Rafigar Eka Susianto Putro
A310190082
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai pembelajar tidak bisa terlepas
dengan informasi. Informasi tersebut bisa diperoleh melalui berbagai macam sumber,
baik lisan maupun tulis. Salah satu sumber yang erat kaitannya dengan kehidupan
seorang pembelajar adalah informasi dari hasil tulisan siswa. Informasi tersebut tentu
saja berguna untuk alat penilaian, sumber wawasan peserta didik.
Apakah tulisan yang bersumber dari peserta didik sudah sesuai dengan tujuan
pembelajaran? Tentu saja ada tulisan yang sudah sesuai dengan kriteria penilaian dan
ada juga yang masih jauh dari kriteria penilaian. Ada peserta didik yang seringkali
masih kurang memerhatikan aspek kohesi dan koherensi dalam pembelajaran menulis.
Mereka kadang merasa bingung dalam menuangkan ide ke dalam tulisan. Ada yang
menganggap bahasa lisan dan tulis disamakan, ada juga yang belum mampu
menuangkan ide tulisan secara runtut dan berkesinambungan.
Pembelajaran menulis di SMA/SMK menuntut peserta didik untuk mampu
menuangkan ide ke dalam tulisan dengan memperhatikan struktur dan kaidah yang
benar. Salah satu yang perlu diperhatikan dalam kebahasaan adalah wacana.
Modul ini akan menyampaikan mengenai materi ajar teks eksplanasi pada
kelas XI Melalui modul ini, pembelajar diharapkan mampu memfasilitasi peserta
didik dalam mencapai tujuan, yaitu mampu mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang
terkandung dalam cerita rakyat hikayat.
B. Kompetensi Dasar
Modul ini dikhususkan untuk kelas XI dengan KD 4.22 memproduksi teks eksplanasi
berkaitan dengan bidang pekerjaan secara lisan atau tulis dengan memerhatikan
struktur dan kebahasaan. Indikator pencapaian kompetensinya sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat
(hikayat) baik lisan maupun
2. Menceritakan kembali isi cerita rakyat (hikayat) yang didengar dan dibaca
C. Tujuan Pembelajaran
Dengan penerapan model discovery learning siswa dapat dalam mengidentifikasi
nilai-nilai dan isi nilai hikayat serta dapat menceritakan kembali, menanggapi isi,
secara mandiri
D. Petunjuk Penggunaan Modul
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan modul ini.
1. Peserta didik akan diberi contoh teks ceirta rakuyat hikayat. Contoh dapat
diambilkan dari modul ini, dapat pula dari berbagai sumber lainnya.
2. Secara individu, peserta didik mencari ciri-ciri hikayat, unsurnya, dan nilai-nilai
yang terkandung dalam hikayat
3. Peserta didik akan menceritakan kembali isi hikayat yang dibacanya
2
4. Peserta didik mengomunikasikan tulisannya dan saling memberi komentar.
5. Peserta didik mengerjakan latihan soal.
BAB II
MATERI CERITA RAKYAT HIKAYAT
A. Pengertian Cerita Rakyat Hikayat
Menurut Sudjiman (2006, hlm. 34) berpendapat bahwa hikayat merupakan jenis cerita
rekaan dalam sastra Melayu Lama yang menggambarkan keagungan dan kepahlawanan yang
adakalanya sarat akan makna cerita sejarah atau riwayat hidup suatu tokoh.
B. Ciri Cerita Hikayat
1. Merupakan cerminan realitas kehidupan rakyat setempat (cerita rakyat).
2. Berhubung pada dasarnya hal yang diungkapkan pengarang disampaikan dengan jalan
menceritakan, meriwayatkan, dan mendongengkan, maka jenis karangan yang
digunakan adalah narasi.
3. Dilandasi oleh adanya unsur “cerita” atau “dongeng”, maka hikayat berkesan rekaan
atau fiksional.
4. Hikayat umumnya bermotifkan keajaiban dan kesaktian
5. Isi yang dikandung hikayat umumnya menyingkap kehidupan tokoh besar seperti raja
dan keluarganya, pahlawan, atau seseorang yang sakti dan berpengaruh terhadap
masyarakat luas.
Perhatikan contoh berikut INDERA BANGSAWAN
Pada zaman dahulu kala di Negeri Kobat Syahrial, hiduplah seorang raja yang bernama Indera Bungsu. Ia
belum juga dikarunia putra. Iia menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir dan miskin hingga
akhirnya Tuan Puteri Sitti hamillah dan melahirkan dua orang putra laki-laki. Yang tua keluarnya dengan panah
dan yang muda dengan pedang. Ia pun memberi nama yang tua Syah Peri dan Yang muda Indera Bangsawan.
Kedua anak tersebut tumbuh menjadi anak muda yang gagah. Indera Bungsu bingung memutuskan siapakah yang
akan menggantikannya kelak. Hingga ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia telah bertemu seornag
pemuda yang memegang bulu perindu. Dan siapa yang dapat menemukannya, akan diangkat menjadi raja.
Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pergi mencari buluh perindu itu. Hingga
suatu hari, datanglah hujan badai yang memisahkan Syah Peri dan Indera Bangsawan. Syah Peri yang pasrah
kepada Tuhan. Hingga sampailah Syah Peri di sebuah taman, Syah Peri menoreh gendang dan keluarlah Ratna Sari
dan dayang-dayangnya. Garuda yang menahan Ratna Sari menyerang dan berhasil dikalahkan oleh Syah Peri.
Kemudian Syah Peri menikah dengan Ratna Sari. Indera Bangsawan bertemu dengan raksasa yang menjadi
neneknya dan bercerita bahwa ia berada negeri Antah Berantah yang diperintah oleh Raja Kabir.
Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa dan yang dapat
memberikan air susu harimau yang baru saja beranak akan dinikahkan dengan Puteri Kemala Sari yang sedang
sakit mata. Setelah mendengar pengumuman tersebut, Indera Bangsawan pergi mengambil seruas buluh yang
berisi susu kambing. Kesembilan anak raja menemui Indera Bangsawan untuk meminta susu harimau tetapi oleh
Indera Bangsawan diberikan susu kambing. Sedangkan susu harimau diserahkan Indera Bangsawan kepada raja.
Tabib istana memeraskan susu harimau tersebut sebanyak tiga kali dan Putri Kemala Sari pun sembuh, tetapi Raja
Kabir masih bersedih hati karena harus menyerahkan Putri Kemala Sari kepada Buraksa. Raja Kabir
mengumumkan bahwa barang siapa dapat mengambil jubah Buraksa akan menjadi suami Putri Kemala Sari. Ia
memerintahkan kesembilan anak raja untuk mengambil jubah Buraksa.
Nenek Raksasa mengajari Indera Bangsawan cara mengalahkan Buraksa. Indera Bangsawan diberi kuda
hijau dan diajari cara memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Ketika tubuh Buraksa
menjadi lumpuh, Indera Bangsawan berhasil membawa lari Puteri dan mengambil jubah Buraksa. Melihat Buraksa
tidak berdaya, kesembilan anak raja mengambil selimut Buraksa dan mengatakan kepada Raja Kabir bahwa
sKealbimirumt eitnugaudmaulamhkjaunbahharBiuprearknsiak.aIhnadnerInadBearnagBsaanwgasnawm3aennydearnahPkuatenrPi KuetemriadlaanSajruib. ah Buraksa dan kemudian Raja
B. Struktur Cerita Rakyat Hikayat
Teks eksplanasi memiliki struktur baku sebagaimana halnya jenis teks lainnya. Sesuai
dengan karakteristik umum dari isinya, teks eksplanasi mempunyai struktur teks sebagai
berikut.
1. Orientasi
Merupakan pengenalan latar,tokoh dan kisah baik dari segi waktu, tempat maupun
peristiwa. Orientasi juga biasanya menata berbagai adegan dan menjelaskan hubungan
antar tokoh
2. Komplikasi
Bagian dimana konflik mulai muncul. Konflik adalah pertentangan atau kesukaran-
kesukaran yang dialami tokoh utama dalam hikayat. Bagian ini akan berangsur terus
bertambah hingga memuncak mancapai bagian klimaks
3. Resolusi
Merupakan penyelesaian dari berbagai konflik yang terjadi. Resolusi juga dapat
diiringi oleh koda atau kesimpulan dan amanat akhir terhadap kondisi yang dialami
oleh tokoh utama
C. Kaidah Kebahasaan Cerita Rakyat Hikayat
Dari segi bahasa, hikayat memiliki kekhasan khusus, yakni menggunakan bahasa
Melayu klasik yang ditandai dengan penggunaan banyak kata penghubung dan kata-kata
arkais. Selain itu, karena hikayat juga masih merupakan teks narasi, karakteristik bahasa yang
sama juga menaunginya, meliputi beberapa poin di bawah ini.
1. Menggunakan kata ganti dan nama orang sebagai sudut pandang penceritaan: aku mereka,
dia.
2. Penggunaan kata yang mencerap pancaindra untuk deskripsi latar (tempat, waktu, suasana),
contoh latar tempat: Kerajaan itu amatlah megah, tanahnya subur sehingga rakyatnya pun
makmur. Emas dan berlian bertaburan di dinding istana, dan lumbung padi rakyatnya selalu
terisi.
3. Menggunakan pilihan kata dengan makna kias dan makna khusus, conntohnya: menjulang,
memancung.
4. Banyak memakai kata sambung urutan waktu: kemudian, sementara itu, bersamaan dengan
itu, tiba-tiba, ketika, sebelum.
5. penggunaan kata sambung urutan waktu untuk menandakan datangnya tokoh lain atau
perubahan latar, baik latar suasana, waktu, dan tempat, contohnya: Dua tahun kemudian,
sang Pangeran pulang membawa janjinya. Akhirnya, Sultan dapat merestuinya sebagai
menantunya
D. Karakteristik Cerita Rakyat Hikayat
Hikayat merupakan sebuah teks narasi yang cukup berbeda dengan yang lain. Oleh
karena itu, hikayat memiliki karakteristik kuat yang membedakannya. Karakteristik tek
hikayat menurut Tim Kemdikbud (2017, hlm. 199) meliputi beberapa poin di bawa ini.
1. Kemustahilan
4
artinya dalam hikayat terdapat banyak hal yang tidak logis atau tidak bisa
dinalar, meliputi dari segi bahasa maupun cerita, contohnya: bayi lahir disertai
pedang dan panah, seorang putri keluar dari gendang, dsb.
2. Kesaktian
berarti tokoh di dalam hikayat memiliki kesaktian yang tidak dapat dilakukan
oleh manusia biasa, seperti: mengubah wujud menjadi binatang, mampu
melenyapkan bangunan hanya dengan satu jentikkan jari saja, dsb.
3. Anonim
maksudnya tidak diketahui secara jelas siapa penulis atau penceritanya karena
hikayat diceritakan secara lisan dan turun-temurun.
4. Istana Sentris
hikayat selalu bertema dan berlatar suatu kerajaan.
E. Langkag-langkah Mencritakan Kembali Isi Cerita Rakyat
langkah menceritakan kembali hikayat adalah sebagai berikut.
1. Tentukan seluruh unsur intrinsik hikayat, termasuk tema, tokoh, alur, watak, latar, dan
lain sebagainya.
2. Tentukan sudut pandang yang akan digunakan, apakah terjadi perubahan atau tetap
mempertahankan cerita asli.
3. Sampaikan hikayat dengan bahasa yang berbeda, sembari tetap mempertahankan inti
cerita.
F. Nilai Nilai dalam Hikayat
Hikayat banyak memiliki nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan tersebut dapat berupa nilai
religius (agama), moral, budaya, sosial, edukasi (pendidikan), dan estetika (keindahan).
Perhatikan contoh analisis nilai yang terdapat dalam Hikayat Indera Bangsawab berikut!
Nilai Konsep Nilai Kutipan Teks
Memohon kepada Tuhan Maka pada suatu hari, ia pun menyuruh orang
dengan berdoa dan membaca doa qunut dan sedekah kepada fakir
bersedekah agar dan miskin.
dimudahkan urusannya.
Agama
Pasrah kepada Tuhan Maka ia pun menyerahkan dirinya kepada Allah
setelah berusaha. Subhanahuwata’ala dan berjalan dengan sekuat-
kuatnya
5
Tidak melihat perbedaan Si Kembar menolak dengan mengatakan bahwa
status sosial. dia adalah hamba yang hina. Tetapi, tuan puteri
menerimanya dengan senang hati.
Sosial Membantu orang orang Dengan segera Syah Peri mengeluarkan
yang berada dayang-dayang itu. Tatkala Garuda itu datang,
Budaya Garuda itu dibunuhnya.
Moral dalam posisi kesulitan
Edukasi
Raja ditunjuk Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa
berdasarkan keturunan yang patut dirayakan dalam negeri karena
dan anaknya kedua orang itu sama-sama gagah.
raja yang memiliki putra Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia
lebih dari satu selalu menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia
mencari tahu siapa yang bermimpi bertemu dengan seorang pemuda
paling gagah dan pantas yang berkata kepadanya: barang siapa yang
menjadi penggantinya. dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya,
Mencari jodoh putrinya ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
dengan cara mengadakan
sayembara atau Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa
semacamPerlombaan dan akan menyerahkan putrinya, Puteri Kemala
untuk menunjukkan yang Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri
terkuat dan terhebat. itu akan dibinasakan oleh Buraksa.
Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah
mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat
membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan
anak perempuannya yang terlalu elok
parasnya itu.“Barang siapa yang dapat susu
harimau beranak muda, ialah yang akan
menjadi suami tuan puteri.”
Tidak mau bekerja keras Hatta datanglah kesembilan orang anak raja
untuk mendapatkan meminta susu kambing yang disangkanya susu
sesuatu. harimau beranak muda itu.
Memperdaya orang yang Indera Bangsawan berkata susu itu tidak akan
tidak berusaha. dijual dan hanya akan diberikan kepada orang
yang menyediakan pahanya diselit besi hangat.
Kewajiban belajar ilmu Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun
agama sejak usia kecil. sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi
mengaji kepada Mualim Sufan. Sesudah tahu
mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul,
fkih, hingga saraf, tafsir sekaliannya
diketahuinya.
6
G. Jenis Hikayat Berdasarkan Asalnya
Dengan berdasarkan asalnya, hikayat ini dibagi sebagai berikut:
a. Melayu Asli Contoh Hikayat Melayu Asli, diantaranya yaitu:
1. Hikayat Hang Tuah (bercampur unsur islam)
2. Hikayat Si Miskin (bercampur unsur islam)
3. Hikayat Indera Bangsawan
4. Hikayat Malim Deman
b. Pengaruh Jawa Contoh untuk Hikayat yang memiliki pengaruh Jawa, diantaranya
sebagai berikut:
1. Hikayat Panji Semirang
2. Hikayat Cekel Weneng Pati
3. Hikayat Indera Jaya (dari cerita Anglingdarma)
c. Pengaruh Hindu (India) Contoh dari Hikayat pengaruh India, diantaranya adalah:
1. Hikayat Sri Rama (dari cerita Ramayana)
2. Hikayat Perang Pandhawa (dari cerita Mahabarata)
3. Hikayat Sang Boma (dari cerita Mahabarata)
4. Hikayat Bayan Budiman
d. Pengaruh Arab-Persia Contoh dari Hikayat Pengaruh Arab-Persia, diantaranya
sebagai berikut:
1. Hikayat Amir Hamzah (Pahlawan Islam)
2. Hikayat Bachtiar
3. Hikayat Seribu Satu Malam
Contoh Hikayat dan Analisis Strukturnya
HIKAYAT : PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG
Hatta maka berapa lamanya Masyuhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-
tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan.
Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyebrang, tiada
dapat perahu itu. Maka ditantinya kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga
ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya.
Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan
itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu
dalam juga. Katanya, “Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?”
Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, “ Hai
tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat
berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi
kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang
Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”
7
Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya
juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, “Tuan
hamba seberangkan apalah hamba kedua ini.” Maka kata Bedawi itu, “Sebagaimana hamba
hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air
ini dalam.”
Maka kata orang tua itu kepada istrinya, ”Pergilah diri dahulu.” Setelah itu maka turunlah
perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu,
”Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan.” Maka diberi
oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu
diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya
dikata oleh si Bungkuk air itu dalam.
Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu,
”Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan
orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan
hamba, hamba ambil, hamba jadikan istri hamba.” Maka berbagai-bagailah katanya akan
perempuan itu.
Maka kata perempuan itu kepadanya,”Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu.” Maka
apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah
maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya
dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu. Kalakian
maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya.
Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-
kata dalam hatinya, ”Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati.”
Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai
itu airnya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutinya Bedawi itu. Dengan
hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu. Maka
orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk.
Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun
datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Istri siapa perempuan ini?”
Maka kata Bedawi itu, ”Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan;
sudah besar dinikahkan dengan hamba.” Maka kata orang tua itu, ”Istri hamba, dari kecil
nikah dengan hamba.” Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu.
8
Syahdan maka gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga.
Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, ”Berkata benarlah engkau, siapa
suamimu antara dua orang laki-laki ini?” Maka kata perempuan celaka itu, ”Si Panjang inilah
suami hamba.” Maka pikirlah Masyhudulhakk, ”Baik kepada seorang-seorang aku bertanya,
supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.
Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh
Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, ”Si Panjang itulah suami hamba.” Maka kata
Masyhudulhakk, ”Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu
perempuan dan di mana tempat duduknya?” Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu.
Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan.
Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Berkata benarlah
engkau ini. Sungguhkan perempuan itu istrimu?” Maka kata Bedawi itu, ”Bahwa perempuan
itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan
gamba ini tentulah suaminya.” Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata,
”Jika sungguh istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu
perempuan, dan di mana kampung tempat ia duduk?” Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki
itu.
Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka
dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Hai orang tua, sungguhlah
perempuan itu istrimu sebenar-benarnya?” Maka kata orang tua itu, ”Daripada mula
awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di
mana templat duduknya. Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun
tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu.
Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun
mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk
akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya
tobat Bedawi itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu. Maka bertambah-tambah
masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.
Analisis Strukturnya :
1) Abstraksi
merupakan ringkasan ataupun inti dari cerita yang akan dikembangkan menjadi rangkaian-
rangkaian peristiwa atau bisa juga gambaran awal dalam cerita. Abstrak bersifat opsional
yang artinya sebuah teks cerpen boleh tidak memakai abstrak.
Kutipan teks
9
Hatta maka berapa lamanya Masyuhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka
bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.
2) Orientasi
adalah yang berkaitan dengan waktu, suasana, maupun tempat yang berkaitan dengan cerpen
tersebut.
Kutipan teks
Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu
sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyebrang, tiada dapat perahu itu. Maka
ditantinya kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang.
Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang
itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk
belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, “Apa
upayaku hendak menyeberang sungai ini?”
3) Komplikasi
berisi urutan kejadian-kejadian yang dihubungkan secara sebab dan akibat, pada struktur ini
kamu bisa mendapatkan karakter ataupun watak dari tokoh cerita sebab kerumitan mulai
bermunculan.
Kutipan teks
Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, “ Hai
tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat
berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi
kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang
Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”
4) Evaluasi
struktur konflik yang terjadi yang mengarah pada klimaks mulai mendapatkan penyelesainya
dari konflik tersebut.
Kutipan teks
Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun
datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Istri siapa perempuan ini?”
Maka kata Bedawi itu, ”Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan;
sudah besar dinikahkan dengan hamba.” Maka kata orang tua itu, ”Istri hamba, dari kecil
nikah dengan hamba.” Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka
gemparlah. Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka
bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, ”Berkata benarlah engkau, siapa
suamimu antara dua orang laki-laki ini?” Maka kata perempuan celaka itu, ”Si Panjang inilah
suami hamba.” Maka pikirlah Masyhudulhakk, ”Baik kepada seorang-seorang aku bertanya,
supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.
5) Resolusi
10
Resolusi – Pada struktur bagian ini si pengarang mengungkapkan solusi yang dialami tokoh
atau pelaku.
Kutipan teks
Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh
Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, ”Si Panjang itulah suami hamba.” Maka kata
Masyhudulhakk, ”Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu
perempuan dan di mana tempat duduknya?” Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu.
Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu.
Maka kata Masyhudulhakk, ”Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkan perempuan itu
istrimu?” Maka kata Bedawi itu, ”Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula
perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan gamba ini tentulah suaminya.” Syahdan
maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, ”Jika sungguh istrimu perempuan ini,
siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana kampung tempat ia
duduk?” Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu.
6) koda Koda – Ini merupakan nilai ataupun pelajaran yang dapat diambil dari suatu teks
cerita oleh pembacanya.
Kutipan teks
Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka
dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, ”Hai orang tua, sungguhlah
perempuan itu istrimu sebenar-benarnya?” Maka kata orang tua itu, ”Daripada mula
awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di
mana templat duduknya. Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun
tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka hendaklah disakiti oleh
Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian
juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan
perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi
ia berbuat pekerjaan demikian itu. Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana
Masyhudulhakk itu.
11
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Buku Siswa Bahasa Indonesia
SMA/MA/SMK/MAN Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pertiwi, H.P. (2009). Teori Apresiasi Prosa Fiksi. Bandung: Prisma Press.
Sudjiman, Panuti. (2006). Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Universitas Indonesia.
Kosasih, E. 2014. Jenis-Jenis Teks dalam Mata Pelajaran Bahasa Indoneisa SMA/MA/SMK.
Bandung: Yrama Widya
Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat
Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
Suherli, dkk. 2017. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat
Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud
12
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK
Status Pendidikan : SMA N 1 Sumberlawang
Kelas : X/1 (Ganjil)
Pembelajaran Ke- :
Muatan Pelajaran : : Bahasa Indonesia
Materi Pokok : Cerita Rakyat Hikayat
Alokasi Waktu : 2X45 menit
Nama
No. Absen
Kelas
A. Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi
3.7 Mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang 3.7.1 Menentukan ciri-ciri/ karakteristik
terkandung dalam cerita rakyat (hikayat) hikayat
baik lisan maupuntulis 3.7.2 Menentukan unsur Intrinsik dan
ekstrinsikhikayat
4.7Menceritakan kembali isi Cerita rakyat 3.7.3 Menentukan nilai-nilaihikayat
(hikayat) yang didengar dan dibaca 4.7.1 Menceritakan kembali isi Hikayat
4.7.2 Menanggapi isi hikayat
B. Tujuan
Dengan penerapan model discovery learning siswa dapat dalam mengidentifikasi nilai-nilai
dan isi nilai hikayat serta dapat menceritakan kembali, menanggapi isi, secara mandiri
C. Petunjuk Penggunaan
1. Berdoalah sebelum mengerjakan
2. Tulislah identitas diri sendiri pada kolom yang sudah di sediakan
3. Bnetuk kelompok dengan anggota 3-5 orang siswa
4. Simaklah video dan materi yang dipresnetasikan oleh guru
13
5. Bacalah atau identifikasi isi hikayat yang telah kalian buat
6. Selanjutnya isilah tabel untuk menceritakan kembali isi hikayat dan menanggapi isi
hikayat, buatlah hingga tepat dan benar
7. Kerjakan latihan mandiri
8. Boleh bertanya kepada guru apabila ada materi yang kurang jelas
D. Tugas Kelompok
1. Amati cerita yang sudah tersedia dibawah ini!
INDERA BANGSAWAN
Pada zaman dahulu kala di Negeri Kobat Syahrial, hiduplah seorang raja yang bernama Indera
Bungsu. Ia belum juga dikarunia putra. Iia menyuruh orang membaca doa qunut dan sedekah kepada
fakir dan miskin hingga akhirnya Tuan Puteri Sitti hamillah dan melahirkan dua orang putra laki-laki. Yang
tua keluarnya dengan panah dan yang muda dengan pedang. Ia pun memberi nama yang tua Syah Peri
dan Yang muda Indera Bangsawan.
Kedua anak tersebut tumbuh menjadi anak muda yang gagah. Indera Bungsu bingung memutuskan siapakah
yang akan menggantikannya kelak. Hingga ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia telah bertemu
seornag pemuda yang memegang bulu perindu. Dan siapa yang dapat menemukannya, akan diangkat
menjadi raja. Setelah mendengar kata-kata baginda, Syah Peri dan Indera Bangsawan pergi mencari buluh
perindu itu. Hingga suatu hari, datanglah hujan badai yang memisahkan Syah Peri dan Indera Bangsawan.
Syah Peri yang pasrah kepada Tuhan. Hingga sampailah Syah Peri di sebuah taman, Syah Peri menoreh
gendang dan keluarlah Ratna Sari dan dayang-dayangnya. Garuda yang menahan Ratna Sari menyerang dan
berhasil dikalahkan oleh Syah Peri. Kemudian Syah Peri menikah dengan Ratna Sari. Indera Bangsawan
bertemu dengan raksasa yang menjadi neneknya dan bercerita bahwa ia berada negeri Antah Berantah yang
diperintah oleh Raja Kabir.
Raja Kabir mengumumkan bahwa barang siapa yang dapat membunuh Buraksa dan yang dapat
memberikan air susu harimau yang baru saja beranak akan dinikahkan dengan Puteri Kemala Sari yang
sedang sakit mata. Setelah mendengar pengumuman tersebut, Indera Bangsawan pergi mengambil seruas
buluh yang berisi susu kambing. Kesembilan anak raja menemui Indera Bangsawan untuk meminta susu
harimau tetapi oleh Indera Bangsawan diberikan susu kambing. Sedangkan susu harimau diserahkan Indera
Bangsawan kepada raja.
Tabib istana memeraskan susu harimau tersebut sebanyak tiga kali dan Putri Kemala Sari pun sembuh, tetapi
Raja Kabir masih bersedih hati karena harus menyerahkan Putri Kemala Sari kepada Buraksa. Raja Kabir
mengumumkan bahwa barang siapa dapat mengambil jubah Buraksa akan menjadi suami Putri Kemala Sari.
Ia memerintahkan kesembilan anak raja untuk mengambil jubah Buraksa.
Nenek Raksasa mengajari Indera Bangsawan cara mengalahkan Buraksa. Indera Bangsawan diberi
kuda hijau dan diajari cara memasukkan ramuan daun-daunan ke dalam gentong minum Buraksa. Ketika
tubuh Buraksa menjadi lumpuh, Indera Bangsawan berhasil membawa lari Puteri dan mengambil jubah
Buraksa. Melihat Buraksa tidak berdaya, kesembilan anak raja mengambil selimut Buraksa dan mengatakan
kepada Raja Kabir bahwa selimut itu adalah jubah Buraksa. Indera Bangsawan menyerahkan Puteri dan jubah
Buraksa dan kemudian Raja Kabir mengumumkan hari pernikahan Indera Bangsawan dan Puteri Kemala Sari.
Sumber : ringkasan hikayat indera bangsawan - Brainly.co.id
14
2. Setelah selesai membaca cerita Indera Bangsawan, Ceritakanlah kembali isi cerita Indera
Bangsawan dan tanggapi mengenai cerita tersebut, di kolom kosong bawah ini
15
3. Setelah telah selesai menulis kembali isi cerirat Indera Bangsawan, langkah selanjutnya
yaitu presentasikan hasil tulisan kelompok dan catatlah setiap pertanyaan yang diajukan
Pernanya Pertanyaan Jawaban
E. Tugas Individu
Carilah cerita rakyat hikayat dari sumber manapun! Setelah ketemu, ringkaslah dan ceritakan
kembali isi cerita hikayat yang kalian temukan
16