungan
sekitar. Kegiatan permianna tradisional baik untuk perkembangan anak dalam hal memiliki
pengalaman. Utamanya permainan tradisional banyak mengandung pesan-pesan tersembunyi
didalamnya.
Kegiatan melestrikan kebudayaan melaui melstarikan permianan tradisional selaras dengan
panca darma tamansiswa yang ke-3 yaitu dasar kebudayaan “ Mengandung arti, Keharusan
memelihara nilai dan bentuk kebudayaan Nasional. Dalam memelihara kebudayaan nasional itu,
yang pertama dan terutama ialah membawa kebudayaan nasional kearah kemajuan yangs esuia
dengan kemajuan masyarakat, dan kemajuan dunia guna kepentingan hidup rakyat lahir dan batin
sesui perkembangan alam dan jaman.
1
Maka dengan mata kuliah Dolanan anak ini dapat melestarikan permianna tradisional daerah
lalu memodifikasi sesuai ajaran taman siswa, serta mengemas secara modern sesuai dengan
kebutuhan anak jaman sekarang. Permainan tradisioanal turuntemurun dimaikan oleh anak di
sebuah daerah hingga menjadi sebuah tradisi yang dilakukan oleh anak.
2
Daftar Isi
KATA PENGANTAR.................................................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................. 1
Latar Belakang .......................................................................................................................... 1
BAB II ISI...................................................................................................................................... 4
A. Permainan Outdoor ........................................................................................................... 4
1. Dolanan Anak Rangku Alu Melatih Konsentrasi............................................................. 4
2. Benthik ............................................................................................................................. 9
3. Epek Epek ...................................................................................................................... 12
4.Bakiak................................................................................................................................. 17
5. Dhingklik Oglak Aglik ...................................................................................................... 21
6. Milud ................................................................................................................................ 23
7. Permainan Engklek ........................................................................................................ 27
8. Cublak Cublak Suweng.................................................................................................. 28
9. Sembunyek Batu ............................................................................................................ 33
B. Dolanan Indoor ................................................................................................................ 35
1. Jamuran ........................................................................................................................ 35
2. Congklak ....................................................................................................................... 38
BAB III PENUTUP..................................................................................................................... 43
Penutup ........................................................................................................................................ 43
A. Kesimpulan ........................................................................................................................ 43
Daftar Pustaka ............................................................................................................................ 44
Lampiran ..................................................................................................................................... 46
A. Biografi Penulis ................................................................................................................. 46
B. Editor.................................................................................................................................. 48
C. Design Cover ..................................................................................................................... 48
D. Foto Dokumentasi Kelompok ............................................................................................ 48
3
BAB II
ISI
A. Permainan Outdoor
1. Dolanan Anak Rangku Alu Melatih Konsentrasi.
Nusa Tenggara Timur memilki permainan tradisional bernama Rangku Alu yang biasa
dilakukan saat musim panen. Bermain rangku alu dinilai dapat melatih konsentrasi dan
ketangkasan. Tak hanya dimainkan anak-anak, Rangku Alu dapat dimainkan semua kalangan.
Masa kanak-kanak seringkali dianggap sebagai masa yang paling berharga dan bahagia.
Setelah pulang sekolah, biasanya anak-anak bergegas untuk kembali keluar rumah untuk bermain
bersama teman. Namun sering perkembangan zaman kini anak-anak banyak yang lebih memilih
untuk tetap di dalam rumah dan bermain bersama gadget yang dimilikinya. Ya perkebangan zaman
memang luar biasa, permainan tradisional lambat laun tergeser dengan permainan dalam bentuk
digital. Padahal sebenarnya permainan tradisional tidak kalah menarik dan kaya manfaat bagi
anak-anak.
Permainan tradisional merupakan permainan yang dimainkan oleh masyarakat di suatu
daerah tertentu Indonesia memiliki begitu banyak permainan tradisional yang popular salah
4
satunya yaitu Rangku Alu yang berasal dari Nusa Tenggara Timur Dahulu masyarakat Manggarai
biasa bermain Rangku Alu untuk merayakan hasil panen pertanian dan perkebunan, sebagai bentuk
rasa syukur dan bahagia. Pada saat bulan purnama para remaja berkumpul dan meramaikan
permainan ini.
Permainan yang menggunakan bambu ini ternyata tak hanya dimainkan anak-anak.
Permainan asal NTT ini juga dimainkan semua kalangan. Rangku Alu biasa dimainkan di tanah
lapang yang keras dan tidak berumput, karena kalau berumput khawatir akan memicu resiko
terpeleset. Alat yang digunakan yaitu empat bambu dengan panjang masing-masing dua meter.
Pemain Rangku Alu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang bermain dan
kelompok yang berjaga. Kelompok yang jaga terdiri dari empat sampai orang yang membentuk
persegi dan bertugas menggerakan bambu, masing-masing yang berjaga jongkok atau duduk
dengan memegang dua bilah bambu,begitupun dengan yang berjaga lainnya. Kelompok yang
mendapat giliran untuk bermain akan melompat di sela-sela bambu dan menghindari jepitan
bambu. Terdapat satu sampai empat orang yang mendapat giliran bermain.
Pemain akan masuk kedalam bambu yang terbentuk bidang persegi dan melompat-lompat
sesuai irama buka tutup bambu. Saat bermain biasanya bambu yang digerakan menghasilkan nada
atau irama yang berpola. Semakin lama irama bambu dan nyanyian akan semakin cepat, maka
pemain harus pintar-pintar dalam melompat agar tidak terpeleset atau terjepit oleh bamboo. Jika
kelompok yang dapat kesempatan bermain terjepit kakinya, maka harus bergiliran berganti tugas
memegang bambu.
Selain sarana hiburan. Rangku Alu juga dapat menjadi sarana edukasi dan pembentukan
karakter diri seseorang. Bermain Rangku Alu dapat melatih konsentrasi dan melatih ketepatan
dalam bertindak, karena tak hanya melompat-lompat asal dalam permainan ini perlu fokus antara
gerak kaki dan gerak bambu yang dimainkan harus sesuai. Kalau tidak fokus atau tidak
konsentrasi, nantinya kaki pemain akan terjepit bambu atau malah terpeleset.
Kelincahan juga dapat dilatih dalam permainan Rangku Alu. Karena, semakin lama irama
bambu dan nyanyian aka semakin cepat, otomatis kaki pemain harus bergerak cepat dan mengubah
5
arah secara cepat tanpa terganggu keseimbangannya mengikuti irama. Rutin bermain Rangku Alu
juga dapat melatih kekuatan otot kaki dan tentu akan memberi pengaruh baik untuk daya tahan
tubuh.
Tari Rangku Alu
Ketukan bambu yang membentuk pola ritme yang saling berhubungan dengan lompatan
pemain dalam Rangku Alu mengakibatkan para pemain seolah-olah melakukan gerakan tari,
hingga lahirlah tari. Tari Rangku Alu khas manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam tarian
ini, permainan tersebut dikreasikan dengan berbagai gerakan dan pengiring yang menghasilkan
sebuah kreasi seni yang begitu khas dan indah.
Dalam tari tradisional Rangku Alu, para pemain atau penari mengguanakan baju adat khas
Manggarai, yaitu baju bero, ikat kepala, dan kain songket khas Manggarai. Tarian ini biasa
demikian oleh enam hingga deapan orang pemegang bambu dengan beberapa orang yang menari
bergantian.
Gerakan tarian ini sebenarnya berasal dari gerakan para penari saat menghindari jepitan
bambu dan didominasi gerakan kaki yang sesuai. Gerakan penari dan pemain atau penggerak
bambu kemudian dipadukan dengan irama musik dan lagu daerah NTT. Dalam pertunjukan seni
Tari Rangku Alu ini diiringi oleh alunan music tradisional seperti gendang dan gong.
Tari Rangku Alu telah menjadi salah satu tarian tradisional yang cukup popular di daerah
Manggarai. Karena bentuk warisan budaya yang wajib diestarikan, tarian ini sering ditampilkan
dalam berbagai kesempatan penting, seperti acar perayaan budaya dan penyambutan tamu penting.
Tari Rangku Alu yang lahir dari sebuah permainan tradisioanal ini juga menjadi daya tarik
tersendiri bagi para pengunjung yang datang ke NTT terutama ke Manggarai, Flores.
Ajaran Ki Hadjar Dewantara
Dolanan Anak merupakan satu bentuk kesenian yang berkembang di Indonesia khusunya
di masyarakat Jawa. Sebagai contoh, di daerah Yogyakarta mempunyai aneka dolanan anak
tradisional yang cukup banyak seperti: Dakon, Sluku-sluku Bathok, Be’kel, Sumbar Suru, Nini
Thowok, Engklek, Gobag Sodor dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu dolanan anak merupakan
suatu yang khas dari anak-anak, mereka bermain berbagai macam dolanan anak untuk mengisi
6
waktu di sore hari dan terlebih pada saat terang bulan. Hal ini disebabkan karena memang belum
adanya hiburan lain atau bentuk lain untuk anak-anak selain bermain atau dolanan. Sebagai
ilustrasi;
‘ketika senja tiba, anak-anak menyapa lintang panjer sore`. Selagi hari masih sore,
keluarlah, dan terangilah tempat bermain ini. Jika kau mau keluar, akan kami beri kamu air tape.
Kalau masih kurang, ambilah sendiri lagi’. Itulah yang dinyayikan anak-anak desa dulu. Sambil
menyanyi mereka melingkar. Bagi anak-anak itu, tak ada hal yang demikian menyenangkan,
kecuali bersenang-senang dengan bintang. Maka setiap kali mereka tiba di akhir bait nyanyian,
bersama-sama mereka teriak lantang: sorak hore!. Ilustrasi oleh Sindhunata. (Hermanu, 2012:11).
Ilustrasi di atas menggambarkan suasana tenang, damai, senang dan seolah-olah ada
komando, untuk mereka berdatangan di suatu halaman rumah yang cukup luas untuk dijadikan
arena bermain. Memperlihatkan anak-anak yang masih polos, lugu dan begitu akrab dalam
berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Ilustrasi di atas merupakan salah satu ilustrasi dari sekian
banyak dolanan anak Jawa. Dari data yang diperoleh berdasarkan sebuah buku terbitan tahun 1938
yang berjudul Javaansche Meisjesspelen en Kinderliesdjes karangan H. Overbeck dan diterbitkan
oleh Instituut Jogjakarta, ada dua jenis permainan tradisional atau dolanan anak, yaitu dolanan
anak yang tidak memakai alat seperti Sluku-sluku Bathok, Gobak Sodor, Ancak-ancak Alis dan
Jamuran, kemudian yang ke dua adalah dolanan yang memakai alat seperti Sintren, Nini Thowok,
Lahis dan lain sebagainya.
Selanjutnya dalam memainkan dolanan, anak-anak sambil bernyanyi untuk mengiringi
permainan sehingga lebih terlihat menarik dan gembira. Selain sebagai pengiring, lagu atau
tembang yang dinyanyikan juga sebagai alur dalam permainan. 34 Dolanan anak adalah bentuk
kesenian yang terdiri dari lagu, gerak, dan cerita merupakan satu bentuk karya artistik dengan
penuh ideologi dan makna. Selain ideologi dan makna yang digiring secara halus ke dalam dolanan
dan tembang, pada masa itu juga merupakan suatu bentuk kesenian folklor yang berkembang
dimasyarakat. Kesenian dolanan anak berkembang melalui tradisi lisan dan anonym.
Menurut buku himpunan H. Overbeck: Javaansche Meisjesspelen en Kinderliedjes, yang
diterbitkan oleh Het JavaInstituut, Jogjakarta (1938), ada sekitar 1500 sampai 2000 lagu dolanan
yang tersebar dipelbagai tempat di Jawa pada masa itu. Overbeck sendiri berhasil menghimpun
7
sekitar 690 lagu untuk diterbitkan dalam bukunya. (Hermanu, 2012: 14). Hal tersebut juga tidak
lepas dari peran Keraton dan masyarakatnya yang memiliki ciri kebudayaan yang khas, dimana
sistem atau metode budayanya digunakan simbol-simbol atau lambang sebagai sarana atau media
untuk menitipkan pesan-pesan dan nasihat (piwulang dan piweling)
8
2. Benthik
Benthik (Jawa Tengah) Entah Adalah Permainan Tradisional Anak Yang Populer Di
Beberapa Kota di Jawa Tengah. Di Daerah Lain Benthik Mempunyai Sebutan Berbeda, Seperi
Gotrik, patil lele dan Tak Kadal, Dan Di Madura Dikenal Dengan Nama Pentengan. Benthik-Yang
berarti "Bentu" -adalah pembenturan antara tongkat pemukul dengan anak tongkatnya. Walau
Sudah Jarang dimainkan Oleh Anak-Anak Zaman Sekarang, Masih Ada Pencinta Perminan
Tradissio Yang Tergabung Dalam www.nyamokanimation.com menggagas benthik versi animasi
virtual dalam bentuk flash game yang bisa dimainkan dikomputer.
Peralatan yang dibutuhkan :
1. Tanah lapang dan luas
2. Jumlah pemain bebas. Biasanya dari 4 sampai 7 anak.
3. Dua ranting pohon (kuat don lurus) denge diameter sekitar 3 cm, satu panjang (ind cuthik /
benthong) berukuran 30 cm dan y lain pendek (janak / anakan) sekitar 10 c panjang dua
ranting ini biasanya berband 1: 3 (dahulu anak-anak desa membuatn dengan hitungan 1
jengkal dan 25 aau 3 jengkal).
4. Membuat lubang luncur disebul luwokon tanah sedalam 5 cm, dengan panjang kira 15 cm
don lebar 5 cm.
9
5. Pemain bekerja sama membuat lutong föngkat panjang, don anakannya. Sebel bermain,
biasyo dibaat kesepakaton batas angka untuk pencapoian shor misalnya 200. ( ensiklapedia
permainan tradisional anak indonesia)
Cara Bermain:
Tahap pertama, yang menang sut / hompimpo mendapat giliran utama lebih dahulu, yang
lain menjadi penjaga.anakan diletakan melintang diatas lubang sedangkan tongkat panjang atau
genting menjadi alat untuk mengungkit atau melemparkan anakan ke arah tongkat panjang. bila
anakan mengenai atau menyentuh tongkat panjang giliran bermain akan beralih ke penangkap /
pelemppar dan si pemain menunggu giliran terakhir untuk dapat anakan dilintokkan melintang di
atas lubang, sedangkan tongk (benthong) menjadi alat untuk mengungkit atau melonkan anakan
sekuat tenaga sejah mungkin ogar tidak tertangkop lowan. tahap ini disebut nyuthat. jika anakon
tidak dapat ditangkap dan jatuh ke tanah, hitung jarak antara letak jatuhnya anakan dan lubang
dengan menggunyakon tongkat panjang. bila penjaga berhasil menangkap anakan yang
melambung tersebut, ia mendapat poin. besar rasa sakit tergantung dari kara penjaga menangkop
anakan: 10 poin jika menangkap dua tangan, 25 rasa sakit jika menangkap dengan tangan kanan,
dan 50 poin jika berhasil menangkap dengan tangan kiri, atau sesuai kesepakatan, jika anakan
tertangkap, si penangkap berhak "mematikan" si pemain dengan memintanya meletakkan tongkat
panjang di atas lubang dengan posisi melintang lalu, si penangkap 1 melemparkan anakan ke arah
tongkat panjang. bila anakan mengenoi atau menyentuh tongkah panjang, giliron bermain akan
beralih ke penangkap / pelemppar dan si pemain menunggu giliran untuk dapat bermain lagi
Tahap kedua adalah namplek atau patil lele. Tahap ini dilakukan jika pemain dapat
melewati tahap pertama. Si pemain melempar anakan ke udara, lalu memukulnya sekuat tenaga
dengan tongkat panjang hingga sejauh mungkin. Pihak lawan yang jaga harus melempor kembali
anakan ke arah si pemain. Pada tahap ini, ketangkasan si pemain uji coba apakah mampu memukul
balik anakan atau tidak. Perhitungan poin bagi si pemain yang diukur menggunakan tongkat
panjang dari tempat jatuhnya anakan ke lubang. Poin pada tahap im díjumlahkan dengan poin dari
sebelumnya dan terus ditambahkan sampai akhir permainan. Akan tetapl, ihe lemparan anakan
dari pihak lawan mười masuk ke dalam lubang, poin yang dikumpulkan si pemain akan hangus.
10
Tahap ketiga, yang disebut nuthuk, dimainkan jika si pemain berhasil mengumpulkan poin
dolam tahap sebelumnya. Di tohap ini, pemain harus meletakkanakan di lereng lubong dengan
cara miring 45 derajat. Ujung anakan yang menyembul ke permukaan tanah dipukul agar dapat
terlempor ke udara, lalu dipukul logi sejauh-jauhnyo. Pemoin mendapatkan 1 kali kesempatan
lagi jika gagal di menggulung pertama. Lika masih gogal, giliran bermain jatuh lawan. liko si
pemain bisa memainkan anakan dengan dipukul beberopa koli saat sedang melayang di udara, ia
mendopat beberapa poin yang dihitung dari perkalian antara angka pengoli berdasarkan jumlah
menggulung (10 poin untuk 1 kali pukulan, 20 poin untuk 2 kali pukulan, dst. ntau sesuai
kesepakatan ) dengan poin yang dihitung berdasarkan jarak antara tempat jatuhnya anakan ke
lubang. Sebagai contoh, jika pemain berhasil memukul anakan yang melayang di udora sebanyak
2 kalí, dia akan mendapat angka pengali sebesar 20 poin. Sementara itu, jika jarak antara jatuhnya
ke lubang adalah 15 kali tongkat panjang, maka total poin yang dia kumpulkan dalam tahap ini
adalah 20 x 15 = 300 poin.
Nilai-Nilai Permainan:
1. Melatih fokus dengan teknik memukul dan menangkap secara akurat.
2. Melatih kemampuan Matematika.
3. Membangun keakraban dan meningkatkan kemampuan bersosialisasi.
Ajaran Tamansiswa Yang terdapat dalam permainan ini adalah Tri Juang
memberantas kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan , misalnya :
Seperti halnya permainan tradhisional lainnya, alat yang dibutuhkan sangat sederhana dan mudah
dijumpai di sekitar kita, dengan menggali tanah (tanah dan tongkat), hal ini terlihat sederhana
namun menggambarkan perjuangan manusia dalam memperoleh point dngan cara menangkap
kayu atau tongkat tersebut, hal ini menggambarkan kerja keras manusia dalam memperoleh rupiah
dengan bekerja untuk menyambung pendidikan, dalam menangkap tongkatnya, dibituhkan
kecermatan, hal ini menggambarkan pemberantasan pendidikan
11
3. Epek Epek
EPEK-EPEK
Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan berbagai warisan tradisional, salah satunya
yaitu warisan dari Jawa yang biasanya disebut “dolanan anak”. Di Jawa sendiri memiliki berbagai
macam dan jenis dolanan yang berbeda-beda serta memiliki makna. Warisan ini pada masa
sekarang sudah mengalami perubahan bahkan banyak yang kikis oleh zaman. Anak muda zaman
sekarang lebih tertarik akan adanya Smartphone, karena budaya Jawa dianggap kuno oleh
beberapa kalangan anak muda. Oleh sebab itu doalan anak keberadaannya menjadi terkikis dan
tertinggal.
Permainan Epek-epek merupakan salah satu permainan yang berasal dari Jawa khususnya
di daerah Imogiri dan Gunungkidul. Epek-epek berarti telapak tangan. Mengapa permainan ini
dinamakan epek-epek? Hal ini disebabkan apabila terdapat pemain mentas (kalah) tersebut oleh
epek-epek (telapak tangan) pemain dadi, dia berganti menjadi pemain yang dadi. Pemain yang
sebelumnya dadi bila berhasil menyentuh lawan, maka berganti menjadi pemain mentas. Itulah
sebabnya mengapa pemain tersebut dinamakan epek-epek.
Permainan epek-epek dilakukan apabila anak memiliki waktu luang seperti saat pulang
sekolah, istirahat sekolah, sore hari, ataupun pada hari-hari libur. Permainan epek-epek bersifat
rekreatif jadi anak-anak sangat senang bermain epek-epek. Permainan ini bersifat melatih
kecepatan berlari, kecakapan, dan kesigapan. Epek-epek sangat baik untuk melatih komunikasi
12
antar anak. Kapan dan dimana permainan epek-epek ini lahir sulit dijelaskan. Tetapi yang jelas
permaninan ini sudah sangat tua dan keberadaanya sudah merata di desa-desa di daerah Imogiri
dan
Permainan ini dapat dimainkan oleh banyak anak yang tidak terbatas dan dengan minimal
pemain 3 anak. Walaupun tidak terbatas tetapi bila melebihi sepuluh anak sangat melelahkan bagi
para pemain itu sendiri. Permainan ini dapat dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan,
dengan kisaran umur 8-13 tahun. Permainan ini akan seimbang apabila umur merka sebaya.
Permainan ini dianggap permainan yang sederhana karena tidak memerlukan alat apa pun selain
sebidang tanah/lahan yang cukup luas, misalkan halaman sekolah.
Permainan epek-epek diiringi sebuah lagu yang dinyanyikan oleh para pemainnya tanpa
iringan instrument. Syair lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Epek-epek si kancil mbeleh tekek
Sir gedebuk ceklek
si kancil nyolong timun
Timune ewer-ewer
Jenenge Dower
Jalannya permainan
Sekelompok anak ( misalnya A, B, C, D, E, F, dan G) berkumpul, sepakat bermain epek-epek,
dan kemudian mencari tempat yang cocok untuk bermain ( sebidang kebun kosong atau halaman
kebun yang luas). Mereka telah memahami peraturan permainan yang biasa berlaku, yaitu :
1. Pemimpin permainan ditentukan berdasarkan kesepakatan para pemain
2. Jalanya penunjukan oleh pemimpin permainan kearah kanan atau ke kiri
3. Pemain yang dadi adalah pemain ynag ditunjuk bersama dengan sukukata wer pada akhir
lagu
4. Cara mematikan lawan dengan cara nyablek ( menyentuhkan telapak tangan) pada nadan
peserta. Bila hanya menyentuh baju maka dianggap tidak sah
13
5. Setiap pemain yang telah dicablek dianggap dadi dan dia yang ikut serta mematikan
pemain yang masih mentas
6. Permainan berakhir apabila semua pemain yang mentas kena cablek
Setelah itu kemudian para pemain ( A, B, C, D, E, F, dan G) berdiri melingkar. Atas dasar
kesepakatan, salah seorang diantara mereka ( misalnya A ) ditunjuk menjadi pemimpin permainan
ikut berdiri membentuk lingkaran tersebut bersama B, C, D, E, F, dan G. sambil menyanyikan lagu
epek-epek jari telunjuk A nunjuk B, C, D, E, F, dan G berulang kali sambil nyanyian berakhir.
Apabila saat menyanyikan lagu tadi sampai pada suku kata wer ( dari kata dower ), dan pada saat
itu jari telunjuk A kebetulan
14
Menunjuk pada diri B, maka jadilah B. kemudian pemain lainnya ( termsuk A ) cepat-cepat
menyebar untuk menghindari agar tidak dicablek oleh B. Sedangkan B beusaha mencablek semua
lawannya. Sewaktu B mengejar dan kemudian dia berhasil mencablek C, maka B dan C bersama-
sama mencablek pemain lainnya. Kemudian misalkan C berhasil mencablek D, dan B berhasil
mencablek E, maka B, C, D, dan E bersama-sama mencablek lawan-lawanya. Kini jumlah
pengejar lebih manyak dari pada yang dikejar. Dalam keadaan demikian maka pemain yang
mentas lebih mudah dicablek oleh pemain yang dadi. Setelah semua pemian dicablek maka
berakhirlah permaian epek-epek. Apabila permainan hendak dilanjutkan maka pemain yang
dicablek terakhir ( misalkan G) diangkat menjadi pemimpin permainan. Pada akhir pertandingan
ternyata tidak ada konsekueni apa pu lagi bagi yang kalah. Yang ada adalah bahwa selama
permainan berlangsung maka pemain yang dadi wajib mengejar pemian yang mentas, selain hal
tersebut tidak ada konsekuensi lainnya.
Nilai-nilai Ketamansiswaan yanng terkandung :
1. Teori Trikon yang digunakan dalam pengembangan kebudayaan:
a. Continue : peningkatan dan pengembangan kebudayaan sebagai kelanjutan dar
kebudayaan yang sudah ada.
b. Konvergensi : jalan bersama antara kebudayaan bangsa sendiri dengan kebudayaan
bangsa asing dan salin memperkaya (menyerap dengan seleksi adaptasi)
c. Konsentrasi : merupakan linngkaran-lingkaran kebudayaan dalam pergaulan umat
manusia pada umumnya dengan tidak kehilangan kepribadian kebudayaan masing-
masing bangsa (kebhineka ikaan dalam pergaulan hidup)
2. Tetep – Mantep – Antep
Tetep – lahir: mantep _ batin dan antep = berbobot. Untuk mencapai apa yang kita
kehendaki, kita harus tetap pada pekerjaan kita, jangan selalu menengok kekanan dan kekiri. Kita
harus terus berjlan dengan tertib dan maju, setia dan taat terhadap segala asas-asas kita. Demikian
pula kita harus selalu berbesar hati (mantep), agar tak ada kekuasaan lain yang dapat menahan
pelajaran kita dan membelokan niat kita. Setelah kita dapat tetap dalam laku lahir dan mantep
dalam rasa batin, maka semua perbuatan kita akan menjadi mantep; yakni berat/berbobot. Dengan
demikian kita tidak akan dengan mudah ditahan, dihambat atau dilawan oleh perbuatan orang lain.
Dalam bermain epek-epek para pemain dianjurkan untuk tetap fokus dengan apa
15
3. Trilogi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
Ing Ngarso Sung Tulodo (yang didepan memberi teladan), Ing Madyo Mangun Karso (yang
di tengah membangun semangat atau motivasi), Tut Wuri Handayani (yang dibelakang memberi
dorongan). Dalam permainan epek-epek dimana pemimpin permainan harus memberikan contoh
sambil menyanyikan lagu kemudian memberikan semangat kepada teman-temanya saat bermain
kejar-kejaran. Pemimpin juga memberikan dorongan kepada yang kalah agar tertap semangat
untuk mengejar lawanya.
4. Dasar Kemanusiaan
Mengandung arti, bahwa kemanusiaan itu darma setiap manusia yang timbul dari
keseluruhan akal nudinya. Keluhuran akal budi menimbulkan rasa dan laku cinta kasih terhadap
sesama manusia dan sesama makhluk Tuhan yang melimpah alam semesta. Karena itu, rasa dan
laku cinta kasih harus tampak pula sebagai tekat untuk berjuang melawan segala sesuatu yang
merinntangi kemajuan yang selaras dengan kehendak alam. Melalui permainan epek-epek ini
anak-anak dapat saling menghargai dan bekerja sama antar pemain.
16
4.Bakiak
Bangka Belitung
Permainan tradisional bakiak dengan nama lain yaitu terompah kayu. Permainan ini
menggunakan sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu dan pengikat kaki yang terbuat dari
ban yang dipakukan pada kedua sisinya. Bakiak biasanya berupa kayu panjang mirip seluncur yang
diberi beberapa selop, tetapi kali ini akan memberikan sesuatu yang sedikit berbeda yaitu bakiak
tali. Dimana selop tersebut disimpan dengan tali, yang panjang diperkirakan sampai ke tangan
(sebagai pegangan).
Sebenarnya “Bakiak” adalah permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Anak-anak
dari Sumatera Barat yang sering naik pertengahan tahun 1970-an, dan memainkan bakiak atau
terompah panjang ini. Bakiak panjang atau sering disebut terompa galuak di Sumatera Barat adalah
terompah deret dari papan bertali karet yang panjang. Sepasang ‘Bakiak’ minimal memiliki tiga
pasang sandal atau dimainkan tiga anak.
Bakiak adalah salah satu permainan tradisional. Bahannya dibuat dari kayu panjang seperti
seluncur es yang sudah dihaluskan (diamplas) dan diberi beberapa selop diatasnya, biasanya untuk
2-3 orang. Memainkan bakiak biasanya secara berkelompok atau tim, yang masing-masing tim
berlomba untuk sampai ke garis finish. Disaat masa sekarang permainan masih sering dimainkan
dalam perlombaan, seperti lomba agustus-an.
Permainan bakiak ini melatih kesiimbangan dan kekompakan tiap tim atau regu, yang mana
mereka harus memakai bakiak dan berjalan selaras, berbarengan dari garis start hingga ke garis
17
finish. Permainan ini bertujuan untuk membangun hubungan kerjasama antar anggota di dalam
tim agar dapat berjalan seirama.
Permainan bakiak ini juga memiliki beberapa manfaat yaitu yang pertama, melatih koordinasi
anggota tubuh, permainan ini bagus untuk melatih koordinasi anggota tubuh karena pada saat anak
memainkan bakiak gerakan tubuh dan kali bergerak secara bersamaan. Yang kedua, melatih
kesabaran. Bermain bakiak sangat membutuhkan tenaga dan kesabaran yang tinggi karena
membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan untuk melangkah supaya tidak terjatuh.
Aturan dan tutorial dalam permainan bakiak yaitu:
1. Bakiak dipakai layaknya alas kaki oleh 3 orang pemain (dalam 1 grup).
2. Letakkan masing-masing kaki dibawah pegangan tali, kemudian tali yang panjang dijadikan
(seperti naik kuda).
3. Untuk dapat melangkah, tali di bagiann tangan kiri dan kaki kiri harus secara bersamaan
diangkat untuk bisa melangkahkan kaki kiri, begitu juga sebaliknya dengan melangkahkan kaki
kanan. Apa bila tali tidak diangkat, maka tidak akan bisa melangkah. Agar dapat berjalan cepat
dan tidak terjatuh, diperlukan kekompakkan antara pemain dalam satu grup. Supaya grup tetap
18
kompak, para pemain sepakat mulai mengangkat kaki kanan atau kiri dulu. Selanjutnya, mereka
akan berjalan sambil memberi perintah pada langkah mereka.
4. Mulai selanjutnya sampai ke garis finish.
5. Grup mana yang lebih cepat, maka merekalah pemenangnya.
Kondisi permainan bakiak untuk saat ini, permainan ini di daerah sudah jarang anak anak
memainkan permainan bakiak. Dikarenakan anak anak saat ini lebih suka memainkan permaianan
yang lebih modern seperti permaianan game online di HP, PS, menonton youtube. Permaian
dolanan anak biasanya dimainkan pada saat lomba 17 Agustus ketik perayaan kemerdekaan.
Seiring dengan perkembangan jaman yang serba canggih, dengan banyak ragam permainan
19
berbasis internet menjadikan banyak anak-anak sekarang malas untuk bermain model permainan
jaman dulu. Karena teknologi semakin maju dan adanya modernsasi sehingga anak anak jaman
sekarang juga memiliki perubahan aktifitas dan permaianan yang disukai, dan sekarang anak anak
sejak kecil sudah disuguhi teknologi yang sudah maju dan mudah dalam akses sehingga anak anak
lebih suka bermain permaian atau game lewat gadget dibandingkan permaianan tradisional.
Sehingga permainan atau dolanan seperti bakiak mulai di tinggalkan dan dilupakan oleh anak anak
sekarang, juga sangat jarang dimainkan anak anak, dan kurang dilestarikan di jaman sekarang.
Permainan ini menguji ketangkasan, kepemimpinan, kerja sama, kreativitas, wawasan,
dan kejujuran. Pada permainan ini juga terdapat beberapa nilai-nilai tamansiswa yaitu
kodrat alam, kemanusiaan dan kebudayaan. Yang dimana kodrat alam dalam permainan
bakiak ini antara lain permainan ini dapat dilakukan dalam acara agustus-an yang selalu
dilaksanankan tiap tahunnya. Kebudayaan sendiri yaitu dengan anak-anak bisa mengikuti
ataupun memainkan permainan bakiak ini maka secara tidak langsung mereka juga
mencintai setiap kebudayaan yang ada dalam segi dolanan anak yang ada di Indonesia.
Nilai kemanusiaan dalam permainan bakiak yaitu dengan permaianan bakiak ini anak-
anak bisa saling menghargai dan juga mampu untuk bekerjasama tiap anggota tim.
20
5. Dhingklik Oglak Aglik
A. Latar Belakang
Kata dhingklik oglak aglik berarti sebuah bangku terbuat dari kayu atau bambu
yang tiangnya tidak bagus sehingga bila diduduki akan bergerak- gerak sehingga yang
duduk akan jatuh. Pengertian tersebut sesuai benar dengan jalannya permainan. Dalam
permainan ini diperlukan adanya keseimbangan dan kekompakan para peserta dalam satu
ikatan kelompok. Sebab bila kurang kompak dan lepas ikatannya pasti akan jatuh. Itulah
sebabnya permainan ini dinamkan dhingklik oglak aglik.
Permainan dhingklik oglak aglik ini baik sekali digunakan sebagai sarana
bersosialisasi bagi anak-anak umur 8-10 tahun. Sebab dalam permainan ini semua pemain
mempunyai fungsi, gerak-gerik, dan menyanyikan lagu yang sama. Mereka berkewajiban
untuk saling membantu agar dalam keadaan tetap utuh. Walaupun pada akhir permainan
kadang terdapat peserta yang jatuh dan sedikit sakit, tetapi mereka tidak mempedulikan hal
tersebut. Jadi permainan ini juga berfungsi untuk melatih anak agar bandel (tidak cengeng).
B. Sistem Permainan
Permainan ini tidak memerlukan alat apapun. Yang diperlukan hanyalah tempat
yang cukup untuk permainan tersebut. Sebaiknya tempat tersebut adalah tempat yang
berumput atau boleh juga sebidang tanah, teduh, dan tidak berubin sehingga apabila ada
peserta yang jatuh tidak akan merasa sakit. Dalam permainan ini para peserta melonjak
lonjak dan bertepuk tangan sambil menyanyikan sebuah lagu, sehingga suasananya meriah
sekali. Adapun syair lagu sebagai berikut :
Pasang dhingklik oglak-aglik
Yen keceklik adang gogik
Yu yu mbakyu mangga
Dhateng pasar blanja
Leh olehe napa
Jenang jagung
Enthok-enthok jenang jagung
Enthok-enthok jenang jagung
Enthok-enthok jenang jagung
Bila tidak untuk pertandingan antar kelompok maka permainan ini tidak
memerlukan peraturan pertandingan. Hal ini disebabkan karena tidak ada kalah atau
21
menang. Sedangkan apabila untuk pertandingan maka peraturan yang lazim adalah sebagai
berikut :
1. Kelompok yang jatuh terlebih dahulu itulah yang kalah.
2. Bagi kelompok yang kalah dikenakan hukuman, misalnya menggendong yang
menang sejauh jarak yang telah ditentukan terlebih dahulu.
3. Peserta yang terpisah ikatan dengan kelompoknya dianggap jatuh.
Pertama-tama mereka melakukan persiapan. Permainan ini sudah dapat terlaksana
apabila telah terdapat 3-5 orang anak. Sedangkan apabila untuk pertandingan
antarkelompok maka diperlukan kelipatan duanya yaitu, 6,8,10 orang anak. Untuk tempat
bermain diperlukan sebidang tanah berukuran kira kira 4 meter x 8 meter. Misalkan yang
akan bermain adalah empat orang anak (misalkan A, B, C, dan D) berdiri berhadapan
dengan tangan bergandengan.
Kemudian B dan C mbrobos (menerobos) di bawah lengan Adan D sehingga
posisinya seperti terlihat pada gambar (A-6b). Mereka berdiri bertolak belakang dengan
tangan tetap bergandengan.
Setelah satu kaki setiap peserta, boleh kiri atau kanan, diangkat ke dalam dan saling
dikaitkan sehingga sangat kokoh tidak mudah jatuh. Posisinya sekarang seperti terlihat
pada gambar.
22
Kemudian dilepaskanlah gandengan tangan mereka, lalu para peserta bertepuk
tangan sambil melonjak lonjak dan menyanyikan lagu Dhingklik Oglak Aglik. Lagu
tersebut dinyakikan terus berulang kali, dan berakhir apabila ada pemain yang terjatuh.
Jumlah peserta permainan ini dapat tiga, empat, atau lima orang anak. Namun
apabila untuk pertandingan diperlukan dua kelompok yang bertanding, sehingga
memerlukan kelipatan dua dibandingkan bila tidak untuk pertandingan (enam anak.
Delapan anak, atau sepuluh anak). Jadi selalu berjumlah genap. Bila tidak untuk bertanding
maka cukup diperlukan tiga, empat, atau lima kelompok yang masing-masing kelompok
terdiri dari tiga atau empat anak. Permainan ini dapat dilakukan baik oleh anak laki laki,
perempuan, atau campuran laki laki dan perempuan. Bila masih berumur antara 8-10 tahun
biasanya pesertanya campuran laki-laki perempuan. Sedangkan bila diatas umur tersebut
hanya perempuan saja atau laki-laki saja.
Peserta permainan ini sebaiknya berusia sebaya, misalnya antara 7-10 tahun atau
11-1 tahun. Perbedaan usia yang terlalu mencolok berakibat kurang baik bagi kekompakan
kelompok, sebab besarnya tidak merata sehingga berakibat kurang kokoh dan sudah jatuh.
Permainan ini melatih anak agar tidak bertindak lincah, aktif dan saling bekerja sam demi
23
keutuhan kelompok. Di samping itu tentunya juga untuk melatih sosialisasi dengan
sebayanya.
C. Kondisi Permainan Dhingklik Oglak Aglik Dimasa Sekarang
Pada zaman sekarang sudah banyak anak yang tidak bermain dilingkungan sekitar.
Anak anak lebih senang bermain game online dibandingkan bermain permainan
tradisional, berbeda dengan anak anak zaman dahulu. Anak zaman dahulu lebih senang
bermain bersama teman teman sebayanya di lingkungan luar rumah. Perminan dhingklik
oglak aglik ini mulai tidak memiliki daya tarik bagi anak anak. Gelombang arus teknologi
sekarang menjadi ancaman tersendiri bagi permainan permainan tradisional.
D. Identifikasi Dhingklik Oglak Aglik dengan Ajaran Tamansiswa
Permainan Dhingklik Oglak Aglik berhubungan dengan ajaran Tamansiswa yaitu
“Dari Natur ke Culture”. Yaitu dari kodrat ke arah adab, itulah pendidikan kita yang
bersifat kullturil. Dari permainan Dhingklik oglak aglik diajarkan agar anak menjadi
bandel (tidak cengeng) dan juga mengajarkan kepada anak anak untuk kompak dalam
berkelompok.
Ajaran tamansiswa yang berhubungan dengan Permainan ini adalah ajaran Trikon
yang digunakan dalam pengembangan budaya.
1. Continue : Peningkatan dan pengembangan kebudayaan sebagai kelanjutan dari
kebudayaan yang sudah ada.
2. Konvergensi : jalan bersama antara kebudayaan bangsa sendiri dengan
kebudayaan bangsa lain dan saling memperkaya (menyerap dengan seleksi
adaptasi)
3. Konsentrasi : Lingkaran-lingkaran kebudayaan dalam pergaulan umat manusia
pada umumnya dengan tidak kehilangan kepribadian kebudayaan masing
masing bangsa (kebhinekaan dalam pergaulan hidup.
Permainan Dhingklik oglak aglik juga berhubungan dengan ajaran tamansiswa yaitu
pancadarma poin ke 3 “Dasar Kebudayaan”. Mengandung arti keharusan memlihara nilai dan
bentuk kebudayaan nasional. Dalam memelihara kebudayaan nasional itu, yang pertama dan
terutama ialah membawa kebudayaan nasional kearah kemajuan yang sesuai dengan kemajuan
masyarakat., dan kemajuan dunia guna kepentingan hidup rakyat lahir dan batin sesuai dengan
perkembangan alam dan jaman.
24
6. Permainan Milud
Di Indonesia memiliki banyak pulau-pulau dan daerah.
Disetiap daerah pasti memiliki banyak permainan anak
atau dolanan anak, salah satunya di daerah Belitung
Timur Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki
permainan tradisional salah satu diantaranya yaitu
permainan milud atau di dalam bahasa Indonesia dikenal
dengan nama gobak sodor. Namun di daerah Bangka
Belitung pastinya sudah tidak asing lagi dengan nama
permainan ini yaitu milut, permainan milut sering dimainkan oleh anak-anak
dihalaman rumah maupun di pantai. Biasanya, anak-anak bermain milut pada
sore hari.
Permainan milut juga sering dilombakan di berbagai acara festival untuk tingkat
sekolah. Selain itu disekolah-sekolah jika diadakan lomba 17 agustus atau class meeting sebagian
sekolah mengadakannya baik itu SD, SMP, SMA. Tujuan permainan ini sering diadakan agar
permainan tradisional dari daerah tidak punah dan anak-anak dapat mengenal dan melestarikan
beragam permainan yang ada di daerahnya.
Cara bermain dan peraturan permainan milud yaitu permainan ini terdiri dari 2
Tim yang biasanya minimal 3 orang maksimal 5 orang pemaindalam satu Tim. Kedua tim juga
berbagi menjadi Tim Penjaga dan Tim Penyerang. Tim Penjaga bertugas untuk menjaga di setiap
garis yang ada serta menghadang atau membentengi Tim Penyerang sehingga Tim Penyerang tidak
bias melewati garis. Sedangkan Tim Penyerang bertugas untuk melewati setiap garis yang dijaga
oleh Tim Penjaga secara bolak balik tanpa terkena kontak fisik dengan Tim Penjaga. Apabila
anggota Tim Penyerang berhasil melewati setiap garis secara bolak-balik tanpa terkena kontak
fisik dengan Tim Penjaga maka Tim Penyerang dinyatakan menang. Jika Tim Penjaga berhasil
menyentuh salah satu anggota Tim Penyerang maka Tim Penyerang dinyatakan gugur. Begitulah
cara dan peraturan dari permainan milud yang butuh kerjasama pada satu tim dan menjalankan
strategi permainan yang baik agar dapat meraih kemenangan dari satu Tim.
25
Dalam permainan milud adanya keterkaitan pada ajaran Ketamansiswaan yaitu
Tetep Mantep Antep yaitu dalam melaksanakan tugas perjuangan seperti dalam
perlombaan milud, kita harus memiliki ketetapan hati (tetep), termasuk tekun bekerja, enggak
menoleh ke kanan dan ke kiri dan fokus untuk bias melewati garis yang dijaga oleh tim penjaga.
Kita harus selalu tetap tertib dan berjalan maju. Kita juga harus selalu mantep, setia, dan taat pada
asas itu, teguh iman hingga tidak ada yang akan dapat menahan gerak atau membelokkan arah kita.
Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita lalu mantep dan tabah batin segala perbuatan kita akan
menjadi antep yaitu berat berisi dan berharga yaitu sebuah kemenangan.
Dengan adanya keterkaitan ajaran ketamansiswaan pada dolanan anak memiliki manfaat , yaitu
manfaat menurut Ki Hadjar Dewantara sebagai berikut:
1. Mendidik perasaan diri dan sosial
2. Melatih kedisiplinan
3. Melatih ketertiban
4. Bersikap awas dan waspada
5. Menumbuhkan rasa gotong royong
6. Melatih kejujuran
26
7. Permainan Engklek
Permainan Engklek merupakan permainan yang dilakukan dengan cara berjalan dengan
satu kaki pada petak-petak berbentuk kotak yang digambar di atas tanah. Ada berbagai
jenis petak permainan dalam engklek, misalnya bentuk gunung, kincir, huruf L, dan lain-
lain.
Aturan bermain dari engklek adalah pemain melempar koin atau serpihan genting pada
kotak-kotak yang telah digambar di tanah secara berurutan, dari petak yang paling dekat
dengan pelempar. Pada kotak yang ditandai koin atau serpihan genting, pemain tidak boleh
menginjaknya dan harus melewati petak tersebut.
Saat kembali ke garis awal, pemain tersebut harus mengambil kembali serpihan genting
tersebut dan melanjutkan melempar ke kotak berikutnya. Permainan ini dapat dilakukan
dengan minimal jumlah pemain dua orang. Selain melatih ketangkasan, permainan ini juga
melatih keseimbangan dan konsentrasi.
27
8. Cublak Cublak Suweng
A. Sejarah Dolanan Anak Cublak-cublak Suweng.
Ariesta (2019 : 2) Sejarah permainan ini, kaitannya dengan penciptaan lagu/tembang
cublak-cublak suweng yang berasal dari Walisongo, tokoh penyebar agama Islam di Pulau
Jawa. Oleh karena itu permainan cublak-cublak suweng memiliki makna filosofi yang
dalam karena merupakan salah satu media yang digunakan seorang Walisongo yaitu Syekh
Maulana Ainul Yakin atau biasa dikenal dengan Sunan Giri sekitar tahun 1442M
Walisongo dalam dakwah menyebarkan Islam di di Indonesia khususnya pulau Jawa
melalui jalur kebudayaan. Karena itulah Sunan Giri menciptakan lirik cublak-cublak
suweng yang akhirnya di jadikan lagu dolanan pengiring permainan tradisional anak-anak.
B. Lirik Lagu Dolanan Anak Cublak-cublak Suweng.
Cublak-cublak suweng
suwengé ting gelèntèr
mambu ketundung gudhèl
pak empo lirak-lirik
sapa ngguyu ndelikaké
sir, sir pong delé kopong
sir, sir pong delé kopong
C. Makna Dolanan Anak Cublak-cublak Suweng.
(Binus University : 2020) Mengatakan makna lirik yang terkandung pada lirik Cublak-
cublak suweng adalah untuk mencari harta janganlah menuruti hawa nafsu tetapi semuanya
kembali ke hati nurani yang bersih. Tidak dipengaruhi hawa nafsu. Dengan hati nurani
akan lebih mudah menemukan kebahagian, dan tidak tersesat jalan hingga lupa akan
akhirat. Dari segi kultural lagu dolanan Cublak-cublak suweng dapat memberikan ajaran
kepada anak agar tidak menuruti hawa nafsu, menjaga harmoni dengan alam, sesama
manusia dan orang tua.
D. Nilai yang Terkandung dalam Dolanan Anak Cublak-cublak Suweng.
Herawati (2014: 4) cublak-cublak suweng memiliki nilai kerjasama, nilai kerukunan, dan
nilai kreatifitas. Berikut merupakan penjabaran dari nilai-nilai karakter cublak-cublak
suweng.
1. Nilai Kerjasama
28
Permainan ini sangat syarat dengan nuansa kebersamaan karena dimainkan dengan
beberapa teman yang lain. Permainan cublak-cublak suweng dimainkan dengan
gerak dan lagu. Lagu dolanan cublak-cublak suweng yang terdiri dari 6 baris,
dinyanyikan bersama-sama diikuti dengan gerakan yang mudah. Aturan yang
terdapat dalam permainan ini juga dipatuhi oleh seluruh pemain dan secara
langsung para pemain menyepakatinya. Apabila ada yang tidak bernyanyi atau
tidak bergerak, maka laju permainan ini pun tidak akan baik.
2. Nilai Kerukunan
Saat memainkan dolanan cublak-cublek suweng biasanya anak akan menjadi
senang dan memiliki kesempatan untuk bersosialisasi. Rasa senang dan nyaman
menjadi salah satu hal yang penting sebagai landasan pembentukan karakter. Rasa
senang saat bermain cublak-cublak suweng akan membawa hal tersendiri bagi
pemain, yakni rasa memiliki peran dalam permainan tersebut. Anak yang pendiam,
jahil, bandel, keras kepala, aktif ataupun pasif dalam permainan ini biasanya akan
melebur sehingga terciptalah kerukunan.
3. Nilai Kreatifitas
Permainan cubak-cublak suweng melatih anak untuk lebih kreatif, yaitu dalam
permainan ini pemain menggunakan biji atau kerikil sebagai pengganti uwer yang
sekarang ini susah untuk ditemukan. Permainan ini juga melatih anak untuk
berfikir, yaitu ketika anak yang dadi menebak anak yang menggenggam uwer atau
biji.
E. Keterkaitan Dolanan Anak Cublak-cublak Suweng dengan Ajaran Tamansiswa.
1. Tim Dosen Ketamansiswaan (2014:37) mengatakan bahwa Tringo : Ngerti; Ngroso;
Nglakoni Mengingatkan kita agar terhadap segala ajaran hidup atau cita-cita kita
diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan dalam pelaksanaannya, tahu dan
mengerti saja tidak cukup kalau tidak menyadari dan tidak ada artinya kalau tidak
dilaksanakan dan memperjuangkannya. Ilmu tanpa amal adalah kosong dan amal tanpa
ilmu adalah dusta (pincang). Dalam permainan cublak-cublak suweng terdapat ajaran
tamansiswa Tringo, pada ajaran ini anak akan mengerti tentang permainan cublak,
cublak suweng, tidak hanya sekedar mengerti saja namun anak akan merasakan nilai-
29
nilai yang terkandung dalam permainan cublak-cublak suweng, setelah itu anak akan
nglakoni (melakukan permainan cublak-cublak suweng tersebut).
2. Tim Dosen Ketamansiswaan (2014:37) mengatakan bahwa Tripusat Pendidikan
Merupakan sistem pendidikan Tamansiswa yang dilakukan dalam perguruan (sistem
Paguron) memusatkannya 3 (tiga) lingkungan pendidikan, yaitu: a. Lingkungan
Keluarga, b, Lingkungan Sekolah dan c. Lingkungan Masyarakat. Dengan permainan
cublak-cublak suweng ini tidak hanya dimainkan di lingkungan setempat/masyarakat
karena permainan ini juga bisa dimainkan di lingkungan sekolah, lingkungan
lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, karena permainanan ini mengandung
nilai-nilai positif, jadi permainan ini bisa digunakan sebagai pendidikan, salah satunya
adalah mendidik untuk jujur, taat dan patuh pada aturan
3. Tim Dosen Ketamansiswaan (2014:34) mengatakan bahwa Hidup Merdeka merupakan
hak diri yang didasarkan atas ajaran agama, bahwa Tuhan menciptakan manusia
dengan dasar-dasar yang sama baik hak maupun kewajiban. Hidup merdeka tidak
hanya bebas lepas dari penguasaan orang lain, akan tetapi berarti juga sanggup dan kuat
untuk berdiri sendiri tidak tergantung pada pertolongan orang lain.
4. Tim Dosen Ketamansiswaan (2014:40) mengatakan bahwa Salam dan Bahagia diri tak
boleh menyalahi damainya masyarakat, hal ini merupakan dasar sosial atau
kemasyarakatan yang terdapat dalam asas Tamansiswa pasal pertama. Hak diri yang
diutamakan bukanlah hak leluasa, tetapi merupakan hak yang terbatas. Adapun
batasannya adalah hak orang lain dan diri kita yang sama-sama mengejar dan mencapai
salam bahagianya masing-masing.
F. Cara Bermain Dolanan Anak Cublak-cublak Suweng.
Permainan ini dimainkan secara kelompok diawali dengan, mengundi atau menentukan
salah satu dari anggota permainan untuk menjadi pak empo, biasanya cara mengundinya
dilakukan dengan hompimpa (dalam bahasa jawa), dalam bahasa indonesia biasa disebut
suit(kertas batu gunting), setelah ada yang menjadi pak empo, maka semua pemain duduk
melingkar, sedangkan si pak empo itu duduk tengkurap, ditengah-tengah para pemain,
setelah itu para anggota pemain menaruhkan telapak tangannya diatas punggung pak empo,
setelah itu salah satu mengambil kerikil atau benda lainnya (benda ini dianggap sebagai
anting). Lalu mereka secara bersama-sama menyanyikan lagu cublak-cublak suweng
30
sambal memutar kerikil dari satu telapak tangan ke telapak tangan yang lain, begitu terus
sampai lagunya habis, biasanya mereka menyanyikan 2-3 kali lagu. Setelah sampai
Setelah sampai pada bait terakhir, para pemain berpura-pura untuk memegang kerikil,
tangan kanan dan tangan kiri mereka digenggam rapat seperti memegang sesuatu, hal
tersebut bertujuan untuk mengecoh si pak empoh yang mencari kerikil (suweng/anting)
semua pemain mengacungkan jari telunjuknya dan menggesekkan telunjuk kanan ke kiri
seperti orang mengiris cabai, mereka semua tetap bernyanyi “sir-sir pong dele kopong”
secara berulang-ulang sampai pak empo menunjuk salah satu orang yang dianggapnya
membawa kerikil (suweng/anting). Ketika pak empo sudah menemukan siapa yang
membawa kerikil (suweng/anting) dan ternyata benar orang itu yang membawa maka orang
itu berganti peran menjadi pak empo, namun apabila salah pak empo yang tadi main maka
dia menjadi pak empo lagi, permainan ini selesai ketika mereka menyepakati akan
menyelesaikan permainan ini.
Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi Pak Empo
31
Salah satu pemain memutar kerikil dari telapak tangan yang satu ke yang lain.
Pak empo menunjuk salah satu pemain yang membawa kerikil
32
9. Sembunyek Batu
A. Sejarah Sembunyek Batu
Sembunyek batu ialah permainan yang biasa dimainkan anak-anak di daerah
Belitung.Permainan ini biasanya sering dilakukan untuk menyemarakkan acara maras taun
yang diselengarakan setelah musim panen yang dikhususkan untuk anak-anak baik laki-laki
atau perempuan.Sehinggadalam acara panen tersebut tidakhanya orang tua saja yang
merayakannya, namun anak-anak juga ikut serta meramaikannya dengan permainan ini
dengan penuhsuka-cita.
B. Cara Permainan Sembunyek Batu
Permainan ini sangat mudah untuk dimainkan karena hanya memerlukan sebuah batu
yang dimasukan di dalaml ingkaran yang dijaga oleh satu orang.Biasanya permainan ini
dilakukan oleh 5-6 orang atau lebih.Bermain permainan ini sebenarnya cukup mudah karena
kita hanya perlu mengambil buah yang berada di dalam lingkaran tersebut, akan tetapi tidak
boleh tersentuh oleh orang yang menjaganya. Jika ada pemain yang mencoba mengambil batu
tetapi disentuh oleh sang penjaga maka mereka akan bertukar tempat. Jika semua batu
berhasil dibawa keluar maka semua batu harus disembunyikan dan si penjaga diminta untuk
mencarinya hingga ia menemukan salah satu batu atau menyerahdalam kurun waktu tertentu.
Permainan Sembunyek Batu dilakukan secara bertahap dengan langkah-
langkahsebagaiberikut :
1. Pertama,para peserta membuat lingkaran dalam permainan ini tidak ditentukan berapa
maksimal yang ikut main.
33
2. 1 anak berada didalam lingkaran, anak ditengah berperan sebagai penjaga batu yang
akan diambil oleh peserta lain yang membentuk lingkaran.
3. Anak-anak yang lain yang membentuk lingkaran tersebut berusaha untuk mengambil
batu yang dijaga oleh 1 anak yang berada ditengah lingkaran.
4. Jika semua batu yang dijaga dapat diambil oleh peserta yang membentuk lingkaran,
maka batu tersebut disembunyikan oleh peserta lain dan sipenjaga harus menemukan
batu tersebut.
5. Dan jika ada peserta yang tersentuh oleh penjaga saat mengambil batu, maka peserta
tersebut menggantikan posisi di tengah sebagai penjaga.
34
C. KeberadaanPermainansaatini
Sembunyek batu sudah jarang dimainkan dan semakin dilupakan oleh anak-anak
sekarang karena modernisasi dan anak sekarang lebih tertarik kepada teknologi sehingga
jarang memainkan permainan tradisional anak tersebut.
D. Nilai-nilaiPositif yang DapatDiambil
Nilai-nilai yang bisa diambil dari permainan ini adalah kita harus bisa sabar dan bekerja
sama dalam mengerjakan sesuatu agar bisa lebih mudah dalam mencapai tujuan atau mencapai
sesuatu yang diinginkan dan menanamkan rasa bahwa manusia itu mahluk sosial yang harus
hidup tolong menolong. Selain itu
sikap yang terdapa permainan ini
adalah tanggung jawab, sikap yang
baik ketika diberi tanggung jawab
adalah melaksanakan tugas dengan
baik dan tidak teledor. Sehingga
setiap tindakan yang dilakukan bisa
dipertanggung jawabkan
B. Dolanan Indoor
1. Jamuran
DOLANAN ANAK JAMURAN
Istilah jamuran berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata jamur yang mendapat akhiran –an.
Jamuran ialah semacam tanaman yang berbentuk bulat dan hidupnya menempel pada tanaman lain
yang telah mati. Arti kata jamuran dalam dolanan jamuran adalah sutau permainan anak
tradhisional yang dalam pelaksanaannya dengan membentuk bulatan seperti jamur. Dolanan anak
jamuran disertai dengan nyanyian dan diakhiri dengan melakukan apa yang disuruh oleh pemain.
Asal mula permainan ini tidak ada kepastian yang dapat menjelaskannya. Permainan ini mudah
dimainkan, sehingga anak berusia taman kanak-kanak juga dapat memainkannya.
35
Namun menurut beberapa sumber dari buku Erlangga, permainan jamuran diajarkan
pertama kali oleh Sunan Giri salah satu walisongo. Jamuran menjadi salah satu media para wali
untuk menyampaikan pesan moral dan agama. Pada zaman dahuli permainan jamuran sering
dimainkan anak-anak ketika bulan purnama. Saat itu cahaya diluar rumah lebih terang dan anak-
anak berhamburan ke luar untuk bermain jamuran. Bentuk permaianan jamuran ini berupa gerak
dan lagu.Lagu dolanan jamuran yaitu sebagai berikut.
jamuran….jamuran…ya ge ge thok ‘jamuran ya dibuat pura-pura’
jamur apa ya ge ge thok ‘jamur apa ya dibuat pura-pura’
Jamur gajih mbejijih sa ara-ara ‘jamur gajih mengotori seluruh lapangan’
sirabadhe jamur apa? ‘melesat cepat jamur apa’
Gerak dalam permainan ini yaitu dengan berjalan melingkar mengelilingi disertai dengan
bergandengan tangan dan salah satu pemain ada yang berada ditengah, setelah lagu selesai sampai
pada kata jamur apa, maka pemain yang berada di tengah menyuruh yang melingkar sesuai dengan
keinginannya, seperti menjadi jamur patung. Berarti pemain yang melingkar segera mungkin
seolah-olah menjadi patung, dan yang bergerak, tertawa atau tersenyum nantinya akan menjadi
ganti pemain yang ditengah. Selanjutnya permainan dimulai dari awal. Permaian ini tidak
menggunakan peralatan dalam bermain. Permainan ini hanya memerlukan sebidang tanah luas
untuk tempat bermain. Atau lebih mudahnya cara bermainnya yaitu :
Permainan ini dilakukan oleh
beberapa orang, diawali dengan
hompimpa, anak yang kalah akan
berjaga dengan berdiri ditengah
lingkaran. Sementara itu, anak lain
mengelilingi sambil bergandengan
tangan dengan menyanyikan lagu
jamuran.
Setelah menyanyikan lagu, anak yang membentuk lingkaran akan berjongkok dan
menunggu anak yang berjaga menyebutkan jamur tertentu.
Misalnya anak yang berjaga menyebutkan “jamur telepon” maka anak-anak yan
membentuk lingkaran melakukan gerakan seperti atau menyerupai telepon. Anak yang
36
tidak bisa menirukan gerakan seperti apa yang disebutkan akan menjadi penjaga
berikutnya.
Selain jamur telepon, ada jamur lain seperti jamur bunga, jamur parut, jamur angin,
jamur patung, dan sebagainya yang harus ditirukan gerakannya oleh anak lain.
Permainan jamuran dapat dimainkan oleh empat orang atau lebih. Semakin banyak jumlah
pemainnya, maka permainan ini akan lebih meriah. Kondisi permainan jamuran disaat sekarang
sudah jarang dimainkan oleh anak-anak. Karena keadaan bertumbuh pesatnya zaman sekarang ini
membuat permainan tradisional yang memiliki eksistensi tinggi menjadi lengah. Di era modern
sekarang ini banyak anak yang tidak mengenal apa itu permainan tradisional. Anak-anak kecil
zaman sekarang lebih memilih untuk bermain gadget, daripada harus bermain diluar rumah.
Padahal kegiatan seperti itu tidak bisa mengembangkan kemampuan seorang anak, karena mereka
tidak melakukan interaksi dengan orang lain dengan baik.
Permainan jamuran memiliki nilai-nilai yang bermanfaat sama seperti nilai-nilai yang
terkandung dalam ajaran Tamansiswa. Jamuran dapat meningkatkan kemampuan anak
bersosialiasi dengan teman-teman sebayanya dan dapat melatih anak untuk berinteraksi dengan
orang lain. Dolanan anak jamuran juga melatih kerjasama pada saat bermain. Permainan ini anak-
anak akan bernyanyi bersama sehingga muncul suasana yang santai dan menggembirakan. Dengan
menyanyi bersama, pada diri anak-anak akan muncul rasa kebersamaan dan juga rasa bersosialisasi
yang tinggi dengan teman sebayanya. Nilai afektif yang lain yang dapat diambil dari permainan
jamuran yaitu bahwa permainan ini mengajarkan kekompakan dan kebersamaan. Hal tersebut
dapat dilihat pada saat mereka bergandengan melingkar, bernyanyi, dan berputar, dan juga pada
saat mereka melakukan gerakan yang diperintah oleh anak yang dadi. Selain itu akan
menumbuhkan rasa tanggung jawab yaitu pada saat mereka melakukan apa yang diperintahkan
oleh pemain untuk memperagakan sesuatu. Bagi anak yang tidak dapat bertahan dari permainan
ini, maka dia harus mau menjadi pemain dadi. Bagi yang tidak mau di tengah menjadi pemain dadi
maka dia harus bertangggungjawab untuk memperagakan dengan baik.
Permainan Jamuran ini juga secara tidak langsung mengajarkan anak jiwa seni yaitu
dengan bernyanyi, mereka akan dapat mengenal nada-nada yang diyanyikan dalam tembang
jamuran dan menyanyikannya dengan kompak. Dalam dolanan jamuran ini, anak-anak juga harus
mematuhi peraturan permainan dan menjaga kedisiplinan, dengan demikian anak-anak akan
37
diajarkan untuk taat aturan, apalagi peraturan tersebut telah disepakati sebelumnya. Permainan ini
juga melatih anak untuk berfikir, terutama untuk anak yang berada ditengah, anak tersebut akan
berfikir akan menyuruh teman-temannya untuk menjadi jamur apa ketika lagu selesai dinyanyikan.
Anak yang dadi tersebut akan memikirkan strategi supaya teman-temannya sulit melakukan
gerakan yang diminta, kemudian menggantikan posisi yang ditengah.
2. Congklak
A. Sejarah Dolanan Congkak
Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama
di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji
congklak dan jika tidak ada, kadang kala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan
batu-batu kecil.
Daerah di sumatra terutama di daerah saya permainan ini dikenal dengan nama congkak
atau dhakon. James Dananjaya, dilansir dari Historia, mengatakan bahwa permaianan congklak
yang menyebar luas ke berbagai negara. Selain dibawa oleh pedagang, ini juga karena pengaruh
penyebaran Islam. Selain Filipina, beberapa negara seperti Srilanka bahkan juga mengenal
congklak, hingga ke tanah Afrika. Denys Lombard, mengatakan ada permainan dari negara lain
yang juga mirip dengan congklak. Setidaknya pada abad ke-17, permainan serupa telah populer di
wilayah Madagaskar hingga Turki. Pada tahun 1983, sebuah bidak congklak ditemukan di sebuah
situs di Panjunan, Banten. Situs tersebut dulunya diketahui sebagai pabrik tembikar, di mana bidak
congklaknya terbuat dari tanah liat. Saat ini benda bersejarah tersebut disimpan di Museum
Nasional Indonesia. Istilah batu dakon bukan hanya digunakan untuk permainan dakon atau
congklak saja. Akan tetapi, terdapat sebuah temuan dari zaman Megalitikum yang dinamai batu
dakon. Ini karena bentuknya memang mirip dengan bidak yang biasa digunakan bermain dakon.
Mengenai fungsi batu itu yang ditemukan itu terdapat dua pandangan dari para ahli sejarah.
Pertama, kemungkinan lubang-lubang di batu tersebut digunakan untuk wadah sesajen. Anggapan
kedua adalah bahwa batu tersebut difungsikan untuk memetakan bintang seperti di India. Tetapi
apakah batu dakon ada kaitannya dengan permainan dakon alias congklak masih belum diketahui.
38
Permainan congklak atau dhakon sekarang sudah sangat jarang dimainkan atau dijumpai
di daerah saya, bahkan penjual dhakon sudah tidak ada lagi sehingga sulit untuk membelinya. Di
tahun saya dulu permainan ini sering sekali dijumpai dan banyak anak-anak yang memainkannya
karena permainan nya yang menyenangkan dan mudah, ketika bermaian dhakon dulu kami sering
mencoret pipi dengan bedak jika lawan bermainnya kalah. Tetapi karena perubahan zaman dan
berkembangnya teknologi permainan ini sudah sangat jarang dijumpai bahkan anak-anak kecil
sekarang tidak tau apa itu congklak atau dhakon dan digantikan dengan handphone. Sangat
disayangkan karena seharusnya permainan ini terus di lestarikan agar tidak mati. Mungkin
handphone lebih menampilkan banyak gambar dan video yang menarik sehingga anak-anak
sekarang tidak tertarik dengan congklak atau dhakon.
Lombard mengatakan bahwa dakon (congklak) diadaptasi dari kata “daku” yang artinya
“saya”. Maknanya adalah menonjolkan ego seseorang. Di mana permainan ini tidak
memperlihatkan sisi kompetitif dari masing-masing pemainnya. Tujuannya hanya untuk saling
menghibur satu sama lain atau diri sendiri. Gerakan mengambil biji congklak berarti dalam hidup
39
kita harus memberi dan menerima. Lalu menaruh biji ke lubang lain berarti kita harus menabung
untuk masa depan dan jangan lupa berbagi dengan orang lain. Dan kembali pada tujuan awal
permainan ini yaitu bukan tentang menang dan kalah tetapi kesenangan diri dan memakna arti dari
setiap langkah permainannya. Banyak manfaat yang ada di permainana congklak atau dhakon yang
tidak banyak orang sadari seperti membantu melatih keterampilan berhitung anak, bermain
congklak juga penuh dengan strategi, bagaimana cara menang dengan mendapatkan lebih banyak
biji di lubang besar pada akhir permainan. Jadi, mau tidak mau hal tersebut memaksa anak untuk
berpikir secara bergantian.
B. Langkah-langkah Dolanan Anak Congklak
Permainan congklak atau dhakon hanya bisa dimainkan oleh dua orang. Masing-masing
mendapatkan jatah sekitar 49 biji-bijian yang nantinya diisi ke setiap lubang di papan. Tujuh
lubang di sisi kanan dan kiri untuk kedua pemain, dan terdapat satu lubang di kedua ujung papan.
Lubang ini memiliki perbedaan, yaitu ada yang ukurannya kecil (di tengah papan) dan besar (di
ujung papan). Pemain akan mengisi masing-masing lubang berukuran kecil dengan 5-7 biji dan
lubang besarnya dikosongkan. Di awal permainan, lubang besar dianggap sebagai gudang
penyimpanan bagi setiap pemain. Cara bermainnya sangat sederhana, pemain hanya perlu memilih
satu lubang kecil dan mengambil seluruh bijinya. Kemudian setiap biji dipindahkan ke lubang
lainnya satu persatu searah jarum jam sampai habis termasuk ke lubang lawan. Pemain kedua
mendapat giliran setelah Anda memiliki lubang yang kosong. Aturannya kita tidak boleh mengisi
biji ke lubang besar milik pemain lainnya. Tetapi jika melewati lubang sendiri dan masih ada biji
tersisa di tangan, maka semuanya diletakkan di sana. Meski tidak bersifat kompetitif, tetapi tentu
harus ada pemain yang kalah untuk mengakhiri permainan. Saat lubang-lubang kecil sudah
kosong, maka pemain harus menghitung jumlah biji di lubang besar. Siapa pemilik biji terbanyak
adalah pemenang dari permainan ini.
C. Kutipan (Nilai Moral dan Ajaran Tamansiswa yang Ada pada Dolanan Congklak)
Nilai moral yang terdapat pada Dolanan Congklak adalah sebagai berikut :
1. Jujur
Jujur adalah salah satu sikap penting dalam dolanan anak congklak karena dalam
permainan ini dibutuhkan kejujuran pada saat bermain
40
2. Sabar
Sikap baik dalam menunggu permainan ini saat pemain yang satu selalu berjalan terus dan
menang di dalam permainan ini
3. Berfikir kritis
Permainana congklak atau dhakon yang tidak banyak orang sadari seperti membantu
melatih keterampilan berhitung anak, bermain congklak juga penuh dengan strategi,
bagaimana cara menang dengan mendapatkan lebih banyak biji di lubang besar pada akhir
permainan. Jadi, mau tidak mau hal tersebut memaksa anak untuk berpikir secara
bergantian.
Keterkaitan Dolanan Anak Congklak dengan ajaran Tamansiswa
TRIKON merupakan kependekan dari istilah kontinyu, konvergen dan konsentris. Teori TRIKON
ditemukan oleh Ki Hadjar Dewantara untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan
nasional Indonesia.
1) Kontinyu
Artinya dalam melestarikan kebudayaan asli Indonesia kita harus terus
menerus dan berkesinambungan. Teori Kebudayaan itu dilakasanakan dengan
memasukan mata pelajaran muatan lokal, melakukan upacara-upacara adat,
mementaskan keseruan daerah dan lain-lain. Diajarkan dalam perminan congklak
ini hidup harus konsisten sesuai dengan tujuan
2) Konvergen
Artinya dalam upaya mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia kita
harus memadukan dengan kebudayaan asing yang dipandang dapat memajukan
bangsa Indonesia. Dalam memadukan itu (konvergensi) dilakukan dengan memilih
dan memilah kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian Pancasila (selektif) dan
pemaduannya harus secara alami dan tidak dipaksakan (adaptatif).
3) Konsentris
Artinya dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia kita harus
berusaha menyatukan kebudayaan nasional kita dengan kebudayaan Junia (global)
dengan catatan harus tetap berpegang pada ciri khas kepribadian bangsa Indonesia
(berdasarkan Pancasila). Dalam permainan dolanan anak ini konsentris yang di
41
maksud adalah tetap konsentrasi di dalam permainan tersebut. Dan berpegang
teguh dan tidak boleh curang
4) Kodrat alam
Sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa mengandung arti
bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan adalah satu dengan alam semesta ini,
manusia tidak dapat terlepas dari kehendak hukum-hukum kodrat alam. Adanya
kekuatan untuk bekal kehidupan demi pemeliharaan dan kemajuan hidupnya.
Sehingga tercipta pribadi anak yang dapat mencapai keselamatan dalam hidupnya
baik individu. Di dalam kodrat alam ini permianan congklak keterkaitannya adalah
sesuai dengan perminan yang harus dijalanan seperti kodrat nya masing – masing
tidak boleh menyalahi kodrat yang sudah ada
5) Ing Ngarso Sun Tulodho
Jika diawal kita memulai permainan itu berarti kita yang menjadi pemimpin
jalannya permainan tersebut, dan disinilah sikap jujur kita di contoh kepada lawan
main kita seperti ajaran taman siswa yaitu Ing Ngarso Sun Tulodho, yang berarti di
depan (pimpinan) harus memberi teladan
Manfaat bermain congklak lainnya adalah bisa digunakan sebagai pendidikan karakter
dimana akan menguji seberapa jujur pemain dalam menjalankan gilirannya. Biji yang digenggam
di tangan harus dijatuhkan satu di setiap lubang, tetapi pemain lawan tidak bisa mengetahuinya.
42
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari berbagai macam daerah asal mahasiwa kelas 7E Universitas sarjanawiyata
Tamansiswa, terdapapat beberapa dolanan anak tradhisional baik permainan Indoor
maupun Outdoor yang tercantum dan kami angkat dalam buku ini diantaranya :
1. Rangku Alu
2. Benthik
3. Epek epek
4. Bakiak
5. Dhingkilik Oglak Aglik
6. Milud
7. Engklek
8. Cublak Cublak suweng
9. Sembunyek Batu
10. Jamuran
11. Congklak
43
Daftar Pustaka
Dharmamulya, S. (2008). Permainan Tradisional Jawa. Yogyakarta: Kepel
Press Puri Arsita A-6.
Tim Penyusun Ketamansiswaan (2014). Materi Kuliah Ketamansiswaan .
Yogyakarta: Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Tim Playpus Indonesia. 2016. Ensiklopedia Permainan Tradhisional Anak
Indonesia. Jakarta : Erlangga
Sumber : https://www.instagram.com/p/B-dyHGYgJ49/?igshid=u0tlmpkoqbq9
Tim Dosen ketamansiswaan. 2014. Materi Kuliah Ketamansiswaan.
Yogyakarta : UST Yogyakarta.
Ariesta, Freddy Ariesta. 2019. ‘‘ Nilai Moral dalam Lirik Dolanan Cublak-
Cublak Suweng’’. Jurnal Ilmu Budaya, 1 (1), 2
Binus University. 2020. Nilai Moral dalam Lirik Cublak-cublak Suweng.
(online. Dalam https://pgsd.binus.ac.id/2020/04/15/nilai-moral-dalam-lirik-
dolanan-cublak-cublak-suweng/) Diakses 30 Oktober 2020.
Herawati, E. N. (2014). Nilai-Nilai Karakter Yang Terkandung Dalam
Dolanan Anak Pada Festival Dolanan Anak Se-Diy 2013. Jurnal Penelitian, 13 (1),
hlm. 4.
Herawati, E. N. (2015). Nilai-Nilai Karakter Yang Terkandung Dalam
Dolanan Anak Pada Festival Dolanan Anak Se-DIY 2013. Imaji: Jurnal Seni dan
Pendidikan Seni, 13(1)
Tim PlayPlus Indonesia. 2016. Ensiklopedia Permainan Tradisional Anak
Indonesia. Jakarta. Penerbit Erlangga
Nugroho, Yoga Anugrah. “Jejak Permainan Congklak”. 2014.
https://historia.id/kultur/articles/jejak-permainan-congklak-PMje6.
44
Saputri, Nanda. “Manfaat bermain Congklak untuk Perkembangan Anak”.
2019. https://kumparan.com/kumparanmom/manfaat-bermain-congklak-untuk-
perkembangan-anak-1546590471899682285/full.
Arfadia. “Asal Muasal Permainan Congklak”. 2020.
https://www.prestasiglobal.id/asal-muasal-permainan-congklak/.
.
45
Lampiran
A. Biografi Penulis
KELOMPOK 1 : Dolanan Anak “Rangkuh aluh melatih konsentrasi”
Nama Kelompok : Abdul Azis Az Zikri (2017015174)
Satria Detriaswara (2017015173)
Jhon Kalvin Yupukolo (2017015168)
Errawarita Luther (2017015189)
KELOMPOK 2 : Dolanan anak “ BETHIK” (2018015129)
Nama Kelompok : Fajar Istiqomah (2018015207)
(2018015213)
Oktavia Candra Ningrum (2018015211)
Irma Firdayanti
Adistha Birmang jaya
Kelompok 3 : Dolanan Anak “JAMURAN” (2018015139)
Nama Kelompok : Martina Sri R. (2018015229)
(2018015232)
Kelompok 4 Almeida Nurmalasari (2018015235)
Nama Kelompok Intan Fikri Ahzamy
Ulfa Aulia (2018015193)
(2018015182)
: Dolanan Anak “Epek-epek” (2018015174)
: Aninggar Lutfia W (2018 015196)
(2018015354)
Wahana Nur Eka P
Yuania Larasati
Sumarni
Dinda Restu
Kelompok 5 : Dolanan Anak “BAKIAK”
Nama Kelompok
: Fitrah Emilda (2018015191)
Made ayu (2018015192)
Farah dian saffana (2018015175)
Restu Nurkarim (2018015200)
46
Kelompok 6 : Dolanan Anak “ Dhingklik Oglak Aglik”
Nama Kelompok
: Ani Retno Kusuma (2018015195)
Kelompok 7
Nama Kelompok Anggun Shintya (2018015166)
Kelompok 8 Noviska Sotya (2018015165)
Nama Kelompok
Bunga Ade ( 2018015198)
Kelompok 9
Nama Kelompok : Dolanan Anak “MILUD”
Kelompok 10 : Helen sica fitri (2018015049)
Nama Kelompok
Widya Gustama (2018015079)
Kelompok 11
Nama Kelompok Elinda Fransiska (2018015077)
Devie Novianty (2018015076)
: Dolanan Anak “ ENGKLEK”
: Wiwih (2017015191)
Balang Steven (2017015198)
Indah Gita Cahyani (2017015175)
Anita Widi Pratiwi (2017015171)
: Dolanan Anak “Cublak-cublak Suweng”
: Dewi Kunti S. (2018015269)
Villia Mega Nuraini (2018015265)
Raras Rahma A. (2018015254)
Lintang Salsabila (2018015287)
: Dolanan Anak “ Dhakon “
: Puspitasari Kartika (2018015260)
Clara Anggun M. (2018015263)
Nisa Dini M. (2018015280)
Uni Mahera (2018015253)
: Dolanan Anak “ Sembunyek Batu “
: Ihsan Nurbashit (2018015282)
Amin Nurrohman (2018015249)
Indah Wahyuni (2017015192)
47
B. Editor
C. Design Cover (2017015174) 12. Oktavia
1. Abdul Aziz Az.Zikri Candra N
(2018015207)
13. Adistha
Birmang J
(2018015211)
14. Irma
Firdayanti
(2018015213)
2. Dinda Restu
Fauzia
(2018015354)
D. Foto
Dokumentasi
Kelompok
Kelompok 3
DOLANAN
ANAK
JAMURAN
KELOMPOK 4
EPEK-EPEK
48