The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by chanifahrengga.2020, 2024-06-17 22:12:52

Pengantin Sira Ayu Banyumas

Pengantin Sira Ayu Banyumas

Memiliki motif bunga mawar degan warna merah dan hijau yang melambangkan zaman dahulu bunga mawar sangat mudah dijumpai sebagai tanaman hias masyarakat dan banyak menghiasi kebun kebun masyarakat. Gambar 36. Kebaya mekka (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 41 Kemben pada kebaya mekka memiliki motif jahe dengan cara penggunaan terlihat dua jari dari bagian dada busana kebaya mekka berbentuk kutu baru. Kemben yang digunakan terlihat 2 jari dari kebaya mekka bertujuan agar pengantin tetap menjaga aurat. b. Kemben Gambar 37. Kemben jahe (Chanifah Rengga Saputri, 2024) c. Jarik Jarik yang digunakan merupakan jarik bermotif sido mukti dengan warna coklat tanah dengan simbol sebagai warna dasar tanah yang menunukan agraris daerah Banyumas. Kain batik yang akan digunakan harus diwiru berjumlah Motif jahe dipilih karena memiliki keterikatan dengan geologi yaitu banyak ditemukan di daerah Banyumas. Gambar 38. Jarik wanita (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 9, 11, maupun 13 dengan lebar wiru 2 jari.


Sendal yang digunakan untuk pengantin Sira Ayu Banyumas berbeda dengan lainnya, yaitu penggunaan sendal selop yang terbuka dibagian ujungnya yang memperlihatkan ujung jari dari pengantin dan memiliki warna hitam. d. Sendal selop Gambar 39. Selop wanita (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 42 Kamisol merupakan pakaian dalam wanita tanpa lengan yang digunakan untuk memberi bentuk pada busana yang akan digunakan, biasanya terbentuk dari kain katun, nilon atau satin. e. Kamisol Gambar 40. Kamisol (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Kain panjnag yang digunakan dengan cara dililitkan pada perut untuk memperkuat lilitan jarik yang digunakan, stagen memiliki ukuran kurang lebih panjang 1,5 meter dan lebar 15 cm. f. Stagen Gambar 41. Stagen wanita (Chanifah Rengga Saputri, 2024)


Pengantin pria menggunakan beskap biasa yang memiliki bentuk kucing anjlok, filosofi beskap tersebut yaitu sebuah harapan untuk pengantin pria agar selalu siaga dalam menghadapi situasi apapun. Kain yang digunakan kain biasa berwarna hitam polos dan bukan berasal dari kain bludru dengan penambahann kalung ulus polos sederhana. 2 Busana pengantin pria Gambar 42. Beskap (Chanifah Rengga Saputri, 2024) a Beskap 43 Penutup kepala pada pengantin pria yang sederhana dan elegan, biasanya digunakan dalam tradisi Jawa. Blangkon yang digunakan pengantin pria yaitu wulung hitam yang dibagian depan berbentuk seperti blankon Jogja dan bagian belakang berbentuk blankon Solo. b. Blangkon Gambar 43. Blangkon (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Jarik yang digunakan pada pengantin pria merupakan jarik bermotif sido mukti dengan warna coklat tanah dengan simbol sebagai warna dasar tanah yang menunjukan agraris daerah Banyumas. Kain batik yang aka digunakan harus diwiru berjumlah ganjil, dengan wiru leres berwarna c. Jarik Gambar 44. Jarik pria (Chanifah Rengga Saputri, 2024) putih terlihat


Sendal yang digunakan untuk pengantin pria memiliki ciri yaitu penggunaan sendal bandol terbuat dari ban bodol (ban bekas), penggunaan sandal ini dikarena Banyumas merupakan sentral sandal bandol yang sudah ada sejak puluhan tahun dengan benntuk sandal yang unik dan berwarna hitam. d. Sendal bandol Gambar 45. Sandal bandol (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 44 Timang merupakan kelengkapan busana pria yang terbuat dari kuningan atau perak digunakan sebagai gesper atau pengait kamus. Kamus sendiri merupakan sabuk bordir dengan payet bermotif mawar berwarna merah dan hijau. Selain itu digunakan lontong polos berwarna merah. e. Timang, kamus, dan sabuk lontong Gambar 46. Timang, kamus, dan lontong (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 47. Stagen pria (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Stagen merupakan kain panjnag yang digunakan dengan cara dililitkan pada perut untuk memperkuat lilitan jarik yang digunakan, stagen memiliki ukuran kurang lebih panjang 1,5 meter dan lebar 15 cm. f. Stagen


Busana merupakan barang yang melekat pada manusia dan dipakai pada tubuh untuk keperluan hidupnya seperti baju, celana, ikat pinggang, penutup kepala, dll. Busana tradisional merupakan kelengkapan yang dipakai seseorang sebagai identitas diri dari suaru daerah. Pada busana pengantin tradisional memiliki makna, simbol, lambang, dan nasehat yang terdapat pada busana yang dikenakan sesuai dengan adat daerah setempat. Busana yang digunakan pada pengantin Sira Ayu Banyumas bernama kebaya mekka, merupakan kebaya asli banyumas yang menjadi ciri pengantin ini. Pada pengantin pria menggunakan beskap biasa yang memiliki bentuk kaucing anjlok. Resume 45


D. Aksesoris dan Bunga Ronce melati merupakan rangkaian bunga melati yang biasa digunakan sebagai hiasan atau aksesoris pada pengantin dibagian rambut. Ronce melati digunakan pada pengantin wanita dan pria ketika melakukan prosesi adat dan digunakan pada kalung, kepala, atau keris. Ronce melati melambangkan kesucian dan harapan bagi mempelai pengantin untuk pernikahan yang agung dan penuh ketulusan, sedangkan untuk aroma melati sendiri sebagai lambang doa agar rumah tangga kedepannya selalu harum seperti bunga melati. Pengantin Sira Ayu Banyumas menggunakan roncean melati yang disusun dengan indah, beberapa roncean yang digunakan yaitu bunga mawar pada bagian belakang sanggul 2 buah, bunga mawar pada bagian tengah sanggul didepan cunduk mentul 7 buah yang terdiri dari mawar merah dan putih. Pada pengaplikasian bunga putih berada ditengah sebagai simbol kesucian pengantin. Selain itu terdapat juga bunga kantil untuk bagian belakang sanggul 9 uah, bunga tibo dodo dibagian kanan berupa lengkehan atau pijur yang berumlah 7 helai rangkaian, dan 1 buah pengasih dibagian kiri yang terbuat dari bunga kenanga. 46


Gambar 48. Roncean Bunga (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Tibo dodo Pengasih 7 buah mawar merah 7 buah mawar putih Kantil Rangaian kenanga 47


Selain roncean bunga yang digunakan terdapat juga aksesoris yang digunakan kedua pengantin. Aksesoris merupakan benda yang digunakan pria maupun wanita untuk menunjang penampilan yang lebiih cantik dan menawan sehingga menambah kepercayaan diri. Aksesoris yang digunakan pengantin tradisional biasanya disesuaikan dengan adat baik dari bentuk aksesoris dan jenis aksesoris yang digunakan. Pada tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas menggunakan berbagai macam aksesoris seperti cunduk mentul 7 buah berbentuk bunga yang dipasang dibelakang bunga mawar merah dan putih dan satu sisir sirkam yang diletakan ditengah sunggar. Selain aksesoris yang digunakan pada sanggul aksesoris lainnya juga digunakan seperti kalung satu buah, gelang dua buah, cincin dua buah, sebang (anting) sepasang. Aksesoris yang digunakan pada pengantin pria yaitu kalung, rantai, dan bros. 48


Gambar 49. Aksesoris (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 7 buah cunduk mentul Sisir sirkam kalung Anting Sepasang elang Cincin Kalung Rantai Bros 49


Ronce melati merupakan rangkaian bunga melati yang biasa digunakan sebagai hiasan atau aksesoris pada pengantin dibagian rambut, kalung, kepala, atau keris. Pengantin Sira Ayu Banyumas menggunakan roncean melati yang disusun dengan indah, beberapa roncean yang digunakan yaitu bunga mawar dan bunga melati. Aksesoris yang digunakan pengantin tradisional biasanya disesuaikan dengan adat baik dari bentuk aksesoris dan jenis aksesoris yang digunakan. Pada tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas menggunakan berbagai macam aksesoris seperti cunduk mentul 7 buah berbentuk bunga dan centung 2 buah dll. Resume 50


BAB IV PEMBUATAN TATA RIAS PENGANTIN SIRA AYU BANYUMAS Tata rias pengantin Banyumas pada seiap aspeknya memiliki makna dan filosofi yang disesuaikan dengan kekayaan daerah, letak geografis, kebudayaan, sejarah, dan kebiasaan masyarakat Banyumas. Tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas memiliki tatanan rias wajah, tata rambut, busana, aksesoris, dan ronce melati yang khas dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Pada setiap tata rias pengantin memiliki proses pembuatan yang berbeda antar satu daerah dengan daerah lain. Proses pembuatan tata rias pengantin disesuaikan dengan tata cara yang pakem sehingga mengandung pesan moral dalam pernikahan, begitu pula pada tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas yang memiliki ciri khas baik pada tata rias wajah, tata busana, tata rias rambut (sanggul), dan aksesoris yang digunakan. 51 Pada proses pembuatan tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas membutuhkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses pembuatan diantaranta adalah: A. Alat, Bahan, dan Lenan


1. Alat a. Alat make up 52 1) Beauty Blender 2) Pufh Bedak 3) Set kuas Brush b. Alat penataan rambut 1) Jepit bebek 2) Harnal 3) Jepit lidi 4) Sisir 5) Cemara 6) Hairspray


Bedak tabur Lem bulumata 53 1) Primer Alas Bedak (Foundation) 2) 3) Concealer 2. Bahan a. Bahan make up 4) Contour cream 5) 6) Bedak padat 7) Pensil alis 8) Eyeshadow Eyeliner pensil 9) 10) Bulumata 11) Blush on 12) 13) Lipstik 14) Highlighter


54 1 Karet ) 2) Harnet 3) Pidih b. Bahan penataan rambut 3. Lenan a. b. c. d. e. Tissue Untuk membersihkan wajah setelah menggunakan make up.. Kapas Untuk membersihkan wajah dengan milk cleansing untuk menghapus make up. Kantong plastik Sebagai alas tempat sampah agar sampah dapat langsung dibuang. Cutton bud Untuk menghapus coretan kosmetik pada wajah. Cape Untuk menutup tubuh dari kotoran kosmetik.


Bersihkahan wajah menggunakan Micellar water, kemudian aplikasikan primer agar make up tahan lama dan wajah menjadi lembab. Kemudian aplikasikan foundation dengan warna putih kekuningan secara merata menggunakan beauty blender. Pada proses pembuatan tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas terdapat urutan langkah kerja yang dilakukan antara lain: B. Langkah kerja 1. Tata Rias a. b. Gambar 50. Before (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 51. Pengaplikasian foundation (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 55 Selanjutnya mengaplikasian shading dalam diarea hidung, tulang pipi, dan rahang. Digunakan untuk mengkoreksi bentuk wajah agar lebih proporsional. c.


Mengaplikasikan bedak tabur untuk meng-cover wajah dan mengunci foundation agar tahan lama, menyamarkan pori-pori dan garis halus pada wajah. Setelah itu mengaplikasikan bedak padat untuk tahap akhir pada penggunaan alas bedak, bedak padat digunakan untuk mengunci dan mengcover foundation. d. e. Gambar 52. Pengaplikasian shading cream (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 53. Pengaplikasian bedak tabur (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 56 Gambar 54. Pengaplikasian bedak padat (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024)


Kemudian mengaplikasian eyeshadow yang pertama membaurkan warna hijau, kemudiam warna coklat di baurkan dengan warna kuning krem dan yang terakhir warna kuning dibagian atas kelopak mata yang mengartikan nur atau cahaya. Mengaplikasian eyeliner pada mata, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan bulu mata dibagian atas, Setelah itu mengaplikasikan blush on diarea pipi berwarna merah samar jambu, kemudian mengaplikasikan highlighter pada bagian yang perlu ditonjolkan pada wajah. h. i. j. Gambar 77. Pengaplikasian eyeshadow (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Membuat alis yang berwarna coklat kehitaman dengan bentuk yang melengkung indah. Kemudian mengkontur bagian wajah menggunakan contour powder untuk mempertegas bentuk wajah. f. g. Gambar 55. Pengaplikasian pensil alis (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 56. Pengaplikasian shading powder (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 57 Kemudian mengaplikasian eyeshadow yang pertama membaurkan warna hijau, kemudiam warna coklat di baurkan dengan warna kuning krem dan yang terakhir warna kuning dibagian atas kelopak mata yang mengartikan nur atau cahaya. h. i. Gambar 57. Pengaplikasian eyeshadow (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024)


Mengaplikasian eyeliner pada mata, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan bulu mata dibagian atas, Setelah itu mengaplikasikan blush on diarea pipi berwarna merah samar jambu, kemudian mengaplikasikan highlighter pada bagian yang perlu ditonjolkan pada wajah. i. j. 58 Gambar 58. Pengaplikasian bulumata (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 59. Pengaplikasian blushon (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Selanjutnya membingkai bibir dan mengaplikasikan lisptik berwarna merah kinang atau warna dubang (warna seperti orang nginang). k. Gambar 60. Pengaplikasian lipstik (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024)


Pastikan rambut dalam posisi sudah dicepol rapi, kemudian menentukan titik tengah pada dahi. Ukur menggunakan jari dengan jumlah 5 jari dengan 2,5 jari ke kanan dan 2,5 jari kekiri. ambil titik dari masing-masing sisi. Menentukan panjang dengan mengukur 3 jari dari garis sejajar telinga. Satukan titik tersebut menjadi lengkungan membentuk seperti daun mangkokan. 1) 2) 3) 2. Riasan dahi (Cengkorongan) a. Daun mangkokan Gambar 61. Pembuatan daun mangkokan (1) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 62. Pembuatan daun mangkokan (2) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 59


Gambar 63. Pembuatan daun mangkokan (3) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 1) 2) b. Badan yuyu Ukur dari pangkal badan yuyu ke kiri dan kanan masing-masing 2 jari lalu beri titik. Dari titik tersebut kemudian diukur lagi ke kiri dan kanan masing masing 3 jari kemudian beri titik. Gambar 64. Pembuatan badan yuyu (1) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 65. Pembuatan badan yuyu (2) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 60


Gambar 87. Pembuatan capit yuyu (1) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 3) 4) Kemudian menentukan ujungnya dengan mengukur dari pangkal gajahan ke kiri dan kanan masing-masing 5 jari lalu beri titik. Selain itu untuk menyamakan kanan dan kiri dapat dilakukan dengan mengukur ujung menggunakan ukuran 2 jari dari garis sejajar telinga. Selanjutnya untuk menyamakan kanan dan kiri gunakan tissue yang diberi tanda. lalu dibuat garis lengkung dari titik kanan menuju titik kiri. Bentuk seperti badan kepiting yuyu dan ujungnya mengarah ke ujung hidung. Gambar 66. Pembuatan badan anak yuyu (3) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 61 1) c. Capit yuyu Cari garis diantara pangkal badan yuyu dan pangkal anak badan yuyu, kemudian ambil titik. Gambar 67. Pembuatan capit yuyu (1) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024)


2) Gunakan tissue untuk menentukan ujung capit dengan cara mengambil titik tengah. Kemudian maju dan ke atas 1/2 cm lalu buat titik. Kemudian kedua titik ini dihubungkan dengan dibuat garis menyerupai capit yuyu atau kepiting dengan ujungnya menghadap pangkal alis. Gambar 68. Pembuatan capit yuyu (2) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 62 1) 2) Athik-athik Mengambil sedikit rambut yang berada diatas telinga, kemudian ukur sejajar dengan telinga ditambah satu jari, lalu potong menggunakan gunting. Membentuk rambut menggunakan hairspray agar kaku dan mudah dibentuk. Selanjutnya rambut dibentuk melengkung kearah telinga dan rekatkan menggunakan lem bulu mata. Cengkorongan dibuat dengan rambut sehingga bentuk lebih luwes mengikuti rambut melengkung ke dalam. d. Gambar 69. Pembuatan athik-athik (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024)


3. Sunggar Membagi rambut menjadi 3 bagian. Dua bagian didepan dengan mengambil garis dari belakang telinga. Kemudian sasak sedikit demi sedikit, dan diperkuat dengan hairspray. a. Gambar 71 Pembuatan sunggar (2) (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 70. Pembuatan sunggar (1) (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 63 Selanjutnya bentuk sunggar dengan ukuran atas sunggar 2 jari keatas dan lebar sunggar 4 jari. Gambar 72. Pembuatan sunggar (3) (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Setelah selesai menyasak bentuk sunggar dan jepit umtuk memperkuat sunggar. b. c.


4. Sanggul Setelah rambut dicepol rapi, kemudian memasang cemara ukuran 80 cm dengan jepit lidi pada cepol tersebut. Selanjutnya rambut cemara dibuat menjadi sanggul geblog dengan membentuk angka 8, dibentuk dari bagian kiri cemara dinaikan keatas kanan, a. b. Gambar 74. Pembuatan sanggul (2) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Gambar 73. Pembuatan sanggul (1) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 64 Gambar 75. Pembuatan sanggul (3) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Kemudian jepit dengan harnal untuk membantu pembentukan sanggul sebelah kanan, lakukan hal yang sama dengan poin b pada pembentukan sanggul dibagian kanan cemara. c.


Agar sanggul terbentuk dan kuat gunakan harnal besar dan jepit lidi untuk menjepit. Selain itu gunakan harnet agar sanggul lebih rapi. d. Gambar 76. Pembuatan sanggul (4) (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) 65 5. Ronce melati Gambar 77. Aplikasi ronce melati (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Mengaplikasikan tibo bobo Mengaplikasikan Pengasih Mengaplikasikan mawar merah dan putih Mengaplikasikan kantil, mawar merah, dan kenanga 1. 2. 3. 4.


6. Pengaplikasian aksesoris Memasang aksesoris kepala berupa 7 cunduk mentul yang dipasang belakang bunga mawar merah dan putih serta satu sisir sirkam yang dipasang ditengah sunggar. Selain itu aksesoris pelengkap lainnya seperti gelang, anting, kalung dan, cincin. Gambar 78. Memasang aksesoris (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 66 Sisir sirkam Cunduk mentul Cincin Gelang Kalung Anting Memasang aksesoris di bagian depan blangkon dengan bros atu buah, kalung panjang, kemudian dikaitkan bros pada bagian tengah, dan penggunaan rantai dibagian dada kanan Bros Bros Rantai Kalung Gambar 79. Memasang aksesoris (2) (Chanifah Rengga Saputri, 2024)


5. Pengaplikasian busana a. Menggunakan jarik bermotif sido mukti dengan warna khas kain banyumasan, dengan wiru yang berjumlah ganjil 9, 11, maupun 13 dengan lebar wiru 2 jari. Pada jarik wiru berwarna putih terlihat. Setelah jarik terpasang dengan rapi kemudian menggunakan tali dan stagen agar jarik kencang dan mudah digunakan. Gambar 80. Aplikasi jarik (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) Busana pengantin wanita 1) 67


2) Kemudian menggunakan kamisol dan dilapisi kembali dengan kain kamisol bermotif jahe, caranya kamisol motif jahe dipasang mengelilingi badan pengantin dikeperkuat dengan peniti. Gambar 81. Aplikasi kamisol (Chanifah Rengga Saputri, 2024) 3) Selanjutnya menggunakan kebaya bludru bermotif bunga mawar merah dengan aksen daun yang dihiasi dengan payet. Jarak antara kamisol motif jahe dengan kebaya yang digunakan pada bagian dada memiliki jarak 2 68 Gambar 82. Aplikasi kebaya (Chanifah Rengga Saputri, 2024) jari, selain itu bagian bawah kamisol motif jahe juga harus terlihat. Selain itu, aksesoris yang digunakan seperti sepasang anting, sepasang cincin, kalung, dan sepasang gelang.. Menggunakan selop dengan bagian depan terbuka.


b. Menggunakan jarik bermotif sido mukti dengan warna khas kain banyumasan, dengan wiru yang berjumlah ganjil. Pada penggunaan jarik bermotif sama dengan pengantin wanita dan wiru berwarna putih terlihat. Setelah jarik terpasang dengan rapi kemudian menggunakan tali dan stagen agar jarik kencang dan mudah digunakan. Gambar 83. Aplikasi jarik (Chanifah Rengga Saputri, 2024) Busana pengantin pria 1) 69 Menggunakan timang, kamus, dan sabuk lontong. Memiliki motif yang sama dengan kebaya bludru wanita yaitu aksen bunga mawar dan daun yang sudah dihiasi dengan payet. pada bagian belakang diselipkan keris. 2) Gambar 84. Aplikasisabuk (Chanifah Rengga Saputri, 2024)


70 Menggunakan beskap dan aksesoris seperti kalung dengan dipasang bros, selain itu menggunakan rantai dibagian dada kanan, blangkon yang dihiasi bros, dan pemakaian sandal bandol khas Banyumasan. 3) Gambar 85. Aplikasi sabuk (Chanifah Rengga Saputri, 2024)


71 Gambar 86. Hasil akhir (Sumber: Chanifah Rengga Saputri, 2024) C. Hasil Akhir


Pada proses pembuatan tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas terdapat beberapa peralatan, bahan, dan lenan yang dibutuhkan untuk menghasilkan tata rias yang sesuai dengan pakem. Langkah kerja yang dilakukan memiliki runtutan proses yang diawali dengan persiapan kemudian melakukan tahap tata rias wajah, menggambar paes, pembuatan sunggar, pembuatan sanggul, memasang ronce melati, menggunakan busana, dan menggunakan aksesoris. Resume 72


Tata rias pengantin yang berkembang di Banyumas merupakan kebudayaan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kemudian turun temurun sampai saat ini dilestarikan. Pengantin Banyumas dikenal juga dengan nama pengantin sira ayu. Kata sira sendiri memiliki makna “kamu” sedangkan ayu bermakna “cantik” memiliki pesan bagi sang pengantin bahwa setiap pengantin wanita adalah kamu cantik baik dari luar secara fisik maupun dari dalam hati dan pikirannya. Ciri khas yang terdapat pada pengantin Sira Ayu Banyumas merupakan perwujudan kebudayaan yang disesuaikan dengan kehidupan masyarakat dengan histori nenek moyang terdahulu maupun yang berkaitan dengan kondisi geologi daerah Banyumas. E-book Tata Rias Pengantin Banyumas berisikan informasi umum mengenai kebudayaan Banyumas, upacara adat Banyumas, informasi tata rias pengantin secara umum, informasi tata rias pengantin Banyumas, dan berisikan langah kerja pembuatan tata rias pengantin Sira Ayu Banyumas. BAB V PENUTUP 73


GLOSSARIUM Kreweng Bebed Lek-lekan nepa palupi Ubo rampe Pikulan : : : : : : Pecahan benda yang terbuat dari tanah liat atau tembikar (seperti kuali, genting). Digunakan menjadi alat transaksi, untuk yang membeli segelas dawet pada prosesi dodol dawet Jarik atau kain yang dikenakan seorang pria pada bagian tubuh di sepanjang kaki. Tradisi yang dengan cara begadang pada malam sebelum acara pernikahan atau khitanan dengan melakukan berbagai aktivitas. Istilah untuk melestarikan adat budaya yang sudah berjalan agar tetap lestari dan dipandang baik. Sebuah persiapan yang dilakukan dengan menyiapkan seperangkat alat makanan, minuman atau perlengkapan lainnya yang akan digunakan pada sebuah ritual. Sebuah alat yang terbuat dari kayu untuk membawa beban yang dipikul. 74 upacara suci yang resmi dan dilaksanakann untuk bertemu dengan tuhan dan untuk menerima rahmat tuhan lewat tanda-tanda salah satunya perkawinan (bagi umat katolik). Sakramen : : :


Alat yang terbuat dari batang daun kelapa atau tulang daun kelapa yang digunakan untuk menyapu halaman kebuh, kandang atau permukaan kasar. Alat yang digunakan untuk memasak nasi yang terbuat dari anyaman bambu dengan bentuk kerucut. Gulungan daun sirih yang diikat dengan benang lawe atau bolah. Alat yang digunakan untuk alas biasa disebut tikar yang terbuat dari anyaman daun pandan. Tradisi yang dilakukan oleh mempelai wanita dengan mecuci kaki suaminya setelah melakukan tradisi injak telur. Acara adat yang dilakukan dengan pindah tempat dari rumah mempelai wanita ke rumah mempelai pria setelah tradisi pernikahan selesai. Berasal dari kata wetu yang berarti lahir atau keluar, weton merupakan hari lahir seseorang dengan pasangannya yang terdiri dari paing, p[on, wage, legi dan kliwon. Sapu sada Kusan Gantal Kloso bongko Wiji dadi Boyongan Weton : : : : : : : 75 Bagian yang digunakan untuk menumpangkan atau meletakan. Prosesi ketika mempelai pengantin, orang tua, dan keluarga mempelai pria sudah bersiap untuk melakukan prosesi ngunduh mantu. Pangkon pangambyong : :


Rangkaian bunyi dalam bahasa yang digunakan sebagai sarana dalam berkomunikasi, bicara, atau tutur kata. Kepiting yang hidup di air tawar atau air sungai yang dapat ditemui di pedesaan. Meloncat kebawah dari tempat ketinggian atau turun dari posisi semula, atau turun banyak dalam waktu singkat. Singkatan dari ban bodol atau ban yang sudah rusak kemudian dibuat sandal yang memiliki ciri khas. Wicara Yuyu Anjlok Bandol : : : : 76


Amalia, F., Arsana, I. W., & Suyono, S. (2021). Tradisi Ambarwati, D. (2023). Persepsi Masyarakat Terhadap Ghofir, J., & Jabbar, M. A. (2022). Tradisi Sungkeman Hanifah, D. (2017). Hubungan Antara Pengetahuan Mawardi, M., Mighfar, S., & Rahwan, R. (2022). Lamaran Perempuan dalam Pernikahan Adat Jawa pada Masyarakat Desa Wadeng Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik. Literasi (Jurnal Pendidikan Dasar). Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa (Studi Kasus Desa Nengahan, Bayat, Klaten). Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha, 5(3), Sebagai Kearifan Lokal Dalam Membangun Budaya Islam. Al Kamal, 2(2), dengan Sikap Menerapkan Upacara Adat Pengantin Solo Putri (Studi Kasus di Kelurahan Bobosan Kota Purwokerto) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA). Lamaran (Khithbah) Dalam Pernikahan Perspektif Pendidikan Islam. Al-Hukmi: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah dan Keluarga Islam, 3(1), DAFTAR PUSTAKA 77


Nur, K. (2021). Tradisi Malam Midodareni dalam Pratama, B. A., & Wahyuningsih, N. (2018). Pernikahan Rista Irianti, N. (2023). Analisis Nilai Budaya Lempar Sanita, I. (2021). Tata Rias Pengantin Adat Jawa Di Santoso, T. (2013). Tata rias & busana pengantin Prosesi Pernikahan di Desa Pasir Kulon Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas Perspektif Hukum Islam (Doctoral dissertation, Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap). Adat Jawa Di Desa Nengahan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Haluan Sastra Budaya, 2(1), 19-40. Sirih Pada Pernikahan Adat Jawa di Desa Karang Anyar Kecamatan Aek Kuo Kabupaten Labuhan Batu Utara. Journal of Educational Research and Humaniora (JERH). Desa SP2 Kota Bangun Kabupaten Kampar (Doctoral dissertation, Universitas Islam Riau). seluruh Indonesia. Gramedia Pustaka Utama. 78


BIODATA PENULIS Penulis yang bernama Chanifah Rengga Saputri lahir di Banyumas pada tanggal 13 September 2001. Putri pertama dari dua bersaudara, tinggal di desa Karangbawang rt 02/ rw01, Ajibarang, Banyumas. Saat ini masih menjadi mahasiswa semester akhir pada Prodi Tata Rias dan Kecantikan D4 di Universitas Negeri Yogyakarta. 79 Memiliki hobby Menonton film bergenre action dan menyukai travelling salah satunnya ke pantai. Menyukai olahraga basket sejak SMP hingga SMA. Selain itu penulis juga menyukai seni membaca puisi dari karya-karya seniman di Indonesia. Penulis yang bernama Ika Pranita Siregar, S.F., M.Pd. merupakan dosen prodi D4 Tata Rias dan Kecantikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Merupakan lulusan S1 Prodi Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan melanjutkan S2 Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).


Click to View FlipBook Version