1. Dr. Donna Boedi Maritasari, M. Pd
2. Hadiatul Rodiyah, M. Pd
Penulis
Nopidatul Farrizi
Alkisah, Pada zaman dahulu kala ada kerajaan yang
bernama kerajaan “Sekar Kuning” dari Negeri
Tonjeng Beru. Kerajaan Sekar Kuning dipimpin oleh
seorang raja yang bernama Raden Panji Kusuma,
terkenal dengan sebutan nama Raja Tonjeng Beru
dan permaisurinya bernama Dewi Seranting. Raja
Raden Panji Kusuma atau dikenal dengan sebutan
Raja Tonjeng Beru adalah raja yang arif bijaksana
rakyatnya hidup makmur, sejahtera. Kerajaan
tersebut sangatlah tentram dengan rakyat yang
juga makmur.
Suatu hari Ratu Dewi Seranting, melahirkan
seorang anak yang berparas cantik dan diberi
nama Putri Mandalika, putri yang berparas
cantik, yang konon di wajahnya seperti
terpancar keindahan warna laut di Selatan Pulau
Lombok. Seorang putri yang terberkati dengan
sifat-sifat bijak sang Raja, rasa keadilan, serta
cinta pada seluruh rakyatnya
Keanggunan sikap, kecantikan paras, serta
kepribadian yang luhur, menjadikan Putri
Mandalika sebagai sosok yang juga dicintai
oleh seluruh rakyat. Pun kabar tentang
Putri Mandalika, terdengar hingga seluruh
penjuru negeri, membuat banyak pemuda,
pangeran, dan ksatria dari berbagai
pelosok, datang menaruh hati pada sang
Putri.
Pangeran yang dari berbagi negeri pergi ke istana menghadap sang raja untuk melamaran sang
Putri, raja pun menerimanya dan sang raja mepersilahkan sang pangeran beristirahat di dalam
kamar istana yaitu kamar khusus untuk tamu, akan tetap buakn satu dua yang melamar sang
putri banyak pangeran yang terhitung banyaknya.
Para pemuda, pangeran, dan ksatria yang telah jatuh hati pada sang Putri, bahkan
sampai mendeklarasikan kesiapan untuk saling bertarung, demi mendapatkan cinta
dari Putri Mandalika.
Namun demikian, ia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sang Putri. Sang
Raja tak ingin memaksakan kehendaknya pada sang Putri, dan memberikannya waktu
untuk berpikir dengan tenang. Ia tahu, sang Putri pasti akan membuat keputusan
terbaik setelahnya
Putri Mandalika pun memanfaatkan waktu untuk bersemedi, berpikir
matang-matang, dan mencari petunjuk dalam menentukan pilihan.
Keputusan pun diambil. Puri mandalikan mengumumkan Para pemuda, prajurit, dan pangeran, dan
seluruh masyarakat yang ingin mendapatkan cinta dari Putri Mandalika, diminta hadir pada dini
hari sebelum terbit fajar di Pantai Seger pada tanggal 20 bulan 10 pada penanggalan Suku
Sasak. Semua harus hadir, tidak hanya membawa diri, tapi juga membawa pasukannya.
Pada tanggal dan tempat yang telah diputuskan oleh Putri Mandalika, berkumpulah seluruh
pangeran, pemuda dah bahkan rakyat kerajaan pun datang berduyun-duyun pada tempat dan
waktu yang telah ditentukan. Segala keberanian dan peralatan perang telah dipersiapkan,
begitu pun dengan prajurit setia masing-masing. Semua bahkan telah siap bertaruh nyawa demi
mendapatkan sang Putri.
Seketika matahari mulai terbit, Putri Mandalika beserta Raja, Ratu, dan para pengawalnya
datang menemui seluruh undangan. Pada waktu itu Putri Mandalika terlihat sangat cantik
dibalut dengan busana indah yang terbuat dari sutera. Lautan manusia telah memadati Pantai
Seger, semua harap-harap cemas menunggu keputusan sang Putri.
Waktu yang
dinantikan
pun tiba,
Putri
Mandalika
beserta
pengawalnya
naik ke atas
bukit Seger
dan
mengucapka
n beberapa
patah kata
yang
ditujukkan
oleh seluruh
tamu
undangan.
“oh, ayah dan ibuku
yang sangat aku
cintai. Sungguh
sebesar apapun
cintaku pada kalian,
tak akan pernah lebih
besar dari cinta yang
telah kalian curahkan
kepadaku. “oh,
pangeran-pangeran,
pemuda, para ksatria,
dan seluruh rakyat
Tonjang Beru, yang
aku, ayahku, dan
ibuku, cintai”.
Setelah mempertimbangkan dengan segenap kehati-hatian, berkat petunjuk dari
Sang Pencipta, aku, Putri Mandalika, telah memutuskan untuk menjadi milik kalian
semuanya. Aku telah ditakdirkan menjadi Nyale, yang dapat kalian nikmati
bersama-sama. Putri Mandalika pun langsung lompat dari atas bukit ke arah laut,
dan hilang ditelan debur ombak.
Semua begitu terkejud dengan tindakan sang Putri. Panik, para pangeran, pemuda, ksatria, dan seluruh
rakyat tumpah ruah berlarian ke laut mencari sang Putri, mencoba menyelamatkannya, namun tiada tanda-
tanda keberhasilan. Tak lama kemudian muncul binatang kecil-kecil yang yang sangat banyak dari laut.
Binatang tersebut ternyata sebuah cacing panjang yang kemudian cacing tersebut diberi nama nyale dan
dipercaya oleh masyarakat bahwa cacing tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika.
Sehingga nyale bisa
kita nikmati dan
temukan sampai masa
ini yaitu setiap tiga
kali setahun yaitu
nyale tunggak, nyale
puncak, nyale foto
dapat kita cari pada
masa-masa tertentu.
Dan pada saat ini
pencarian nyale pun di
jadikan sebagai
Festival tahunan yang
disebut “Festival Bau
Nyale“
~ TAMAT ~
“Orang Yang
Hebat Adalah
Orang Yang
Rela
Berkorban
Demi
KeBaikan”