E-MODULE
REDOKS
KELAS X
PETA KONSEP
PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas :X
Alokasi Waktu : 6 Jam Pelajaran
Judul Modul : Reaksi Reduksi dan Oksidasi Kelas X
B. Kompetensi Dasar
3.9 Mengidentifikasi reaksi reduksi dan oksidasi menggunakan konsep bilangan oksidasi unsur
4.9 Menganalisis beberapa reaksi berdasarkan perubahan bilangan oksidasi yang diperoleh dari
data hasil percobaan dan/ atau melalui percobaan
C. Deskripsi Singkat Materi
E-modul Redoks ini memuat perkembangan konsep redoks, seperti konsep keterlibatan
elektron, konsep transfer elektron, perubahan biloks, dan aplikasi redoks. Banyak dari reaksi
redoks yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan penjelasan mengenai keterlibatan elektron
dan juga transfer elektron saja, sebab dalam reaksi redoks tidak terlihat dengan jelas adanya
pengikatan atau pelepasan oksigen, serta tidak terlihat jelas pula pengikatan atau pelepasan
elektron, sehingga perlu reaksi redoks perlu dijelaskan dengan konsep perubahan bilangan
oksidasi (biloks). Bilangan oksidasi menggambarkan kemampuan dari suatu atom untuk
melepas atau menerima elektron dalam suatu reaksi.
D. Petunjuk Penggunaan Modul
Dalam rangka memaksimalkan pengetahuan terkait reaksi redoks yang diperoleh, maka
lakukan langkah-langkah berikut ini.
1. Pelajari dan pahami tujuan yang tercantum dalam e-modul ini.
2. Pelajari uraian materi dalam e-modul secara sistematis dan mendalam.
3. Lakukan uji kompetensi yang terdapat pada e-modul untuk mengetahui tingkat penguasaan
materi.
4. Diskusikan dengan guru dan teman jika Anda mengalami kesulitan dalam memahami
materi pada e-modul ini.
1
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
PERKEMBANGAN KONSEP REAKSI REDUKSI OKSIDASI (REDOKS)
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran 1 ini, Anda diharapkan mampu.
1. Mengidentifikasi perkembangan konsep reaksi redoks yang ditinjau dari keterlibatan
elektron, transfer elektron, dan perubahan bilangan oksidasi (biloks).
2. Mengidentifikasi zat yang bertindak sebagai oksidator dan reduktor.
B. Uraian Materi
Dalam kehidupan sehari-hari, pernahkah Anda melihat perlatan yang Anda gunakan,
terutama peralatan yang terbuat dari besi menjadi berkarat? Mengapa peralatan yang terbuat
dari besi mudah berkarat? Mengapa besi jika dibiarkan di ruang terbuka dalam jangka waktu
lama akan terbentuk bintik-bintik merah pada bagian permukaannya? Ternyata, proses
perkaratan pada logam atau yang biasa dikenal dengan korosi tersebut merupakan salah satu
contoh dari reaksi oksidasi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa
penyebab munculnya bintik merah pada suatu logam? Ternyata, munculnya bintik merah
pada suatu logam disebabkan oleh logam yang mengikat oksigen dari udara dan air. Pada
Gambar 1 berikut akan ditunjukkan salah satu contoh korosi pada suatu logam.
Gambar 1. Perkaratan pada Pagar
2
Oksigen bereaksi dengan banyak unsur membentuk senyawa yang disebut dengan oksida.
Pada awalnya, pengertian oksidasi dihubungkan dengan reaksi unsur atau senyawa dengan
oksigen. Seiring dengan perkembangan ilmu kimia, istilah reduksi dan oksidasi semakin
berkembang dan disempurnakan.
Perkembangan Konsep Redoks
1. Konsep Reaksi Redoks Berdasarkan Keterlibatan Atom Oksigen
a. Oksidasi
Oksidasi adalah reaksi pengikatan oksigen oleh suatu unsur. Contoh reaksi oksidasi dalam
kehidupan sehari-hari.
1) Perkaratan logam besi
Perkaratan besi terjadi reaksi antara logam besi dengan oksigen yang berasal dari udara.
Menurut reaksi, besi (Fe) mengalami oksidasi karena besi mengikat oksigen dan berubah
menjadi Fe2O3. Berikut adalah reaksinya.
4 Fe(s) + 3 O2(g) → 2 Fe2O3(s)
Karat besi
Berikut adalah gambaran dari proses perkaratan pada besi.
Gambar 2. Proses Perkaratan pada Besi (Fe)
3
2) Pembakaran bahan bakar
Pembakaran bahan bakar, seperti gas metana, minyak tanah, LPG, solar, dan lain
sebagainya, maka reaksi pembakarannya akan menghasilkan gas karbon dioksida dan uap air.
Berikut adalah reaksi pembakaran pada gas metana.
CH4(g) + O2(g) → CO2(g) + 2 H2O(g)
Gambar 3. Ilustrasi Pembakaran Gas Metana
3) Oksidasi glukosa dalam tubuh
Di dalam tubuh, glukosa dioksidasi melalui peristiwa oksidasi (respirasi) yang akan pecah
menjadi senyawa yang lebih sederhana, seperti karbon dioksida dan air, dengan reaksi berikut.
C6H12O6(s) + 6 O2(g) → 6 CO2(g) + 6 H2O(g)
4) Oksidasi pada buah
Proses oksidasi juga terjadi pada buah-buahan, seperti buah apel dan pisang. Kedua buah
tersebut, jika dikupas dan dibiarkan dalam ruang terbuka akan berubah warna menjadi
kecoklatan, yang diakibatkan oleh peristiwa oksidasi.
4
Gambar 4. Contoh Proses Oksidasi pada Buah Apel
b. Reduksi
Reduksi ialah peristiwa pelepasan oksigen dari suatu zat. Berikut adalah contoh reaksi reduksi.
1) Proses pengolahan besi
Proses pengolahan besi dilakukan melalui tanur tinggi. Proses pengolahan besi berasal dari
bijih besi (Fe2O3) dengan karbon monoksida (CO). Berikut adalah reaksi yang terjadi pada
proses pengolahan besi.
3 Fe2O3(s) + CO(g) → 2 Fe3O4(s) + CO2(g)
Fe3O4(s) + CO(g) → 3 FeO(s) + CO2(g)
FeO(s) + CO(g) → Fe(s) + CO2(g)
C(g) + O2(g) → CO2(g)
Gambar 5. Ilustrasi Pembuatan Besi Menggunakan Tanur Tinggi
5
2) Reduksi kromium (III) oksida
Logam krom dapat dibuat menggunakan proses Goldschmidt, yakni dengan mereduksi
senyawa Cr2O3 dengan Aluminium, yang dikenal dengan proses Aluminothermy. Reaksi
Kromium (III) Oksida (Cr2O3) oleh Aluminium (Al). Berikut adalah persamaan reaksi yang
terjadi.
Cr2O3(s) + 2 Al(s) → 2 Cr(s) + Al2O3(s)
Proses Goldchmidt ini menghasilkan Kromium dengan kemurnian sebesar 97-99%.
2. Konsep Reaksi Redoks Berdasarkan Transfer Elektron
Ditinjau dari proses serah terima elektron, oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron dan
reduksi adalah reaksi penerimaan elektron. Reaksi reduksi dan oksidasi selalu terjadi bersama-
sama. Hal tersebut berarti bahwa ada zat yang melepas elektron (mengalami oksidasi) dan ada
zat yang menerima elektron (mengalami reduksi). Oleh sebab itu, reaksi reduksi dan reaksi
oksidasi disebut juga dengan reaksi reduksi oksidasi (reaksi redoks). Secara umum, reaksi
redoks berdasarkan transfer elektron digambarkan sebagai berikut.
A → An+ + n e (oksidasi)
An+ + n e → A (reduksi)
Di mana n adalah jumlah elektron yang dilepas atau diterima.
Contoh:
Reaksi redoks pada peristiwa perkaratan besi yang dijelaskan pada reaksi berikut.
2 Fe → 2 Fe3+ + 6 e- (oksidasi)
3 O2 + 6 e- → 3 O2- (reduksi)
Berdasarkan contoh reaksi tersebut, diketahui bahwa sebanyak enam elektron dilepaskan
oleh dua atom Besi dan diterima oleh tiga atom Oksigen membentuk senyawa Fe2O3. Oleh
sebab itu, peristiwa oksidasi selalu disertai dengan peristiwa reduksi. Pada setiap persamaan
reaksi, massa dan muatan harus setara antara ruas kiri dan ruas kanan.
6
3. Konsep Reaksi Redoks Berdasarkan Konsep Bilangan Oksidasi
Ada beberapa reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep keterlibatan
elektron dan juga transfer elektron.
Contoh:
2 SO2(g) + O2(g) → 2 SO3
Jika dikaji berdasarkan konsep keterlibatan elektron, maka reaksi tersebut merupakan
reaksi oksidasi. Akan tetapi jika dikaji berdasarkan serah terima elektron, maka kemungkinan
reaksi tersebut akan susah untuk dipahami. Sebenarnya, reaksi tersebut tidak hanya terjadi
reaksi oksidasi saja, akan tetapi juga terjadi reaksi reduksi.
Oleh sebab itu, banyak reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep pengikatan
oksigen ataupun transfer elektron, akan tetapi konsep tersebut dapat dijelaskan dengan
perubahan bilangan oksidasi. Menurut konsep perubahan bilangan oksidasi (biloks), jika dalam
reaksi biloks atom meningkat, maka atom akan mengalami oksidasi. Begitu pula sebaliknya,
jika biloks atom turun, maka atom akan mengalami reduksi.
Untuk mengetahui suatu reaksi merupakan reaksi redoks atau bukan menurut konsep
perubahan biloks, maka perlu diketahui biloks dari setiap atom, baik biloks pada pereaksi dan
juga biloks pada hasil reaksi.
Contoh: +6
+4
2 SO2(g) + O2(g) → 2 SO3
0 -2
Berdasarkan contoh di atas, diketahui bahwa atom S pada SO2 memiliki nilai biloks +4 dan
atom S pada SO3 memiliki nilai biloks +6. Berdasarkan nilai biloks atom S pada pereaksi dan
hasil reaksi, dapat disimpulkan bahwa biloks atom S mengalami peningkatan, sehingga atom
S mengalami oksidasi. Sedangkan untuk atom O pada O2 memiliki nilai biloks 0 dan atom O
pada SO3 memiliki nilai biloks -2. Berdasarkan nilai biloks atom O pada pereaksi dan hasil
7
reaksi, dapat disimpulkan bahwa biloks atom O mengalami penurunan, sehingga atom O
mengalami reduksi. Dengan demikian, reaksi tersebut termasuk dalam reaksi redoks.
Reduktor dan Oksidator
Dalam reaksi redoks, pereaksi yang dapat mengoksidasi pereaksi lain disebut dengan zat
pengoksidasi atau oksidator. Sedangkan zat yang dapat mereduksi zat lain disebut dengan zat
pereduksi atau reduktor.
Contoh:
2 SO2(g) + O2(g) → 2 SO3
Dari contoh di atas, SO2 mengalami oksidasi yang mengakibatkan oksigen mengalami
reduksi. Dalam hal ini, Sulfur merupakan zat pereduksi atau reduktor. Dan sebaliknya, karena
oksigen berperan dalam mengoksidasi SO2, maka oksigen merupakan zat pengoksidasi atau
oksidator.
C. Rangkuman
1. Konsep reaksi redoks dapat ditinjau dari tiga konsep, yaitu:
a. Keterlibatan oksigen
1) Oksidasi adalah reaksi penerimaan oksigen
2) Reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen
b. Transfer elektron
1) Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron
2) Reduksi adalah reaksi penangkapan elektron
c. Perubahan bilangan oksidasi (biloks)
1) Oksidasi adalah reaksi di mana terjadi kenaikan biloks
2) Reduksi adalah reaksi di mana terjadi penurunan biloks
2. Reaksi reduksi dan oksidasi (reaksi redoks) berlangsung bersamaan
D. Penugasan Mandiri
Jawablah soal-soal di bawah ini!
1. Apa perbedaan antara konsep redoks berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen
dengan konsep redoks berdasarkan penyerahan dan penerimaan elektron? Jelaskan!
8
2. Apa perbedaan antara konsep redoks berdasarkan penyerahan dan penerimaan elektron
dengan konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi?
Jelaskan!
3. Diketahui persamaan reaksi berikut.
2 Na (s) + Cl2 (g) → 2 NaCl (s)
Tentukan:
a. reaksi oksidasi
b. reaksi reduksi
c. oksidator
d. reduktor
4. Pada proses pengolahan besi dari bijih besi (hematit), terjadi reaksi berikut.
Fe2O3(s) + 3 CO(g) → 2 Fe (s) + 3 CO2(g)
Jelaskan apa fungsi dari penambahan CO pada proses pengolahan besi dari bijih besi?
E. Latihan Soal
Jawablah soal-soal di bawah ini dengan memberikan tanda silang “X” pada jawaban yang
tepat.
1. Pernyataan berikut yang benar terkait reaksi reduksi adalah …
a. Reaksi pelepasan elektrol
b. Reaksi penerimaan proton
c. Reaksi pelepasan oksigen
d. Reaksi penggabungan oksigen
e. Reaksi pelepasan hidrogen
2. Apabila suatu unsur melepas elektron, maka …
a. Bilangan oksidasinya kana turun
b. Unsur tersebut mengalami reduksi
c. Reaktivitasnya akan meningkat
d. Unsur tersebut mengalami oksidasi
e. Reaktivitasnya akan menurun
3. Salah satu contoh dari reaksi reduksi adalah …
a. Pernapasan
9
b. Perkaratan pada besi
c. Fotosintesis
d. Pemakaran
e. Perubahan warna pada buah jika dibiarkan di luar
4. Perhatikan reaksi-reaksi berikut ini.
(1) C (s) + O2 (g) → CO2 (g)
(2) MgO (s) → Mg (s) + ½ O2 (g)
(3) 2 S (s) + 3 O2 (g) → SO3 (g)
(4) H2O (l) → H2 (g) + ½ O2 (g)
Diantara reaksi-reaksi tersebut yang merupakan reaksi reduksi adalah …
a. (1) dan (2)
b. (2) dan (3)
c. (1) dan (3)
d. (1) dan (4)
e. (2) dan (4)
5. Reaksi berikut termasuk dalam reaksi oksidasi jika dilihat dari kemampuan menerima atau
melepas oksigen adalah …
a. 2 Na2O → 4 Na + O2
b. 2 BaO2 → 2 BaO + O2
c. 2 K + O2 → 2 K2O
d. Cu2O + H2 → 2 Cu + H2O
e. 2 Na2O2 → 2 Na2O + O2
10
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
ATURAN BILOKS DAN PENENTUAN BILOKS UNSUR
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul kegiatan pembelajaran 2 ini, Anda diharapkan mampu
mendeskripsikan ketentuan bilangan oksidasi, menentukan biloks atom suatu unsur dalam
senyawa atau ion untuk menentukan reaksi reduksi dan oksidasi, yang ditinjau dari perubahan
bilangan oksidasinya (biloks).
B. Uraian Materi
1. Aturan Bilangan Oksidasi
Konsep redoks berdasarkan peningkat dan penurunan biloks merupakan konsep redoks
yang digunakan dalam mempelajari Ilmu Kimia. Lalu apa yang dimaksud dengan bilangan
oksidasi? Bilangan oksidasi atau yang disingkat dengan Biloks merupakan muatan yang
dimiliki oleh suatu atom jika atom tersebut berikatan dengan atom lain. Nilai bilangan oksidasi
dari suatu atom dapat diketahui lebih mudah menggnakan aturan berikut.
a. Unsur bebas memiliki biloks = 0
Contoh unsur bebas adalah H2, N2, O2, F2, Cl2, Br2, I2, P4, S8, Al, Fe, dam lain sebagainya.
b. Biloks H dalam senyawanya pada umumnya = +1
Contoh:
Biloks H dalam H2O adalah +1
Biloks H dalam NH3 adalah +1
Kecuali dalam senyawa hidrida logam, biloks H = -1
Contoh senyawa hidrida logam adalah NaH, BaH2, dan lain sebagainya.
c. Biloks O dalam senyawanya pada umumnya = -2
Contoh:
11
Biloks O dalam H2O adalah -2
Biloks O dalam H2SO4 adalah -2
Biloks O dalam CaO adalah -2
Kecuali dalam senyawa peroksida (H2O2), biloks O = -1; dan dalam senyawa superoksida
(KO2), biloks O = - ½
d. Biloks unsur logam selalu bernilai positif
Contoh:
Biloks unsur golongan IA (H, Li, Na, K, Rb, Cs, dan Fr) = +1
Biloks unsur golongan IIA (Be, Mg, Ca, Sr, Ba, dan Ra) = +2
Biloks unsur golongan IIIA (B, Al, Ga, In, dan Tl) = +3
Biloks unsur Fe = +2 dan +3
Biloks unsur Cu = +1 dan +2
Biloks unsur Hg = +1 dan +2
Biloks unsur Au = +1 dan +3
Biloks unsur Ag = +1
Biloks unsur Zn = +2
Biloks unsur Sn = +2 dan +4
Biloks unsur Pb = +2 dan +4
Biloks unsur Pt = +2 dan +4
e. Biloks suatu unsur dalam ion monoatomik/ion tunggal = muatannya
Contoh:
Biloks Fe dalam ion Fe3+ adalah +3
Biloks Fe dalam ion Fe2+ adalah +2
12
Biloks O dalam ion O2- adalah -2
Biloks Cl dalam ion Cl- adalah -1
f. Biloks unsur golongan VII A (F, Cl, Br, I) pada senyawanya = -1
g. Jumlah biloks unsur-unsur dalam suatu senyawa = 0
Contoh:
Jumlah biloks H2SO4 = 0
Jumlah biloks H2SO4 = (2 x biloks H) + (1 x biloks S) + (4 x biloks O) = 0
Jumlah biloks CO(NH2)2 = 0
Jumlah biloks CO(NH2)2 = (1 x biloks C) + (1 x biloks O) + (2 x biloks N) + (4 x biloks H) =
0
Jumlah biloks C6H12O6 = 0
Jumlah biloks C6H12O6 = (6 x biloks C) + (12 x biloks H) + (6 x biloks O) = 0
h. Jumlah biloks unsur-unsur dalam suatu ion poliatomik = muatannya
Contoh:
Jumlah biloks OH- = (1 x biloks O) + (1 x biloks H) = -1
Jumlah biloks SO42- = (1 x biloks S) + (4 x biloks O) = -2
2. Penentuan Biloks Unsur dalam Senyawa atau Ion
Bagaimana cara Anda menentukan bilangan oksidasi atom dalam suatu senyawa atau ion?
Mari perhatikan contoh-contoh berikut.
a. Tentukan bilangan oksidasi atom S dalam H2SO4
Senyawa H2SO4 merupakan senyawa netral, sehingga jumlah biloks atom penyusunnya
adalah 0.
Senyawa H2SO4 tersusun dari 2 atom H + 1 atom S + 4 atom O, sehingga
(2 x biloks H) + (1 x biloks S) + (4 x biloks O) = 0
13
(2 x (+1)) + (1 x biloks S) + (4 x (-2)) = 0
2 + biloks S + (-8) = 0
Biloks S = +6
Jadi, nilai biloks atom S dalam H2SO4 adalah +6
b. Tentukan bilangan oksidasi atom Cr dalam K2Cr2O7
Senyawa K2Cr2O7 tersusun dari 2 atom K + 2 atom Cr + 7 atom O, sehingga
(2 x biloks K) + (2 x biloks Cr) + (7 x biloks O) = 0
(2 x 1) + (2 x biloks Cr) + (7 x (-2)) = 0
2 x biloks Cr + (-12) = 0
2 x biloks Cr = 12
Biloks Cr = 6
Jadi, nilai biloks atom Cr dalam K2Cr2O7 adalah 6
c. Tentukan bilangan oksidasi atom Mn dalam MnO4-
MnO4- merupakan senyawa ion poliatomik, sehingga junlah biloks atom penyusunnya
sama dengan jumlah muatannya. Di mana, jumlah muatan ion MnO4- adalah -1.
MnO4- merupakan ion poliatomik yang tersusun dari 1 atom Mn + 4 atom O, sehingga
(1 x biloks Mn) + (4 x biloks O) = -1
Biloks Mn + (4 x (-2)) = -1
Biloks Mn = 7
Jadi, nilai biloks atom Mn dalam MnO4- adalah +7
14
3. Penggunaan Konsep Biloks dalam Penentuan Reaksi Redoks
Reaksi redoks banyak yang tidak dapat dijelaskan dengan konsep keterlibatan oksigen dan
juga transfer elektron, akan tetapi dapat dijelaskan dengan konsep perubahan biloks. Untuk
lebih memperjelasnya, perhatikan contoh berikut.
Contoh:
Mg (s) + HCl (aq) → MgCl2 (aq) + H2 (g)
Pada reaksi tersebut, tidak nampak adanya oksigen yang terlibat, serta Anda tidak dapat
melihat secara langsung adanya proses transfer elektron. Akan tetapi, reaksi tersebut dapat
dijelaskan menggunakan perubahan biloks pada reaksi redoks. Perhatikan reaksi berikut!
0 +2
Mg (s) + HCl (aq) → MgCl2 (aq) + H2 (g)
+1 0
Berdasarkan contoh di atas, diketahui bahwa atom Mg memiliki nilai biloks 0 dan atom
Mg pada MgCl2 memiliki nilai biloks +2. Berdasarkan nilai biloks atom Mg pada pereaksi dan
hasil reaksi, dapat disimpulkan bahwa biloks atom Mg mengalami peningkatan, sehingga atom
Mg mengalami oksidasi. Atom Mg mengalami oksidasi dan disebut dengan reduktor.
Sedangkan untuk atom H pada HCl memiliki nilai biloks +1 dan atom H pada H2 memiliki
nilai biloks 0. Berdasarkan nilai biloks atom H pada pereaksi dan hasil reaksi, dapat
disimpulkan bahwa biloks atom H mengalami penurunan, sehingga atom H mengalami
reduksi. Atom H pada HCl mengalami reduksi dan disebut dengan oksidator. Dengan
demikian, reaksi tersebut termasuk dalam reaksi redoks.
4. Reaksi Autoredoks atau Disproporsionasi
Adakalanya dalam reaksi redoks terdapat satu zat yang mengalami reaksi oksidasi dan
sekaligus mengalami reaksi reduksi, di mana reaksi tersebut disebut dengan reaksi autoredoks
atau reaksi disproporsionasi. Untuk lebih memahaminya, perhatikan contoh berikut.
0 -1
Cl2 + 2 NaOH → NaCl + NaClO + H2O 15
0 +1
Pada reaksi di atas, atom Cl dalam Cl2 mengalami kenaikan biloks dalam NaClO dari 0 ke
+1. Atom Cl pada Cl2 mengalami penurunan biloks dalam NaCl dari 0 ke -1. Maka dapat
disimpulkan bahwa atom Cl pada Cl2 mengalami oksidasi dan reduksi secara bersamaan.
C. Rangkuman
1. Bilangan oksidasi adalah harga yang menunjukkan kemampuan dari suatu atom untuk
melepas atau menerima elektron dalam suatu reaksi
2. Aturan penentuan bilangan oksidasi
a. Unsur bebas memiliki biloks = 0
b. Atom H dalam senyawa umumnya memiliki biloks = +1
c. Atom O dalam senyawa umumnya memiliki biloks = -2
d. Logam memiliki biloks positif, misal logam golongan IA yang nilai biloksnya = +1
e. Atom bebas, seperti O2, F2, N2, Zn, Mg, memiliki biloks = 0
f. Jumlah biloks dalam ion poliatomik, seperti PO43- = muatannya = -3
g. Biloks ion tunggal, seperti Na+ = muatannya = +1
3. Reaksi autoredoks atau disproporsionasi adalah reaksi di mana satu zat mengalami oksidasi
dan juga reduksi secara bersamaan.
D. Penugasan Mandiri
Jawablah soal-soal di bawah ini!
1. Tentukan bilangan oksidasi atom berikut dalam senyawa atau ion
a. Atom P dalam senyawa H3PO4
b. Atom Cr dalam ion Cr2O72-
c. Atom N dalam HNO3
2. Tunjukkan perubahan bilangan oksidasi unsur pada reaksi berikut.
FeCl3 + H2S → FeCl2 + HCl + S
3. Tentukan oksidator, reduktor, hasil reaksi, dan hasil oksidasi reaksi berikut.
H2 + S + 2 H2O → 3 Cl2 + SO2 + 6 HCl
4. Tuliskan contoh reaksi autoredoks dan tentukan perubahan bilangan oksidasinya.
16
E. Latihan Soal
Jawablah soal-soal di bawah ini dengan memberikan tanda silang “X” pada jawaban yang
tepat.
1. Perhatikan reaksi-reaksi berikut.
(1) Al3+ + 3 OH- → Al(OH)3
(2) Zn + H2SO4 → ZnSO4 + H2
(3) Pb2+ + 2 Br- → PbBr2
(4) H2 + Cl2 → 2 HCl
(5) HF + NH3 → NH4F
Berdasarkan reaksi-reaksi tersebut, yang merupakan reaksi redoks adalah …
a. (1) dan (2)
b. (1) dan (3)
c. (2) dan (3)
d. (2) dan (4)
e. (3) dan (5)
2. Berikut adalah reaksi redoks dari senyawa Klor.
(1) ClO2- → ClO3-
(2) ClO4- → Cl-
(3) ClO2- → ClO-
(4) ClO- → ClO4-
(5) Cl2 → ClO3-
Berdasarkan reaksi-reaksi tersebut, reaksi yang bertindak sebagai oksidator terdapat pada
reaksi …
a. (1) dan (2)
b. (1) dan (3)
c. (2) dan (3)
d. (3) dan (4)
e. (4) dan (5)
17
3. Unsur mangan dapat membentuk banyak senyawa. Di bawah ini, manakah senyawa
Mangan dengan bilangan oksidasi tertinggi?
a. MnO2
b. KMnO4
c. K2MnO4
d. MnO
e. MnCl2
4. Perhatikan persamaan reaksi berikut!
H2S + HNO2 → S + NO + H2O
Zat yang bertindak sebagai oksidator adalah …
a. H2S
b. HNO2
c. S
d. NO
e. H2O
5. Perhatikan reaksi redoks berikut!
3 Cl2 + 6 NaOH → 5 NaCl + NaClO3 + 3 H2O
Pernyataan berikut yang benar adalah …
a. Cl2 mengalami oksidasi, biloks berubah dari 0 menjadi +1
b. Cl2 mengalami reduksi, biloks berubah dari +1 menjadi 0
c. Cl2 mengalami autoredoks, biloks berubah dari 0 menjadi -1 dan +3
d. Cl2 mengalami autoredoks, biloks berubah dari 0 menjadi -1 dan +5
e. NaOH mengalami reduksi, biloks berubah dari +1 menjadi 0
18