The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpustakaansmpwarga, 2022-09-02 20:33:47

Isi dan Sampul Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Menara Masjid Kudus

Mengenai kapan menara Kudus dibangun,
terdapat sebuah petunjuk yang memperlihatkan waktu
dibangunnya menara. Di dalam tiang atap menara
terdapat candrasengkala yang berbunyi Gapura Rusak
Ewahing Jagad. Candrasengkala itu memuat tahun
pembuatan menara tersebut, yakni gapura = 9, rusak =
0, ewah = 6, dan jagad = 1, karena kalimat bahasa Jawa
dibaca dari belakang sehingga menjadi 1609 Saka atau
bertepatan dengan 1685 M.

51 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Kaki menara Kudus memiliki denah bujur sangkar
menjorok keluar dan digunakan sebagai tangga masuk.
Tinggi menara lebih dari 17 meter. Pada keempat sisi
luar terdapat hiasan 32 piring porselen bergambar
manusia, unta, pohon kurma, dan bunga.

Di dalam menara terdapat tangga kayu jati yang
dibuat tahun 1895 M. Di puncak menara terdapat

sebuah bedug dan mustaka (semacam hiasan)
yang semula terbuat dari tanah liat peninggalan Sunan

Kudus. Pada tahun 1947, mustaka tersambar
petir sehingga diganti dengan seng.

Di depan menara terdapat lekungan besi
putih yang jika dilihat kurang sesuai dengan

corak Hindu-Islam secara keseluruhan.

52 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Menara Masjid Kudus ini merupakan perpaduan

antara seni Hindu dan Islam. Hal ini dapat dilihat dari

hiasan atau seni ukirnya yang mirip dengan Candi

Hindu, serta dari bentuknya terdiri atas 3 bagian, yaitu

kaki, badan, dan puncak. Di dalam masjid juga terdapat

semacam pintu gerbang candi yang berjumlah dua

buah. Pintu gerbang tersebut mengingatkan kepada

pembagian bangunan berdasarkan tingkat kesucian

dalam agama Hindu.

FAKTA UNIK

Di belakang
Masjid Menara
Kudus terdapat
makam Sunan
Kudus beserta

keluarganya
dan kerabatnya.

53 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Tau Nggak Sih ?

Masjid Menara Kudus merupakan masjid yang mempunyai
dua kebudayaan yang menyatukan, yaitu akulturasi
antara kebudayaan Hindu dan kebudayaan Islam yang
masih bertahan sampai sekarang.

Pintu Gerbang Masjid
Bergaya Candi Bentar dan Paduraksa

54 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Pada bagian terluar terdapat sebuah pintu
candi yang sering disebut sebagai jaba luar. Jaba luar
merupakan bagian terluar dari Masjid Kudus. Pada
bagian dalam masjid juga terdapat satu pintu gerbang
candi yang sering disebut sebagai jaba dalam. Jaba dalam
ini membagi ruangan masjid antara bagian tengah dan
bagian jeroan atau bagian inti atau dalam dari masjid.
Penyesuaian dengan adat serta kepercayaan lama
dalam menara masjid ini sebagai tanda menggantikan
kepercayaan lama Hindu-Buddha pada kepercayaan
baru Islam.

55 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Dari beberapa sumber dikatakan bahwa Menara
Kudus adalah buatan para wali dengan bantuan tenaga

ahli dari India yang diberi bentuk yang disesuaikan
dengan adat istiadat serta kepercayaan masyarakat
yang hidup di kala itu dengan diberi jiwa baru (Islam).
Kalau dilihat dari segi seni bangunannya, sekalipun ini

betul diciptakan oleh Sunan
Kudus, tetapi yang diciptakan oleh
Sunan Kudus ini bukan barang baru. Di Bali juga
ditemukan bangunan yang serupa
dan dipergunakan untuk menempatkan kul-kul

(semacam kentongan).

56 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Ketika Islam masuk ke daerah Kudus, masyarakat
masih memegang teguh ajaran-ajaran Hindu. Oleh
karena itu, Menara Kudus ini berbentuk candi untuk
menyesuaikan diri dengan adat serta kepercayaan
lama. Dalam menjalankan dakwah Islam itu, dibuatlah
menara yang mirip dengan bentuk candi umat Hindu
karena pada saat itu terjadi zaman peralihan dari
kebudayaan Hindu ke kebudayaan Islam.

Sumber: Dok.Pribadi

57 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

Keragaman arsitektur tersebut merupakan
bukti bahwa sejak zaman dulu umat beragama di
Indonesia hidup secara rukun berdampingan. Mereka
mengedepankan rasa toleransi beragama. Hal ini dapat
dilihat bahwa berbaurnya kebudayaan yang berasal
dari agama yang berbeda membentuk ragam arsitektur
yang indah. Kita sebagai generasi saat ini sangat perlu
untuk melestarikan dan menjaga bangunan-bangunan
bersejarah tersebut. Yang paling penting adalah
kita perlu meniru para tokoh pada masa itu. Mereka
mengajarkan untuk hidup rukun dengan pemeluk agama
lain. Mengutamakan toleransi untuk selalu menjaga
rasa nyaman dan damai.

58 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

59 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia 49

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Rachmad. 2015. Kerajaan Islam Demak Api

Revolusi Islam di Tanah Jawa 1518-1549.

Surakarta: Al Wafi.

de Graff, H.J. dan Pigeaud. 1985. Kerajaan-

Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari

Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafiti Pres.

Masasi dan Purwadi. 2010. Babad Demak:

Perkembangan Agama Islam di Tanah Jawa.

Yogyakarta: Tunas Harapan.

Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu

Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di

Nusantara. Yogyakarta: LKIS.

Nugroho, Arifin Suryo dan Ruslan. 2007. Ziarah Wali

Spiritual Sepanjang Masa. Yogyakarta:

Pustaka Timur.

Pijper, G.F. 1985. Beberapa Studi tentang Sejarah

Islam di Indonesia 1900--1950. Tadjimah dan

Yessy A. (Penerjemah). Jakarta: UI Press.

Soelarto. 1960. Riwayat Hidup Sunan Kudus. Kudus:

Menara Kudus.

Soetarno. 1999. Aneka Candi Kuno di Indonesia.

Jakarta: Depdikbud.

60 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia 50

BIODATA PENULIS

Nama : Arifin Suryo Nugroho, M.Pd.
Ponsel : 085228375915
Pos-el : [email protected]
Alamat kantor : FKIP Univ. Muh. Purwokerto
Bidang Keahlian: Pendidikan Sejarah
Riwayat Pendidikan:
S1 Pend. Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta
S2 Pend. Sejarah Univ. Sebelas Maret Solo
Pekerjaan:
1. Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UMP
Tulisan yang sudah pernah diterbitkan:
1. Ziarah Wali: Wisata Sejarah Sepanjang Masa
(Pustaka Timur, 2007),
2. Biografi Hartini Sukarno (0mbak, 2009),
3. Biografi Fatmawati Sukarno (Ombak, 2010),
4. Mereka yang Mati Muda (Pustaka Timur, 2011),
5. Tragedi Cikini: Percobaan Pembunuhan Sukarno
(Ombak, 2013),
6. Biografi Amir Sjarifoeddin (Galang Press, 2017).

51

61 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia

BIODATA PENYUNTING

Nama Lengkap : Arie Andrasyah Isa

Ponsel : 087774140002

Pos-el : [email protected]

Bidang Keahlian: Menyunting naskah, buku, majalah,

artikel, dan lain-lain

Pekerjaan : Staf Badan Bahasa, Jakarta

Riwayat Pekerjaan:
1. Menyunting naskah-naskah cerita anak

2. Menyunting naskah-naskah terjemahan

3. Menyunting naskah RUU di DPR

Informasi Lain:
Lahir di Tebingtinggi Deli, Sumatra Utara, 3 Januari

1973. Sekarang beresidensi di Tangerang Selatan,

Banten.

62 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia 52

BIODATA ILUSTRATOR

Nama : Azen Setiadi, S.Pd.
Lahir : Purbalingga, 2 Februari 1996.
Keahlian : Penata Letak
Alamat : Sumampir 7/1, Rembang, Purbalingga.

Riwayat Pendidikan:
Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah UMP

Informasi Lain:
Azen Setiadi merupakan lulusan SMAN 1 Rembang
Kab. Purbalingga yang mempunyai seni rupa dasar dan
pernah mendalami design graphic dengan gurunya
Susiawan Harianto, S.Pd.

63 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia 53

Buku nonteks pelajaran ini telah ditetapkan berdasarkan
Keputusan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan
Balitbang, Kemendikbud Nomor: 9722/H3.3/PB/2017
tanggal 3 Oktober 2017 tentang Penetapan Buku
Pengayaan Pengetahuan dan Buku Pengayaan Kepribadian
sebagai Buku Nonteks Pelajaran yang Memenuhi Syarat
Kelayakan untuk Digunakan sebagai Sumber Belajar pada
Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

6644 Mengenal Arsitektur Tradisional Indonesia


Click to View FlipBook Version