Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi sudah kita serahkan pada penunggu hutan, kemudian kayu sudah diambil dan tanda bukti hubungan timbal balik. Setelah mantra dibacakan, tepung tawar sudah ditaburkan, dan seekor ayam telah disembelih barulah kayu ditumbang. Kayupun ditebang dengan menggunakan gergaji mesin. Pada masa lalu sebelum mengenal gergaji mesin, menebang kayu jalur biasanya menggunakan kapak dan beliung. Ketika sang penebang kayu mulai menebang maka sang dukun akan berkata: “Kalau inyo di darek, bao ka baruah. Yang di baruah ko la tibo. Kini mo kito poi ka baruah samo-samo (Kalau memang di hutan, mari ke kampung. Yang di kampung kini telah tiba. Sekarang mari kita pergi ke kampung bersamasama). Mantra tersebut untuk bersekongkol dengan jin atau setan. Tapi mantra yang diucapkan adalah untuk menghidupkan mambang kayu jalur yang akan ditebang untuk digunakan dalam berpacu jalur. Pacu jalur ibarat bersabung, karena mengharapkan kemenangan dari jalur lawan yang menantangnya. Prosesi tersebut bertujuan agar semua yang hadir selamat, dan pohon yang ditebang dapat dijinakkan dan tidak memberi penyakit kepada yang hadir, terutama kepada si penebang kayu. Upacara semacam ini hanya 135
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi dapat dilakukan sang dukun, jika tidak dilakukan, maka menurut sang dukun kayu jalur tersebut bisa malawan (melawan). Artinya, mambang yang terdapat pada kayu tersebut bisa saja murka atau marah. Kemarahan mambang tersebut bisa wujud dalam berbagai bentuk, seperti kayunya sangat keras untuk ditebang yang mengakibatkan kayu tersebut tidak tumbang, kalaupun tumbang akan membawa mudharat kepada yang hadir dalam proses penebangan tersebut; bisa saja kayu tersebut tidak dapat ditarik walaupun telah melibatkan banyak warga masyarakat, bahkan menurut sang dukun dengan menggunakan alat berat sekalipun kayu tersebut sulit untuk ditarik dari hutan untuk dibawa ke kampung (Dukun jalur, wawancara, 3 – 8 Oktober 2015). Kayu yang ditebang diharapkan rebah atau tumbang ke arah timur, karena ke arah timur kita menghadap. Alasan lain adalah matahari juga terbit sebelah timur, sebagai tanda cahaya dan kekuatan. Hal ini dimaksudkan agar kayu tersebut mempunyai kekuatan serta semangat seperti terangnya cahaya matahari yang terbit, menandakan akan ada tanda-tanda kehidupan dan optimisme. Merebahkan ke arah Matahari terbenam tidak dibolehkan, karena arah matahari akan tenggelam atau arah matahari “mati” dan tidak 136
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi bercahaya lagi, tentu ini menandakan tidak ada kekuatan di dalamnya. Jika terpaksa juga merebahkan ke arah matahari terbenam, menurut sang dukun sudah dipastikan jalur tersebut tidak akan laju bahkan ada sebagian dukun yang tidak lagi mau “menanganinya” dan diserahkan kepada dukun yang lain (Muhammad Judin [Dukun Jalur], wawancara, 6 Oktober 2015). Tidak semua dukun sepakat dengan hal ini, seperti dinyatakan oleh Thamrin (Wawancara, 5 Oktober 2015) bahwa kayu yang baik itu adalah kayu yang dahan tuanya menghadap ke arah matahari terbit atau hidup. Sedangkan menumbangkannya diharapkan ke arah matahari mati. Tidak ada penjelasan yang meyakinkan tentang perbedaan arah tumbangnya kayu tersebut, karena masing-masing dukun memiliki pengetahuan dan otoritas tersendiri. Dalam proses penebangan kayu jalur juga terdapat pantangan atau hal-hal yang dilarang dilakukan. Selain pantangan tidak boleh direbahkan atau ditumbangkan ke arah Barat, juga terdapat pantangan lain, seperti tidak boleh membuang air kecil di sekitar kayu jalur yang akan ditebang (kalau mau buang air minimal harus berjarak 50 meter dari kayu), dan tidak boleh bercakapcakap kotor, seperti memaki, sumpah serapah, dan sejenisnya. 137
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi 2.3 Mantra Hidup merupakan suatu susunan bermakna, yaitu kebutuhan manusia untuk menjustifikasi tindakan dan hubungan sosial mereka dalam satu kehidupan ditanggung bersama. Oleh karena itu, budaya hendaknya dilihat sebagai satu sistem persepsi, klasifikasi, dan interpretasi yang memberi nilai dan makna bagi kehidupan. Makna perlu dicari untuk mengetahui ideide dalam kehidupan. Manusia tidak terlepas dari satu jalinan kehidupan yang menghubungkan antara dirinya dengan Tuhan, dengan alam sekeliling beserta isinya, dan dengan sesama manusia itu sendiri. Jalinan tersebut wujud secara vertikal dan horizontal. Dalam hubungan yang vertikal, yaitu dengan Tuhannya, mengetahui hal-hal alam gaib, apatah lagi mengenal dan mencoba mendekati Tuhannya. Kewujudan manusia yang berhubungan dengan Tuhannya itu diperoleh jawaban dari agama dan kepercayaan, juga dari kitab-kitab agama. Begitu juga ada manusia yang berharap untuk mengenal dirinya dengan bantuan para dukun, bomoh, pawang, poyang, babalian, dan sebagainya untuk mencari jawaban karena mereka ini dipandang sebagai penghubung antara alam natural dengan supernatural. Bagi manusia seperti ini, mereka mampu menceritakan dari mitos-mitos 38 Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Gambar 4.4: Proses penebangan kayu untuk dibuat jalur Sebelum proses penebangan dimulai, dukun terlebih dahulu mengambil akar (banir) pohon tersebut yang panjangnya kira-kira 20 cm dan dibawa pulang oleh sang dukun. Benda inilah biasanya disebut dengan kakok tuo (bahan tua yang diambil dari akar/banir). Disebut tuo karena ia merupakan catukan pertama yang dilakukan sebelum proses penebangan berlangsung. Lamanya waktu menebangpun juga sudah ditentukan. Jika pada masa lalu menebang dengan menggunakan beliung, maka waktu yang diperlukan adalah selama 2 jam dengan tenaga penebang 2 orang yang dilakukan secara bersamaan. Pada masa sekarang dengan menggunakan 138
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi gergaji mesin, waktu yang diperlukan adalah 1 jam. Batasan ini merupakan ketentuan yang sudah ditetapkan, dan proses penebangan tidak boleh lama dari waktu tersebut. Ketika kayu akan tumbang, dukun membaca serapah: “Hai raja hutan, minggirlah, yang buta dibimbing, yang lumpuh didukung, bawalah anak buah raja itu, kami akan mengambil kayu ini, supaya jangan ditimpa kayu, datang tidak diundang, pergi tidak diantar”. Setelah pohon kayu tumbang, sang dukun segera melemparkan telur ayam ke pohon kayu tersebut untuk memberikan makanan kepada mambang. Gambar 4.5: Beliung yang digunakan untuk menebang kayu Selanjutnya, dukun akan mengambil catukan (kepingan kayu kecil) dari pohon yang ditebang tadi, setelah diambil kemudian disimpan dan dibawa ke rumah sang dukun. Kegunaan dari catukan tersebut 139
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi adalah untuk obat jika ada di antara pekerja dan pembuat jalur yang mengalami sakit. Selain catukan, sang dukun juga mengambil sehelai daunnya, kegunaannya sama dengan catukan tadi tapi sasarannya berbeda. Sehelai daun itu hanya untuk mengobati anak pacuan yang sakit ketika pacu jalur sedang berlangsung. Benda pertama (kakok tuo) amat penting atau besar kegunaannya, fungsinya berhubungan langsung dengan kayu jalur tersebut, yaitu akan dipakukan pada salah satu bagian jalur. Di samping itu, jika di saat akan bertanding mambang kayu tersebut tidak ada dijalur, maka dengan kakok tuo inilah mambang tersebut dihimbau atau dijemput kembali. Sedangkan benda kedua dan ketiga berfungsi sebagai obat. Ketiga benda tersebut secara umum berfungsi sebagai pertalian antara pohon yang sudah menjadi jalur dengan sang dukun sehingga mambangmambangnya mudah dipanggil dan dijinakkan oleh sang dukun (Nurlis [Dukun Jalur], wawancara, 7 Oktober 2015). 4.7 Proses Maelo (Menarik) Jalur Menarik (maelo) jalur sudah menjadi tradisi yang melekat dan mendarah daging bagi masyarakat Kuantan singingi. Bahkan tradisi ini banyak ditunggu-tunggu oleh masyarakat, terutama para pemuda dan pemudi. Pada masa lalu, yang ditarik bukanlah kayu jalur, melainkan 140
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi kayu yang sudah dibentuk atau sudah nampak bentuk jalur. Dengan demikian, sebagian pekerjaan membuat jalur sudah dilakukan di hutan. Hal ini disebabkan menarik kayu jalur bulat-bulat amatlah berat. Oleh karena itu, kayu jalur perlu diolah sehingga sudah berbentuk jalur sehingga lebih ringan untuk ditarik. Pada masa sekarang, terdapat dua model yang dilakukan masyarakat, yaitu; (1) sebagian pekerjaan membuat jalur sudah dilakukan di hutan, sehingga yang dielo adalah kayu yang sudah berbentuk jalur atau jalur setengah jadi, dan (2) semua pekerjaan membuat jalur dilakukan dikampung, dan yang ditarik dari hutan betul-betul kayu bulat yang akan dibuat jalur. Hal ini disebabkan aktivitas membawa kayu jalur ke kampung sudah menggunakan kendaraan alat berat. Gambar 4.6: Maelo kayu yang sudah berbentuk jalur 141
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Meskipun demikian, tradisi maelo masih tetap dilaksanakan, yaitu menarik kayu jalur tersebut dari hutan sampai ke tepi jalan besar. Kadang-kadang mengangkut kayu dari hutan ke tepi jalan besar juga menggunakan alat berat yang merupakan bantuan pihak perusahaan (RAPP). Setelah sampai di tepi jalan besar, kayu jalur diangkut dengan menggunakan kendaraan alat berat sampai ke kampung. Masyarakat menyewa alat berat tersebut atau juga dibantu oleh pihak perusahaan (Ajasmi [Tokoh Masyarakat], wawancara, 5 Oktober 2015). Gambar 4.7: Kayu bulat untuk dibuat jalur dibawa ke kampung dengan menggunakan alat berat 142
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Pada masa lalu, aktivitas maelo ini diikuti oleh hampir seluruh penduduk banjar atau kampung. Hal ini disebabkan aktivitas maelo memerlukan banyak tenaga. Kegiatan ini amat disenangi dan ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak muda (bujang dan gadis). Dalam pelaksanaan kegiatan maelo ini, biasanya seorang bujang dibawakan nasi oleh kekasihnya, dan mereka dapat makan bersama. Di samping itu, mereka juga dapat berdekatan dalam maelo atau menarik tali. Tidak jarang ketika tali penarik itu putus, mereka saling berjatuhan dan berdekatan. Hal ini menjadi hiburan dan tertawaan bagi yang lain, sehingga badan letih tidak terasa. Apalagi saat-saat tersebut diisi dengan pandirpandir atau humor berupa kelakar-kelakar dan ucapan yang bernada jenaka dengan sorak sorai yang tak ketinggalan. Aktivitas ini juga kadang-kadang digunakan sebagai ajang mencari jodoh, karena dalam aktivitas ini para pemuda dan pemudi berkumpul. 143
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi hati kolektif” (collective consciousness/conscience), yang menunjuk pada “totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama itu. Kesadaran kolektif adalah sebuah konsensus normatif yang mencakup kepercayaan-kepercayaan keagamaan atau kepercayaankepercayaan lain yang menyokongnya. Itu merupakan suatu solidaritas yang tergantung pada individuindividu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Karena itu, individualitas tidak berkembang; individualitas itu terus menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konfirmitas (Soerjono Soekanto, 1985: 4-9). Upacara ini terlebih dahulu diawali dengan melepaskan seekor ayam berwarna hitam yang dilakukan oleh dukun. Ayam itu dimaksudkan sebagai pengganti kayu jalur kepada penghuni hutan. Sambil melemparkan telur, sang dukun membaca mantra yang berbunyi: “Kayu kan kami ambiak kan kami pakai untuk mainan namanya pacu jalur. Marilah kito jago anak cucu kemenakan kito. Janganlah mengganggu. Kito jago anak cucuang kemenakan. Putia mato bulia dilek putia hati bakaan ikolah keadaannyo” (Nurlis [Dukun Jalur], wawancara, 7 Oktober 2015). 145
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Gambar 4.8: Aktivitas Maleo Dalam tradisi maelo ini terlihat dengan jelas solidaritas sosial masyarakat. Tradisi maelo mampu mengikat mereka untuk datang beramai-ramai melakukan aktivitas menarik kayu jalur. Dengan demikian, dapat dikatakan jalur merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kuantan Singingi yang dapat merekat hubungan antar anggota masyarakat. Dalam pandangan Durkheim, solidaritas seperti ini disebut dengan solidaritas mekanik. Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu “kesadaran kolektif atau suara 144
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (kayu yang kami ambil akan kami jadikan untuk sebuah permainan yang bernama pacu jalur. Marilah kita jaga anak cucu kemenakan kita, jangan mengganggu. Kita jaga anak cucu kemenakan. Putih mata dapat kita lihat putih hati tidak tahu, tapi beginilah keadaaanya). Apabila ditemukan banyak rintangan selama proses maelo atau menarik kayu jalur, seperti kayu tersebut tidak bisa ditarik oleh alat berat apalagi manusia; tali yang putus atau mengalami kendala-kendala lain, maka sang dukun akan kembali menyembelih seekor ayam dan darahnya ditaburkan pada kayu tersebut. Sambil menaburkan darah ayam, sang dukun membaca: “Kan kami bao ka barua, kan kami buek rumah untuak tinggalnyo. Jangan come kan kami jago sadonyo” (Kami akan membawanya ke kampung, kami akan membuatkan rumah untuk tempat tinggalnya. Jangan cemas kami akan menjaganya). Tujuannya adalah agar mambang yang ada di dalam kayu tersebut bisa dikendalikan dan tidak “melawan” kepada orang di sekitar kayu tersebut. 146
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi 4.8 Proses Pembuatan dan Melayur Jalur Pekerjaan membuat jalur tentulah tidak dapat dilakukan satu atau dua orang, melainkan memerlukan beberapa orang yang ahli dengan bantuan masyarakat, karena jalur yang dibuat dalam ukuran besar. Setelah kayu sampai di kampung, maka mulailah tukang jalur membuat jalur. Pada saat sekarang ini biaya yang dikeluarkan untuk upah tukang mencapai Rp.18.000.000,. Pekerjaan membuat jalur memakan waktu 2 hingga 3 minggu. Tukang jalur terdiri dari: Kepala tukang atau tukang Tuo (1 orang). Tukang Pengapik (tukang pembantu) sebanyak 2- 3 orang. Sejumlah anggota masyarakat yang dapat membantu. Biasanya kepala tukang adalah orang yang bukan hanya menguasai masalah teknis tetapi juga memahami masalah magis. Setelah kepala tukang dan pengapiknya mengukur kayu jalur dan memberi tanda-tanda barulah mereka bersama-sama mulai bekerja. Pengetahuan sebagai tukang jalur tidak dimiliki oleh semua orang. Kebanyakan tukang jalur di Kuantan Singingi merupakan keturunan. Dengan kata lain, yang menjadi tukang jalur memang dari keturunan yang memiliki pengetahuan 147
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi tersebut. Biasanya mereka dulunya sudah mengikuti orang tuanya membuat jalur, sehingga mereka memperoleh pengetahuan tersebut dari orang tuanya. Jadi, pengetahuan sebagai tukang jalur tidak dapat dikuasai oleh semua orang, melainkan orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan tukang jalur. Cara pembuatannya: a. Prinsipnya sama dengan pembuatan perahu biasa. b. Kayu bulat itu ditarah dan dilekukkan sehingga diperoleh semacam ruangan seperti ruangan perahu. c. Setelah hasil pekerjaan mencapai kerangka dasar, maka bagian badan (ruang jalur) diberi lubang dengan bor. d. Kemudian lubang itu disumbat dengan kayu yang disebut kakok. Kakok ini berguna: 1. Memudahkan tukang untuk mengetahui tebal ruangan jalur sehingga dengan mengikuti kakok ini dapatlah ruangan jalur mempunyai tebal yang sama. 2. Menghindarkan ruangan jalur untuk pecah kalau sudah didiang (dilayur). Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan membuat jalur semuanya menggunakan alat-alat tradisional, yang terdiri dari: 148
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi a. Kapak, alat yang digunakan multi fungsi. b. Kapatil, digunakan untuk membuat tembuku (tempat duduk anak jalur). c. Beliung penarah, digunakan untuk merapikan jalur, baik bagian luar maupun bagian dalam. d. Beliung pendatar, digunakan untuk pendatar, baik di dalam maupun di luar jalur. e. Beliung penerbit, digunakan untuk menarah dalam (mata kakok). f. Rembo, digunakan untuk membersihkan di luar atau menarah di luar. Gambar 4.9: Kapak Gambar 4.10: Kapatil 149
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Gambar 4.11: Beliung Penarah Gambar 4.12: Beliung Pendatar 4.13: Beliung Penerbit 4.14: Rembo 150
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Pada masa lalu pekerjaan membuat jalur tidak pernah selesai dalam satu kali kerjaan, melainkan beberapa kali. Setiap kali jalur sudah selesai, maka dilakukan uji coba dan dilihat kemampuannya. Jika jalur dianggap belum mencapai bentuk sempurna atau masih ada bagian yang belum berimbang, maka jalur ditarah atau ditukang kembali untuk mencapai bentuk sempurna. Oleh karena itu, satu buah jalur bisa mengalami beberapa kali perombakan setelah dilakukan uji coba di arena tanding. Di samping itu, jalur tidak ditarah langsung sampai tipis, sehingga masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Berbeda halnya dengan masa sekarang, jalur dikerjakan langsung jadi. Jika kemampuannya tidak memuaskan, maka pengurus jalur menggantikannya dengan yang baru pada tahun berikutnya. Gambar 4.15: Tukang sedang mengerjakan pembuatan jalur 151
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Perbedaan sikap di atas muncul karena cara pandang terhadap kayu jalur. Pada masa lalu, masyarakat mencari kayu jalur yang betul-betul dianggap memiliki tuah atau bertuah. Jumlah kayu seperti ini tentu tidak banyak terdapat di hutan. Oleh karena itu, mereka tidak boleh boros dalam menggunakan kayu tersebut. Di samping itu, pekerjaan maelo masih sepenuhnya menggunakan tenaga manusia, sehingga jika setiap tahun mengganti jalur amat dirasakan berat oleh masyarakat. Pada masa sekarang, pemilihan jenis kayu yang dianggap bertuah sudah tidak begitu dihiraukan lagi, yang terpenting adalah ukurannya cukup. Bahkan sekarang kayu yang tidak cukup ukuran juga diambil, dan untuk mencukupkan ukurannya dilakukan penyambungan dengan kayu yang lain. Penyambungan ini dilakukan oleh tukang jalur, dan kayu yang disambung harus sama kualitasnya dan bukan jenisnya. Setelah pekerjaan mencapai 60%, maka jalur didiang (dilayur) dengan cara meletakkan jalur itu di atas api. Prosesi terakhir melayur jalur adalah proses pembakaran atau pengasapan jalur. Proses ini dimulai dengan menaikkan jalur ke atas rampaian (tempat pengasapan) setinggi 1,20 meter. Sebelum jalur diangkat dan ditelakkan di tempat pendiangan, terlebih dahulu sang dukun akan kembali menyirami jalur mulai dari belakang sampai ke haluan dengan tepung tawar (Dukun jalur, wawancara, 3 152
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi – 8 Oktober 2015). Dalam prosesi juga dilakukan penyembelihan ayam lagi. Darahnya ditaburkan pada haluan jalur. Hal ini dimaksudkan agar jangan melorat (membahayakan) kepada orang ramai. Kadang-kadang jika tidak disembelih seeokar ayam mengakibatkan jalur yang dilayur terbakar dan bisa jadi apinya akan merampat ke rumah-rumah penduduk sekitar tempat pelayuran jalur tersebut. Tidak jarang juga jalur tidak mau mengembang, sedangkan hari sudah pagi dan kayu pembakarnya telah padam. Sambil menaburkan darah ayam pada jalur sang dukun membaca: “Hak manggo mari. Mari koto bersaudaro. Jangan merusak binaso... (Kemarilah, mari kita bersaudara. Jangan merusak yang menyebabkan binasa) (Nurlis [Dukun Jalur], wawancara, 7 Oktober 2015). Gambar 4.16: Aktivitas melayur jalur 153
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Setelah berada di atas rampaian (tempat pelayuran) dalam posisi tertelungkup, jalur kemudian diasap dengan membakar kayu di bawahnya. Proses pembakaran ini biasanya berlangsung kurang lebih 5 jam, yang dimulai dari pukul 08.00 pagi. Setelah keadaan panasnya mencukupi, maka ruangan jalur dikembangkan dengan cara menariknya ke kiri dan ke kanan sehingga menjadi lebar. Melebarkan ruangan jalur ini dilakukan dengan menarik pinggir ruangan dengan rotan dan lebar sesuai dengan yang diperlukan. Agar jalur dapat dioperasikan atau digunakan, maka perlu juga dibuatkan perlengkapan seperti pengayuh (dayung), galah, penimbo (upih = alat yang terbuat dari pangkal pelepah daun pinang untuk menimba air yang masuk ke dalam jalur), selembayung, dan sebagainya. Setelah semua bagian dan perlengkapan jalur selesai, maka selanjutnya jalur siap diturunkan ke sungai untuk dicoba dan dipacukan. 4.9 Memberi Nama Jalur Satu hal yang tidak kalah uniknya dalam tradisi pacu jalur, yaitu setiap jalur harus mempunyai nama. Nama jalur merupakan hal yang penting dan biasanya memiliki makna tertentu. Tidak jarang nama jalur tersebut tersirat dimensi magisnya. Ada tiga cara dalam 154
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi pemberian nama jalur, yaitu: (1) jalur yang diberikan nama oleh masyarakat berdasarkan hasil rapat, (2) jalur yang diberi nama oleh dukun, dan (3) jalur yang diberi nama berdasarkan nama mambang yang menghuni kayu tersebut. Jadi, intinya dalam pemberian nama jalur harus ada kesepakatan antara masyarakat, pengurus jalur, dan dukun jalur. Adapun pemberian nama yang dilakukan oleh pengurus, masyarakat, dan dukun jalur setidaktidaknya berdasarkan empat kategori, yaitu: a. Berdasarkan nama binatang yang berbisa dan buas. Banyak sekali nama jalur dengan nama binatang berbisa. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya binatang berbisa yang terdapat pada kayu jalur saat penebangan merupakan salah satu tanda bahwa kayu jalur tersebut memiliki sakti atau tuah. Tujuan memberi nama dengan nama binatang yang “membahayakan” adalah agar jalur tersebut kuat, laju, dan juga buas, sehingga lawan-lawannya dengan mudah dikalahkan. Jarang sekali atau bahkan mungkin tidak ada nama jalur dengan menggunakan binatang peliharaan, misalnya nama kucing, sapi, kambing, dan lain-lain. Karena secara logika kucing kalau melawan singa tentu kucing yang akan kalah. Adapun namanama jalur berdasarkan nama binatang berbisa yang 155
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi pernah digunakan antara lain: 9 Singa Kuantan 9 Mantiko Limbek Putiah 9 Gajah Tunggal Bukik Tigo 9 Sembaran Olang Pulai 9 Harimau Paing Tuah Nagori 9 Kalojengking Tigo Jumbalang 9 Siposan Rimbo 9 Merpati Kuantan 9 Nago Sati 9 Olang Barantai 9 Elang Sati 9 Harimau Kompe 9 Ular Lidi Sipancuang Umbuik 9 Kibasan Nago Liar, dan lain-lain. b. Berdasarkan nama orang atau tokoh di masyarakat Dalam masyarakat tertentu di Kuantan Singingi ada tokoh atau orang yang dituakan, yang berjasa kepada negerinya, baik itu ulama, niniak mamak, codiak pandai, para pejuang kemerdekaan, pendiri kampung, dan lain sebagainya. Untuk mengabadikan nama mereka, biasanya dibuatkanlah menjadi nama jalur. Biasanya nama tokoh tersebut berdasarkan cerita dan kisah di masyarakat di mana orang-orang 156
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi tersebut pada masanya terkenal dengan kesaktiannya. Jika namanya menjadi nama jalur diharapkan kesaktian dari nama tersebut bisa menular kepada jalur dan akan mengakibatkan jalur tersebut menjadi sakti pula dan sulit terkalahkan. Di antara nama tokoh yang dijadikan nama jalur antara lain: 9 Keramat Jubah Merah 9 Pendekar Sati Rantau Kuantan 9 Pendekar Hulu Bukik Tabandang 9 Datuak Lebar Dado c. Berdasarkan tempat atau benda-benda angker Tempat dan benda angker juga paling banyak dijadikan nama sebuah jalur setelah nama binatang buas dan berbisa. Dengan memberi nama jalur dengan nama-nama yang angker, sang dukun yakin bahwa jalur tersebut juga akan menjadi jalur yang angker dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Nama jalur juga disesuaikan dengan keadaan pada waktu itu dan juga dengan sejarah. Di antara nama-nama tersebut antara lain: 9 Kibasan Gajah Putiah 9 Terusan 9 Bomber 9 Atom 157
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi 9 Selendang Putri Danau Seroja 9 Rawang Udang 9 Sarijadi Gemetar Alam 9 Panglimo Kuantan d. Berdasarkan sponsor Di era sekarang ini jalur-jalur juga banyak disponsori oleh berbagai lembaga, misalnya perusahaan. Untuk mengabadikan nama sponsor atau yang membiayai jalur tersebut, maka dicarilah satu nama dan digandeng dengan nama pemberi sponsor tersebut. Nama jalurnya digabung dengan nama sponsornya, di antara nama-nama tersebut antara lain: 9 Linggar Jati RAPP 9 Siguntuang Sati Riau Pos 9 Garuda Putih RZ-MM 4.10 Ritual dalam Proses Perlombaan Kegiatan pacu jalur di arena perlombaan (tepian narosa) merupakan puncak dari prosesi sebuah jalur. Di arena inilah satu jalur diuji kemampuannya dan begitu juga dengan dukun yang memegangnya sejak awal. Sebelum pacu dilaksanakan para peserta pacu terlebih dahulu mencabut undi sehingga dapat diketahui kapan mereka tampil dan jalur mana saja yang menjadi lawan 158
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi mereka. Dalam konteks ini peran dukun amat penting karena dukun akan menetapkan pelangkah kapankah jalur yang dipegangnya akan berangkat menuju ke arena pacu. Seorang dukun sudah tahu jalur mana saja yang kuat dan perlu dihindari bertemu pada putaran awal. Oleh karena itu, dukun bertugas menghindari jalur-jalur lawan yang dianggap tangguh tersebut. Pada malam sebelum berangkat dukun melakukan potong limau sebanyak 3 potongan4 dengan makna sebagai berikut. a. Potongan limau yang pertama merupakan simbol dari jalur lawan. Jika potongan limaunya tertelungkup berarti jalur lawan kalah. Namun, jika sebaliknya (tertelentang) berarti jalur lawan menang. b. Potongan limau kedua merupakan simbol jalur milik dukun. Jika potongan limaunya tertelentang, berarti jalur milik mereka menang. Namun, jika sebaliknya (tertelungkup) berarti jalur milik mereka kalah. 4 Potongan limau merupakan suatu media yang penting dalam dunia perdukunan. Hampir semua dukun yang menekuni berbegai bidang selalu menggunakan limau untuk mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan bidang mereka. Hal ini terlihat jelas seperti dalam pengobatan balian, di mana potongan limau digunakan untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita oleh si pasien dapat disembuhkan atau tidak (lihat, Hasbullah, 2014). 159
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi c. Potongan limau yang ketiga tidak memiliki makna apa-apa, hanya melengkapkan sebuah ritual potong limau saja. Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa seorang dukun sudah tahu apa yang akan terjadi dalam pertandingan besok. Bahkan menurut penjelasan dukun, limau yang dipotong dan di tempatkan di dalam sebuah mangkok akan berjalan-jalan sebagai simbol dari sebuah pacuan. Limau potongan milik dukun saling kejarkejaran dengan limau potongan milik lawan. Berdasarkan hal ini dukun harus mencari pelangkah untuk menghindari jalur-jalur lawan yang lebih kuat. Untuk itu dukun harus mengelak turun bersamaan waktu dengan jalur lawan tersebut. Dengan demikian, dukun harus menetapkan pelangkah untuk menurunkan jalur, mungkin sedikit lebih cepat atau sedikit lebih lambat dari waktu pelangkah yang diambil jalur lawan. Selisih waktu tersebut tidak perlu terlalu lama, selisih beberapa menit saja sudah cukup. Pelangkah merupakan konsep yang amat penting bagi masyarakat tradisional dalam menentukan saat yang baik untuk melakukan suatu kegiatan. Dalam pandangan masyarakat tradisional, dalam satu tahun terdapat bulan yang baik, dalam satu bulan terdapat minggu yang baik, 160
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi dalam satu minggu terdapat hari yang baik, dan dalam satu hari terdapat waktu atau saat yang baik. Oleh karena itu, dukun bertugas untuk mendapatkan saat yang baik untuk melangkah tersebut. Melangkah biasanya dipahami sebagai kegiatan keluar atau berangkat meninggalkan tempat dan menuju ke tempat tujuan. Dalam masyarakat Melayu tradisional, melangkah bertujuan agar apa yang dituju tercapai, jika dalam perlombaan akan mendapatkan kemenangan, di samping juga menghindari dari berbagai bahaya. Dalam prosesi jalur terlihat dengan jelas bahwa setiap tahapan selalu dimulai dengan pelangkah, mulai dari proses penebangan sampai kepada proses pertandingan. Kemampuan seorang dukun jalur amat diuji pada waktu menetapkan pelangkah. Menurut keyakinan mereka pelangkah amat menentukan apakah jalur mereka menang atau kalah di gelanggang. Ada dua cara dalam menetapkan waktu melangkah, yaitu: pertama, seorang dukun harus menghitung (menghisap seperti dalam ilmu falak) tanggal atau hari pertandingan dan menetapkan kapan waktu yang tepat. Metode ini menggunakan rumus tertentu dengan cara menambah, mengurang, dan membagi angka-angka yang terdapat dalam hitungan tersebut. Hitungan hari bulannya berdasarkan bulan yang di atas atau penanggalan 161
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi hijriyah, dan bukan kalendar atau penanggalan masehi. Metode ini sudah tidak begitu banyak dikuasai oleh dukun. Dan kedua, dukun bertanya kepada mambang tentang kapan waktu yang tepat untuk melangkah. Untuk menentukan hal tersebut, mambang bertanya kepada dukun “berapa hari bulan di alam kalian sekarang”. Setelah itu baru mambang memberitahu kepada dukun saat yang tepat untuk melangkah. Penanggalan tetap merujuk kepada bulan yang di atas. Dengan demikian, dalam menetapkan pelangkah dukun berkonsultasi terlebih dahulu dengan mambang. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa dalam satu jalur bisa saja mempunyai dukun lebih dari satu, yaitu dua atau tiga. Jika satu jalur hanya memiliki satu dukun, artinya ia harus mengurus secara keseluruhan yang berkaitan dengan jalur. Namun, ada juga jalur yang memiliki tiga orang dukun, yaitu dukun jalur, dukun tanah, dan dukun air. Masing-masing mereka mempunyai tugas sendiri-sendiri; dukun jalur harus mengurus mambang yang terdapat di jalur; dukun tanah harus mengurus yang berkaitan sewaktu jalur masih di darat; dan dukun air harus mengurus hantu air di saat berlangsungnya pacu jalur di arena pacu. Menurut keyakinan mereka jika makhluk-makhluk gaib yang terdapat pada tempat tersebut tidak diurus, ia akan 162
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi mengganggu jalannya atau melajunya jalur tersebut. Bahkan tidak jarang hantu air juga digunakan oleh dukun lain untuk menghalang-halangi lajunya jalur milik mereka. Itulah sebabnya sebelum jalur dilepas terlebih dahulu dilakukan ritual terhadap jalur untuk menghindari makhluk halus yang ada di air. Sebelum jalur diisi dengan anak pacu biasanya juga dilakukan sedikit ritual untuk menjaga diri anak pacu agar selamat dan memenangkan pertandingan. Ritualnya dipimpin langsung oleh sang dukun dan dibantu para pengurus jalur. Anak pacu disuruh duduk sambil berbaris kemudian masing-masing mereka diberi sesuatu oleh dukun yang berguna sebagai obat dan kekuatan bagi anak pacu. Benda yang diberikan kepada anak pacu bentuknya berbeda, bergantung dengan dukun masing-masing jalur. Ada yang memberi bonbon, beras, dan sebagainya untuk dimakan. Anak pacu tersebut dikelilingi oleh sang dukun sambil menyiramkan sedikit demi sedikit air tepung tawar tadi kepada anak pacu. Kemudian masing-masing anak pacu membaca doa dalam hati. Setelah ritual selesai di atas maka sang dukun memerintahkan untuk mengisi jalur. Menurut sang dukun, jalur kita harus terlebih dahulu diisi ketimbang jalur lawan. Mengisi jalur tidak boleh lambat-lambat lebih 163
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi cepat diisi lebih baik. Semua anak pacu harus mentaati perintah sang dukun, jika kata sang dukun cepat berangkat ke pancang start maka cepatlah jangan diperlambat lagi. Dukun juga memesankan kepada anak pacu untuk membaca ayat-ayat pendek selama duduk di dalam jalur menjelang pertandingan berlangsung. Dalam mengisi jalur yang harus pertama masuk adalah tukang onjai, kemudian tukang timbo ruang, dan tukang tari. Kemudian barulah anak pacuan sebagai pendayung. Setelah semua anak pacu mengisi jalurnya, sebelum jalur tersebut didayung terlebih dahulu sang dukun akan memegang haluan jalur untuk mencari langkah kapan harus didayung. Biasanya sang dukun memegang haluannya antara 2 hingga 15 menit. Sang dukun menemukan langkahnya dari denyut sang haluan jalur. Ada semacam kontak antara sang dukun dengan mambang yang ada di dalam jalur. Kalau kontak tersebut belum muncul, jalur jangan dilepas, tahan saja sampai kontak dan bisik-bisik itu sampai ada. Tidak ada kepastian tentang langkah ini, karena dukun hanya mengikutkan gerak hati yang dipercayai merupakan perintah dari mambang jalur. 164
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Gambar 4.17: Dukun melepaskan jalur untuk bertanding Setelah berada di dalam jalur ada beberapa hal yang terlarang atau tidak boleh dilakukan oleh anak pacu. Pantang larang ini harus dijaga oleh semua anak pacu, karena mereka meyakini jika pantang larang ini dilanggar maka jalur mereka akan kalah. Adapun pantang larang tersebut adalah: (1) tidak boleh buang air kecil di dalam jalur, (2) tidak boleh meludah ke arah jalur lawan, (3) tidak boleh berkata kotor, dan (4) tidak boleh mandi ke arah jalur lawan. Selama berada di dalam jalur, menjelang pertandingan berlangsung, anak pacu diminta untuk tetap fokus dan konsentrasi serta berdoa kepada Allah atau membaca ayat-ayat pendek agar jiwa mereka menjadi tenang dan tidak gugup. 165
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Gambar 4.18: Pacu Jalur sedang berlangsung Setelah dukun mendapat kontak batin atau gerak hati, maka dilepaslah jalur ke pancang start kemudian setelah tiba waktunya mereka berpacu. Setelah selesai berpacu dan mendengarkan keputusan dewan hakim, maka sang dukun akan menanti jalur tersebur di tambatan kajangnya5 karena tadi mambang dilepas sewaktu pacu maka sekarang mambang juga ditarik kembali ke dalam jalur. Jalur merupakan rumah baru bagi mambang setelah rumah lamanya (pohon) ditebang dan diubah menjadi jalur. Hal ini sudah merupakan kontrak antara dukun 5 Semacam tempat parkir jalur. 166
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi dengan mambang di saat melakukan penebangan kayu. Artinya, kayunya diambil dan sekaligus mambangnya dibawa kemanapun kayu tersebut pergi. Tidak ada kesepakatan di antara dukun tentang keterlibatan mambang pada saat pacu jalur berlangsung. Ada yang mengatakan mambang terlibat langsung dan ada juga yang mengatakan tidak terlibat langsung. Demikian juga halnya dengan jumlah mambang yang terdapat di jalur tersebut, ada yang mengatakan satu, ada yang mengatakan dua, bahkan ada yang mengatakan terdapat tiga mambang dalam satu jalur. Nama-nama mambang tersebut juga berbeda antara satu jalur dengan jalur yang lain. Namun demikian, mambang untuk satu jalur juga bisa diisi oleh dukun dengan cara mengundang mambang tertentu yang terdapat di kampung tersebut. Bagi dukun yang mengatakan terdapat tiga mambang dan langsung terlibat dalam pacu tersebut menjelaskan bahwa posisi mambang tersebut ada yang di depan, di tengah, dan di belakang. Misal, mambang di depan bernama si unui, yang di tengah bernama si majana, dan di belakang bernama si majani; dukun yang lain menyebutnya dengan nama yang berbeda, misal; mambang di depan bernama si rongguik, yang di tengah bernama si rontak, dan di belakang bernama si mambang dahan (Susi Yanti dan Omu [dukun jalur], wawancara, 7- 167
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi 8 Oktober 2015). Jika jalur tersebut akan bertanding, maka sebelum pertandingan berlangsung harus dipastikan bahwa ketiga mambang tersebut berada di dalam jalur. Jika salah satu di antara mereka tidak terdapat di dalam jalur, maka sang dukun harus memanggilnya untuk datang dan menyatakan bahwa jalur kita akan segera berlomba. Untuk memanggilnya kembali digunakan kakok tuo yang dahulu diambil saat penebangan kayu. Oleh karena itu, seorang dukun selalu menyimpan kakok tua tersebut yang akan digunakan pada saat diperlukan. Sedangkan dukun lain (Anisman dan Thamrin [dukun jalur], wawancara, 4-5 Oktober 2015) menyatakan bahwa pada satu jalur hanya terdapat satu mambang. Mambang tersebut juga tidak terdapat dalam jalur melainkan berada di gelanggang penonton bersama masyarakat atau kembali ke tempatnya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pertandingan sudah diurus sebelumnya oleh mambang, dan ia tidak terlibat langsung di saat pertandingan. 4.11 Pacu Jalur: Perpaduan Magis dan Olahraga Tradisi pacu jalur memperlihatkan bagaimana masyarakat memasukkan unsur-unsur kepercayaan dalam aktivitas olahraga. Meskipun aktivitas ini secara zahiriah memperlihatkan pertandingan yang mengadu 168
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi kekuatan otot dan strategi. Namun, di balik itu semua ada kekuatan magis yang ikut terlibat dalam perlombaan ini. Masyarakat Kuantan Singingi mempercayai bahwa untuk memenangkan perlombaan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan tenaga saja, melainkan juga harus melibatkan unsur magis. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa dukun jalur merupakan salah satu unsur terpenting dalam tradisi pacu jalur. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika setiap jalur memiliki dukun yang dipandang menguasai dunia magis. Peran dukun cukup besar, karena ia terlibat mulai dari mencari kayu sampai kepada berlangsungnya pertandingan. Meskipun demikian, bukan berarti unsur tenaga manusia dan strategi tidak penting. Oleh karena itu, anak pacu harus senantiasa berlatih lebih keras agar terwujudnya kekompakan. Demikian juga dengan makanan atau puding harus diberikan agar anak pacu tidak loyo atau lemah sewaktu bertanding. Anak pacu melakukan latihan secara rutin, dan akan ditingkatkan latihannya pada dua atau tiga bulan menjelang pertandingan berlangsung. Mereka juga diminta untuk marathon dan mengangkat beban berupa barbel. Latihan-latihan ini amat membantu membentuk stamina anak pacu dan juga mewujudkan kekompakan dalam berdayung. 169
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Untuk mendapatkan anak-anak pacu yang memiliki tenaga, maka pengurus merekrut pemudapemuda yang terdapat di masyarakat. Pada saat sekarang ini usia anak pacu relatif masih muda, yakni berkisar 17 hingga 25 tahun. Mereka adalah anak-anak yang masih mengenyam bangku pendidikan, baik pada tingkat menengah atas maupun pendidikan tinggi. Hal ini amat diperlukan karena dalam mendayung diperlukan fisik atau tenaga yang kuat. Menurut informan (Nopris Andika Putra, wawancara, 3 Oktober 2015) minat anak-anak muda untuk menjadi anak pacu cukup tinggi. Hal ini ditandai dari ramainya anak muda yang mendaftar untuk ikut seleksi. Lebih lanjut dijelaskan, anak muda yang ikut mendaftar tersebut bisa mencapai 80 hingga 100 orang. Sedangkan yang diterima hanyalah 50 orang. Untuk mendapatkan anak pacu yang berkualitas, pengurus melakukan seleksi terhadap anak-anak muda yang ingin menjadi anak pacu. Melalui seleksi inilah ditetapkan anak-anak pacu yang akan ikut bertanding. Setelah didapatkan anak pacu yang lulus seleksi, maka dilakukan latihan secara rutin, baik berkaitan dengan fisik maupun teknik mendayung. Latihan fisik meliputi marathon, senam, dan mengangkat beban. Sedangkan latihan teknik 170
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi mendayung dilakukan 2 hingga 3 kali dalam seminggu selama 2 jam (mulai jam 16.00 sampai 18.00 sore). Setiap anak pacu harus menguasai teknik mendayung sesuai dengan posisi yang sudah ditentukan. Misal, teknik mendayung tukang concang berbeda dengan tukang bongkar. Latihan-latihan seperti ini perlu dilakukan secara rutin, di samping bertujuan untuk menguasai teknik, juga berkaitan dengan peningkatan stamina. Di samping itu, hal yang terpenting adalah memahami secara baik tugas masing-masing anak pacu sehingga kekompokan terwujud secara sempurna. Untuk meningkatkan stamina dan tenaga anak pacu diasup dengan makanan yang berkualitas dan juga puding secara rutin. Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa pacu jalur merupakan perpaduan unsur olahraga dan magis. Sehingga dapat dikatakan bahwa pacu jalur bukanlah kegiatan yang murni olahraga, meskipun hal tersebut tidak dapat di kesampingkan. Kepercayaan masyarakat terhadap hal magis yang terdapat dalam pacu jalur sama sekali belum berubah. Kekuatan dukun dan tuah kayu tetap menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan untuk memenangkan perlombaan pacu jalur. Maka tidak heran jika masyarakat kampung mengganti jalur mereka karena alasan yang bersifat mistis. 171
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi 4.12 Faktor-faktor yang Menyebabkan Bertahannya Unsur-unsur Magis dalam Tradisi Pacu Jalur Di era yang canggih dan modern seperti sekarang ini ternyata hal hal yang berhubungan dengan magis masih tetap eksis di tengah-tengah masyarakat. Seharusnya sejalan dengan kemajuan zaman, hal-hal seperti itu sudah ditinggalkan. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, tradisi pacu jalur tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang berbau magis. Magis merupakan unsur terpenting yang dapat ditemukan dalam hampir setiap rangkaian atau proses menyediakan jalur hingga pertandingan berlangsung. Adapun faktorfaktor yang menyebabkan masih bertahannya unsurunsur magis dalam tradisi pacu jalur adalah sebagai berikut. a. Kepercayaan Dinamisme dan Animisme Dinamisme (dalam kaitan agama dan kepercayaan) adalah pemujaan terhadap roh (sesuatu yang tidak tampak mata). Mereka percaya bahwa roh nenek moyang yang telah meninggal akan menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar, sungai, gunung, dan sebagainya. Arwah nenek moyang itu sering dimintai tolong untuk urusan mereka. Ada juga yang menyebutkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai 172
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi terhadap kekuatan yang abstrak yang berdiam pada suatu benda. Sedangkan kepercayaan animisme (dari bahasa Latin anima atau “roh”) adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif (Zakiah Daradjat, 1996: 24). Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar) mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa-jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka. Manusia purba percaya bahwa roh nenek moyang masih berpengaruh terhadap kehidupan di dunia. Mereka juga mempercayai adanya roh di luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami semua benda, misalnya pohon, batu, gunung, dsb. Agar mereka tidak diganggu roh jahat, mereka memberikan sesaji kepada roh-roh tersebut. Sedangkan dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. Mereka percaya terhadap kekuatan gaib dan 173
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dan lain-lain. Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara pemberian sesaji, atau ritual lainnya (Mudjahid Abdul Manaf, 1994: 34). Sangat jelas sekali bahwa kepercayaan animisme dan dinamisme yang dipercayai masyarakat Rantau Kuantan terutama para dukun yang menyebabkan adanya unsur-unsur magis dalam tradisi pacu jalur. Hal ini dapat dilihat dari proses pacu jalur tersebut sangat banyak sekali ritual yang dilakukan sang dukun. Dukun juga percaya bahwa pohon besar tersebut mempunyai penunggu, ini jelas pemahaman animisme bahwa setiap benda-benda tertentu ada roh di dalamnya yang di dalam tradisi pacu jalur roh tersebut dinamakan mambang. Lalu mambang tersebut disajikan dengan sesajian seperti menyembelih ayam, melemparkan telur, dan lain sebagainya sebagai ganti timbal balik kepada pohon tersebut. Kepercayaan dinamisme juga menjalar dalam tradisi pacu jalur, seperti kayu jalur itu jika dilihat sekilas mata adalah kayu biasa, namun sang dukun percaya bahwa kayu tersebut mempunyai kekuatan 174
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Untuk memberikan kekuatan pada jalur tersebut ditambahlah nama jalur dengan sebutan “Sakti”. Maka muncullah jalur-jalur dengan nama embelembel sakti. Faktor dukun jalur ini sangat dominan, karena sebagian masyarakat meyakini bahwa kekuatan dan keserasian dari para anak pacu dalam mengayuh tidak menjamin menentukan hasil lomba. Peran pawang juga tidak dapat diabaikan dalam memenangkan pacu jalur. Oleh karena itu, pacu jalur merupakan kombinasi antara peran anak pacu dalam keserasian mendayung jalur dan juga peran dukun jalur. Sisi unik inilah yang menjadi daya tarik lain bagi masyarakat menyaksikan langsung kegiatan pacu jalur tersebut, meskipun penggunaan dukun jalur tidak sesuai dengan syariat Islam karena hal tersebut masih erat kaitannya dengan keyakinan ataupun paham animisme dan dinamisme yang masih cukup kental dalam tradisi masyarakat Indonesia. b. Sudah Menjadi Tradisi Tradisi (Bahasa Latin: traditio, “diteruskan”) atau kebiasaan. Dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk 175
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi, baik tertulis maupun (seringkali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah (Koentjaraningrat, 1985: 2). Istilah “tradisi” secara umum dipahami sebagai pengetahuan, doktrin, kebiasaan, praktik, dan lain-lain yang diwariskan secara turun temurun termasuk cara penyampaian pengetahuan, doktrin, dan praktik tersebut (Muhaimin AG. 2001: 11). Judistira K. Garna (1996: 186) menjelaskan tradisi merupakan kebiasaan sosial yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui proses sosialisasi. Tradisi menentukan nilai-nilai dan moral masyarakat, karena tradisi merupakan aturan-aturan tentang apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah oleh suatu masyarakat. Konsep tradisi menyangkut masalah pandangan dunia (world view), sistem kepercayaan, nilai-nilai dan cara serta pola berpikir masyarakat. Sebagai sesuatu yang diturunkan dari masa lampau, tradisi tidak hanya berkaitan dengan landasan legitimasi, tetapi juga dengan sistem otoritas 176
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi atau kewenangan. Sebagai suatu konsep sejarah, tradisi dapat dipahami sebagai suatu paradigma kultural untuk melihat dan memberi makna terhadap kenyataan. Karena proses pembentukan tradisi sesungguhnya merupakan suatu proses seleksi, maka tradisi dapat pula dilihat sebagai seperangkat nilai dan sistem pengetahuan yang menentukan sifat dan corak komunitas kognitif. Tradisilah yang memberikan kesadaran identitas serta rasa keterkaitan dengan sesuatu yang dianggap lebih awal (Taufik Abdullah, 1988: 61). Dengan demikian, tradisi merupakan gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun-temurun dari nenek moyang. Tradisi dipengaruhi oleh kecenderungan untuk berbuat sesuatu dan mengulang sesuatu sehingga menjadi kebiasaan. Mengacu kepada pengertian tradisi di atas dapat dikatakan bahwa kepercayaan masyarakat kepada adanya unsur magis dalam tradisi pacu jalur terutama kepercayaan dukun adalah disebabkan oleh tradisi leluhur yang turun temurun sampai sekarang. Tradisi ini diteruskan dari generasi ke generasi melalui lisan, yaitu antara dukun satu dengan dukun yang lain atau antara masyarakat. Informasi melalui 177
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi lisan inilah yang menyebar dari individu ke individu yang lain sehingga informasi itu sudah menjadi tradisi yang sulit ditinggalkan. Unsur Magis itu ada dan sudah menjadi tradisi dari generasi ke generasi tidak hanya di Kuansing tapi juga di Indonesia pada umumnya. Semua rangkaian upacara dan mantramantra dalam tradisi pacu jalur itu seakan-akan sudah mendarah daging dan tidak bisa lepas dari tradisi pacu jalur. Contoh sederhananya, bila sebuah jalur tidak mempunyai dukun, maka anak pacu biasanya tidak akan mau mendayung jalurnya dan tidak akan ikut dalam perlombaan. Hal ini disebabkan keberadaan dukun dalam sebuah jalur sudah menjadi tradisi dari dulu dan jika tersebut tidak ada, maka ada yang kurang lengkap dalam proses pacu jalur. Dengan alasan lain jalur bisa saja “melawan” anak pacuan yang mengakibatkan musibah bagi anak pacuan (Susi Yanti [Dukun Jalur], wawancara, 8 Oktober 2015). 4.13 Pacu Jalur dan Keberagamaan Masyarakat Kuantan Singingi Masyarakat Melayu Kuantan Singingi semuanya menganut agama Islam, terlepas dari apakah sebagai penganut yang taat atau tidak. Sebagai etnik Melayu, di 178
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi kawasan ini juga terdapat pemahaman bahwa Melayu identik dengan Islam. Mereka bangga sebagai penganut Islam, meskipun sebenarnya mereka tidak mengenal dan menjalankan ajaran Islam secara baik. Pemahaman bahwa Melayu identik dengan Islam hanya berada pada tataran tata nilai dan belum sampai kepada pengalaman atau praktiknya dalam kehidupan masyarakat. Hal ini barangkali erat kaitannya dengan corak Islam yang masuk di kawasan Asia Tenggara umumnya dan Taluk Kuantan khususnya, yaitu ajaran Islam yang mentolerir kepercayaan lama yang ada dalam masyarakat (Azyumardi Azra, 1999: 35; Muchtar Luthfi, 1977: 170- 171). Hal ini tidak dapat disalahkan, karena strategi melakukan pengislaman secara bertahap dan mengakomodasi kepercayaan lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam secara langsung merupakan langkah yang bijak, agar masyarakat setempat tidak terkejut. Namun, langkah ini sedianya dilanjutkan secara lebih intensif agar dari waktu ke waktu ada perbaikan pemahaman keagamaan masyarakat. Hal inilah yang dimaksud oleh Azyumardi Azra dengan intensifikasi Islamisasi (Azyumardi Azra, 1999). Salah satu unsur yang paling sulit dilakukan perubahan secara cepat adalah kepercayaan yang terdapat dalam masyarakat, karena termasuk bagian dari inti 179
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi kebudayaan atau disebut juga bagian dari sistem ide atau nilai atau covert culture atau culture system (Sugeng Pujileksono, 2006: 34). Salah satu langkah islamisasi sastra (khususnya mantra) dalam budaya Melayu adalah dengan cara memasukkan kata-kata yang berasal dari ajaran Islam, seperti bismillahirrahmanirrahim, assalamu’alaikum, berkat la ilahaillallah muhammadar rasulullah, dan beberapa kata lainnya. Namun, jika ditinjau dari segi isinya, maka terlihat dengan jelas bahwa kandungan masih kental dengan nuansa-nuansa animisme dan Hinduisme. Hal ini dapat dipahami bahwa sebelum Islam datang kedua unsur tersebut sudah ada dan tertanam secara baik dalam kehidupan masyarakat. Memasukkan unsur-unsur Islam merupakan upaya untuk mengalihkan tempat meminta, dari makhluk-makhluk halus kepada Allah. Dari sisi ini masyarakat pengamal praktik ini, seperti melakukan berbagai praktik magis dalam tradisi pacu jalur memandang bahwa pekerjaan mereka tidak bersalahan dengan Islam. Pemahaman ini tentu saja merupakan dampak dari kurangnya pemahaman mereka terhadap aqidah Islam. Mereka juga tidak memahami bahwa strategi tersebut dilakukan hanyalah untuk sementara sambil menuju kepada pemahaman yang sempurna. Dengan kata lain, hal ini hanya merupakan langkah awal 180
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi dan bukan hal yang telah dianggap selesai. Dengan demikian, pemanggilan berbagai macam roh halus atau mambang dalam berbagai rentetan ritual pacu jalur merupakan hal yang bersalahan dengan aqidah Islam, karena masih meyakini adanya kekuatan lain selain Allah, dan juga meminta bantuan kepada selain Allah. 181
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Daftar Kepustakaan A. Djadja Saefullah. (1993). Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dalam Penelitian Lapangan: Khusus dalam Studi Kependudukan. Media Bandung: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNPAD. A. Samad Ahmad (Penyelenggara). (1986). Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Abdul Gafur. (2007). “Al-Quran dan Budaya Magi (Studi Antropologis Komunitas Keraton Yogjakarta dalam Memaknai al-Quran dengan Budaya Magi).” Tesis. Yogjakarta: Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Adeng Muchtar Ghazali. (2000). Ilmu Perbandingan Agama, Pengenalan Awal Metodologi Studi Agama-agama. Bandung: Pustaka Setia. ———. (2011). Antropologi Agama: Upaya Memahami Keragaman, Kepercayaan, Keyakinan, dan Agama. Bandung: Alfabeta. Amat Juhari Moain. (1990). Kepercayaan Orang Melayu Berhubung dengan Pertanian. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. 182
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Amran Kasimin. (2009). Sihir Suatu Amalan Kebatinan. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia. Arifuddin Ismail. (2012). Agama Nelayan: Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bogdan, R. & S.J. Tylor. (1993). Kualitatif Dasar-dasar Penelitian (terjemahan). Surabaya: Usaha Nasional. BPS Kabupaten Kuantan Singingi. (2014). Profil Kuantan Singingi dalam Angka 2014. Kuantan Singingi: Kerjasama Bappeda dan BPS Kabupaten Kuantan Singingi. Bryman, Alan. (2002). “Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Pemikiran Lebih Lanjut Tentang Penggabungannya”, dalam Julia Brannen (ed.). Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bustanuddin Agus. (2006). Agama dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Deliar Noer. (1991). Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900 – 1942. Cet. Ke-6. Jakarta: LP3ES. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2009). Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia. Bandung: Mizan. 183
Olahraga dan Magis: Kajian Terhadap Tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi Dhavamony, Marisusai. (1995). Fenomenologi Agama (terjemahan). Yogyakarta: Kanisius. Eliade, Mircea. (1987). The Sacred and The Profan. New York: Harcout, Brace & Worlad, Inc. Frazer, Sir James George. (1980). The Golden Bough: A Study in Magic and Religion. London: The Macmillan Press Ltd. Geertz, Clifford. (1989). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Penterjemah Aswab Mahasin). Jakarta: Pustaka Jaya. Hamid Patilima. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Hasbullah. (2014). Togak Balian: Ritual Pengobatan Tradisional Masyarakat Kenegerian Koto Rajo Kuantan Singingi. Pekanbaru: ASA Riau. Haviland, William A. (2000). Antopologi. Jilid 2 (terjemahan). Jakarta; Erlangga. Honig, A.G. (1993). Ilmu Agama. Jakarta: BPK. Gunung Mulai. Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar. (1996). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara. Irawan Soehartono. (1995). Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja Rosdakarya. 184