BAB 5
AKSARA JAWA
PERTEMUAN 11
Dalam aksara Jawa atau Hanacaraka ada beberapa tata tulis, unsur-unsur dan
berbagai aturan lainnya. Aksara Carakan adalah aksara paling dasar. Dilihat dari
namanya saja carakan, berarti aksara ini dipakai untuk menuliskan kata-kata. Tiap dari
aksara carakan ini mempunyai bentuk pasangannya. Adapun aksara pasangan dipakai
untuk mematikan (menghilangkan vokal) aksara sebelumnya.
A. AKSARA CARAKAN / AKSARA LEPAS
Aksara carakan merupakan aksara paling dasar di aksara hanacaraka. Nama carakan yang
berarti kata yang digunakan untuk menulis kata-kata.
anc r k
Ha Na Ca Ra Ka
f t s wl
Da Ta Sa Wa La
pdj yv
Pa Dha Ja Ya Nya
mg b q z
Ma Ga Ba Tha Nga
B. PASANGAN AKSARA JAWA
Setiap huruf carakan mempunyai pasangan yang digunakan untuk menghilangkan huruf
vocal (mematikan) huruf atau aksara sebelumnya.
Contoh : “mangan sega” (makan nasi)’. Supaya tidak dibaca
‘manganasega’ maka kita harus menghilangkan huruf na. Caranya
adalah memberikan pasangan pada huruf “se”, dengan begitu akan
dibaca ‘mangan sega’. m znSeg
aH nN cC rR kK
Ha Na Ca Ra Ka
fF tT sS wW lL
Da Ta Sa Wa La
pP dD jJ yY vV
Pa Dha Ja Ya Nya
mM gG bB qQ zZ
Ma Ga Ba Tha Nga
C. SANDANGAN AKSARA JAWA
SANDANGAN SWARA VOKAL
JENENGE PENGGANTI WUJUD
SWARA/VOKAL +i
u
Wulu i e
[
Suku u [….o
Pepet e’
WUJUD
Taling e
h
Taling Tarung o =
-
SANDANGAN SWARA KONSONAN ]
}
JENENGE PENGGANTI \
SWARA/VOKAL
Wignyan h
Cecek ng
Pengkal ya
Cakra ra
Cakra keret re
Pangkon Digunakan untuk
menghilangkan
huruf vocal diakhir
kata atau kalimat.
D. AKSARA REKAN
Aksara rekan digunakan untuk menulis huruf serapan Bahasa asing seperti Bahasa
arab.
Perlu untuk di ketahui ada sejumlah aturan yang harus Kita perhatikan. Jika hendak
menuliskan sebuah kalimat dengan menggunkan aksara ini, diantaranya adalah
sebagai berikut :
▪ Penulisan aksara rekan dapat disandingkan dengan sandhangan swara,
sandhangan wyanjana dan panyigeg.
▪ Tidak semua aksara Jawa hanacaraka memiliki versi rekan.
▪ Aksara Jawa rekan ada lima, yaitu dza, kha, za, fa/va dan gha.
▪ Jika pada aksara murda mendapat tambahan sandhangan pepet, maka simbol tiga
koma diatas aksara masuk dalam pepet.
▪ Jika mendapat sandhangan layar, wulu dan cecak, maka sandhangan berada
disamping kanan dan titik tiga ada di sebelah kiri atas.
▪ Tidak semua aksara rekan memiliki pasangan.
▪ Sejatinya, aksara rekan dalam praktiknya dapat diberikan pasangan
Jika lebih diperhatikan lagi, sangatlah jelas bahwa sebenarnya aksara tersebut
hanyalah aksara hanacaraka biasa yang kemudian diberi tiga koma “cecak” di
atasnya. Jika mengetahui faktanya, maka tidaklah sulit untuk menghafal lima
aksarayang satu ini.
Contoh Penulisan
Aku nerima zakat fitrah
Penjelasannya :
o Kalimat yang ada di atas ada dua aksara yaitu Za dan
o Aksara Za dengan memberi cecak telu di atas aksara Ja.
o Aksara Fa dengan memberi cecak telu di atas aksara Pa.
o Aksara Fa juga bisa untuk menulis bunyi
E. AKSARA MURDA
Aksara murda di gunakan seperti dalam penulisan Bahasa Indonesia, hanya digunakan untuk
menulis kata yang menggunakan huruf kapital, misalnya menulis di awal paragraf atau kata,
nama orang, tempat dll.
Fungsi Aksara Murda
Seperti yang dijelaskan di awal, kegunaan aksara murda untuk menulis nama-nama khusus.
Contoh untuk menulis :
▪ Nama seseorang
▪ Jabatan
▪ Gelar
▪ Tempat
▪ Lembaga
▪ Organisasi
▪ Geografi (nama kota, desa, sungai, gunung, dst)
Oleh karena itu, aksara murda tidak bisa digunakan sembarangan. Murda tegese aksara
sirah utawa aksara sesirah, ing basa Indonesia diarani huruf kapital. Aksara Murda
gunane kanggo pakurmatan, tegese kanggo ngurmati. Aksara Murda ora kena dadi
sesigeging wanda, dadi ora kena dipangku lan ora kena dipasangi. Dengan demikian;
1. Aksara Murda cukup ditulis saaksara saben satembung, kapilih kang manggon
ing ngarep, yen ora ana ya aksara burine, lan sateruse
2. Aksara Murda bisa diwenehi sandhangan
3. Aksara Murda dijangkepi pasangan saengga bisa dadi pasangan.
Bentuk Aksara Murda
Contoh penulisan
Indonesia
F. AKSARA WILANGAN
Seperti penulisan pada lambang bilangan Bahasa Indonesia
G. TANDA BACA AKSARA JAWA
Digunakan seperti pada umumnya tulisan latin.
H. SEJARAH HANACARA
AJI SAKA
Pada awal cerita ada seseorang kasatria yang gagah beranu dan sakti mandra. Beliau
memiliki dua abdi dalem yang sangat setia kepadanya. Mereka berdua bernama Dora dan
Sembada.
Suatu ketika sang Aji saka sedang melakukan perjalanan menuju sebuah kerajaan yang
bernama Medang Kamulan yang saat itu diperintah seorang raja yang suka memakan
daging manusia.
Raja tersebut bernama Raja Dewata Cengkar, hampir setiap hari raja ini memakan daging
manusia. Karena sudah menjadi kebiasaannya, rakyatnya pun mulai takut dan resah.
karena keadaanya yang semakin parah, Raja Aji Saka sangan ingin melawan raja tersebut
Bersama kedua puggawanya itu.
Singkatnya, sampailah Aji Saka di sebuah hutan yang sudah menjadi salah satu wilayah
kerajaan Medang Kamulan. Sebelum Aji Saka memasuki kerajaaan itu beliau menyuruh
salah satu punggawanya untuk tetep tinggal untuk menjaga kris saktinya, ia bernama
Sembada. Karena sangat taatnya kepada Aji Saka, abdinya yang bernama Sembada
tersebut dia memegang teguh perintahnya. Sedangkan Dora salah satu abdi yang lain di
ajak untuk mengikuti sang Raja Aji saka untuk menghadapi Raja Dewata Cengkar.
Setelah bertemu langsung dengan Prabu Dewata Cengkar, Aji saka membuat sebuah
kesepakatan. Yang di dalam kesepakatan itu tertera bahwa Aji Saja mau dimakan
dagingnya akan tetapi dengan syarat Prabu Dewata Cengkar harus menyerahkan
wilayahnya sebesar sorban yang dibawa oleh Aji Saka.
sang Prabu pun menerima kesepakatan itu, kemudian aji saka mengeluarkan sebuah sorban
dan menyuruh Praby Dewata Cengkar meulai mengukur sebatas mana wilayah yang akan
di serahkan kepada Aji Saka.
Mulail dari situ para raja itupun mulai mengukur luas wilayah dengan salah satu
memegang ujung sorban. Prabu Dewata Cengkar mulai berjalan mundur untuk melebarkan
sorban tersebut. Sekian lama hingga melewati sebuah gunung sampailah disebuah jurang
tepian laut, karena kecerdikan dan kesaktian dari Aji Saka yang hebat, akhirnya dia
menggoyoangkan sorbannya yang mengakibatkan Prabu Dewata Cengkar dan jatuh ke
dalam laut.
Para rakyat yang mendengar kabar kematian sang raja bengis itu bersorak dan bersukacita
dan bahkan mengangkat Aji Saka menjadi seorang raja.
Setelah sekian lama dia ingat keris saktinya yang masih dititipkan di pinggiran hutan oleh
Sembada punggawannya. Akhirnya aji Saka memberi perintah kepada Dora untuk
mengambil keris sakti dan menjak kembali Sembada.
Akhirnya berangkatlah Dora menuju pinggiran hutan menemui sahabat tersebut. Setelah
sampai awalnya mereka saling berbincang membahas keadaan diri masing-masing.
Dan setelah sekian lama perbincangan tersebut berubah mengarah permintaan Dora yang
diutus oleh sang raja untuk mengambil keris saktinya. Karena ketaatannya kepada Aji Saka
yang sudah memberi titah agar menjaga keris sakti itu agar tidak boleh di ambil siapapun
kecuali dirinya sendiri.
Akhirnya Sembada pun menolak permintaan Dora karena ingin mengambil keris tersebut.
Karena Dora juga sangat menjunjung tinggi perintah sang raja terjadilah perdebatan besar
hingga mereka sama-sama tidak mau saling mengalah satu sama lain karena memegang
teguh perintah atau Amanah dari sang Raja Aji saka.
Dan sampai akhirnya mereka bertengkar hingga melakukan baku hantam dan bertempur
mati-matian. Karena kesaktian dan kekuatn mereka sama-sama seimbang, hingga suatu
ketika mereka yang bertarung lama tewas Bersama-sama.
Karena di rasa sang utusan tidak kunjung kembali, Aji saka pun mendengar sedikit cerita
bahwa dua orang yang sakti bertempur hingga mati-matian di pinggir hutan.
Perasaan tidak tenang datang kepada Aji Saka hingga akhirnya dia pergi memastikannya.
Di situ Aji saka pun menangis dan menyesal karena kecerobohannya tersebut.
Karena kecerobohannya tersebut serta untuk mengenang kedua abdi dalemnya, maka Aji
Saka membuat barisan huruf atau sebuah aksara yang dimana aksara tersebut menceritakan
kejadian bertarungnya dua satria yang gagah berani karena mempertaruhkan Amanah dari
rajanya.
Aksara tersebut berbunyi ;
Ha Na Ca Ra Ka : ada dua orang utusan (carakan)
Da Ta Sa Wa La : saling bertempur mempertahankan Amanah
Pa Dha Ja Ya Nya : karena sama tingkat kesaktiannya
Ma Ga Ba Tha Nga : maka keduanya mati, menjadi bathang (bangkai)